Proses Personal Selling (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2008;316) dalam pelaksanaan personal selling membaginya ke dalam enam tahap yaitu sebaagai berikut: 1. Mencari pelanggan dan melakukan kualifikasi lebih banyak perusahaan mengambil tanggung jawab untuk mencari dan mengkualifikasi calon pelanggan sehingga wiraniaga tersebut dapat menggunakan waktu mereka yang mahal itu melakukan apa yang dapat mereka lakukan dengan paling baik. 2. Pendekatan pendahuluan wiraniaga sekarang perlu belajar sebanyak mungkin tentang perusahaan calon pelanggan (apa yang dibutuhkannya, siapa yang terlibat dalam keputusan pembelian) dan pembelinya (karakteristik pribadi dan gaya pembelian mereka). 3. Presentasi dan Peragaan Wiraniaga sekarang menyampaikan “cerita” produkproduk tersebut kepada pembeli, dengan mengikuti rumus AIDA untuk memperoleh perhatian (attention), mempertahankan minat (interest), membangkitkan keinginan (desire), dan menghasilkan tindakan (action). Wiraniaga tersebut menggunakan pendekatan fitur (feature), keuntungan (advantage), manfaat (benefit), dan nilai (value) atau FABV. 4. Mengatasi keberatan pelanggan biasanya mengajukan keberatan-keberatan selama presentasi atau ketika melakukan pemesanan. Untuk menangani keberatan-keberatan ini, wiraniaga menggunakan pendekatan yang positif, meminta pembeli menjelaskan keberatan mereka, bertanya kepada pembeli dengan cara yang mengharuskan pembeli tersebut menjawab sendiri keberatankeberatannya, menyangkal kebenaran tersebut, atau mengubah keberatan menjadi alasan untuk membeli. 5. Menutup penjualan wiraniaga perlu mengetahui bagaimana mengenali tandatanda penutupan dari pembeli, termasuk tindakan-tindakan fisik, pernyataan atau komentar, dan pertanyaan. 6. Tindak lanjut dan pemeliharaan wiraniaga tersebut seharusnya menjadwalkan kunjungan berikutnya setelah pesanan pertama sudah diterima untuk memastikan telah dilakukan pemasangan, instruksi, dan pelayan yang tepat. Wiraniaga tersebut seharusnya juga menyusun rencana pemeliharaan dan pertumbuhan untuk pelanggan tersebut.

Personal Selling (Penjualan Pribadi) (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono (2000;224) penjualan pribadi adalah komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan membentuk pemahaman terhadap produk sehingga mereka kemudian akan mencoba membelinya. Menurut Pride dan Ferrel (2010;518), personal selling adalah “suatu komunikasi pribadi yang mencoba untuk menginformasikan kepada pelanggan dan membujuk mereka untuk membeli produk dalam situasi pertukaran”. Penjualan personal menurut Eric N. Berkowitz dalam Rangkuti (2010;181) merupakan “komunikasi dua arah antara pembeli dan penjual yang bertujuan untuk memengaruhi keputusan pembelian seseorang atau sekelompok orang”. Abdurrahman (2015;183) Penjualan personal adalah “presentasi pribadi oleh wiraniaga perusahaan dengan tujuan melakukan penjualan dan membangun hubungan dengan pelanggan.”

Alat-Alat Sales Promotion (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler, Bowen, dan Makens (2014; 417) alat-alat sales promotion dapat berupa: 1. Samples (sampel atau contoh) Merupakan miniatur produk yang dibagikan secara gratis. Sampel diberikan dengan tujuan memperkenalkan produk terhadap konsumen untuk membuktikkan kualitas produk. 2. Coupons or Voucher (kupon atau voucher) Hak potongan kepada pemegangnya sehingga menghemat pembelian produk tertentu dan berlaku dalam jangka waktu yang telah ditentukan. 3. Premiums (premi) Barang yang ditawarkan dengan harga yang sangat rendah atau terkadang gratis saat pembelian produk tertentu sehingga menarik pembeli untuk membeli ulang produk perusahaan, menstimulasi dorongan untuk membeli, mendorong konsumen untuk berganti merk, dan membatasi ruang gerak kompetitor. Premi mungkin terdapat dalam kemasan (in pack), di luar kemasan (on-pack), atau lewat pos. 4. Patronage Rewards Suatu bentuk promosi dimana konsumen diberikan sejumlah uang tunai atau penghargaan lain sebagai tanda bahwa konsumen telah menggunakan secara rutin produk baik barang ataupun jasa dari perusahaan tertentu. 5. Diskon ( potongan harga dalam bentuk persen ) atau cents-off-deals ( potongan harga dalam bentuk nominal) Adalah pemotongan harga secara langsung saat pembelian, yang penawarannya tampak jelas pada kemasan atau display produk. 6. Bonus packs (bonus khusus) Dengan membeli barang tertentu, konsumen berhak mendapat jumlah barang yang lebih banyak dibandingkan dengan kondisi normal. 7. Rebates (Rabat/penawaran pengembalian tunai) Memberikan pengurangan harga setelah pembelian terjadi. Contoh: penawaran cashback. 8. Point-of-Purchase / POP (promosi titik pembelian) POP meliputi demonstrasi atau pajangan suatu produk atau kumpulan produk tertentudi titik penjualan. 9. Contests, sweepstakes, and games (kontes, undian, permainan) Mengundang konsumen yang sudah melakukan transaksi pembelian dengan nominal atau jumlah tertentu untuk mengikuti kontes, undian, ataupun permainan yang nantinya pemenang akan mendapat hadiah.

Keunggulan Sales Promotion (skripsi dan tesis)

Menurut Peter and Donnelly (2013; 124), keunggulan dari sales promotion adalah sebagai berikut: 1. Mengijinkan konsumen untuk membeli produk di bawah harga rata-rata sebenarnya 2. Tidak memaksa para konsumen setia untuk membeli produk yang sebenarnya berkategori bukan spesial dengan harga tinggi. 3. Meningkatkan efisiensi dalam sistem distribusi karena tidak perlu dilakukan diskon berjenjang dari produsen ke distributor dan seterusnya

Manfaat Sales Promotion (skripsi dan tesis)

Kotler dan Keller (2012; 513) menjelaskan bahwa sales promotion memiliki tiga manfaat yang selanjutnya akan menjadi dimensi yang mewakili variabel sales promotion pada penelitian ini, yakni sebagai berikut: 1. Komunikasi Dapat menarik perhatian pembeli terhadap suatu produk dan memberikan informasi-informasi yang dapat mengarahkan konsumen menuju ke suatu produk. 2. Insentif Merupakan kolonggaran, bujukkan, atau kontribusi sebuah perusahaan yang memberikan nilai (value) kepada konsumen dengan memberikan penghematan ataupun penambahan nilai bagi konsumen. 3. Undangan Kotler dan Amstrong (2012;505) meringkas dimensi undangan dengan kalimat: “Di saat advertising mengatakan „belilah produk kami‟ maka sales promotion mengatakan „belilah sekarang‟”. Konsumen mendapatkan ajakan yang berbeda untuk segera merasakan suatu produk. Dengan begitu perusahaan harus menampilkan keuntungan yang jelas, sehingga konsumen menjadi terdorong untuk segera membelinya, bahkan pada saat itu juga

Sales Promotion (Promosi Penjualan) (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler & Keller (2007;266), “Promosi penjualan menjadi unsur utama dalam kampanye pemasaran, adalah berbagai kumpulan alat-alat insentif yang sebagai besar berjangka pendek, yang dirancang untuk merangsang pembeli produk atau jasa tertentu dengan lebih cepat atau lebih besar oleh konsumen atau pedagang. Menurut Peter and Donnelly (2013; 112) “Sales promotion is an activity or material that offers customers, sales personnel, or resellers a direct inducement for purchasing a product. This inducement, which adds value to or incentive for the product, might take the form of coupon, sweepstakes, or refund.” yang artinya sales promotion adalah aktifitas ataupun materi yang menawarkan berbagai pihak dorongan motivasi untuk melakukan pembelian, Dorongan tersebut yang merupakan penambahan nilai maupun insentif akan produk tersebut dapat berupa kupon, undian berhadiah, ataupun jaminan pengembalian. Berdasarkan definisi para ahli, dapat disimpulkan oleh penulis bahwa sales promotion adalah aktifitas yang ditawarkan sebuah perusahaan berupa insentif jangka pendek untuk memberikan dorongan motivasi kepada konsumen untuk segera membeli sebuah produk atau jasa.

Jenis-jenis Iklan (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono (2005; 227) iklan dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai aspek, di antaranya dari aspek isi pesan, tujuan, dan pemilik iklan. 1. Dari aspek isi pesan a. Product advertising, yaitu iklan yang berisi informasi produk (barang dan jasa) suatu perusahaan. Ada dua jenis iklan yang termasuk kategori ini, yaitu: 1) Direct-action advertising, yaitu iklan produk yang didesain sedemikian rupa untuk mendorong tanggapan segera dari khalayak atau pemirsa. 2) Indirect-action advertising, yaitu iklan produk yang didesain untuk menumbuhkan permintaan dalam jangka panjang. a. Institutional advertising, yaitu iklan yang didesain untuk memberi informasi tentang usaha bisnis pemilik iklan dan membangun goodwill serta image positif bagi organisasi. Institutional advertising terbagi atas: 1) Patronage advertising, yakni iklan yang menginformasikan usaha bisnis pemilik iklan. 2) Iklan layanan masyarakat (public service advertising), yakni iklan yang menunjukan bahwa pemilik iklan adalah warga yang baik, karena memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. b. Dari aspek tujuan a. Pioneering advertising (informative advertising), yaitu iklan yang berupaya menciptakan permintaan awal (primary demand). b. Competitive advertising (persuasive advertising), yaitu iklan yang berupaya mengembangkan pilihan pada merek tertentu. c. Reminder advertising, yaitu iklan yang berupaya melekatkan nama atau merek produk tertentu di benak khalayak. C. Dari aspek pemilik iklan Ada dua jenis iklan berdasarkan aspek pemilik iklan, yaitu : a. Vertical cooperative advertising, yaitu iklan bersama para anggota saluran distribusi, misalnya di antara para produsen, pedagang grosir, agen, dan pengecer. b. Horizontal cooperative advertising, yaitu iklan bersama dari beberapa perusahaan sejenis. 14 Sedangkan menurut Swastha dan Handoko (2008:370) periklanan dapat dibedakan ke dalam dua golongan. Jenis periklanan tersebut adalah : 1. Pull Demand Advertising Pull demand advertising adalah periklanan yang ditujukan kepada pembeli akhir agar permintaan produk bersangkutan meningkat. Biasanya produsen menyarankan kepada para konsumen untuk membeli produknya ke penjual terdekat. Pull demand advertising juga disebut consumer advertising. 2. Push Demand Advertising Push demand advertising adalah periklanan yang ditujukan kepada para penyalur. Maksudnya agar para penyalur bersedia meningkatkan permintaan produk bersangkutan dengan menjualkan sebanyak-banyaknya ke pembeli/pengecer. Barang yang diiklankan biasanya berupa barang industri. Push demand advertising juga disebut trade advertising. Menurut Lee dan Carla (2007), periklanan sering kali diklasifikasikan dalam beberapa tipe besar, yaitu sebagai berikut : 1. Periklanan Produk Porsi utama pengeluaran periklanan dibelanjakan untuk produk, berupa presentasi dan promosi produk-produk baru, produk-produk yang ada, dan produk-produk hasil revisi. 2. Periklanan Eceran Berlawanan dengan iklan produk, periklanan eceran bersifat lokal dan berfokus pada toko, tempat dimana beragam produk dapat dibeli atau dimana satu jasa dapat ditawarkan. Periklanan eceran memberikan tekanan pada harga, ketersediaan, lokasi dan jam-jam operasi. 3. Periklanan Korporasi Fokus periklanan ini adalah membangun indentitas korporasi atau untuk mendapatkan dukungan publik terhadap sudut pandang organisasi. Kebanyakan periklanan korporasi dirancang untuk menciptakan citra menguntungkan bagi sebuah perusahaan dan produk-produknya. 4. Periklanan Bisnis ke Bisnis Periklanan ini ditujukan kepada para pelaku industri, pedagang perantara (pedagang partai/pengecer), serta para profesional. 5. Periklanan Politik Periklanan ini dirancang untuk tujuan politik, seringkali digunakan para politisi untuk membujuk orang agar memilih mereka atau pemerintah dalam rangka memperbaiki reputasi negara dan lain-lain. 6. Periklanan Direktori Bentuk terbaik periklanan direktori yang dikenal adalah Yellow Pages, meskipun sekarang terdapat berbagai jenis direktori yang menjalankan fungsi serupa seperti yang banyak dilihat pada media internet. Pada umumnya orang melihat periklanan direktori untuk menemukan cara membeli sebuah produk atau jasa. 7. Periklanan Respon Langsung Periklanan respon langsung melibatkan komunikasi dua arah di antara pengiklan dan konsumen. Periklanan ini menggunakan berbagai media seperti pos, televisi, koran, majalah dan konsumen dapat menanggapinya melalui pos, telepon, faks dan lain-lain. 8. Periklanan Pelayanan Masyarakat Periklanan pelayanan masyarakat dirancang untuk kepentingan masyarakat dan mempromosikan kesejahteraan masyarakat. Iklan-iklan ini diciptakan bebas biaya oleh para profesional periklanan, dengan ruang dan waktu iklan merupakan hibah oleh media. 9. Periklanan Advokasi Periklanan advokasi berkaitan dengan penyebaran gagasan-gagasan dan klarifikasi isu sosial yang kontroversial dan menjadi kepentingan masyarakat. Perusahaan yang menerapkan strategi periklanan pada masalah sosial seperti konservasi alam semakin bertambah banyak.

Sifat-sifat Iklan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dalam Raviany (2011; 41), suatu iklan memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1. Public Presentation, maksudnya iklan memungkinan setiap orang menerima pesan yang sama tentang produk yang diiklankan. Sifat umum iklan memberikan legitimasi pada produk tersebut dan juga menyiratkan suatu tawaran yang standarisasi. 2. Pervasiveness, artinya pesan iklan yang sama dapat diulang-ulang untuk memantapkan penerimaan informasi dan memungkinkan pembeli dapat membandingkan pesan dari berbagai pesaing. 3. Amplified Expresiveness, maksudnya iklan mampu mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui gambar, warna dan suara untuk menggugah dan mempengaruhi perasaan khalayak. 4. Impersonality, artinya iklan tidak bersifat memaksa khalayak untuk memperhatikan dan menanggapinya, karena merupakan komunikasi yang monolog (satu arah).

Tujuan Periklanan (skripsi dan tesis)Tjiptono dalam Raviany (2011; 41) berpendapat bahwa iklan memiliki tiga tujuan utama, yaitu menginformasikan produk yang ditawarkan dan menciptakan permintaan awal, membujuk dan mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan, serta mengingatkan konsumen mengenai keberadaan suatu produk serta berupaya melekatkan nama atau merek produk tertentu dibenak konsumen. Selain itu Rossiter dan Percy dalam Raviany (2011; 41) mengklasifikasikan tujuan iklan sebagai efek komunikasi, antara lain: 1. Menumbuhkan persepsi pelanggan terhadap suatu kebutuhan (category need). 2. Memperkenalkan dan memberikan pemahaman tentang suatu produk kepada konsumen (brand awareness). 3. Mendorong pemilihan terhadap suatu produk (brand attitude). 4. Membujuk pelanggan untuk membeli suatu produk (brand purchase intention) 5. Menanamkan citra produk dan perusahaan (positioning) Kotler dan Keller (2007; 244) mengatakan bahwa tujuan-tujuan iklan harus mengalir dari keputusan-keputusan sebelumnya mengenai pasar sasaran (sasaran yang dituju), pemosisian pasar, dan program pemasaran. Tujuan (sasaran) iklan merupakan suatu tugas komunikasi tertentu dan tingkat pencapaiannya harus diperoleh pada audiens tertentu dalam kurun waktu tertentu. Tujuan iklan dapat digolongkan menurut apakah sasarannya untuk menginformasikan, membujuk, mengingatkan atau memperkuat. 1. Iklan Informatif Dimaksudkan untuk menciptakan kesadaran dan pengetahuan untuk produk baru atau ciri baru produk yang sudah ada. 2. Iklan Persuasif Dimaksudkan untuk menciptakan kesukaan, preferensi, keyakinan, dan pembelian suatu produk atau jasa. 3. Iklan Pengingat Dimaksudkan untuk merangsang pembelian produk dan jasa kembali. 4. Iklan Penguatan Dimaksudkan untuk meyakinkan pembeli sekarang bahwa mereka telah melakukan pilihan yang tepat.

Tjiptono dalam Raviany (2011; 41) berpendapat bahwa iklan memiliki tiga tujuan utama, yaitu menginformasikan produk yang ditawarkan dan menciptakan permintaan awal, membujuk dan mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan, serta mengingatkan konsumen mengenai keberadaan suatu produk serta berupaya melekatkan nama atau merek produk tertentu dibenak konsumen. Selain itu Rossiter dan Percy dalam Raviany (2011; 41) mengklasifikasikan tujuan iklan sebagai efek komunikasi, antara lain: 1. Menumbuhkan persepsi pelanggan terhadap suatu kebutuhan (category need). 2. Memperkenalkan dan memberikan pemahaman tentang suatu produk kepada konsumen (brand awareness). 3. Mendorong pemilihan terhadap suatu produk (brand attitude). 4. Membujuk pelanggan untuk membeli suatu produk (brand purchase intention) 5. Menanamkan citra produk dan perusahaan (positioning) Kotler dan Keller (2007; 244) mengatakan bahwa tujuan-tujuan iklan harus mengalir dari keputusan-keputusan sebelumnya mengenai pasar sasaran (sasaran yang dituju), pemosisian pasar, dan program pemasaran. Tujuan (sasaran) iklan merupakan suatu tugas komunikasi tertentu dan tingkat pencapaiannya harus diperoleh pada audiens tertentu dalam kurun waktu tertentu. Tujuan iklan dapat digolongkan menurut apakah sasarannya untuk menginformasikan, membujuk, mengingatkan atau memperkuat. 1. Iklan Informatif Dimaksudkan untuk menciptakan kesadaran dan pengetahuan untuk produk baru atau ciri baru produk yang sudah ada. 2. Iklan Persuasif Dimaksudkan untuk menciptakan kesukaan, preferensi, keyakinan, dan pembelian suatu produk atau jasa. 3. Iklan Pengingat Dimaksudkan untuk merangsang pembelian produk dan jasa kembali. 4. Iklan Penguatan Dimaksudkan untuk meyakinkan pembeli sekarang bahwa mereka telah melakukan pilihan yang tepat.

Periklanan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Amstrong (2012 ; 454) iklan adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara nonpersonal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. Menurut Bearden dan Ingram (2007; 393) iklan adalah elemen komunikasi pemasaran yang persuasif, nonpersonal, dibayar oleh sponsor dan disebarkan melalui saluran komunikasi massa untuk mempromosikan pemakaian barang, atau jasa. Kemudian menurut Gitosudarmo (2008 ; 228) Periklanan adalah merupakan alat utama bagi perusahaan untuk mempengaruhi konsumennya. Periklanan ini dapat dilakukan oleh pengusaha lewat surat kabar, radio, majalah, televisi ataupun dalam bentuk poster-poster yang dipasang di pinggir jalan atau tempat-tempat yang strategis.” Dari beberapa pendapatan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa iklan merupakan suatu bentuk komunikasi massa; radio, surat kabar, majalan, dan sebagainya. Sehingga advertising mempunyai sifat non personal dan merupakan suatu alat untuk mempromosikan produk atau jasa tanpa mengadakan kontak langsung serta si pemasang iklan harus membayar dengan tarif tertentu yang berlaku. Kegiatan periklanan berarti kegiatan menyebarluaskan berita (informasi) kepada pasar (masyarakat/konsumen). Masyarakat perlu diberitahu siapa (sponsor) yang bertindak melalui media iklan tersebut. Dalam hal ini pihak sponsor membayar kepada media yang membawakan berita itu. Kegiatan periklanan ini adalah suatu alat untuk membuka komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli, sehingga keinginan mereka dapat terpenuhi dalam cara yang efisien dan efektif, dalam hal ini komunikasi dapat menunjukkan cara-cara untuk mengadakan pertukaran yang saling memuaskan.

Tujuan Promosi (skripsi dan tesis)

Tujuan utama promosi ialah memberi informasi, menarik perhatian dan selanjutnya memberi pengaruh meningkatnya penjualan. Menurut Schoell (2016 ; 181) menyatakan, tujuan promosi adalah untuk mendapatkan perhatian, pengajaran, unuk meningkatkan, membujuk, dan menyakinkan. Suatu kegiatan promosi jika dilaksanakan dengan baik dapat mempengaruhi konsumen mengenai dimana dan bagaimana konsumen membelanjakan pendapatannya. promosi dapat membawa keuntungan baik bagi produsen maupun konsumen. Menurut Laksana (2008;147) terdapat tujuan umum dan tujuan khusus promosi, yang akan dijelaskan sebagai berikut: 1. Tujuan umum Bersumber pada tujuan komunikasi pemasaran, yaitu untuk mempercepat respon pasar yang ditargetkan 2. Tujuan khusus a. Bagi konsumen (consumer promotion), untuk mendorong konsumen antara lain untuk lebih banyak menggunakan produk, unit pembeli produk dalam unit yang besar, mencoba merek yang dipromosikan, dan untuk menarik pembeli merek lain yang bersaing dengan produk yang sedang dipromosikan. b. Bagi pengecer (Trade promotion), membujuk pengecer untuk menjual barang produk baru, menimbun lebih banyak persediaan barang, mengingatkan pembeli ketika sedang tidak musim, membujuk agar menimbun barang-barang dipromosikan dan memperoleh jalur pengecer baru. c. Bagi wiraniaga (sales force promotion), untuk memberi dukungan atau produk atau produk baru, untuk merangsang mereka mencari pelanggan baru dan mendorong penualan musim semi.

Promosi (skripsi dan tesis)

Promosi merupakan suatu upaya dalam menginformasikan atau menawarkan produk atau jasa yang bertujuan untuk menarik calon konsumen agar membeli atau mengkonsumsinya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan (Kotler dan Keller, 2012;519). Sedangkan menurut Gitosudarmo (2014;159-160) mengemukakan bahwa promosi merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar mereka dapat menjadi kenal akan produk yang ditawarkan oleh perusahaan kepada mereka yang kemudian mereka menjadi senang lalu membeli produk tersebut. Selanjutnya definisi lain menurut Peter dan Olson (2014;204) menyatakan bahwa promosi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pemasar untuk menyampaikan informasi mengenai produknya dan membujuk konsumen agar mau membelinya. Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa promosi adalah kegiatan menginformasikan mengenai produk dan jasa kepada konsumen agar dapat dikenal dan membujuk konsumen untuk dapat membeli produk dan jasa.

Supply Chain Management (skripsi dan tesis)

Rantai pasok adalah rangkaian aktivitas perusahaan yang terintegrasi, mulai dari pengadaan bahan baku, barang jadi, hingga barang tersebut sampai kepada tangan konsumen (Simchi, 2008). Ada tiga macam aliran yang terdapat pada supply chain, di mana masing-masing aliran tersebut berasal dari hulu ke hilir. Aliran yang dimaksud antara lain aliran barang atau fisik, informasi, dan uang (Pujawan, 2005)

Proses Reverse Logistic (skripsi dan tesis)

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, proses yang terjadi dalam reverse logistics pada dasarnya serupa dengan aktivitas yang terjadi dalam traditional logistics, namun terdapat beberapa perbedaan, beberapa perbedaan tersebut dijelaskan oleh De Britto, dkk (2002) menjelaskan perbedaan tersebut meliputi : 1. Pada reverse logistics terdapat banyak titik supply dimana produk dapat diperoleh begitu juga dengan titik pengumpulan. 2. Dibutuhkan kerjasama yang baik dan sukarela dari supplier produk, dalam hal ini adalah konsumen, untuk menyerahkan barangnya ke titik pengumpulan produk. 3. Produk yang dikumpulkan biasanya memiliki nilai ekonomis rendah. Tidak seperti traditional logistics yang lebih dulu ada, jaringan logistik untuk reverse logistics dalam berbagai aspek perlu dikembangkan. De Britto, dkk (2002) membedakan lebih spesifik berdasarkan inisiator dari aktivitas reverse logistics, hal itu meliputi: 1. Jaringan logistik untuk produk reusable 2. Jaringan logsitik untuk remanufacturing 3. Jaringan logistik untuk layanan masyarakat dan regulasi lingkungan oleh pemerintah 4. Jaringan logistik oleh swasta untuk pembaharuan produk Reverse logistics terjadi akibat adanya beberapa produk kehilangan nilai pakai jelas seperti kemasan, kehilangan fungsi seperti produk rusak, sulit untuk dijual di pasar umum, seperti kelebihan stock, atau harus dikembalikan untuk beberapa alasan karena cacat, semuanya harus dikembalikan atau mengalir terbalik dari hilir ke hulu dalam rantai pasok

Pengertian Market Return Management (skripsi dan tesis)

Market return management adalah proses supply chain management yang kegiatannya berhubungan dengan retur, reverse logistics, gate keeping, dan avoidance yang dikelola dalam perusahaan dan diantara anggota-anggota pelaku supply chain management. Pelaksanaan yang benar dari proses market return management tidak hanya membantu untuk mengelola reverse logistics menjadi efisien, tetapi dapat membantu mengidentifikasi dan mengurangi hal yang tidak diinginkan perusahaan yang dapat merugikan serta melihat asset yang dapat digunakan kembali untuk memaksimalkan keuntungan. Pengertian lain market return adalah suatu istilah yang diartikan sebagai transaksi terhadap barang-barang yang ditarik dari pasar. Market return ini akan menimbulkan semacam klaim dengan menerbitkan suatu voucher, sehingga disebut MRV (Market Return Vocher). Beberapa macam MRV yaitu : – Siklus hidup produk dikelola – Problem tentang siklus hidup lebih komplek – Negosiasi antara team atau partner lebih mudah – Negosiasi problem rumit karena beberapa factor – Metode marketing yang digunakan dikenal – Pemasaran lebih rumit karena beberapa factor – Visibilitas proses lebih transparan – Visibilitas proses kurang transparan  1. MRV Standart Dipergunakan untuk pengembalian barang baik, misalkan karena pabrik menarik kembali barang yang dianggap ada kesalahan produksi. 2. MRV BS-Overaged Dipergunakan untuk pengembalian/pemusnahan barang yang kadaluarsa maupun yang belum. 3. MRV BS-Dented Dipergunakan untuk mengklaim barang penyok yang akan dijual dengan discount 4. MRV Dented-Ovearaged Dipergunakan untuk pengembalian/pemusnahan barang yang telah rusak.

