Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian ini tidak sama dengan penelitian-penelitian lain. A. Muri Yusuf (2013:171) menegaskan bahwa “penelitian eksperimen jauh berbeda dari rancangan penelitian jenis-jenis yang lain. Penelitian ini memungkinkan peneliti sedini mungkin untuk mengontrol variabel bebas dan variabel yang lain, sehingga tingkat kepasatian jawaban hasilnya jauh lebih terkontrol dibandingkan dari jenis penelitian kelompok ex post fakto, baik ditinjau dari segi validitas internal (internal validity) maupun validitas eksternal (external validity). Hubungan sebab akibat dapat ditelusuri dengan jelas. Penelitian ini secara umum dapat dikelomokan menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Pre-experiment;
  2. Quasi- experiment;
  3. Turue- experiment.

Penelitian eksperimen memiliki karakteristik yang berbeda dengan metode penelitian lain. Karakteristik dimaksud sebagaimana dijelaskan oleh Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen, yaitu:

  1. Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (acak).
  2. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimen.
  3. Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalam kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
  4. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
  5. Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi yang sama.
  6. Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Ada beberapa unsur lain yang amat penting dan harus diperhatikan dalam melakukan penelitian ini, yaitu kontrol, manipulasi, pengamatan, sebelum dan sesudah. Variabel kontrol disini adalah inti dari metode eksperimental, karena variabel ini yang akan menjadi standar dalam melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan yang terjadi akibat perbedaan perlakuan yang diberikan. Sedangkan manipulasi disini adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda. Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimen, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi (Observasi). Sedangkan unsur “sebelum” dan “sesudah”, digunakan untuk melihat suatu kelompok yang telah diberi perlakukan bagaimana perbedaan sebelum dan sesudahnya.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat ditegaskan bahwa karakteristik penelitian eksperimen adalah:

  1. Menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.
  2. Menggunakan sedikitnya dua kelompok.
  3. Melihat dua kondisi pada satu kelompok, yaitu kondisi sebelum diberi perlakukan dan kondisi sesudah diberi perlakukan.
  4. Harus mempertimbangkan kesahihan ke dalam (internal validity).
  5. Harus mempertimbangkan kesahihan keluar (external validity).

Selain karakteristik penelitian eksperimen yang telah diuraikan di atas, Jaedun (2011), juga menguraikan karakteristik penelitian eksperimen dengan penelitian positivistik lainnya, yaitu:

  1. Metode eksperimen merupakan satu-satunya metode penelitian yang dianggap paling dapat menguji hipotesis hubungan sebab-akibat, atau paling dapat memenuhi validitas internal.
  2. Metode eksperimen merupakan rancangan penelitian yang memberikan pengujian hipotesis yang paling ketat dibanding jenis penelitian yang lain.
  3. Metode eksperimen merupakan penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap dampaknya dalam kondisi yang terkendalikan.
  4. Ciri khas yang membedakan penelitian eksperimen dengan penelitian yang lain adalah:
    1. Satu atau lebih variabel bebas dimanipulasi (kondisinya dibuat berbeda, misalnya treatment dan non-treatment).
    2. Semua variabel lainnya, kecuali variabel perlakuan (variabel bebas), dikendalikan (dipertahankan tetap).
    3. Pengaruh manipulasi variabel bebas (pemberian perlakuan) terhadap variabel terikat diamati, dengan asumsi karena diberi perlakuan yang berbeda maka akan berdampak yang berbeda pula.
    4. Adanya komparasi, sehingga perlu penyamaan antara kelompok yang akan dikenai perlakuan dengan kelompok yang tidak dikenai perlakuan (dua kelompok yang akan dibandingkan tersebut harus komparabel).

Konsep Dasar Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya penelitian eksperimen (experimental research) dilakukan untuk meneliti pengaruh perlakuan yang telah diberikan pada sesuatu. Para ahli penelitian telah memberi pengertian tentang penelitian ini. Salah seorang diantaranya adalah Hadi (1985) mengatakan bahwa penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti. Sementara  (Sugiyono 2011:72) mengatakan juga bahwa metode eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan utuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Sedangkan Sukardi (2011:179) mengatakan juga bahwa penelitian eksperimen pada prisipnya sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship). Sedangkan Borg & Gall (1983), menyatakan bahwa penelitian eksperimen merupakan penelitian yang paling dapat diandalkan keilmiahannya (paling valid), karena dilakukan dengan pengontrolan secara ketat terhadap variabel-variabel pengganggu di luar yang dieksperimenkan. Emmory dalam Jaedun (2011), menegaskan bahwa penelitian eksperimen merupakan bentuk khusus investigasi yang digunakan untuk menentukan variabel-variabel apa saja dan bagaimana bentuk hubungan antara satu dengan yang lainnya. Menurut konsep klasik, eksperimen merupakan penelitian untuk menentukan pengaruh variabel perlakuan (independent variable) terhadap variabel dampak (dependent variable).

Jaedun (2011) juga mengemukakan definisi lain yaitu penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya belum ada sehingga perlu dilakukan proses manipulasi melalui pemberian treatment/ perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian yang kemudian diamati/ diukur dampaknya (data yang akan datang). Penelitian eksperimen juga merupakan penelitian yang dilakukan secara sengaja oleh peneliti dengan cara memberikan treatment/ perlakuan tertentu terhadap subjek penelitian guna membangkitkan sesuatu kejadian/ keadaan yang akan diteliti bagaimana akibatnya. Dijelaksan lagi bahwa penelitian eksperimen merupakan penelitian kausal (sebab akibat) yang pembuktiannya diperoleh melalui komparasi/ perbandingan antara: 1) Kelompok eksperimen (yang diberi perlakuan) dengan kelompok kontrol (yang tidak diberikan perlakuan); atau 2) Kondisi subjek sebelum diberikan perlakuan dengan sesudah diberi perlakuan.

Penggunaan metode penelitian eksperimen pada penelitian sosial dan pendidikan akan dihadapkan pada permasalahan yang menyangkut subyek penelitian. Dalam hal ini, penggunaan metode eksperimen ini akan menjadi sangat rumit mengingat obyek yang diteliti menyangkut interaksi manusia dengan lingkungan, atau interaksi antar manusia itu sendiri. Selain itu, tidak mudah untuk mencari orang yang bersedia dengan sukarela menjadi subyek dari penelitian eksperimen (“kelinci percobaan”). Di lain pihak, penelitian eksperimen yang dilakukan di dalam kelas oleh guru terhadap siswanya atau sebagai penelitian kelas, juga akan menghadapi persoalan validitas hasil penelitian. Dalam hal ini, guru sebagai peneliti akan dihadapkan pada persoalan apakah dia bisa bersikap obyektif, mengingat sebagai peneliti dia juga sebagai manusia yang berinteraksi dengan subyek yang diteliti, yaitu siswanya sendiri.

Berdasarkan pengertian di atas dapat ditegaskan bahwa penelitian eksperimen dilaksanakan dengan memberi perlakukan pada sesuatu dan melihat kondisi yang ditimbulkannya. Artinya ada perlakukan yang diberikan dan ada kondisi yang ditimbulkannya. Dengan kata lain, penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian. Dalam hal pendidikan, penelitian eksperimen dapat dikatakan bahwa penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/ treatment pendidikan terhadap tingkah laku peserta didik. Penelitian ini juga bisa dilakukan untuk menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh tindakan itu jika dibandingkan dengan tindakan lain, atau melihat kondisi atau pengaruh sebelum dan sesudah diberi perlakukan kepada sesuatu atau sekelompok orang. Dapat dijelaskan lagi bahwa penelitian ini di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat, dan erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakua

Struktur Rancangan Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

          Sumardi (2003: 77) menjelaskan struktur  pengembangan yang dilakukan dalam rancangan penelitian pengembangan, yakni.

  1.     Perencanaan

        Pada bagian perencanaan ini ada beberapa langkah yang harus dilkaukan peneliti, yaitu: (a)  melakukan identifikasi, definisi, kompetensi, perumusan tujuan, urutan pembelajaran, dsb., (b) menetapkan kriteria keberhasilan dan jenis-jenis instrumen untuk menilai ketercapaian tujuan, (3) merancang kegiatan pengembangan produk dan uji coba yang meliputi bebeapa aspek lamanya waktu pelaksanaan, fasilitas yang diperlukan, estimasi biaya, dan penentuan subyek.

  1.      Eksplorasi

        Pada bagian ini ada dua aspek yang harus dijelaskan, yaitu (a) kajian literatur tentang produk yang akan dikembangkan dan kajian terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan terkait dengan produk, dan (b) kajian tentang situasi lapangan: kondisi kelas, lembaga, jumlah dan keadaan mahasiswa, sarana, serta praktek pembelajaran yang berlaku.

  1.     Pengembangan awal produk

        Pada bagian ini ada dua tahap yang akan dilakukan oleh seorang peneliti, yaitu: (a) perencanaan dalam membuat produk awal, sampai dihasilkan produk awal yg diinginkan, (b) mereview dan masukan dari pemakai produk perlu dilakukan oleh tim pengembang.

  1.      Validasi

        Dalam memvalidasi produk ada tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (a) aspek penampilan produk: keterbacaan teks, sistematika  materi, kemenarikan (tampilan gambar dan animasi), komposisi warna, kualitas narasi, (b) aspek implementabilitas: standar kompetensi, kejelasan petunjuk penggunaan, kemudahan memahami materi, keluasan, dan kedalaman materi, ketepatan urutan penyajian, interaktif, ketepatan evaluasi, (c) keberterimaan pemakai: Pemakai merasa ’nyaman’ dalam menggunakan.

  1.     Tahap Validasi & Revisi

Ada dua tahapvalidasi yang harus dilakukan seorang peneliti yaitu:

  1. Validasi Ahli (Expert Judgement) dan revisi

       Pada bagian ini, untuk memvalidasi hasil produk yang dihasilkan bisa dilakukan dengan cara mendapatkan persetujuan (konsensus) ahli atau pun melibatkan langsung para pakar dalam bidang terkait dengan produk yang dikembangkan, dalam pelaksanaan harus diperoleh konsensus: cakupan materi, tingkatan dan kedalaman,  kesesuaian media, jenis dan sistem evaluasi. Selanjutnya, barulah peneliti melakukan revisi berdasarkan masukan dari konsensus para ahli.

  1. Uji Lapangan (Field Testing)

Pada tahap uji lapangan ini, ada jenis uji yang akan dilakukan peneliti yaitu:

1)     Uji Lapangan Awal (Preliminary Field Testing) dan Revisi.

2)     Uji Lapangan Utama (Main Field Testing) dan Revisi.

3)     Uji Lapangan Operasional (Operasional Field Testing) dan Perbaikan Akhir.

       Selanjutnya,  Sugiyono  (2003:298) juga menjelaskan bahwa ada 10 langkah-langkah dalam penelitian dan pengembangan, yakni:

  1. Potensi dan Masalah

Masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian R/D ini adalah masalah yang ditimbulkan akibat penyimpangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, sehingga dikemukakanlah satu model, pola, atau system penangganan terpadu yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Potensi dan masalah yang dikemukakan harus ditunjukkan dengan data empirik.

  1. Mengumpulkan Informasi

Setelah potensi dan masalah dapat ditunjukkan secara faktual dan uptode, maka selanjutnya perlu dikumpulkan informasi yang digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut dan menentukan metode penelitian yang akan digunakan untuk penelitian sesuai masalah dan tujuan yang ingin dicapai.

  1. Desain produk

Pada tahap ini peneliti harus membuat rancangan kerja baru berdasarkan peniliaian terhadap  sistem kerja lama, sehingga dapat ditemukan kelemahan-kelemahan terhadap sistem tersebut. Hasil  akhir dari kegiatan ini adalah berupa desain produk baru, yang lengkap dengan spesifikasinya. Desain produk harus diwujudkan dalam gambar dan bagan, sehingga dapat digunakan  sebagai pengangan untuk menilai dan membuatnya. Desain produk juga harus disertai mekanisme penggunaan dan cara kerja.

  1. Validasi desain

Pada tahap  validasi kegiatan yang dilakukan menilai apakah rancangan produk, dilihat dari system kerjanyanya lebih efektif dari yang lama atau tidak. Validasi produk dapat dilakukan oleh beberap pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang dirancang tersebut. Validasi juga dapat dilakukan dalam forum diskusi.

  1. Perbaikan desain

Perbaikan desain dilakukan setelah setelah diketahui kelemahannya, dan diperbaiki langsung oleh peneliti.

  1. Uji coba produk

Ujicoba produk dilakukan setelah produk dibuat, kemudian dilakukan eksprimen, yaitu membandingkan efektifitas dan efesiensi sistem kerja lama disebut kelompok (kontrol)  dengan yang baru yang disebut kelompok (eksperiment). Eksprimen dapat dilkukan dengan cara membandingkan keadaan sebelum dan sesudah memakai system baru (before-after). Kelompok eksperiment  diberi perlakuan untuk sistem kerja baru, sedangkan kelompok kontrol menggunakan sistem kerja lama. Untuk membuktikan signifikan perbedaan sistem kerja lama dan baru , perlu diuji secara statistik dengan t-test berkorelasi (related).

  1. Revisi produk

Apabila system baru yang dilakukan belum mencapai apa yang diharapkan dalam penelitian, maka desain produk perlu direvisi.  Setelah direvisi perlu diujicobakan kembali pada kerja sesungguhnya. Selanjutnya dapat diproduksi.

  1. Ujicoba pemakaian

Menurut Sugiyono  (2003:310) pada tahap ini kegiatan yang dilakukan menerapkan system kerja baru dalam kondisi nyata.

  1. Revisi produk

Revisi produk dilakukan, apabila dalam pemakaian kondisi nyata terdapat kekurangan dan kelemahan.

  1. Pembuatan produk massal

Pembuatan produk massal dilakukan apabila produk yang telah diujicobakan dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi massal.

Prinsip-Prinsip Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

Chaeruman menjelaskan prinsip dasar penelitian pengembangan berdasarkan pendapat ahli yaitu:

  1. Borg and Gall, 1983: penelitian yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan.
  2. Richey and Klien, 2007: Penelitian yang pada dasarnya berfungsi untuk menciptakan suatu produk pembelajaran, tool-tool pembelajaran dan membuat model baru atau meningkatkan/memperbaiki yang ada.
  3. Gay, Mills & Airasian, 2009: Penelitan yang dilakukan untuk melihat kebutuhan pelanggan (komponen yang ada di sekolah) dan kemudian mengembangkan produk untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang  lebih efektif untuk digunakan.

 Karakteristik Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

          Sumardi (2003:14) menjelaskan bahwa dan 4 ciri dari penelitian dan pengembangan, yaitu:

  1. Penelitian pengembangan memusatkan perhatian  pada studi mengenai   variabel-variabel dan perkembanganya selama beberapa bulan atau beberapa

      tahun.

  1. Masalah sampling dalam studi longitudinal adalah kompleks karena terbatasnya subyek yang dapat diikuti dalam waktu yang lama: berbagai faktor mempengaruhi atrisi dalam studi longitudinal. Metode ini juga menuntut kontiniutas staf dan bantuan biaya untuk jangka waktu yang lama.
  2. Studi-studi cross-setional biasanya meliputi subyek lebih banyak, tetapi mencandra faktor-faktor pertumbuhan yang lebih sedikit dari pada studi-studi longitudinal.
  3. Studi-studi kencendrungan mengandung kelemahan bahwa faktor-faktor yang tak dapat diramalkan mungkin membuat kecendrungan yang didasarkan masa lampau menjadi tidak sah.

       Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa penelitian R/D ini bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran, yang disesuaikan dengan kurikulum, sehingga apabila berganti kurikulum, maka penelitian itu bisa saja tidak sah lagi atau tidak cocok digunakan lagi, serta penelitian R/D ini memerlukan lebih banyak waktu dan biaya apabila dibandingkan dengan penelitian lainnya.

          Selanjutnya, Sandjaya (2006:105) menjelaskan bahwa secara umum ada empat karakteristik dari penelitian dan pengembangan, yaitu:

  1. Spesifik dan kontekstual: masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian pengembangan merupakan masalah yang spesifik dan nyata.
  2. Problem solving: pengembangan model dan perangkat pembelajaran berorientasi pada pemecahan masalah.
  3. Kolaboratif: kerjasama antara peneliti/ pengembang (Litbang) dan guru/ sekolah.
  4. Menghasilkan produk: ada produk yang dihasilkan untuk dicoba keefektifannya.

Pengertian dan Definisi Penelitian dan Pengembangan (skripsi dan tesis)

          Sugiyono (2013:297) menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan (Research and Development) adalah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu,  dan menguji keefektifan produk tersebut. Hal ini menggambarkan bahwa R/D bertujuan  untuk menghasilkan atau mengembangkan suatu produk yang bisa berupa model, desain, prototipe, bahan, media, alat, atau strategi pembelajaran yang berguna sebagai peningkatan dalam  kualitas pembelajaran.

Struktur Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Pada umumnya, penelitian tindakan dilakukan berdasarkan tema-tema dan menyarankan sebuah metode untuk meninjau situasi pembelajaran. Ada empat tema dasar dalam penelitian tindakan yang dilakukan oleh anggota penelitian yang saling melengkapi dalam siklus, yakni:

–   Mengembangkan rencana (a plan) tindakan kritis untuk meningkatkan apa yang sedang terjadi.

–   Bertindak (to act) untuk melaksanakan rencana.

–   Mengamati (to reflect) akibat-akibat tersebut sebagai dasar untuk merencanakan lebihlanjut, tindakan cerdas secara kritis berikutnya, dan sebagainya melalui siklus berikutnya.

Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Menurut Kunandar ( 2011: 67-68) ada sepuluh prinsip dalam pelaksanaan PTK, yaitu:

1)        Tidak boleh mengganggu PBM dan tugas mengajar

2)        Tidak boleh terlalu menyita waktu

3)        Metodologi yang dipakai harus tepat dan terpercaya

4)        Masalah yang dikaji benar-benar ada dan dihadapi guru

5)        Memegang etika kerja (minta izin, membuat laporan, dan lain-lain)

6)        PTK bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses belajatr mengajar

7)        PTK menjadi media guru untuk berfikir kritis dan sistematis

8)        PTK menjadikan guru terbiasa melakukan aktivitas yang bernilai akademik dan ilmiah

9)        PTK dimulai dari permasalahan pembelajran yang sederhana, konkret, dan jelas.

