Indikator Minat Beli (skripsi dan tesis)

Adapun indikator dari minat beli konsumen menurut (Rizky danYasin, 2014) adalah sebagai berikut: 1. Attention, ialah Perhatian calon konsumen pada produk yang ditawarkan dari produsen jadi apabila konsumen sudah perhatian terhadap suatu produk maka dapat dikatakan kalau konsumen tersebut sudah minat terhadap produk tersebut. 2. Interest, ialah Ketertarikan calon konsumen pada produk yang ditawarkan dari produsen apabila sudah muncul ketertarikan maka sudah ada minat didalam benak konsumen tersebut. 3. Desire, ialah Keinginan calon konsumen agar memiliki produk yang ditawarkan dari produsen apabila sudah ada keinginan untuk memiliki maka berarti orang tersebut sudah timbul minat dibenaknya. 4. Action, ialah Konsumen melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan dari produsen tahap terakhir yaitu konsumen melakukan pembelian produk

Kepercayaan pada Perusahaan (skripsi dan tesis)

Menurut (Tjiptono, 2014) Kepercayaan pada perusahaan adalah tingkat kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan yang memiliki merek bersangkutan. Dalam kasus sebuah perusahaan dan merek, perusahaan adalah sebuah kesatuan yang besar dan merek lebih kecil yang berada didalamnya, konsumen yang menempatkan kepercayaan kepada perusahaan cenderung akan mempercayai merek (Lau & Lee, 1999). Disaat suatu merek bekerja dengan baik, hal tersebut menjelaskan kehebatan tentang sebuah perusahaan yang berada dipikiran masyarakat (Gregory, 2004).

Pengertian Rasio Keuangan (skripsi dan tesis)

Pengertian rasio keuangan menurut Harahap (2010) adalah sebagai
berikut: “Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil
perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti)”.
Menurut Kasmir (2012) pengertian dari rasio keuangan adalah
sebagai berikut:
Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka
yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka
dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu
komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau
antar komponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian
angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu
periode maupun berbeda periode.
Pengertian rasio keuangan menurut James C. Van Horne dalam
Kasmir (2012) adalah sebagai berikut:
Rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka
akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka
lainnya. Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi
keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan
terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan
adalah suatu perhitungan matematis yang dilakukan dengan cara
membandingkan beberapa pos tertentu dalam laporan keuangan yang
memiliki hubungan untuk kemudian yang ditujukan untuk menunjukkan
perubahan kondisi keuangan sebuah perusahaan

Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) (skripsi dan tesis)

Pengertian manajemen rantai pasokan menurut Heizer & Render (2015) adalah suatu proses yang menggambarkan koordinasi dari keseluruhan kegiatan rantai pasokan dimulai dari bahan baku dan diakhiri dengan konsumen atau pelanggan puas. Tujuan dari manajemen rantai pasokan adalah mengkoordinasi kegiatan dalam rantai pasokan untuk memaksimalkan keunggulan kompetitif dan manfaat dari rantai pasokan bagi konsumen akhir. Fitur utama dari rantai pasokan adalah peran dari anggota- anggotanya demi kepentingan timnya (rantai pasokan). Manajemen rantai pasokan adalah pengintregasian aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman kepada konsumen atau pelanggan. Tujuan utama dari manajemen rantai pasokan ini adalah penyerahan atau pengiriman produk secara tepat waktu demi kepuasan konsumen, mengurangi waktu, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari supply chain, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi. Penerapan  manajemen rantai pasokan dimasa sekarang ini sangat cocok diterapkan, karena sistem ini memiliki kelebihan dimana mampu memanage aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasokan (Paoki, dkk.2016).
 Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) merupakan suatu proses yang dimulai dari pengembangan produk, pengadaan, perencanaan atau pengendalian, operasi, dan distribusi dimana semua cakupan yang ada saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan suatu produk yang berkualitas dan memudahkan produk tersebut sampai pada pengguna akhir (konsumen) secara efektif dan efisien. Lebih singkatnya manajemen rantai pasokan ini merupakan sistem yang melibatkan dari proses produksi, pengiriman, penyimpanan, distribusi, dan penjualan produk dalam memenuhi permintaan dalam proses produksi pada sebuah perusahaan (Wuwung,dkk. 2013). Supply chain management merupakan suatu konsep yang menyangkut sebuah pendistribusian produk secara optimal. Konsep ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logostik. Supply chain management juga merupakan suatu pendekatan yang meliputi seluruh proses manajemen material, memberikan orientasi kepada proses untuk meyediakan, memroduksi, dan mendistribusikan produk kepada konsumen. Supply Chain Management secara fisik dapat mengkonveksikan suatu bahan baku menjadi produk jadi dan mengantarkannya atau menyalurkan kepada konsumen akhir. 11 Sebuah perusahaan dapat menerapkan Supply Chain Management secara efektif dengan cara perusahaan tersebut harus mampu menyediakan dan mengelola sebuah bahan baku dengan supplier maupun distributor yang terpilih. Pada akhirnya Supply Chain Management secara menyeluruh dapat menciptakan sinkronisasi dan koordinasi aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan aliran bahan baku baik didalam maupun diluar perusahaan (Widyarto, 2012). Supply Chain Management berfokus pada mengintegrasikan dan mengelola aliran barang, jasa, dan informasi melalui rantai suplai untuk membuatnya responsif terhadap kebutuhan pelanggan sambil menurunkan total biaya dan manajemen rantai pasokan juga berfokus pada manajemen proses di dalam dan di luar batas-batas organisasi (Chopora, Shweta, dkk. 2017). Mengevaluasi kinerja berbagai proses yang mempengaruhi supply chain merupakan salah satu kriteria utama untuk pengelolaan rantai pasokan yang efektif. Seiring dengan perkembangan pasar sekarang ini yang semakin berkembang, kebutuhan pelanggan semakin tinggi. Maka dibutuhkan peran pemasok dalam pengelolaan dan pendistribusian produk sampai ke pelanggan akhir. Pengertian yang lebih spesifik untuk Supply Chain Management adalah sebuah serangkaian pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan pemasok, pabrik, gudang, dan toko secara efisien, sehingga barang atau produk yang diproduksi dan didistribusikan pada jumlah yang tepat, ke lokasi yang tepat, dan pada saat yang tepat, dapat   meminimalkan biaya keseluruhan sistem sambil memenuhi persyaratan tingkat layanan (D. du Toit, P.J. Vlok.2014).

Manfaat Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Media yang digunakan sebagai alat untuk kegiatan belajar memberikan beberapa manfaat yaitu: 1. Informasi yang disajikan melalui media ketika kegiatan belajar dilakukan akan lebih unik sehingga memunculkan stimulus tersendiri bagi anak untuk mengingat. 2. Dilakukannya pemakaian media sebagai penyampaian informasi saat mengajar akan memunculkan motivasi tersendiri bagi anak didik untuk pencapaiannya yang lebih baik. 3. Tanpa disadari anak didik yang berbeda dapat diatasi ketika dilaksanakannya kegiatan belajar melalui media yang dipakai sebagai penyampai informasi. 4. Secara tidak langsung diberitahukan pada anak didik bahwa hal yang disampaikan melalui media saat belajar merupakan sebuah kesamaan yang akan selalu terjadi diantara mereka. (Azhar Arsyad, 2013: 29-30). Hal ini juga diungkapkan oleh Sudjana dan Rivai yang menjelaskan bahwa media yang digunakan sebagai penyampai pesan akan sangat memberikan keuntungan dalam proses kegiatan belajar. Adapaun manfaatnya yaitu:

Konsep Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran seorang guru diperlukan strategi dalam pembelajran diantaranya yaitu perlu adanya model dan media pembelajaran untuk menunjang proses kegiatan belajar. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru dan siswa bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses pembelajaran. Istilah umunnya dikenal dalam kegiatan belajar mengajar adalah pendekatan, model pembelajaran, startegi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran, serta keterampilan belajar. Model pembelajaran terkait pada pemilihan strategi dan pembuatan struktur metode, ketrampilan, dan aktifitas peserta didik. Model pembelajaran tersebut dicirikan dengan adanya tahapan atau sintaks pembelajaran. Menurut Sani (2019) strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumberdaya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran menentukan pendekatan yang dipilih guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, sedangkan komunikasi terdiri dari dari guru, bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa, dan tujuan pembelajaran.

Alur Pendekatan Konstruktivisme (skripsi dan tesis)

Dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivisme di dalam kelas, diperlukan tahapan-tahapan menurut
Surani (2004: 28), yang menyatakan:
1) Invitasi
Dimana guru memanfaatkan struktur kognitif yang telah ada pada
siswa untuk membahas konsep-konsep baru sehingga tergugah
motivasinya untuk belajar 2) Eksplorasi
Yang mana menyangkut interaksi siswa dengan lingkungan alam
atau lingkungan fisik di sekitarnya. dalam tahap ini guru bertindak
sebagai fasilitator agar siswa aktif menggunakan konsep-konsep
baru.
3) Solusi atau eksplanasi
Pada tahapan ini siswa dihadapkan pada situasi masalah yang
menyangkut konsep atau prinsip yang baru diterimanya untuk
menyelesaikan masalah yang diberikan atau dihadapi.
4) Tindak lanjut
Siswa mengembangkan sikap perilaku untuk berkembang lebih jauh.
5) Ekspansi
Siswa diminta untuk belajar sendiri aplikasi dan perluasan berbagai
konsep dan prinsip yang telah dipelajari.
e. Karakteristik Pendekatan Konstruktivisme
Karakteristik Pembelajaran dalam pendekatan konstruktivisme
menurut Pritchard (2010: 45) adalah berpikir kritis, motivasi,
independensi pembelajaran, feedback, dialog, bahasa, penjelasan,
bertanya, belajar melalui mengajar, kontekstualisasi, eksperimen dan atau
pemecahan masalah dalam dunia nyata. (Wardoyo, 2013: 38).
Pada prinsipnya, pendekatan konstruktivisme memiliki beberapa
karakteristik yang dapat dilihat berdasarkan proses pembelajarannya.
Adapun karakteristik pendekatan konstruktivisme menurut para ahli
dalam Wardoyo (2013, 38 41) yang dirangkum dari pendapat Dewey,
Hanafiah dan Suhana, Winataputra dapat disimpulkan bahwa
karakteristik pendekatan konstruktivisme dalam proses pembelajaran
adalah (1) berpusat pada siswa, (2) adanya masalah (3) proses
menemukan (4) interaksi sosial, dan (5) pengetahuan atau pemahaman
baru.

Faktor-faktor dalam penetapan harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Amstrong (1994), secara umum ada dua faktor utama yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan harga, yaitu faktor internal perusahaan dan faktor lingkungan perusahaan. a. Faktor Internal Perusahaan, antara lain: 1. Tujuan pemasaran perusahaan, dapat berupa maksimisasi laba, mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, meraih pangsa pasar yang besar, menciptakan kepemimpinan dalam hal kualitas, mengatasi persaingan, melaksanakan tanggung jawab sosial, dan lainlain. 2. Strategi Bauran Pemasaran Harga hanyalah salah satu komponen dari bauran pemasaran. Oleh karena itu, harga perlu dikoordinasikan dan saling mendukung dengan bauran pemasaran lainnya, seperti produk, distribusi, dan promosi. 3. Biaya, merupakan faktor yang menentukan harga minimal yang harus ditetapkan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Oleh karena itu setiap perusahaan pasti menaruh perhatian besar pada aspek struktur biaya (tetap atau variabel), serta jenis-jenis biaya lainnya. 4. Organisasi Manajemen perlu memutuskan siapa didalam organisasi yang harus menetapkan harga. Setiap perusahaan menangani masalah penetapan harga menurut caranya masing-masing. Pada perusahaan kecil, umumnya harga ditetapkan oleh menejemen puncak. Sedangkan pada perusahaan besar, seringkali masalah penetapan harga ditangani oleh divisi atau manajer suatu lini produk. Pihak-pihak lain yang memiliki pengaruh terhadap penetapan harga adalah manajer penjualan, manajer produksi, manajer keuangan, dan akuntan. b. Faktor Lingkungan Perusahaan, antara lain: 1. Sifat Pasar dan Permintaan Setiap perusahaan perlu memahami sifat pasar dan permintaan yanag dihadapinya, apakah termasuk pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik, oligopoli, atau monopoli. 2. Persaingan Menurut Porter (1985), ada lima kekuatan pokok yang berpengaruh dalam persaingan suatu industri, yaitu persaingan dalam industri yang bersangkutan, produk subtitusi, pemasok, pelanggan, dan ancaman pendatang baru. 3. Unsur-unsur Lingkungan eksternal lainnya Selain faktor-faktor diatas, perusahaan juga perlu mempertimbangkan faktor kondisi ekonomi (inflasi, boom atau resesi, tingkat bunga), kebijakan dan peraturan pemerintah, dan aspek sosial (kepedulian terhadap lingkungan).

Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi. (skripsi dan tesis)

Komitmen karyawan pada organisasi tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Komitmen karyawan pada organisasi juga ditentukan oleh sejumlah faktor. David (dalam Minner, 1997) oleh Sopiah (2008:163) mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi, yaitu: 1. Faktor personal, misalnya : usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, kepribadian. 2. Karakteristik pekerjaan, misalnya : lingkup jabatan, tantangan dalam pekerjaan, konflik peran dalam pekerjaan, tingkat kesulitan dalam pekerjaan. 3. Karakteristik struktur, misalnya : besar atau kecilnya organisasi, bentuk organisasi seperti sentralisasi atau desentralisasi, kehadiran serikat pekerja dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi terhadap karyawan. 4. Pengalaman kerja. Pengalaman kerja karyawan sangat berpengaruh terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tentu memiliki tingkat komitmen yang berlainan.

Tugas Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Tugas Pemimpin Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah 1. Pemimpin bekerja dengan orang lain, Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organjsasi sebaik orang diluar organisasi. 2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas), Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. 3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas, Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin hanya dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas- tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif. 4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual, Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain. 5. Manajer adalah forcing mediator, Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah). 6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat, Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya. 7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit, Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah. (adieth12.blogspot.co.id) Oleh karena itu tugas dan tanggung jawab leader langkah pertama yang efektif adalah dapat menciptakan perbedaan diantara tim, meskipun terkadang perbedaan itu bisa baik atau tidak

pengertian Subjective Norm (skripsi dan tesis)

“Subjective norm is the perceived social pressure to engage or not to engage in a behavioral” (Ajzen, 2015). Norma subjektif adalah tekanan yang dirasakan oleh seseorang yang berasal dari lingkungan sosialnya tentang harus atau tidak harus menampilkan suatu perilaku. Ajzen (2005) mengatakan norma subjektif merupakan fungsi yang didasarkan oleh belief yang disebut normative belief, yaitu belief mengenai kesetujuan dan atau ketidaksetujuan yang berasal dari referent atau orang dan kelompok yang berpengaruh bagi individu (significant others) seperti orang tua, pasangan, teman dekat, rekan kerja atau lainnya terhadap suatu perilaku. Norma subjektif didefinisikan sebagai persepsi individu tentang tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku (Ajzen, 2005). Norma subjektif ditentukan oleh kombinasi antara normative belief individu dan motivation to comply. Biasanya semakin individu mempersepsikan bahwa social referent yang mereka miliki mendukung mereka untuk melakukan suatu perilaku maka individu tersebut akan cenderung merasakan tekanan sosial untuk memunculkan perilaku tersebut. Dan sebaliknya semakin individu mempersepsikan bahwa social referent yang mereka miliki tidak menyetujui suatu perilaku maka individu cenderung merasakan tekanan sosial untuk tidak melakukan perilaku tersebut. Ketika seseorang ingin menampilkan perilaku, maka ia akan menyesuaikan perilaku tersebut dengan norma kelompoknya sehingga kecenderungan untuk menampilkan perilaku akan semakin besar jika kelompok bisa menerima perilaku tersebut. Kelompok ini bisa saja berupa orangtua, saudara, teman dekat, dan orang yang berkaitan dengan perilaku tersebut.

Kinerja Perusahaan (Firm Performance) (skripsi dan tesis)

Kinerja keuangan secara umum dapat diartikan sebagai prestasi yang diraih oleh perusahaan pada periode tertentu yang biasanya diukur dengan laba operasi perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan yang disusun oleh perusahaan secara periodik (Iswadi, 2016). Sehingga baik buruknya kinerja suatu perusahaan dapat diketahui atas penilaian setiap tahun yang dilakukan oleh perusahaan. Kemudian hasil penilaian tersebut dapat digunakan manajemen untuk melihat tingkat sehat tidaknya suatu perusahaan serta dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. Kinerja perusahaan yang baik juga akan mempengaruhi pendapatan perusahaan. Hal ini dapat diartikan bahwa ketika perusahaan mampu melaksanakan kegiatan perusahaan secara efektif dan efisien maka pendapatan yang akan diterima perusahaan juga akan semakin meningkat. Pendapat lain mengemukakan bahwa kinerja perusahaan adalah kualitas perusahaan (Memon et al., 2012). Kualitas perusahaan ini dapat diartikan sebagai perusahaan yang membanggakan sekaligus memiliki pendapatan yang tinggi atas aset yang dimiliki, sehingga kinerjanya baik (Memon et al., 2012). Menurut Kilic dan Kuzey (2016) kinerja perusahaan dapat dicerminkan dari beberapa ukuran, seperti: Tobin Q, Return on Invesment (ROI), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE) dan Return on Sales (ROS). Pengukuranpengukuran kinerja ini dikategorikan ke dalam dua kelompok yaitu tindakan berbasis akuntansi dan tindakan berbasis pasar (Kilic dan Kuzey, 2016). Pengukuran kinerja perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ROA dan ROE yang merupakan ukuran kinerja berbasis akuntansi yang mengacu penelitain Gomes dan Blanco (2018). ROA dan ROE merupakan rasio profitabilitas yang paling sering digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba berbasis akuntansi dan pengembalian ke pemegang saham (Kilic dan Kuzey, 2016).

 Penelitian Psychological Ownership (skripsi dan tesis)

Beberapa penelitian telah mengeksplorasi tentang pengalaman-pengalaman individu dalam menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap suatu objek. Menurut Pierce et al. (2003) munculnya psikologis kepemilikan didasarkan pada pengalaman manusia. Beberapa penelitian telah menjelaskan pengaruh PO terhadap loyalitas penggunaan objek kepemilikan, diantaranya adalah: Zhao et al. (2016) melakukan penelitian guna mengeksplorasi antaseden PO dalam meningkatkan keterlibatan pelanggan dan menumbuhkan loyalitas jangka panjang pada penggunaan media sosial Line di Taiwan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa model yang diusulkan memiliki pengaruh terhadap loyalitas. PO memiliki efek pada keinginan pengguna untuk menggunakan objek secara berkelanjutan dan kesediaan untuk menginvestasikan biaya lebih pada konteks media sosial Line. Pada penelitian ini integrasi model PO dan Technology Acceptance Model (TAM) dilakukan dalam mengembangkan model dan ditemukan bahwa efek PO memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibanding konstruksi yang dimiliki oleh (TAM). Kim et al. (2016) melakukan penelitian kuasi eksperimen untuk menguji hubungan antara PO dengan social recognition (pengakuan sosial) terhadap niat berbagi karya oleh pembuat konten dalam konteks remix online community di Korea Selatan. Dari hasil penelitiam ditemukan bahwa hopotesis yang diusulkan memiliki pengaruh positif terhadap niat berbagai. Pengakuan yang lebih besar dari orang lain meningkatkan niat pembuat konten untuk berbagi. Faktor ini menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Begitupun dengan faktor PO, rasa kepemilikan yang sangat besar berpengaruh pada niat berbagi. Pengakuan sosial dan PO juga ditemukan memiliki hubungan. Semakin besar rasa kepemilikan individu maka semakin besar pula efek pengakuan sosial yang ditimbulkan dari keinginan berbagi. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai informasi bagi penyedia layanan online untuk 24 merancang sistem yang efektif untuk mendorong para pembuat konten ingin membagikan kreasi mereka. Karahanna et al. (2015) dari hasil penelitiannya menjelaskan bahwa kepemilikan psikologis mendorong individu untuk terlibat pada penggunaan media sosial karena media sosial memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan mendasar dari PO. Hasil empiris dari penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan penggunaaan media sosial secara kolektif berkontribusi pada motivasi kepemilikan psikologis yang akan mendorong penggunaan media sosial. Paré et al. (2006) menjelaskan mengenai penerimaan dokter terhadap sistem informasi klinis (CIS). peneliti mengungkapkan pentingnya mendorong dan membina hubungan positif pada sistem baru.

Karakteristik Media Online (skripsi dan tesis)

Asep Syamsul M Romli (2012), membagi karakteristik media
online yaitu :
a) Multimedia
Dapat memuat atau menyajikan berita / informasi dalam benuk
teks, audio, video, grafis dan gambar secara bersamaan.
b) Aktualitas
Berisi info aktual karena kemudahan dan kecepatan penyajian.
c) Cepat
Saat berita diposting atau diupload, berita dapat langsung
diakses oleh semua orang.
d) Update
Pembaruan (updating) informasi dapat dilakukan dengan cepat
dan baik dari sisi konten maupun redaksional, misalnya dalam
kesalahan ketik/ejaan
e) Kapasitas luas
Halaman web bisa menampung naskah sangat panjang
f) Fleksibelitas
Pemuatan dan editing naskah bisa kapan saja dan dimana saja,
juga jadwal terbit (update) bisa kapan saja setiap saat

Bentuk-bentuk Dukungan Suami (skripsi dan tesis)

Bentuk dukungansuami Menurut Friedman (1998), wujud dari dukungan
suami dan keluarga adalah:
a. Dukungan psikologis, dukungan ini dapat berupa perhatian,
mendampingi atau menemani istri saat diperlukan.
b. Dukungan informasi, suami dapat memberikan informasi apa saja yang
diperlukan sang istri
c. Dukungan penilaian, berupa penilaian yang positif dari suami bahwa
apapun yang terjadi suami akan selalu mendampingi serta membantu
istri dalam memberikan pengertian untuk pemecahan masalahnya.
d. Dukungan finansial, dapat berupa materi yang dapat digunakan istri
untuk pekerjaan yang sedang dilakukannya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Beutell dan Greenhaus (1983)
menemukan bahwa dukungan yang diberikan suami berupa partisipasi yang luas
dalam pengasuhan anak dan aktivitas rumah tangga bisa memodernisasi hubungan
antara peran ganda dan konflik peran ganda yang dialami istrinya. Kemungkinan
terjadinya konflik peran ganda pada sang istri menjadi lebih kecil karena beban
ganda yang dialaminya lebih ringan berkat dukungan yang diberikan oleh suami.

Gaya Kepemimpinan Demokratis (skripsi dan tesis)

Gaya kepemimpinan demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Kepemimpinan demokratis memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan dari semua bawahan atau karyawan dengan penekanan rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik (Kartono, 1983). Gaya kepemimpinan dimana para pemimpin memperoleh beberapa masukan dari bawahan tapi umumnya menggunakan wewenangnya untuk mengambil keputusan. Gaya ini memerlukan komunikasi yang sering kali diadakan antara para manajer dan karyawan. Gaya kepemimpinan ini mengizinkan para karyawan untuk menyatakan pendapat mereka akan tetapi tidak mewajibkan para karyawan untuk membuat keputusan yang besar (Madura, 2001).   Hasibuan (2002) berpendapat ”kepemimpinan demokratis adalah apabila dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi., menimbulkan loyalitas dan partisipasi para bawahan. Pemimpin memotivasi agar merasa ikut memiliki perusahaan. Pemimpin akan selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar nantinya”. Heidjracman dan Husnan (1995) mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan demokratis (participative leader) sebagai berikut, apabila seseorang pemimpin menggunakan gaya partsipatif ia menjalankan kepemimpinannya dengan konsultasi dan ia tidak mendelegasikan wewenangnya untuk membuat keputusan akhir dan untuk memberikan pengarahan tertentu kepada bawahannya, tetapi ia mencari berbagai pendapat dan pemikiran dari para bawahan mengenai keputusan yang akan diambil. Gaya kepemimpinan demokratik adalah gaya kepemimpinan dimana pengambilan keputusan untuk kepentingan organisasi, seorang pemimpin mengikutsertakan atau bersama-sama dengan para bawahannya (Mohyi, 1999). Gaya kepemimpinan demokratik ini lebih menekankan pada partisipasi anggotanya daripada bertindak dan menetukannya sendiri. Peranannya selaku pimpinan dalam organisasional adalah sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas, dan terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan dengan penekanan pada rasa tanggung 34 jawab pada diri sendiri dan pekerjaan yang tinggi serta kerja sama yang baik. Lewis B.Sappington dan C.G.Brown (dalam Sutarto, 1991) gaya kepemimpinan demokratis ditunjukkan dengan gambar sebagai berikut: Gambar 1.2 Gaya Kepemimpinan Demokratis = pemimpin = bawahan = arah hubungan Ciri gaya kepemimpinan demokratis antara lain: 1. Wewenang pemimpin tidak mutlak 2. Pemimpin bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan 3. Keputusan dan kebijaksanaan dibuat bersama antara pemimpin dan bawahan 4. Komunikasi berlangsung timbal balik, baik yang terjadi antara pemimpin dan bawahan maupun antara sesama bawahan 5. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar 6. Prakarsa dapat datang dari pemimpin maupun bawahan 35 7. Banyak kesempatan bagi bawahan untnk menyampaikan saran, pcrtimbangan atau pendapat 8. Tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan daripada instruktif 9. Pujian dan kritik seimbang 10. Pemimpin mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam batas kemampuan yang seimbang 11. Terdapat suasana saling percaya, saling hormat dan saling menghargai 12. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pemimpin dan bawahan Siagian (2002) mengemukakan ciri-ciri tipe kepemimpinan demokratis sebagai berikut: 1. Mengakui harkat dan martabat manusia 2. Menerima pendapat yang mengatakan bahwa sumber daya manusia merupakan unsur yang paling strategik dalam organisasi meskipun sumber daya dan lainnya tetap diakui sebagai sumber daya yang penting, seperti uang, mesin, materi, metode kerja, waktu dan informasi yang kesemuanya hanya bermakna apabila diolah dan digunakan uleh manusia. 3. Para bawahan adalah insan dengan jati diri yang khas dan karena itu harus diperlakukan dengan mempertimbangkan kekhasan itu. 4. Tangguh membaca situasi yang dihadapi dan dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan situasi tersebut. 36 5. Rela dan mau melimpahkan wewenang pengambilan keputusan kepada para bawahannya sedemikian rupa tanpa kehilangan kendali organisasional dan tetap bertanggnng jawab atas tindakan para bawahannya itu. 6. Mendorong para bawahan mengembangkan krealifitasnya untuk diterapkan secara inovatif dalam pelaksanaan berkarya berupa ide, teknik dan cara baru serta didorong agar tidak puas bekerja secara rutinistik atau mekanistik 7. Tidak ragu-ragu membiarkan para bawahan mengambil resiko dengan catatan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh telah diperhitungkan dengan matang 8. Bersifat mendidik dan membina, dalam hal bawahan berbuat kesalahan dan tidak serta merta bersifat menghukum atau mengambil tindakan punitive

Manfaat Akta Kelahiran (skripsi dan tesis)

Akta kelahiran mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat
penting dalam proses pembangunan nasional karena dapat memberikan
manfaat bagi individu dan pemerintah. Adapun manfaat akta kelahiran
adalah sabagai berikut:
a. Bagi Pribadi/individu:
1. Menentukan status hukum seseorang
2. Merupakan alat bukti yang paling kuat di muka dan hadapan hakim
3. Memberikan kepastian tentang peristiwa itu sendiri
b. Bagi Pemerintah:
1. Meningkatkan tertib administrasi Negara
2. Merupakan penunjang data bagi perencanaan pembangunan
3. Pengawasan dan pengendalian
Manfaat akta kelahiran secara umum adalah sebagai berikut:
a. Bagi diri pemilik
1. Merupakan alat bukti yang paling kuat dalam menentukan kedudukan
hukum seseorang.
2. Memberikan kepastian hukum yang sah tentang kejadian atau
peristiwa yang dicatatatkan.
3. Merupakan akta otentik yang mempunyai kekuatan hukum pembutian
sempurna di depan hakim.
b. Bagi pihak lain mengikat pihak-pihak yang berkepentingan.
c. Bagi pemerintah untuk mempelancar aktivitas di bidang kependudukan
atau administrasi kependudukan.
a. Menunjang tertib administrasi kependudukan
b. Menunjang perencanaan pembangunan
c. Pengawasan dan penngendalian penduduk
Dalam rangka mewujudkan kepastian hukum, maka semua aktaakta di daftar dan dikeluarkan oleh catatan sipil akan dapat mempunyai
kekuatan pasti dan tidak dapat dibantah oleh pihak ketiga. Karena akta-akta
yang dibuat oleh Lembaga Catatan Sipil adalah mengikat terhadap mereka
yang berkepentingan. Kita ketahui pula suatu Negara yang merupakan
Negara hukum (rechstaats). Maka akan menghendaki pula adanya
masyarakat yang teratur, tertib, aman, dan tentram. Memberikan kepastian
hukum yang sah tentang kejadian atau peristiwa yang dicatatkan

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong (2012) Dalam arti yang sempit harga (price) adalah jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa, lebih luas lagi harga dalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa. Menurut Andi (2015:128) Harga menjadi faktor utama yang dapat mempengaruhi pilihan seorang pembeli, harga cukup berperan dalam menentukan pembelian konsumen, untuk itu sebelum menetapkan suatu harga, sebaiknya perusahaan melihat beberapa refrensi harga suatu produk yang dinilai cukup tinggi dalam penjualan.

Jenis-jenis Infertilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Fauziyah (2012) Jenis-jenis infertilitas terbagi menjadi dua yaitu :
a) Infertilitas primer: Jika istri belum berhasil hamil walaupun telah
berusaha selama satu tahun atau lebih dengan hubungan seksual yang
teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
b) Infertilitas sekunder: Jika istri pernah hamil akan tetapi tidak berhasil
lagi walaupun bersenggama teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan
kehamilan selama 12 bulan berturut turut .

Motivasi Konsumen (skripsi dan tesis)

Motivasi yang ada pada seseorang konsumen akan mewujudkan suatu
tingkah laku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan. Jadi
motivasi bukanlah sesuatu yang dapat diamati, tetapi hal yang dapat
disimpulkan.Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang itu didorong
oleh sesuatu kekuatan dalam diri orang tersebut, kekuatan pendorong inilah
yang kita sebut motivasi. Menurut Schiffman dan Kanuk (2000), ”
Motivation can be described as the driving force within individuals that
impels the to action”. Artinya motivasi adalah kekuatan pendorong dalam
diri seseorang yang memaksanya untuk melakukan suatu tindakan.Menurut
Setiadi (2003) mendefinisikan motivasi adalah keadaan didalam pribadi
seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatankegiatan guna mencapai suatu tujuan. Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu
tujuan untuk mencapai sasasaran kepuasan.

Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)

Pengambilan keputusan diyakini merupakan sebuah keadaan yang sangat
penting untuk dapat menentukan sebuah pilihan yang diharapkan dapat
meningkatkan perkembangan organisasi atau perusahaan, berikut ini adalah
pengertian pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh Terry (2009),
pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif dari dua atau lebih alternatif
yang ada untuk menentukan arah tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan menurut
Silalahi (2002: 207), pengambilan keputusan adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seorang (pimpinan) atau sekelompok orang (antar pimpinan dan bawahan) dalam
usaha memecahkan dan mencari masalah yang dihadapi dengan merumuskan,
menetapkan berbagai alternatif. Satu dari berbagai alternatif yang dianggap paling
baik, tepat dari rasional dipilih untuk dilaksanakan. Suatu proses yang menyeluruh
bukan sekedar tindakan sederhana untuk membuat pilihan antara dua atau lebih
alternatif yang ada. Pengambilan keputusan bukan hanya dilakukan oleh para
manajer, akan tetapi semua anggota organisasi membuat keputusan yang
mempengaruhi pekerjaan mereka dan organisasi tempat mereka bekerja. (Robbins
& Coulter, 2007: 8). Lebih lanjut lagi Menurut Supranto (2009: 1), pengambilan
keputusan yaitu memilih satu di antara sekian banyak alternatif. Minimal ada dua
alternatif dan dalam praktiknya lebih dari dua alternatif di mana
pengambil/pembuat keputusan (decision maker) harus memilih salah satu
3 Taylor et al. (2009) 1. Biologis
2. Sosialisas
3. Peran Sosial
4. Situasi Sosial
4 Galea & Wright (1999) 1. Self-reliant (Mandiri)
2. Defends own beliefs (Percaya
diri)
3. Forceful (Tegas)
4. Affectionate (Berperasaan)
5. Understanding (Pengertian)
6. Gentle (Ramah)
Sumber: Olah Data (2017)
berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu. Sedangkan menurut Sumaryanto
(2011: 1), pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif
terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan)
sebagai suatu cara pemecahan masalah. Mengidentifikasi dan memilih
serangkaian tindakan untuk menghadapi masalah tertentu atau mengambil
keuntungan dari suatu kesempatan. Pengambilan keputusan menghubungkan juga
keadaan organisasi masa kini dengan tindakan yang akan diambil organisasi ke
dalam masa depan. pengambilan keputusan menggunakan masa lalu; pengalaman
masa lalu positif dan negatif memainkan bagian penting dalam menentukan
pilihan mana yang layak atau yang tidak (Stoner et al., 1995: 239)
Dengan demikian kita dapat menarik kesimpulan bahwa pengambilan
keputusan adalah sebuah kegiatan individu, kelompok atau organisasi untuk dapat
mengambil sebuah tindakan alternatif agar mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya serta menilai keadaan tertentu untuk dapat memberikan alternatif
tindakan yang dilakukan dari proses-proses dengan tujuan memberikan solusi
yang terbaik agar dapat digunakan saat ini atau masa yang akan datang

Dimensi Budaya Organisasi Hofstede(skripsi dan tesis)

Dimensi Budaya OrganisasiHofstede (1991) mengidentifikasi dimensi budaya, yaitu :
1) Power distance, seseorang adalah unik, tidak sama, baik dalam kapasitas fisik
maupun intelektual. Ketidaksamaan atau keberagaman ini berkembang
menjadi keadaan yang tidak berhubungan dengan kapasitas fisik dan
intelektual.
2) Collectivism vs individualism, kolektivisme selalu melakukan aktivitas
berdasarkan kepentingan kelompok, perlindungan terhadap kelompok, dan
keputusan berdasarkan kelompok (in-group orientation) sedangkan
individualism bertanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga.
3) Masculinity vs feminity, menggambarkan peran pembeda berdasarkan gender,
disebut masculine apabila masyarakat memiliki sifat-sifat tegas, kuat,
kompetitif, dan mementingkan prestasi. Feminity dianggap memiliki sifat
lebih sederhana, rendah hati, mengasuh, dan lebih mementingkan kualitas
hidup.
4) Uncertainty avoidance, mengupayakan menghindari ketidakpastian, dan
menuntut aturan yang lebih tertulis atau high uncertainty avoidance
sedangkan low uncertainty avoidance cenderung menerima ketidakpastian dan
tidak menjadi gugup dengan keadaan tersebut.
5) Short term vs Long term orientation, fokus pada derajat kesetiaan jangka
panjang masyarakat, terhadap nilai-nilai tradisional. Masyarakat dalam
orientasi long-term memandang masa depan dan nilai-nilai hemat, keteguhan
hati dan tradisi (sustainability). Sebaliknya orientasi short-term, orang
menghargai masa kini dan masa lalu.
Schein (2004) membedakan elemen-elemen budaya organisasi dengan
memperlakukan asumsi dasar sebagai esensi atau budaya inti, sedangkan nilai
serta perilaku sebagai perwujudan yang diamati dari esensi budaya. Schein
membagi budaya organisasi ke dalam tiga tingkatan bangunan, yaitu sebagai
berikut. Tingkat pertama adalah artifak (artifact) di mana budaya bersifat kasat
mata tetapi sering kali tidak dapat diartikan. Tingkat kedua adalah nilai (value)
yang memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi daripada artifak. Tingkat
ketiga adalah asumsi dasar (basic assumption) di mana budaya diterima begitu
saja (taken for granted), tidak kasat mata dan kadang kala tidak disadari. Ketiga
tingkatan budaya tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
1) Tingkat artifak (artifact) merupakan elemen dasar organisasi yang tampak di
permukaan sehingga paling mudah untuk dikenali karena dapat dilihat,
didengar, dan dirasakan. Artifak juga mencerminkan organisasi dalam hal
rancangan lingkungan fisik, bahasa yang digunakan, dan gaya dalam
berbusana.
2) Tingkat nilai-nilai (values) merupakan bagian dari substruktur kognitif dari
sebuah budaya organisasi. Nilai-nilai lebih mengarah pada kode-kode moral
dan etika dan menjadi penentu bagi setiap anggota organisasi tentang apa
yang sebaiknya dilakukan. Dalam hubungan dengan perbuatan atau tingkah
laku, nilai-nilai tersebut dapat diukur dengan adanya perubahan-perubahan
atau melalui konsensus.
3) Tingkat asumsi dasar (basic assumptions), merupakan solusi yang mau tidak
mau harus diterima sebagai solusi sekaligus menjadi inti dan aspek
terpenting dari budaya organisasi. Asumsi dasar memandu perilaku dan
menyampaikannya pada anggota organisasi bagaimana memahami, berpikir
dan merasakan tentang pekerjaan, tujuan kinerja, hubungan manusia dan
kinerja yang umumnya tidak dikonfrontasi atau diperdebatkan karena sangat
sulit untuk diubah.
Denison (1990) menghadirkan saling keterkaitan antara budaya organisasi,
praktek-praktek manajemen, kinerja dan efektifitas. Denison (1990) menyoroti
pentingnya menghubungkan praktik-praktik manajemen dengan asumsi dasar dan
kepercayaan dalam menilai efektivitas budaya organisasi. Nilai-nilai dan
kepercayaan dalam organisasi menumbuhkan seperangkat praktik manajemen di
mana aktivitas-aktivitas yang dilakukan tersebut berasal dari nilai-nilai yang ada
dalam organisasi. Aktivitas ini muncul dari penguatan nilai-nilai dan kepercayaan
yang dominan di dalam suatu organisasi.
Denison (1990) membagi dimensi budaya organisasi, sebagai berikut.
1) Keterlibatan (involvement)
Organisasi yang efektif adalah organisasi yang memberdayakan serta
mengembangkan kapabilitas sumber daya pada semua tingkatan. Dengan kata
lain involvement berkaitan dengan kemampuan (capability), kepemilikan
(ownership) dan tanggung jawab (responsesibility) karyawan dalam
mewujudkan misi organisasi.
2) Konsistensi (consistency)
Menekankan adanya dampak positif budaya kuat pada efektivitas organisasi.
Sistem keyakinan, tata nilai, dan simbol-simbol yang dihayati serta dipahami
secara luas oleh para anggota organisasi mempunyai dampak positif pada
kemampuan mereka dalam mencapai konsensus dan tindakan-tindakan yang
terkoordinasi.
3) Adaptabilitas (adaptability)
Merupakan penjabaran sistem norma-norma dan keyakinan-keyakinan yang
dapat mendukung kapasitas suatu organisasi agar dapat menerima,
menafsirkan, dan menerjemahkan tanda-tanda yang berasal dari lingkungan
supaya terjadi perubahan-perubahan perilaku internal untuk bisa bertahan
hidup, tumbuh, dan berkembang.
4) Misi (mission)
Menentukan manfaat dan makna dengan cara mendefinisikan peran sosial dan
sasaran eksternal bagi institusi serta mendefinisikan peran individu berkenaan
dengan peran institusi. Kesadaran akan misi memberikan arah dan sasaran
yang jelas untuk mendefinisikan serangkaian tindakan yang tepat bagi
organisasi dan anggota-anggotanya.
Kotter dan Heskett (1997) menguraikan bahwa, budaya mempunyai dua
tingkatan yang berbeda dalam kaitannya dengan kemampuan dan kekuatan untuk
berubah. Secara lebih mendalam, pada tingkatan yang kurang kelihatan, budaya
mengacu pada nilai-nilai yang dibagi bersama oleh orang-orang di suatu
kelompok dan berlaku dari waktu ke waktu bahkan ketika keanggotaan kelompok
telah berubah. Pada tingkatan yang lebih kelihatan, budaya mewakili perilaku pola
atau gaya dari suatu organisasi bahwa karyawan yang baru secara otomatis
didorong untuk mengikuti perilaku karyawan yang telah ada. Budaya dalam hal
ini masih sulit untuk berubah, tetapi tidak sesulit seperti pada tingkat nilai-nilai
asumsi dasar. Tiap-tiap tingkatan budaya mempunyai suatu kecenderungan yang
secara alami dapat mempengaruhi tingkatan-tingkatan yang lain. Hal ini tampak
lebih jelas dalam kasus pengaruh nilai-nilai yang dibagi bersama di dalam
perilaku kelompok seperti kemampuan bereaksi terhadap pelanggan.
Kotter dan Heskett (1997) mengklasifikasikan budaya organisasi ke dalam
tiga kategori. Ketiga kategori yang dimaksud, adalah sebagai berikut.
1) Budaya yang kuat (strong culture), dicerminkan oleh semua manajer
menganut bersama seperangkat nilai dan metode dengan menjalankan bisnis
secara relatif konsisten. Karyawan baru mengadopsi nilai-nilai dengan cepat,
begitu pula seorang pimpinan dapat dikoreksi oleh bawahan selain oleh
atasannya apabila melanggar norma-norma organisasi.
2) Budaya yang adaptif (adaptive culture), budaya ini dapat membantu
organisasi mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Sebuah budaya yang adaptif memerlukan pendekatan yang bersifat siap
menanggung risiko, percaya, dan proaktif terhadap kehidupan organisasi (Ralp
Kilmenn dalam Kotter dan Heskett, 1997). Budaya yang adaptif mendorong
wirausaha untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru (Rosabeth Kanter
dalam Kotter dan Heskett, 1997).
3) Budaya yang selaras dengan kinerja, menyatakan secara eksplisit arah budaya
harus menyelaraskan dan memotivasi karyawan untuk meningkatkan kinerja.
Menurut perspektif ini, hanya budaya yang tepat secara kontekstual atau
strategis yang diasosiasikan dengan kinerja unggul. Selanjutnya dikatakan
bahwa tidak ada satu budaya yang pas diterapkan di semua perusahaan, hanya
budaya yang selaras dengan kontektual dan strategis yang mampu mendorong
menuju kinerja unggul.
Variabel budaya organisasi dalam penelitian ini adalah budaya organisasi
yang berbasis nilai-nilai budaya lokal Bali. Tradisi menyama braya sudah
dilakukan oleh masyarakat Bali secara turun temurun yang mengedepankan nilai
kekeluargaan, kerukunan antar komunitas dan individu, serta mengedepankan
nilai solidaritas seakan-akan sudah menjadi bagian dalam kehidupan
bermasyarakat di Bali (Geriya, 2010: 152). Nilai filosofi yang terkandung di
dalam konsep menyama braya dapat dipergunakan pondasi dalam
mengembangkan investasi maupun perilaku kewirausahaan.
Globalisasi memainkan peranan penting dalam perekonomian saat ini,
menjelajahi peran budaya akan membantu praktisi dalam memilih investasi yang
lebih efektif. Wiengarten (2010) meneliti bagaimana perbedaan budaya
mempengaruhi kinerja operasional untuk investasi pada manufaktur. Karakteristik
budaya diklasifikasikan ke dalam empat dimensi: (1) indeks jarak kekuasaan, (2)
individualisme, (3) maskulinitas, dan (4) indeks penghindaran ketidakpastian
dengan masing-masing dimensi diukur secara numerik (Hofstede, 1980). Hasil
studi menunjukkan bahwa beberapa dimensi budaya secara signifikan memoderasi
dampak dari investasi pada praktik-praktik manufaktur dan kinerja manufaktur.
Masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing lagi dengan
ungkapan yang sangat sederhana yaitu menyame braya. Sebuah tradisi yang
dilakukan berdasarkan rasa saling membutuhkan satu sama lain yang senantiasa
dipupuk.
Konsep menyama braya merupakan budaya lokal yang berfungsi sebagai
struktur sosial masyarakat Bali dalam berhubungan dengan keluarga maupun
dengan orang lain. Sistem sosial suatu masyarakat dapat digambarkan sebagai
sejumlah relasi sosial dan hubungan sosial yang dapat berfungsi sebagai modal
sosial. Suyatna Yasa (2012) menemukan bahwa modal sosial merupakan modal
yang diperlukan oleh pengusaha kecil dan menengah di Bali dalam meningkatkan
pertumbuhan usaha.
Sunariani (2014) menemukan bahwa pelaksanaan ritual dapat menguatkan
tradisi gotong royong, menyama braya yang mengandung nilai-nilai kebersamaan
dapat merubah sikap berusaha masyarakat dari pengrajin menjadi penjual alat-alat
banten. Menyama braya sebagai modal sosial diyakini dapat mendukung
keputusan untuk berwirausaha termasuk keputusan untuk berinvestasi. Menyama
braya yang merupakan kearifan lokal telah dikenal sejak dulu oleh masyarakat
Bali dan masih tetap eksis sampai saat ini. Eksistensi kearifan lokal menyama
braya karena diperkuat oleh sesanti seperti: suka duka (rasa memiliki bersama),
sagilik saguluk (semangat bersatu), salunglung sabayantaka (kebersamaan dan
toleran), paras paros (musyawarah mufakat), briuk sapanggul (tolong menolong).
Jika diperhatikan sesanti yang memperkuat kearifan lokal menyama braya
mengandung nilai solidaritas dan kerjasama yang sangat bermanfaat dalam
membnagun semangat kinerja dalam komunitas, organisasi maupun perusahaan.
Sitiari (2016) mengemukakan menyama braya dicerminkan oleh indikatorindikator: (1) mengutamakan hubungan bersaudaraan dengan saling menghargai,
dan tolong menolong dalam suka maupun duka, (2) menjunjung tinggi asas
gotong royong, (3) menjalin kerja sama baik untuk kepentingan bersama maupun
untuk kepentingan individu, (4) perduli dan menjaga solidaritas terhadap sesama,
(5) mencari relasi karena merasa saling membutuhkan, (6) mengambil keputusan
berdasarkan kesepakatan bersama, (7) meningkatkan toleransi dalam kehidupan.
Budaya menyama braya di Bali mengandung makna yang sama dengan budaya
guanxi di Cina (Sitiari , 2016). Budaya menyama braya di Bali mengadung makna
saudara tidak hanya dilihat dari adanya hubungan darah (agetih abumbung), yang
dilandasi oleh ajaran Vasudewam Kuthumbakam yang mendasari persamaan
kedudukan diamana setiap orang adalah saudara.
Budaya guanxi di Cina mengandung makna yang hampir sama yang
dianggap sebagai saudara adalah tidak hanya saudara kandung. Budaya guanxi
cenderung untuk membentuk jaringan untuk keperluan bisnis sedangkan budaya
menyama braya lebih menekankan pada unsur kebersamaan yang berfungsi
sebagai modal sosial.
Keterbaharuan modal sosial yang terkait dengan dinamika organisasi bisnis
disampaikan oleh Nahapiet dan Ghoshal (1988) yang membagi dimensi social
capital menjadi tiga bagian yaitu dimensi: (a) structural dimension; (b) relational
dimension; serta (c) cognitive dimension. Structural dimension mencakup aspek
kordinasi dan kerja sama dalam lingkup organisasi dalam rangka mencapai tujuan
organisasi bersama, yang menggambarkan kekuatan social capital terdapat pada
nilai-nilai lokal kebersamaan nilai-nilai banjar adat sebagaimana digambarkan
oleh Lietaer (2002) tentang komunitas dengan semangat menyama braya sebagai
sustaining cultural vitality yang telah mengakar sebagai model modal sosial
berbasis budaya lokal.
Relational dimension adalah basis kebersamaan organisasi yang
berlandaskan kepada trust sebagai community relational yang juga didapatkan
pada budaya lokal banjar adat sebagai pola dasar relasi antar komunitas yang
terjalin kuat atas dasar saling membutuhkan satu sama lain yang membentuk
relasi egalitarian basis (Lietaer, 2002), azas toleransi dengan mengutamakan
kepentingan bersama dalam mencapai tujuan organisasi kemasyarakatan yang
harmoni dan saling membutuhkan satu sama lain.
Cognitive dimension adalah perikatan dalam bentuk Pedoman dan aturan
yang telah digariskan organisasi secara konsisten dan berkesimabungan dalam
praktek pengelolaan organisasi sebagai wadah kepentingan bersama. Nahapiet dan
Ghoshal (1988) mendefinisikan cognitif dimension sebagai pola keteraturan
organisasi yang digaruskan melalui visi organisasi yang dilaksanakan secata
konsisten dan berkesimabungan. Pada budaya lokal sebagaimana digambarkan
oleh Lietaer (2002) adalah sebagai sustaining cultural yang hidup berkembang
dalam komnunitas banjar adat ditemukan pada budaya gotong royong dan
perilaku kebersamaan yang telah diwariskan secara turun temurun yang diterima
sebagai norma untuk dilestarikan dalam praktek membangun kehidupan pada
masyaraat lokal di Bali ( Lietaer, 2002).
Lietaer (2002) dan Geertz (1990), tentang peranan budaya lokal yang
berperan dalam mengatur dinamika kehidupan masyarakat lokal Bali yang searah
dengan konsep teori yang disampaikan oleh Nahapiet dan Ghoshal (1988). Local
wisdom yang terdapat pada setiap kebudayaan memiliki paling sedikit tiga
dimensi yang dikembangkan oleh Nahapiet dan Gotshal (1988) didapatkan pola
yang identik dengan pola orientasi budaya lokal yang dikenal dengan menyama
braya yang tumbuh berkembang dalam satuan komunitas banjar adat (Lietaer,
2002).
60
Berdasarkan definisi budaya organisasi dan dimensi yang dikemukakan
seperti diatas dan dihubungkan dengan teori modal sosial maka dimensi budaya
organisasi dalam penelitian ini mengacu pada apa yang dikemukakan oleh
Nahapiet dan Ghoshal (1988) yaitu: (1) jaringan (dimensi structural), (2) trust
(dimensi relation); dan (3) norma (dimensi Cognitive).
Selanjutnya berdasarkan dimensi tersebut dan indikator dalam menyama
braya yang dikemukakan Sitiari (2016) maka dapat dikemukakan indikator dari
masing-masing dimensi tersebut, sebagai berikut.
(1) Dimensi modal sosial struktural (jaringan)
Koordinasi antar pengusaha dan pemerintah, menjalin kerjasama antar instansi
membangun pelayanan kepada pelanggan, membangun relasi dalam upaya
mendapatkan modal, meningkatkan toleransi dalam upaya kepentingan
anggota REI, menjunjung tinggi asas gotong royong dalam rangka penyediaan
produk.
(2) Dimensi modal sosial (relational)
Mengutamakan hubungan persaudaraan antar pengusaha dalam membangun
kepercayaan, menjunjung asas gotong-royong dalam permodalan, mencari
relasi dalam membangun pangsa pasar.
(3) Dimensi modal sosial cognitive (norma)
Peduli dan menjaga solidaritas aturan organisasi dengan konsisten, mengambil
keputusan berdasarkan kesepakatan bersama dalam pengembangan produk,
mengutamakan hubungan bersaudara, tolong menolong baik suka dan duka
dalam permodalan.

Dimensi Orientasi Kewirausahaan(skripsi dan tesis)

 Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikandasar, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju kesuksesan. Beberapa
literatur manajemen memberikan tiga landasan dimensi dari kecenderungan
organisasional untuk proses manajemen kewirausahaan, yakni kemampuan
inovasi, kemampuan mengambil risiko, dan sifat proaktif (Weerawerdeena, 2003).
Inovasi, risiko dan proaktif merupakan dimensi orientasi kewirausahaan sebagai
sumber daya yang memfasilitasi sebuah perusahaan untuk menghasilkan
keunggulan bersaing. Perusahaan dalam upaya untuk merespon lingkungan yang
dinamis dan kompetitif, orientasi kewirausahaan perlu secara konsisten diterapkan
untuk memenuhi tujuan perusahaan dan mencapai kinerja yang unggul (Li, 2008).
Kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan kemampuan dalam menciptakan
sesuatu yang baru dan berbeda (Hisrich et al., 2005). Scarborugh dan Zimmerer
(2008:172) mendefinisikan kewirausahaan sebagai proses penerapan kreativitas
dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang dalam
memperbaiki kehidupan usaha.
Perkembangan studi terus menerus untuk sub-faktor orientasi kewirausahaan
sebagai konsep multi dimensional Miller dan Friesen (1982) berpendapat bahwa
kewirausahaan menjadi berbeda karena memiliki titik berat pada inovasi produk
baru. Sementara tiga sub dimensional faktor yang meliputi inovasi, proaktif dan
berani mengambil risiko dikemukakan (Miller, 1983; Covin dan Slevin 1991;
Zahra dan Covin, 1993).
Orientasi kewirausahaan memiliki tiga karakteristik utama, yaitu inovasi,
pengambilan risiko, dan proaktif (Covin dan Slevin, 1989; Miller, 1983; Miller
dan Friesen, 1982). Menurut Covin dan Slevin (1988:218), orientasi
kewirausahaan ditunjukkan oleh sejauh mana manajer puncak cenderung untuk
mengambil risiko yang terkait dengan bisnis (dimensi risiko), mendukung
perubahan dan inovasi dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan kompetitif
bagi perusahaan mereka (dimensi inovasi), dan bersaing secara agresif dengan
perusahaan lain (dimensi proaktif). Selanjutnya Covin dan Slevin (1989) dalam
(Kreiser et al., 2002) mengungkapkan bahwa orientasi kewirausahaan
(entrepreneurial orientation) berkaitan dengan aspek psikometrik yang dilihat
dari inovasinya, sifat proaktifnya dan keberanian mengambil risiko. Dari tiga
dimensi ini bisa dilihat orientasi kewirausahaan seseorang. Lumpkin dan Dess
(1996) memberi pengertian bahwa orientasi kewirausahaan mengacu pada suatu
strategi orientasi perusahaan untuk memperoleh gaya, praktek pengambilan
keputusan. Orientasi kewirausahaan mencerminkan bagaimana suatu perusahaan
beroperasi dibandingkan dengan apa yang direncanakan.
Teori tentang orientasi kewirausahaan masih ada perbedaan antara jenis
perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Pada penelitian tentang
orientasi kewirausahaan sebelumnya didapatkan hasil bahwa kewirausahaan yang
memiliki tingkat risiko yang lebih besar dari perusahaan lainnya akan menjadi
lebih proaktif dalam mencari peluang bisnis baru (Mintzberg, 1973). Penelitian
Miller dan Friesen (1982) berpendapat bahwa kewirausahaan menjadi berbeda
karena memiliki titik berat pada inovasi produk baru. beberapa organisasi terlihat
memiliki kemauan untuk berani berinovasi dan mengambil risiko yang cukup
besar dalam strategi pemasaran produknya. Suatu perusahaan yang berorientasi
kewirausahaan adalah perusahaan yang senantiasa melakukan inovasi produk,
melakukan usaha yang berisiko, dan aktif secara proaktif berkompetisi sehingga
mengalahkan pesaing-pesaingnya.
Penelitian Lumpkin dan Dess (1996) menyatakan bahwa inovasi,
pengambilan risiko, dan proaktif membentuk kontribusi unik terhadap orientasi
kewirausahaan suatu perusahaan. Miller dan Freisen dalam (Keiser et al., 2002)
menyatakan bahwa tingkat kewirausahaan suatu perusahaan merupakan total
jumlah dari ketiga subdimensi tersebut di mana sebuah perusahaan yang benarbenar “entrepreneurial” akan menampilkan tingkat yang tinggi pada masingmasing subdimensi.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas tentang orientasi
kewirausahaan yang relevan dengan dunia usaha properti yaitu pengambilan
resiko terkait dengan keputusan investasi, mendapatkan keuntungan kompetitip
dengan melakukan inovasi produk, dan secara agresif bersaing dengan perusahaan
lain, maka dimensi dari orientasi kewirausahaan ini mengacu pada penelitian
Covin dan Slevin (1991) dalam Puspaningsih (2015), yaitu inovasi, risk–taking,
dan proaktif.
1) Inovasi
Lumpkin dan Dess (2001), Schumpeter (1934) adalah beberapa peneliti
yang mengkaji tentang peran inovasi dalam proses kewirausahaan. Schumpeter
(1934) menggambarkan kewirausahaan sebagai proses penciptaan kekayaan yang
diukur melalui terjadinya perubahan struktur pasar yang ada karena pengenalan
produk atau jasa baru yang menyebabkan penggunaan sumber daya meningkat
dari sebelumnya sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan perusahaan
baru. Lumpkin dan Dess (2001) berpendapat bahwa proses penciptaan kreativitas
dari seorang pengusaha akan menentukan keberhasilan suatu perusahaan.
Hubungan antara kewirausahaan dan inovasi didukung oleh penelitian Shane et al.
(1991), yang menemukan bahwa inovasi adalah salah satu motif utama untuk
memulai usaha.
Lumpkin dan Dess (2001) menyatakan bahwa inovasi mencerminkan
kecenderungan perusahaan untuk terlibat dan mendukung ide-ide baru,
eksperimentasi, dan proses kreatif dalam menghasilkan produk baru, jasa, atau
proses teknologi. Inovasi mengacu pada kesediaan untuk bergerak maju dari
teknologi atau praktek yang ada dan mengeksplorasi di luar perbatasan saat ini
menunjukkan bahwa inovasi perusahaan adalah menciptakan usaha dan
memperkenalkan produk baru ke pasar (Zahra dan Garvis, 2000). Inovasi sangat
penting untuk menjaga kelangsungan hidup suatu perusahaan karena merupakan
sumber ide-ide yang mengarah pada perbaikan serta pengembangan perusahaan
(Lumpkin dan Dess 2001).
Inovasi sangat penting karena kondisi pasar saat ini yang mengalami
perubahan sangat cepat, mengharuskan sebuah perusahaan mampu
mempertahankan keunggulan kompetitif. Inovasi dapat menjadi kunci dan sumber
kemajuan yang berdampak signifikan pada pertumbuhan bagi perusahaan
(Lumpkin dan Dess, 2001).
2) Risk-Taking
Kemampuan mengelola atau mengambil risiko (risk taking) memerlukan
kemauan dan keberanian untuk mengejar peluang subtansial yang menghasilkan
kerugian atau perbedaan kinerja yang signifikan (Kuratko et al., 2001). Risk
taking biasanya dikaitkan dengan kewirausahaan karena konsep kewirausahaan
termasuk asumsi pribadi mengambil risiko (Lumpkin dan Dess, 2001). Pada
tingkat perusahaan, pengambilan risiko mengacu pada kecenderungan untuk
mendukung proyek-proyek dengan ketidakpastian tingkat pengembalian yang
diharapkan (Walter et al., 2006).
Menurut Lumpkin dan Dess (2001), organisasi atau perusahaan
menghadapi tiga jenis risiko, yaitu risiko bisnis, risiko keuangan, dan risiko
pribadi (personal risk). Risiko bisnis mengacu pada risiko memasuki pasar belum
teruji, atau berkomitmen untuk teknologi yang belum terbukti (Baird dan Lucey,
2013; Dess dan Lumpkin, 2005). Risiko keuangan yang berkaitan dengan
peningkatan sumber dana untuk peningkatan pertumbuhan perusahaan (Baird dan
Lucey, 2013; Dess dan Lumpkin, 2005). Perusahaan dengan orientasi
kewirausahaan yang tinggi akan terlibat dalam aktivitas bisnis yang berisiko,
seperti penggunaan hutang yang tinggi dalam upaya untuk memperoleh
keuntungan tinggi dengan memanfaatkan peluang di pasar (Lumpkin dan Dess,
2001). Risiko pribadi berhubungan dengan tingkat keberanian seseorang. Manajer
atau pemilik perusahaan diharuskan mengambil kebijakan terkait aktivitas
operasional perusahaan, seperti memanfaatkan peluang, penggunaan hutang,
dimana setiap keputusan yang diambil akan memiliki dampak tertentu. Risk taking
tidak berarti berspekulasi terhadap risiko tetapi mengelola dan memperhitungkan
kemungkinan terjadinya suatu risiko (Dess dan Lumpkin, 2005). Risiko dalam hal
ini tidak mengacu ekstrim pada usaha berisiko yang tidak terkendali (Kuratko et
al., 2001). Risiko merupakan konsekuensi dari kesempatan yang berbeda diuji dan
skenario yang berbeda dibuat dalam rangka mengurangi tingkat risiko (Dess dan
Lumpkin, 2005).
3) Proaktif
Proaktif mengacu pada mengambil inisiatif, mengantisipasi dan
melaksanakan peluang baru, dan menciptakan pasar baru atau berpartisipasi aktif,
juga berhubungan dengan kewirausahaan (Entrialgo et al., 2000 dan Walter et al.,
2006).
Menurut Lumpkin dan Dess (2001), sebuah perusahaan yang proaktif akan
dapat mengidentifikasi masalah yang mungkin muncul dan mencari alternatif
solusinya (Dess dan Lumpkin, 2005). Proactiveness dapat menjadi kunci untuk
keunggulan kompetitif, karena organisasi atau perusahaan secara aktif dan terus
menerus mencari dan memanfaatkan setiap peluang.
Venkatraman (2001) proactiveness mengacu pada proses yang bertujuan
untuk meramalkan dan bertindak atas kebutuhan masa depan dengan mencari
peluang baru yang mungkin berhubungan dengan menyajikan operasi yang
berbeda dari perusahaan tersebut. Proactiveness dapat mengacu pada pengenalan
produk yang benar-benar baru dan melakukan perubahan atau perbaikan pada
aktivitas operasional disesuaikan dengan perubahan trend masyarakat dan
perkembangan teknologi.
Berdasarkan uraian dari ketiga dimensi orientasi kewirausahaan tersebut
dapat dikemukakan indikator dari masing-masing dimensi, sebagai berikut.
(1) Inovasi: menemukan pasar baru, menciptakan produk baru, menciptakan nilai
bagi pelanggan, menciptakan dan menggunakan dukungan teknologi.
(2) Risk-Taking: menghindari kegagalan, resiko kehilangan kesempatan investasi,
resiko yang dapat dikurangi dengan membuat perubahan efektif.
(3) Proaktif: memasuki pasar baru sebelum pesaing, memperkenalkan produk
baru sebelum pesaing melakukan, meningkatkan nilai bagi pelanggan sebelum
pesaing melakukan, menawarkan harga lebih rendah sebelum pesaing
melakukan, meningkatkan kualitas produk sebelum pesaing melakukan

