Model Pemrograman Linier (skripsi dan tesis)
Pengertian Linier Programming (skripsi dan tesis)
Ruang Lingkup Manajemen Operasi (Skripsi dan tesis)
Pengertian Manajemen Operasi (skripsi dan tesis)
Manajemen operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi) tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Dalam proses tranformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa. Roger G. Schroeder, Susan Meyer Goldstein and M. Johnny Rungtusanatham (2011:5) menyatakan operational management is the operation function of an organization is responsible for producing and delivering goods or services of value to customers of the organization. Menurut K. M Starr (dalam Manahan P. Tampubolon 2014:5) : Manajemen operasi merupakan proses konversi, dengan bantuan fasilitas seperti : tanah, tenaga kerja, modal dan manajemen masukan (input) yang diubah menjadi keluaran (output) yang diinginkan, berupa barang dan jasa atau layanan. Menurut Elwood S. Buffa (dalam Eddy Herjanto 2008:2) : Terdapat unsur-unsur pokok dari definisi manajemen operasi yaitu kontinyu dan efektif. Kontinyu, maksudnya keputusan manajemen tidak merupakan suatu tindakan sesaat melainkan tindakan yang berkelanjutan atau suatu proses yang kontinyu. Efektif berarti segala pekerjaan harus dapat dilakukan secara tepat dan sebaik-baiknya, serta mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan. Dari beberapa definisi tersebut penulis mengartikan bahwa manajemen operasi adalah semua usaha yang mengkoordinasikan dan memanfaatkan sumber daya atau faktor-faktor produksi seperti bahan mentah, tenaga kerja, energi, modal dan informasi yang ada dan dimiliki oleh perusahaan. Kemudian melalui proses transformasi, masukan-masukan atau input-input diubah menjadi output yaitu 15 berupa produk barang dan jasa, serta suatu pengambilan keputusan mengenai pengelolaan yang optimal dengan penggunaan faktor-faktor produksi dalam proses transformasi input menjadi output yang ditentukan oleh organisasi. Berdasarkan beberapa definisi manajemen operasi diatas penulis mengartikan manajemen operasi adalah sebuah fungsi bisnis atau fungsi operasi yang berperan menghasilkan barang dan atau jasa atau kombinasinya melalui proses transformasi dari sumber daya produksi menjadi keluaran yang diinginkan sehingga dapat memberikan nilai kepada pelanggan
Manajemen Operasi (skripsi dan tesis)
Manajemen operasi didalamnya berisi kegiatan menciptakan barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen. Melalui kegiatan manajemen operasi, segala sumber daya masukan perusahaan diintegrasikan untuk menghasilkan output yang memiliki nilai tambah. Kegiatan operasi merupakan kegiatan kompleks, yang mencakup tidak saja pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam mengkoordinasikan berbagai kegiatan dalam mencapai tujuan operasi, tetapi juga mencakup kegiatan teknis untuk menghasilkan suatu produk yang memenuhi spesifikasi yang diinginkan, manajemen operasi perlu dimiliki oleh semua pihak yang terlibat langsung dalam proses pembuatan produk sesuai dengan perannya masing-masing.
Pengertian Manajemen (skripsi dan tesis)
Himpunan Fuzzy (skripsi dan tesis)
Pada himpunan tegas (crisp), nilai keanggotaan suatu item x dalam
suatu himpunan A, yang sring ditulis dengan µA(X), memiliki dua
kemungkinan, yaitu (Kusumadewi):
Satu (1), yang berarti bahwa suatu item menjadi anggota dalam
suatu himpunan, atau
Nol (0), yang berarti bahwa suatu item tidak menjadi anggota
dalam suatu himpunan.
Menurut Kusumadewi (2010), ada beberapa hal yang perlu
diketahui dalam memahami system fuzzy, yaitu:
1. Variabel Fuzzy
Variabel Fuzzy merupakan variabel yang hendak dibahas dalam
suatu system fuzzy. Contoh: umur, temperature, permintaan,
dsb.
2. Himpunan Fuzzy
Himpunan fuzzy merupakan suatu grup yang mewakili suatu
kondisi atau keadaan tertentu dalam suatu variabel fuzzy.
3. Semesta Pembicara
Semesta pembicara adalah keseluruhan nilai yang
diperbolehkan untuk dioperasikan dalam suatu variabel fuzzy.
4. Domain
Domain himpunan fuzzy adalah keseluruhan nilai yang
diizinkan dalam semesta pembicara dan boleh dioperasikan
dalam suatu himpunan fuzzy.
Linear Programming (skripsi dan tesis)
Pemrograman linear adalah sebuah metode matematis yang
berkarakteristik linear untuk menemukan suatu penyelesaian optimal
dengan cara memaksimumkan atau meminimumkan fungsi tujuan
terhadap satu susunan kendala (Siswanto,2006).
Pemrograman linear menggunakan model matematika untuk
menggambarkan suatu masalah. Sifat linear di sini berarti semua
fungsi matematika harus berupa fungsi linear. Kata pemrograman
disini bukan berarti program komputer, melainkan perencanaan.
Pemrograman linier meliputi perencanaan perencanaan aktivitas
untuk mendapatkan hasil maksimal, yaitu sebuah hasil yang mencapai
tujuan terbaik (menurut model matematika) di antara semua
kemungkinan alternative yang ada (Hillier, 2005)
Model pemrograman linear mempunyai tiga unsur utama yaitu;
Variabel Keputusan
Adalah variabel persoalan yang akan mempengaruhi nilai tujuan
yang akan mempengaruhi nilai tujuan yang hendak dicapai. Di
dalam proses pemodelan, penemuan variabel keputusan tersebut
harus dilakukan terlebih dahulu sebelum merumuskan fungsi
tujuan dan kendala-kendalanya.
Fungsi Tujuan
Dalam model pemrograman linear, tujuan yang hendak dicapai
harus diwujudkan ke dalam sebuah fungsi matematika linear.
Selanjutnya, fungsi tersebut dimaksimumkan atau diminumkan
terhadap kendala-kendala yang ada.
Fungsi Kendala
Manajemen menghadapi berbagai kendala untuk mewujudkan
tujuan-tujuannya. Kenyataan tentang eksistensi kendala-kendala
tersebut selalu ada, misal:
– Keputusan untuk meningkatkan volume produksi dibatasi oleh
factor-faktor seperti kemampuan mesin, jumlah sumber daya
manusia dan teknologi yang tersedia.
– Manajer produksi harus menjaga tingkat produksi agar
permintaan pasar tepenuhi.
– Agar kualitas produk yang dihasilkan memenuhi standar
tertentu maka unsur bahan baku yang digunakan harus
memenuhi kualifikasi minimum.
– Likuiditas menjadi pertimbangan bank dalam pencairan kredit
– Peraturan pemerintah dan perundang-undangan mengatur
organisasi perusahaan dalam hal tertentu, misalnya system
perpajakan, ketentuan kandungan unsur tertentu di dalam suatu
produk, tingkat polusi, keharusan bagi pabrik susu bubuk untuk
menampung produksi susu KUD, dan lain-lain.
Kendala dengan demikian dapat diumpamakan sebagai suatu
pembatas terhadap kumpulan keputusan yang mungkin dibuat
dan harus dituangkan ke dalam fungsi matematika linear. Dalam
hal ini, sesuai dengan dalil-dalil matematika, ada tiga macam
kendala, yaitu:
– Kendala berupa pembatas
– Kendala berupa syarat
– Kendala berupa keharusan
Operation Research (skripsi dan tesis)
Operation Research adalah pendekatan ilmiah untuk
pengambilan keputusan yang melibatkan operasi dari sistem
organisasional. Karakteristik utama yang dimiliki oleh Penelitian
Operasional adalah (Puryani,2012):
Diterapkan pada persoalan yang berkaitan dengan bagaimana
mengatur dan mengkoordinasikan operasi atau kegiatan dalam suatu
organisasi.
Mengacu pada Broad View Point, yakni titik pandang organisasi,
sehingga memiliki konsistensi dengan organisasi secara
keseluruhan.
Menemukan solusi terbaik atau solusi optimal, oleh karenanya
search for optimality jadi tema penting dalam penelitian operasional.
Menurut Taha (1996), tahap-tahap utama yang harus dilalui
untuk melakukan studi OR adalah:
1. Definisi masalah
Dari sudut pandang riset operasi, hal ini menunjukkan tiga aspek
utama: (1) deskripsi tentang sasaran atau tujuan dari studi tersebut,
(2) identifikasi alternative keputusan dari system tersebut, dan (3)
pengenalan tentang keterbatasan, batasan, dan persyaratan system
tersebut.
2. Pengembangan model
Bergantung pada definisi masalah, harus memutuskan model yang
paling sesuai untuk mewakili system yang bersangkutan. Jika
model yang dihasilkan termasuk dalam salah satu model matematis
yang umum (misalnya, program linear), pemecahan yang
memudahkan dapat diperoleh dengan menggunakan teknik-teknik
matematis.
3. Pemecahan model
Dalam model-model matematis, hal ini dapat dicapai dengan
menggunakan teknik-teknik optimisasi yang didefinisikan dengan
baik dan model tersebut dikatakan menghasilkan sebuah
pemecahan optimal.
4. Pengujian keabsahan model
Sebuah model adalah absah jika, walaupun tidak secara pasti
mewakili system tersebut, dapat memberikan prediksi yang wajar
dari kinerja system tersebut. Satu metode yang umum untuk
menguji keabsahan sebuah model adalah menggunakan data masa
lalu untuk dibandingkan.
5. Implementasi hasil akhir
Implementasi melibatkan penerjemahan hasil ini menjadi petunjuk
operasi yang terinci dan disebarkan dalam bentuk yang mudah
dipahami kepada para individu yang akan mengatur dan
mengoperasikan system yang direkomendasikan tersebut.
Metode Peramalan (skripsi dan tesis)
Menurut Purnomo (2004), metode-metode yang dapat
digunakan untuk melakukan peramalan antara lain sebagai berikut:
1. Regresi Linear
Regresi Linear merupakan prosedur-prosedur statistical yang
paling banyak digunakan sebagai metode peramalan, karena
relatif lebih mudah dipahami dan hasil peramalan dengan metode
ini lebih akurat dalam berbagai situasi. Dalam metode ini, pola
hubungan antara suatu variabel yang mempengaruhinya dapat
dinyatakan dengan suatu garis lurus.
2. Moving Average
Metode moving average merupaka metode yang mudah
perhitungannya. Tujuan utama dari penggunaan metode ini
adalah untuk menghilangkan atau mengurangi acakan
(randomness) dalam deret waktu.
3. Exponential Smoothing
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh para ahli penelitian
operasional pada akhir 1950. Sejak tahun 1960-an konsep
exponensial smoothing telah tumbuh menjadi metode praktis
dengan penggunaannya yang luas. Di dalam metode ini kita
berusaha menunjukkan adanya karakteristik dari smoothing
dengan menambahkan suatu faktor yang sering disebut dengan
smoothing constant dengan simbol alpha (α). Metode ini
memiliki rumus sebagai berikut:
Ft+1 = α (xt) + (1 – α) Ft
Dengan :
Xt = Nilai aktual terbaru
Ft = Peramalan terakhir
Ft+1 = peramalan untuk periode yang akan datang
α = Konstanta smoothing
Peramalan (skripsi dan tesis)
Kegiatan peramalan merupakan suatu fungsi bisnis yang
berusaha memperkirakan penjualan dan penggunaan produk sehingga
produk-produk tersebut dapat dibuat dalam jumlah yang tepat. Dengan
demikian, peramalan adalah perkiraan atau estimasi tingkat permintaan
suatu produk untuk periode yang akan datang (Purnomo,2004).