10)    Pengumpulan data atau informasi dalam PTK tidak boleh terlalu banyak menyita waktu dan terlalu rumit karena dikhawatirkan akan mengganggu tugas utama sebagai guru dan tenaga pendidik

Fungsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Penelitian tindakan kelas memiliki manfaat atau fungsi yang dapat diraih atau dirasakan sebagai berikut:

(1)          Inovasi Pembelajaran.

 Guru harus selalu terbuka dan bersikap inovatif untuk mencoba, mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan mengajarkan agar mampu melahirkan model-model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kelasnya. Inovasi yang tumbuh dari bawah ini dengan sendirinya akan lebih efektif dibandingkan dengan penataran atau pelatihan, karena berangkat dari realitas permasalahan yang dihayati guru baik di kelas atau sekolah.

(2)          Perbaikan praktis yang meliputi penanggulangan berbagai masalah belajar yang dialami siswa secara sistematis.

Setiap kelas, setiap siswa, dan setiap massa, tentu memiliki karakteristik yang berbeda dan khas. Sudah tentu persoalan yang dihadapinya juga berbeda dan sangat kompleks. Persoalan yang kompleks dan senantiasa berubah setiap waktu tidak mungkin dapat dihadapi jika guru yang bersangkutan tidak mampu bertindak sebagai manajer dan aktor yang mampu mengubah kualitas pembelajarannya.

(3)          Membentuk profesionalitas guru.

Guru yang profesional adalah guru yang memiliki keterbukaan untuk melihat dan menilai kemampuannya secara kritis kemudian melalui proses refleksi mau dengan segera melakukan perubahan, perbaikan, dan pengembangan. Keterlibatan guru dalam PTK dengan demikian dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran.

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

          Karakteristik yang terdapat dalam PTK antara lain:

1)        Didasarkan atas masalah yang dihadapi guru dlam instruksional

2)        Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya

3)        Penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi

4)        Bertujuan memperbaiki atau meningkatkan kualitas praktek instruksional

5)        Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus

          Ada juga pendapat dari Kunandar (2008: 59- 64) menjelaskan beberapa

karakteristik yang terdapat pada PTK sebagai berikut:

1)        Masalah yang diteliti adalah nyata yang muncul dari dunia kerja peneliti

2)        Berorientasi pada pemecahan masakah. Guru melakukan PTK sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajat mengajar di kelasnya melalui suatu tindakan tertentu untuk menyempurnakan proses pembelajaran di kelasnya.

3)        Berorientasi pada peningkatan mutu. PTK dilakukan dalam kerangka untuk memperbaiki mutu PBM yang dilakukan oleh guru di kelasnya.

4)        Siklus yaitu konsep tindakan diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang.

5)        Di dasarkan pada adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki PBM di kelas.

6)        Adanya pengkajian terhadap dampak tindakan yang dikaji sesuai tujuan.

7)        Aktivitas PTK dipicu oleh permasalah praktis yang dihadapi oleh guru dalam PBM di kelas.

8)        Dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra dengan pihak lain, seperti teman sejawat. Ada partisipasi dari pihak lain berperan sebagai pengamat.

9)        Peneliti sebagi praktisi yang melakukan refleksi.

10)    Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus, di mana dalam satu siklus terdiri dari tahapan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi selanjutnya diulang kembali dalam beberapa siklus

Pengertian  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (skripsi dan tesis)

               Kunandar (2008: 45) menyebutkan ada tiga konsep atau unsur dalam penelitian tindakan kelas, yakni bahwa:

  1. Penelitian adalah aktivitas mencermati suatu objek tertentu melalui metodologi ilmiah dengan mengumpulkan data-data dan dianalisis untuk menyelesaikan suatu masalah.
  2. Tindakan adalah suatu aktivitas yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang berbentuk siklus kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu atau kualitas proses belajar mengajar.
  3. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.

          Dari konsep ini  dapat disimpulkan bahwa Penelitian tindakan kelas merupakan sebuah proses refleksi diri yang dilakukan oleh guru dan perangkat pendidikan lainnya dalam situasi kependidikan yang bertujuan untuk memperbaiki:  praktik-praktik kependidikan, pemahaman tentang praktik pendidikan itu sendiri dan dalam situasi bagaimana praktik tersebut dilaksanakan.

          Penelitian Tindakan Kelas oleh  Kunandar (2011:45) adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Selanjutya, Iskandar (2009:21) mendefinisikan PTK adalah suatu kegiatan penelitian ilmiah yang dilakukan secara rasional, sistematis dan empiris reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru, kolaborasi sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di kelas berupa kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi pembelajaran yang dilakukan.

Struktur Rancangan Penelitian Eksperimenm (skripsi dan tesis)

          Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

(1)  Rancangan Pra-Eksperimental

Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

  1. a) Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

(2)  Rancangan Eksperimen Murni

Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

  1. a) Adanya kelompok kontrol.
  2. b) Siswa ditarik secara random dan ditandai untuk masing-masing kelompok.
  3. c) Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

  1. a)Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest only control group design)
  2. b)Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the randomized pretest-posttest control group design)
  3. c)Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)
  4. d)Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)
  5. e)Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

(3)  Rancangan Eksperimen Kuasi/ Semu (Quasi—Experimental Design)

        Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

  1. a)Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design, using matched subject).
  2. b)Rancangan dengan pemasangan subyek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),
  3. c)Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter balanced, using matched subject) .
  4. d)Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)
  5. e)Rancangan faktorial (factorial design).

Jenis-Jenis Desain (Rancangan) Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

          Pada dasarnya rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi tiga yaitu pra eksperimen, eksperimen, dan eksperimen kuasi.

  1. Rancangan Pra Eksperimen

Ada tiga jenis rancangan pra eksperimen  yaitu :

1)         The One Shot Study

                        Perlakuan tes akhir X  T-2. Rancanagan ini hanya menggunakan satu kelompok, kelompok diberikan perlakuan (manipulasi yang dieksperimenkan) ( X ),  diadakan tes akhir (T-2). Hasil tes akhir dianggap sebagai pengaruh pemberian perlakuan. Rancangan ini tidak dapat mengontrol semua ancaman terhadap validitas internal: sejarah, kematangan serta moralitas. Menurut Kerlinger (1990) rancangan ini tidak bernilai ilmiah.

2)   One Group Pretest – Postest Design

                        Tes awal perlakuan tes akhik T-1 X T-2. Rancangan ini menggunakan satu kelompok, sebelum dan sesudah perlakuan diadakan tes. Perbedaan skor tes akhir (T-2) dengan tes awal (T-1) dianggap sebagai pengaruh perlakuan (X). Ciri utama rancangan ini adalah bahwa kelompok dibandingkan dengan dirinya sendiri. Jika skor perbedaan T2-T1 ada perbedaan secara signifikan maka perbedaan ini merupakan pengaruh dari perlakuan (X). Kelemahan rancangan ini adalah balum dapat mengontrol valliditas internal: sejarah, kematangan, pengetasan awal, alat pengukur, dan kemunduran statistik; serta validitas eksternal.

3).  The Static Group Comparison

                        Kelompok perlakuan  tes akhir eksperimen X T-2 kontrol -T-2. Rancangan ini menggunakan paling sedikit dua kelompok, satu kelompok menerima perlakuan yang dieksperimenkan (kelompok eksperimen) sedangkan kelompok yang lain tidak menerima perlakuan (kelompok kontrol) Perlakuan (X) diberikan kepada kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol yang diasumsikan sama dengan kelompok eksperimen tidak mendapat perlakuan. Hasil tes akhir (T-2) kelompok eksperimen, dibandingkan dengan hasil tes akhir (T-2) kelompok kontrol, hasil perbedaan tersebut merupakan pengaruh adanya perlakuan.

            Kelompok rancangan ini adalah menganggap kedua kelompok (eksperimen dan kontrol) sama variabel bebasnya kecuali variabel perlakuan (X). Anggapan ini keliru karena penempatan subyek ke dalam kelompok tidak melalui pengacakan. Sejumlah faktor validitas internal yang tidak dikontrol antara lain: kematangan, seleksi, interaksi kematangan dengan seleksi dan mortalitas.

  1.  Rancangan Eksperimen

Rancangan eksperimen berusaha untuk mengontrol sejauh mungkin semua sumber validitas internal dan eksternal. Dalam semua rancangan eksperimen ada satu karakteristik yang membedakan dengan rancangan lain, yaitu penempatan subyek kedalam kelompok melalui pengacakan serta mempunyai dua kelompok atau lebih. Ada tiga jenis rancangan eksperimen diuraikan sebagai berikut:

1)    Pre test – Posttes Control Desi

–   Kelompok tes awal perlakuan tes akhir

(R)  Eksperimen         T-1                    X-1         T-2
(R)  Kontrol           T-1               X-2         T-2
R = Random ( penempatan kelompok secara acak)

–   Kelompok tes awal perlakuan tes akhir

(R)  Eksperimen T-1     X-1   T-2
(R)               Kontrol                   T-1                           X-2              T-2

M= matching (penempatan kelompok dengan penjodohan)

            Rancangan ini menghendaki paling sedikit ada dua kelompok, penempatan subyek ke dalam kelompok melalui pengacakan dapat pula dengan penjodohan. Kedua kelompok menerima tes awal, pemberian perlakuan diberikan kepada kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima perlakuan. Kemudian, kedua kelompok diberikan tes awal serta adanya kelompok kontrol, akan menjalankan pengontrolan untuk semua sumber-sumber  validitas internal. Kelemahan rancangan ini hanya belum dapat mengontrol validitas eksternal: interaksi pemberian tes awal. Dengan adanya tes awal, maka penggeneralisasiannya hanya untuk kelompok lain yang melalui tes awal. Analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan (X ) dengan membandingkan skor tes akhir (T-2) antara kelompok kontrol dengan t-tes, atau jika  asumsi kelompok tidak sama dapat dianalisis menggunakan teknik kovarian.

2)  Posttes – Only Control Group Design

 Kelompok perlakuan tes akhir

(R)   Eksperimen                                   X                             T-2
(R)     Kontrol                                             –                                  T-2
Rancanga ini sama dengan Pretest – Postest Control Group Design, kecuali tidak diadakannya tes awal. Penempatan subyek ke dalam kelompok dengan pengacakan yang tujuannya untuk mengendalikan semua kemungkinan variabel ekstra, sehingga perbedaan kelompok kemungkinan kegiatan eksperimen dilakukan terjadi hanya secara kebetulan. Setelah penempatan subyek ke dalam dua kelompok, hanya kelompok eksperimen yang mendapat perlakuan. Di luar perlakuan kedua kelompok diperlukan sama, tes akhir dikenakan pada kedua kelompok , kemudian skor hasil tes tersebut dibandingkan. Apabila rerata kedua kelompok berbeda secara signifikan, maka peneliti dapat merasa yakin bahwa perbedaan tersebut karena adanya perlakuan (X). Kelemahan rancangan ini hanya belum dapat mengontrol validitas internal: mortalitas, sedangkan yang lainnya dapat dikendalikan.

3)   Solomon Four Group Design

     Kelompok                 Tes Awal              Perlakuan             tes akhir

      (R)   Eksperimen             T-1                             X                           T-2
(R)   Kontrol                    T-1                              –                              T-2
(R) Kontrol               –                      X                      T-2
(R) Kontrol               –                      –                      T-2
Rancangan empat kelompok solomon, penempatan subyek ke dalam kelompok secara random. Dua kelompok melaksanakan tes awal, sedangkan dua kelompok tidak mengadakan tes awal. Dua kelompok yang mendapatkan perlakuan (X) satu kelompok melakukan tes awal sedangkan kelompok yang lain tidak, akan tetapi keempat kelompok tersebut mendapat tes akhir.

                           Rancangan ini merupakan kombinasi Pretest-postest Control Group Design dengan Postest Only Control Group Design, tujuannya untuk menutup kelemahan dari kedua rancangan tersebut. Kombinasi kedua rancangan ini menghasilkan rancangan yang dapat mengontrol semua sumber ancaman validitas internal dan eksternal. Jalan terbaik untuk menganalisis data dengan menggunakan analisis faktor 2×2. Analisis faktor akan mengurangi interaksi validitas antara perlakuan dengan tes awal.

  1. Rancangan Eksperimen Kuasi

        Banyak situasi pendidikan yang tidak mungkin dapat dipecahkan dengan menggunakan rancangan eksperimen, karena alasan berbagai hal sehingga tidak mungkin mambagi kelompok dan penempatan subyek-subyek dalam kelompok secara acak. Rancangan eksperimen kuasi tidak memberikan pengontrolan secara penuh, oleh sebab itu penting sekali bagi peneliti mengetahui variabel mana yang mungkin tidak sepenuhnya dapat dikendalikan dan dikontrol.

Ada 3 jenis desain penelitian eksperimen adalah sebagai berikut:

  1. The Noneequivalent Control Design

 Kelompok               Tes Awal                Perlakuan             Tes akhir
Eksperimen                   T-1                            X                          T-2
Kontrol                               T-1                                   –                             T-2
Desain ini hampir sama dengan desain ekperimental (pretest-postest control group design), perbedaannya terletak pada tidak adanya pengacakan dalam penempatan subyek ke dalam kelompok-kelompok. Walaupun penempatan subyek secara acak tidak dapat dilakukan, namun usahakan agar kedua kelompok sejauh mungkin sama. Apabila kedua kelompok memang berbeda analisis selanjutnya dengan menggunakan analisis kovarian.

  1. The Time Series Design

                Tes ke-                               Perlakuan                        Tes ke-

                      T-1 T-2 T-3 T-4                              X                        T-5 T-6 T-7 T-8

                             Rancangan rangkaian waktu seperti ini adalah lebih jelas dalam memerinci rancangan one group pretest-postest dengan cara kelompok berulang-ulang mendapat tes (T-1 sampai T-8) di antara pemberian perlakuan (X). Pengaruh perlakuan akan ditunjukan  perbedaan antartes, yaitu dengan membandingkan skor-skor pengukuran. Analisis yang cocok untuk dipergunakan pengolahan data jenis ini adalah analisis varian. Kelemahan desain ini tidak dapat mengontrol validitas internal: sejarah dan penggunaan alat pengukuran; serta validitas eksternal: interaksi tes awal.

  1. Counter Balanced Design

    Replikasi            Perlakuan dari  X-1                X-2                        X-3

1  Kelompok             A.T-1                       B.T-2                     C.T-3
2  Kelompok                  B. T-1                          C.T-2                        A.T-3

3  Kelompok                  C.T-1                         A.T-2                         B.T-

                                                        Rata                                Rata                    Rata

        Dalam rancangan ini semua kelompok ( A, B dan C ) menerima semua perlakuan ( X-1, X-2 dan X-3) tetapi dengan pelaksanaan yang berbeda, seperti digambarkan dalam bagan di atas. Desain ini melibatkan serangkaian replikasi, dalam setiap replikasi kelompok ditukar sehingga pada akhir eksperimen setiap kelompok telah menerima samua jenis perlakuan. Kelemahan utama rancamgan ini adalah kemungkinan terjadinya pengaruh pindahan ( carry over effect) dari satu perlakuan ke perlakuan berikutnya, atau perlakuan tertentu memengaruhi perlakuan yang lain. Analisis statistik  dengan menggunakan analisis varian.

Prinsip-Prinsip Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Ada tiga prinsip dasar dalam pelaksanaan rancangan penelitian eksperimen yaitu:
1.  Replikasi, pengulangan dari eksperimen dasar. Hal ini berguna untuk memberikan      estimasi yang lebih tepat terhadap (kesalahan) error eksperimen dan memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap rata-rata pengaruh yang ditimbulkan dan   perlakuan.

  1. Randomisasi, bermanfaat untuk meningkatkan validitas dan mengurangi bias      utamanya dalam hal pembagian kelompok dan perlakuan.
  1. Kontrol internal, melakukan penimbangan. Bloking, pengelompokan, dan         unit-unit percobaan yang digunakan.

Fungsi Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen pada era kini, penggunaannya ditandai dengan:

  • Behaviorisme, yang menekankan pada studi mengenai pengukuran tingkah laku sebagai ekspresi mental seseorang.
  • Kuantifikasi, yang menekankan penghitungan fenomena sosial dengan angka-angka. Dalam ilmu sosial, penghitungan berbasis angka banyak diterapkan dalam statistika sosial. Perubahan dalam subjek penelitian. Penelitian eksperimen pada awalnya menekankan peneliti professional sebagai subyek dari penelitian tersebut. Namun dalam perkembangannya, subjek penelitian eksperimen berupa orang-orang awam yang belum dikenalnya, sehingga obyektifitas dari hasil penelitian tersebut lebih terjamin.
  • Aplikasi praktis. Penelitian eksperimen diterapkan secara praktis dalam berbagai hal untuk menguji hubungan sebab akibat.

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

          Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu:
1)   Variabel-variabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib dan

       ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi

      langsung, maupun random.

2)   Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental.

3)   Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Dengan demikian, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subyek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.

4)   Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.

5)   Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama.

6)   Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

–  Jika tujuan penelitian ilmiahnya menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel maka cara yang paling tepat untuk menetapkan hubungan itu ialah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah cara yang paling kuat untuk mengetahui hubungan sebab akibat di antara variabel.

–   Menurut  Wasis dan Karwono (1992: 67) penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang paling tepat dan sunguh-sungguh dapat mengetes hipotesis mengenai sebab akibat dan pengaruh suatu hubungan apabila dibandingkan dengan metode penelitian yang lain.

–  Menurut Kerlinger (1990) eksperimen adalah penelitian atau penyelidikan ilmiah di mana si peneliti memanipilasikan dan mengendalikan satu variabel bebas (independent variable) atau lebih dan melakukan observasi terhadap variabel terikat, untuk menemukan variasi yang seiring muncul dengan manipulasi variabel bebas tersebut.

–   Menurut Gay ( 1990), dalam penelitian eksperimen peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel bebas, mengontrol variabel-variabel lain yang diperkirakan  bersangkut paut serta mengamati pengaruhnya terhadap satu atau lebih variabel terikat. Manipulasi variabel bebas merupakan ciri yang membedakan antara penelitian eksperimen dengan jenis penelitian yang lain (historis dan deskriptif).

 Struktur Rancangan Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

        Menurut Creswell (2012: 339-342), ada dua rancangan utama dalam penelitian korelasional yaitu explanatory research design dan prediction research design.