Perbedaan Reverse Logistics dan Forward Logistics (skripsi dan tesis)

Ada banyak perbedaan antara forward dan reverse logistics. Didalam forward logistics alur rantai pasok berasal dari supplier hingga ketangan konsumen, tetapi di dalam reverse logistics hal tersebut menjadi berbalik. Salah satu tabel dibawah ini menunjukkan perbedaan antara forward logistics dan reverse logistics. Krikke (1998), mempertimbangkan beberapa elemen yang membedakan reverse logistics dengan forward logistics diantaranya: 1. Forward logistics menggunakan pull system, sedangkan reverse logistics merupakan kombinasi antara push dan pull. 2. Model yang digunakan forward logistics biasanya berhadapan dengan jaringan–jaringan yang berbeda, sedangkan aliran reverse logistics bisa sangat kuat berbeda dan sama di waktu yang bersamaan.

Pengertian Reverse Logistic (skripsi dan tesis)

Ada dua jenis utama dari supply chain yang berkaitan dengan segala jenis kegiatan distribusi yaitu aliran maju (forward) dan aliran mundur (Reverse). Reverse logitics merupakan bentuk logistik baru yang aliran barangnya berbalik dari pelanggan atau distributor ke produsen dan bertengtangan dengan tradisional logistik. Menurut Jayamaran et al, (2003) reverse logistics adalah aliran dimana produk atau komponen kembali setelah digunakan untuk tujuan perbaikan, daur ulang atau pengerjaan kembali. Hampir sama dengan pendapatan sebelumnya Rogers dan Tibben-Lembke (1999) menyatakan reverse logistics adalah proses perencanaan, implementasi, dan pengendalian secara efisien dan efektif aliran barang (bahan baku, sediaan dalam proses, atau barang jadi) dan informasi yang terkait, dari titik konsumsi balik ke titik asal. Selain itu Rogers dan Tibben-Lembke juga menjelaskan bahwa tujuan reverse logistics adalah menangkap atau menciptakan kembali nilai atau untuk pembuangan barang-barang yang mengalir baik. Secara sederhana reverse logistics bertujuan untuk recapture value atau melakukan proses disposal yang tepat dari barang yang sudah habis masa pakainya baik disebabkan karena kadaluwarsa, rusak atau produk gagal. Ada take-back activity disini, dimana konsumen (yang dulunya bertindak sebagai konsumen) bertindak sebagai supplier. Sedangkan konsumen dari aktifitas reverse logistics ini bisa jadi adalah manufakturer atau pihak lain yang butuh barang bekas yang masih layak pakai baik dalam kondisi sebenarnya atau setelah pengolahan. Pada dasarnya aktifitas ini sudah ada sejak lama dan lazim dilakukan oleh manufakturer. Konsep lama dari reverse logistics, yaitu penarikan barang dari market, baik karena produk sudah obsolete (kadaluwarsa) atau produk bermasalah. Hal seperti ini yang menyebabkan kerugian pada manufakturer karena ada lost sales dan biaya lainnya terkait dengan produk yang tidak dapat dijual. Biasanya barang-barang tersebut setelah kembali ke manufaktur kemudian diberlakukan prosedur scrapping atau biasa disebut pemusnahan atau disposal. Beberapa penjelasan lain tentang reverse logistics oleh para ahli diantaranya: 1. Reverse logistics adalah suatu proses yang meliputi kegiatan logistik sepanjang jalan dari produk yang sudah tidak digunakan oleh pengguna untuk dibuat menajdi produk kembali yang bisa digunakan di pasar. Fleischman et al. (1997) 2. Reverse logistics adalah kemampuan dari manajemen logistik dan aktivitas yang meliputi mengurangi, mengatur, dan membuang bagian yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya. Termasuk di dalamnya distribusi reverse, yang menyebabkan barang dan informasi berjalan berbalik arah dari aktivitas logistik normal pada umumnya. Kroon (1995) 3. Reverse logistics adalah pengumpulan, transportasi, penyimpanan dan proses dari barang rusak. Krikke (1998) 4. Reverse logistics adalah proses dimana sistem dari manufaktur menerima barang atau bagian dari barang konsumsi untuk kemungkinan di daur ulang, dibuat kembali, atau dibuang. Dowlatshahi (2000) 5. Reverse logistics sebagai sebuah cara untuk memperbaiki produk yang gagal seperti pada pengemasan dan pengiriman barang-barang dan mengembalikan barang tersebut kepada titik utama pengumpulan untuk di daur ulang atau diperbaiki. Guide et al (2000). Terdapat beberapa kesamaan dari beberapa persamaan diatas yaitu reverse logistics yang merupakan bagian dari stratgei manajemen logistik dengan arus berbalik dari sistem supply chain pada umumnya yang membuat barang kembali kepada ritel dari konsumen untuk diserahkan kepada pabrik atau perusahaan asal untuk dibuang, diperbaiki, atau bahkan di daur ulang. Saat ini, reverse logistics memiliki konsep yang lebih luas. Sebagaimana disebutkan oleh Moritz Fleischman, aktifitas ini berupaya untuk memperbaharui value barang. Dengan demikian, barang yang ditarik tidak hanya dari market (distributor, retailer), tapi juga dari end-user bahkan tempat sampah dan gudang barang bekas konsumen. Barang yang ditarik, kemudian diolah, baik oleh manufakturer aslinya ataupun oleh pihak ketiga, untuk ditingkatkan value-nya atau bahkan dikembalikan value-nya seperti semula. Proses pengolahannya pun bermacam-macam, tergantung pada sejauh apa barang bekas bisa diolah dan dikembalikan valuenya. Dari beberapa literatur yang berhubungan dengan reverse logistics, pada dasarnya ada 4 hal yang menjadi motif reverse logistics : 1. Aspek Ekonomis, dimana orang atau perusahaan bermaksud untuk mendapatkan kembali keuntungan dari barang bekas. 2. Aspek Lingkungan, dimana orang atau perusahaan melakukan reverse logistics untuk mengurangi dampak negatif produk buangan terhadap lingkungan. Selain itu penggunaan kembali material bekas dapat mengurangi eksploitasi virgin material. 3. Aspek legal, biasanya terjadi di negara maju, dimana pemerintah memaksa perusahaan penghasil produk untuk melakukan aktifitas ini. 4. Extended responsibility, motif ini dilakukan oleh perusahaan yang memiliki kesadaran sendiri untuk melakukan reverse logistics sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungannya akibat produk yang dihasilkannya.

Reverse Logistics (skripsi dan tesis)

Penanganan barang barang retur baik berupa salvage dan scrap disposal, merupakan bagian dari proses yang berkaitan erat dengan reverse logistics, dan juga merupakan komponen logistik yang memerlukan perhatian lebih. Apalagi pelanggan menuntut kebijakan retur yang lebih fleksibel yang berhubungan dengan proses daur ulang dan lingkungan hidup. Barang-barang diretur bisa dikarenakan kerusakan produk, kadaluarsa, kesalahan pengiriman, trade-ins, dan alasan-alasan lainnya. Reverse logistics juga melibatkan pemindahan dan pembuangan sisa material dari bagian produksi, distribusi dan pengemasan. Jika sisa material tidak dapat digunakan untuk menghasilkan produk lain, material harus dibuang. Apapun produk tambahannya, proses logistik harus menanganinya secara efektif dan efisien, menyangkut dan menyimoannya bila produk tambahan tersebut dapat digunakan lagi atau di daur ulang. Logistik mengatur transportasinya ke lokasi produksi atau ke lokasi daur ulang. Biasanya permasalahan ini diserahkan ke pihak ketiga.

Procurement/Purchasing (skripsi dan tesis)

Istilah Purchasing dan Procurement sering tertukar, meskipun berbeda pelaksanaannya. Purchasing pada umumnya berhubungan dengan pembelian aktual material dan segala aktivitas yang berhubungan dengan proses pembelian. Aktivitas procurement dikenal sebagai process-oriented dan strategik. Tujuan dari Purchasing : 1. Memberikan aliran material, persediaan dan pelayanan yang berkesinambungan yang dibutuhkan untuk menjalankan organisasi. 2. Meminimalkan investasi persediaan dan kerugian 3. Menjaga dan memperbaiki kualitas 4. Menemukan atau mengembangkan kemampuan supplier 5. Menstandarisasikan. Dimana kemungkinan barang dibeli 6. Pembelian barang yang diperlukan dan pelayanan pada tingkat biaya total rendah 7. Mengembangkan posisi organisasi yang kompetitif 8. Mencapai keharmonisan, hubungan kerja yang produktif dengan area fungsional lainnya dalam organisasi 9. Menyempurnakan sasaran pembelian pada kemungkinan tingkat biaya administratif yang terendah

Pemilihan Lokasi dan Gudang (Plant and Warehouse Site Selection) (skripsi dan tesis)

Pergudangan merupakan bagian internal dari semua sitem logistik yang berperan penting dalam melayani pelanggan dengan total biaya seminimal mungkin, juga merupakan jaringan primer diantara prosedur dan pelanggan yang digunakan untuk menyimpan persediaan selama seluruh bagian proses logistik berjalan. Terdapat 2 tipe dasar persediaan, yaitu; 1. Bahan mentah, komponen-komponen dan bagian-bagiannya (Persediaam Fisik) 2. Barang jadi akhir (Distribusi Fisik) Mungkin juga terdapat WIP, meskipun dalam banyak perusahaan, WIP hanya berupa bagian kecil dari total investasi persediaan perusahaan. Pada umumnya, tempat penyimpanan persediaan diperlukan untuk: 1. Mencapai transportasi yang ekonomis 2. Mencapai produksi yang ekonomis 3. Memelihara sumber persediaan 4. Mengantisipasi kondisi perubahan pasar (pasar musiman, fluktuasi perminntaan, kompetisi) 5. Mengatasi perbedaan ruang dan waktu yang berada diantara produsen dan konsumen 6. Menetapkan setidaknya biaya total logistik seimbang dengan tingkat pelayanan pelanggan yang diinginkan 7. Mendukung program just-in-time dari supplier dan pelanggan

Dukungan komponen dan jasa (Parts and Sevice Support) (skripsi dan tesis)

Salah satu aktivitas pemasaran adalah memberikan pelayanan pasca penjualan kepada pelanggan, seperti penyediaan bagian –bagian pengganti ketika produk rusak atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Contoh nyata terjadi pada dealer mobil yang harus memiliki departemen pelayanan yang efisien untuk menawarkan pelayanan yang sempurna dan perbaikan secara tepat. Memiliki cadangan persediaan dan bagian-bagian pengganti sangatlah penting bagi aktivitas service dan perbaikan, dan logistik bertanggung jawab meyakinkan bagian-bagian tersebut tersedia kapan dan dimana pelanggan membutuhkannya.

Packaging style (Sistem Pengemasan) (skripsi dan tesis)

Sistem pengemasan merupakan fase terakhir dalam Teknik Produksi/Manufaktur. Pengemasan produk dilakukan untuk keamanan dan keselamatan dari produk tersebut terhadap gncangan, goresan, debu dan hal lain yang dapat menyebabkan produk tersebut cacat, kemudian juga untuk melindungi produk dari kerusakan ketika akan disimpan atau diangkut. Pengemasan yang pantas dapat memudahkan penyimpanan serta pemindahan produk, sehingga mengurangi biaya penanganan material. Dari perspektif logistik, fungsi pengemasan adalah untuk mengatur, melindungi dan mengidentifikasi produk dan material. Dalam melakukan fungsinya, pengemasan memakan tempat dan menambah berat. Fungsi spesifik pengemasan ada 6 yaitu: 1. Penahanan (Containment) Produk harus ditahan sebelum dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika kemsana rusak, barang didalamnya akan rusak atau hilang, atau berdampak polusi jika barang tersebut merupakan material berbahaya. 2. Proteksi (Protection) Isi dari kemasan harus dilindungi dari kerusakan atau kerugian akibat pengaruh lingkungan luar seperti kelembaban, debu, serangga, dan pencemaran. 3. Pembagian (Apportionmnet) Keluaran harus dikurangi dari produksi industri untuk dapat dikendalikan, disesuaikan dengan keinginan konsumen, itulah perwujudan keluaran luas dari produksi ke dalam kuantitas yang lebih kecil dari kegunaan yang lebih baik untuk para pelanggan. 4. Pengunitan (Unitization) Pengemasan dapat diunitkan menjadi pengemasan sekunder yang kemudian dapat diunitkan menjadi bagian pallet yang terbungkus dan pada akhirnya ke dalam sebuah wadah yang diisi dengan beberapa pallet. 5. Kesempatan Waktu (Convenience) Pengemasan membuat produk agar dapat digunakan dengan sebaikbaiknya. 6. Komunikasi (Communication) Pengemasan bisa mengatasi keambiguan, agar mudah dimengerti diberi simbol seperti Kode Produk Universal (Universal Product Code/UPC). Di pasaran terdapat bermacam-macam cara pengemasan, diantaranya menggunakan polybox, kardus, plasyik, karton, dan yang lainnya. Perusahaan-perusahaan menerapkan sistem pengemasan (packaging style) yang berbeda-beda tergantung dari karakteristik produk tersebut.

Material Handling (Penanganan Material) (skripsi dan tesis)

Penanganan material berhubungan dengan setiap aspek gerakan atau
aliran bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi dalam pabrik atau
gudang. Tujuan penanganan material adalah :
1. Menyederhanakan dan menghapus sistem penanganan apapun yang
memungkinkan.
2. Meminimalkan jarak tempuh.
3. Meminimalkan barang setengah jadi.
4. Menyediakan aliran bebas yang serentak dari bottleneck.
5. Meminimalkan kerugian akibat pembuangan, kerusakan dan pencurian.
6. Meminimalisasi biaya penanganan material dengan analisa aliran
material yang cermat.
Penanganan material terjadi pada semua siklus proses manufaktur
produk, baik itu sebelum maupun sesudah proses produksi. Bahan baku juga
biasanya bergerak dari bentuk aslinya sampai pada suatu bentuk tertentu
sebelum akhirnya dapat diolah pabrik. Setelah selesai diproduksi, produk
dipindahkan/ didistribusikan pada berbagai pemakai. Setelah suatu produk
selesai masa pakainya, produk ini harus dibuang/didaur ulang. Untuk proses
pembuangan ini, perlu dilakukan satu atau lebih perpindahan sebelum material
tersebut benar-benar dibuang, tapi untuk proses daur ulang, terjadi kembali
perpindahan ke kegiatan utama yang bertujuan untuk proses perbaikan ke sifatsifat semula, proses inilah yang disebut sebagai perputaran penanganan
perpindahan material.

Logistics Communications (Komunikasi Logistik) (skripsi dan tesis)

Sukses dalam lingkungan bisnis saat ini membutuhkan manajemen
sistem komunikasi yang kompleks. Komuniasi yang efektif harus berlangsung
dalam:
1. Organisasi, supplier dan pelanggan
2. Fungsi utama dalam organisasi, seperti logistik, perekayasaan keuangan,
pemasaran, dan produksi.
3. Ketiga belas aktifitas logistik lainnya
4. Berbagai jenis aspek dari tiap aktivitas logistik, seperti koordinasi gudang
material, WIP dan barang akhir.
5. Berbagai anggota supply chain, seperti pelanggan penyedia sekunder
yang tidak secara langsung berhubungan dengan perusahaan.

Aktivitas Logistics (skripsi dan tesis)

Dalam Perpres No 26 Tahun 2012 terdapat 13 aktivitas-aktivitas logistik,
dimana salah satunya adalah reverse logistics. Hal ini menandakan kegiatan
logistik di Indonesia memiliki peraturan yang resmi yang jika dalam
pelaksanaannya tidak berjalan dengan baik maka akan ada sanksi terhadap
kelalaian tersebut. Lebih lengkapnya 13 kegiatan tersebut antara lain:
1. Customer Service (Pelayanan Pelanggan)
Pelayanan pelanggan merupakan suatu proses yang berlangsung
diantara pembeli, penjual dan pihak ketiga yang menghasilkan nilai tambah
untuk pertukaran produk atau jasa dalam jangka waktu pendek seperti transaksi
tunggal ataupun jangka panjang seperti hubungan berdasarkan kontrak. Nilai
tambah ini juga terbagi pada masing-masing kelompok transaksi atau kontrak,
yang dalam keadaan lebih baik pada penyelesaian transaksi dibandingkan
sebelum transaksi. Dengan demikian, customer service merupakan proses
penyediaan keuntungan nilai tambah yang penting pada supply chain dengan
cara efektif.
2. Demand Forecasting (Peramalan Permintaan)
Ramalan permintaan manajemen logistik menentukan berapa banyak
dari tiap barang yang diproduksi perusahaan yang harus diangkut keberbagai
pasar. Selain itu, manajemen logistik harus mengetahui di mana asalnya
permintaan sehingga dapat menempatkan dan menyimpan produk dengan
jumlah yang tepat disetiap area pasar. Perkiraan akurat tentang permintaan yang
akan datang memungkinkan manajer logistik untuk menyediakan sumber
(anggaran belanja) pada aktivitas-aktivitas yang akan melayani permintaan
tersebut. Pengambilan keputusan tanpa keyakinan akan kurang optimal karena
sangatlah sulit untuk menyediakan sumber sumber di antara aktivitas logistik
tanpa mengetahui jenis produk dan jasa yang akan diperlukan. Untuk itu,
sangatlah penting bagi organisasi untuk menjalankan beberapa tipe ramalan
permintaan dan mendiskusikan hasil tersebut dengan beberapa bagian
pemasaran, produksi, dan departemen logistik. Software komputer, analisis
trend, perkiraan pokok penjualan, ataupun metode lain dapat membantu
pembuatan ramalan yang diperlukan.
13
3. Inventory Management (Manajemen Persediaan)
Aktivitas pengendalian persediaan (Inventory control activity) bersifat
kritis karena membutuhkan finansial atas pemeliharaan persediaan produk yang
cukup untuk mempertemukan kebutuhan pelanggan dengan kebutuhan produksi.
Bahan baku dan komponennya, WIP (work in process), dan persediaan barang
jadi, semuanya menghabiskan ruang fisik, waktu kerja dan modal. Uang yang
diinvestasikan pada persediaan tidak tersedia untuk dipergunakan.
Alasan pengadaan persediaan dalam perusahaan :
1. Memungkinkan perusahaan mencapai skala ekonomis.
2. Menyeimbangkan persediaan dan permintaan.
3. Memungkinkan spesialisasi produksi.
4. Melindingi ketidak pastian permintaan dan siklus pemesanan.
5. Bertindak sebagai penyangga/buffer diantara interface yang bersifat kritis
dalam rantai pasok (Supply Chain).
Buffer pada Supply Chain meliputi :
1. Supplier – Procurement (purchasing)
2. Procurement – Production
3. Production – Marketing
4. Mareting – Distribution
5. Distribution – Intermediary/Retail
6. Intermediary/Retail – Customer

Pengertian Management Logistics (skripsi dan tesis)

Siagian (1992) menyatakan bahwa manajemen adalah seni memperoleh hasil melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh orang lain, sedangkan logistik adalah bahan untuk kegiatan operasional yang habis pakai. Manajemen logistik adalah suatu ilmu pengetahuan dan atau seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan kebutuhan pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan material/alat alat, sehingga manajemen  logistik mampu menjawab tujuan dan bagaimana cara mencapai tujuan dengan ketersediaan bahan logistik setiap saat bila dibutuhkan dan dipergunakan secara efisien dan efektif. Dalam sistem administrasi manajemen logistik Subagya (1994) menyatakan “Pelaksanaan manajemen yang baik, maka unsur-unsur manajemen di proses fungsi-fungsi manajemen dan fungsi tersebut merupakan pegangan umum untuk dapat terselenggaranya fungsi-fungsi logistik”. Manajemen logistik merupakan salah satu aktivitas yang tertua tetapi juga termuda. Aktivitas logistik (lokasi fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, dan pengurusan, dan penyimpanan) telah dilaksanakan orang semenjak awal spesial komersil. Tujuan logistik adalah menyampaikan barang jadi dan bermacam-macam material dalam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, ke lokasi dimana ia dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai ke lokasi dimana ia dibutuhkan, dan dengan total biaya yang terendah. (Browersox, 1978) Manajemen logistik adalah bagian dari proses supply chain management yang merencanakan, mengimplementasikan, dan mengatur efisiensi, efektivitas aliran dan penyimpanan produk, pelayanan, dan informasi yang berkaitan dari bahan mentah menjadi barang jadi yang siap dikonsumsi oleh pasar atau konsumen. Definisi ini termasuk aliran barang, pelayanan, dan informasi baik pada sektor manufaktur maupun jasa pelayanan

Pengertian Logistics (skripsi dan tesis)

Logistik adalah proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan strategis barang, suku cadang dan barang dari para supplier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para langganan. (Bowersox Manajemen Logistik, 1986 : 13). Logistik didefinisikan oleh dewan manajemen logistik sebagai sebagai proses perencanaan, pelaksanaan dan mengendalikan aliran yang efisien dan efektif dalam biaya bahan baku, di dalam proses persediaan, barang jadi, dan informasi yang terkait dari titik asal ke titik konsumsi 10 untuk tujuan yang sesuai dengan persyaratan pelanggan (Rogers dan TibbenLembke, 1999). Paul, Richard (2007) menyatakan bahwa logistik adalah bagian dari Supply Chain Management daripada menjadi bagian tersendiri. Logistik dalam hal ini mencakup bagian dari fungsional, seperti transportasi, warehousing (penyimpanan di gudang), inventory, pertambahan nilai manajemen (Ming-Chih, Chun-Hua Liao and Chia-shing Han, 2008). Logistik merupakan bagian dari supply chain management, hal ini memicu dalam perkembangan jaringan atau network dalam supply chain management serta dukungan supply chain terhadap organisasi. Contohnya dapat dilihat pada saran yang diberikan oleh Dischinger et al (2006) yang menyatakan bahwa dalam logistik yang profesional harus dapat memproses berbagai fungsi dari keterampilan, keterampilan teknik, keterampilan kepemimpinan, manajemen global, pengalaman, serta kredibilitas. Saran lain yang diberikan Kenneth and Dwayne (2008) yaitu kinerja supply chain berbanding lurus dan positif dengan kinerja organisasi termasuk kinerja logistik. Model kinerja logistik pada perusahaan merupakan faktor pembangun dengan strategi supply chain sebagai bagian dari performa organisasi, keuangan dan pemasaran sebagai konsekuensi.