Secara garis besar terdapat tiga macam pengaruh yang dapat
mengakibatkan fluktuasi penjualan, yaitu sebagai berikut
(Purnomo,2004)
1. Pengaruh Trend Jangka Panjang
Pengaruh trend jangka panjang meunjukkan perkembangan
perusahaan dalam penjualannya. Perkembangan tersebut bisa positif
(Growth) maupun perkembangan negatif (Decline).
2. Pengaruh Musiman
Perubahan volume penjualan atau permintaan juga dapat
dipengaruhi oleh musim. Musiman merupakan permintaan tertentu
yang terjadi setiap periode tertentu. Pengaruh musim akan
menyebabkan adanya fluktuasi penjualan yang tertentu dalam satu
tahun dan membentuk pola penjualan musiman.
3. Pengaruh Cycles
Pengaruh cycles disebut juga pengaruh konjungtur. Pengaruh ini
merupakan gejala fluktuasi perekonomian jangka panjang. Pengaruh
ini mungkin yang paling sulit ditentukan bila rentangan waktu tidak
diketahui atau akibat siklus tidak dapat ditentukan.
Metode Linear Programming (skripsi dan tesis)
Menurut Siswanto (1987) Linear Programming adalah sebuah metode untuk
menentukan suatu putusan optimal yaitu suatu putusan yang memiliki nilai paling menguntungkan untuk fungsi tujuan di antara kemungkinan-kemungkinan putusan yang memenuhi kendala. Linear Programming adalah suatu persoalan untuk menentukan besarnya masing-masing nilai variabel, nilai fungsi tujuan yang linier menjadi optimum (maksimum atau minimum) dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada yaitu pembatasan mengenai inputnya (Supratno,1983).
Ada dua fungsi penting yang harus diperhatikan dalam Linear Programming yaitu fungsi tujuan dan fungsi kendala. Fungsi tujuan hanya mempunyai kemungkinan bentuk maksimasi dan dapat juga minimasi. Fungsi kendala dapat berupa pembatas dan dapat juga berupa syarat. Fungsi kendala dapat berupa persamaan (=) atau pertidaksamaan (≤ atau ≥). Simbol ≤ akan selalu dijumpai pada fungsi kendala yang berua pembatas dan simbol ≥ akan selalu dijumpai pada fungsi kendala yang berupa syarat.
Menurut Supratno (1983), suatu persoalan Linear Programming apabila
memenuhi hal-hal berikut :
a. Tujuan (objective) yang akan dicapai harus dapat dinyatakan dalam bentuk
fungsi linier. Fungsi ini disebut fungsi tujuan (objective function).
b. Harus ada alternatif pemecahan. Pemecahan yang membuat nilai fungsi
tujuan optimum (laba yang maksimum, biaya yang minimum, dsb) yang
harus dipilih.
c. Sumber-sumber tersedia dalam jumlah yang terbatas (bahan terbatas, dsb).
Pembatasan-pembatasan harus dinyatakan di dalam pertidaksamaan yang
linier (linear inequality)
Hingga saat ini, Linear Programming telah dipergunakan di dalam penyelesaian berbagai masalah pada bidang usaha, pemerintah, industri, rumah sakit, perpustakaan dan pendidikan. Sebagai suatu teknik yang membantu dalam pembuatan putusan, pemrograman linier telah diterapkan pada bidang produksi, keuangan, pemasaran, penelitian, dan pengambangan dan personalia.
Menurut Siringoringo (2005), secara teknis, linearitas ditunjukan oleh adanya
empat sifat tambahan yang merupakan asumsi dasar, yaitu :
a. Sifat proporsionalitas merupakan asumsi aktivitas individual yang
dipertimbangkan secara bebas dari aktivitas lainnya. Sifat proporsionalitas
dipenuhi jika kontribusi setiap variabel pada fungsi tujuan atau penggunaan
sumber daya yang membatasi proporsional terhadap level nilai variabel.
b. Sifat additivitas mengasumsikan bahwa tidak ada bentuk perkalian silang
diantara berbagai aktivitas, sehingga tidak akan ditemukan bentuk perkalian
silang pada model. Sifat ini dipenuhi jika fungsi tujuan merupakan
penambahan langsung kontribusi masing-masing variabel keputusan untuk
fungsi pembatas (kendala). Sifat additivitas dipenuhi jika nilai kanan
merupakan total penggunaan masing-masing variabel keputusan.
c. Sifat divisibilitas berarti unit aktivitas dapat dibagi ke dalam sembarang level
fraksional, sehingga nilai variabel keputusan noninteger dimungkinkan.
d. Sifat kepastian menunjukan bahwa semua parameter model berupa
konstanta. Artinya koefisien fungsi tujuan maupun fungsi pembatas
merupakan suatu nilai pasti, bukan merupakan nilai dengan peluang
tertentu
Metode Diagram Keputusan (Decision Tree) (skripsi dan tesis)
Diagram Keputusan (Decision Tree) adalah suatu rangkaian kronologis tentang
keadaan apa yang mungkin terjadi untuk tiap alternatif keputusan
(Mangkusubroto & Trisnadi, 1983).
Dalam pembuatan pohon keputusan terdapat beberapa penuntun dan aturan
yang dapat digunakan sebagai pegangan dalam pembentukan dan penentuan
pilihan nilai diagram keputusan. Mangkusubroto dan Trisnadi (1983) menjelaskan
tahap penggambaran dan penentuan pilihan adalah sebagai berikut:
a. Tentukan alternatif keputusan awal atau alternatif tindakan.
b. Tentukan kejadian tak pasti yang melingkupi alternatif awal.
c. Tentukan keputusan atau alternatif lanjutan.
d. Tentukan kejadian tak pasti yang melingkupi alternatif lanjutan.
e. Gambarkan kejadian-kejadian dan keputusan-keputusan secara kronologis.
f. Menetapkan nilai kejadian, kemungkinan dan ekspektasi.
g. Menganalisis nilai secara bertahap.
Dalam menetapkan nilai kejadian ini berdasarkan nilai keuntungan dan kerugian
yang akan diterima pemilik dalam setiap rangkaian alternatif. Nilai kemungkinan
adalah besarnya nilai kemungkinan kemunculan dari setiap kejadian tak pasti.
Nilai ekpektasi merupakan harga rata-rata dari setiap kejadian. Nilai ekpetasi i
Kelebihan dan Kelemahan program linier (skripsi dan tesis)
a. Kelebihan dari program linier adalah ( Soekartawi,1992):
Di dalam penggunaannya, program linier mempunyai beberapa
kelebihan, diantaranya:
1) Mudah dilaksanakan, terutama jika menggunakan alat bantu
komputer
2) Dapat menggunakan banyak variabel, sehingga berbagai
kemungkinan untuk memperoleh pemanfaatan sumber daya yang
optimum dapat dicapai
3) Fungsi tujuan (objective function) dapat disesuaikan dengan
tujuan penelitian atau berdasarkan data yang tersedia.
b. Kelemahan dari program linier adalah ( Soekartawi,1992):
1) Bila alat bantu komputer tidak tersedia, maka program linier
yang menggunakan banyak variabel akan kesulitan dalam
analisisnya.
2) Nilai optimum dapat berupa pecahan, yang pada kasus tertentu
menghendaki harus bernilai bulat positif.
3) Penggunaan asumsi linieritas yang terkadang tidak sesuai dengan
kenyataan.
Asumsi-asumsi Dasar Program Linier (skripsi dan tesis)
Salah satu ciri khas model program linier ini ialah bahwa ia
didukung oleh lima macam asumsi yang menjadi tulang punggung model
tersebut. Asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Linearitas
Asumsi ini menginginkan agar perbandingan antara input yang
satu dengan input lainnya, atau untuk suatu input dengan output
besarnya tetap dan terlepas (tidak tergantung) pada tingkat produksi.
Jika fungsi tujuan, cjxj, bersifat nonlinear, maka teknik program linier
ini tidak dapat dipakai.
b. Proporsionalitas
Asumsi ini menyatakan bahwa jika peubah pengambilan
keputusan, xj, berubah maka dampak perubahannya akan menyebar
dalam proporsi yang sama terhadap fungsi tujuan, cjxj, dan juga pada
kendalanya, aijxj. Misalnya, jika kita naikkan nilai xj dua kali, maka
secara proporsional (seimbang dan serasi) nilai-nilai aijxj-nya juga akan
menjadi dua kali lipat. Implikasi asumsi ini ialah bahwa dalam model
program linier yang bersangkutan tidak berlaku hukum kenaikan yang
semakin menurun.
c. Aditivitas
Asumsi ini menyatakan bahwa nilai parameter suatu kriteria
optimasi (koefisien peubah pengambilan keputusan dalam fungsi
tujuan) merupakan jumlah dari nilai individu-individu cj dalam model
program linier tersebut. Dampak total terhadap kendala ke-i
merupakan jumlah dampak individu terhadap peubah pengambilan
keputusan xj.
d. Divisibilitas
Asumsi ini menyatakan bahwa peubah-peubah pengambilan
keputusan xj, jika diperlukan dapat dibagi ke dalam pecahan-pecahan,
yaitu bahwa nilai-nilai xj tidak perlu integer (hanya 0 dan 1 atau
bilangan bulat), tapi boleh noninteger (missal ½; 0,58; 38,987, dan
sebagainya).
e. Deterministik
Asumsi ini menghendaki agar semua parameter dalam model
program linier (yaitu nilai-nilai cj, aij, dan bi) tetap dan diketahui atau
di tentukan secara pasti (Nasendi, 1985).
4. Macam-macam solusi program linier
Setelah persoalan program linier diidentifikasikan variabel
keputusan, fungsi tujuan, dan pembatasannya yang diformulasikan ke
dalam bentuk matematika, maka persoalan tersebut dapat dipecahkan
menggunakan beberapa metode seperti metode grafik, metode substitusi,
dan metode simpleks.
a. Metode Grafik
Pemecahan persoalan program linier menggunakan metode grafik
terdiri dari dua fase yaitu (Ruminta, 2009):
1) Menentukan ruang/daerah penyelesaian (solusi) yang feasible
yaitu menemukan nilai variabel keputusan di mana semua
pembatasan bertemu.
2) Menentukan solusi optimal dari semua titik di ruang/ daerah
feasible
b. Metode Substitusi
Penyelesaian program linier dengan metode substitusi
mempunyai beberapa tahapan yaitu (Ruminta, 2009):
1) Mengubah ketidaksamaan pembatasan menjadi persamaan
pembatasan dengan cara menambahkan variabel slack (Surplus)
untuk persoalan maksimum (minimum).
2) Tentukan seluruh pemecahan dasar dari persamaan pembatasan dan
tentukan pemecahan yang memenuhi semua syarat pembatasan
(solusi feasible).
3) Tentukan salah satu dari solusi feasible tersebut yang memenuhi
syarat fungsi tujuan atau solusi optimum.
c. Metode simpleks
Metode simpleks adalah suatu teknik penyelesaian program
linier secara iterasi. Metode simpleks mencari suatu penyelesaian dasar
feasible ke penyelesaian dasar feasible yang lainnya dilakukan
berulang-ulang sehingga akhirnya tercapi suatu penyelesaian optimum
(Ruminta, 2009).
Pada metode simpleks persoalan program linier selalu diubah
menjadi persoalan program linier standar, dimana setiap
ketidaksamaan pembatasan diekspresikan dalam bentuk persamaan
pembatasan dengan menambah variabel slack atau surplus.
Menurut Siringoringo (2005) ada beberapa istilah yang sangat
sering digunakan dalam metode simpleks, diantaranya :
1) Iterasi adalah tahapan perhitungan dimana nilai dalam perhitungan
itu tergantung dari nilai tabel sebelumnya.