  1. Explanatory Research Design (Rancangan Penelitian Penjelasan).

       Adalah desain korelasional di mana peneliti tertarik dalam dua variabel (atau lebih) bervariasi, yaitu di mana perubahan dalam satu variabel merefleksi perubahan variable lain. Berikut adalah struktur rancangan penelitian penjelasan (explanatory research design):

  1. a)Para peneliti dapat mengkorelasikan dua variabel atau lebih.
  2. b)Para peneliti mengumpulkan data pada satu titik waktu. Bukti ditemukan dalam administrasi instrumen.
  3. c)Peneliti ​​menganalisis semua variabel.
  4. d)Peneliti memperoleh setidaknya dua skor untuk masing-masing variabel.
  5. e)Peneliti melaporkan penggunaan statistik uji korelasi dalam       analisis data.
  6. f)Di akhir, peneliti membuat interpretasi atau menarik kesimpulan dari hitungan hasil tes.
  7. The Prediction Design (Rancangan Penelitian Prediksi)

       Prediktor adalah variabel yang digunakan untuk membuat prediksi tentang hasil dalam penelitian korelasional. Hasil prediksinya itu disebut kriteria variabel. Berikut adalah struktur rancangan dari penelitian prediksi, antara lain:

  1. a)Para penulis biasanya memasukan kata ‘prediksi’ di dalam judul.
  2. b) Para peneliti biasanya mengukur variabel prediktor pada satu titik waktu dan variabel kriteria pada suatu titik waktu selanjutnya.
  3. c)Para peneliti memperkirakan kinerja masa depan.

       Sebuah penelitian prediksi akan melaporkan analisa korelasi menggunakan uji statistik korelasi. Sebagai contoh, penulis mungkin tertarik di beberapa prediktor yang membantu menjelaskan kriteria dari setiap variabel.

             Disisi lain, menurut Fraenkel, Walen, dan Hyun (2012: 363) struktur rancangan dalam penelitian korelasi antara lain adalah memilih masalah, memilih sampel, memilih atau mengembangkan instrumen, penentuan prosedur, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menginterpretasikan hasil.

Jenis-Jenis Desain Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

 Shaughnessy dan Zechmeiser (dalam Emzir, 2008) menyatakan ada 5 jenis desain penelitian korelasional yaitu: (1) korelasi bivariat, (2) korelasi regresi dan prediksi, (3) regresi jamak, (4) analisis faktor, dan (5) korelasi yang dibuat untuk membuat kesimpulan kausal. Sementara, Creswell (2008) menyatakan hanya ada dua desain utama penelitian korelasional yaitu eksplanatori (explanatory) dan prediksi (prediction). Meskipun para ahli mengelompokkan rancangan penelitian korelasional agak berbeda, namun pada prinsipnya pengklasifikasian tersebut hanya berpijak pada pandangan yang berbeda dan penamaan yang berbeda

Prinsip-Prinsip Penelitian Korelasional (skrispi dan tesis)

         Dalam penelitian korelasional, para peneliti biasanya hanya mendasarkan pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa mengatur kondisi atau memanipulasi variabel tersebut. Oleh karena itu, peneliti hendaknya mengetahui cukup banyak alasan yang kuat guna mempertahankan hasil hubungan yang ditemukan.

Fungsi Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

          Penelitian korelasi digunakan untuk melakukan penelitian terhadap sejumlah variabel yang diperkirakan mempunyai peranan yang signifikan  dalam mencapai proses pembelajaran. Sebagai contoh, misalnya tentang pencapaian hasil belajar dengan motivasi internal, belajar strategi, intensitas kehadiran mengikuti kuliah, dan lain sebagainya.

          Disamping itu, penelitian korelasi dilakukan untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian tentang dua variabel atau lebih. Pertanyaan tersebut yaitu: (1) Adakah hubungan di antara dua variabel? (2)  Bagaimanakah arah hubungan tersebut? (3) Berapa besar/ jauh hubungan tersebut dapat diterangkan?

Karakteristik Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

(1) Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian eksperimen,

(2) Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan) nyata,

(3) Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan (Sukardi, 2008:166).

Pengertian Penelitian Korelasional (skripsi dan tesis)

          Penelitian korelasional digunakan untuk: (1) mengukur hubungan di antara berbagai variabel, (2) meramalkan variabel tak bebas dari pengetahuan kita tentang variabel bebas, dan (3) meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental (Rakhmat, 2007: 27-31).

          Menurut Creswell (2012: 338) penelitian korelasi yaitu:

“A correlation is a statistical test to determine the tendency or pattern for two (or more) variables or two sets of data to vary consistently…”

“Suatu korelasi adalah uji statistik untuk menentukan kecenderungan atau pola untuk dua (atau lebih) variabel atau dua set data bervariasi secara konsisten…

Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen Time Series (skripsi dan tesis)

Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu:

  • Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  • Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  • Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
  • Membuat rencana penelitian yang di dalamnya mencakup kegiatan: Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; Menentukan cara mengontrol; Memilih rancangan penelitian yang tepat; Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
  • Melaksanakan eksperimen.
  • Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  • Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.
  • Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  •  Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.

Karakteristik Penelitian Eksperimen Time Series (Skripsi dan tesis)

Ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian eksperimen, yaitu kontrol, manipulasi, dan pengamatan.

  1. a) Variabel kontrol adalah inti dari metode eksperimental.
  2. b) Manipulasi variable independent adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda.
  3. c) Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimental, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi.

Time Series Design Eksperimen (skripsi dan tesis)

Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara random. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan keadaan kelompok dapat diketahui dengan jelas, maka baru diberi treatment/perlakuan. Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja, sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol.

Pengertian Penelitian Eksperimen Quasi (skripsi dan tesis)

Penelitian dengan melakukan percobaan terhadap kelompok eksperimen, kepada tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan-perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat di kontrol disebut penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih
kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan
.

Quasi experiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Jenis ini juga sering kali disebut sebagai post-hoc research yang berarti bahwa peneliti dapat melihat efek yang terjadi dari sebuah variabel setelah kejadian tertentu (Salkind, 2006:234).

Quasi experiment sesungguhnya dapat dikatakan mirip dengan true experiment jika dilihat dari pemanipulasian variabel independen yang dilakukan (Ary et al, 2010:316). Beberapa perbedaan yang sangat signifikan dari quasi experiment bila dibandingkan dengan true experiment adalah jika di dalam true experiment digunakan untuk menguji sebab-akibat yang sesungguhnya dari sebuah hasil relasi, sedangkan di dalam quasi experiment hanya melakukan pengujian tanpa adanya kendali penuh didalamnya (Salkind, 2006:10; Levy & Ellis, 2011). Namun hal ini bukan berarti bahwa peneliti sama sekali tidak memiliki kendali terhadap obyek penelitian di dalam quasi experiment, tetapi yang dimaksudkan adalah kendali yang dimiliki tidak mutlak bisa digunakan.

Pembagian dalam Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

  1. Eksperimental Murni (True Experimental)
  • Mengikuti seluruh prosedur & syarat eksperimen terutama dalam : kontrol  variabel, pemberian manipulasi (perlakuan)  dan pengujian hasil
  • Semua variabel dikontrol, kecuali variabel independen yang akan diuji pengaruhnya  terhadap variabel dependen
  • Kelompok  eksperimen diberi perlakuan khusus (variabel yang akan diuji akibatnya), sedang kelompok kontrol  diberi perlakuan lain (yang biasa dilakukan) dan hasilnya  dibandingkan  dengan kelompok eksperimen
  • Pengukuran/pengujian menggunakan instrumen baku (tes standar)
  1. Eksperimental Semu (Quasi Experimental)
  • Pada dasarnya sama dengan eksperimen murni, bedanya dalam pengontrolan variable.
  • Pengontrolan tidak pada semua variabel ttp hanya pada satu variabel yg cukup dominan dan minimal dipasangkan (matching).
  • Umpamanya dari dua kelas yang akan diambil sebagai kelompok kontrol dan  eksperimen, setelah dilakukan pengukuran kecerdasan, diambil secara berpasangan, yang IQnya 140, 135, 130 sampai dengan IQ  90.
  1. Eksperimental Lemah (Weak Experimental)
  • Disebut  pra eksperimen karena tidak ada penyamaan karakteristik (random) dan tidak ada pengontrolan variable
  • Desain dan perlakuannya seperti penelitian eksperimen ttp tidak ada pengontrolan variabel sama sekali
  • Lemah kadar validitasnya
  • Model ini sebaiknya hanya dipergunakan sbg latihan
  • Sebaiknya tdk digunakan  utk tesis, disertasi atau penelitian yang hasilnya digunakan untuk pengambilan keputusan, penentuan kebijakan maupun pengembangan ilmu
  1. Eksperomental Subjek Tunggal (Single Subject Experimental)
  • Eksperimen terhadap subjek tunggal (satu atau dua orang)
  • meneliti individu tanpa perlakuan dan kemudian  dgn perlakuan  serta  akibatnya thdp variabel dependen diukur  dalam kedua kondisi tersebut
  • Agar memiliki validitas internal yg tinggi  disain eksperimen tunggal harus memperhatikan karakteristik : (1) pengukuran yg ajeg; (2) Pengukuran yg berulang-ulang ; (3) Deskripsi kondisi; (3) garis dasar, kondisi perakuan , rentang waktu relatif lama dan pada tahap awal eksperimen I individu diamati sampai menunjukan keadaan stabil baru  kemudian diberi perlakuan; rentang waktu  pada tahap awal disebut garis dasar (based line); (4)  ketentuan variabel . selama perlakuan eksperimen  variabel yg diubah pada satu subjek hanya satu variabel supaya nampak pengaruhnya
  • Eksperimen ini  dilakukan dalam bentuk variasi bentuk eksperimen : baik   eksperimen murni, quasi maupun lemah

Proses Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Langkah-langkah dalam penelitian eksperimen pada dasarnya hampir sama dengan penelitian lainnya. Menurut Gay (1982 : 201) langkah-langkah dalam penelitian eksperimen yang perlu ditekankan adalah sebagai berikut.

  1. Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
  2. Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
  3. Pembuatan atau pengembangan instrumen.
  4. Pemilihan desain penelitian.
  5. Eksekusi prosedur.
  6. Melakukan analisis data.
  7. Memformulasikan simpulan.

Syarat-syarat Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Sebuah penelitian dapat berjalan baik dan memberikan hasil yang akurat jika dilaksanakan dengan mengikuti kaidah tertentu. Seperti halnya dengan penelitian eksperimen, akan memberikan hasil yang valid jika dilaksanakan dengan mengikuti syarat-syarat yang ada. Berkaitan dengan hel tersebut, Wilhelm Wundt dalam Alsa (2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental, yaitu:

(1)   Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian;

(2)   Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama;

(3)   Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya;

(4)   Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi perlakukan (experimental group).

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Ciri-ciri yang membedakan eksperimen dari jenis penelitian lain adalah adanya:

(1)   Manipulasi variable

Bila kita melakukan eksperimen, maka secara sengaja kita mengintervensi terjadinya hubungan kausal.

  • Situasi (variabel bebas) yang diasumsi sebagai penyebab munculnya gejala (variabel terikat) secara sengaja dimanipulasi.
  • Manipulasi variabel itu dilakukan dengan menempatkan subjek pada situasi tersebut, dan mencegah kemungkinan munculnya faktor lain yang dapat mencemari situasi itu.

(2)   Kontrol

Kesimpulan tentang hubungan kausal antara variabel bebas dan variabel terikat dengan valid, bila dilakukan pengontrolan pengaruh variabel lain terhadap variabel terikat.

  • Pengontrolan ini menggunakan apa yang disebut dengan kelompok kontrol. Dalam berbagai segi, keberadaan kelompok kontrol sarna dengan kelompok eksperimen.
  • Satu-satunya perbedaan adalah, pada kelompok eksperimen diberi perlakuan (treatment), sedangkan pada kelompok control tidak ada perlakuan.
  • Dengan demikian, bila muncul gejala yang berbeda antara kedua kelompok, maka itu dianggap sebagai pengaruh perlakuan atau treatment effect.

(3)   Penugasan Random (RANDOM ASSIGNMENT)

  • Dalam konteks eksperimen, perandoman dilakukan dalam dua kegiatan, yaitu dalam memilih subjek yang menjadi sampel (pemilihan random atau random selection), dan dalam menugaskan setiap subjek yang menjadi sampel ke dalam salah satu dari kelompok eksperimen atau kelompok kontrol, yang disebut dengan penugasan random alau random assignment.
  • Pemilihan random berfungsi membuat kelompok subjek yang menjadi sampel itu representatif terhadap populasi.
  • Adapun fungsi penugasan random adalah agar sebelum pelaksanaan eksperimen, baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol keadaannya sama (homogen), sehingga bila setelah eksperimen terjadi perbedaan pada kedua kelompok itu, perbedaan yang terjadi adalah pengaruh dari perlakuan.

(4)   Perlakuan (Treatment)

  • Eksperimen pada intinya sama dengan observasi. Perbedaan antara keduanya terletak pada objek yang diamati.
  • Pada observasi yang bukan eksperimen, objek yang diamati telah ada, sedangkan pada eksperimen objek yang diamati itu diciptakan situasi munculnya oleh peneliti.
  • Memunculkan objek pengamatan itu adalah melalui perlakuan atau treatment.

Definisi Penelitian Eksperimen Menurut Para Ahli (skripsi dan tesis)

  • Menurut Faisal (1982: 76)

Suatu metode yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan :”Jika sesuatu dilakukan pada kondisi-kondisi yang dikontrol dengan teliti, maka apakah yang akan terjadi?”.

  • Menurut Sugiyono (2011: 72)

Metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.

  • Menurut Fraenkel, dkk (2012: 265)

Penelitian eksperimen adalah unik di dalam dua hal yang sangat penting. Penelitian ini merupakan satusatunya jenis penelitian yang secara langsung mencoba untuk mempengaruhi suatu variabel tertentu, dan ketika benar diterapkan. Penelitian ini juga merupakan jenis penelitian yang terbaik dalam pengujian hipotesis hubungan sebab akibat atau kausalitas.

  • Menurut Hadi (1985)

Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti.

  • Latipun (2002)

Penelitian yang dilakukan dengan melakukan manipulasi yang bertujuan untuk mengetahui akibat manipulasi terhadap perilaku individu yang diamati.

  • (Alsa 2004) Hakekat penelitian eksperimen (experimental research) adalah meneliti pengaruh perlakuan terhadap perilaku yang timbul sebagai akibat perlakuan Eksperimen merupakan modifikasi kondisi yang dilakukan secara sengaja dan terkontrol dalam menentukan peristiwa atau kejadian, serta pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada peristiwa itu sendiri (Moch. Ali, 1993:134)

Rancangan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Rancangan yang akan diterapkan dalam penelitian eksperimen meliputi: pra-eksperimental, eksperimen murni, dan eksperimen kuasi.

(1). Rancangan Pra-Eksperimental

Rancangan pra-eksperirnental yang sederhana ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan pada penelitian. Ada tiga hal yang lazim digunakan pada rancangan pra-eksperimental, yaitu:

a). Studi kasus bentuk tunggal (one-shot case study)

b). Tes awal – tes akhir kelompok tunggal (the one group pretest posttest)

c). Perbandingan kelompok statis (the static group comparison design)

(2). Rancangan Eksperimen Murni

Rancangan eksperimen murni ini mempunyai tiga karakteristik, yaitu:

a). Adanya kelompok kontrol.

b). Siswa ditarik secara ramdom dan ditandai untuk masing-masing kelompok.

c). Sebuah tes awal diberikan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.

Dua rancangan eksperimen secara garis besar dijelaskan sebagai berikut.

a). Rancangan secara acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized

posttest only control group design)

b). Rancangan secara acak dengan tes awal dan tes akhir dengan kelompok kontrol (the

randomized pretest-posttest control group design)

c). Empat kelompok solomon (the randomized solomon four group design)

d). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design)

e). Rancangan secara acak dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized pretest – posttest cont rot group design, using)

(3). Rancangan Eksperimen Kuasi/Semu (Quasi—Experimental Design)

Rancangan eksperimental kuasi ini memiliki kesepakatan praktis antara eksperimen kebenaran dan sikap asih manusia terhadap bahasa yang ingin kita teliti. Beberapa rancangan eksperimen kuasi (eksperimen semu), yaitu:

a). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes akhir dan kelompok kontrol (the randomized posttest – only control group design, using matched subject).

b). Rancangan dengan pemasangan subjek melalui tes awal-tes akhir dan kelompok kontrol (the randomnized posttest – only control group design, using matched subject),

c). Rancangan tiga perlakuan dengan pengaruh imbangan (a three treatment counter balanced, using matched subject) .

d). Rancangan rangkaian waktu (a basic time-series design)

e). Rancangan faktorial (factorial design).

Langkah-Langkah Kegiatan Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu, (1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. (2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah. (3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. (4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) menentukan cara mengontrol; c) memilih rancangan penelitian yang tepat; d) menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; g) mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

(5) Melaksanakan eksperimen. (6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

(7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.

(8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.

(9) Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).

 Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi

Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

 

Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang dapat dipilih dan digunakan dalam penelitian pembelajaran pada latar kelas (PTK). Penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai sebuah studi yang objektif, sistematis, dan terkontrol untuk memprediksi atau mengontrol fenomena. Penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat (cause and effect relationship), dengan cara mengekspos satu atau lebih kelompok eksperimental dan satu atau lebih kondisi eksperimen. Hasilnya dibandingkan dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan (Danim, 2OO2). selanjutnya akan dipaparkan karakteristik 

Teknik Pengumpulan Data Dan Analisis Dalam Penelitian (skripsi dan tesis)

 

Pengumpulan data dalam sebuah penelitian merupakan salah satu tahap yang sangat penting. Teknik pengumpulan data yang tepat dan benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, pada tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan secara cermat sesuai dengan prosedur dan ciri-ciri penelitian yang akan digunakan.

Pada penelititan, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya kurang bisa/tidak bisa dipertanggungjawabkan keakuratannya

Setelah melakukan proses pengumpulan data, hasil dari data tersebut harus dianalisis untuk memberikan arti dari hasil yang telah didapatkan. Proses analisis data diawali dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Dalam penelitian analisis data merupakan kegiatan pokok yang harus dilakukan.

Teknik pengumpulan data dan analisis data penting untuk diketahui oleh seorang peneliti. Oleh karena itu, dalam makalah ini topik yang akan dibahas adalah macam-macam teknik pengumpulan data dan analis data dalam penelitian kuantitatif, kualitatif dan pengembangan.