Pengertian Supply Chain Management (skripsi dan tesis)

Supply Chain merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran yang terjadi didalam dan diantara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atas suatu produk. Konsep supply chain ini mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan, pergudangan, dan toko, sehingga barang yang diproduksi dan didistribusi dengan kualitas yang tepat, lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan. Supply chain management (SCM) adalah filosofi management yang secara terus-menerus mencari sumber-sumber fungsi bisnis yang kompeten untuk digabungkan baik dalam perusahaan maupun luar perusahaan seperti mitra bisnis yang berada dalam satu supply chain untuk memasuki sistem supply yang berkompetitif tinggi dan memperhatikan kebutuhan pelanggan, yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif dan sinkronisasi aliran produk, jasa, dan informasi untuk menciptakan sumber nilai pelanggan (customer value) secara unik. Dengan memanfaatkan supply chain management. Sebuah supply chain merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen (Kalakota, 2000). Tujuan yang hendak dicapai dari setiap supply chain adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001). Manajemen rantai suplai bisa juga berarti seluruh jenis kegiatan komoditas dasar hingga penjualan produk akhir ke konsumen untuk mendaur ulang produk yang sudah dipakai. Definisi Supply Chain Management (SCM) menurut Simchi-Levi et al. (1999), merupakan serangkaian pendekatan yang diterapkan untuk mengintegrasikan supplier, pengusaha, gudang (warehouse), dan tempat penyimpanan lainnya secara efisien sehingga produk dihasilkan dan didistribusikan dengan kuantitas yang tepat, lokasi tepat dan waktu yang tepat untuk memperkecil biaya dan memuaskan kebutuhan pelanggan. Definisi lain menyebutkan Supply Chain merupakan sekumpulan aktifitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Menyimak dari definisi ini, maka suatu supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkat bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut kekonsumen akhir. Dengan definisi ini tidak jarang supply chain juga banyak diasosiasikan dengan suatu jaringan value adding activities

Manajemen Rantai Pasok (skripsi dan tesis)

Dari berbagai tinjauan pustaka terkait manajemen rantai pasok (SCM), tampak ada kerancuan dalam penggunaan konsep pemasaran dengan konsep manajemen rantai pasok. Sebagian penulis menganggap sama dan sebagian mengganggap berbeda antara kedua konsep tersebut. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk menjelaskan perbedaan dan posisi antara konsep pemasaran dengan manajemen rantai pasok karena hal ini membawa konsekuensi yang berbeda dalam menggunakan alat analisis, cakupan penelitian, dan implikasi kebijakannya. Dalam konsep pemasaran dikenal pemasaran dalam perspektif makro dan mikro (Scaffner et al. 1998), selanjutnya Asmarantaka (2009) membahas dalam konteks pemasaran produk-produk pertanian di Indonesia. Dalam perspektif pembangunan ekonomi, Siregar (2009) mengungkapkan konsep makro-mikro pembangunan dan pentingnya pengintegrasian keduanya dalam pembangunan ekonomi. Demikian juga dalam konsep daya saing dikenal mikro-makro daya saing dalam rangka merumuskan strategi pembangunan pertanian (Saptana 2010) dan perspektif makro-mikro pemasaran urgensinya bagi pembangunan pertanian (Saptana dan Rahman 2015). Selanjutnya, dikemukakan pemasaran dalam perspektif makro menganalisis efisiensi sistem pemasaran secara keseluruhan (kawasan, wilayah, agregat negara) dalam penyampaian produk dari produsen hingga ke konsumen. Pemasaran dalam perspektif mikro, merupakan tinjauan pemasaran dari aspek manajemen usaha di mana perusahaan secara individu, pada setiap tahapan pemasaran dalam mencari keuntungan, melalui pengelolaan bahan baku, produksi, penetapan harga, distribusi dan promosi secara efektif terhadap produk yang akan dipasarkan (Scaffner et al. 1998; Asmarantaka 2009; Saptana dan Rahman 2015). Beberapa alat analisis sistem pemasaran perspektif mikro yang berkembang dewasa ini adalah konsep manajemen rantai pasok (SCM) dan analisis rantai nilai (value chain analysis/ VCA). Harland (1996) mendefinisikan SCM sebagai manajemen dari jaringan bisnis mulai dari awal produksi sampai kepada pemenuhan permintaaan barang-barang dan jasa yang diinginkan konsumen akhir. Konsep manajemen rantai pasok (SCM) merujuk pada manajemen keseluruhan proses produksi, distribusi, dan pemasaran di mana konsumen dihadapkan pada produk yang sesuai dengan keinginannya dan produsen dapat memproduksi produk dengan jumlah, kualitas, waktu, dan lokasi yang tepat (Marimin dan Maghfiroh 2013; Ilham et al. 2015). Kajian manajemen rantai pasok meliputi hal yang sangat luas, mulai dari titik awal sebelum proses produksi, proses produksi, proses inventori dan distribusi, sampai kepada titik akhir konsumen. Manajemen rantai pasok adalah integrasi aktivitas pengadaan bahan baku dan pelayanan, pengubahan barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan (Heizer dan Render 2010).
Dengan demikian, manajemen rantai pasok meliputi seluruh aktivitas yang mencakup pembelian dan pengubahan bentuk barang atau produk, serta fungsi pelayanan yang penting bagi keseluruhan hubungan pemasok (supplier) dan distributor untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Li (2007) mendefinisikan manajemen rantai pasok sebagai sekumpulan aktivitas dan keputusan yang saling tekait untuk mengintegrasikan pemasok, manufaktur, gudang, jasa transportasi, pengecer, dan konsumen secara efisien. Berdasarkan definisi APICS Dictionary (Lokollo 2012), manajemen rantai pasok adalah “desain, perencanaan, eksekusi (pelaksanaan), kontrol, dan memonitor aktivitas rantai pasok dengan tujuan menciptakan nilai bersih, membangun infrastruktur yang kompetitif, memanfaatkan logistik di seluruh dunia, sinkronisasi penawaran dan permintaan dan mengukur performa secara global.” Hasil kajian Brandenburg dan Rebs (2015) tentang perspektif model Manajemen Rantai Pasok Berkelanjutan (Sustainable Supply Chain Management/SSCM) diperoleh temuan pokok bahwa model SSCM yang ada masih terfokus pada pendekatan deterministik dan mengabaikan pendekatan stokastik yang mempertimbangkan aspek lingkungan dan faktor sosial. Kini dan ke depan pendekatan pemodelan manajemen rantai pasok harus dilakukan secara lebih komprehensif dengan mengintegrasikan aspek teknis-ekonomi, aspek lingkungan, dan faktor sosial, sehingga memiliki wilayah aplikasi yang lebih luas. Melalui pendekatan SSCM pada industri perunggasan diharapkan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan mengurangi tekanan sosial terhadap eksistensi industri perunggasan. Menurut Kaplinsky dan Morris (2001), analisis rantai nilai adalah kegiatan lengkap yang diawali dari perumusan konsep, kegiatan produksi, mengirimkan ke pelanggan melalui pedagang, pengolah, dan distributor; hingga ke konsumen akhir, sehingga perusahaan memiliki keunggulan kompetitif. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa rantai nilai adalah seluruh kegiatan yang membentuk keseluruhan ‘rantai’ yang menghubungkan produsen dengan konsumen, dan tiap kegiatan menambahkan ‘nilai’ pada produk akhir (ACIAR 2012). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan saling melengkapi antara konsep manajemen rantai pasok dengan analisis rantai nilai. Dalam pengembangan rantai nilai, Garrett dan Pena (2016) menekankan pentingnya dampak pengembangan terhadap status gizi. Melalui konsep “nutrition-sensitive value chains”, pengembangan rantai nilai diharapkan dapat meningkatkan status gizi para pelakunya (terutama petani), yaitu (a) secara tidak langsung melalui peningkatan pendapatan sehingga meningkatkan daya beli, termasuk untuk pangan; (b) secara langsung melalui peningkatan produksi komoditas pangan yang memiliki nilai gizi tinggi. Ada enam hal pokok yang harus diperhatikan dalam manajemen rantai pasok, yaitu dalam memperhatikan aliran barang/komoditas, aliran jasa, maupun aliran informasi. Keenam hal tersebut adalah (1) aktivitas yang dilakukan apakah menghasilkan nilai tambah; (2) bagaimana atau di mana peranan jasa pelayanan di setiap titik simpul atau mata rantai pasok; (3) apa dan siapa yang menentukan harga; (4) hubungan kesepadanan di antara tiap pelaku usaha dalam rantai pasok; (5) bagaimana nilai tambah yang tercipta di tiap simpul itu didistribusikan secara adil di antara pelaku rantai pasok; dan (6) siapa saja pemeran utama atau penentu (key decision-makers) dalam rantai pasok (Ilham et al. 2015). Indikator dari kinerja manajemen rantai pasok mencakup pengembangan produk, kemitraan strategis dengan pemasok, perencanaan dan pengendalian, produksi, distribusi, kualitas informasi, customer relationship, dan pembelian. Penerapan manajemen rantai pasok berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing (Rahmasari 2011). Hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa penerapan manajemen rantai pasok berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan yang direfleksikan oleh tingkat produktivitas, pertumbuhan penjualan, serta pangsa pasar. Terdapat tiga tahapan dalam analisis rantai nilai, yaitu (a) mengidentifikasi aktivitas rantai nilai, di mana produsen atau perusahaan pengolah mengidentifikasi aktivitas rantai nilai yang harus dilakukan, mungkin hanya terlibat dalam aktivitas tunggal, sebagian dari aktivitas, atau aktivitas keseluruhan; (b) mengidentifikasi faktor kunci sukses pada setiap aktivitas yang menciptakan nilai yang akan menjadi penentu dalam proses rantai nilai tersebut; dan (c) mengembangkan keunggulan kompetitif dengan upgrading, baik dalam bentuk process upgrading, functional upgrading, dan chain upgrading (Gereffi et al. 2005). Adanya perbaikan standardisasi mutu dan layanan purna jual pada produk industri perunggasan ditunjukkan dalam menghasilkan produk DOC berkualitas, produk pakan ternak berkualitas, produk daging ayam, telur ayam ras beta karoten, produk olahan berbasis daging ayam (chicken nugget, sosis, abon, bakso, kaki naga), serta berbagai produk industri kuliner terkenal (Kentucky Fried Chicken, Ayam Goreng Mbok Berek, Ayam Goreng Suharti, Bebek Pak Slamet, Bebek Kaliyo, serta produk segar dan olahan yang dijual Fresh Mart Prima dan meat shop). Kegiatan-kegiatan tersebut meningkatkan nilai produk secara keseluruhan karena konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk mendapatkan produk industri perunggasan yang berkualitas

Process Integration (skripsi dan tesis)

Hamidin dan Surendro dalam Majid Dan Dwiyanto 2017, menjelaskan bahwa integrasi adalah penggabungan bagian atau aktivitasaktivitas hingga terbentuk keseluruhan sistem. Integrasi dapat meningkatkan hubungan disetiap rantai pasokan, memfasilitasi pengambilan keputusan, penciptaan nilai dan informasi dari upstream sampai dengan downstream yaitu konsumen. Integrasi dalam rantai pasokan memperlihatkan sebuah hubungan kolaboratif yang sangat kompleks antar pihak yang ada dalam rantai pasokan yang apabila dapat dikelola dengan baik akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam proses produksi dalam rangka meningkatkan profit perusahaan dan memuaskan konsumen (Cousineau dalam Majid Dan Dwiyanto,2017). Suatu integrasi harus dicapai oleh organisasi atau perusahaan yang terlibat di dalam Supply Chain Management dan seluruh Supplier pengadaan bahan. Tujuan dari Supply Chain Management adalah mengintegrasikan seluruh proses operasional perusahaan mulai dari hulu (upstreams) dan ke hilir (downstreams) sampai pada pengguna akhir, melalui penyediaan produk, informasi, dan jasa guna dalam meningkatkan nilai tambah bagi konsumen dan stakeholder lainnya (Setiawan dan Rahardian dalam Hakim, 2018). Ada beberapa tahapan untuk mencapai suatu sistem SCM yang terintegrasi, dalam pengembangan dari manajemen logistik ke manajemen Supply Chain menurut (Indrajit dan Djokopranoto dalam ariani,2013), terdiri dari beberapa tahapan yaitu :
1. Tahap 1 : Dasar (Baseline) Pada tahap ini fungsi produksi dan fungsi logistik masih melakukan aktivitas masing-masing dan terpisah. Bagian produksi tidak   memikirkan mengenai persediaan yang ada, kurangnya persediaan ataupun persediaan yang menumpuk, karena bagian produksi hanya bertugas dalam memproduksi suatu produk sesuai dengan mutu yang telah ditetapkan.
 2. Tahap 2 : Fungsional integrasi (Fungsional Integration) Menggabungkan fungsi-fungsi yang mempunyai aktivitas yang hampir sama atau fungsi yang berdekatan, mulai dipertimbangkan pada tahapan ini, karena dalam hal ini proses integrasi sudah mulai dipertimbagkan.
 3. Tahap 3 : Integrasi secara internal (Internal Integration) Semua fungsi yang terkait di dalam suatu organisasi atau perusahaan memerlukan proses Integrasi secara internal untuk melakukan perencanaan kerangka kerja dan pengawasan.
4. Tahap 4 : Integrasi secara eksternal Merupakan tahap akhir dan tahap sebenarnya dari Supply Chain Integration, karena tahap ini melanjutkan dari tahap perencanaan dan pengawasan (Internal Integration), yaitu ke hulu (Upstreams) dan ke hilir (Downstreams), sampai ke pelanggan. Pola integrasi Supply Chain perusahaan mencerminkan fokus operasional perusahaan dalam bersaing di dunia bisnis. Dalam melakukan pengintegrasian perusahaan dihadapkan pilihan kearah mana pola integrasi supply chain nya, apakah condong ke internal atau eksternal (kearah pemasok,konsumen, atau kedua duanya (Setiawan dan Santoso dalam ariani, 2013).
Empat jenis integrasi yang diperkenalkan oleh Noord dikutip Becker dkk dalam ariani, 2013) yaitu :
 1. Integrasi fisik, mengacu pada perubahan dalam proses dan aktivitas untuk meningkatkan dan efisiensi proses inti.
 2. Integrasi informasi, mengacu pada pertukaran informasi yang berhubungan dengan tingkat inventori, perencanaan transportasi/manufaktur, peramalan, status aktual proses dan sebagainya.
 3. Integrasi koordinasi, mengacu pada keselarasan proses pengambilan keputusan disepanjang rantai pasok.
4. Integrasi desain rantai pasok, mengacu pada kerjasama di dalam perubahan struktur rantai pasokan. Standarisasi yang terjadi pada integrasi menjadikan integrasi harus dapat dikarakteristikan sebagai kerjasama, kolaborasi, berbagi informasi (Information Sharing), kepercayaan (Trust), kemitraan (Partnership), berbagi teknologi (Shared Technology), kompatibilitas, berbagi risiko dan manfaat, komitmen dan visi yang sama,kebergantungan dan berbagi proses utama (Hamidin dan Surendro dalam Ariani, 2013).
Menurut Rahadi dalam Ariani 2013, tingkat penerapan dari process integration dapat diukur melalui :
1. Aktivitas logistik diutamakan.
2. Aktivitas logistik memiliki integritas yang baik.
3. Aktivitas produksi yang terkoordinasi.
4. Arus material atau bahan efektif.

Information Sharing (skripsi dan tesis)

Menurut Rahadi dalam Rachbini 2017, perusahaan dalam mengimplementasikan Supply Chain Management (SCM), bertujuan untuk meningkatkan daya saing yang diwujudkan dalam peningkatan kinerja operasional. Pembagian informasi (Information sharing) merupakan elemen penting dalam Supply Chain Management, karena dengan adanya pembagian informasi yang transparan dan akurat dapat mempercepat proses rantai pasokan mulai dari supplier sampai ke pasar atau ke tangan konsumen. Berbagi informasi adalah kunci untuk menghasilkan hubungan yang sukses. Ketika karyawan memiliki komitmen untuk saling berbagi informasi, maka hubungan internal karyawan antar departemen juga baik.  Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Fawcett (2007) bahwa hubungan yang dekat dan berkualitas dapat dibangun melalui berbagi informasi ketika perusahaan ingin berbagi tujuan bersama dan membangun karyawan yang aktif (hubungan kolaborasi yang baik). Jadi untuk menjalin hubungan antar karyawan diperlukan komunikasi yang terbuka, di mana komunikasi yang terbuka disebabkan oleh adanya aliran informasi yang tepat dalam organisasi Information Sharing (pembagian informasi) adalah aliran komunikasi secara terus menerus antara mitra kerja baik formal maupun informal dan berkontribusi untuk suatu perencanaan serta pengawasan yang lebih baik dalam sebuah rangkaian (Miguel dan Brito dalam mandasari dan Widiartanto, 2016). Menurut Chopra dan Meindl dalam mahardika 2014, informasi harus memiliki beberapa karakteristik agar dapat berguna dalam mengambil keputusan rantai pasok : 1. Akurat. Untuk mengambil keputusan yang baik, Informasi harus menggambarkan kondisi yang sebenarnya dan dapat dipercaya. 2. Tepat. Mempertimbangkan informasi apa saja yang sesuai dan dibutuhkan oleh perusahaan. 3. Dapat diakses pada saat dibutuhkan. Untuk dapat digunakan pada saat dibutuhkan informasi harus dapat diakses dengan baik dan benar, sehingga dapat membantu dalam mengambil keputusan. Keberhasilan Supply Chain sangat tergantung kepada sistem informasinya, dengan adanya informasi partner bisnis dalam rantai pasok dapat diperhitungkan (Pujawan dan Mahendrawathi, 2010). Kurangnya koordinasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam supply chain akan menimbulkan distorsi Informasi yang disebut dengan fenomena Bullwhip 11 Effect (Parwati dan Andrianto, 2009). Sedangkan Bullwhip Effect itu sendiri didefinisikan oleh Susilo dalam mahardika 2014 sebagai peningkatan variabilitas permintaan yang terjadi pada setiap Level Supply Chain sebagai akibat adanya distorsi informasi. Handfield dan Nicholas dalam mahardika 2014, mengatakan bahwa informasi yang tidak akurat atau informasi yang terdistorsi pada setiap level Supply Chain dari bawah ke atas dapat menimbulkan beberapa masalah penting,diantaranya : 1. Persediaan yang berlebihan 2. Hilangnya pendapatan 3. Turunnya tingkat kepuasan konsumen 4. Pengiriman yang tidak efektif 5. Kesalahan dalam penjadwalan produksi 6. Penggunaan sumber daya yang tidak efisien Information Sharing adalah intensitas dan kapasitas perusahaan dalam interaksinya untuk saling berbagi informasi kepada partner berkaitan dengan strategi-strategi bisnis bersama. Information Sharing juga memungkinkan anggota rantai pasok untuk mendapatkan, menjaga, dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan untuk memastikan pengambilan keputusan manjadi efektif, dan merupakan faktor yang mampu mempererat elemen-elemen kolaborasi secara keseluruhan oleh karena itu kemacetan industri dapat dikurangi dengan adanya Information Sharing (Simatupang & Sridharan dalam mahardika, 2014). Pembagian Informasi (Information Sharing) merupakan elemen penting dalam Supply Chain Management, karena adanya pembagian informasi yang transparan dan akurat dapat mempercepat pemrosesan rantai pasokan dari Supplier ke pasar dan sampai pada tangan konsumen (Rahadi, 2012). Menurut Rahadi 2012, implementasi dari Information Sharing dapat diukur dengan melalui: 1. Membagi informasi dalam segi produksi. 2. Bertukar informasi secara berkesinambungan. 3. Setiap ada kegiatan penting selalu memberikan informasi kepada seluruh pihak yang terkait dalam rantai pasokan. 4. Informasi yang dimiliki dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait.

Supply Chain Management (skripsi dan tesis)

Suatu kenyataan yang harus dirasakan pada hari ini, terlebih disaat kegiatan perdagangan bebas dan globalisasi semakin meningkat pesat, bahwasanya persaingan antar perusahaan tidak lagi persaingan antar produk melawan produk atau bahkan perusahaan melawan perusahaan akan tetapi lebih kepada Supply Chain Melawan Supply Chain. Mengapa demikian? Memenuhi permintaan pelanggan di pasar dengan solusi produk yang tepat, dengan harga yang tepat dan pada waktu yang tepat memerlukan sistem kerjasama dan koordinasi yang sangat baik dari semua sumber daya (manusia, teknologi, kemampuan produksi dan lain sebagainya) yanng menjadi bagian dalam Supply Chain untuk dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan. Supply chain management merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mencapai pengintegrasian berbagai organisasi yang lebih efisien dari supplier, manufaktur, distributor, retailer, dan customer. Artinya barang diproduksi dalam jumlah yang tepat, pada saat yang tepat dan pada tempat yang tepat dengan tujuan mencapai cost dari sistem secara keseluruhan yang minimum dan juga mencapai service level yang diinginkan (Levi, 2000). Tujuna dari Supply Chain Management adalah untuk memaksimalkan nilai keseluruhan yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pelanggan. Di sisi lain, tujuannya adalah untuk meminimalkan biaya keseluruhan (biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya bahan baku, biaya transpotasi dan lain-lain) (Cophra 7 dan Meindl, 2004). Menurut Turban 2004, terdapat 3 macam komponen rantai suplai, yaitu: 1. Rantai Pasok Hulu/Upstream Supply Chain Bagian upstream (hulu) Supply Chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam Upstream Supply Chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan. 2. Manajemen Internal Rantai pasok/Internal Supply Chain Management Bagian dari Internal Supply Chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai pasok internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan. 3. Segmen Rantai Pasok Hilir/Downstream Supply Chain Segment Downstream (arah muara) Supply Chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam Downstream Supply Chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after sales service. Supply Chain menunjukkan adanya rantai yang panjang yang dimulai dari supplier sampai pelanggan, dimana adanya keterlibatan entitas atau disebut pemain dalam konteks ini dalam jaringan Supply Chain yang sangat kompleks tersebut. Berikut ini merupakan pemain utama yang yang terlibat dalam Supply Chain: 1. Supplier (chain 1) Rantai pada supply chain dimulai dari sini, yang merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, dimana mata rantai penyaluran barang akan mulai. Bahan pertama di sini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, suku cadang atau barang dagang. 2. Supplier-Manufacturer (chain 1-2) Rantai pertama tadi dilanjutkan dengan rantai kedua, yaitu Manufacturer yang merupakan tempat mengkonversi ataupun menyelesaikan barang (finishing). Hubungan kedua mata rantai tersebut sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan. Misalnya, penghematan inventory carrying cost dengan mengembangkan konsep Supplier Partnering. 3. Supplier-Manufacturer-Distribution (chain 1-2-3) Dalam tahap ini barang jadi yang dihasilkan disalurkan kepada pelanggan, dimana biasanya menggunakan jasa distributor atau Wholesaler yang merupakan pedagang besar dalam jumlah besar. 4. Supplier-Manufacturer-Distribution-Retail Outlets (chain 1-2-3-4) Dari pedagang besar tadi barang disalurkan ke toko pengecer (Retail Outlets). Walaupun ada beberapa pabrik yang langsung menjual barang hasil produksinya kepada customer, namun secara relatif jumlahnya tidak banyak dan kebanyakan menggunakan pola seperti di atas. 5. Supplier-Manufacturer-Distribution-Retail Outlets-Customer (chain 1-2-3-4-5). Customer merupakan rantai terakhir yang dilalui dalam supply chain dalam konteks ini sebagai end-user. Perusahaan yang berada dalam supply chain pada intinya ingin memuaskan konsumen dengan bekerja sama membuat produk yang murah, mengirimkan tepat waktu dan dengan kualitas yang bagus (Rahmasari dalam ariani 2013). Dengan melakukan ukuran performasi supply chain management, sebagai berikut: 1. Kualitas (tingkat kepuasan pelangan, loyalitas pelanggan,ketepatan pengiriman). 2. Waktu (total replenishment time, business cycle time). 3. Biaya (total delivered cost, efisiensi nilai tambah). 4. Fleksibilitas (jumlah dan spesifikasi).

Pengukuran Kinerja Rantai Pasok (skripsi dan tesis)

Istilah kinerja atau performance mengacu pada hasil output dan sesuatu yang dihasilkan dari proses yang telah dilakukan sebelumnya, hasil ini dapat diukur kinerjanya dengan perhitungan tertentu serta dapat dievaluasi dan dibandingkan dengan organisasi lain dengan tujuan mengetahui nilai dari hasil yang kita dapatkan dan menentukan strategi untuk dapat mempertahankan organisasi tersebut. Suatu manajemen rantai pasok dituntut untuk dapat melakukan integrasi antar fungsi dan proses yang terjadi didalamnya, agar manajemen rantai pasok tersebut dapat berjalan dengan baik dan dapat melayani costomer sebagai tujuan akhirnya, serta menghasilkan benefit dari proses tersebut. Menurut Pujawan dan Mahendrawathi (2010), pendekatan proses dalam merancang sistem pengukuran kinerja supply chain memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan masalah pada suatu proses sehingga bisa mengambil tindakan koreksi sebelum masalah tersebut meluas. Dengan mengamati kinerja proses supply chain dari waktu ke waktu kita dapat melakukan pencegahan dini apabila ada tanda-tanda proses berjalan di luar batas kendali

Manajemen Rantai Pasok (skripsi dan tesis)

Manajemen rantai pasok (supply chain management) adalah metode atau pendekatan integratif untuk mengelola aliran produk, informasi dan uang secara terintegrasi yang melibatkan pihak-pihak mulai dari hulu ke hilir yang terdiri dari supplier, pabrik, jaringan distribusi maupun jasa-jasa logistik (Pujawan dan Mahendrawathi, 2010). Sedangkan The Council of Logistics Management mendefinisikan bahwa supply chain management adalah sistematika, koordinasi strategis dari fungsi bisnis tradisional dalam sebuah perusahaan swasta dan menyeberangi bidang usaha dalam supply chain untuk tujuan meningkatkan kinerja jangka panjang dari perusahaan individu dan supply chain sebagai keseluruhan. Berikut adalah gambaran sederhana proses manajemen rantai pasok. Gambar Menurut Pujawan dan Mahendrawathi (2010), ada tiga macam aliran yang harus dikelola dalam suatu supply chain. Pertama adalah aliran barang yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream). Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik. Setelah produk selesai diproduksi, mereka dikirim ke distributor, lalu ke pengecer atau retail, kemudian ke pemakai akhir. Kedua adalah aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu. Ketiga adalah aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya

Supply Chain Integration (skripsi dan tesis)

Konsep dari integrasi dalam rantai pasok sangat efektif dalam koordinasi antar pelaku supply chain sehingga alur proses dan informasi bergerak secara terstruktur dan terperinci dari hulu ke hilir. Integasi dalam rantai pasok sangat memudahkan para pelaku rantai pasok untuk mengetahui kapasitas dan inventori yang dimilik antar pelaku rantai pasok, sehingga informasi tersebut didapatkan dengan mengakses sistem integrasi yang digunakan. Tanpa integrasi dalam supply chain, para pelaku supply chain tidak akan mengetahui masalah yang dialami dalam upstream supply chain maupun downstream supply chain. Dengan integrasi dalam supply chain, upstream supply chain dapat mengontrol terjadinya kegagalan dalam produksi dengan mengatur alur pasokan, sedangkan downstream supply chain dapat mengetahui feedback dari customer saat produk yang dihasilkan sudah dipasarkan atau dikonsumsi.

