Teori ini mendasarkan pendekatannya atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasaan indivindu yang menyebabkannya bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, mendukung, dan menghentikan perilakunya. Teori ini mencoba menjawab pertanyaan kebutuhan apa yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang. Hal yang memotivasi semangat bekerja seseorang adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasaan material maupun no material yang diperolehnya dari hasil pekerjaannya. Jika kebutuhan dan kepuasaan semakin terpenuhi maka semangat bekerjaanya pun semakin baik pula (Hasibuan, 2013).
Tujuan Pemberian Motivasi (skripsi dan tesis)
Adapun tujuan dari pemberian motivasi menurut Malayu, Hasibuan (2013) adalah sebagai berikut : 1. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan. 2. Meningkatkannya moral dan kepuasaan kerja karyawan. 3. Meningkatnya produktivitas kerja karyawan. 4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan. 5. Meningkatkan kedisplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan. 6. Mengeefektifkan pengadaan karyawan. 7. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik. 8. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan. 9. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan. 10. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya
Pengertian Motivasi (skripsi dan tesis)
Istilah motivation berasal dari bahasa latin, yakni movere, yang berarti menggerakkan (to move). Para manajer perlu memahami proses-proses prisikologikal apabila mereka berkeinginan untuk membina karyawan mereka supaya berhasil dalam upaya pencapaian sasaran-sasaran keorganisasian (Winardi, 2001). Motivasi juga didefinisikan sebagai dorongan dari dalam diri individu berdasarkan mana dari diperilaku dengan cara tertentu untuk memenuhi keinginan dan kebutuhnya, adapun pemotivasian dapat diartikan sebagai pemberian motifmotif sebagai pendorong agar orang bertindak, berusahaan untuk mencapai tujuan organisasional (Silalahi,2002). Menurut RA. Supriyono, motivasi adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu sedangkan motif adalah kebutuhan,keinginan, dorong untuk berbuat sesuatu. Motivasi seseorang di pengaruhi oleh stimulus kekuatan, instrinsik yang ada indivindu yang bersangkutan. Stimulus eksternal mungkin dapat pula mempengaruhi motivasi tetapi motivasi itu sendiri mencerminkan reaksi indivindu terhadap stimulus tersebut (Supriyono,2003) Rumusan lain tentang motivasi yang diberikan oleh Stephen P Robbins dan Mary Coulter dalam Winardi, yang dimaksud dengan motivasi karyawan adalah kesediaan untuk melaksanakan upaya tinggi, untuk mencapai tujuan-tujuan keorganisasian yang dikondisioleh kemampuan upaya demikian, untuk memenuhi kebutuhan individual tertentu (Winardi, 2001).
Hubungan Hedonic Shopping Motivation terhadap Loyalitas Konsumen (skripsi dan tesis)
Teori hedonistis menyatakan bahwa segala perbuatan manusia, entah itu disadari ataupun tidak disadari, entah itu timbul dari kekuatan luar ataupun kekuatan dalam, pada dasarnya mempunyai tujuan yang satu, yaitu mencari halhal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan. Hedonis merupakan salah satu dari teori motivasional yang cocok dengan prinsip arah tujuan dimana manusia akan tertarik dengan tujuan yang dianggapnya paling menarik. Dalam buku Christina Widya Utami “Manajemen Ritel”mendefinisikan hedonis yaitu salah satu jenis kebutuhan berdasarkan arah motivasi yang bersifat subjektif dan experiental, yang berarti bahwa konsumen boleh bersandar pada suatu produk untuk menemukan kebutuhan mereka untuk kegembiraan, kepercayaan diri, khayalan atau tanggapan emosional, dan lain-lain. Seseorang akan berbelanja karena orang tersebut merasa mendapatkan kesenangan dan merasa bahwa berbelanja itu adalah sesuatu hal yang menarik. Jadi, motivasi ini didasarkan pada pemikiran yang subjektif atau emosional karena mencangkup respon emosional, kesenangan panca indera, mimpi, dan pertimbangan estetis. Menurut Subagio (2011) menyatakan bahwa motif belanja hedonik muncul karena kebutuhan rasa bahagia atau senang. Peritel yang mampu membahagiakan atau menyenangkan konsumen akan menyebabkan adanya kemampuan untuk menciptakan kepuasan konsumen. Konsumen yang telah mendapatkan pengalaman baik akan merasa bahagia atau senang sehingga ada kainginan untuk selalu memilih tempat belanja yang sama di masa mendatang sebagai bentuk dari loyalitas yang dimiliki konsumen. Hal ini juga di dukung oleh penelitian terdahulu Felix Widhi Herdanto (2016) bahwa hedonic shopping motivation berpengaruh positif terhadap loyalitas konsumen.
Hubungan antara Store Atmosphere (skripsi dan tesis)
dengan Loyalitas Konsumen Store atmosphere merupakan kombinasi dari pesan secara fisik yang telah direncanakan. Store atmosphere dapat digambarkan sebagai perubahan terhadap perencanaan lingkungan pembelian yang menghasilkan efek emosional khusus yang dapat menyebabkan konsumen melakukan tindakan pembelian (Foster, 2008:61) dalam Cindy J. Dessyana, 2013:846). Oleh karena itu, pelaku bisnis harus mampu menerapkan strategi yang tepat. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan adalah merencanakan desain store atmosphere (suasana toko) dengan bentuk dan konsep baru serta ide-ide kreatif yang membangun citra toko sehingga membuat pengunjung merasa nyaman ketika berbelanja. Citra toko di mata pengunjung dapat menjadi pendorong untuk masuk ke dalam toko, yang berlanjut pada proses interaksi hingga pembelian (Cindy J. Dessyana, 2013:844).. Para konsumen tidak hanya berbelanja demi memenuhi kebutuhan hidup saja tetapi terdapat pemenuhan gaya hidup atau status sosial yang diharapkan, untuk itu toko-toko yang didesain dengan nuansa toko yang menarik dapat menjadi hal positif dimata konsumen, konsumen yang senang lebih cenderung untuk melakukan pembelian. Store atmosphere (suasana toko) sebagai alat komunikasi pemasaran yang didesain semenarik mungkin dan harus dilakukan perubahan secara berkala terhadap suasana toko, yang dirancang dengan kreativitas dan inovasi agar konsumen tidak beralih ke toko lain. Dalam penelitian Ogr.Gor. Dr. Muge Yalcin dan. Prof. Dr. Tuncay Kocamaz menyatakan bahwa masing-masing konsumen memiliki prilaku yang berbeda-beda untuk menemukan semua yang mereka butuhkan dengan harga yang adil. Mereka sering menikmati kegiatan belanjanya dilingkungan yang layak. Dalam ritel modern keunggulan kompetitifnya ada dalam kemampuan retailer dalam membuat store atmosphere atau lingkungan toko juga kualitas pelayanan yang tinggi untuk konsumen mereka. Untuk menciptakan loyalitas konsumen ada berbgai hal penting lainnya yang menjadi tantangan retailer, karena pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkan konsumen yang baru lima : sepuluh deibandingkan dengan mempertahankan konsumen yang lama. Seringkali semuanya kehilangan konsumen yang berpotensi. Dari hasil penelitian ini dapat diartikan bahwa store atmosphere memberikan pengaruh terhadap loyalitas konsumen. Penelitian yang dilakukan oleh Khamardi dkk (2014), yang berjudul “Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Loyalitas Konsumen dalam Membeli Produk pada Distro Tangkelek di Kota Padang” ,yang menghasilkan bahwa suasana toko dan lokasi yang tepat dapat menjadi sarana komunikasi yang positif, menguntungkan dan memperbesar peluang untuk mempengaruhi loyalitas konsumen. Elemen-elemen store atmosphere diantaranya eksterior, general interior, store layout semuanya berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen yang dilakukan pada distro Tangkelek di kota Padang. Sehingga, store atmosphere berpengaruh positif terhadap loyalitas. Menurut Kotler (2012:15) yang dialih bahasakan oleh Benyamin Molan ketika seseorang masuk ke suatu toko mereka tidak hanya memberikan penilaian produk dan harga yang ditawarkan oleh retailer, tetapi juga memberikan respon terhadap lingkungan yang diciptakan oleh retailer melalui store layout, display (penataan barang) yang kreatif, desain bangunan yang menarik , pengaturan jarak antar jarak, temperatur, musik, yang dilantunkan. Tidak hanya memberikan nilai tambah bagi produk yang dijual tetapi juga menciptakan suasana yang menyenangkan bagi konsumen sehingga konsumen tersebut memilih toko yang disukainya dan pada akhirnya melakukan pembelian sehingga dapat menimbulkan loyalitas untuk terus berbelanja di toko tersebut.
Manfaat Loyalitas Bagi Perusahaan (skripsi dan tesis)
Salah satu manfaat loyalitas pelanggan bagi perusahaan adalah dapat memperpanjang umur perusahaan. Manfaat loyalitas bagi perusahaan menurut Kotler dan Keller (2012) yang dialih bahasakan oleh Benyamin Molan adalah keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh perusahaan apabila memiliki pelanggan loyal yaitu: 1. Mengemukakan biaya pemasaran, karena biaya untuk mendapatkan pelanggan baru lebih mahal. 2. Mengurangi biaya transaksi, seperti biaya negosiasi kontrak, pemrosesan pesanan dll. 3. Mengurangi biaya turn over konsumen, karena pergantian pelanggan yang lebih sedikit. 4. Meningkatkan penjualan silang yang akan memperbesar pangsa pasar perusahaan. 5. Word Of Mouth yang lebih positif dengan asumsi bahwa pelanggan yang loyal juga berarti mereka merasa puas. 6. Mengurangi biaya kegagalan, seperti biaya penggantian dll. Perusahaan harus dapat mempertahankan pelanggan agar tidak beralih ke pesaing menurut Zeitahaml dan Bitner dalam Sangadji (2014 : 110) mengemukakan bahwa untuk mewujudkan dan mempertahankan loyalitas pelanggan dibutuhkan langkah kunci yang saling terkait, yaitu: 1. Komitmen dan keterlibatan manajemen puncak Dalam setiap keputusan strategis organisasi, peranan penting manajemen puncak perlu dimainkan. Dukungan, komitmen, kepemimpinan, dan partisipasi aktif manajer puncak selalu dibutuhkan untuk melakukan transformasi budaya organisasi, struktur kerja, dan praktik manajemen SDM dari paradigma tradisional menuju paradigma pelanggan. 2. Tolak ukur internal (internal benchmarking) Proses tolak ukur internal meliputi pengukuran dan penilaian atau manajemen, SDM, organisasi, sistem, alat, desain, pemasok, 63 pemanufakturan, pemasaran, dan jasa pendukung perusahaan. Adapun ukuran-ukuran yang digunakan meliputi loyalitas pelanggan (jumlah persentase dan kelanggengannya), nilai tambah bagi pelanggan inti, dan biaya akibat kualitas jelek. 3. Identifikasi kebutuhan pelanggan Identifikasi kebutuhan pelanggan dapat dilakukan dengan beberapa metode mutakhir seperti riset nilai (value research), jendela pelanggan (customer window), model, analisis sensivitas, evaluasi multiatribut, analisis konjoin, dan quality function deployment (QFD). Penilaian kapabilitas pelanggan dalam era hiperkompetitif ini pemahaman mengenai mengenai aspek internal perusahaan dan pelanggan saja tidak memadai. Untuk memenangkan persaingan, kapabilitas pesaing (terutama yang terkuat) harus diidentifikasikan dan dinilai secara cermat. 4. Pengukuran kepuasan dan loyalitas pelanggan Kepuasan pelanggan menyangkut apa yang diungkapkan oleh pelanggan, sedangkan loyalitas pelanggan berkaitan dengan apa yang dilakukan pelanggan. Oleh karena itu, parameter kepuasan pelanggan lebih subjektif, lebih sukar dikuantifikasi, dan lebih sulit dikur daripada loyalitas pelanggan. 5. Analisis umpan balik dari pelanggan, mantan pelanggan, non-pelanggan, dan pesaing. Lingkup analisis perusahaan perlu diperluas dengan melibatkan mantan pelanggan dan non-pelanggan, tentunya selain pelanggan saat ini dan pesaing. Dengan demikian, perusahaan bisa memahami dengan lebih baik faktor-faktor yang menunjang kepuasan dan loyalitas pelanggan, serta faktor negatif yang berpotensi menimbulkan pembelotan pelanggan (customer defection). Atas dasar pemahaman ini tindakan antisipatif dan kreatif bisa ditempuh secara cepat, akurat, dan efisien. 6. Perbaikan berkesinambungan Loyalitas pelanggan merupakan perjalanan tanpa akhir. Tidak ada jaminan bahwa bila sudah terwujud, lantas loyalitas bisa langgeng dengan sendirinya.
Tahap Pembentukan Loyalitas Konsumen (skripsi dan tesis)
Proses atau tahapan terbentuknya loyalitas pelanggan terbagi dalam tujuh tahap menurut Griffin dalam Ratih Hurriyati (2011:129) yaitu : 1. Suspect, adalah orang yang mungkin membeli prduk atau jasa. Disebut sebagai Suspect, karena tamu akan melakukan pembeli namun belum tentu mengetahui perusahaan dan produk atau jasa yang di tawarkan. 2. Prospect, adalah orang yang memiliki kebutuhan terhadap produk atau jasa tertentu, dan mempunyai kemampuan untuk membelinya. Artinya pada tahap ini tamu telah mengetahui keberadaan perusahaan serta produk dan jasa namun belum pernah melakukan pembelian. 3. Disqualified, adalah tamu yang tidak membutuhkan produk atau jasa yang ditawarkan, atau tahap ini disebut sebagai tahap dimana tamu tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan pembelian. 4. First time customer, adalah tamu yang membeli produk atau jasa untuk pertama kalinya, namun mereka juga masih rawan untuk melakukan pembelian yang sama pada perusahaan pesaing. 5. Repeat customers, adalah tamu yang telah membeli produk atau jasa lebih dari dua kali atau lebih, bahkan bisa jadi mereka tekah melakukan pembelian dua jenis produk atau jasa yang berbeda dalam waktu yang berbeda. 6. Clients, adalah tamu yang membeli semua produk atau jasa yang mereka butuhkan secara teratur. Pada tahapan ini hubungan dengan tamu sudah terjalin cukup kuat dan telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama, sehingga tamu tidak terpengaruh lagi dengan rangsangan produk atau jasa dari pesaing. 7. Advocates, adalah tamu yang membeli semua produk atau jasa yang mereka butuhkan secara teratur, serta mendorong orang lain untuk ikut melakukan pembelian pada perusahaan yang sama dengannya. Salah satu program ritel yang jelas dalam membangun citra di benak konsumen adalah perlunya penetapan strategi positioning. Ritel membangun loyalitas konsumen dengan perkembangan yang nyata, citra yang berbeda ditawarkan untuk ritel, dan secara konsisten diperkuat melalui tawaran layanan sebagai pelengkap. Positioning menekankan bahwa citra ritel ada di dalam benak konsumen (bukan dalam benak manajernya). Ritel perlu meneliti citra seperti apa yang menjadi target pasar ritel. Cara yang paling mudah dalam mendeteksi loyalitas pelanggan adalah frekuensi dan persentase belanja pelanggan. Seorang pelanggan yang rutin belanja di suatu gerai dengan total belanja sebulannya kurang lebih sama dapat menjadi indikasi sederhana bahwa pelanggan tersebut loyal.
Pengertian Loyalitas Konsumen (skripsi dan tesis)
Pentingnya Loyalitas bagi perusahaan sudah tidak diragukan lagi, banyak perusahaan memilih mempertahankan pelanggannya untuk memperpanjang hidup perusahaan. Loyalitas konsumen menurut Kotler & Keller (2012:127) adalah sebagai berikut: “a deeply held commitment to rebuy or repatronize a preferred product or service in the future despite situational influences and marketing efforts having the potential to cause switching behavior”. Sedangkan menurut Tjiptono (2012:110) mendefinisikan loyalitas pelanggan sebagai berikut: “Loyalitas pelanggan merupakan komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko, pemasok berdasarkan sikap yang sangat positif tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten”. Dari beberapa pendapat diatas penulis sampai pada pemahaman bahwa loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan untuk membeli ulang suatu merek secara konsisten walaupun situasi pemasaran menyebabkan perubahan prilaku. Konsep loyalitas pelanggan lebih banyak dikaitkan dengan perilaku (behavior) daripada dengan sikap . Loyalitas adalah perilaku membeli. Bila seseorang merupakan pelanggan loyal, ia menunjukan perilaku pembelian yang didefinisikan sebagai pembelian non random merupakan kuncinya. Seorang pelanggan yang loyal memiliki prasangka spesifik mengenai apa yang akan dia beli dan dari siapa. Pembelinya bukan merupakan peristiwa acak. Selain itu, loyalitas menunjukan kondisi dari durasi waktu tertentu dan mesyaratkan bahwa tindakan pembelian terjadi tidak kurang dari dua kali. Pelanggan yang loyal menurut Jill Griffin dalam Ratih Hurriyati (2011:130) adalah orang yang: 1. Melakukan pembelian berulang secara teratur. Komitmen untuk membeli kembali merupakan sikap yang paling penting bagi loyalitas, bahkan lebih penting dari kepuasan. Singkatnya, tanpa pembelian berulang, tidak ada loyalitas. Keputusan membeli kembali seringkali merupakan langkah selanjutnya yang terjadi secara alamiah bila pelanggan telah memiliki ikatan emosional yang kuat dengan produk atau jasa tertentu. 2. Membeli antar lini produk dan jasa. Keputusan pelanggan untuk mengkonsumsi antar lini produk dan jasa adalah suatu keputusan yang berdasarkan pada kepuasan pelanggan. Dimana jika pelanggan sudah merasa puas akan suatu produk atau jasa, maka ia mungkin akan mencoba produk atau jasa yang lainnya dengan harapan akan mendapatkan kepuasan yang sama. 3. Mereferensikan kepada orang lain. Refrensi adalah jalur yang paling kuat bagi bisnis manapun untuk dapat sukses merekrut para pelanggan baru. Refrensi juga sangat efektif karena refrensi itu datang dari pihak kedua yang terpercaya. 4. Menunjukan kekebalan terhadap tarikan pesaing. Pelanggan dan klien terbaik dari suatu perusahaan adalah prospek yang paling dicari oleh perusahaan pesaing. Oleh karena itu, pelanggan yang bertahan lama tergantung pada perusahaan yang bersangkutan, apakah perusahaan tersebut akan membuangnya atau akan mempertahankanya. Dua kondisi yang penting yang berhubungan dengan loyalitas adalah: 1. Retensi pelanggan (customer retention). 2. Total pangsa pelanggan (total share of customer). Retensi pelanggan menjelaskan lamanya hubungan dengan pelanggan. Tingkat retensi pelanggan adalah presentase yang telah memenuhi sejumlah pembelian ulang selama periode waktu yang terbatas. Pangsa pelanggan suatu perusahaan menunjukkan persentase dari anggaran pelanggan yang dibelanjakan ke perusahaan tersebut. Idealnya, perilaku pembelian dari pelanggan yang loyal mencerminkan kedua kondisi ini. Empat jenis dari loyalitas menurut Kotler dan Keller (2012:127) yang di alih bahasakan oleh Benyamin Molan adalah: a. No Loyalty Untuk beberapa alasan, konsumen tidak membuat loyalitas secara pasti. b. Inertia Loyality Konsumen membeli karena kebiasaan, karena mereka selalu menggunakannya, faktor situasional merupakan alasan utama untuk membeli. Pembeli merasakan tingkat kepuasan pada perusahaan, atau setidaknya tidak ada kepuasan. Kepuasan jenis ini tipe yang paling sering dijumpai dalam pembelian produk secara berulang. c. Latent Loyalty Sikap yang sangat baik terhadap produk yang dikombinasikan dengan pembeli yang rendah intensitasnya. Jika konsumen memiliki loyalitas yang terpendam efeksituasional mempengaruhi pembelian ulang. d. Premium Loyalty Premium loyalty terjadi ketika tingkat attachment dan pembelian berulang terjadi. Ini merupakan tipe yang paling sering terjadi pada setiap bisnis. Pada level tertinggi dari kesukaan, konsumen akan bangga karena menemukan dan menggunakan produk dan senang dalam membagikan pengetahuan mereka dengan teman-temannya dengan keluarganya.
Faktor-Faktor Hedonic Shopping Motivation (skripsi dan tesis)
Hedonic shopping motivation terdiri dari beberapa faktor menurut Christina Widya Utami (2010:49) mengidentifikasi enam faktor motivasi berbelanja hedonis antara lain: 1. Adventure Shopping Kategori yang pertama adalah adventure shopping dimana sebagian besar konsumen berbelanja karena adanya sesuatu yang dapat membangkitkan gairah berbelanja bahwa berbelanja adalah suatu pengalaman dan dengan berbelanja mereka merasa memiliki dunia sendiri. Hal inilah yang menjadi dasar terbentuknya motivasi konsumen yang hedonis. 2. Social Shopping Kategori yang kedua adalah social shopping dimana sebagian besar konsumen beranggapan bahwa kenikmatan dalam berbelanja akan tercipta ketika mereka menghabiskan waktu bersama-sama dengan keluarga atau teman. Selain itu ada juga yang merasa bahwa berbelanja adalah suatu kegiatan bersosialisasi, baik itu antara konsumen yang satu dengan konsumen yang lain, ataupun dengan pegawai yang bekerja di factory outlet tersebut. Selain itu mereka juga beranggapan bahwa dengan berbelanja bersama-sama dengan keluarga ataupun teman, mereka mengetahui mengenai produk yang akan di beli. 3. Gratification Shopping Kategori yang ketiga adalah gratification shopping dimana berbelanja merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi stress, mengatasi suasana hati yang buruk, dan berbelanja sebagai sesuatu yang special untuk dicoba serta sebagai sarana untuk melupakan problem-problem yang sedang di hadapi. Jadi dengan berbelanja diharapkan dapat menghilangkan atau mengurangi stress. 4. Idea Shopping Kategori yang ke empat adalah idea shopping dimana konsumen bebelanja untuk mengikuti trend model-model fesyen yang baru, dan untuk melihat produk serta inovasi yang baru. Dalam kategori ini, biasanya konsumen berbelanja karena melihat sesuatu yang baru dari iklan-iklan yang ditawarkan di media massa. Dengan demikian konsumen juga melakukan proses pembelajaran mengenai trend baru dan mendapat informasi mengenai tren-tren yang lama. 5. Role Shopping Kategori yang kelima adalah role shopping dimana banyak konsumen lebih suka berbelanja untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri, seperti memberi hadiah pada orang lain. Oleh karena itu, konsumen merasa bahwa berbelanja untuk orang lain adalah sangat menyenangkan daripada berbelanja untuk diri sendiri. Selain itu, dengan berbelanja untuk orang lain (keluarga atau teman) adalah sesuatu yang istimewa sehingga dengan demikian mereka merasa senang. 6. Value Shopping Kategori ke enam adalah value shopping dimana konsumen menganggap bahwa berbelanja merupakan suatu permainan yaitu pada saat tawar menawar harga, atau pada saat konsumen mencari tempat perbelanjaan yang menawarkan diskon, obrolan ataupun tempat perbelanjaan dengan harga murah. Sehingga Hedonic Shopping Motivations merupakan faktor penting untuk menjelaskan proses terbentuknya konsumen yang loyal. Dalam konteks hedonic shopping motivations, motivasi didefinisikan sebagai alasan yang mendorong tingkah laku pada kepuasan kebutuhan. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor hedonic shopping motivation dapat mempengaruhi konsumen dalam pengambilan keputusan dalam berbelanja.
Pengertian Hedonic Shopping Motivation (skripsi dan tesis)
Motivasi manusia pada dasarnya banyak macamnya salah satunya adalah motivasi hedonis. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup (Wikipedia, Diakses 19 Desember 2016). Dalam kehidupannya, manusia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan yang mendasar (sandang, pangan dan papan) sampai pada kebutuhan akan aktualisasi diri. Definisi Hedonic Shopping Motivation menurut Utami (2010:47) adalah: “Hedonic shopping motivation adalah motivasi konsumen untuk berbelanja karena berbelanja merupakan kesenangan tersendiri sehingga tidak memperhatikan manfaat dari produk yang dibeli” Sedangkan menurut Setiadi Nugroho J (2011:28) definisi Hedonic Shopping Motivation adalaha sebagai berikut: “Hedonic Shopping Motivation adalah motivasi yang didasarkan pada pemikiran yang subjekif atau emosional, kesenangan panca indera, mimpi, dan pertimbangan estesis”. Dari definisi diatas peneliti sampai pada pemahaman bahwa hedonic shopping motivation adalah motivasi konsumen berbelanja yang didasarkan pada pemikiran subjektif karena berbelanja merupakan hal yang menyenagkan sehingga tidak memperhatikan manfaat produk itu sendiri. Perilaku berbelanja hedonik mengacu pada rekreasional, hal-hal yang menyenangkan, pengaruh intristik dan motivasi yang berorientasi stimulasi emosi diri. Sehingga hedonik merupakan faktor penting yang berkaitan dengan store atmosphere yang baik, apabila atmosfir toko yang baik dan sesuai dengan harapan konsumen, maka para hedonik merasakan kegembiraan yang emosional, petualangan, gairah, dan kenikmatan dalam berbelanja. Variabel tersebut menjadikan konsumen datang kembali dan setia (loyalitas) untuk membeli, dan merasakan shopping experience di toko tersebut.
Tujuan Store Atmosphere (skripsi dan tesis)
Toko harus membentuk suasana terencana yang sesuai dengan pasar sasarannya dan yang dapat menarik konsumen untuk membeli. Menurut Sulaksana (2011) menjelaskan bahwa store atmosphere berusaha untuk mempengaruhi keadaan emosional dalam toko yang mungkin tidak disadari sepenuhnya oleh konsumen di saat mereka berbelanja. Keadaan emosional ini biasanya melekat agak lama dan mempengaruhi perilaku dalam toko secara tidak disadari.
Pengertian Store Atmosphere (skripsi dan tesis)
Store atmosphere (suasana toko) merupakan salah satu unsur dari retailing mix yang juga harus diperhatikan oleh suatu bisnis ritel. Definisi Store atmosphere menurut Kotler dan Keller (2012 : 177) yang dialih bahasakan oleh Benyamin Molan adalah: “Store atmosphere merupakan unsur senjata lain yang dimiliki toko. Setiap toko mempunyai tata letak fisik yang memudahkan atau menyulitkan pembeli untuk berputar-putar didalamnya”. Sedangkan menurut Berman dan Evans (2010:62) definisi store atmosphere adalah: “Atmosphere refers to the store’s physical characteristics that are used to develop an image and draw customers for a nonstore based firm, atmosphere refers to physic characteristic of catalogs, vending machines, web sites and soforth.” Berdasarkan beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa store atmosphere adalah kegiatan merancang lingkungan melalui komunikasi visual, pencahayaan, warna, musik dan aroma yang merangsang tanggapan pelanggan dalam suatu toko dengan menentukan karakteristik toko tersebut melakukan pengaturan dan pemilihan fasilitas fisik dan aktivitas barang. Suasana yang terbentuk pada akhirnya akan menciptakan image dari toko, menimbulkan kesan yang menarik dan menyenangkan bagi konsumen untuk melakukan pembelian. Setiap toko mempunyai penampilan. Toko harus membentuk suasana terencana yang sesuai dengan pasar sasarannya dan yang dapat menarik konsumen untuk membeli. Penampilan eceran toko memposisikan eceran toko dalam benak konsumen. Menurut Kotler & Keller (2012) yang di alih bahasakan oleh Benyamin Molan pengaruh keadaan toko adalah dari karakter keadaan toko, seperti arsitektur, tata letak, penanda, pemajangan, warna, pencahayaan, temperatur, musik serta aroma Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bagi sebuah toko, penting untuk menonjolkan tampilan fisik, suasana toko berguna untuk membangun citra dan menarik minat pelanggan. Banyaknya pengertian dan jabaran di atas menunjukkan manfaat dari penataan lingkungan sebuah toko yang kaitannya dengan membangun kesan dan kenyamanan pengunjung, sebab lingkungan toko yang nyaman pada akhirnya akan menjadi fleksibel sebagai media membangun citra toko.
Bauran Ritel (skripsi dan tesis)
Usaha ritel membutuhkan strategi-strategi terpadu, agar didalam pengambilan suatu keputusan tidak menyebabkan kerugian bagi perusahaan ritel. Bauran penjualan ritel terdiri dari beberapa unsur strategi yang digunakan untuk mendorong pembeli melakukan transaksi dengan pedagang ritel tertentu. Definisi bauran ritel menurut Levy, Weitz (2012:25) yang di alih bahasakan oleh Pricilia Adji dan Hartono Subagio (2013:1) adalah sebagai berikut: “Bauran ritel adalah kombinasi dari faktor dari pengecer yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mempengaruhi keputusan pembelian mereka.” Sedangkan menurut Kotler Keller (2011:215) yang di alih bahasakan oleh Benyamin Molan (2012:5) definisi retailing mix adalah: “Retailing mix adalah semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa langsung kepada konsumen akhir yang mempengaruhi keputusan pembelian untuk penggunaan pribadi dan non-bisnis”. Berdasarkan beberapa definisi mengenai retailing diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bisnis eceran (retailing) merupakan suatu jenis usaha jasa perdagangan yang merupakan saluran terakhir dalam distribusi barang dan jasa dari produsen kekonsumen akhir untuk tujuan kegunaan pribadi ataupun keluarga. Menurut Levy, Weitz (2012:22) yang di alih bahasakan oleh Pricilia Adji dan Hartono Subagio (2013:5) dalam buku Manajemen Ritel menjelaskan retailing mix terdiri dari: a) Pemilihan barang dagangan Barang yang tersedia dan dijual oleh suatu retail. Kelengkapan barang-barang yang tersedia dalam suatu retail mempengaruhi konsumen terhadap pertimbangan konsumen dalam memilih ritel untuk melakukan pembelian. b) Penetapan harga Nilai barang-barang yang dijual yang dihitung dalam satuan uang. Harga yang dijangkau merupakan salah satu pertimbangan oleh para konsumen dalam melakukan pembelian. c) Lokasi Lokasi dari suatu retail harus strategis dan mudah dijangkau agar konsumen mudah untuk mendatangi retail tersebut. d) Suasana Lingkungan Toko Suatu kegiatan merancang suasana pembelian yang nyaman menyenangkan melalui kombinasi visual dan non visual yang terdapat dalam retail tersebut. e) Iklan dan Promosi Berkaitan dengan kegiatan yang bertujuan memperkenalkan dan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh konsumen dari suatu retail f) Penjualan langsung Penjualan barang yang langsung dilakukan oleh tenaga penjual yang terlatih kepada konsumen. g) Pelayaan Kegiatan yang dilakukan oleh pihak retailer dalam melayani konsumen baik pada saat pembelian maupun pada saat pasca pembelian. Bauran ritel sangat penting bagi perusahaan, menurut Christina Widya Utami (2010:87) berikut ini merupakan bauran dari retail mix (penjualan eceran) yaitu terdiri dari: 1. Lokasi toko (store location) Lokasi akan mempengaruhi jumlah dan jenis konsumen yang akan tertarik untuk datang ke lokasi yang strategis, mudah dijangkau oleh sarana transportasi yang ada, serta kapasitas parkir yang cukup memadai bagi konsumen. 2. Pelayanan (operation prosedure) Pelayanan eceran bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada konsumen potensial dalam belanja atau mengenal tempat barang atau jasa yang disediakan. 3. Produk (merchandising) Merupakan perencanaan dan pengendalian dalam pembelian dan penjualan barang dan jasa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan pengecer. 4. Harga (pricing tactics) Harga merupakan faktor utama penentuan posisi dan harus diputuskan sesuai dengan pasar sasaran, bauran ragam produk, dan pelayanan, serta persaingan. 5. Karyawan toko (costumer service) Pramuniaga yang berkualitas akan menunjang suatu perusahaan untuk dapat mempertahankan konsumenya, perusahaan yang mampu membayar lebih pramuniaganya, akan mendapatkan keuntungan yang lebih dari kompetitornya. 6. Promosi (promotion) Aktivitas yang dibutuhkan penjual eceran untuk menarik dan membujuk konsumen untuk membeli barang. Dari uraian diatas maka penulis sampai pada pemahaman bahwa perusahaan harus mempertimbangkan unsur terpadu yang terdapat pada bauran ritel, agar mndorong pembeli melakukan transaksi dan mencapai pasar sasaran. Perusahaan eceran harus mempertimbangkan unsur-unsur bauran ritel ketika menyusun rencana pemasaran pada usaha eceran, agar aktifitas penjualan barang kepada konsumen akhir dapat berjalan dengan baik.