Dari topik pembahasan yang telah disebutkan di atas, dapat diketahui tujuan penulisan makalah. Tujuan penulisannya yaitu mengetahui macam-macam teknik pengumpulan data dan mengetahui teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif, kualitatif, dan pengembangan.

Pengertian Definisi Operasional (skripsi dan tesis)

 

Menjelaskan definisi operasional variabel dalam penelitian merupakan hal yang sangat penting guna menghindari penyimpangan atau kesalah pahaman pada saat pengumpulan data. Penyimpangan muncul dalam bentuk “bias”. Penyimpangan dapat disebabkan oleh pemilihan/penggunaan instrumen (alat pengumpul data) yang kurang tepat atau susunan pertanyaan yang tidak konsisten. Namun, bukan berarti bahwa semua variabel perlu diberikan definisi operasional Variabel yang sudah jelas, mempunyai pengertian dan interpretasi yang sama, misalnya jenis kelamin (sex”), tidak perlu diberikan definisi operasional.

Agar variabel dapat diukur dengan menggunakan instrumen atau alat ukur, maka variabel harus diberi batasan atau definisi yang operasional atau “Definisi Operasianal Variabel”. Definisi Operasional ini penting dan diperlukan agar pengukuran variabel atau pengumpulan data (variabel) itu konsisten antara sumber data (responden) yang satu dengan responden yang lain. Disamping variabel harus di definisi operasionalkan yang juga perlu dijelaskan cara atau metode pengukuran, hasil ukur atau kategorinya, serta skala pengukuran yang digunakan. Untuk memudahkan, biasanya definisi operasional itu disajikan dalam bentuk “matriks” yang terdiri dari kolom-kolom:

Beberapa Bentuk Desain Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Menurut Prof. Dr. Sugiyono dalam bukunya “Metode Penelitian Pendidikan” tahun 2010, beliau membagi desain penelitian ekperimen kedalam 3 bentuk yakni pre-experimental design, true experimental design, dan quasy experimental design.

1. Pre-experimental design

Desain ini dikatakan sebagai pre-experimental design karena belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Rancangan ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan yang ada dalam penelitian. Bentuk Pre- Experimental Designs ini ada beberapa macam antara lain :

a.      One – Shoot Case Study (Studi Kasus Satu Tembakan)

Dimana dalam desain penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya

b. One – Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Prates-Postes)

Kalau pada desain “a” tidak ada pretest, maka pada desain ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

c.       Intact-Group Comparison

Pada desain ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan).

2. True Experimental Design

Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random. Desain true experimental terbagi atas :

a. Posstest-Only Control Design

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.

Langkah-langkah Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Menurut Sukardi, (2003) pada umumnya, penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti beriku :

  1. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
  2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
  3. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
  4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:

a)   Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen.
b)   Menentukan cara mengontrol.
c) ` Memilih rancangan penelitian yang tepat.
d)   Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian.
e)   Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
f)   Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan.

g)   Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

  1. Melaksanakan eksperimen.
  2. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
  3. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.
  4. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
  5. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.

Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimen, yaitu :

  1. Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (acak).
  2. Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimen.
  3. Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
  4. Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimen, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
  5. Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi yang sama.
  6. Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Selain itu, dalam penelitian eksperimen ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian ini, yaitu kontrol, manipulasi, dan pengamatan. Variabel kontrol disini adalah inti dari metode eksperimental, karena variabel control inilah yang akan menjadi standar dalam melihat apakah ada perubahan, maupun perbedaan yan terjadi akibat perbedaan perlakuan yang diberikan. Sedangkan manipulasi disini adalah operasi yang sengaja dilakukan dalam penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini, yang dimanipulasi adalah variabel independent dengan melibatkan kelompok-kelompok perlakuan yang kondisinya berbeda. Setelah peneliti menerapkan perlakuan eksperimen, ia harus mengamati untuk menentukan apakah hipotesis perubahan telah terjadi (Observasi).

Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen merupakan suatu penelitian yang menjawab pertanyaan “jika kita melakukan  sesuatu pada kondisi yang dikontrol secara ketat maka apakah yang akan terjadi?”. Untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak pada suatu keadaan yang di control secara ketat maka kita memerlukan perlakuan (treatment) pada kondisi tersebut dan hal inilah yang dilakukan pada penelitian eksperimen.  Sehingga penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiono : 2010).

Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, penelitian eksperimen erat kaitanya dalam menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan

Jenis Validitas (skripsi dan tesis)

Campbell & Stanley (1963) membagi validitas eksperimen menjadi dua, yakni validitas internal dan validitas eksternal sedangkan pengarang buku ini Cook & Campbell (1979) mengembangkan pendapat itu dengan membagi validitas eksperimen menjadi 4 yaitu (1) validitas konklusi statistik, (2) validitas internal, (3) validitas konstruk, dan (4) validitas eksternal.

Empat tipe validitas:
1. Validitas kesimpulan Statistik.
Kesimpulan mengenai apakah masuk akal untuk menduga adanya kovariansi antara perlakuan dan efek dalam level alpha dan varians tertentu. Ancaman terhadap validitas kesimpulan statistik adalah ancaman dalam mengambil kesimpulan yang valid mengenai apakah dua variabel covary, (a) Low statisticalpower, (b) Pelanggaran terhadap asumsi uji statistik, (c) Fishing and error rate problem, (d) reliabilitas alat ukur, (e) reliabilitas implementasi perlakuan, (f) random irrelevancies in the experimental setting, (g) random heterogeneity of respondents.
2. Validitas Internal.
 Validitas internal menunjukkan apakah ada hubungan kausal antara dua variabel, apakah hubungan kausal itu berasal dari variabel yang dimanipulasi (perlakuan) ke variabel yang diukur. Ancaman terhadap validitas internal: (a) Sejarah, menunjukkan perubahan perilaku oleh karena peristiwa yang terjadi diantara prestes dan postes dan bukan kerena perlakuan, (b) maturasi, menunjukkan perubahan perilaku oleh karena subjek eksperimen bertambah dewasa, bijak, kuat, lebih berpengalaman antara pretes dan postes dan bukan karena perlakuan, (c) Testing, menunjukkan efek karena pengulangan pengukuran perilaku tertentu. Pengulangan akan membuat subjek eksperimen lebih mengenal tesnya sehingga performans akan meningkat, (d) Instrumentasi, menunjukkan perubahan perilaku karena perubahan yang dialami instrumen antara pretes dan postes dan bukan karena efek perlakuan. Misalnya, pengamat (yang melakukan observasi) perilaku berubah menjadi lebih berpengalaman antara pretes dan postes, (e) regresi statistik, menunjukkan jika kelompok diberi pretes dan alat ukur tidak reliabel, maka skor pretes tinggi akan menjadi skor postes lebih rendah dan sebaliknya. Perubahan perilaku itu bukan karena efek perlakuan, (f) seleksi, menunjukkan efek yang diakibatkan karena perbedaan jenis subjek antara kelompok eksperimen yang satu dengan yang lain. Dalam eksperimen kuasi ancaman seleksi sangat sering terjadi sebab kelompok yang berbeda akan mendapatkan perlakuan berbeda dan bukan kelo mpok yang secara probabilistik setara seperti halnya dalam rancangan eksperimen random, (g) mortalitas menunjukkan efek yang disebabkan oleh jenis subjek yang berbeda yang mengundurkan diri dari kelompok perlakuan selama eksperimen berlangsung. Hasil eksperimen merupakan artifak seleksi sebab kelompok eksperimen terdiri dari subjek yang berbeda pada saat postes, (h) Interaksi dengan seleksi seperti seleksi-maturasi, seleksi-sejarah, dan seleksiinstrumentasi, (i) difusi atau imitasi perlakuan. Jika kelompok-kelompok eksperimen, karena secara fisik dekat, saling dapat berkomunikasi sehingga satu kelompok dapat belajar informasi dari kelompok lain, (j) Penyamaan perlakuan sebagai imbangan. Jika perlakuan memberikan manfaat positif pada kelompok eksperimen, maka administrator memberi bagi kelompok kontrol usaha untuk menyamakan dengan kelompok eksperimen, (k) Persaingan kompensatoris oleh responden yang menerima perlakuan kurang bermanfaat. Jika penugasan subjek atau unit kedalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol diumumkan secara publik maka persaingan akan muncul. Kelompok kontrol akan termotivasi mengurangi perbedaan yang diharapkan. Saretsky (1972) menyebut gejala ini “Efek John Henry” untuk menghormati seorang pengebor baja yang mengetahui akan dibandingkan performansinya dengan pengebor uap menjadi bekerja sangat keras dan mengungguli pengebor uap sehingga berakhir dengan kematian, (l) Demoralisasi responden yang mendapatkan perlakuan yang kurang menguntungkan. Kelompok yang mendapat perlakuan kurang menguntungkan atau kelompok kontrol tanpa perlakuan akan memperlihatkan rasa permusuhan dandemoralisasi. Misalnya dalam industri kelompok kontrol akan mengurangi produksi dan keuntungan perusahaan.
3. Validitas konstruk sebab putatif (yang diduga) dan efek
Validitas konstruk berkaitan dengan problem ”pencemaran” (confounding). Pencemaran berarti bahwa apa yang ditafsirkan peneliti sebagai sebuah hubungan kausal antara konstruk teoretis A dengan konstruk teoretis B oleh peneliti lain ditafsirkan sebagai sebuah hubungan kausal antara konstruk A dengan Y atau antara X dengan B. Ancaman terhadap validitas konstruk sebab putatif dan efek akan menggambarkan operasi-operasi yang gagal untuk memasukkan semua dimensi dari sebuah konstruk atau operasi-operasi yang mema sukkan dimensi yang tidak relevan dengan konstruk sasaran. Ancaman-ancaman itu misalnya (a) pernyataan praoperasional yang tidak memadai sebuah konstruk. Pernyataan yang tepat tentang konstruk sangat vital bagi validitas konstruk oleh karena pernyataan itu akan menyesuaikan manipulasi dan pengukuran dengan definisi yang timbul dari pernyataan tersebut, (b) mono-operation bias, (c) Mono-method bias, (d) Hypothesisguessing within experimental conditions, (e) Evaluation apprehension, (f) Harapan eksperimenter
 4. Validitas Eksternal
 Validitas eksternal menunjuk pada (a) menggeneralisasikan kepada individu, seting, dan waktu sasaran tertentu, serta (b) menggeneralisasikan kepada individu, seting dan waktu lain. Ancaman terhadap validitas eksternal (a) interaksi seleksi dengan perlakuan (b) interaksi seting dengan perlakuan (c) interaksi sejarah dengan perlakuan.

Kontrol Dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

Konsep kontrol dalam eksperimen dipakai dalam berbagai pengertian, yakni (1) Kemampuan mengendalikan situasi dimana eksperimen dilakukan agar pengaruh dari luar (extraneous) dapat dihilangkan. Misal, ruangan dibuat kedap suara, tabung uji dibuat steril dsb. Dalam ilmu sosial, laboratorium dapat melakukan pengontrolan faktor eksternal, namun terkadang ada penelitian yang mengharuskan dilakukan di seting lapangan. Pengontrolan terhadap variabel luar dapat dilakukan di seting kelas dan penjara namun agak lebih sulit melakukan pengontrolan dalam seting rumah atau kampung. Permasalahan utama adalah jumlah pengontrolan dan bukan bisa dikontrol atau tidak sebab tidak ada sebuah lingkungan yang mampu dikontrol total, (2) Kemampuan menentukan unit mana yang mendapatkan perlakuan tertentu pada waktu tertentu, (3) Berkaitan dengan peniadaan ancaman terhadap kesimpulan yang valid (a) dengan cara merancang dan menerapkan prosedur-prosedur riset. Pengertian ini diwakili oleh pernyataan peneliti seperti: “Kami akan mengontrol pengetahuan responden mengenai hipotesis eksperimen dengan cara memberikan kepada responden hipotesis palsu” atau (b) dengan mengukur ancaman potensial kemudian menggunakan pengukuran itu dalam analisis data untuk menghilangkan ancaman tadi. Pengertian ini tercermin dalam pernyataan “Kami berusaha mengendalikan kemungkinan responden yang diberi perlakuan lebih berpengalaman daripada kelompok tanpa perlakuan dengan mengukur jumlah pengalaman yang dimiliki masing-masing dan mengendalikannya dalam analisis statistik

Tipe Dalam Eksperimen Kuasi (skripsi dan tesis)

Tipe eksperimen kuasi secara tradisional dibagi menjadi (a) Rancangan kelompok tak setara (Nonequivalent group designs), biasanya perilaku kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diukur sebelum dan sesudah perlakuan, (b) interrupted time-series design, biasanya efek perlakuan disimpulkan dari pembandingan pengukuran perilaku yang dilakukan beberapa kali sebelum perlakuan dengan pengukuran perilaku yang dilakukan beberapa kali sesudah perlakuan.

Pengertian Kuasi Eksperimen (skripsi dan tesis)

Stouffer (1950) dan Campbell (1957) merumuskankan eksperimen kuasi (quasiexperiment) sebagai eksperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen, namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan pembandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan. Proses perbandingan tergantung kepada kelompok pembanding tak setara yang berbeda dalam banyak hal dan bukan karena adanya perlakuan. Tugas peneliti dalam menafsirkan hasil rancangan eksperimen kuasi adalah memisahkan efek perlakuan dari efek yang disebabkan ketidaksetaraan awal diantara unit-unit didalam masing-masing kelompok perlakuan. Perhatian utama penelitian hanya pada efek perlakuan. Untuk memperoleh pemisahan efek ini, peneliti harus menyatakan ancaman khusus terhadap validitas kesimpulan yang ditiadakankan oleh penugasan acak dan peneliti harus berusaha memecahkan permasalahan ini. Eksperimen kuasi perlu secara eksplisit menyatakan faktor-faktor kausal tak relevan yang ”tersembunyi” didalam ceteris paribus penugasan acak.

Validitas Eksternal Riset (skripsi dan tesis)

 Eksperimen Validitas eksternal menunjukkan bagaimana hasil suatu eksperimen dapat diterapkan kepada dan antar individu yang berbeda, setting yang berbeda, dan waktu yang berbeda. Tiga kategori validitas eksternal yaitu:
1. Validitas populasi (population validity), yaitu kemampuan untuk menggeneralisasi dari sampel eksperimen ke populasi yang lebih luas (yaitu populasi yang daripadanya sampel diambil).
2. Validitas ekologikal (ecological validity) yaitu kemapuan untuk menggeneralisasi hasil riset antar setting atau antar kondisi lingkungan.
 3. Validitas waktu (time validity), menunjukkan pengaruh waktu terhadap hasil eksperimen. Beberapa hal yang dapat mengancam validitas waktu, meliputi: variasi musiman, variasi siklis dalam diri individu, dan variasi dalam karakteristik individu sebagai fungsi dari waktu (personological variation)

Teknik-teknik untuk Mencapai Konstansi Dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

 

Berbagai teknik yang dapat diterapkan untuk mengontrol extraneous variables, adalah:
 1. Randomisasi (Randomization) Randomisasi yaitu suatu teknik kontrol yang menyamakan (equates) kelompok-kelompok subyek eksperimen dengan cara menjamin setiap subyek mempunyai kesempatan (chance) yang sama untuk ditempatkan pada kelompok manapun. Randomisasi ini menyediakan kontrol atas berbagai sumber variasi (baik yang diketahui maupun tidak diketahui) dengan cara mendistribusikannya secara merata (equally) antar seluruh kondisi eksperimental, sehingga pengaruh extraneous variables dapat dipertahankan konstan.
2. Matching (pencocokan) Matching merupakan suatu teknik kontrol yang kurang kuat dalam hal kemampuannya untuk menyamakan kelompok-kelompok subyek pada semua extraneous variables. Akan tetapi teknik matching ini mampu meningkatkan sensitivitas eksperimen dan menyediakan kontrol atas extraneous variables yang dicocokkan (di-match).
3. Counterbalancing Counterbalancing merupakan teknik yang digunakan untuk mengontrol efek urutan (sequencing effects). Sequencing effects ini dapat berupa order effects (yang disebabkan karena performa subyek dalam satu treatment dipengaruhi oleh kondisi/treatment sebelumnya).
 4. Kontrol terhadap subject effects
5. Kontrol terhadap experimenter effects

Kontrol dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

Kontrol dalam eksperimen berkaitan dengan mempertahankan validitas internal, yaitu kondisi bahwa efek yang teramati hanya disebabkan sematamata oleh perlakuan eksperimental. Untuk mencapai validitas internal, pengaruh dari extraneous variables (yaitu berbagai variabel selain variabel independen yang dapat mempengaruhi variabel dependen) harus dikontrol. Kontrol dalam eksperimen mempunyai arti mempertahankan agar pengaruh dari extraneous variables tetap konstan antar berbagai level variabel independen. Hal ini dilakukan karena mengeliminasi pengaruh extraneous variables secara total (kondisi ideal) pada banyak kasus tidak mungkin dilakukan. Mempertahankan kekonstanan pengaruh extraneous variables juga merupakan hal yang sulit bagi beberapa variabel, karena variabel-variabel demikian bervariasi selama proses eksperimen dilakukan. Hal-hal yang harus dikontrol dalam eksperimen adalah:
1. Histori (history), yaitu berbagai kejadian selain variabel independen yang terjadi di antara pretest (observasi/pengukuran awal) dan posttest (observasi/pengukuran akhir) variabel dependen. Atau dapat dikatakan juga bahwa histori adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi antara periode sebelum tes (pretest) dengan sesudah tes (posttest) yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Selama eksperimen dilakukan, subyek mendapat treatmen atau manipulasi. Akan tetapi, peristiwa lain dapat terjadi selama pemberian treatmen tersebut.
2. Maturasi (maturation), yaitu berbagai kondisi internal individu subyek eksperimen yang berubah dengan berlalunya waktu. Atau dapat dikatakan bahwa maturasi adalah efek waktu yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Karena waktu yang berlalu, maka subyek dapat berubah, misalnya perilaku subyek berubah menjadi gusar, bosan, lelah, dan lain sebagainya.
 3. Instrumentasi (instumentation), yaitu perubahan yang terjadi sebagai fungsi dari pengukuran variabel dependen. Instrumentasi adalah efek dari pergantian instrumen pengukur atau pengamat di eksperimen yang dapat memberikan hasil penelitian yang berbeda. Pergantian pengamat (observer) juga dapat mengganggu hasil penelitian, karena pengamat yang berbeda dapat memberikan hasil pengamatan yang berbeda yang tidak konsisten. Sebaliknya, pengamat yang tidak pernah diganti untuk beberapa pengamatan juga dapat menggangu hasil penelitian karena pengamat tersebut bosan, lelah, dan penurunan mental lainnya
. 4. Statistical regression, yaitu perubahan yang dapat diatribusikan kepada kecenderungan nilai-nilai (skor) yang sangat tinggi atau sangat rendah terhadap mean.
 5. Selection, yaitu perubahan akibat prosedur seleksi yang berbeda digunakan dalam menempatkan subyek-subyek eksperimen ke dalam berbagai kelompok.
 6. Mortality, yaitu perubahan akibat “hilang’nya subyek diferensial dari berbagai kelompok komparasi.
7. Subject effect, yaitu perubahan dalam performa subyek yang dapat diatribusikan kepada (disebabkan oleh) motivasi atau sikap subyek, misalnya positive self-presentation (yaitu motivasi subyek untuk memberi respon dalam cara yang mempresentasikan diri mereka secara paling positif). 8. Experimenter effect, yaitu perubahan dalam performa subyek yang diakibatkan oleh experimenter (peneliti). Hal ini dapat muncul dalam dua cara yaitu:
a. Experimenter attributes, yaitu karakteristik fisik dan psikis dari peneliti (experimenter) yang dapat menimbulkan respon yang berbeda pada subyek.
b. Experimenter expectancies, yaitu pengaruh dari ekspektasi peneliti mengenai hasil eksperimen.
9. Sequencing, yaitu perubahan dalam performa subyek yang dapat diatribusikan kepada fakta bahwa subyek berpartisipasi dalam lebih dari satu treatment.
10. Subject sophiscation, yaitu perubahan dalam performa subyek sebagai fungsi dari sophistication atau kebiasaan (familiarity) dengan prosedur-prosedur eksperimental

Variabel-variabel dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

 

1. Variabel Independen

Variabel independen dalam eksperimen adalah variabel yang diubahubah atau dimanipulasi oleh peneliti dalam suatu range yang telah ditentukan. Ada dua syarat yang harus ada untuk suatu variabel dapat dinyatakan sebagai variabel independen, yaitu:

– Variasi. Suatu variabel independen harus dapat dimanipulasi. Beberapa cara untuk memperoleh variasi dalam variabel independen yaitu:

a. Metode presence versus absence (yaitu satu kelompok mendapat treatment, sedangkan kelompok lain tidak mendapat treatment).

b.Membuat jumlah yang berbeda-beda (dari variabel independen tersebut) untuk tiap-tiap kelompok. c. Memvariasi jenis variabel independen.