Financial Satisfaction(skripsi dan tesis)

Sahi (2013) mengemukakan bahwa financial satisfaction merupakan
kepuasan yang dirasakan individu berkaitan dengan berbagai aspek kondisi
keuangan mereka. Menurut Kim (1999), financial satisfaction adalah kepuasan
seseorang terhadap kondisi keuangan pribadi. Praag dan Carbonell (2001)
mengemukakan bahwa orang yang memiliki financial satisfaction adalah orang
yang merasa puas terhadap kondisi keuangan saat ini. Hira dan Mugenda
(1998) mengartikan kepuasan keuangan sebagai persepsi subjektif individu
pada kecukupan sumber daya keuangan yang dimiliki. Oleh karena itu,
kepuasan keuangan merupakan salah satu komponen dari kehidupan yang
ditandai dengan ketercukupan aset keuangan. Berpijak pada definisi tersebut,
tampak bahwa mencapai atau tidak mencapai kepuasan keuangan ditentukan
oleh bagaimana mengelola uang. Selain daripada itu, kepuasan keuangan
merupakan salah satu kewajiban bagi siapa saja untuk mewujudkannya.
Financial satisfaction dapat diukur melalui cara pandang seseorang
terhadap kepuasan dari income yang diterima, kemampuan mengatasi masalah
keuangan, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, level hutang yang
dimiliki, jumlah tabungan, ketersediaan uang untuk kebutuhan di masa depan,
serta tujuan hidup (Hira dan Mugenda, 1998). Penilaian financial satisfaction
dapat dilakukan secara objektif maupun secara subjektif. Penilaian secara
objektif yaitu melihat dari kondisi keuangan secara riil. Penilaian subjektif
merupakan penilaian dari dalam diri masing-masing individu dalam melihat
kondisi keuangan. Financial satisfaction dapat dinilai secara terpisah, yaitu
berdasarkan objektif saja atau berdasarkan subjektif saja, maupun secara
bersama-sama.
Menurut Tascano et al. (2006), tujuan kebahagian individu ialah untuk
memenuhi kebutuhan individu dan keinginan untuk membuat diri kita lebih
bahagia. Secara umum individu akan melakukan yang terbaik mengingat
situasi keuangan tertentu untuk memaksimalkan kebutuhan mereka. Untuk itu,
tingkat kepuasan yang berasal dari situasi financial yang diberikan akhirnya
akan menjadi penentu penting dari kebahagiaan individu. Oleh karena itu,
financial satisfaction dapat dilihat sebagai mediator antara pendapatan dan
kebahagiaan, karena kepuasan hidup dipengaruhi oleh banyak faktor selain
penghasilan, sedangkan financial satisfaction memiliki penghasilan input
utama. Penilaian secara subjektif masing-masing individu terhadap financial
satisfaction dinilai lebih akurat karena setiap individu dapat menilai kondisi
keuangan saat ini terhadap kondisi dimasa lalu, ekspektasi dimasa depan dan
standar sosial, dibandingkan melihat kondisi keuangan secara objektif saja.
Cara mengukur financial satisfaction disesuaikan terhadap sampel yang di uji.
Orang dapat mengevaluasi tingkat kesejahteraan yang berkaitan dengan
keadaan dan perbandingan kepada orang lain, pengalaman masa lalu dan
harapan masa depan. Faktor-faktor penentu kesejahteraan dapat
diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yang berbeda, yaitu atribut tujuan
(misalnya pendapatan, karakteristik pribadi dan jenis rumah tangga lainnya),
atribut yang dirasakan (misalnya kepuasan dengan standar hidup atau dengan
tabungan dan investasi sebagai indikator terkait atribut objektif), dan atribut
dievaluasi sebagai penilaian individu karakteristik keuangan dan non-keuangan
ketika dinilai terhadap standar perbandingan (misalnya aspirasi, harapan, dan
lain-lain).
B. Penelitian Terdahulu
Adapun beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini
antara lain adalah sebagai berikut:
1. Andrew dan Linawati (2014) dengan judul penelitian “Hubungan Faktor
Demografi dan Pengetahuan Keuangan dengan Perilaku Keuangan
Karyawan Swasta di Surabaya”. Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah perilaku keuangan, sedangkan variabel independen penelitian ini
adalah faktor demografi (jenis kelamin, pendidikan, dan pendapatan), serta
pengetahuan keuangan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis
korespondensi dan chi square. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara faktor demografi (jenis kelamin
dan pendapatan) serta pengetahuan keuangan terhadap perilaku keuangan
karyawan swasta di Surabaya. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan
perilaku keuangan.
2. Laily (2013) dengan judul penelitian “Pengaruh Literasi Keuangan
Terhadap Perilaku Mahasiswa Dalam Mengelola Keuangan”. Penelitian ini
menggunakan Path Analysis. Variabel dependen dari penelitian ini adalah
perilaku keuangan, sedangkan variabel independen dari penelitian ini adalah
jenis kelamin, usia, dan academic ability. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa literasi keuangan berpengaruh terhadap perilaku keuangan
mahasiswa.
3. Ida dan Dwinta (2010) dengan judul penelitian “Pengaruh Locus of Control,
Financial Knowledge, dan Income terhadap Financial Management
Behavior”. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah financial management
behavior, sedangkan variabel independen penelitian ini adalah locus of
control, financial knowledge, dan income. Hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh financial knowledge terhadap financial
management behavior. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak
terdapat pengaruh personal income dan locus of control terhadap financial
management behavior.
4. Herdijono dan Damanik (2013) dengan judul “Pengaruh Financial Attitide,
Financial Knowledge, Parental Income Terhadap Financial Management
Behavior”. Penelitian ini menggunakan tenik analisis chi square. Variabel
independen penelitian ini adalah financial Attitide, financial knowledge, dan
parental income, sedangkan variabel dependen adalah financial
management behavior. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa financial
Attitide, financial knowledge, dan parental income berpengaruh terhadap
financial management behavior.
C. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan pondasi utama dimana sepenuhnya
proyek penelitian itu ditujukan, hal ini merupakan jaringan hubungan antar
variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan, dan diealaborasi dari
perumusan masalah yang telah di identifikasi melalui wawancara, observasi, dan
survey literature.
Sedangkan hubungan antara variabel bebas dan terikat merupakan
hubungan kausal (sebab-akibat), dan model hubungannya adalah variabel
penyebab sebagai variabel bebas dan variabel akibat sebagai variabel terikat,
sehingga yang akan diuji adalah bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat. Secara teiro variabel bebas yang terdiri dari financial literacy dan
financial satisfaction di tingkatkan maka akan meningkatkan financial behavior.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Financial Literacy(skripsi dan tesis)

Tingkat financial literacy yang dimiliki oleh setiap orang berbeda –
beda. Perbedaan tingkat financial literacy itulah yang menyebabkan terjadinya
perbedaan signifikan antara individu satu dengan yang lainnya dalam
mengumpulkan aset, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Huston
(2010) menjelaskan bahwa faktor seperti kebiasaan, kognitif, ekonomi,
keluarga, teman sebaya, komunitas dan institusi dapat berdampak pada
perilaku keuangan (financial behavior).
Monticone (2010) menjelaskan bahwa tingkat financial literacy
seseorang dipengaruhi oleh: karakteristik demografi (gender, etnis, pendidikan
dan kemampuan kognitif), latar belakang keluarga, kekayaan serta preferensi
waktu. Sedangkan Capuano dan Ramsay (2011) menjelaskan bahwa faktor
personal (intelegensi dan kemampuan kognitif), sosial dan ekonomi dapat
mempengaruhi financial literacy dan financial behavior seseorang. Dari uraian
tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi financial literacy seseorang, baik faktor dari dalam diri individu
seperti kemampuan kognitif dan psikologi maupun faktor di luar individu
seperti keadaan sosial dan ekonomi. Dalam penelitian ini, faktor-faktor
sosiodemografi yang diteliti terdiri dari gender, jurusan, dan pendapatan
orangtua.

Indikator Literasi Keuangan(skripsi dan tesis)

Literasi keuangan mencakup banyak aspek yang perlu diukur.
Literasikeuangan telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan
mendapatkan perhatian yang lebih, khususnya pada negara-negara maju. Istilah
literasi keuangan adalah kemampuan seorang individu untuk mengambil
keputusan dalam hal pengaturan keuangan pribadinya. Chen dan Volpe (1998)
dalam Margaretha (2015) membagi literasi keuangan menjadi empat aspek,
yaitu:
a. Pengetahuan keuangan dasar (basic financial knowledge) yang mencakup
pengeluaran, pendapatan, aset, hutang, ekuitas, dan risiko. Pengetahuan
dasar ini biasanya berhubungan dengan pengambilan keputusan dalam
melakukan investasi atau pembiayaan yang bisa mempengaruhi perilaku
seseorang dalam mengelola uang yang dimiliki.
b. Simpanan dan pinjaman (saving and borrowing), merupakan produk
perbankan yang lebih dikenal sebagai tabungan dan kredit. Tabungan
merupakan sejumlah uang yang disimpan untuk kebutuhan di masa
depan. Seseorang yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi
dibandingkan pengeluarannya akan cenderung menyimpan sisa uangnya
tersebut untuk kebutuhan di masa depan. Bentuk simpanan bisa berupa
tabungan dalam bank atau simpanan dalam bentuk deposito. Sedangkan
pinjaman (borrowing) atau disebut juga dengan kredit merupakan suatu
fasilitas untuk melakukan peminjaman uang dan membayarnya kembali
dalam jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
c. Proteksi atau asuransi (insurance) merupakan suatu bentuk perlindungan
secara finansial yang bisa dilakukan dalam bentuk asuransi jiwa, asuransi
properti, asuransi pendidikan, dan asuransi kesehatan. Tujuan dari
proteksi adalah untuk mendapatkan ganti rugi apabila terjadi hal yang
tidak terduga seperti kematian, kehilangan, kecelakaan, atau kerusakan.
Asuransi melibatkan pihak tertanggung untuk melakukan pembayaran
premi secara berkala dalam suatu waktu tertentu yang berguna sebagai
ganti polis yang menjamin perlindungan yang diperoleh oleh pihak
tertanggung.
d. Investasi merupakan suatu bentuk kegiatan penanaman dana atau aset
dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan di waktu yang akan
datang. Bentuk investasi bisa berupa aset riil (properti atau emas), aset
keuangan (saham, deposito, obligasi, dan aset keuangan lainnya), dan
lain-lain. Keuntungan dari tiap jenis investasi berbeda-beda dan masingmasing juga disertai dengan risiko investasi yang berbeda-beda. Menurut
hukum investasi yang ada, semakin tinggi risiko investasi semakin tinggi
keuantungan yang ditawarkan (high risk high return).
Dalam The Social Research Centre (2011) dinyatakan bahwa perilaku
yang terkait dengan uang dapat menjadi indikator literasi keuangan seseorang.
Dalam analisis ini ditemukaan 5 perilaku yang menjadi indikator diantaranya:
a. Menjaga catatan keuangan, misalnya selalu memantau saldo rekening
dan pengeluaran rumah tangga.
b. Perencanaan masa depan, termasuk perilaku seperti merencanakan
pendapatan saat masa pensiun, menggunakan konsultan keuangan, penggunaaan asuransi.
c. Memilih produk keuangan, misalnya memperluas pengetahuan produk
keuangan dan jasa keuangan untuk berbelanja.
d. Staying informed (selalu terdepan terhadap perkembangan informasi),
misalnya orang orang yang menggunakan informasi keuangan untuk
membuat keputusan.
e. Pengawasan keuangan termasuk hal-hal seperti pengendalian situasi
keuangan yang umum dan hutang dan kemampuan untuk menabung.

Financial Literacy(skripsi dan tesis)

Menurut Garman dan Forgue (2010), financial literacy adalah
pengetahuan akan fakta, konsep, prinsip, dan teknologi agar setiap orang
bersikap cerdas terhadap uang. Seseorang yang memiliki financial literacy
dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah
keuangan seharihari dan membantu dalam mengambil keputusan keuangan.
Atkinson dan Messy (2011) mengemukakan bahwa financial literacy
merupakan sebuah kombinasi dari kesadaran, pengetahuan, kemampuan
perilaku, dan kebiasaan yang diperlukan untuk mengambil keputusan keuangan
yang tepat dan pada akhirnya dapat mencapai kondisi keuangan yang
memuaskan. Financial literacy menekankan pada pentingnya menerapkan
pengetahuan dan kemampuan di bidang keuangan dalam pengambilan
keputusan keuangan.
Menurut Remund (2010), financial literacy memiliki hubungan dengan
kemampuan seseorang dalam mengelola uang. Definisi financial literacy
terbagi menjadi dua bagian yaitu, definisi secara konseptual dan definisi secara
operasional. Definisi secara operasional digunakan untuk menjelaskan konsep
financial literacy agar lebih mudah diukur. Definisi operasional dibagi menjadi
empat golongan, yaitu penganggaran, tabungan, pinjaman, dan investasi.
Definisi secara konseptual dibagi menjadi lima bagian, yaitu:
a. Kemampuan dalam memahami konsep keuangan, sehingga financial
literacy yang dimiliki dapat diterapkan dalam pengambilan keputusan
keuangan.
b. Kemampuan mengatur keuangan pribadi, dengan menggunakan financial
literacy yang dimiliki untuk melakukan kegiatan keuangan seperti
melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran.
c. Kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat, menggunakan
financial literacy yang dimiliki.
d. Melakukan perencanaan keuangan secara efektif untuk kebutuhan
keuangan dimasa depan, financial literacy yang dimiliki digunakan untuk
merencanakan investasi keuangan (Remund, 2010).
Laily (2013) mengemukakan bahwa pengetahuan keuangan adalah
kecerdasan dan kemampuan seseorang dalam mengelola keuangannya.
Pengetahuan keuangan mencakup pengetahuan yang terkait masalah keuangan,
seperti pengenalan mengenai lembaga jasa keuangan, apa saja produk dan jasa
keuangan, fitur-fitur yang melekat pada produk dan jasa keuangan, manfaat
dan resiko dari produk dan jasa keuangan, serta hak dan kewajiban sebagai
konsumen pengguna jasa keuangan. Selain itu, pengetahuan keuangan juga
mencakup kemampuan dan keterampilan bagaimana caranya menghitung
bunga, hasil investasi, denda dan sebagainya.
Menurut Lusardi dan Mitchell (2007), financial literacy mencakup
empat konsep keuangan, yaitu:
a. Pengetahuan umum keuangan
Pengetahuan tentang keuangan mencakup pengetahuan keuangan
pribadi, yakni bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran, serta
memahami konsep dasar keuangan. Konsep dasar keuangan tersebut
mencakup perhitungan tingkat bunga sederhana, bunga majemuk, pengaruh
inflasi, opportunity cost, nilai waktu uang, likuiditas suatu aset, dan lainlain.
b. Pengetahuan mengenai manajemen uang (money management)
Konsep money management mencakup bagaimana setiap individu
dapat mengelola dan menganalisis keuangan pribadi mereka. Pemahaman
literasi keuangan yang baik memberikan praktik keuangan yang baik pula
pada pengelolaan keuangan setiap individu. Dalam hal ini, setiap individu
juga diarahkan tentang bagaimana menyusun anggaran dan membuat
prioritaspenggunaan dana yang tepat sasaran.
c. Pengetahuan mengenai tabungan dan investasi
Tabungan merupakan akumulasi dana berlebih yang diperoleh
dengan sengaja mengkonsumsi sedikit dari pendapatan, sedangkan investasi
adalah menyimpan atau menempatkan uang agar bisa bekerja sehingga
dapat menghasilka uang yang lebih banyak (Garman dan Forgue, 2010).
Dalam pemilihan tabungan, ada enam faktor yang perlu dipertimbangkan,
yaitu: tingkat pengembalian (persentase kenaikan tabungan), inflasi,
pertimbangan pajak, likuiditas (kemudahan dalam menarik dana jangka
pendek tanpa kerugian atau dibebani fee), kemanan (ada tidaknya proteksi
terhadap kehilangan uang jika bank mengalami kesulitan keuangan), dan
pembatasan-pembatasan dari fee, yaitu penundaan atas pembayaran bunga
yang dimasukkan dalam rekening dan pembebanan fee suatu transaksi
tertentu untuk penarikan deposito.
d. Pengetahuan mengenai risiko
Cara menangani suatu risiko akan berpengaruh terhadap keamanan
finansial di masa yang akan datang. Salah satu cara cepat yang dapat
menanggulangi risiko tersebut yaitu dengan mengasuransikan aset ataupun
hal-hal beresiko. Literasi keuangan sangat diperlukan dalam memilih
asuransi aset sebagai pengelola risiko tersebut dan menghindari risiko
tambahan yang mungkin akan terjadi.

Financial Behavior(skripsi dan tesis)

Financial behavior mempelajari bagaimana manusia secara actual
berperilaku dalam sebuah penentuan keuangan, khususnya mempelajari
bagaimana psikologi mempengaruhi keputusan keuangan, perusahaan dan
pasar keuangan. Kedua konsep yang diuraikan secara jelas menyatakan bahwa
perilaku keuangan merupakan suatu pendekatan yang menjelaskan bagaimana
manusia melakukan investasi atau berhubungan dengan keuangan dipengaruhi
oleh faktor psikologi (Wicaksono dan Divarda, 2015).
Perilaku keuangan menjadi gambaran cara individu berperilaku ketika
dihadapkan dengan keputusan keuangan yang harus dibuat. Perilaku keuangan
juga dapat diartikan sebagai suatu teori yang didasarkan atas ilmu psikologi
yang berusaha memahami bagaimana emosi dan penyimpanan kognitif
mempengaruhi perilaku investor. Di tengah perkembangan ekonomi global saat ini, setiap individu harus dapat menjadi konsumen yang cerdas untuk dapat mengelola keuangan pribadinya dengan cara membangun melek finansial yang mengarah pada perilaku keuangan yang sehat. Kendali diri merupakan perilaku
keuangan yang sangat bermanfaat bila dipahami dan dapat diterapkan di
kehidupan seharihari (Lubis, et al., 2013).
Perilaku keuangan berhubungan dengan tanggung jawab keuangan
seseorang terkait dengan cara pengelolaan keuangan. Tanggung jawab
keuangan merupakan proses pengelolaan uang dan asset yang dilakukan secara produktif.

Pengelolaan uang adalah proses menguasai dan menggunakan aset keuangan. Ada beberapa elemen yang masuk ke pengelolaan uang yang efektif, seperti pengaturan anggaran dan menilai pembelian berdasarkan kebutuhan.
Aktivitas utama dalam pengelolaan uang adalah proses penganggaran.
Anggaran bertujuan untuk memastikan bahwa individu mampu mengelola
kewajiban keuangan secara tepat waktu dengan menggunakan penghasilan
yang diterima dalam periode yang sama (Ida dan Dwinta, 2010).
Ricciardi (2005) menyatakan bahwa financial behavior merupakan
suatu disiplin ilmu yang didalamnya melekat interaksi berbagai disiplin ilmu
dan terus menerus berintegrasi sehingga dalam pembahasannya tidak bisa
dilakukan isolasi. Financial behavior dibangun oleh berbagai asumsi dan ide
dari perilaku ekonomi. Keterlibatan emosi, sifat, kesukaan, dan berbagai
macam hal yang melekat dalam diri manusia sebagai makhluk intelektual dan
sosial akan berinteraksi melandasi munculnya keputusan melakukan suatu
tindakan.
Chinen dan Endo (2012) menyatakan bahwa individu yang memiliki
kemampuan untuk membuat keputusan yang benar tentang keuangan tidak
akan memiliki masalah keuangan di masa depan dan menunjukkan perilaku
keuangan yang sehat serta mampu menentukan prioritas kebutuhan. Perilaku
keuangan yang sehat ditunjukkan oleh aktifitas perencanaan, pengelolaan serta pengendalian keuangan yang baik.
Perilaku keuangan yang baik digambarkan dengan memiliki perilaku
yang efektif seperti menyiapkan catan keuangan, dokumentasi pada arus kas,
perencanaan biaya, membayar tagihan listrik, mengendalikan penggunaan
kartu kredit, serta merencanakan tabungan (Zaimah, et al., 2010). Perilaku
keuangan berasal dari ekonomi neoklasik. Homo economicus adalah model
perilaku ekonomi manusia yang sederhana mengasumsikan bahwa prinsipprinsip kepentingan pribadi sempurna, rasionalitas yang sempurna, dan
informasi yang sempurna mengatur keputusan ekonomi individu (Pompian,
2010). Menurut Dew dan Xiao (2011), financial behavior mencakup tiga
dimensi keuangan, yaitu:
a. Consumption
Konsumsi adalah pengeluaran atas berbagai barang dan jasa.
FinancialBehavior seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia melakukan
kegiatan konsumsinya seperti apa yang dibeli seseorang dan mengapa dia
membelinya (Ida dan Dwinta, 2010).
b. Cash-flow management
Arus kas adalah indikator utama dari kesehatan keuangan yaitu
ukuran kemampuan seseorang untuk membayar segala biaya yang
dimilikinya, manajemen arus kas yang baik adalah tindakan
penyeimbangan, masukan uang tunai dan pengeluaran. Cash flow
management dapat diukur dari apakah seseorang membayar tagihan tepat
waktu, memperhatikan catatan atau bukti dan membuat anggaran keuangan
dan perencanaan masa depan (Hilgert dan Hogart, 2003).
c. Saving and Investment
Tabungan dapat didefinisikan sebagai bagian dari pendapatan yang
tidak dikonsumsi dalam periode tertentu. Karena seseorang tidak tahu apa
yang akan terjadi di masa depan, maka uang harus disimpan untuk
mengantisipasi kejadian yang tidak terduga. Investasi yaitu mengalokasikan
atau menanamkan sumber daya saat ini dengan tujuan mendapatkan manfaat
di masa mendatang (Herdijono dan Damanik, 2013).

Perumusan Hipotesis(skripsi dan tesis)

Investor overconfidence karena keyakinan mereka tentang diri mereka
sendiri dan merasa bahwa mereka adalah investor yang lebih baik (Townsend,
Busenitz dan Arthur, 2010). Overconfidence memaksa investor untuk
berinvestasi dan ketika berinvestasi maka investor memiliki bias yang sulit
untuk diprediksi (Deaves, Luder dan Schroder, 2010). Di bidang keuangan
keputusan investasi membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kesadaran
Overconfidence
Optimisme
Keputusan Investasi stor tentang pasar, karena para investor lebih dipengaruhi oleh overconfidence yang memiliki pengalaman kurang tentang keputusan investasi
(Kida, Kimberly, Moreno & Smith, 2010). Overconfidence terkadangmenarik
investor dalam persepsi bahwa mereka kuat dan bisa melakukan segala sesuatu
(Fast, Sivanathan, Mayar & Galinsky, 2011) dan pengetahuan mereka harus
mengharuskan untukberinvestasi (Graham, Campbell & Harvey,
2009).Overconfidence memiliki dampak positif signifikan terhadap keputusan
investasi (Ullah et al, 2017). Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat
disimpulkan bahwa hipotesa sebagai berikut
Orang yang optimis ketika memiliki waktu hingga batas tertentu dengan
situasi dan hasil dari keputusan mereka diambil bersamaan dengan risiko
(Bracha dan Brown, 2012). Jika investor menerima kembali apa yang harapkan
maka akan optimis di masa depan dengan saham perusahaan tersebuttetapi jika
harapan mereka tidak memenuhi maka tidak akan berinvestasi di perusahaan
tersebut (Magnuson, 2011). Optimisme terkait secara positif signifikan dengan
keputusan investasi (Ullah et al, 2017). Investor yang optimisme mengabaikan
risiko, sebagai harga model aset menyatakan bahwa semakin tinggirisiko
makareturnyang diterima juga tinggi. Para investor optimis memprediksi
tentang masa depan atas dasar pengalaman bukan kinerja saham masa lalu
(Klein & Larsen, 2010), untuk berinvestasi dengan dasar kinerja saham masa
lalu maka hasil dapat bervariasi antara harapan dan di sisi lainpengalaman.

Rerangka Konseptual(skripsi dan tesis)

Aset model harga menunjukkan hubungan antara risiko dan
returnmenyatakan bahwa jika seseorang mengambil risiko tinggi juga memiliki
kemungkinan return yang tinggi juga.Dalam konteks perilaku keuangan
melakukan kegiatan keputusan investor yang dipengaruhi oleh kognitif dan
bias emosional. Bias ini, yang sebagian investor mungkin salah dan dapat
mempengaruhi keputusan mereka overconfidence dan optimisme. Bias ini
muncul karena faktor psikologis bukan karena perilaku ekonomi investor itu
sendiri dan juga karena banyak informasi atau sumber informasi tentang pasar.
Investor rentan terhadap bias overconfidence atas keputusan investasi karena
sebagian besar waktu dan uang yang dikeluarkan untuk mengumpulkan
berbagai macam informasi (Ullah et al, 2017). Bias optimisme secara positif
terkait dengan keputusan investasi karena investor mengabaikan risiko sebagai
aset model harga menyatakan bahwa semakin tinggi risiko semakin tinggi
retunrn yang akan diterima (Ullah et al, 2017). Di bidang keuangan keputusan
investasi membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kesadaran investor
tentang pasar, karena para investor lebih dipengaruhi oleh sifat overconfidence
yang memiliki pengalaman kurang tentang keputusan investasi (Kida,
Kimberly, Moreno & Smith, 2010).

Aspek-Aspek Optimisme(skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa aspek dalam individu memandang suatu
peristiwa atau masalah berhubungan erat dengan gaya pejelasan /
explanatory style (Seligman, 2008) :
1. Permanence
Permanence merupakan gaya penjelasan yang bersifat
sementara (temporary) dan menetap (permanance) untuk
menggambarkan bagaimana individu melihat peristiwa
berdasarkan waktu. Orang-orang yang pesimis melihat
peristiwa yang buruk sebagai sesuatu yang menetap dan
mereka cenderung menggunakan kata-kata “selalu” dan “tidak
pernah” sedangkan orang optimis sebaliknya mamandang
peristiwa buruk itu bersifat sementara.
2. Pervasif (spesifik versus universal)
Gaya penjelasan peristiwa ini berkaitan dengan ruang
lingkup peristiwa tersebut, yang meliputi universal
(menyeluruh) spesifik (khusus). Orang yang optimis bila
dihadapkan pada kejadian yang buruk akan membuat
penjelasan yang spesifik dari kejadian ini, bahwa hal buruk
terjadi diakibatkan oleh sebab-sebab khusus dan tidak akan
meluas kepada hal-hal yang lain.
3. Personalization
Merupakan gaya penjelasan masalah yang berkaitan
dengan sumber dari penyebab kejadian tersebut, meliputi dari
internal (dari dalam dirinya) dan eksternal (dari luar
dirinya).Saat hal buruk terjadi, seseorang bisa menyalahkan
dirinya sendiri (internal) atau menyalahkan orang lain atau
keadaan (eksternal)

Optimisme(skripsi dan tesis)

 

Optimisme merupakan bias di mana investor mengambil risiko dan
mengasumsikan masa depan yang menguntungkan, sukses dan mengabaikan
kegagalan (Ullah et al, 2017). Optimisme diusulkan sebagai saluran
perantara antara persepsi pengembalian portfolio masa lalu dan keputusan
keuangan (Khan et al, 2017). Individu optimis saat menghadapi kesulitan
akan terus berusaha mencapai tujuan dan akan menyesuaikan diri dengan
situasi yang dihadapi. Individu yang optimis dan pesimis, berbeda caranya
dalam mengatasi masalah dan menghadapi tantangan, cara dan hasil yang
diperoleh dalam menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Optimis ketika
menghadapi tantangan akan menghadapinya dengan percaya diri dan gigih,
meskipun kemajuan dalam menyelesaikan tantangan tersebut lambat karena
mereka percaya kesulitan dapat ditangani. Berbeda dengan optimis, pesimis
cenderung akan menyerah ketika menghadapi kondisi yang sulit dan
menantang, selain itu mereka juga cenderung memiliki perasaan negatif dan
membayangkan kalau suatu kejadian yang buruk akan terjadi.
Investor yang optimisme akan termotivasi dalam keputusan investasi
dengan berpikir positif tentang masa depan mereka dan percaya bahwa
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
investasi akan memberikan hasil positif dimasa depan (Schmitt et al, 2013).
Jika investor menerima return sesuai dengan yang diharapkan maka investor
akan optimisme di masa depan pada perusahaan saham tersebut tetapi jika
harapan mereka tidak terpenuhi maka mereka tidak akan menginvestasikan
uang mereka pada perusahaan tersebut (Magnuson, 2011).

Overconfidence(skripsi dan tesis)

Overconfidence merupakan perasaan percaya diri secara berlebihan
(Wulandari dan Iramani, 2014). Overconfidence akan membuat investor
ketika berinvestasi pada saham yang sama akan melebih-lebihkan aspek
positif dari keputusan yang dibuat (Ullah et al, 2017). Overconfidence
menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar dalam
pengambilan untuk berinvestasi. Dengan kata lain investor yang
overconfidence lebih memandang suatu risiko itu rendah dan sebaliknya,
investor yang tidak overconfidence lebih memandang suatu risiko itu tinggi
(Wulandari dan Iramani, 2014). Investor overconfidence cenderung
berinvestasi pada saham yang familiar dan diversifikasi pada saham lebih
sedikit. Pria cenderung overconfidence dibandingkan wanita (Ritter, 2003).
Overconfidence menunjukkan metode satu sisi terhadap pandangan pada
suatu keadaan tertentu atau menilai lebih kemampuan yang dimiliki. Bias ini
dapat berakibat investor underestimate terhadap risiko yang diambil karena
terlalu yakin akan memenangkan pasar dan menghasilkan return yang besar
(Virigineni dan Rao, 2017).
Di bidang keuangan keputusan investasi membutuhkan lebih banyak
pengalaman dan kesadaran investor tentang pasar saham, karena investor
lebih dipengaruhi oleh bias overconfidence yang memiliki pengalaman
kurang tentang keputusan investasi (Kida et al, 2010). Menurut Jiangouxu
(2012), ketika harga saham meningkat investor akan overconfidence untuk
membeli saham tersebut dan ketika harga saham turun maka investor kurang
overconfidence untuk membeli saham sehingga keputusan investasi terkait
dengan kondisi pasar. Investor yang overconfidence memiliki keyakinan
bahwa mereka kuat dan bisa melakukan segala sesuatu dengan pengetahuan
yang dimiliki untuk berinvestasi (Fast et al, 2011).