Tipe – Tipe Ritel (skripsi dan tesis)
Didalam bisnis ritel terdapat beberapa jenis organisasi eceran. Tipe-tipe organisasi ritel tersebut dibagi kedalam beberapa kelompok. Menurut Levy, Weitz (2012:35) yang di alih bahasakan oleh Pricilia Adji dan Hartono Subagio (2013) ritel dibagi menjadi 3 bagian utama yakni: food retailer, general merchandise retailer, dan non store retailer. 1. Food Retailer a. Supermarket Supermarket konvensional biasanya mempersilahkan pengunjung untuk melayani dirinya sendiri dalam mencari kebutuhan , seperti kebutuhan pangan sehari-hari, perlengkapan yang bukan termasuk makanan seperti perawatan kesehatan, pakaian, bahan pertanian, perlengkapan kantor, perlengkapan bangunan, kecantikan, barang elektronik dan lainnya. b. Supercenter Supercenter adalah jenis ritel yang cepat berkembang, dengan luas toko sekitar 150.000-220.000 meter persegi, dan dikombinasikan dengan diskon lini penuh. Akan tetapi karena toko yang begitu besar, kebanyakan pelanggan merasa tidak nyaman karena untuk mencari produk yang diinginkan lebih memakan waktu. c. Hypermarket Hypermarket merupakan salah satu jenis ritel yang berkembang, didalam toko yang kira-kira memiliki luas 100.000-300.000 mampu menampunh sekitar 40.000 sampai 60.000 jenis barang yang terdiri dari barang eceran, perangkat keras, perlengkapan olahraga, furniture, dan barang elektronik 28 yang dapat dijual hypermarket. d. Warehouse Club Warehouse club adalah jenis ritel yang menawarkan jenis makanan dan general merchandise yang terbatas dengan sedikit pelayanan dan tingkat harga yang relatif rendah untuk para konsumen akhir dan bisnis kecil. e. Convenience Store Convenience store atau toko kebutuhan sehari-hari memberikan aneka ragam barang kebutuhan yang terbatas dengan lokasi yang terjangkau dengan luas sekitar 2.000-3.000 meter persegi. Hal ini menggambarkan bahwa toko kebutuhan sehari-hari dengan pelayanan sendiri secara fisik berlokasi dekat dengan tempat tinggal penduduk. Namun, harga barang yang ditawarkan lebih tinggi daripada harga barang di pasar swalayan. 2. General Merchndise Retailer General merchandise store adalah sebuah toko yang menjual berbagai macam barang atau berbagai macam product line. General merchandise retailer dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: 1. Department store Department store adalah jenis ritel yang memuat berbagai macam barang dan perlengkapan, menyajikan customer service, dan mengatur toko menjadi beberapa departemen yang terpisah dan tidak sama untuk penataan merchandise. 2. Full-line discount store Full-line discount storeadalah jenis ritel yang menawarkan jenis barang yang bervariasi, pelayanan terbatas, dan harga yang rendah. 3. Speciality store Speciality store adalah jenis ritel yang berkonsentrasi pada jenis barang tertentu dan memberikan pelayanan yang sangat tinggi dalam toko yang relative kecil. Contohnya seperti toko emas, toko elektronik, dan laim-lain. 4. Drugstore Drugstore adalah salah satu ritel khusus yang mengkonsentrasikan usahanya pada barang-barang kesehatan dan barang perawatan pribadi dan cenderung menawarkan produk-produk dan jasa yang berkaitan dengan farmasi. 5. Category specialists Category specialists adalah jenis ritel yang menyediakan diskon dengan ukuran yang besar. Ritel ini dasarnya adalah discount speciality store, dengan menawarkan barang-barang yang lengkap dengan harga murah. 6. Extreme value retailers Extreme value retailers adalah sebuah ritel dengan toko kecil dan termasuk toko diskon dengan lini penuh dan menawarkan barang dagangan yang terbatas dengan harga yang sangat murah. 7. Off-price retailers Off-price retailers adalah jenis ritel yang menawarkan barang-barang bermerek yang tidak menentu dan dengan harga yang murah. Kebanyakan barang- barang off-price retailers dibeli dari perusahaan atau peritel lain yang mempunyai kelebihan produk atau barang dagangan di akhir musim. Barang-barang tersebut mungkin saja tidak mempunyai ukuran yang tidak biasa, warna dan model yang tidak popular, atau memiliki cacat produksi sehingga dijual dengan harga yang murah. 3. Non Store Ritailer Non-Store Ritailer adalah setiap penjualan yang terjadi pada konsumen akhir yang tidak terjadi melalui saluran ritel tradisional atau melalui ruang ritel fisik. Non-Store Ritailer dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: a. Electronic retailers Electronic retailers adalah jenis ritel dimana peritel berkomunikasi dengan konsumen dan menawarkan barang dan jasa yang dijual melalui internet. Kebanyakan peritel yang menawarkan produknya melalui internet mempunyai pasar sasaran yang kecil dan tidak ekonimis apabila dilayani oleh toko. b. Catalog and direct mail retailers Catalog and direct mail retailers adalah format ritel bukan toko, dimana peritel menawarkan produknya dan mengkomunikasikannya kepada konsumen dengan menggunakan catalog, sedangkan direct mailretailers mengkomunikasikan produknya pada konsumen dengan menggunakan surat atau brosur. c. Direct selling Direct selling adalah format ritel yang menggunakan sales people secara langsung dalam mengkomunikasikan produknya kepada konsumen dengan cara mendatangi rumah atau kantor konsumen dan mendemonstrasikan nilai dan keunggulan dari barang yang dijual. d. Television home shopping Television home shoppingadalah jenis ritel dimana konsumen menonton program TV yang merekomendasikan barang dagangan dan menempatkan pesanan dari barang tersebut melalui telepon. Hal ini berati tidak melayani konsumen secara langsung. e. Vending machine retailing Vending machine retailing adalah format ritel yang bukan merupakan toko, dimana produk yang dijual disimpan dalam sebuah mesin dan diberikan kepada konsumen apabila mereka menyetorkan uang tunai atau menggunakan kartu kredit. Vending machine retailingbiasanya ditempatkan di lokasi yang mudah terlihat dan banyak orang yang berlalu lalang, seperti perkantoran, sekolah,kampus. f. Service retailing Service retailing adalah jenis ritel yang lebih banyak menyediakan pelayanan daripada barang yang dijual, atau bahkan hanya menjual jasa.
Pengertian Ritel (skripsi dan tesis)
Bagian dari perekonomian yang menjadi salah satu bagian yang terpenting adalah adanya perantara dalam saluran pemasaran, adalah pengecer sebagai penyalur terakhir kepada konsumen. Pengertian retailing menurut Kotler (2012:535) adalah: “Retailing includes all the activities involved in selling goods or service directly to final consumer for their personal non business use”. Sedangkan menurut Levy, Weitz (2012:20) Retailing mix adalah: “Set of discusions retailers make to satisfy customer needs and influence their purchase decisions. Elements in retail mix include the types of promotional program, store design, merchandise display, assistance to customers provided by sales people, and convenience of the store’s location”. Berdasarkan pengertian diatas penulis sampai pada pemahaman bahwa perdagangan eceran adalah suatu kegiatan menjual barang dan jasa kepada konsumen akhir. Perdagangan eceran ini sangat penting artinya bagi produsen, karena melalui pengecer produsen dapat memperoleh informasi berharga tentang produknya. Produsen dapat memperoleh data dari pengecer, pandangan konsumen mengenai bentuk, rasa dan daya tahan, harga dan segala sesuatu mengenai produknya. Juga dapat diketahui mengenai kekuatan pesaing. Kegiatan yang dilakukan dalam bisnis ritel adalah menjual berbagai produk dan jasa, atau keduanya, kepada para konsumen untuk keperluan konsumsi pribadi, tetapi bukan untuk keperluan bisnis dengan memberikan upaya terhadap penambahan nilai terhadap barang dan jasa tersebut. Para peritel harus terus mencoba untuk memuaskan kebutuhan-kebuthan konsumen dengan mencoba memenuhi kesesuaian barang-barang yang dimilikinya, pada harga, tmpat dan waktu seperti yang diinginkan pelanggan.
Bauran Pemasaran (skripsi dan tesis)
Strategi pemasaran atau biasa dikenal dengan marketing mix, adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pemasaran. Melalui bauran pemasaran ini perusahaan dapat menentukan strategi pemasaran yang efektif diperlukan kombinasi dan elemen-elemen buran pemasaran. Dalam bauran pemasaran terdapat variable-variabel yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Variable-variabel dalam bauran pemasaran tersebut dapat membuat strategi yang digunakan oleh perusahaan akan lebih baik dan mengarah kepada pemenuhan kebutuhan dan keinginan pasar sasarannya. Definisi bauran pemasaran menurut djasalim Saladin (2011:3) adalah sebagai berikut: “Bauran pemasaran adalah serangkaian dari variabel pemasaran yang dapat dikuasai oleh peruahaan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pasar sasaran. Rangkaian variabel atau unsur-unsur itu adalah produk, harga, tempat, dan promosi.” Sedangkan definisi bauran pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2013:80) adalah: “Marketing mix is the set of tactical marketing tools that the firm blends to produce the response it wans in target market”. Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran adalah kumpulan alat pemasaran yang digunakan oleh pemasaran untuk mencapai target pasar agar target peusahan dapat tercapai. Dalam bauran pemasaran terdapat seperangkat alat pemasaran yang dikenal dalam istilah 4P, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat atau saluran distribusi), dan promotion (promosi), sedangkan dalam pemasaran jasa memiliki beberapa alat pemasaran tambahan seperti people (orang), process (proses) dan physical evidence (fasilitas fisik), sehingga dikenal dengan istilah 7P. Adapun pengertian 7P menurut Kotler dan Keller (2012:25) yang di alih bahasakan oleh Benyamin Molan (2012) yaitu: 1. Produk Produk (product), adalah mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan mengubah produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil tindakan yang lain yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau jasa. 2. Harga Harga (price), adalah suatu sistem manajemen perusahaan yang akan menentukan harga dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos angkut dan berbagai variabel yang bersangkutan. 3. Distribusi Distribusi (place), adalah yakni memilih dan mengelola saluran perdagangan yang dipakai untuk menyalurkan produk atau jasa dan juga untuk melayani pasar sasaran, serta mengembangkan sistem distribusi untuk pengiriman dan perniagaan produk secara fisik. 4. Promosi (promotion), adalah suatu unsur yang digunakan untuk memberitahukan dan membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru pada perusahaan melalui iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan, maupun publikasi. 5. Sarana Fisik Sarana fisik (physical evidence), merupakan hal nyata yang turut mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan. Unsur yang termasuk sarana fisik antara lain, lingkungan atau bangunan fisik, peralatan, perlengkapan, logo, warna dan barang-barang lainnya. 6. Orang Orang (people), adalah semua pelaku yang memainkan peranan penting dalam penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli. Elemen dari orang adalah pegawai perusahaan, konsumen, dan konsumen lain. Semua sikap dan tindakan karyawan, cara berpakaian karyawan dan penampilan karyawan memiliki pengaruh terhadap keberhasilan penyampaian jasa. 7. Proses Proses (process), adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan aliran aktivitas yang digunakan untuk menyampaikan jasa. Elemen proses ini memiliki arti sesuatu untuk menyampaikan jasa. Proses dalam jasa merupakan faktor utama dalam bauran pemasaran jasa seperti pelanggan jasa akan senang merasakan sistem penyerahan jasa sebagai bagian jasa itu sendiri. Berdasarkan teori diatas penulis dapat simpulkan bahwa alat-alat bauran pemasaran tersebut digunakan untuk mempengaruhi saluran perdagangan dan konsumen akhir. Bauran pemasaran mencerminkan pandangan penjual terhadap alat pemasaran yang tersedia untuk mempengaruhi pembeli. Dari sudut pandang pembeli, setiap alat pemasaran dirancang untuk memberi manfaat bagi pelanggan.
Pengertian Pemasaran (Marketing) (skripsi dan tesis)
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting bagi perusahaan, dimana pemasaran merupakan aktifitas yang dapat menghasilkan keuntungan dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan (Irma Fitriani,2013:19). Masyarakat awam pada umumnya sering kali menyamakan pemasaran dengan penjualan. Pandangan ini terlalu sempit karena penjualan hanya merupakan salah satu dari beberapa aspek yang ada di pemasaran.pemasaran selalu berusaha mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen pasar sasarannya serata bagaimana memuaskan mereka melalui proses pertukaran dengan tetap memperhatikan semua pihak dan tujuan yang terkait dengan kepentingan perusahaan. Bagi perusahaan pemasaran sangat penting karena aktivitas pemasaran bertujuan untuk menciptakan, menawarkan, dan melakukan pertukaran produk, baik berupa barang atau jasa yang memungkinkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk sehingga perusahaan diharapkan mampu menciptakan nilai bagi pelanggan dan mendapatkan nilai dari pelanggan sebagaiimbalan bagi perusahaan atau keuntungan, demi kelangsungan hidup perusahaan dan untuk perkembangan perusahaan.Maka kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan manusia yang berlangsung dalam kaitannya dengan pasar. Pemasaran (Marketing) mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Menurut The American Marketing Association yang dikutip oleh Kotler dan Keller (2012:5) pemasaran adalah sebagai berikut: “Marketing is the activity, set of institutions, and process for creating, communicating, delivering, and exchaging offerings that have value for cutomers, clients, and society at large”. Sedangkan menurut Danang Sunyoto (2014:14) definisi pemasaran adalah sebagai berikut: “Kegiatan manusia yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan langganan melalui proses pertukaran dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Dari beberapa definisi di atas, penulis sampai pada pemahaman bahwa pengertian pemasaran merupakan proses aktivitas pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan menciptakan, menawarkan dan melakukan pertukaran produk yang bernilai bagi pelanggan dan perusahaan mendapatkan nilai atas proses aktivitas tersebut berupa keuntungan dan hubungan yang kuat dengan pelanggan. Pemasaran meliputi seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pembuatan suatu produk, penetapan harga, promosi dan pendistribusian produk yang dapat diperoleh melalui proses pertukaran yang merupakan dasar untuk intisari dari pemasaran. Dengan demikian, maka segala aktivitas perusahaan, harusnya diarahkan untuk dapat memuaskan konsumen yang pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh laba.
Pengertian Manajemen (skripsi dan tesis)
Pengertian Manajemen Manajemen mempunyai arti yang sangat luas, dapat berarti proses, seni, ataupun ilmu. Dikatakan proses karena manajemen memiliki beberapa tahapan dalam mencapai tujuan yaitu meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Dikatakan sebagai seni karena manajemen merupakan suatu cara atau alat bagi seorang manajer dalam mencapai tujuan di mana penerapan dan penggunaannya tergantung pada masing-masing manajer yang sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi dan pembawaan manajer itu sendiri. Berikut menurut George. R. Terry dalam Afifudin (2011:16) mendefinisikan manajemen sebagai berikut: “Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri atas tindakantindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian untuk menentukan serta mencapai tujuan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya”. Sedangkan menurut Appley dan Oey Liang Lee (2011:16) mendefinisikan manajemen sebagai berikut: “Manajemen adalah seni dan ilmu, dalam manajemen terdapat strategi memanfaatkan tenaga dan pikiran orang lain untuk melaksanakan suatu aktivitas yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”. Berdasarkan bebrapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah merupakan ilmu dan seni. Manajemen ini disebut ilmu karena manajemen mengandung ilmu pengetahuan dan disebut sebagai seni karena seorang manajer dalam pengambilan keputusan untuk menggerakkan bawahannya harus dapat menciptakan suasana yang harmonis dan penuh semangat, proses koordinasi ini pun meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian dalam suatu organisasi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Faktor-faktor Karaktristik Kepercayaan (skripsi dan tesis)
(Wood dan Mc Dermott, 1999): a. Kredibilitas (Credibility) Kredibiilitas adalah alasan yang masuk akal untuk bisa dipercayai. Seseorang yang memiliki kredibilitas berarti kita bisa mempercayai karakter dan kemampuanya, (Kusumawati, 2007). Bagian-bagian kredibilitas menurut Gass dan Seiter (1999) yaitu, 1) Ahli (Expert) Dalam keperawatan tenaga ahli merupakan tenaga berprofesional. Dalam keprofesional terdapat bebrapa karakteristik antara lain, suatu profesi memerlukan pendidikan lanjut dari anggotanya, demikian juga landasan dasarnya. Suatu profesi memiliki kerangka pengetahuan teoritis yang mengarah pada keterampilan, kemampuan dan norma-norma tertentu. Suatu profesi memberikan pelayanan tertentu. Profesi memiliki otonomi untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan. Dan profesi sebagai suatu kesatuan memiliki kode etik untuk melakukan praktik keperawatan. 2) Terpercaya (Trustworthy) Terpercaya adalah tidak ada penolakan sehubungan dengan ide-ide yang dikeluarkannya. Terpercaya timbul karena seseorang mempercayai kepada orang lain. Mempercayai artinya rela menghadapi resiko menerima akibat-akibat yang menguntungkan atau merugikan dengan menjadikan dirinya rentan kepada orang lain (Jalalludin, 1992). Munculnya suatu kepercayan ini dipengruhi oleh pengalaman menguntungkan. Sedangkan orang yang dipercayai berarti rela menanggapi orang lain yang ambil resiko dengan cara menunjukan jaminan bahwa orang lain tersebut akan menerimma akibat-akibat yang menguntungkan (Johnson, 1981). Untuk menjadi terpercaya perawat harus menumbuhkan kepercayaan klien dengan membina hubungan saling percaya perawat pasien. Menurut Budi anna keliat 1992 membina hubungan saling percaya perawaat terhadap pasien antara lain meliputi, a) Hubungan Traupetik Hubungan traupetik adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang teraupetik (Budi Anna Keliat, 1992). Hubungan taraupetik perawat pasien merupakan pengalamamn belajar timbal balik dan pengalaman emosional korektif bagi pasien. Dalam hubungan ini, perawat menggunakan diri (self) dan teknik-teknik klinis tertentu dalam mengani pasien untuk meningkatkan pemahaman dan perubahan perilaku pasien (Stuart dan Sundeen, 1998). Menurut Stuart dan Sundeen 1998 hubungan teraupetik mempunyai dua dimensi yaitu, (1) Dimensi responsif mencakup kesejatian, hormat, empati, respek dan kekongkritan. Dimensi ini penting dalam fase orientasi hubungan untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi terbuka. (a) Kesejatian Pengiriman pesan kepada orang lain tentang gambaran diri kita yang sebenarnya (Smith, 1992. Dikutip Intansari Nurjana, 2005). Kesejatian dapat ditunjukan dengan kesamaan antara verbal dan non verbal (kongruen). Kongruen dapat menimbulkan kepercayaan kepada perawat (Smith, 1992). (b) Hormat Menunjkan bahwa pasien diperlakukan sebagai individu yang berharga dan diterima tanpa syarat. (c) Empati Empati adalah kemampuan menempatkan diri kita pada diri orang lain dan bahwa kita telah memahami bagaimana perasaan orang lain tersebut dan apa yang menyebabkan reaksi mereka tanpa emosi kita terlarut dalam emosi orang lain (Smith, 1992). Beberapa aspek dari empati adalah sebagai berikut (Smith, 1992) 1) Aspek Mental Kekmampuan melihat dunia dengan orang lain dengan menggunakan paradigma orang lain tersebut. Aspek mental juga berarti memahami orang secara emosional dan intelektual 2) Aspek Verbal Kemampuan mengungkapkan secara verbal pemahaman terhadap perasaan dan alasan reaksi emosi klien. Aspek verbal memerlukan keakuratan (ketepatan), kejelasan dan kealamiaan (naturalnes). 3) Aspek Non Verbal Diperlukan dalam aspek non verbal adalah kemampuan menunjukan empati dengan kehangatan dan kesejatian. (d) Respek Menurut Egan (1990), respek adalah mengahargai orang hanya karena mereka adalah manusia, dan respek tanpa syarat bukan berarti bahwa penolong sesalu menyetujui perilaku klien tetapi ia tidak berada dalam posisi untuk mengahakimi. Resprek merupakan perilaku yang menunjukan perhatian, rasa suka dan menghargai klien (Stuart dan Sundeen, 1998) (e) Kongkret Perawat menggunakan terminologi yang spesifik dan bukan abstrak pada saat mendiskusikan dengan klien mengenai perasaan, pengalaman, dan tingkah lakunya. Fungsi dari kongkret adalah dapat mempertahankan resopon perawat terhadap perasaan klien, penjelasan dengan akuarat tentang masalah dan mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik (Stuat dan Sundeen, 1998). (2) Dimensi yang berorentasi pada tindakan mencakup konfrontasi, kesegaran, pengungkapan diri perawat, katarsis emosional, dan bermain peran. Dimensi ini harus diimlementasikan dalam konteks kehangantan, penerimaan, dan pengertian yang di hubungan teraupetik dengan mengidentifikasi hambatan pertumbuhan pasien dan perubahan perilaku. (a) Konfrontasi Konfrontasi adalah proses interpersonal yang digunakan oleh perawat untuk memfasilitasi, memodifikasi dan perluasan dari gambaran orang lain (Smith, 1992 dikutip Intansari Nurjana 2005). Tujuan dari konfrontasi adalah agar orang lain sadar adanya ketidaksesuanan pada dirinya dalam hal perasaan, tingkah laku dan perasaan (Stuart dan Sundeen, 1998 dikutip Intansari Nurjana 2005) (b) Kesegaran Kesegaran mempunyai konotasi sebagai sensitifitas perawat pada perasaan klien dan kesediaan untuk mengatasi perasaan dari pada mengacuhkannya (Stuart dan Sundeen, 1998). Berespon dengan kesegaran berarti berspon pada apa yang terjadi antara perawat dan klien saat itu dan di tempat itu. Dimensi ini melibatkan perasaan dari perawat dan pasien dan kesegaran dapat menjadi suatu hal yang sulit untuk dicapai (Wilson dan Kneisel, 1983 dikutip Intansari Nurjana 2005). (c) Pengungkapan diri perawat Pengungkapan diri perawat adalah membuat orang lain mengetahui tentang pikiran, perasaan dan pengalaman pribadi perawat (Smith, 1992). (d) Katarsis emosional Katarsis emosional merupakan suatu dorongan perawat kepada klien nuntuk membicarakan hal-hal yang sangat menganggunya untuk mendapatkan efek teraupetik (Stuart dan Sundeen, 1998). (e) Bermain peran Bermain peran merupakan tindakan untuk menbangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan penghayatan klien ke dalam hubungan manusia dan memperdalam kemampuanya untuk melihat situasi dari sudut pandang lain dan juga memperkenankan klien untuk mencoba situasi baru dalam lingkungan yang aman (Stuart dan Sundeen, 1998). b) Komunikasi Terupetik Komunikasi teraupetik merupakan alat atau cara untuk membangun hubungan terupetik. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran (Stuart dan Sandeen 1987, dikutip oleh Budi anna keliat 1992). Komunikasi teruputik juga sebagai alat untuk mempengaruhi perilaku klien dan kemudian untuk mendapatkan keberhasilan dalam intervensi (Stuart dan Sandeen 1995, dikutip oleh Intansari Nurjana 2005). Koizer dan Erb 1983, dikutip oleh Budi anna keliat 1992, mengidentifikasi sikap untuk menghadirkan diri secara fisik yaitu, (1) Posisi Posisi berhadapan merupakan posisi yang paling ideal untuk melakukan teknik komunikasi yang teraupertik. Arti dari posisi berhadapan adalah bahwa perawat siap untuk mendengarkan pasien. (2) Vocal Nada keras atau lembut, kualitas, kecepatan dapat menunjukan suasana emosi. (3) Jarak Jarak dalam berkomunikasi terupetik dengan klien menggambarkan keintiman. (4) Memperthankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. (5) Membungkuk kearah klien Posisi membungkuk menunjukan keinginan untuk mengatakann atau mendengar sasuatu. (6) Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat tangan dan kaki menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi. (7) Tetap rileks Tetap dapt mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon pada klien (8) Sentuhan Sentuhan sangat penting dan mendasar sebagai alat komunikasi memperlihatkan kehangatan dan kasih sayang (Cluun, 1991 dikutip Budi anna keliat 1992). c) Hubungan Saling Membantu (Helping Relationship) Carl Rongers (1961, dalam Hidayat, 2008) secara intensif melakukan penelitian tentang komunikasi teraupetik. Rongers berpendapat bahwa komunikasi teraupetik bukan bukan tentang apa yang dilakukan seseorang, tetapi bagaimana seseorang itu melakukan komunikasi dengan oaring lain. Rongers mengidentifikasi tiga faktor dasar dalam mengembangkan hubungan saling membantu (Helping Relationship). Yaitu perawat harus benar-benar ikhlas, harus empati, dan individu yang dibantu harus merasa bebas untuk mengeluarkan segala sesuatunya tentang dirinya dalam menjalin hubungan. Dengan demikian ada tiga hal mendasar dalam mengembangkan hubungan saling membantu (Helping Relationship), yaitu: (1) Keiklasan (Genuineness) Untuk membantu klien, perawat harus menyadari tentang nilai, sikap, dan perasaan yang dimiliki klien. Apa yang dipikirkan dan dirasakan perawat tentang individu dan dengan siapa ia berinteraksi perlu selalu di komunikasikan baik sacara verbal maupun non verbal. Perawat yang mampu menujukan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap yang dipunyai klien sehingga mampu belajar unutuk mengkomunikasikanya secara tepat. Untuk menjadi lebih percaya diri tentang perasaan dan nilai-nilai yang dimiliki membutuhkan pengembangan diri yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan setiap saat, sehingga sekali perawat mampu apa yang dia inginkan untuk membantu memulihkan kondisi pasien dengan cara yang tidak mengancam, pada saat itu pula kapasitas yang dimiliki untuk mencapai hubungan yang saling menguntungkan akan meningkat secara bermakna. (Mundakir, 2006). Menurut Egan 1990 ada 6 prinsip ketulusan, yaitu; (a) Jangan terlalu menekan peran penolong. (b) Bersikap spontan tapi taktis (c) Hindari sikap mempertahankan diri (d) Konsisten (e) Terbuka (f) Bersikap nyaman. (2) Empati (Empathy) Empati merupakan perasaan (pemahaman dan penerimaan) perawat terhadap perasaan yang dialami klien, dan kemampuan merasakan dunia pribadi klien (Kalish 1974 dikutip Mundakir, 2006). Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif, dan tidak dibuat-buat (obyektif) yang didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Sebagai perawat yang empati, perawat harus berusaha keras untuk mengertahui secara pasti apa yang sedang dipikirkan dan dialami klien. Pada kondisi seperti ini, empati dapat di ekspresikan, melalui berbagai cara yang dapat dipakai ketika dibutuhkan, mengatakan sesuatu tentang apa yang dipikirkan perawat tentang klien, dan memperlihatkan kesadaran tentang apa yang saat ini sedang dialami klien. Empati membolehkan perawat untuk berpartisipasi sejenak terhadap sesuatu yang terkait dengan emosi klien. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindarkan penilaian bedasarkan kata hati (inpulsivejudgement) tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati dia akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas. Secara garis besar orang empati dibagi dalam proses deteksi keadaan afektif dan respon yang sesuai. Orang yang berhasil menumbuhkan rasa empati dalam dirinya dapat merasakan perasaan orang dan mampu memberiakn respon yang sesuai (Mundakir, 2006) (3) Kehangatan (Warmth) Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa cemas. Suasana yang hangat permisif, dan tanpa ada ancaman menunjukan rasa penerimaan perawat terhadap klien sehingga klien dapat mengekspresikan perasaannya secara lebih bebas dan mendalam. Kondisi ini akan membuat perawat mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk mengetahui kebutuhan klien. (4) Eksplorasi Perasaan Eksplorasi perasaan dilakukan terhadap hubungan seseorang dengan lingkungan luar atau interaksinya dengan orang lain. Bagi perawat eksplorasi perasaan merupakan hal yang perlu dilakukan agar perawat terbuka dan sadar terhadap perasaanya sehingga dia dapat mengontrol perasaan agar perawat dapat menggunakan dirinya secara teraupetik (Stuart dan Sandeen, 1998) Dalam tahap pra interaksi perawat dapat mengeksplorasi fantasi, ketakutan, kemampuan dan perasaanya sendiri sebelum bertemu dengan klien. Keterbukaan perawat terhadap perasaanya yang dilakukan pada tahap prainteraksi adalah merupakan suatu yang penting karena dengan hal terrsebut maka perawat mempunyai poin penting yaitu bagaimana responnya kepada klien dan bagaimana penampilannya terhadap klien sehingga klien percaya terhdap tindakan yang akan dilakukan terhadapnya (Intansari Nurjana, 2005). (5) Memberi Nasehat Dalam banyak situasi tidak hanya pantas tetapi diharpakan perawat untuk memberikan nasehat kepada klien. Untuk menjadi efektif dan dirasa sebagai empatik bukan sebagai pengganggu, maka nasehat harus diberikan hanya setelah pasien dibiarkan berbicara dengan bebas mengenai apa masalahnya, sehingga perawat mempunyai dasar informasi yang adekuat untuk membuat saran-saran yang mampu menyelesaikan masalah yang dialami pasien (Kaplan dan Sadock, 1997). (6) Jujur (honest) Pada umunnya setiap orang ingin merasa tenang dalam berhubungan dengan orang lain. Setiap orang ingin merasa aman dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Perasaan aman dan tenang akan diperolehnya dan ia tidak perlu curiga dengan orang lain. Ia merasa dirinya aman bila ia tidak merasa dirinya terancam oleh orang lain. Dengan kata lain setiap orang ingin kepastian akan sikap kejujuran orang lain terhadap dirinya. Jadi dalam merintis kepercayaan tentunya kejujuran dalam memberikan informasi tanpa ada yang ditutup-tutupi dan memberikan informasi sesuai dengan kenyatan real (apa adnya) adalah sangat pennting. (7) Peduli (caring) Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada di samping klien, dan bersifat caring sebagai media pemberi asuhan (Cooper & Burroughs, 1999). Marrner & Tomey (1994), menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan, inti dari praktek keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan semata-mata perilaku, tapi caring adalah cara yang memiliki makna dan memotifasi tindakan. Caring juga didefenisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth, 1999). (8) Kerahasiaan Kerahasiaan merupakan suatu kode etik perawat dalam jabatannya. Dalam kerahasiaan tentang penyakit pasien, perawat hendaknya berhati-hati untuk mengatakan perihal penyakit klien meskipun kepada keluarga terdekat. Kemungkinan akibat yang tidak baik akan terjadi jika perawat menceritakan perihal penyakit klien kepada orang lain. Selain kejadian-kejadian dalam rumah sakit hendaknya tidak diceritakan kepada orang lain yang tidak berkepentingan. Terkecuali kerahasiaan itu dapat di publikasikan jika ada persetujuan dari beberapa pihak yang berkepentingan atas dasar keselamatan orang banyak.