– Kontrol atas variasi. Variasi yang terjadi harus di bawah kontrol peneliti. Terdapat dua langkah konkrit untuk memperoleh variasi:

– Manipulasi eksperimental (experimental manipulation), yaitu suatu penyesuaian terkontrol (oleh peneliti) atas variabel independen. Dua cara yang dapat dilakukan untuk memanipulasi secara eksperimental yaitu: a. manipulasi instruksi, yaitu memvariasi variabel independen dengan cara memberikan instruksi yang berbeda-beda untuk subyek eksperimen.

b. manipulasi kejadian, yaitu memvariasi variabel independen dengan cara mengubah kejadian-kejadian yang dialami subyek eksperimen.

– Manipulasi terukur (measured manipulation), yaitu memvariasi variabel independen dengan cara memilih subyek-subyek yang berbeda dalam jumlah atau jenis kondisi internal yang terukur. Asumsi yang mendasari manipulasi ini adalah bahwa tiap-tiap individu mempunyai sejumlah variabel personality. Dalam menentukan konstruk variabel independen, peneliti harus merumuskan definisi operasional (atau experimental operations) variabel independen tersebut. Constructing ini akan lebih sulit jika variabel independennya bersifat abstrak. Setelah merumuskan definisi operasional, peneliti perlu menguji validitas konstruk (construct validity) dari rumusan definisi operasional tersebut. Mengenai jumlah variabel independen dalam eksperimen, secara teori dan statistik  tidak ada batasan. Tetapi secara praktis ada batasan jumlah variabel independen ini. Jumlah variabel independen yang terlalu banyak akan menyulitkan subyek eksperimen maupun peneliti.

2. Variabel Dependen

Variabel dependen dalam eksperimen adalah variabel yang mengukur dampak dari variabel independen. Kriteria terpenting dalam memilih variabel dependen adalah sensitivitasnya terhadap efek/akibat dari variabel independen. Reliabilitas dan validitas variabel dependen perlu diperhatikan. Reliabilitas ditetapkan dengan menentukan konsistensi respon. Validitas ditunjukkan dengan apakah variabel dependen mengukur konstruk yang sebenarnya diukur

Identifikasi Masalah dan Pengembangan Hipotesis Dalam Eksperimen (skripsi dan tesis)

Tahap pertama dalam riset eksperimen adalah menemukan topik penelitian. Beberapa sumber ide penelitian eksperimen antara lain: teori, kejadian sehari-hari, isu-isu praktis, atau riset terdahulu. Setelah topik penelitian ditentukan, langkah berikutnya adalah mereview literatur kemudian merumuskan masalah penelitian. Masalah penelitian didefinisikan sebagai suatu kalimat tanya mengenai hubungan antara dua atau lebih variabel. Tiga kriteria perumusan masalah yang baik, yaitu:   1. Menunjukkan relasi variabel. 2. Dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. 3. Dapat diuji secara empiris. Pertanyaan penelitian dalam eksperimen sebaiknya cukup spesifik. Manfaat yang dapat diperoleh dari pertanyaan spesifik adalah: 1. Membantu peneliti memahami masalah penelitian. 2. Membantu peneliti menentukan berbagai item desain penelitian, misalnya subyek eksperimen, instrumen, ukuran. Setelah pertanyaan penelitian dirumuskan, langkah berikutnya adalah mengembangkan hipotesis.

Jenis Metode Eksperimen (skripsi dan tesis)

Berdasarkan settingnya, riset eksperimen dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu: a. Eksperimen lapangan, yaitu riset eksperimen yang dilaksanakan dalam setting kehidupan nyata (real-life). b. Eksperimen laboratorium, yaitu eksperimen yang dilakukan dalam laboratorium yang sangat terkontrol. Eksperimen laboratorium mempunyai keunggulan lebih banyak kontrol, tetapi kelemahannya adalah lebih artifisial.

Keunggulan dan Kelemahan Eksperimen (skripsi dan tesis)

Keunggulan Eksperimen:

• Validitas internal tinggi
• Peneliti dapat memanipulasi variabel independen •
 Peneliti dapat mengendalikan pengaruh variabel extraneous
 • Bisa direplikasi
Kelemahan Eksperimen:
• Validitas eksternal rendah
• Setting penelitian yang artifisial
• Generalisasi rendah
 • Terbatas untuk masalah yang sedang atau segera dihadapi
 • Masalah etika

Perbedaan Eksperimen dan Eksperimen Kuasi (skripsi dan tesis)

Eksperimen atau sering disebut dengan eksperimen betulan (true experiment) berbeda dengan eksperimen kuasi (quasi experiment). Secara umum perbedaannya adalah sebagai berikut:  Eksperimen betulan dilakukan dengan memanipulasi secara eksplisit terhadap satu atau lebih variabel independen dan membagi subyek ke dalam grup eksperimen dan grup kontrol. Sebaliknya untuk eksperimen kuasi, data yang digunakan adalah ex post facto yaitu data yang berasal dari aktivitas atau kejadian yang sudah terjadi yang tidak diintervensi oleh peneliti. Untuk eksperimen betulan, metode randomisasi (randomization) digunakan untuk mengurangi bahkan menghilangkan pengaruh variabel-variabel ekstrani (extraneous variables). Randomisasi dilakukan dengan memilih subyek secara random dari populasinya. Randomisasi hanya dapat dilakukan jika peneliti mempunyai kontrol yang penuh untuk memanipulasi variabel-variabel independen. Cara untuk mengurangi atau menghilangkan variabel-variabel ekstrani ini tidak dapat dilakukan untuk riset yang variabel-variabel di lingkungan nyatanya yang tidak dapat diobservasi dan tidak dapat dimanipulasi.Untuk eksperimen kuasi, randomisasi tidak dapat dilakukan.

Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

Penelitian cohort merupakan penelitian epidemiologis non eksperimental yang mengkaji antara variable independen (faktor resiko) dan fariabel dependen (efek kejadian atau penyakit). Pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian ini adalah pendekatan waktu secara longitudinal. Oleh karena itu, penelitian kohort ini disebut juga sebagai penelitian prospektif. Peneliti yang menggunkan rancangan ini mengobservasi variable independen (faktor resiko ) terlebih dahulu, kemudian subjek diikutii hingga priode waktu tertentu untuk melihat pengaruh variable independen terhadap variable dependen (kejaidan atau penykit yang diteliti) (Nursalam, 2003).

 

Pre Experimental Design (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan rancangan penelitian eksperimen yang  paling lemah dan tidak digunakan untuk membuktikan kausalitas. Pre experimental design terdiri atas one shot case study, pretest-pretest design dan static group comparison.

One shot case study

Penelitian ini dilakukan dengn memberikan intervensi/perlakuan untuk kemudian dilihat dampaknya atau pengaruhnya /hasil pengamatan seperti penelitian berikut : “Pengaruh PKMRS terhadap Tingkat Kepatuhan Kontrol
.” Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah, subjek diberikan penyuluhan tentang kesehatan masyarakat, kemudian dilihat dampaknya terhadap tingkat kepatuhan control.

Pre test-post test design

Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest (pengamatan awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi, Setelah diberikan intervensi, kemudian dilakukan kembali posttest (pengamatan akhir).

Static group comparison

Rancangan ini merupakan rancangan preeksperimental dengan cara menmbah kelompok control. Caranya adalah pada kelompok perlakuan setelah diberikan perlakuan, lalu dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok control hanya dilakukan pengamatan saja.

Kelemahan desain preexperimental ini adlah akan terdapat bnyak variable-variabel luar yang berpengaruh dan sulit dikontrol sehingga tingkat validitas akan berkurang atau akan menyebabkan hasil intervensi yang di dapat kurang akurat.

True Experimental Design (Desain Eksperimen Murni) (skripsi dan tesis)

True experimental design merupakan jenis rancangan penelitin yang mempunyai ketelitian tinggi karena sampelnya dipilih secara acak dan ada kelompok kontrolnya. Pada penelitian ini semua variable luar dapat dikontrol sehingga rancangan ini dapat dikenal dengan experiment yang betul-betul experiment.

Ada tiga jenis true experimental design, yakni 1) randomized pretest-posstest control group design, 2) randomized posstest only control design, 3) solomom four group design.

Randomized Pretest-Posstest Control Group Design

Model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, lalu diberi pretest untuk mencari perbedaan dengan kelompok control terhadap eksperimen yang digunakan.

Randomized Posstest Only Control Design

Cara yang digunakan untuk model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, kemudian satu kelompk diberi perlakuan, sedangkan yang lainnya tidak diberi perlakuan dan kemudian langsung diamati atau diukur.

Solomom Four Group Design

Cara yang digunakan dalam rancangan ini adalah mengambil sampel yang telah diacak sebelumnya, kemudian dibagi dalam empat kelompok, kelompok pertama dilakukan observasi/pengamatan, kemudian diberikan perlakuan lalu diukur/diobservasi. Pada kelompok kedua dilakukan observasi awal tanpa perlakuan kemudian diukur/diamati. Untuk kelompok ketiga langsung diberi perlakuan dan sesudahnya dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok keempat langsung dilakukan pengamatan.

Quasy Experimental Design (Desain Eksperimen Semu) (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan bentuk desain eksperimen yang lebih baik validitas internalnya daripada rancangan preeksperimental dan lebih lemah dari true experimental. Desain ini terdiri atas time series design, nonequivalent control group design, equivalent time sampel design, dll.

Time Series Design

Dalam rancangan ini, pada sampel penelitian, sebelum dilaksanakannya perlakuan dilakukan observasi beberapa kali dan sesudah perlakuan juga dilakukan beberapa kali observasi.

 Nonequivalent Control Group Design

Sampel pada penelitian ini diobservasi terlebih dahulu sebelum diberi perlakuan, kemudian setelah diberikan perlakuan sampel tersebut diobservasi kembali.

Equivalent Time Sampel Design

Sampel penelitian dipilih dalam rancangan ini adalah dua sampel yang ekivalen waktunya. Sampel A diberikan perlakuan X dan sampel B tidak diberikan perlakuan, keduanya kemudian diobservasi dan dilakuak secara berulang-ulang.

Macam penelitian deskriptif (skripsi dan tesis)

Macam penelitian deskriptif antara lain adalah :

    • Survey

Adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan obyek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu. Keuntungan dari survey adalah dapat menjaring responden secara luas dan dapat mendapatkan informasi yang bermacam-macam serta hasil informasi dapat dipergunakan untuk tujuan lainnya.

  •       Case Studi/studi kasusDilaksanakan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri ari unit tunggal. Unit tunggal disini dapat berarti satu orang, kelompok penduduk yang terkena suatu masalah misalnya keracunan atau suatu kelompok masyarakat disuatu daerah. Tujuannya adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga ataupun masyarakat.Cirri-ciri studi kasus

1)      Cenderung untuk meneliti sejumlah unit yang kecil, tetapi mengenai variable dan kondisi yang besar jumlahnya.

2)      Penelitian kasus sangat berguna untuk informasi latar belakang guna merencanakan yang lebih besar dalam ilmu kesehatan dan sosial.

3)      Penelitian kasus memberikan contoh yang berguna berdasarkan data yang diperoleh untuk member gambaran mengenai penemuan yang disimpulkan dengan statistic.

Kelemahan studi kasus

1)      Tidak memungkinkan generalisasi yang objektif pada populasi sebab perincian kasus memang sangat terbatas representatifnya.

2)      Hasilnya kurang obyektif

Ciri-ciri penelitian deskriptif (skripsi dan tesis)

Ciri-ciri penelitian deskriptif adalah :

  • Pada umumnya bersifat menyajikan potret keadaan yang bisa mengajukan hipotesis atau tidak
  • Merancang cara pendekatan, hal yang mmeliputi mecam datanya, penentuan sampelnya, penentuan metode pengumpulan datanya dan penyajian hasilnya.
  • Tidak perlu kelompok pembanding.
  • Tidak mencari penyebab suatu masalah.
  •   Mengumpulkan data.
  • Penyusunan laporan.

Penelitian Observasional Deskriptif (skripsi dan tesis)

Metode penelitian deskritif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalhan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan, membuat kesimpulan dan laporan.

Metode penelitian deskriptif juga diharapkan seorang eneliti berusaha untuk memaprkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdaasarkan data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasikan data. Penelitian ini juga bisa bersifat komparatif, korelatif, ataupun analitik.

Masalah yang layak diteliti dalam penelitian ini adalah masalah yang sedang banyak dihadapi saat ini, khususnya dibidang pelayanan kesehatan. Masalah ini baik yang berkaitan dengan aspek yang cukup banyak, menelaah satu kasus tunggal, mengadakan perbandingan  antara satu hal dengan hal yang lain, melihat pengaruh sesuatu terhadap faktor yang lain atau melihat hubungan suatu gejala dengan faktor yang lain.

Definisi Desain Penelitian Klinik (Skripsi dan tesis)

Agar suatu peneliti dapat mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan maka perlu ditetapkan dahulu desain penelitiannya. Adapun yang dimaksud dengan desain penelitian disini adalah macam atau jenis penelitian tertentu yang terpilih untuk dilaksanakan dalam rangka mencaapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Jika ditinjau dari kehendak untuk mencapai tujuan penelitian, maka peranan desain penelitian adalah amat penting. Peranan tersebut setidak-tidaknya dapat dibedakan atas dua macam yaitu :

  1. Sebagai alat untuk mencapai tujuan penelitian. Memilih suatu desaain penelitian berarti menetapkan macam atau jenis penelitian yang akan dilaksaanakan. Peranan desain penelitian disini adalah sama dengan peranan penelitian itu sendiri yakni sebagai alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Sebagai pedoman dalam melaksankan penelitian. Karena setiap macam atau jenis penelitian meneliti tata laksana tersendiri, maka pemilihan terhadap suatu desain penelitian berarti sekaligus memilih pula tatalaksananya. Tatalaksana ini pada dasaarnya adalah suatu pedoman yang harus dipakai sebagai pegangan dalam melakukan penelitian.

 

Dengan perkataan lain peranan suatu desain penelitian dapat diibaratkan sebagai kendaraan bagi para penumpang, yang akan mengantarkannya sampai ke tujuan, serta juga sebagai rambu-rambu lalu lintas yang akan menuntun keselamatan dalam perjalanan.

Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian. Desain penelitian yang umumnya digunakan di bidang keperawatan adlah rancangan penelitian deskriptif (korelasi, cross sectional), rancangan observasional (case control, cohort), dan rancangan intervensi atau eksperimen (preexperimental, true experimental, dan quasy experimental). (Aziz Alimul Hidayat. 2007)

Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Desain penelitian mengacu pada jenis atau macam penelitian yang dipilih untuk mencapai tujuan penelitian, serta berperan sebagai alat dan pedoman untuk mencapai tujuan tersebut. Desain penelitian membantu peneliti untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian dengan sahih, objektif, akurat serta hemat.

Desain harus disusun dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan agar dapat menghasilkan petunjuk empiris yang kuat relevansinya dengan pertanyaan penelitian. Terdapat hal penting yang perlu dinilai sebelum kita menentukan jenis penelitian yaitu :

Pertama, sejak awal peneliti harus menentukan apakah akan dilakukan intervensi dalam penelitian tersebut, yaitu dengan melakukan penelitian intervensional (eksperimental) atau apakah hanya melakukan pengamatan saja tanpa intervensi yaitu dengan melakukan observasional.

Kedua, bila peneliti memilih studi observasional, perlu ditentukan apakah akan mengadakan pengamatan sewaktu (croosectional) atau melakukan follow up dalam jangka waktu tertentu (longitudinal). Ketiga, apakah akan dilakukan studi retrospektif yaitu meneliti peristiwa yang sudah berlangsung atau prospektif yaitu dengan mengikuti subyek untuk meneliti peristiwa yang belum terjadi.

