Harga Saham


Menurut Wardhani dkk (2022:39) Harga saham adalah harga yang ditetapkan oleh
suatu perusahaan terhadap entitas lain yang ingin memiliki hak kepemilikan saham atas
perusahaan tersebut. Sedangkan menurut Siregar (2021:22) Harga saham adalah indikator
pengelolaan perusahaan yang digunakan oleh investor untuk melakukan penawaran dan
perintaan saham. Semakin tinggi harga saham perusahaan maka semakin baik juga
perusahaan tersebut dalam memberikan keuntungan.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa harga
saham adalah harga yang ditetapkan oleh suatu perusahaan terhadap investor yang
terbentuk dari adanya permintaan dan penawaran saham.
Jenis- jenis harga saham adalah sebagai berikut:
a. Harga nominal
Harga yang tertera pada sertifikat saham yang ditetapkan oleh perusahaan untuk
menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besar kecilnya nilai harga nominal
sangat berpengaruh terhadap dividen yang akan diterima oleh investor karena jumlah
dividen minimal yang akan didapatkan oleh investor ditetapkan dari harga nominal.
b. Harga perdana
Harga pada waktu saham tersebut dicatat pada bursa efek. Harga saham pada pasar
perdana pada umumnya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan
perusahaan. Penentuan harga saham perdana dilakukan dengan melihat minat
pembelian saham saat masa bookbuilding dari investor.
c. Harga pasar
Harga dari perjanjian emisi pada investor atau bisa diartikan sebagai harga jual dari
investor satu dengan investor lainnya. Harga pasar terjadi setelah saham tercatat di
Bursa Efek Indonesia (BEI).
d. Harga pembukaan
Harga yang diminta oleh penjual dan pembeli pada saat jam bursa dibuka. Harga
pembukaan juga bisa diartikan sebagai harga pertama saat transaksi pasar saham
dimulai. Harga pembukaan terbentuk berdasarkan akumulasi jumlah penawaran jual
dan permintaan beli terbanyak pada periode Pra-pembukaan.
e. Harga penutupan
Harga yang diminta oleh penjual dan pembeli pada saat akhir hari bursa. Harga
penutupan saham biasanya akan menjadi acuan untuk harga pembukaan di keesokan
hari. Harga penutupan digunakan sebagai dasar perhitungan indeks saham suatu
perusahaan.
f. Harga tertinggi
Harga tertinggi yang terjadi saat hari bursa dimana harga ini bisa terjadi karena suatu
saham lebih dari satu kali pada harga yang sama
g. Harga terendah
Harga terendah yang terjadi saat hari bursa dimana harga ini bisa terjadi karena suatu
saham lebih dari satu kali pada harga yang sama.
Persepsi investor terhadap prospek saham dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal yang mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut. Faktor internal meliputi
kinerja perusahaan yang tercermin dari laporan keuangan dan aksi perusahaan. Faktor
eksternal meliputi perubahan suku bunga tabungan, kurs valuta asing, inflasi serta
kebijakan pemerintah di bidang makro ekonomi (Sunarso, 2022:20)

Pengertian Saham


Menurut Tannadi (2020:5) Saham adalah bukti atas bagian kepemilikan suatu
perusahaan yang berarti jika seseorang memiliki saham maka orang tersebut memiliki
bagian atas kepemilikan perusahaan. Besar kecilnya kepemilikan terhadap suatu
perusahaan ditentukan berdasarkan besarnya presentase saham yang dimiliki dari
keseluruhan saham perusahaan. Sedangkan menurut Handini dan Astawinetu (2020:60)
Saham diartikan sebagai berikut:
a. Tanda bukti penyertaan kepemilikan modal atau dana pada suatu perusahaan;
b. Kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan dan diikuti
dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya;
c. Persediaan yang siap untuk dijual.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa saham merupakan
surat yang menjadi bukti seseorang atas kepemilikan modal pada suatu perusahaan.
Menurut Handini dan Astawinetu (2020:61) Dalam pasar modal terdapat dua jenis
saham yang paling umum dikenal publik yaitu saham biasa (Common Stock) dan saham
istimewa (preference stock).
a. Saham biasa (Common Stock) adalah surat berharga yang dijual oleh suatu
perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya)
dimana pemegangnya diberi hak untuk mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) serta berhak
untuk menentukan membeli right issue (Penjualan saham terbatas) atau tidak yang
selanjutnya diakhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam bentuk dividen.
b. Saham istimewa (preference stock) adalah surat berharga yang dijual oleh suatu
perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya)
dimana pemegangnya akan memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk dividen yang
akan diterima setiap kuartal.

Pasar Modal


Pasar modal adalah tempat atau sarana pertemuan bagi perusahaan yang
membutuhkan dana dengan unit bisnis yang kelebihan dana. Menurut Hakim dan Sudaryo
(2022:21) pasar modal merupakan bagian dari pasar keuangan untuk jangka panjang
seperti saham, obligasi, hak, obligasi konversi serta penyelenggara pasar modal adalah
Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut Hakim dan Sudaryo (2022:25) pasar modal
memiliki fungsi ekonomi dan fungsi keuangan diantaranya:

  1. Fungsi Ekonomi
    Menyediakan fasilitas atau kendaraan untuk mempertemukan siapa saja yang
    memiliki kelebihan dana dan kekurangan dana. Hal ini diperlukan untuk
    pengembangan bisnis dan produktivitas;
  2. Fungsi Keuangan
    Memberikan kemungkinan dan kesempatan untuk mendapatkan return dengan
    membebankan biaya modal (cost of capital).
    Menurut Hakim dan Sudaryo (2022:26) jenis surat berharga yang secara umum
    diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) diantara lain:
    a. Saham adalah bukti kepemilikan modal di perusahaan yang diterbitkan atas nama
    atau atas unjuk, dibagi menjadi saham biasa dan saham preferen.
    b. Obligasi adalah dokumen jangka panjang dari utang jangka panjang yang
    diperdagangkan oleh pemerintah atau perusahaan swasta
    c. Obligasi Konversi adalah dokumen utang jangka panjang yang dapat ditebus
    menjadi saham biasa
    d. Right adalah pilihan yang diberikan kepada pemegang saham untuk membeli
    saham biasa dengan harga dibawah pasar dan waktu
    e. Warant adalah sama dengan hak tetapi harga saham sesuai dengan pasar dan waktu
    penawaran lebih Panjang

Manfaat Investasi


Menurut Chakim dkk (2023:176) terdapat manfaat investasi yang bisa didapatkan
oleh seorang investor, diantaranya sebagai berikut :
a. Terhindar dari Inflasi
Inflasi yang terjadi di setiap tahun membuaat nilai aset berkurang, dengan melakukan
investasi maka aset juga akan berkembang menghasilkan nilai tambah sehingga bisa
mengimbangi gerusan inflasi.
b. Meningkatkan nilai kekayaan / uang
Manfaat berikutnya adalah meningkatkan nilai kekayaan/ uang investor. Sebagai
contoh jika seseorang memiliki investasi berupa emas yang harga nya akan naik
disetiap tahunnya, hal tersebut akan menjadi sumber penghasilan tambahan untuk
meningkatkan nilai kekayaan.
c. Untuk kebutuhan mendesak
Jika seseorang berinvestasi, namun ditahun berikutnya mengalami keadaan dimana
membutuhkan dana untuk suatu kebutuhan, seorang investor dapat menggunakan
dana atau aset yang telah diinvestasikan.

Pengertian Investasi


Investasi dapat diartikan sebagai penanaman modal dalam suatu perusahaan
dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Menurut Suhardi dkk
(2022:1) investasi merupakan komitmen untuk mengorbankan konsumsi untuk
menanamkan sejumlah dana pada saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa
datang atau bisa diartikan juga komitmen untuk mengorbankan konsumsi sekarang
dengan tujuan memperbesar konsumsi di masa datang.
Menurut Suhardi dkk (2022:3) alasan khusus seseorang dalam berinvestasi adalah:
a. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang;
b. Untuk mengurangi tekanan inflasi dikarenakan jika seseorang melakukan investasi
dapat menghindarkan diri dari risiko penurunan nilai kekayaan atau hak milik akibat
adanya inflasi;
c. Sebagai dorongan untuk menghemat pajak, dimana beberapa negara mendorong
tumbuhnya investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada
masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang tertentu.

Uji Heteroskedastisitas


Uji Heteroskedastisitas menentukan apakah residual atau pengamatan
memiliki varian yang tidak merata dibandingkan dengan pengamatan lainnya.
Penyimpangan heteroskedastisitas menurut Sugiyono (2020), heteroskedastisitas
menunjukkan bahwa variansi variabel model tidak konstan (Sahir, 2021). Pengujian
heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser yang melibatkan
regresi nilai absolut residual terhadap variabel independen perlu dilakukan nilai
absolut residual terhadap variabel independen. Sebagai dasar untuk membuat
penilaian, probabilitas dievaluasi dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 maka
hipotesis diterima karena data tidak memiliki heteroskedastisitas.
2) Jika nilai signifikansi atau probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis
ditolak karena terjadi heteroskedastisitas pada data.

Uji Multikolonieritas


Uji multikolonieritas merupakan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan
yang tinggi antara variabel bebas (Sahir, 2021). Untuk mendeteksi
Multikolonieritas menggunakan metode Varianca Inflation Factor (VIF). VIF
merupakan variance inflation faktor. Ketika Rj2 mendekati satu atau dengan kata
lain ada kolinearotas variabel indenpenden maka VIF akan naik dan jika Rj2 = 1,
maka nilai tidak terhingga. Jika nilai VIF semakin membesar, maka diduga ada
Multikolonieritas. Masalah Multikolonieritas juga bisa dideteksi dengan melihat
nilai tolerance. Nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) dapat
digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya multikolinieritas.
Tolerance Dan Variance Inflation Factor (VIF). Model regresi dengan angka
tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10 dianggap bebas dari multikolinieritas. Gejala
multikolinearitas ada jika nilai tolerance kurang dari 0,1 dan nilai VIF lebih besar
dari 10

Uji Autokorelasi


Uji autokorelasi digunakan untuk menilai apakah ada perbedaan korelasi
antara residual satu observasi dengan residual model regresi lainnya (Sahir, 2021).
Uji autokorelasi sering dilakukan pada data deret waktu, oleh karena itu data ordinal
atau interval tidak perlu diautokorelasi.
Kriteria pengambilan kesimpulan:
Jika DW < dL atau DW > 4 – dL, maka terdapat autokorelasi.
Jika dua < DW < 4 – dU, maka tidak terdapat autokorelasi.
Jika dl ≤ DW ≤ dU ATAU 4 – dU ≤ dL, uji Durbin Watson tidak menghasilkan
kesimpulan yang pasti (inconclusive)

Uji Normalitas


Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel independen dan
dependen terdistribusi normal atau tidak (Sahir, 2021). Model regresi yang layak
harus menyertakan analisis grafis dan pengujian statistik, penelitian ini
menggunakan uji Kolmogorov Smirnov untuk menentukan normalitas data pada
penelitian ini dengan pengecualian berikut:
1) Jika nilai probabilitas atau nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka
hipotesis diterima karena data terdistribusi secara teratur.
2) Hipotesis ditolak jika nilai signifikansi atau nilai probabilitasnya kurang dari
0,05 karena data tidak terdistribusi teratur

Kurtosis


Kurtosis adalah tingkat ketinggian atau kemiringan puncak suatu
distribusi. Distribusi leptokurtik memiliki puncak yang sangat tinggi,
distribusi platikurtik memiliki puncak yang datar atau rata, dan distribusi
mesokurtik memiliki puncak yang berada di tengah-tengah, tidak terlalu
runcing dan tidak terlalu datar (Atqan & Kudus, 2023). Menurut Supangat
(2007), karakteristik distribusi tersebut dapat dilihat berdasarkan nilai
kurtosis, dimana:
1) Jika nilai kurtosis > 3, maka berdistribusi Leptokurtik.
2) Jika nilai kurtosis < 3, maka berdistribusi Platikurtik.
3) Jika nilai kurtosis = 3, maka berdistribusi Mesokurtik

Skewness


Skewness adalah tingkat asimetri atau, sebagai alternatif,
penyimpangan distribusi dari simetri. Sebuah distribusi dikatakan miring ke
kanan, atau memiliki kemiringan positif, jika kurva frekuensinya
menunjukkan ekor yang lebih besar di sisi kanan dari nilai maksimum tengah
daripada di sisi kiri (Atqan & Kudus, 2023). Menurut Ghozali (2016)
karekteristik distribusi berdasarkan nilai skewness dibagi menjadi 3, yaitu:
1) Skewness = 0 menunjukkan plot distribusi simetris, yang berarti bahwa
rata-rata, median, dan modus akan sama.
2) Skewness positif (skewness > 0) mengindikasikan bahwa plot
distribusinya akan condong ke kiri (ekor distribusinya berada di
sebelah kanan). Kemudian nilai rata-rata tersebut akan lebih besar dari
nilai median dan lebih besar dari modus.
3) Skewness negatif (skewness < 0) mengindikasikan bahwa plot
distribusinya akan condong ke kanan (ekor distribusi berada di sebelah
kiri). Berarti nilai rata-rata akan lebih kecil dari nilai median dan lebih
kecil dari modus

Pengaruh Return On Equity (ROE) Terhadap Harga Saham


Menurut Kasmir (2022) Profitabilitas modal sendiri, sering dikenal sebagai
Return On Equity (ROE), adalah rasio yang digunakan untuk mengevaluasi laba
bersih (setelah pajak) yang dihasilkan oleh modal sendiri. Efisiensi penggunaan
modal perusahaan ditunjukkan oleh rasio ini. Kinerja perusahaan meningkat dengan
Return On Equity (ROE) yang lebih tinggi. Hal ini menggambarkan seberapa kuat
pemilik perusahaan sebaliknya, Return On Equity (ROE) yang lebih rendah
menunjukkan posisi yang lebih lemah. Indikator penting bagi investor adalah
Return On Equity (ROE), yang mengindikasikan seberapa baik bisnis
menggunakan uang pemegang saham untuk menghasilkan laba. Lebih banyak laba
yang dihasilkan dengan investasi yang lebih sedikit diindikasikan dengan Return
On Equity (ROE) yang lebih tinggi, yang secara umum dianggap sebagai hal yang
baik. Banyak variabel, seperti margin laba perusahaan, perputaran aset, dan tingkat
utang, dapat memengaruhi Return On Equity (ROE).
Pengujian Return On Equity (ROE) dilakukan oleh Saputro & Yuliati (2022)
hasil penelitian dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa secara parsial
temuan Return On Equity (ROE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga
saham berbanding terbalik dari pengujian Return On Equity (ROE) dilakukan oleh
Rizal (2022) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham

Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Harga Saham


Menurut Hanafi & Halim (2018) Debt to Equity Rasio (DER), menghitung
potensi keuntungan perusahaan untuk pemegang saham biasa setelah dikurangi
distribusi saham preferen dan biaya terkait utang. Salah satu faktor solvabilitas yang
digunakan untuk mengevaluasi kapasitas perusahaan dalam melunasi utang jangka
panjang adalah Debt to Equity Rasio (DER). Semakin besar Debt to Equity Ratio
(DER), semakin sulit bagi bisnis untuk melunasi utang jangka panjangnya.
Akibatnya, sebelum melakukan investasi atau memberikan pinjaman, kreditur dan
investor sering menggunakan rasio ini untuk mengevaluasi risiko keuangan yang
dihadapi perusahaan.
Pengujian Debt to Equity Ratio (DER) dilakukan oleh Rizal (2022) hasil
penelitian dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa secara parsial temuan
analisis yang tidak sepenuhnya lengkap mengenai Debt to Equity Ratio (DER) tidak
menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap harga saham berbanding terbalik dari
pengujian Debt to Equity Ratio (DER) dilakukan oleh Yulianti (2020) berpengaruh
terhadap harga saham

Pengaruh Return On Assets (ROA) Terhadap Harga Saham


Menurut Sukamulja (2019) Return On Assets (ROA) adalah rasio yang
mengevaluasi seberapa baik sebuah perusahaan menggunakan asetnya untuk
menghasilkan laba dan seberapa besar laba yang dihasilkan perusahaan secara
keseluruhan. Bagi investor dan analis untuk menilai profitabilitas dan efisiensi
perusahaan, laba atas aset Return On Assets (ROA) adalah indikator penting. Return
On Assets (ROA) dapat digunakan untuk melacak kesuksesan perusahaan dari
waktu ke waktu atau untuk membandingkan kinerja banyak bisnis di industri yang
sama. Peningkatan laba atas aset Return On Assets (ROA) adalah hal yang baik bagi
investor karena ini berarti perusahaan menghasilkan lebih banyak uang per lembar
aset.
Pengujian Return On Assets (ROA) dilakukan oleh Hasanah & Purnama
(2022) hasil penelitian dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa secara
parsial Return On Assets (ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga
saham berbanding terbalik dari pengujian Return On Assets (ROA) dilakukan oleh
Choiriyah et al (2021) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham
Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Return On Equity (ROE)


Profitabilitas modal sendiri, sering dikenal sebagai Return On Equity (ROE),
adalah rasio yang digunakan untuk mengevaluasi laba bersih (setelah pajak) yang
dihasilkan oleh modal sendiri. Efisiensi penggunaan modal perusahaan ditunjukkan
oleh rasio ini. Kinerja perusahaan meningkat dengan Return On Equity (ROE) yang
lebih tinggi. Hal ini menggambarkan seberapa kuat pemilik perusahaan sebaliknya,
Return On Equity (ROE) yang lebih rendah menunjukkan posisi yang lebih lemah
(Kasmir, 2022). Menurut Hanafi & Halim (2018) Return On Equity (ROE) ialah
adalah metrik penting bagi investor karena menunjukkan seberapa baik modal
pemegang saham digunakan untuk menghasilkan laba Return On Equity (ROE)
yang lebih tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik, yang didefinisikan sebagai
laba yang lebih tinggi dengan investasi yang lebih rendah. Return On Equity (ROE)
dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk margin laba, perputaran aset, dan
tingkat utang. Menurut Mardiyanto (2009) Return On Equity (ROE) yang lebih
besar menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan modal sendiri secara lebih
produktif. Perusahaan menggunakan modalnya secara lebih efektif untuk
menghasilkan laba bagi pemegang saham. Saham dengan laba bersih atas ekuitas,
Return On Equity (ROE) yang tinggi akan menarik minat investor, yang akan
meningkatkan permintaan atas saham tersebut dan pada akhirnya menaikkan harga
saham per lembar.

Return On Assets (ROA)


Return On Assets (ROA) adalah rasio yang mengevaluasi seberapa baik
sebuah perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba dan seberapa
besar laba yang dihasilkan perusahaan secara keseluruhan (Sukamulja, 2019).
Menurut Hanafi & Halim (2018) Return On Assets (ROA) adalah ukuran yang
menilai seberapa baik sebuah bisnis menghasilkan laba dengan memperhitungkan
seluruh nilai aset yang dimilikinya serta biaya pembiayaan yang terkait dengan aset
tersebut. Return On Assets (ROA) adalah rasio penting yang digunakan oleh para
analis dan investor untuk menilai efisiensi dan profitabilitas perusahaan. Return On
Assets (ROA) dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja berbagai perusahaan
dalam industri yang sama atau untuk melacak kesuksesan perusahaan dari waktu ke
waktu. Peningkatan Return On Assets (ROA) menggembirakan bagi investor
karena ini menunjukkan bahwa bisnis dapat menghasilkan lebih banyak uang per
unit aset yang dimiliki. Menurut Dimitropoulos & Asteriou (2009) Return On
Assets (ROA) yang lebih tinggi akan diterima dengan baik oleh investor dan
berdampak baik pada valuasi perusahaan. Hal ini akan meningkatkan permintaan
terhadap saham perusahaan dan menaikkan harga saham

Harga Saham


Harga saham adalah salah satu indikator utama untuk mengukur kinerja
perusahaan dan juga satu-satunya faktor yang menentukan kekayaan pemegang
saham. Perubahan harga saham didasarkan pada informasi yang terkait dengan
perusahaan dan pasar secara keseluruhan (Singh, 2018). Harga saham adalah nilai
pasar dari sebuah saham yang dilaporkan oleh harga penutupan pada akhir setiap
hari perdagangan. Harga saham di pasar modal sangat bervariasi dari satu kerangka
waktu ke kerangka waktu berikutnya. Keseimbangan antara penawaran dan
permintaan menentukan seberapa besar nilai indeks berfluktuasi. Nilai indeks
saham akan turun jika penawaran melebihi permintaan dalam hal harga. Di sisi lain,
indeks harga saham akan naik jika permintaan keseluruhan untuk sekuritas lebih
besar daripada penawaran keseluruhan. Harga saham menggambarkan tingginya
kemampuan permintaan dibedakan dengan kemampuan penawaran ke suatu
saham, sementara itu meningkatnya pemodal yang hendak menjual tetap maka
harga saham akan naik, jika lebih banyak investor yang ingin menjual
sahamnya dari pada investor yang ingin membeli saham (Ahmad & Badri, 2022).
Faktor yang menyebabkan naik dan turunnya harga saham menurut Fahmi (2018)
berikut adalah beberapa kondisi dan situasi yang memengaruhi terjadinya fluktuasi
harga satuan saham:
1) Situasi ekonomi makro dan mikro.
2) Kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan pertumbuhan, seperti
pembukaan kantor cabang dan kantor cabang pembantu baik di dalam
maupun luar negeri.
3) Perubahan mendadak pada keanggotaan direksi.
4) Direksi atau komisaris perusahaan yang sedang mengikuti proses hukum
yang sedang berlangsung di pengadilan.
5) Penurunan kinerja bisnis secara konsisten.
6) Risiko sistemik yang berdampak pada seluruh organisasi.
7) Bagaimana efek psikologis pasar memengaruhi aspek teknis pembelian
dan pelepasan saham.