Fishbone Diagram / Cause and Effect Diagram (skripsi dan tesis)

Diagram sebab akibat (cause and effect diagram atau fishbone diagram) adalah sebuah teknik grafis yang digunakan untuk mengurutkan dan menghubungkan interaksi antara faktor-faktor yang berpengaruh dalam suatu proses. Konsep dasar dari diagram fishbone adalah permasalahan mendasar diletakkan pada bagian kanan dari diagram atau pada bagian kepala dari kerangka tulang ikan. Penyebab permasalahan digambarkan pada sirip dan durinya dan untuk kategori penyebab permasalahan yang sering digunakan meliputi materials, machines, manpower, methods, mother nature/ environment dan measurement. Diagram ini berguna untuk menganalisa dan menemukan faktor-faktor yang berpengaruh atau efek secara signifikan di dalam menentukan karakteristik kualitas output kerja. Analisa diagram fishbone dipakai untuk mengkategorikan berbagai sebab potensial dari suatu masalah atau pokok persoalan dengan cara yang mudah dimengerti dan rapi

House of Risk (HOR) (skripsi dan tesis)

House of Risk adalah metode terbarukan dalam menganalisis risiko yang pengaplikasiannya menggunakan prinsip FMEA (Failure Mode and Error Analysis). House of risk digunakan untuk mengukur secara kuantitatif dan dipadukan dengan model House of Quality untuk memprioritaskan agen risiko kemudian memilih tindakan yang paling efektif untuk mengurangi potensi risiko yang ditimbulkan. Penilaian risiko yang diadaptasi dari metode FMEA adalah Risk Priority Number (RPN) yang terdiri dari 3 (tiga) faktor yaitu occurance, severity dan difficulity. Pengaplikasian penilaian terhadap tindakan pencegahan diadaptasi dari metode House of Quality untuk menentukan agen risiko yang harus diprioritaskan. Model dengan dua penyebaran ini disebut House of Risk (HOR) yang merupakan modifikasi dari model HOQ . House of Risk fase 1 (satu) digunakan untuk menentukan tingkat prioritas agen risiko yang harus diberikan sebagai tindakan pencegahan, sedangakan House of Risk fase 2 (dua) sebagai prioritas dalam pengambilan tingakan yang dianggap efektif.

Analisa Rantai Nilai (Value Chain Analysis) (skripsi dan tesis)

Konsep value chain merupakan konsep yang memandang perusahaan sebagai suatu rangkaian atau jaringan aktivitas dasar yang menambah nilai bagi pelanggannya. Analisa value chain menggambarkan aktivitas di dalam dan disekitar organisasi dan menghubungkannya pada kekuatan persaingan perusahaan . Analisa value chain dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu primary activities dan supporting activities. Aktivitas tersebut saling terhubung dengan supporting activities agar dapat meningkatkan efektivitas dan efisien. Primary activities terdiri dari inbound logistics, operations, outbond logistics, marketing and sales dan service. Inbound logistics merupakan aktivitas yang berhubungan dalam penerimaan, penyimpanan dan input kepada produk. Aktivitas yang ada di operations berhubungan dengan merubah bahan baku menjadi barang jadi. Aktivitas yang berhubungan dengan pengumpulan, penyimpanan dan pendistribusian produk secara fisik kepada konsumen masuk kedalam outbond logistics. Marketing and Sales terdiri dari aktivitas yang berhubungan dengan penyediaan sarana yang dapat digunakan pembeli dalam membeli sebuah produk. Penyediaan jasa untuk meningkatkan atau mempertahankan nilai produk merupakan aktivitas dari service. Supporting activities terdiri dari procurement, technology development, human resource management dan infrastructure. Procurement adalah aktivitas pendukung yang merujuk pada fungsi pembelian dari input yang digunakan dalam rantai nilai perusahaan, bukan pada input yang dibeli itu sendiri, melainkan input yang mencakup bahan baku, pemasok dan bahan pendukung lainnya. Aktivitas yang dikelompokkan secara luas mulai dari teknologi yang digunakan dalam menyiapkan dokumen dan pendistribusian barang jadi merupakan aktivitas dari technology development. Perekrutan, penyewaan, pelatihan, pengembangan tenaga kerja dan kompensasi untuk semua jenis personil merupakan aktivitas dari human resource management. Firm Instructure terdiri dari sejumlah aktivitas meliputi manajemen umum, perencanaan, keuangan, akutansi, hukum, urusan pemerintah dan manajemen mutu.

Process Activity Mapping (skripsi dan tesis)

Process Activity Mapping sering digunakan untuk memetakan keseluruhan aktivitas secara detail guna mengeliminasi pemborosan (waste) dan ketidakpastian di tempat kerja sehingga tujuan meningkatkan kinerja dan memenuhi kepuasan pelanggan dapat terwujud. Process activity mapping akan memberikan gambaran aliran fisik dan informasi, waktu yang diperlukan untuk setiap aktivitas, jarak yang ditempuh dan tingkat persediaan produk dalam setiap tahap produksi. Identifikasi aktivitas lebih muda karena adanya penggolongan aktivitas menjadi 5 (lima) jenis yaitu operasi, transportasi, inspeksi, delay dan penyimpanan.

Value Stream Mapping (skripsi dan tesis)

Value atau nilai tambah pada suatu produk menjadi sangat penting bagi perusahaan atau industri agar produk yang dihasilkan dapat dilakukan dengan mendesain produk produksi yang lebih efektif dan efisien. Proses penambahan nilai dilakukan dengan cara meminimalkan pemborosan (waste) dan risiko (risk) yang terjadi pada proses produksi. Pemborosan (waste) dan risiko (risk) dapat diidentifikasi dengan melakukan pemetaan aliran proses dengan Value Stream Mapping. Value Stream Mapping adalah alat proses pemetaan yang berfungsi untuk mengidentifikasi aliran material dan informasi pada proses produksi dari bahan menjadi produk jadi. VSM dapat dijadikan titik awal bagi perusahaan untuk mengenali pemborosan dan mengidentifikasi penyebabnya digambarkan dengan simbol-simbol yang mewakili aktivitas (value added dan non value added). Penelitian ini menggunakan 2 (dua) jenis VSM yaitu current state value stream mapping untuk pemetaan aliran proses dan informasi yang terjadi di perusahaan sekarang dan future state value stream mapping untuk usulan pemetaan aliran proses dan informasi yang sudah diperbaiki.

Risk Management Risiko (skripsi dan tesis)

adalah kejadian yang merugikan atau kemungkinan mendapatkan hasil yang berbeda dari yang diharapkan dan sangat berkaitan erat dengan ketidakpastian yang akan terjadi dimasa mendatang. Risk management adalah sebuah strategi yang berupaya secara holistik mengevaluasi dan mengelola semua risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Penerapan risk management yang baik harus memastikan bahwa organisasi tersebut mampu memberikan perlakuan yang tepat terhadap risiko yang akan mempengaruhi. Dalam penggunaan metode risk management untuk rantai pasok terdapat 2 (tiga) fase, pertama yaitu proses identifikasi risiko, pengukuran risiko dan asesmen risiko. Fase kedua dalam metode risk management adalah evaluasi risiko dan mitigasi risiko. Pilihan penanganan risiko secara umum meliputi, menghindari risiko (risk avoidance), mengurangi risiko (risk reduction), transfer risiko (risk transfer), membagi risiko (risk sharing) dan menerima risiko (risk acceptance)

Waste Management Pemborosan (waste) (skripsi dan tesis)

merupakan aktivitas kerja yang tidak memberikan nilai tambah sepanjang aliran proses dalam perubahan input menjadi output. Pemborosan dibagi menjadi 2 (dua) tipe, tipe pertama merupakan pemborosan yang tidak memberi nilai tambah namun aktivitas tidak dapat dihindarkan karena berbagai alasan. Tipe kedua merupakan pemborosan yang tidak memberi nilai tambah dan harus dihilangkan. Waste sendiri terdiri dari beberapa tipe pemborosan yang sering terjadi, yaitu overporudction, waiting, transportation, processing, inventory, motion, defect dan underutilized people

Lean Supply Chain Mangement (skripsi dan tesis)

Perkembangan isu peningkatan jumlah strategi rantai pasok merupakan peluang untuk memperbaiki rantai pasok. Strategi rantai pasok sendiri memiliki arti sebagai kegiatan strategis disepanjang rantai pasok yang menciptakan rekonsiliasi antara apa yang dibutuhkan pelanggan akhir dengan kemampuan sumber daya yang ada pada rantai pasok. Hal penting bagi perusahaan untuk memilih strategi rantai pasok yang tepat, salah satu contohnya adalah penggunaan pendekatan lean. Lean merupakan suatu upaya terus menerus untuk menghilangkan pemborosan (waste) an meningkatkan nilai tambah (value added) produk agar memberikan nilai kepada pelanggan . Prinsip dasar yang digunakan untuk menjalankan lean dengan baik adalah define value, waste elimination dan support the employee. Lean Supply Chain Management (LSCM) merupakan strategi rantai pasok yang didasarkan pada biaya dan pengurangan waktu proses rantai pasok keseluruhan untuk meningkatkan efektivitas. Strategi ini memfokuskan pada pengoptimalan proses dari semua rantai pasok, mencari penyederhanaan, mengurangi limbah dan mengurangi kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah. Dengan menerapkan konsep LSCM perusahaan dapat meminimasi kegiatan yang tidak bernilai tambah sehingga produktivitas meningkat

Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) (skripsi dan tesis)

Rantai pasok dapat didefinisikan sebagai aktivitas (dalam bentuk entitas atau fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal sampai produk jadi pada konsumen. Supply chain memiliki beberapa peran yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu supplier, manufaktur, distribusi, toko dan konsumen. Masing-masing peran berkontribusi untuk mencapai tujuan memenuhi kepuasan pelanggan. Kontribusi dari peran masing-masing supply chain dihubungkan dengan adanya manajemen rantai pasok. Manajemen rantai pasok atau supply chain management merupakan integrasi aktivitas pengadaan bahan serta pelayanan, pengubahan bentuk menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman barang ke pelanggan. Supply chain management meliputi penetapan, pengangkutan, pemasok, distributor, pemenuhan pesanan, ramalan permintaan, produksi dan kegiatan pengendalian persediaan . Dalam alur rantai pasok dapat muncul risiko-risiko yang mungkin terjadi seperti risiko gangguan pasokan, risiko kebutuhan dan rencana pasokan, risiko harga pembelian, risiko persediaan dan barang, risiko proses yang tidak efisien dan risiko keahlian dan kualifikasi sumber daya manusia. Risiko ini akan menyebabkan kerugian yang besar dan penundaan pengiriman kepada pelanggan.

Protofolio Hubungan dengan Supplier (skripsi dan tesis)

Salah satu yang menjadi tugas penting bagian pengadaan adalah menciptakan hubungan yang proposional dengan supplier. Menurut Pujawan (2010), hubungan yang proposional yang dimaksud adalah hubungan yang secara tepat mencerminkan kepentingan strategi tiap-tiap supplier. Suatu perusahaan mungkin memiliki puluha, ratusan, atau bahkan ribuan supplier yang memasok item yang berbeda-beda. Ada supplier yang hanya memasok beberapa item dengan dengan nilai ratusan ribu rupiah per tahun, ada juga supplier yang memasok ratusan item dengan nilai transaksi miliaran rupiah dalam setahun. Oleh karena itu, tidaklah tepat menyamakan model hubungan antara satu supplier dengan supplier lainnya. Untuk menciptakan hubungan model yang sesuai, perusahaan perlu membuat klasifikasi supplier berdasarkan berbagai kriteria yang relevan. Ada dua faktor yang bisa digunakan dalam merancang hubungan dengan supplier (Pujawan, 2010). Yang pertama adalah tingkat kepentingan strategis item yang dibeli bagi perusahaan / supply chain. Logikanya, semakin strategis pasisi suatu sebuah item dalam perusahaan, makin perlu untuk menciptakan hubungan yang dekat dan berorientasi jangka panjang dengan supplier dari item tersebut. Strategi tidaknya suatu item dipengaruhi oleh beberapa hal seperti : a. Konstribusi item tersebut terhadap kegiatan / kompetensi inti 20 perusahaan b. Nilai pembelian dalam setahun c. Image / brand nama dari supplier d. Risiko ketidaktersediaan item yang bersangkutan Faktor yang kedua adalah tingkat kesulitan mengelola pembelian item tersebut. Semakin tinggi tingkat kesulitannya, semakin banyak diperlukan intervensi dari manajemen. Secara umum tingkat kesulitan pembelian suatu item ditentukan oleh beberapa hal seperti : a. Kompleksitas dan keunikan item b. Kemampuan supplier dalam memenuhi permintaan c. Ketidakpastian (ketersediaan, kualitas, harga, waktu pengiriman) Dengan menggunakan dua faktor tersebut, kita bisa dapat empat klasifikasi supplier seperti ditunjukan pada gambar

Pemasok/Supplier (skripsi dan tesis)

a. Pengertian Pemasok/Supplier Memilih supplier merupaka kegiatan strategis, terutama apabila supplier tersebut akan memasok item yang kritis dan/atau akan digunakan dalam jangka panjang sebagai supplier penting. Kriteria pemilihan adalah salah satu hal penting dalam pemilihan supplier. Kriteria yang digunakan tentunya harus mencerminkan strategi supply chain maupun karakteristik dari item yang akan dipasok. Menurut Pujawan (2010), pemasok adalah pihak pihak yang memiliki kepentingan terhadap keberhasilan suatu produsen dibandingkan bisnis lainnya. Pemasok secara intensif menudukung proses operasi perusahaan, biasanya dalam bentuk bahan baku yang belum jadi, sehingga kulaitas dari pemasok dapat dilihat dari produk akhir yang nantinya akan dijual oleh perusahaan kapada pelanggan. Harga pemasok akan berdampak pada biaya manufakturing dan akan berdampak pada harga yang akan diberikan kepada pelanggan. Dalam konsep Supply Chain, pemasok sangat merupakan salah satu bagian yang sangat penting dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup suatu perusahaan dimana pemasok menjadi pihak yang mengirimkan bahan mentah bagi suatu perusahaan. Apabila pemasok kurang bertanggung jawab dalam merespon permintaan perusahaan, maka yang akan terjadi adalah perusahaan akan mengalami keterlambatan pasokan bahan baku bahkan akan kehabisan bahan baku dan mengakibatkan perusahaan merugi. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa pemasok merupakan elemen yang penting bagi perusahaan dan memeiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap proses operasional suatu perusahaan. Oleh karena itu, jika suatu perusahaan meimiliki banyak pemasok, maka suatu perusahaan diharuskan selektif dalam memilih pemasok, karena jika salah dalam menentukan pemasok, maka akan berdampak pada kegiatan operasional perusahaan terutama pada bagian stok bahan baku. b. Kriteria-Kriteria dalam Memilih Pemasok Secara umum banyak perusahaan yang menggunakan kriteriakriteria dasar seperti kualitas barang yang ditawarkan, harga, dan ketepatan waktu pengiriman. Namun sering kali pemilihan pemasok membutuhkan berbagai kriteria lain yang dianggap penting oleh perusahaan.Penelitihan yang dilakukan oleh Dickson hampir 40 tahun yang lalu menunjukan bahwa kriteria pemilihan supplier bisa sangat beragam. Sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan, maka kriteria-kriteria yang dibutuhkan dalam pemilihan supplier juga beragam. Dengan berbagai pertimbangan, maka pada umumnya perusahaan menggunakan strategi dengan mencari supplier atau menggunakan supplier banyak dengan pertimbangan perusahaan dapat membandingkan harga, kualitas maupun beberapa aspek lain. Semakin banyak supplier maka semakin banyak pula pilihan, maka dari itu dipilihlah beberapa yang terbaik.

Strategi Rantai Pasokan (skripsi dan tesis)

a. Definisi strategi Supply Chain Setiap perusahaan diharuskan memiliki strataegi yang tepat agar tujuan perusahaan dapat terealisasi. Semakin banyak strategi yang diterapkan perusahaan, maka akan berdampak pada tujuan perusahaan. Strategi akan mengarahkan jalannya organisasi ke tujuan jangka panjang yang ingin dicapai. Strategi diperlukan oleh satu unit operasi dalam sebuah perusahaan , oleh sebuah perusahaan secara keseluruhan, maupun oleh sebuah rantai pasokan. Strategi pada hakekatnya bukanlah sebuah keputusan atau aksi tunggal melainkan adalah kumpulan berbagai keputusan dan aksi yang dilakukan oeh suatu organisasi atau oleh beberapa organisasi secara bersama-sama. Dalam menyusun strategi operasi, ada beberapa acuan yang dipakai sehingga strategi yang diterapkan dapat sukses. Salah satu acuan yang digunakan adalah harus meramalkan kebutuhan pasar serta ketersediaan bahan baku atau sumberdayanya. Dengan kata lain, suatu strategi harus mampu menerjemahkan kebutuhan pasar kedalam keputusan-keputusan operasi dan mampu mengeksploitasi kemampuan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Pendapat Slack dan Lewis dalam buku Supply Chain Management karya pujawan (2010) mengatakan bahwa hakekat daripada strategi operasi adalah sinergisitas antara kebutuhan pasar dengan sumberdayanya. Keduanya merupakan satu hal yang terikat satu sama lain. Meskipun demikian, semua tergantung pada pemakai akhir produk (end customer), karena pelangganlah yang akan menentukan suka pada suatu produk atau tidak. b. Tujuan Strategis pada Supply Chain Strategi tidak bisa dilepaskan dari tujuan jangka panjang. Tujuan inilah yang diharapkan akan tercapai. Hal-hal lain yang yang mendukung Supply Chain adalah beberapa keputusan jangka pendek perusahaan. Tujuan-tujuan strategis tersebut perlu dicapai untuk membuat supply chain menang atau setidaknya bertahan dalam persaingan pasar. Untuk bisa memenangkan persaingan pasar maka supply chain harus bisa menyediakan produk yang murah, berkualitas, tepat waktu, dan bervariasi. Ke-empat tujuan strategi tersebut sangat penting dimata pelanggan. Namun perlu disadari bahwa tidak semua pelanggan mementingkan keempat aspek secara bersama dalam suatu produk. Pelanggan memiliki standar masing masing untuk memilih suatu produk. Ada produk yang dibeli oleh pelanggan dengan pertimbangan utama harga yang murah, sedangkan ada pelanggan yang membeli dengan kualitas sebagai pertimbangan utama. Untuk mencapai tujuan maka supply chain harus bisa mewujudkan keinginan pelanggan yang berkaitan dengan empat hal penting diatas. Dalam konteks operasi supply chain, tujuan bisa dicapai apabila memiliki kemampuan beroperasi secara efektif dan efisien sehingga operasi dapat diakatan sukses, menciptakan kualitas sebaik mungkin, cepat dalam pengerjaan maupun hal lain yang berkenaan dengan operasional, fleksibel, dan inovatif. Strategi supply chain harus mencerminkan pada kebijakan atau keputusan taktis supply chain. Kebijakan ataukeputusan mengenai dimana fasilitas lokasi akan didirikan, bagaimana cara mengatur dan mengendalikan sistem produksi, bagaimana kebijakan-kebijakan tentang persediaan dan transportasi, pemasok bagaimana yang akan dipilih, dan  kebijakan mengenai pengembangan produk harus besinergi dengan strategi supply chain. Apabila supply chain memilih efisiensi fisik sebagai strategi maka semua keputusan sub bidang tersebut harus mendukung.

Manajemen Rantai Pasokan (skripsi dan tesis)

a. Pengertian manajemen rantai pasokan Manajemen Rantai Pasokan (MRP) merupakan serangkaian upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Upaya ini menurut Pujawan (2010) meliputi proses perencanaan, penerapan dan pengendalian operasi. Manajemen rantai pasokan juga menjaga ketersediaan bahan baku agar produksi tetap berjalan dengan kondisi apapun. Sedangkan menurut pendapat Dewan Professional (Mentzer et al 2001) bahwa Manajemen Rantai Pasokan adalah segala aktivitas meliputi perencanaan dan juga manajemen dari semua aktivitas termasuk pengadaan, konversi dan semua aktivitas manajemen logistik. Perusahaan harus bekerja keras dalam meningkatkan daya saing melalui penyesuaian produk, kualitas dan harga yang bersaing. Hal lainnya yaitu perusahaan harus memiliki mitra pemasok yang tepat agar dapat bersaing dengan kompetitor. Hal ini merupakan tujuan jangka panjang perusahaan, karena jika perusahaan dapat mengendalikan pemasaran  melalui pemasok yang setia, maka perusahaan tersebut akan tetap eksis. Manajer perusahaan harus mempertimbangkan masalah rantai pasokan agar dapat memastikan bahwa rantai pasokan mendukung strategi perusahaan. Jika fungsi operasional mendukung daripada strategi perusahaan secara keseluruhan, maka rantai pasokan harus mendukung strategi fungsi operasional. Juga sebaliknya, jika fungsi operasional tidak mendukung strategi perusahaan, maka operasional perusahaan akan terhambat. Seperti produksi yang terlambat, maka akan berimbas pada pelanggan. b. Area cakupan manajemen rantai pasokan Area Cakupan Manajemen Rantai Pasoka sangatlah luas sekali (Ricardo 1996). Kalau kita kembali pada definisi supply chain management diatas maka kita bisa katakan secara umum bahwa semua kegiatan yang terkait dengan aliran material, informasi, dan uang di sepanjang supply chain adalah kegiatan dalam cakupan supply chain. Apabila kita mengacu pada sebuah perusahaan manufaktur, kegiatankegiatan utama yang masuk dalam klasifikasi supply chain mangement adalah sebagai berikut : a. Merancang produk baru (product development) b. Memperoleh bahan baku (Procurement, Purchasing, or supply) c. Merencanakan produk dan persediaan (Planning and Control) d. Memproduksi barang (Production) e. Mendistribusikan barang (Distribution) f. Menerima dan mengelola produk / barang yang dikembalikan (Return) Keenam klasifikasi tersebut biasanya tercemin dalam bentuk pembagian kelompok atau divisi pada perusahaan manufaktur. Pembagian tersebut sering dinamakan function division karena mereka dikelompokkan sesuai dengan fungsinya. Umumnya sebuah perusahaan manufaktur akan memiliki bagian pengembangan produk, bagian pembelian atau bagian pengadaan (dalam bahasa inggris biasanya disebut purchasing, procurement, atau supply chain function), bagian produksi, bagian perencanaan produksi (sering dinamakan dengan production planning and inventory control), dan bagian pengiriman atau distribusi. Beberapa bagian tersebut biasanya saling berkaitan dalam artian bekerja sama dalam hal pelayanan kepada konsumen agar produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan kompetitor yang memiliki kualitas yang tinggi. Hal ini biasa terjadi karena dalam merebut persaingan pasar pasar tidak hanya dibutuhkan produk yang mumpuni dalam segi kualitas, tetapi juga kekompakan para manajer atau para pemangku bagian-bagian strategis diatas.

Pemetaan Rantai Pasok dengan SCOR Model Versi 8.0 (skripsi dan tesis)

Supply Chain Operations Reference Model, SCOR Version 8.0 Overview menjelaskan pemetaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran model yang jelas mengenai aliran material, aliran informasi dan aliran keuangan dari suatu rantai pasok perusahaan. Tujuan dari proses pemodelan ini adalah : a. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terhadap rantai pasok b. Memudahkan proses analisis kinerja rantai pasok c. Memudahkan untuk mendapatkan gambaran rinci dari setiap rantai pasokan, sehingga proses penghubungan antar aktifitas lebih mudah. Dalam memetakan rantai pasok, langkah-langkah utama yang harus dilakukan adalah : • Menentukan sebuah rantai proses pemasokan produk, mulai dari pasokan bahan mentah (raw material) dari supplier, sampai pada realisasi pasokan produk jadi (finished goods) yang diterima pelanggan. • Menggambarkan rangkaian aliran material dalam proses penciptaan nilai tambah produk • Menggambarkan rangkaian aliran informasi dalam proses rantai pasok Tahapan pemetaan dalam SCOR Versi 8.0 terbagi atas 4 level, yaitu : 1. Level 1, mendefinisikan ruang lingkup dan isi dari SCOR Model. Selain itu, pada tahap ini juga ditetapkan target-target performansi perusahaan untuk bersaing. 2. Level 2, merupakan tahapan konfigurasi dari proses-proses rantai pasok yang ada. 3. Level 3, merupakan tahap dekomposisi proses-proses yang ada pada rantai pasok menjadi elemen-elemen yang mendefinisikan kemampuan perusahaan untuk berkompetisi. Tahap ini terdiri dari definisi elemen-elemen proses, input dan output dari informasi mengenai proses elemen, metrik-metrik dari kinerja proses, best practices dan kapabilitas sistem yang diperlukan untuk mendukung best parctices. 4. Level 4, merupakan tahap implementasi yang memetakan program-program penerapan secara spesifik serta mendefinisikan perilaku-perilaku untuk mencapai competitive advantage dan beradaptasi terhadap perubahan kondisi bisnis.