Kepercayaan (Trust) (skripsi dan tesis)
Pengertian Kata trust berasal dari bahasa Jerman yaitu Trost yang berarti kenyamanan (comfort) (Shaw, 1997). Dalam beberapa kasus seorang percaya kepada orang yang menunjukan bahwa dia layak untuk mendapat kepercayaan, karena kepercayaan sangat penting sebagai jaminan dari suatu hubungan dua orang atau lebih dalam menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik (Jalalluddin, 1992). Kepercayaan adalah keinginan suatu pihak untuk menjadi pasrah atau menerima tindakan dari pihak lain beerdasarkan pengharapan bahwa pihak lain tersebut akan melakukan suatu tindakan tertentu yang penting bagi pihak yang memberi kepercayaan (Lendra, 2004). Menurut Giffin (Jalalluddin, 1992) secara ilmiah percaya didefinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi penuh resiko. Dari definisi tersebut Jalalluddin menyebutkan tiga unsur percaya yaitu ada suatu yang menimbulkan resiko, ada orang menaruh kepecayaan kepada orang lain, dan ada orang yang yakin bahwa perilaku akan berakibat baik baginya Kepercayaan (Trust) (skripsi dan tesis)
Faktor motivasi (skripsi dan tesis)
Orang – orang tidak hanya berbeda dalam kemampuan untuk berbuat, akan tetapi juga berbeda dalam kemauan untuk berbuat atau motivasi. Motivasi seseorang kepada kekuatan motif mereka. Motif kadang – kadang didefinisikan sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan atau gerak hati dalam individu (Moekijat, 2002). Tingkah laku manusia tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor internal dan eksternal. Dengan adanya faktor – faktor tersebut menjadikan setiap manusia memiliki tingkah laku yang berbeda – beda. Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia adalah sebagai berikut (Walgito, 2002): a. Faktor Internal 1) Jenis kelamin Tingkah laku antara pria dan wanita mempunyai perbedaan, hal ini terjadi karena pengaruh hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Oleh karena itu pria cenderung lebih termotivasi melakukan sesuatu karena fisik yang kuat (Walgito, 2002). Jenis kelamin merupakan aspek identitas yang sangat berarti, wanita dan pria mempunyai pengalaman yag berbeda tentang pembentukan identitas jenis kelamin. Identitas jenis kelamin terbentuk sekitar usia tiga tahun. Anak laki-laki dan perempuan mulai mengenal tingkah laku dan ciri-ciri kepribadian yaang sesuai bagi masing-masing jenis kelaminnya (Peek dalam Nungki, 2007) Wanita dan pria mempunyai perbedaan secara psikologis dimana wanita lebih emosional daripada pria karena wanita lebih mudah tersinggung, mudah terpengaruh, sangat peka, menonjolkan perasaan, dan mudah meluapkan perasaan. Sementara pria tidak emosional, sangat objektif, tidak mudah terpengaruh, mudah memisahkan antara pikiran dan perasaan sehingga terkadang kurang peka dan mampu memendam perasaannya (Dagun dalam Nungki, 2007). 2) Sifat fisik Tingkah laku seseorang dikaitkan dengan tipe fisiknya, orang yang pendek, gemuk adalah tipe piknis yang cenderung senang bergaul, ramah. Sehingga orang dengan tipe piknis akan lebih mempunyai 11 motivasi karena mereka mudah menerima saran dari orang lain (Walgito, 2002). 3) Sifat kepribadian Kepribadian adalah corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap rangsang dari dalam diri maupun lingkungannya, sehingga corak dan cara kebiasaannya itu merupakan kesatuan fungsional yang khas pada manusia itu. Sehingga orang yang berkepribadian pemalu akan mempunyai motivasi berbeda dengan orang dengan kepribadian keras (Walgito, 2002). Corak kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian itu bersifat dinamis artinya selama individu masih tetap belajar dan bertambah pengetahuan, pengalaman serta keterampilannya, ia akan semakin matang dan mantap. Pada usia lanjut yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi baik, kecuali mereka dengan masalah kesehatan jiwa atau tergolong patologik. Kepribadian juga dapat diartikan sebagai sesuatu atau figur diri yang ingin ditunjukkan atau ditampilkan didalam keseharian yang ditunjunjukkan melalui sikap atau tingkah laku seseorang. Kepribadian juga dapat dirubah dan dapat juga tergantung pada presepsi atau pendapat orang. Sesuai dengan apa yang diinginkan yang akan ditunjukkan dihadapan orang lain. 4) Intelegensia Intelengensia merupakan seluruh kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta efektif, sehingga orang yang mempunyai intelegensia tinggi akan lebih mudah menyerap informasi, saran dan nasehat dari perawat dalam meningkatkan kesehatannya (Walgito, 2002). b. Faktor Eksternal 1) Lingkungan Lingkungan adalah sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun lingkungan sosial. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap tingkah laku manusia. 2) Pendidikan Pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan dan segala bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal maupun informal. Hasil dari proses belajar adalah seperangkat perubahan tingkah laku. Seseorang yang berpendidikan tinggi tingkah lakunya akan berbeda. 3) Pengetahuan Besar kecilnya pengetahuan yang dimiliki seseorang akan berpengaruh pada tingkah lakunya 4) Kebudayaan Kebudayaan antar daerah berbeda – beda dan ini sangat berpengaruh pada tingkah lakunya. 5) Sosial ekonomi Lingkungan sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Keadaaan ekonomi keluarga yang relatif mencukupi akan mampu manyediakan fasilitas dan kebutuhan untuk keluarganya. Sehingga pasien yang mempunyai tingkat sosial ekonomi tinggi akan mempunyai motivasi yang berbeda dengan pasien yang tingkat sosial ekonominya rendah. Pernyataan lain tentang faktor yang mempengaruhi motivasi adalah kepribadian, sikap, pengalaman, cita – cita atau harapan, dorongan orang tua, saudara dan lingkungan sekitar. Sebenaarnya kedua pernyataan diatas saling mendukung hanya saja pernyataan yang pertama tadi sudah diklasifikasikan untuk pengaruh internal dan eksternal. Dari kedua pernyataan tersebut ada komponen yang belum dijelaskan yaitu sikap, harapan, dan dorongan keluarga (Notoatmodjo, 2003) sebagai berikut : 1) Sikap Sikap merupakan penilaian terhadap stimulus atau obyek, sehingga seseorang tersebut akan menilai atau bersikap enggan stimulus tersebut. Sikap sering diperoleh dari pengalaman diri sendiri maupun orang lain. 2) Harapan Harapan merupakan kemungkinan yang dilihat untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari seorang individu yang di dasarkan atas pengalaman yang telah lampau, baik pengalaman dari sendiri maupun dari orang lain. 3) Dukungan keluarga Dukungan keluarga itu merupakan dukungan – dukungdn sosial yang di pandang oleh anggota keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses untuk keluarga (dukungan sosial disa atau tidak dugunakan, tapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh faktor internal dan ekternal. Faktor internal meliputi : jenis kelamin, sifat fisik, sikap, pengalaman, harapan, kepribadian, intelegensia, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan fisik, dukungan keluarga, pendidikan, pengetahuan, agama, sosial ekonomi, kebudayaan.
Aspek motivasi (skripsi dan tesis)
Walgito (2002) memberikan penjelasan mengenai tiga aspek yang terkait dengan timbulnya motivasi, yaitu : a. Keadaan terdorong dalam diri individu (a driving state) yaitu kesiapan bergerak karena kebutuhan misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan, atau karena keadaan mental seperti berfikir dan ingatan. b. Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan. c. Goal atau tujuan yang dituju oleh perilaku tersebut.
Hirarki kebutuhan (skripsi dan tesis)
Teori hirarki kebutuhan ini diungkapkan oleh Abraham Maslow (dalam Robbin, 2007), yang menyebutkan : a. Psikologis, antara lain adalah rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian dan perumahan), seks dan kebutuhan jasmani lainnya. b. Keamanan, antara lain keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional. c. Sosial, mencakup kasih saying, rasa memiliki, diterima baik dan persahabatan. d. Penghargaan, mencakup faktor kehormatan diri seperti harga diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor penghormatan adri luar seperti misalnya status, pengakuan dan perhatian. e. Aktualisasi diri, berupa dorongan untuk menjadi seseorang/sesuatu sesuai ambisinya, yang mencakup pertumbuhan, pencapaian potensi, dan pemenuhan kebutuhan.
Teori-teori motivasi (skripsi dan tesis)
Menurut Hasibuan (2005) teori-teori motivasi dikelompokkan menjadi : a. Teori kepuasan (content theory) pendekatannya atas factor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkan bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Teori yang memusatkan pada faktor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, mendukung dan menghentikan perilakunya, yang memotivasi semangat seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan. b. Teori motivasi proses (process theory) teori ini merupakan proses sebab akibat bagaimana seseorang bekerja serta hasil apa yang diperolehnya. Jika bekerja baik saat ini, maka hasilnya akan diperoleh baik di hari esok. Jadi hasi yang diperolehnya tercermin dalam bagaimana proses kegiatan yang dilakukan seseorang, hasil hari ini merupakan kegiatan hari kemarin. Teori motivasi proses ini meliputi teori harapan, teori keadilan dan teori pengukuhan.
motivasi (Motivation) (skripsi dan tesis)
berasal dari bahasa Latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Rumusan motivasi berarti bahwa motivasi mewakili proses-proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela (volunteer) yang diarahkan ke arah tujuan tertentu (Winardi, 2007). Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang menuju sebuah tujuan. Kata motivasi berasal dari kata latin movere, yang bermakna bergerak. Namun motivasi melibatkan lebih dari sekedar gerakan fisik. Motivasi melibatkan gerakan fisik dan mental. Motivasi juga mempunyai dua sisi: gerakan dapat dilihat, akan tetapi motif harus disimpulkan (Simamora, 2004). Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan – kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Menurut Mc.Donald, motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan menurut Walgito (2002) menyatakan motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah tujuan. Nawawi (1998) mendefinisikan motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan seseorang mengerjakan pekerjaan secara sadar. Sementara Robbin (2007) menyebutkan bahwa motivasi sebagai kemampuan berjuang ke tingkat yang lebih tinggi guna mencapai tujuan. Handoko (2008) memberikan penjelasan mengenai motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan memlihara perilaku manusia. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut motivasi, antara lain kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (drive). Dalam hal ini akan digunakan istilah motivasi, yang diartikan sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja. (skripsi dan tesis)
Menurut Robbins (2006: 121 dalam Andiyanto dan Darmastuti), kinerja merupakan pengukuran terhadap hasil kerja yang diharapkan berupa sesuatu 46 yang optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah sebagai berikut: 1. Iklim organisasi Iklim kerja dalam suatu organisasi sangatlah penting bagi pimpinan untuk memahami kondisi organisasi, karena ia harus menyalurkan bawahan sehingga mereka dapat mencapai tujuan pribadi dan tujuan organisasi. Dengan adanya iklim kerja yang kondusif, maka hal itu akan mempengaruhi kinerja karyawan. 2. Kepemimpinan Peranan pemimpin harus mampu dan dapat memainkan peranannya dalam suatu organisasi, pemimpin harus mampu menggali potensi-potensi yang ada pada dirinya dan memanfaatkannya di dalam unit organisasi. 3. Kualitas pekerjaan Pekerjaan yang dilakukan dengan kualitas yang tinggi dapat memuaskan yang bersangkutan dan perusahaan. Penyelesaian tugas yang terandalkan, tolak ukur minimal kualitas kinerja pastilah dicapai. 4. Kemampuan kerja Kemampuan untuk mengatur pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya termasuk membuat jadwal kerja, umumnya mempengaruhi kinerja seorang karyawan. 5. Inisiatif Inisiatif merupakan faktor penting dalam usaha untuk meningkatkan kinerja karyawan. Untuk memiliki inisiatif dibutuhkan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki para karyawan dalam usaha untuk meningkatkan hasil yang dicapainya. 6. Motivasi Motivasi ini merupakan subyek yang penting bagi pimpinan, karena menurut definisi pimpinan harus bekerja dan melalui orang lain. Pimpinan perlu memahami orang-orang berperilaku tertentu agar dapat mempengarhuinya untuk bekerja sesuai dengan yang di inginkan perusahaan. 7. Daya tahan/ kehandalan Apakah karyawan mampu membuat perencanaan dan jadwal pekerjaannya. Sebab akan mempengaruhi ketepatan waktu hasil pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seorang karyawan. 8. Kuantitas pekerjaan Pekerjaan yang dilakukan karyawan harus memiliki kuantitas kerja tinggi dapat memuaskan yang bersangkutan dan perusahaan. Dengan memiliki kuantitas kerja sesuai dengan yang ditargetkan, maka hal itu akan dapat mengevaluasi kinerja karyawan dalam usaha meningkatkan prestasi kerjanya. 9. Disiplin kerja Dalam memperhatikan peranan manusia dalam organisasi, agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan diperlukan adanya kedisiplinan yang tinggi sehingga dapat mencapai suatu hasil kerja yang optimal atau mencapai hasil yang diinginkan bersama. According to the opinion of Davis in the Mangkunegara (2011:67)” factors affecting the achievement of the performance factor is the ability (ability) and motivation (motivation) is as follows”: 1. The Ability Factor psychologically, ability (ability) employees consists of the ability of potential (IQ) and the ability of reality (knowledge + skill). That is, employees who have the IQ above average (IQ 110- 120) with sufficient education to his post and skilled in doing the daily work, then it will be easier to reach the expected performance. Therefore, employees need to be placed on a job that suits his skills (the right man in the right place, the right man on the right job). 2. Motivation the motivation Factors of attitude (attitude) an employee in the face of situations (situation). Motivation is a condition that drives the employees guided the Organization to achieve the goal (purpose). Mental attitude is a mental condition that encourages employees to attempt to achieve maximum work achievement. Should an employee of mental attitude mental attitude that psychophysical are ready (ready mentally, physically, purpose, and situation). This means that an employee should be prepared mentally, physically capable, understand the main purpose and target the work to be accomplished, capable of utilizing, and created a work situation. Menurut pendapat Davis dalam Mangkunegara (2011:67) faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation) adalah sebagai berikut : 1. Faktor Kemampuan Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + skill). Artinya, pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the right place, the right man on the right job). 2. Faktor Motivasi Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai prestasi kerja secara maksimal. Sikap mental seorang pegawai harus sikap mental yang siap secara psikofisik (siap secara mental, fisik, tujuan, dan situasi). Artinya, seorang pegawai harus siap mental, mampu secara fisik, memahami tujuan utama dan target kerja. Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan negatif dari suatu kebijakan operasional. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai dipengaruhi faktor interen dan ekstern, faktor-faktor tersebut akan terlihat ketika kinerja yang dihasilkan pegawai mempunyai tingkat prestasi tinggi maka dapat dipastikan kinerja organisasi tersebut juga akan baik.
Pengertian Kinerja Karyawan (skripsi dan tesis)
Menurut (Hasibuan, 2007: 34) Kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu, sebagian besar organisasi, kinerja para pegawai individual merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan organisasi. Diskusi pembuka tentang jenis pekerjaan dan menjadi seorang pemberi kerja terkemuka menerangkan bahwa seberapa baik para pegawai melakukan pekerjaan mereka mempengaruhi produktivitas dan kinerja organisasional secara signifikan (Mathis dan Jackson, 2009:113). Menurut Mangkunegara(2004:67) Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Sehingga dapat didefinisikan bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Based on (http://www.businessdictionary.com /definition/jobperformance.html.)”Perfomance definition is the work related activities expected of an employee and how well those activities were executed”. Kinerja karyawan yang diharapkan dari seorang karyawan dan seberapa baik aktivitas tersebut dilaksanakan. According to Mathis and Jackson (2009:378) “Performance is basically what is done and what is not done by the employee”. Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukan oleh karyawan. Definisi lain mengenai kinerja menurut Wirawan (2009:5) bahwa kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikatorindikator atau suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu. Dimensi kinerja adalah unsurunsur dalam pekerjaan yang menunjukkan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: 1. Perilaku kerja, adalah perilaku karyawan yang ada hubungannya dengan pekerjaan. Perilaku kerja dapat digolongkan menjadi perilaku kerja general dan perilaku kerja khusus. Perilaku kerja general adalah perilaku kerja yang diperlukan semua jenis pekerjaan, yaitu disiplin kerja. Sedangkan perilaku kerja khusus adalah perilaku yang hanya diperlukan dalam satu jenis pekerjaan tertentu, yaitu kemampuan bekerja sama. 2. Sifat pribadi yang ada hubungan dengan pekerjaan, adalah sifat pribadi karyawan yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaannya, yaitu kejujuran. 3. Hasil kerja, adalah keluaran kerja dalam bentuk barang dan jasa yang dapat dihitung dan diukur kuantitas dan kualitasnya. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa, kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh anggota organisasi yang mencerminkan adanya suatu keberhasilan dalam melaksanakan tugas yang diterimanya dan hasil kerja yang telah dicapai karyawan sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Teori-teori Motivasi Pengelompokkan (skripsi dan tesis)
atau pengklasifikasian teoriteori motivasi yang sangat terkenal adalah teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Menurut Maslow dalam Rivai dan Sagala (2009:840), bahwa setiap diri manusia itu terdiri dari lima kebutuhan, yaitu: 1. Kebutuhan fisiologi, yaitu kebutuhan dasar manusia agar tetap bertahan hidup, seperti kebutuhan makan, minum, perlindungan fisik, seksual, sebagai kebutuhan terendah. 2. Rasa aman, antara lain kebutuhan perlindungan dari ancaman, bahaya, dan lingkungan hidup. 3. Kebutuhan sosial, antara lain kebutuhan rasa memiliki, kebutuhan untuk diterima dalam kelompok, berafiliasi, berinteraksi dan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai. 4. Penghargaan diri, antara lain kebutuhan akan harga diri, kebutuhan dihormati dan dihargai orang lain. 5. Aktualisasi diri, yaitu kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang dengan menggunakan kemampuan, keahlian, dan potensi dirinya secara maksimal. Selain teori kebutuhan Maslow, teori tersebut kemudian dikembangkan oleh Frederick Herzberg yang terkenal dengan “Teori Motivasi Dua Faktor” yang membicarakan 2 (dua) golongan utama kebutuhan menutup kekurangan dan kebutuhan pengembangan. Menurut teori ini ada 2 faktor yang dapat mempengaruhi kondisi pekerjaan seseorang, yaitu (1) faktor-faktor yang akan mencegah ketidakpuasan (hygiene factor), yang terdiri dari kemajuan, perkembangan, tanggung jawab, penghargaan, prestasi, pekerjaan itu sendiri. Menurut Herzberg, mencegah atau mengurangi ketidakpuasan dalam keadaan pekerjaan tidak sama dengan memberikan kepuasan positif. Keduanya itu segi-segi motivasi kerja yang berbeda secara kualitatif. Motivasi bisa diberikan jika digunakan motivator yang berfungsi. According to Mc Clelland “with Motivational Theory. Achievements. This theory argues that the employees have potential energy reserves. How energy is released and used depends on the strength of one’s motivation and encouragement of the situation as well as the opportunities available. According to this theory, there are three basic components that can be used to motivate people to work, namely the needs : 1. The need for achievement = (n Ach) The need for Achievement is the driving power that motivates the spirit of work someone. Therefore n.Ach it will encourage someone to develop creativity and direct all its energies and abilities for the sake of achieving an optimal work achievement. 2. The need for affiliation = (n.Af) Affiliate will Need to become a power mover that will motivate the spirit of work someone employees, because of the need of this n.Af that stimulates a person’s work, a passion that would motivate and develop themselves and make use of all its energy to finish his chores. 3. The need for power = (n. Pow) Need for power is the driving power that motivates a person’s morale officer. Therefore n. Pow it stimulates and motivates the passion of one’s work as well as exerting all ability for the sake of achieving power or the best position in the organization”. Menurut Mc. Clelland dengan Teori Motivasi Prestasi. Teori ini berpendapat bahwa pegawai mempunyai cadangan energi potensial. Bagaimana energi dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia. Menurut teori ini ada tiga komponen dasar yang dapat digunakan untuk memotivasi orang bekerja, yaitu kebutuhan : 1. Kebutuhan akan prestasi (need for achievement) = (n.Ach) Kebutuhan akan prestasi merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang, karena itu n.Ach ini akan mendorong seseorang untuk mengembangkan kreativitas dan mengarahkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya demi mencapai prestasi kerja yang optimal. 2. Kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation) = (n.Af) Kebutuhan akan afiliasi menjadi daya penggerak yang akan memotivasi semangat bekerja seseorang pegawai, karena kebutuhan n.Af ini yang merangsang gairah kerja seseorang pegawai, yang akan memotivasi dan mengembangkan dirinya serta memanfaatkan semua energinya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. 3. Kebutuhan akan kekuasaan (need for power) = (n.Pow) Kebutuhan akan kekuasaan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang pegawai, karena itu n.Pow ini merangsang dan memotivasi gairah kerja seseorang serta mengerahkan 41 semua kemampuan demi mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik dalam organisasi. According to ERG Theory Alderfer in his journal , suggests his theories with the name of the theory (ERG) Existence, Relatedness, Growth. This theory is the refinement of the theory of needs expressed by Maslow. In this theory utilizes all five levels of needs Maslow into three kinds of needs only. For everyone needs to meet those needs with the best three namely : 1. The need for existence (Existence Needs) relate to basic needs including Physiological Needs and Safety Needs of Maslow. 2. The need for Affiliation (Relatedness Needs) Stressed the importance of the relationship between individuals (interpersonal relationships) and also (social relationship). These needs also related with love and esteem needs needs from Maslow. 3. The need for progress (Growth Needs) is intrinsic in a person’s desire to advance or enhance their personal progress. Menurut Alderfer dalam jurnalnya dengan Teori ERG , mengemukakan teorinya dengan nama teori (ERG) Existence, Relatedness, Growth. Teori ini merupakan penyempurnaan dari teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow. Dalam teori ini memanfaatkan kelima tingkat kebutuhan Maslow menjadi tiga macam kebutuhan saja. Untuk setiap orang perlu memenuhi tiga kebutuhan tersebut dengan sebaik-baiknya, yaitu: 1. Kebutuhan akan Keberadaan (Existence Needs) Berhubungan dengan kebutuhan dasar termasuk di dalamnya Physiological Needs dan Safety Needs dari Maslow . 2. Kebutuhan akan Afiliasi (Relatedness Needs) Menekankan akan pentingnya hubungan antar individu (interpersonal relationships) dan juga bermasyarakat (social relationship). Kebutuhan ini berkaitan juga dengan love needs dan esteem needs dari Maslow. 3. Kebutuhan akan Kemajuan (Growth Needs) Adalah keinginan intrinsik dalam diri seseorang untuk maju atau meningkatkan kemajuan pribadinya
Jenis-Jenis Motivasi (skripsi dan tesis)
Menurut Hasibuan (2012:150), ada 2 (dua) jenis motivasi yaitu motivasi positif dan motivasi negatif. 1. Motivasi positif (incentive positive), adalah suatu dorongan yang bersifat positif, maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar. Dengan motivasi positif, semangat kerja bawahan akan meningkat karena umumnya manusia senang menerima yang baik-baik saja. 2. motivasi negatif (incentive negative), manajer memotivasi dengan standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan memotivasi negatif, semangat bekerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik. Secara garis besar, motivasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam tanpa ada rangsangan dari luar. Sedangkan motivasi ekstrinsik ialah motivasi bersumber dari luar. According to Darajdat Zakiyah (2002), ”divided into two types of motivation that is motivation in themselves (of) the self motivation and beyond (extrinsic)”. 1. Intristic motivation The motivation of the motives is becoming active or functioning do not need to be stimulated from the outside because inside every individual already there is an urge to do something. For example someone who enjoyed reading hadn’t anyone told or encouraged him because he’s been diligent in looking for books for he. 2. Extrinsic Motivation. Extrinsic Motivation is encouragement from outside themselves, the Act or acts that are based on impulseimpulse are sourced from outside one’s personal (neighborhood) to do anything because of the force from the outside. Menurut Darajdat Zakiyah (2002), motivasi dibagi menjadi dua jenis yaitu motivasi dalam diri (instrinsik) dan motivasi di luar diri (ekstrinsik). 1. Motivasi Instrinsik. Motivasi instrinsik adalah dorongan dari dalam diri atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya karena ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. 2. Motivasi Ekstrinsik. Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan dari luar diri, tindakan atau perbuatan yang didasari oleh dorongandorongan yang bersumber dari luar pribadi seseorang (lingkungan) untuk melakukan sesuatu karena adanya paksaan dari luar. Motivasi dapat dibedakan berdasarkan jenisjenisnya. Ada jenis motivasi yang terjadi karena keinginan seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu. Jenis motivasi lain yaitu motivasi yang yang terjadi karena seseorang tersebut ingin mengejar target yang telah ditentukan agar berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Biggs and Telfer in Sugihartono, (2007:78) “explains the types of motivation can be distinguished into four kinds, among others: 1. Instrumental Motivation 2. Social Motivations 3. Motivation of overachievers 4. Motivation Biggs dan Telfer dalam Sugihartono, dkk (2007: 78) menjelaskan jenis-jenis motivasi dapat dibedakan menjadi empat macam, antara lain: 36 1. Motivasi instrumental 2. Motivasi sosial 3. Motivasi berprestasi 4. Motivasi instrinsik Motivasi Instrumental merupakan dorongan yang membuat pegawai giat bekerja karena ingin mendapatkan peningkatan jabatan. Motivasi sosial menjadikan pegawai lebih terlibat dalam tugas pekerjaan untuk meraih keberhasilan yang telah ditentukan, karena pegawai memiliki motivasi berprestasi, dan membuat pegawai ingin mengembangkan karier dengan keinginannya sendiri karena mendapatkan dorongan dari motivasi instrinsik.
Faktor-faktor Motivasi Kerja (skripsi dan tesis)
Ada berbagai macam alasan mengapa manusia bekerja. Apabila kita menerima pandangan yang menyatakan bahwa orang bekerja untuk mendapatkan “imbalan” yang dirumuskan secara luas, maka imbalan tersebut dapat kita uraikan menjadi dua macam kelas yang bersifat sangat umum. Motivasi melibatkan faktor-faktor individu (internal) dan faktor-faktor organisasional (eksternal). Menurut Edy Sutrisno (2007:124-129), faktorfaktor motivasi di kelompokkan kedalam dua kelompok yaitu, faktor eksternal (karakteristik organisasi) dan faktor internal (karakteristik pribadi). Faktor eksternal (karakteristik organisasi) yaitu: kondisi lingkungan kerja, kompensasi yang memadai, supervisi yang baik, adanya jaminan pekerja, status dan tanggung jawab, peraturan yang fleksibel. Faktor internal (karakteristik internal) yaitu: keinginan untuk dapat hidup, keinginan untuk dapat memiliki, keinginan untuk memperoleh pengakuan, keinginan untuk berkuasa, kelelahan dan kebosanan. Selain itu ada 3 motivasi yang paling menentukan tingkah laku manusia, terutama berhubungan dengan situasi pegawai serta gaya hidup, yaitu : 1. Affiliation motivation, motif yang menyebabkan seseorang mempunyai keinginan untuk berada bersama–sama dengan orang lain, mempunyai hubungan afeksi yang hangat dengan orang lain, atau selalu bergabung dengan kelompok bersama-sama orang lain. 2. Achievement Motivation, motif yang mendorong serta menggerakkan seseorang untuk berprestasi dengan selalu menunjukkan peningkatan kearah standard exelence. 3. Power motivation, motif yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku sedemikian rupa sehingga mampu memberi pengar kepada orang lain. According to Chatab (2007:116), motivation factors consists of as follows: 1. The results of work, success or achievement 2. Recognition or awards 3. Work that is full of challenges 4. Greater responsibility 5. Progress and growth Menurut Chatab (2007 : 116), faktor motivasi terdiri dari seperti berikut : 1. Hasil kerja, keberhasilan atau prestasi 2. Pengakuan atau penghargaan 3. Pekerjaan yang penuh tantangan 4. Tanggung jawab yang lebih besar 5. Kemajuan dan pertumbuhan According to Fredick Hezberg, dkk (Wirawan, 2013) “suggests the factors which affect the motivation of working” : 1. motivation factors: factors that exist in the work, it is this factor that can lead to job satisfaction and willingness to work harder. This factor will encourage more efforts. 2. health Factors: factor is called penyehat because it serves to prevent the onset of labor discontent, health factors are factors that the numbers are sufficient factors motivators. If the number of factors keeping insufficient will cause dissatisfaction. So factorkeeping does not create job satisfaction but can prevent the onset of labor discontent. Menurut Fredick Hezberg, dkk (Wirawan, 2013) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja : 1. Faktor Motivasi : faktor yang ada dalam pekerjaan, faktor inilah yang dapat menimbulkan kepuasan kerja dan kemauan untuk bekerja lebih keras. Faktor ini akan mendorong lebih banyak upaya. 2. Faktor penyehat : faktor ini disebut penyehat karena berfungsi mencegah terjadinya ketidakpuasan kerja, faktor penyehat adalah faktor yang jumlahnya mencukupi faktor motivator. Jika jumlah faktor pemelihara tidak mencukupi akan menimbulkan ketidakpuasan kerja. Jadi faktor pemelihara tidak menciptakan kepuasan kerja akan tetapi dapat mencegah terjadinya ke tidak puasan kerja.
