Overconfidence merupakan perasaan percaya diri secara berlebihan
(Wulandari dan Iramani, 2014). Overconfidence akan membuat investor
ketika berinvestasi pada saham yang sama akan melebih-lebihkan aspek
positif dari keputusan yang dibuat (Ullah et al, 2017). Overconfidence
menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar dalam
pengambilan untuk berinvestasi. Dengan kata lain investor yang
overconfidence lebih memandang suatu risiko itu rendah dan sebaliknya,
investor yang tidak overconfidence lebih memandang suatu risiko itu tinggi
(Wulandari dan Iramani, 2014). Investor overconfidence cenderung
berinvestasi pada saham yang familiar dan diversifikasi pada saham lebih
sedikit. Pria cenderung overconfidence dibandingkan wanita (Ritter, 2003).
Overconfidence menunjukkan metode satu sisi terhadap pandangan pada
suatu keadaan tertentu atau menilai lebih kemampuan yang dimiliki. Bias ini
dapat berakibat investor underestimate terhadap risiko yang diambil karena
terlalu yakin akan memenangkan pasar dan menghasilkan return yang besar
(Virigineni dan Rao, 2017).
Di bidang keuangan keputusan investasi membutuhkan lebih banyak
pengalaman dan kesadaran investor tentang pasar saham, karena investor
lebih dipengaruhi oleh bias overconfidence yang memiliki pengalaman
kurang tentang keputusan investasi (Kida et al, 2010). Menurut Jiangouxu
(2012), ketika harga saham meningkat investor akan overconfidence untuk
membeli saham tersebut dan ketika harga saham turun maka investor kurang
overconfidence untuk membeli saham sehingga keputusan investasi terkait
dengan kondisi pasar. Investor yang overconfidence memiliki keyakinan
bahwa mereka kuat dan bisa melakukan segala sesuatu dengan pengetahuan
yang dimiliki untuk berinvestasi (Fast et al, 2011).