Supply Chain Operation Reference (SCOR) (skripsi dan tesis)

Supply Chain Operation Reference (SCOR) Model merupakan suatu model konseptual yang dikembangkan oleh Supply Chain Council (SCC), sebuah organisasi non-profit independent, sebagai standar antar industri (cross industry). Tujuan dari standarisasi yang dilakukan SCC adalah untuk memudahkan pemahaman rantai pasok sebagai suatu langkah awal dalam rangka memperoleh suatu manajemen rantai pasok yang efektif dan efisien dalam menopang strategi perusahaan (www.supply-chain.org, 2006). Organisasi yang terbentuk pada tahun 1996 oleh Pittligio, Rabin, Todd dan McGrath (PRTM) dan lembaga riset AMR di Amerika ini, beranggotakan 69 orang sukarelawan yang terdiri dari para praktisi dunia industri dan para peneliti. SCOR Model mempunyai kerangka yang menggabungkan antara proses bisnis rantai pasok, pengukuran kinerja berdasarkan best practice ke dalam suatu struktur yang terintegrasi sehingga proses komunikasi antar pelaku rantai pasok dan aktivitas manajemen rantai pasok dapat berjalan secara optimal (www.supplychain.org, 2006). Kelebihan SCOR Model sebagai Process Reference Model adalah kemampuannya untuk mengintegrasikan Business Process Reengineering, Benchmarking dan Best Practices Analysi

Pengukuran Kinerja Rantai Pasok (skripsi dan tesis)

Pada bagian sebelumnya telah disebutkan dua buah karakteristik yang dapat menggambarkan kinerja rantai pasok adalah responsiveness dan efficiency. Dengan sifatnya yang dinamis, rantai pasok mampu menyesuaikan terhadap perubahan yang terjadi pada pasokan dan permintaan. Untuk mengetahui kinerjanya harus dilakukan pemantauan dan pengendalian pada setiap aktivitas di dalamnya setiap hari. Agar kedua karakteristik tersebut dapat diukur secara obyektif, Hugos (2003, 140-150) membagi keduanya menjadi 4 kategori sebagai berikut : 1. Customer Service Metrics Metrik ini digunakan untuk mengukur seberapa baik sebuah perusahaan melayani konsumennya dan sejauh mana rantai pasok dapat mendukung hal tersebut. Menurut Waren Hausman seorang profesor dari Stanford University di dalam Hugos (2003, 144), service menggambarkan kemampuan untuk mengantisipasi, membaca dan memenuhi kebutuhan konsumen sesuai dengan produk yang dikehendaki dan tepat waktu. Metrik-metrik yang digunakan dalam customer service tergantung pada jenis proses dalam sebuah perusahaan, yaitu apakah termasuk dalam build to stock (BTS) atau build to order (BTO). a. Build to Stock Perusahaan yang memiliki proses build to stock (BTS) dalam memenuhi permintaan konsumen biasanya memproduksi barang-barang komoditi untuk pasar yang cukup besar. Dengan tipe proses BTS ini konsumen dapat memperoleh produk yang dibutuhkan kapan saja karena barang selalu tersedia di persediaan. Metrik-metrik yang sering digunakan untuk tipe build to stock adalah : • Complete Order Fill Rate and Order Line Item Fill Rate • On-Time Delivery Rate • Value of Total Backorders and Number of Backorders • Frequency and Duration of Backorders • Line Item Returns Rate b. Build to Order Produk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan tipe proses build to order (BTO) baru akan dibuat bila terdapat permintaan dari konsumen. Permintaan tersebut biasanya dibuat berdasarkan spesifikasi yang dikehendaki oleh konsumen, misalnya permintaan akan pesawat terbang. Metrik-metrik yang sering digunakan untuk tipe build to order adalah : • Quoted Customer Response Time and On-Time Completion Rate On-Time Delivery Rate • Value of Late Orders and Number of Late Orders • Frequency and Duration of Late Orders • Number of Warranty Return and Repairs 2. Internal efficiency Internal efficiency mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang maksimal dengan menggunakan aset-aset yang dimiliki. Beberapa ukuran yang sering digunakan adalah : • Inventory value Inventory merupakan aset utama dalam rantai pasok yang harus diukur setiap waktu sepanjang rantai pasok. Perusahaan bersama dengan rantai pasoknya terus berusaha mencari cara menekan persediaan seminimal mungkin namun tetap menjaga tingkat layanan yang tinggi. • Inventory turns Merupakan salah satu cara untuk mengukur tingkat keuntungan dari persediaan dengan memperhitungkan kecepatan terjualnya persediaan dalam kurun waktu tertentu. Inventory turn dihitung berdasarkan rumus : Turns = Annual Cost of Sales / Annual Average Inventory Value Secara umum, semakin tinggi nilainya semakin baik internal efficiency dari suatu perusahaan. • Return on Sales Ukuran ini digunakan untuk mengukur seberapa baik pengelolaan fixed cost dan variable cost dan bagaimana penjualan menghasilkan laba kotor. Return on sales merupakan satu parameter pengukuran yang digunakan secara luas untuk mengetahui seberapa baik kegiatan operasional perusahaan dijalankan. Untuk mengetahui nilainya digunakan formula : Return on Sales = Earnings before Interest & Tax / Saving Interpretasi dari nilai ini adalah, semakin besar maka semakin baik internal efficiency dari suatu perusahaan. • Cash-to-Cash cycle time Digunakan untuk mengukur lamanya waktu mulai dari pembayaran material oleh perusahaan kepada pemasok sampai perusahaan menerima pembayaran dari konsumen. Lamanya waktu tersebut dapat diukur dengan rumus berikut ini : Cash-to-Cash Cycle Time = Inventory Days of Supply + Days Sales Outstanding – Average Payment Period on Purchases Semakin pendek waktu yang diperlukan semakin baik internal efficiency dari suatu perusahaan 3. Demand Flexibility Menggambarkan kemampuan perusahaan dalam merespon permintaan baru dari konsumen baik dari sisi kuantitas maupun jenis produk dan bertindak secara cepat dalam memenuhi permintaan tersebut. Perusahaan atau rantai pasok harus mempunyai kemampuan dalam area ini agar mampu menghadapi kondisi yang tidak pasti pada pasar yang mereka layani. Terdapat beberapa ukuran yang dapat digunakan untuk melihat seberapa fleksibel suatu perusahaan, yaitu : • Activity Cycle Time Merupakan ukuran yang menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas dalam rantai pasok seperti order fulfillment, product design, product assembly dan aktivitas lain yang mendukung rantai pasok. • Upside Flexibility Mengukur seberapa cepat kemampuan perusahaan atau rantai pasok dalam merespon peningkatan permintaan dari jumlah normal. Hal ini dapat diukur dengan menghitung persentase kenaikan permintaan yang dapat diakomodasi. • Outside Flexibility Mengukur kemampuan perusahaan dalam menyediakan produk yang dibutuhkan konsumen disamping produk yang sudah ada. Bila outside flexibilty dikelola dengan baik akan menjadi kesempatan baik bagi perusahaan untuk memperoleh konsumen baru dan menjual lebih banyak pada konsumen yang sudah ada. 4. Product Development Ukuran ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan atau rantai pasok dalam mendisain, membuat dan mendistribusikan produk baru ke pasar seiring dengan perubahan yang terjadi dalam pasar. Kemampuan ini dapat diukur dengan beberapa parameter berikut ini • Percentage of total products sold that were introduced in the last year • Percentage of total sales from products introduced in the last year • Cycle time to develop and deliver a new product

Proses Bisnis dalam Rantai Pasok (skripsi dan tesis)

Menurut James R. Stock dan Douglas M. Lambert (2001, 68 – 71), pengelolaan rantai pasok yang sukses membutuhkan sistem yang terintegrasi. Masing-masing unit dalam rantai pasok menjadi satu kesatuan, tidak berdiri sendiri-sendiri sebagaimana halnya dengan rantai pasok tradisional. Kegiatan operasi pada rantai pasok membutuhkan aliran informasi yang berkesinambungan untuk menghasilkan produk yang baik pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen. Dalam hal ini konsumen menjadi fokus dalam setiap operasi yang dilakukan. James R. Stock dan Douglas M. Lambert (2001, 68 – 71) juga menyatakan bahwa dalam rantai pasok yang terintegrasi terdapat proses-proses berikut ini : 1. Customer Relationship Management Merupakan pengelolaan hubungan baik dengan konsumen, dimulai dengan mengidentifikasi siapa konsumen kita, apa kebutuhannya, seperti apa spesifikasi yang dikehendaki oleh konsumen. Dengan demikian, secara periodik dapat dilakukan evaluasi sejauh mana tingkat kepuasan konsumen telah terpenuhi. 2. Customer Services Management Berfungsi sebagai pusat informasi bagi konsumen, menyediakan informasi yang dibutuhkan secara real time mengenai jadwal pengiriman, ketersediaan produk, keberadaan produk, harga dan lain sebagianya. Termasuk pula di dalamnya pelayanan purna jual yang dapat melayani konsumen secara efisien untuk penggunaan produk dan aplikasi lainnya. 3. Demand Management Manajemen permintaan (demand management) berfungsi untuk menyeimbangkan kebutuhan konsumen dengan kapasitas perusahaan yang menyediakan produk atau jasa yang dibutuhkan. Didalamnya termasuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan konsumen dan kapan dibutuhkannya. Sistem manajemen permintaan yang baik menggunakan point of sale dan data konsumen untuk mengurangi ketidakpastian serta meningkatkan efisiensi aliran barang dalam rantai pasok. Kebutuhan pemasaran dan rencana produksi harus dikoordinasikan, kebutuhan konsumen dan kapasitas produksi harus diselaraskan agar persediaan secara global dapat dikelola dengan baik. 4. Customer Order Fulfillment Proses pemenuhan permintaan konsumen tepat waktu, bahkan lebih cepat dari yang disepakati dengan biaya pemenuhan yang seminimal mungkin, memerlukan koordinasi yang baik dari setiap anggota rantai pasok. Tujuan utamanya adalah menciptakan satu proses pemenuhan permintaan dengan lancar mulai dari pemasok bahan baku sampai konsumen akhir. 5. Manufacturing Flow Management Proses produksi diupayakan sedemikian rupa agar secepat mungkin dapat menyediakan produk yang diperlukan dengan tingkat persediaan yang minimal. Untuk itu diperlukan persiapan yang memadai dan kesesuaian permintaan dengan kapasitas produksi. Termasuk persiapan proses produksi adalah ketersediaan bahan baku yang terjamin sehingga kelancaran proses produksi dapat dipertahankan. Untuk itu perlu dijalin hubungan yang baik dengan pemasokpemasok terkait. 6. Product Development and Commercialization Dimulai dengan evaluasi kebutuhan konsumen dan keluhan-keluhan yang ada dari produk yang telah ada. Pengembangan produk baru memerlukan kerjasama yang baik dengan para pemasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang diperlukan. Selain itu, perlu dipersiapkan pula teknologi dalam bidang produksi yang dapat menunjang pengembangan produk ini. 7. Returns Pengelolaan produk kembalian merupakan proses yang penting dan dapat dijadikan sebagai salah satu keunggulan daya saing perusahaan. Kinerja pengelolaan produk kembalian bisa diukur dengan parameter ”Return to Available”, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengganti produk kembalian menjadi produk yang dapat digunakan kembali.

Anggota Rantai Pasok (skripsi dan tesis)

Aktivitas dalam rantai pasok dimulai dengan adanya permintaan dari konsumen dan diakhiri dengan aktivitas pembayaran oleh konsumen setelah Elemen yang termasuk dalam rantai pasok meliputi seluruh perusahaan atau organisasi yang berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan focal company (dalam ilustrasi di atas adalah pabrik pembuat minuman ringan), baik sebagai pemasok bahan baku maupun konsumen, dari point of origin to the point of consumption. Menurut Stock and Lambert (2001, 63), seluruh perusahaan atau organisasi yang terkait tersebut dibagi menjadi dua, yaitu primary member dan supporting member. Primary member atau anggota utama dari sebuah rantai pasok adalah semua unit bisnis yang secara nyata melakukan aktivitas operasional atau manajerial dalam sebuah proses bisnis. Proses bisnis ini dirancang untuk menghasilkan produk atau jasa untuk konsumen tertentu atau pasar, dalam contoh di atas adalah pabrik pembuat minuman ringan. Sedangkan supporting member atau anggota pendukung dalam rantai pasok adalah perusahaan yang menyediakan bahan awal, ilmu, utilitas, atau aset lain yang penting tapi tidak langsung berpartisipasi dalam aktivitas yang menghasilkan atau merubah sebuah input menjadi output untuk konsumen. Dalam contoh di atas yang termasuk dalam anggota pendukung ini adalah pemasok bahan baku, perusahaan penyewaan truk, toko-toko swalayan dan lain sebagainya. Satu unit yang sama dapat menjadi anggota utama pada satu proses, namun dapat juga menjadi anggota pendukung pada proses lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh jenis proses bisnis dimana unit itu berperan. permintaannya terpenuhi. Ilustrasinya adalah sebagai berikut: Seseorang pergi ke suatu toko serba ada untuk membeli minuman ringan. Rantai pasok dimulai dari orang ini dan kebutuhannya akan minuman ringan. Rantai berikutnya adalah toko serba ada yang dikunjungi oleh orang ini. Toko serba ada menyediakan minuman ringan dalam rak-rak di tokonya yang dipasok oleh pemasok minuman ringan. Pemasok ini memasok minuman ringan menggunakan truk dari satu toko ke toko lainnya. Minuman ringan tersebut dikirim dari produsen minuman ringan yang bahan bakunya diperoleh dari beberapa pemasok. Rangkaian rantai pasok yang dimulai dari pemasok bahan baku untuk pabrik pembuat minuman ringan dan berakhir di tangan konsumen yang membutuhkan minuman ringan, merupakan mata rantai yang saling terkait.

Definisi Manajemen Rantai Pasok (skripsi dan tesis)

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan manajemen rantai pasok (supply chain management), terlebih dahulu akan dipaparkan mengenai definisi rantai pasok (supply chain). Sampai saat ini belum ada sebuah definisi yang baku untuk menjelaskan pengertian dari rantai pasok. Namun, dalam bukunya Hugos (2003, 2-3) memberikan beberapa definisi rantai pasok, sebagai berikut : • ”A supply chain is the alignment of firms that bring products or services to market” (Lambert, Stock and Ellram di dalam Hugos, 2003, 2). • “A supply chain consists of all stages involved, directly or indirectly, in fulfilling a customer request. The supply chain not only includes the manufacturer and suppliers, but also transporters, warehouses, retailers, and customers themselves.” (Chopra and Meindl, di dalam Hugos, 2003, 2). • “A supply chain is a network of facilities and distribution options that performs the functions of procurement of materials, transformation of these materials into intermediate and finished products, and the distribution of these finished products to customers” (Ganeshan and Harrison di dalam Hugos, 2003, 3). Menurut Chopra and Meindl (2007, 20), rantai pasok memiliki sifat yang dinamis namun melibatkan tiga aliran yang konstan, yaitu aliran informasi, produk dan uang. Disamping itu, Chopra and Meindl juga menjelaskan bahwa tujuan utama dari setiap rantai pasok adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan menghasilkan keuntungan. Sementara itu, Ling Li (2007, 3) memaparkan bahwa rantai pasok lebih menekankan pada semua aktivitas dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang di dalamnya terdapat aliran dan transformasi barang mulai dari bahan baku sampai ke konsumen akhir dan disertai dengan aliran informasi dan uang. Setelah mengetahui beberapa definisi rantai pasok, maka selanjutnya akan dijelaskan definisi dari manajemen rantai pasok (supply chain management) itu sendiri. Seperti rantai pasok yang memiliki beberapa definisi, manajemen rantai pasok juga memiliki beberapa definisi. Berikut ini dua buah definisi manajemen rantai pasok di dalam Hugos (2003, 3-4) : • “The systematic, strategic coordination of the traditional business function and the tactics across these business functions within a particular company and across businesses within the supply chain, for the purposes of improving the long-term performance of individual companies and the supply chain as a whole” (Mentzer, DeWitt, Deebler, Min, Nix, Smith, and Zakaria di dalam Hugos, 2003, 3). • “Supply Chain Management is the coordination of production, inventory, location, and transportation among the participants in a supply chain to achieve the best mix of responsiveness and efficiency for the market being served” (Hugos, 2003, 4). Definisi lain mengenai manajemen rantai pasok diberikan oleh Ling Li (2007, 5) sebagai berikut: merupakan sekumpulan aktivitas dan keputusan yang saling terkait untuk mengintegrasikan pemasok, manufaktur, gudang, jasa transportasi, pengecer dan konsumen secara efisien. Dengan demikian barang dan jasa dapat didistribusikan dalam jumlah, waktu dan lokasi yang tepat untuk meminimumkan biaya demi memenuhi kebutuhan konsumen. Terdapat perbedaan antara konsep manajemen rantai pasok dengan konsep logistik secara tradisional. Logistik umumnya mengacu pada aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam sebuah organisasi, sedangkan rantai pasok mengacu pada jaringan beberapa organisasi yang saling bekerjasama dan berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Perbedaan lainnya, logistik lebih fokus pada aktivitas-aktivitas seperti pengadaan, distribusi, pemeliharaan dan manajemen persediaan. Sedangkan fokus manajemen rantai pasok selain yang dilakukan dalam logistik juga beberapa aktifitas lain meliputi pemasaran, pengembangan produk baru, keuangan dan layanan konsumen (Hugos, 2003, 4). Manajemen rantai pasok yang efektif membutuhkan pengembanganpengembangan yang dilakukan secara simultan baik dari sisi tingkat layanan konsumen maupun internal operating efficiencies dari perusahaan-perusahaan dalam sebuah rantai pasok. Beberapa hal yang harus diperhatikan dari tingkat layanan konsumen adalah tingkat pemenuhan pesanan (order fill rates), ketepatan waktu pengiriman (on-time delivery) dan tingkat pengembalian produk oleh konsumen dengan berbagai alasan (rate of products returned by customer for whatever reason). Sementara, dari sisi internal efficiencies, apakah sebuah organisasi dalam sebuah rantai pasok memperoleh hasil yang baik dari investasi atas persediaan dan aset lainnya dan menemukan cara untuk mengurangi pengeluaran operasional dan penjualan. Atau dengan perkataan lain bagaimana mengelola rantai pasok agar dapat responsif sekaligus efisien.

Integrasi proses berpengaruh positif terhadap kinerja operasional pada perusahaan. (skripsi dan tesis)

Integrasi proses dapat mengefektifkan manajemen rantai pasokan dalam proses produksi dan berhubungan dengan semua pihak yang terkait. Ada pengaruh signifikan Integrasi proses terhadap kinerja operasional perusahaan (Rahadi, 2012). Integrasi pada sebuah perusahaan menunjukan kerjasama yang kompleks antara perusahaan dengan pemasok dan konsumen. Integrasi ini jika dikelola dengan baik dapat menghasilkan profit bagi perusahaan serta memberikan kepuasan bagi semua pihak yang terkait. Hal ini dikemukakan oleh Ariani (2013), pada penelitiannya bahwa Integrasi proses berpengaruh kinerja operasional perusahaan. Integrasi proses menggabungkan beberapa pihak yang berbeda dari rantai pasokan yang sama untuk mengkoordinasikan kegiatan proses produksi guna memenuhi kebutuhan konsumen. Integrasi proses berpengaruh positif terhadap kinerja operational perusahaan (Ahiwar, 2014).

Hubungan jangka panjang berpengaruh positif terhadap kinerja operasional pada perusahaan. (skripsi dan tesis)

Hubungan jangka panjang menjadi dasar bagi IKM berhubungan dengan semua pihak, pergantian suplier dilakukan bilamana salah satu pihak tidak mampu memenuhi permintaan. Kerjasama dapat dilakukan dengan sesama IKM maupun dengan industri-industri berskala besar (Rahadi 2012). Hubungan perusahaan dengan pemasok merupakan kolaborasi hubungan yang kuat dalam menciptakan rantai nilai. Pemasok berperan menyediakan bahan baku yang akan digunakan oleh perusahaan selama proses produksi. Kualitas bahan baku yang disediakan oleh pemasok sangat mempengaruhi kinerja secara keseluruhan. Hal ini dikemukakan oleh Ariani (2013), pada penelitiannya dengan menggunakan variabel independen Hubungan jangka panjang berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Hubungan jangka panjang sangat dibutuhkan untuk menjalin hubungan dengan beberapa supplier, evaluasi supplier berdasarkan informasi dan harga yang ditawarkan, negosiasi dan sistem pembelian terpusat. Hal ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan (Ahiwar, 2014).

Berbagi informasi berpengaruh positif terhadap kinerja operasional pada perusahaan. (skripsi dan tesis)

Berbagi informasi memungkinkan semua anggota yang terkait dalam manajemen rantai pasokan untuk mendapatkan, menjaga dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan untuk memastikan pengambilan keputusan manjadi efektif dan merupakan faktor yang mampu mempererat elemen-elemen manajemen rantai pasokan secara keseluruhan oleh karena itu masalah yang dihadapi IKM dapat dikurangi dengan adanya berbagi informasi. Hasil studi empiris berbagi informasi memberikan pengaruh positif terhadap kinerja operasional perusahaan yang dilakukan oleh Rahadi (2012). Hubungan perusahaan dengan pemasok merupakan kolaborasi yang paling kuat dalam konteks value chain atau supply chain. Dalam hal ini pemasok berperan untuk menyediakan material atau bahan input yang digunakan oleh perusahaan. Kualitas material dan kemampuan dalam pendistribusian material tersebut tergantung pada kinerja pemasok yang selanjutnya berpengaruh pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Berbagi informasi dapat membantu perusahaan dalam memperbaiki efisiensi dan efektivitas rantai pasokan dan merupakan faktor penting untuk mencapai koordinasi yang efektif dalam rantai pasokan serta menjadi pengendali disepanjang rantai pasokan. Hal ini dikemukakan oleh Ariani (2013), pada penelitiannya dengan menggunakan variabel independen berbagi informasi berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Berbagi informasi memungkinkan peningkatan aliran persediaan bahan baku dan mengurangi lead time (waktu tunggu) sehingga mengoptimalkan proses produksi. Berbagi informasi juga dapat mengurangi ketidakpastian diseluruh rantai. Sehingga berbagi informasi berpengaruh terhadap kinerja operational perusahaan (Ahiwar, 2014).