Pengertian Motivasi (skripsi dan tesis)
Setiap pegawai memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk bekerja dengan baik, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa berhasil atau tidaknya operasional instansi dalam mencapai tujuannya adalah ditentukan oleh kepemimpinan yang baik dari seorang pemimpin didalam memberikan motivasi kepada pegawainya. Motivasi berperan penting didalam suatu instansi, sehingga motivasi dapat diartikan berbeda oleh setiap individu sesuai dengan tempat dan keadaan dari masing-masing individu. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan penulis kutipkan beberapa pendapat mengenai pengertian motivasi. Menurut Wibowo (2016:322) Motivasi adalah dorongan dari serangkaian proses perilaku manusia pada pencapaian tujuan. According to Daft (2006: 365). “Motivation is a process that explains the direction and perseverance of individuals to achieve something desired”. Motivasi adalah proses yang menjelaskan arah dan ketekunan individu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. According to Flippo (2000). “Motivation is a condition that moves employees to be able to achieve the purpose of motive”. Motivasi adalah suatu keahlian dalam mengarahkan seorang pegawai dan sebuah organisasi agar dapat bekerja supaya berhasil, hingga para pegawai dan tujuan dari organisasi tersebut tercapai. Dari beberapa pendapat para ahli yang telah dikemukakan mengenai motivasi di atas, penulis dapat menarik kesimpilan bahwa motivasi adalah suatu faktor pendorong yang ada didalam diri manusia untuk melakukan atau tidak melakukan suatu aktivitas tertentu. Jika keinginan, kebutuhan dan harapan kerja 29 seseorang bekerja dengan giat dan berprestasi, agar apa yang menjadi tujuan organisasi atau perusahaan dapat tercapai
Unsur-Unsur Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)
According Rivai to the elements of leadership styles that affect subordinate organizational objectives in order to be achieved, namely : 1. Authoritarian leadership Style authoritarian Leadership Leadership also called directive or dictator. The leader gave instructions to subordinates, explaining what needs to be done, then the task is run in accordance with the employee is instructed by superiors. This leadership style is to use the method of approach in achieving the power of decision and the development of its structure, so that the most disadvantaged in organizations. 2. Democratic Leadership Styles leadership style is characterized by the presence of a structure development using cooperative decision making approach. In this leadership style, there is cooperation between the supervisor with a subordinate. Under the leadership of democratic subordinates tend to high moral, can work together, giving priority to the quality of work and can drive yourself. 3. Leadership styles Free Style leadership is Free it gives full power on subordinates, organisational structures are loose, passive leader. The primary role of supporting material is to provide leadership and participate if asked subordinates “. Menurut Rivai ada tiga macam unsur-unsur gaya kepemimpinan yang mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai, yaitu: 1. Gaya Kepemimpinan Otoriter Kepemimpinan otoriter disebut juga kepemimpinan direktif atau diktator. Pemimpin memberikan instruksi kepada bawahan, menjelaskan apa yang harus dikerjakan, selanjutnya karyawan menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diperintahkan oleh atasan. Gaya kepemimpinan ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi. 2. Gaya Kepemimpinan Demokratis Gaya kepemimpinan ini ditandai oleh adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dalam gaya kepemimpinan ini, ada kerjasama antara atasan dengan bawahan. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri. 3. Gaya Kepemimpinan Bebas Gaya kepemimpinan ini memberikan kekuasaan penuh pada bawahan, struktur organisasi bersifat longgar, pemimpin bersifat pasif. Peran utama pimpinan adalah menyediakan materi pendukung dan berpartisipasi jika diminta bawahan”. According to (Koontz, et. Al. 2001. p. 506-507). There are four elements that are present in a skil in leadership style. The four elements are as follows: 1. The authority or power of leaders 2. capability in the converge combine human resource which has power-power motivation that varies every time and situation 3. The ability to develop a working climate in responding and evokes a poses/motivation. 4. The ability in developing the style of leadership style. Menurut (Koontz, et. al. 2001. hal. 506-507). Ada empat unsur yang terdapat dalam suatu keahlian dalam gaya kepemimpinan. Keempat unsur tersebut adalah sebagai berikut: 1. Otoritas atau kekuatan pemimpin 2. Kemampuan dalam menyatu padukan sumber tenaga manusia yang memiliki daya-daya motivasi yang bervariasi setiap waktu dan situasi 3. Kemampuan dalam mengembangkan iklim kerja dalam merespons dan membangkitkan/menimbulkan motivasi. 4. Kemampuan dalam mengembangkan gaya-gaya kepemimpinan. Unsur tersebut diatas akan kami jabarkan dalam penjelasan berikut ini: 1. Otoritas atau kekuatan pemimpin. Unsur yang pertama ini menekankan pada otoritas dan kekuatan pemimpin. Kedua istilah ini diambil dari kata ”authority”dan ”power”,” power”menunjuk pada konsep yang lebih luas. Kata ”power” diartikan sebagai suatu kemampuan individu atau kelompok dalam mempengaruhi dan menggerakkan orang lain. Ada berbagai cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ”power”, yaitu sebagai berikut: · Keahlian seseorang · Referent power · Reward power · Coercive power Sedangkan istilah ”authority” dalam organisasi menunjukkan otoritas atau kekuasaan dalam suatu kedudukan yang berhak membuat/mengambil keputusankeputusan organisasi. 2. Kemampuan dalam menyatu padukan sumber tenaga manusia yang memiliki daya-daya motivasi yang bervariasi setiap waktu dan situasi. Dalam unsur yang kedua ini, berkenaan dengan pemahaman dasar manusia. Seorang pemimpin harus mengerti mengenai teori motivasi, jenis-jenis motivasi dan harus mampu menerapkan pengetahuan tentang motivasi ini terhadap individu yang kompleks dan dalam berbagai situasi yang mempengaruhi iklim organisasi. 3. Kemampuan dalam mengembangkan iklim kerja dalam merespons dan membangkitkan/menimbulkan motivasi. Dalam unsur ini, menjelaskan bahwa seorang pemimpin menunjukkan kemampuan dalam membangkitkan semangat bawahan untuk menggunakan kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah. Kalau penggunaan fungsi motivasi itu lebih berpusat pada bawahan dengan segala kebutuhannya, inspirasi justru datang dari pimpinan kelompok. 4. Kemampuan dalam mengembangkan gaya-gaya kepemimpinan. Pada unsur terakhir ini, unsur gaya kepemimpinan lebih menekankan pada kemampuan pemimpin dalam memilih tipe yang sesuai dengan situasi atau iklim organisasi untuk menggerakkan bawahannya secara berhasil.
Jenis Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)
Menurut Umam (2010:278), ada lima jenis gaya kepemimpinan, yaitu gaya autokratis, gaya birokratis, gaya diplomatis, gaya partisipatif dan gaya free rein leader. 1. Gaya kepemimpinan autokratis Pemimpin yang autokratis adalah pemimpin yang memiliki wewenang (authority) dari suatu sumber, pengetahuan, kekuatan atau kekuasaan untuk memberikan penghargaan ataupun menghukum. Ia menggunakan authority ini sebagai pegangan atau hanya sebagai alat atau metode agar sesuatunya dapat dijalankan serta diselesaikan. “Apa yang dilakukan pemimpin dengan gaya ini hanyalah memberitahukan tugas seseorang serta menuntut kepatuhan orang secara penuh tanpa bertanyatanya”. 2. Gaya kepemimpinan birokratik Gaya kepemimpinan yang dijalankan dengan menginformasikan kepada para anggota atau bawahannya apa dan bagaimana sesuatu itu harus dilaksanakan. Akan tetapi, dasar-dasar dari perintah gaya kepemimpinan ini hampir sepenuhnya menyangkut kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur dan peraturan-peraturan yang terkandung dalam organisasi. 3. Gaya kepemimpinan diplomatis Pada gaya ini dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin yang diplomat adalah juga seorang seniman, yang melalui seninya berusaha melakukan persuasi secara pribadi. Jadi, sekalipun ia memiliki wewenang atau kekuasaan yang jelas, ia kurang suka mempergunakan kekuasaannya itu. Ia lebih cende rung memilih cara menjual sesuatu (memotivasi) kepada bawahannya dan mereka menjalankan tugas pekerjaannya dengan baik. 4. Gaya kepemimpinan partisipatif Pemimpin dengan gaya partisipatif adalah pemimpin yang selalu mengajak secara terbuka kepada bawahannya untuk berpartisipasi atau mengambil bagian secara aktif, baik secara luas atau dalam batas-batas tertentu dalam pengambilan keputusan, pengumuman kebijakan dan 18 metode-metode operasionalnya. Jenis pemimpin ini dapat berupa seorang pemimpin yang benar-benar demokratis. 5. Gaya kepemimpinan free rein leader Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin seakan-akan menunggang kuda yang melepaskan kedua kendali kudanya. Walaupun demikian, pemimpin dalam gaya ini bukanlah seorang pemimpin yang benar-benar memberikan kebebasan kepada anggota atau bawahannya untuk bekerja tanpa pengawasan sama sekali. Hal yang dilakukan pemimpin tersebut adalah menetapkan tujuan yang harus dicapai oleh anggota atau bawahannya untuk bebas bekerja dan bertindak tanpa pengarahan atau kontrol lebih lanjut, kecuali apabila mereka memintanya. According to Thoha (2013:49) says that the kind of leadership style is divided into two categories of types of extreme styles are : 1. autocratic leadership style. This style is seen as a style that is based on the position and power over the use of authority. 2. Democratic leadership style This style is associated with personal power and participation in the process of problem solving and decision making. 19 Menurut Thoha (2013:49) mengatakan bahwa jenis gaya kepemimpinan terbagi menjadi dua kategori jenis gaya yaitu : 1. Gaya kepemimpinan otokratis. Gaya ini dipandang sebagai gaya yang didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas. 2. Gaya kepemimpinan demokratis Gaya ini dikaitkan dengan kekuatan personal dan keikutsertaan para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. According Hasibuan (2007:170) type of leadership is divided into two parts, namely: 1. Participatory Leadership Participatory leadership is when in its leadership done by persuasive, creates the harmonious cooperation, fostering loyalty, and the participation of the subordinates. Leaders motivate subordinates feel co-owns the company. Subordinates must participate to give advice, ideas, and considerations in the decision-making process. Participatory style leaders will encourage the ability of subordinate decision. Thus, the leadership will always foster a subordinate to accept greater responsibility. 2. Leadership Delegatif Leadership Delegatif when a leader delegate authority to a subordinate with a somewhat complete. Thus, the subordinate can take decisions and discretion with free or freely in carrying out his work. The leader no matter how subordinate to decisions and do his job, fully. Menurut pendapat Hasibuan (2007:170) jenis gaya kepemimpinan dibagi menjadi dua bagian, yaitu :. 1. Kepemimpinan Partisipatif Kepemimpinan Partisipatif adalah apabila dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan. Bawahan harus berpartisipasi memberikan saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pimpinan akan selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar. 2. Kepemimpinan Delegatif Kepemimpinan Delegatif apabila seorang pemimpin mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan dengan agak lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa dalam melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada bawahan. Pada prinsipnya pemimpin bersikap menyerahkan dan mengatakan kepada bawahan inilah pekerjaan yang harus saudara kerjakan, saya tidak peduli, terserah saudara bagaimana mengerjakannya asal pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki kematangan dalam pekerjan (kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan). Kematangan pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan pengetahuan dan keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan rasa yakin dan keterikatan.
Pengertian Gaya Kepemimpinan (skripsi dan tesis)
Dalam suatu organisasi, faktor kepemimpinan memegang peranan yang penting karena pimpinan itulah yang akan menggerakkan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan dan sekaligus merupakan tugas yang tidak mudah. Tidak mudah karena harus memahami setiap perilaku bawahan yang berbeda-beda. Seorang pemimpin harus mengetahui betul fungsi pemimpin dan sekaligus mengetahui unsur-unsur kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi, kemampuan mengajak, mengarahkan, menciptakan ide. Menurut Rivai (2011:42) gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk mengetahui bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan diterapkan oleh seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan yaitu suatu pola yang digunakan dari tindakan pemimpin baik nyata maupun tidak nyata untuk bawahannya. Menurut Miftah Thoha, (http : // ada ddanuarta .blogspot.com /2014 / 11 /gaya – kepemimpinan – merurut – para – ahli.html), (2010:49) mengemukakan bahwa “Leadership style is the norm of behavior that is used by a person at the time the person is trying to influence the behavior of others or subordinates” (Gaya kepemimpinan merupakan norma prilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain atau bawahannya). Dari pendapat Miftah Thoha dapat diartikan bahwa gaya kepemimpinan itu adalah suatu perilaku yang digunakan seseorang untuk dapat mempengaruhi perilaku orang lain. Menurut Hersey, (https: //www . academia . edu/ 6061938 / Situational_Leadership_Hersey_-_Blanchard), (2002:3) mengatakan bahwa “leadership style is consistent behavior patterns are applied in the work“ (Gaya kepemimpinan adalah pola-pola perilaku konsisten yang diterapkan dalam bekerja). Dari pendapat Hersey dapat diartikan gaya kepempinan itu merupakan suatu pola perilaku 16 yang konsisten/tak berubah-rubah yang diterapkan seseorang dalam suatu pekerjaan. Berdasarkan beberapa pengertian gaya kepemimpinan diatas dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mengarahkan, mempengaruhi, mendorong dan mengendalikan orang lain atau bawahan untuk bisa melakukan sesuatu pekerjaan atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
Pengertian Kepemimpinan (skripsi dan tesis)
Dalam suatu organisasi, faktor kepemimpinan memegang peranan yang penting karena pimpinan itulah yang akan menggerakkan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan dan sekaligus merupakan tugas yang tidak mudah. Tidak mudah karena harus memahami setiap perilaku bawahan yang berbeda-beda. Seorang pemimpin harus mengetahui betul fungsi pemimpin dan sekaligus mengetahui unsur-unsur kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi, kemampuan mengajak, mengarahkan, menciptakan dan mencetuskan ide. Menurut Ordway Tead dalam buku Kartini Kartono (2010), kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orangorang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Berdasarkan pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain atau suatu kelompok dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Dubin dalam Wahjosumidjo, (2002:21) “Leadership is the exercises of authority and the making of decisions” (Kepemimpinan adalah aktivitas para pemegang kekuasaan dan membuat keputusan). Dari pendapat Dubin dapat diartikan bahwa kepemimpinan itu adalah merupakan aktivitas yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan dalam membuat suatu keputusan. Menurut Terry dalam Wahjosumidjo, (2003:25) menyatakan bahwa “Leadership is the activity of infuencing exercised to strive willingly for group objectives” (Kepemimpinan adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok). Dari pendapat Terry dapat diartikan bahwa kepemimpinan itu adalah merupakan kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan. Adapun beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang kepemimpinan, diantaranya menurut Robbins dan Judge (dalam Teguh Sriwidadi dan Oey Charlie, 2011) menyebutkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna mencapai sebuah visi atau serangkaian tujuan yang direncanakan. Menurut Rivai dan Mulyadi (dalam Teguh Sriwidadi dan Oey Charlie, 2011) kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan para anggota kelompok. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain atau suatu kelompok dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia ( skripsi dan tesis )
Dalam suatu organisasi hal yang paling penting yang perlu diperhatikan adalah sumber daya manuisa yang menjadi pendukung utama tercapai tujuan organisasi. Sumber daya manusia menempati posisi strategis dalam suatu organisasi, maka dari itu sumber daya manusia harus digerakkan secara efektif dan efisien sehingga mempunyai tingkat hasil daya guna yang tinggi. Manajemen SDM adalah rangkaian strategis, proses dan aktivitas yang di desain untuk menunjang tujuan perusahaan dengan cara mengintegrasikan kebutuhan perusahaan dan individu SDMnya (Rivai, 2009:1). Menurut Umar (2008:128) Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu perencanaan, pengorganisasian, dalam penggerakan dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan maksud untuk pencapaian tujuan organisasi perusahaan secara terpadu. Dessler (2011:5) mendefinisikan manajemen sumber daya manusia sebagai kebijakan dan praktik menentukan aspek manusia atau sumber daya manusia dalam posisi manajemen, termasuk merekrut, menyaring, melatih, memberi penghargaan dan penilaian, Sedangkan Andrew dalam Mangkunegara (2013: 4) berpendapat bahwa perencanaan sumber daya manusia atau perencanaan tenaga kerja didefinisikan sebagai proses menentukan kebutuhan tenaga kerja dan berarti mempertemukan kebutuhan tersebut agar pelaksanaannya berintegrasi dengan rencana organisasi. Dari beberapa pendapat diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan ilmu dan seni yang di dalamnya terkandung fungsi – fungsi manajerial dan operasional yang ditujukan agar sumber daya manusia dapat dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin untuk mencapai sasaran yang ditetapkan. Dengan perencanaan sumber daya manusia dapat menentukan kebutuhan akan tenaga kerja berdasarkan peramalan, pengembangan, pengimplementasian, dan pengontrolan kebutuhan tersebut yang berintegrasi dengan rencana suatu organisasi agar tercipta jumlah pegawai, penempata pegawai secara tepat dan bermanfaat.
Jenis -Jenis Laba (skripsi dan tesis)
Menurut Supriyono (2002 : 177) mengemukakan bahwa jenis-jenis laba dalam hubungannya dengan perhitungan laba yaitu: a) Laba kotor Laba kotor adalah perbedaan antara pendapatan bersih dan penjualan dengan Harga Pokok Penjualan. b) Laba dari Operasi Laba dari Operasi adalah selisih antara laba kotor dengan totoal beban operasi. c) Laba bersih Laba bersih adalah angka terakhir dalam perhitungan laba atau rugi dimana untuk mencarinya laba operasi ditambah pendapatan lain-lain dikurangi dengan beban lain-lain.
Pengertian Laba Pengertian (skripsi dan tesis)
laba menurut Harnanto (2003 : 444) secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu (perioda) tertentu. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi. Menurut KR Subramanyan, J Wild (2010:407) dalam bukunya “Analisis Laporan Keuangan menyatakan bahwa: “Laba merupakan selisih pendapatan dan keuntungan setelah dikurangi beban dan kerugian. Laba merupakan salah satu pengukur aktivitas operasi dan dihitung berdasarkan atas dasar akuntansi aktual”. Pengertian laba menurut Suwardjono (2008 : 464) laba dimaknai sebagai “imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat kegiatan produksi dana penyerahan barang atau jasa)”. Perencanaan laba dalam kamus Bank Indonesia adalah” profit planning yaitu analisis yang sistematis terhadap pendapatan (keuntungan) dan biaya, dari setiap unit di suatu perusahaan yang diharapkan dapat menghasilkan keuntungan atau laba dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.” Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam memperoleh pendapatan laba, perusahaan harus mempunyai perencanaan laba dan konsep-konsep nya agar dalam mencapai suatu keuntungan, dengan perencanaan dan konsep memungkinkan suatu perusahaan mendapatkan keunttungan yang besar
Hasil Underwriting dan Komponennya (skripsi dan tesis)
Underwriting merupakan laba/rugi dari aktivitas utama asuransi yang didapat dari selisih pendapatan premi dan beban underwriting (beban klaim dan beban komisi). Hasil underwriting ini merupakan salah satu variabel pembentuk laba bersih dan juga digunakan untuk investasi. Menurut Satria Sulastria (2004 : 35) menyatakan bahwa rincian hasil underwriting adalah sebagai berikut : “Rincian hasil underwriting merupakan laporan penunjang ikhtisar laba rugi. Komponen hasil underwriting adalah pendapatan premi, beban klaim dan komisi.”
Pengertian Underwriting (skripsi dan tesis)
Underwriting menurut Herman Darmawi (2006 : 31-34) merupakan proses penyelesaian dan pengelompokan risiko yang akan ditanggung. Underwriting menurut asuransi kerugian adalah proses seleksi untuk menetapkan jenis penawaran resiko yang harus diterima. Underwriting menjelaskan proses penyelesaian dan mengelompokan berbegai resiko yang akan ditanggung yang bertujuan memaksimalkan laba melalui penerimaan distribusi risiko yang diperhitungkan menghasilkan laba. Underwriting sendiri Herman Darmawi (2006 : 31-34) adalah penilaian dan penggolongan tingkat resiko yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok calon peserta dalam pengajuan asuransi juga pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak resiko tersebut. Underwriting berasal dari kata underwrite yang menurut John M. Echlos dan Hasan Shaolity (2000) dalam kamus Inggris Indonesia, underwrite mempunyai makna : a) Mempertanggungkan b) Mengasuransikan c) Menanggung Secara umum dapat dikatakan sebagai kegiatan pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lainnya, yaitu pihak asuransi yang kemudian bertanggung jawab secara hukum bila terjadi kerugian tertentu. Underwriting yang bisa disebut juga dengan risk selection, adalah suatu fungsi manajemen resiko asuransi yang bertugas atas seleksi dan klasifikasi resiko yang dimiliki oleh tertanggung perorangan maupun kumpulan. Dengan kata lain, underwriting berfungsi untuk menilai tingkat resiko yang dimiliki seorang calon nasabah, baik perorangan maupun kumpulan, serta memberi keputusan yang berhubungan dengan pertanggungan atas resiko tersebut. Sedangkan orang yang mengevaluasi berbagai resiko serta menentukan diterima atau tidaknya surat permohonan asuransi disebut undewriter.
Jenis-jenis Asuransi Indonesia (skripsi dan tesis)
banyak sekali jenis-jenis asuransi, berikut jejis-jenis Perusahaan asuransi menurut H. Abbas Salim (2007 : 15) diantaranya adalah sebagai berikut : 1.Asuransi Kebakaran ( Fire Insurance ) 2.Asuransi Jiwa 3.Asuransi Laut 4.Asuransi Angkutan Udara 5.Asuransi Kendaran Darat Penjelasan dari Jenis-jenis Asuransi tersebut ialah sebagai berikut : 1. Asuransi Kebakaran ( Fire Insurance) Asuransi yang khusus mengatur mengenai kebakaran belum ada, tetapi dikombinasikan dengan asuransi lainya. Asuransi kebakaran bertujuan untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh kebakaran. Bentuk pertanggungan ini menjamin risiko yang terjadi karena kebakaran, oleh karena itu perlu diadakan suatu kontrak (perjanjian) tertanggung dengan penanggung (perusahaan asuransi). 2. Asuransi Jiwa Dalam asuransi jiwa yang dipertanggungkan ialah yang disebabkan oleh kematian. Risiko yang mungkin timbul pada asuransi jiwa terutama terletak pada unsur waktu, karena sulit untuk mengetahui kapan seseorang meninggal dunia. Asuransi jiwa adalah asuransi yang bertujuan menanggung orang terhada kerugian finansial tak terduga disebabkan karena meninggalnya terlalu cepat atau hidupnya terlalu lama. 4. Asuransi Laut Asuransi laut atau bisa disebut juga dengan asuransi pengangkutan yang fungsinya mengangkut barang-barang dagangan serta komoditi lainya dengan alat angkut yaitu kapal,perahu motor, perahu layar. Dalam asuransi kapal laut perluasannya hanya sedikit yang dapat di proses oleh asuransi, asuransi menjamin kapal pada saat kapal tersebut sedang berlayar atau mengirimkan barang dari suatu pelabuhan ke pelabuhan lain, atau kapal tenggelam dikarenakan oleh bencana alam. 5. Asuransi Angkutan Udara Pertanggunga untuk asuransi pesawat udara meliputi kerangka (tubuh) dan mesin pesawat, baling-baling, motor, dan semua peralatan yang 24 merupakan bagian dari pesawat udara, termasuk perlengkapan yang dapat dilepaskan dari pesawat udara seperti kompas, radio, kabin dan lain-lain. 6. Asuransi Kendaraan Darat Asuransi ini meliputi kendaraan yang melaju di atas aspal atau tanah yang digerakan oleh motor atau mekanik, tidak termasuk di atas rel dengan kata lain kendraaan bermotor roda dua maupun roda 4. Asuransi ini memberikan jaminan-jaminan resiko yang mungkin terjadi di jalan raya atau kejadian tak terduga maka asuransi memberikan perlindungan terhadap tertanggung yang mempertanggungkan kendaraanya kepada pihak asuransi. Asuaransi kendaran bermotor (Motor Vehicle Insurance) menurut Herman Darmawi (2006 : 100) mempuyai dua jenis asuransi yaitu : a) Asuransi kecelakaan b) Asuransi kehilangan Penjelasan dari kedua jenis-jenis asuransi kendaraan bermotor adalah sebagai berikut : – Asuransi kecelakaan atau lebih dikenal dengan kata lain Partial loss, asuransi ini menjamin kendaraan yang diasuransikan yang diakibatkan benturan-benturan pada saat mengendarai kendaran bermotor di jalan raya yang berasal dari dalam maupun dari luar, bersumber dari dalam karena kesalahan, kelalaian, atau kesengajaan pengemudi. Bersumber dari luar ditabrak oleh kendaraan lain, dirusak atau dibakar oleh orang, karena banjir, angin topan, dan sebagainya. Maka daripada itu asuransi ini sangat penting bagi pengguna kendaraan terutama kendaraan roda 4 (mobil). – Asuransi kehilangan atau disebut dengan Total Loss Only, asuransi ini menjamin kendaraannya yang diakibatkan atas kehilangan atau motor tidak dapat dipakai dikarenakan kecelakaan yang mengakibatkan hampir semua badan kendaraan rusak dan tidak berfungsi. Asuransi ini lebih terfokus pada kendaraan roda 2 (motor).
Manfaat Asuransi (skripsi dan tesis)
Manfaat-manfaat asuransi yang dikemukakan oleh Herman Darmawi (2006:4) adalah sebagai berikut : a) Asuransi sebagai Sumber Dana Investasi Perasuransian adalah salah satu lembaga keuangan non bank yang bekerja menghimpun dana dari masyarakat yang sebenarnya adalah sumber dana investasi yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi sehingga pembangunan ekonomi bisa dilakukan. b) Asuransi Dapat Mengurang Kekhawatiran Dengan asuransi, seseorang bisa lebih merasa terjamin jika suatu saat mereka mengalami kerugian yang tidak diinginkan. Karena dengan membayar uang premi, mereka secara otomatis telah terbebas dari rasa kekhawatiran karena jika mereka mengalami suatu kerugian, maka kerugian itu akan ditanggung bersama dengan kelompok yang terlibat didalamnya, jadi bisa dikatakan saling membantu antar sesama yang termasuk kelompok didalamnya. c) Asuransi Menjamin Kestabilan Perusahaan Di zaman sekarang perusahaan-perusahaan sudah menyediakan polis untuk karyawan-karyawan tertentu dengan cara perusahaan membayar premi yang telah ditetapkan oleh perusahaan asuransi secara berangsur ataupun sekaligus. Dengan ini, kestabilan perusahaan akan lebih terjamin karena adanya jaminan dari perusahaan asuransi kepada karyawan perusahaan tersebut. d) Asuransi Dapat Menyediakan Layanan Profesional Dengan adanya perkembangan pesat dalam dunia perteknologian, ini juga berdampak pada layanan yang diberikan oleh perusahaan asuransi sehingga layanan mereka bisa lebih profesional dan lebih bisa menjalankan operasinya dengan baik dan efisien. e) Asuransi Membantu Pemeliharaan Kesehatan Dengan adanya kampanye yang dilakukan perusahaan asuransi jiwa kepada masyarakat pemegang polis bisa lebih menyadarkan mengenai pentingnya kesehatan sehingga masyarakat pun akan lebih memelihara kesehatannya. f) Asuransi Melindungi Resiko Investasi Dengan adanya jaminan perlindungan resiko investasi, maka pengusaha-pengusaha tertentu akan merasa lebih terjamin dan bisa lebih mengeluarkan ide-ide kreatif dan inovasinya untuk mengembangkan perusahaanya tanpa takut akan adanya resiko karena asuransi yang akan menganggungnya. g) Asuransi Untuk Melengkapi Persyaratan Kredit Dengan perusahaan mengasuransikan usahanya, maka ini akan lebih menambah daya tarik untuk kreditor member kreditnya pada perusahaan ini karena kreditor pun secara langsung ataupun tidak langsung merasa terjamin karena jika suatu saat terjadi kerugian yang tidak diinginkan, maka kreditor pun masih mendapat haknya karena adanya asuransi ini. Kreditor pun akan lebih memilih perusahaan yang sudah mengasuransikan usahanya untuk bekerja sama daripada perusahaan yang tidak mengasuransikan usahanya. h) Asuransi Mengurangi Biaya Dengan adanya asuransi, maka biaya modal yang terlalu tinggi pun dapat dikurangi karena asuransi itu sendiri mempunyai kemampuan mengurangi biaya modal yang tinggi. i) Asuransi Dapat Meratakan Keuntungan Dengan menentukan biaya-biaya “kebetulan” yang mungkin akan dialami pada masa yang akan datang melalui program asuransi, pihak perusahaan tentunya akan melakukan pertimbangan atau perhitungan dari biaya tersebut sebagai salah satu elemen dari total biaya yang akan dikalkulasikan pada biaya produk yang akan dijual perusahaan tersebut. Dengan demikian, asuransi dapat dikatakan mampu meratakan jumlah keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan tersebut dari tahun ke tahun. j) Asuransi Mendorong Usaha Pencegahan Kerugian Perusahaan-perusahaan asuransi banyak melakukan usaha yang bersifat mendorong perusahaan tertanggung untuk melindungi usaha mereka dari bahaya yang dapat menyebabkan kerugian yang sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa diprediksi. Oleh sebab itu, perusahaan pun lebih termotivasi untuk menghilangkan atau meminimalisasi kemungkinankemungkinan yang dapat menimbulkan kerugian di masa yang akan datang
Pengertian Asuransi (skripsi dan tesis)
Asuransi merupakan sebuah lembaga yang didirikan untuk menstabilkan kondisi bisnis dari berbagai resiko yang mungkin terjadi, dengan harapan pada saat resiko dialihkan kepada pihak asuransi maka perusahaan menjadi lebih fokus dalam menjalankan usaha. Pengertian Asuransi menurut Herman Darmawi (2010 : 2) bila di tinjau dari beberapa pandangan ialah sebagai berikut: Asuransi dilihat dari pandangan hukum ialah Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak atau lebih dimana pihak tertanggung mengikat diri kepada penanggung, dengan menerima premi-premi Asuransi untuk memberi penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung karena suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberi pembayaran atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Sedangkan Asuransi dalam pandangan ekonomi, asuransi merupakan suatu metode untuk mengurangi resiko dengan jalan pemindahan dan dan mengkombinasikan resiko. Herman Darmawi (2006 : 2) Selanjutnya Asuransi dalam pandangan bisnis, asuransi adalah sebuah perusahaan yang usaha utamanya menerima/menjual jasa, pemindahan resiko dari pihak lain, dan memperoleh keuntungan dengan berbagi resiko diantara sejumlah besar nasabahnya. Selain itu asuransi juga merupakan lembaga keuangan bukan bank, yang kegiatanya menghimpun dana (berupa premi) dari nasabah yang kemudian menginvestasikan dana itu dalam berbagai kegiatan ekonomi perusahaan. Berikut ini adalah Pengertian dan Definisi Asuransi: 1. Pengertian Asuransi menurut UU RI No 2 Tahun 1992 bahwa : Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih; disini pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan; atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu pristiwa yang tidak pasti; atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. 2. Pengertian Asuransi menurut Mamat Ruhimat dalam Herman Darmawi yaitu “Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dengan 18 mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung”. Berdasarkan dari pendapat ahli penulis dapat simpullkan bahwa Asuransi adalah salah satu cara bagi pelaku bisnis untuk mengurangi resiko terhadap kerugian yang mungkin terjadi dalam sebuah transaksi bisnis dan asuransi membantu untuk mengurangi biaya kerugian yang diderita sehingga kerugian yang diderita oleh pelaku bisnis bisa diperkecil. 3. Pengertian Asuransi Menurut pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang yang dikutip oleh H.Gunanto (2006:256) adalah : “Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dimana penanggung dengan menikmati suatu premi mengikat dirinya terhadap tertanggung untuk membebaskannya dari kerugian karena kehilangan, kerugian atau ketiadaan keuntungan yang diharapkan, yang akan dapat diderita olehnya karena suatu kejadian yang tidak pasti.” Menurut Herman Darmawi (2006:2-3), Asuransi merupakan bisnis yang unik, yang didalamnya terdapat lima aspek, yaitu : a) Aspek Ekonomi : metode untuk mengurangi resiko dengan jalan memindahkan dan mengkombinasi ketidakpastian akan adanya kerugian keuangan. b) Aspek Hukum : kontrak pertanggungan risiko antara tertanggung dengan penanggung. c) Aspek Bisnis : perusahaan yang usaha utamanya menerima atau menjual jasa, pemindahan resiko dari pihak lain dan memperoleh keuntungan dengan berbagai resiko diantara sejumlah besar nasabahnya. d) Aspek Sosial : organisasi sosial yang menerima pemindahan resiko dan mengumpulkan dana dari anggota-anggotanya guna membayar kerugian yang mungkin terjadi pada masing-masing anggota tersebut. e) Aspek Matematika : merupakan aplikasi matematika dalam memperhitungkan biaya dan faedah pertanggungan resiko.