Kekuatan Dan Kelemahan Studi Kohort (skripsi dan tesis)

Kekuatan studi kohort, meliputi:
1. Pada awal penelitian, sudah ditetapkan bahwa subjek harus bebas dari penyakit, kemudian diikuti sepanjang periode waktu tertentu sampai timbulnya penyakit yang diteliti, sehingga sekuens waktu antara faktor risiko dan penyakit atau efek dapat diketahui secara pasti.
2. Dapat menghitung dengan akurat jumlah paparan yang dialami populasi.
3. Dapat menghitung laju insidensi atau kecepatan terjadinya penyakit, karena penelitian dimulai dari faktor risiko sampai terjadinya penyakit.
4. Dapat meneliti paparan yang langka.
5. Memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah efek atau penyakit secara serentak sebuah paparan. Misalnya, apabila kita telah mengidentifikasi kohort berdasarkan pemakaian kontrasepsi oral (pil KB), maka dengan studi kohort dapat diketahui sejumlah kemungkinan efek kontrasepsi oral pada sejumlah penyakit, seperti infark miokardium, kanker payudara, dan kanker ovarium.
6. Dapat memeriksa dan mendiagnosa dengan teliti penyakit yang terjadi.
7. Bias dalam menyeleksi subjek dan menentukan status paparan kecil
8. Hubungan sebab akibat lebih jelas dan lebih meyakinkan.

Kelemahan studi kohort, meliputi:
1. Tidak efisien dan praktis untuk mempelajari kasus yang langka
2. Pada studi prospektif, akan memerlukan biaya banyak (mahal), dan membutuhkan banyak waktu.
3. Pada studi retrospektif, membutuhkan ketersediaan catatan yang lengkap dan akurat.
4. Validitas hasil penelitian dapat terancam, karena adanya subjek subjek yang hilang pada saat follow-up.
5. Dapat menimbulkan masalah etika, karena peneliti membiarkan subjek terkena pajanan yang merugikan.

Langkah-Langkah Dalam Studi Kohort (skripsi dan tesis)

  

            Dalam melakukan studi kohort, peneliti sebaiknya melakukan tahapan sebagai berikut:

  1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis

            Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti, adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, menentukan apa yang menjadi variabel dalam penelitian, baik variabel dependen, maupun variabel independen, dan yang selanjutnya peneliti akan merumuskan hipotesa penelitian.

  1. Menentukan kelompok terpapar dan tidak terpapar

     Pada studi kohort, harus diperhatikan mengenai penentuan kelompok yang akan mendapat paparan dengan kelompok yang tidak akan mendapat paparan. Pemilihan kelompok terpapar yang berasal dari populasi umum memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat dari subjek penelitian.

Populasi umum merupakan pilihan yang tepat pada beberapa keadaan, seperti:

  1. Prevalensi paparan pada populasi cukup tinggi
  2. Batas geografik jelas, dan secara demografik stabil
  3. Ketersediaan catatan demografi yang lengkap dan up to date

            Selain populasi umum, kita dapat menggunakan populasi khusus. Populasi khusus merupakan alternatif pada keadaan apabila prevalensi paparan dan kejadian penyakit pada populasi umum rendah, dan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi yang akurat.

            Kelompok tidak terpapar atau kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan, atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Penentuan kelompok tidak terpapar dapat dipilih dari populasi yang sama dengan populasi kelompok terpapar, dan dapat dipilih dari populasi yang bukan asal kelompok terpapar, tetapi harus dipastikan kedua populasi harus sama dalam hal faktor faktor yang merancukan penilaian hubungan antara paparan dan penyakit yang sedang diteliti.

            Kelemahan dalam menggunakan populasi umum adalah derajat kesehatan berbeda, data kependudukan, kesehatan, dan catatan medik pada populasi umum tidak seakurat pada populasi khusus.

  1. Menentukan Sampel

            Hitung perkiraan besarnya sampel yang dibutuhkan. Untuk menentukan perkiraan besarnya sampel satu kohort dapat digunakan rumus dari Sndecor and Cochran. Untuk dua kohort, terutama untuk pengujian hipotesis, harus diperhatikan kekuatan uji yaitu 1-β.4.

  1. Pengambilan data dan pencatatan

            Kedua kelompok yang telah ditetapkan, yaitu kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, kemudian diikuti selama jangka waktu tertentu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan pencatatan semua keterangan yang telah diperoleh sesuai tujuan penelitian.

  1. Pengolahan dan analisis data hasil penelitian

            Semua data yang telah diperoleh, meliputi data kejadian penyakit yang dialami oleh kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, dilakukan pengolahan data agar dapat ditangani dengan mudah, meliputi kegiatan editing, coding, processing, dan cleaning.

Setelah data diolah, dilakukan analisis data secara univariat dan bivariat, atau multivariat. Untuk menilai apakah paparan (faktor risiko) yang dialami subjek sebagai penyebab timbulnya penyakit, dilakukan uji kemaknaan dengan uji statistik yang sesuai. Keputusan uji statistik dapat dicari dengan pendekatan klasik ataupun probabilistik.

            Pada penelitian kohort, peneliti menghitung besarnya risiko yang dihadapi kelompok terpapar untuk terkena penyakit menggunakan perhitungan Relative risk/ RR (risiko relatif) dan Atribute risk/ AR (risiko atribut). RR adalah perbandingan antara insidensi penyakit yang muncul dalam kelompok terpapar dan insidensi penyakit yang muncul dalam kelompok tidak terpapar.

Analisis

  1. Insiden Risk ( IR ) = a/ (a+b)
  2. Relative Risk ( RR ) = IR kelompok terpapar : IR kelompok tidak terpapar = (a/a + b) : (c/c + d)
  3. Attributable Risk = IR kelompok terpapar – IR kelompok tidak terpapar

            RR harus selalu disertai nilai interval kepercayaan yang dikehendaki, misalnya 95%. Interpretasi hasil RR adalah:

  1. Jika nilai RR = 1, berarti variabel yang diduga sebagai faktor risiko tidak ada pengaruh dalam terjadinya efek.
  2. Jika nilai RR > 1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti variabel tersebut faktor risiko dari penyakit.
  3. Jika nilai RR < 1 dan rentang nilai interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti faktor risiko yang kita teliti merupakan faktor protektif untuk terjadinya efek.
  4. Jika nilai interval kepercayaan RR mencakup nilai 1, berarti mungkin nilai RR = 1 sehingga belum dapat disimpulkan bahwa faktor yang kita teliti sebagai faktor risiko atau faktor protektif.

 Karakteristik Studi Kohort (skripsi dan tesis)

Pada studi kohort, pemilihan subjek dilakukan berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek mengalami outcome yang diamati  atau tidak. Studi kohort memiliki karakteristik:

  1. Studi kohort bersifat observasional
  2. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
  3.      Studi kohort sering disebut sebagai studi insidens
  4. Terdapat kelompok kontrol
  5. Terdapat hipotesis spesifik
  6. Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
  7. Untuk kohort retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

Pengertian Kohort Retrospektif (skripsi dan tesis)

Studi Kohort adalah studi yang mempelajari hubungan antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan memilih kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian mengikuti sepanjang periode waktu tertentu untuk melihat berapa banyak subjek dalam masing-masing kelompok yang mengalami efek penyakit atau masalah kesehatan.

Studi kohort dibedakan menjadi dua, yaitu: kohort prospektif dan kohort retrospektif. Studi kohort disebut prospektif apabila faktor risiko, atau faktor penelitian diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan follow up untuk melihat kejadian penyakit dimasa yang akan datang. Lamanya follow up dapat ditentukan berdasarkan lamanya waktu terjadinya penyakit.

 Pada studi kohort retrospektif, faktor risiko dan efek atau penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dimulainya penelitian. Dengan demikian variabel tersebut diukur melalui catatan historis.

Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini,pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi.

Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini, pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam studi retrospektif adalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort, dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian kohort retrospektif hanya dapat dilakukan, apabila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik sejak terjadinya paparan pada populasi yang sama dengan efek yang ditemukan pada awal pengamatan.

Studi Kohort Penyakit Tidak Menular (PTM) (skripsi dan tesis)

 

Di Badan Litbangkes telah dilakukan penelitian studi kohort faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) termasuk faktor risiko perilaku serta sindrom metabolik, direncanakan dilaksanakan  minimal 10 tahun. Tahun 2011 telah dilakukan survey baseline data faktor risiko PTM utama, dan selanjutnya akan dilakukan follow-up  setiap individu yang diteliti untuk mengetahui perubahan faktor risiko dan kejadian PTM utama.  Pengumpulan data dilakukan secara prospektif, dengan followup secara periodik beberapa bulan untuk memantau faktor risiko perilaku dan fisik, dan setiap tahun/beberapa tahun untuk memantau faktor risiko biologik dan kejadian PTM. Penelitian ini membandingkan kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM dari kelompok individu  yang memiliki  faktor risiko PTM  seperti diet tidak sehat (kurang serat, tinggi garam, tinggi lemak), konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, merokok, sindrom metabolik (hipertensi, hiperglikemia/TGT, dislipidemia, obesitas) dan kombinasinya, dengan kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM pada kelompok individu yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut.
Adapun manfaat studi kohor PTM antara lain:
1)    Informasi insidens dan kecepatan terjadinya sindrom metabolik, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, PPOK dan strok merupakan evidenve based penting yang diperlukan bagi pelaksana program dalam rangka penyusunan rencana dan penentuan prioritas program pengendalian faktor risiko PTM
2)    Informasi prediktor utama PTM utama, dan risiko relatif faktor bermanfaat untuk pengembangan model pencegahan dan pengendalian PTM, serta pengobatannya secara efektif.
3)    Informasi prediktor PTM utama dan sindrom metabolik serta kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM merupakan tambahan ilmu pengetahuan bagi ilmuwan untuk melakukan penelitian etiologi lebih lanjut,
4)    Data dan laporan longitudinal dari studi ini dapat menggambarkan riwayat alamiah penyakit. Hal ini merupakan sumber data yang berpotensi untuk dianalisis lebih lanjut
5)    Bagi masyarakat khususnya responden, penelitian ini akan memberikan informasi faktor risiko dan PTM yang diderita. Dengan demikian masalah kesehatan yang diderita  dapat diketahu

Kelebihan dan Kekurangan dari Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Kelebihan :

  1. Cocok untuk mempelajari penyakit yang jarang ditemukan
  2. Hasil cepat, ekonomis
  3. Subjek penelitian bisa lebih sedikit
  4. Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan penyakit
  5. Kesimpulan korelasi kurang baik, karena ada pembatasan dan pengendalian faktor risiko
  6. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau cohort
  7. Tidak memerlukan waktu lama (lebih ekonomis)

Kekurangan :

  1. Pengukuran variable yang retrospektif, objektifitas dan reliabilitasnya kurang karena subjek penelitian harus mengingat kembali factor-faktor risikonya,
  2. Tidak dapat diketahui efek variable luar karena secara teknis tidak dapat dikendalikan
  3. Kadang-kadang sulit memilih control yang benar-benar sesuai dengan kelompok kasus karena banyaknya factor resiko yang harus dikendalikan. 

Ciri-Ciri Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dan populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.Jenis penelitian ini dapat saja berupa penelitian restrospektif bila peneliti melihat ke belakang dengan menggunakan data yang berasal dari masa lalu atau bersifat prospektif bila pengumpulan data berlangsung secara berkesinambungan sering dengan berjalannya waktu. Idealnya penelitian kasus kontrol itu menggunakan kasus (insiden) baru untuk mencegah adanya kesulitan dalam menguraikan faktor yang berhubungan dengan penyebab dan kelangsungan hidup

Pengertian Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Penelitian Case Control adalah rancangan epidemiologis yang mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Mempelajari seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi terjadinya efek.

Kelebihan Dan Kekurangan Dari Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

Kelebihan :

  1. Kesesuaian dengan logika normal dalam membuat inferensi kausal
  2. Dapat menghitung laju insidensi
  3. Untuk meneliti paparan langkah
  4. Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan

Kekurangan :

  1. Lebih mahal dan butuh waktu lama
  2. Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal
  3. Tidak efisien dan tidak praktis untuk kasus penyakit langka
  4. Risiko untuk hilangnya subyek selama penelitian, karena migrasi, partisipasi rendah atau meninggal
  5. rawan terhadap bias

Karakteristik Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

  1. Bersifat observasional
  2. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
  3. Disebut sebagai studi insidens
  4. Terdapat kelompok control
  5. Terdapat hipotesis spesifik
  6. Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
  7. Untuk kohor retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

 Langkah-Langkah Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

 

  1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti, adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, menentukan apa yang menjadi variabel dalam penelitian, baik variabel dependen, maupun variabel independen, dan yang selanjutnya peneliti akan merumuskan hipotesa penelitian.

  1. Menentukan kelompok terpapar dan tidak terpapar

Pada studi kohort, harus diperhatikan mengenai penentuan kelompok yang akan mendapat paparan dengan kelompok yang tidak akan mendapat paparan. Pemilihan kelompok terpapar yang berasal dari populasi umum memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat dari subjek penelitian. Populasi umum merupakan pilihan yang tepat pada beberapa keadaan, seperti:

  1. Prevalensi paparan pada populasi cukup tinggi
  2. Batas geografik jelas, dan secara demografik stabil
  3. Ketersediaan catatan demografi yang lengkap dan up to date

Selain populasi umum, kita dapat menggunakan populasi khusus. Populasi khusus merupakan alternatif pada keadaan apabila prevalensi paparan dan kejadian penyakit pada populasi umum rendah, dan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi yang akurat.

                        Kelompok tidak terpapar atau kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan, atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Penentuan kelompok tidak terpapar dapat dipilih dari populasi yang sama dengan populasi kelompok terpapar, dan dapat dipilih dari populasi yang bukan asal kelompok terpapar, tetapi harus dipastikan kedua populasi harus sama dalam hal faktor faktor yang merancukan penilaian hubungan antara paparan dan penyakit yang sedang diteliti.

                        Kelemahan dalam menggunakan populasi umum adalah derajat kesehatan berbeda, data kependudukan, kesehatan, dan catatan medik pada populasi umum tidak seakurat pada populasi khusus.

  1. Menentukan Sampel

Langkah selanjutnya dalam studi kohort adalah menetapkan besarnya sampel yang akan digunakan dalam penelitian.

  1. Pengambilan data dan pencatatan

Kedua kelompok yang telah ditetapkan, yaitu kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, kemudian diikuti selama jangka waktu tertentu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan pencatatan semua keterangan yang telah diperoleh sesuai tujuan penelitian.

  1. Pengolahan dan analisi data hasil penelitian

Semua data yang telah diperoleh, meliputi data kejadian penyakit yang dialami oleh kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, dilakukan pengolahan data agar dapat ditangani dengan mudah, meliputi kegiatan editing, coding, processing, dan cleaning. Selanjutnya data yang diperoleh disajikan dalam tabel.

Pengertian Kohort (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian kohort adalah sebuah rancangan penelitian dimana peneliti mengelompokkan atau mengklasifikasikan kelompok terpapar dan tidak terpapar, kemudian diamati sampai waktu tertentu untuk melihat ada tidak efek atau penyakit yang timbul.

Pada awal subjek penelitian harus bebas dari penyakit/masalah kesehatan, dari hasil pengamatan setelah rentang waktu yang ditentukan, dianalisis dengan teknik tertentu sehingga dapat disimpulkan apakah ada hubungan paparan dengan penyakit atau efek yang terjadi.

Rancangan penelitian kohort dibedakan menjadi kohort prospektif dan kohort retrosfektif :

  1. Kohort Prospektif :  Rancangan penelitian kohort prospektif apa bila paparan atau faktor risiko diukur pada wal penelitian, kemudian di follow up untuk mengetahui efek dari paparan dimasa datang. Lamanya follow up berdasarkan perkiraan lamanya efek akan terjadi. Biasanya penelitian ini dilakukan bertahun-tahun.
  2. Kohort Retrosfektif : Pada rancangan penelitian kohort retrospektif faktor risiko dan efek/penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dilakukan penelitian. Dengan demikian, variabel-variabel tersebut.

Studi Epidemiologi (skripsi dan tesis)

Epidemiologi merupakan suatu studi yang mengamati penyebaran (distribusi) dan penyebab (determinan) dalam kaitanya dengan masalah kesehatan pada skelompok populasi. Oleh karena itu dalam studi epidemiologi dibutuhkan rancangan yang baik dan jelas sehingga dapat memperoleh data yang diharapkan.

Ada dua studi yang dalam epidemiologi, yaitu (1) studi deskriptif dan (2) studi analitik. Studi deskriptif, telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, dimana studi deskriptif untuk memperoleh gambaran kasus/kejadian/isu kesehatan masyarakat berdasar pada distribusi orang (who), tempat (where) dan waktu (when). Dalam studi ini merupakan support data untuk perumusan masalah dan hipotesis.

Yang dipelajari saat ini adalah epidemiologi analitik untuk membuktikan kebenaran hipotesis, sebagai studi lanjutan dari epidemiologi deskriptif. Studi lanjutan yang dilakukan oleh sebab dalam studi ini dalam studi ini dilengkapi dengan kelompok pembanding. Epidemiologi analitik adalah studi epidemiologi yang bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab (determinan) dari masalah kesehatan, sehingga dalam hal ini adalah menjawab pertanyaan mengapa (why) sebagai penyebab masalah kesehatan.  Untuk kemidian adalah dapat memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk tindakan pengendalian. Dalam studi analitik ada observasional  dan eksperimental.  Desaing epidemiologi analitik adalah (1) crossectional study (studi potong lintang), (2) case control study (studi kasus kontrol), yang merupakan studi retrospektif sedangkan (3) cohort study (studi kohort), dan experimental study (studi perlakuan) merupakan studi prospektif

Studi kohort (skripsi dan tesis)

Cohort merupakan istilah yang berasal dari bahasa romawi kuno yang artinya “sekelompok tentara yang maju bersama-sama ke medan pertempuran”  studi cohort sebagai studi prospektif  dengan 2 tujuan utama (1) mendeskripsikan insidens suatu kejadian penyakit/masalah kesehatan selama periode waktu tertentu, (2) meneliti hubungan antara faktor risiko dengan efek.