Kinerja Operasional (skripsi dan tesis)

a. Definisi Kinerja Operasional
Kinerja merupakan kemampuan kerja yang diperlihatkan
oleh hasil kerja. Kinerja operasional perusahaan adalah sesuatu
yang dihasilkan perusahaan dalam masa periode tertentu dengan
menunjuk pada standar yang telah ditentukan. Kinerja usaha
menunjuk pada seberapa banyak perusahaan berorientasi pada
pasar serta tujuan keuntungan (Rahadi, 2012).
Kinerja operasional merupakan sebuah kinerja tentang mutu
aktifitas yang berhubungan dengan aliran dan perpindahan barang,
dari bahan mentah sampai ke konsumen akhir, termasuk yang
berhubungan dengan informasi dan dana (Ariani, 2013).
b. Sistem Penilaian Kinerja
Sistem penilaian kerja yang baik mengandung beberapa
indikator kinerja, diantaranya:
1) Aktivitas organisasi dan menekan peningkatan perspektif
konsumen
2) Menilai setiap kegiatan dengan menggunakan alat ukur kinerja
berorientasi pada pelanggan
3) mempertimbangkan semua asek kinerja secara menyeluruh
yang dapat mempengaruhi konsumen
4) menyediakan informasi feed back guna membantu semua
anggota organisasi untuk mngenali permasalahan dan peluang
agar dapat melakukan perbaikan terus menerus.
c. Mengelola Kinerja Operasional Perusahaan
Mengelola operasional perusahaan yang sukses dimulai dari
kesepakatan atas tujuan bersama, kepercayaan bersama dan
dilanjutkan dengan budaya organisasi yang sejalan.
1) Kesepakatan atas Tujuan Bersama
Sebuah rantai pasokan yang terintegrasi memerlukan
kerjasama yang baik dalam hubungan dengan anggotanya.
Anggota rantai pasokan harus menghargai bahwa satu-satunya
pihak yang menanamkan modal pada sebuah rantai pasokan
adalah pelanggan akhir. Oleh karena itu, perlu memahami
timbal balik mengenai misi, strategi dan sasaran di organisasi.
Rantai pasokan yang terintegrasi menambah nilai ekonomi dan
memaksimalkan isi total produk.
2) Kepercayaan
Kepercayaan merupakan hal yang sangat penting dalam rantai
pasokan yang efektif dan efisien. Anggota rantai pasokan harus
masuk ke dalam hubungan dan saling berbagi informasi.
Hubungan yang dibangun didasarkan rasa saling percaya
cenderung akan berhasil.
3) Budaya Organisasi yang Sesuai
Sebuah hubungan yang positif diantara organisasi pembeli dan
pemasok dengan budaya organisasi yang sesuai, dapat menjadi
keuntungan nyata dalam membuat rantai pasokan menjadi
lebih baik. Kinerja Operasional
a. Definisi Kinerja Operasional
Kinerja merupakan kemampuan kerja yang diperlihatkan
oleh hasil kerja. Kinerja operasional perusahaan adalah sesuatu
yang dihasilkan perusahaan dalam masa periode tertentu dengan
menunjuk pada standar yang telah ditentukan. Kinerja usaha
menunjuk pada seberapa banyak perusahaan berorientasi pada
pasar serta tujuan keuntungan (Rahadi, 2012).
Kinerja operasional merupakan sebuah kinerja tentang mutu
aktifitas yang berhubungan dengan aliran dan perpindahan barang,
dari bahan mentah sampai ke konsumen akhir, termasuk yang
berhubungan dengan informasi dan dana (Ariani, 2013).
b. Sistem Penilaian Kinerja
Sistem penilaian kerja yang baik mengandung beberapa
indikator kinerja, diantaranya:
1) Aktivitas organisasi dan menekan peningkatan perspektif
konsumen
2) Menilai setiap kegiatan dengan menggunakan alat ukur kinerja
berorientasi pada pelanggan
3) mempertimbangkan semua asek kinerja secara menyeluruh
yang dapat mempengaruhi konsumen
4) menyediakan informasi feed back guna membantu semua
anggota organisasi untuk mngenali permasalahan dan peluang
agar dapat melakukan perbaikan terus menerus.
c. Mengelola Kinerja Operasional Perusahaan
Mengelola operasional perusahaan yang sukses dimulai dari
kesepakatan atas tujuan bersama, kepercayaan bersama dan
dilanjutkan dengan budaya organisasi yang sejalan.
1) Kesepakatan atas Tujuan Bersama
Sebuah rantai pasokan yang terintegrasi memerlukan
kerjasama yang baik dalam hubungan dengan anggotanya.
Anggota rantai pasokan harus menghargai bahwa satu-satunya
pihak yang menanamkan modal pada sebuah rantai pasokan
adalah pelanggan akhir. Oleh karena itu, perlu memahami
timbal balik mengenai misi, strategi dan sasaran di organisasi.
Rantai pasokan yang terintegrasi menambah nilai ekonomi dan
memaksimalkan isi total produk.
2) Kepercayaan
Kepercayaan merupakan hal yang sangat penting dalam rantai
pasokan yang efektif dan efisien. Anggota rantai pasokan harus
masuk ke dalam hubungan dan saling berbagi informasi.
Hubungan yang dibangun didasarkan rasa saling percaya
cenderung akan berhasil.
3) Budaya Organisasi yang Sesuai
Sebuah hubungan yang positif diantara organisasi pembeli dan
pemasok dengan budaya organisasi yang sesuai, dapat menjadi
keuntungan nyata dalam membuat rantai pasokan menjadi
lebih baik.

Integrasi Proses (skripsi dan tesis)

a. Definisi Integrasi Proses
Integrasi merupakan gabungan dari berbagai aktivitas
hingga membentuk keseluruhan, integrasi dapat meningkatkan
hubungan pada setiap rantai nilai juga dapat memfasilitasi dalam
pengambilan keputusan dan memungkinkan terjadinya penciptaan
rantai nilai.
b. Tahapan Integrasi Proses
Ada beberapa tahapan untuk mencapai suatu sistem
manajemen rantai pasokan yang terintegrasi. Pengembangan dari
manajemen logistik ke manajemen rantai pasokan terdiri dari
beberapa tahapan (Indrajit dan Djokropranoto, 2012) :
1) Tahap 1: Dasar (Baseline)
Pada tahap ini fungsi produksi dan fungsi logistik masih
melakukan aktivitas masing-masing dan terpisah. Bagian
produksi tidak memikirkan mengenai persediaan yang ada,
kurangnya persediaan ataupun persediaan yang berlebihan
karena bagian produksi hanya bertugas dalam memproduksi
suatu produk sesuai dengan standar mutu yang telah
ditetapkan.
2) Tahap 2: Fungsional Integrasi (Functional Integration)
Menggabungkan fungsi-fungsi yang mempunyai aktivitas yang
hampir sama atau fungsi yang berdekatan, mulai
dipertimbangkan pada tahapan ini, karena dalam hal ini proses
integrasi sudah mulai dipertimbangkan.
3) Tahap 3: Integrasi secara Internal (Internal Integration)
Semua fungsi yang terkait di dalam suatu organisasi atau
perusahaan merupakan proses integrasi secara internal untuk
melakukan perencaan kerangka kerja dan pengawasan.
4) Integrasi secara Eksternal (Eksternal Integration)
Merupakan tahap akhir dan tahap sebenarnya dari Supply
Chain Integration, karena tahap ini melanjutkan dari tahap
perencanaan dan pengawasan (Internal Integration), yaitu ke
hulu (upstreams) dan ke hilir (downstreams), sampai ke
pelanggan.
Pola integrasi Supply Chain mencerminkan fokus
operasional perusahaan dalam bersaing di dunia bisnis. Perusahaan
harus menentukan ke arah mana dalam pengintegrasian apakan
lebih condong ke arah internal atau ke arah eksternal (Ariani, 2013).
Ada empat jenis integrasi:
1) Integrasi fisik, mengacu pada perubahan dalam proses dan
aktivitas untuk meningkatkan dan efisiensi proses inti.
2) Integrasi informasi, mengacu pada pertukaran informasi yang
berhubungan dengan tingkat inventori, perencanaan
transportasi/manufaktur, peramalan, status aktual proses dan
sebagainya.
3) Integrasi koordinasi, mengacu pada keselarasan proses
pengambilan keputusan disepanjang rantai pasok.
4) Integrasi desain rantai pasok, mengacu pada kerjasama di
dalam perubahan struktur rantai pasokan.
Standarisasi yang terjadi pada integrasi menjadikan
integrasi harus dapat dikarakteristikan sebagai kerjasama,
kolaborasi, berbagi informasi (berbagi informasi), kepercayaan
(trust), kemitraan (partnership), berbagi teknologi (shared
technology), kompatibilitas, berbagi risiko dan manfaat, komitmen
dan visi yang sama, ketergantungan dan berbagi proses utama.

Kerjasama (skripsi dan tesis)

a. Definisi Kerjasama
Kerjasama merupakan salah satu alternatif yang baik dalam
melakukan manajemen rantai pasokan yang optimal. Organisasi
atau perusahaan perlu berkerjasama dengan berbagai pihak yang
terkait jaringan manajemen rantai pasokan. Kerjasama itu
membutuhkan sebuah sistem informasi yang akurat dari sumber
yang terpercaya dalam pengadaan barang dan jasa.
Kerjasama yang efektif adalah suatu keinginan untuk
mengembangkan hubungan yang akan menghasilkan kepercayaan
dan komitmen. Para pemasok dan pihak perusahaan perlu
mengetahui bagaimana hubungan kerjasama yang terjalin dan cara
mempertahankannya. Kerjasama memudahkan perusahaan dalam
mendapatkan informasi, pengadaan bahan baku saat kondisi
mendesak dan meningkatkan pendapatan perusahaan.
b. Prinsip Kerjasama
Beberapa prinsip kerjasama yang perlu dikembangkan
secara terus menerus, antara lain:
1) Meyakini memiliki tujuan yang sama
2) Saling menguntungkan
3) Saling percaya
4) Bersikap terbuka
5) Menjalin hubungan jangka panjang
6) Terus menerus melakukan perbaikan dalam biaya dan mutu
barang atau jasa.
Pentingnya kerjasama pemasok dengan perusahaan yang
dibina dengan baik tidak hanya untuk kepentingan jangka pendek
tetapi juga untuk hubungan jangka panjang. Perusahaan bisa
mendapatkan banyak keuntungan dari kerjasama. Kepercayaan dan
kejujuran merupakan dimesnsi penting dalam membangun
kerjasama. Ketika perusahaan percaya kepada mitranya, maka
perusahaan akan memandang bahwa hubungan tersebut merupakan
sebuah aset dan strategi dalam mengembangkan perusahaan dan
bersaing.
Untuk mendapatkan kinerja yang baik melalui sebuah
kerjasama, hubungan yang baik antara kedua belah pihak mutlak
diperlukan, kualitas hubungan dapat diukur dengan mengadopsi
dimensi-dimensi pengukura yaitu kepercayaan (trust) dan kejujuran
(fairness) sebagai dimensi-dimensi penyusun kualitas suatu
hubungan kerjasama. Ketika sebuah perusahaan percaya dengan
mitra kerjasamanya dan benar-benar memperlakukan mitra tersebut
dengan adil, perusahaan tersebut akan memandang lebih hubungan
tersebut sebagai asset strategik dan alat strategik yang akan
memperkuat kemampuan bersaing perusahaan (Ariani, 2013).

Hubungan Jangka Panjang (skripsi dan tesis)

a. Definisi Hubungan Jangka Panjang
Hubungan jangka panjang merupakan persepsi mengenai
saling ketergantungan pembeli terhadap pemasok baik dalam
konteks produk atau hubungan yang diharapkan akan membawa
maanfaat bagi pembeli dalam jangka panjang (Ariani, 2013).
Membangun hubungan jangka panjang dapat menghasilkan
keuntungan termasuk akses pasar dan informasi pasar yang
reliabel. Dengan membangun hubungan jangka panjang dengan
supplier, pembeli dan penjual dapat mencapai penghematan biaya
melalui:
1) Pengurangan biaya pencarian (search cost) dan biaya evaluasi
(evaluation cost)
2) Pengurangan biaya transaksi
3) Pengaruh pengetahuan dan hubungan skala ekonomi secara
global.
b. Keuntungan Hubungan Jangka Panjang
Keuntungan dari hubungan jangka panjang yaitu pemasok
lebih mengerti keinginan konsumen, saling tukar informasi, adanya
hubungan yang saling menguntungkan antara produsen dengan
pemasok dalam menyediakan bahan bahu maupun merencanakan
strategi agar menghasilkan kekuatan yang dapat dijadikan
competitive advantage jangka panjang.
Hubungan antara supplier, customer dan perusahaan harus
dikelola dengan baik dan selalu ditingkatkan agar terjadi hubungan
yang berkelanjutan dimana pemasok ikut bertanggungjawab
terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Hubungan ini harus didukung dengan adanya kepercayaan yang
diberikan kepada pemasok agar mencapai efisiensi dalam kinerja
perusahaan sehingga mampu menciptakan produk yang dapat
memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen.
Kepercayaan adalah kunci utama dalam membangun
hubungan jangka panjang. Tanpa adanya kepercayaan tidak akan
terciptanya suatu hubungan yang didasari pada komitmen.
Komitmen diartikan sebagai keyakinan salah satu pihak bahwa
membina hubungan dengan pihak lain merupakan hal yang penting
dan berpengaruh terhadap manfaat optimal yang didapat oleh kedua
belah pihak.
c. Tujuan Hubungan Jangka Panjang
Pada prinsipnya hubungan jangka panjang mempunyai
tujuan akhir yaitu mengelola perusahaan agar mendapatkan
profitabilitas melalui buhungan terus menerus dan saling
menguntungkan sehingga terciptanya hubungan jangka panjang
yang konsisten dan berkesinambungan. Beberapa keuntungan
utama dari hubungan kolaboratif jangka panjang antara lain yaitu
pemasok yang sama dalam jangka panjang akan lebih mengerti
tentang keinginan konsumen, perencanaan yang dirumuskan
bersama dan saling tukar informasi bisnis akan mendorong adanya
kesesuaian pada perancanaan selanjutnya dan strategi yang
direncanakan bersama akan menghasilkan kekuatan yang dapat
dijadikan competitive advantage dalam jangka panjang (Ariani,
2013).
Hubungan perusahaan dengan pemasok merupakan
kolaborasi yang paling kuat dalam konteks value chain atau supply
chain. Dalam hal ini, pemasok berperan untuk menyediakan
material atau bahan input yang digunakan oleh perusahaan.
Kualitas material dan kemampuan dalam pendistribusian material
tersebut tergantung pada kinerja pemasok yang selanjutnya
berpengaruh pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Berbagi Informasi (skripsi dan tesis)

a. Definisi Berbagi Informasi Informasi adalah sekumpulan fakta-fakta yang telah diolah menjadi bentuk data, sehingga dapat menjadi lebih berguna dan dapat digunakan oleh siapa saja yang membutuhkan data-data tersebut sebagai pengetahuan ataupun dapat digunakan dalam dasar pengambilan keputusan secara tepat, cepat dan memiliki kualitas yang baik. Informasi merupakan dasar pelaksanaan proses rantai pasokan. Informasi yang tidak akurat atau informasi yang terdistorsi pada setiap level supply chain dari bawah ke atas dapat menimbulkan beberapa masalah penting, diantaranya: 1) Persediaan yang berlebihan 2) Hilangnya pendapatan 3) Turunnya tingkat kepuasan konsumen 4) Pengiriman yang tidak efektif 5) Kesalahan dalam penjadwalan produksi 6) Penggunaan sumber daya yang tidak efisien Berbagi informasi adalah intensitas dan kapasitas perusahaan dalam interaksinya untuk saling berbagi informasi kepada partner berkaitan dengan strategi-strategi bisnis bersama. Berbagi informasi juga memungkinkan anggota rantai pasok untuk mendapatkan, menjaga dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan untuk memastikan pengambilan keputusan menjadi efektif dan merupakan faktor yang mampu mempererat elemenelemen kolaborasi secara keseluruhan oleh karena itu kemacetan industri dapat dikurangi dengan adanya berbagi informasi (Yaqoub, 2012). b. Karakteristik Informasi dalam Mengambil Keputusan Terkait Supply Chain Management Informasi harus memiliki beberapa karakteristik agar dapat berguna dalam mengambil keputusan terkait manajemen rantai pasok (Ariani, 2013): 1) Akurat. Untuk mengambil keputusan yang baik, informasi harus menggambarkan kondisi yang sebenarnya dan dapat dipercaya. 2) Tepat. Mempertimbangkan informasi apa saja yang sesuai dan dibutuhkan oleh perusahaan. 3) Dapat diakses pada saat dibutuhkan. Untuk dapat digunakan pada saat dibutuhkan informasi harus dapat diakses dengan baik dan benar, sehingga dapat membantu dalam mengambil keputusan. Keberhasilan Supply Chain sangat tergantung kepada sistem informasinya, dengan adanya sistem informasi partner bisnis dalam rantai pasok dapat diperhitungkan (Pujawan dan Mahendrawathi, 2010). c. Manfaat Berbagi Informasi bagi Manajemen Rantai Pasokan Berbagi informasi digunakan untuk memberikan manfaat bagi semua elemen yang terlibat di dalam manajemen rantai pasokan dan manfaat jangka panjang untuk semua pihak yang terlibat dalam rantai pasok melalui berbagi informasi. Oleh karena itu pentingnya berbagi informasi antar pihak dalam sebuah rantai pasok dengan menggunakan teknologi informasi harus ditingkatkan untuk mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan perusahaan dalam hal pengiriman bahan baku dan akhirnya meningkatkan kinerja Supply Chain Management perusahaan.

Strategi Manajemen Rantai Pasokan (skripsi dan tesis)

1) Banyak Supplier Perusahaan menjalin hubungan dengan banyak supplier dan memilih supplier yang memenuhi spesifiksi. 2) Sedikit Supplier Menjaga hubungan jangka panjang dengan supplier dengan cara menjaga komitmen dengan memberikan produk. 3) Integrasi Vertikal Mengembangkan kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa yang sebelumnya dibeli dari pemasok. Integrasi vertikal berbentuk: (a) Integrasi kedepan : memproduksi sendiri komponen akhir. (b) Integrasi kebelakang : memproduksi sendiri bahan yang tadinya dibeli kepada supplier. 4) Jaringan Kerja Keiretsu Merupakan langkah-langkah antara sedikit supplier dengan integrasi vertika. 5) Perusahaan Virtual Perusahaan yang membina hubungan dengan berbagai supplier untuk memberikan pelayanan pada permintaan.

Pemain Utama Manajemen Rantai Pasokan (skripsi dan tesis)

Ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan
yang mempunyai kepentingan yang sama (Anwar, 2011), yaitu:
1) Chain 1: Supplier
Jaringan bermula dari sini, yang merupakan sumber yang
menyediakan bahan pertama, dimana rantai penyaluran baru
akan mulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku,
bahan mentah, bahan penolong, barang dagangan, suku cadang
dan lain-lain.
2) Chain 1-2: Supplier-Manufactures
Manufaktur atau bentuk lain yang melakukan pekerjaan
membuat, mempabrikasi, mengasembling, merakit dan
mengkonveksikan, atau pun menyelesaikan (finishing).
Hubungan kedua rantai tersebut sudah mempunyai potensi untuk
melakukan penghematan. Penghematan dapat diperoleh dari
inventories bahan baku, bahan setengah jadi dan bahan jadi yang
berada di pihak supplier, manufacturer dan tempat transit
merupkan target untuk penghematan ini.
3) Chain 1-2-3: Supplier-Manufactures-Distribution
Barang yang sudah dihasilkan oleh manufactures sudah mulai
harus disalurkan kepada pelanggan. Walaupun sudah tersedia
banyak cara untuk menyalurkan barang kepada pelanggan, yang
umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh
sebagian besar supply chain.
4) Chain 1-2-3-4: Supplier-Manufactures-Distribution-Retail
Outlet
Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri
atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan
untuk menyimpan barang sebelum disalurkan lagi ke pihak
pengecer. Disini ada kesempatan untuk memperoleh
penghematan dalam bentuk jumlah inventoris dan biaya gudang
dengan cara melakukan desain kembali pola pengiriman barang
baik dari gudang manufacture maupun ke toko pengecer.
5) Chain 1-2-3-4-5: Supplier-Manufactures-Distribution-Retail
Outlet-Customer
Para pengecer atau retailer menawarkan barang langsung kepada
para pelanggan atau pembeli atau pengguna barang langsung.
Yang termasuk retail outlet adalah toko kelontong, supermarket,
warung-warung dan lain-lain.

Indikator Manajemen Rantai Pasokan (skripsi dan tesis)

1) Berbagi informasi Berbagi informasi merupakan elemen penting dalam Supply Chain Management, karena dengan adanya berbagi informasi yang transparan dan akurat dapat mempercepat proses rantai pasokan mulai dari supplier sampai ke pasar atau ke tangan konsumen. 2) Hubungan jangka panjang Hubungan jangka panjang bisa tercipta dengan adanya hubungan yang berkesinambungan antara semua pihak yang terlibat dalam Supply Chain Management agar mencapai efisiensi dalam kinerja perusahaan sehingga mampu menciptakan produk yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen. 3) Kerjasama Kerjasama yang baik dan saling meguntungkan dalam Supply Chain Management dapat dilakukan antara produsen dengan supplier dan diharapkan mampu menciptakan sebuah komitmen, saling percaya dan saling terbuka yang nantinya akan bermanfaat bagi kedua belah pihak. 4) Integrasi proses Integrasi proses dari penggabungan keseluruhan semua kegiatan yang ada dalam Supply Chain Management agar semua kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan lancar.

Definisi Manajemen Rantai Pasokan (skripsi dan tesis)

Supply Chain Management (SCM) merupakan serangkaian aktivitas yang terintegrasi, dari pengadaan material dan pelayanan jasa, kemudian mengubahnya menjadi barang setengah jadi atau barang jadi, serta mendistribusikannya kepada konsumen (Heizer dan Render, 2011). Supply Chain Management (SCM) adalah suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringan dari berbagai organisasi yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau barang tersebut, istilah supply chain meliputi juga proses perubahan barang tersebut, misalnya dari barang mentah menjadi barang jadi (Indrajit dan Djokopranoto, 2009). Supply chain rangkaian dari fasilitas, fungsi dan aktivitas perusahaan yang terlibat dalam pembuatan dan penyaluran barang atau jasa. Rangkaian tersebut dimulai dari pemasok dan berakhir pada konsumen akhir. Dengan menganalisis keseluruhan proses, dari pemasok awal sampai dengan konsumen akhir, dapat diketahui keuntungan-keuntungan dari Supply Chain yaitu mengurangi inventory barang dengan berbagai cara, menjamin kelancaran penyediaan barang dan menjamin mutu (Setiawan, Ikhwan, Rahardian, 2006). Manajemen rantai pasokan merupakan seperangkat pendekatan untuk mengefisiensikan integrasi supplier, manufaktur, gudang dan penyimpanan, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah yang tepat, lokasi yang tepat, waktu yang tepat dengan tujuan mencapai biaya minimum dan memberikan kepuasan bagi pelanggan (Levi, David Simchi et al, 2003). Manajemen rantai pasokan berfokus pada mengintegrasikan dan mengelola aliran barang dan jasa dan informasi melalui rantai supply untuk membuatnya responsif terhadap kebutuhan pelanggan sambil menurunkan total biaya. Definisi tersebut didasarkan atas beberapa hal: 1) Manajemen rantai pasokan perlu mempertimbangkan bahwa semua kegiatan mulai dari pemasok, manufaktur, gudang, distributor, retailer sampai ke pengecer berdampak pada biaya produk yang diproduksi sesuai dengan kebutuhan pelanggan. 2) Tujuan dari manajemen rantai pasokan adalah agar total biaya dari semua bagian, mulai dari transportasi dan distribusi persediaan bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat mengurangi biaya. 3) Manajemen rantai pasokan berputar pada integrasi yang efisien dari pemasok, manufaktur, gudang, distributor, retailer dan pengecer yang mencakup semua aktivitas perusahaan, mulai dari tingkat strategis sampai tingkat taktik operasional.

Minat Beli Konsumen (skripsi dan tesis)

Minat beli merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Menurut Kinnear dan Taylor (Sukmawati dan Durianto) minat membeli adalah bagian dari komponen perilaku konsumen dalam sikap mengkonsumsi, kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. minat beli dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator menurut Ferdinand dalam Rian Pramono (2012:3) sebagai berikut: Minat eksploratif, Minat preferensial, Minat transaksional, Minat referensial

Omni Channel Marketing (skripsi dan tesis)

Omni-channel marketing menggambarkan strategi yang konsisten dan terkoordinasi khususnya untuk berinteraksi dengan pelanggan dan calon pelanggan, dan bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan menggunakan saluran yang tepat bagi mereka, pada saat yang tepat, dalam situasi yang tepat. Indeks Omni-channel menurut Lembaga riset ritel L2 dan Rockoopl dalam Jinze Yan dan Kyuseop Kwak (2016:41) ada empat indikator: Pengalaman ritel konsumen, Strategi dan penentuan posisi mereka, Kemampuan operasional dan pengiriman dan Teknologi dan data.

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Kinerja seorang karyawan dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik faktor eksternal maupun internal dari karyawan tersebut. Simamora dalam Mangkunegara (2012:14) mengatakan bahwa kinerja pada umum nya dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1. Faktor individual yang terdiri dari: 1) Kemampuan dan keahlian 2) Latar belakang 3) Demografi 2. Faktor psikologis yang terdiri dari: 1) Persepsi 2) Attitude 3) Personality 4) Pembelajaran 5) Motivasi 3. Faktor organisasi yang terdiri dari: 1) Sumber daya 2) Kepemimpinan 3) Penghargaan 4) Struktur 5) Job Design Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah factor kemampuan (ability) dan factor motivasi (motivation). 1. Faktor Kemampuan Secara psikologis, kemampuan (ability) terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + skill). Artinya, pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ110-120) apalagi IQ superior, very superior, gifted dan genius dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mencapai kinerja maksimal. 2. Faktor Motivasi Motivasi diartikan suatu sikap (attitude) pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap positif terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja tinggi dan sebalinya jika mereka bersikap negative terhadap situasi kerjanya akan menunjukkan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksu mencangkup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja, kondisi kerja. Sedangkan menurut pandangan teori konvergensi dari William Stern dalam mangkunegara (2012) faktor penentu kinerja individu adalah : 1. Faktor Individu Secara Psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisiknya. Dengan adanya integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisik, maka individu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik.tanpa adanya konsentrasi yang baik dari individu dalam bekerja, maka mimpi pimpinan mengharapkan mereka dapat bekerja produktif dalam mencapai tujuan organisasi. 2. Faktor Lingkungan Organisasi Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarir dan fasilitas kerja yang relatif memadai.