Instrumen Pasar Modal(skripsi dan tesis)

Pasar modal adalah Kegiatan yang berkenaan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek
yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek
(UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995). Adapun instrumen dalam pasar modal
diantaranya adalah:
1. Saham
Saham merupakan bentuk kepemilikan yang paling murni dan
paling dasar (Gitman dan Zutter, 2015). Menerbitkan saham merupakan
salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan
perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi
yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan
tingkat keuntungan yang menarik. Dengan menyertakan modal tersebut,
maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim
atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS).Saham dibagi menjadi 2 yaitu (Gitman dan Zutter,
2015) :
a. Common Stockmerupakan pemegang saham biasa yang artinya
sebagai pemilik residu karena menerima dividen setelah semua
klaim lain atas pendapatan perusahaan dan aset perusahaan telah
terpenuhi (Gitman dan Zutter, 2015).
b. Preferred Stock merupakan suatu bentuk kepemilikan khusus yang
memiliki dividen periodik tetap yang harus dibayar sebelum
pembayaran dividen kepada pemegang saham biasa (Gitman dan
Zutter, 2015).
Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan
membeli atau memiliki saham (Mudjiyono,2012):
a. Dividen
Dividen merupakan distribusi kas secara periodik kepada
pemegang saham perusahaan.
b. Capital Gain
Capital gain merupakan jumlah dimana harga suatu aset
melebihi harga beli aset (Gitman dan Zutter, 2015).
Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara
lain(Mudjiyono,2012):
a. Capital Loss
Capital loss merupakan harga jual saham lebih rendah
dibandingkan harga beli.
b. Risiko Likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki dan dinyatakan
bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut
dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham
mendapaat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban
perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan
perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan
kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi
secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun
jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang
saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut.
2. Obligasi
Obligasi merupakan instrumen hutang jangka panjang yang
digunakan oleh bisnis dan pemerintah untuk mengumpulkan sejumlah
uang, umumnya dari kelompok pemberi pinjaman (Gitman dan Zutter,
2015). Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang
dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan
untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan
melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak
pembeli obligasi tersebut (www.idx.com).
Karakteristik Obligasi (www.idx.com) :
1. Nilai Nominal (Face Value)merupakan nilai pokok dari suatu
obligasi yang diterima saat jatuh tempo oleh pemegang obligasi.
2. Coupon Interest rate merupakan persentase nilai nominal obligasi
yang akan dibayarkan setiap tahun, biasanya dalam dua
pembayaran/semiannual yang sama, seperti bunga (Gitman dan
Zutter, 2015).
3. Maturity date adalah waktu dimana pemegang obligasi
mendapatkan kembali nilai nominal obligasi yang dimilikinya.
4. Penerbit / Emiten (Issuer) merupakan perusahaan yang
menerbitkan obligasi.
3. Reksa Dana
Reksa Dana diartikan sebagai wadah yang dipergunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di
investasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi (Undangundang nomor 8 tahun 1995 pasal 1 ayat 27). Reksa Dana (mutual fund)
menjelaskan bahwa pemilik menitipkan uang kepada pengelola
reksadana (manajer investasi) untuk digunakan sebagai modal
berinvestasi di pasar uang atau pasar modal (Mudjiyono, 2012). Ada
tiga hal yang terkait dari definisi tersebut, pertama, adanya dana dari
masyarakat pemodal. Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam
portofolio efek, dan ketiga, dana tersebut dikelola oleh manajer
investasi. Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksadana
merupakan dana bersama para pemodal, sedangkan manajer investasi
adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut.

Risiko(skripsi dan tesis)

Risiko merupakan ukuran ketidakpastian atas tingkat pengembalian yang dapat dari suatu investasi atau variabilitas dari tingkat pengembalian atas
suatu aset (Gitman dan Zutter, 2015). Risk Tolerance adalah toleransi yang
diberikan investor terhadap risiko yang akan diterima (Wulandari dan
Iramani, 2014). Tinggi rendahnya toleransi risiko seseorang sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, pendapatan dan
kekayaan, pengalaman dan pendapatan atas investasi. Dengan risk tolerance
yang tinggi seseorang akan cenderung mengambil keputusan yang lebih
berani dibandingkan dengan oran dengan tingkat risk tolerance yang
rendah. Berdasarkan hasil penelitian Wulandari dan Iramani (2014) risk
tolerance berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan investasi.
Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa investor yang memiliki risk
tolerance tinggi cenderung akan memilih investasi saham, sedangkan
investor yang memiliki risk tolerance rendah cenderung akan memilih
keputusan investasi pada deposito.
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Setiap orang bereaksi terhadap risiko dengan cara yang berbeda. Para
ekonom menggunakan tiga kategori untuk menggambarkan bagaimana
investor merespon risiko (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Risk Averse
Risk averse merupakan sifat investor yang mencari keuntungan lebih
tinggi atas pengambilan risiko yang lebih tinggi.
2. Risk Neutral
Risk neutral merupakan sifat investor yang memilih investasi dengan
tingkat keuntungan yang lebih tinggi tanpa melihat risiko.
3. Risk Seeking
Risk seeking merupakan sifat investor dimana investor memilih
investasi yang memiliki risiko lebih tinggi meskipun tingkat
pengembaliannya rendah.
Risiko dapar dibagi menjadi dua yaitu (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Systematic risk
Systematic risk merupakan risiko yang berkaitan dengan perusahaan
yang terjadi pada pasar secara keseluruhan seperti inflasi, perubahan
suku bunga, kebijakan ekonomi secara menyeluruh dan perubahan
harapan investor terhadap perkembangan ekonomi.
2. Unsystematic risk
Unsystematic risk merupakan risiko yang tidak terkait dengan
perubahan pasar secara keseluruhan, dan terjadi karena karakteristik
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
perusahaan yang mengeluarkan sekuritas seperti kondisi lingkungan
kerja, kemampuan manajerial dan kebijakan investasi.

 Investasi dan Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Investasi merupakan kegiatan di mana orang menginvestasikan uang
untuk tujuan mendapatkan tambahan uang di masa depan (Ullah et al,
2017). Kegiatan investasi bertujuan untuk memperoleh tingkat
pengembalian atau pendapatan dimasa mendatang (Puspitaningtyas dan
Kurniawan, 2012). Untuk memperoleh penghasilan dalam bentuk dividen
dan nilainya diharapkan meningkat dimasa mendatang investor dapat
melakukan pembelian saham yang merupakan salah satu kegiatan investasi.
Capital gain dan dividen yield merupakan tingkat pengembalian investasi
pada saham. Tingkat pengembalian ini menjadi indikator untuk
meningkatkan kesejahteraan bagi para investor. Investor mengharapkan
investasi yang dilakukan dapat memperoleh tingkat pengembalian sebesarbesarnya dengan tingkat risiko tertentu dari waktu ke waktu
(Puspitaningtyas, 2012). Oleh karena itu, dalam pengambilan keputusan
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia investor berkepentingan untuk mempertimbangkan segala informasi yang
diterima.
Seperti telah disebutkan, keuntungan (return) yang diperoleh dari
kegiatan investasi pada umumnya berupa capital gain dan dividend.
Dividend yang diperoleh ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba. Sedangkan, capital gain dipengaruhi oleh fluktuasi harga
saham. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dipengaruhi oleh
faktor mikro dan makro yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap
fluktuasi harga saham, serta akan memunculkan risiko investasi (Rahadjeng,
2011).
Keputusan investasi yang optimal hanya dapat dicapai apabila
investor mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah
keputusan yang sesuai dengan pengaruh peristiwa terhadap nilai perusahaan.
Pengambilan keputusan heuristik merupakan aturan efisien yang diikuti oleh
orang-orang untuk membentuk penilaian dan membuat keputusan yang
biasanya melibatkan dan berfokus pada satu aspek dari masalah yang
kompleks dan mengabaikan aspek lainnya. Aturan-aturan ini bekerja dengan
baik dalam berbagai situasi, tetapi mungkin berbeda dari logika umum,
probabilitas atau teori pilihan rasional. Pada kenyataannya, investor
mengumpulkan informasi yang relevan dan rasional untuk dievaluasi, di
mana faktor-faktor mental dan emosional yang terlibat sulit untuk
dipisahkan. Faktor-faktor ini termasuk overconfidence, representativeness,
anchoring, herd behavior dan hindsight bias.
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Berdasarkan teori keputusan heuristik, proses pengambilan keputusan
investor akan dipengaruhi oleh lima bias yang berbeda berdasarkan pada
ketidakpastian dan risiko (Virigineni dan Rao, 2017) yaitu:
1. Overconfidencemenunjukkan metode satu sisi terhadap pandangan pada
suatu keadaan tertentu atau menilai lebih kemampuan yang dimiliki
(Virigineni dan Rao, 2017).Bias ini dapat berakibat investor
meremehkan risiko yang diambil karena terlalu yakin akan
memenangkan pasar dan menghasilkan return yang besar.
2. Representativeness menggambarkan suatu kesuksesan atas keputusan
yang di buat manajer cenderung akan berlanjut di masa depan juga.
Kecenderungan manajer dalam membuat keputusan, berdasarkan
pengalaman masa lalu dikenal sebagai stereotip/perwakilan
(Kannadhasan, 2009).
3. Anchoringterjadi ketika menggunakan sedikit data pengantar untuk
membuat penilaian yang dihasilkan. Pada situasi yang sama, penilaian
yang berbeda dibuat dan menyesuaikan pada anchor, dan ada
kecenderungan ke arah mengartikan data lain di sekitar anchor. Dalam
prediksi numerik, ketika sebuah nilai yang relevan tersedia, orang
membuat perkiraan mulai dari nilai awal yang disesuaikan untuk
menghasilkan jawaban akhir (Rekik dan Boujelbene 2014).
4. Herd behaviordisebabkan oleh kecenderungan individu yang menyalin
tindakan dari kelompok besar terlepas dari apakah mereka akan
membuat keputusan individual (Virigineni dan Rao, 2017). Tidak
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
adanya perbedaan dalam pembuatan pilihan, investor mengikuti pilihan
yang berbeda tanpa membuat masalah besar tentang konsekuensi dari
pemeriksaan khusus dan dasar spesialis di lapangan. Herd dapat
dianggap sebagai kecenderungan berlawanan dengan overconfidence
mengenai efisiensi informasi.
5. Hindsight biasdapat mengganggu kemampuan untuk membandingkan
informasi baru dengan harapan sebelumnya, sehingga akan
membingungkan harapan individu sebelumnya dengan informasi baru.
Karena hindsight bias, investor mungkin menderita overconfidence
sehingga merasa sebagai peramal yang lebih baik daripada yang
sebenarnya (Virigineni dan Rao, 2017).
Terdapat 2 klasifikasi investor pada saham yaitu (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Investor Individu
Investor individu merupakan investor yang memiliki jumlah saham
yang relatif kecil sehingga dapat memenuhi tujuan investasi pribadi.
2. Investor Institusional
Investor institusional merupakan investasi profesional seperti bank,
perusahaan asuransi, reksadana dan dana pensiun yang dibayar untuk
mengelola dan menyimpan surat berharga dalam jumlah besar atas
nama orang lain.
Terdapat 3 kelompok individu yang memiliki kepentingan
langsung/tidak langsung terhadap behaviral finance (Ricciardi dan Simon,
2000) :
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
1. Individual, yang terdiri dari small investor dan portfolio manager
2. Group, yang terdiri dari investor reksadana (portfolio)
3. Organization, misalnya financial institution dan non-profit entity
(Universitas).

Bias Psikologi dalam Perilaku Keuangan(skripsi dan tesis)

Beberapa pola tentang perilaku keuangan secara bias psikologis
sebagai berikut (Ritter, 2003) :
1. Heuristik
Heuristik atau aturan praktis dalam proses pengambilan
keputusan lebih mudah, manusia cenderung membuat standar yang
sederhana untuk mengambil keputusan atau rule of thumb (Ritter,
2003).
2. Overconfidence
Investor overconfidence cenderung berinvestasi pada saham
yang familiar dan diversifikasi pada saham terlalu sedikit. Pria
cenderung lebih percaya diri dibandingkan wanita (Ritter, 2003)
3. Mental Accounting
Orang kadang memisahkan keputusan yang pada prinsipnya
harus digabungkan.
4. Framing
Framing adalah anggapan bahwa pola berfikir manusia dapat
dimanipulasi dengan cara konsep yang dikemas dengan menarik
kepada individu adalah hal yang penting.
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Reni Rezki Pratiwi
5. Representativeness
Investor terfokus pada investasi jangka panjang tanpa
memerhatikan investasi jangka pendek. Sehingga investor
cenderung overreact pada investasi jangka pendek.
6. Conservation
Investor cenderung lambat dalam terjadinya perubahan dan
ketika terjadi perubahan cenderung underract.

Pengertian Perilaku Keuangan(skripsi dan tesis)

Perilaku keuangan menawarkan perspektif teoritis alternatif pasar
keuangan (investor, harga aset dan perilaku pasar) berdasarkan
pandangan filosofis yang positif, yang tidak menganggap rasionalitas
penuh pelaku pasar (Ahmad et al, 2017). Dari perspektif akademik,
perilaku investor tidak hanya yang berkaitan dengan keuangan, tetapi
juga dipengaruhi oleh kombinasi variabel psikologis, sosiologis dan
keuangan. Keuangan tradisional mencoba menjelaskan proses
pengambilan keputusan atas dasar rasionalitas pasar dan para
pemainnya. Namun, investor bertindak tidak rasional, karena secara
tidak sengaja keputusan dipengaruhi oleh keadaan pikiran, emosi, teori
perdagangan, keyakinan dan interpretasi informasi. Bias perilaku yang
dilakukan mempengaruhi proses pengambilan keputusan investasi yang
sebenarnya (Virigineni dan Rao, 2017).
Perilaku keuangan telah berkembang untuk lebih memahami dan
menjelaskan bagaimana emosi dan kesalahan kognitif mempengaruhi
investor selama proses pengambilan keputusan. Suatu kemajuan baru
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Reni Rezki Pratiwi
dalam penelitian ekonomi dalam memahami bagaimana perasaan/emosi
mempengaruhi pembuatan keputusan individu secara umum, terutama
dalam kondisi risiko dan ketidakpastian (Dowling dan Lucey, 2008)

Teori Efficient-Market Hypothesis(EMH)(skripsi dan tesis)

Pasar saham efisien terdiri dari banyak investor rasional yang
bereaksi cepat dan objektif terhadap informasi baru. Efficient-market
hypothesis merupakan teori dasar yang menggambarkan perilaku pasar
semacam itu, secara khusus menyatakan bahwa (Gitman dan Zutter, 2015) :
1. Sekuritas biasanya berada dalam equilibrium, yang berati harganya
cukup murah dan hasil yang diharapkan sama dengan tingkat
pengembalian yang diterima.
2. Pada waktu tertentu, harga sepenuhnya mencerminkan semua
informasi yang tersedia tentang perusahaan dan sekuritasnya, dan
harga ini bereaksi dengan cepat.
3. Karena harga sahamnya tersedia lengkap dan harga terjangkau,
investor tidak perlu membuang waktu untuk mencari sekuritas yang
salah (undervalued atau overvalued).
Tidak semua pelaku pasar percaya pada efficient-market hypothesis.
Beberapa percaya bahwa bermanfaat untuk mencari undervalued atau
overvalued dari sekuritas agar tidak terpengaruh oleh pasar yang
inefisien. Hanya keberuntungan saja yang memungkinkan investor
mengantisipasi informasi baru dengan benar dan sebagai hasilnya dilihat
Dampak overconfidence dan optimisme terhadap keputusan investasi pada investor individu di Indonesia
Reni Rezki Pratiwi
dari return yang diterima, yaitu return yang lebih besar dari yang
seharusnya diharapkan dengan adanya risiko investasi. Mereka percaya
bahwa tidak mungkin pelaku pasar mendapatkan hasil yang abnormal
dalam waktu panjang.

Pengaruh risk perception terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Ketika ada suatu hal yang akan te rjadi maupun yang telah tejadi,
maka tiap orang dapat mengartikannya secara sama maupun berbeda.
Hal tersebut yang membentuk persepsi. Persepsi adalah proses
individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensor
mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (Robbins and
Judge, 2008:175). Risk perception adalah proses saat seseorang
menginterpretasikan informasi mengenai risiko yang diperoleh.
Persepsi risiko dibentuk secara sosial, Williamson & Weyman (2005)
mendefiniskan persepsi risiko sebagai hasil dari banyak faktor yang
menjadi dasar dari perbedaan pengambilan keputusan terhadap
kemungkinan kerugian. Masalah persepsi dan kecenderungan
kemudian berdampak pada kesiapan individu untuk mengambil
risiko. Kesiapan tersebut mungkin tergantung baik pada
ketidakpastian hasil karena pengetahuan yang tidak sempurna atau
pada skala potensi kerugian atau keuntungan. Risk perception
memainkan peran penting dalam perilaku manusia khususnya terkait
dengan pengambilan keputusan dalam keadaan tidak pasti. Seseorang
cenderung mendefinisikan situasi berisiko apabila mengalami
kerugian akibat jeleknya suatu keputusan, khususnya jika kerugian
tersebut berdampak pada situasi keuangannya. Oleh karena risk
perception merupakan penilaian seseorang pada situasi berisiko,
maka penilaian tersebut sangat tergantung pada karakteristik
psikologis dan keadaan orang tersebut.

Pengaruh Mental Accounting terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Mental accounting berfokus pada bagaimana seyogyanya seseorang
menyikapi dan mengevaluasi suatu situasi saat terdapat dua atau lebih
kemungkinan hasil, khususnya cara mengkombinasikan
kemungkinan-kemungkinan hasil tersebut.
Menurut Thaler (1985), terdapat tiga komponen dalam proses mental
accounting, yakni :
a. Persepsi terhadap hasil (outcomes) dan membuat serta
mengevaluasi keputusan
b. Menetapkan aktivitas untuk pencatatan yang spesifik.
c. Menentukan pembatasan periode waktu terhadap mental
accounting lainnya yang berkaitan.
Mental accounting melingkupi prilaku manusia secara luas, tidak
hanya mengenai hubungan dengan masalah finansial atau keuangan.
Dengan memahami mental accounting, orang diharapkan akan
memahami dengan lebih baik proses psikologis yang melandasi
seseorang dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan
ekonomi dan lainnya, termasuk keputusan Investasi dan Kinerja Investasi.

Pengaruh overconfidence terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Overconfidence adalah perasaan percaya diri secara
berlebihan. Overconfidence akan membuat investor menjadi
overestimate terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh investor itu
sendiri, dan underestimate terhadap prediksi yang dilakukan karena
investor melebih-lebihkan kemampuan yang dimiliki (Nofsinger,
2005:10). Overconfidence juga akan mempengaruhi investor dalam
berperilaku mengambil risiko. Investor yang rasional berusaha untuk
memaksimalkan keuntungan sementara memperkecil jumlah dari
risiko yang diambil (Nofsinger, 2005:15). Overconfidence juga dapat
menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar dalam
pengambilan keputusan untuk berinvestasi. Dengan kata lain orang
yang overconfidence lebih memandang suatu risiko itu rendah dan
sebaliknya, orang yang tidak overconfidence lebih memandang suatu
risiko itu tinggi.
H2 : Overconfidence berpengaruh terhadap pengambilan keputusan
investasi

Pengaruh regret aversion bias terhadap pengambilan keputusan investasi(skripsi dan tesis)

Experienced regret merupakan penyesalan yang ditimbulkan
akibat kesalahan di masa lalu akan mempengaruhi keputusan di masa
yang akan datang. Seorang investor yang mengalami kerugian di masa
lalu akan menimbulkan sikap konservatif sehingga akan
mempengaruhi keputusan investasi yang akan datang. Dalam
mengambil suatu keputusan investasi, para investor seringkali
berperilaku tidak rasional. Ada juga investor yang tidak terpengaruh
oleh experienced regret dalam pengambilan keputusan investasinya.
Semakin besar kerugian yang dialami, maka semakin besar pula
tingkat keberanian dalam mengambil risiko lebih besar.
Anticipated regret timbul apabila rencana investasi yang
dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Responden
dihadapkan pada rencana investasi yang hasil pilihan investasinya
tidak lebih baik dari hasil rencana investasi yang lain. Hal ini
menimbulkan penyesalan yang akan membuat seorang investor
menghindari konsekuensi yang timbul setelah mengambil keputusan
investasi yang salah. Tindakan untuk menghindari konsekuensi
tersebut disebut Anticipated regret. Ketidakpastian akan investasi di
masa depan memaksa para investor untuk melakukan analisis untuk
investasi yang akan dipilih dengan lebih cermat agar tidak terjadi
kerugian di masa yang akan datang.
Penelitian terdahulu tentang experienced regret yang
dilakukan oleh Kinnerson dan Bailey (2005), Loomies dan Sudgen
(1982) bahwa hasilnya adalah experienced regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi. Selain itu, penelitian
terdahulu tentang anticipated regret yang dilakukan oleh Bell (1982)
serta Wong dan Kwong (2007) bahwa anticipated regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi.
Dengan demikian diduga keputusan investasi yang akan
diambil oleh responden baik dari kelompok experienced regret
maupun anticipated regret akan berbeda secara signifikan jika kedua
regret tersebut berpengaruh terhadap keputusan investasi.
H1 :Terdapat pengaruh regret aversion bias terhadap
pengambilan keputusan investasi.

Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Pengambilan keputusan menurut Goetsch dan Davis (1997)
sebagaimana yang dikutip oleh Supranto (2003) sebagai berikut:
decision making is the process of selecting one course of action from
among two or more alternatives. Pengambilan keputusan adalah
memilih salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang ada.
Menurut Tandelilin (2001) investasi adalah sejumlah komitmen atas
sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat
ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang
akan datang.
Dari kedua definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
keputusan investasi adalah hasil dari pemilihan sejumlah komitmen
atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada
saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa
yang akan datang.
Dalam melakukan proses investasi, sangat diperlukan perilaku
yang seharusnya seorang investor lakukan dalam membuat
keputusan investasi dalam berbagai macam asset (riil atau finansial).
Adapun proses investasi tersebut melalui beberapa tahapan menurut
Ahmad (1996), yaitu:
(1) dengan menentukan tujuan investasi
(2) melakukan analisis
(3) melakukan pembentukan portofolio
(4) melakukan evaluasi kinerja portofolio
(5) melakukan revisi kinerja portofolio.
Ada 3 hal yang menjadi tujuan utama melakukan investasi.
Pertama, adanya kebutuhan masa depan atau kebutuhan yang belum
mampu dipenuhi saat ini. Kedua, adanya keinginan untuk
menambah nilai aset dan melindungi nilai aset yang sudah dimiliki.
Ketiga, karena adanya inflasi (Pratomo dan Nugraha 2005:6).

Risk Perception(skripsi dan tesis)

Risk perception adalah proses ketika seseorang
menginterpretasikan informasi mengenai risiko yang diperoleh.
Persepsi risiko dibentuk secara sosial, Williamson & Weyman
(2005) mendefiniskan persepsi risiko sebagai hasil dari banyak
faktor yang menjadi dasar dari perbedaan pengambilan keputusan
terhadap kemungkinan kerugian.
Daniel (1998) berpendapat bahwa (risk perception) persepsi
risiko dapat meningkatkan jumlah pencarian informasi apabila aset
yang diinvestasikan rendah. Demikian juga Byrne (2005)
menunjukkan bahwa risiko dan pengalaman investasi cenderung
untuk menunjukkan hubungan yang positif dan pengalaman masa
lalu yang berhasil meningkatkan toleransi risiko investor. Chou,
Huang, & Hsu (2010) berpendapat bahwa informasi mempunyai
hubungan positif terhadap risk perception, sehingga semakin banyak
informasi yang diterima, maka persepsi risiko investor akan semakin
mempengaruhi tingkat return yang diharapkan. Chou et al. (2010)
menunjukkan bahwa investor yang memperoleh informasi dari
laporan pasar optimis memiliki risk perception yang lebih rendah

Mental Accounting(skripsi dan tesis)

Investor yang mempunyai mental accounting dalam
pengambilan keputusan saat bertransaksi ialah investor yang
mempertimbangkan cost dan benefit dari keputusan yang diambil
(Nofsinger, 2005:45). Dengan seperti itu investor merasa aman.
Dalam arti investor lebih aman dalam melakukan transaksi sehingga
bisa meminimalkan resiko karena adanya pertimbangan cost dan
benefit yang akan diperoleh dengan keputusan yang diambil
misalnya resiko terjadinya loss dalam jumlah yang besar. Indikator
yang digunakan yaitu, “dalam berinvestasi investor selalu
menghitung keuntungan yang akan diperoleh; dalam melakukan
investasi investor selalu menghitung biaya yang akan dikeluarkan”.
Proses pembelian barang dalam mental accounting dipandang
dari sisi laba dan rugi. Barang yang diperoleh dianggap sebagai laba,
sedangkan uang yang dibayarkan dianggap sebagai rugi. Namun,
hasil penelitian yang dilakukan oleh Kahneman and Tversky (1984)
dan Thaler (1985) menolak gagasan tersebut. Menurut mereka
seseorang memperoleh dua macam utilitas dari proses pembelian
tersebut, yaitu utilitas akuisisi dan utilitas transaksi. Utilitas akuisisi
mengukur nilai dari barang yang diperoleh dibandingkan dengan
harga barang tersebut. Utilitas akuisisi merupakan nilai yang
bersedia dibayar pembeli. Penilaian barang tersebut dianggap
sebagai hadiah yang diperoleh dikurangi dengan harga yang harus
dibayarkan. Sedangkan utilitas transaksi adalah mengukur nilai yang
disepakati. Nilai yang disepakati ini merupakan harga regular yang
bersedia dibayar untuk memperoleh suatu barang. Harga tersebut
merupakan perbedaan dari jumlah yang dibayar oleh pembeli
dengan harga yang sebenarnya diharapkan pembeli atas barang
tesebut. Konsep utilitas transaksi ini tidak berlaku dalam model
ekonimi standar karena konsumsi individu selalu sama dalam
kondisi apapun.

Overconfidence(skripsi dan tesis)

Overconfidence akan membuat investor menjadi overestimate
terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh investor itu sendiri, dan
underestimate terhadap prediksi yang dilakukan karena investor
melebih-lebihkan kemampuan yang dimiliki (Nofsinger, 2005:10).
Overconfidence juga akan mempengaruhi investor dalam
berperilaku mengambil risiko. Investor yang rasional berusaha
untuk memaksimalkan keuntungan sementara memperkecil jumlah
dari risiko yang diambil (Nofsinger, 2005:15). Overconfidence juga
dapat menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar
dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi.
Overconvidence atau sikap terlalu percaya diri berkaitan
dengan seberapa besar prasangka atau perasaan tentang seberapa
baik seseorang mengerti kemampuan mereka dan batas pengetahuan
mereka sendiri. Hal ini didukung oleh pernyataan Shefrin (2007)
yang dikutip sebagai berikut,
“overconfidence is a bias that pertains to how well people
understand their own abilities and the limits of their knowledge”.
Penyebab dari overconfidence yaitu kepercayaan diri yang
berlebihan bahwa informasi yang diperoleh mampu dimanfaatkan
dengan baik karena memiliki kemampuan analisis yang akurat dan
tepat, namun hal ini sebenarnya merupakan suatu ilusi pengetahuan
dan kemampuan dikarenakan adanya beberapa alasan seperti
pengalaman yang kurang dan keterbatasan keahlian mengintepretasi
informasi (Baker & Nofsinger 2002).
Sheffrin (2007) membagi overconfidence ini kedalam dua
kelompok, yaitu: (1) terlalu percaya diri akan kemampuan atau
overconfidence about ability dan (2) terlalu percaya diri akan
pengetahuan atau overconfidence about knowledge. Orang yang
terlalu percaya diri akan kemampuan mereka biasanya berpikir
bahwa seseorang merasa lebih baik dari pada yang sebenarnya.
Sedangkan orang yang terlalu percaya diri akan level
pengetahuannya sendiri biasanya berpikir bahwa orang tersebut
tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya diketahui. Sikap ini
tidak selalu berarti bahwa investor tidak peduli atau tidak kompeten,
masalahnya hanya terletak pada pemikiran bahwa orang tersebut
lebih pintar dan lebih baik.
Investor dengan overconfidence akan mengesampingkan
informasi yang didapat karena dia terlalu percaya pada keyakinan
sendiri. Investor menjadi terlalu yakin dan percaya diri pada
pandangan dan pengetahuan individu sehingga informasi lain yang
didapat tidak terlalu dihiraukan. Rasa percaya diri yang berlebihan
menyebabkan investor menaksir terlalu tinggi terhadap pengetahuan
yang dimiliki, menaksir terlalu rendah terhadap risiko dan melebihlebihkan kemampuan dalam hal melakukan kontrol atas apa yang
terjadi.

Regret Aversiosn Bias(skripsi dan tesis)

 

Regret aversion bias adalah keputusan untuk bertindak
menghindari kesalahan keputusan yang sama karena adanya rasa
takut menghadapi kerugian yang sama di dalam diri seseorang
(Yohnson, 2008). Para peneliti mengidentifikasikan regret aversion
bias dalam dua komponen, yaitu experienced regret dan
anticipated regret. Experienced regret merupakan suatu penyesalan
yang timbul dari kesalahan masa lalu (Kinerson dan Bailey, 2005).
Responden dihadapkan pada rencana investasi yang hasil pilihan
investasinya tidak lebih baik dari hasil rencana investasi yang lain.
Penyesalan yang akan membuat seorang investor menghindari
konsekuensi yang timbul setelah mengambil keputusan investasi
yang salah. Tindakan untuk menghindari konsekuensi tersebut
disebut anticipated regret.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kinerson dan Bailey
(2005) dan Yohnson (2008), variabel regret aversion bias dibagi
menjadi dua yaitu experienced regret dan anticipated regret.
Experienced regret didasarkan pada penelitian Loomes dan
Sudgen(1982). Sedangkan anticipated regret didasarkan pada
penelitian Bell (1982). Pada penelitian sebelumnya, hasil dari
penelitian yang dilakukan oleh Kinnerson dan Bailey (2005),
Loomies dan Sudgen (1982) adalah experienced regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi. Hasil ini bertentangan
dengan penelitian Yohnson (2008) bahwa experienced regret tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Selain itu,
hasil penelitian tentang anticipated regret yang dilakukan oleh
Kinnerson dan Bailey (2005) dan Yohnson (2008) tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Hasil ini
bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bell (1982)
serta Wong dan Kwong (2007) bahwa anticipated regret
berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Secara
keseluruhan, regret aversion bias mempengaruhi keputusan
investasi. Namun, masing-masing komponen dari regret aversion
bias (experienced regret/anticipated regret) memiliki perbedaan
pengaruh terhadap keputusan investasi.

Prospect Theory(skripsi dan tesis)

Kahneman dan Tversky (2000) menjelaskan tentang prospect
theory yang berkaitan dengan ide bahwa manusia tidak selalu
berperilaku secara rasional. Keterlibatan emosi, kesukaan, sifat dan
berbagai macam hal yang melekat di dalam diri manusia sering
menyebabkan manusia tidak selalu berperilaku rasional dalam
mengambil sebuah keputusan. Tingkat kerugian yang dialami
dipandang oleh kebanyakan orang lebih menonjol dibandingkan
dengan tingkat keuntungan yang didapatkan dengan asumsi tingkat
kerugian dan keuntungan nilainya sama. Teori ini beranggapan
bahwa ada bias yang melekat dan pengaruh faktor – faktor
psikologis yang mempengaruhi pilihan seseorang pada kondisi
ketidakpastian.
Teori ini disebutkan juga teori pilihan rasional yang lebih
dikenal dengan pendekatan dengan ilmu politik dan sering mewakili
alternatif model dominan untuk menjelaskan tingkah laku. Secara
obyektif, teori ini tidak untuk menguji prediksi terhadap orang-orang
dengan model pilihan rasional. Sebaliknya, disediakan sebagai dasar
perbandingan untuk memeriksa nilai penjelasan dan prediksi yang
diberikan oleh teori prospek.