Jenis – Jenis Saham


Saham merupakan investasi yang paling sering diperdagangkan di Bursa
Efek. Darmadji, T. D. (2001) menegaskan bahwa berbagai jenis saham dapat
dikategorikan dari berbagai sudut pandang yaitu.
1) Saham Biasa (Common Stock)
Jenis saham yang dikenal sebagai saham biasa memberikan hak kepada
pemiliknya untuk mendapatkan sebagian keuntungan atau kerugian perusahaan.
Pemegang saham biasa memiliki hak terakhir atas dividen dari penjualan aset
perusahaan jika perusahaan bangkrut (Aziz et al., 2015). Ciri -ciri saham biasa
adalah sebagai berikut:
a) Dividen dibayarkan selama bisnis menguntungkan.
b) Hak suara didasarkan pada jumlah saham yang dimiliki.
c) Hak atas sebagian kekayaan perusahaan, yang akan dibagikan terakhir jika
terjadi kebangkrutan, setelah semua kewajiban dilunasi.
2) Saham Prefen (Preferred Stock)
Saham preferen dijamin pembayaran dividennya, dan jika terjadi kerugian
bisnis, pemegang saham preferen akan memiliki hak pertama atas hasil penjualan
aset. Saham preferen menggabungkan karakteristik saham biasa dan obligasi (Aziz
et al., 2015). Adapun ciri – ciri dari saham preferen menurut Siamat (2004) adalah:
a) Preferensi untuk pembayaran dividen.
b) Tidak memiliki kemampuan untuk memberikan suara.
c) Mampu mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh manajemen
perusahaan, terutama ketika tawar-menawar dengan dewan.
d) Jika bisnis dilikuidasi, dibayar sesuai dengan nilai nominal saham setelah
kreditur

Saham


Saham menjadi bukti kepemilikan bagi para trader, investor institusi, dan
investor perorangan atas porsi modal yang mereka investasikan di sebuah
perusahaan. Beberapa keistimewaan saham adalah adanya kemungkinan
keuntungan atau kerugian, opsi untuk membeli hak memesan efek terlebih dahulu
(HMETD) atau melakukan penawaran saham terbatas (rights offering), hak untuk
memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), serta
kemampuan untuk menerima dividen. Menurut koetin (2002) “ saham adalah kertas
yang dicetak dengan bagus, yang membuktikan bahwa pemegangnya turut serta
atas partisipasi dalam modal suatu perusahaan, biasanya suatu perseroan terbatas
(PT).” Salah satu cara untuk memaknai saham adalah sebagai simbol kepemilikan
dalam perusahaan penerbit instrumen keuangan (Azis et al., 2015)

Pasar Modal


Pasar modal adalah tempat untuk perdagangan jangka pendek dan jangka
panjang berbagai instrumen keuangan, termasuk utang dan saham, yang diterbitkan
oleh pemerintah, otoritas publik, dan bisnis swasta. Undang – undang Republik
Indonesia nomor 8 tahun 1995 tanggal 10 November 1995
tentang pasar modal memberikan pengertian pasar modal, yaitu “Kegiatan yang
bersangkutan dengan perdagangan umum dan perdagangan efek, perusahaan publik
yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan efek.”
Harga yang wajar untuk sekuritas yang telah ditawarkan kepada masyarakat
umum ditentukan oleh penawaran dan permintaan di pasar modal, yang juga
berfungsi sebagai platform yang berkelanjutan untuk sekuritas tersebut. Intinya,
pasar modal sebagai sarana pertemuan penjual dan pembeli efek di BEI dengan
misi, yaitu mempercepat proses perluasan partisipasi masyarakat dalam memiliki
saham – saham perusahaan, pemerataan pendapatan masyarakat melalui
kepemilikan saham perusahaan, menggairahkan partisipasi masyarakat dalam
mengarahkan dan perhimpunan dana untuk digunakan secara produktif (Aziz et al.,
2015).

Signaling Theory


Perubahan harga saham di pasar dan dampaknya terhadap keputusan investor
adalah subjek dari Signaling Theory. Keadaan pasar sangat dipengaruhi oleh
respons investor terhadap sinyal positif dan negatif investor dapat mengadopsi
metode yang berbeda, seperti membeli saham yang ditawarkan atau memilih untuk
tidak melakukan apa pun dan mengamati situasi yang terjadi sebelum bertindak.
Perilaku seperti ini bukanlah kesalahan, melainkan upaya investor untuk
mengurangi potensi risiko yang lebih tinggi yang disebabkan oleh ketidakpastian
kondisi pasar (Fahmi, 2015). Menurut Karewur (2016) Signaling Theory adalah
teori yang menitikberatkan pada rujukan atau sinyal atau pun tanda-tanda dari
adanya laporan keuangan. Keadaan finansial suatu perusahaan dapat diperoleh
dengan mengadakan interpretasi atau analisis terhadap data finansial yang ada.
Data finansial tersebut tercermin dalam laporan finansialnya. Laporan finansial
memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansial perusahaan, dimana neraca
mencerminkan nilai aktiva, hutang, modal sendiri dan modal asing pada saat
tertentu. Signaling Theory menjelaskan terkait bagaimana suatu pihak dapat
menyediakan informasi yang kredibel tentang dirinya sendiri kepada pihak lain,
sehingga asimetris informasi dapat diredam. Asumsinya bahwa berbagai
informasi yang diungkapkan tersebut akan diterima sebagai sinyal oleh para
pelaku pasar (Budastra, 2023)

Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham


Terdapat signalling theory dimana entitas akan memberi update mengenai
keadaan manajemen entitas, kegiatan atau project akan sedang atau akan
dijalankannya. Sinyal negatif yang berupa penurunan dividen atas laba entitas
akan berdampak munculnya keraguan investor untuk menginvestasikan dananya
dalam entitas. Karena penurunan ini menunjukkan bahwa laba yang diperoleh
lebih rendah daripada target sehingga akan memengaruhi permintaan investor dan
harga saham juga tentunya akan terpengaruh. Jika pengumuman yang dikeluarkan
bernilai positif, maka stock buyer akan bertambah sehingga harga saham akan
meningkat (Narayanti & Gayatri, 2020:529-530)

Pengaruh Leverage Terhadap Harga Saham


Ratio solvabilitas atau leverage menunjukkan angka atau jumlah dana yang
tersedia oleh shareholders untuk membayarkan kepada pihak kreditur. Semakin
tinggi nilai rasio solvabilitas mendefinisikan bahwa dana yang tersedia kecil,
dimana tingkat utang entitas lebih tinggi disbanding dengan nilai aset atau
ekuitasnya, dengan kata lain beban entitas tersebut semakin besar (Zaki et al.,
2017:60).
Dengan beban yang besar, maka tentunya resiko untuk diinvestasi akan
semakin tinggi. Tetapi perusahaan bisa juga mengalihkan dana utangnya untuk
membeli aset-aset perusahaan agar dapat mendapatkan penghasilan yang lebih.
Karena beresiko, tidak semua investor berani untuk melakukan penanaman modal
pada entitas ini. Apabila banyak pemasok modal yang menamamkan modalnya
pada entitas, maka stock price akan meningkat dan sebaliknya jika jumlah
investor yang berinvestasi sedikit, maka stock price juga akan menurun
(Sigalingging, 2018:60)

Pengaruh Stuktur Modal Terhadap Harga Saham


Terdapat pernyataan bahwa nilai suatu perusahaan mencerminkan harga
sahamnya. Sementara itu, Franco Modigliani & Merton Miller (MM)
mengungkapkan bahwa struktur modal tidak berdampak terhadap company value
(Sartono, 2016:231). Tanpa sengaja, MM melawan pernyataan dimana company
value akan meningkat apabila proporsi kewajiban perusahaan semakin tinggi. MM
melakukan perbandingan dua entitas berdasarkan pernyataan tadi yang
menyatakan bahwa entitas yang memiliki struktur modal berbeda maka nilai
perusahaan juga akan beda sehingga akan adanya arbitrase yang terjadi. Pemasok
modal akan melakukan penjualan saham entitas yang nilai kewajibannya besar
dan membeli saham entits yang nilai kewajibannya lebih rendah. Kejadian ini
akan mengakibatkan kenaikan harga saham pada entitas yang jumlah kewajiban
rendah karena banyak permintaan yang terjadi, sebaliknya harga saham entitas
dengan jumlah kewajiban yang tinggi akan menurun karena akan ada banyak
penawaran yang terjadi, hal tersebut akan berlangsung hingga harga saham kedua
entitas tersebut setara. Kemudian MM juga mengungkapkan bahwa dengan
munculnya pajak, apabila proporsi kewajiban entitas tinggi maka harga saham
entitas akan semakin tinggi (Sartono, 2016:xv). Sebab retur yang diterima
shareholders berasal dari earning after tax dan retur yang diterima pemilik utang
berasal dari earning before tax. Maka penggunaan utang akan mengakibatkan
earning after tax bagi shareholders lebih banyak daripada jika entitas tidak
menggunakan utang

Teori tax preference


Teori tersebut mengungkapkan bahwa investor lebih tertarik pada
capital gains atau pendapatan dari hasil penjualan saham, reksa dana,
dan lainnya daripada dividen yang akan diterima. Hal tersebut
disebabkan oleh pandangan berupa perbeaaan tax yang mesti dibayarkan
ketika penerimaan dividend dan capital gains. Pajak dalam pembelian
dan penjualan saham atau item investasi lainnya lebih rendah daripada
dividen. Sehingga rata-rata yang dinantikan investor yaitu berita
penjualan item investasi yang berhasil daripada mendengar berita
dividen

Bird in The Hand Theory


Apabila dijelasin dalam Bahasa Indonesia akan berbunyi “teori burung
yang telah ketangkap”, yang bermaksud seekor burung dalam telapak
tangan berharga lebih tinggi daripada ratusan burung yang berterbangan
di udara. Teori ini mendukung pendapat kebijakan dividen penting
dalam pergerakan harga saham. Seandainya nilai dividen yang
dibayarkan ke investor besar, maka akan lebih banyak yang akan
menginvestasi dalam perusahaan, dengan begitu pergerakan harga
saham juga akan meninggi. Karena pergerakan stock price tergantung
pada permintaan dan penawaran yang dilakukan masyarakat.

Teori dividend irrelevance


Yang merupakan suatu teori yang mengungkapkan bahwa dividend
policy tidak relavan atau berkaitan sedikitpun dengan stock price dan
company value. Munculnya pernyataan tersebut karena adanya
anggapan bahwa pergerakan company value pada hakikatnya
diakibatkan oleh efisiensi penggunaan aktiva dan penghasilan yang
diperoleh serta manajemen suatu perusahaan

Kebijakan Dividen


Dividend policy menurut (Narayanti & Gayatri, 2020:529) yaitu suatu
keputusan penting dimana entitas perlu memastikan pengalokasian laba yang
diterima entitas, apakah akan dibayarkan kepada shareholders sebagai dividend
atau akan disimpan untuk penambahan modal usaha untuk perkembangan nilai
perusahaan.
Menurut (Ermiati et al., 2019:132) kebijakan dividend ialah keputusan yang
ditetapkan entitas mengenai laba yang akan dihasilkan pada akhir tahun akankah
dilakukan pembagian dividend, atau akan ditahan sebagai modal penggunaan pada
investasi pengembangan entitas di masa akan datang.
Menurut (Hakami, 2018:74), dividend policy adalah kebijakan yang
berkaitan dengan penetapan pembagian earning yang didapatkan, antara
membayarkan dividen pemegang saham atau disetor ke dalam perusahaan dan
menurut (Sartono, 2016:281) policy dividen merupakan ketetapan antara
TIE=
Laba sebelum pajak dan bunga
Beban bunga
LTDTC=
Total kewajiban jangka panjang
Total capital
Rumus 2. 4 Long-term
Debt to Total Capital
Rumus 2. 5 Times
Interest Earned
21
membayarkan laba yang diterima ke shareholders sebagai dividen atau
menanamkannya ke perusahaan sebagai laba ditahan. Menurut (Ainun, 2019:231)
dividend policy yaitu keputusan manajemen entitas dalam penentuan pembagian
dividen atau menunda pembagian dividen untuk penggunaan dana sebagai laba di
tahan.
Berdasarkan pengertian kebijakan dividen yang dikemukakan peneliti lain,
maka kesimpulan yang dapat dikutip peneliti yakni bahwa kebijakan dividen
merupakan suatu ketentuan yang ditetapkan entitas dalam rangka mengalokasikan
pendapatan akhir periode, anatara membayar dividen atau ditahan dalam bentuk
ekuitas perusahaan untuk mengembangkan kegiatan entitas kedepanny

Leverage


Menurut Harahap, ratio solvabilitas ialah rasio yang digunakan dalam
menilai jumlah perbandingan liabilitas dan ekuitas perusahaan dalam rangka
menjalankan aktivitas operasional (Sigalingging, 2018:60). Adapaun pengertian
leverage ratio yang diungkapkan oleh (Zaki et al., 2017:59) yaitu ilustrasi kinerja
perusahaan dalam memanfaatkan aktiva yang mengandung fixed assets fund untuk
meningkatkan pendapatan yang diperoleh pemilik perusahaan.
Menurut (Saprudin, 2019:21) rasio solvabilitas yaitu suatu ratio yang dapat
mencerminkan kesangguupan suatu entitas dalam melunaskan semua utangutangnya. (Savitri & Oetomo, 2016:2) mendefinisikan leverage ratio sebagai rasio
yang diterapkan untuk menghitung proporsi antara setoran modal pribadi atau
shareholders’ equity dan pinjaman dari kreditor.
Leverage menurut (Sartono, 2016:257) adalah pemanfaatan aset dan source
of funds bagi entitas yang mempunyai fixed asset funds untuk memperbesar
tingkat keuntungan potensial bagi para pemegang saham.
Berdasarkan definisi yang disampaikan peneliti lain di atas, dapat
dirangkum oleh peneliti bahwa rasio leverage adalah rasio yamg digunakan oleh
entitas dalam menghitung kesanggupan entitas untuk melunasi segala utangutangnya. Maka semakin tinggi nilai leverage semakin baik, karena tingginya
nilai leverage berarti bahwa semakin mampu entitas membayar kewajibankewajibannya.
(Hery, 2017:13-14) merumskan beberapa manfaat serta tujuan rasio
solvabilitas, yakni:

  1. Mengetahui nilai total liabilitas entitas terhadap kreditur, terutama
    apabila dibandingkan dengan total harta atau ekuitas yang dimiliki
    entitas.
  2. Mengetahui nilai liabilitas jangka panjang entitas pada total modal yang
    dimiliki entitas.
  3. Mengukur kesanggupan harta entitas dalam menutupi semua liabilitas,
    termasuk pembayaran angsuran pinjaman dan bunganya.
  4. Mengukur kemampuan entitas dlam melunasi bunga pinjaman.
  5. Mengukur kemampuan entitas dalam menutupi seluruh liabilitas.
    Adapun beberapa rumus dalam menganalisis tingkat leverage, yakni
    (Prihadi, 2019:228-231):
  6. Debt-to Total Capital
    Yaitu perbandingan antara seluruh kewajiban baik lancar maupun tidak
    lancar terhadap seluruh sumber dana atau gabungan kewajiban dengan
    modal pribadi.
  7. Long-Term Debt to Total Capital
    Yaitu proporsi antara kewajiban jangka panjang dan seluruh sumber
    dana (capital).
  8. Times Interest Earned/TIE
    Yaitu rasio yang menganalisa seberapa banyak laba yang dipakai dalam
    membayar beban bunganya.

Pecking Order Theory


Merupakan teori dimana entitas akan menjalankan kebijakan tersebut
dalam memperoleh dana tambahan dengan melakukan penjualan barang
atau aset entitas yang berupa gedung, tanah, dan aset-aset tetap lain yang
dapat mengakibatkan kekurangan aset yang dapat dipakai.
Adapun solusi untuk mengurangi resiko penerapan kebijakan tersebut,
yakni:
a) Sesuai skala prioritas, yaitu hanya menjual aset-aset yang kurang
digunakan dan yang memiliki nilai atau value sesuai dengan dana
atau uang yang dibutuhkan.
b) Menerapkan prinsip hati-hati, dimana manajemen perlu melakukan
pertimbangan yang sangat matang sebelum memutuskan untuk
menjalankan kebijakan tersebut.
c) Melakukan pengawasan ketat setelah keputusan sudah ditetapkan
dan menjalaninya dengan benar.
Terdapat rasio untuk menganalisis struktur modal suatu entitas (Fahmi,
2018:187), berikut rasio yang dikemukakan oleh Smith, Skousen, Stice and Stice
yakni:

  1. Debt to Equity Ratio (DER)
    Ialah rasio yang berfungsi dalam mengetahui nilai penggunaan
    kewajiban entitas dalam aktivitas operasional keuangan.
  2. Book Value Per Share (BVPS)
    Definisi BVPS atau dengan nama lain nilai buku per saham yaitu rasio
    yang digunakan dalam pengukuran nilai ekuitas dari setiap lembar
    common stock entitas.
    DER=Total Kewajiban
    Ekuitas Perusahaan
    BVPS=Ekuitas shareholders biasa
    Jumlah common stock beredar

    Dari bentuk rumus di atas dapat diketahui data-data yang diperlukan dalam
    memperoleh nilai atau angka dalam rumus yakni neraca suatu entitas yang telah
    diterbitkan di Bursa Efek Indonesia

Balancing theories

.
Merupakan teori dimana entitas akan menjalankan kebijakan tersebut
dalam memperoleh dana tambahan dengan melakukan pinjaman dari
pihak bank ataupun dengan menerbitkan obligasi.
Adapun resiko-resiko setelah perusahaan menerapkan kebijakan tersebut,
yakni:
a) Apabila entitas melakukan peminjaman kepada pihak bank, maka
entitas mesti mengeluarkan aset-aset tetapnya sebagai jaminan. Dan
aset-aset jaminan akan hangus jika entitas tidak sanggup melunasi
pinjaman tersebut.
b) Apabila entitas menerbitkan obligasi dan tidak sanggup untuk
memberikan bunga kepada pemegang obligasi, maka entitas mesti
mengalihkan pemegang obligasi menjadi pemegang saham entitas.
c) Entitas akan dinilai buruk oleh masyarakat, sebab telah masyarakat
akan menganggap bahwa kinerja keuangan entitas tidak stabil
terutama dalam manajemen struktur modalnya