Manfaat Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Menurut Irham Fahmi (2010 : 3) dengan diterapkannya manajemen risiko disuatu perusahaan, ada beberapa manfaat yang akan diperoleh yaitu: a) Perusahaan memiliki ukuran kuat sebagai pijakan dalam mengambil setiap keputusan, sehingga para manajer menjadi lebih berhati-hati (prudent) dan selalu menempatkan ukuran-ukuran dalam berbagai keputusan. b) Mampu memberi arah bagi suatu perusahaan dalam melihat pengaruhpengaruh yang mungkin timbul baik secara jangka pendek dan jangka panjang. c) Mendorong para manajer dalam mengambil keputusan untuk selalu menghindari dari pengaruh terjadinya kerugian khususnya dari segi finansial. d) Memnungkinkan perusahaan memperoleh risiko kerugian yang minimum. e) Dengan adanya konsep manajemen risiko (risk manajement concept) yang dirancang secara detail maka artinya perusahaan telah membangun arah dan mekanisme secara berkelanjutan (suistainable).
Pengertian Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Manajemen risiko adalah suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau peroranganatas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko. Menurut Irham Fahmi (2010 : 2) Manajemen Risiko adalah “suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komperhensif dan sistematis.” Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu metode logis dan sitematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses. Menurut kamus besar bahasa Indonesia dikutip dari (Tony Peramanna 2011) , risiko adalah “akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.” Dengan kata lain, risiko merupakan kemungkinan situasi atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan serta sasaran sebuah organisasi atau individu
Growth Opportunity (skripsi dan tesis)
Tingginya kesempatan pertumbuhan perusahaan menjadikan suatu perusahaan memiliki nilai pasar yang lebih baik diantara perusahaan lainnya. Dalam mengembangkan usahanya perusahaan akan menggunakan alternatif pendanaan untuk kelangsungan hidup perusahaan dimasa depan, dan juga untuk menarik minat para investor agar dapat berinvestasi. Oleh karena iu perusahaan akan mempertahankan pendapatan yang diperoleh untuk berinvestasi kembali pada saat bersamaan perusahaan juga menggunakan alterbatif pendanaan melalui hutang secara bersamaan. Didalam Brigham dan Houston (2006: 43) perusahaan yang tumbuh dengan cepat harus lebih banyak mengendalikan diri pada modal eksternal. Tingginya tingkat hutang menunjukkan tingginya risiko yang dihadapi perusahaan. Pengukuran variabel Growth Opportunity yaitu dengan menggunakan hasil bagi antara selisih nilai total asset tahun bersangkutan dan total asset tahun sbelumnya dan dibagi total asset tahun sebelumnya (Yusrianti, 2013).
Instrumen Derivatif (skripsi dan tesis)
Derivatif adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain yang memperoleh nilainya dari pergerakan harga, nilai tukar valuta asing, atau suku bunga dari instrumen keuanngan atau aktiva yang mendasari Stice (2005: 566). Intrumen derivatif dapat digunakan sebagai instrumen dalam melakuakn hedging. Derivatif merupakan kontrak perjanjian antara dua pihak untuk menjual dan membeli sejumlah barang (baik asset financial maupun komoditas) dimasa yang akan datang pada tanggal tertentu dengan kesepakatan harga yang dilakukan saat ini. Pasar derivatif berbeda dengan pasar asset, pasar derivatif adalah pasar untuk instrumen kontrak yang kinerja ditentukan oleh bagaimana kinerja instrumen atau asset lain. Derivatif dapat juga disebut sebagai kontrak. Sehingga dapat diartikan bahwa derivatif merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak seperti pembeli dan penjual (Chen, 2006). Dalam pengertian yang lebih khusus, derivatif merupakan kontrak financial antara dua atau lebih pihak-pihak guna memenuhi janji untuk membeli atau menjual asset/commodities yang disajikan sebagai objek yang diperdagangkan pada waktu dan harga yang merupakan kesepakatan bersama antara pihak penjual dan pihak pembeli (idx.co.id). Adapun nilai dimasa mendatang objek yang diperdagangkan tersebut sangat dipengaruhi oleh instrument induknya yang ada di spot market. Instrumen derivatif ini sebagai invas baru dipasar modal yang perannya sangat diperhatikan terutama dalam hal strategi hedging atas traksaksi-traksaksi keuangan tertentu yang bersifat kontijen. Pasar derivatif berbeda dengan pasar asset, pasar derivatif adalah pasar untuk instrumen kontrak yang kinerja ditentukan oleh bagaimana kinerja instrumen atau asset lain. Seperti kontrak kebanyakan derivatif adalah kesepakatan antara kedua belah pihak seperti pembeli dan penjual (Chance, 2004). Dasar hukumnya anatara lain: 1. UU No. 8 Tahun 1995 tentang penyelenggaraan kegiatan di bidang pasar modal. 2. SK Bapepam No. Kep 07/Pm/2003 Tanggal 20 Februari 2003 tentang penetapan kontrak berjangka dan opsi atas efek dan indeks efek. 3. Peraturan Bapepam No. III. E. 1 Tanggal 31 Oktober 2003 tentang Kontrak Berjangka dan Opsi atas Efek atau Indeks Efek 4. SE Ketua Bapepam No. SE-01/PM/2002 Tanggal 25 Februari 2002 tentang Kontrak Berjangka Indeks Efek dalam pelaporan MKBD Perusahaan Efek. 5. Persetujuan tertulis Bapepam No. S-356/Pm/2004 Tanggal 18 Februari 2004 perihal persetujuan KBEI-LN (DJIA & DJ Japan Titans 100). Jenis paling umum dari derivatif adalah swap, forward, future, dan opsi. 1. Swap Swap adalah suatu kontrak dimana dua buah pihak sepakat untuk menukar pembayaran dimasa depan berdasarkan pergerakan harga atau tingkat yang disepakati bersama. Jenis yang umum dari swap adalah swap suku bunga (interest rate swap). Dalam interest rate swap, dua pihak sepakat untuk menukar pembayaran bunga dimasa depan atas suatu jumlah pinjaman tertentu, biasanya sekelompok pembayaran bunga adalah berdasarkan suku bunga tetap sedangkan yang lain berdasarkan suku bunga variabel. 2. Forward Suatu kontrak forward adalah suatu perjanjian antara dua pihak untuk mempertukarkan suatu jumlah tertentu dari komoditas, surat-surat berharga, atau mata uang asing pada tanggal tertentu dimas depan dengan harga atau nilai tukar yang ditetapkan saat ini. 3. Future Suatu kontrak future adalah suatu kontrak yang diperdagangkan di suatu bursa, yang mengizinkan suatu perusahaan untuk membeli atau menjual sejumlah tertentu komoditas atau surat-surat berharga keuangan pada harga tertentu pada tanggal tertentu dimasa depan. Kontrak future sangat mirip dengan kontrak forward dengan perbedaan terlatak pada bahwa kontrak forward adalah kontrak pribadi antara dua pihak, sementara kontrak future adalah kontrak standar yang disponsori oleh suatu bursa (trading exchange) dan dapat diperdagangkan oleh berbagai macam pihak beberapa kali dalam satu hari yang sama. 4. Opsi Suatu opsi adalah suatu kontrak yang memberikan hak kepada pemegangnya, dan bukan kewajiban, untuk membeli atau menjual suatu aktiva pada harga tertentu selama suatu periode tertentu dimasa depan. Opsi mempunyai dua jenis umum: opsi beli (call option) dan opsi jual (put option). Opsi beli memberi hak kepada pemegangnya untuk membeli suatu aktiva pada harga tertentu. Sementara opsi jual memberi hak kepada pemegangnya untuk menjual suatu aktiva pada harga tertentu. Sebagai pertukaran untuk hak yang melekat pada opsi, maka, pemegang opsi membayar sejumlah uang dimuka kepada pihak lain dalam transaksi, yang disebut sebagai penerbit opsi (writer of the option).
Risiko dan Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Risiko dan Manajemen Risiko Risiko dapat didefenisikan sebagai sesuatu yang merugikan, namun dapat juga diartikan sebagai kemungkinan hasil yang diperoleh menyimpang dari yang diharapkan. Resiko muncul karena ada kondisi ketidakpastian, sebagai contoh investasi dapat mendatangkan keuntungan (harga naik), bisa juga menyebabkan kerugian (harga turun). Kondisi ini lah yang menyebabkan munculnya risiko (Hanafi, 2009). Berdasarkan penyebabnya risiko dapat diidentifikasi menjadi tiga, yaitu resiko pasar (misalnya, pergerakan harga saham atau nilai tukar), risiko kredit (misalnya, kerugian karena mitra transaksi tidak memenuhi kewajibannya), dan risiko operasional (kerugian karena kesalahan orang, proses dan sistem). (Sunaryo, 2009: 12-13). Didalam Stice (2005: 564-565) risiko dididentifikasi menjadi beberapa jenis diantaranya: 1. Risiko harga Risiko harga (price risk) adalah ketidakpastian mengenai harga suatu aktiva dimasa depan. Seperti perusahaan dapat terpapar resiko harga atas aktiva-aktiva yang 12 sudah ada, seperti efek-efek keuangan atau persediaan, atau atas aktiva yang akan diperoleh dimasa depan, seperti peralatan yang akan dibeli dibulan depan. 2. Risiko Kredit Risiko kredit (credit risk) adalah ketidakpastian bahwa pihak lain dalam perjanjian akan mematuhi syarat-syarat dalam perjanjian. Contoh yang paling umum dari risiko kredit adalah ketidakpastian apakah konsumen yang berhutang akhirnya akan membayar utangnya. 3. Risiko Suku Bunga Risiko suku bunga adalah ketidakpastian mengenai suku bunga dimasa depan dan pengaruhnya terhadap arus kas dimasa depan dan terhadap nilai wajar dari aktiva dan kewajiban yang sudah ada. 4. Risiko Nilai Tukar Risiko nilai tukar adalah ketidakpastian mengenai arus kas dolar AS dimasa depan yang timbul ketika aktiva dan kewajiban dinyatakan dalam mata uang asing. Risiko memiliki tiga komponen utama yaitu kemungkinan (probabiliti), kejadian (event), dan kerugiaan (loss). Apabila salah satu dari ketiga komponen tersebut tidak ada, maka dapat dikatakan bahwa risko tidak terjadi. Beberapa risiko sebenarnya tidak diinginkan tetapi merupakan efek samping yang umum dalam melakukan usaha untuk meminimalisir risiko yang ada perlu dilakukannya manajemen risiko. Manajemen risiko adalah pengidentifikasian peristiwa-peristiwa yang dapat memberikan konsekuensi keuangan yang merugikan dan kemudian mengambil 13 tindakan untuk mencegah dan atau meminimalkan kerugian yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa tersebut (BrighamdanHouston,2006). Proses manajemen risiko terdiri atas tiga tahap yaitu, identifikasi risiko, mengukur risiko dan manajemen risiko. (Sunaryo, 2009: 12) Beberapa alasan perusahaan perlu melakukan pengelolaan risiko menurut Brigham danHouston (2006)yakni : 1. Kepastian utang Manajemen risiko dapat mengurangi ketidakstabilan arus kas sehingga akan menjaganilai perusahaan tidak menurun dan dapat mengurangi risiko kebangkrutan. 2. Dampak perpajakan Pajak yang tinggi akan menurunkan laba perusahaan dan disisi lain pajak selalu berfluktuasi sesuai dengan tingkat pendapatan
Pengertian Generalized Pareto (skripsi dan tesis)
Distribution Generalized Pareto Distribution (GPD) seringkali digunakan oleh para praktisi risiko untuk mencari nilai potensi kerugian yang terjadi pada suatu perusahaan ataupun organisasi khususnya untuk kasus kerugian operasional yang ekstrim terjadi. Menurut Muslich (2007:145), pada umumnya observasi yang menarik untuk diketahui adalah observasi yang melampaui suatu tingkat threshold. Untuk mengetahui data kerugian operasional di atas suatu level threshold digunakan teori Picklands, Dalkema, de Hann. Teori Picklands, Dalkema, de Hann menyatakan bahwa fungsi distribusi atau yang disebut sebagai fungsi distribusi kondisi lebih dirumuskan sebagai distribusi Pareto yang digeneralisasikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa metode Generalized Pareto Distribution merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat potensi kerugian pada suatu perusahaan karena kasus kerugian operasional dengan menggunakan data yang berada di atas nilai threshold / Peak Over Threshold (batas kerugian yang dapat ditoleransi oleh perusahaan). Generalized Pareto Distribution adalah sebuah keluarga yang terdiri atas 3 parameter, yaitu location (µ), scale (ψ), dan shape (ξ)
Teknik Identifikasi Risiko (skripsi dan tesis)
Operasional Menurut Muslich (2007:10), Untuk mengidentifikasi risiko operasional yang dapat dikendalikan atau tidak dapat dikendalikan, dapat dilakukan dengan beberapa teknik. Beberapa teknik identifikasi risiko operasional adalah sebagai berikut : • Risk Self Assesment (RSA) Adalah perusahaan melakukan penelitian sendiri terhadap aktivitas dan operasi perusahaan berdasarkan kejadian risiko. Proses RSA ini didasarkan keinginan perusahaan sendiri untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari lingkungan risiko operasional. Proses penilaian RSA dilakukan dengan mempergunakan suatu daftar checklist yang berisi butirbutir pertanyaan tentang evaluasi kekuatan dan kelemahan lingkungan risiko operasional tersebut. • Risk Mapping Merupakan suatu proses dimana berbagai unit usaha atau departemen, fungsional organisasi, atau arus proses transaksi yang di mapping berdasarkan tipe risiko. • Key Risk Indicator Key Risk Indicator atau data statistik keuangan yang dapat memberikan gambaran tentang posisi risiko operasional perusahaan. Indikator ini harus dikaji ulang sekurang-kurangnya setiap triwulan untuk dapat memberikan peringatan tentang terjadinya perubahan yang mengindikasikan adanya risiko yang sedang menjadi bahan pemantauan. Key Risk Indicator tersebut dapat ditunjukkan dengan jumlah pembatalan, jumlah pegawai yang mangkir atau perputaran pegawai, frekuensi jumlah kesalahan termasuk nilai kesalahan dalam transaksi. • Limit Threshold Limit threshold menunjukkan batas kerugian yang dapat dijadikan ukuran toleransi risiko yang dapat diterima. Dengan limit threshold ini manajemen perusahaan dapat menentukan di bidang apa dan tipe risiko yang manakah yang perlu mendapat perhatian. • Scorecard Scorecard merupakan suatu alat untuk mengkonversi penilaian pengelolaan dan pengendalian berbagai aspek kerugian risiko operasional yang bersifat kualitatif menjadi perhitungan yang bersifat kuantitatif. • Analytical Hierarchy Process (AHP) / Pairwise Comparison Alat bantu yang bermanfaat untuk menyederhanakan pola pikir permasalahan yang ada dan kemudian menghasilkan alternatif yang lebih sederhana untuk memudahkan pengambilan keputusan. AHP memecah suatu situasi yang kompleks, tidak terstruktur, ke dalam bagian komponen-komponennya; menata bagian dalam suatu hirarki, memberi nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang relatif pentingnya setiap variabel; dan mensintesis berbagai pertimbangan untuk menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas yang paling tinggi, dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Penanggulangan Risiko Operasional (skripsi dan tesis)
Dalam pengukuraan resiko, menurut Hinsa Siahaan (2007:11), risiko subjektif tidak dapat di ukur secara akurat. Tetapi sebaliknya, besarnya risiko objektif lebih dapat diobservasi dan diukur secara tepat. Beberapa konsep penting berkaitan dengan pengukuran risiko objektif adalah chance of loss dan degree of risk. 1) Kemungkinan terjadinya kerugian (chance of loss) Kemungkinan terjadinya kerugian dalam jangka panjang, atau frekuensi relative kerugian, didefinisikan sebagai chance of loss. Konsep ini tidak ada artinya jika digunakan untuk kemungkinan terjadinya satu kejadian. Konsep ini baru mempunyai makna penting jika diaplikasikan pada kemungkinan terjadinya dalam kejadian-kejadian yang jumlah besar atau frekuensi kejadian sangat sering. Jadi, chance of loss dinyatakan dalam rasio (perbandingan) jumlah kerugian yang terjadi dibandingkan dengan jumlah kerugian yang mungkin dalam jumlah yang lebih besar dalam satu kelompok. 2) Derajat Risiko (Degree of Risk) Besarnya risiko objektif yang timbul dalam satu situasi, yang biasa juga disebut sebagai derajat atau kadar risiko (degree of risk), adalah variasi relative antara kerugian aktual dengan kerugian yang diharapkan. Lebih jelasnya, kadar risiko adalah kisaran penyimpangan dari kerugian rata-rata (kerugian yang diharapkan), yang ditaksir menggunakan kemungkinan kerugian (chance of loss) Selain pengukuran risiko objektif, menurut Soeisno Djojosoedarso (2003:48) pengukuran risiko dapat juga dilakukan dengan: a. Pengukuran frekuensi kerugian potensial adalah untuk mengetahui berapa kali suatu jenis peril dapat menimpa suatu jenis objek yang bisa terkena peril selama suatu jangka waktu tertentu, yang umumnya satu tahun. Berdasarkan dimensi frekuensinya ada empat kategori kerugian, yaitu: – kerugian yang hampir tidak mungkin terjadi (almost nill), yaitu risiko yang menurutpendapat manajer risiko tidak akan mungkin terjadi atau kemungkinannya terjadinya sangat kecil. – kerugian yang kemungkinan terjadinya kecil (slight), yaitu risiko-risiko yang tidak akan terjadi dalam waktu dekat dan di masa yang akan datang kemungkinannya pun kecil. – kerugian yang mungkin (moderate), yaitu kerugian-kerugian yang mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat di masa yang akan datang. – kerugian yang mungkin sekali (definite), yaitu kerugian yang biasanya terjadi secara teratur, baik dalam waktu dekat maupun di masa mendatang jadi merupakan kerugian yang hampir pasti terjadi. b. Pengukuran kegawatan kerugian adalah untuk mengetahui berapa besarnya nilai kerugian, yang selanjutnya dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap kondisi perusahaan, terutama kondisi finansialnya. Dalam mengukur kegawatan kerugian potensial ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: – kemungkinan kerugian maksimum dari setiap peril, yaitu besarnya kerugian terburuk dari suatu peril. – probabilitas kerugian maksimum dari setiap peril, yaitu merupakan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, yang besarnya lebih rendah dari kemungkinan kerugian maksimum. – keseluruhan (aggregate) kerugian maksimum setiap tahunnya, yang merupakan keseluruhan kerugian total tebesar, yang dapat menimpa perusahaan selama suatu periode tertentu.
Klasifikasi Risiko Operasional (skripsi dan tesis)
Terdapat 7 jenis risiko operasional (Fahmi, 2010:54), antara lain : 1. Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual (Manual Risk) Risiko dalam bidang pembukuan secara manual sebenarnya terjadi karena beberapa sebab seperti : a) Pembukuan secara manual ditulis atau dicatat umumnya di kertas, sehingga pada saat suatu kantor mengalami kebanjiran, kebakaran, kesalahan dalam peletakkan tidak bisa atau sulit untuk mencari penggantinya. b) Jika kesalahan dalam pencatatan secara pembukuan terjadi maka penyelesaian dan pencarian sumber masalahnya juga harus dilakukan secara manual sehingga pekerjaan menjadi tidak efisien dan efektif. Efisien dilihat dari segi biaya dan efektif dilihat dari segi waktu. c) Setiap pengiriman informasi harus dilakukan melalui kantor pos atau jasa pengiriman surat. Sementara dengan penggunaan teknologi sudah dapat dilakukan dengan cara email atau via internet. 2. Risiko pada Komputer (Computer Risk) Ada beberapa risiko yang diperkirakan akan timbul dalam bidang komputer, yaitu : a) Komputer adalah teknologi yang selalu mengalami perubahan terutama pada setiap program yang ditawarkan, sehingga mengharuskan kualitas IT dari para personelnya juga dapat di update setiap waktunya dengan tujuan berbagai permasalahan yang akan timbul di kemudian hari dapat dihindari. b) Komputer adalah masuk dalam kategori IT yang memiliki nilai pasar yang tinggi, sehingga setiap pergantian perangkat komputer dan biaya tenaga ahlinya selalu saja membutuhkan biaya yang tinggi. Seperti biaya training, course, service komputer, dan pembelian program berbagai komputer. Dan bagi setiap perusahaan program yang harus dibeli adalah selalu harus yang bersifat original. c) Terjadinya perubahan data-data komputer karena faktor terserang oleh virus. Kondisi ini sering terjadi karena jaringan komputer berhubungan dengan internet. Oleh karena itu, komputer harus selalu memiliki antivirus yang terbaru. Maka sebaiknya perusahaan harus selalu memiliki tempat khusus yang aman untuk menyimpan dokumen penting. 3. Pegawai Outsourcing Pada saat suatu perusahaan menerima pegawai yang bersifat outsourcing maka ada beberapa risiko yang harus ditanggung oleh perusahaan, yaitu : a) Pegawai tersebut bukan pegawai tetap, dalam artian pegawai tersebut tidak bekerja hingga pensiun. Sehingga ia akan bekerja sebatas masa kontrak kerja saja. Dengan begitu rasa tanggung jawab psikologis untuk menjaga perusahaan tidak begitu ia pikirkan karena pegawai tersebut lebih bertanggungjawab kepada perusahaan penyalur. b) Rahasia perusahaan selama ia bekerja memungkinkan sekali untuk diketahui oleh publik luar ketika ia tidak lagi bekerja diperusahaan tersebut. Sementara rahasia perusahaan menyangkut dengan wibawa dan nama baik perusahaan. 4. Kecelakaan Kerja Beberapa bentuk risiko dalam bidang kecelakaan kerja yang akan dialami oleh suatu perusahaan yaitu sebagai berikut : a) Perusahaan harus memperbaiki sistem manajemen kerja yang telah diterapkan selama ini karena dianggap tidak efektif, sehingga untuk menyempurnakan konsep sistem manajemen kerja yang baik sebuah perusahaan kadangkala harus mengundang konsultan b) Dalam bidang yang bersangkutan sehingga pengalokasian anggaran untuk membayar konsultan tersebut harus dipertimbangkan termasuk masa uji coba sistem tersebut. c) Jika perusahaan tidak menerapkan konsep keselamatan kerja dengan baik maka pada saat mengajukan pinjaman ke perbankan akan mengalami kendala. d) Bila kecelakaan kerja sering terjadi dan mendapat sorotan dari pihak jurnalistik (pers) maka ini bisa berakibat pada turunnya reputasi perusahaan di mata konsumen dan mitra bisnis. 5 Globalisasi dalam Konsep dan Produk Era globalisasi telah memberi perubahan besar bagi konsep bisnis pada seluruh sektor bisnis, baik financial dan non-financial, sehingga penciptaan konsep produk dibuat untuk bisa menampung keinginan globalisasi tersebut, jika tidak maka artinya produk tersebut tidak akan laku di pasaran secara baik. Karena faktor itu perusahaan dituntut untuk menerapkan manajemen yang berbasis konsep global yang secara tidak langsung mekanisme operasional perusahaan juga harus bersifat global. 6 Kesalahan Produksi Barang dan Tidak Ada Kesepakatan Bahwa Barang yang Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali Ketika kesepakatan tersebut tidak dibuat, maka perusahaan harus menanggung beberapa risiko kerugian, yaitu sebagai berikut : a) Adanya barang yang sudah diproduksi dengan harapan dapat terjual namun tidak laku terjual dan tidak ada perjanjian barang tersebut tidak bisa ditukar sehingga perusahaan mengalami kerugian. b) Pada saat barang sudah diproduksi namun ternyata ada sisa, maka ini memaksa perusahaan untuk menjualnya dengan harga yang murah dengan asumsi daripada barang tersebut tidak terjual di pasaran atau mengalami kadaluarsa. c) Perusahaan tidak bisa melakukan penghematan biaya karena kontrak dagang dengan para mitra bisnis bersifat tunai dan tidak ada konsep service purna jual. i. Kerusakan Maintenance Pabrik Beberapa resiko yang harus ditanggung oleh suatu industri pada saat timbulnya kerusakan maintenance pabrik adalah : a) Terhentinya aktivitas produksi selama beberapa saat. b) Biaya service (service cost) dengan mendatangkan tenaga ahli, jika perusahaan tidak memilikinya. c) Biaya pergantian dalam bentuk pembelian baru beberapa peralatan pabrik dan persoalan yang lebih jauh jika barang yang dipesan tersebut tidak tersedia dipasaran dengan cepat,sehingga mengharuskan perusahaan untuk memesan terlebih dahulu dan ini akan memakan waktu yang lama. Menurut Bank for International Settlement (2004:140), kerugian operasional dikelompokkan ke dalam tujuh tipe kejadian kerugian (loss event types). Tujuh tipe kejadian kerugian tersebut dibagi dalam kelompok sebagai berikut : 1. Penyelewengan internal (internal fraud). 2. Penyelewengan eksternal (external fraud). 3. Praktik kepegawaian dan keselamatan kerja (employment practices and workplace safety). 4. Klien, produk, dan praktik bisnis (client, products, and business practices). 5. Kerusakan terhadap aset fisik perusahaan (physical asset damages). 6. Terganggunya bisnis dan kegagalan sistem (business disruption and system failure). 7. Manajemen proses, pelaksanaan, dan penyerahan produk dan jasa (execution, delivery, and process management). Berikut adalah beberapa klasifikasi yang terdapat di dalam risiko operasional, antara lain : a. Risiko Produktivitas Risiko produktivitas berkaitan dengan penyimpangan hasil atau tingkat produktivitas yang diharapkan karena adanya penyimpangan dari variabel yang mempengaruhi produktivitas kerja. Termasuk di dalamnya adalah teknologi, peralatan, material, dan SDM\ b. Risiko Teknologi Risiko teknologi berupa potensi penyimpangan hasil karena teknologi yang digunakan tidak lagi sesuai dengan kondisi. c. Risiko Inovasi Risiko inovasi adalah potensi penyimpangan hasil karena terjadinya pambaharuan, modernisasi, atau transformasi dalam beberapa aspek bisnis. d. Risiko Sistem Risiko ini merupakan bagian dari risiko proses, yaitu potensi penyimpangan hasil karena adanya cacat atau ketidaksesuaian sistem dalam operasi perusahaan. e. Risiko Proses Risiko proses adalah resiko mengenai potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan dari proses karena ada penyimpangan atau kesalahan dalam kombinasi sumber daya (SDM, keahlian, metode, peralatan, teknologi, dan material) dan karena perubahan lingkungan. Kesalahan prosedur merupakan salah satu bentuk perwujudan risiko proses.
Pengertian Risiko Operasional (skripsi dan tesis)
Menurut Fahmi (2010:54), risiko operasional merupakan risiko yang umumnya bersumber dari masalah internal perusahaan, dimana risiko ini terjadi disebabkan oleh lemahnya sistem kontrol manajemen (management control system) yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan. Menurut Djohanputro (2008:65), risiko operasional adalah potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan karena tidak berfungsinya suatu sistem, SDM, teknologi, atau faktor lain. Risiko operasional bisa terjadi pada 2 tingkatan : teknis dan organisasi. Pada tataran teknis, risiko operasional bisa terjadi apabila sistem informasi, kesalahan mencatat, informasi yang tidak memadai, dan pengukuran risiko tidak akurat dan tidak memadai. Pada tataran organisasi, resiko operasional bisa muncul karena sistem pemantauan dan pelaporan, sistem dan prosedur, serta kebijakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Risiko operasional sebagai risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia dan sistem, atau kejadian-kejadian eksternal. Secara umum, risiko operasional terkait dengan sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu proses atau prosedur. Oleh karena itu, risiko operasional sebenarnya bukan merupakan suatu risiko yang baru dan tidak hanya dihadapi oleh bank, walaupun semua bank anak menghadapi kegagalan dan harus memiliki proses untuk mengatasinya. Risiko operasional merupakan risiko yang mempengaruhi semua kegiatan usaha karena merupakan suatu hal yang inherent dalam pelaksanaan suatu proses atau aktivitas operasional.
Proses Pengelolaan Risiko (skripsi dan tesis)
Proses Pengelolaan Risiko Untuk mengimplementasikan manajemen risiko secara komprehensif ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan ( Fahmi, 2010:3), yaitu : a) Identifikasi risiko Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan melakukan tindakan berupa mengidentifikasi setiap bentuk risiko yang dialami perusahaan, termasuk bentuk-bentuk risiko yang mungkin akan dialami oleh perusahaan. Identifikasi ini dilakukan dengan cara melihat potensi-potensi risiko yang sudah terlihat dan yang akan terlihat. b) Mengidentifikasi bentuk-bentuk risiko Pada tahap ini diharapkan pihak manajemen perusahaan telah mampu menemukan bentuk dan format risiko yang dimaksud. Bentuk-bentuk risiko yang diidentifikasi di sini telah mampu dijelaskan secara detail timbulnya risiko tersebut. Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan juga sudah mulai mengumpulkan dan menerima berbagai data-data baik bersifat kualitatif dan kuantitatif. c. Menempatkan ukuran-ukuran risiko Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan sudah menempatkan ukuran atau skala yang dipakai, termasuk rancangan model metodologi penelitian yang akan digunakan. Data-data yang masuk juga sudah dapat diterima, baik yang berbentuk kualitatif dan kuantitatif serta pemilahan data dilakukan berdasarkan pendekatan metodologi yang digunakan. Dengan kepemilikan rancangan metodologi penelitian yang ada diharapkan pihak manajemen perusahaan telah memiliki fondasi kuat guna melakukan pengolahan data. d. Menempatkan alternatif-alternatif Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan telah melakukan pengolahan data. Hasil pengolahan kemudian dijabarkan dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif beserta akibat-akibat atau pengaruh-pengaruh yang akan timbul jika keputusan- keputusan tersebut diambil. Berbagai bentuk penjabaran yang dikemukakan tersebut dipilah dan ditempatkan sebagai alternatif-alternatif keputusan. e. Menganalisis setiap alternatif Pada tahap ini dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan dikemukakan berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul. Dampak yang mungkin timbul baik secara jangka pendek dan jangka panjang dipaparkan secara komprehensif dan sistematis, dengan tujuan mampu diperoleh suatu gambaran secara jelas dan tegas. Kejelasan dan ketegasan dangat penting guna membantu pengambilan keputusan secara tepat. f. Memutuskan suatu alternatif Pada tahap ini setelah berbagai alternatif dipaparkan dan dijelaskan baik dalam bentuk lisan dan tulisan oleh para manajemen perusahaan maka diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki pemahaman secara khusus dan mendalam. Pemilihan satu alternatif dari berbagai alternatif yang ditawarkan artinya mengambil alternatif yang terbaik dari berbagai alternatif yang ditawarkan termasuk dengan menolak berbagai alternatif lainnya. Dengan pemilihan satu alternatif sebagai solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki fondasi kuat dalam menugaskan pihak manajemen perusahaan untuk bekerja berdasarkan konsep dan koridor yang ada. f. Melaksanakan alternatif yang dipilih Pada tahap ini setelah alternatif dipilih dan ditegaskan serta dibentuk tim untuk melaksanakan ini, maka artinya manajer perusahaan sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang dilengkapi dengan rincian biaya. Rincian biaya yang dialokasikan tersebut telah disetuju oleh bagian keuangan serta otoritas pengambil penting lainnya. g. Mengontrol alternatif yang dipilih tersebut Pada tahap ini alternatif yang dipilih telah dilaksanakan oleh pihak tim manajemen beserta para manajer perusahaan. Tugas utama manajer perusahaan adalah melakukan kontrol yang maksimal guna menghindari timbulnya berbagai risiko yang tidak diinginkan. h. Mengevaluasi jalannya alternatif yang dipilih Pada tahap ini setelah alternatif dilaksanakan dan kontrol dilakukan maka selanjutnya pihak tim manajemen secara sistematis melaporkan kepada pihak manajer perusahaan. Pelaporan tersebut berbentuk data-data yang bersifat fundamental dan teknikal serta dengan tidak mengesampingkan informasi yang bersifat lisan. Tujuan melakukan evaluasi dari alternatif yang dipilih tersebut adalah bertujuan agar pekerjaan tersebut dapat terus dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan
Manfaat Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Manfaat manajemen risiko yang diberikan terhadap perusahaan dapat dibagi dalam 5 (lima) kategori utama (Darmawi, 2005:11), yaitu : • Manajemen risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan. • Manajemen risiko menunjang secara langsung peningkatan laba. • Manajemen risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung. • Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan terhadap risiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan itu. • Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena kreditur pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung menolong meningkatkan public image.