2) Variabel non basis adalah variabel yang nilainya diatur menjadi
nol pada sembarang iterasi.
3) Variabel basis merupakan variabel yang nilainya bukan nol pada
sembarang iterasi. Pada solusi awal, variabel basis merupakan
variabel slack (jika fungsi kendala merupakan pertidaksamaan ≤ )
atau variabel buatan (jika fungsi kendala menggunakan
pertidaksamaan ≥ atau =). Secara umum, jumlah variabel basis
selalu sama dengan jumlah fungsi pembatas (tanpa fungsi non
negatif).
4) Solusi atau nilai kanan merupakan nilai sumber daya pembatas
yang masih tersedia. Pada solusi awal, nilai kanan atau solusi
sama dengan jumlah sumber daya pembatas awal yang ada,
karena aktivitas belum dilaksanakan.
Model Optimalisasi Kebutuhan…, Elia Zubaedah, FKIP UMP, 2013
16
5) Variabel slack adalah variabel yang ditambahkan ke model
matematik kendala untuk mengkonversikan pertidaksamaan ≤
menjadi persamaan (=). Penambahan variabel ini terjadi pada
tahap inisialisasi. Pada solusi awal, variabel slack akan berfungsi
sebagai variabel basis.
6) Variabel surplus adalah variabel yang dikurangkan dari model
matematik kendala untuk mengkonversikan pertidaksamaan ≥
menjadi persamaan (=). Penambahan ini terjadi pada tahap
inisialisasi. Pada solusi awal, variabel surplus tidak dapat
berfungsi sebagai variabel basis.
7) Variabel buatan adalah variabel yang ditambahkan ke model
matematik kendala dengan bentuk ≥ atau = untuk difungsikan
sebagai variabel basis awal. Penambahan variabel ini terjadi pada
tahap inisialisasi.
8) Kolom pivot (kolom kerja) adalah kolom yang memuat variabel
masuk. Koefisien pada kolom ini akan menjadi pembagi nilai
kanan untuk menentukan baris pivot (baris kerja).
9) Baris pivot (baris kerja) adalah salah satu baris dari antara
variabel basis yang memuat variabel keluar.
10) Elemen pivot (elemen kerja) adalah elemen yang terletak pada
perpotongan kolom dan baris pivot. Elemen pivot akan menjadi
dasar perhitungan untuk tabel simpleks berikutnya.
11) Variabel masuk adalah variabel yang terpilih untuk menjadi
variabel basis pada iterasi berikutnya. Variabel masuk dipilih satu
dari antara variabel non basis pada setiap iterasi. Variabel ini pada
iterasi berikutnya akan bernilai positif.
12) Variabel keluar adalah variabel yang keluar dari variabel basis
pada iterasi berikutnya dan digantikan oleh variabel masuk.
Variabel keluar dipilih satu dari antara variabel basis pada setiap
iterasi. Variabel ini pada iterasi berikutnya akan bernilai nol.
Sebelum melakukan perhitungan iteratif untuk menentukan
solusi optimal, pertama sekali bentuk umum pemrograman linier
dirubah ke dalam bentuk baku terlebih dahulu. Bentuk baku dalam
metode simpleks tidak hanya mengubah persamaan kendala ke dalam
bentuk sama dengan, tetapi setiap fungsi kendala harus diwakili oleh
satu variabel basis awal. Variabel basis awal menunjukkan status
sumber daya pada kondisi sebelum ada aktivitas yang dilakukan.
Dalam kasus minimalisasi yang berfungsi sebagai variabel basis adalah
variabel buatan / artificial variable. Perumusannya dalam fungsi tujuan
memiliki koefisien sebesar +M. Pendekatan ini disebut juga sebagai ”
metode M besar ”. Nilai koefisien peubah artifisial itu sendiri adalah
sebenarnya tak terhingga.
Dalam perhitungan iteratif, kita akan bekerja menggunakan
tabel. Bentuk baku yang sudah diperoleh, harus dibuat ke dalam
bentuk tabel.
Langkah-langkah penyelesaian adalah sebagai berikut :
a. Merubah model program linier menjadi model persamaan linier.
b. Menyusun tabel simpleks awal.
c. Menghitung nilai Zj pada setiap kolom variabel.
d. Menghitung nilai (Cj-Zj) pada setiap kolom variabel.
e. Periksa nilai-nilai (Cj-Zj), jika (Cj-Zj) ≤ 0 (untuk tujuan
memaksimumkan) maka ke langkah (l) atau jika (Cj-Zj) ≥ 0 (untuk
tujuan meminimumkan) maka ke langkah (l).
f. Tentukan kolom kunci berdasarkan nilai (Cj-Zj). Kolom kunci
terletak pada kolom variabel yang nilai (Cj-Zj) positif terbesar jika
tujuannya memaksimumkan, sebaliknya kolom kunci terletak pada
kolom variabel yang nilai (Cj-Zj) negatif terbesar jika tujuannya
meminimumkan.
g. Tentukan baris kunci berdasarkan nilai (bi / akk) positif terkecil.
h. Tentukan angka kunci (ak), yaitu angka yang terletak pada kolom
kunci dan baris kunci.
i. Ganti variabel yang terletak pada baris kunci dengan variabel yang
terletak pada kolom kunci.
j. Lakukan transformasi setiap baris yang dimulai dengan baris kunci
dengan rumus transformasi sebagai berikut:
Bk baru = (Bk lama) / ak
Bi baru = Bi – ai,kk * Bk baru
k. Kembali ke langkah (c)
l. Solusi optimal diperoleh, dimana nilai variabel basis untuk masingmasing
baris terletak pada kolom bi.
Pengertian Program Linier (skripsi dan tesis)
Program Linier (PL) yang dalam bahasa Inggris disebut linear
programming, adalah salah satu teknik riset operasi yang memakai model
matematika. Tujuannya adalah untuk mencari, memilih, dan menentukan
alternatif yang terbaik dari antara sekian alternatif layak yang tersedia.
Dikatakan linier karena peubah-peubah yang membentuk model PL
dianggap linier (Nasendi, 1985).
Program linier pada hakikatnya merupakan suatu teknik
perencanaan yang bersifat analitis yang analisis-analisisnya memakai
model matematika, dengan tujuan menemukan beberapa kombinasi
alternatif pemecahan masalah, kemudian dipilih mana yang terbaik di
antaranya dalam rangka menyusun strategi dan langkah-langkah kebijakan
lebih lanjut tentang alokasi sumber daya dan dana yang terbatas guna
mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan secara optimal.
Penekanannya di sini adalah pada alokasi optimal atau kombinasi
optimum, artinya suatu langkah kebijakan yang pertimbangannya telah
dipertimbangkan dari segala segi untung dan rugi secara baik, seimbang
dan serasi. Alokasi optimal tersebut tidak lain adalah memaksimumkan
atau meminimumkan fungsi tujuan yang memenuhi persyaratanpersyaratan
yang dikehendaki oleh syarat-ikatan (kendala) dalam bentuk
ketidaksamaan linier.
Dalam masalah program linier senantiasa dijumpai adanya
persyaratan atau konstrain yang ditimbulkan oleh adanya fasilitas. Fasilitas
yang terbatas dapat berupa kapasitas mesin yang terbatas, persediaan
bahan baku yang terbatas, jumlah tenaga yang terbatas dan sebagainya.
Agar dapat menyusun dan merumuskan suatu persoalan atau permasalahan
yang dihadapi ke dalam model program linier, maka dimintakan lima
syarat yang harus dipenuhi sebagai berikut ini (Nasendi, 1985):
a. Tujuan
Apa yang menjadi tujuan permasalahan yang dihadapi yang ingin
dipecahkan dan dicari jalan keluarnya. Tujuan ini harus jelas dan tegas
yang disebut fungsi tujuan. Fungsi tujuan tersebut dapat berupa
dampak positif, manfaat-manfaat, keuntungan-keuntungan, dan
kebaikan-kebaikan yang akan dimaksimumkan, atau dampak negatif,
kerugian-kerugian, risiko-risiko, biaya-biaya, jarak, waktu, dan
sebagainya yang akan diminimumkan.
b. Alternatif perbandingan
Harus ada sesuatu atau berbagai alternatif yang ingin diperbandingkan,
misalnya antara kombinasi waktu tercepat dan biaya tertinggi dengan
waktu terlambat dan biaya terendah, atau antara kebijakan A dengan B,
atau antara proyeksi permintaan tinggi dengan rendah, dan seterusnya.
c. Sumber daya
Sumber daya yang dianalisis harus berada dalam keadaan yang
terbatas. Misalnya keterbatasan waktu, keterbatasan biaya,
keterbatasan tenaga, keterbatasan luas tanah, keterbatasan ruangan, dan
lain-lain. Keterbatasan dalam sumber daya tersebut dinamakan sebagai
kendala atau syarat-ikatan.
d. Perumusan kuantitatif
Fungsi tujuan dan kendala tersebut harus dapat dirumuskan secara
kuantitatif dalam apa yang disebut model matematika.
e. Keterkaitan peubah
Peubah-peubah yang membentuk fungsi tujuan dan kendala tersebut
harus memiliki hubungan fungsional atau hubungan keterkaitan.
Hubungan keterkaitan tersebut dapat diartikan sebagai hubungan yang
saling mempengaruhi, hubungan interaksi, independensi, timbal balik,
saling menunjang, dan sebagainya
Model Matematika (skripsi dan tesis)
Model adalah representasi suatu realitas dari seorang pemodel atau
dengan kata lain model adalah jembatan antara dunia nyata dengan dunia
berpikir untuk memecahkan masalah. Menurut Pagalay (2009), proses
penjabaran atau merepresentasikan disebut modeling atau pemodelan yang
tidak lain merupakan proses berpikir melalui sekuen logis.
Tahap-tahap pemodelan matematika yaitu:
a. Identifikasi masalah
Identifikasi masalah dibangun dari berbagai pertanyaan untuk
membangun suatu model.
b. Penyederhanaan masalah
Dalam tahap ini dibangun asumsi-asumsi untuk penyederhanaan
realitas yang kompleks. Oleh karena itu setiap penyederhanaan
memerlukan asumsi, sehingga ruang lingkup model berada dalam koridor
permasalahan yang akan dicari solusi atau jawabannya.
c. Penyelesaian dan analisis model matematika
Inti tahap ini adalah mencari solusi yang sesuai untuk menjawab
pertanyaan yang dibangun pada tahap identifikasi.
d. Pengintrepetasian hasil ke situasi nyata
Tahap selanjutnya adalah melakukan intepretasi atas hasil yang
dicapai dalam tahap analisis. Pengintrepetasian juga penting dilakukan
untuk mengetahui apakah hasil analisis yang dilakukan oleh komputer
ataupun alat pemecah model lainnya (solver).
Bentuk Umum Linear Programming (skripsi dan tesis)
LPP umum dapat digambarkan sebagai berikut :
Diberikan satu set m – linear kesenjangan atau persamaan dalam n – variabel , kita ingin mencari nilai-nilai non-negatif dari variabel-variabel yang akan memenuhi kendala dan mengoptimalkan ( memaksimalkan atau meminimalkan ) fungsi linier dari variabel-variabel ( fungsi tujuan ).
Secara matematis , kami memiliki kesenjangan m – linear dengan n – variabel (m dapat lebih besar dari , kurang dari atau sama dengan n ) dari bentuk tersebut. Untuk setiap kendala, hanya satu dari tanda-tanda ini (≥, = , ≤) digunakan, tapi dapat bervariasi dari satu kendala kepada kendala yang lain untuk mencari nilai variabel Xj memenuhi ( 3.1 ) dan yang memaksimalkan atau meminimalkan fungsi linea.