Struktur Modal


Menurut (Linanda & Afriyenis, 2018:138) maksud dari struktur modal yaitu
komparasi antara kewajiban jangka panjang dan ekuitas perusahaan dalam
pendanaan aktiva perusahaan. Pengertian lain menurut Weston & Copeland,
struktur modal atau kapitalisasi suatu entitas merupakan pengeluaran konstan
yang dengan long term liabilities, saham preferen serta shareholders’ equity. Dan
bagi Joel G. Siegel and Jae K.Shim, strutkur modal yaitu gabungan common stock
dan preference stock, laba ditahan, dan utang jangkapanjang yang dicadangkan
pelaku bisnis dalam mendanai aset (Fahmi, 2018:184).
(Mo’o et al., 2018:1139) berpendapat struktur capital ialah anggaran yang
menggambarkan keseimbangan antara kewajiban jangka panjang dengan modal
pribadi perusahaan. Adapun pengertian struktur modal yang dinyatakan (Sartono,
2016:225) yaitu suatu proporsi total kewajiban jangka pendek konstan, kewajiabn
jangka panjang, stock biasa dan preferen.
Kesimpulan yang dapat dikutip peneliti dari pengertian yang diungkap oleh
peneliti lain yaitu, struktur modal adalah perbandingan antara utang dan ekuitas
tertentu yang digunakan perusahaan untuk mendanai aktivitas operasional dan
pertumbuhannya secara keseluruhan

Harga Saham


Keown, Martin, Petty dan Scott mengatakan bahwa target utama suatu
entitas yaitu mengoptimailkan nilai atau harga saham entitas. Ketepatan ketentuan
yang dilakukan manajemen dapat diukur dari efek atau dampaknya terhadap harga
saham entitas. Saham ialah bagian kepemilikan suatu entitas, jadi apabila
seseorang memiliharga yang ki saham suatu entitas berarti dia merupakan salah
satu anggota yang memiliki sebagian entitas tersebut (Saprudin, 2019:20).
Menurut (Narayanti & Gayatri, 2020:531) harga saham adalah harga yang
terdapat dalam bursa efek yang ditetapkan oleh adanya transaksi orang-orang
yang berkaitan pada waktu tertentu. Perubahan nilai pasar dipengaruhi oleh
penawaran dan permintaan pasar.
Menurut (Linanda & Afriyenis, 2018:137) harga saham merupakan harga
untuk orang-orang yang ingin mendapatkan kepemilikan dalam suatu entitas,
fluktuasi nilai saham terjadi dalam setiap hitungan waktu. Adapun pengertian
harga saham berupa suatu cara dalam melakukan penilaian pada entitas, dimana
harga yang tinggi berarti nilai entitas juga tinggi dan sebaliknya harga saham yang
rendah berarti nilai entitas juga rendah (Ainun, 2019:231).
Pandangan lain dari (Wehantouw et al., 2017:2) harga saham merupakan
harga perubahan terakhir dalam satu periode untuk setiap jenis saham dianggap
sebagai sampel dan perubahan harga akan selalu dimonitor oleh para investor.
(Savitri & Oetomo, 2016:6) menyatakan bahwa sebenarnya harga saham berupa
nilai yang perlu dikorbankan orang-orang yang bersedia merelakan dananya untuk
menjadi bagian dari suatu entitas. Kesimpulan yang dapat dikutip peneliti dari
pengertian mengenai harga saham di atas yakni harga untuk memperoleh saham
entitas guna menjadi salah satu pemegang saham yang berarti adanya kepemilikan
dalam suatu entitas. Fluktuasi harga terjadi sebab adanya penawaran dan
permintaan dari individu atau badan yang berhubungan dengan pasar.
Menurut Hermuningsih, terdapat berbagai aspek dalam membedakan jenisjenis saham yakni sebagai berikut (Erri & Dwi, 2018:179):

  1. Dari sisi kesanggupan dalam hal klaim:
    a) Saham biasa, dimana pemegang saham entitias selalu diletakkan di
    akhir ketika pembagian dividen dan ha katas kekayaan jika
    perusahaan dilikuiditas.
    b) Saham preferen, saham ini mempunyai keunikan dari obligasi dan
    saham biasa, dimana pemegang saham akan duluan mendapatkan
    dividend an sebagian harta jika perusahaan dilikuiditas.
  2. Dari metode perpindahan saham:
    a) Saham atas unjuk, yang tidak tertera nama pemilik pada lembaran
    atau bukti pembelian sahamnya agar proses penjualan saham tersebut
    ke pihak lain pada masa akan datang akan lebih sederhana.
    b) Saham atas nama, dimana lembaran saham tertera nama pemilik atau
    pemegang saham tersebut.
  3. Dari sisi kinerja perdagangan:
    a) Saham blue-chip, berupa common stock yang berasal dari entitas
    bernama dengan keuntungan dan pembagian dividen yang stabil.
    b) Income stock, dimana entitasnya dapat memberi dividen dalam
    jumlah dividen yang lebih banyak dari periode sebelumnya.
    c) Growth stock, yaitu saham dari entitas bernama dan penghasilannya
    dapat berkembang besar.
    d) Saham speculative, jenis saham yang entitasnya belum memiliki
    kepastian penghasilan.
    e) Saham counter cyclical, jenis stock yang diefek oleh fluktuasi
    macroeconomics atau sistematik dalam perekonomian secara
    keseluruhan.
    (Linanda & Afriyenis, 2018:137) menjelaskan dua metode untuk melakukan
    analisa serta pemilihan saham, yakni:
  4. Analisis fundamental
    Merupakan metode menganalisis dengan memperhatikan dana
    mengamati beberapa kriteria yang berhubungan dengan makro ekonomi
    entitas. Metode analisis tersebut menggunakan data rill yang berupa
    data-data dalam laporan keuangan seperti nilai laba, imbal hasil, dan
    sebagainya guna memprediksi nilai suatu entitas ke depannya.
  5. Analisis teknikal
    Metode analisis ini dengan cara melakukan pertimbangan pada data
    statistic yang berupa grafik atau gambar pergerakan saham dari periode
    sebelumnya sampai sekarang. Analis yang menganalisis dengan metode
    tersebut yakin bahwa nilai entitas di masa sebelumnya merupakan
    gambaran nilai entitas di masa kedepan

Pasar Modal


Kata “pasar modal” harusnya sudah tidaklah asing lagi bagi masyarakat,
badan yang bertanggung jawab dalam mengelola atau menjalankannya di
Indonesia ialah PT. Bursa Efek Indonesia atau mungkin dikenal dengan nama
lainnya yaitu IDX.
(Sartono, 2016:23) mendefinisikan pasar modal ialah suatu tempat atau
sarana dimana terdapatnya pihak yang memerlukan modal dan pihak kelebihan
modal dimana suatu entitas yang melakukan penjualan saham dan obligasi dengan
harapan menambah dana entitas dan juga untuk memperkuat modal entitas.
Kemudian (Setiawan et al., 2016:3) juga menjelaskan pasar modal adalah tempat
suatu entitas dapat memperoleh dana yang diperlukan untuk mengoperasi entitas
dalam waktu panjang dengan melakukan penjualan saham ataupun menerbitkan
obligasi entitas. Bursa mesti bersifat likuid dimana penjual dapat melakukan
penjualan surat-surat berharga dengan cepat dan pembeli juga dapat membelinya
dengan cepat. Selain dari itu, pasar modal juga harus efisien yang berarti harga
efek yang diperjualkan sesuai dengan nilai perusahaan secara akurat.
Menurut (Nurlela, 2017:469), bursa yaitu suatu aktivitas yang berelasi
dengan public offering dan perbisnisan efek, entitas yang bersangkutan sama efek
penerbitannya serta pihak lembaga yang berhubungan dengan efek. Adapun
pendapat lain oleh (Sigalingging, 2018:61) yang menyatakan bahwa pasar modal
sebagai tempat memperjualbelikan sekuritas berusia panjang yang berupa saham
dan obligasi. Dan tempat terjadinya penjualan-pembelian sekuritas disebut Bursa
Efek, maka dari itu secara fisik bursa efek berupa arti lainnya pasar modal. Dan
menurut (Savitri & Oetomo, 2016:2), bursa dapat dikatakan sebagai suatu pasar
bagi beberapa financial instrument atau sekuritas berjangka panjang dengan
melakukan transaksi jualbeli utang dan modal yang diterbitkan oleh entitas swasta
ataupun pemerintah.
Berdasarkan pemahaman pasar modal yang dinyatakan oleh peneliti lain,
maka peneliti menyimpulkan bursa merupakan suatu tempat atau sarana dimana
terjadinya penjualan dan pembelian surat berharga/efek berjangka panjang seperti
saham entitas dan obligasi.
Terdapat beberapa fungsi bursa efek menurut (Sartono, 2016:23), yakni:

  1. Menciptakan pasar dengan adanya transaksi jual-beli surat-surat
    berharga yang berkesinambungan.
  2. Menghasilkan surat berharga dengan harga wajar melalui prosedur
    operasi pasar.
  3. Membantu perusahaan dalam penggalangan dana guna mengoperasikan
    perusahaan dari penduduk yang kelebihan uang.
  4. Meningkatkan keikutsertaan penduduk dalam kepemilikan saham
    entitas-entitas

Hubungan Price Book Value Terhadap Harga Saham


Tujuan utama suatu perusahaan adalah untuk mensejahterakan pemegang
saham melalui nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham (Brigham
Houston) 2008. Semakin tinggi harga saham berarti semakin tinggi pula tingkat
pengembalian kepada investor. Hal tersebut berarti semakin tinggi juga nilai
perusahaan terkait dengan tujuan dari perusahaan itu sendiri, yaitu untuk
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham (Gultom dan Syarif, 2008).
Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan Husnan (2015), semakin
tinggi nilai perusahaan, semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik
perusahaan. Harga saham merupakan harga yang dikeluarkan oleh investor sebagai
bukti kepemilikan perusahaan. Selanjutnya, semakin tinggi nilai perusahaan maka
semakin tinggi pula investor bersedia membayar untuk perlembar saham suatu
perusahaan

Hubungan Earning Per Share Terhadap Harga Saham


Earning Per Share merupakan suatu rasio yang menunjukan jumlah laba
yang didapatkan dari setiap lembar saham yang ada. Menurut Kasmir (2013), rasio
laba per lembar saham atau disebut juga rasio nilai buku, merupakan rasio untuk
mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang
saham. Rasio yang rendah berarti belum berhasil untuk memuaskanpemegang saham,
sebaliknya rasio yang tinggi, maka kesejahteraan pemegang saham meningkat
dengan pengertian lain, bahwa tingkat pengembalian tinggi. Hal ini didukung oleh
Setyorini, Maria M Minarsih dan Andi Tri Haryono (2016)penelitian yang
dilakukanhasil penelitiannya menunjukkan bahwa EPS berpengaruh positif dan
signifikan secara parsial terhadap harga saham

Hubungan Price Earning RatioTerhadap Harga Saham


Variabel Price Earning Ratio menunjukkan perbandingan harga saham yang
dibeli dengan earning yang akan diperoleh dikemudian hari sehingga hal tersebut
menunjukkan bahwa investor yakin terhadap besarnya earning yang diberikan
perusahaan, yang nantinya akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk
dividen di masa datang. Antara harga saham dan Price Earning Ratio memiliki
hubungan yang kuat, dikarenakan Price Earning Ratio itu menunjukkan
pertumbuhan laba dari perusahaan, dan investor akan tertarik terhadap pertumbuhan
laba tersebut sehingga pada akhirnya akan memberikan efek terhadap harga saham.
Pernyataan ini didukung penelitian yang dilakukan Ratih (2013), dan Safitri (2013)
yang menyatakan bahwa PER berpengaruh positif terhadap harga saham

Hubungan Total Aset Turnover Terhadap Harga Saham


Menurut Brigham dan Houston (2011) Total asset turnover (TATO)
merupakan rasio yang mengukur perputaran semua aktiva perusahaan. Semakin
cepat waktu yang dibutuhkan untuk perputaran total aktiva, maka akan semakin baik.
Pemilihan total asset turnover untuk mewakili rasio aktivitas, karena Nilai Total
asset turnover yang semakin besar menunjukkan bahwa penjualan meningkat.
Dengan demikian harapan untuk memperoleh laba juga diharapkan akan mengalami
peningkatan. Jika nilai penjualan dan laba yang diperoleh perusahaan meningkat, hal
ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik. Kinerja perusahaan
yang semakin baik akan berdampak pada harga saham yang tinggi. Hal ini didukung
olehAlbertha W. Hutapea,Ivonne S. Saerang danJoy E. Tulung (2017) yang
dilakukanhasil penelitiannya menunjukkan bahwa TATO berpengaruh positif dan
signifikan secara parsial terhadap harga saham

Hubungan Debt to Equity Ratio Terhadap Harga Saham


Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang menggambarkan sejauh mana
pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar dan merupakan rasio yang
mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang.Menurut Kasmir (2010)Debt
to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan
ekuitas. Rasio ini digunakan untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan
peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini
digunakan untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk
jaminan utang.
Debt to Equity Ratio mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal
sendiri yang digunakan untuk membayar hutang.Selain itu DER juga dapat
memberikan gambaran mengenai struktur perusahaan.
Semakin tinggi proporsi Debt to Equity Ratio menyebabkan laba perusahaan
semakin tidak menentu dan menambah kemungkinan bahwa perusahaan tidak dapat
memenuhi kewajiban pembayaran utangnya.Oleh karena itu apabila Debt to Equity
Ratio semakin tinggi maka resiko financial perusahaan tersebut akan tinggi juka.
Tinggi rendahnya resiko keuangan perusahaan secara tidak langsung dapat
mempengaruhi harga sahamperusahaan tersebut. Hal ini didukung olehAlbertha W.
Hutapea,Ivonne S. Saerang danJoy E. Tulung (2017)penelitian yang dilakukanhasil
penelitiannya menunjukkan bahwa DER berpengaruh negatif dan signifikan secara
parsial terhadap harga saham

Hubungan Return on Equity Terhadap Harga Saham


Menurut Brigham dan Houston (2010), Return on Equity (ROE)
menunjukkan rasio antara laba bersih perusahaan dengan ekuitas pemegang saham
biasa mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham biasa. Rasio
ini digunakan untuk mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan
sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas atau
mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham
perusahaan.Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik karena berarti posisi
pemilik perusahaan semakin kuat, demikian juga sebaliknya. Hal ini didukung
oleh Albertha W. Hutapea,Ivonne S. Saerang danJoy E. Tulung (2017),
penelitian yang dilakukan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ROE
berpengaruhpositif dan signifikan secara parsial terhadap harga saham

Price Book Value (PBV)


Nilai perusahaan adalah gambaran investor terhadap tingkat keberhasilan
perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi
membuat nilai perusahaan juga tinggi, dan meningkatkan kepercayaan pasar tidak
hanya terhadap kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan
di masa yang akan mendatang. Brigham dan Houston (2008), menjelaskan nilai
perusahaan sangat penting karena nilai perusahaan yang tinggi diikuti oleh
tingginya kemakmuran pemegang saham, semakin tinggi harga saham maka
semakin tinggi pula nilai perusahaan.

Earning Per Share (EPS)


Earning Per Share merupakan suatu rasioyang menunjukan jumlah laba
yang didapatkan dari setiap lembar saham yang ada. rasio laba per lembar saham
atau disebut juga rasio nilai buku, merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan
manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham.(Kasmir, 2013)
Rasio yang rendah berarti belum berhasil untuk memuaskanpemegang saham,
sebaliknya rasio yang tinggi, maka kesejahteraan pemegang saham meningkat
dengan pengertian lain, bahwa tingkat pengembalian tinggi

Price Earning Ratio (PER)


Price Earning Ratio merupakan salah satu ukuran paling besar dalam
analisis saham secara fundamental dan bagian dari rasio penilaian untuk
mengevaluasi laporan keuangan. Price earning ratio bermanfaat untuk melihat
bagaimana pasar menghargai kinerja saham suatu perusahaan terhadap kinerja
perusahaan yang tercermin dalam laba per saham. Menurut Brigham dan
Houston (2010), Price Earning Ratio adalah: Rasio harga per saham terhadap
laba per saham menunjukkan jumlah yang rela dibayarkan oleh investor untuk
setiap dolar laba yang dilaporkan.

Total Aset Turnover (TATO)


Total asset turnover (TATO) merupakan rasio yang mengukur perputaran
semua aktiva perusahaan. Semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk
perputaran total aktiva, maka akan semakin baik. Pemilihan total asset turnover
untuk mewakili rasio aktivitas, karena Nilai Total asset turnover yang semakin
besar menunjukkan bahwa penjualan meningkat. Dengan demikian harapan untuk
memperoleh laba juga diharapkan akan mengalami peningkatan. Jika nilai
penjualan dan laba yang diperoleh perusahaan meningkat, hal ini menunjukkan
bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik. Kinerja perusahaan yang semakin
baik akan berdampak pada harga saham yang tinggi.(Brigham dan Houston,
2011).

Return On Equity (ROE)


Return on Equity (ROE) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang
banyak digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang
dimiliki perusahaan. Rasio ini penting bagi pemegang saham untuk mengetahui
efektivitas dan efesiensi pengelolaan modal sendiri yang dilakukan oleh
manajemen perusahaan.(Sudana, 2011).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham


Harga saham tidak sendiri berubah begitu saja terdapat berbagai faktor
yang mengakibatkan harga saham berubah naik atau turun. Faktor yang
makroekonomi dan faktor mikro ekonomi merupakan faktor yang menyebabkan
harga saham terpengaruh. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Makroekonomi
    Faktor makro ekonomi merupakan faktor yang berada diluar
    peusahaan. Faktor makro yang memiliki pengaruh terhadap kinerja harga
    saham perusahaan yaitu:
    a. Tingkat bunga umum domestik
    Suku bunga deposito yang meningkat akan mendorong investor
    untuk menjual saham yang mereka memiliki dan menanamkan hasil
    penjualan saham tersebut kedalam deposito. Penjualan saham secara
    besar-besaran ini akan menyebabkan harga saham jatuh. Sebaliknya
    menurunnya tingkat bunga pinjaman atau tingkat bunga deposito akan
    menaikkan harga saham dipasar bursa. Penurunan tingkat bunga umum ini
    akan menyebabkan para investor secara beramai-ramai membeli saham.
    Hal inilah yang menyebabkan harga saham akan ikut meningkat akibat
    meningkatnya permintaan saham.
    b. Tingkat inflasi
    Inflasi yang tinggi akan membuat banyak perusahaan mengalami
    kesulitan keuangan dan bahkan mengalami kebangkrutan. Jadi, inflasi
    yang tinggi akan menyebabkan harga saham jatuh dan inflasi yang rendah
    juga mengakibatkan harga saham bertumbuh dan bergerak lamban.
    c. Peraturan perpajakan
    Peraturan perpajakan yang mengatur pajak badan yang tinggi akan
    menyebabkan laba bersih turun. Hal ini disebabkan dalam laporan laba
    rugi, pajak merupakan biaya sebelum dihasilkannya laba bersih. Padahal
    investor tertarik akan laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan
    sehingga harga saham pun akan turun.
    d. Kebijakan pemerintah
    Bergagai macam kebijakan yang dibuat pemerintah dapat
    mempengaruhi kinerja perusahaan. Misalnya saja, larangan ekspor
    tembaga ke luar negeri. Jika kebijakan larangan ini dijalankan, maka
    perusahaan tembaga akan mengalami kelesuhan penjualan sebab
    pendapatan perusahaan yang berasal dari luar negeri menurun dan
    perusahaan hanya bergantung dari penjualan dalam negeri. Padahal,
    penjualan luar negerilah yang lebih menghasilkan banyak keuntungan
    karena tembaga dijual dengan harga yang tinggi. Kelesuan penjualan ini
    akan menimbulkan reaksi dikalangan investor sehingga harga sahampun
    akan menurun.
    e. Kurs valuta asing
    Kenaikan kurs US$terhadap Rupiah akan berdampak negatif
    terhadap emiten yang memiliki hutang dalam satuan US$. Emiten harus
    membayar Rupiah yang lebih besar untuk dapat melunasi hutangnya. Jika
    kebutuhan emiten terhadap Rupiah semakin besar, maka harta perusahaan
    yang memiliki untuk membayar hutangnya akan semakin menipis. Hal ini
    akan menyebabkan reaksi investor terhadap saham memburuk. Harga
    saham akan jatuh dan emiten akan kesulitan untuk membayar
    pengembalian atas saham yang dimiliki investor.
    f. Tingkat bunga pinjaman luar negeri
    Perubahan suku bunga luar negeri akan menyebabkan harga saham
    bereaksi. Emiten yang memiliki hutang luar negeri akan selalu
    memperhatikan besarnya suku bunga hutang luar negerinya. Semakin
    besar suku bunga hutang luar negeri, maka emiten membutuhkan lebih
    banyak dana untuk melunasi hutang tersebut dan kepercayaan investor
    terhadap emitenpun akan menurun sehingga menyebabkan harga
    saham juga menjadi turun.
    g. Kondisi ekonomiinternasional
    Jika emiten bergerak dibidang ekspor impor, maka ada negara
    tujuan utama ekspor emiten tersebut. Misalnya saja, jika Amerika Serikat
    adalah tujuan utama ekspor, maka emiten akan sangat bergantung pada
    kemajuan dan kemunduran ekonomi Amerika Serikat. Salah satu indikator
    kemajuan dan kemunduran ekonomi Amerika Serikat adalah indeks harga
    saham gabungan yang tercatat di Bursa Efek Amerika Serikat (misal.
    NYSE). Jika AS mengalami kemajuan ekonomi dilihat dari IHSG-nya
    (misalnya. Dow JonesIndex), maka kinerja ekspor emiten akan meningkat
    sehingga investor akan tertarik berinvestasi pada emiten tersebut dan
    harga saham emiten akan naik.
  2. Faktor Mikro ekonomi
    Faktor mikro ekonomi merupakan faktor yang berasal dari
    lingkungan internal perusahaan dan berupa rasio-rasio keuangan. Untuk
    menentukan nilai atau harga saham, kita harus memprediksikan berapa harga
    saham pada akhir satu periode tertentu dan besarnya deviden pada akhir
    periode

