Untuk menemukan risiko-risiko potensial digunakan pendekatan yang terorganisir seperti manajemen risiko. Selanjutnya dapat diketahui dampak buruk dan pengembangan rencana respon yang sesuai untuk mengatasi risiko-risiko potensial (Kasidi, 2011). Manajemen risiko merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan risiko. Dimana di dalamnya terdapat perencanaan (planning), identifikasi (identification), penilaian (assessment), analisa (analysis), penanganan (handling), dan pemantauan (monitoring), terhadap risiko (Marques, 2013). Manajemen risiko harus dilakukan sejak awal dengan didukung informasi tersebut. Sehingga kondisi usaha yang sesungguhnya dapat menjadi jelas sebelum terlambat dan dapat terhindar dari kegagalan yang lebih besar. Melalui manajemen risiko akan dilakukan metode yang tepat untuk menghindari atau mengurangi besarnya kerugian yang diderita akibat risiko. Manajemen risiko yang baik dapat menghindari semaksimal mungkin biaya–biaya yang terpaksa harus dikeluarkan akibat terjadinya suatu peristiwa yang merugikan dan sebaliknya menunjang keuntungan perusahaan. Menurut Kasidi (2011) secara tidak langsung, manajemen risiko memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Memberikan pemahaman tentang risiko, efek dan keterkaitannya secara lebih baik dan pasti sehingga menambah keyakinan dalam pengambilan keputusan. 2. Meminimalisir jumlah kejadian di luar dugaan dan memberikan gambaran tentang akibat negatifnya sehingga mengurangi ketegangan dan kesalah pahaman. 3. Menangkal timbulnya hal-hal dari luar yang dapat menggangu kelancaran operasional 4. Membantu menyediakan sumber daya dengan baik 5. Menimbulkan kedamaian pikiran dan ketenangan kerja dalam bekerja. 6. Meningkatkan kesan publik perusahaan sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan terhadap karyawan dan masyarakat 7. Menstabilkan pendapatan Berdasarkan standar AS/NZS 4360 dalam Ramli (2010) proses manajemen risiko mencakup langkah sebagai berikut : 1. Menentukan konteks, 2. Identifikasi risiko 3. Penilaian risiko, meliputi analisa dan evaluasi risiko. 4. Pengendalian risiko 5. Komunikasi dan konsultasi 6. Pemantauan dan tinjau ulang Flanagan dan Norman (1993) mengemukakan langkah pertama dalam proses manajemen risiko adalah identifikasi risiko. Kualitas dari analisis kualitatif sangat ditentukan oleh identifikasi risiko. Kemudian risiko dikelola dengan baik sehingga tidak menjadi ancaman terhadap tujuan yang ingin dicapai.
