Aktivitas Logistics (skripsi dan tesis)

Dalam Perpres No 26 Tahun 2012 terdapat 13 aktivitas-aktivitas logistik,
dimana salah satunya adalah reverse logistics. Hal ini menandakan kegiatan
logistik di Indonesia memiliki peraturan yang resmi yang jika dalam
pelaksanaannya tidak berjalan dengan baik maka akan ada sanksi terhadap
kelalaian tersebut. Lebih lengkapnya 13 kegiatan tersebut antara lain:
1. Customer Service (Pelayanan Pelanggan)
Pelayanan pelanggan merupakan suatu proses yang berlangsung
diantara pembeli, penjual dan pihak ketiga yang menghasilkan nilai tambah
untuk pertukaran produk atau jasa dalam jangka waktu pendek seperti transaksi
tunggal ataupun jangka panjang seperti hubungan berdasarkan kontrak. Nilai
tambah ini juga terbagi pada masing-masing kelompok transaksi atau kontrak,
yang dalam keadaan lebih baik pada penyelesaian transaksi dibandingkan
sebelum transaksi. Dengan demikian, customer service merupakan proses
penyediaan keuntungan nilai tambah yang penting pada supply chain dengan
cara efektif.
2. Demand Forecasting (Peramalan Permintaan)
Ramalan permintaan manajemen logistik menentukan berapa banyak
dari tiap barang yang diproduksi perusahaan yang harus diangkut keberbagai
pasar. Selain itu, manajemen logistik harus mengetahui di mana asalnya
permintaan sehingga dapat menempatkan dan menyimpan produk dengan
jumlah yang tepat disetiap area pasar. Perkiraan akurat tentang permintaan yang
akan datang memungkinkan manajer logistik untuk menyediakan sumber
(anggaran belanja) pada aktivitas-aktivitas yang akan melayani permintaan
tersebut. Pengambilan keputusan tanpa keyakinan akan kurang optimal karena
sangatlah sulit untuk menyediakan sumber sumber di antara aktivitas logistik
tanpa mengetahui jenis produk dan jasa yang akan diperlukan. Untuk itu,
sangatlah penting bagi organisasi untuk menjalankan beberapa tipe ramalan
permintaan dan mendiskusikan hasil tersebut dengan beberapa bagian
pemasaran, produksi, dan departemen logistik. Software komputer, analisis
trend, perkiraan pokok penjualan, ataupun metode lain dapat membantu
pembuatan ramalan yang diperlukan.
13
3. Inventory Management (Manajemen Persediaan)
Aktivitas pengendalian persediaan (Inventory control activity) bersifat
kritis karena membutuhkan finansial atas pemeliharaan persediaan produk yang
cukup untuk mempertemukan kebutuhan pelanggan dengan kebutuhan produksi.
Bahan baku dan komponennya, WIP (work in process), dan persediaan barang
jadi, semuanya menghabiskan ruang fisik, waktu kerja dan modal. Uang yang
diinvestasikan pada persediaan tidak tersedia untuk dipergunakan.
Alasan pengadaan persediaan dalam perusahaan :
1. Memungkinkan perusahaan mencapai skala ekonomis.
2. Menyeimbangkan persediaan dan permintaan.
3. Memungkinkan spesialisasi produksi.
4. Melindingi ketidak pastian permintaan dan siklus pemesanan.
5. Bertindak sebagai penyangga/buffer diantara interface yang bersifat kritis
dalam rantai pasok (Supply Chain).
Buffer pada Supply Chain meliputi :
1. Supplier – Procurement (purchasing)
2. Procurement – Production
3. Production – Marketing
4. Mareting – Distribution
5. Distribution – Intermediary/Retail
6. Intermediary/Retail – Customer