LPP dalam Bentuk Canonical
secara umum ≤ kendala akan dikaitkan dengan maksimalisasi LPP dan ≥ kendala dengan minimalisasi LPP.
Maksimalisasi :

Catatan: ketika tidak ada disebutkan tentang kenegativan variabel, maka terbatas dalam tanda atau diabaikan.
Langkah-langkah perumusan masalah pemrograman linier ( LPP) (skripsi dan tesis)
Langkah-langkah berikut yang terlibat dalam perumusan linear programming probel ( LPP).
- Langkah 1 : mengidentifikasi variabel keputusan masalah.
- Langkah 2 : membangun fungsi tujuan sebagai kombinasi lonear dari variabel keputusan ,
- Langkah 3 mengidentifikasi kendala dari masalah seperti sumber daya , limitions , antar – hubungan antara variabel , dll Merumuskan kendala ini sebagai persamaan linear atau inequations dalam hal variabel keputusan non negatif.
Dengan demikian , LPP adalah kumpulan fungsi tujuan , himpunan kendala dan set non -negatif kendala.
Fungsi Linear Programming (skripsi dan tesis)
Dalam model linear programming dikenal 2 macam fungsi :
1. Fungsi Tujuan (objective Function)
Fungsi tujuan ialah fungsi yang menggambarkan suatu tujuan ataupun sasaran ataujuga target didalam suatu permasalahan linear programming yang berkaitan dengan suatu peraturan dengan secara optimal sumber daya(resource) untuk memperoleh suatu keuntungan yang maksimal.
2. Fungsi Batasan (Constraint Function)
Fungsi ialah suatu bentuk penyajian dengan secara sistematis batasan-batasan suatu kapasitas yang tersedia akan dapat dialokasikan secara optimal. Masalah linear programming tersebut dapat dinyatakan ialah sebagai proses optimisasi suatu fungsi tujuan didalam bentuk Memaksimumkan ataupun meminimumkan.
Model Linear Programing (skripsi dan tesis)
Ciri khas model linear programming ialah bahwa linear programming tersebut didukung oleh macam-macam asumsi yang menjadikan sebagai tulang punggung model tersebut. Asumsi tersebut antara lain ialah sebagai berikut
-
Propotionality
Pada Asumsi ini ialah bahwa naik turunnya nilai z dan juga penggunaan faktor-faktor produksi yang tersedia akan dapat berubah secara sebanding atau sejajar (proposional) pada perubahan tingkat kegiatan.
-
Additivity
Pada Asumsi ini ialah bahwa nilai tujuan pada tiap kegiatan tidak saling mempengaruhi satu sama lain, atau dalam linear programming tersebut dianggap bahwa suatu kenaikan nilai tujuan yang diakibatkan oleh kenaikan suatu kegiatan(proses) dapat ditumbuhkan dengan tidak harus mempengaruhi nilai Z yang diperoleh dari kegiatan lain.
-
Divisibility
Pada Asumsi ini menyatakan bahwa suatu keluaran (output) yang dihasilkan oleh suatu kegiatan(proses) dapat berupa suatu bilangan pecahan, demikian juga dengan nilai Z yang dihasilkan.
-
Deterministic (certainty)
Pada Asumsi ini menyatakan bahwa semua parameter yang terdapat didalam model linear programming (aij, bj, cj ) tersebut dapat diperkirakan dengan pasti walaupun jarang digunakan tepat.
Pengertian Linear Programing Menurut Para Ahli (skripsi dan tesis)
Banyak Sekali Definisi Menurut Para Ahli , antara lain ialah sebagai berikut :
-
T. Hani Handoko (1999, p379) :
Linear Programing ialah suatu metode analitik paling terkenal dan yang merupakan suatu bagian pada kelompok teknik-teknik yang disebut dengan programisasi matematik.
-
Sofjan Assauri (1999, p9) :
pengertian linear Programing ialah suatu teknik perencanaan yang dengan menggunakan model matematika dengan tujuan untuk menemukan kombinasi-kombinasi produk yang terbaik didalam menyusun suatu alokasi sumber daya yang terbatas guna untuk mencapai tujuan yang digunakan dengan secara optimal.
-
Zainal Mustafa, EQ, dan juga Ali Parkhan (2000, p43)
Linear Programing ialah suatu cara yang lazim digunakan dalam pemecahan suatu masalah pengalokasian sumber-sumber yang terbatas dengan secara optimal.
-
Zulian Yamit (1996, p14) :
Linear programming ialah metode ataupun teknik matematis yang digunakan untuk dapat membantu manajer dalam pengambilan keputusan. Ciri khusus dalam penggunaan metode matematis ini ialah berusaha untuk mendapatkan maksimisasi atau juga minimisasi.
Pengertian Linear Programming (skripsi dan tesis)
Secara umum Linear Programming ialah salah satu teknik dari Riset Operasi untuk memecahkan persoalan optimasi (maksimasi atau minimasi) dengan menggunakan persamaan dan ketidaksamaan linear dalam rangka untuk mencari pemecahan yang optimum dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada. Dalam keadaan sumber yang terbatas harus dicapai suatu hasil yang optimum dengan perkataan lain bagaimana caranya agar dengan masukan input yang terbatas dapat menghasilkan keluaran output berupa produksi barang atau jasa yang optimum. Salah satu metoda analisis dalam teknik operasional riset untuk menyelesaikan persoalan pengalokasian sumber-sumber terbatas adalah menggunakan metoda program linear. Linear programming akan memberikan banyak sekali hasil pemecahan persoalan, sebagai alternatif pengambilan tindakan, akan tetapi hanya ada satu yang optimum (maksimum atau minimum). Memilih keputusan berarti memilh alternatif, tapi yang terpenting adalah pengambilan alternatif terbaik( the best alternative), Johannes Suprapto (1987).
Menurut Hari Purnomo(2004) Pokok pikiran utama dalam menggunakan program linier adalah merumuskan masalah dengan menggunakan sejumlah informasi yang tersedia, kemudian menerjemahkan masalah tersebut dalam bentuk model matematika. Sifat linear mempunyai arti bahwa seluruh fungsi dalam model ini merupakan fungsi yang linear
Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)
Penelitian eksperimental adalah penelitian dengan kontrol (perlakukan) terhadap eksposure. Dengan kata lain, pada penelitian eksperimental, status eksposur ditetapkan oleh peneliti sendiri. Kelebihan utama rancangan penelitian ini adalah apabila intervensi (eksposur) dialokasikan secara acak terhadap sampel yang cukup besar, penelitian ini mempunyai derajat validitas yang tinggi yang tidak mungkin dicapai oleh penelitian observasional lainnya (yaitu deskriptif, kasus kontrol, ataupun kohort).
Dari aspek alokasi intervensi pada subjek penelitian, penelitian eksperimental dibagi menjadi 2 yakni penelitian eksperimental murni dan kuasi eksperimental. Pada penelitian eksperimental murni, intervensi dibagi secara acak pada subjek penelitian. Sebaliknya, pembagian subjek dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random.
Penelitian eksperimental murni dalam konteks klinik dibedakan menjadi penelitian eksperimental dengan intervensi pencegahan dan intervensi terapetik. Penelitian eksperimental dengan intervensi terapetik disebut juga uji klinik.
Rancangan kelompok kontrol yang tidak sama (non-equivalent control group design)
Rancangan peneitian ini sering dipakai dalam penelitian. Dalam
rancangan ini, subjek penelitian atau partisipasi penelitian tidak dipilih secara
acak untuk dilibatkan dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Pada dasarnya, langkah-langkah dalam rancangan ini sama seperti pada
rancangan pretest-posstest experimental control group design.
Dalam rancangan ini, ada dua kelompok subjek dimana satu mendapat
perlakuan dan satu kelompok sebagai kelompok control. Keduanya
memperoleh prates dan pascates. Perbedaan dengan kelompok non ekuivalen, bahwa kelompok tidak dipilih secara acak atau random.
Rancangan kelompok nonekuivalen ini disebut juga sebagai untreated
control group design with pretest and posttest. Rancangan penelitian ini
dikategorikan sebagai rancangan eksperimen kuasi (quasi experiment design).
Rancangan ini sangat sering dipakai dalam penelitian.Rancangan di atas (rancangan kuasi eksperimen) tidak menggunakan
random assignment sehingga ada kelemahan-kelemahan jika dibandingkan
rancangan eksperimen yang sebenarnya. Namun demikian, rancangan ini
dilakukan dengan jadwal perlakuan dan pengamatan yang sangat cermat.
Rancangan ini memberikan landasan yang kuat untuk memberikan alasan
untuk mengendalikan ancaman yang berkaitan dengan validitas internal
Non-Equivalent Grup Desain adalah desain yang paling sering
digunakan dalam penelitian sosial. Hal ini terstruktur seperti sebuah
eksperimen pretest posttest-acak. Dalam NEGD, kita paling sering
menggunakan grup utuh yang kita anggap sama seperti perlakuan dan
kelompok kontrol. Dalam pendidikan, kita bisa memilih dua kelas yang
sebanding. Dalam penelitian berbasis masyarakat, kita bisa menggunakan dua
komunitas yang sama. Kita mencoba untuk memilih grup yang semirip
mungkin, tapi kita tidak pernah bisa yakin kelompok-kelompok yang
sebanding. Atau, dengan kata lain, tidak mungkin bahwa kedua kelompok akan
mirip jika mereka kita tugaskan melalui undian acak. Karena sering
kemungkinan bahwa kelompok-kelompok yang tidak setara. Berarti bahwa
tugas yang kita berikan untuk kelompok seharusnya tidak acak. Dengan kata
lain, peneliti tidak menguasai tugas untuk kelompok melalui mekanisme
penugasan acak., ini yang dinamakan desain kelompok non equivalent
Kelompok berhubungan (intact group comparison) (skripsi dan tesis)
Rancangan penelitian intact group comparison atau desebut juga
rancangan static group comparison. Rancangan penelitian intac group desain
ini sebenarnya berasal dari kelompok subjek yang sama dan berhubungan.
Dalam rancangan ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu
dikelompokan secara rambang menjadi dua, yaitu kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakukan tertentu dalam
waktu tertentu, sedangkan kelompok control tidak. Kedua kelompok subjek itu kemudian dikenakan pengukuran atau observasi (tes) yang sama.Faktor validitas seperti sejarah dan maturasi dikendalikan dengan
kelompok control (yang tidak diberi perlakuan). Artinya, dalam situasi yang
secara kebetulan berpengaruh terhadap hasil, yang mungkin juga berpengaruh pada hasil observasi[
Rancangan “separate sample pretest-postest” (skripsi dan tesis)
Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian kesehatan
dan keluarga berencana, pengukuran pertama (pretest) dilakukan terhadap
sample yang dipilih secara acak dari populasi tertentu. Kemudian dilakukan
intervensi atau program pada seluruh populasi tersebut. Selanjutnya dilakukan
pengukuran kedua (posttest) pada kelompok sampel lain, yang dipilih secara
acak (random) dari populasi yang sama. Rancangan ini sangat baik untuk
menghindari pengaruh atau efek dari “test”, meskipun tidak dapat mengontrol
“sejarah”, “maturitas”[
Rancangan rangkaian waktu dengan kelompok pembanding ( control time series design) (skripsi dan tesis)
Rancangan ini adalah rancangan rangkaian waktu, dengan kelompok
pembanding (control ). Rancangan ini lebih memungkinkan adanya control
terhadap validitas internal, sehingga keuntungan dari rancangan ini lebih
menjamin adanya validitas internal yang tinggi
Single Subject Design (skripsi dan tesis)
Pada umumnya penelitian pendidikan menggunakan subjek penelitian
dalam bentuk kelompok (kelas). Penelitian seperti ini akan memberikan hasil
yang menggambarkan keadaan satu atau beberapa kelompok, tidak
menggambarkan keadaan individual dalam kelompok tersebut. Pada situasi
eksperimen tertentu, perlakuan perlu diberikan hanya pada satu individu saja.
Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian single subject. Penelitian ini
sangat berguna bagi guru yang sedang melaksanakan penelitian terhadap
individual siswa, misalnya dalam melakukan penelitian bimbingan dan
konseling atau dalam melakukan rehabilitasi dan terapi fisik yang
perlakuannya hanya diberikan pada satu individu saja. Desain single subject
umumnya menggunakan pengukuran yang berulang dan hanya
mengimpleentasikan variabel bebas tunggal yang diharapkan dapat merubah
hanya satu variabel terikat. Pengukuran variabel dilakukan pada kondisi
normal yang disebut baseline[
Times Series Design (skripsi dan tesis)
O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8
Dalam desain ini kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak
dapat dipilih secara random. Sebelumnya diberi perlakuan, kelompok diberi
pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan
kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Bila hasil pretest
selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berate kelompok tersebut
keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan
keadaan kelompok daoat diketahui dengan jelas maka baru diberi treatment.
Desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok saja., sehingga tidak
memerlukan kelompok kontrol.
Hasil pretest yang baik adalah O1=O2=O3=O4 dan hasil perlakuan
yang baik adalah O5=O6=O7=O8. Besarnya pengaruh perlakuan adalah =
(O5+O6+O7+O8) – (O1+O2+O3+O4).
Desain time series sebagai kuasi eksperimen memiliki ciri adanya
pengukuran yang berulang-ulang, baik sebelum maupun sesudah perlakuan
terhadap satu atau beberapa intact group
Tujuan, Kelemahan, dan Keunggulan Eksperimen Semu (skripsi dan tesis)
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat
dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimen,
namun pemilahan kedua kelompok tersebut tidak dengan teknik random[4].
Adapun beberapa kelemahan/ keterbatasan yang dimiliki oleh desain
quasi eksperimen adalah terlalu fokus terhadap kejadian yang tidak dapat
diperkirakan dan tidak berkelanjutan sehingga dapat mengaburkan tujuan jika
terjadi perubahan yang tidak terduga akibat faktor fenomena ekonomi atau
perkembangan politik. Dan juga kurang kuatnya pengukuran dalam hal
asosiasi yang menjadikan beberapa efek yang terjadi pengukurannya terbatas.
Hal tersebut mengakibatkan beberapa efek seringkali “tidak terlihat” pada saat pengukuran terjadi (Caporaso, 1973:31-38).
Adapun secara terperinci kelemahan dari penelitian Quasi Eksperiment
adalah sebagai berikut:
a. Tidak adanya randomisasi (randoimization), yang berarti pengelompokan
anggota sampel pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak
dilakukan dengan random atau acak.
b. Kontrol terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap eksperimen
tidak dilakukan, karena eksperimenini biasanya dilakukan di masyarakat[5].
Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, penggunaan quasi
eksperimen sangat disarankan mengingat kondisi objek penelitian yang
seringkali tidak memungkinkan adanya penugasan secara acak. Hal tersebut
diakibatkan telah terbentuknya satu kelompok utuh (naturally formed
intactgroup), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok
ini juga sering kali jumlahnya sangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini
kaidah-kaidah dalam true eksperimen tidak dapat dipenuhi secara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukan sepenuhnya. Sehingga untuk penelitian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, direkomendasikan penggunaan teknik quasi experiment di dalam implementasinya (Azam, Sumarno &Rahmat, 2006) [6].
Selain memiliki kelemahan quasi eksperimen juga memiliki
keuntungan. Adapun keuntungannya yaitu pada penelitian ekperimen semu ini
tidak mempunyai batasan yang ketat terhadap randomisasi dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancama-ancaman validitas
Pengertian Eksperimen Semu (kuasi eksperimen) (skripsi dan tesis)
Quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki
perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan
penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan
perubahan yang disebabkan perlakuan (Cook & Campbell, 1979). Pada
penelitian lapangan biasanya menggunakan rancangan eksperiment semu
(kuasi eksperimen). Desain tidak mempunyai pembatasan yang ketat terhadap
randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman-ancaman
validitas.
Penelitian eksperimen semu atau eksperimen kuasi pada dasarnya samadalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang ada dengan penelitian eksperimen murni. Penelitian eksperimen murni maka subjek, atau partisipan penelitian dipilih secara random
dimana setiap subjek memperoleh peluang sama untuk dijadikan subjek
penelitian. Peneliti memanipulasi subjek sesuai dengan rancangannya. Berbeda dengan penelitian kuasi, peneliti tidak mempunyai keleluasaan untuk
memanipulasi subjek, artinya random kelompok biasanya diapakai sebagai
dasar untuk menetapkan sebagai kelompok perlakuan dan control. Misalnya,
kita ingin menguji apakah pebelajar yang dibelajarkan melalui buku teks yang
disertai video memperoleh hasil atau prestasi belajar yang lebih unggul, jika
dibandingkan dengan pebelajar yang hanya dibelajarakan dengan buku teks
saja? Untuk maksud tersebut, kita menentukan kelompok subjek mana yang
diberi perlakuan (buku teks dan video) dan control atau kendali (buku teks
saja). Setelah diberi perlakuan dalam kurun waktu tertentu, kedua kelompok
subjek diberi pascates. Hasil pascates ini kita uji dengan teknik statistic
tertentu[1].
Adapula yang menyatakan bahwa eksperimen semu adalah penelitian
yang mendekati percobaan sungguhan di mana tidak mungkin mengadakan
control/ memanipulasikan semua variabel yang relevan. Harus ada kompromi dalam menentukan validitas internal sesuai dengan batasan-batasan yang
ada
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas Instrumen (Skripsi dan tesis)
Tipe-tipe Reliabilitas (skripsi dan tesis)
- Selenggarakan tes pada suatu kelompok yang tepat sesuai dengan rencana.
- Setelah selang waktu tertentu, misalnya satu minggu atau dua minggu, lakukan kembali tes yang sama dengan kelompok yang sama tersebut.
- Korelasikan kedua hasil tes tersebut.
- Tentukan sasaran yang hendak dites
- Lakukan tes yang dimaksud kepada subjek sasaran tersebut.
- Administrasinya hasilnya secara baik.
- Dalam waktu yang tidak terlalu lama, lakukan pengetesan yang kedua kalinya pada kelompok tersebut
- Korelasikan kedua hasil skor tersebut (Sukardi, 2008).
- Lakukan pengetesan item-item yang telah dibuat kepada subjek sasaran.
- Bagi tes yang ada menjadi dua atas dasar dua item, yang paling umum dengan membagi item dengan nomor ganjil dengan item dengan nomor genap pada kelompok tersebut.
- Hitung skor subjek pada kedua belah kelompok penerima item genap dan item ganjil.
- Korelasikan kedua skor tersebut, menggunakan formula korelasi yang relevan dengan teknik pengukuran (Sukardi, 2008).
Pengertian Reliabilitas (skripsi dan tesis)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Validitas (skripsi dan tesis)
- Arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas tes
- Kata-kata yang digunakan dalam struktur instrument evaluasi, tidak terlalu sulit
- Item tes dikonstruksi dengan jelas.
- Tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa.
- Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgar.
- Jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel
- Jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa
- Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jawaban dalam situasi tergesa-gesa.
- Adanya kecrangan dalam tes sehingga tidak membedakan antara siswa yang belajar dengan melakukan kecurangan.
- Pemberian petunjuk dari dari pengawas yang tidak dapat dilakukan pada semua siswa.
- Teknik pemberian skor yang tidak konsisten.
- Siswa tidak dapat memngikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
- Adanya joki (orang lain bukan siswa) yang masuk dalam menjawab item tes yang diberikan.
Macam-macam Validitas (skripsi dan tesis)
Pengertian Validitas Instrumen (skripsi dan tesis)
Manfaat Kegiatan Menganalisis Butir Soal (skripsi dan tesis)
Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal memiliki banyak manfaat, diantaranya yakni:
- Membantu pengguna tes dalam mengevaluasi kualitas tes yang digunakan,
- relevan bagi penyusunan tes informal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa dikelas,
- mendukung penulisan butir soal yang efektif,
- secara materi dapat memperbaiki tes di kelas,
- meningkatkan validitas soal dan reliabilitas.
Linn dan Gronlund (1995) dalam Suprananto (2012: 163), menambahkan bahwa pelaksanaan kegiatan analisis butir soal, biasanya didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apakah fungsi soal sudah tepat?
- Apakah soal telah memiliki tingkat kesukaran yang tepat?
- Apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan?
- Apakah pilihan jawabannya efektif?
Selain itu, data hasil analisis butir soal juga sangat bermanfaat sebagai dasar untuk:
- Diskusi tentang efisien hasil tes,
- kerja remedial
- peningkatan secara umum pembelajaran di kelas,
- peningkatan keterampilan pada kontruksi tes.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa analisis butir soal memberikan manfaat:
- Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
- meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu, tingkat kesukaran, daya pembeda dan pengecoh soal,
- merevisi soal yang tidak relevan degan materi yang diajarkan, ditandai dengan banyaknya anak yang tidak dapat menjawab butir soal tertentu.
Parameter Item Tes yang Baik (skripsi dan tesis)
Sebagaimana telah disebut sebelumnya, bahwa item tes yang baik adalah item yang memenuhi syarat sebagaimana kriteria atau karakteristik item tes yang baik. Karakteristik item yang dimaksud adalah tingkat kesulitan atau kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh.
- Tingkat Kesulitan atau Kesukaran
Tingkat kesukaran soal adalah peluang menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Tingkat kesukaran dinyatakan dalam indeks kesukaran (dificulty index), yaitu angka yang menunjukkan proporsi siswa yang menjawab benar soal tersebut. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dan hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu.
Dalam hal ini, item yang baik adalah item yang tingkat kesukarannya dapat diketahui, tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Sebab, tingkat kesukaran item itu memiliki korelasi dengan daya pembeda. Bilamana item memiliki tingkat kesukaran yang maksimal, maka daya pembedanya akan rendah, demikian pula bila item itu terlalu mudah maka tidak akan memiliki daya pembeda.
Oleh karena itu, sebaiknya tingkat kesukaran soal itu dipertahankan dalam batas yang mampu memberikan daya pembeda. Namun, jika terdapat tujuan khusus dalam penyusunan tes, maka tingkat kesukaran itu bisa dipertimbangkan. Misalnya, tingkat kesukaran item untuk tes sumatif berbeda dengan tingkat kesukaran pada tes diagnostik.
Untuk menghitung taraf kesukaran soal dari suatu tes dipergunakan rumus sebagai berikut:
TK = U + L
T
Keterangan:
U = jumlah siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) yang menjawab benar untuk tiap soal.
L = jumlah siswa yang termasuk kurang (lower group) yang menjawab benar untuk tiap soal.
T = jumlah siswa dari kelompok pandai dan kelompok kurang (jumlah upper group dan lower group)
Misalkan suatu tes yang terdiri atas N soal yang diberikan kepada 40 siswa. Dari hasil tes tersebut, tiap-tiap soal dianalisis taraf kesukarannya. mula-mula hasil tes itu kita susun kedalam peringkat, kemudian kita ambil 25% (10 lembar jawaban siswa kelompok pandai), dan 10 lembar jawaban siswa dari kelompok yang kurang pandai. Kemudian kita tabulasikan. Misalkan dari tabulasi soal kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 9 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang pandai ada 4 siswa.
