Orientasi kewirausahaan dalam perusahaan ditunjukkan oleh bagaimana
manajer puncak menjalankan bisnis dengan menyadari akan adanya risiko,
bersedia untuk berubah dan berinovasi dengan tujuan untuk memperoleh
keunggulan kompetitif pada perusahaan, dan bersaing dengan agresif terhadap
pesaing (Miller, 1983).
Orientasi kewirausahaan adalah kecenderungan untuk melakukan inovasi,
proaktif, mengambil risiko untuk memulai, dan mengelola usaha. Kewirausahaan
didefinisikan sebagai new entry yang dapat dilakukan dengan memasuki pasar
yang tetap atau pasar baru dengan produk atau jasa yang telah ada maupun baru
atau meluncurkan perusahaan yang baru, sedangkan orientasi kewirausahaan
digambarkan sebagai proses, praktik dan aktivitas pembuat keputusan yang
mendorong new entry (kewirausahaan) (Lumpkin dan Dess, 1996).
Orientasi kewirausahaan mengukur sejauh mana manajer perusahaan
menjadi lebih inovatif, proaktif, dan berani dalam mengambil risiko (Lumpkin
dan Dess, 1996). Perusahaan dengan orientasi kewirausahaan akan cenderung
mendukung adanya ide – ide baru, bersaing dengan kompetitif terhadap pesaing,
mengenalkan produk baru sebelum pesaing, melakukan perubahan dengan risiko
yang diperhitungkan dan mencari jalan untuk menghadapi risiko (Parkman et al.,
2012). Orientasi kewirausahaan memiliki tiga dimensi didalamnya, meliputi:
inovasi, proaktif, berani mengambil risiko (risk-taking) (Wickramaratne et al.,
2014).
Pada bagian lain (Lumpkin dan Dess, 1996) menyatakan bahwa ada lima
dimensi Corporate Entrepreneurship yang mempengaruhi kinerja perusahaan,
yaitu:
1) Autonomy
Aktivitas kewirausahaan adalah semangat independen dan kebebasan yang
diperlukan untuk menciptakan usaha baru. Agar dimensi otonomi kuat,
pengusaha harus beroperasi di dalam budaya yang mendorong pengusaha
untuk bertindak independen, untuk menjaga kontrol pribadi dan mencari
kesempatan dalam ketiadaan kendala sosial (Lee dan Peterson, 2000).
2) Innovativeness
Inovasi memainkan peran besar dalam kewirausahaan. Pengusaha yang
beroperasi dalam budaya yang mendukung ide-ide baru, eksperimentasi,
solusi baru terhadap masalah dan proses kreatif dari pengusaha akan
menentukan kekuatan dimensi inovasi dari orientasi kewirausahaan (Lee dan
Peterson, 2000).
3) Risk taking
Salah satu deskripsi yang paling banyak dikutip dari pengusaha atau
kewirausahaan adalah kemauan untuk menanggung risiko. Oleh karena itu,
pengambilan risiko adalah komponen penting dari orientasi kewirausahaan
yang kuat.
4) Proactiveness
Proactivenes sangat penting karena berkaitan dengan tahap pelaksanaan
kewirausahaan. Orang yang proaktif melakukan apa yang diperlukan agar
konsep mereka membuahkan hasil dan mendapatkan keuntungan dengan
menjadi yang pertama memanfaatkan peluang-peluang baru (Lumpkin dan
Dess, 1996).
5) Competitive aggressiveness
Dimensi agresivitas kompetitif mengacu pada budaya yang pro-hambatan
seperti suatu budaya dan mendorong potensi kewirausahaan (Lee dan
Peterson, 2000).
Berbagai teori dan penelitian dibidang kewirausahaan menjelaskan
pentingnya peran orientasi kewirausahaan serta pengaruhnya terhadap kinerja
pemasaran. Tzokas et al., (2001) dalam penelitiannya menemukan bahwa
perusahaan dengan EO yang kuat mampu mengembangkan kompetensi yang lebih
baik dibandingkan mereka yang tidak memiliki karakteristik ini. Weerawardena
(2003) juga menyatakan bahwa perusahaan yang berorientasi kewirausahaan akan
membangun dan memelihara kemampuan pemasaran.
Keh et al., (2007) dalam penelitiannya mengatakan bahwa orientasi
kewirausahaan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kinerja usaha dan
memberikan pengaruh positif signifikan. Indikator berani mengambil risiko
menunjukkan sikap wirausahawan yang kesediaannya untuk mengikat
sumberdaya dan berani menghadapi tantangan dengan melakukan eksploitasi atau
terlibat dalam strategi bisnis di mana kemungkinan hasilnya penuh dengan
ketidakpastian. Proaktif mencerminkan wirausaha mendominasi pesaing melalui
suatu kombinasi dari gerak agresif dan proaktif, seperti memperkenalkan produksi
baru atau jasa diatas kompetisi dan aktivitas untuk mengantisipasi permintaan
mendatang untuk menciptakan perubahan dan membentuk lingkungan. Inovatif
mengacu pada suatu sikap wirausahawan untuk kreatif dalam proses percobaan
terhadap gagasan baru yang memungkinkan menghasilkan metode produksi baru
sehingga menghasilkan produk atau jasa baru, baik untuk pasar sekarang maupun
ke pasar baru.
Hughes dan Morgen (2007) pada hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
dari kelima dimensi orientasi kewirausahaan yang digunakan, hanya proactiveness
dan innovativeness yang berpengaruh terhadap kinerja bisnis sedangkan risk
taking memiliki hubungan yang negatif. Competitive aggresiveness dan
autonomy tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja usaha pada tahap
pertumbuhan.