Harga saham


Menurut Brigham Houston (2010), bahwa harga saham adalah
menentukan kekayaan pemegang saham diterjemahkan menjadi maksimalkan
harga perusahaan. Harga saham pada suatu waktu tertentu akan bergantung pada
arus kas yang diharapkan diterima dimasa depan oleh investor “rata-rata” jika
investor membeli saham.
Harga saham adalah pembagian antara modal perusahaan dan jumlah
saham yang diterbitkan harga saham merupakan alat untuk memperkirakan
prospek keuntungan yang diharapkan oleh investor. Harga saham dipengaruhi
oleh kondisi ekonomi secara umum dan persepsi pasar terhadap kondisi
perusahaan saat ini, juga persentasi yang diharapkan dimasa yang akan datang.
Harga pasar terdiri dari harga pembukaan (open price), harga tertinggi (high
price), dan harga penutupan (close price).(Dominic, 2009).
Harga saham dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Harga nominal
    Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh
    emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan.Besarnya
    harga nominal memberikan arti penting saham karenaa dividen minimal
    biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.Harga perdana
    Harga ini merupaakan harga pada waktu harga saham tersebut
    dicatat dibursa efek.Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan
    oleh penjamin dan emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian
    akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada
    masyarakat biasanya untuk menentukan harga saham perdana.
  2. Harga pasar
    Harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan
    investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di
    bursa. Transaksi disini tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi
    harga ini yang disebut sebgai harga dipasar sekunder dan harga inilah
    yang benar-benar mewakili harga perusahaan penerbitnya, karena pada
    transaksi sekunder, kecil sekali terjadi negoisasi harga investor dengan
    perusahaan penerbit . harga yang setiap hari diumumkan disurat kabar
    atau media lain adalah harga saham.
    Terdapat 6 kondisi dan situasi yang menentukan suatu saham akan
    mengalami fluktuasi, yaitu:
    a. Kondisi makro dan mikro ekonomi.
    b. Kebijakan perusahaan dalam memutuskan untuk ekspansi (perluasan
    usaha).
    c. Pergantian direksi secara tiba-tiba.
    d. Adanya direksi atau pihak komisaris perusahaan yang terlibat tindak
    pidana dan kaussnya sudah masuk kepengadilan.
    e. Kinerja perusahaan yang terus mengalami penurunan dalam setiap
    waktunya.
    f. Resiko sistematis, yaitu suatu bentuk resiko yang terjadi secara
    menyeluruh dan telah ikut menyebabkan perusahaan ikut terlibat.
    g. Efek dari psikologi pasar yang ternyata mampu menekan kondisi.
    (Fahmi, 2009)

Jenis nilai saham


Saham merupakan surat berharga yang sangat dikenal luas oleh
masyarakat. Umumnya, saham yang dikenal sehari-hari merupahan saham biasa
(common stock) yang memiliki nilai yang sangat berharga.
Jenis-jenis nilai saham sebagai berikut:

  1. Nilai buku, yaitu nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan
    penerbit saham (emiten).
  2. Nilai intrinsic (teoritis) saham, yaitu nilai saham yang sebenarnya atau
    seharusnya terjadi
  3. Nilai pasar, yaitu nilai pasar saham atau harga yang terjadi dipasaran
    saham

Jenis-jenis Saham


Jenis-jenis saham dapat ditinjau dalam beberapa segi diantar lain sebagai
berikut:

  1. Segi Peralihan
    Dari segi peralihan saham dibagi menjadi dua yaitu:
    a. Saham atas tunjuk (bearer stock)
    Saham atas tunjuk merupakan saham yang tidak mempunyai nama
    atau tidak tertulis nama pemilik dalam saham tersebut dan saham ini
    mudah untuk dialihkan atau dijual oleh pihak lain.
    b. Saham atas nama (registered stock)
    Saham atas nama merupakan saham yang didalamnya tertulis nama
    pemiliknya dan untuk dialihkan kepada pihak lain diperlukan syarat dan
    prosedur tertentu.
  2. Dari segi hak tagih
    Dari segi hak tagih saham dibagi menjadi dua yaitu:
    a. Saham biasa (common stock)
    Bagi pemilik saham ini hak untuk memperoleh deviden akan
    didahulukan terlebih dahulu kepada saham preferen.
    b. Saham preferen (preferred stock)
    Saham preferen merupakan saham yang memperoleh hak utama
    dalam deviden.(Kasmir, 2008).
    Ada dua jenis saham menurut manfaatnya:
    a. Saham biasa (common stock)
    Saham biasa adalah suatu sertifikat atau piagam yang memiliki
    fungsi sebagai bukti kepemilikan suatu perusahaan sebesar nilai saham
    yang dimilikinya dengan mendapatkan hak untuk menerima sebagian
    pendapatan tetap/deviden dari perusahaan serta kewajiban menanggung
    resiko kerugian yang diderita perusahaan. Saham biasa mewakili klaim
    kepemilikan pada penghasilan dari aktiva yang dimiliki perusahaan.
    Kepemilikan saham suatu perusahaan memiliki hak untuk ambil
    bagian dalam mengelola perusahaan sesuai dengan hak suara yang
    dimilikinya berdasarkan besar kecil saham yang dimiliki.Semakin
    banyak presentasi saham yang dimiliki maka semakin besar hak suara
    yang dimiliki untuk mengontrol kebijakan perusahaan.
    Saham biasa memiliki karakteristik utama sebagai berikut:
  3. Hak suara pemegang saham, dapat memilih dewan komisaris.
  4. Hak didahulukan, bila organisasi penerbit menerbitkan saham baru.
  5. Tanggung jawab terbatas, pada jumlah yang diberikan saja.
    b. Saham preferen (preferred stock).
    Saham preferen adalah saham yang mempunyai hak istimewa
    dalam hal pembagian deviden dan pembagian kekayaan dalam likuiditas
    perusahaan dibandingkan dengan saham biasa.Saham preferen ini
    biasanya memberikan deviden yang setiap tahunnya seperti halnya
    obligasi.Pada umumnya saham preferen ini tidak mempunyai hari jatuh
    tempo.Saham preferen mempunyai karakteristik gabungan antara obligasi
    dan saham biasa, karena biSa menghasilkan pendapatan tetap (seperti
    bunga obligasi), tetapi juga tidak mendatangkan hasil seperti yang
    dikehendaki investor.(Agustin dan Hamdi, 2014).
    Saham preferen memiliki karakteristik sebagai berikut:
  6. Memiliki berbagai tingkat, yang dapat diterbitkan dengan
    karakteristik berbeda.
  7. Tagihan terhadap aktiva dan pendapatan, memiliki prioritas lebih
    tinggi dari saham biasa dalam hal pembagian deviden.
  8. Deviden kumulatif, bila belum dibayarkan dari periode sebelumnya
    maka dapat dibayarkan pada periode berjalan dan lebih dahulu dari
    saham biasa.
  9. Konvertibilitas, dapat ditukar menjadi saham biasa, bila kesepakatan
    antar pemegang saham dan organisasi penerbit terbentuk.

Pengertian Saham


Menurut Fahmi (2012), Saham merupakan salah satu instrument pasar
modal yang paling banyak diminati oleh investor, karena mampu memberikan
tingkat pengembalian yang menarik. Saham adalah kertas yang tercantum dengan
jelas nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang
telah dijelaskan kepada setiap pemegangnya.
Saham adalah sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau
badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah
selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik
perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan
ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan diperusahaan
tersebut.(Agustina, Fitry Sumartio, 2014).
Saham adalah suatu instrument pasar modal yang paling umum
diperdagangkan karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang
menarik dan saham merupakan tanda penyertaan modal dari seseorang atau badan
usaha didalam suatu perusahaan perseroan terbatas.(Haryani, 2010).
Saham adalah surat berharga sertifikat yang menunjukan bagian
kepemilikan atas suatu perusahaan. jika kita membeli saham berarti kita
mempunyai atas sebagian dari perusahaan tersebut sebanyak saham yang dimiliki
dan hak atas keuntungan perusahaan dalam bentuk deviden jika perusahaan
memperoleh keuntungan. Kita juga bias mengambil keuntungan dari naiknya
harga saham tersebut dari waktu kewaktu.(Agustin dan Hamdi, 2014).

Preferensi


Dalam Kamus Besar Berbahasa Indonesia arti kata preferensi adalah suatu
prioritas, pilihan, kecenderungan dalam memilih atau kesukaan terhadap sesuatupreferensi
konsumen merupakan suatu sikap konsumen terhadap satu pilihan merek produk yang
terbentuk melalui evaluasi atas berbagai macam merek dalam berbagai pilihan yang
tersedia. (Kotler dan Keller, 2009).

  1. Faktor teknologi yang meliputi : transportasi pribadi, alat rumah tangga. Audio
    visual, internet dan seluler
  2. Faktor pribadi
    Aspek pribadi yaitu seorang konsumen akan berbeda dari seorang konsumen
    lainnya karena faktor-faktor pribadi dalam hal berikut: usia,pekerjaan, kondisi
    keuangan, gaya hidup, kepribadian , konsep diri.
  3. Aspek psikologis yaitu faktor kejiwaan atau psikologi yang mempengaruhi
    seseorang dalam tindakan membeli suatu barang/jasa yang terdiri dari : motivasi,
    persepsi, kepercayaan dan perilaku, belajar.
    Menurut Drs.Damsar,Ma (1997) karakteristik pembeli atau konsumen
    dikelompokkan menjadi 3 yakni:
  4. Pengunjung, yaitu mereka yang datang ke pasar tanpa mempunyai tujuan untuk
    melakukan pembelian terhadap suatu barang atau jasa, mereka adalah orangorang yang menghabiskan waktu luangnya di pasar.
  5. Pembeli, yaitu mereka yang datang ke lokasi pasar dengan maksud untuk membeli
    sesuatu barang atau jasa, tetapi tidak mempunyai tujuan ke dimana akan membeli.
  6. Pelanggan, yaitu mereka yang datang ke lokasi pasar dengan maksud untuk
    membeli sesuatu barang atau jasa, dan mempunyai tujuan yang pasti ke dimana
    akan membeli. Seseorang menjadi pembeli tetap dari seorang penjual tidak terjadi
    secara kebetulan, tetapi melalui proses interaksi sosial.
    Menurut Khatimi (2012), kecenderungan konsumen dalam memilih tempat atau
    lokasi untuk berbelanja disebut preferensi konsumen. Menurut Berry dan Garrison (1958)
    dalam Yulianidarr (2012), salah satu hal yang mempengaruhi jangkauan pelayanan pasar
    tradisional yaitu preferensi konsumen.
    Jangkauan (Range) digambarkan sebagai wilayah pasar dari suatu barang yang
    diukur dari jarak tempuh konsumen dalam melakukan perjalanan untuk membeli suatu
    barang di pasar tradisional (Berry dan Garrison,1958)

Karakteristik Pasar Modern


Berdasarkan skala pelayanan pusat perbelanjaan dapat digolongkan menjadi tiga
tingkatan berdasarkan jangkauan pelayanan dan ukuran dari pusat perbelanjaan adalah
sebagai berikut :

  1. Neighborhood Centre memiliki skala pelayanan 5000-40.000 jiwa dan luas 2.700-
    9.000 m2
    . Pusat perbelanjaan ini umumnya menjual kebutuhan sehari-hari dengan
    unit terbesar berupa supermarket.
  2. Pusat perbelanjaan distrik (Community Centre) memiliki skala pelayanan 40.000 –
    150.000 jiwa dengan luas area 9.000 – 25.000 m2 barang yang dijual biasanya
    berupa barang sandang, alat kecantikan, barang lux, barang elektronik, dan
    sebagainya.
  3. Pusat perbelanjaan regional (Main Center) regional centre kemampuan
    pelayanannya meliputi seluruh wilayah kota dan daerah luar kota. Melayani 150.000
    – 400.000 jiwa dengan luas area pelayanan 25.000 -90.000 m2 dilengkapi dengan
    sarana rekreasi, seperti bioskop, restoran, pusat jajan, dan sebagainya

Karakteristik Pasar Tradisional


Ada beberapa karakteristik pasar tradisional yaitu sarana prasarana pasar,
karakteristik konsumen, komoditas dan aktivitas pasar (Adinugroho,2009). Sarana
prasarana pasar terdiri dari kondisi fisik pasar serta kelengkapan dan kualitas prasarana
pasar. Karakteristik konsumen terdiri dari tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tempat
tinggal, jenis kebutuhan, transportasi, dan frekuensi aktivitas. Sedangkan komoditas dan
aktivitas pasar terdiri dari ragam barang, kualitas barang, dan aktivitas pasar. Berikut ini
merupakan penjelasan lebih detail mengenai karakteristik pasar tradisional :

  1. Kondisi Pasar
    Berdasarkan aspek kondisi pasar, karakteristik pasar tradisional dan pasar modern
    Yang dibangun harus memperhatikan kaidah pasar yang bersih dan aman. Bersih berarti
    tidak adanya tumpukan atau sampah yang berserakan (Marlina,2012). Menurut Mukbar
    (2007) dalam Marlina (2012).
    Kondisi Fisik Sarana Dan Prasarana
    Sarana prasarana pasar terdiri dari kondisi fisik sarana prasarana pasar,
    kelengkapan dan fungsi prasarana penunjang pasar. Fasilitas yang ada di pasar tradisional
    sama dengan fasilitas yang ada di pasar lainnya. Menurut SNI 03-1733-2004 tentang tata
    cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan ada beberapa kebutuhan sarana
    dan prasarana dalam sarana perdagangan yaitu tempat parkir umum, terminal kecil atau
    pangkalan untuk pemberhentian kendaraan, pos keamanan, sistem pemadam kebakaran,
    tempat ibadah, air bersih, jaringan air kotor, jaringan komunikasi, dan jaringan listrik.
  2. Karakteristik Konsumen
    Menurut Drs. Damsar, Ma (1997) karakteristik pembeli atau konsumen
    dikelompokkan menjadi 3 yakni:
  3. Pengunjung, yaitu mereka yang datang ke pasar tanpa mempunyai tujuan untuk
    melakukan pembelian terhadap suatu barang atau jasa, mereka adalah orangorang yang menghabiskan waktu luangnya di pasar.
  4. Pembeli, yaitu mereka yang datang ke lokasi pasar dengan maksud untuk membeli
    sesuatu barang atau jasa, tetapi tidak mempunyai tujuan ke mana lokasi untuk
    membeli.
  5. Pelanggan, yaitu mereka yang datang ke lokasi pasar dengan maksud untuk
    membeli sesuatu barang atau jasa, dan mempunyai tujuan yang pasti ke dimana
    akan membeli. Seseorang menjadi pembeli tetap dari seorang penjual tidak terjadi
    secara kebetulan, tetapi melalui proses interaksi sosial.
  6. Aktivitas
    Aktivitas dapat diartikan sebagai kegiatan yang membutuhkan kehadiran orang lain
    (Zhang dan Lawson, 2009). Gehl dalam Zhang dan Lawson (2009) membagi aktivitas di
    ruang luar dalam tiga kategori, antara lain :
     Aktivitas Penting.
    Setiap orang memiliki kegiatan rutin yang harus dilaksanakan dalam segala kondisi,
    seperti bekerja, bersekolah, berbelanja dan juga melibatkan aktivitas dalam sistem
    pergerakan seperti berjalan menuju halte bus, berjalan menuju tempat bekerja dan lain
    sebagainya.
     Aktivitas Pilihan.
    Aktivitas ini memiliki tingkat prioritas di bawah aktivitas penting. Kita dapat memilih
    Untuk Berjalan Santai Pada Sore Hari Atau Menangguhkannya Apabila Hari Tidak Cerah.
    Dengan Demikian, Pilihan Untuk Melakukan Aktivitas Ini Tergantung Pada Kondisi
    Lingkungan.
    12
     Aktivitas Sosial.
    Aktivitas ini lebih menekankan pada terjadinya proses sosial, baik dalam bentuk
    kontak fisik maupun kontak pasif. Aktivitas sosial ini dapat terjadi secara paralel
    dengan aktivitas penting dan aktivitas pilihan.

Jenis Pasar


Menurut Vegale (1997) dalam Sinaga (2012) kategori pasar sesuai dengan
karakteristiknya dibedakan menurut beberapa hal yaitu :
A. Berdasarkan Skala Transaksi/Pelayanannya:

  1. Pasar Modern
    Pasar modern merupakan pasar yang penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara
    langsung melain kan pembeli melihat label harga yang tercantum pada barang (barcode),
    berada dalam suatu bangunan dan pelayanan dilakukan secara mandiri/dilayani
    pramuniaga.
  2. Pasar Tradisional
    Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli ditandai dengan
    adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar
    menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios -kios, los dan dasaran terbuka yang dibuka
    oleh penjual maupun pengelola pasar.
    B. Berdasarkan Tipe Komoditas :
  3. Pasar khusus yaitu pasar yang menjual hanya khusus 1 jenis barang saja seperti
    pasar khusus menjual barang antik, pakaian, dan lain-lain.
  4. Pasar campuran yaitu pasar yang menjual lebih dari 1 atau 2 jenis barang seperti
    terdapat sayuran, pakaian, obat, dan lain-lain.
  5. Pasar tradisional adalah tempat untuk menjual produk kebutuhan pokok yang
    dihasilkan oleh pelaku ekonomi berskala kecil dan menengah sehingga pasar
    tradisional memiliki peranan yang cukup penting dalam penyerapan tenaga kerja
    atas masyarakat setempat (Toya,2012 dalam Asribestari,2013).