. Generasi Y(skripsi dan tesis)

Generasi Y adalah individu yang lahir pada tahun 1980-2000
(Meier, Austin, dan Crocker, 2010). Generasi ini lahir di era
perkembangan teknologi informasi dan dunia pendidikan sehingga
memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi
sebelumnya. Misalnya saja, generasi Y lebih memperhatikan aspek
work life balance dibandingkan generasi X (Meier, Austin, dan
Crocker, 2010). Masing-masing generasi ini memiliki karakteristik
yang berbeda. Generasi Y akan cenderung kritis saat akan
melakukan sesuatu. Fakta bahwa apa yang generasi Y akan lakukan
harus memiliki nilai tambah bagi mereka secara individu sehingga
apa yang generasi Y lakukan akan sesuai dengan apa yang mereka
harapkan. Menurut Solnet (2008) generasi yang disebut millenials
biasanya akan mengutamakan diri sendiri dan membutuhkan adanya
feedback, peghargaan dan pujian yang konstan dari atasan mereka.
Generasi Y memiliki harga diri yang tinggi, entrepreneurial dan
menginginkan pekerjaan yang memiliki arti sesegera mungkin serta
sangat antusias terhadap pekerjaan.

 Investasi(skripsi dan tesis)

Investasi merupakan penempatan sejumlah dana pada saat
ini dengan harapan dapat menghasilkan keuntungan di masa depan
(Halim, 2005). Dalam melakukan keputusan investasi, investor
memerlukan informasi-informasi yang merupakan faktor-faktor
penting sebagai dasar untuk menentukan pilihan investasi. Dari
informasi yang ada, kemudian membentuk suatu model
pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi
untuk memungkinkan investor memilih investasi terbaik di antara
alternatif investasi yang tersedia.
Beberapa produk investasi dikenal sebagai efek atau surat
berharga. Definisi efek adalah suatu instrumen bentuk kepemilikan
yang dapat dipindah tangankan dalam bentuk surat berharga,
saham/obligasi, bukti hutang (promissory notes), bunga atau
partisipasi dalam suatu perjanjian kolektif (Reksa dana), Hak untuk
membeli suatu saham (Rights), garansi untuk membeli saham pada
masa mendatang atau instrumen yang dapat diperjual belikan. Jenis
investasi ada dua, yaitu:
1. Investasi riil
Investasi yang memiliki wujud fisik / riil
a. Investasi tanah, diharapkan dengan bertambahnya populasi
dan penggunaan tanah; harga tanah akan meningkat di masa
depan.
b. Investasi pada tabungan deposito, diharapkan investor akan
mendapat untung dari suku bunga deposito.
c. Investasi pada emas, diharapkan investor akan mendapat
keuntungan dari peningkatan harga emas di pasar.
2. Investasi financial
a. Investasi pendidikan, dengan bertambahnya pengetahuan dan
keahlian diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih
besar.
b. Investasi saham, diharapkan perusahaan mendapatkan
keuntungan dari hasil kerja atau penelitian.
c. Investasi instrumen mata uang asing, diharapkan investor akan
mendapatkan keuntungan dari menguatnya nilai tukar mata
uang asing terhadap mata uang lokal.
d. Investasi pada obligasi, diharapkan investor akan memperoleh
untung melalui tingkat suku bunga obligasi.
e. Investasi pada reksadana pendapatan tetap, diharapkan
investor akan mendapat keuntungan dari reksadana yang
memiliki pendapatan tetap.
f. Investasi pada reksadana pasar uang, ekuitas, campuran
pengembangan, indeks, dan terproteksi

Pekerjaan dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Pekerjaan secara umum didefinisikan sebagai sebuah kegiatan aktif yang
dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk
suatu tugas atau kerja yang menghasilkan sebuah karya bernilai imbalan dalam bentuk uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah pekerjaan dianggap sama dengan profesi.
Pekerjaan juga turut mempengaruhi seseorang untuk melakukan investasi
dan mengambil keputusan dalam berinvestasi. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam pekerjaan membuat orang tersebut overconfidence dalam mengambil keputusan.

Pendapatan dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Menurut salah satu ahli yaitu Rollin (1999), pendapatan adalah kenaikan kotor
atau garis dalam modal pemilik yang dihasilkan dari penjualan barang dagangan,
pelayanan jasa klien, penyewaan harta, peminjaman uang, dan semua kegiatan
yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan. Pendapatan seorang investor juga
mempengaruhi investor tersebut dalam memilih jenis investasi, karena jika salah
memilih jenis investasi maka risiko yang diterima dapat dikatakan akan sangat
merugikan dirinya sendiri.

Usia dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Usia merupakan satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau
makhluk baik yang hidup maupun yang mati.
Biasanya semakin lanjut usia, semakin takut akan risiko. Karena investor
yang berusia lanjut lebih memilih memikirkan hari tua yang menyenangkan
dibandingkan dengan memikirkan risiko yang disebabkan oleh investasi. Berbeda
dengan investor yang masih muda, mereka lebih berani menghadapi risiko karena
semakin tinggi risiko maka return yang diharapkan juga semakin besar.

Gender dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi(skripsi dan tesis)

Gender dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana individu yang lahir secara
biologis sebagai laki-laki atau perempuan yang kemudian memperoleh pencarian
sosial sebagai laki-laki atau perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan
feminitas yang sering didukung oleh nilai-nilai atau sistem dan simbol di
masyarakat yang bersangkutan. Gender termasuk salah satu aspek dari demografi
yang mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan investasi. Karena
seorang laki-laki biasanya lebih berani mengambil risiko dibandingkan wanita.
Sehingga aspek ini juga berpengaruh dalam pemilihan jenis investasi
seseorang.

Pengaruh Karakteristik Demografi Terhadap Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Karakteristik demografi sangatlah mempengaruhi suatu pemilihan jenis investor.
Gender berpengaruh terhadap perilaku dan pemilihan jenis investasi, investor
laki-laki cenderung lebih percaya diri (overconfidence) dibandingkan dengan
perempuan. Sehingga dijelaskan bahwa laki-laki lebih berani menanggung risiko
dalam melakukan investasi.
Bhandari dan Deaves (2006) melaporkan bahwa laki-laki lebih percaya diri
dibanding perempuan, dan semakin tinggi pendidikan dan pendapatan yang
dimiliki membuat investor cenderung overconfidence. Selain itu usia seorang
investor juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan, yaitu dengan
ditunjukkan bahwa investor yang masih muda lebih overconfidence dibanding
dengan yang sudah berusia lanjut. Memiliki jabatan yang tinggi dalam suatu
pekerjaan juga membuat seorang investor cenderung overconfidence dalam
pengambilan keputusan investasi (Barber dan Odean, 2001).

Instrumen Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Dalam berinvestasi di pasar modal terdapat beberapa instrumen yang umumnya
dimanfaatkan oleh investor dalam berinvestasi adalah sebagai berikut :
1. Saham
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), saham adalah tanda bukti
memiliki perusahaan dimana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang
saham (shareholder dan stockholder). Terdapat dua jenis saham yaitu
saham preferen dan saham biasa. Saham preferen (preferred stock) adalah
jenis saham yang memiliki hak terlebih dahulu untuk menerima laba dan
memiliki hak laba kumulatif. Saham biasa (common stock) adalah jenis
saham yang akan menerima laba setelah laba bagian preferen dibayarkan.
2. Obligasi
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), obligasi adalah tanda bukti
perusahaan memiliki utang jangka panjang kepada masyarakat yaitu diatas
3 tahun. Pihak yang membeli oblligasi disebut pemegang obligasi
(bondholder) dan pemegang obligasi akan menerima kupon sebagai
pendapatan dari obligasi yang dibayarkan setiap 3 atau 6 bulan sekali.
Pada saat pelunasan obligasi oleh perusahaan, pemegang obligasi akan
menerima kupon dan pokok obligasi.
3. Reksa Dana
Menurut Mohamad Samsul (2006 : 45), dilihat dari segi perdagangan efek,
reksa dana adalah suatu produk yang diperdagangkan, sedangkan manajer
investasi sebagai pengelola produk tersebut.

Jenis-Jenis Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Senduk (2004:24), bahwa produk-produk yang tersedia di pasaran antara
lain :
1. Tabungan di bank
Dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku
bunga tertentu yang besarnya mengikuti kebijakan bank yang
bersangkutan. Produk tabungan biasanya memperbolehkan kita
mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
2. Deposito di bank
Produk deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya,
dalam deposito tidak dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan,
kecuali apabila uang tersebut sudah menginap di bank selama jangka
waktu tertentu (tersedia pilihan antara satu, tiga, enam, dua belas,
sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang harian). Suku
bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan.
Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan
terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
3. Properti
Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau
rumah. Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua, yaitu :
a. Menyewakan properti tersebut pada pihak lain sehingga mendapat
uang sewa.
b. Menjual properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
4. Barang-barang koleksi
Contoh barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik,
dan lain sebagainya. Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada
barang-barang koleksi adalah dengan menjual koleksi tersebut kepada
pihak lain.
5. Emas
Emas adalah barang berharga yang dapat diterima di seluruh dunia
setelah mata uang asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh
negara yang memiliki ekonomi paling kuat, yaitu Amerika, Jepang,
Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis). Harga emas akan
mengikuti kenaikan nilai mata uang dari negara-negara G-7. Semakin
tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, maka semakin tinggi
pula harga emas. Selain itu harga emas biasanya berbanding searah
dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya semakin tinggi pula
harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan
inflasi itu sendiri.
6. Mata uang asing
Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan
investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia
menganut sistem mengambang bebas (free float). Yaitu benar-benar
tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Di Indonesia
mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
7. Saham
Saham adalah kepemilikan atas sebuat perusahaan tersebut. Dengan
membeli saham, berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila
perusahaan tersebut mengalami keuntungan, maka pemegang saham
biasanya akan mendapatkan sebagian keuntungan yang disebut dividen.
Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik dengan harga yang lebih
tinggi yang selisih harganya disebut capital gain, maupun yang lebih
rendah daripada saat kita membelinya yang selisih harganya disebut
capital loss. Keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua, yaitu
dividen dan capital gain.
8. Obligasi
Obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan
oleh pemerintah maupun perusahaan, baik untuk menambah modal
perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah. Karena sifatnya
yang hampir sama dengan deposito, maka agar lebih menarik para
investor suku bunga obligasinya biasanya sedikit lebih tinggi dibanding
suku bunga deposito. Selain itu, seperti saham kepemilikan obligasi
dapat juga dijual kepada pihak lain dengan harga yang lebih tinggi
maupun lebih rendah daripada ketika membelinya.
Jenis investasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis investasi yang
berada di pasar modal.

Pengertian Investasi dan Tujuan Investasi (skripsi dan tesis)

Menurut Abdul Halim (2005 : 4) “investasi adalah penempatan sejumlah dana
pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang”.
Menginvestasikan sejumlah dana pada aset riil (tanah, emas, mesin, atau
bangunan), maupun aset financial (deposito, tabungan, saham, atau obligasi)
merupakan aktivitas investasi yang umumnya dilakukan.
Pada dasarnya tujuan orang melakukan investasi adalah untuk
menghasilkan return yang tinggi. Sedangkan tujuan investasi yang lebih luas
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Tetapi investor juga harus
memikirkan bahwa return yang tinggi juga menimbulkan risiko yang tinggi pula.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi, yaitu :
1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa datang.
2. Untuk mengurangi tekanan inflasi.
3. Sebagai dorongan untuk menghemat pajak.

Dasar Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Dasar Keputusan Investasi
Dasar keputusan investasi terdiri dari tingkat return yang diharapkan, tingkat
risiko, serta hubungan antara return dan risiko. Return yang diharapkan investor
dari investasi yang dilakukan merupakan kompensasi atas biaya kesempatan dan
risiko penurunan daya beli akibat adanya pengaruh inflasi. Didalam konteks
manajemen investasi, return dibedakan menjadi 2 macam, antara lain :
1. Return yang diharapkan merupakan tingkat return yang diantisipasi
investor dimasa datang.
2. Return yang terjadi merupakan tingkat return yang diperoleh investor
pada masa lalu.
Umumnya semakin besar risiko, semakin besar pula tingkat return yang
diharapkan. Investor yang lebih berani memiliki risiko investasi yang lebih tinggi,
yang diikuti oleh harapan tingkat return yang tinggi pula. Sebaliknya, investor
yang tidak mau menanggung risiko dengan return yang terlalu tinggi, tentunya
tidak bisa mengharapkan tingkat return yang tinggi pula. Jadi dapat disimpulkan
bahwa hubungan antara risiko dan return memiliki hubungan yang searah atau
linier. Artinya, semakin besar risiko suatu aset, semakin besar pula return yang
diharapkan atas aset tersebut, demikian sebaliknya.

Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Keputusan investasi merupakan keputusan seorang individu untuk meletakkan
sejumlah dananya pada jenis investasi tertentu. Penilaian keputusan investasi
dapat dinilai dengan presentase individu dalam menentukan besarnya dana yang
diinvestasikan pada pasar modal maupun pasar uang.
Keputusan investasi berkaitan dengan pemilihan alternatif investasi yang
dinilai akan menguntungkan bagi suatu perusahaan/ individu. Dalam penelitian ini
lebih dikhususkan pada keputusan investasi untuk memilih jenis investasi yang
diinginkan seorang investor sesuai dengan faktor demografinya. Biasanya faktor
demografi juga turut mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan
investasi, baik dari segi gender, usia, pendidikan, pendapatan, maupun pekerjaan.

Pengaruh regret aversion bias terhadap pengambilan keputusan investasi (skripsi dan tesis)

Experienced regret merupakan penyesalan yang ditimbulkan
akibat kesalahan di masa lalu akan mempengaruhi keputusan di masa
yang akan datang. Seorang investor yang mengalami kerugian di masa
lalu akan menimbulkan sikap konservatif sehingga akan
mempengaruhi keputusan investasi yang akan datang. Dalam
mengambil suatu keputusan investasi, para investor seringkali
berperilaku tidak rasional. Ada juga investor yang tidak terpengaruh
oleh experienced regret dalam pengambilan keputusan investasinya.
Semakin besar kerugian yang dialami, maka semakin besar pula
tingkat keberanian dalam mengambil risiko lebih besar.
Anticipated regret timbul apabila rencana investasi yang
dilakukan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Responden
dihadapkan pada rencana investasi yang hasil pilihan investasinya
tidak lebih baik dari hasil rencana investasi yang lain. Hal ini
menimbulkan penyesalan yang akan membuat seorang investor
menghindari konsekuensi yang timbul setelah mengambil keputusan
investasi yang salah. Tindakan untuk menghindari konsekuensi
tersebut disebut Anticipated regret. Ketidakpastian akan investasi di
masa depan memaksa para investor untuk melakukan analisis untuk
investasi yang akan dipilih dengan lebih cermat agar tidak terjadi
kerugian di masa yang akan datang.
Penelitian terdahulu tentang experienced regret yang
dilakukan oleh Kinnerson dan Bailey (2005), Loomies dan Sudgen
(1982) bahwa hasilnya adalah experienced regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi. Selain itu, penelitian
terdahulu tentang anticipated regret yang dilakukan oleh Bell (1982)
serta Wong dan Kwong (2007) bahwa anticipated regret berpengaruh
signifikan terhadap keputusan investasi.
Dengan demikian diduga keputusan investasi yang akan
diambil oleh responden baik dari kelompok experienced regret
maupun anticipated regret akan berbeda secara signifikan jika kedua
regret tersebut berpengaruh terhadap keputusan investasi.

Keputusan Investasi (skripsi dan tesis)

Pengambilan keputusan menurut Goetsch dan Davis (1997)
sebagaimana yang dikutip oleh Supranto (2003) sebagai berikut:
decision making is the process of selecting one course of action from
among two or more alternatives. Pengambilan keputusan adalah
memilih salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang ada.
Menurut Tandelilin (2001) investasi adalah sejumlah komitmen atas
sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat
ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang
akan datang.
Dari kedua definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
keputusan investasi adalah hasil dari pemilihan sejumlah komitmen
atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada
saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa
yang akan datang.
Dalam melakukan proses investasi, sangat diperlukan perilaku
yang seharusnya seorang investor lakukan dalam membuat
keputusan investasi dalam berbagai macam asset (riil atau finansial).
Adapun proses investasi tersebut melalui beberapa tahapan menurut
Ahmad (1996), yaitu:
(1) dengan menentukan tujuan investasi
(2) melakukan analisis
(3) melakukan pembentukan portofolio
(4) melakukan evaluasi kinerja portofolio
(5) melakukan revisi kinerja portofolio.
Ada 3 hal yang menjadi tujuan utama melakukan investasi.
Pertama, adanya kebutuhan masa depan atau kebutuhan yang belum
mampu dipenuhi saat ini. Kedua, adanya keinginan untuk
menambah nilai aset dan melindungi nilai aset yang sudah dimiliki.
Ketiga, karena adanya inflasi (Pratomo dan Nugraha 2005:6).

Tekanan Situasional (skripsi dan tesis)

Tekanan situasional dalam Fraud Scale dan Fraud Diamond memiliki makna yang lebih luas dibanding tekanan yang dimaksud dalam Fraud Triangle. Fraud Triangle lebih spesifik kepada tekanan keuangan yang dapat memengaruhi seseorang melakukan fraud. Sedangkan tekanan situasional dapat berupa tekanan keuangan, maupun hal lainnya. Thomas (2010) menyatakan tekanan situasional dapat dibagi ke dalam 4 (empat) kelompok, yaitu uang (money), ideologi (ideology), koersi (coersion) dan ego, atau yang lebih dikenal dengan singkatan MICE. Faktor uang mengacu pada tekanan finansial yang dialami pelaku yang membuatnya melakukan kecurangan. Faktor ideologi adalah pelaku menganggap melakukan kecurangan merupakan hal yang benar apabila dilakukan untuk kebaikan yang lebih besar. Faktor koersi adalah adanya pihak ketiga yang memberikan contoh, mengintimidasi atau mengancam untuk melakukan kecurangan. Sedangkan ego adalah pelaku merasa kecurangan yang dilakukannya tidak akan terdeteksi

Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Kinerja keuangan merupakan kondisi yang mencerminkan keadaan keuangan suatu perusahaan berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan (Sawir, 2005). Menurut Munawir (2010:30), kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio keuangan perusahaan. Kasmir (2010) bahwa rasio keuangan dapat digunakan untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu untuk mengetahui apakah perusahaan telah mencapai target seperti yang telah ditetapkan atau sebaliknya

Definisi Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Menurut Ikhsan (2009:49-50) Akuntansi manajemen lingkungan merupakan sub bagian dari akuntansi lingkungan yang digunakan untuk menyediakan informasi dalam pengambilan keputusan suatu organisasi, walaupun informasi yang dihasilkan untuk tujuan yang lain, seperti pelaporan ekternal, dengan pelaporan dan pengiriman informasi tentang: a.) Informasi berdasarkan arus bahan dan energi b.) informasi biaya lingkungan c.) Informasi lainnya yang terukur, dibentuk berdasarkan akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan. Menurut pernyataan IFAC (2005:13) pengertian Akuntansi manajemen lingkungan atau environmental management accounting (EMA) adalah: “akuntansi manajemen lingkungan merupakan istilah yang digunakan dalam sejumlah konteks yang berbeda termasuk:
1. Penilaian dan pengungkapan informasi keuangan terkait lingkungan dalam konteks akuntansi dan pelaporan keuangan
2. Penilaian dan penggunaan informasi fisik dan moneter yang berkaitan dengan lingkungan dalam konteks akuntansi manajemen lingkungan (AML)
3. Estimasi dampak dan biaya lingkungan luar biasa, sering dianggap sebagai full cost accounting
 4. Akuntanis untuk persediaan dan arus sumber daya alam baik secara fisik dan moneter, yaitu natural resourcing accounting (NRA)

 5. Pelaporan informasi tingkat organisasi, informasi natural resource accounting dan informasi lainnya untuk tujuan informasi keuangan eksternal 6. Pertimbangan informasi fisik dan moneter terkait lingkungan dalam konteks pembangungan keberlanjutan.” The United Nations Division for Sustainable Development (UNDSD) (2011) dalam Ikhsan (2009:54) menyediakan suatu definisi yang lain dari akuntansi manajemen lingkungan. Definisi akuntansi manajemen lingkungan adalah informasi yang dihasilkan dari sistem akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan internal, dimana informasi dapat berfokus secara fisiki atau moneter. Dalam pengambilan keputusan internal tersebut terdapat prosedul akuntansi manajemen lingkungan yang meliputi prosedur secara fisik untuk material dan pemakian energi, arus dan sisa akhir, dan memoneterisasi prosedur untuk biaya-biaya, penghematan dan pendapatan yang berhubungan terhadap aktifitas-aktifitas dengan dampak lingkungan potensial. Menurut Hansen dan Mowen (2005:778): “Environmental Management Accounting essentially maintains that organizations can produce more useful goods and services while simultaneously reducing negative environmental impacts, resource consumption, and costs”. Akuntansi manajemen lingkungan pada dasarnya merupakan gabungan dari informasi dari akuntansi keuangan dan akuntansi biaya untuk meningkatkan  efisiensi, mengurangi dampak dan resiko lingkungan serta mengurangi biaya perlindungan lingkungan. (Hansen dan Mowen 2005:778) Untuk kategori biaya tersebut berbeda dari skema biaya lingkugan lingkungan, petunjuk diberikan berdasarkan di mana untuk menemukan mereka dan bagaimana caranya yang sesuai dengan mereka ketika pembelanjaan atau biaya dinilai Akuntansi manajemen lingkungan yang dikembangkan oleh Burrit et al. (2002) mengintegrasikan dua komponen lingkungan, yaitu:
1. Moneter Akuntansi Manajemen Lingkungan (MAML), berbasis pada monetary procedure merupakan upaya mengidentifikasi, mengukur dan mengalokasikan dalam biaya. MAML didasarkan pada akuntansi manajemen konvensional yang diperluas untuk masalah lingkungan, dan merupakan alat utama untuk mengambil keputusan manajemen internal.
 2. Pisik Akuntansi Manajemen Lingkungan (PAML), berbasis pada material flow balance procedure merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi berbagai perilaku sumber daya lingkungan. Hal ini akan berguna bagi manajemen untuk dasar alokasi biaya lingkungan yang terjadi. Pada tingkat organisasi, akuntansi manajemen lingkungan terdapat dalam konteks akuntansi manajemen (penliaian pengeluaran organisasi terhadap peralatan pengendalian pencemaran dari bahan daur ulang; pendapatan dari bahan daur ulang; penghematan moneter tahunan dari peralatan hemat energi) dan Akuntansi keuangan (evaluasi dan pelaporan suatu kewajiban terkait lingkungan organisasi saat ini) (IFAC, 2005:14)

Fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)

Persediaan dapat memiliki berbagai fungsi yang menambah fleksibelitas operasi perusahaan. Keempat fungsi persediaan adalah sebagai berikut (Heizer & Render, 2015): a. Memberikan pilihan barang agar dapat memenuhi permintaan pelanggan yang diantisipasi dan memisahkan perusahaan dari fluktuasi permintaan. Persediaan seperti ini digunakan secara umum pada perusahaan ritel. b. Memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi. Contohnya jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan agar bisa memisahkan proses produksi dari pemasok. c. Mengambil keuntungan dari potongan jumlah karena pembelian dalam jumlah besar dapat menurunkan biaya pengiriman barang. d. Menghindari inflasi dan kenaikan harga. Sementara itu Stevenseon & Chuong (2014) menjelaskan fungsi persediaan dengan lebih rinci, antara lain sebagai berikut: a. Memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan. Persediaan ini di rujuk sebagai persediaan antisipasi karena di simpan untuk memuaskan permintaan yang di perkirakan. b. Memperlancar persyaratan produksi. Perusahaan yang mangalami pola musiman dalam permintaan seringkali membangun persediaan selama periode pramusim untuk mememnuhi keperluan yang luar biasa tinggi selama periode musiman. Persediaan ini di sebut dengan nama yang sesuai yaitu persediaan musiman. c. Memisahkan operasi. Secara historis, perusahaan manufaktur telah menggunakan persediaan sebagai penyangga antara operasi yang berurutan untuk memelihara kontinuitas. d. Perlindungan terhadap kehabisan persediaan. Pengiriman yang tertunda dan peningkatan yang tidak terduga dalam permintaan akan menigkatkan resiko kehabisan persediaan. Resiko kehabisan persediaan dapat di kurangi dengan menyimpan persediaaan aman yang merupakan persediaaan berlebih dari permintaan rata-rata untuk mengkompensasi variabilitas dalam permintaan dan waktu tunggu. e. Mengambil keuntungan dari siklus pesanan. Untuk meminimalkan biaya pembelian dan persediaan, perusahaan seringkali membeli dalam jumlah yang melampaui kebutuhan jangka pendek. f. Melindungi dari peningkatan harga. Secara berkala perusahaan akan menduga bahwa peningkatan harga yang substansial akan terjadi dan membeli jumlah yang lebih besar dari normal untuk mengalahkan kenaikan tersebut. g. Memungkinkan operasi. Fakta bahwa operasi (produksi) membutuhkan waktu tertentu (yaitu, tidak secara instan) berarti bahwa akan terdapat sejumlah persediaan barang dalam proses. Hukum little (littes law) dapat berguna dalam menghitung persediaan pipa saluran. Hukum tersebut menyatakan bahwa jumlah perseidaan rata-rata dalam sebuah sistem sama dengan produk dari tingkat rata-rata permintaan dan waktu rata-rata sebuah unit berada dalam sistem (yaitu tingkat permintaan rata-rata). h. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas. Pemasok dapat memberikan diskon untuk pesanan besar. Fungsi-fungsi yang telah disebutkan diatas sangat diperlukan perusahaan, karena perusahaan menghadapi berbagai faktor resiko sebagai berikut (Yamit, 2011) : a. Adanya unsur ketidakpastian permintaan (permintaan yang mendadak). b. Adanya unsur ketidakpastian dari pasokan supplier. c. Adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu pemesanan

Hubungan antara Work Stressor dengan Perilaku Cyberloafing (skripsi dan tesis)

Stres adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku (Daft, 2010). Stres dibutuhkan dalam fungsi yang normal, tetapi jika tingkat stres tinggi akan menimbulkan akibat yang negatif pada kesejahteraan karyawan itu sendiri, seperti meningkatnya tekanan darah, ketidakpuasan kerja dan depresi. Organisasi merupakan sebuah sistem peran yang menyediakan berbagi macam tugas kerja untuk tiap peran dari karyawan dan motivasi untuk karyawan dalam melaksankan perannya dalam organisasi (Henle dan Blanchard, 2008). Karyawan dapat memberikan masukan untuk kesuksesan organisasi atau tindakan korektif dalam keputusan yang diambil dalam hal yang berhubungan dengan kinerjanya, dan pemberian sanksi jika terjadi kesalahan. Idealnya setiap peran mempunyai satu aktivitas yang dikerjakan, tetapi kadang peran karyawan tersebut membuat karyawan harus menyeimbangkan berbagai tuntutan di lingkungan, kebingungan karyawan karena role ambiguity ataupun role conflict (Henle dan Blanchard, 2008). Stres kerja mempunyai dampak negatif pada karyawan itu sendiri, seperti meningkatnya tekanan darah, ketidakpuasan kerja dan depresi (Munandar, 2001) dan juga ketidakefektifan organisasi (Schaubroeck dalam 22 Henle dan Blanchard, 2008). Cyberloafing dilakukan karyawan tidak pada semua jenis stressor, lebih khususnya adalah role conflict dan role ambiguity, sedangkan karyawan dengan role overload hanya mempunyai sedikit potensi untuk melakukan cyberloafing. Karyawan dengan role overload mempunyai sedikit potensi melakukan cyberloafing dikarenakan mereka terlalu banyak melakukan pekerjaan di tempat kerja, sehingga tidak mempunyai waktu untuk melakukan cyberloafing (Henle dan Blanchard, 2008). Role conflict dapat menyebabkan karyawan dalam melakukan cyberloafing, ini dikarenakan karyawan merasa bingung dengan tuntutan dari beberapa pihak di tempat kerja, dapat berupa konflik tuntutan kerja dengan karyawan lain, tuntutan workgroups, kebijakan organisasi dan kewajiban kerja (Henle dan Blanchard, 2008). Untuk mengalihkan stress tersebut, karyawan melakukan cyberloafing untuk melupakan stres mereka, dengan begitu mereka akan lupa dengan stres yang mereka alami. Role ambiguity juga dapat menyebabkan karyawan melakukan cyberloafing. Karyawan merasa bingung harus melakukan pekerjaan seperti apa, ini dikarenakan suatu kesenjangan antara jumlah informasi yang dimiliki seseorang dengan yang dibutuhkannya untuk dapat melaksanakan perannya dengan tepat. Role ambiguity ini dapat menghalangi individu untuk melakukan tugasnya dan menyebabkan timbulnya perasaan tidak aman dan tidak menentu. Dengan adanya suasana yang tidak menentu ini, karyawan mengalihkankannya dengan melakukan cyberloafing, karena mereka bingung apa yang harus mereka kerjakan (Henle dan Blanchard, 2008). Selain itu, role overload juga dapat menyebabkan karyawan melakukan cyberloafing, tetapi hanya mempunyai sedikit potensi. Ini dikarenakan karena karyawan terbebani oleh banyaknya tugas yang harus dikerjakan (Henle dan Blanchard, 2008). Penelitian Herlianto (2012) meneliti tentang work stressor (terdiri dari: role ambiguity; role conflict; role conflict) dan cyberloafing. Hasil penelitian menyimpulkan role ambiguity memiliki pengaruh negatif terhadap cyberloafing; role conflict mempunyai pengaruh positif terhadap cyberloafing; role overload mempunyai pengaruh negatif terhadap cyberloafing; dan role conflict berpengaruh dominan terhadap cyberloafing

Dampak dari Ketidakpuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Greenberg dan Baron (2003: 156) menyatakan ketika karyawan tidak puas dengan pekerjaan mereka, mereka berusaha menemukan cara untuk mengurangi keterpaparan mereka terhadap pekerjaan mereka. Artinya, mereka menjauh dari pekerjaan mereka, sebuah fenomena yang dikenal sebagai penarikan karyawan. Dua bentuk utama penarikan karyawan adalah ketidakhadiran dan pemberhentian kerja yang disengaja. Dengan tidak tampil bekerja dan/atau berhenti bekerja, orang mungkin mengungkapkan ketidakpuasan mereka terhadap pekerjaan mereka atau mencoba melepaskan diri dari aspek-aspek yang tidak menyenangkan yang mungkin mereka alami. Pengertian employee withdrawal (penarikan karyawan) menurut Greenberg dan Baron (2003: 156) adalah tindakan seperti absensi kronis dan pemberhentian kerja secara sengaja (yaitu berhenti dari pekerjaan) yang memungkinkan karyawan melarikan diri dari situasi organisasi yang merugikan. Menurut Roobins dan Judge (2008: 112) konsekuensi karyawan tidak menyukai pekerjaan mereka adalah sebagai berikut:
 1. Keluar (exit): Ketidakpuasan yang diungkapkan melalui perilaku yang ditujukan untuk meninggalkan perusahaan, termasuk mencari posisi baru dan mengundurkan diri.
2. Aspirasi (voice): Ketidakpuasan yang diungkapkan melalui usaha-usaha yang aktif dan konstruktif untuk memperbaiki kondisi dan beberapa bentuk aktivitas serikat kerja.
3. Kesetiaan (loyalty): Ketidakpuasan yang diungkapkan dengan secara aktif menunggu membaiknya kondisi, termasuk membela organisasi ketika berhadapan dengan kecemasan eksternal dan mempercayai organisasi dan “manajemennya untuk melakukan hal yang benar”.
4. Pengabaian (neglect): Ketidakpuasan yang diungkapkan dengan membiarkan kondisi menjadi lebih buruk, termasuk ketidakhadiran atau keterlambatan yang terus-menerus, kurangnya usaha, dan meningkatkan angka kesalahan.
Menurut Munandar dan Suhendi (2008) mejelaskan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja telah banyak diteliti. Berikut ini merupakan hasil penelitian tentang dampak kepuasan terhadap produktivitas, kehadiran, dan keluarnya pekerja, serta dampak terhadap unjuk kerja:
 1. Dampak terhadap produktivitas
Hubungan antara produktivitas dan kepuasan kerja sangat kecil. Kepuasan kerja mungkin merupakan akibat, dan bukan merupakan sebab dari produktivitas. Lawler dan Porter mengharapkan produktivitas yang tinggi akan menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya jika karena mempersepsikan bahwa ganjaran ekstrinsik (misalnya gaji) yang diterima terasa adil dan wajar, serta diasosiasikan dengan unjuk kerja yang unggul. Jika karyawan tidak dapat mempersepsikan ganjaran intrinsik dan ekstrinsik berasosiasi dengan baik dan unjuk kerja, kenaikan dalam unjuk kerja tidak akan berkorelasi dengan kenaikan dalam kepuasan kerja.
2. Dampak terhadap ketidakhadiran (absenteeism) dan keluarnya tenaga kerja (turn over)
Porter dan Streers berkesimpulan bahwa ketidakhadiran lebih spontan sifatnya sehingga bisa saja mencerminkan ketidakpuasan kerja. Lain halnya dengan 26 berhenti atau keluar. Karena memiliki akibat-akibat ekonomis yang besar, lebih besar kemungkinannya perilaku ini berhubungan dengan ketidakpuasan kerja.
 Sedangkan menurut Munandar (2008) dampak atau konsekuensi dari kepuasan kerja, yaitu:
 1. Dampak terhadap produktivitas
Awalnya orang berpendapat bahwa produktivitas dapat dinaikkan dengan menaikkan kepuasan kerja. Lawler dan Porter dalam Munandar (2008) mengharapkan produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa ganjaran intrinsik dan ganjaran ekstrinsik yang diterima keduanya adil dam wajar dan diasosiasikan dengan job performance yang unggul.
 2. Dampak terhadap ketidakhadiran dan keluarnya tenaga kerja
Steers & Rhodes dalam Munandar (2008) mengembangkan model dari pengaruh terhadap ketidakhadiran. Mereka melihat adanya dua faktor pada perilaku hadir, yaitu motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir. Mereka percaya bahwa motivasi untuk hadir dipengaruhi oleh kepuasan kerja dalam kombinasi dengan tekanan-tekanan internal dan eksternal untuk datang pada pekerjaan. Menurut Robbins dalam Munadar (2008) ketidakpuasan kerja pada karyawan dapat diungkapkan ke dalam berbagai cara. Misalnya, selain meninggalkan pekerjaan, karyawan dapat mengeluh, membangkan, mencuri barang milik organisasi, menghindari sebagian dari tanggung jawab mereka.
3. Dampak terhadap kesehatan
Ada beberapa bukti tentang adanya hubungan antara kepuasan kerja dengan kesehatan fisik dan mental. Salah satu temuan yang penting dari kajian yang dilakukan oleh Kornhauser dalam Munandar (2008) tentang kesehatan mental dan kepuasan kerja ialah untuk semua tingkatan jabatan, persepsi dari tenaga kerja bahwa pekerjaan mereka menuntut penggunaan efektif dari kecakapan mereka berkitan dengan skor kesehatan mental yang tinggi. Skor – skor ini juga berkaitan dengan tingkat dari kepuasan kerja dan tingkat dari jabatan.