Pengertian Kinerja Karyawan (skripsi dan tesis)

Menyatakan bahwa kinerja karyawan merupakan tindakan, perilaku dan hasil yang dapat diukur di mana karyawan terikat atau yang dilakukan karyawan yang berhubungan dengan tujuan organisasi dan berkontribusi pada tujuan organisasi.Menurut Thompson dalam Jimoh (2008: 102), untuk mengukur kinerja karyawan diperlukan pengamat yang membuat keputusan penilaian terhadap kecenderungan perilaku orang yang dievaluasi yang berhubungan dengan kontribusi pada tujuan organisasi.Menurut Mangkunegara (2010: 116), kinerja karyawan dapat diukur dengan kuantitas, kualitas, efisiensi, standar professional, kemampuan, penilaian, ketepatan, pengetahuan, dan kreativitas. Sedangkan Bernardin dan Russel dalam Ruky (2010: 115) memberikan pengertian Menurut Gibson (2008: 55), job performance adalah hasil dari pekerjaan yang terkait dengan tujuan organisasi, efisiensi dan kinerja keefektifan kinerja lainnya.Sementara menurut Ilyas (2009: 99), kinerja adalah penampilan hasil kerja personil maupun dalam suatu organisasi.Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personil yang memangku jabatan fungsional maupun struktural tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personil di dalam organisasi. Menurut Simanjuntak (2014: 61) yang mengemukakan kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu.Kinerja perusahaan adalah tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan. Menurut Irawan (2012: 51), bahwa kinerja (performance) adalah hasil kerja yang bersifat konkret, dapat diamati, dan dapat diukur. Jika kita mengenal tiga macam tujuan, yaitu tujuan organisasi, tujuan 6unit, dan tujuan pegawai, maka kita juga mengenal tiga macam kinerja, yaitu kinerja organisasi, kinerja unit, dan kinerja pegawai.Anwar Prabu Mangkunegara (2010:67), menyatakan kinerja dalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai sesorang karyaan dalam melaksanakan tugasnya sesuai tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Hasibuan 35 (2008:94) bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapaan, pengalaman, kesungguhan serta waktu. Dari pengertian para ahli diatas tentang kinerja karyawan, maka penulis merangkum bahwa kinerja karyawan adalah suatu hasil atau pencapain dari tindakan seorang pekerja sesuai dengan pekerjaannya secara kualitas maupun kuantitas yang telah dicapai pegawai, dalam menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan peusahaan, hasil kerja yang dicapai sesuai dengan kriteria-kriteria dan standar kerja pegawai yang berlaku dalam organisasi yang langsung diawasi oleh seorang atasan atau pimpinan.

Teori Kepuasan kerja (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori dari Herzberg di dalam teorinya Two Factors Theory mengatakan bahwa kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda serta kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu tidak merupakan suatu variabel yang kontinyu. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, Herzberg membagi situasi yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap pekerjaannya menjadi dua kelompok yaitu kelompok satisfiers dan kelompok dissatisfiers. Kelompok satisfiers atau motivator adalah faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari achievement, recognition, work it self, responsibility and advancement. Menurut teori dua-faktor, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators. 1. Satisfier atau motivators adalah faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari pekerjaan yang menarik penuh tantangan, kesempatan untuk berprestasi, kesempatan untuk memperoleh penghargaan, dan promosi. Terpenuhinya faktor tersebut akan menimbulkan kepuasan, namun tidak terpenuhinya faktor ini tidak selalu mengakibatkan kepuasan. 2. Dissatisfier adalah faktor-faktor yang menjadi sumber ketidakpuasan yang terdiri dari gaji/upah, pengawasan, hubungan antar pribadi, kondisi kerja dan status. Jika tidak terpenuhinya faktor ini karyawan tidak akan puas. Namun, jika besarnya faktor ini memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karyawan tidak akan kecewa meskipun belum terpuaskan. Menurut Herzberg bahwa yang dapat memacu orang untuk bekerja dengan baik dan menimbulkan gairah untuk bekerja hanyalah kelompok satisfier. Herzberg mengatakan bahwa hadirnya faktor ini dapat menimbulkan kepuasan, tetapi tidak hadirnya faktor ini tidaklah selalu mengakibatkan ketidakpuasan. Sedangkan kelompok dissatisfiers ialah faktor-faktor yang terbukti menjadi sumber ketidakpuasan yang terdiri dari company policy and administration, supervision technical, salary, interpersonal relations, working conditions, job security dan status. Perbaikan terhadap kondisi atau situasi ini akan mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan, tetapi tidak akan menimbulkan kepuasan karena ia bukan sumber kepuasan kerja. Teori Two Factor yang dikemukakan oleh Hezberg ini berkaitan dengan motivasi dan kepuasan kerja. Hubungan individu dengan pekerjaannya adalah hal yang mendasar dan sikap yang diarahkan kepada pekerjaan tersebut dapat dengan sangat baik menentukan apakah seseorang itu sukses atau gagal. Berdasarkan yang dikemukakan oleh Herzberg, job satisfaction disebabkan oleh hadirnya serangkaian faktor yang disebut sebagai motivator, sedangkan job dissatisfaction disebabkan oleh ketidakhadiran rangkaian yang berbeda dari motivator yang disebut sebagai hygiene faktor. Motivator factor berhubungan dengan aspek-aspek yang terkandung dalam pekerjaan itu sendiri. Jadi berhubungan dengan job content atau disebut juga sebagai aspek intrinsik dalam pekerjaan. Faktor-faktor yang termasuk di sini adalah: 1. Achievement (keberhasilan menyelesaikan tugas) 2. Recognition (penghargaan) 3. Work it self (pekerjaan itu sendiri ) 4. Responsibility (tanggung jawab) 5. Possibility of growth (kemungkinan untuk mengembangkan diri) 6. Advancement (kesempatan untuk maju) Herzberg berpendapat bahwa, hadirnya faktor-faktor ini akan memberikan rasa puas bagi karyawan, namun jika ada yang tidak terpenuhi bukan berarti mengakibatkan ketidakpuasan kerja karyawan. Hygiene factor adalah faktor yang berada di sekitar pelaksanaan pekerjaan; berhubungan dengan job context atau aspek ekstrinsik pekerja. faktor-faktor yang termasuk di sini adalah: 1. Working condition (kondisi kerja) 2. Interpersonal relation (hubungan antar pribadi) 3. Company policy and administration (kebijaksanaan perusahaan dan pelaksanaannya) 4. Job security (perasaan aman dalam bekerja), pay (gaji), status (Jabatan) 5. Supervision technical (teknik pengawasan) Herzberg juga menyatakan bahwa motivator menyebabkan seseorang untuk bergerak dari kondisi tidak ada kepuasan menuju ke arah kepuasan. Sedangkan hygiene factors dapat menyebabkan seseorang yang berada dalam ketidakpuasan menuju kearah tidak ada ketidakpuasan. Hygiene factor dianggap sebagai sebuah landasan roket – ketika itu dihancurkan atau dikurangi, maka kita tidak akan termotivasi atau dalam keadaan biasa-biasa saja (no dissatisfaction). Ketika seseorang berada dalam keadaan dissatisfaction dan demotivasi, diberikan hygiene factors sehingga dia berada dalam keadaan no dissatisfaction, tapi tidak termotivasi. Dan untuk mencapai positive satisfaction dan motivation, maka perlu diberikan motivator factors. Herzberg (dalam Kreitner & Kinicki, 2004) membedakan dua faktor yang mempengaruhi motivasi para pekerja dengan cara yang berbeda, faktor motivator dan faktor hygiene. Faktor motivasi mencakup faktor-faktor yang berkaitan dengan isi pekerjaan, yang merupakan faktor intrinsik dari pekerjaan, yaitu: tanggung jawab, kemajuan, pekerjaan itu sendiri, pencapaian prestasi, dan pengakuan. Ketidakpuasan kerja terutama diasosiasikan dengan faktor-faktor di dalam keadaan atau lingkungan pekerjaan. Yaitu berupa: aturan-aturan administrasi dan kebijaksanaan perusahaan, supervisi, hubungan antar pribadi, kondisi kerja, gaji dan sebagainya. faktor-faktor ini dinamakan dengan faktor hygien. Manajer yang ingin menghilangkan faktor-faktor ketidakpuasan kerja lebih baik menempuh cara dengan menciptakan ketentraman kerja. Jadi, menurut teori ini, perbaikan salary dan working conditions tidak akan enimbulkan kepuasan tetapi hanya mengurangi ketidak puasan. Selanjutnya dikatakan oleh Herzberg, bahwa yang bisa memacu orang untuk bekerja dengan baik dan bergairah (motivator) hanyalah kelompok satisfiers. Untuk satisfiers ini kadang- kadang diberi nama lain sebagai intrinsic factor, job content, dan motivator. Sedangkan sebutan lain yang sering digunakan untuk dissatisfiers ialah extrinsic factor, cob context dan hygiene factor . Kunci untuk memahami teori motivator-hygien adalah memahami bahwa lawan “kepuasan” bukan “ketidakpuasan”. Lawan kepuasan adalah “tidak ada kepuasan”. Dan lawan ketidakpuasan adalah “tidak

Aspek-Aspek Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Jewell dan Siegall 1998 (dalam Prestawan 2010) beberapaaspek dalam mengukur kepuasaan kerja: 1) Aspek psikologis, berhubungan dengan kejiwaan karyawan meliputi minat, ketentraman kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan ketrampilan. 2) Aspek fisik, berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, pengaturan waktu istirahat, keadaan ruangan, suhu udara, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur. 3) Aspek sosial, berhubungan dengan interaksi sosial, baik antar sesama karyawan dengan atasan maupun antar karyawan yang berbeda jenis kerjanya serta hubungan dengan anggota keluarga. 4) Aspek finansial, berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan, yang meliputi sistem dan besar gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas dan promosi.Akutansi, Judul Akutansi, Judul Manajemen, Konsultasi Skripsi, Konsultasi Skripsi Jogja, Konsultasi Skripsi Yogyakarta, Konsultasi Tesis, konsultasi tesis jogja, konsultasi tesis yogyakarta, Manajemen

Pengertian kepuasan kerja (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual.Setiap karyawan akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda – beda sesuai dengan sistem nilai – nilai yang berlaku dalam dirinya. Semakin banyak aspek – aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan dan sebaliknya. Karyawan yang puas melakukan pekerjaan lebih baik dalam memenuhi kewajiban seperti tertuang dalam deskripsi pekerjaan.Kenyataan menunjukkan bahwa perasaan positif mendorong kreatifitas, memperbaiki pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.Perasaan positif juga memperbaiki ketekunan tugas dan menarik lebih banyak bantuan dan dukungan dari rekan kerja. Kepuasan kerja (job satisfaction) didefinisikan sebagai suatu perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristik- karakteristiknya (Robbins, 2008). Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi memiliki perasaan-perasaan positif tentang pekerjaan tersebut, sementara seseorang yang tidak puas memiliki perasaan-perasaan yang negatif tentang pekerjaan tersebut. Orang yang merasa puas menganggap kepuasan sebagai suatu rasa senang dan sejahtera karena dapat mencapai suatu tujuan atau sasaran. Setiap pimpinan perusahaan perlu mengetahui informasi mengenai kepuasan karyawannya dalam bekerja secara akurat sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam perusahaan. Menurut Malthis (2006) kepuasan kerja adalah keadaan emosi yang positif dari mengevaluasi pengalaman kerja seseorang. Ketidakpuasan kerja muncul saat harapan-harapan ini tidak terpenuhi.Kepuasan kerja mempunyai banyak dimensi, secara umum adalah kepuasan dalam pekerjaan itu sendiri, gaji, pengakuan, hubungan antara supervisor dengan tenaga kerja, dan kesempatan untuk maju. Setiap dimensi menghasilkan perasaan puas secara keseluruhan dengan pekerjaan itu sendiri. Secara umum diketahui bahwa kepuasan kerja merupakan faktor yang berkontribusi terhadap fisik dan mental kesejahteraan karyawan. Karena itu, peneliti memiliki pengaruh yang signifikan pada pekerjaan yang berhubungan dengan perilaku seperti produktivitas, absensi, tingkat turnover dan hubungan karyawan (dalam Mohammad, 2011). Definisi yang paling populer dari kepuasan kerja yang diberikan oleh Locke (dalam Mohammad, 2011) adalah keadaan emosi positif yang dihasilkan dari penilaian pengalaman kerja seseorang. Definisi ini terdiri dari dua hal yaitu kognitif (penilaian terhadap pekerjaan seseorang) yaitu seseorang menyimpulkan sesuatu berdasarkan hasil dari pengalaman dan informasi yang didapatkan, dan afektif (keadaan emosi), afektif dipengaruhi oleh duafaktor yaitu suasana emosional dan skema kognitif. Suasana emosional keadaan dimana seseorang sangat dipengaruhi oleh suasana hati/perasaan pada saat itu, sedangkan skema kognitif menunjukkan sejauh mana individu merasa positif atau negatif tentang pekerjaan mereka. Dari pengertian para ahli diatas tentang kepuasan kerja, maka penulis merangkum bahwa kepuasan kerja adalah suatu tingkat perasaan puas atau senang seseorang dalam suatu pencapain sebuah pekerjaan dan lingkungkan kerja. Tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki perasaan yang positif tentangpekerjaan tersebut. Sementra seorang yang tidak puas memiliki perasaan yang negatif tentang pekerjaan tersebut.

Membangun komitmen organisasi. (skripsi dan tesis)

Menurut Martin dan Nichols (1991, dalam Soekidjan, 2009), Tiga pilar komitmen yang perlu dibangun adalah: 1) Rasa memiliki (a sense of belonging) 2) Rasa bergairah terhadap pekerjaannya 3) Kepemilikan terhadap organisasi (ownership) Rasa memiliki dapat dibangun dengan menumbuhkan rasa yakin anggotabahwa apa yang dikerjakan berharga, rasa nyaman dalam organisasi, cara mendapat dukungan penuh dari organisasi berupa misi dannilai-nilaiyangjelasyang berlaku di organisasi. Rasa bergairah terhadap pekerjaan ditimbulkan dengan cara memberi perhatian, memberi delegasi wewenang, serta memberi kesempatan serta ruang yang cukup bagian aggota/karyawan untuk menggunakan ketrampilan dan keahliannya secara maksimal. Rasa kepemilikan dapat ditimbulkan dengan melibatkan anggota/karyawan dalam membuat keputusan-keputusan (Soekidjan,2009)

Dampak Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)

Komitmen karyawan terhadap organisasi adalah bertingkat, dari tingkatan yang sangat rendah hingga tingkatan yang sangat tinggi.Menurut Streers (1991) dalam Sopiah (2008) karyawan yang berkomitmen rendah akan berdampak pada turnover , tinggi nya absensi, meningkatnya kelambatan kerja dan kurangnya intensitas untuk bertahan sebagai karyawan di organisasi tersebut, rendahnya kualitas kerja dan kurangnya loyalitas pada perusahaan. Near dan Jansen (1983) dalam sopiah (2008) menambahkan bahwa bila komitmen karyawan rendah maka dia bisa memicu perilaku karyawan yang kurang baik, misalnya tindakan kerusuhan yang dampak lebih lanjutnya adalah reputasi organisasi menurun, kehilangan kepercayaan dari klien dan dampak yang lebih jauh lagi adalah menurunnya laba perusahaan.

Indikator Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)

Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2008:100), membedakan komitmen organisasi atas tiga indikator , yaitu : 1. Komponen afektif (af ective commitment), Perasaan emosional untuk organisasi dan keyakinan dalam nilai-nilainya. 2. Komponen normatif (normative commitment), komitmen untuk bertahan dengan organisasi untuk alasan-alasan moral atau etis. 3. Komponen berkelanjutan (continuance commitment), nilai ekonomi yang dirasa dari bertahan dengan sebuah organisasi bila dibandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut. Menurut Kanter (1986) seperi dikutip Sopiah (2008:158) mengemukakan adanya tiga bentuk komitmen organisasional, yaitu : 1. Komitmen berkesinambungan (continuance commitment), yaitu komitmen yang berhubungan dengan dedikasi anggota dalam melangsungkan kehidupan organisasi dan menghasilkan orang yang mau berkorban dan berinvestasi pada organisasi. 2. Komitmen terpadu (cohesion commitment), yaitu komitmen anggota terhadap organisasi sebagai akibat adanya hubungan sosial dengan anggota lain didalam organisasi. Ini terjadi karena karyawan percaya bahwa norma-norma yang dianut organisasi merupakan norma-norma yang bermanfaat. 3. Komitmen terkontrol (control commitment), yaitu komitmen anggota pada norma organisasi yang memberikan perilaku ke arah yang diinginkannya. norma-norma yang dimiliki organisasi sesuai dan mampu memberikan sumbangan terhadap perilaku yang diinginkannya. Dari dua pendapat diatas, baik Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2009) serta Kanter (1986) memiliki pendapat yang sama, yaitu bahwa komitmen organisasional dikelompokkan menjadi tiga, hanya istilahnya saja yang berbeda. Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge memberi nama ketiga kelompok itu sebagai : (1) af ective commitment; (2) normative commitment; (3) continuancecommitment sedangkan Kanter mengelompokkan komitmen organisasional menjadi: (1) continuance commitment; (2) cohesion commitment; (3) controlcommitment.

Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi. (skripsi dan tesis)

Komitmen karyawan pada organisasi tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses yang cukup panjang dan bertahap. Komitmen karyawan pada organisasi juga ditentukan oleh sejumlah faktor. David (dalam Minner, 1997) oleh Sopiah (2008:163) mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi, yaitu: 1. Faktor personal, misalnya : usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, kepribadian. 2. Karakteristik pekerjaan, misalnya : lingkup jabatan, tantangan dalam pekerjaan, konflik peran dalam pekerjaan, tingkat kesulitan dalam pekerjaan. 3. Karakteristik struktur, misalnya : besar atau kecilnya organisasi, bentuk organisasi seperti sentralisasi atau desentralisasi, kehadiran serikat pekerja dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi terhadap karyawan. 4. Pengalaman kerja. Pengalaman kerja karyawan sangat berpengaruh terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tentu memiliki tingkat komitmen yang berlainan.

Pengertian Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)

Pengolahan sumber daya manusia oleh organisasi, perlu memperhatikan komitmen organisasi. Komitmen organisasi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada pencapain tujuan organisasi. Organisasi akan lebih mudah untuk mencapai tujuan dan sasaran jika para karyawan mempunyai komitmen terhadap organisasi. Komitmen organaisaional (organizational commitment), didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut.jadi, keterlibatan pekerjaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. (Robbins, 2008:118). Robbins (2008) mendefinisikan komitmen sebagai suatu keadaan dimana seorang individu memihak organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keangotaannya dalam organisasi. Menurut Robbins & Coulter (2012:377) komitmen orgaanisasi adalah tingkat dimana karyawan diidentifikasihkan dengan sebuah organisasi tertentu, melihat tujuannya dan berharap untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi. Sementara keterlibatan kerja adalah pengindentifikasian dengan pekerjaan anda, komitmen organisasi adalah pengindentifikasian diorganisasi yang mempekerjakan anda. Menurut Mowclay (1982) dalam sopiah (2008:155) komitmen kerja sebagai istilah lain dari komitmen organisasi. Komitmen organisasi merupakan definisi perilaku pentinng yang dapat digunakan untuk menilai kecenderungan karyawan untuk bertahan sebagai anggota organisasi. Komitmen organisasi merupakan identifikasi dan keterlibatan seseorang yang relatif kuat terhadap organisasi. Komitmen organisasi adalah keinginan anggota organisasi untuk mempertahakan 25 keanggotannya dalam organisasi dan bersedia berusaha keras bagi pencapaian tujuan organisasi. Bathaw dan Grant (1994) dalam Sopiah (2008:156) menerangkan lebih lanjut, “Komitmen organisasional sebagai keinginan karyawan untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi dan bersedia melakukan usaha yang tinggi demi pencapaian tujuan organisasi” Menurut Gibson (2008:115) komitmen tehadap organisasi melibatkan tiga sikap: 1. Identifikasi dengan tujuan organisasi 2. Perasaan keterlibatan dalam tugas-tugas organisasi. 3. Perasaan loyalitas terhadap organisasi. Sehingga dimaknai bahwa komitmen organisasi merupakan suatu bentuk identifikasi, loyalitas dan keterlibatan yang diapresiasiakan oleh karyawan terhadap organisasi (Gibson,2008:115). Pegawai yang memiliki komitmen yang baik berarti bahwa pegawai tersebut memiliki loyalitas terhadap organisasi dimana dia berada saat ini dan akan berupaya untuk berusaha dengan optimal mencapai tujuan organisasi di tempat bekerja.

Teknik Motivasi Kerja (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2011:101) megemukakan bahwa ada beberapa tekhnik memotivasi kerja karyawan, antara lain: 1. Teknik pemenuhan kebutuhan karyawan Pemenuhan kebutuhan karyawan merupakan fundamen yang mendasari perilaku kerja. Kita tidak dapat memotivasi kerja pegawai tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkannya. 2. Teknik komunikasi persuatif  Teknik komunikasi persuasive merupakan salah satu tekhnik memotivasi kerja karyawa yang dilakukan dengan cara mempengaruhi karyawan secara ekstralogis. Teknik ini dirumuskan “AIDDAS”. A= Attention (Perhatian) I= Interest (Minat) D= Desire (Hasrat) D= Decision (Keputusan) A= Action (Aksi/Tindakan) S= Statisfaction (Kepuasan)

Teori Motivasi kerja (skripsi dan tesis)

Teori Motivasi Kerja Menurut Abraham Maslow, Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, yaitu hirarki lima kebutuhan dengan tiap kebutuhan secara berurutandipenuhi. Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila pegawai kebutuhannya tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya. Abraham Maslow mengemukakan teori motivasi yang dinamakan Maslow’s Need Hierarchy Theory. Maslow dalam Hasibuan (2009:154-156), mengemukakan bahwa lima hirarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut: 1) Physiological Needs Physiological Needs yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Yang termasuk ke dalam kebutuhan ini adalah kebutuhan makan, minum, perumahan, dan sebagainya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan ini merangsang seseorang berperilaku atau bekerja giat. 2) Safety and Security Needs Safety and Security Needs adalah kebutuhan akan kebebasan dari ancaman yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaanKebutuhan ini mengarah kepada dua bentuk:  (1) Kebutuhan akan keamanan jiwa di tempat pekerjaan; (2) Kebutuhan akan kemananan harta ditempat pekerjaan pada waktu jam kerja 3) Af iliation or Acceptance Needs Affiliation or Acceptance Needs adalah kebutuhan sosial, teman, afiliasi, interaksi, dicintai dan mencintai, serta diterima dalam pergaulan kelompok pekerja dan masyarakat lingkungannya. Karena manusia adalah makhluk sosial, sudah jelas ia mempunyai kebutuhan-kebutuhan sosial yang terdiri dari empat golongan, yaitu: (1) Kebutuhan akan diterima orang lain (sense of belonging); (2) Kebutuhan akan dihormati (sense of importance); (3) Kebutuhan akan kemajuan dan tidak gagal (sense of achievement); (4) Kebutuhan akan perasaan ikut serta (sense of participation). 4) Esteem or Status Needs Esteem or Status Needs adalah kebutuhan akan penghargaan diri dan pengakuan serta penghargaan prestise dari karyawan dan masyarakat lingkungannya. Prestise dan status dimanifestasikan oleh banyak hal yang digunakan sebagai simbol status itu. 5) Self Actualization Self Actualization adalah kebutuhan akan aktualisasi diri dengan menggunakan kemampuan, keterampilan, dan potensi optimal untuk mencapai prestasi kerja yang sangat memuaskan. Selanjutnya Maslow mengemukakan bahwa orang dewasa secara normal memuaskan kira-kira 85 persen kebutuhan fisiologis, 70 persen kebutuhan rasa aman, 50 persen kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, 40persen kebutuhan harga diri, dan hanya 10persen dari kebutuhan aktualisasi diri.

Tujuan Motivasi kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Hasibuan (2008:146) mengemukakan bahwa tujuan motivasi antra lain: 1. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan. 2. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan. 3. Mempertahankan kestabilan karyaawan perusahaan. 4. Meningkatkan kedisiplinan karyawan. 5. Mengefektifkan pengadaan karyawan. 6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik. 7. Meningkatkan loyalitas, kreativitas, dan partisipasi karyawan. 8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan. 9. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya. 10. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi kerja (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi menurut Edy Sutrisno (2009:116) adalah sebagai berikut : 1. Faktor intern yang terdiri dari 1) Keinginan untuk dapat hidup 2) keinginan untuk dpat memiliki 3) keinginan untuk dapat memperoleh penghargaan 4) keinginan untuk memperoleh pengakuan 5) keinginan untuk berkuasa 2. Faktor ekstern, yang terdiri dari : 1) Kondisi lingkungan kerja 2) kompensasi memadai 3) supervise yang baik 4) adanya jaminan pekerjaan 5) status dan tanggung jawab 6) peraturan yang fleksibel

Indikator Motivasi kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Maslow dalam Hasibuan (2009:154-156), mengemukakan bahwa lima hirarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut: 1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs) Physiological Needs yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Yang termasuk ke dalam kebutuhan ini adalah kebutuhan makan, minum, perumahan, dan sebagainya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan ini merangsang seseorang berperilaku atau bekerja giat. 2. Kebutuhan Rasa Aman (Safety and Security Needs) Safety and Security Needs adalah kebutuhan akan kebebasan dari ancaman yakni merasa aman dari ancaman kecelakaan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan. 3. Kebutuhan sosial atau rasa memiliki (Af iliation or Acceptance Needs) Af iliation or Acceptance Needs adalah kebutuhan sosial, teman, afiliasi, interaksi, dicintai dan mencintai, serta diterima dalam pergaulan kelompok pekerja dan masyarakat lingkungannya. 4. Kebutuhan Harga diri (Esteem or Status Needs) Esteem or Status Needs ad

Motivasi Kerja (skripsi dan tesis)

Dalam suatu perusahaan motivasi sangatlah diperlukan, baik motivasi dari atasan maupun motivasi yang bangkit dari diri sendiri. Untuk bekerja sama bagi kepentingan perusahaan tanpa adanay motivasi maka tujuan yang ditetapkan tidak akan tercapai karena motivasi untuk bekerja ini sangat berpengaruh bagi tinggi rendahnya produktivitas perusahaan. Menurut Victor H. Vroom dalam Siagaan (2011:292) menyatakan bahwa: Motivasi merupakan akibat dari suatu hasil yang dicapai oleh seseorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya. Menurut Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2001:205)dalamWibowo (2013:378) menyatakan bahwa: Motivasi merupakan proses psikologis yang membangkitkan dan mengarahkan perilaku pada pencapaian tujuan atau goal- directed behavior. Abraham Sperling dalam Mangkunegara (2013:93), mengemukakan bahwa “Motive is defined as a tendency to activity, started by a drive and ended by an adjustment. The adjustment is said to satisfy the motive”. (Motif didefinisikan sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas, dimulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri. Penyesuaian diri dikatakan untuk memuaskan motif). menurut Hasibuan (2007:95), motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Kemudian Uno (2007:1), mendefinisikan motivasi adalah suatu proses yangi kut menentukan intensitas, arah, ketekunan individu dalam usaha mencapai tujuan, motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai yang perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Serta sebuah dorongan untuk membangkitkan dan mengarahkan seorang untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki untuk mengarah kepada hasil atau tujuan yang diinginkannya.