Pasar


Pasar merupakan suatu wadah atau prasarana bagi pihak pembeli (konsumen) dan
penjual (produsen) untuk melakukan suatu kegiatan transaksi. Pasar menjadi sebuah
wadah interaksi antara penjual dan pembeli yang berbentuk sebuah ruang fisik dimana
pembeli dan penjual bisa saling berinteraksi untuk melakukan proses transaksi. Dalam
proses transaksi yang menjadi objek transaksi ialah pihak pembeli, pihak pembeli
mendapatkan manfaat dalam bentuk suatu barang yang diinginkan, sedangkan pihak
penjual mendapatkan keuntungan berupa pendapatan usaha. Pasar terdiri dari semua
pelanggan potensial yang memliki kebutuhan atau keinginan tertentu yang sama, yang
mungkin bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memuaskan kebutuhan
dan keinginan itu. (Kottler,1997)
Pasar memiliki berbagai definisi yang berkembang. Dari definisi yang ada, pasar
dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok penjual dan pembeli yang mempertukarkan
barang yang dapat disubstitusika (Mariana dan Paskarina,2006).
Secara garis besar, pelaku pasar dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok :

  1. Kelompok pembeli/pengunjung, yaitu orang yang datang untuk berbelanja atau
    sekedar mencari barang.
  2. Kelompok pedagang, yaitu orang atau badan hukum pemakai tempat usaha yang
    berdasarkan izin pemakaian tempat usaha mempunyai hak memakai tempat usaha
    di pasar untuk memperdagangkan barang dan jasa. Dalam hal ini, pedagang yaitu
    pemakai kios, los, toko, ruko, maupun fasilitas lain sebagai tempat usaha komersial
    dengan kewajiban membayar retribusi atau uang sewa.
  3. Kelompok pengelola, yaitu pelaku yang mengelola pasar, baik secara administratif
    maupun pengelolaan fasilitas penunjang dan pengelolaan operasional pasar
    lainnya. Pengelola pasar dalam hal ini yaitu skpd atau dinas pemerintah daerah.

Twitter


Twitter merupakan salah satu situs jejaring sosial yang masih popular hingga
saat ini. Twitter didirikan oleh Jack Dorsey pada bulan Maret 2006. Twitter
membatasi kata yang akan di post sebanyak 140 karakter. Namun, tidak hanya
tulisan yang dapat diunggah pada jejaring sosial tersebut, twitter juga bisa
mengunggah foto, video, url, dan lain-lain. Twitter banyak digunakan untuk
berbagai informasi, menjalin relasi bisnis, menuangkan isi hati dan pikiran dalam
bentuk tulisan.
Pada aplikasi twitter disediakan sebuah search engine yang dapat digunakan
oleh pengguna twitter. Dengan search engine tersebut kita bisa mendapatkan
informasi terkait tweets yang ada pada aplikasi twitter. Informasi tersebut banyak
digunakan untuk mencari wawasan terkait permasalahan yang sedang dihadapi.
Informasi yang diberikan dapat berupa tweets, pengguna yang menuliskan tweets
tersebut, lokasi tweets tersebut, dan lain-lain. (Adiyana dan Hakim 2015 dalam
Ghifari 2018)

Analisis Sentimen


Analisis Sentimen merupakan Natural Language Proccessing yang bertujuan
untuk membangun sebuah metode yang dapat diimplementasikan menjadi sebuah
tools yang dapat digunakan untuk mengekstraksi informasi subjektif berupa sentimen
atau opini dalam sebuah data text. kecenderungan penelitian tentang analisis sentimen
berfokus pada pendapat yang menyatakan suatu sentimen memiliki nilai positif atau
negatif. (Liu, 2015).
Liu mencontohkan permasalahan kalimat sentimen pada kasus pemilihan
berikut :
(1) Saya membeli IPhone 7 enam bulan yang lalu.
(2) Saya menyukai kameranya yang memiliki kualitas gambar menakjubkan.
(3) Ketahanan pemakaian baterai juga sangat bagus.
(4) Namun kurang baik karena tidak memiliki fitur fast charging“
maka dapat dijelaskan sebagai berikut :
maka dapat dijelaskan sebagai berikut :
Tulisan ini memiliki pendapat tentang suatu entitas/domain yaitu IPhone 7.
Pada kalimat (2) dan kalimat (3) kecenderungan pendapat positif terhadap IPhone 7
tentang kamera yang menghasilkan kualitas gambar yang bagus dan ketahanan
daya baterai yang bagus. Sedangkan pada kalimat (4) mengekspresikan pendapat
negatif tentang fitur charging yang tidak ada

Return Ekspektasi (Expected Return)


Merupakan return yang digunakan untuk pengambilan keputusan
investasi. Return ini penting dibandingkan dengan return historis karena
return ekspektasian merupakan return yang diharapkan dari investasi yang
dilakukan. Return realisasi dibutuhkan dalam menilai Return ekspektasi
(expected return), Return saham dalam konteks manajemen investasi
merupakan imbalan yang diperoleh dari investasi yang merupakan imbalan atas
keberanian investor menanggung resiko atas investasi yang dilakukan

Return Realisasi (realized return)


Return Realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi.
Return dihitung berdasarkan data histories, return realisasi penting karena
digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis
ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (ekspekted return)
dan risiko dimana mendatang

Right Issue


Right issue merupakan pengeluaran saham baru dalam rangka penambahan
modal perusahaan, namun terlebih dahulu ditawarkan pada pemegang saham
saat ini. Hak yang diberikan kepada pemegang saham yang ada pada sebuah
perusahaan berhubungan dengan penerbitan saham-saham baru, dimana hak
tersebut berkaitan dengan para pemilik saham-saham yang telah mendapatkan
penawaran untuk menambah atau mengambil saham baru dengan harga
tertentu yang ditawarkan kepada pemegang saham yang telah ada. Jika
pemegang saham tersebut tidak mengambil haknya, maka ia dapat menjual
haknya tersebut kepada investor lain.
Setiap pemegang saham menerima satu hak untuk setiap sertifikat saham
yang dimilikinya. Ketika pengumuman diberikannya hak untuk membeli
tambahan modal saham, direksi perseroan akan menetapkan tanggal kapan hak
itu akan diterbitkan. Semua pemegang saham yang namanya terdaftar pada
tanggal penerbitan tersebut akan dicatat untuk menerima hak. Apabila
pemegang saham tidak mengambil hal tersebut, maka akan berdampak :
1) Dilusi (berkurangnya proporsi kepemilikan pemegang saham yang
tidak menggunakan haknya).
2) Mengurangi ROI (return of Investment)
3) Mengecilkan DPS (deviden per share) karena harus dibagikan kepada
pemegang saham lain.
Pengeluaran saham penawaran terbatas atau right issue yang dilakukan
perusahaan secara otomatis juga mempengaruhi struktur modal suatu
perusahaan. Struktur modal adalah rasio antara modal sendiri dan jumlah uang.
Jika struktur modal tersebut diubah dengan menggunakan cara right issue,
jumlah saham yang beredar akan semakin besar. Permasalahannya adalah
seberapa besar perubahan jumlah saham yang beredar akan berpengaruh
terhadap expected return dan actual return

Studi Peristiwa (Event Study)


Studi peristiwa (event study) merupakan studi yang mempelajari reaksi
pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan
sebagai suatu pengumuman. Studi peristiwa dapat digunakan untuk menguji
kandungan informasi dari suatu pengumuman dalam hal ini right issue yang
berupa reaksi dan dapat digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk
setengah kuat.
Pengumuman right issue mengandung informasi bila pasar akan bereaksi
pada waktu pengumuman tersebut diterima. Reaksi pasar ditunjukkan dengan
adanya perubahan harga dari sekuritas bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur
dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau dengan
abnormal return. Tiga hipotesis yang muncul dari prilaku return atau harga
saham disekitar tanggal pengumuman right issue yaitu (Rahayu, 2010) :

  1. Hipotesis Price Pressure
    Dalam hipotesis ini diasumsikan bahwa dengan adanya sinyal
    informasi right issue, harga saham akan jatuh secara permanen untuk
    jangka waktu tertentu setelah pengumuman, karena investor menyerap
    informasi yang buruk dari sinyal tersebut. Setelah jangka waktu tertentu,
    harga saham akan cenderung naik ke posisi semula.
  2. Hipotesis Kandungan Informasi
    Dalam hipotesis ini diasumsikan bahwa informasi right issue
    mempunyai kandungan informasi yang dapat mempengaruhi preferensi
    investor dalam pengambilan keputusan investasi, maka semestinya
    terjadi perbedaan dalam harga saham sebelum dan sesudah pengumuman.
    Jika kandungan informasi right issue direspon negative maka akan
    menyebabkan perbedaan dalam harga atau return saham sebelum dan
    sesudah pengumuman yang menunjukkan perbedaan negative dan juga
    sebaliknya.
  3. Hipotesis Short Selling
    Hipotesis ini mengasumsikan bahwa harga saham akan turun
    dengan segera sebelum hari pengumuman karena para spekulator
    berusaha untuk menaikkan penjualan saham secara besar-besaran karena
    mereka percaya bahwa harga saham setelah pengumuman akan turun,
    sehingga reaksi mereka akan menekan harga saham untuk turun sebelum
    pengumuman. Disamping itu juga diasumsikan bahwa penurunan harga
    tersebut bersifat temporer.

Hubungan Right Issue Terhadap Return yang Diharapkan (ExpectedReturn)


Tujuan pengumuman right issue adalah untuk menarik minat investor
untuk membeli saham yang ditawarkan. Pengumuman right issue tentu saja
akan menimbulkan perubahan harga naik maupun turun. Investor dalam
melakukan investasinya mengharapkan return yang tinggi akan tetapi,
realisasinya belum tentu sesuai dengan harapan investor tersebut. Dengan
adanya right issue maka harga saham menjadi lebih rendah (murah), sehingga
investor akan memanfaatkan peristiwa tersebut untuk membeli saham guna
meningkatkan investasinya. Secara tidak langsung, investor berharap besar
terhadap saham yang dibelinya untuk mendapatkan return yang besar pula

Return saham


Return adalah keuntungan yang diperoleh oleh investor dari investasinya.
Return dapat berupa return realisasi maupun return ekspektasi. Return realisasi
merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis.
Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja
dari perusahaan serta sebagai dasar penentuan expected return untuk mengukur
risiko dimasa yang akan datang. Sedangkan return ekspektasi adalah return
yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa yang akan datang.
(Indrawan 2009)
Menurut (Jogiyanto 2015 :264) return dapat berupa :

  1. Return realisasi (realized return)
    Return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis (ex
    post date). Return historis ini berguna sebagai dasar penentuan return
    ekspektasi dan resiko dimasa yang akan datang.
    Return realisasi dapat dihitung dengan formula sebagi berikut:
    Dimana :
    R it = Return atau actual return saham perusahaan i pada waktu t.
    Pit = Harga saham perusahaan i pada waktu t.
    Pit-1 = Harga saham perusahaan i sebelum waktu t.
  2. Return yang diharapkan (expected return)
    Return yang diharapkan akan di peroleh oleh investor dimasa
    mendatang. Berbeda dengan return realisasi yang bersifat sudah terjadi,
    return yang diharapkan merupakan hasil estimasi sehingga sifatnya
    belum terjadi

Dampak Right Issue


Dengan adanya right issue maka akan berdampak pada bertambahnya
jumlah saham yang beredar. Umumnya dengan adanya penambahan jumlah
lembar saham yang beredar dipasar maka akan meningkatkan frekuensi
perdagangan saham tersebut atau dengan kata lain meningkatkan likuiditas
saham. Disisi lain dengan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar
mengakibatkan jumlah deviden yang diterima pemegang saham menjadi lebih
kecil atau sedikit, hal tersebut terjadi apabila perolehan laba perusahaan stabil
dan persentase pembayaran deviden tetap. Dengan adanya penurunan deviden
per-lembar saham dapat menimbulkan dampak psikologis yang negatif, karena
dividen per-lembar saham tersebut akibatnya harga saham menjadi turun.
Penurunan harga setelah right issue juga dipengaruhi oleh harga pelaksanaan
right issue yang selalu lebih rendah dari harga pasarnya. Apabila pemegang
saham tidak melakukan haknya dalam right issue maka pemegang saham
tersebut akan mengalami apa yang dikenal dengan istilah (dilution) yaitu
penurunan persentase kepemilikan saham, jadi investor harus melakukan
perhitungan yang akurat untuk menentukan dalam memberikan keuntungan
pada investor (Rivai,2007)

    Alasan Perusahaan Menerbitkan Right Issue


    Perusahaan menerbitkan right issue dengan tujuan untuk tidak mengubah
    proporsi kepemilikan pemegang saham dan mengurangi biaya emisi akibat
    penerbitan saham baru. Beberapa alasan perusahaan menerbitkan right issue di
    bursa efek indonesia antara lain adalah (Kusuma, 2011):
    a. Right issue merupakan solusi yang cepat untuk memperoleh dana
    yang murah dan dengan proses yang mudah dan hampir tanpa resiko.
    b. Right issue jauh lebih aman dibandingkan dengan jalan lain, baik
    dengan pinjaman langsung atau dengan penerbitan surat hutang.
    Dengan right dana masuk sebagai modal sehingga tidak membebani
    perusahaan sama sekali. Sedangkan jika dana diperoleh dari pinjaman,
    maka perusahaan harus menanggung beban bunga.
    c. Minat emiten untuk melakukan right issue didorong oleh keinginan
    untuk memanfaatkan situasi pasar modal yang dalam tahun-tahun ini
    berkembang pesat

    Tujuan Right Issue


    Tujuan perusahaan melakukan right issue adalah untuk menambah modal
    kerja suatu perusahaan. Untuk menambah modal suatu perusahaan tersebut,
    perusahaan bisa saja menerbitkan saham baru dan menawarkannya kepada
    publik. Namun apabila cara ini dilakukan umumnya perusahaan menggunakan
    jasa penjamin (yang akan menjamin bahwa penerbitan tersebut akan terjual
    semua) atau menawarkan saham baru dengan harga yang lebih rendah dari
    harga saham saat ini ke publik. Karena apabila harga saham baru yang
    ditawarkan dengan harga yang sama dengan harga saham lama, maka para
    investor akan berfikir dua kali untuk membeli saham baru yang ditawarkan
    tersebut. Karena itulah umumnya saham baru akan lebih murah dan rendah
    dibandingkan dengan saham lama

    Pengertian Corporate Action


    Dalam kegiatan usahanya, emiten sering mengambil kebijakan terkait
    dengan usahanya yang sering disebut dengan corporate action. Corporate
    action merupakan aktivitas emiten yang berpengaruh pada jumlah saham
    beredar maupun berpengaruh pada harga saham di pasar. Corporate action
    merupakan berita yang pada umumnya menyedot perhatian pihak-pihak yang
    terkait di pasar modal khususnya para pemegang saham (Indrawan, 2009) .
    Keputusan emiten untuk melaksanakan corporate action dalam rangka
    untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu seperti meningkatkan modal kerja
    perusahaan, ekspansi usaha, meningkatkan likuiditas saham, pembayaran
    hutang serta tujuan lainnya. Corporate action pada umumnya mengacu pada
    kebijakan right issue, stock split, stock/cash devident, IPO, private placement,
    warrant, atau penerbit obligasi. Corporate action berkaitan dengan kebijakan- kebijakan yang diambil oleh perusahaan seperti pembagian deviden baik dalam
    bentuk saham maupun deviden tunai, stock split serta right issue

    Efisiensi Pasar Modal


    Bentuk efisiensi pasar dapat ditinjau tidak hanya dari ketersediaan
    informasi, tetapi juga dilihat dari kecanggihan pelaku pasar dalam pengambilan
    keputusan berdasarkan analisis dari informasi yang tersedia. Secara formal
    pasar modal yang efisien dapat didefinisikan sebagai pasar yang harga
    sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relevan (Martalena,
    2011:41). Informasi-informasi yang relevan tersebut dapat diklasifikasikan
    menjadi tiga tipe, yaitu informasi dalam bentuk perubahan harga diwaktu lalu,
    informasi yang tersedia untuk publik (public information), dan informasi yang
    tersedia baik untuk publik maupun tidak (public and private information).
    Ada tiga bentuk atau tingkatan untuk menyatakan efisiensi pasar modal
    yaitu (Martalena dan Maya Melinda, 2011 : 42):

    1. Bentuk efisiensi yang lemah (weak form efficiency) suatu keadaan
      dimana harga-harga mencerminkan semua informasi yang ada pada
      catatan harga di waktu yang lalu.
    2. Bentuk efisiensi yang setengah kuat (semi strong efficiency) Suatu
      keadaan dimana harga-harga bukan hanya mencerminkan harga-harga
      diwaktu lalu, tetapi juga semua informasi yang dipublikasikan. Informasi
      tersebut antara lain:
      a. Pengumuman laba dan deviden
      b. Perkiraan laba perusahaan
      c. Perubahan akuntansi
      d. Marger dan akuisisi
      e. Stock split
    3. Bentuk efisiensi kuat (strong form efficiency) Menurut bentuk ini,
      keadaan dimana harga tidak hanya mencerminkan semua informasi yang
      di publikasikan, tetapi juga informasi yang bisa diperoleh dari analisis
      fundamental tentang perusahaan dan perekonomian

    Instrumen Pasar Modal


    Pengertian efek menurut UU RI No. 8 tahun 1995, efek adalah surat
    berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berhaga komersial, saham
    obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan hutang, unit penyertaan kontrak
    investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap derivatif dari efek
    atau setiap intrumen yang ditetapkan sebagai efek. Adapun instrumen pasar
    modal sebagai berikut :
    1) Saham
    Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu
    perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak klaim atas
    penghasilan dan aktiva perusahaan. Saham ada dua, antara lain:
    a. Saham biasa
    Saham biasa, merupakan jenis efek yang paling sering
    dipergunakan oleh emiten untuk memperoleh dana dari
    masyarakat dan juga merupakan jenis yang paling popular
    dipasar modal.
    b. Saham preferen
    Saham preferen merupakan jenis saham yang memiliki hak
    terlebih dahulu untuk menerima laba dan memiliki hak laba
    kumulatif. Hak kumulatif adalah hak untuk mendapatkan laba
    yang tidak dibagikan pada suatu tahun yang mengalami
    kerugian, tetapi akan dibayar pada tahun yang mengalami
    keuntungan, sehingga saham preferenakan menerima laba dua
    kali. Hak istimewa ini diberikan kepada pemegang saham
    preferen karena merekalah yang memasok dana ke perusahaan
    sewaktu mengalami kesulitan keuangan.
    2) Obligasi dan obligasi konversi
    Obligasi adalah sertifikat yang berisi kontrak antara investor dan
    perusahaan, yang menyatakan bahwa investor tersebut / pemegang
    obligasi telah meminjamkan sejumlah uang kepada perusahaan.
    Perusahaan yang menerbitkan obligasi mempunyai kewajiban untuk
    membayar bunga secara regular sesuai dengan jangka waktu yang
    telah ditetapkan serta pokok pinjaman pada saat jatuh tempo. Nilai
    suatu obligasi bergerak berlawanan arah dengan perubahan suku
    bunga secara umum. Jika suku bunga secara umum cenderung turun,
    maka nilai atau harga obligasi akan meningkat, karena para investor
    cenderung untuk berinvestasi pada obligasi. Sementara itu, jika suku
    bunga secara umum cenderung meningkat, maka nilai atau harga
    obligasi akan turun, karena para investor cenderung untuk
    menanamkan uangnya di Bank.
    Obligasi konversi, obligasi yang dapat dikonversikan ke saham
    obligasi (bond) adalah surat berharga yang menunjukkan bahwa
    penerbit obligasi meminjam sejumlah dana kepada masyarakat dan
    memiliki kewajiban untuk membayar bunga secara berkala, dan
    kewajiban melunasi pokok hutang pada waktu yang telah ditentukan
    kepada pihak pembeli obligasi tersebut.
    3) Derivatif dari efek
    a. Right
    Right menunjukkan bukti hak memesan terlebih dahulu yang
    melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham
    lama untuk membeli saham baru yang akan diterbitkan oleh
    emiten, sebelum saham-saham tersebut ditawarkan kepada pihak
    lain.
    b. Waran
    Waran adalah efek yang diterbitkan oleh emiten yang
    memberi hak kepada pemegang saham untuk memesan saham
    dari emiten yang bersangkutan pada harga tertentu, umumnya
    untuk 6 bulan hingga 5 tahun. manajer investasi sebagai
    pengelola dana untuk diinvestasikan baik di pasar modal atau
    pasar uang.
    c. Dividen Saham
    Deviden merupakan pembagian keuntungan yang diberikan
    perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan
    perusahaan. Deviden yang dibagikan perusahaan dapat berupa
    deviden tunai yang artinya kepada setiap pemegang saham
    diberikan deviden berupa uang tunai dalam jumlah rupiah
    tertentu untuk setiap saham. Atau dapat pula berupa deviden
    saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan
    deviden sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki
    seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian
    deviden saham tersebut.
    d. Sertifikat Reksa Dana
    Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi
    masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil, mempunyai
    keinginan untuk melakukan investasi namun hanya memiliki
    waktu dan pengetahuan yang terbatas (Martalena, Maya
    Melinda, 2011:83