Walaupun studi ini pada dasarnya merupakan studi prospektif, tetapi kohort dapat dibagi menjadi 2 yaitu (1) Studi kohort prospektif apabila faktor risiko, atau faktor penelitian diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan follow up untuk melihat kejadian penyakit dimasa yang akan datang. Lamanya follow up dapat ditentukan berdasarkan lamanya waktu terjadinya penyakit. Sedangkan (2) studi kohort retrospektif dimana faktor risiko dan efek atau penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dimulainya penelitian. Dengan demikian variabel tersebut diukur melalui catatan historis. Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini, pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam studi retrospektif adalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort, dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian kohort retrospektif hanya dapat dilakukan, apabila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik sejak terjadinya paparan pada populasi yang sama dengan efek yang ditemukan pada awal pengamatan. Berikan komentarnya!

Meta-analisis (skripsi dan tesis)

Meta-analisis mengandung pengertian suatu analisis pada sekumpulan hasil-hasil penelitian individual yang telah dianalisis, yang bertujuan untuk mengintegrasi hasil temuan dalam penelitian individual tersebut. Metaanalisis termasuk dalam studi observasional retrospektif; subyek penelitiannya adalah artikel atau laporan penelitian original baik yang dipublikasi ataupun tidak. Meta-analisis merupakan suatu cara untuk mengombinasikan secara kuantitatif beberapa hasil studi yang relevan, yang diperoleh dengan cara systematic review; atau singkatnya meta-analisis adalah suatu systematic review yang dilakukan analisis statistika untuk mendapatkan satu hasil gabungan. Sampai saat ini meta-analisis paling banyak digunakan untuk uji klinis

Uji klinis pragmatis dan eksplanatori (skirpsi dan tesis)

Uji klinis selalu dilakukan pada manusia atau pasien. Terdapat dua jenis uji klinis, yakni uji klinis pragmatis (pragmatic trial), dan uji klinis eksplanatori (explanatory trial). Hasil penelitian uji klinis yang relevan langsung dengan praktik adalah uji klinis pragmatis, yang direncanakan diterapkan dalam praktik klinis. Berikut beberapa karakteristik uji klinis pragmatis:
 Spektrum pasien sama dengan spektrum pasien dalam praktik sehari-hari. Ini ditandai dengan kriteria inklusi yang tidak amat ketat. Misalnya uji klinis untuk obat antidiabetes baru, kriteria inklusinya sama dengan kebanyakan pasien diabetes melitus pada umumnya di klinik (ada yang obes, malnutrisi, hipertensi, hiperkolesterolemia, dan seterusnya). Bila kriteria inklusi terlalu ketat (pasien diabetes yang tidak obes, tidak hipertensi, tidak hiperlipidemia, tidak ada riwayat penyakit jantung koroner dst), maka validitas interna studi tersebut (sangat) baik, akan tetapi  validitas eksternanya kurang baik (penerapan hasil penelitian tersebut dalam praktik menjadi terbatas).
 Yang diutamakan dalam uji klinis pragmatis adalah luaran uji klinis, tidak dipermasalahkan mekanisme bagaimana luaran itu terjadi. Misalnya uji klinis untuk menilai apakah obat tradisional tertentu dapat merangsang nafsu makan pada anak, maka yang dipentingkan adalah luarannya (berupa meningkatnya nafsu makan yang secara obyektif dinilai dengan peningkatan berat badan subyek penelitian), bukan mekanisme bagaimana terjadinya peningkatan nafsu makan.
 Bila luaran berskala binomial (sembuh atau tidak, berhasil atau tidak), maka analisis sebaiknya juga dilakukan secara intention-totreat analysis. Inti dari analisis ini adalah semua subyek yang telah dirandomisasi harus disertakan dalam analisis, tanpa melihat subyek tersebut telah mengikuti penelitian sampai selesai atau tidak. (Lihat bawah). Di lain sisi ada jenis uji klinis yang lain yang disebut uji klinis eksplanatori (explanatory trial) yang bertujuan mempelajari mekanisme mengapa terdapat perbedaan outcome pada kedua kelompok. Uji klinis seperti ini amat bermanfaat untuk pemahaman ilmiah, akan tetapi tidak secara langsung relevan dengan praktik sehari-hari. Pada uji klinis eksplanatori ini analisis akhir biasanya hanya melibatkan para peserta yang mengikuti penelitian sampai selesai (per protocol analysis atau on treatment analysis).

Tiga kesetaraan dalam uji klinis (skripsi dan tesis)

 Dalam praktik sehari-hari kita mengobati pasien dengan penyakit A dengan memberikan obat B, dan memintanya kembali kontrol 1 minggu kemudian. Bila semua gejala dan tanda yang semula ada menjadi hilang, maka pasien dinyatakan sembuh. Pertanyaan apakah kesembuhan tersebut semata-mata disebabkan oleh penggunaan obat B? Jawabnya adalah tidak. Karena selain obat B, ada 3 hal lain yang dapat menyebabkan pasien sembuh atau dinyatakan sembuh, yakni:
  Pertama adalah memang perjalanan penyakitnya seperti itu, dengan atau tanpa obat ia memang akan sembuh dalam waktu 1 minggu (natural history of the disease atau prognostic factors);
 Kedua, pasien minum obat lain, minum jamu, atau melakukan diet, atau istirahat cukup dan seterusnya (faktor-faktor ekstra atau extraneous factors);
  Ketiga adalah kriteria sembuh atau luaran yang dipergunakan (pengukuran outcome, measurement).  Dalam membandingkan hasil intervensi di antara dua kelompok yakni kelompok eksperimental (E) dan kelompok kontrol (C), maka ketiga hal yang disebut di atas harus setara atau sebanding.
 Setara dalam faktor prognostik. Kedua kelompok harus benarbenar sebanding dalam hal faktor prognostik; tidak boleh salah satu kelompok memiliki derajat penyakit yang lebih berat, atau kadar kolesterol yang lebih tinggi, usia lebih tua, atau status gizi lebih buruk, dan seterusnya dibanding kelompok lainnya.
Untuk dapat memperoleh 2 kelompok yang sebanding, proses yang diperlukan adalah randomisasi. Randomisasi apabila dilakukan dengan benar dan melibatkan cukup banyak subyek cenderung untuk membagi sama rata faktor prognostik dan sekaligus juga pelbagai faktor perancu (confounding variables) kedua kelompok.
 Setara dalam perlakuan. Semua subyek pada kedua kelompok harus diperlakukan sama, kecuali untuk pemberian obat atau prosedur yang diteliti. Tidak boleh misalnya subyek kelompok E memperoleh perhatian yang lebih baik, diberi tempat perawatan lebih nyaman, atau ditambah dengan diet atau obat tambahan, sedang kelompok kontrol tidak. Perlakuan yang sama ini dapat dijamin dengan penyamaran (masking, blinding). Pada cara ini satu atau lebih pihak yang terkait dalam uji klinis (peneliti, subyek, evaluator, petugas laboratorium, dll) dibuat tidak tahu jenis terapi yang diberikan. Bila dapat dilakukan penyamaran ganda (peneliti dan subyek tidak tahu obat / prosedur yang diberikan kepada subyek) maka kesahihan uji klinis amat baik.
 Setara dalam pengukuran luaran / outcome. Bila luaran uji klinis adalah “data keras” seperti meninggal atau hidup, atau hasil laboratorium yang dilakukan dengan mesin automatis yang terstandar, maka proses penyamaran tidak (terlalu) diperlukan. Namun apabila luarannya bersifat subyektif (nyeri, cemas, dan sebagainya) atau pemeriksaan yang memerlukan interpretasi (USG, foto Rontgen), maka sangat dianjurkan untuk dilakukan blinding atau penyamaran.  Bila pada uji klinis kesetaraan dalam ketiga hal tersebut dapat dilakukan (yakni dengan randomisasi dan penyamaran), maka apabila terdapat perbedaan luaran antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol, satusatunya penyebab adalah perbedaan intervensi. Dengan demikian maka desain terbaik untuk uji klinis adalah uji klinis dengan randomisasi dan penyamaran ganda (randomized double blind clinical trial). Bila jumlah subyek cukup banyak, maka randomisasi dapat dilakukan pada semua uji klinis, namun penyamaran tidak selalu dapat dilakukan, misalnya uji klinis yang membandingkan efektivitas obat dibandingkan dengan operasi untuk penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Validitas suatu uji klinis ditentukan juga oleh kelengkapan subyek yang mengikuti sampai akhir penelitian (completeness of follow-up); umumnya bila jumlah subyek yang mengikuti sampai akhir penelitian kurang dari 80%, maka uji klinis dianggap tidak valid. Luaran uji klinis terbanyak adalah variabel berskala numerik (misal kadar kolesterol, berat badan, tekanan darah) atau variabel nominal dikotom misalnya meninggal atau hidup, sembuh atau tidak sembuh, kenaikan / penurunan berat badan.

Penelitian eksperimental (skripsi dan tesis)

Studi eksperimental atau studi intervensional dapat dianggap sebagai penelitian kohort yang penelitinya melakukan “manipulasi” pada variabel prediktor atau faktor risiko dengan melakukan intervensi tertentu dan kemudian melakukan analisis terhadap varibel efek atau luaran yang timbul sebagai akibat intervensi tersebut. Dibandingkan dengan pelbagai studi observasional, studi eksperimental lebih kuat untuk menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel prediktor dan variabel efek, dan merupakan desain penelitian yang paling baik untuk mengendalikan pengaruh variabel perancu (confounding). Penelitian eksperimental dapat dibagi menjadi 3 kelompok:
 Eksperimen benar (true-experiment) memiliki syarat pokok yaitu terdapat proses randomisasi.
 Eksperimen semu (quasi experiment), biasanya dimaksudkan uji klinis tanpa randomisasi
  Pra-eksperimen (pre-experiment design), pada umumnya tanpa kelompok kontrol

Analisis uji diagnostik (skripsi dan tesis)

Analisis uji diagnostik meliputi:

  Sensitivitas yaitu proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik positif (positif benar = PB). Sensitivitas menunjukkan kemampuan suatu alat diagnostik untuk mendeteksi penyakit. Sensitivitas = PB/(PB+PS)
  Spesifisitas yaitu proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil uji yang negatif (negatif benar = NB). Spesifisitas menunjukkan kemampuan alat diagnostik untuk menentukan bahwa subyek tidak sakit. Spesifisitas = NB/(NS+NB)
 Prevalens penyakit, atau prior probability, yaitu probabilitas seseorang (berdasar karakteristik demografis dan klinis) untuk menderita penyakit, sebelum subyek menjalani uji diagnostik. Prevalens = (PB+PS)/(PB+PS+NS+NB)
 Nilai duga positif (positive predictive value) adalah probabilitas seorang dengan hasil uji diagnostik positif memang menderita penyakit yang ditentukan menurut baku emas. Nilai duga positif = PB/(PB+PS).
 Nilai duga negatif (negative predictive value) adalah probabilitas seorang dengan hasil uji diagnostik negatif tidak menderita penyakit. Nilai duga negatif = NB/(NS+NB).
 Likelihood ratio (rasio kemungkinan) menunjukkan besarnya kemungkinan subyek yang sakit akan mendapat suatu hasil uji diagnostik tertentu dibagi dengan kemungkinan subyek yang tidak sakit mendapatkan hasil uji diagnostik yang sama. Positive likelihood ratio (rasio kemungkinan positif) adalah perbandingan antara proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik yang positif dengan proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil uji yang positif pula, dengan formula: sensitivitas / (1-spesifitas). Di lain sisi terdapat negative likelihood ratio (rasio kemungkinan negatif) yang menunjukkan perbandingan antara proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik negatif dan proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil yang negatif, dengan formula (1-sensitivitas) / spesifisitas.

Uji diagnostik (skripsi dan tesis)

Sebagian besar penelitian diagnostik termasuk dalam desain cross sectional. Pada uji diagnostik tidak dilakukan intervensi kemudian dilihat pengaruh intervensi tersebut. Pada uji diagnostik sekelompok subyek dilakukan 2 jenis pemeriksaan, pemeriksaan pertama adalah jenis uji diagnostik yang diteliti, sedangkan pemeriksaan kedua adalah pemeriksaan terbaik untuk diagnosis penyakit / keadaan klinis tertentu (disebut sebagai baku emas atau gold standard). Hasil kedua pemeriksaan tersebut dianalisis. Sifat-sifat uji diagnostik mempunyai kemiripan dengan uji prognostik. Perbedaan antara kedua uji ini hanya pada variabel luarannya. Sebagai contoh: uji diagnostik yang bertujuan melihat apakah benturan keras pada kepala dapat merupakan prediktor terjadinya perdarahan intrakranial dan uji prognostik untuk mengetahui apakah benturan keras pada kepala akan dapat memprediksi mortalitas akibat perdarahan intrakranial. Pada contoh ini tampak perbedaan antara kedua desain. Bedanya terletak pada variabel outcome, uji diagnostik berupaya untuk memprediksi ada atau tidaknya penyakit, sedang uji prognostik bermaksud untuk memprediksi kejadian luaran / outcome penyakit.
Penyakit + + Penyakit – a b Risiko (-) c d (+) Risiko (+) a+b c+d 47 Uji diagnostik yang ideal akan selalu memberikan jawaban yang benar (atau hasil positif) pada semua subyek yang sakit dan memberikan hasil negatif pada semua subyek yang tidak sakit. Namun uji diagnostik yang ideal seperti itu jarang ditemukan; hampir pada semua jenis uji diagnostik terdapat kemungkinan untuk diperoleh hasil uji positif pada subyek yang tidak sakit (positif semu), dan sebaliknya mungkin ditemukan hasil negatif pada subyek yang sakit (negatif semu). Selain itu, uji diagnostik yang baik seyogianya mempunyai sifat-sifat hasilnya cepat diperoleh, aman, sederhana, tidak menyakiti/invasif, sahih, reliabel, dan relatif murah. Struktur uji diagnostik secara garis besar sama dengan studi observasional, yaitu memiliki variabel prediktor (hasil uji) dan variabel efek/outcome (ada tidaknya penyakit). Variabel prediktor dapat dalam skala nominal dikotom (positif, negatif), kategorikal (+++, ++, +, -), atau numerik (miligram per desiliter). Bila hasil suatu uji diagnostik berskala kategorikal atau numerik, maka perlu ditentukan titik potong (cut-off point) untuk dapat membedakan subyek yang menjadi sakit atau tidak sakit. Variabel outcome pada uji diagnostik adalah ada atau tidaknya penyakit yang ditentukan dengan baku emas (gold standard). Meskipun struktur uji diagnostik sama dengan studi observasional, namun analisis uji diagnostik sangat berbeda. Apabila pada studi observasional umumnya ditujukan untuk mencari informasi tentang etiologi atau faktor risiko, uji diagnostik dimaksudkan apakah satu uji dapat membedakan subyek dengan penyakit dari subyek yang tidak sakit. Hasil uji diagnostik diringkas dalam tabel 2 x 2, yang terdiri atas sel a, b, c, d. Sel a berisi subyek yang sakit (menurut baku emas) dan didiagnosis sakit oleh uji (positif benar, PB). Sel b berisi subyek yang tidak sakit menurut baku emas namun didiagnosis sakit oleh uji (positif semu, PS). Sel c berisi subyek yang sakit namun didiagnosis sehat oleh uji (negatif semu, NS). Sel d, berisi subyek yang tidak sakit dan didiagnosis sehat oleh uji (negatif benar, NB).

Studi kohort (skripsi dan tesis)

Penelitian kohort merupakan desain penelitian yang amat penting untuk menguji hipotesis tentang faktor risiko atau penyebab suatu penyakit atau keadaan. Dua hal yang menjadi karakteristik studi kohort adalah: Seleksi individu dalam pembentukan kelompok dilakukan dari populasi yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara:
 Desain kohort dengan pembanding internal: direkrut sejumlah subyek tanpa faktor risiko, kemudian diikuti dan secara alamiah sebagian akan terpajan pada faktor risiko, sebagian tidak.
 Desain kohort dengan pembanding eksternal (double cohort study) yakni dari populasi yang sama direkrut subyek dengan faktor risiko, dan sekelompok subyek tanpa faktor risiko. Kedua kelompok subyek (yang terpajan dan tidak) diikuti sampai timbul efek atau penyakit. Studi kohort merupakan satu-satunya desain untuk memperlihatkan insidens suatu penyakit atau kelainan tertentu. Studi kohort dapat dilakukan secara prospektif atau retrospektif.

Pada studi kohort dapat diperoleh data deskriptif yakni berupa insidens terjadinya penyakit atau kelainan, dan dapat pula diperoleh risiko relatif, yakni berapa besar subyek dengan faktor risiko mengalami efek ketimbang subyek yang tidak memiliki faktor risiko mengalami efek. Penelitian kohort retrospektif mempunyai prinsip dasar yang tidak berbeda dengan penelitian kohort prospektif, yaitu pada kelompok subyek tertentu diikuti atau dipantau, kemudian dilakukan pengukuran variabel prediktor/risiko, masa tindak lanjut (follow-up), dan pengukuran variabel efek, semuanya dilakukan di masa lampau. 46 Agar validitas studi kohort retrospektif baik, harus diyakinkan bahwa data dan semua catatan pada masa lalu baik dan lengkap

Studi kasus-kontrol (skripsi dan tesis)

Studi kasus-kontrol bertujuan menilai peran faktor risiko dalam timbulnya penyakit. Studi diawali dengan merekrut kelompok subyek dengan penyakit tertentu (kasus) dan kelompok subyek tanpa penyakit tersebut (kontrol). \Pada kedua kelompok secara retrospektif diteliti faktor risiko yang diduga berperan dalam kejadian penyakit. Kekerapan pajanan faktor risiko pada kelompok kasus dibandingkan dengan pada kontrol. C

 Rasio odds adalah perbandingan 2 odds. Sebagai contoh peneliti melakukan suatu penelitian kasus-kontrol untuk mengetahui peran faktor risiko X terhadap kejadian gagal ginjal kronik (GGK). Lihat Gambar I-2. Peneliti mencari 50 pasien GGK (kelompok kasus) di suatu rumah sakit besar, dan 50 subyek lainnya tanpa GGK (kontrol) dari populasi yang sama. Pada kelompok kasus dan kelompok kontrol ditelusur berapa yang memiliki faktor risiko X. Misalnya pada akhir penelitian ternyata dari 50 subyek pada kelompok kasus ada 20 yang memiliki faktor X, (odds untuk terjadinya GGK = 20/30), sedangkan pada kelompok kontrol dari 50 subyek hanya 5 yang memiliki faktor X (odds untuk terjadinya GGK pada kelompok kontrol = 5/45). Rasio odds adalah perbandingan antara kedua odds, yakni odds pada kelompok kasus dibagi dengan odds pada 44 kelompok kontrol; dalam contoh ini RO = 20/30: 5/45 = 6 (interval kepercayaan 95% 2,3 sampai 12,7). Artinya pada sampel ditemukan subyek yang memiliki faktor X ternyata 6 kali lebih besar kemungkinan untuk menderita GGK daripada subyek yang tidak memiliki faktor X, sedangkan di populasi yang diwakili oleh sampel tersebut 95% terletak antara 2,3 dan 12,7 kali.