Dengan menggunakan rumus diatas, maka taraf kesukaran atau TK dari soal adalah:
TK = U + L = 9 + 4 = 0,65 atau 65%
T 20
Jadi dapat disimpilkan bahwa nilai dari TK atau tingkat kesukarannya adalah 65%.
Sedangkan dalam bukunya Drs. H. Daryanto, rumus untuk mencari taraf kesukaran atau indeks kesukaran adalah:
P = B
JS
Keterangan:
P = indeks kesukaran.
B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes.
Contoh:
Jumlah siswa peserta tes dalam suatu kelas ada 40 siswa. Dari 40 siswa tersebut terdapat 12 siswa yang mampu mengerjakan soal no. 1 dengan benar. Maka berapa indeks kesukarannya?
Jawab:
P = B
JS
= 12
40
= 0,30
Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut:
- Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar.
- Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang.
- Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah.
- Daya Pembeda
Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum atau kurang menguasai kompetensi berdasarkan kriteria tertentu. Semakin tinggi koofisien daya pembeda suatu butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peerta didik yang menguasai kompetensi dengan pesertan didik yang kurang menguasai kompetensi.
Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi. Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
DP = U – L
½ T
Keterangan:
DP = indeks DP atau daya pembeda yang dicari.
U = jumlah siswa yang termasuk dalam kelompok pandai yang mampu menjawab benar untuk tiap soal.
L = jumlah siswa yang termasuk kurang yang menjawab benar untuk tiap soal.
T = jumlah siswa keseluruhan.
Contoh:
Dari hasil tes lomba olimpiade IPS, jumlah siswa yang dites adalah 40 siswa, sedangkan tes tersebut terdiri dari 20 soal. Setelah hasil tes tersebut diperiksa, kemudian disusun kedalam peringkat untuk menentukan 25% siswa yang termasuk kelompok pandai (upper group) dan 25% siswa yang termasuk kelompok kurang (lower group).
Kemudian hasil tes tersebut ditabulasikan dengan menggunakan format tabulasi jawaban tes, kemudian hasil tabulasi dari kedua kelompok tersebut dimasukkan kedalam format analisis soal tes, sehingga kita dapat menghitung tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap soal yang kita analisis.
Misalkan dari tabulasi soal no. 1 kita peroleh hasil sebagai berikut: yang menjawab benar dari kelompok pandai ada 10 siswa, dan yang menjawab benar dari kelompok kurang ada 9 siswa. Maka daya pembedanya adalah:
DP = U – L
½ T
= 10 – 9
½ x (20)
= 1
10
= 0,10
Jadi dapat disimpulkan bahwa indeks pembedanya adalah 0,10.
Dalam bukunya Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, dijelaskan mengenai klasifikasi daya pembeda, yaitu:
D = 0,00 – 0,20 = jelek (poor).
D = 0,20 – 0,40 = cukup (satisfactory).
D = 0,40 – 0,70 = baik (good).
D = 0,70 – 1,00 = baik sekali (excellent).
- Analisis pengecoh (Efektifitas Distraktor )
Instrumen evaluasi yang berbentuk tes dan objektif, selain harus memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan terdahulu, harus mempunyai distraktor yang efektif. Yang disebut dengan distraktor atau pengecoh adalah opsi-opsi yang bukan merupakan kunci jawaban (jawaban benar).
Butir soal yang baik pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik, pengecohnya akan dipilih secara tidak merata. Pengecoh dianggap baik bila jumlah peserta didik yang memilih pengecoh itu sama atau mendekati jumlah ideal. Indeks pengecoh dihitung dengan rumus:
IP = P x 100%
(N – B) (n – 1)
Keterangan:
IP = indeks pengecoh
P = jumlah peserta didik yang memilih pengecoh
N = jumlah peserta didik yang ikut tes
B = jumlah peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal
n = jumlah alternatif jawaban
1= bilangan tetap
Catatan:
Jika semua peserta didik menjawab benar pada butir soal tertentu (sesuai kunci jawaban), maka IP = 0 yang berarti soal tersebut jelek. Dengan demikian pengecoh tidak berfungsi.
Contoh:
50 orang peserta didik dites dengan 10 soal bentuk pilihan ganda. Tiap soal memiliki alternatif jawaban (a, b, c, d, e). Kunci jawaban (jawaban yang benar) no. 8 adalah c. Setelah soal no.8 diperiksa untuk semua peserta didik, ternyata dari 50 orang peserta didik, 20 peserta didik menjawab benar dan 30 peserta didik menjawab salah. Idealnya, pengecoh dipilih secara merata.
Analisis Butir Soal Secara Kuantitatif (skripsi dan tesis)
Penelaahan soal secara kuantitatif adalah penelaahan butir soal didasarkan pada bukti empirik. Salah satu tujuan utama pengujian butir-butir soal secara emperik adalah untuk mengetahui sejauh mana masing-masing butir soal membedakan antara mereka yang tinggi kemampuannya dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dari mereka yang rendah kemampuannya.
Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan. Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif yaitu pendekatan secara klasik dan modern.
Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta tes guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Pada teori tes klasik, analisis item tes dilakukan dengan memperhitungkan kedudukan item dalam suatu kelas atau kelompok. Karakteristik atau kualitas item sangat tergantung pada kelompok dimana diujicobakan sehingga kualitas item terikat pada sampel responden atau peserta tes yang memberikan respons (sample bounded).
Ada beberapa kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, sederhana, familiar, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer dan dapat menggunakan beberapa data dari peserta tes.
Analisis butir soal secara modern adalah penelaahan butir soal dengan menggunakan teori respon butir atau item response theory. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu butir dengan kemampuan siswa.
Teori ini muncul karena adanya beberapa keterbatasan pada analisis secara klasik, yaitu:
- Tingkat kemampuan dalam teori klasik adalah true score. Artinya, jika suatu tes sulit maka tingkat kemampuan peserta tes akan rendah.sebaiknya, jika suatu tes mudah maka tingkat kemampuan peserta tes tinggi.
- Tingkat kesukaran butir soal didefinisikan sebagai proporsi peserta tes yang menjawab benar. Mudah atau sulitnya butir soal tergantung pada kemampuan peserta tes.
- Daya pembeda, reliabilitas, dan validitas tes tergantung pada kondisi peserta tes.
Analisis Butir Soal Secara Kualitatif (skripsi dan tesis)
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan atau diujikan. Aspek yang diperhatikan dalam penelaahan secara kualitatif mencakup aspek materi, konstruksi, bahasa atau budaya, dan kunci jawaban.
Ada beberapa teknik yang digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, yaitu teknik moderator dan teknik panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang didalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli.
Sedangkan teknik panel adalah teknik menelaah butir soal berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu diantaranya adalah materi, kontruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci jawaban. Caranya beberapa penelaah diberikan beberapa butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penelaahan.
Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif penggunaan format penelaahan soal akan membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal
Pengertian Analisi Butir Soal (skripsi dan tesis)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap empirik. Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh. Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.
Identifikasi terhadap setiap butir item soal dilakukan dengan harapan akan menghasilkan berbagai informasi berharga, yang pada dasarnya akan merupakan umpan balik (feed back) guna melakukan perbaikan, pembenahan, dan penyempurnaan kembali terhadap butir-butir soal, sehingga pada masa-masa yang akan yang akan dating tes hasil belajar yang disusun atau dirancang oleh guru itu betul-betul dapat menjalankan fungsinya sebagai alat pengukur hasil belajar yang memiliki kualitas yang tinggi.
Aiken dalam Suprananto (2012) berpendapat bahwa kegiatan analisis butir soal merupakan kegiatan penting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu. Tujuan kegiatan ini adalah:
- Mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan,
- meningkatkan kualitas butir tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif,
- mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka telah memahami materi yang telah diajarkan.
Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya tentang siswa mana yang telah menguasai materi dan siswa mana yang belum menguasai materi. Selanjutnya menurut Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal dapat dilakukan secara kualitatif (berkaitan dengan isi dan bentuknya) dan kuantitatif (berkaitan dengan ciri-ciri statistiknya). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruksi, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran validitas dan reliabilitas butir soal, kesulitan butir soal serta diskriminasi soal. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan atau memadukan keduanya.
Analisis item (skripsi dan tesis)
Analisis item adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menganalisis apakah item-item pada suatu alat tes telah memenuhi fungsinya, yaitu:
- Mewakili domain tingkah laku
- Memiliki derajat kesulitan yang tepat
- Memiliki daya diskriminasi yang maksimal
Menurut Kaplan & Saccuzzo (2005), analisis item adalah kegiatan mengevaluasi item-item alat tes. Dari kegiatan ini diharapkan didesain sebuah alat tes dengan jumlah item minimum, namun reliabilitas dan validitas yang maksimum.
Analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.
- Kualitatif; menyangkut keterwakilan tingkah laku domain menjadi item dalam alat tes (konten dan form)à content validity (menyangkut expert judgement)
- Kuantitatif; dibagi menjadi item difficulty & item discriminant.
- item difficulty merupakan presentase (proporsi) orang yang menjawab item dengan benar (P), sedangkan
- item discriminant adalah perbandingan antara proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok upper dengan proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok lower. Perbedaan proporsi ini disebut sebagai index of discrimination (D).
Teknik Analisis Fungsi Distraktor (skripsi dan tesis)
Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk multiple choice item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif bentuk multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawaban, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternatif. Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga sampai dengan lima buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir item itu, salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul (= kunci jawaban); sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor (distraktor = pengecoh). Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada setiap butir item itu adalah, agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes hasil belajar ada yang tertarik atau terangsang untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka terkecoh. Tentu saja, makin banyak testee yang terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa distraktoritu makin dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5% dari seluruh peserta tes. Misalnya, tes hasil belajar diikuti oleh 100 orang testee. Distraktor yang dipasang pada item tersebut dapat dinyatakan berfungsi apabila minimal 5% orang dari 100 orang testee itu sudah “terkecoh” untuk memilih distraktor tersebut.
Teknik Analisis Daya Pembeda Item (skripsi dan tesis)
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan ( mendiskriminasi) antara testee yang berkemampuan tinggi ( pandai), dengan testee yang berkemampuan rendah (= bodoh). Mengetahui daya pembeda item itu penting sekali, sebab salah satu dasar yang dipegangi untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan, bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lain itu berbeda-beda, dan bahwa butir-butir item tes hasil belajar itu haruslah mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat di kalangan testee tersebut. Daya pembeda item dapat diketahui dengan cara melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item, yaitu angka yang nenunjukkan besar kecilnya daya pembeda (diskrimnasi power) butir item
Teknik Analisis Derajat Kesukaran Item (skripsi dan tesis)
Pengukuran Dalam Analisa Item (skripsi dan tesis)
Menurut Crocker & Algina (1986) pengukuran yang umum digunakan dalam analisa item, adalah: Item difficulty, Item discrimination, dan Item-total correlation.
a. Item Difficulty
Jika skoring pada sebuah item itu dikotomi, maka rata-rata skor item berhubungan dengan banyaknya subyek yang menjawab item tersebut dengan benar. Proporsi orang yang menjawab benar untuk item inilah yang disebut dengan item difficulty, atau yang biasa diberi simbol p (Anastasi & Urbina, 1997).
b. Item Discrimination
Tujuan dari kebanyakan pengukuran psikologis adalah memberikan informasi mengenai perbedaan individu (individual differences) dalam hal konstruk yang diukur tes atau dari kriteria eksternal yang ingin diprediksi oleh alat tes tersebut
(Crocker&Algina, 1986). Oleh karena itu sebuah tes perlu memiliki daya diskriminasi. Pengertian dari daya diskriminasi adalah derajat dimana item dapat membedakan responden dengan skor tinggi dan skor rendah (Cohen&Swerdlik,2005).
erdapat beberapa metode untuk melihat daya diskriminasi sebuah item. Salah satu metodenya melakukan perbandingan dengan cara membedakan kelompok responden dengan menentukan titik potong pada distribusi skor (Crocker&Algina, 1986; Kaplan&Saccuzzo, 2005). Sedangkan metode lainnya merupakan metode koefisien korelasi. Berikut adalah penjelasan mengenai setiap metode.
c. Item Total Corellation
Metode item-total correlation merupakan suatu teknik analisis item yang mengkorelasikan skor item dengan skor total keseluruhan(Crocker & Algina, 1986; Guilford, 1954; Kaplan & Saccuzzo, 2005; Nunnally & Bernstein, 1994). Dengan kata lain, daya diskriminasi item melihat apakah subyek yang mampu menjawab sebuah item dengan benar juga bisa menjawab dengan benar pada item- item lainnya (Kaplan, 2005). Beberapa jenis korelasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah Pearson’s Product Moment Correlation, Point Biserial Correlation, Biserial Correlation, Phi Coefficient, atau Tetrachoric Correlation Coefficient (Crocker & Algina, 1986). Grimm (1993) menjelaskan bahwa jika skor item dan skor total berupa variabel kontinu maka metode korelasi yang digunakan adalah Pearson’s Product Moment Correlation. Kemudian jika variabel skor total adalah kontinu dan skor item dikotomi, maka metode korelasi yang digunakan adalah Point Biserial atau Biserial Correlation.