    Fungsi Pasar Modal


    Menurut Mawardi (2009) fungsi pasar modal merupakan tempat
    bertemunya pihak yang memiliki dana lebih (lender) dengan pihak yang
    memerlukan dana jangka panjang tersebut (borrower). Pasar modal
    mempunyai dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Di dalam
    ekonomi, pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari
    lender ke borrower. Dengan menginvestasi dananya, lender mengharapkan
    adanya imbalan atau return dari penyerahan dana tersebut. Sedangkan bagi
    borrower, adanya dana dari luar dapat digunakan untuk pengembangan
    usahanya tanpa menunggu dana dari hasil operasi perusahaannya. Di dalam
    keuangan, dengan cara menyediakan dana yang diperlukan oleh borrower dan
    para lender tanpa terlibat lansung dalam kepemilikan aktiva riil.
    Selain itu pasar modal juga memiliki fungsi sebagai berikut (Martalena
    dan Maya malinda, 2011:3):

    1. Fungsi saving
      Pasar modal dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin
      menghindari penurunan mata uang karena inflasi.
    2. Fungsi kekayaan
      Masyarakat dapat mengembangkan nilai kekayaan dengan berinvestasi
      dalam berbagai instrumen pasar modal yang tidak akan mengalami
      penyusutan seperti rumah dan perhiasan.
    3. Fungsi likuiditas
      Instrumen pasar modal pada umumnya mudah untuk dicairkan
      sehingga memudahkan masyarakat memperoleh kembali dananya
      dibandingkan rumah dan tanah
    4. Fungsi pinjaman
      Pasar modal merupakan sumber pinjaman bagi pemerintah maupun
      perusahaan membiayai kegiatannya

    Pengertian pasar modal


    Pasar modal adalah suatu ajang yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat
    atau sarana bertemunya antara permintaan dan penawaran atas instrumen
    keuangan jangka panjang, umunya lebih dari 1 (satu tahun). Hukum
    mendefenisikan pasar modal sebagai “ kegiatan yang bersangkutan dengan
    penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan
    dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan
    dengan efek” (Samsul, 2006: 43).
    Pasar modal terdiri dari pasar primer/perdana (primary market) dan pasar
    sekunder (secondary market). Pasar primer adalah pasar untuk surat-surat
    berharga yang baru diterbitkan dan sebagai sarana bagi perusahaan yang untuk
    pertama kali menawarkan saham atau obligasi kemasyarakat umum. Pada pasar
    ini dana berasal dari arus surat penjualan berharga atau securitas (security) baru
    dari pembeli sekuritas (disebut investor) kepada perusahaan yang menerbitkan
    sekuritas (disebut emiten). Sedangkan pasar sekunder adalah pasar
    perdagangan surat berharga yang telah ada (sekuritas lama) di bursa efek dan
    sebagai sarana transaksi jual beli efek antar investor dan harga dibentuk oleh
    investor melalui perantara efek. Uang yang mengalir dari transaksi ini tidak
    lagi mengalir pada perusahaan yang menerbitkan efek tetapi hanya mengalir
    kepada pemegang sekuritas yang satu kepada yang pemegang sekuritas lain
    (Samsul, 2006:46-47).
    Menurut UU No. 8 tahun 1995 tentang pasar modal, pasar modal adalah
    kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,
    perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta
    lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
    Pasar modal memiliki peranan penting bagi perekonomian suatu negara
    karena pasar modal menjanjikan dua fungsi, pertama sebagai sarana pendanaan
    usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari
    masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat
    digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan
    lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk
    berinvestasi pada instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksadana, dan
    lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang
    dimilikinya seusia dengan karakteristik keuntungan dan resiko masing-masing
    instrumen (Mawardi, 2009)
    Pasar modal juga salah satu alternatif bagi perusahaan untuk menghimpun
    dana dari investor. Dan pada dasarnya pasar modal merupakan tempat
    bertemunya pembeli dan penjual dengan resiko untung atau rugi. Untuk
    menarik pembeli dan penjual agar berpartisipasi maka pasar modal harus
    bersifat likuid dan efesien. Pasar modal dikatakan likuid jika penjual dapat
    menjual dan pembeli dapat membeli dengan cepat. Sedangkan pasar modal
    dikatakan efesien jika harga dan surat-surat berharga mencerminkan nilai dari
    perusahaan secara akurat.

    Anomali Musiman (Seasonal Anomaly)


    1 January Effect
    January Effect merupakan sebuah fenomena anomali
    pasar yang terjadi ketika return pada bulan Januari lebih
    tinggi dibanding bulan-bulan lainnya. January Effect
    pertama kali diamati oleh Sidney B. Wachtel (1942) setelah
    ia mencatat sejak tahun 1925, harga saham pada bulan
    Januari meningkat. Teori ini menjelaskan dimana investor
    cenderung menjual sahamnya pada akhir tahun untuk
    mengamankan dana atau merealisasikan capital gain dan
    juga mengurangi beban pajak (Tax Loss Selling), kemudian
    di awal tahun (Januari), investor membeli kembali
    sahamnya dan hal ini mengakibatkan harga saham tersebut
    naik.
    Menurut As’adah (2009:3) dikatakan bahwa January
    Effect adalah sebuah fenomena yang terjadi terkait dengan
    pergantian tahun, yaitu pada saat bulan Desember yang
    menjadi tahun dimana pajak harus dibayarkan dan Januari
    sebagai awal tahun pajak. Ada beberapa faktor yang
    diasumsikan dapat mempengaruhi terjadinya fenomena
    January Effet ini karena, yaitu adanya window dressing
    dimana manajer keuangan menjual sahamnya yang
    memiliki kinerja buruk dan membeli saham yang
    kinerjanya baik, sehingga tercipta sentimen positif dan
    calon investor menjadi tertarik, kemudian adanya tax loss
    selling yaitu, ketika investor menjual sahamnya pada akhir
    tahun (Desember) untuk mengurangi biaya beban pajak,
    selanjutnya membeli kembali ketika awal tahun (Januari),
    dan juga adanya small stock beta yaitu ketika return
    perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar cenderung
    rendah.
    Menurut Sharpe (1995) dalam Deannes dan
    Isynuwardhana (2015), menyebutkan bahwa faktor-faktor
    yang mempengaruhi fenomena January Effect adalah
    adanya hipotesis terkait dengan Tax Loss Selling, Window
    Dressing, dan Small Stock’s Beta. Faktor-faktor tersebut
    akan dijelaskan sebagai berikut:

    1. Tax Loss Selling
      Banyak pendapat dan beragam penjelasan yang
      mengatakan bahwa fenomena January Effect sangat
      berkaitan dengan hipotesis ini, hal ini dikarenakan
      investor ingin menjual sahamnya untuk mengurangi
      beban pajak. Menurut Chotigeat dan Pandey (2005) Tax
      Loss Selling adalah tindakan investor ketika melakukan
      penjualan saham yang dianggap nilainya akan turun,
      dimaksudkan untuk menghasilkan tax loss sebelum
      akhir tahun atau mengurangi jumlah pajak yang akan
      ditanggung.
    2. Window Dressing
      Menurut Sharpe dalam Subhan dkk. (2016)
      window dressing merupakan suatu tindakan yang
      dilakukan dengan menjual saham-saham yang dinilai
      memiliki kinerja kurang baik atau buruk pada akhir tahun.
      Tindakan ini hampir mirip dengan tax loss selling.
      Namun perbedaanya ialah, hal ini dilakukan oleh
      manajer keuangan atau manajer investasi untuk tujuan
      memperbagu atau mempercantik laporan kinerja
      portofolio yang akan dilaporkan, sehingga seolah-olah
      portofolio dari manajer keuangan tersebut terlihat baikbaik saja dan bagus.
      Menurut Choi dan Chhabria (2013) window
      dressing adalah suatu Praktik manajemen yang
      dilakukan oleh manajer investasi dengan menjual saham
      yang memiliki kinerja buruk untuk memperbaiki
      portofolio saham sebelum pelaporan dan membeli
      kembali saham yang dimiliki.
    3. Small Stock’s Beta
      Menurut Rogalski dan Tinic dalam Subhan dkk.
      (2016) saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil akan
      memiliki resiko yang lebih besar pada bulan Januari
      daripada pada bulan-bulan lainnya selain Januari. Bila
      hal tersebut benar maka saham kapitalisasi kecil tersebut
      akan memiliki rata-rata return yang relatif lebih tinggi
      pada bulan Januari dibandingkan dengan bulan-bulan
      lainnya. Satu studi yang dilakukan Rogalski dan Tinic
      (1986) menemukan bahwa beta saham perusahaan kecil
      cenderung naik di awal tahun. Ritter dan Cophra (1989)
      juga menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
      positif antara saham perusahaan kecil dan beta saham
      tersebut terhadap abnormal return.
      .2 The Day of the Week Effect
      The Day of the Week Effect atau efek hari
      perdagangan merupakan sebuah fenomena anomali pasar
      musiman yang terjadi ketika hari-hari perdagangan
      memberikan return yang berbeda, hari Senin memberikan
      return yang negatif sedangkan hari Jumat memberikan
      return positif Cross (1973). Menurut Damodaran dalam
      Iramani dan Mahdi (2006) fenomena ini merupakan
      fenomena dengan perbedaan return yang signifikan pada
      hari Senin dengan hari-hari lainnya selain hari Senin dalam
      seminggu pada hari perdagangan, dimana return yang
      signifikan negatif terjadi pada hari Senin, sedangkan return
      positif terjadi pada hari-hari selain hari Senin. French
      (1980) menemukan adanya rata-rata return pada hari Senin
      signifikan negatif selama 5 sub-periode 5 tahun di Standard
      and Poor Composite.
      Beberapa pendapat bermunculan terkait dengan
      fenomena The Day of the Week Effect, namun hal tersebut
      masih belum bisa dipastikan secara empiris. Seperti
      contohnya Lakonishok dan Levi (1982) menyatakan bahwa
      faktor yang menyebabkan fenomena The Day of the Week
      Effect disebabkan oleh penundaan prosedur dan cek kliring.
      Pendapat tersebut diteliti oleh Dyl et.al (1985) menyatakan
      bahwa prosedur dan cek kliring bukanlah sebagai faktor
      penentu utama dalam pola mingguan return saham.
      Akhirnya informasi dan psikologi yang dianggap sebagai
      faktor terjadinya fenomena The Day of the Week Effect
      yang mungkin bisa menjelaskan penyebabnya.
      3 Rogalski Effect
      Rogalski Effect adalah fenomena anomali pasar
      musiman dimana kejadiannya terjadi ketika return hari
      Senin yang biasanya negatif, hilang pada bulan-bulan
      tertentu. Rogalski (1984) menemukan adanya hubungan
      antara January Effect dan The Day of the Week Effect
      bahwa return hari Senin yang biasanya negatif, pada bulan
      Januari ini menghilang. Hal ini diakibatkan rata-rata return
      pada bulan Januari cenderung tinggi. Pengujian tersebut
      dilakukan oleh Rogalski dengan menggunakan data indeks
      rata-rata Dow Jones.
      Beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia
      terkait Rogalski Effect ditemukan bahwa bulan Januari
      bukanlah bulan dimana return pada hari Senin menjadi
      positif melainkan bulan April, menurut Cahyaningdyah
      (2005) dalam Satoto (2011) dalam penelitiannya
      menemukan adanya return yang lebih tinggi pada bulan
      Aparil dibanding bulan lainnya. Hal ini disebabkan emiten
      diharuskan untuk melaporkan Laporan Keuangan Tahunan
      paling lambat pada akhir bulan ketiga (Maret) setelah
      tanggal laporan keuangan tahunan dalam keputusan Ketua
      Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: KEP-36/PM/2003,
      penyampaian laporan ini memberikan informasi terhadap
      kondisi perusahaan dan cenderung memberi sentimen
      positif terhadap pasar, sehingga return pada bulan April
      cenderung lebih tinggi. Rata-rata banyak perusahaan di
      Indonesia menerapkan manajemen laba. Manajemen laba
      dilakukan dengan memanfaatkan asimetri informasi antara
      perusahaan dengan pihak luar yang berkepentingan
      terhadap perusahaan. Tujuan dari manajemen laba ini
      adalah pada kondisi tertentu likuiditas perusahaan menurun
      ataupun ketika kondisi keuangan yang lemah dan menurun,
      para manajer berusaha untuk menutupi kondisi yang
      sebenarnya terjadi di perusahaan, baik untuk kepentingan
      perusahaan ataupun kepentingan manajer. Adanya praktik
      manajemen laba ini menimbulkan sentimen positif pada
      pasar, karena pasar cenderung optimis terhadap
      perusahaan-perusahaan yang melaporkan kinerja keuangan
      yang baik. Dengan situasi seperti itu, maka pada bulan
      April, menjadi bulan dimana return sahamnya menjadi
      paling tinggi, dengan tingginya return saham maka, return
      negatif hari Senin pada bulan April menghilang.

    Anomali Peristiwa (Event Anomaly)


    1 Analysis Recommendation
    Semakin banyak analis merekomendasikan untuk
    membeli suatu saham semakin tinggi pula peluang harga
    akan turun.
    2 Insider Trading
    Semakin banyak saham yang dibeli oleh insiders,
    semakin tinggi kemungkinan harga akan naik.
    3 Listing
    Anomali ini terjadi ketika perusahaan telah
    mengumumkan akan melakukan pencatatan saham di bursa
    atau listing, harga sekuritas cenderung akan naik.

    4 Value Line Rating Changes
    Anomali ini terjadi ketukan value line menempatkan
    rating perusahaan pada urutan tinggi, menyebabkan harga
    sekuritas akan naik

    Anomali Perusahaan (Firm Anomaly)


    1 Size Effect
    Size Effect adalah ketika Excess return atau
    kelebihan return sesungguhnya terhadap return normal dari
    perusahaan kecil cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi
    dibanding perusahaan yang lebih besar
    .2 Closed-end Mutual Funds Effect
    Anomali ini adalah ketika Return pada close-end
    funds yang dijual dengan potongan, memiliki nilai return
    yang cenderung lebih tinggi.
    3 Neglect Effect
    Neglect Effect adalah ketika sebuah perusahaan yang
    tidak diikuti oleh banyak analis, memiliki kecenderungan
    return lebih tinggi dibanding dengan perusahaan yang
    terdapat banyak analisis.
    4 Institutional Holdings
    Institutional Holdings adalah sebuah perusahaan
    yang dimiliki oleh sedikit institusi memiliki kecenderungan
    return yang lebih tinggi.

    Anomali Pasar


    Anomali pasar merupakan sebuah keganjilan di dalam pasar yang
    terjadi dan tidak dapat dijelaskan latar belakang, proses, maupun arahnya
    secara rasional. Jones (1981) menemukan adanya anomali pasar ketika meneliti
    tentang konsep hipotesis pasar efisien. Jones (1981) mendefinisikan anomali
    sebagai teknik-teknik atau strategi-strategi yang berlawanan dengan konsep
    pasar modal yang efisien. Menurut Gumanti (2012) anomali pasar ini sebagai
    peristiwa (event) yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh abnormal return.
    Hasil yang ditimbulkan dari anomali pasar ini berlawanan dari konsep teori
    pasar efisien yang telah dipaparkan sebelumnya. Hal ini menjadi banyak
    pertanyaan bagi para peneliti dan ahli di bidang keuangan. Anomali yang telah
    ditemukan terdapat hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya terjadi jika teori
    pasar efisien ini benar-benar ada. Dengan kata lain, akibat dari adanya anomali
    pasar ini dapat digunakan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan
    melalui abnormal return.
    Levi (1996) dalam Alteza (2007) menggolongkan anomali pasar
    menjadi empat jenis kelompok yang berdasarkan karakteristik kejadian atau
    peristiwanya yaitu: anomali musiman (seasonal anomaly), anomali peristiwa
    (event anomaly), dan anomali akuntansi (accounting anomaly)

    Efisiensi Pasar


    Dari berbagaimacam literatur keuangan, hipotesis pasar efisien
    (Efficiency Market Hipothesis) sudah dikonfirmasi oleh sejumlah peneliti.
    Awal mula dari hipotesis pasar efisien ini bermula ketika Fama
    memperkenalkannya pada tahun 1970 dalam jurnalnya yang berjudul Efficient
    Capital Market: A Review of Theory and Empirical Work. Fama (1970)
    mengatakan pasar dikatakan efisien ketika harga yang dicerminkan
    sepenuhnya sesuai dengan informasi yang tersedia dan sebagai implikasinya
    harga akan bereaksi seketika tanpa adanya bias terhadap informasi baru. Fama
    juga menklasifikasikan hipotesis pasar efisien menjadi tiga bentuk berdasarkan
    informasi yang ada. Tiga bentuk tersebut adalah:
    1 Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)
    Pasar efisien dalam bentuk yang lemah, yaitu apabila hargaharga dari saham atau sekuritas mencerminkan secara penuh (fully
    reflect) informasi masa lalu. Bentuk efisiensi pasar secara lemah ini
    sangat berkaitan dengan teori langkah acak (random walk theory)
    yang menyatakan bahwa data masa lalu tidak dapat dihubungkan
    dengan nilai yang sekarang. Dengan begini nilai-nilai di masa lalu
    tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang.
    implikasinya bagi investor adalah mereka tidak bisa menggunakan
    informasi masa lalu untuk memperoleh abnormal return dan analisis
    teknikal tidak ada gunanya
    2 Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)
    Pasar efisien berbentuk setengah kuat yaitu, harga yang
    tercerminkan sepenuhnya merupakan harga dari semua informasi
    yang dipublikasikan (all publicy available information),
    implikasinya bagi investor tidak dapat menggunakan informasi yang
    dipublikasikan untuk memperoleh abnormal return dan analisis
    fundamental tidak ada gunanya.
    3 Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)
    Pasar efisien berbentuk sempurna yaitu, harga yang
    tercerminkan sepenuhnyna merupakan semua informasi baik yang
    dipublikasikan maupun informasi privat perusahaan, implikasinya
    bagi investor tidak dapat menggunakan informasi publik maupun
    privat dalam memperoleh abnormal return dan insider information
    tidak ada manfaatnya
    Ketiga bentuk efisien ini berupa tingkat kumulatif yang artinya bersifat
    menambah. Hubungan dari ketiga bentuk pasar efisien ini ialah, pasar dengan
    bentuk kuat memuat seluruh informasi dari pasar berbentuk setengah kuat dan
    bentuk lemah. Dan berlaku sebaliknya, pasar dengan bentuk lemah tidak
    mencakup pasar setengah kuat maupun pasar dengan bentuk kuat.

    Return Saham


    Return saham merupakan tingkat pengembalian saham yang diperoleh
    dari perbandingan atau selisih dari harga beli dengan harga jual dari
    kepemilikan suatu saham. Menurut Mahmud M. Hanafi dan Abdul Halim,
    return saham disebut juga sebagai pendapatan saham yang diperoleh dari
    perubahan nilai harga saham pada periode t dengan t-1. Dengan demikian
    semakin tinggi perubahan harga saham, semakin tinggi return saham yang
    dihasilkan.
    Sedangkan menurut Tandellin, return saham merupakan salah satu
    faktor kenapa investor ingin melakukan investasi dan sebagai dari imbalan atas
    resiko yang didapat dari investor atas investasi yang dilakukannya. Return
    investasi memiliki 2 dua komponen utama, yaitu :
    16

    1. Yield, atau sering disebut Dividen merupakan tingkat keuntungan
      yang diberikan oleh perusahaan kepada investor. Komponen ini
      mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara
      periodic dari suatu investasi. Yield hanya berupa angka nol (0) dan
      positif (+).
    2. Capital gain (loss), merupakan komponen return yang mencerminkan
      kenaikan (penurunan) harga suatu keuntungan (kerugian) bagi
      investor. Capital gain bisa berupa angka minus (-), nol (0) dan positif
      (+).
      Menurut Jogiyanto (2003) return saham dibagi menjadi dua,
      yaitu :
      a. Actual return, merupakan return yang telah terjadi atau sudah
      diterima oleh investor.
      b. Expected return, merupakan return yang diharapkan oleh
      investor dan belum terjadi.