Studi cross sectional Pada Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Pada studi cross sectional pengukuran variabel dilakukan hanya satu kali, pada satu saat; jadi pada studi ini tidak ada tindak lanjut atau follow-up. Studi cross sectional dapat bersifat deskriptif ataupun analitik. Studi cross sectional deskriptif dikenal sebagai studi prevalens. Pada studi cross sectional analitik yang mencari hubungan antar-variabel, variabel bebas dan luaran dinilai simultan pada satu saat.
 Analisis statistika pada studi cross sectional analitik bergantung pada jenis data yang ada. Untuk data numerik (misal perbandingan kadar kolesterol antara dua kelompok) digunakan uji-t untuk data independen atau untuk data berpasangan. Untuk data nominal analisis dilakukan dengan uji kaikuadrat (data independen) atau uji McNemar untuk data berpasangan. Bila yang diteliti adalah faktor risiko dan luarannya nominal 2 nilai (sakit atau tidak) maka dapat dihitung rasio prevalens yang perhitungan dan interpretasinya sama dengan risiko relatif pada studi kohort). Studi cross sectional juga tidak jarang digunakan untuk menilai beberapa faktor risiko sekaligus untuk terjadinya luaran. Untuk tujuan ini digunakan analisis multivariat; bila semua faktor risiko dan luaran variabel berskala numerik   digunakan regresi multipel, sedangkan bila luarannya nominal dan faktor risikonya berbagai jenis variabel digunakan regresi logistik. Bentuk khusus studi cross sectional yang sering dicari pada PTK adalah uji diagnostik.

Jenis desain penelitian klinis (skripsi dan tesis)

Desain penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan ada atau tidaknya intervensi menjadi dua kelompok, yakni studi observasional dan studi eksperimental. Pada studi observasional peneliti tidak mengintervensi subyek penelitian mana yang mendapat perlakuan apa; peneliti hanya mengamati, mengukur variabel, mengelompokkan dan menganalisis data. Termasuk dalam studi observasional adalah laporan kasus dan seri kasus, studi cross sectional (termasuk uji diagnostik), studi kohort (termasuk di dalamnya analisis kesintasan), studi kasus-kontrol, dan meta-analisis. Berbeda dengan studi observasional, pada studi eksperimental atau disebut juga sebagai studi intervensional, peneliti melakukan intervensi dengan cara menentukan subyek mana yang mendapat perlakuan apa (meski sebaiknya caranya adalah dengan randomisasi). Studi eksperimental dapat dilakukan di laboratorium, di lingkungan klinik, dan dapat juga di komunitas. Studi eksperimental yang dilakukan di klinik disebut sebagai uji klinis (clinical 42 trial). Baku emas uji klinis adalah uji klinis randomisasi (UKR) atau randomized controlled trial (RCT).

Meta-analisis (skripsi dan tesis)

Meta-analisis adalah metode analisis statistik yang menggabungkan data dari dua atau lebih penelitian dengan topik serupa yang bertujuan untuk memberikan satu kesimpulan penelitian. Subjek penelitian merupakan laporan penelitian orisinal baik yang sudah dipublikasi maupun yang belum. Desain penelitian ini adalah metode analisis gabungan yang memiliki level validitas paling tinggi. \ Meta-analisis memiliki keterbatasan yang terletak pada masalah metodologi yaitu kesesuaian penggunaan teknik statistika untuk penggabungan data berbagai penelitian. Meta-analisis harus dihindari jika kualitas penelitian sebelumnya tidak baik karena akan memberikan hasil yang tidak valid. Meta-analisis tidak dianjurkan dilakukan pada penelitian yang terlalu heterogen. Meta-analisis potensial terhadap bias publikasi.

 Meta-analisis terdiri dari empat langkah yaitu identifikasi penelitian yang disertakan dalam meta-analisis. Langkah kedua adalah seleksi atau penilaian kualitas laporan penelitian. Langkah ketiga meta-analisis berupa abstraksi atau kuantifikasi hasil penelitian untuk digabungkan. Langkah terakhir adalah analisis, yakni penggabungan dan pelaporan hasil meta-analisis

Uji Klinis (skripsi dan tesis)

 Uji klinis merupakan bentuk penelitian eksperimental untuk meneliti efek dari intervensi tertentu, biasanya berupa terapi untuk satu penyakit. Subjek penelitian dalam populasi penelitian secara acak dialokasikan menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian diperoleh dengan membandingkan status penyakit subjek penelitian. Desain penelitian terkuat adalah uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial). Keunggulan utama dari uji klinis adalah kontrol atas confounding factor, berbagai jenis bias dapat ditiadakan atau dikurangi dengan efektif. Uji klinis merupakan desain penelitian terbaik untuk meneliti hubungan kausalitas. Kekurangan uji klinis yaitu memerlukan banyak partisipan, biaya yang mahal dan pelaksanaan yang rumit. Uji klinis tidak tepat digunakan untuk meneliti penyakit yang jarang terjadi. Uji klinis memiliki resiko intervensi pada manusia.

Tahapan uji klinis dalam pengembangan obat terdiri dari empat fase. Fase pertama yaitu penerapan pertama suatu obat baru pada manusia yang melibatkan 20-80 relawan subjek sehat untuk di monitor secara ketat. Tujuan utama fase ini untuk menentukan mekanisme aksi farmakologik dari obat dan mendapatkan bukti awal efektivitas obat. Fase kedua adalah pengambilan data awal dari efektivitas 10 obat baru pada pasien dengan penyakit target atau kondisi tertentu. Fase kedua melibatkan sekitar 100 sampai 300 pasien yang dimonitor secara ketat untuk dilihat efek samping jangka pendek. Fase ketiga melibatkan ribuan pasien dengan penyakit target yang secara acak diberikan obat baru dan plasebo atau pengobatan yang ada (terapi standar) kemudian dibandingkan efek dari tiap kelompok intervensi tersebut. Fase ini menambahkan informasi mengenai efektivitas dan keamanan yang dibutuhkan untuk evaluasi seluruh risiko dan keunggulan obat tersebut. Fase keempat atau disebut juga sebagai uji pasca-pemasaran (postmarketing trial) bertujuan untuk mengevaluasi obat baru dalam jangka waktu yang relatif lama (5 tahun atau lebih). Fase terakhir penting untuk mendeteksi efek samping yang timbul dari pemakaian obat tersebu

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimental atau intervensional adalah penelitian dengan pemberian perlakuan atau intervensi terhadap subjek penelitian, peneliti akan mempelajari efek dari intervensi tersebut. Penelitian eksperimental memiliki kapasitas asosiasi yang lebih tinggi dari penelitian observasional sehingga simpulan yang diperoleh lebih definitif. Penelitian eksperimental memerlukan biaya yang tinggi dan pelaksanaannya rumit sehingga penggunaannya lebih terbatas. Penelitian eksperimental bersifat prospektif dan secara khusus dirancang untuk mengevaluasi dampak langsung dari pengobatan atau tindakan pencegahan terhadap penyakit.

Kohort (skripsi dan tesis)

 Kohort adalah bentuk penelitian prospektif untuk menyelidiki hubungan antara paparan atau faktor risiko potensial dengan status penyakit pasien. Kohort mengidentifikasi subjek yang bebas dari penyakit dan mengklasifikasikan subjek berdasarkan ada atau tidaknya paparan atau faktor risiko. Peneliti akan mengikuti subjek dalam jangka waktu tertentu untuk meneliti perkembangan penyakit dan mengevaluasi perbedaan status penyakit antara kelompok subjek dengan faktor risiko dengan kelompok subjek tanpa faktor risiko.

Penelitian kohort merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka insidensi. Insidensi adalah jumlah dari kasus baru suatu penyakit dalam populasi risiko selama periode waktu tertentu. Analisis dari penelitian kohort melibatkan penghitungan baik dari cumulative incidence atau incidence rate. Perbandingan antara insidens terjadinya efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan insidens terjadinya efek pada kelompok tanpa faktor risiko menghasilkan Relative Risk (RR). Relative risk dihitung dengan formula RR=a/(a+b):c/(c+d). Interpretasi hasil dari relative risk yaitu jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko 8 dengan penyakit. Nilai relative risk kurang dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi negatif atau penurunan risiko terjadinya penyakit. Nilai relative risk lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut merupakan faktor risiko yang berbahaya atau berhubungan positif dengan terjadinya penyakit.
Kelebihan penelitian kohort yaitu paparan atau faktor risiko diukur sebelum terjadinya penyakit sehingga dapat dipastikan paparan mendahului terjadinya penyakit. Kohort berguna untuk meneliti paparan atau faktor risiko yang jarang terjadi dan dapat meneliti berbagai efek hasil atau penyakit. Kelemahan utama dalam desain penelitian ini adalah membutuhkan biaya yang lebih mahal dan waktu penelitian yang lama. Kohort memiliki risiko kehilangan subjek penelitian untuk diikuti perkembangan penyakitnya. Kohort tidak tepat untuk meneliti penyakit atau hasil yang jarang terjadi

Kasus kontrol (skripsi dan tesis)

Penelitian kasus kontrol merupakan bentuk penelitian retrospektif yang menelaah hubungan antara penyakit dengan faktor risiko tertentu dengan membandingkan dua kelompok yang berbeda status penyakit berdasarkan faktor risiko yang diteliti. Kasus kontrol memilih sebuah grup partisipan dengan penyakit tertentu (kasus) dan sebuah grup dari individu sebanding yang bebas dari penyakit (kontrol). Pemilihan subjek penelitian dimulai dari efek atau penyakit, lalu ditelusuri ke masa lalu untuk mengidentifikasi adanya faktor risiko.  Penelitian membandingkan karakteristik dari grup kasus dan kontrol, menyimpulkan bahwa karakteristik yang berbeda berhubungan dengan terjadinya penyakit. Peneliti mendapatkan riwayat pajanan melalui survei pasien atau ulasan rekam medis. Kasus kontrol bersifat retrospektif yaitu pengumpulan data terjadi sebelum hipotesis terbentuk.   Penelitian kasus kontrol berguna untuk meneliti penyakit yang langka atau ketika hasil yang dievaluasi jarang terjadi. Keunggulan lainnya yaitu dapat meneliti berbagai paparan atau faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian. Kasus kontrol memiliki waktu penelitian yang lebih singkat dan biaya yang lebih rendah  dibandingkan dengan penelitian kohort atau uji klinis.

Kekurangan penelitian kasus kontrol yaitu potensial terhadap bias seleksi jika tidak memiliki grup kontrol yang tepat. Penelitian kasus kontrol potensial terhadap recall bias. Kasus kontrol memiliki keterbatasan hanya dapat meneliti satu efek hasil atau penyakit.
Mengetahui hubungan antara paparan dengan penyakit diukur dengan Odds Ratio (OR) yang merupakan perbandingan peluang paparan pada kasus dengan peluang paparan pada kontrol. Tabel 2.3 menyajikan data penelitian kasus kontrol. Odds ratio dikalkulasikan dengan rumus OR= (a/b):(c/d)=ad/bc. Interpretasi hasil dari odds ratio yaitu bila bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara paparan atau faktor risiko dengan penyakit. Nilai odds ratio lebih dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut berhubungan dengan terjadinya penyakit. Nilai odds ratio kurang dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut merupakan faktor protektif atau ada penurunan risiko terjadinya penyakit.

Potong Lintang (skripsi dan tesis)

 Penelitian potong lintang adalah penelitian yang mengevaluasi pajanan dan hasil penyakit pada satu waktu tertentu secara bersamaan. Potong lintang menghubungkan status pajanan atau faktor risiko dengan terjadinya penyakit tanpa meneliti urutan waktu dari perkembangan penyakit. Pemilihan subjek penelitian dilakukan secara acak dari populasi yang ada, kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap status penyakit dan faktor risiko yang dimiliki oleh subjek penelitian
Potong lintang merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka prevalensi. Prevalensi adalah proporsi dari individu yang memiliki penyakit pada suatu populasi dalam waktu tertentu. Prevalensi berguna untuk mengukur beban penyakit dalam populasi.
 Perbandingan antara prevalensi kasus atau efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan prevalensi kasus pada kelompok tanpa faktor risiko dinyatakan dengan Prevalence Ratio (PR). Prevalence ratio dikalkulasikan dengan rumus PR=a/(a+b):c/(c/d). Interpretasi hasil dari prevalence ratio jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko dengan penyakit. Nilai prevalence ratio kurang dari satu berarti faktor risiko memiliki asosiasi negatif dengan terjadinya penyakit. Nilai prevalence ratio lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi positif dengan terjadinya penyakit

Serial Kasus (skripsi dan tesis)

Serial kasus adalah penelitian pada sekelompok pasien dengan diagnosis yang sama, pasien diikuti untuk ditelaah perjalanan alami penyakit baik dari presentasi klinis, riwayat dan prognosisnya. Serial kasus membantu untuk memahami distribusi penyakit dalam populasi dan mempelajari variasi penyakit dari waktu ke waktu. Serial kasus bisa mencakup penyakit yang sering ditemukan namun terdapat hal-hal khusus yang layak untuk dipublikasi misalnya terdapatnya perubahan manifestasi klinis, laboratorium, ataupun perjalanan penyakit yang tidak lazim. Serial kasus yang seringkali dilakukan adalah pengaruh tindakan pengobatan pada sejumlah kasus. Kelemahan dari serial kasus terletak pada kualitas data karena tidak ada standarisasi pengumpulan informasi pasien, pengukuran, tes, dan evaluasi lainnya. Kelebihan serial kasus yaitu berguna dalam memberikan data awal untuk uji klinis. Serial kasus berperan penting dalam penelitian epidemiologi untuk mempelajari gejala penyakit dan membentuk definisi kasus

Laporan Kasus (skripsi dan tesis)

Laporan kasus adalah penelitian yang mendeskripsikan kelainan, penyakit, sindrom yang jarang ditemukan atau penyakit yang biasa ditemukan namun memiliki presentasi yang tidak lazim. Respon yang tidak lazim terhadap pengobatan penyakit juga sering dilaporkan dalam laporan kasus. Pengembangan prosedur atau teknik baru sering diawali dengan laporan atau serial kasus.3,6,11 Laporan kasus biasanya dimulai dengan deskripsi kasus yang disajikan secara kronologis sejak kasus pertama kali diperiksa, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sampai penegakan diagnosis dan penentuan tata laksana. Laporan kasus dilengkapi dengan diskusi membandingkan penemuan tersebut dengan kasus serupa yang pernah dilaporkan dalam kepustakaan dunia. Laporan kasus hanya dapat menyimpulkan penemuan atau mekanisme yang tidak terduga dari suatu penyakit

Penelitian Observasional (skripsi dan tesis)

Penelitian observasional adalah pengamatan atau pengukuran terhadap berbagai jenis subjek penelitian yang dilakukan menurut keadaan alamiah, tanpa ada manipulasi atau intervensi dari peneliti. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik, perilaku dan paparan pada subjek dengan penyakit, kondisi atau komplikasi tertentu. Peneliti sebagai investigator tidak melakukan tindakan 3 terhadap subjek penelitian, tetapi mengamati secara alami hubungan antara faktor risiko dengan hasil observasi.

Non Probalitiy sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) tidak memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Consecutive sampling : semuaa subyek yang datangberurutan dan memenuhi criteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. b. Convenient sampling : merupakan cara termudah sekaligus terlemah untuk menarik sampel. Sampel diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga jarang dianggap mewakili populasi terjangkau. c. Judgmental samling/ purposive sampling : peneliti memilih responden berdasarkan pada pertimbangan subyektif dan praktis, bahwa responden tersebut dapat memberikan informasi yang memasai untuk menjawab pertanyaan penelitian

Probability sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Simple random sampling : dari seluruh subyek dalam populasi ditentukan besaran sampel sesuai perhitungan, kemudian tiap subyek diberi nomor dan dipilih sebagian dari mereka (sesuai besar sample yang dibutuhkan) dengan bantuan tabel angka random atau dengan ramdomisasi menggunakan program computer. b. Systematic sampling : setelah dilakukan penomoran subyek, kemudian ditentukan tiap subyek dengan nomor ke-sekian yang dipilih menjadi sampel. c. Stratified random sampling : sampel dipilih secara acak untuk tiap strata, kemudian hasilnya digabungkan menjadi satu sample yang terbebas dari variasi untuk setiap strata. Variabel yang sering digunakan untuk stratifikasi adalah: gender, usia, ras, kondisi social-ekonomi. Status gizi, lokasi penelitian. d. Cluster sampling : sample dipilih secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secara alamah, misalnya : kelurahan, kecamatan, kodya, kabupaten, dsb.Cara ini efektif untuk populasi yang tersebar luas.

Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

 

Pada penelitian cohort yang diidentifikasi lebih dahulu adalah kausa atau factor risikonya, kemudian sekelompok subyek (disebut sebagai kohort) diikuti secara prospektif selama periode tertentu untuk menentukan terjadi atau tidaknya efek. Hal ini berlawanan denga penelitian case-control. Subyek yang terpapar fakror risiko menjadi kelompok yang diteliti, sedangkan subyek yang tidak terpapar menjadi kelompok control, kemudian kedua kelompok tersebut diamati selama periode waktu tertentu untuk kemudian ditentukan apakah telah terjadi efek atau penyakit yang diteliti (prospektif) Pada penelitian cohort, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai risiko insidens atau risiko relatif, yaitu perbandingan antara insidens efek pada kelompok dengan factor risiko dengan insidens efek pada kelompok tanpa factor risiko.. Selain cohort prospektif dikenal juga cohort retrospektif, yaitu peneliti mengidentifikasi factor risiko dan efek pada subyek yang terjadi di masa lalu, atau dengan kalimat lain, saat penelitian dilakukan, outcome/ efek yang diteliti sudah terjadi