Analisis Item (skripsi dan tesis)
Dalam penyusunan sebuah alat ukur, tahapan yang harus dilakukan adalah analisis item (Guilford & Fruchter, 1985). Istilah analisis item digunakan untuk mendefinisikan perhitungan dan pengujian statistikal terhadap skor-skor item alat ukurindividual (Crocker & Algina, 1986). Sebuah item dapat dianalisa, baik itu analisa kualitatif (berdasarkan isi maupun bentuk dari item tersebut) dan analisa kuantitatif (berdasarkan muatan-muatan statistik seperti daya prediktif, daya beda dari item tersebut). Analisa kualitatif mencakup pertimbangan isi validitas, sedangkan analisa kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi item (Anastasi & Urbina, 1997). Tujuan utama dalam melakukan analisa item adalah untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas suatu alat ukur(Guilford & Frutcher, 1985).
Data Persepsi (Skripsi dan tesis)
Persepsi pada dasarnya menyangkut proses informasi pada diri seseorang dalam hubungannya dengan obyek stimulus. Dengan demikian persepsi merupakan gambaran arti atau interpretasi yang bersifat subyektif, artinya persepsi sangat tergantung kemampuan dan keadaan diri yang bersangkutan. Dalam kamus psikologi persepsi diartikan sebagai proses pengamatan seseorang terhadapsegala sesuatu di lingkungannya dengan menggunakan indera yang dimilikinya, sehingga menjadi sadar terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan tersebut. Data persepsi dapat diperoleh secara pendekatan langsung (direct) atau diturunkan (derived) (Supranto,2004). Untuk mendapakan data persepsi secara langsung, responden diminta membuat pertimbangan mengenai kemiripan atau ketidakmiripan (similarity or dissimilarity) berbagai jenis merek atau stimulus. Pendekatan turunan ialah mengumpulkan data persepsi dengan pendekatan berbasis pada atribut, menghendaki responden memberikan nilai merek atau stimulus pada atribut yang teridentifikasi.
Model (skripsi dan tesis)
Definisi model adalah suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia
nyata, yang akan bertindak seperti dunia nyata untuk aspek-aspek tertentu.
Model dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif, dan
ikonik. Model yang baik akan memberikan gambaran perliaku dunia nyata
sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang tidak
signifikan dari sistem yang dimodelkan.
Salah satu cara untuk menyelesaikan permsalahan yang kompleks
adalah dengan menggunakan konsep model simulasi. Dengan menggunakan
simulasi, maka model akan mengkomputasikan jalur waktu dari variabel
model untuk tujuan tertentu dari input sistem dan parameter model. Karena itu
model simulasi akan dapat memprediksi dunia riil yang kompleks. Model juga
dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model
dioptimalkan terhadap input atau struktur sistem alternatif. Karena itu, model
dapat dibangun dengan basis data (data base) atau basis pengetahuan
(knowledge base)
Tahapan-tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut.
a. Penyusunan konsep
Pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel-variabel yang berperan
dalam menimbulkan gejala atau proses. Variabel-variabel tersebut saling
berinteraksi, saling berhubungan, dan saling berketergantungan. Kondisi ini
28
dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala
atau proses yang akan disimulasikan.
b. Pembuatan model
Gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama selanjutnya
dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar, atau rumus.
c. Simulasi
Simulasi dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada
model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan memasukkan data ke dalam
model, sedangkan pada model kualitatif, simulasi dilakukan dengan
menelusuri dan melakukan data atau informasi yang dikumpulkan untuk
memahami perilaku gejala atau proses model.
d. Validasi hasil simulasi
Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi
dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika
kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang
terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi
tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta
kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi
pengambil keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa mendatang
(Eriyatno, 2003 dalam Yuniarti 2010)
Analisis Prospektif (skripsi dan tesis)
Multi dimensional scaling (skripsi dan tesis)
Multi dimensional scaling (kerap dlsingkat MOS, dan untuk selanjutnya singkatan lni akan digunakan dalam tulisan lni) merupakan suatu metode yang mempresentasikan kesamaan atau ketldaksamaan jarak perbedaan antar objek (Suryabrata, 2000). Makin mirip objek tertentu dengan objek lainnya, maka makin dekat jarak antara objek yang bersangkutan, sedangkan makin Jauh jarak antar objek menunjukkan makin tidak menyerupal (berbeda). MOS terkait dengan situasi di mana stimuli secara simuftan sangat bervariasi dengan beberapa dimensi (Torgerson, 1956). Sementara Messick (1956a) menyatakan bahwa yang dimaksud MOS adalah satu teknik untuk melakukan estimasi jarak antara titik dari serangkaian stimuli. Pada tulisan lainnya Messick (1955) mengungkap bahwa model pengukuran MOS berdasar pada analisis Euclidean jarak psikologis, dan jarak tersebut secara umum dapat diperoleh dari keputusan kesamaan di antara stimuli dibanding dimensi yang telah didefinisikan. Gullford (1954) menyatakan esensi dari teori MOS adalah sekumpulan stimuli yang sama dapat direpresentasikan sebagai serangkaian titik dalam ruang dimensi n. Dalam mengkaji tema yang sama Messick (1955) mengungkap bahwa konsep dasar dari MOS adalah jarak psikologis, yang merupakan konstruk dan secara luas telah digunakan oleh para ahli psikologi, sedangkan keputusan jarak psikologis ini dapat diperoleh melalui konsep kesamaan dan ketldaksamaan di antara stimuli, atau konsep lain dibanding dengan kesamaan (dalam atribut sikap misalnya setuju dan ketidaksetujuan). Leblh lanjut Suryabrata (2000} menambahkan bahwa MOS digunakan untuk menellti kesamaan (similarity) dan ketidaksamaan (dissimilarity) satu objek yang direpresentasikan dengan jarak (distance) melalui pengamatan letak titik dalam bidang berdlmensi 2 (dua) atau 3 (tiga). Semakin dekat jarak antar titik semakin sama (similarity) atau dapat juga dapat dimaknai semakin tlnggi tingkat korefasinya, dan begitu sebaliknya semakin jauh letak titik dari titik lainnya, semakin tidak sama (dissimilarity) atau semakin rendah tingkatkorelasinya.
Data Rasio (skripsi dan tesis)
Data Interval (skripsi dan tesis)
Data Ordinal (skripsi dan tesis)
Data Nominal (skripsi dan tesis)
Analisis Data Mutivariat (skripsi dan tesis)
Validitasi model MDS (skripsi dan tesis)
Asumsi Dalam Multidimensional Scaling (Skripsi dan tesis)
Multidimensional Scaling tidak memiliki asumsi yang baku dalam metodologinya, tipe data atau hubungan antar variabel-variabelnya. Dalam MDS hanya mensyaratkan bahwa peneliti menerima beberapa prinsip mengenai persepsi yang meliputi : a. Pembatasan multidimensionalscaling Diasumsikan bahwa kemiripan stimulus A dan B sama dengan stimulus B ke A. Akan tetapi ada beberapa kasus yang asumsi ini tidak berlaku. b. Variasi dimensi Tiap-tiap responden tidak akan menilai suatu stimulus di dalam dimensi yang sama. Misalnya, seseorang mungkin akan menilai sebuah mobil dari tenaga dan modelnya, sedangkan yang lain tidak memperhatikan faktor ini melainkan sebuah mobil dari harga dan kenyamanannya. c. Variasi kepentingan Responden tidak menilai kepentingan dimensi pada tingkat yang sama, walaupun serluruh responden menilai dimensi tersebut.Misalnya, dua orang responden menilai suatu minuman ringan dari tingkat karbonasinya. Seorang responden mungkin akan menilai bahwa faktor ini tidaklah penting, sedangkan yang lainnya menilai bahwa faktor ini penting. d. Variasi waktu Pernyataan yang didapat dari stimulus-stimulus tidak bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Dengan kata lain, peneliti tidak dapat mengharapkan persepsi yang stabil dari waktu ke waktu
Jenis-jenis Multidimensional scaling (MDS) (skripsi dan tesis)
Tipe data berdasarkan skala pengukuran dibagi menjadi 4 tipe, yaitu skala nominal, ordinal, interval dan rasio. Berdasarkan tipe data tersebut, multidimensional scaling dibagi menjadi 2 jenis, yaitu penskalaan berdimensi ganda metrik dan penskalaan berdimensi ganda non-metrik. a. Multidimensional scaling (MDS) metrik
Data jarak yang digunakan dalam multidimensional scaling metrik adalah data rasio atau interval. MDS metrik (classical scaling) digunakan untuk menemukan himpunan titik dalam ruang dimensi n dimana masing-masing titik mewakili satu objek. Dalam classical scaling, dissimilarities (???) diperlakukan sama dengan jarak (???), yaitu ??? = ???.