    Indeks LQ-45


    Indeks LQ-45 secara sederhana dapat diartikan sebagai 45 indeks
    saham yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, diambil dari namanya LQ
    (liquid) dan 45 sebagai jumlah sahamnya, yang berada di BEI (Bursa Efek
    Indonesia). Indeks LQ-45 pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Februari
    1997 dengan ukuran utamanya likuiditas transaksi adalah nilai transaksi di
    pasar reguler. Dengan perkembangan pasar dan untuk mempertajam kriteria
    likuiditas, pada review Januari 2005, jumlah hari perdagangan dan frekuensi
    transaksi dimasukan sebagai ukuran likuiditas. Sehingga untuk masuk kedalam
    Indeks LQ-45 ini perlu dilakukan seleksi melalui beberapa kriteria pemilihan
    sebagai berikut:

    1. Bursa Efek memilih 60 saham biasa dengan nilai rata-rata transaksi
      tertinggi di pasar reguler dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
    2. Dari 60 saham tadi, dipilih 45 saham terbaik dengan
      mempertimbangkan nilai transaksi, kapitalisasi pasar, jumlah hari
      diperdagangkan dan frekuensi transaski di pasar reguler dalam kurun
      waktu 12 bulan terakhir.
    3. Saham yang masuk perhitungan indeks LQ45 harus masuk juga dalam
      perhitungan IHSG.
    4. Saham sudah tercatat setidaknya 3 bulan di BEI.
    5. Saham harus memiliki kondisi keuangan yang sehat, prospek
      pertumbuhan, dan memiliki frekuensi perdagangan dan transaksi yang
      tinggi di pasar reguler.
      Setiap 6 bulan Indeks LQ-45 akan di review atau ditinjau oleh BEI
      (Bursa Efek Indonesia) terhadap pergerakan saham yang ada di dalam daftar.
      Apabila terdapat saham yang tidak memenuhi kriteria yang sudah disebutkan
      diatas, maka saham tersebut akan diganti dengan saham yang lebih relevan
      pada periode pemilihan saham berikutnya. Daftar ini akan diganti setiap 6
      bulan sekali pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya.
      Untuk menjamin keadilan dalam pemilihannya, BEI (Bursa Efek
      Indonesia) meminta pertimbangan dari pihak lain seperti OJK (Otoritas Jasa
      Keuangan), institusi pendidikan, dan konsultan saham independen yang
      profesional.

    Investasi dan Pasar Modal


    Pasar modal adalah sebuah pasar dari berbagai macam instrumen
    keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang,
    ekuitas (saham), instrumen derivatif, maupun instrumen lainnya. Pasar modal
    merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan ataupun institusi untuk
    memperoleh dana dari investor hal ini dipaparkan oleh Darmadji dan
    Fakhrudin (2006). Menurut Undang-Undang Pasar Modal No.8 Tahun 1995
    pasar modal diartikan sebagai sebuah kegiatan yang bersangkutan dengan
    penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan
    dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan
    dengan efek. Sedangkan menurut Martalena dan Malinda (2011:2) pasar modal
    terdiri dari kata pasar dan modal, jadi pasar modal dapat didefinisikan sebagai
    tempat bertemunya permintaan dan penawaran terhadap modal; baik bentuk
    ekuitas maupun jangka panjang. Dari definisi-definisi yang telah dipaparkan
    diatas maka dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah sebuah pasar dengan
    berbagai macam instrumen yang diperjualbelikan seperti saham, obligasi,
    instrumen derivatif, dan semacamnya serta pasar modal sebagai fasilitator
    untuk mempertemuka pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dengan
    pihak yang membutuhkan dana (emiten).
    Menurut Hadi (2013:14) manfaat dari pasar modal sendiri ialah sebagai
    wadah yang terorganisir berdasarkan Undang-undang untuk mempertemukan
    antara investor sebagai pihak yang surplus dana untuk berinvestasi dalam
    instrumen keuangan jangka panjang, pasar modal memiliki manfaat antara lain:

    1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha
      sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal.
    2. Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan
      resiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan
      diversifikasi investasi.
    3. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan
      mempunyai prospek, keterbukaan dan profesionalisme, menciptakan
      iklim berusaha yang sehat.
    4. Menciptakan lapangan kerja/profesi yang menarik.
    5. Memberikan akses control social.
    6. Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara.
      Investasi Menurut Horne (1981) investasi merupakan kegiatan yang
      dilangsungkan ialah dengan memanfaatkan kas pada masa sekarang ini, dengan
      tujuan untuk mendapatkan hasil barang di masa yang akan datang. Dari
      definisi-definisi yang sudah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
      investasi merupakan sebuah pengorbanan pada masa sekarang demi mendapat
      keuntungan di masa yang akan datang. Kaitan investasi dengan pasar modal
      adalah sebagai fasilitas atau wadah dimana para investor yang ingin
      menanamkan modal dengan cara membeli instrumen dalam pasar modal
      dengan harapan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.
      Pasar modal dapat menjadi pilihan alternatif bagi investor yang ingin
      melakukan investasi. Di dalam pasar modal terdapat banyak perusahaan
      dengan kondisi keuangan dan kinerja yang berbeda-beda yang dapat dipilih
      oleh investor. Perusahaan-perusahaan yang ada di pasar modal dan menjual
      instrumen-instrumennya di pasar modal harus sudah memenuhi syarat yang
      ditentukan oleh Badan Pengawas Modal atau Bapepam sehingga dapat menjual
      instrumennya kedalam pasar modal dan menjadi perusahaan go public.
      Investor masuk ke dalam pasar modal dengan tujuan utama
      memperoleh keuntungan (return). Untuk memperoleh return yang maksimal,
      investor perlu memperhatikan teknik mereka dalam menganalisis saham,
      analisis saham dilakukan dengan analisis fundamental dan analisis teknikal.
      Tanndelilin (2010:392), “Analisis Teknikal adalah teknik untuk memprediksi
      arah pergerakan harga saham dan indikator pasar saham lainnya berdasarkan
      pada data pasar historis seperti informasi harga saham dan volume.” Sedangkan
      menurut Tanndelilin (2010:338) Analisis Fundamental melakukan analisis
      terhadap faktor-faktor makro ekonomi yang mempengaruhi kinerja seluruh
      perusahaan-perusahan, kemudian dilanjutkan dengan analisis industri, dan
      pada akhirnya dilakukan analisis terhadap perusahaan yang mengeluarkan
      sekuritas bersangkutan untuk menilai apakah sekuritas yang dikeluarkannya
      menguntungkan atau merugikan bagi investor

    Matplotib


    Matplotlib merupakan librari yang digunakan sebagai luaran berupa
    visualisasi data. Visualisasi tersebut tersaji dalam grafik yang dapat
    mempermudah dalam membaca data secara jangka panjang. Sesuai dengan
    Namanya yaitu plot, maka grafik yang dihasilkan didasarkan pada plot yang
    diinginkan. Plot tersebut dituliskan pada suatu tabel yang berisikan banyak
    data. Grafik yang dihasilkan dapat disatukan bersama dengan data lain
    sehingga akan terlihat perbedaan nilai pada setiap kolom yang di ini
    sialisasikan untuk dituangkan ke dalam suatu grafik

    Python


    Python merupakan bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Guido
    van Rossum pada 1990 di Scitchting Mathematisch Centrum, Amsterdam,
    Belanda. Python termasuk bahasa pemrograman yang berorientasi objek dan
    dikategorikan sebagai bahasa pemrograman tingkat tinggi. Python juga
    memiliki library yang siap digunakan untuk pengolahan data seperti NumPy,
    Pandas (Python, 2021). Python adalah bahasa pemrograman interpretatif
    yang serbaguna. Dibandingkan dengan bahasa pemrograman lain yang
    cenderung sulit dibaca dan dipahami, Python menekankan pada keterbacaan
    kode sehingga lebih mudah dipahami dari segi sintaks. Ini membuat Python
    sangat cocok untuk pemula maupun bagi mereka yang sudah menguasai
    bahasa pemrograman lain. Python pertama kali muncul pada tahun 1991 dan
    dirancang oleh Guido van Rossum. Saat ini, pengembangan Python dilakukan
    oleh Python Software Foundation. Python dapat digunakan di hampir semua
    sistem operasi, termasuk berbagai distribusi Linux yang umumnya telah
    menyertakan Python di dalamny

    Word Cloud


    Word cloud adalah sebuah visualisasi yang menampilkan kata-kata dari teks
    yang diberikan. Kata-kata yang muncul lebih sering dalam teks tersebut akan
    ditampilkan dengan ukuran font yang lebih besar. Tujuan dari word cloud
    adalah untuk menyoroti kata-kata yang penting atau sering muncul dalam teks
    yang dianalisis. Word cloud dapat digunakan untuk mengevaluasi isi teks,
    mengidentifikasi topik utama, atau menemukan ide-ide baru. Fitur word
    cloud tersedia di berbagai perangkat lunak analisis data seperti R Studio.
    Dengan menggunakan word cloud, frekuensi kata-kata dapat disajikan secara
    visual dengan gambaran yang menarik dan informatif. Ukuran kata-kata
    dalam word cloud akan disesuaikan dengan frekuensi penggunaannya,
    sehingga kata-kata yang lebih sering muncul akan ditampilkan dengan ukuran
    yang lebih besar dalam visualisasi word cloud

    Labeling Data


    Pemberian label adalah proses mengelompokkan data ke dalam beberapa
    kelas yang akan digunakan oleh penulis. Dalam konteks analisis sentimen,
    kelas yang digunakan adalah positif, netral, dan negatif. Pada tahap ini, data
    akan diberikan label berdasarkan evaluasi penulis terhadap sentimen yang
    terkandung dalam data tersebut, apakah bersifat positif, netral, atau negatif

    Analisis Sentimen


    Analisis sentimen merupakan metode otomatis untuk mengolah data teks
    dengan tujuan memperoleh pemahaman yang akurat. Tujuan dari analisis
    sentimen adalah untuk mengidentifikasi pendapat dan opini masyarakat
    terhadap topik atau isu tertentu yang terdapat dalam data teks yang tidak
    terstruktur. Saat ini, analisis sentimen banyak digunakan dalam kehidupan
    sehari-hari karena pentingnya diskusi dalam pengambilan keputusan terkait
    produk [6]. Analisis sentimen merupakan suatu metode klasifikasi teks yang
    difokuskan pada ulasan dan membedakan apakah ulasan tersebut bersifat
    negatif, positif, atau netral. Analisis sentimen memiliki peran yang sangat
    krusial dalam memahami preferensi pengguna guna pengambilan keputusan
    yang cepat. [7].
    Sentiment analysis terdiri dari 3 sub proses yaitu: [8]
    a. Klasifikasi Subjektivitas: mengidentifikasi kalimat yang mengandung opini
    atau pendapat subjektif.
    b. Deteksi Orientasi: Mengklasifikasikan opini ke dalam kategori positif,
    negatif, atau netral.
    c. Deteksi Pengguna Opini dan Target: Mengidentifikasi entitas atau bagian
    teks yang merupakan pemberi opini (opinion holder) dan entitas atau bagian
    yang menjadi target opini.
    Kelemahan dari sentimen analisis adalah dimana setiap orang memiliki
    perbedaan dalam mengemukakan pendapatnya, ada yang sarkasme dan ada
    juga yang menggunakan kata negasi. Hal tersebut membuat suatu sistem
    terkadang salah dalam mengklasifikasikan suatu kelas dari sebuah sentimen.
    Sentimen analisis banyak dilakukan pada beberapa bidang seperti memonitor
    opini publik terhadap suatu produk di sosial media mengenai monitoring
    awarness dari sebuah brand dan menganalisis testimoni dari pelanggan. Hasil
    dari analisis sentimen dapat memberikan gambaran dari pelanggan sehingga
    suatu perusahaan dapat menentukan langkah selanjutnya dalam
    mengembangkan brand dan produk. Selain itu, dalam konteks kebijakan
    pemerintah, hasil dari analisis sentimen dapat digunakan untuk menyusun
    strategi agar kebijakan-kebijakan bisa diterima dan atau diperbaiki untuk
    meningkatkan pelayanan kepada masyarakat [9].
    Analisis sentimen termasuk dalam bidang ilmu natural language processing
    yang dipelajari secara luas dalam text mining. Analisis sentimen adalah proses
    untuk menganalisis suatu opini atau pendapat, mengekstrak dan
    mengklasifikasikannya sesuai dengan sikap emosionalnya. Data opini bisa
    didapatkan dari berbagai digital platform, misalnya berupa ulasan pada media
    sosial Twitter, Instagram, Youtube, situs web berita, serta market store seperti
    Google Play Store dan App Store

    Support Vector Machine


    Metode Support Vector Machine digunakan untuk melakukan
    prediksi atau klasifikasi terhadap suatu kelas berdasarkan pola yang ada.
    Support Vector Machine bekerja dengan prinsip mencari garis pembatas
    (hyperplane) yang optimal untuk memaksimalkan pemisahan antara kelas
    positif dan negatif (Fitriyah, dkk., 2020).
    Keunggulan Support Vector Machine mencakup kemampuannya
    dalam bekerja dengan baik pada berbagai jenis data, mendapatkan solusi
    optimal, memiliki rasio konvergensi yang rendah, serta mampu mengatasi
    kesulitan dalam masalah. Namun, Support Vector Machine juga memiliki
    kelemahan terkait pemilihan parameter yang tepat yang dapat memengaruhi
    akurasi hasil algoritmanya. Secara umum, Support Vector Machine
    memiliki tingkat akurasi yang lebih baik daripada metode Naïve Bayes
    (Kristiyanti, dkk., 2020).
    Dalam algoritma Support Vector Machine, objek data yang berada
    paling dekat dengan hyperplane disebut sebagai vektor pendukung (support
    vector). Vektor pendukung ini menjadi fokus utama dalam penentuan
    hyperplane optimal, sedangkan objek data lainnya tidak begitu
    diperhatikan.
    Support Vector Machine adalah salah satu dari kelas supervised
    learning. Metode ini mampu melakukan prediksi baik dalam klasifikasi
    maupun regresi. SVM bertujuan untuk menemukan fungsi pemisah optimal
    yang dapat memisahkan dua kelas yang berbeda. SVM dapat diterapkan
    pada berbagai jenis dataset, baik yang dapat dipisahkan secara linier
    maupun non-linier. SVM linier digunakan ketika data dapat dipisahkan
    secara linier, sedangkan untuk data yang tidak dapat dipisahkan secara
    linier, diperlukan pendekatan non-linier

    Machine Learning


    Machine learning merupakan teknik yang memungkinkan mesin
    untuk mengakuisisi pengetahuan dengan memecahkan masalah berdasarkan
    pola yang terdapat pada data yang telah diberikan sebelumnya. Meskipun
    machine learning sering dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI), beberapa
    teknik ini tidak secara langsung menunjukkan kecerdasan, tetapi sangat
    bermanfaat dalam pengembangan Sistem Dukungan Keputusan yang cerdas
    (Kristina, dkk., 2020).
    Teknologi machine learning adalah pengembangan mesin yang
    mampu belajar secara otomatis tanpa perlu arahan langsung dari pengguna.
    Dibangun berdasarkan konsep-konsep dari disiplin ilmu seperti statistika,
    matematika, dan data mining, pembelajaran mesin memungkinkan mesin
    untuk memahami dan menganalisis data tanpa memerlukan reprogram
    ulang atau instruksi langsung.
    Dalam konteks ini, machine learning memiliki kapabilitas untuk
    mengumpulkan dan memanfaatkan data secara mandiri. machine learning
    juga dapat mengambil pelajaran dari data yang telah ada serta yang baru
    diperolehnya, memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai tugas
    yang beragam, tergantung pada apa yang telah dipelajarinya. Istilah
    machine learning pertama kali diperkenalkan oleh beberapa ilmuwan
    matematika seperti Adrien Marie Legendre, Thomas Bayes, dan Andrey
    Markov pada tahun 1920-an, yang mengemukakan dasar-dasar konsep dan
    prinsip machine learning. Sejak saat itu, pengembangan dalam bidang
    machine learning telah berkembang pesat. Salah satu contoh implementasi
    yang terkenal adalah Deep Blue, yang dikembangkan oleh IBM pada tahun
    1996

    Pre-processing


    Pre-processing merupakan tahap pertama melakukan text mining
    berupa mengubah data. Tahap ini melakukan tahap penggalian, pengolahan
    dan pengaturan informasi untuk menganalisis hubungan tekstual. Preprocessing merupakan langkah pertama dalam pengolahan data yang
    bertujuan untuk membersihkan, memformat, dan menyiapkan data mentah
    sebelum dilakukan analisis lebih lanjut. Proses pre-processing berguna
    untuk mengubah informasi dari ulasan atau teks yang tidak terstruktur
    menjadi bentuk standar yang lebih mudah untuk dianalisis (Faadilah, 2020).
    a. Case Folding
    Case folding adalah langkah untuk mengubah huruf kapital menjadi
    huruf kecil dalam teks. Dalam konteks analisis sentimen, proses ini
    bermanfaat untuk mengurangi variasi kata yang pada dasarnya memiliki
    makna yang sama, namun ditulis dengan huruf kapital atau kecil yang
    berbeda. Sebagai contoh, kata “SeLAmat”, “selamat” dan “SELAMAT”
    memiliki arti yang identik, namun tanpa case folding, keduanya akan
    dianggap sebagai kata yang berbeda dan dianalisis secara terpisah dalam
    proses analisis sentimen.
    Case folding bertujuan untuk merubah semua huruf dalam teks
    menjadi huruf kecil atau huruf besar (Faadilah, 2020). Langkah ini
    dilakukan untuk mencegah adanya perbedaan dalam kata yang sama
    karena penggunaan huruf kapital atau huruf kecil yang berbeda.
    b. Tokenizing
    Tokenizing adalah langkah membagi teks menjadi unit-unit yang
    lebih kecil yang dikenal sebagai “token”. Token tersebut bisa berupa
    kata, frasa, atau tanda baca. Proses ini bertujuan untuk memecah kalimat
    menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sebelum dilakukan analisis lebih
    lanjut (Amaliah, dkk., 2022). Dalam analisis sentimen, tokenizing
    penting untuk menyiapkan data teks agar dapat diproses lebih lanjut.
    Tanpa proses tokenizing, data teks tidak dapat diolah dalam analisis
    15
    sentimen karena perlu dipisahkan menjadi token-token terlebih dahulu
    untuk memungkinkan analisis kata dan frasa yang ada dalam teks.
    Bisa disimpulan tokenizing merupakan langkah dalam preprocessing teks yang bertujuan untuk membagi teks menjadi unit-unit
    kecil yang disebut token untuk analisis selanjutnya. Token bisa berupa
    kata, frasa, atau karakter khusus, dan setiap token melambangkan satu
    unit makna dalam teks.
    c. Stopword Removal (Filtering)
    Stopword Removal merupakan proses mengeliminasi kata-kata yang
    biasa dan sering muncul dalam teks, seperti kata depan, kata imbuhan,
    kata ganti, kata penghubung, dan kata-kata lainnya yang tidak
    memberikan kontribusi signifikan dalam memahami makna teks.
    Biasanya, ini melibatkan kata-kata penghubung seperti “yang”, “dan”,
    “di”, “dari”, serta kata-kata lain yang tidak terlalu relevan dalam analisis
    teks. Tindakan ini mencakup penghapusan kata-kata yang kurang
    memiliki makna penting, seperti “dan”, “saya”, atau kata-kata sejenis
    (Rahma, dkk., 2021).
    d. Stemming
    Stemming adalah langkah dalam pre-processing teks yang bertujuan
    untuk mengonversi kata-kata ke dalam bentuk dasar atau kata dasar
    dengan cara memotong akhiran kata. Proses stemming ini merubah katakata yang memiliki imbuhan menjadi bentuk dasar aslinya (Rahma,
    16
    dkk., 2021). Tujuan utama dari stemming adalah untuk mengurangi
    variasi kata yang muncul dalam teks serta menjaga konsistensi makna
    kata meskipun berbeda dalam bentuk.
    e. Pembobotan TF-IDF
    Pembobotan adalah teknik yang digunakan untuk mengubah data
    input menjadi suatu fitur vector. Tiap dokumen mencakup variasi kata
    yang berbeda-beda. Dalam pencarian informasi dari dokumen
    heterogen, pentingnya pemahaman terhadap pembobotan kata
    terungkap, sebab setiap kata memiliki tingkat signifikansi yang berbeda
    di dalam dokumen. Inilah sebabnya mengapa bobot term menjadi
    relevan (Hasna, 2021).
    Pembobotan TF-IDF (Term Frequency-Inverse Document
    Frequency) adalah teknik yang digunakan untuk memberikan nilai
    bobot kepada setiap kata dalam sebuah dokumen berdasarkan seberapa
    sering kata tersebut muncul dan seberapa uniknya dalam seluruh
    dokumen. Term frequency (TF) mencerminkan frekuensi kemunculan
    kata dalam dokumen tersebut. Sering kali, kata-kata yang sering muncul
    dapat mengganggu proses identifikasi kata-kata yang lebih unik. Inverse
    Document Frequency (IDF) berfungsi untuk menyeimbangkan bobot
    kata-kata yang sering muncul dengan mengurangi nilai bobotnya, serta
    mengukur pentingnya makna suatu kata dalam sebuah dokumen.
    17
    f. Confusion Matrix
    Tabel Confusion Matrix digunakan untuk mengevaluasi kinerja
    model klasifikasi yang melibatkan analisis sentimen. Di mana metode
    digunakan untuk menghitung akurasi dengan membandingkan hasil
    klasifikasi yang dilakukan secara aktual dengan hasil klasifikasi metode
    (Amaliah, dkk., 2022). Dengan membandingkan hasil prediksi model
    dengan label kelas yang sebenarnya, Confusion Matrix menunjukkan
    seberapa baik model melakukan klasifikasi. Informasi dalam matriks
    confusion diperlukan untuk menentukan kinerja model klasifikasi,
    menurut Ilmawan dan Mude dalam Maulana (Maulana, 2023)