Teori Pengelolaan Kesan (Impression Management Theory)(skripsi dan tesis)

Impresson Management Theory atau teori pengelolaan kesan merupakan teori yang fokus membahas bagaimana seseorang atau institusi berusaha untuk membangun sebuah kesan yang baik dalam lingkungan sosial melalui interaksi. Ketika para ahli berbicara tentang pengeloaan kesan, mereka tidak membahas hal-hal yang terkesan kompleks, tetapi hal yang lebih sederhana, hanya sebatas melihat bagaimana penggambaran diri seseorang ketika sedang menampilkan dirinya ketika sedang berinteraksi. Para ahli menggunakan istilah social self dan private self untuk membedakan identitas sosial dengan diri pribadi (Littlejohn & Foss, 2009).
Ketika seseorang sedang berinteraksi dengan orang lain, maka secara otomatis kita terikat dengan beberapa hal, seperti kebiasaan, sopan santun, nilai, norma, latar belakang keluarga, dan sebagainya. Dengan demikian, ketika sedang berinteraksi pada ranah sosial, maka kita tidak bisa menunjukkan semua aspek yang ada pada diri kita secara apa adanya. Kita harus bisa memilah mana yang akan kita tunjukkan kepada orang lain yang dapat menggambarkan citra diri yang ingin kita bangun. Hal-hal tersebut perlu dilakukan dalam berbagai momen yang memang membutuhkan sebuah pencitraan diri yang baik. Tetapi tidak masalah jika kita juga melakukan pengelolaan pesan pada setiap saat dan kepada siapapun kita berinteraksi.
Menurut Littejohn dan Foss (2009) seseorang yang tidak melakukan pengelolaan kesan ketika sedang berinteraksi dalam ranah sosial, maka komunikasi yang terjadi tidak akan baik dan maksimal. Misal, jika seseorang berbicara sesuai dengan apa yang dipikirkannya saja, tanpa memandang nilai dan norma yang berlaku maka akan menciptakan kesan yang tidak baik kepada lawan bicara dan komunikasi yang terjadi tidak akan membuahkan hasil yang baik pula.
Teori ini berakar dari dua bahasan utama, yaitu (1) self-presentation, melihat bagaimana tingkah laku seseorang ketika menampilkan dirinya di ranah publik dan motif apa yang yang ia punya dibalik perilaku yang ia lakukan tersebut. (2) Situated social identity, pembahasan ini berfokus kepada prinsip pengorganisasian semua jenis interaksi adalah mengkoordinasikan pengelolaan identitas sosial. Pembahasan kedua ini digunakan oleh Goffman sebagai dasar konsep “panggung depan” dan “panggung belakang” dalam dramaturgi (John & Foss, 2009).
Alasan peneliti memilih teori ini adalah karena pada saat melakukan pra penelitian, peneliti menemukan adanya praktik pengelolaan kesan pada masing-masing informan. Mereka berpendapat bahwa apa yang ditampilkan melaui foto dan video yang diunggah di Instagram merupakan hasil dari pengelolaan kesan yang mereka lakukan agar mendapatkan respon yang baik dari pengguna Instagram yang lainnya. Tidak semua sisi private self mereka ditunjukkan dalam Instagram.

Tekanan Penduduk Terhadap Lahan Pertanian (skripsi dan tesis)

Jumlah penduduk secara absolut terus mengalami peningkatan, meski di pihak lain tingkat pertumbuhannya mengalami kecenderungan penurunan sebagai dampak kebijakan kependudukan, baik yang sifatnya langsung maupun tidak langsung. Begitu juga dengan kepadatan penduduk, terutama kepadatan penduduk kasarnya cenderung meningkat (Mamat 2015). Dilihat dari segi jumlah penduduk, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia setelah negara Cina, India dan besaAmerika. Kuantitas penduduk yang dimiliki sekarang belum membuat Indonesia sebagai negara keempat terbesar dalam segi lainnya, seperti pertumbuhan ekonomi, industri, dan lain sebagainya. Bertambahnya jumlah penduduk di suatu daerah disebabkan oleh faktor alami yaitu kelahiran dan kematian. Faktor lainnya ialah perpindahan penduduk dari satu daerah kedaerah lainnya. Apabila jumlah penduduk terus meningkat, maka akan berpengaruh terhadap ketersediaan bahan makanan dan tempat tinggal (Rina dan Rika 2012).
Kepadatan penduduk di Indonesia ditandai oleh beberapa karateristik menurut Supardi (1994) : a. Laju pertumbuhan penduduk yang besar dan cepat  b. Penyebaran penduduk yang tidak merata c. Komposisi penduduk menurut umur d. Arus urbanisasi yang tinggi Seiring berjalannya waktu dengan jumlah penduduk yang terus bertambah setiap tahunnya, maka sudah pasti akan terjadi pengalihan fungsi lahan menjadi sektor baru. Hal ini terjadi karena proyek pembangunan atau pembukaan lahan baru tidak sebanding dengan pertambahan penggunaan lahan terhadap pertanian (Nyoman dkk 2017). Selain itu, pembukaan lahan baru untuk pertanian tidak bisa dilakukan secara serampangan karena ada aturan main dan aturan ilmiahnya. Sementara pertambahan penduduk belum ada aturan tertentu yang dapat mengatasinya kecuali program keluarga berencana. (Moehar 2002) Produksi pertanian yang terus menurun adalah disebabkan berkurangnya lahan pertaniaan akibat tingginya alih fungsi lahan pertanian yang digunakan untuk lahan pemukiman, insfrastruktur, industri, tanpa memerhatikan kondisi lingkungannya (Putra et al 2016). Masalah tekanan penduduk terhadap lahan pertanian ini bisa berdampak kepada lingkungan itu sendiri. Tekanan penduduk juga bisa berakibat terhadap kebutuhan pangan yang semakin tidak terpenuhi. Moehar (2002) menyatakan bahwa kebutuhan manusia terhadap pangan (makanan) tidak akan bisa ditahan. Sampai saat ini masalah tersebut harus diatasi oleh sektor pertanian. Bertambahnya penduduk secara otomatis akan menghilangkan lahan pertanian yang merupakan sumber dari kebutuhan pangan manusia. Peningkatan penduduk juga pasti akan meningkatkan kebutuhan pangan yang diperlukan. 10 Adanya alih fungsi lahan secara nyata dapat mengurangi luas lahan untuk sektor pertanian yang dapat ditanami berbagai komoditas pertanian terutama padi. Apabila hal ini terus diabaikan dan tidak ada penanganan lebih lanjut, maka akibatnya akan mengancam ketahanan pangan nasional yang sangat berbahaya. Implikasinya, alih fungsi lahan sawah yang tidak terkendali dapat mengancam kapasitas penyediaan pangan, dan bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian sosial. (Syarif 2008) Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tercatat bahwa alih fungsi lahan pertanian untuk kepentingan lainnya selama tahun 2002-2010 mencapai rata-rata 56.000-60.000 ha per tahun. Isu konversi ini tentu saja merupakan keadaan yang harus diwaspadai, karena konversi lahan pertanian berarti berkurangnya luas areal pertanian, yang berarti pula produksi pertanian akan menurun. (Kementrian Keuangan RI 2014)

Penggunaan Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Holmes dan Nicholls (1989) menyatakan bahwa indikator variabel penggunaan informasi akuntansi terdiri atas:
1. Statutory Accounting Information (Informasi statutori)
Informasi statutori merupakan informasi akuntansi yang terdiri dari buku kas masuk, buku kas keluar, buku hutang, buku piutang, buku inventaris, buku persediaan, buku penjualan, dan buku pembelian.
2. Budgetary Information (Informasi anggaran)
Informasi anggaran merupakan informasi akuntansi yang terdiri dari anggaran arus kas, anggaran penjualan, anggaran biaya produksi, anggaran biaya operasi.
3. Additional Accounting Information (Informasi tambahan)
Informasi tambahan merupakan informasi akuntansi yang terdiri dari laporan persediaan, laporan gaji karyawan, laporan jumlah produksi dan laporan biaya produksi.

Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio) (skripsi dan tesis)

            Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Menurut Brigham dan Huston (2010) rasio leverage mengukur sejauh mana prusahaan menggunakan pendanaan melalui utang. Menurut Darsono (2005:54) trdapat beberapa alat ukur yang digunakan dalam rasio leverage adalah sebagai berikut :

1)   Debt to Asset Ratio (DAR)

              Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang dengan jalan menunjukkan presentase aktiva yang didukung oleh hutang. Rasio ini juga menyediakan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam mengadaptasi kondisi pengurangan aktiva akibat kerugian tanpa mengurangi pembayaran bunga kepada kreditor. Nilai rasio yang tinggi menunjukkan peningkatan dari resiko pada kreditor. Menurut Darsono (2005:54) debt to asset ratio dapat dihitung dengan rumus :

Debt to Asset Ratio (DAR) =

2)   Debt to Equity Ratio (DER)

              Debt to equity ratio memberikan jaminan tentang seberapa besar hutang perusahaan dijamin oleh modal sendiri. Semakin tinggi rasio menunjukkan semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh para pemegang saham. Menurut Darsono (2005:54)  debt to equity ratio dapat dihitung dengan rumus :

Debt to Equity Ratio (DER) =

Teori Perubahan Penggunaan Lahan (skripsi dan tesis)

Perubahan guna lahan secara umum artinya adalah menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumber daya lahan dari satu penggunaan ke penggunaan lainnya. Namun dalam kajian land economics, pengertiannya difokuskan pada proses dialihgunakannya lahan dari lahan pertanian atau perdesaan ke penggunaan non pertanian atau perkotaan. Ada empat proses utama yang menyebabkan terjadinya perubahan guna lahan yaitu (Bourne, dalam Suberlian, 2003:42):

1. Perluasan batas kota

2. Peremajaan di pusat kota

4. Tumbuh dan hilangnya pemusatan aktivitas tertentu.

Menurut (Sujarto, dalam Suberlian, 2003 : 36) faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan guna lahan di perkotaan adalah :

1. Topografi

Topografi merupakan faktor pembatas bagi perkembangan suatu kawasan karena topografi tidak dapat berubah kecuali dalam keadaan yang labil. Meskipun demikian usaha yang dilakukan manusia untuk mengubah topografi atau mengatasi keadaan ketinggian, kelerengan tanah; misalnya menggali bukit, menguruk tanah reklamasi laut/rawa.

2. Penduduk

Perkembangan penduduk menyebabkan kebutuhan lahan untuk permukiman meningkat sebagai akibat langsung dari pemenuhan kebutuhan permukiman. Peningkatan kebutuhan lahan untuk permukiman sudah tentu diikuti oleh tuntutan kebutuhan lahan untuk sarana dan prasarana serta fasilitas yang lain.

3. Nilai lahan

Dilihat dari faktor-faktor penyebabnya, pada umumnya proses perubahan penggunaan lahan kota-kota di Indonesia dipengaruhi faktor penentu dari segi ekonomi (economic determinants). Dalam perspektif ekonomi, penggunaan sebidang lahan perkotaan ditentukan pasar lahan perkotaan (the urban land market). Ini berarti bahwa lahan merupakan komoditi yang diperdagangkan sehingga penggunaannya ditentukan oleh tingkat demand dan supply. Sesuai dengan teori keseimbangan klasik harga lahan menjadi fungsi biaya yang menjadikan lahan produktif dan fungsi pendapatan dari pengembangan suatu lahan. Secara rasional penggunaan lahan oleh masyarakat biasanya ditentukan berdasarkan pedapatan atau produktifitas yang bisa dicapai oleh lahan, sehingga muncul konsep highest and best use, artinya adalah penggunaan lahan terbaik adalah penggunaan yang dapat memberikan pendapatan tertinggi. Jadi faktor ekonomi menjadi pegangan dalam pengambilan keputusan untuk mengembangkan sebidang lahan.

4. Aksesibilitas

Dalam struktur ruang kota, terdapat beberapa faktor yang terkait dengan nilai ekonomi lahan. Aksesibilitas (accesibility) suatu lahan dan faktor saling melengkapi (complementarity) antar penggunaan lahan akan menentukan nilai ekonomi suatu lahan. Suatu lahan dengan jangkauan transportasi yang baik mempunyai nilai ekonomi yang relatif lebih baik, karena akan mengurangi biaya perjalanan (traveling cost) dan waktu tempuh. Sebagaimana dikemukakan (Wingo, dalam Suberlian, 2003 : 36) bahwa harga lahan merupakan fungsi dari biaya transportasi. Sementara faktor complementarity akan menarik kegiatan-kegiatan yang saling melengkapi/terkait untuk berlokasi saling berdekatan sehingga saling memberikan keuntungan.

5. Prasarana dan sarana

Kelengkapan sarana dan prasarana, sangat berpengaruh dalam menarik penduduk untuk bermukim disekitarnya, sehingga dapat menarik pergerakan penduduk untuk menuju ke daerah tersebut.

6. Daya Dukung Lingkungan

Kemampuan daya dukung lahan dalam mendukung bangunan yang ada diatasnya, menentukan kawasan terbangun, lahan pertanian, dan harus dipelihara serta dilindungi.

Fasilitas (skripsi dan tesis)

Wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata juga membutuhkan adanya fasilitas yang menunjang perjalanan tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan perjalanan tersebut, perlu disediakan bermacam-macam fasilitas, mulai dari pemenuhan kebutuhan sejak berangkat dari tempat tinggal wisatawan, selama berada di destinasi pariwisata dan kembali ke tempat semula (Isdarmanto, 2017). Fasilitas wisata adalah sarana dan prasarana yang memudahkan dalam kegiatan beratraksi yang telah disediakan oleh kawasan wisata tersebut (Suchaina, 2014). Menurut Suwantoro (2004), sarana wisata merupakan kelengkapan  daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan  dalam menikmati perjalanan wisatanya seperti : hotel, biro perjalanan, alat  transportasi, restoran dan rumah makan. Menurut Tjiptono (2004), fasilitas adalah sumber daya fisik yang harus ada sebelum jasa ditawarkan kepada konsumen. Fasilitas merupakan sesuatu yang sangat penting dalam dalam usaha jasa, oleh karena itu fasilitas yang ada yaitu kondisi fasilitas, kelengkapan  desain interior dan eksterior serta kebersihan fasilitas harus dipertimbangkan terutama yang berkaitan erat dengan apa yang dirasakan konsumen secara langsung.

Menurut Sumayang (2003), menjelaskan bahwa fasilitas adalah penyediaan perlengkapan fisik yang memberikan kemudahan kepada konsumen untuk melakukan aktivitasnya sehingga kebutuhan konsumen dapat terpenuhi. Sumayang (2003) menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan fasilitas antara lain. Pertama kelengkapan, kebersihan, dan kerapian fasilitas yang ditawarkan adalah keadaan fasilitas perusahaan yang dilengkapi oleh atribut yang menyertainya dan didukung dengan kebersihan dan kerapian saat konsumen menggunakan fasilitas tersebut. Kelengkapan alat yang digunakan adalah alat yang digunakan oleh konsumen sesuai dengan spesifikasinya. Kedua kondisi dan fungsi fasilitas yang akan ditawarkan adalah fasilitas yang berfungsi dengan baik dan tidak mengalami kerusakan. Ketiga kemudahan menggunakan fasilitas yang ditawarkan adalah fasilitas yang ditawarkan kepada konsumen adalah fasilitas yang sudah familier bagi konsumen sehingga konsumen dapat menggunakannya dengan mudah. Sugiono (2004) dalam Irwan (2017) berpendapat fasilitas (amenities) yang ada di sebuah ojek wisata seperti fasilitas umum (warung makan, MCK), dan fasilitas pendukung (tempat ibadah, listrik, dan tempat parkir). Menurut Wardhani (2008) Amenitas merupakan fasilitas lain yang menunjang perjalanan wisata seperti telepon, penukaran uang, toko souvenir, dan lain-lain. Tersedianya fasilitas-fasilitas yang diperlukan oleh wisatawan seperti : bank, money changer, ATM, rumah makan, toilet yang memadai, kantor pos, toko cinderamata, pasar, jaringan internet, bangku taman dan lain-lain.

Kriteria standar kelayakan fasilitas pariwisata di suatu daerah tujuan wisata menurut Lothar A. Kreck dalam Yoeti (1996) adalah adanya pelayanan penginapan, agen perjalanan, pusat informasi, fasilitas kesehatan, pemadam kebakaran, hydrant, TIC (Tourism Information Center), pemandu wisata, plang informasi, petugas yang memeriksa masuk dan keluarnya wisatawan, restoran/rumah makan, tempat pembelajaan, internet akses, sinya telepon, bank/ATM, fasilitas keamanan (rambu-rambu peringatan), tempat sampah, sarana ibadah, dan tempat parkir.

Promosi (promotion) (skripsi dan tesis)

Promosi adalah semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada pasar sasaran, sedangkan menurut Swastha dan Sukotjo (2002:237) Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan untuk menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Promosi digunakan oleh perusahaan untuk berkomunikasi dengan konsumen yang bersifat memberitahu, membujuk dan meningkatkan konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Dengan adanya kegiatan promosi diharapkan dapat menimbulkan tindak lanjut menuju terjadinya proses transaksi.  Cara-cara promosi :
 1. Periklanan Periklanan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang bagi suatu produk, disisi lain mempercepat penjualan.
 2. Promosi penjualan Alat promosi penjualan seperti: kupon, harga premi, brosur, pamflet, majalah, garansi, potongan harga, dan sejenisnya sangat beragam. Perusahaan menggunakan alat-alat promosi penjualan itu untuk menciptakan tanggapan yang lebih kuat dan lebih cepat.
3. Hubungan masyarakat dan publisitas
Daya tarik hubungan masyarakat dan publisitas didasarkan pada tiga sifat khusus: 1. Kredibilitas yang tinggi 2. Kemampuan menangkap pembeli yang tidak dibidik sebelumnya 3. Dramatisasi 4. Penjualan personal Penjualan personal adalah alat yang paling efektif biaya pada tahap proses pembelian lebih lanjut, terutama dalam membangun preferensi, keyakinan, dan tindakan pembelian. 5. Pemasaran langsung Pemasaran langsung adalah penggunaan saluran-saluran langsungkonsumen untuk menjangkau dan menyerahkan barang dan jasa kepada pelanggan tanpa menggunakan perantara pemasaran. Saluran-saluran ini mencakup surat langsung, katalog, telemarketing, tv interaktif, kios, situs internet, dan peralatan bergerak. Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa promosi merupakan arus komunikasi antar produsen dan konsumen, dengan demikian setiap perusahaan yang ingin meningkatkan volume penjualan dan pendapatan laba yang lebih besar harus melaksanakan promosi. Namun perlu mempertimbangkan kemampuan perusahaan tersebut dan memilih jenis promosi yang tepat, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

Niat Whistleblowing (skripsi dan tesis)

Terkait dengan usaha penerapan Good Corporate Governance (GCG) dan termasuk pemberantasan korupsi, suap, dan praktik kecurangan lainnya, penelitian dari berbagai institusi, seperti Organization for Economic Co-operation andDevelopment (OECD), Association of Certified Fraud Examiner (ACFE) dan Global Economic Crime Survey (GECS) menyimpulkan bahwa salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah dan memberantas praktik yang bertentangan  dengan good corporate governance adalah melalui mekanisme pelaporan pelanggaran (whistleblowing system) (KNKG, 2008). Hanif dan Odiatma (2017) menyatakan Niat (intention) adalah keinginan kuat untuk melakukan sesuatu yang berasal dari dalam diri. Niat akan mempengaruhi perilaku karena sebelum melakukan perilaku, niat harus muncul terlebih dahulu untuk mendorong individu melakukan perilaku. Whistleblowing adalah tindakan seorang pekerja yang memutuskan untuk melapor kepada media maupun Taylor dan Curtis (2010) whistleblowing adalah pengungkapan oleh anggota organisasi (yang masih aktif sebagai anggota ataupun yang sudah tidak menjadi anggota organisasi) atas suatu praktik-praktik ilegal, tidak bermoral, atau tanpa legitimasi dibawah kendali pimpinan kepada individu atau organisasi yang dapat menimbulkan efek tindakan perbaikan.

 Whistleblowing terbagi menjadi dua jenis, yaitu Whistleblowing internal dan Whistleblowing eksternal. Whistleblowing internal terjadi ketika individu atau beberapa orang karyawan mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh karyawan lain atau kepala bagiannya, kemudian melaporkan kecurangan itu kepada pimpinan perusahaan yang lebih tinggi. Sedangkan whistleblowing eksternal menyangkut kasus dimana seorang pekerja mengetahui kecurangan yang dilakukan perusahaannya lalu membocorkan kepada masyarakat karena dia tahu bahwa kecurangan itu akan merugikan masyarakat (Naomi, 2015). Whistleblower dibagi lagi menjadi dua kategori, yakni whistleblower di sektor swasta dan whistleblower di sektor pemerintahan. ditinjau dari tempatnya 16 16 bekerja, umumnya whistleblower bisa berasal dari perusahaan swasta maupun dari instansi pemerintah (Semendawai, 2011). Whistleblowing merupakan sebuah proses kompleks yang melibatkan faktor pribadi dan organisasi. Tindakan whistleblowing tentunya memiliki risiko. Respon atasan untuk menanggapi atau mengabaikan aduan pelanggaran sangat berpengaruh terhadap niat dan kecenderungan pegawai lain untuk melakukan whistleblowing, resiko yang diterima para whistleblower dapat berupa teguran, rujukan ke psikiater, isolasi sosial, pemfitnahan, pengancaman, pengucilan serta tekanan mengundurkan diri, dan sebagainya (Elias, 2008).
Dasgupta dan Kesharwani (2010) menyatakan bahwa secara umum ada tiga penyebab seseorang melakukan whistleblowing, antara lain: 1. Perspektif altrustik seorang whistleblower. Altrustik mengacu kepada sikap seseorang yang sangat mengutamakan kepentingan orang lain atau tidak mementingkan diri sendiri. Alasan altrustik whistleblowing adalah keinginan untuk memperbaiki kesalahan yang merugikan kepentingan organisasi, konsumen, rekan kerja, dan masyarakat luas. 2. Perspektif motivasi dan psikologi. Motivasi whistleblower mendapat manfaat atas tindakannya dapat menyebabkan seseorang melakukan whistleblowing. Sebagai contoh Amerika Serikat memberikan insentif keuangan untuk orang melaporkan pelanggaran. Whistleblower dapat diukur oleh motif pribadi lainnya seperti balas dendam terhadap organisasi dan dipekerjakan kembali. 3. Harapan penghargaan. Organisasi kadang menawarkan hadiah bila mengungkap tindakan pencurian oleh seorang karyawan. Contoh Undang-undang AS memungkinkan whistleblower memperoleh penghargaan pemerintah 30% dari total uang yang dipulihkan.
 De George (1986) dalam penelitian yang dilakukan oleh Sari (2014) bahwa terdapat tiga kriteria atas whistleblowing yang adil, antara lain: 1. Organisai yang dapat menyebabkan bahaya kepada para pekerjanya atau kepada kepentingan publik yang luas, 2. Kesalahan harus dilaporkan pertama kali kepada pihak internal yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi, dan 3. Apabila penyimpangan telah dilaporkan kepada pihak internal yang berwenang namun tidak mendapatkan hasil, dan bahkan penyimpangan terus berjalan, maka pelaporan penyimpangan kepada pihak eksternal dapat disebut sebagai tindakan kewarganegaraan yang baik. Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dalam bukunya yang berjudul “Sistem Pelaporan Pelanggaran-SPP (Whistleblowing system-WBS)” menambahkan beberapa manfaat dari penerapan whistleblowing system selain dari yang telah di jelaskan diatas, yaitu: a. Tersedianya kesempatan untuk menangani masalah pelanggaran secara internal terlebih dahulu, sebelum meluas menjadi masalah pelanggaran yang bersifat publik, dan 18  b. Memberikan masukan kepada organisasi untuk melihat lebih jauh area kritikal dan proses kerja yang memiliki kelemahan pengendalian internal, serta untuk merancang tindakan perbaikan yang diperlukan

Definisi Accounting Information System (skripsi dan tesis)

 Informasi akuntansi merupakan bagian yang terpenting dari seluruh informasi yang diperlukan oleh manajemen terutama yang berhubungan dengan data keuangan perusahaan. Agar data keuangan dapat dimanfaatkan baik oleh pihak manajemen maupun pihak luar perusahaan, maka diperlukan suatu sistem yang mengatur arus dan pengolahan data akuntansi dalam perusahaan. 20 Mengingat pentingnya informasi tersebut, maka informasi akuntansi harus disajikan dalam bentuk yang sesuai sehingga informasi tersebut mudah dimengerti dan tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi pihak manajemen perusahaan maupun pihak luar perusahaan untuk itu diperlukan suatu sistem yang mengatur arus dan pengolahan data akuntansi yang mengacu pada prinsip akuntansi yang berlaku. Sistem yang mengatur arus dan pengolahan data ini umumnya disebut Accounting Information System (sistem informasi akuntansi).Berikut ini adalah beberapa definisi Accounting Information System (sistem informasi akuntansi) menurut beberapa ahli.
Menurut George H. Bodnar (2014:1) “An Accounting Information System (AIS) is a collection of resources, such as people and equipment, designed to transform financial and other data into information.” Dari definisi di atas, maka dijelaskan bahwa Accounting Information System adalah kumpulan sumber daya, seperti orang dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya menjadi informasi. Menurut Romney dan Steinbart yang dialihbahasakan oleh Kikin Sakinah Nur Safira dan Novita Puspasari (2015:10). “Sistem informasi akuntansi adalah sistem yang digunakan untuk mengumpulkan, mencatat, menyimpan dan mengolah data untuk menghasilkan suatu informasi untuk pengambilan keputusan. Sistem ini meliputi orang, prosedur dan instruksi data perangkat lunak, infrastruktur teknologi informasi serta pengendalian internal dan ukuran keamanan”.
 Menurut Zaki Baridwan (2015:3) ”Sistem Informasi Akuntansi adalah suatu komponen organisasi yang mengumpulkan, mengklasifikasikan, mengolah, menganalisa, dan mengkomunikasikan informasi finansial dan pengambilan keputusan yang relevan kepada pihak di luar perusahaan.” Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa accounting information system merupakan suatu proses mengubah data transaksi bisnis menjadi informasi keuangan sehingga menghasilkan informasi yang berguna dalam membuat keputusan untuk berbagai kelompok pembuat keputusan internal dan eksternal dalam organisasi.

Tingkatan Strategi (skripsi dan tesis)

Terdapat 3 tingkatan strategi dalam organisasi, yaitu diantaranya adalah sebagai berikut (Wheelen & Hunger, 2012) : 1) Strategi Tingkat Perusahaan (Corporate Strategy) Dalam corporate strategy secara umum melibatkan tujuan jangka panjang yang memiliki hubungan dengan organisasi dan investasi secara langsung. Penetapannya ditetapkan oleh pemimpin tertinggi 17 dalam suatu perusahaan dan berfokus pada bisnis apa yang akan dilakukan dan bagaimana pengalokasian sumber daya perusahaan tersebut. 2) Strategi Tingkat Bisnis (Business Strategy) Penetapannya ditentukan oleh masing-masing unit bisnis strategi. Dalam strategi bisnis, formulasi dilakukan oleh manajer tingkat bisnis melalui negosiasi dengan manajer korporasi dan berfokus pada melakukan berbagai macam cara untuk dapat bersaing diantar pesaing sesama produk yang ada. Setiap strategi bisnis yang dikeluarkan harus diperoleh dan didukung oleh strategi korporasi. 3) Strategi Tingkat Fungsional (Functional Strategy) Lingkungan lebih sempit lagi dibandingkan strategi korporasi dan strategi bisnis, dikarenakan berhubungan dengan fungsi bisnis, seperti fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi keuangan, fungsi sumber daya manusia serta fungsi riset dan pengembangan (R&D). Strategi fungsional harus menuju kepada strategi bisnis dan yang paling utama dalam tingkatan strategi ini adalah tergantung pada hasil jawaban bagaimana cara menerapkannya

Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Inovatif (skripsi dan tesis)

Riyanti (2003) mengemukakan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku inovatif, yaitu :

a. Entrepreneurial traits.