Teori Motivasi (skripsi dan tesis)

1) Teori Hierarki Kebutuhan Menurut Maslow dalam Richard L. Daft (2011: 375) mengidentitifikasikan bahwa secara umum terdapat 5 jenis kebutuhan yang dapat memotivasi seseorang dan tersusun berdasarkan kepentingannya, yaitu sebagai berikut: a. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs) Kebutuhan fisiologis meliputi semua kebutuhan dasar fisik manusia seperti makanan, air, dan oksigen. Dalam ruang lingkup perusahaan hal ini termasuk kebutuhan-kebutuhan seperti kenyamanan suhu udara di tempat kerja, dan gaji minimum yang mencukupi kebutuhan pokok. b. Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety Needs) Kebutuhan ini mencakup semua kebutuhan terhadap lingkungan yang aman dan terlindungi dengan baik secara fisik maupun emosi serta bebas dari ancaman, termasuk lingkungan yang tertib dan kemerdekaan dari tindak kekerasan. Dalam ruang lingkup dunia kerja, kebutuhan ini meliputi keamanan kerja, bebas pungutan liar, dan jenis pekerjaan yang aman. c. Kebutuhan Untuk Diterima (Social Needs) Kebutuhan ini mencerminkan hasrat untuk diterima oleh lingkungan, hasrat untuk bersahabat, menjadi bagian dari suatu kelompok, dan dikasihi. Dalam organisasi, kebutuhan-kebutuhan ini mempengaruhi hasrat untuk memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja, berpartisipasi dalam kelompok kerja, dan memiliki hubungan yang baik dengan supervisor. d. Kebutuhan Untuk Dihargai (Self-esteem Needs) Kebutuhan ini berhubungan dengan hasrat untuk memiliki citra positif dan menerima perhatian, pengakuan, dan apresiasi dari orang lain. Dalam organisasi, kebutuhan untuk dihargai menunjukkan motivasi untuk diakui, tanggung jawab yang besar, status yang tinggi, dan pengakuan atas kontribusi pada organisasi. e. Kebutuhan Aktualisasi-Diri (Self Actualizations Needs) Kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk mengalami pemenuhan diri, yang merupakan kategori kebutuhan tertinggi. Kebutuhan ini di antaranya adalah kebutuhan untuk mengembangkan potensi diri secara menyeluruh, meningkatkan kemampuan diri, dan menjadi orang yang lebih baik. Kebutuhan aktualisasi diri dapat dipenuhi di organisasi dengan cara memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk tumbuh, mengembangkan kreativitas, dan mendapatkan pelatihan untuk dapat mengerjakan tugas yang menantang serta melakukan pencapaian. 2) Teori Kebutuhan McClelland David McClelland menganalisis tentang tiga kebutuhan manusia yang sangat penting di dalam organisasi atau perusahaan tentang motivasi mereka. McClelland memfokuskan kepada tiga hal yaitu:  a. Kebutuhan dalam mencapai kesuksesan (Need for achievement), kemampuan untuk mencapai hubungan kepada standar perusahaan yang telah ditentukan juga perjuangan karyawan untuk menuju keberhasilan. b. Kebutuhan dalam kekuasaan atau otoritas kerja (Need for power), kebutuhan untuk membuat orang berperilaku dalam keadaan yang wajar dan bijaksana di dalam tugasnya masing-masing. c. Kebutuhan untuk berafiliasi (Needs for affiliation), hasrat untuk bersahabat dan mengenal lebih dekat rekan kerja atau para karyawan di dalam organisasi. 3) Teori X dan Teori Y Douglas McGregor mengajukan dua pandangan yang berbeda tentang manusia, negatif dengan tanda label X dan positif dengan tanda label Y. McGregor merumuskan asumsi-asumsi dan perilaku manusia dalam organisasi. Teori X (negatif) merumuskan asumsi sebagai berikut: a. Karyawan sebenarnya tidak suka bekerja dan jika ada kesempatan dia akan menghindari atau bermalas-malasan dalam bekerja b. Semenjak karyawan tidak suka atau tidak menyukai pekerjaannya, mereka harus diatur dan dikontrol bahkan mungkin ditakuti untuk menerima sanksi hukum jika tidak bekerja dengan sungguhsungguh c. Karyawan akan menghindari tanggung jawabnya dan mencari tujuan formal sebisa mungkin d. Kebanyakan karyawan menempatkan keamanan di atas faktor lainnya yang berhubungan erat dengan pekerjaan dan akan menggambarkannya dengan sedikit ambisi. Sebaliknya teori Y (positif) memiliki asumsi-asumsi : a. Karyawan dapat memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang wajar, lumrah dan alamiah baik tempat bermain atau beristirahat, dalam artian berdiskusi atau sekedar teman bicara b. Manusia akan melatih tujuan pribadi dan pengontrolan diri sendiri jika mereka melakukan komitmen yang sangat objektif c. Kemampuan untuk melakukan keputusan yang cerdas dan inovatif adalah tersebar secara meluas di berbagai kalangan tidak hanya melulu dari kalangan top manajemen atau dewan direksi.  4) Teori ERG Teori ERG menyebutkan ada tiga kategori kebutuhan individu, yaitu eksistensi (existence), keterhubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth), karena itu disebut sebagai teori ERG, yang berupa: a. Kebutuhan eksistensi untuk bertahan hidup, kebutuhan fisik b. Kebutuhan keterhubungan adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain yang bermanfaat seperti keluarga, sahabat, atasan, keanggotaan di dalam masyarakat c. Kebutuhan pertumbuhan adalah kebutuhan untuk menjadi produktif dan kreatif, misalnya mdiberdayakan di dalam potensi tertentu dan berkembang secara terus-menerus. 5) Pola Dasar Pemikiran Teori Harapan (Expectancy Theory) Teori ini mengemukakan bahwa tindakan seseorang cenderung untuk dilakukan karena harapan hasil yang akan dia dapatkan. Dalam hal ini seperti harapan bonus, kenaikan gaji, promosi dan penghargaan. Lebih intinya, teori memfokuskan hubungan sebagai berikut: a. Effort-performance relationship, probabilitas yang akan diterima oleh individu dengan mengerahkan kemampuannya untuk suatu hasil kerja yang baik. b. Performance-reward relationship, tingkatan kepercayaan individu atas hasil kerja tertentu akan mengakibatkan harapan yang diinginkan. c. Reward-personal goal relationship, penghargaan organisasi atas seseorang mengakibatkan kepuasan individu di dalam bekerja (Veithzal, 2013: 610-615).

Defenisi Motivasi Kerja (skripsi dan tesis)

Motivasi (motivation) dapat diartikan sebagai kekuatan yang muncul dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang membangkitkan semangat serta ketekunan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan (Daft, 2011:373). Robbins (2009:222) mendefenisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Robert Heller menyatakan bahwa motivasi adalah keinginan untuk bertindak. Ada pendapat bahwa motivasi harus diinjeksi dari luar, tetapi sekarang semakin dipahami bahwa setiap orang termotivasi oleh beberapa kekuatan yang berbeda. Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2007:73) menyebutkan motivasi sebagai perubahan energy dari dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Menurut Malayu S.P. Hasibuan ( 2005:146) tujuan – tujuan dari motivasi kerja yaitu: a. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan. b. Meningkatkan produktifitas kerja karyawan. c. Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan. d. Meningkatkan kedisiplinan karyawan. e. Mengefektifkan pengadaaan karyawan. f. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik. g. Meningkatkan loyalitas, kreatifitas, dan partisipasi karyawan. h. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan. i. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugastugasnya. j. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku.

Defenisi Komunikasi yang Efektif (skripsi dan tesis)

Komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau “commo” dalam bahasa inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita berusaha untuk mencapai kesamaan makna, “commonness” (Subekhi, 2013: 274). Menurut Hardjana dalam Daryanto (2011:147), komunikasi akan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, kemudian pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan oleh si penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal itu. Sumber lain, Supratiknya (2010:24) mendefinisikan komunikasi yang efektif adalah seberapa jauh akibat dari tingkah laku seseorang yang sesuai dengan apa yang diharapkan komunikator. Seorang komunikator menciptakan komunikasi dengan tujuan tertentu, merancang gagasan, kesan dan menimbulkan reaksi-reaksi perasaan tertentu dalam diri komunikan. Keefektifitasan komunikasi ditentukan oleh kemampuan komunikator untuk mengomunikasikan secara jelas apa yang ingin disampaikan. Komunikator dapat meningkatkan keefektifitasan komunikasi dengan cara berlatih berbicara, menerima umpan balik tentang tingkah laku, memodifikasi tingkah laku hingga komunikan memersepsikan maksud komunikasi yang artinya sampai akibat – akibat yang ditimbulkan oleh tingkah laku komunikator dalam diri komunikan itu seperti yang komunikator maksudkan. Menurut Walter Lippman dalam Effendy (2005:11) juga menjelaskan komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang berusaha memilih cara yang tepat agar gambaran dalam benak dan isi kesadaran dari komunikator dapat dimengerti, diterima bahkan dilakukan oleh komunikan. Menurut Juliansyah Noor (2013:207) Komunikasi yang efektif terjadi apabila individu mencapai pemahaman bersama, merangsang pihak lain melakukan tindakan , dan mendorong orang untuk berpikir dengan cara baru.

indikator kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Suyadi Prawirosentono (2008: 27), kinerja dapat dinilai atau diukur dengan beberapa indikator, yaitu: a. Efektifitas Efektifitas yaitu bila tujuan kelompok dapat dicapai dengan kebutuhan yang direncanakan. b. Tanggung jawab Merupakan bagian yang tak terpisahkan atau sebagai akibat kepemilikan wewenang. c. Disiplin Yaitu taat pada hukum dan aturan yang belaku. Disiplin karyawan adalah ketaatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan perusahaan dimana dia bekerja. d. Inisiatif Berkaitan dengan daya pikir, kreatifitas dalam bentuk suatu ide yang berkaitan tujuan perusahaan. Sifat inisiatif sebaiknya mendapat perhatian atau tanggapan perusahaan dan atasan yang baik. Dengan perkataan lain inisiatif karyawan merupakan daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan. Stephen P Robbins (2006:260) menyatakan bahwa indikator untuk mengukur kinerja karyawan adalah: a. Kualitas kerja Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan. b. Kuantitas kerja Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan. c. Ketepatan waktu Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain. d. Efektivitas Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang , teknologi , bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya. e. Kemandirian Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat menjalankan fungsi kerjanya komitmen kerja. Merupakan suatu tingkatdimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap kantor. Pendapat lain mengenai pengukuran kinerja karyawan dikemukakan oleh Gomes (2003 : 134) yang menyatakan indikator-indikator kinerja karyawan adalah : a. Quantity of work : Jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan. b. Quality of work : kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya. c. Job Knowledge : Luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilannya. d. Creativeness : Keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dari tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul. e. Cooperation : kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain (sesama anggota organisasi). f. Dependability : Kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja tepat pada waktunya. g. Initiative : Semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya. h. Personal Qualities : Menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan, dan integritas pribadi. Berdasarkan masalah kinerja pada PT Langkat Nusantara Kepong, maka indikator kinerja karyawan pada penelitian ini yaitu: a. Efektifitas yaitu penyelesaian pekerjaan karyawan sesuai yang direncanakan dan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. b. Tanggung jawab yaitu melaksanakan kewajiban dan beban pekerjaan sesuai batas-batas pada job description. c. Disiplin yaitu kepatuhan karyawan terhadap peraturan yang berlaku di perusahaan.

Indikator Kinerja (skripsi dan tesis)

Menurut Suyadi Prawirosentono (2008: 27), kinerja dapat dinilai atau diukur dengan beberapa indikator, yaitu: a. Efektifitas Efektifitas yaitu bila tujuan kelompok dapat dicapai dengan kebutuhan yang direncanakan. b. Tanggung jawab Merupakan bagian yang tak terpisahkan atau sebagai akibat kepemilikan wewenang. c. Disiplin Yaitu taat pada hukum dan aturan yang belaku. Disiplin karyawan adalah ketaatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan perusahaan dimana dia bekerja. d. Inisiatif Berkaitan dengan daya pikir, kreatifitas dalam bentuk suatu ide yang berkaitan tujuan perusahaan. Sifat inisiatif sebaiknya mendapat perhatian atau tanggapan perusahaan dan atasan yang baik. Dengan perkataan lain inisiatif karyawan merupakan daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan. Stephen P Robbins (2006:260) menyatakan bahwa indikator untuk mengukur kinerja karyawan adalah: a. Kualitas kerja Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan. b. Kuantitas kerja Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan. c. Ketepatan waktu Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain. d. Efektivitas Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang , teknologi , bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya. e. Kemandirian Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan dapat menjalankan fungsi kerjanya komitmen kerja. Merupakan suatu tingkatdimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap kantor. Pendapat lain mengenai pengukuran kinerja karyawan dikemukakan oleh Gomes (2003 : 134) yang menyatakan indikator-indikator kinerja karyawan adalah : a. Quantity of work : Jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan. b. Quality of work : kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya. c. Job Knowledge : Luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilannya. d. Creativeness : Keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dari tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul. e. Cooperation : kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain (sesama anggota organisasi). f. Dependability : Kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja tepat pada waktunya. g. Initiative : Semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya. h. Personal Qualities : Menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan, dan integritas pribadi. Berdasarkan masalah kinerja pada PT Langkat Nusantara Kepong, maka indikator kinerja karyawan pada penelitian ini yaitu: a. Efektifitas yaitu penyelesaian pekerjaan karyawan sesuai yang direncanakan dan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. b. Tanggung jawab yaitu melaksanakan kewajiban dan beban pekerjaan sesuai batas-batas pada job description. c. Disiplin yaitu kepatuhan karyawan terhadap peraturan yang berlaku di perusahaan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor penentu pencapaian prestasi kerja atau kinerja karyawan dalam organisasi menurut Mangkunegara (2005:16-17) adalah sebagai berikut: a. Faktor Individu Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya (jasmaniah). Dengan adanya integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisik, maka individu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik. Konsentrasi yang baik ini merupakanmodal utama individu manusia untu mampu mengelola dan mendayagunakan potensi dirinya secara optimal dalam melaksanakan kegiatan atau aktivitas kerja sehari-hari dalam mencapai tujuan organisasi. b. Faktor Lingkungan Organisasi Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi yang efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai. Menurut Grifin dalam Sule dan Saefullah (2005:235) kinerja terbaik ditentukan oleh 3 faktor, yaitu: a. Motivasi, yaitu yang terkait dengan keinginan untuk melakukan pekerjaan b. Kemampuan, yaitu kapabilitas dari tenaga kerja atau SDM untuk melakukan pekerjaan c. Lingkungan pekerjaan,yaitu sumber daya dan situasi yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan tersebut.

Pengertian motivasi (skripsi dan tesis)

Istilah motivasi (Motivation) berasal dari bahasa Latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Rumusan motivasi berarti bahwa motivasi mewakili proses-proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela (volunteer) yang diarahkan ke arah tujuan tertentu (Winardi, 2007). Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang menuju sebuah tujuan. Kata motivasi berasal dari kata latin movere, yang bermakna bergerak. Namun motivasi melibatkan lebih dari sekedar gerakan fisik. Motivasi melibatkan gerakan fisik dan mental. Motivasi juga mempunyai dua sisi: gerakan dapat dilihat, akan tetapi motif harus disimpulkan (Simamora, 2004). Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan – kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Menurut Mc.Donald, motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan menurut Walgito (2002) menyatakan motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah tujuan. Nawawi (1998) mendefinisikan motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan seseorang mengerjakan pekerjaan secara sadar. Sementara Robbin (2007) menyebutkan bahwa motivasi sebagai kemampuan berjuang ke tingkat yang lebih tinggi guna mencapai tujuan. Handoko (2008) memberikan penjelasan mengenai motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan memlihara perilaku manusia. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut motivasi, antara lain kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (drive). Dalam hal ini akan digunakan istilah motivasi, yang diartikan sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya.

Langkah langkah pengukuran motivasi kerja (skripsi dan tesis)

Adapun langkah-langkah dalam mengukur motivasi kerja adalah sebagai berikut : 1. Membuat daftar pertanyaan untuk mengukut motivasi kerja dalam perusahan yang ada, pada dasarnya ada 3 jenis pertanyaan yang mendasar yang perlu diajukan. a. Pertanyaan I berisi peluang harapan tertentu jika telah berusaha bekerja sebaik mungkin. b. Pertanyaan II adalah valensi (V2) yaitu valensi atau penilaian (positif /negatif) yang diberikan orang-orang pada hasil-hasil (imbalan) yang diberikan perusahaan. Kuesioner ini berisi tentang penilaian karyawan akan imbalan yang didapat jika ia telah bekerja sebaik mungkin. c. Pertanyaan III adalah instrumental/pertautan yaitu keyakinan karyawan bahwa ia akan memperoleh imbalan atas pekerjaan yang telah diselesaikannya. Kuesioner ini berisi tentang kemungkinan imbalan yang dapat jika karyawan telah bekerja dengan baik. 2. Menghitung Skor Motivasi Kerja Integrasi dari konsep penting Teori Harapan diperoleh tida prinsip utama (Gibson,1996) : a. V1 = f ( V2 x I ) Keterangan : V1 = Usaha untuk mencapai Kinerja V2 = Penilaian terhadap hasil yang diperoleh I = Imbalan yang diperoleh dari penyelesaian tugas b. M = f ( V1 x E ) Keterangan : M = Motivasi V1 = Usaha untuk mencapai kinerja E = Harapan dari perilaku tertentu

Teori Harapan ( Expectanct Theory) (skripsi dan tesis)

Teori harapan ini dikemukan oleh Victor H. Vroom yang menyatakan bahwa kekuatan yang memotivasi seseorang untuk bekerja giat dalam mengerjkan pekerjaannya tergantung dari hubungan timbal-balik atara apa yang ia inginkan dan butuhkan dari hasil pekerjaan itu. Berapa besar ia yakin perusahaan akan memberikan pemuasan bagi keinginannya sebagai imbalan atas usaha yang dilakukannya itu. Teori harapan bertujuan untuk menentukan tindakan yang akan menghasilkan harapan yang diinginkan oleh seorang tenaga kerja. Teori ini menyatakan bahwa individu akan menilai strategi-strategi tindakan tertentu, seperti bekerja keras dan berusaha lebih dan akan melakukan tindakan yang diharapkan mendapatkan balasan seperti kenaikan gaji atau perhargaan yang bernilai bagi individu itu (Hasibuan,2013)

Teori Motivasi proses (skripsi dan tesis)

Menurut Hasibuan (2013) Teori motivasi proses pada dasarnya berusaha untuk menjawab pertanyaan “ bagaimana menguatkan, mengarahkan, memelihara dan menghentikan perilaku individu”, agar setiap individu bekerja giat sesuai dengan keinginan manajer. Bila diperhatikan secara mendalam, teori ini merupakan proses “ sebab dan akibat” bagaimana seseorang bekerja serta hasil apa yang akan diperolehnya. Teori motivasi proses terdiri atas : 1. Teori Harapan (Expectancy Theory) 2. Teori Keadilan (Equity Theory) 3. Teori Pengukuhan (Reinforcement Theory)

Teori Motivasi Human Relation (skripsi dan tesis)

Teori ini mengutamakan hubungan seseorang dengan lingkungannya, menurut teori ini seseorang akan berprestasi baik jika ia diterima dan diakui dalam pekerjaan serta lingkungannya. Teori ini menekankan peranan aktif pimpinan organisasi dalam memelihara hubungan dan kontak-kontak pribadi dengan bawahnya yang dapat membangkitkan gairah kerja. Teori ini menganjurkan bila dalam memotivasi bawahan memerlukan kata-kata, hendaknya kata-kata itu mengandung kebijakan sehingga dapat menimbulkan rasa dihargai dan sikap optimis (Hasibuan, 2013).

Teori Alderfer’s Existence, Relantedness and Growth (ERG) (skripsi dan tesis)

ERG theory ini dikemukan oleh Clayton Alderfer seorang ahli dari Yale University. Teori ini merupakan penyempurnaan dari teori kebutuhan yang dikemukan oleh A.H. Maslow. ERG teori ini oleh para ahli dianggap lebih mendekati keadaan sebenarnya berdasarkan fakta-fakta empiris (Arep dan Tanjung, 2003). Teori ERG mengemukakan bahwa ada 3 kelompok kebutuhan Kebutuhan akan keberadaan (Existence Need), berhubungan dengan kebutuhan dasar termasuk didalamnya Physicologycal Need dan Safety Need dari Maslow. 1. Kebutuhan akan Afiliasi (Relatedness Needs) dan juga bermasyarakat (social relationships). Kebutuhan ini berkaitan juga dengan status needs dari Maslow. 2. Kebutuhan akan kemajuan (Growth Needs), adalah keinginan intrinsic dalam dari seseorang untuk maju atau meningkatkan kemampuan pribadinya

Teori Mc. Clelland (skripsi dan tesis)

Dalam model ini lebih menekankan perhatian terhadap prestasi (Achievement). Ada 3 kebutuhan yang penting yaitu : a. Achievement (kebutuhan akan prestasi) Merupakan adanya keinginan untuk mencapai tujuan yang lebih baik daripada sebelumnya (Pencapaian Prestasi). Karyawan akan antusias berprestasi tinggi, asalkan kemungkinan untuk hal itu diberikan kesempatan. Karyawan menyadari bahwa hanya dengan pencapaian prestasi kerja yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. Dengan pendapatan ini karyawan dapat memiliki serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannnya. b. Affiliation (kebutuhan akan afiliasi) Merupakan kebutuhan untuk berinteraksi denga orang lain. Setiap karyawan membutuhkan perasaan diterima oleh orang lain dilingkungan ia hidup dan bekerja. Karyawan juga membutuhkan perasaan dihormati karena setiap manusia merasa dirinya penting. c. Power Merupakan kebutuhan kekuasaan yang mendorong seseorang bekerja sehingga termotivasi dalam pekerjaannya. Ego manusia yang ingin lebih berkuasa dari manusia lainnya sehingga menimbulkan persaingan. Persaingan ini oleh manajer harus ditumbuhkan secara sehat dalam memotivasi bawahannya, supaya mereka termotivasi untuk bekerja giat (Arep dan Tanjung, 2003).

Teori Herzberg (skripsi dan tesis)

Menurut Herzberg, kepuasaan manusia terdiri atas 2 hal yaitu puas dan tidak puas. Selanjutnya Pittsburgh melakukan studi yang kemudia melahirkan teori two faktor yaitu motivator (ada kepuasaan kerja atau perasaan prositif) dan Hygiene (ada perasaan negatif atau ketidakan puasan kerja). Dalam teori ini, faktor motivator harus ditingkatkan dan faktor Hygiene harus dikurang (Arep dan Tanjung, 2003). a. Motivation Faktors Motivation faktors adalah faktor motivator yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan sempurna dalam melakukan pekerjaan. Faktor motivasi ini berhubungan dengan perhargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan, misalnya kursi yang empuk, penempatan yang tepat dan lain-lain. Faktor-faktor ini adalah sebagai berikut : 1. Tercapainya tujuan 2. Pengakuan 3. Pekerjaan itu sendiri 4. Pertanggung jawaban 5. Peningkatan 6. Pengembangan b. Hygiene Faktors Faktor ini merupakan faktor yang berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentramaan badaniah. Faktor-faktor ini meliputi hal-hal sebagai berikut : 1. Kebijakan dan administarsi perusahaan 2. Pengawasan 3. Hubungan dengan pengawas 4. Kondisi kerja 5. Gaji 9 6. Hubungan dengan rekan kerja 7. Hubungan dengan bawahan 8. Status dan keamanan. Hilangnya suatu faktor menyebabkan timbulnya ketidakpuasan dan absenya karyawan, bahkan dapat menyebabkan banyak karyawan yang keluar.(Hasibuan,2013).

Teori Motivasi Klasik (skripsi dan tesis)

Teori motivasi klasik (teori kebutuhan tunggal) ini dikemukan oleh Frederick Winslow Taylor. Menurut teori ini motivasi para pekerja hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan biologis. Kebutuhan biologis adalah kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang (Hasibuan,2013).