    Google Collaboratory


    Colaboratory, yang sering disebut sebagai “Colab,” adalah sebuah
    produk dari Google Research. Colab memungkinkan pengguna untuk
    menulis dan mengeksekusi kode Python secara bebas melalui peramban
    web, dan sangat cocok digunakan untuk keperluan machine learning,
    analisis data, dan pembelajaran. Secara teknis, Colab merupakan layanan
    notebook Jupyter yang di-hosting dan dapat digunakan tanpa perlu
    melakukan penyiapan, serta memberikan akses gratis ke sumber daya
    komputasi termasuk GPU. Sumber daya yang tersedia di Colab tidak
    dijamin dan memiliki keterbatasan, dengan batasan penggunaan yang
    kadang berfluktuasi. Langkah ini diperlukan agar Colab dapat menyediakan
    sumber daya secara gratis kepada penggunanya (Soen dkk., 2022)

    Web Scraping


    Web scraping adalah metode otomatisasi yang memanfaatkan kode
    program untuk menjelajahi halaman web, menemukan pola data yang
    ditargetkan, dan mengekstrak data sesuai kebutuhan pengguna. Scraping
    web dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk pengumpulan data
    untuk analisis bisnis dan penelitian akademis.
    Menurut Santoso (2019), web scraping telah menjadi alat penting
    dalam penelitian ilmiah di Indonesia. Mereka mencatat bahwa scraping web
    memungkinkan peneliti mengumpulkan data dengan cepat dan efektif dari
    berbagai sumber internet. Data ini dapat digunakan untuk analisis statistik,
    penelitian pasar, dan pemodelan prediktif. Studi ini juga menekankan betapa
    pentingnya mempertimbangkan etika saat menggunakan scraping web
    untuk menghindari pelanggaran hak cipta dan privasi.
    Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2020) melihat
    aplikasi scraping web untuk analisis media sosial di Indonesia. Mereka
    menemukan bahwa web scraping dapat digunakan untuk mengumpulkan
    data dari situs media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram untuk
    memahami tren dan pola perilaku pengguna

    Google Play Store


    Google Play Store menjadi tempat untuk mengunduh berbagai
    aplikasi Android dengan jumlah mencapai ratusan ribu. Google Play Store
    merupakan salah satu pasar platform Android yang memiliki peran krusial
    dalam mendistribusikan aplikasi seluler. Menurut situs resmi Google Play
    Store, tahun lalu terjadi lebih dari 140 Miliar proses download konten yang
    ada, lebih dari 2,5 Miliar pengguna aktif setiap bulan, dan Google Play Store
    tersedia di 190 negara di seluruh dunia.
    Fitur review aplikasi disediakan untuk memungkinkan pengguna
    memberikan komentar terhadap aplikasi yang telah mereka gunakan, dan
    tujuannya adalah untuk memberikan mekanisme umpan balik dari pengguna
    kepada pengembang aplikasi

    Binance


    Binance adalah sebuah platform pertukaran cryptocurrency yang
    didirikan pada tahun 2017 di Hong Kong. Dikenal dengan fokusnya yang
    kuat pada perdagangan altcoin. Binance merupakan sebuah ekosistem
    blockchain yang menawarkan berbagai produk, termasuk pertukaran aset
    digital terbesar. Menurut Binance.com, platform ini menyediakan
    perdagangan crypto-to-crypto untuk lebih dari 600 cryptocurrency dan
    token virtual, seperti Bitcoin (BTC), Etherium (ETH), Litecoin (LTC),
    Dogecoin (DOGE), serta token Binance Coin (BNB) yang merupakan
    produk mereka sendiri (Pramesti, 2022)

    Cryptocurrency


    Cryptocurrency merupakan bentuk uang digital yang menggunakan
    teknologi kriptografi untuk mengamankan transaksi, mengatur penciptaan
    unit tambahan, dan memverifikasi transfer aset. Keberadaan cryptocurrency
    memungkinkan perubahan yang signifikan dalam sistem keuangan
    tradisional yang dikelola oleh lembaga keuangan seperti bank dan
    pemerintah. Dengan adanya cryptocurrency, transaksi dapat dilakukan
    secara langsung antara dua pihak tanpa perlu melalui perantara dan
    mengurangi biaya transaksi yang tinggi (Priambodo, 2022).
    Pada tahun 2008, dimulailah era cryptocurrency ketika seseorang
    yang menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto merilis sebuah
    makalah. Cryptocurrency pertama yang dikenalkan adalah Bitcoin, yang
    mulai beroperasi pada tahun 2009. Popularitas Bitcoin memicu minat yang
    besar dari investor dan konsumen ritel terhadap cryptocurrency lainnya.
    Harga Bitcoin melonjak tinggi sebagai akibat dari minat publik yang tinggi.
    Seperti halnya cryptocurrency lainnya, Bitcoin juga memiliki dampak
    negatif di berbagai sektor. Bank Sentral dan otoritas moneter memberikan
    peringatan mengenai risiko yang terkait dengan penggunaan
    cryptocurrency. Harga Bitcoin pada Juli 2010 tercatat sebesar USD 0,04951
    dan mencapai puncaknya pada 17 April 2021, mencapai USD 63.223,88
    11
    atau meningkat sebanyak 127.699.212,28 persen dari harga awalnya
    (Afrizal & Marliyah, 2021)

    Analisis Sentimen


    Analisis Sentimen merupakan salah satu metode untuk
    mengeksplorasi pendapat atau pandangan individu terhadap suatu topik atau
    peristiwa. Ini dapat diterapkan untuk mengungkapkan sikap masyarakat
    terhadap berbagai masalah, kualitas layanan, kebijakan, cyber bullying,
    evaluasi harga saham, dan evaluasi pesaing berdasarkan teks. Namun,
    dengan pertumbuhan data yang cepat, tantangan baru muncul dalam proses
    analisis sentimen. Metode konvensional tidak lagi cukup untuk
    mengidentifikasi dan memahami berbagai jenis sentimen dalam teks secara
    efektif. Menggunakan tenaga manusia untuk mengklasifikasikan sentimen
    dalam volume teks yang besar dan beragam memerlukan investasi waktu
    dan biaya yang signifikan.
    Analisis sentimen, juga dikenal sebagai opinion mining, adalah
    cabang ilmu yang mempelajari pendapat, evaluasi, penilaian, sikap, dan
    emosi yang terkait dengan suatu entitas, seperti produk, layanan, organisasi,
    individu, isu-isu, peristiwa, dan topik tertentu. Tujuan utama dari analisis
    sentimen adalah untuk mengidentifikasi apakah suatu opini bersifat positif
    atau negatif. Contoh penerapan analisis sentimen dalam kehidupan nyata
    adalah untuk mengidentifikasi tren pasar dan opini pasar terhadap suatu
    produk (Nurzahputra & Muslim, 2022)

    Hubungan Sentimen Investor dengan Return saham


    (Wijaya, 2020) mengatakan bahwa sentimen investor memiliki pengaruh
    yang signifikan positif pada return saham. Sedangkan (Hu et al., 2013)
    mengungkapkan bahwa dalam pembentukan return saham cross-section, sentimen
    individual investor berperan penting didalamnya, (Dragoș Ștefan, OPREA & Laura,
    2014) mengatakan bahwa pengukuran sentimen investor menggunakan
    keyakinanan konsumen menghasilkan pengaruh positif pada return saham.
    Menurut (Wendy Ary, 2019) menyatakan sentimen investor mempengaruhi
    return saham pada sektor industri, property, real estate & kontruksi, serta sektor
    keuangan secara signifikan dan negatif Hal ini menujukan adanya fenomena
    misspricing sedang terjadi di bursa efek Indonesia, dari penelitian penelitian dapat
    disimpulkan bahwa senttimen investor mempunyai pengaruh penting dan tetap pada
    suatu perusahaan dan pasar saham secara menyeluruh

    Perusahaan Property & Real Estate


    Perusahaan Prorperty & Real Estate adalah perusahaan industri yang
    terlibat dalam pembangunan, pengembangan, pengelolaan, dan perdagangan real
    estat atau real estat. Mereka fokus pada kegiatan seperti membeli, menjual,
    mengembangkan dan mengelola real estat atau tanah untuk tujuan komersial,
    perumahan, industri atau investasi. Perusahaan Prorperty & Real Estate dapat
    terlibat dalam berbagai macam properti, termasuk:

    1. Properti Komersial: Ini termasuk properti seperti kantor, pusat perbelanjaan, toko
      ritel, bangunan industri, hotel, restoran, dan ruang komersial lainnya. Fokus
      perusahaan real estat komersial adalah pada pengembangan, penjualan, dan
      penyewaan real estat untuk tujuan komersial.
    2. Properti perumahan: Ini termasuk rumah, apartemen, rumah, townhouse dan
      properti perumahan lainnya. Sebuah perusahaan real estate yang
      mengembangkan, menjual dan menyewakan apartemen.
    3. Kawasan industri: Ini termasuk pabrik, gudang, kompleks industri dan properti
      lain yang digunakan untuk kegiatan manufaktur atau industri. Real estat industri
      berfokus pada pengembangan, penjualan, dan penyewaan real estat industri
    4. Investasi properti: Properti investasi adalah properti yang dimiliki bisnis untuk
      menghasilkan sewa atau untuk meningkatkan nilainya. Fokus perusahaan real
      estat yang dimiliki sebagai investasi keuangan adalah pada akuisisi,
      pemeliharaan, dan penjualan real estat untuk investasi modal jangka panjang.
      Perusahaan real estat dan real estat dapat terlibat dalam berbagai aktivitas,
      termasuk pengembangan proyek, manajemen properti, pemasaran dan
      penjualan, penilaian properti, manajemen sewa, dan manajemen properti. Anda
      juga dapat terlibat dalam proses perizinan, pembiayaan proyek, dan negosiasi
      kontrak dengan pihak terkait.Tujuan real estat dan real estat biasanya untuk
      menghasilkan pendapatan dari pengoperasian properti dan untuk meningkatkan
      nilai properti dari waktu ke waktu. Anda beroperasi di lingkungan yang
      dipengaruhi oleh faktor ekonomi, perubahan pasar real estat, kebijakan regulasi,
      dan permintaan

    Variabel Moderasi


    Variabel moderasi merupakan variabel yang mempengaruhi antara variabel
    dependen dan independen yang dapat memperkuat ataupun memperlemah
    hubungan antara variabel independen dengan dependen (Sugiyono, 2018). Menurut
    (Solimun, 2011) variabel moderasi dapat dikategorikan menjadi empat jenis yaitu,
    Variabel Moderasi Murni (Pure Moderarator) merupakan variabel moderasi yang
    diidentifikasi melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1
    dinyatakan tidak signifikan akan tetapi koefisien 2 signifikan secara statistika.
    Moderasi murni merupakan variabel yang memoderasi hubungan antara variabel
    dependen dan variabel independen di mana variabel moderasi murni berinteraksi
    dengan variabel independen tanpa menjadi variabel independen. Variabel Moderasi
    Semu (Quasi Moderarator) merupakan variabel moderasi yang diidentifikasi
    melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1 dinyatakan
    signifikan serta koefisien 2 signifikan secara statistika. Moderasi semu merupakan
    variabel yang memoderasi hubungan antara variabel independen dan variabel
    dependen yang mana variabel moderasi semu berinteraksi dengan variabel
    independen sekaligus menjadi variabel independen. Variabel Moderasi Potensial
    (Homologiser Moderarator) merupakan variabel moderasi yang diidentifikasi
    melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika koefisien 1 dinyatakan tidak
    signifikan serta koefisien 2 tidak signifikan secara statistika. Moderasi potensial
    adalah variabel yang potensial menjadi sebuah variabel moderasi yang
    25
    mempengaruhi kekuatan hubungan antara variabel independen serta variabel
    dependen. Variabel ini tidak berhubungan dengan variabel independen dan tidak
    mempunyai hubungan yang signifikan dengan variabel dependen. Variabel
    Prediktor Moderasi (PredictorModerasi Variabel). Merupakan jenis variabel
    moderasi yang diidentifikasi melalui koefisien 1 dan 2 dalam persamaan jika
    koefisien 1 dinyatakan signifikan sedangkan koefisien 2 tidak signifikan secara
    statistika. Berarti variabel moderasi ini hanya dapat berperan sebagai variabel
    Independen dalam penelitian yang dilakukan

    Sales Growth


    Pertumbuhan pendapatan atau Sales Growth adalah persentase peningkatan
    pendapatan perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Ini adalah indikator
    kinerja utama yang mengukur seberapa baik perusahaan mampu meningkatkan
    penjualan produk atau layanannya dari tahun ke tahun. Pertumbuhan penjualan
    yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan penjualan dan
    dapat mencapai pertumbuhan yang sehat. Namun, perlu diingat bahwa
    pertumbuhan pendapatan harus dianalisis dalam konteks yang lebih luas, termasuk
    faktor-faktor seperti margin laba, biaya operasional, dan strategi pemasaran
    perusahaan.
    Ketika kondisi Sales Growth suatu perusahaan mengalami pertumbuhan,
    perusahaan akan terlihat menarik pertumbuhan ini juga akan menentukan berapa
    lama perusahaan akan tetap berdiri dan berkembang (Toto, 2019). Menurut
    (Kasmir, 2018) pertumbuhan penjualan adalah bagaimana perusahaan
    meningkatkan penjualannya yang kemudian dibandingkan dengan total penjualan
    secara keutuhan. Manfaat dari pertumbuhan penjualan ini selain untuk memperoleh
    laba dari hasil penjualan yang telah dilakukan juga dapat mempercantik laporan
    keuangan sehingga dapat memikat para investor untuk melakukan investasi di
    perusahaan tersebut

    Total Asset Turn Over


    Total Asset Turn Over merupakan salah satu jenis rasio dalam rasio
    aktivitas, rasio ini mengukur tingkat keaktifan dari investasi disuatu perusahaan
    yang dihitung dan dilakukan pada saat menyusun laporan keuangan sehingga dapat
    mengetahui apakah pihak manajemen perusahaan dapat memanfaatkan modal yang
    tersedia dengan efektif yang kemudian akan dibandingkan dengan banyaknya
    penjualan yang terjadi di setiap aset dimiliki dengan menggunakan rasio ini.
    Total Asset Turn Over merupakan rasio perputaran dari total aktiva yang
    menunjukan bahwa perputaran dari modal aktiva dapat diukur dan dihitung dari
    volume penjualan (Harahap, 2015), sedangkan menurut (Brigham, Eugene &
    Houston, 2018) TATO adalah sebuah rasio yang digunkan untuk menghitung dan
    mengukur perputaran dari seluruh aset perusahaan dan didapatkan dari menbagi
    total penjualan dengan total aset perusahaan.
    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Total Asset Turn Over
    adalah rasio yang dipakai untuk mengetahui perputaran dari semua aktiva yang
    dipunyai oleh perusahaan dan berapa total penjualan yang didapat dari setiap
    rupiah

    Sentimen Investor


    Sentimen investor adalah bagian dari realisasi behavioral finance(Agustya,
    2018), behavioral finance adalah penelitian yang dilakukan untuk memahami
    bagaimana fenomena berkaitan dengan psikologis seseorang akan mempengaruhi
    kondisi keuangannya, penelitian ini menjelaskan secara logis mengenai hubungan
    keuangan dan investasi dari sudut pandang manusia secara psikologis, kata Sherfin
    dalam (Agustya, 2018).
    Shiller dalam (Ryu et al., 2019) mengatakan bahwa sentimen investor
    adalah faktor utama yang mempengaruhi dan menjelaskan pergerakan dari harga
    aset serta irrational exuberance dalam pasar uang. Kondisi sentimen investor
    dipengaruhi oleh perilaku perdagangan noise trader dan irrational investor kata
    Banerjee dalam (Ryu et al., 2019). Setimen investor adalah kebiasaan investor
    dalam berspekulasi selain itu sentimen investor juga merupakan hasil dari
    psikologis investor yaitu keyakinan pada suatu situasi tertentu.
    Menurut (Kencana, 2019) menyatakan bahwa keputusan investasi seorang
    investor dalam suatu investasi dapat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian baik
    itu nasional maupun internasional. Investor berreaksi atas suatu kondisi pasar
    tertentu dan respon tersebut mempengaruhi harga serta return saham, respon ini
    dapat dibedakan menjadi respon positif dan respon negatif tergantung dari analisa
    rasional dan irrasional dari seorang investor, respon inilah yang kemudian disebut
    dengan sentimen investor.

    Return saham


    Tujuan utama dari suatu investasi umumnya adalah untuk mendapat return
    atau keuntungan dari investasi tersebut, jika tidak adanya return atau keuntungan
    investor tentu tidak mau melakukan investasi. Menurut jogiyanto dalam (Wijaya,
    2020) return saham dapat dibagi menjadi 2 jenis yakni:

    1. Return Realisasian, merupakan pengembalian dana yang sudah terjadi
      berdasarkan penghitungan data historis, biasanya return ini dipakai sebagai
      data analisis investasi serta analisis portofolio
    2. Return Ekspetasian, merupakan pengembalian dana yang diharapkan oleh para
      investor di masa yang akan datang sehingga hal itu belum dapat dipastikan
      mengenai hasilnya, biasanya return ini dipakai sebagai data masukan untuk
      analisis portofolio.
      Umumnya terdapat 2 keuntungan dalam investasi yang dilakukan di Bursa
      Efek Indonesia yaitu:
    3. Dividen
      Merupakan pembagian keuntungan yang diberikan oleh perusahaan kepada
      pemegang saham yang berasal dari profit usaha perusahaan tersebut. Dividen
      biasa diberikan setelah mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPS,
      jika ingin mendapat dividen investor harus berinvestasi dengan jangka waktu
      tertentu hingga kepemilikan saham diakui sebagai pemegang saham yang berhak
      mendapat pembagian dividen.
      Dividen yang diberikan perusahaan dapat dibedakan menjadi dividen tunai dan
      dividen saham. Dividen tunai adalah pemegang saham akan diberikan uang tunai
      dalam jumlah tertentu oleh perusahaan sesuai dengan jumlah setiap saham yang
      dimiliki investor, sedangkan dividen saham adalah pemegang saham akan
      diberikan saham dari perusahaan dalam jumlah tertentu sehingga jumlah saham
      yang dimiliki investor akan meningkat.