Pengertian Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Manajamen berdasarkan pendapat Robin et al (Robbins & Coulter, 2007) sebagai proses mengkoordinasi kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut terselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. Sedangkan seorang manager adalah seseorang yang bekerja dengan dan melalui orang lain dengan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan pekerjaan mereka guna mencapai sasaran-sasaran organisasi. Menurut Siahaan (2007:19), manajamen risiko adalah proses sistematik untuk mengelola risiko. Terlepas apakah risiko murni atau spekulasi, yang dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuan strategisnya. Jadi, definisi dari manajemen risiko adalah keseluruhan sistem pengelolaan dan pengendalian risiko yang terdiri dari seperangkat alat, teknik, proses manajemen (termasuk kewenangan dan sistem dan prosedur operasional) dan organisasi yang ditujukan untuk memelihara tingkat profitabilitas dan tingkat kesehatan perusahaan yang telah ditetapkan dalam corporate plan atau rencana strategis perusahaan lainnya sesuai dengan tingkat kesehatan perusahaan yang berlaku.
Klasifikasi Risiko (skripsi dan tesis)
Menurut Djohanputro (2008:33) untuk memudahkan pengenalan risiko, perlu dilakukan klasifikasi sehingga mengenal karakter dari risiko. Risiko dapat dikategorikan ke dalam risiko murni dan risiko spekulatif. Cara lain mengklasifikasi risiko adalah mengategorikan ke dalam risiko sistematik dan risiko spesifik. a. Risiko Murni dan Spekulatif Risiko murni merupakan risiko yang dapat mengakibatkan kerugian pada perusahaan, tetapi tidak ada kemungkinan menguntungkan. Perusahaan menghadapi berbagai hal dalam risiko ini. Misalnya, kekayaan mesin yang menanggung risiko murni. Ada kemungkinan mesin mengalami kerusakan, mulai dari kerusakan kecil sampai besar. Tetapi, tidak mungkin keadaan sebaliknya bisa terjadi. Kekayaan berupa gedung juga ada kemungkinan mengalami kerugian berupa kerusakan atau kehancuran. Sementara itu yang disebut dengan risiko spekulatif adalah risiko yang dapat mengakibatkan dua kemungkinan, merugikan atau menguntungkan perusahaan. b. Risiko Sistematik dan Spesifik Risiko sistematik juga disebut resiko yang tidak dapat didiversifikasi . Ciri dari risiko sistematik adalah tidak dapat dihilangkan atau dikurangi dengan cara penggabungan berbagai resiko. Risiko spesifik atau risiko yang dapat didiversifikasi dapat dihilangkan melalui proses penggabungan (pooling). Konsep risiko sistematik dan spesifik sangat berguna dalam menangani risiko keuangan. Banyak risiko yang berkaitan dengan keuangan perusahaan dapat ditekan dengan menerapkan diversifikasi.
Definisi Risiko (skripsi dan tesis)
Seluruh kegiatan yang dilakukan baik perorangan atau perusahaan mengandung risiko. Kegiatan bisnis sangat serta kaitannya dengan risiko. Risiko dalam kegiatan bisnis juga dikaitkan dengan besarnya pengambilan yang akan diterima oleh pengambil risiko. Semakin besar risiko yang dihadapi umumnya dapat diperhitungkan bahwa pengembalian yang diterima juga akan lebih besar. Pola pengambilan risiko menunjukkan sikap yang berbeda terhadap pengambilan risiko. Risiko adalah ketidakpastian dan dapat menimbilkan terjadinya peluang kerugian terhadapat pengambil keputusan. Ketidakpastian merupakan situasi yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, mendefinisikan risiko sebagai peluang terjadinya hasil yang tidak diinginkan sehingga risiko hanya tekait dengan situasi yang memungkinkan munculnya hasil negatif serta berkaitan dengan kemampuan memperkirakan terjadinya hasil negatif (Muslich,2007). Dapat disimpulkan bahwa risiko selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadimya sesuatu yang merugikan yang tidak diduga/ tidak diinginkan.
Jenis-jenis Pembiayaan (skripsi dan tesis)
a. Jenis pembiayaan dilihat dari tujuan 1) Pembiayaan konsumtif, bertujuan untuk memperoleh barangbarang atau kebutuhan lainnya guna memenuhi keputusan dalam konsumsi. 2) Pembiayaan produktif, adalah bentuk pembiayaan yang bertujuan untuk memperlancar jalannya proses produksi, mulai dari saat pengumpulan bahan mentah, pengolahan, sampai pada proses penjualan barang-barang yang sudah jadi. b. Jenis pembiayaan dilihat dari jangka waktu 1) Show term credit (pembiayaan jangka pendek) adalah pembiayaan yang berjangka waktu maksimum satu tahun. Dilihat dari sisi perusahaan, pembiayaan jangka pendek dapat berbentuk seperti pembiayaan rekening koran, pembiayaan penjual, pembiayaan pembeli, pembiayaan wesel, dan pembiayaan eksploitasi. 2) Intermediate term credit (pembiayaan jangka waktu menengah), merupakan suatu bentuk pembiayaan yang berjangka waktu dari 1 sampai 3 tahun. 3) Long term credit (pembiayaan jangka panjang), merupakan suatu bentuk pembiayaan yang berjangka waktu lebih dari 3 tahun. 4) Demand loan atau call loan adalah suatu bentuk pembiayaan yang setiap waktu dapat diminta kembali. c. Jenis pembiayaan dilihat dari lembaga yang menerima pembiayaan 1) Pembiayaan untuk badan usaha pemerintah/daerah, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada perusahaan/ badan usaha yang dimiliki pemerintah. 2) Pembiayaan untuk badan usaha swasta, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada perusahaan/ badan usaha yang dimiliki swasta. 3) Pembiayaan perorangan, yaitu pembiayaan yang tidak diberikan kepada perusahaan, tetapi kepada perorangan. 4) Pembiayaan untuk Bank Koresponden, Lembaga Pembiayaan, dan Perusahaan Asuransi yaitu pembiayaan yang diberikan kepada Bank Koresponden, Lembaga Pembiayaan, dan Perusahaan Asuransi. d. Jenis pembiayaan dilihat dari tujuan penggunaan 1) Pembiayaan modal kerja/ pembiayaan eksploitasi, adalah pembiayaan untuk modal kerja perusahaan dalam rangka pembiayaan aktiva lancar perusahaan dalam rangka pembiayaan aktiva lancar perusahaan, seperti pembelian bahan baku/mentah, bahan penolong/ pembantu, barang dagangan, dan lain-lain. 2) Pembiayaan investasi adalah pembiayaan (berjangka menengah atau panjang), yang diberikan kepada usaha-usaha guna merehabilitasi, modernisasi, perluasan, ataupun pendirian proyek baru, seperti pembelian mesin, bangunan, dan tanah untuk pabrik. Pembiayaan ini digunakan juga untuk pengadaan barang modal, seperti pembelian mesin, bangunan, tanah untuk pabrik, pembelian alat-alat produksi baru, perbaikan alat-alat produksi secara besar-besaran. 3) Pembiayaan konsumsi, adalah pembiayaan yang diberikan untuk keperluan konsumsi berupa barang atau jasa dengan cara membeli, menyewa, atau dengan cara lain, meliputi pembiayaan kendaraan pribadi, pembiayaan untuk pembayaran sewa/ kontrak rumah, pembelian alat-alat rumah tangga.
Pengertian Pembiayaan (skripsi dan tesis)
Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan beberapa hal sebagai berikut: 1) Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah. 2) Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik. 3) Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’. 4) Transaksi pinjam-meminjam dalam bentuk piutang qardh. 5) Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dana diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil. Penilaian atas kualitas aset produktif dalam bentuk pembiayaan dilakukan berdasarkan faktor-faktor prospek usaha, kinerja (performance) nasabah, dan kemampuan membayar. Kualitas aset produktif dalam bentuk pembiayaan digolongkan menjadi lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet. Berikut adalah penjelasannya : a. Pembiayaan Lancar (Pass), apabila memenuhi kriteria seperti dibawah ini: 1) Pembayaran angsuran pokok dan bagi hasil tepat waktu. 2) Memiliki mutasi rekening aktif. 3) Bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan agunan tunai. b. Perhatian Khusus (Special Mention), apabila memenuhi kriteria: 1) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bagi hasil yang belum melampaui 90 hari. 2) Kadang – kadang terjadi cerukan. 3) Mutasi rekening relatif aktif. 4) Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan, atau 5) Didukung oleh pinjaman baru. c. Kurang Lancar (Substandard), apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bagi hasil yang telah melampaui 90 hari. 2) Sering terjadi cerukan . 3) Frekuensi mutasi rekening relatif rendah. 4) Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari. 5) Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi. d. Diragukan (Doubtful), apabila memenuhi kriteria: 1) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bagi hasil yang telah melampaui 180 hari. 2) Terjadi cerukan yang bersifat permanen. 3) Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari. 4) Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun pengikatan jaminan. e. Macet (Loss), apabila memenuhi kriteria: 1) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bagi hasil yang telah melampaui 270 hari. 2) Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru. 3) Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar. Pada dasarnya, terdapat dua tujuan yang saling berkaitan dari pembiayaan, yaitu sebagai berikuta. Profitability, yaitu untuk memperoleh hasil pembiayaan berupa keuntungan yang diraih dari bagi hasil yang harus dibayar oleh penerima pembiayaan (debitur). Oleh karena itu, lembaga keuangan hanya akan menyalurkan pembiayaan kepada usaha yang diyakini mampu dan mau mengembalikan pembiayaan yang telah . diterimanya. b. Safety, yaitu keamanan dari prestasi atau fasilitas yang diberikan harus benar-benar terjamin sehingga tujuan profitability dapat benar-benar tercapai tanpa hambatan yang berarti. Keamanan ini dimaksudkan agar prestasi yang diberikan dalam bentuk uang, barang atau jasa itu betul-betul terjamin pengembaliannya sehingga keuntungan (profitability) yang diharapkan dapat menjadi kenyataan. Pembiayaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian, selain tujuan yang telah disebutkan diatas, pembiayaan juga mempunyai fungsi sebagai berikut. a. Meningkatkan utility (daya guna) dari modal/ uang. Para pengusaha akan menikmati pembiayaan untuk memperluas/ memperbesar usahanya, baik untuk peningkatan produksi, perdagangan, maupun untuk usaha-usaha rehabilitasi ataupun peningkatan produktivitas secara menyeluruh. b. Meningkatkan utility (daya guna) suatu barang. Dengan pembiayaan produsen dapat memproduksi bahan jadi sehingga utility dari bahan tersebut meningkat. c. Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang. Pembiayaan yang disalurkan melalui rekening koran mendorong pengusaha untuk menciptakan pertambahan peredaran uang giral dan sejenisnya seperti cek, bilyet giro, wesel, promes, dan sebagainya. d. Menimbulkan gairah berwirausaha. Manusia adalah makhluk yang selalu melakukan kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhannya. e. Alat stabilisasi ekonomi. Dalam keadaan ekonomi yang kurang sehat langkah-langkah stabilisasi pada dasarnya diarahkan untuk pengendalian inflasi, peningkatan ekspor, rehabilitasi sarana, dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat. f. Jembatan untuk peningkatan pendapatan nasional. Pengusaha yang memperoleh pembiayaan tentu saja berusaha untuk meningkatkan usahanya dalam upaya untuk meningkatkan profit. g. Sebagai alat meningkatkan hubungan ekonomi internasional. Negara-negara kaya atau yang kuat ekonominya, demi persahabatan antarnegara banyak memberikan bantuan kepada negara-negara yang sedang berkembang atau sedang membangun
Proses Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
a. Identifikasi risiko Proses identifikasi risiko dilakukan dengan melakukan analisis terhadap karakteristik risiko yang melekat pada perusahaan tersebut, risiko dari produk dan kegiatan usaha perusahaan. Teknik identifikasi risiko yang dapat dipakai sebagai berikut: a) Identifikasi seluruh risiko secara berkala. b) Melakukan identifikasi risiko pada seluruh produk dan aktivitas bisnis perusahaan. c) Menganalisis seluruh sumber risiko, yang paling tidak dilakukan terhadap risiko produk dan aktivitas perusahaan serta memastikan bahwa risiko dari produk dan aktivitas baru telah melalui proses manajemen risiko yang layak sebelum diperkenalkan atau dijalankan. b. Pengukuran risiko Pengukuran risiko adalah proses sistematis yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengukur tinggi rendahnya risiko yang dihadapi perusahaan melalui kuantifikasi risiko. Tindakan yang perlu diperhatikan adalah:a) Evaluasi secara berkala terhadap kesesuaian asumsi, sumber data, dan prosedur yang digunakan. “Secara berkala” adalah minimal secara triwulanan atau lebih sesuai dengan perkembangan usaha perusahaan dan kondisi eksternal yang memengaruhi kondisi perusahaan. b) Penyempurnaan terhadap sistem pengukuran risiko apabila terdapat perubahan kegiatan usaha perusahaan, produk, transaksi, dan faktor risiko yang bersifat material yang dapat memengaruhi kondisi keuangan perusahaan. c. Pemantauan risiko Sistem dan prosedur pemantauan mencakup pemantauan terhadap besarnya eksposur risiko, toleransi risiko, kepatuhan limit internal, dan hasil stress testing atau konsistensi pelaksanaan dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. Pemantauan dilakukan baik oleh unit pelaksana maupun oleh SKMR (Satuan Kerja Manajemen Risiko). Hasil pemantauan disajikan dalam laporan berkala yang disampaikan kepada manajemen dalam rangka mitigasi risiko dan tindakan yang diperlukan. d. Pengendalian risiko Sebuah perusahaan harus memiliki sistem pengendalian risiko yang memadai dengan mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. Proses pengendalian risiko harus disesuaikan dengan eksposur risiko atau tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko. Pengendalian dapat dilakukan dengan metode mitigasi risiko, antara lain lindung nilai dan penambahan modal untuk menyerap potensi kerugian.
Pengertian Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Manajemen adalah suatu aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan personal, perencanaan, dan pengawasan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang berkenaan dengan unsurunsur pokok dalam suatu proyek. Manajemen dalam bahasa Arab disebut dengan idarah, yaitu sarana untuk merealisasikan tujuan umum. Manajemen risiko merupakan serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha Bank. Dilihat dari sisi landasan hukumnya, manajemen risiko merupakan aplikasi dari prinsip kehati-hatian yang secara umum dianut perbankan. Selain itu, manajemen risiko dapat dikatakan pula sebagai suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman. Manajemen risiko yang efektif oleh bank akan menghasilkan tingkat kinerja dan kesehatan yang baik bagi bank yang bersangkutan. Sedangkan manajemen risiko pada bank Islam merupakan suatu proses berkelanjutan tentang bagaimana bank mengelola risiko yang dihadapinya. Meminimalkan dampak yang ditimbulkan pada berbagai risiko yang tidak dikehendaki. Di sisi lain, menerima dan beroperasi dengan risiko tersebut. Bahkan dalam tataran yang lebih tinggi, jikamemungkinkan bank Islam dapat mengonversi risiko menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Pengertian lainnya, manajemen risiko adalah tentang bagaimana bank secara aktif memilih jenis dan tingkat risiko yang sesuai dengan kegiatan usaha bank tersebut. Tujuan utama dari manajemen risiko adalah untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan risiko dan bisnis bisa diimplementasikan secara konsisten.
Proses Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Proses manajemen risiko merupakan tindakan dari seluruh entitas terkait di dalam organisasi. Tindakan berkesinambungan yang dilakukan sejalan dengan definisi manajemen risiko yang telah dikemukakan yaitu, identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko. a. Identifikasi Sebelum manajemen risiko, maka harus dapat diketahui adanya risiko tersebut, berarti membangun pengertian tentang sifat risiko yang dihadapi dan dampaknya terhadap aktifitas perusahaan. Pengidentifikasian risiko itu merupakan proses penganalisisan untuk menemukan secara sistematis dan secara berkesinambungan risiko yang menantang perusahaan. Identifikasi dan pemetaan risiko meliputi: a) Menetapkan kerangka kerja untuk implementasi strategi risiko secara keseluruhan b) Menentukan definisi kerugian c) Menyusun dan melakukan implementasi mekanisme pengumpulan data d) Membuat pemetaan kerugian kedalam kategori risiko yang dapat diterima dan tidak dapat diterima. b. Pengukuran Risiko Setelah mengidentifikasi berbagai risiko yang dihadapi perusahaan, maka selanjutnya risiko itu harus diukur. Perluka diukur adalah untuk menentukan relative pentingnya dan untukmemperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko untuk menanganinya. Perlunya diukur adalah untuk menentukan relative pentingnya dan memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen risiko yang cocok untuk emnanganinya. Dimensi yang harus diukur yaitu frerkusensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi dan keparahan dari kerugian tersebut
Prasarana Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Salah satu hal yang penting dikerjakan untuk mempersiapkan manajemen risiko adalah menyiapkan prasarana yang mendukung manajemen risiko,yang meliputi prasarana lunak dan prasarana keras. a. Prasarana Lunak Ada beberapa isu yang berkaitan dengan penyiapan manajemen risiko yaitu: Pertama, Mengembangkan budaya sadar risiko untuk anggota organisasi. Tujuan dari budaya sadar risiko ini adalah agar setiap anggota organisasi sadar adanya risiko dan mengambil keputusan tertentu dengan mempertimbangkan aspek risikonya. Tujuan budaya sadar risiko adalah agar anggota lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Kedua, Dukungan manajemen. Dukungan manajemen bias ditunjukkan melalui partisipasi manajemen pada program manajemen risiko. b. Prasarana Keras Disamping prasarana lunak, prasarana keras juga perlu disiapkan. Contoh prasarana keras yang perlu disiapkan adalah ruang perkantoran, computer dan prasarana fisik lainnya. Prasarana fisik tersebut perlu disiapkan agar pekerjaan manajemen risiko berjalan sebagaimana mestinya.
Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan sistematis. Manajemen risiko didefinisikan sebagai serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan organisasi. Menurut Hanafi, bahwa risiko muncul karena ada kondisi ketidakpastian. investasi bisa mendatangkan keuntungan (harga naik), bisa juga menyebabkan kerugian (harga turun). Ketikpastian tersebut menyebabkan munculnya risiko. Risiko terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Manajemen resiko diperlukan untuk : a) Mendukung pencapaian tujuan b) Memungkinkan untuk melakukan aktivitas yang memberikan peluang yang jauh lebih tinggi, risiko yang lebih tinggi diambil dengan dukungan sikap dan solusi yang sesuai dengan risiko. c) Mengurangi kemungkinan kesalahan fatal. d) Menyadari bahwa risiko dapat terjadi pada setiap aktivitas dan tingkatan dalam organisasi sehingga setiap individu harus mengambil dan mengelola risiko masing-masing sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.
Pengertian Risiko (skripsi dan tesis)
Risiko dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) ialah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.Kata kuncinya adalah “tujuan” dan dampak/sisi yang berlawanan.” Penjelasannya adalah sebagai berikut. Guna mempertahankan eksistensi kehidupan, maka diperlukan suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan diperlukan tindakan atau aktivitas. Aktivitas memiliki risiko jika dampaknya berlawanan. Sebaliknya, aktivitas memberikan peluang untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembahasan mengenai resiko selanjutnya adalah dihubungkan dengan organisasi. Setiap organisasi yang berdiri pasti mempunyai visi,misi yang ingin dicapai. Tentunya, tujuan tersebut berpeluang untuk dicapai dan juga kemungkinan resiko untuk tidak tercapai. Pembahasan mengenai resiko tidak terlepas dari pembahasan mengenai tingkat kemungkinan risiko terjadi (frequency of risk events) dan tingkat dampak kerugian dari risiko yang terjadi (impact/severity of risk losses). Untuk memahami apakah itu resiko, dapat diketahui dengan dua cara pandang yang berbeda, cara pandang tersebut adalah: “Risiko merupakan bahaya: risiko adalah anaman atau kemungkinan suatu tindakan atu kejadian yang menimbulkan dampak yang berlawanan dengan tujuan yang ingin dicapai.” “Risiko juga merupakan peluang: risiko adalah sisi yang berlawanan dari peluang untuk mencapai tujuan.”
Fungsi Manajemen (skripsi dan tesis)
Adapun fungsi manajemen disini hanya dipaparkan satu pendapat saja yang memandang secara umum dipergunakan dalam berbagai instansi atau lembaga. Fungsi manajemen yang dimaksud adalah yang biasa disebut dengan istilah POAC yaitu: Planing, Organizing, Actuating, dan Controling. 1. Planing (Perencanaan) Planning atau perencanaan adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi dalam kebijkasanaan proyek, program prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain planning yaitu menentukan tujuan yang hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut. 2. Organizing Pengorganisasian yaitu mengelompokkan dan menentukan berbagai kegiatan penting dan memberikan kekuasaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Sedangkan Handoko mengemukakan bahwa pengorganisasian adalah: a) Penentuan sumber daya dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk mencaapai tujuan organisasi. b) Perancangan dari pengembangan suatu organisasi atau kelompok kerja akan dapat membawa hal-hal tersebut kearah tujuan. c) Penugasan tanggung jawab tertentu d) Pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu untuk melaksanakan tugasnya. Fungsi ini menciptakan struktur formal dimana ditetapkan, dibagi, dan dikoordinasikan. 3. Actuating Pengarahan yang baik adalah mengintegrasikan usahausaha anggota pada suatu kelompok sedemikian, sehingga dengan selesainya tugas-tugas yang diserahkan kepada mereka, mereka memenuhi tujuan-tujuan individual dan kelompok. Semua usaha kelompok memerlukan pengarahan kalau usaha itu akan berhasil dalam mencapai tujuan kelompok. 4. Controling Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian pengawasan. Hal itu dapat dilakukan dengan kegiatan manajer yang mengusahakan agar pekerjaan terlaksana dan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Sehingga manajer harus memastikan bahwa tindakan para anggota organisasi kearah tujuan yang telah ditetapkan.
Pengertian Manajemen (skripsi dan tesis)
Istilah manajemen berasal dari kata kerja to manage berarti control. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan mengendalikan, menagani atau mengelola. Manajemen menurut George R.Terry didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan serta pengawasan aktifitas-aktifitas suatu organisasi dalam rangka upaya mencapai suatu koordinasi sumber daya manusia dan sumber daya alam dalam hal pencapaian sasaran secara efektif dan efisien. Manajemen menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan ialah manajemen adalahSelanjutnya, menurut Haiman manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usahausaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Manajemen merupakan kebutuhan penting untuk memudahkan pencapaian tujuan manusia dalam lembaga keuangan syariah. Manajemen diperlukan untuk mengelola berbagai sumber daya organisasi, seperti sarana, prasarana, waktu, SDM, metode dan lainnya. Manajemen juga menunjukkan caracara yang lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Manajemen telah memungkinkan kita untuk mengurangi hambatan-hambatan dalam rangka pencapaian suatu tujuan. Manajemen memberikan prediksi dan imajinasi agar kita dapat mengantisipasi perubahan lingkungan yang serba cepat. Secara umum pengertian manajemen adalah pengelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja. ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Definisi Teknologi Informasi (skripsi dan tesis)
Teknologi Informasi (TI) adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan atau menyebarkan informasi. TI menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan piranti genggam modern. Pengertian teknologi informasi menurut beberapa ahli teknologi informasi : 1. Teknologi Informasi adalah studi atau peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan, menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata-kata, bilangan, dan gambar (kamus Oxford, 1995). 2. Teknologi Informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi (Haag & Keen, 1996). 3. Teknologi Informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (software & hardware) yang digunakan untuk memproses atau menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi (Martin, 1999). 10 4. Teknologi Informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis (Lucas, 2000). 5. Teknologi Informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video (William & Sawyer, 2003). Dalam konteks bisnis, Information Technology Association of America menjelaskan pengolahan, penyimpanan dan penyebaran vokal, informasi bergambar, teks dan numerik oleh mikro elektronika berbasis kombinasi komputasi dan telekomunikasi. Istilah dalam pengertian modern pertama kali muncul dalam sebuah artikel 1958 yang diterbitkan dalam Harvard Business Review, di mana penulis Leavitt dan Whisler berkomentar bahwa “Teknologi baru belum memiliki nama tunggal yang didirikan. Kita akan menyebutnya teknologi informasi (TI)”. Beberapa bidang modern dan muncul teknologi informasi adalah generasi berikutnya teknologi web, bioinformatika, cloud computing, sistem informasi global, skala besar basis pengetahuan dan lain-lain.
Definisi Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman dan merupakan suatu rangkaian aktifitas manusia termasuk : penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi). Pengertian manajemen risiko menurut beberapa ahli sebagai berikut : 1. Manajemen risiko sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian (Clough and Sears, 1994). 2. Manajemen risiko juga merupakan suatu aplikasi dari manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menangani sebab dan akibat dari ketidakpastian pada sebuah organisasi (William, et.al., 1995, p.27).
Definisi Risiko (skripsi dan tesis)
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, ini terjadi oleh karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Menurut Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity), sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah risiko (risk). Secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seseorang atau perusahaan dimana terdapat kemungkinan yang merugikan. Vaughan (1997:18) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut : 1. Risk is the chance of loss (risiko adalah kans kerugian) Chance of Loss dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana terdapat suatu keterbukaan terhadap kerugian atau suatu kemungkinan kerugian. Sebaliknya jika disesuaikan dengan istilah yang dipakai dalam statistik, maka chance sering dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. 2. Risk is the possibility of loss (risiko adalah kemungkinan kerugian) Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada di antara nol dan satu. Definisi ini sangat mendekati dengan pengertian risiko yang dipakai sehari-hari, kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif. 3. Risk is uncertainty (risiko adalah ketidakpastian) Risiko selalu berhubungan dengan ketidakpastian.
Risiko (skripsi dan tesis)
Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Menurut Hanafi (2014), risiko bisa didefinisikan sebagai kejadian yang merugikan, definisi lain yang sering dipakai adalah kemungkinan hasil yang diperoleh menyimpang dari yang diharapkan. Menurut Tjakra dan Sangari (2011), risiko (risk) adalah kejadian yang berpeluang mempengaruhi proyek secara negatif sebagai akibat dari adanya ketidakpastian. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan atau probabilitas terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan. Risiko pada umumnya bisa dipandang sebagai sesuatu yang negatif, seperti kehilangan, bahaya, dan konsekuensi lainnya. Dengan demikian risiko dapat dikatakan sebagai suatu kesempatan, dalam terminologi kuantitatif, dari suatu kejadian bahaya yang didefinisikan. Terminologi kuantitatif yang dimaksud didapat dari pengukuran probabilitas terjadinya suatu kejadian dan dikombinasikan dengan pengukuran konsekuensi dari kejadian tersebut, atau secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut (Kerzner dalam Suwinardi, 2016): Risk = Event x Impact. Macam-macam risiko menurut Hanafi (2014) terbagi menjadi 6 jenis, yaitu risiko murni, risiko spekulatif, risiko subjektif, risiko objektif, risiko dinamis, dan risiko statis. 1. Risiko murni (pure risk) adalah risiko dimana kemungkinan kerugian ada, tetapi kemungkinan keuntungan tidak ada. 2. Risiko spekulatif adalah risko dimana kita mengharapkan terjadinya kerugian dan keuntungan. 3. Risiko subjektif berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap risiko. Dengan kata lain, kondisi mental seseorang akan menentukan kesimpulan tinggi rendahnya risiko tertentu. 4. Risiko objektif adalah risiko yang didasarkan pada observasi parameter yang objektif. 5. Risiko dinamis muncul dari perubahan kondisi tertentu. 6. Risiko statis muncul dari kondisi keseimbangan tertentu. Manajemen risiko merupakan pendekatan yang dilakukan terhadap risiko yaitu dengan memahami, mengidentifikasi, dan mengevaluasi risiko sutu proyek. Kemudian mempertimbangkan apa yang akan dilakukan terhadap dampak yang ditimbulkan dan kemungkinan pengalihan risiko kepada pihak lain atau mengurangi risiko yang terjadi (Labombang, 2011). Menurut Suwinardi (2016), manajemen proyek berkonsentrasi pada masalah jadwal dan biaya. Bagaimana melaksanakan proyek sesuai jadwal dan biaya yang direncanakan merupakan fokus dari manajemen proyek. manajemen risiko pada proyek meliputi langkah memahami dan mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin terjadi, mengevaluasi bagaimana risiko ini mempengaruhi keberhasilan proyek, monitoring, dan penanganan risiko. Menurut Ramli (2010), analisa risiko dimaksudkan untuk menentukan besarnya suatu risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besar akibat yang ditimbulkannya. Berdasarkan hasil analisa dapat ditentukan peringkat risiko sehungga dapat dilakukan pemilahan risiko yang memiliki dampak besar dan risiko yang ringan atau dapat diabaikan. Penilaian risiko adalah upaya untuk menghitung besarnya suatu risiko dan menetapkan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Ramli (2010) menyatakan bahwa hasil analisis risiko selanjutnya dikembangkan matrik atau peringkat risiko yang mengkombinasikan antara kemungkinan dan keparahannya. Jika kemungkinan terjadinya suatu risiko sangat tinggi, serta akibat yang ditimbulkan juga sangat parah, maka risiko tersebut digolongkan sebagai risiko tinggi.
