Investor overconfidence karena keyakinan mereka tentang diri mereka
sendiri dan merasa bahwa mereka adalah investor yang lebih baik (Townsend,
Busenitz dan Arthur, 2010). Overconfidence memaksa investor untuk
berinvestasi dan ketika berinvestasi maka investor memiliki bias yang sulit
untuk diprediksi (Deaves, Luder dan Schroder, 2010). Di bidang keuangan
keputusan investasi membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kesadaran
Overconfidence
Optimisme
Keputusan Investasi stor tentang pasar, karena para investor lebih dipengaruhi oleh overconfidence yang memiliki pengalaman kurang tentang keputusan investasi
(Kida, Kimberly, Moreno & Smith, 2010). Overconfidence terkadangmenarik
investor dalam persepsi bahwa mereka kuat dan bisa melakukan segala sesuatu
(Fast, Sivanathan, Mayar & Galinsky, 2011) dan pengetahuan mereka harus
mengharuskan untukberinvestasi (Graham, Campbell & Harvey,
2009).Overconfidence memiliki dampak positif signifikan terhadap keputusan
investasi (Ullah et al, 2017). Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat
disimpulkan bahwa hipotesa sebagai berikut
Orang yang optimis ketika memiliki waktu hingga batas tertentu dengan
situasi dan hasil dari keputusan mereka diambil bersamaan dengan risiko
(Bracha dan Brown, 2012). Jika investor menerima kembali apa yang harapkan
maka akan optimis di masa depan dengan saham perusahaan tersebuttetapi jika
harapan mereka tidak memenuhi maka tidak akan berinvestasi di perusahaan
tersebut (Magnuson, 2011). Optimisme terkait secara positif signifikan dengan
keputusan investasi (Ullah et al, 2017). Investor yang optimisme mengabaikan
risiko, sebagai harga model aset menyatakan bahwa semakin tinggirisiko
makareturnyang diterima juga tinggi. Para investor optimis memprediksi
tentang masa depan atas dasar pengalaman bukan kinerja saham masa lalu
(Klein & Larsen, 2010), untuk berinvestasi dengan dasar kinerja saham masa
lalu maka hasil dapat bervariasi antara harapan dan di sisi lainpengalaman.