Entrepreneurial traits yaitu sifat-sifat yang dimiliki wirausaha. Sukardi (1991) menyatakan ada sembilan sifat utama yang merupakan karakteristikkarakteristik dari wirausaha, yaitu instrumental, prestatif, fleksibel dalam berteman, bekerja keras, percaya diri, berani mengambil resiko, kontrol diri, inovatif, dan autonomous. Penelitian Sukardi menemukan bahwa terdapat hubungan antara sembilan trait wirausaha Indonesia dengan sifat inovatif dan keberhasilan usaha.

b. Entrepreneurial personality.

Entrepreneurial personality yaitu kepribadian wirausaha, yang terdiri dari : (1) personal achiever, (2) super salesperson, (3) real manager, dan (4) expert idea generator (Miner, 1996). Riyanti (2003) menyebutkan bahwa tipe kepribadian  personal achiever merupakan tipe kepribadian Miner yang paling menonjol dalam perilaku inovatif.

C. Adversity personality

Adversity intelligence merupakan Perilaku seseorang dalam menghadapi hambatan atau rintangan dalam hidup (Stoltz, 2000). Empat komponen adversity intelligence yaitu control, owner ship and originality, reach dan endurance. Adversity intelligence dapat memprediksi ketahanan seseorang dalam menghadapi hambatan dan rintangan.

Sementara Etikariena & Muluk (2014) mengemukakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku inovatif, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor tersebut adalah:

a. Faktor Internal terdiri dari:

1. Tipe Kepribadian Menurut Janssen, Van den Ven dan West adalah orang yang memiliki tipe kepribadian adalah orang yang mampu dan berani mengambil resiko terhadap perilaku inovatif yang di buat. 2. Gaya Individu Dalam memecahkan masalah Karyawan yang memiliki gaya pemecahan masalah yang intuitif dapat menghasilkan ide-ide sehingga menghasilkan solusi yang baru. Berdasarkan pandangan ahli tersebut peneliti melihat bahwa factor internal yaitu faktor yang timbul didalam diri, kepribadian, individu sehingga memimbulkan ide dan gagasan untuk digunakan dalam memecahkan masalah terhadap apa yang dihadapinya.

b. Faktor Eksternal terdiri dari: 1. Kepemimpinan Banyak bawahan yang kurang dapat menjaga hubungannya dengan pemimpinnya, dan hal tersebut dapat membuat perilaku inovatif sesorang tidak terlihat, namun karyawan yang memiliki hubungan yang positif dengan pemimpinnya, cenderung memunculkan perilaku inovatif pada karyawan. Harapan yang tinggi dari pemimpin agar karyawannya menjadi inovatif juga dapat mempengaruhi munculnya perilaku inovatif pada karyawan (Scott & Bruce, dalam Fajrianthi 2012). 2. Dukungan untuk berInovatif. Dukungan dari orang-orang disekitar individu sangat membantu bagi karyawan tersebut dalam menciptakan suatu perilaku inovatif, bukan hanya itu dukungan dari orang dalam organisasi tersebut juga bisa memunculkan perilaku inovatif bagi karyawan tersebut (Scott & Bruce, dalam Fajrianthi 2012). 1. Tuntutan dalam pekerjaan. Tuntutan dari perusahaan cenderung meningkatkan semangat para karyawannya untuk berperilaku inovatif. Tuntutan tersebut menjadi dorongan bagi karyawan tersebut (Koesmono, 2007). Salah satu hal yang muncul akibat adanya tingkat tuntutan pekerjaan yang tinggi tersebut adalah perilaku inovatif (Shalley & Gilson dalam Etikariena & Muluk, 2014).

 

Dampak gagal penyesuaian diri (skripsi dan tesis)

Kegagalan tidak pernah hilang dalam kehidupan, segala sesuatu yang sudah direncanakan secara baik dan tersusun bisa gagal kapan saja. Meskipun dengan usaha yang begitu kuat dan semaksimal mungkin pasti pernah terjadi sebuah kegagalan. Begitu dengan penyesuaian diri, individu pasti akan merasakan kegagalan dalam melakukan sebuah penyesuaian diri pada sebuah tempat baru yang dihadapinya. Dalam kegagalan penyesuaian diri, terdapat beberapa dampak yang dihasilkan dari kegagalan itu. Suryawan (2012) mengatakan dampak lain dari kegagalan penyesuaian diri yaitu gangguan mental organik dan gangguan mental fungsional yang disebabkan salah belajar dan gagal mendapatkan pola yang memadai untuk menyesuaiakan diri dengan tekanan kehidupan lingkungan sekitar, yaitu:

a. Psikosis

Dampak yang dihasilkan berupa gangguan afektif (depresi), schizophrenia, dan paranoia (curiga).

b. Neurotic

Dampak yang dihasilkan berupa kecemasan, disosiasi, reaksi konversi, phobia, dan obsesif kompulsif.

c. Gangguan kepribadian

Ahmadi dkk (2008) mengatakan terdapat beberapa dampak yang ditimbulkan apabila seseorang tidak mampu atau gagal dalam melakukan penyesuaian diri pada lingkungan sekitar, diantaranya sebagai berikut:

a. Kesulitan bergaul

Hal ini membuat individu mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain atau orang baru yang ada di lingkungan sekitar

. b. Minder

Tidak ada keberanian dalam diri individu, takut salah jika berkomunikasi dengan orang lain yang ada di lingkungan sekitar.

c. Tertutup

Ketika individu sudah menjadi minder, maka individu akan menutup dirinya dari lingkungan sekitar. d. Dikucilkan

Ketika individu sudah minder dan tertutup, maka tidak akan bergaul dengan orang yang ada di lingkungan sekitar. Sehingga masyarakat akan menganggap individu tersebut menyimpang dari yang seharusnya ada dalam masyarakat tersebut dimana individu itu tinggal sekarang. Berdasarkan penjelasan dampak dari kegagalan dalam penyesuaian diri di atas, dapat disimpulkan bahwa dampak dari gagal penyesuaian diri yaitu dari segi psikosis yang membuat individu tersebut mengalami stres dan depresi, segi neurotic yang membuat individu tersebut merasa cemas dan takut dalam berinteraksi sehingga menjadi sulit dalam bergaul, dikucilkan dari lingkungan sekitar dan tidak mampu dalam mencapai kebahagiaan yang diinginkan, serta mengalami gangguan kepribadian.

PENGARUH PERPUTARAN MODAL KERJA TERHADAP LIKUIDITAS PERUSAHAAN (skripsi dan tesis)

Nurhafni (2009) meneliti pengaruh modal kerja dan perputaran modal kerja terhadap return on equity (ROE) perusahaan consumer goods industry di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 36 perusahaan. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan pendekatan purposive sampling 14 method. Metode analisis data menggunakan uji regresi berganda setelah terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik sebelum melakukan pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t, uji F dan uji koefisien determinasi yang disesuaikan. Hasil penelitian berdasarkan uji hipotesis menunjukan bahwa secara simultan terdapat pengaruh modal kerja dan perputaran modal kerja terhadap return on equity (ROE) perusahaan consumer goods industry di Bursa Efek Indonesia. Hasil koefisien determinasi yang disesuaikan tersebut menunjukkan sebesar 25,6% variasi variabel modal kerja dan perputaran modal kerja perusahaan consumer goods industry di Bursa Efek Indonesia memiliki kekuatan dalam mengestimasi return on equity (ROE) sedangkan sisanya 74,4% dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel modal kerja dan perputaran modal kerja.

Akhmad Fanny Farhan (2005) meneliti pengaruh perputaran modal kerja terhadap tingkat likuiditas studi survei pada perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Objek dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan telekomunikasi yang telah terdaftar di Bursa Efek Jakarta kurun waktu 2002 – 2004. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan survei dan teknik pengumpulan data dengan metode pengumpulan data historis. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat likuiditas perusahaan yang diukur menggunakan rasio lancar, rasio cepat dan rasio kas. Sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah perputaran modal kerja. Untuk pengujian hipotesis, uji statistik yang digunakan dalah uji korelasi product moment, uji koefisien determinasi dan uji signifikansi korelasi product moment. Dari penelitian 15 tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara perputaran modal kerja terhadap tingkat likuiditas perusahaan

Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) (skripsi dan tesis)

Peran auditor internal diwujudkan dengan dua jenis kegiatan, yaitu jasa asuransi (assurance) dan konsultansi (Consulting). Jasa assurance merupakan kegiatan penilaian bukti objektif oleh auditor internal untuk memberikan pendapat atau simpulan mengenai suatu entitas, operasi, fungsi, proses, sistem, atau permasalahan lainnya. Sifat dan ruang lingkup penugasan ditentukan oleh auditor. Sedangkan Jasa Consulting adalah jasa yang bersifat pemberian nasihat, yang pada umumnya diselenggarakan berdasarkan permintaan spesifik dari klien. Sifat dan ruang lingkup jasa konsultansi didasarkan atas kesepakatan dengan klien (International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing, 2012:26).

1) Memberikan keyakinan yang memadai

2) Memberikan nasihat kepada manajemen

Peran aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) di Indonesia merupakan bagian dari implementasi sistem pengendalian intern pemerintah, khususnya dalam rangka menciptakan dan memelihara lingkungan pengendalian yang positif dan kondusif. Oleh karena itu, APIP dalam mewujudkan perannya tidak hanya dengan memberikan jasa assurance dan consulting tetapi juga memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah (anti-corruption activities).

Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (2013:1) menyebutkan bahwa perwujudan peran APIP adalah sebagai berikut.

1. Memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah (assurance activities).

2. Memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah (anti-corruption activities).

3. Memberi masukan yang dapat memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah (consulting activities).

Faktor Penentu Nilai dan Harga Tanah (skripsi dan tesis)

 

 Menurut Dale dan Mc Laughlin (1988), faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tanah terbagi atas 2 (dua) yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain meliputi topografi dari tanah, sifat dasar dari tanah, serta desain dan kondisi dari bangunan. Adapun faktor-faktor yang disebabkan oleh pengaruh luar meliputi lingkungan dimana barang milik ditempatkan, tersedianya II-8 sarana transportasi serta berdirinya pusat – pusat kegiatan masyarakat yang baru seperti berdirinya pabrik, pusat-pusat perbelanjaan, terminal dan lain-lain. Hidayati dan Harjanto (2003) mengemukakan bahwa nilai properti, seperti halnya dengan barang lainnya ditentukan oleh sifat fisik yang ada pada properti itu sendiri dan beberapa faktor luar yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tanah secara garis besar dapat dibedakan menjadi faktor permintaan dan faktor penawaran. Faktor permintaan dan faktor penawaran sangat terkait dengan jumlah persediaan tanah dan kebutuhan tanah. Persediaan tanah atau penawaran atas tanah cenderung bersifat tetap (tidak bertambah) sedangkan jumlah permintaan atau kebutuhan atas tanah cenderung meningkat terus seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang terus meningkat. Bertambahnya jumlah penduduk merupakan faktor utama yang menyebabkan bertambahnya permintaan atas tanah, akan tetapi karena jumlah penawaran atas tanah cenderung tetap, sehingga menyebabkan harga tanah meningkat.
Menurut Kurdinanto, (Cholis 1995, dalam Luky 1997) nilai tanah terbentuk oleh faktor-faktor yang mempunyai hubungan, pengaruh serta daya tarik yang kuat terhadapnya yang diklasifikasikan menjadi dua faktor, yaitu :
1. Faktor-faktor terukur (tangible factors), faktor terukur adalah faktor pembentuk harga tanah yang bisa diolah secara ilmiah menggunakan logika-logika akademik. Faktor ini kemunculannya terencana dan bentuk fisiknya ada di lapangan, misalnya aksesibilitas (jarak dan transportasi) dan jaringan infrrastruktur (sarana dan prasarana kota seperti jalan, listrik, perkantoran dan perumahan).
2. Faktor-faktor tak terukur (intangible factors), faktor tak terukur adalah faktor pembentuk harga tanah yang muncul tiba-tiba (dengan sendirinya) dan tidak bisa dikendalikan di lapangan. Oleh Wilcox (1983), dalam Luky (1997), faktor tak terukur ini dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Faktor adat kebiasaan (custom) dan pengaruh kelembagaan (institutional factors).
b. Faktor estetika, kenikmatan dan kesenangan (esthetic amenity factors) seperti tipe tetangga dan kesenangan.
 c. Faktor spekulasi (speculation motives), seperti antisipasi perubahan penggunaan lahan, pertimbangan pada perubahan moneter.
 Selain itu dengan menyadari bahwa harga tanah menyebar mengikuti pola keruangan tertentu, maka penataan ruang memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam membentuk harga tanah. Penataan ruang yang tercermin dalam pola penggunaan tanahnya akan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan nilai tanah. Jika dicermati lebih jauh maka dapat diketahui bahwa pola harga tanah cenderung mengikuti pola keruangan penggunaan tanahnya. Fakta tersebut masih relevan dengan teori yang dikemukakan Von Thunen yang membuat model tentang sewa tanah dan jarak. Makin dekat jarak dari pusat kota, makin tinggi harga sewa tanah. Demikian pula sebaliknya, makin jauh jarak dari pusat kota, maka makin rendah harga sewa tanah. Pola keruangan penggunaan tanah juga telah dikemukakan oleh Walter Christaller (1933), seorang ahli geografi Jerman dalam Teori Tempat Central II-10 (Central Place Theory). Teori ini mengemukakan bahwa tempat sentral merupakan lokasi kegiatan yang melayani kebutuhan manusia (Nursid Sumaatmadja, 1981) Teori yang berhubungan dengan harga tanah baik secara langsung ataupun tidak langsung selalu berdasarkan pada “ruang”. Teori lokasi yang dikemukakan oleh model Von Thunen maupun model Christaller, keduanya melandasinya pada substansi “ruang”. Jadi karena harga atau nilai tanah merupakan suatu gejala ruang, maka faktor-faktor yang mempengaruhinya juga akan lebih banyak berkaitan dengan gejala ruang.
Dikemukakan juga ada 4 faktor yang mempengaruhi nilai tanah, yaitu :
 1. Faktor ekonomi
. Faktor ekonomi berkaitan dengan keadaan ekonomi global/internasional, nasional, regional maupun lokal. Variabel-variabel permintaan (demand) yang mempengaruhi nilai tanah termasuk di dalamnya ialah jumlah tenaga kerja, tingkat upah, tingkat pendapatan dan daya beli, tersedianya keuangan, tingkat suku bunga dan biaya transaksi.
 2. Faktor sosial.
Faktor sosial membentuk pola penggunaan tanah pada suatu wilayah. Kepadatan penduduk, tingkat pendidikan, tingkat kejahatan dan kebanggaan memiliki (daerah bergengsi) adalah faktor-faktor sosial yang mempengaruhi nilai tanah.
3. Faktor politik dan kebijakan pemerintah.
Kebijakan pemerintah di bidang hukum dan politik mempengaruhi nilai tanah. Beberapa contoh kebijakan yang dapat mempengaruhi biaya dan alokasi penggunaan tanah yang pada gilirannya akan meningkatkan harga tanah, antara lain: kebijakan pemilikan sertifikat tanah, peraturan penataan ruang dengan penentuan mintakat atau zoning, peraturan perpajakan, peraturan perijinan (SIPPT, IMB dan lain-lain) ataupun penentuan tempat pelayanan umum (sekolah, pasar, rumah sakit, dan lain-lain).
 4. Faktor fisik dan lingkungan.
Ada dua konsep yang harus dipahami dalam faktor fisik dan lingkungan, yaitu site dan situasi (situation). Pengertian tentang site adalah semua sifat atau karakter internal dari suatu persil atau daerah tertentu, termasuk di dalamnya adalah ukuran (size), bentuk, topografi dan semua keadaan fisik pada persil tanah. Sedangkan yang dimaksud dengan situasi (situation) ialah yang berkenaan dengan sifat-sifat eksternalnya. Situasi suatu tempat berkaitan erat dengan relasi tempat itu dengan tempat-tempat disekitarnya pada suatu ruang geografi yang sama. Termasuk dalam pengertian situasi adalah aksesibilitas (jarak ke pusat pertokoan (CBD), jarak ke sekolah, jarak ke rumah sakit, dan lain-lain), tersedianya sarana dan prasarana (utilitas kota) seperti jaringan transportasi, sambungan telepon, listrik, air minum dan sebagainya. Site mempengaruhi nilai tanah karena “sumberdaya”-nya, sedangkan situasi mempengaruhi nilai tanah karena kemudahan atau kedekatannya (aksesibilitas) dengan “sumberdaya” yang lain disekitarnya.

Pengaruh Book to Market Ratio Terhadap Return Aggresive Stock (skripsi dan tesis)

Book to market ratio ialah cerminan dari nilai perbandingan antara nilai buku saham dibagi dengan nilai pasar saham. Nilai buku menerangkan nilai perusahaan, yang juga di dalamnya tergambarkan nilai kekayaan bersih dibanding dengan jumlah saham yang beredar. Kekayaan bersih ekonomis perusahaan didapatkan dari perhitungan matematis yang menunjukkan selisih total aktiva dan total kewajiban. Fama dan French (1992) dalam penelitiannya dengan menggunakan three factor models menjelaskan bahwa ada dua faktor paling signifikan yang mempengaruhi return saham yaitu book to market ratio dan size perusahaan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa book to market ratio berkorelasi positif terhadap return saham. Di mana perusahaan akan dinilai semakin tinggi nilainya ketika perusahaan memiliki nilai book to market ratio yang kecil. Sejalan dengan hal ini, penelitian yang dilakukan oleh Rosyada (2010) dan Mona Al-Mwala (2012) menunjukkan hasil yang serupa, dimana dalam penelitian tersebut berhasil menunjukkan variabel book to market ratio memiliki hubungan yang positif dan signifikann terhadap return saham

Peran Teman Sebaya (skripsi dan tesis)

Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima kawan sebaya atau kelompok. Sebagai akibatnya, mereka akan merasa senang apabila diterima dan sebaliknya akan merasa sangat tertekan dan cemas apabila dikeluarkan dan diremehkan oleh kawan-kawan sebayanya. Bagi remaja, pandangan kawankawan terhadap dirinya merupakan hal yang paling penting. Menurut Santrock (2007) mengatakan bahwa peran terpenting dari teman sebaya adalah :
 a. Sebagai sumber informasi dan kognitif mengenai dunia di luar keluarga dan sumber untuk pemecahan masalah dan perolehan pengetahuan. Banyak tidaknya informasi atau pengetahuan yang diterima seseorang atau sekelompok orang mempengaruhi perubahan perilaku (Lubis,2011). Berdasarkan teori perkembangan Piaget, kemampuan kognitif remaja berada pada tahap formal operational. Remaja harus mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan masalah dan mempertanggung jawabkannya. Berkaitan dengan perkembangan kognitif, umumnya remaja menampilkan tingkah laku sebagai berikut:
1. Kritis
 Segala sesuatu harus rasional dan jelas, sehingga remaja cenderung mempertanyakan kembali aturan – aturan yang diterimanya.
2. Rasa ingin tahu yang kuat
Perkembangan intelektual pada remaja merangsang adanya kebutuhan/ kegelisahan akan sesuatu yang harus diketahui/ dipecahkan.
 3. Jalan pikiran egosentris
 Berkaitan dengan menentang pendapat yang berbeda. Cara berfikir kritis dan egosentris, menyebabkan remaja cenderung sulit menerima pola pikir yang berbeda dengan pola pikirnya
4. Imagery Audience
Remaja merasa selalu diperhatikan atau menjadi pusat perhatian orang lain menyebabkan remaja sangat terpengaruh oleh penampilan fisiknya dan dapat mempengaruhi konsep dirinya
5. Personal Fables
 Remaja merasa dirinya sangat unik dan berbeda dengan orang lain. (Kusmiran, 2012)
 b. Sumber emosional, untuk mengungkapkan ekspresi dan identitas diri.
 Perubahan perilaku manusia juga dapat timbul akibat dari kondisi emosi seseorang. James P. Chaplin (2007) mengatakan bahwa, konsep emosi sangat bervariasi. Emosi adalah reaksi kompleks yang berhubungan dengan kegiatan atau perubahan – perubahan secara mendalam dan hasil pengalaman dari rangsangan eksternal dan keadaan fisiologis. Dengan emosi, individu terangsang terhadap objek – objek atau perubahan – perubahan yang disadari sehingga memungkinkan dia merubah sifat ataupun perilaku (Lubis, 2011).

Ciri-Ciri Perkembangan (skripsi dan tesis)

Yusuf dan Sugandi, (2012: 3-4) ciri-ciri perkembangan adalah sebagai berikut:
1. aspek fisik: “perubahan tinggi dan terjadinya perubahan ukuran dalam
 (a) berat badan serta organ-organ tubuh lainnya”, dan
(b) “aspek psikis: semakin bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemampuan berpikir, mengingat, serta menggunakan imajinasi kreatif”
. 2. Tejadinya perubahan proporsi dalam
 (a) aspek fisik: “proporsi tubuh anak berubah sesuai denga fase pekembangan, dan pada usia remaja proporsi tubuh ank mendekati proporsi tubuh orang dewasa”
(b) aspek  psikis perubahan imajinasi dengan fantasi ke realita, dan perubahan perhaatiannya dari yang tertuju kepada dirinya sendiri perlahan-lahan beralih kepada orang lain(khususna teman sebaya).
3. Lenyapnya tanda-tanda lama dalam
 (a) aspek fisik: “lenyapnya kelenjar thymus (kenjar kanak-kanak) yang terletak pada bagian dada, rambut halus, dan gigi susu” dan
(b) aspek psikis: “lenyapnya masa mengoceh (meraban), bentuk gerak-gerik kanak-kanak (seperti merangkak) dan perilaku implusif (melakukan sesuatu sebelum berpikir)”. 4. Menculnya tanda-tanda baru dalam (a) aspek fisik: “tumbuh dan pergantian gigi dan matangnya organ-organ seksual pada usia remaja, baik primer (mensturasi pada wanita dan mimpi basah pada pria) maupun sekunder (membesarnya pinggul dan buah dada pada wanita, dan tumbuhnya kumis dan perubahan suara pada pria)” dan (b) aspek psikis: “perkembanga rasa ingin tahu, terutama yang berhubunga dengan ilmu pengetahuan, lingkungan alam, nilai-ilai moral dan agama”.
 Sutirna, (2013: 16) ciri-ciri perkembanga individu dapat di perhatika di bawah ini:
 1. Seumur hidup (life-long), artinya tidak ada periode usia yang mendominasi perkembanga idividu. 2. Multidimentional, artinya terdiri atas biologis, kognitif, dan sosial. Bahkan dalam satu dimensi terdapat banyak komponen, misalnya intelegensi: intelegensi abstrak,intelegensi nonverbal, intelegensi sosial, dsb.
 3. Multidirektional beberapa komponen dari suatu dimensi dapat meningkatkan pertumbuhan, sementara komponen lain menurun. Misalnya orang dewasa bisa semakin arif tetapi kecepatan memproses informasi lebih buruk.
 4. Lentur (plastik), bergantung pada kondisi kehidupan individu. Lebih rincihnya ciri-ciri perkembanngan dapat di perhatikan dari berbagai aspek dalam segi fisik dan psikis, seperti berikut ini:
1. Terjadinya perubahan,
(a) segi fisik: perubahan tinggi badan, berat badan, organ-organ tubuh lain.
(b) segi psikis: bertambahnya perbendaharaan kata-kata, matangnya kemampuan berpikir, mengingat, menggunakan imajinasi kreatif.
2. Perubahan proporsi,
 (a) segi fisik: proporsi tubuh berubah sesuai dengan fase perkembangan,
(b) segi psikis: perubahan imajinasi dan fantasi ke realitas, perhatiannya dari diri sendiri ke orang lain/ kelompok teman sebaya.
3. Lenyapnya tanda-tanda lama,
 (a) segi fisik: lenyapnya kelenjar thymus (kelenjar anak-anak) yang terletak pada bagian dada, kelenjar pineal yang ada pada bagian bawah otak, gigi susu, dan rambut-rambut halus.
 (b) segi psikis: masa mengoceh/meraba gerak-gerik kanak-kanak atau merangkak, perilaku impulsive (doronga untuk bertindak sebelum berpikir).
4. Diperoleh tanda-tanda baru,
(a) segi fisik: pergantian gigi, karakteristik seks pada usia remaja sekunder (perubahan anggota tubuh) dan primer (mensturasi pada wanita dan mimpi basah pada pria).
(b) segi psikis:  rasa ingin tahu terutama yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, seks, nilai moral, dan keyakinan beragama

Model DEA (skripsi dan tesis)

a. Model CCR (Charnes, Cooper, and Rhodes)
Menurut Casu & Molyneux (2003) dalam P. Prapanca (2012) model
ini digunakan jika berasumsi bahwan perbandingan terhadap input
maupun output suatu perusahaan tidak mempengaruhi produktivitas
yang mungkin dicapai, yaitu Constant Return to Scala (CRS). Model
ini terdiri dari fungsi tujuan yang berupa maksimisasi jumlah output
dari unit yang akan diukur produktivitas relatifnya dan selisih dari
jumlah output dan input dari semua unit yang akan diukur
produktivitas relatifnya. Sedangkan Purwanto & Ferdian (2006)
dalam F. Maharani (2012) menyatakan bahwa model ini relatif lebih
tepat digunakan dalam menganalisis kinerja pada perusahaan
manufaktur.
b. Model BCC (Banker, Charnes, and Cooper)
Model ini digunakan jika kita berasumsi bahwa perbandingan
terhadap input maupun output suatu perusahaan akan mempengaruhi
produktivitas yang mungkin dicapai, yaitu VRS (Variable Returns to
Scale). Pendekatan ini relatif lebih tepatdigunakan dalam
menganalisis efisiensi kinerja pada perusahaan jasa termasuk bank
Berdasarkan rumus diatas, wo adalah suatu nilai yang jika dikalikan
dengan input v, maka akanmenghasilkan nilai maksimum
pengurangan input untuk menghasilkan nilai output yang sama.
Sedangkan λj merupakan suatu variabel yang memfokuskan seberapa
besar kemungkinan untuk membuat suatu DMU baru (virtual DMU)
dari DMU yang sedang dihitung produktivitas relatifnya sebagai
kmbinasi dari DMU yang lainnya.
Dalam hal ini, selain menetapkan garis frontir efisien metode DEA
juga menetapkan suatu target sesuai dengan garis frontir efisien
(efficient frontier) untuk setiap DMU yang in efficient serta
menetapkan satu atau beberapa unit yang dapat digunakan sebagai
acuan untuk unit yangefficient yang dalam hal ini disebut sebagai
peer unit.

Kinerja manajerial (skripsi dan tesis)

Kinerja manajerial adalah gambaran seorang manajer mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program, kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. (Mardiasmo, 2006). Govindarajan dan Gupta (1985); Nouri dan Parker (dalam Supriyono 2004) menunjukkan bahwa kinerja manajer merupakan kemampuan manajer dalam melaksanakan tanggungjawabnya terhadap kualitas produk, pengembanan personel, pencapaian anggaran, pengurangan biaya (peningkatan pendapatan), dan urusan publik.

Corporate Governance (skripsi dan tesis)

OECD (2004:11) mendefinisikan corporate governance sebagai salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi, pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan investor. Yang menunjukkan sekumpulan hubungan antara pihak manajemen perusahaan, dewan perusahaan dan pemegang saham dan pihak lain yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan. Good corporate governance juga mensyaratkan adanya struktur, perangkat untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja. Prinsip dari corporate governance yaitu fairness (keadilan). transparency (transparansi), accountability (akuntabilias), responsibility (responsibilitas), dan indepedency (independen

Aspek-aspek Kecemasan (skripsi dan tesis)

Deffenbacher & Hazaleus (dalam Ghufron & Risnawita 2011: 143)

mengemukakan bahwa sumber penyebab kecemasan, meliputi hal-hal

dibawah ini sebagai berikut:

1. Kekhawatiran (worry) merupakan pikiran negatif tentang dirinya

sendiri, seperti perasaan negatif bahwa ia lebih jelek dibandingkan

dengan teman-temannya.

2. Emosionalitas (imosionality) sebagai reaksi diri terhadap rangsangan

saraf otonomi, seperti jantung berdebar-debar, keringan dingin, dan

tegang.

3. Gangguan dan hambatan dalam menyelesaikan tugas (task generated

interference) merupakan kecenderungan yang dialami seseorang yang

selalu tertekan karena pemikiran yang rasional terhadap tugas.

Shah (dalam Ghufron & Risnawita 2011: 144), membagi kecemasan

menjadi tiga komponen, yaitu diantaranya:

1. Komponen fisik meliputi pusing, sakit perut, tangan berkeringat, perut

mual, mulut kering, grogi, dan lain-lain.

2. Emosional yaitu perasaan panik dan takut.

3. Mental atau kognitif yaitu berupa gangguan perhatian dan memori,

kekahwatiran, ketidakteraturan dalam berpikir, dan bingung.

Menurut Trismiati (2004) Manifestasi kecemasan terwujud dari empat

hal, yaitu sebagai berikut:

1. Manifestasi kognitif

Yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan

tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi.

2. Perilaku motorik

Kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti

gemetar.

3. Perubahan somatik

Muncul dalam keadaan mulut kering, tangan dan kaki dingin, diare,

sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah, dan lainlain.

Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan detak jantung,

4. Afektif

Diwujudkan dalam perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang

berlebihan.

Pengertian Kepribadian (skripsi dan tesis)

Kepribadian memiliki banyak arti. Beberapa teori lebih condong untuk melihat kepribadian sebagai suatu kesatuan yang utuh sedangkan beberapa teori lainnya memfokuskan kepribadian dalam lingkup ciri-ciri yang khas. Kepribadian atau personality berasal dari kata persona yang berarti topeng, yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. Bagi bangsa Romawi persona berarti, “bagaimana seseorang tampak pada orang lain”, jadi bukan diri yang sebenarnya. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris person, atau persona dalam bahasa Latin yang berarti manusia sebagai perseorangan, diri manusia atau diri orang sendiri (Djaali, 2008). Kepribadian menurut Allport adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisik individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik dengan  lingkungannya.

Suatu fenomena dinamik yang memiliki elemen psikologik dan fisiologik, yang berkembang dan berubah, yang memainkan peran aktif dalam berfungsinya individu (Alwisol, 2004). Eysenck juga mendefinisikan kepribadian merupakan keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkah laku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir perilaku; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament) dan sektor somatik (constitution) (Alwisol, 2004).

Kemudian, pengertian kepribadian menurut Sigmund Freud adalah pertarungan antara id, ego, dan super ego. Id adalah bagian kepribadian manusia yang mengendalikan dorongan biologis, seprti dorongan sex dan sifat agresif, id bertindak atas prinsip kesenangan semata, sehingga seringkali disebut tabiat hewani manusia. Super ego adalah hati nurani yang bertindak atas prinsip moral. Super ego merupakan internalisasi dari norma sosial dan cultural masyarakatnya, id dan super ego seringkali bertentangan. Ego merupakan kepribadian yang menjembatani antarkeinginan id dan aturan yang ditentukan oleh super ego. Baik id, ego, dan super ego, ketiganya berada dalam alam bawah sadar manusia (Djaali, 2008). Kemudian pengertian yang sedikit berbeda diungkap oleh Jung bahwa kepribadian adalah mencakup keseluruhan fikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran dan ketidaksadaran (Alwisol, 2004). Berdasarkan pada beberapa definisi di atas, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa kepribadian adalah suatu ciri 19 individu yang membedakan antara satu individu dengan individu lainnya dalam membentuk tingkah laku.