Manajemen Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)
Menurut Soeharto (dalam Putri, 2017) Manajemen proyek konstruksi adalah merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan sumber daya untuk mencapai sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Adapun tujuan dari proses manajemen proyek adalah sebagai berikut ini. 1. Agar semua rangkaian kegiatan tersebut tepat waktu, dalam hal ini tidak terjadi keterlambatan penyelesaian suatu proyek. 2. Biaya yang sesuai, maksudnya agar tidak ada biaya tambahan lagi diluar dari perencanaan biaya yang telah direncanakan. 3. Kualitas desuai dengan persyaratan. 4. Proses kegiatan sesuai persyaratan. Menurut Siswanto (dalam Putri, 2017), dalam manajemen proyek, penentuan waktu penyelesaian kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan awal yang sangat penting dalam proses perencanaan karena penentuan waktu tersebut akan menjadi dasar bagi perencana yang lain, yaitu: 1. Penyusunan jadwal (scheduling), anggaran (budgeting), kebutuhan sumber daya manusia (manpower planning), dan sumber organisasi yang lain. 2. Proses pengendalian (controlling). Standar kinerja waktu ditentukan dengan merujuk tahapan kegiatan proyek beserta durasi dan penggunaan sumber daya, dari semua informasi dan data yang diperoleh dilakukan proses penjadwalan sehingga aka nada output berupa formatformat laporan lengkap mengenai progress waktu seperti Barchart, Network Planning, Kurva-S, dan Kurva Earned Value. Hasil pemantauan dari laporan pada format-format di atas perlu dilakukan evaluasi dan koreksi dengan cara memperbarui data dan informasi agar kinerja waktu tercapai sesuai rencana. Selanjutnya masalah-masalah yang timbul yang dapat menghambat kinerja waktu adalah (Abrar dalam Ismael, 2013): 1. Alokasi penempatan sumber daya tidak efektif karena penyebarannya fluktuatif dan ketersediaan sumber daya yang tidak menukupi. 2. Terjadinya keterlambatan proyek disebabkan oleh: a. Jumlah tenaga kerja yang terbatas. b. Peralatan yang tidak mencukupi. c. Metode kerja yang salah. d. Kondisi cuaca buruk. Keterlambatan proyek (construction delay) diartikan sebagai penundaan penyelesaian pekerjaan sesuai kontrak kerja dimana secara hukum melibatkan beberapa situasi yang menyebabkan timbulnya klaim. Keterlambatan proyek timbul ketika kontraktor tidak dapat menyelesaikan proyek sesuai dengan waktu yang tercantum dalam kontrak. Sedangkan waktu kontrak (contract time) merupakan maksimum waktu yang diperlukan oleh kontraktor untuk meyelesaikan pekerjaan sesuai dengan dokumen kontrak (Wijayanthi dalam Bakhtiyar dkk., 2012). Di dalam proses manajemen pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi, berbagai jenis keterlambatan proyek diklasifikasikan dalam 6 aspek kajian, yakni (Bakhtiyar dkk., 2012): 1. Aspek Perencanaan dan Penjadwalan Pekerjaan 2. Aspek Lingkup dan Dokumen Pekerjaan 3. Aspek Sistem Organisasi, Koordinasi, dan Komunikasi 4. Aspek Kesiapan/Penyiapan Sumber Daya 5. Aspek Sistem Inspeksi, Kontrol, dan Evaluasi Pekerjaan 6. Aspek Force Majeure
Kinerja Proyek Konstruksi (skripsi dan tesis)
Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan pada umumnya berjangka waktu pendek (Ervianto, 2005). Dalam rangkaian kegiatan tersebut, terdapat suatu proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan konstruksi. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihakpihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kinerja proyek merupakan bagaimana cara kerja proyek tersebut dengan membandingkan hasil kerja nyata dengan perkiraan cara kerja pada kontrak kerja yang disepakati antara pihak owner dengan pihak kontraktor pelaksana pekerjaan. Keberhasilan suatu proyek konstruksi dapat dilihat dari kemampuan keterlibatan berbagai pihak dalam menyelesaikan pekerjaan berdasarkan kriteria standarisasi mutu, dana yang efektif dan efisien serta pencapaian waktu sesuai dengan jadwal. Kinerja proyek pada umumnya dinilai dari aspek kinerja biaya, kinerja mutu, dan kinerja waktu Husein (2001) : 1) Kinerja biaya merupakan perbandingan antara biaya anggaran dengan biaya realisasi, dikatakan baik jika biaya aktual proyek lebih kecil sehingga tidak melebihi anggaran. 2) Kinerja mutu adalah perbandingan antara mutu rencana dengan mutu realisasi, dikatakan baik bila mutu proyek sesuai standar yang direncanakan. 3) Kinerja waktu adalah perbandingan waktu perencanaan dengan waktu realisasi pelaksanaan, dikatakan baik jika waktu aktual proyek selesai lebih cepat atau sesuai rencana.
Sumber Risiko (skripsi dan tesis)
Menentukan sumber risiko merupakan hal yang sangat penting karena mempengaruhi cara penanganannya. Menurut Smith (1999) risiko juga dapat diidentifikasi dari sumber dan dampak kerugiannya, berdasarkan sumbernya risiko dapat diidentifikasi dan digolongkan ke dalam kategori : 1) Risiko finansial, berhubungan dengan masalah perekonomian dan keuangan baik dari keuangan perusahaan maupun dari perekonomian negara, contohnya eskalasi, inflasi, jadwal pembayaran termin dan lain-lain. 2) Risiko hukum, menyangkut hukum dan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek, contohnya proses perijinan. 3) Risiko politik, mengenai suasana politik di suatu negara yang mendukung / menjamin keberlangsungan suatu proyek contohnya investasi para investor. 4) Risiko sosial, menyangkut persepsi respon masyarakat terhadap pelaksanaan suatu proyek konstruksi yang sedang dijalankan. 5) Risiko lingkungan, mempengaruhi kondisi / keadaan disekitar lokasi proyek. 6) Risiko komunikasi, mengenai faktor yang mempengaruhi komunikasi antar pihak / personal yang terlibat dalam sistem pelaksanaan proyek. 7) Risiko geografis / alam, menyangkut gangguan yang timbul dilokasi proyek akibat adanya pengaruh kondisi geografis / alam. 8) Risiko konstruksi, berbagai faktor yang berhubungan dengan produktivitas penyelenggaraan proses konstruksi menyangkut SDM, material, peralatan. 9) Risiko teknis / masalah teknis seperti ketersediaan data dan komponen lain. 10) Risiko logistik menyangkut ketersediaan SDM, material dan peralatan.
Identifikasi Risiko (Risk Identification) (skripsi dan tesis)
Kegiatan ini merupakan proses peninjauan area-area pada proses-proses teknis yang berpeluang memiliki faktor risiko potensial mempengaruhi pencapaian sasaran biaya, kinerja (peformance) dan waktu penyelesaian proyek. Identifikasi risiko ialah proses peninjauan seluruh risiko untuk dianalisis dan diketahui respon risiko yang dilakukan, agar tidak berdampak buruk bagi proyek. Menurut A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK), langkah dalam tahapan identifikasi risiko adalah peninjauan kembali dokumen, teknik pengumpulan informasi, analisis checklist, analisis asumsi dan dengan teknik diagram.
Perencanaan Risiko (Risk Planning) (skripsi dan tesis)
Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika diterapkan sejak awal kegiatan walaupun seringkali dilakukan pada tahap pelaksanaan atau operasional kegiatan sasarannya adalah untuk meminimalkan risiko-risiko potensial dan memaksimalkan kesempatan-kesempatan yang mungkin bisa diraih. Tahap ini merupakan proses untuk menentukan langkah-langkah dalam menyelesaikan risiko yang timbul dalam suatu proyek, maka dari itu faktor risiko harus didefinisikan dalam bentuk suatu rencana atau prosedur yang reaktif. Perencaaan manajemen risiko menggambarkan tentang bagaimana manajemen risiko disusun dan dilaksanakan dengan baik dalam sebuah proyek konstruksi. Keberhasilan proyek diukur melalui empat sasaran proyek, yaitu Cost, Time, Scope, dan Quality. Dampak risiko terhadap proyek dapat dikategorikan rendah, sedang, atau tinggi, tergantung bagaimana risiko tersebut mempengaruhi proyek.
Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Pada manajemen proyek, yang sangat berpengaruh dari risiko ialah kegagalan mempertahankan biaya, waktu dan mencapai kualitas serta keselamatan kerja. Risiko dalam proyek konstruksi merupakan probabilitas kejadian yang muncul dalam satu periode waktu dan bisa terjadi secara alami dalam situasi tertentu. Faktor risiko tidak dapat dihilangkan namun dapat diminimalisir dampaknya. Peluang terjadinya risiko selalu ada dalam semua tahapan kegiatan proyek konstruksi diantaranya tahapan perencanaan (planning), perancangan (design), pelaksanaan (construction) dan tahap penyelesaian (operation and maintenance). Berbagai risiko dalam pelaksanaan proyek konstruksi harus dapat dikelola dengan baik agar diperoleh hasil pekerjaan yang sesuai rencana stakeholders dan menghasilkan keuntungan bagi pihak yang berkepentingan dalam proyek tersebut. (Wang. Y : 2004) Manajemen risiko merupakan pendekatan yang efektif untuk menangani risiko pada proyek konstruksi dengan cara mengidentifikasi sumber risiko dan ketidakpastian, menetapkan pengaruhnya dan mengembangkan respon yang tepat. Tujuan dari manajemen risiko tidak hanya untuk mengurangi risiko tetapi dapat digunakan oleh seorang pengambil keputusan dalam memperkirakan risiko dengan mengubah risiko menjadi suatu peluang keuntungan atau pendapatan. Menurut Uher (1996) tahapan manajemen risiko terdiri dari lima kegiatan yaitu perencanaan (Planning), identifikasi (Risk Identification), analisa (Risk Analysis), penanganan (Risk Responses) dan tahapan pemantauan / monitoring risiko.
Tahapan uji model fisik (skripsi dan tesis)
Menurut Ajiwibowo, H, dan Yuanita, N (2011) tahapan dalam uji model fisik di laboratorium pantai berbeda beda, sesuai dengan apa yang akan diujikan. Secara garis besar tahapan pemodelan adalah sebagai berikut : 1. Persiapan pemodelan berupa perolehan gambar model yang akan diuji. 2. Penentuan skala model dengan memperhatikan kapasitas laboratorium. 3. Persiapan benda uji termasuk pasir/sedimen model apabila dibutuhkan. 4. Set-up dasar laut seperti kemiringan dan pembentukan kontur sedimen apabila diperlukan. 5. Set-up alat-alat perekam data 6. Uji sentivitas saluran/kolam gelombang dengan dasar saluran/kolam yang telah disesuaikan dengan keadaan prototipe. 7. Peletakan benda uji seperti breakwater. 8. Eksperimen laboratorium 9. Analisis hasil eksperimen. Dibawah ini akan dijelaskan mengenai tahapan uji model untuk perhitungan transpor sedimen menurut Kemen PU Dirjen SDA (2007). Tahapannya adalah sebagai berikut : 1. Tahap persiapan pemodelan Tahap persiapan model ini terdiri dari beberapa kegiatan, yakni : a. Pengumpulan data Agar model serupa dengan prototipenya, dibutuhkan informasi mengenai parameter lingkungan. Parameter lingkungan yang dimaksud meliputi elevasi penting pasang surut, tinggi, dan perioda gelombang, dimensi dan material pada prototipe, dan lain sebagainya. b. Persiapan benda uji Persiapan benda uji meliputi perhitungan kebutuhan bahan/material, c. Persiapan laboratorium Meliputi persiapan personil, persiapan kebutuhan material, pembuatan jadwal pengujian dan persiapan alat berupa kalibrasi alat. d. Penyusunan skenario pemodelan Pada kegiatan ini dibuat skenario model yang akan dilakukan saat pengujian. Skenario model yang dimaksud misalnya variasi tinggi gelombang, variasi periode dan lain sebagainya. 2. Tahap pembangunan model a. Penentuan skala model. Penentuan besarnya skala yang akan digunakan dibatasi oleh kemampuan/kapasitas alat pembangkit gelombang, lingkungan yang akan dimodelkan serta kemudahan dalam pembuatan model. b. Penentuan ukuran batuan dan prototipe. Langkah selanjutnya adalah menentukan ukuran dan berat batuan yang akan digunakan sebagai cover, filter dan core layer serta menentukan diameter pasir. c. Pembuatan model dalam kolam gelombang. Dilanjutkan dengan pembuatan model di dalam kolam gelombang. Model dibuat sesuai kontur pantai di lapangan dengan skala sesuai perhitungan skala model. 3. Tahap pengambilan data Setelah pembangunan model dalam kolam selesai dikerjakan, kolam gelombang diisi dengan air sampai mencapai elevasi tertentu (sesuai dengan data). Mesin gelombang dihidupkan, pengambilan data dapat mulai dilaksanakan. Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan visual dan pengukuran kontur sebelum dan sesudah RUN. Pengambilan data bisa dilakukan secara manual atau menggunakan software.
Keuntungan dan kerugian uji model fisik (skripsi dan tesis)
Ajiwibowo, H, dan Yuanita, N (2011) menyatakan keuntungan dari model fisik adalah sebagai berikut : 1 Model fisik yang terintegrasi dengan persamaan yang sesuai, mengatur proses dengan baik tanpa menyederhanakan asumsi yang harus dibuat untuk pemodelan analitik ataupun numerik. 2 Ukuran model yang kecil membuat pengumpulan data yang lebih mudah sepanjang peraturan pada biaya yang dikurangi, dimana pengumpulan data lapangan lebih mahal dan sulit, serta simulasi pengukuran lapangan sangat sulit dicapai. 3 Eksperimen dapat dikendalikan sesuai kemampuan laboratorium 4 Dapat melihat umpan balik secara langsung. Ajiwibowo, H, dan Yuanita, N (2011) memberikan enam alasan untuk mendukung penggunaan model fisik untuk pembelajaran dan pemecahan masalah teknik pantai, yakni : 1 Teknologi model berskala menerapkan biaya efektif berhubungan dengan ukuran dan magnitude dari proyek-proyek pantai dan laut. Model fisik hidraulik menambahkan reliabilitas dan kredibilitas untuk proses pengambilan keputusan. 2 Teknik percobaan laboratorium akan selalu menjadi salah satu alat yang berguna dalam teknik kelautan dikarenakan batas dasar dari mekanisme fluida akibat turbulensi. 3 Teknik-teknik baru ini mengijinkan penemuan akan hubungan fisik dari aliran fluida lebih dari apa yang telah diketahui. Teknik memproses data juga mengijinkan perlakuan dari data dalam jumlah yang sangat besar. 4 Tingkat keakuratan pemodelan matematis banyak menunjukkan kesalahan- kesalahan penting dan model fisik menawarkan sebuah kesempatan untuk mengawasi dan mengukur fisik disebuah lingkungan yang terkontrol. 5 Model fisik tetap menjadi komputer analog yang terbaik. Model ini mengijinkan reproduksi dari kondisi batas yang kompleks di luar keakuratan kesalahan yang tetap. 6 Kontak fisik dengan elemen fluida tetap menjadi panduan terbaik untuk penemuan yang berdasarkan intuisi. Model fisik mendemonstrasikan secara visual dan dengan kredibilitas dari apa yang akan terjadi. Hal ini menstimulasi imajinasi dan panduan solusi teknik yang kreatif pada tingkatan yang tidak dapat dijangkau oleh teori dan komputer. Meskipun terdapat banyak keuntungan dalam pengujian model fisik, menurut Vries (1977) model fisik tipe scale models memiliki efek yang serius yakni : 1. Efek skala yang umum terjadi pada model pantai adalah gaya viskos/kekentalan yang relatif lebih besar pada model dibandingkan pada kondisi prototipenya. Semakin kecil skala (di atas 1:40) maka efek viskositas ataupun efek tegangan permukaan air akan menjadi besar terhadap keseluruhan eksperimen. 2. Efek laboratorium dapat mempengaruhi proses yang disimulasikan pada tingkatan dimana pendekatan yang layak dari prototipe tidak dapat dipenuhi. Efek laboratorium seperti ini muncul akibat ketidakmampuan untuk menciptakan kondisi gaya yang realistis dan pengaruh batasan model ketika disimulasikan. Efek laboratorium yang umum muncul ketika gelombang acak dibangkitkan didalam model untuk memperkirakan arah gelombang yang terjadi pada kondisi sebenarnya di alam, tidak dilibatkan dalam model fisik dan fungsi serta kondisi yang hilang ini harus dibuatkan penilaian dan diperhitungkan dalam evaluasi dari hasil model. Contoh : tegangan geser angin yang bekerja pada permukaan bebas dapat membangkitkan sirkulasi arus dekat pantai yang signifikan di alam. Hal ini tentunya tidak ditemukan pada model yang hanya melibatkan pembangkit gelombang mekanik.
Pengertian uji model fisik (skripsi dan tesis)
Uji model fisik adalah nama umum pada studi laboratorium karena menggunakan reproduksi miniatur dari sebuah sistem fisik sebuah prototipe. Pemodelan fisik diperlukan karena pemodelan ini dapat menggambarkan fenomena fisik yang sebenarnya yang tidak dapat diprediksi menggunakan pemodelan numerik (Ajiwibowo, H, dan Yuanita, N, 2011). Uji model fisik adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui fenomena alam dari suatu sistem. Uji model fisik dilaksanakan di dalam laboratorium dimana kondisi alam dapat diatur sesuai dengan keadaan di lapangan. Maka sering juga uji model fisik disebut sebagai uji model laboratorium. Dalam perencanaan detail engineering desain pada pekerjaan perlindungan pantai terkadang diperlukan uji model fisik. Uji model fisik dilakukan untuk memberikan dukungan pada hasil perhitungannya. Hal ini disebabkan karena interaksi hidraulik-sedimen sangat kompleks, karakteristik linier dari persaman pengatur gerak, keterbatasan informasi pada turbulensi, friksi di dasar perairan dan lain sebagainya yang tidak dapat dimodelkan secara numerik. Ajiwibowo, H, dan Yuanita, N (2011) menyatakan bahwa ada tiga tujuan dilakukannya uji model fisik, yakni: 1 Mencari pendekatan kualitatif ke dalam fenomena yang belum terdefinisikan atau dipahami (seperti formasi turbulensi ketika gelombang pecah, formasi dari lubang scour/gerusan pada struktur pantai) 2 Mendapatkan pengukuran untuk memverifikasi sebuah hasil teoritis (seperti gelombang nonlinear pada arus searah atau gelombang nonlinear yang saling berinteraksi) 3 Mendapatkan pengukuran untuk fenomena yang begitu rumitnya hingga tidak dapat didekati secara teoritis (seperti stabilitas breakwater rubble-mound atau suspense sedimen pada dasar laut jenis ripple). Selanjutnya berdasarkan Manual Perencanaan Teknis Pengaman Pantai Manual 7 Pemodelan Fisik Pengaman Pantai (2007) ada dua tujuan dari pelaksanaan model fisik. Yang pertama adalah model fisik digunakan untuk memverifikasi atau melebarkan model numerik. Yang kedua model fisik untuk menyediakan solusi rekayasa dari permasalahan-permasalahan di lapangan.
Uji Model Fisik (skripsi dan tesis)
Model adalah contoh gambaran dari suatu obyek. Contoh model yakni maket, manekin baju, mini prototipe, gambar, dan lain-lain. Dengan adanya model, obyek yang ingin ditampilkan akan terlihat lebih nyata sehingga mudah dipahami. Menurut Triatmodjo (2008) secara umum model dibagi dalam 2 (dua) kategori : model numerik, dan model fisik. Model numerik adalah representasi matematis dari sebuah sistem fisik yang meliputi persamaan umum yang didiskritasi dan dipecahkan secara komputer. Pemodelan ini mudah dikerjakan karena hanya membutuhkan input data di komputer, dimana perhitungan selanjutnya diproses oleh sistem. Output dari sistem sudah berupa informasi yang dibutuhkan pengguna. Selain itu model numerik bersifat ekonomis. Kekurangan pemodelan ini adalah tidak semua permasalahan bisa dihitung menggunakan pemodelan ini karena keterbatasan kemampuan aplikasi. Salah satu contoh penggunaan model numerik adalah perhitungan struktur dengan aplikasi pemodelan gelombang pantai pada komputer. Model fisik dapat dibagi menjadi dua yakni full models dan scale models. Model fisik full models menggambarkan prototipe secara utuh (skala 1:1), sedangkan scale model adalah reproduksi miniatur dari sebuah sistem fisik sebuah prototipe (Vries,1977). Pemodelan fisik membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pemodelan fisik diperlukan karena pemodelan ini dapat menggambarkan fenomena fisik yang sebenarnya yang tidak dapat diprediksi menggunakan pemodelan numerik. Umpan balik yang ditimbulkan dari suatu prototipe dapat langsung diketahui. Pemodelan dilakukan untuk memperoleh gambaran dari perilaku sistem yang kompleks. Dimana setiap tahapan pemodelan harus diiringi langkah validasi untuk meyakini kebenaran dan ketepatannya. Uji model ini mampu menggambarkan kondisi nyaris sama dengan keadaan di lapangan. Dengan dibuatnya model ini kelakuan dan kerja suatu bangunan atau mesin yang akan dibuat dapat diprediksi. Kekurangan dari prototipe dapat segera diketahui sehingga hasil yang diperoleh lebih maksimal (Ajiwibowo, H, dan Yuanita, N, 2011). vv
Alokasi kepemilikan risiko (skripsi dan tesis)
Alokasi risiko adalah penentuan pemegang tanggung jawab dari suatu risiko. Alokasi risiko bisa dilakukan setelah risiko diidentifikasi dan di klasifikasikan. Alokasi risiko dilakukan berdasarkan penilaian terhadap hubungan antara pihak- pihak yang terlibat dengan risiko tersebut. Norken,dkk (2015) mengemukakan beberapa prinsip dalam pengalokasian risiko, yaitu : 1. Pihak mana yang mempunyai kontrol terhadap kejadian yang menimbulkan risiko 2. Pihak mana yang dapat menangani risiko apabila itu muncul. 3. Pihak mana yang mengambil tanggung jawab jika risiko tidak terkontrol. 4. Jika risiko diluar kontrol semua pihak, maka diasumsikan sebagai risiko bersama. Jika risiko sudah teralokasi, diharapkan mampu meminimalisir kemungkinan timbulnya perselisihan diantara pihak yang terlibat. Uji Model Fisik di Laboratorium Pantai
Mitigasi risiko (skripsi dan tesis)
Mitigasi risiko (risk mitigation) disebut juga sebagai penanganan risiko. Pada tahapan ini risiko ditangani sampai batas yang dapat diterima. Hal ini bertujuan untuk mengurangi akibat dari risiko yang sudah teridentifikasi. Tindakan penanganan risiko dilakukuan dengan cara mewawancarai para ahli bidang tersebut, curah pendapat, dan penyebaran kuisioner. Sehingga di dapat penanganan terhadap risiko dominan dengan kategori unacceptable (tidak dapat diterima) dan undesirable (tidak diharapkan) (Norken,dkk 2015). 1. Risk retention (menahan risiko) Tindakan untuk menahan risiko ini dilakukan karena dampak dari risiko tersebut masih dalam batas yang dapat diterima. 2. Risk reduction (mengurangi risiko) Tindakan ini dilakukan untuk memahami risiko itu sendiri, dan melakukan usaha pencegahan pada sumber risiko serta mengkombinasikan tindakan sehingga konsekuensi risiko yang diperkirakan terjadi dapat berkurang dan tidak terjadi Risk Mitigation Risk Retention Risk Reduction Risk Transfer Risk Avoidance secara simultan. Pengurangan risiko ini biasanya masih menyisakan risiko (risiko sisa) tetapi masih pada tingkat konsekuessi yang dapat diterima. 3. Risk transfer (memindahkan risiko) Tindakan ini dilakukan dengan memindahkan sebagian atau seluruh risiko yang mungkin terjadi kepada pihak lain yang memiliki kemampuan untuk memikul atau mengendalikannya. 4. Risk avoidance (menghindari risiko) Menghindari risiko dilakukan dengan menghindari aktivitas yang tingkat kerugiannya tinggi atau dengan melakukan penolakan.
Analisis risiko kualitatif (skripsi dan tesis)
Analisis risiko dilakukan untuk menentukan besarnya suatu risiko dengan memperhitungkan kemungkinan terjadinya risiko dan akibat yang ditimbulkan. Hasil analisa risiko akan menentukan peringkat risiko. Sehingga dapat dipisahkan risiko yang berdampak besar (major risk) dengan risiko yang berdampak kecil (minor risk) (Ramli, 2010). Godfrey,dkk (1996) membagi cara analisis risiko menjadi dua, yakni dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis risiko kuantitatif berfokus pada evaluasi terhadap terjadinya risiko. Sedangkan analisis risiko kualitatif berfokus pada identifikasi dan penilaian risiko. Menurut Godfrey,dkk (1996) analisis risiko kualitatif dapat membantu untuk mengidentifikasi, menilai dan meranking risiko secara jelas sehingga perhatian pada risiko utama (major risk) dapat terpusat. Dengan analisis risiko kita bisa memperjelas keputusan terkait batasan kerugian, meminimalisir potensi kerusakan apabila timbul keadaan yang paling buruk. Analisis risiko juga mampu mengontrol aspek ketidakpastian dalam proyek. Selain itu analisis risiko juga dapat memperjelas dan menegaskan peran setiap orang/badan yang terlibat dalam manajemen risiko. Agar analisis risiko kualitatif dapat dilakukan dengan baik, semua risiko yang bisa diidentifikasi beserta sumbernya harus dicatat dan dikontrol.
Klasifikasi risiko (skripsi dan tesis)
Setelah risiko-risiko dapat teridentifikasi dilakukan klasifikasi risiko. Klasifikasi risiko adalah pengelompokan faktor-faktor penyebab risiko, jenis risiko, dan pengaruh risiko. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam membedakan dan memahami risiko tersebut. Flagnan dan Norman (1993) menyebutkan ada tiga cara untuk mengklasifikasikan risiko yakni dengan mengidentifikasi risiko berdasarkan konsekuensi risiko, jenis risiko, dan pengaruh risiko. Berdasarkan konsekuensi risiko dapat dibagi lagi berdasarkan frekuensi kejadian, akibat risiko, dan kemungkinan terjadinya risiko. Berdasarkan jenisnya, risiko dilompokkan menjadi risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko spekulatif dibagi dua yakni risiko yang berkaitan dengan asset dan risiko yang berkaitan dengan modal. Pengaruh risiko dapat dikelompokkan berdasarkan pengaruh risiko terhadapt perusahaan, terhadap lingkungan, terhadap pasar/industri dan terhadap proyek/individu.
Identifikasi risiko (skripsi dan tesis)
Identifikasi risiko adalah kegiatan untuk mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan usaha. Identifikasi risiko bertujuan untuk mengidentifikasi seluruh kemungkinan risiko yang mungkin terjadi mulai dari yang kecil sampai yang besar di lingkungan kegiatan serta dampak yang ditimbulkan. Keberhasilan suatu proses manajemen risiko ditentukan oleh kemampuan dalam menentukan atau mengidentifikasi semua risiko yang ada dalam kegiatan. Terdapat beberapa teknik untuk mengidentifikasi risiko, salah satunya dengan menelusuri sumber risiko sampai terjadinya peristiwa yang tidak dikehendaki hingga menjadi penyebab kerugian (Ramli,2010). Menurut Darmawi (2006) identifikasi risiko adalah kegiatan menganalisa untuk menemukan risiko potensial secara sistematis yang mengancam perusahaan. Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan bantuan penggunaan checklist, untuk menginventarisir semua kerugian potensial yang dihadapi dari setiap bagian usaha yang dilakukan (Kasidi,2010). Setelah itu dilakukan pendekatan secara sistematik untuk menentukan yang mana kerugian potensial yang sedang dihadapi oleh perusahaan yang sedang dianalisis. Selain checklist, cara identifikasi risiko adalah dengan wawancara dengan personil ahli yang terlibat, serta diskusi yang membahas topik tertentu (brain stroming). Pengalaman sebelumnya juga dapat digunakan sebagai informasi dalam menganalisa ketidakpastian di masa yang akan datang (Labombang,2011). Ramli (2010) berpendapat bahwa ada beberapa pertimbangan dalam menentukan teknik identifikasi risiko, antara lain : 1. Sistematis dan terstruktur 2. Berpikir kreatif tentang kemungkinan bahaya yang belum pernah dikenal sebelumnya 3. Kesesuaian sifat dan skala kegiatan perusahaan 4. Ketersediaan informasi yang dibutuhkan Risiko dapat dikenali dari sumbernya (source), kejadiannya (event) dan akibatnya (effect). Kondisi-kondisi yang mungkin memperbesar terjadinya risiko disebut sumber risiko. Event adalah kegiatan atau hal yang dapat mempengaruhi atau memberikan akibat (effect) dimana sifatnya bisa merugikan, bisa menguntungkan (Flagnan dan Norman, 1993).
Konsep Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Untuk menemukan risiko-risiko potensial digunakan pendekatan yang terorganisir seperti manajemen risiko. Selanjutnya dapat diketahui dampak buruk dan pengembangan rencana respon yang sesuai untuk mengatasi risiko-risiko potensial (Kasidi, 2011). Manajemen risiko merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan risiko. Dimana di dalamnya terdapat perencanaan (planning), identifikasi (identification), penilaian (assessment), analisa (analysis), penanganan (handling), dan pemantauan (monitoring), terhadap risiko (Marques, 2013). Manajemen risiko harus dilakukan sejak awal dengan didukung informasi tersebut. Sehingga kondisi usaha yang sesungguhnya dapat menjadi jelas sebelum terlambat dan dapat terhindar dari kegagalan yang lebih besar. Melalui manajemen risiko akan dilakukan metode yang tepat untuk menghindari atau mengurangi besarnya kerugian yang diderita akibat risiko. Manajemen risiko yang baik dapat menghindari semaksimal mungkin biaya–biaya yang terpaksa harus dikeluarkan akibat terjadinya suatu peristiwa yang merugikan dan sebaliknya menunjang keuntungan perusahaan. Menurut Kasidi (2011) secara tidak langsung, manajemen risiko memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Memberikan pemahaman tentang risiko, efek dan keterkaitannya secara lebih baik dan pasti sehingga menambah keyakinan dalam pengambilan keputusan. 2. Meminimalisir jumlah kejadian di luar dugaan dan memberikan gambaran tentang akibat negatifnya sehingga mengurangi ketegangan dan kesalah pahaman. 3. Menangkal timbulnya hal-hal dari luar yang dapat menggangu kelancaran operasional 4. Membantu menyediakan sumber daya dengan baik 5. Menimbulkan kedamaian pikiran dan ketenangan kerja dalam bekerja. 6. Meningkatkan kesan publik perusahaan sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan terhadap karyawan dan masyarakat 7. Menstabilkan pendapatan Berdasarkan standar AS/NZS 4360 dalam Ramli (2010) proses manajemen risiko mencakup langkah sebagai berikut : 1. Menentukan konteks, 2. Identifikasi risiko 3. Penilaian risiko, meliputi analisa dan evaluasi risiko. 4. Pengendalian risiko 5. Komunikasi dan konsultasi 6. Pemantauan dan tinjau ulang Flanagan dan Norman (1993) mengemukakan langkah pertama dalam proses manajemen risiko adalah identifikasi risiko. Kualitas dari analisis kualitatif sangat ditentukan oleh identifikasi risiko. Kemudian risiko dikelola dengan baik sehingga tidak menjadi ancaman terhadap tujuan yang ingin dicapai.
