Frishammar dan Horte (2007:68) menyarankan orientasi kewirausahaan
terdiri dari tiga dimensi: keinovasian, pengambilan risiko, dan proaktif.
Kemampuan inovasi berhubungan dengan persepsi dan aktivitas terhadap
aktivitas-aktivitas bisnis yang baru dan unik (Schumpeter dan Milton, 1989).
Kemampuan berinovasi adalah titik penting dari kewirausahaan dan esensi
dari karakteristik kewirausahaan. Beberapa hasil penelitian dan
literatur kewirausahaan menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan lebih
signifikan mempunyai kemampuan inovasi daripada yang tidak memiliki
kemampuan dalam kewirausahaan (Koh, 1997,p.9).
Proaktifitas seseorang untuk berusaha berprestasi merupakan petunjuk lain
dari aplikasi atas orientasi kewirausahaan secara pribadi. Demikian pula bila suatu
perusahaan menekankan proaktifitas dalam kegiatan bisnisnya, maka
perusahaan tersebut telah melakukan aktifitas kewirausahaan yang akan
secara otomatis mendorong tinginya kinerja (Weerawardena, 2003;424).
Perusahaan dengan aktifitas kewirausahaan yang tinggi berarti tampak dari
tingginya semangat yang tidak pernah padam karena hambatan,
rintangan,dan tantangan. Sikap aktif dan dinamis adalah kata kuncinya.
(Doukakis, 2002).
Seseorang yang berani mengambil risiko dapat didefinisikan
sebagai seseorang yang berorientasi pada peluang dalam ketidakpastian
konteks pengambilan keputusan. Hambatan risiko merupakan faktor
kunci yang membedakan perusahaan dengan jiwa wirausaha dan tidak.
Fungsi utama dari tingginya orientasi kewirausahaan adalah bagaimana
melibatkan pengukuran risiko dan pengambilan risiko secara optimal (Looy et
al. 2003).