Strategi Regulasi Emosi (skripsi dan tesis) Setiap individu memiliki cara dalam melakukan regulasi emosi. Menurut Gross (1998) ada dua strategi dalam melakukan regulasi emosi, yaitu: a. Antecedent-focused strategy Antecedent-focuesed strategy ialah strategi yang dilakukan seseorang saat emosi muncul dan terjadi sebelum seseorang memberi respon terhadap emosi. Antecedent-focused merupakan strategi dalam regulasi emosi dengan mengubah cara berpikir seseorang menjadi lebih positif dalam menafsirkan atau menginterpretasikan suatu peristiwa yang menimbulkan emosi. Oleh karena itu, strategi ini disebut juga dengan cognitive reappraisal. Antecedent-focused strategy dapat mempengaruhi pengaruh kuat dari emosi sehingga respon yang ditampilkan tidak berlebihan. b. Respon-focused strategy Respon-focused strategy ialah bentuk dari pengaturan respon dengan menghambat ekspresi emosi berlebihan yang meliputi ekspresi wajah, nada suara dan perilaku. Strategi ini disebut juga dengan expressive suppression. Respon-focused strategy hanya efektif untuk menghambat respon emosi yang berlebihan, namun tidak membantu mengurangi emosi yang dirasakan. Individu yang sering menggunakan respon-focused strategy membuat seseorang menjadi tidak jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain tentang apa yang mereka rasakan serta akan menimbulkan perasaan negatif, daripada individu yang menggunakan antecedent-focused strategy. Penelitian membuktikan bahwa antecedent-focused strategy lebih efektif sebagai strategi regulasi emosi daripada respon-focused strategy.

Setiap individu memiliki cara dalam melakukan regulasi emosi. Menurut Gross (1998) ada dua strategi dalam melakukan regulasi emosi, yaitu:

a. Antecedent-focused strategy

Antecedent-focuesed strategy ialah strategi yang dilakukan seseorang saat emosi muncul dan terjadi sebelum seseorang memberi respon terhadap emosi. Antecedent-focused merupakan strategi dalam regulasi emosi dengan mengubah cara berpikir seseorang menjadi lebih positif dalam menafsirkan atau menginterpretasikan suatu peristiwa yang menimbulkan emosi. Oleh karena itu, strategi ini disebut juga dengan cognitive reappraisal. Antecedent-focused strategy dapat mempengaruhi pengaruh kuat dari emosi sehingga respon yang ditampilkan tidak berlebihan.

b. Respon-focused strategy

Respon-focused strategy ialah bentuk dari pengaturan respon dengan menghambat ekspresi emosi berlebihan yang meliputi ekspresi wajah, nada suara dan perilaku. Strategi ini disebut juga dengan expressive suppression. Respon-focused strategy hanya efektif untuk menghambat respon emosi yang berlebihan, namun tidak membantu mengurangi emosi yang dirasakan. Individu yang sering menggunakan respon-focused strategy membuat seseorang menjadi tidak jujur dengan dirinya sendiri dan orang lain tentang apa yang mereka rasakan serta akan menimbulkan perasaan negatif, daripada individu yang menggunakan antecedent-focused strategy. Penelitian membuktikan bahwa antecedent-focused strategy lebih efektif sebagai strategi regulasi emosi daripada respon-focused strategy.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Hidup (skripsi dan tesis)

Menurut Hurlock (1980) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan hidup pada seorang individu antara lain:

a. Kesehatan

Kesehatan yang baik memungkinkan individu pada usia berapa pun dapat melakukan aktivitas. Sedangkan kesehatan yang buruk atau ketidak mampuan fisik dapat menjadi penghalang untuk mencapai kepuasan bagi keinginan dan kebutuhan individu (Hurlock, 1980).

b. Jenis pekerjaan

Menurut Hurlock (1980) semakin rutin sifat pekerjaan dan semakin sedikit kesempatan untuk otonomi dalam pekerjaan maka akan semakin kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat pada tugas sehari-hari yang diberikan kepada anak-anak dan juga pekerjaan orang-orang dewasa.

c. Status kerja

Baik di bidang pendidikan maupun pekerjaan, semakin berhasil seseorang melaksanakan tugas dan semakin hal tersebut dihubungkan dengan prestise maka akan semakin besar pula kepuasan yang ditimbulkan (Hurlock, 1980).

d. Kondisi kehidupan Jika pola kehidupan memungkinkan seseorang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain baik di dalam keluarga maupun dengan temanteman dan tetangga di dalam masyarakat, maka kondisi demikian akan memperbesar potensi kepuasan hidup (Hurlock, 1980).

e. Keseimbangan antara Harapan dan Pencapaian

Jika harapan-harapan itu realistis, orang akan puas dan bahagia apabila tujuannya tercapai. Pendapat lain meengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya kebahagiaan secara umum dan khususnya mempengaruhi kepuasan hidup pada seorang individu yaitu antara lain:

a. Kesehatan

Diener (1984) dalam Carr (2004) mengatakan bahwa hal yang berkaitan dengan kebahagiaan adalah penilaian subjektif individu mengenai kesehatannya dan bukan atas penilaian objektif yang didasarkan pada analisa medis. Kesehatan yang baik memungkinkan seseorang pada usia berapa pun dapat melakukan aktivitas. Sedangkan kesehatan yang buruk atau ketidakmampuan fisik dapat menjadi penghalang untuk mencapai kepuasan bagi keinginan dan kebutuhan individu, sehingga menimbulkan rasa tidak bahagia (Hurlock, 1999). Diener & Biswas-Diener (2008) juga mengatakan bahwa individu yang bahagia lebih jarang mengalami sakit daripada individu yang tidak bahagia. Hal ini dikarenakan kebahagiaan dapat menangkis infeksi penyakit, pertahanan melawan gaya hidup yang dapat menimbulkan penyakit dan melindungi dari penyakit jantung. Sementara itu, ketidakbahagiaan dan depresi dikatakan dapat membahayakan kesehatan individu.

Olahraga juga dikatakan mempunyai dampak jangka pendek dan jangka panjang terhadap kesehatan dan kebahagiaan individu. Hal ini dikemukakan oleh Argyle (2001) dalam Carr (2004) yang menyatakan bahwa dampak jangka pendek dari olahraga adalah dapat menimbulkan emosi positif yaitu dengan adanya pengeluaran endorphin di otak. Lebih lanjut, dampak jangka panjangnya adalah mengurangi depresi dan kecemasan, meningkatkan kecepatan dan ketepatan kerja, memperbaiki konsep diri dan meningkatkan kebugaran tubuh dan fungsi kardiovaskuler yang baik serta mengurangi resiko timbulnya penyakit sehingga pada akhirnya mengarah pada kebahagiaan.

b. Status Kerja

Argyle (2001) dalam Carr (2004) mengatakan bahwa individu dengan status bekerja lebih bahagia daripada individu yang tidak bekerja dan begitu juga dengan individu yang profesional dan terampil tampak lebih bahagia daripada individu yang tidak terampil. Diener & Biswas-Diener (2008) juga mengatakan bahwa ketika individu menikmati pekerjaannya dan merasa pekerjaan tersebut adalah hal yang penting dan bermakna maka individu akan puas terhadap kehidupannya. Sebaliknya, ketika individu merasa pekerjaannya buruk oleh karena lingkungan pekerjaan yang buruk dan kurang sesuai dengan diri individu tersebut maka individu akan merasa tidak puas pada kehidupannya.

c. Penghasilan/Pendapatan

Penghasilan berkaitan dengan kepuasan finansial dan kepuasan finansial berkaitan dengan kepuasan hidup (Diener, Lucas & Oishi (2005). Diener dan Seligman (2002) juga mengatakan bahwa penghasilan mempunyai hubungan yang lemah dengan kebahagiaan. Dalam hal ini, kemiskinan dilaporkan dapat menyebabkan individu tidak bahagia, namun kekayaan juga dikatakan tidak selamanya menyebabkan individu bahagia.

d. Realisme dari Konsep-Konsep

Peran Masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap polapola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru, orang dewasa muda diharapkan memainkan peran baru, seperti peran suami/istri, orang tua dan pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginankeinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Semakin berhasil seseorang melaksanakan tugas tersebut semakin hal itu dihubungkan dengan prestise, maka semakin besar kepuasan yang ditimbulkan (Hurlock, 1999). Myers (2012) dalam Carr (2004) juga mengatakan bahwa individu baik pria maupun wanita yang telah menikah lebih bahagia daripada individu yang tidak menikah, baik yang bercerai, berpisah maupun tidak pernah menikah sama sekali. Hal tersebut dikarenakan pernikahan menyediakan intimasi psikologis dan fisik, yang meliputi memiliki anak dan membangun rumah, peran sosial sebagai orang tua dan pasangan, dan menegaskan identitas dan menciptakan keturunan.

e. Pernikahan

Meskipun hubungan romantis dapat menimbulkan keadaan stres, namun hubungan romantis juga adalah sumber kebahagiaan (Weiten & Llyod, 2006). Penelitian menunjukkan bahwa individu yang telah menikah memiliki subjective well being yang lebih tinggi daripada kelompok individu yang tidak menikah (Diener, 2009). Glenn (1998) dalam Diener (2009) juga mengatakan bahwa meskipun wanita yang menikah mungkin dilaporkan mengalami gejala stres yang lebih besar daripada wanita yang tidak menikah, mereka juga dilaporkan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi. Lebih lanjut Harvey, Pauwels & Zickmund (2001) dan Carr (2004) juga menambahkan bahwa pernikahan yang memiliki komunikasi yang saling menghargai dan jelas serta saling memaafkan kesalahan masingmasing berkaitan dengan tingkat kepuasan yang tinggi sehingga mengakibatkan kebahagiaan yang lebih tinggi.

f. Usia

Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bradburn & Caplovitz (1965) dalam Diener (2009) menemukan bahwa individu usia muda lebih bahagia daripada individu yang berusia lanjut. Akan tetapi, sejumlah tokoh mengadakan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan penelitian tersebut dan hasilnya menunjukkan dua hal, ada penelitian yang menunjukkan tidak ada efek usia terhadap kebahagiaan tetapi ada juga penelitian yang menemukan adanya hubungan yang positif antara usia dengan kepuasan hidup (Diener, 2009).

g. Agama/Kepercayaan)

Myers (2012) dalam Weiten & Llyod (2006) mengatakan bahwa agama dapat memberikan tujuan dan makna hidup, membantu individu mensyukuri kegagalannya, memberikan individu komunitas yang supportif, dan memberikan pemahaman mengenai kematian secara benar. Agama menyediakan manfaat bagi kehidupan sosial dan psikologis individu sehingga akhirnya meningkatkan kepuasan hidup. Agama dapat menyediakan perasaan bermakna dalam kehidupan setiap hari terutama saat masa krisis. Selain itu, juga menyediakan identitas kolektif dan jaringan sosial dari sekumpulan individu yang memiliki kesamaan sikap dan nilai. (Diener, 2009).

h. Hubungan sosial

Hubungan sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap kepuasan hidup. Individu yang memiliki kedekatan dengan orang lain, memiliki teman dan keluarga yang supportif cenderung puas akan seluruh kehidupannya. Sebaliknya, kehilangan orang yang disayangi akan menyebabkan individu menjadi tidak puas akan hidupnya dan individu tersebut memerlukan waktu untuk kembali menilai kehidupannya secara positif (Diener, 2009).

Faktor-Faktor Materialisme (skripsi dan tesis)

Ada berbagai pengaruh eksternal maupun internal yang tidak sehat, yang mengaktivasi materialisme pada diri individu. Menurut Husna (2015), terdapat beberapa penelitian terkait dengan tema materialisme dan telah ditemukan sejumlah faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah:

a. Faktor psikologis, berupa harga diri yang rendah dan kecemasan akan kematian dan rasa tidak aman.

b. Faktor keluarga, berupa pengasuhan keluarga yang tidak suportif dalam membangun self-esteem yang positif, orangtua yang tidak nurturant, dan (hanya) menekankan kesuksesan finansial serta stres dan konflik dalam keluarga.

c. Faktor pergaulan, berupa penolakan teman dan pengaruh teman yang materialistis, serta perbandingan sosial dengan teman atau figur di media

. d. Faktor lingkungan, berupa lingkungan yang menggoda dan media yang mendorong konsumerisme.

e. Faktor religius, berupa rendahnya religiusitas dan kebersyukuran.

f. Faktor jenis kelamin. Menurut Mangestuti (dalam Djudiyah dan Sumantri, 2015), mahasiswa perempuan lebih materialis dan memiliki kecenderungan belanja kompulsif yang lebih tinggi dibanding dengan lakilaki. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa perempuan memiliki persentase berbelanja lebih besar dibanding dengan laki-laki.

g. Faktor kemudahan berhutang (kartu kredit). Anak-anak muda sekarang memiliki nilai materialistik tinggi karena mereka mendukung kredit. Bank yang memberikan fasilitas kredit ataupun toko yang memberikan layanan pembelian secara kredit juga mampu membuat orang suka berbelanja maupun memiliki nilai materialistik tinggi.

Menurut Kasser (dalam Djudiyah dan Sumantri, 2015), ada beberapa faktor yang membentuk nilai materialisme pada diri individu diantaranya yaitu:

a. Psychological inscurity, yaitu ketidakamanan psikologis. Individu yang merasa tidak aman secara psikologis dapat melakukan kompensasi dengan berjuang keras untuk materi. Ketidakamanan psikologis dapat bersumber dari:

1) Pola asuh. Orang tua yang kurang mendukung tumbuhnya rasa aman pada anak akan menghasilkan anak-anak yang kurang aman secara psikologis.

2) Orang tua yang bercerai atau berpisah. Orang tua yang bercerai atau berpisah juga akan menghasilkan anak-anak yang tidak aman secara psikologis, sehingga mereka cenderung lebih materialis.

3) Deprivasi ekonomi. Orang yang berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang, cenderung lebih materialistik karena merasa kurang aman dengan kondisinya. Hasil penelitian menemukan bahwa individu yang berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi kurang menguntungkan seringkali lebih materialis.

b. Tayangan peran model yang materialis

1) Tayangan Iklan. Iklan di berbagai media yang menayangkan gaya hidup yang menganggap penting materi dapat membuat individu menjadi materialis. Iklan di TV sering kali menggambarkan gambaran ideal dari selebriti dan kehidupannya. Ia akan mendorong pemirsa untuk membandingkan kehidupan sendiri dengan image ideal.

2) Orang tua yang materialis. Orang tua yang materialis cenderung menghasilkan anak-anak yang materialis. Orang tua yang memiliki harapan tinggi terhadap materi, akan menghasilkan anak-anak yang cenderung materialis.

3) Peer group yang materialis. Peer group materialis yang dijadikan referensi dalam berperilaku juga akan berpengaruh pada temannya. Komunikasi dengan peer merefleksikan interaksi dengan teman. Individu yang sering kali berkomunikasi dengan teman mungkin menunjukkan kebutuhan yang kuat untuk diterima oleh peer. Perbandingan sosial dengan teman merupakan prediktor yang lebih baik pada materialisme dibanding dengan figure di media. Hal ini mungkin disebabkan karena teman lebih mudah diakses dan pola-pola konsumsi mereka lebih konkrit dan lebih mudah untuk diobservasi

Resolusi Konflik (skripsi dan tesis)

1.6. Resolusi konflik (conflict resolution) memiliki makna yang berbeda-beda menurut para ahli yang fokus meneliti tentang konflik. Weitzman & Weitzman mendefinisikan resolusi konflik sebagai sebuah tindakan pemecahan masalah bersama (solve a problem together). [1]Lain halnya dengan Fisher et al (2001:7) yang menjelaskan bahwa resolusi konflik adalah usaha menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru yang bisa tahan lama di antara kelompok-kelompok yang berseteru. Sedangkan menurut Mindes (2006:24), resolusi konflik merupakan kemampuan untuk menyelesaikan perbedaan dengan yang lainnya dan merupakan aspek penting dalam pembangunuan sosial dan moral yang memerlukan keterampilan dan penilaian untuk bernegoisasi, kompromi serta mengembangkan rasa keadilan.[2]

Menurut Maftuh resolusi konflik (conflict resolution) adalah upaya untuk menyelesaikan, mencegah, atau mengatasi konflik. Dalam pernyataan lebih lanjut disebutkan bahwa resolusi konflik dapat digunakan secara bergantian dengan pengelolaan konflik (conflict management) yang tidak mempunyai perbedaan mendasar antara keduanya”. Untuk menyelesaikan konflik antar kelompok sosial-kultural memerlukan pengelolaan lingkungan dalam waktu lama, seperti penyelesaian konflik yang terjadi di perusahaan, masyarakat, dan Negara. [3]

Meskipun demikian, baik resolusi maupun pengelolaan keragaman etnis keduanya melibatkan tiga strategi untuk menyelesaikan konflik, yakni: pertama penyelesaian konflik kekerasan oleh pihak-pihak yang berkonflik (negosiasi); kedua penyelesaian konflik kekerasan dengan bantuan pihak ketiga yang netral (mediasi); dan ketiga penyelesaian konflik kekerasan melalui keputusan atau kebijakan pihak ketiga (arbitrasi).

Simon Fisher dkk (2000:7) juga menegaskan bahwa pengelolaan konflik berbeda jauh dari resolusi konflik dimana yang pertama bertujuan membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak-pihak yang berkonflik. Sedangkan yang kedua berusaha secara terarah untuk menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru antara kelompok-kelompok yang berkonflik. Dengan demikian, pengelolaan konflik menurut Fisher berkemungkinan menyelesaikan konflik kekerasan secara permanen dalam jangka panjang.

Sudut pandang lain tidak hanya memberikan definisi namun juga pada aktor yang terlibat dalam resolusi konflik. Pandangan mengenai siapa pelaku resolusi konflik dalam perkembangan generasi telah mengalami berbagai perubahan. Pada awalnya pelaku resolusi konflik dilakukan melalui pendekatan state-centric. Dimana peran pemerintah (serta berbagai lembaga negara) menjadi satu-satunya organ yang dapat berperan dalam resolusi konflik. Selanjutnya berkembang pula pada civil society dan berkurangnya state centric. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa resolusi konflik dapat dikonstruksikan pada pada arsitektur kompleks dan komplementar.

Demikian pula sudut pandang mengenai tahapan dalam resolusi konflik memberikan perbedaan dalam bagaimana resolusi konflik berjalan. Menurut Wirawan menunjukkan perlunya intervensi pihak ketiga. Dimana keputusan intervensi pihak ketiga nantinya final dan mengikat. Kedua, Mediasi. Mediasi ini adalah cara penyelesaian konflik melalui pihak ketiga juga yang disebut sebagai mediator. Ketiga, Rekonsialisasi. Proses penyelesaian konflik dengan transormasi sebelum konflik itu terjadi, dimana masyarakat pada saat itu hidup dengan damai.[4] Dalam sudut pandang lain menunjukkan bahwa tahapan resolusi konflik meliputi (1) Yudikasi adalah model penyelesaian mengacu pada hukum yang berlaku, baik syariat Islam atau undang-undang negara. (2) Abritrase adalah model penyelesaian konflik melalui orang kepercayaan. (3) Mediasi adalah resolusi konflik dengan cara mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik dengan perantara orang netral yang disetujui pihak-pihak yang berkonflik. (4) Negosiasi adalah konflik diselesaikan dengan musyawarah di mana pihak yang berkonflik sama-sama untung dan (5) rekonsiliasi menyelesaikan dengan sama-sama kedua atau lebih pihak mengakui kesalahan dan menganggap semua persoalan yang telah ada dianggap tidak ada dan menyepakati program bersama untuk masa depan.[5]

Menurut Miall (1999) resolusi konflik harus menggunakan pihak ketiga sebagai mediasi, yaitu: arbitrasi; merupakan penyelesaian konflik oleh pihak ketiga yang memiliki sumber kekuasaan. Mediasi  adalah penyelesaian konflik oleh pihak ketiga yang tidak mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menindas pihak-pihak yang berkonflik agar konflik selesai.  Sedangkan menurut Dahrendorf (1986), mediasi merupakan bentuk yang paling ringan dari campur tangan pihak luar dalam menyelesaikan pertentangan. Kedua kelompok yang bertentangan sepakat untuk berkonsultasi dengan pihak luar yang diminta memberikan nasihat. Akan tetapi, nasihat tersebut tidak mempunyai kekuatan mengikat terhadap kelompok yang bertentangan. Sekilas, hal ini hanya menjanjikan pengaruh sedikit, tetapi dari pengalaman di berbagai bidang kehidupan sosial menunjukkan bahwa mediasi merupakan suatu tipe penyelesaian pertentangan yang berhasil.

Fisher menyatakan bahwa penyelesaian suatu konflik yang terjadi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (1). Negosiasi, proses untuk memungkinkan pihak-pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan pilihan dan mencapai penyelesaian melalui interaksi tatap muka; (2) Mediasi, suatu proses interaksi yang dibantu oleh pihak ketiga sehingga pihak-pihak yang berkonflik menemukan penyelesaian yang mereka sepakati sendiri; (3) Arbitrasi atau perwalian dalam sengketa, tindakan oleh pihak ketiga yang diberi wewenang untuk memutuskan dan menjalankan suatu penyelesaian.  [6]

Menurut Miall menyatakan bahwa tugas penyelesaian konflik adalah membantu pihak-pihak yang merasakan situasi yang mereka alami sebagai sebuah situasi zero – sum (keuntungan diri sendiri adalah kerugian pihak lain). Agar melihat konflik sebagai keadaan non-zero-sum (di mana kedua belah pihak sehingga mengarah ke hasil yang positif). Untuk menciptakan hasil non- zero- sum, mewajibkan akan adanya pihak yang berfungsi menyelesaikan konflik. [7]

Sedangkan menurut Johan Galtung memperkenalkan tiga pendekatan perdamaian dalam resolusi konflik. Pertama, pemeliharaan perdamaian (peacekeeping), yaitu upaya untuk mengurangi atau menghentikan kekerasan melalui intervensi yang dilakukan oleh pihak penengah, umumnya dilakukan oleh militer. Kedua, penciptaan perdamaian (peacemaking), yaitu upaya untuk menciptakan kesepakatan politik antarpihak yang bertikai, baik melalui mediasi, negosiasi, arbitrasi, maupun konsolidasi. Ketiga, pembangunan perdamaian (peacebuilding) yaitu upaya rekonstruksi dan pembangunan sosial ekonomi pasca konflik untuk membangun perubahan sosial secara damai. Dengan tiga tahapan ini, diharapkan konflik bisa terselesaikan sampai ke akar masalah, sehingga di masa mendatang konflik tersebut tidak pecah kembali. [8]

Dalam penelitian ini akan mengguanakan teori yang dikemukakan oleh Elli Y Setiadi yang menyatakan bahwa konflik yang terjadi dapat diselesaikan dalam beberapa proses integrasi social. Integrasi social merupakan penyatuaduan dari kelompok masyarakat dengan asal berbeda menjadi satu kelompok besar. Hal sama terjadi dalam konflik Kalbar dimana konflik muncul karena adanya perbedaan dari kelompok-kelompok kecil. Penyelesaian muncul untuk memberikan kesatupaduan kelompok-kelompok kecil tersebut dalam satu kelompok masyarakat besar yang saling berbaur. Dengan demikian kelompok-kelompok masyarakat tersebut memiliki akar kebudayaan namun menjunjung loyalitas terhadap kelompok masyarakat besar. [9]

Adapun proses resolusi konflik melalui integrasi social tersebut menempuh tahapan sebagai berikut:

  1. Proses interaksi

Proses interaksi merupakan proses paling awal untuk membangun suatu kerjasama dengan ditandai adanya kecenderungan positif yang dapat melahirkan aktivitas bersama. Porses interaksi diladasi dengana danya saling pengerttian dengan aling menjaga hak dan kewajban antar pihak

  1. Proses identifikasi

Proses interaksi dapat berlanjut menjadi proses identifikasi jika masing-masing pihak dapat menerima dan memahami keberadaan pihak lain seuuthnya. Pada dasarnya proses identifikasi adalah proses untuk memahami sifat dan keberadaan orang lain. Jika berlangsung dengan lancer, proses ini menghasilkan hubungan kerja yang lancer sehingga menghasilkan hubungan kerjasama yang lebih erat. Hal itu disebabkan masing-masing pihak mengetahui karakternya dan saling menjaga hubungan tersebut

  1. Kerjasama

Kerjasama timbul apabila setiap orang menyadari bahwa mereka semua mempunyai kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mereka mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan tersebut melalui kerja sama, kesadaran  terhadap kepentingan sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerjasama yang berguna.

  1. Akomodasi

Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menhancurkan pihak lawan sehingga lawan kehilangan kepribadiannya. Tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:

1)        Mengurangi pertentangan antara orang perseorangan atau kelompk manusia sebagai akibat perbedaan paham. Akomodasi dalam hal ini bertujuan untuk menghasilkan suatu sintesis antara kedua pendapat tersebut agar menghasilkan pola yang baru.

2)        Mencegah meledaknya suatu pertentangan, untuk sementara waktu atau secara temporer

3)        Akomodasi kadang-kadang diusahakan untuk memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok social yang sebagainya akibat faktor social, psikologis dan kebudayaan, hidup terpisah seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sstem berkasta

4)        Mengusahakan peleburan antara kelompok social yang terpisah, misalkan perkawinan campuran atau asimilasi dalam arti yang luas

  1. Asimilasi

Proses social dalam taraf kelanjutan yang ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan yang terdapat antara orang perseorangan atau kelompok manusia dan meliputi saha-usaha untuk meningkatkan kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan meperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama secara singkat, proses asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama.

  1. Integrasi

Proses penyesuaian antara unsur masyarakat yang berbeda sehingga membentuk keserasian fungsi dalam kehidupan. Apabila dua pihak atau lebih yang akan terintegrasi mampu mejalankan peran masing-masing, akan terbentuk hubungan dalam masyarakat yang dinamakan integrasi social. Dalam integrasi social terdapat kesamaan pola piker, gerak langkah, tujuan serta orientasi serta keserasian fungsi dalam kehidpan. Hal ini dapat mewujudkan keteraturan sosial dalam masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa resolusi konflik hadir sebagai proses pemufakatan atau perdamaian dalam menyamakan persepsi dan cara pandang yang dimiliki oleh individu dan kelompok sebagai sebuah nilai bangsa. . Resolusi konflik juga menyarankan penggunaan cara-cara yang lebih demokratis dan konstruktif untuk menyelesaikan konflik dengan memberikan kesempatan pada pihak-pihak yang berkonflik untuk memecahkan masalah mereka oleh mereka sendiri atau dengan melibatkan pihak ketiga yang bijak, netral dan adil untuk membantu pihak-pihak yang berkonflik dalam memecahkan masalahnya. Oleh karenanya dalam langkah pemufakatan ini maka menuntut adanya proses mediasi dan refleksi sebagai langkah komunikasi menyatukan persepsi untuk mencari sebuah solusi yang mendamaikan. Dimana dalam tahapannya menggunakan

Dimensi Job Performance (skripsi dan tesis)

Menurut Sudarmanto (2014) terdapat 4 kriteria dasar atau dimensi untuk mengukur job performance, yaitu :

  1. Kualitas (Quality)

Terkait dengan proses atau hasil mendekati sempurna/ideal dalam memenuhi maksud atau tujuan.

  1. Kuantitas (Quantity)

Terkait dengan satuan jumlah atau kuantitas yang dihasilkan

  1. Penggunaan waktu dalam bekerja (Timeliness)

Terkait dengan waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan aktivitas atau menghasilkan produk.

  1. Kerja Sama dengan orang lain dalam bekerja (Interpersonal Impact)

Terkait dengan kemampuan individu dalam meningkatkan perasaan harga diri, keinginan baik, dan kerja sama diantara sesama pekerja dan karyawan.

Pengaruh Person-Job Fit Terhadap Organization Citizenship Behaviour (OCB) Melalui Kepuasan Kerja Sebagai Mediator (skripsi dan tesis)

Person-job fit melibatkan kesesuaian tuntutan pekerjaan dengan pengetahuan individu, keterampilan, kemampuan, dan karakteristik lainnya. Sedangkan organizational citizenship behavior melibatkan perilaku yang bersifat sukarela, bebas, dan tidak berkaitan langsung dengan reward. Dari pengertian tersebut, dapat di asumsikan bahwa kesesuain individu dengan pekerjaannya akan menimbulkan perasaan puas, karena individu bekerja sesuai pada bidang yang ditekuni. Perasaan yang puas terhadap pekerjaan, memungkinkan karyawan untuk bekerja di luar deskripsi pekerjaan (extra- 29 role). Penelitian terdahulu menyatakan bahwa kepuasan kerja terbukti mampu memediasi pengaruh karakteristik pekerjaan terhadap organizational citizenship behaviors (Irawan, 2012: 4).

Syarat-Syarat Pengajuan Kepailitan (skripsi dan tesis)

Prasyarat dikabulkannya suatu permohonan pailit adalah sebagai berikut[1]:

1)   Adanya minimal 2 (dua) Kreditor.

Syarat mengenai keharusan adanya dua atau lebih Kreditor dalam hal ini dikenal sebagai concursus creditorium.[2] Kreditor merupakan pihak yang memiliki piutang-piutang, claim, atau tagihan oleh Bankcrupty Code Amerika Serikat didefinisikan sebagai right to payment.

2)   Adanya minimal satu utang yang sudah jatuh tempo namun masih dapat ditagih.

Utang oleh Jerry Hoff[3] diartikan sebagai kewajiban membayar sejumlah uang tertentu yang timbul karena adanya perjanjian utang-piutang, maupun kewajiban pembayaran sejumlah uang tertentu yang timbul dari perjanjian lain yang menyebabkan Debitor harus membayar sejumlah uang tertentu. Berdasarkan syarat tersebut, dapat dilihat bahwa utang dalam hal ini dapat dilihat sebagai syarat status utang, serta syarat jumlah utang dan masalah insolvensi. Utang yang telah jatuh tempo adalah utang yang dengan lampaunya waktu penjadwalan yang telah ditentukan pada perjanjian kredit dan menjadi jatuh tempo sehingga Kreditor berhak menagihnya (utang telah due atau expired).[4] Syarat jumlah utang dan masalah insolvensi merupakan syarat yang menjelaskan bahwa perbedaan besarnya jumlah utang tidak menghalangi dijatuhkannya putusan pailit serta permohonan pernyataan pailit dapat diajukan terhadap perusahaan yang masih solven.[5]

3)   Pembuktian sederhana.

Kedua syarat yang telah disebutkan sebelumnya mengenai jumlah Kreditor serta syarat tentang jatuh tempo utang juga sifatnya dalam hal ini harus dapat dibuktikan secara sederhana. Pada perkara kepailitan, pemeriksaan perkara permohonan tidak mengenal adanya eksepsi, jawaban, replik, duplik, dan kesimpulan seperti pada Peradilan Umum.  Oleh sebab itu, pada dasarnya penyelesaian perkara kepailitan dikenal dengan istilah permohonan dan pemeriksaan sepihak.[6]