Pengertian Risiko (skripsi dan tesis)
Ada berbagai macam definisi mengenai risiko. Norken (2015) mengemukakan risiko sebagai faktor yang memberikan pengaruh buruk dan harus ditangani untuk tercapainya penyelesaian pekerjaan yang dibatasi oleh waktu, biaya dan kualitas. Risiko juga dapat diartikan sebagai kerugian akibat dari munculnya suatu kejadian yang tidak diharapkan. Kejadian yang tidak diharapkan ini bisa muncul dari berbagai sumber (Sunaryo,2007). Menurut Labombang (2011) risiko adalah variasi hal yang mungkin terjadi secara alami atau kemungkinan terjadinya peristiwa di luar hal yang diharapkan yang mengancam keuntungan properti dan keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi. Menurut Vaughan (1978) ada 3 definisi risiko yang yakni : 1. Risk is the Chance of Loss (risiko adalah peluang terjadinya kerugian). 2. Risk is the Possibility (risiko adalah kemungkinan kerugian) 3. Risk is uncertainty (risiko adalah ketidakpastian) Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan risiko adalah kemungkinan terjadinya kerugian yang timbul akibat adanya ketidakpastian. Risiko pada pelaksanaan uji model fisik di laboratorium adalah suatu keadaan yang timbul karena adanya ketidakpastian dengan peluang kejadian tertentu yang bila terjadi akan menimbulkan konsekuensi fisik maupun finansial yang merugikan bagi tercapainya tujuan laboratorium dalam hal ini adalah biaya, waktu dan mutu penelitian.
Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) (skripsi dan tesis)
FMEA adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin metode kegagalan (failure mode) FMEA digunakan untuk mengidentifikasi sumber – sumber dan akar penyebab dari suatu masalah kualitas, Failure mode and effect analysis (FMEA) menerapkan suatu metode pentabelan untuk membantu proses pemikiran yang digunakan oleh engginer untuk mengidentifikasi mode kegagalan potensial dan efeknya. FMEA merupakan teknik evaluasi tingkat keandalan dari sebuah system untuk menentukan efek dari kegagalan dari system tersebut. Fokus perhatian diutamakan pada bentuk kegagalan yang ada. Bentuk kegagalan dapat didefinisikan sebagai setiap peristiwa yang mungkin dapat menyebabkan model sistem atau proses mengalami kegagalan. Cara yang tepat adalah untuk menunjukkan hubungan dan perbedaan antara kegagalan fungsi terlebih dahulu, lalu mencatat bentuk kegagalan yang disebabkan oleh kegagalan fungsi. (Gasperz,2002). Tahapan – Tahapan FMEA : 1. Melakukan pengamatan terhadap proses 2. Mengidentifikasi potensial failure mode dari proses yang diamati. 3. Mengidentifikasi akibat (potensial effect) yang ditimbulkan potensi failure mode. 4. Menetapkan nilai severity (S) meupakan penilaian seberapa serius efek failure mode 5. Mengidentifikasi penyebab (potensial cause) dari failure mode pada proses yang berlangsung. 6. Menetapkan nilai occurance (O). occurance menunjukkan nilai keseringan/ frekuensi suatu masalah yang terjadi karena potencial cause. 7. Mengidentifikasi kontrol proses saat ini (current process control) yang merupakan deskripsi dari control untuk mencegah kemungkinan suatu yang menyebabkan mode kegagalan. 8. Menettapkan niali detection (D), dimana detection menggambarkan seberapa mampu proses kontrol selama ini untuk mendeteksi ataupun pencegah terjadinya mode kegagalan. 9. Menetukan nilai risk priority number (RPN) dengan car mengalihkan nilai severity (S) accurance (O) detective (D). RPN = S*O*D. Nilai RPN menunjukkan keseriusan dari potential failure. 10. Memberikan usulan perbaikan (recommended action) terhadap potential cause, alat kontrol dan efek yang diakibatkan. Prioritas perbaikan pada failure mode yang memiliki RPN tertinggi dan seterusnya
Prinsip – Prinsip Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Menurut (Leo J.Susilo ,Victof Riwu Kaho ISO 31000:3) memiliki prisip manajemen risiko sebagai berikut : a. Manajemen risiko melindungi dan menciptakan nilai tambah Manajemen risiko memberikan kontribusi melalui peningkatan kemungkinan pencapaian sasaran perusahaan secara nyata. Selaian itu, juga memberikan perbaikan dalam aspek keselamatan, kesehatan kerja, kepatuhan uterhadap peraturan perundang-undangan, perlindungan lingkungan hidup, persepsi publik, kualitas produk, reputasi, corporate governance, efisiensi operasi dan lain-lain. b. Manajemen risiko adalah bagian terpadu dari proses organisasi Manajemen risiko merupakan bagaian dari tanggung jawab manajemen dan merupakan bagian tidak terpisah dari proses organisasi,proyek, dan manajemen perubahan. Manajemen risiko bukanlah suatu aktivitas yang berdiri sendiri dan terpisah dari kegiatan serta proses organisasi dalam mencapai sasaran. c. Manajemen risiko adalah bagian dari proses pengambilan keputusan Manajemen risiko membantu para pengambil keputusan untuk mengambil keputusan atas dasar pilihan-pilihan yang tersedia dengan informasi yang selengkap mungkin. d. Manajemen risiko secara khusus menangani aspek ketidakpastian Manajemen risiko secara khusus menangani aspek ketidakpastian dalam proses pengambilan keputusan. Manajemen memperkirakan bagaimana sifat ketidakpastian dan bagaimanakah hal tersebut harus ditangani. e. Manajemen risiko bersifat sistematik, terstruktur, dan tepat waktu Sifat sistematik, terstuktur dan tepat waktu digunakan dalam pendekatan manajemen risiko inilah yang memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan konsistensi manajemen risiko. Dengan dimikian, hasilnya dapat dibandingkan dengan memberikan hasil serta perbaikan. f. Manajemen risiko berdasarkan pada informasi terbaik yang tersedia Pengalaman, observasi, perkiraan, penilaian ahli dan data lain yang tersedia. Akan tetapi harus disadari bahwa semua informasi ini mempunyai keterbatasan yang harus dipertimbangkan dalam porses pengambilan keputusan, baik dalam membuat model risiko maupun perbedaan pendapat yang mungkin terjadi di antara para ahli. g. Manajemen risiko adalah khas untuk penggunanya (tailored) Manajemen risiko harus diselaraskan dengan konteks internal dan ekternal organisasi, serta sasaran organisasi dan profil risiko yang dihadapi organisasi tersebut. h. Manajemen risiko mempertimbangkan faktor manusia dan budaya Penerapan manajemen risiko haruslah mengenali kapabilatas organisasi persepsi dan tujuan masing-masing individu di dalam serta di luar organisasi, khususnya yang menunjang atau menghambat pencapaian organisasi. i. Manajemen risiko harus transparan dan inklusif Untuk memastikan bahwa manajemen risiko tetap relavan dan terkini, para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan di setiap tingkatan organisasi harus dilibatkan secara efektif. Keterlibatan ini juga harus memungkinkan para pemangku kepentingan terwakili dengan baik dan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta kepentingannya, terutama dalam merumuskan kriteria risiko. j. Majemen risiko bersifat dinamis, berulang, dan tanggap tehadap perubahan Ketika terjadi peristiwa baru, baik di dalam maupun di luar organisasi, konteks manajemen risiko dan pemahaman yang ada juga mengalami perubahan. Manajemen risiko senantiasa memerhatikan, merasakan, dan tanggap terhadap perubahan. k. Manajemen risiko harus memfasilitasi terjadinya perbaikan dan peningkatan organisasi secara berlanjut Manjemen organisasi harus senantiasa mengembangkan dan menerapkan perbaikan strategi manajemen risiko serta meningkatkan kematangan pelaksa anaan manajemen risiko, sejalan dengan aspek lain dari organisasi.
Manajemen Risiko berbasis ISO 31000 (skripsi dan tesis)
Definisi dan Ruang Lingkup ISO 31000 merupakan standart yang berkaitan
dengan manajemen risiko yang dikodifikasi oleh internasional Organization for
Standardization (ISO) atau organisasi untuk standarisasi. Standar internasional
yang menyediakan prinsip dan panduan generik untuk penerapan manajemen
risiko. ISO 31000 dapat digunakan untuk organisasi perusahaan publik,
perusahaan swasta, organisasi nirlaba, kelompok, ataupun perseorangan. Oleh
karena itu, standar ini tidak spesifik bagi industri atau sektor tertentu.
Walaupun standar ini menyediakan panduan genrik, hal ini tidak
dimaksudkan untuk membuat keseragaman penerapan manajemen risiko pada
semua organisasi. Perencanaan dan penerapan manajemen risiko akan tergantung
pada kebutuhan yang bervariasi dari setiap organisasi, khususnya sasaran dari
setiap organisasi yang berbeda, konteks, struktur, produk, jasa, proyek dan proses
operasi, serta praktik-praktik khas yang digunakan.
Dalam Standar Internasional ini, digunakan dua macam istilah,
yaitu“manajemen risiko” dan “pengolahan risiko”. Secara umum “manajemen
risiko” merujuk pada arsitektur (prinsip, kerangka kerja, dan proses) untuk
mengelola risiko, sedangkan “mengelola risiko” mengacu pada bagaimana
arsitektur tadi digunakan terhadap suatu risiko tertentu.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen
risiko berbasis ISO 31000 adalah sebagai berikut :
1) Menetapkan konteks secara umum
Dengan ditetapkannya konteks berarti manajemen organisasi menentukan
batasan atau parameter internal dan eksternal yang akan dijadikan
pertimbangan dalam pengelolaan rsiko, menentukan lingkup kerja, dan
kriteria risiko untuk proses-proses selanjutntya. Konteks yang ditetapkan
harus meliputi semua parameter internal dan eksternal yang relavan dan
penting bagi organisasi. Dalam menetapkan konteks akan banyak ditemui
kesamaan parameter dengan proses sebelumnya, saat membuat kontek
untuk prosedur manajemen risiko, perlu dipertimbangkan secara lebih rinci
dan khususnya bagaimana hal tersebut saling berhubungan dengan lingkup
prosedur manajemen risiko (Susilo & Kaho 2010:87)
2) Menentukan konteks eksternal
Konteks ekternal adalah lingkungan eksternak dimana organisasi tersbut
mengupayakan pencapaian sasaran yang ditetapkannya. Memahami
konteks ekternal penting untuk memastikan siapa saja pemangku
kepentingan eksternal dan apa saja kepentingan dan sasarannya sehingga
dapat dipertimbangkan dalam menentukan kriteria risiko. Proses
penentuan kriteria risiko ini dilakukan dengan mempertimbangkan konteks
organisasi secara luas, tetapi dengan memperhatikan ketentuan hokum dan
peraturan perundangan secara lebih rinci, persepsi para pemangku
kepentingan, san aspek lain yang spesifik dari risiko tertentu pada proses
manajemen risiko.
Konteks ekternal dapat meliputi, tetapi terbatas pada hal-hal berikut :
Lingkungan politik, ekonomi, social,budaya,hokum,keunagan,
teknologi, dan keadaan alam, baik nasioanal regional maupun
internasional yang berpengaruh terhadap pencapaian sasaran
organisasi.
Persepsi dan nilai – nilai para pemangku kepentingan eksternal.
3) Menentukan konteks internal
Konteks internala dalah lingkungan internal dimana organisasi tersebut
mengupayakan pencapaian sasaran yang ditetapkannya. Proses manajemen
risiko haruslah diseleraskan dengan budaya, proses dan struktur organisasi.
Konteks internal adalah segala sesuatu didalam organisasi yang dapat
mempengaruhi cara organisasi mengelola risiko. Hal ini harus ditetapkan
karena :
Proses manajemen risiko dilaksanakan dalam bentuk pencapaian
sasaran organisai.
Sasaran dan kriteria dalam sutau proses atau proyek harus di
pertimbangkan dengan memerhatikan sasaran organisasi secara
keseluruhan.
Salah satu risiko terbesar adalah kegagaln organisasi dalam
mencapai sasaran strategis, sasaran proyek, dan sasaran bisnis.
Risiko kegagalan ini mempengaruhi kemampuan organisasi dalam
memenuhi kewajibannya dan dapat berakibat pada kredibilitas,
kepercayaan, serta nilai organisasi.
Penting untuk memahami konteks internal ini dalam pengertian
misalnya sebagai beriikut :
Kapabilitas organisasi dalam pengertian sumber daya dan
sumber pengetahuan yang dimiliki (misalnya modal, waktu,
orang, system, proses, dan teknologi)
Sistem informasi, alur komunikasi, dan proses pengambilan
keputusan, baik yang for,a; ,maupun informal
Kebujakan, sasaran, dan strategi untuk mencapainya
Para emangku kepentingan internal
Persepsi, nilai-nilaui dan budaya organisasi
Standard dan model acuan yang diadopsi organisasi serta
Struktur (governance, peran dan akuntabilitas)
4) Menetapkan konteks proses atau prosedur manajemen risiko
Konteks proses manajemen risiko adalah konteks dimana proses
manajemen risiko diterapkan. Hal ini meliputi sasaran organisasi, startegi,
lingkup. Parameter kegiatan organisasi, atau bagian lain dimana
manajemen risiko diterapkan. Penerapan manajemen risiko dilaksanakan
dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat dalam pelaksanaanya.
Sumber daya, tanggung jawab, akuntabilitas,kewenangan, dan
pencatatan/dokumentasi proses yang diperlukan, harus ditentukan dengan
baik.
Konteks manajemen risiko akan berubah sesuai dengan kebutuhan
organisasi. Hal ini dapat meliputi, tetapi tidak terbatas pada hal – hal
sebagai berikut.
Penetapan tanggung jawab ubtuk proses manajemen risiko.
Penetapan lingkup kegiatan manajemen risiko, baik dari luas
maupun kedalamannya termasuk bila ada hal-hal khusus yang
harus diperhatikan atau tidak dicakup.
Penentuan tujuan, sasaran, lokasi, maupun tempat dari kegiatan,
proses,fungsi,proyek,produk jasa dan harta yang terkena kegiatan
manajemen risiko.
Penentuan hubungan dari proyeka tau kegiatan khusus organisasi
dengan proyek dan kegiatan lain organisasi.
Penentuan metode untuk penilaian kinerja manajemen risiko.
Melakukan identifikasi dan spesifikasi keputusan-keputusan yang
harus di ambil.
Melakukan identifikasi, lingkup, ataupun kerangka kajian studi
yang diperlukan, termasuk luas dan sasaranya serta sumber daya
yang diperlukan untuk melakukan kajian tersebut.
Perhatian terhadap factor relavan dan lainnya harus mampu memastikan
bahwa pendekatan manajemen risiko yang diterapkan sesuai sengan
keadaan organisasi dan risiko yang mempengaruhi pencapaian tujuannya
(Susilo & Kaho 2010:88)
5) Mengembangkan kriteria risiko
Organisasi harus menetapkan kriteria risiko yang akan digunakan untuk
mengevaluasi tingkat bahaya suatu risiko. Kriteria ini dapat merupakan
cerminan nilai-nilai organisasi, sasaran organisasi, dan dampak terhadap
sumber daya yang dimilki organisasi. Beberapa kriteria lain dapat
ditambahkan dari aspek hokum dan peraturan kriteria lain dapat
ditambahkan dari aspek hokum dan peraturan perundang – undangan serta
aturan lain yang terkait dengan standart industri.
Faktor yang harus dipertimbangkan saat menyusun kriteria risiko
mencakup sebagai berikut :
Jenis dan sifat dari dampak yang mungkin terjadi serta bagaimana
mengukurnya.
Bagaimana menetapkan kemungkinana terjadinya.
Kerangka waktu pengukuran kemungkinan dan dampak.
Bagaimana menentukan peringkat risiko.
Pada peringkat manakah risiko dapat diterima atau di tolerir.
Pada pertingkat manalah risiko memerlukan pelaksanaan.
Apakah kombinasi dari berbagai macam risiko perlu mendapatkan
pertimbangan khusus
Ruang Lingkup Risiko Operasional (skripsi dan tesis)
Menurut Lam (2014:241-246), ruang lingkup risiko operasional terdiri atas :
a. Risiko Proses
Risiko operasional timbul dari proses yang tidak efektif dan/atau tidak efisien.
Tidak efektif dapat didefinisikan sebagai hal-hal yang dapat menggagalkan
pencapaian tujuan, sementara tidak efisien dapat diartikan sebagai hal-hal yang
dapat menunjang pencapaian tujuan akan tetapi menghabiskan banyak biaya. Pada
umumnya risiko proses berkaitan dengan proses transaksi, yang mencakup
penjualan, pematokan harga (pricing),dokumentasi, konfimasi, dan pemenuhan
(fulfilment). Risiko-risiko tersebut berpotensi menimbulkan kerugian dalam aspek
keuangan, pelanggan, dan reputasi perusahaan. Misalnya kesalahan pematokan
harga jual dapat mengakibatkan perusahaan memperoleh laba yang rendah,
sementara masalah pemenuhan dapat mengakibatkan customer menjauh dari
perusahaan.
Risiko signifikan lainnya dapat berasal dari proses dokumentasi.
Ketidakcukupan dokumentasi berpotensi menimbulkan misscommunication antara
pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah kontrak sehingga dapat menciptakan
tambahan risiko ketidakpastian ketika terjadi suatu perselisihan. Misalnya
mengenai dokumen persetujuan transaksi.
13
b. Risiko Sumber Daya Manusia
People Risk biasanya timbul dari hambatan-hambatan yang dialami oleh
karyawan, kompetisi yang tidak membangun pentingnya kesadaran akan risiko.
hambatan karyawan tejadi ketika perusahaan tidak dapat memenuhi posisi-posisi
karyawan di titik-titik kritis karena jangka waktu karyawan lebih pendek, atau
karena kompensasi atau insentif lainnya tidak cukup menarik perhatian kandidatkandidat baru. Kompetisi yang kurang memadai menjadi masalah ketika
karyawan-karyawan perusahaan tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan
yang cukup untuk melaksanakan tugas mereka dengan tepat. Lalu masalah ketidak
jujuran pencurian aset perusahaan oleh karywan. Sementara masalah budaya
organisasi yang tidak sadar akan risiko berpotensi juga untuk menimbulkan
perilaku-perilaku yang menyimpang dari para karyawan.
c. Risiko insidental
Risk Event merupakan risiko atas kerugian yang berhubungan erat dengan
peristiwa-peristiwa tunggal yang tidak diharapkan, akan tetapi berpotensi
membawa dampak yang serius jika risiko-risiko tersebut benar-bener terjadi.
Misalnya, kecurangan internal atau kecurangan ekternal, kegagalan
sistem,dislokasi pasar, dan bencan alam.
d. Risiko bisnis
Risiko bisnis merupakan risiko atas kerugian yang berhubungan dengan
perubahan yang tidak diharapkan dalam lingkungan kompetitif. Risiko ini
mencakup masalah strategi perusahaan, manajemen klien, pemgembangan
produk, pematokan harga, dan masalah penjualan.
Pengelompokan ruang lingkup risiko operasional juga dipaparkan oleh InterAmerican Development Bank dalam Muslich (2007: 11-14) yang membagi ruang
lingkup risiko operasional dalam enam klasifikasi, yakni :
a. Masalah pengendalian internal seperti struktur organisasi, yaitu risiko yang
disebabkan oleh tidak memadainya pemisahan tugas, fungsi, wewenang dan
tanggung jawab dalam struktur organisasi perusahaan.
b. Masalah otorisasi atau pendelegasian wewenang yaitu risiko yang timbul dari
suatu transaksi yang dilaksanakan tanpa otorisasi yang sesuai dengan kerangka
kerja operasional perusahaan.
c. ketidak cukupan prosedur atau tidak berfungsinya proses internal seperti
dalam aktivitas baru.
d. Proses transaksi, yaitu risiko dari kesalahan atau kegagalan pengendalian
dalam satu atau lebih pemrosesan transaksi sebagai berikut :
1) Pencatatan, yaitu risiko yang timbul saat transaksi tidak dicatat atau tidak
tercatat dengan benar, yang mengakibatkan kesalahan dalam informasi
eksposur risiko sehingga memengaruhi keputusan yang di ambil.
2) Penilaian (penghitungan) posisi, yaitu risiko yang disebabkan dari tidak
terdeteksinya perbedaan antara posisi yang dilaporkan oleh unit bisnis
dengan satuan kerja yang melaksanakan fungsi kontrol dan pengendalian.
3) Konfirmasi, yaitu risiko yang timbul akibat proses konfirmasi tidak dapat
mendeteksi terjadinya kesalahan dalam data transaksi yang tercatat, atau
dari transaksi yang telah dilaksanakan namun tidak tercatat.
4) Penyelesain transaksi (settlement), yaitu risiko yang timbul akibat aset
tidak ditagih (diterima) atau dibayarkan (dikirimkan) sesuai dengan
tanggal penagihan atau pembayaran yang telah di sepakati, atau tidak
dilaksanakan dengan tepat.
5) Aset fisik, yaitu risiko yang timbul akibat kas atau aset-aset lain (surat
berharga, cek, dan sebagainya) dapat diakses oleh staf yang tidak
memiliki otorisasi terhadap aset yang bersangkutan.
6) Akses sistem informasi, yaitu risiko yang ditimbulkan dari staf yang tidak
memiliki otorisasi, dapat melakukan modifikasi atau membaca data
tertentu dalam sistem informasi.
7) Finansial, yaitu risiko yang timbulkan dari kesalahan pengelolaan dana
dan aset-aset lainnya yang menyebabkan timbulnya overdraft atau
tingginya biaya oportunitas akibat utilisasi dana yang tidak dilakukan
dengan tepat.
8) Valuasi, yaitu risiko yang timbul akibat suatu transaksi atau aset tidak
dinilai dengan tepat akibat penggunaan data pasar atau model valuasi
yang salah.
e. Kesalahan manusia dan fraund yang meliputi kerugian operasional seperti
berikut:
1) Integrasi dan pertimbangan yang baik, yaitu risiko yang terjadi akibat
sumber daya manusia perusahaan dengan tidak sengaja maupun sengaja
tidak mematuhi kebijakan, prosedur dan pengendalian yang telah
ditetapkan.
2) Sumber daya manusia, yaitu risiko yang timbul dari inreferensi atau
kesalahan dalam proses transaksi akibat kurangnya sumber daya manusia
yang memadai, program pelatihan dan turn-over pegawai yang tinggi.
3) Fraud dan konflik kepentingan, yaitu risiko yang timbul karena sumber
daya manusia lebih condong kepada kepentingan pribadi dibandingkan
kepentingan perusahaan.
f. Kegagalan sistem teknologi informasi, yaitu kerugian operasional yang
disebabkan oleh gangguan dalam melaksanakan proses transaksi atau
aktivitas kerja, kebocoran dalam sistem informasi dan gangguan lainnya yang
ditimbulkan dari tidak berfungsinya sitem teknologi informasi dan gangguan
akibat kegagalan hardware,software,dan sebagainya
Risiko Operasional (skripsi dan tesis)
Definisi Risiko Operasional Lam (2014:241) mengungkapkan bahwa operational is defined as the risik of loss resulting from inadequate of failed internal process, people, and systems or form external event. Artinya, risiko operasional dapat di definisikan sebagai risiko atas kerugian yang ditimbulkan dari ketidak cukupan atau kegagalan proses internal, sumber daya manusia, dan system atau dari peristiwa-peristiwa eksternal. Menurut Kurniawan (2012:70) risiko operasional adalalah kemungkinan terjadinya kegagalan atau kesalahan di dalam pelaksanaan kegiatan – kegiatan operasional di dalam organisasi yang diakibatkan oleh berbagai macam faktor seperti faktor alam dalam bentuk bencana alam maupun kesalahan manusia seperti kelalaian pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya
Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Risiko menurut Hanafi (2006:1), Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau yang akan berlangsung atau yang akan datang. Risiko dapat di artikan sebagai suatu keadaan ketidakpastian, dimana jika terjadi suatu keadaan yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan suatu kerugian. Menurut AS/NZS Standart 4360:1995 risiko adalah peluang terjadinya sesuatu yang memiliki dampak pada tujuan yang di ukur dalam hal konsekuensi dan probabilitas. Menurut Airmic (2010:4) risiko merupakan efek dari ketidakpastian sasaran, efek ketidakpastian bisa bersifat positif atau negatif, dengan kata lain risiko merupakan kemungkinan situasi atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan serta sasaran sebuah organisasi atau individu. Manajemen Risiko definisi manajemen risiko adalah suatu pengelolaan risiko yang bertujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan dalam menghadapi masalah organisasi secara komprehensif (Hanafi, 2009:18). Manajemen risiko di definisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut (Smith, 1990:21). Menurut Bramantyo (2008:43),Manajemen risiko adalah proses terstruktur dan sitematis untuk identifikasi, mengukur, memetakan,mengembangkan alternatif penanganan risiko, dan memonitor dan mengendalikan perlakuan risiko. Dalam ISO 31000 (2009:73), definisi manajemen risiko adalah aktivitas yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan sebuah organisasi dalam menangani risiko. Definisi tersebut memberikan arti mengenai keluasan dan kedalaman sebuah risiko yang menjadi obyek sebuah asesment. Manajemen risiko adalah kegiatan atau proses manajemen yang terarah bersifat proaktif yang ditunjukan untuk mengakomodasi kemungkinan kegagalan salah satu atau sebagaian dari sebuah instrument (Tampubolon, 2004)
Indikator Persepsi Harga (skripsi dan tesis)
Pengukuran pada variabel Persepsi Harga mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Tjiptono dalam Ferdinan dan Nugraheni (2013:134), yang terdiri dari: 1. Keterjangkauan Harga Keterjangkauan harga adalah harga sebenarnya dari suatu produk yang tertulis di suatu produk, yang harus dibayarkan oleh konsumen dengan maksud yaitu, konsumen cenderung melihat harga akhir dan memutuskan apakah akan memdapatkan nilai yang baik seperti yang diharapkan. Harapan konsumen dalam melihat harga yaitu : a. Harga yang ditawarkan mampu dijangkau oleh konsumen secara financial. b. Penentuan harga harus sesuai dengan kualitas produk sehingga konsumen dapat mempertimbangkan dalam melakukan pembelian suatu produk yang diinginkan. 2. Kesesuaian Harga Kesesuaian harga adalah penetapan harga yang dilakukan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan sasaran konsumen dan perubahan situasi. 3. Daya Saing Harga Daya Saing Harga berhubungan dengan bagaimana efektivitas suatu perusahaan dalam menentukan harga di pasar persaingan, dibandingkan dengan perusahaan lainnya yang menawarkan produk atau jasa-jasa yang sama atau sejenis. 4. Harga Sesuai Manfaat Harga Sesuai Manfaat adalah bagaimana suatu perusahaan menetapkan harga sesuai dengan manfaat produk yang dijual.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Harga (skripsi dan tesis)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan harga menurut Philip Kotler (1997:201), yaitu: 1. Faktor-faktor internal a. Keputusan harga disesuaikan dengan sasaran pemasarannya b. Keputusan harga disesuaikan dengan kebijakan bauran pemasarannya, dimana manajemen harus mempertimbangkan bauran pemasaran sebagai satu keseluruhan. c. Keputusan harga berdasarkan pada pertimbangan organisasi. 2. Faktor-faktor eksternal a. Pasar dan permintaan konsumen merupakan pelakon harga (harga tertinggi) b. Harga dan tawaran pesaing perlu diketahui untuk menentukan harga serta reaksi mereka setelah keputusan harga dilakukan. c. Faktor eksternal lainnya, yaitu kondisi ekonomi seperti tingkat inflasi, biaya bunga, resensi, booming, dan keputusan-keputusan pemerintah dapat mempengaruhi keefektifan kebijakan pendekatan harga.
Kebijakan Harga (skripsi dan tesis)
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memungkinkan perusahaan memperoleh pendapatan, sedangkan unsur bauran pemasaran lainnya justru menyebabkan timbulnya biaya. Dengan demikian pemilik perusahaan harus memahami tentang harga yang meliputi makna dan pentingnya harga serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kebijakan harga adalah strategi pemasaran yang ditetapkan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan factor-faktor biaya produksi dan harga pesaing sehingga dengan alternative harga yang dipilih dapat meningkatkan pembelian produk, meningkatkan permintaan non user, pelanggan yang menguntungkan dan menarik pelanggan baru dengan mutu (Guiltinan, 2001:219).
Strategi Penyesuaian Harga (skripsi dan tesis)
Adapun strategi penyesuaian harga menurut Kotler dan Killer (2007:102), yaitu: 1. Penetapan harga geografis Penetapan harga geografis melibatkan perusahaan tersebut memutuskan bagaimana cara menetapkan harga produknya untuk pelanggan yang berbeda dilokasi dan negara yang berbeda. 2. Diskon dan potongan harga Kebanyakan perusahaan akan menyesuaikan daftar harganya dan memberikan diskon dan potongan harga (discounts and allowances) untuk pembayaran yang lebih cepat, pembelian dalam jumlah besar, dan pembelian diluar musim. 3. Penetapan harga promosi Strategi penetapan harga promosi sering merupakan permainan kalah menang (zero-zum game). Apabila strategi tersebut berhasil, pesaing akan menirunya dan strategi itu akan kehilangan efektifitasnya. Jika strategi tersebut tidak berhasil, perusahaan membuang-buang uang yang mestinya dapat digunakan sebagai alat untuk pemasaran lainnya, seperti meningkatkan mutu produk dan layanan atau memperkokoh citra produk melalui iklan. 4. Penetapan harga diskriminatif Diskriminatif harga (price discrimination) terjadi apabila suatu perusahaan menjual produk atau jasa dengan dua harga atau lebih yang tidak mencerminkan perbedaan biaya secara proporsional.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga (skripsi dan tesis)
Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga menurut Fajar Laksana (2008:117), yaitu: 1. Demand for the product, perusahaan perlu memperkirakan permintaan terhadap produk yang merupakan langkah penting dalam penetapan harga sebuah produk. 2. Target share of the market, yaitu market share yang ditargetkan oleh perusahaan. 3. Competitive reactions, yaitu reaksi dari pesaing. 4. Use of creams-skimming pricing of penetration pricing, yaitu mempertimbangkan langkah-langkah yang perlu diambil pada saat perusahaan memasuki pasar dengan harga yang tinggi atau dengan harga yang rendah. 5. Other parts of the marketing mix, yaitu perusahaan perlu mempertimbangkan kebijakan marketing mix (kebijakan produk, kebijakan promosi dan saluran distribusi). 6. Biaya untuk memproduksi atau membeli. 7. Product line pricing, yaitu penetapan harga terhadap produk yang saling berhubungan dalam biaya, permintaan maupun tingkat persaingan. 8. Berhubungan dengan permintaan: a. Cross elasticity positive (elastisitas silang yang positif), yaitu kedua macam produk merupakan barang substitusi atau pengganti. b. Cross elasticity negative (elastisitas silang yang negatif), yaitu kedua macam produk merupakan barang komplamenter atau berhubungan satu sama lain. c. Cross elasticity Nol (elastisitas silang yang nol), yaitu kedua macam produk tidak saling berhubungan. 9. Mengadakan penyesuaian harga : a. Penurunan harga, dengan alasan: – Kelebihan kapasitas – Kemerosotan pangsa pasar – Gerakan mengejar dominasi dengan biaya lebih rendah. b. Mengadakan kenaikan harga, dengan alasan: – Inflasi biaya yang terus-terusan di bidang ekonomi – Permintaan yang berlebihan.