b. Multidimensional scaling(MDS) nonmetrik
Multidimesional scaling nonmetrik mengasumsikan bahwa datanya adalah kualitatif (nominal dan ordinal). Program MDS nonmetrik menggunakan transformasi monoton (sama) ke data yang sebenarnya sehingga dapat dilakukan operasi aritmatika terhadap nilai ketidaksamaannya, untuk menyesuaikan jarak dengan nilai urutan ketidaksamaanya. Hasil perubahan ini disebut disparities. Disparities ini digunakan untuk mengukur tingkat ketidaktepatan konfigurasi objek-objek dalam peta berdimensi tertentu dengan input data ketidaksamaannya. Pendekatan yang sering digunakan saat ini untuk mencapai hasil yang optimal dari skala non metrik digunakan Kruskal’s Least-Square Monotomic Transformation dimana disparities merupakan nilai rata-rata dari jarak-jarak yang tidak sesuai dengan urutan ketidaksamaanya. Informasi ordinal kemudian dapat diolah dengan MDS nonmetrik sehingga menghasilkan konfigurasi dari objek-objek yang yang terdapat pada dimensi tertentu dan kemudian agar jarak antara objek sedekat mungkin dengan input nilai ketidaksamaan atau kesamaannya. Koordinat awal dari setiap subjek dapat diperoleh melalui cara yang sama seperti metode MDS metrik dengan asumsi bahwa meskipun data bukan jarak 25 informasi yang sebenarnya tapi nilai urutan tersebut dipandang sebagai variabel interval
Definisi Analisis Multidimensional Scaling (skripsi dan tesis)
Analisis Multivariat (skripsi dan tesis)
Analisis multivariat merupakan suatu metode statistik yang berhubungan dengan lebih dari dua variabel atau terdapat banyak variabel yang diamati dimana antar variabel saling berpengaruhAnalisis ini berhubungan dengan semua teknik statistik yang secara simultan menganalisis sejumlah pengukuran pada individu atau objek. Maka dapat disimpulkan bahwa analisis multivariat adalah metode-metode statistik yang mengelolah beberapa pengukuran menyangkut individu atau objek sekaligus. Teknik analisis multivariat secara dasar diklasifikasikan menjadi dua, yaitu analisis dependensi dan analisis interdependensi. Pertama, analisis dependensi berfungsi untuk menerangkan atau memprediksi variabel tergantung (dependent variable) dengan menggunakan dua atau lebih variabel bebas (independent variable).Yang termasuk dalam klasifikasi ini ialah analisis regresi linear berganda, analisis diskriminan, analisis varian multivariat (MANOVA), dan analisis korelasi kanonikal. Kedua, analisis interdependensi berfungsi untuk memberikan makna terhadap seperangkat variabel atau membuat kelompok elompok secara bersama-sama.Yang termasuk dalam klasifikasi ini ialah analisis faktor, analisis kluster, dan multidimensional scaling
Peta Persepsi (Perceptual Mapping) (skripsi dan tesis)
Pada sub sub bab sebelumnya sudah dibahas mengenai pengertian persepsi konsumen. Setiap orang memiliki penilaian tersendiri terhadap suatu atribut yang akan diukur. Oleh karena itu, penilaian ini perlu dipetakan agar lebih mudah dalam membaca persepsi konsumen. Persepsi dari konsumen inilah yang akan dijadikan input untuk perceptual mapping. Menururt Santoso (2015) percpetual mapping merupakan penggambaran persepsi yang dibentuk ke dalam plot-plot pada suatu grafik dengan menggunakan skala. Persepsi ini juga akan dipilahpilah mengenai kekurangan dan kelebihannya berdasarkan atribut dari produk yang dinilai.
Multidimensional Scaling (skripsi dan tesis)
Multidimensional scaling merupakan suatu teknik statistik yang mengukur objekobjek dalam ruangan multidimensional. Teknik ini didasarkan pada penilaian responden mengenai kemiripan (similarity) objek-objek tersebut. Perbedaan persepsi diantara semua obyek tersebut disatukan dalam suatu ruangan multidimensional. Menurut Santoso (2015) MDS atau Multidimensional Scaling berhubungan dengan pembuatan grafik (map) untuk menggambaran posisi sebuah objek berdasarkan kemiripan objek tersebut. MDS dapat menganalisis data non-metrik (nominal dan ordinal) ataupun data metrik (interval dan rasio). Pada MDS terdapat nilai-nilai yang menunjukkan kedekatan antar objek yang disebut proximity. Semakin dekat objek satu dengan salah satu objek lain maka dapat dikatakan bahwa objek tersebut mirip. Apabila jarak antar kedua objek saling berjauhan maka objek tersebut saling tidak mirip. MDS memiliki dua jenis yaitu MDS metrik dan MDS non metrik. Perbedaa kedua jenis ini hanya terletak pada data yang dimasukkan dalam program. Jika data memiliki tipe rasio atau interval maka dikatakan MDS non metrik, sedangkan data yang bertipe ordinal dikatakan MDS metrik (Hair dkk, 2010). Hasil yang akan ditampilkan oleh MDS dapat memberikan informasi seperti pengukuran citra, segmentasi pasar, pengembangan produk, analisis harga, keputusan distribusi dan sikap terhadap konsumen. Menurut Hair dkk (2010) MDS juga dapat membantu dalam beberapa hal seperti: 1. Mengilustrasikan segmentasi pasar berdasarkan penilaian preferensi konsumen. 2. Menentukkan produk yang kompetitif satu sama lain 3. Menyimpulkan kriteria penilaian konsumen terhadap suatu objek (produk, perusahaan, iklan, merek, dll) Multidimensional scaling mempunyai tujuan untuk menggambarkan secara lebih sederhana dengan space yang ditampilkan mengenai penilian konsumen tentang kemiripan suatu objek yang dibandingkan. Hair dkk (2010) menyatakan bahwa apabila objek A dan B berada pada dimensi yang sama maka A dan B memiliki jarak yang dekat dan mirip. Posisi semua objek tetap ditampilkan untuk mengetahui space antar objek. Terdapat tiga langkah dasar dalam menganalisis beberapa objek dengan menggunakan multidimensional scaling adalah: 1. Mengumpulkan ukuran kemiripan antar objek yang akan dianalisis 2. Menggunakan teknik MDS untuk mengestimasi posisi setiap objek dalam jarak multidimensional. 3. Mengidentifikasi dan menginterpretasikan sumbu ruang dimensi berdasarkan atribut
Analisis Faktor (Factor Analysis) (skripsi dan tesis)
Menurut Anderson dkk (Dalam Yamin dan Kurniawan, 2014) analisis faktor adalah pendekatan statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan di antara beberapa variabel dan menjelaskannya secara umum berdasarkan suatu dimensi yang disebut faktor. Tujuan dari analisis faktor ini adalah untuk mempersingkat informasi yang terdapat dalam beberapa variabel sehingga menjadi serangkaian variabel yang lebih kecil (faktor). Analisis faktor membantu dalam membuat suatu hubungan antar variabel yang saling independen sehingga menjadi satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dibandingkan jumlah variabel awal. Kumpulan variabel yang terbentuk disebut sebagai faktor (Santoso, 2015). Menurut Santoso (2015) selain untuk meringkas variabel awal (data reduction), tujuan lain analisis faktor adalah mengidentifikasi adanya hubungan antar variabel dengan melakukan uji korelasi. Besarnya korelasi antar variabel harus di atas 0.5 maka variabel tersebut dapat dianggap layak untuk dianalisis di proses berikutnya. Apabila ada variabel yang tidak layak maka variabel tersebut harus dikeluarkan. Analisis faktor dapat dilakukan pengujian berulang apabila terdapat satu atau beberapa variabel yang tidak layak. Ada beberapa proses utama pada analisis faktor yaitu: (Santoso, 2015) a. Menentukan variabel yang akan dianalisis. b. Menguji variabel yang telah ditentukan dengan melakukan penyaringan terhadap beberapa variabel yang tidak memenuhi syarat. c. Melakukan analisis factoring yaitu mengekstrak satu atau lebih faktor yang terbentuk dari variabel awal.
Uji Reliabilitas (skripsi dan tesis)
Uji Validitas (skripsi dan tesis)
Istilah validitas merupakan kata terjemahan dari kata validity. Validitas menguji
seberapa baik suatu instrumen yang dibuat mampu mengukur konsep tertentu yang ingin diukur (Sekaran, 2013). Validitas berhubungan dengan suatu peubah yang mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan mampu mengukur apa yang diukur. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu menjawab sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Indikator yang valid adalah indikator yang mempunyai tingkat measurement error yang kecil (Yamin dan Kurniawan, 2014).
SPSS atau Statistical Product and Service Solution (skripsi dan tesis)
Menurut Yamin dan Kurniawan (2014) SPSS atau Statistical Product and Service Solution merupakan software statistik yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan statistik dengan teknik-teknik analisis statistik yang tersedia. Kelebihan program ini adalah dapat melakukan secara cepat semua perhitungan sederhana maupun sulit dalam statistik. Perkembangan penggunaan analisis statistik membuat software SPSS semakin dikenal karena pengoperasiannya yang mudah. Pada kasus tertentu dibutuhkan pengkodean dalm menginput misalnya untuk pertanyaan laki-laki dan perempuan maka kode “1” untuk laki-laki dan “2” untuk perempuan. Kegiatan ini dilakukan agar data dapat dibaca olehSPSS. Terdapat 2 bagian dalam menginput data yaitu data view dan variabel view. Data yang akan diinputkan ke dalam SPSS dapat diisi pada bagian variabel view terlebih dahulu kemudian membuka data view untuk memulai input. SPSS akan membantu dalam membuat perceptual mapping dan metode MDS. Pada MDS, isi baris dan kolom pada SPSS akan diproses sekaligus (Santoso, 2015).
Sampel (skripsi dan tesis)
Sampel merupakan bagian dari suatu populasi. Sampel terdiri dari anggota
populasi maksudnya adalah sejumlah atau beberapa tetapi tidak semua anggota.
Misalnya suatu populasi terdiri dari 5000 orang dan diambil sampel sebanyak
500 orang, sampel ini akan menjadi kesimpulan mengenai keseluruhan populasi.
Sampel hanya mengambil sebagian populasi karena memudahkan dalam
melakukan penelitian dilihat dari beberapa faktor lain seperti biaya, waktu,
tenaga, dan sumber daya manusia. Pengambilan sampel merupakan proses
memilih sejumlah elemen secukupnya dari populasi sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman sifat serta karakteristiknya dapat menggeneralisasikan elemen populasi (Sekaran, 2013). Menurut Sekaran (2013) ada beberapa aturan dalam menentukan ukuran sampel diantaranya yaitu:
a. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk
penelitian.
b. Ukuran sampel minimum 30 untuk setiap kategori adalah tepat.
c. Ukuran sampel sebaiknya dilakukan beberapa kali (lebih disukai 10 kali
atau lebih)
Skala Pengukuran (skripsi dan tesis)
Skala pengukuran sangat bervariasi, mulai dari yang sederhana atau skala yang kompleks (Kuncoro, 2009). Skala sederhana adalah suatu skala yang digunakan untuk mengukur beberapa karakteristik misalnya dari pertanyaan “Apakah anda laki-laki atau perempuan?”. Sedangkan skala kompleks terdiri dari beberapa skala yang digunakan untuk mengukur beberapa karakteristik, misalnya “Bagaimana tanggapan Anda mengenai pembangunan hotel bintang lima di Yogyakarta: Sangat tidak setuju, tidak setuju, tidak peduli, setuju, sangat setuju”.
Menurut Kuncoro (2009) ada 2 teknik skala pengukuran yaitu skala penilaian
(rating scales) dan attitude scales. Skala penilaian terbagi lagi menjadi 3 yaitu:
a. Graphic rating scales
Responden menunjukkan perasaan atau penilaiannya dalam skala grafik.
Misalnya dalam skala 0 sampai 100 (0=sangat jelek, 50=netral, dan
100=yang paling baik).
b. Itemized rating scales
Pada skala ini dipilih suatu kategori dalam bentuk berurutan, misalnya
dari pertanyaan “Apakah anda tertarik menggunakan sepeda dengan
merk BMX?” jawabannya adalah sangat tertarik, tertarik, dan tidak
tertarik.
c. Comparative rating scales
Pada skala ini orang, obyek, atau fenomena lain dinilai dalam suatu
standar orang, obyek, dan fenomena lain itu sendiri. Bentuk skala ini
dikenal dengan skala rank order. Misalnya, “Rangkinglah merk
handphone-handphone berikut menurut urutan yang Anda sukai. Beri nilai
1 untuk yang paling Anda sukai, nilai 2 untuk selanjutnya, dan nilai 3
untuk berikutnya, dst”.
_____Iphone _____Samsung _____Asus _____Sony _____Nokia
Sedangkan attitude scales terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Likert scale
Pada jenis skala ini responden menyatakan tingkat setuju atau tidak
setuju mengenai berbagai pernyataan tentang perilaku , objek, orang,
atau kejadian. Biasanya skala yang ada terdiri dari 5 sampai 7 titik. Skalaskala ini nantinya akan dijumlahkan untuk mendapatkan gambaran dari
apa yang dinilai. Misalnya “Saya senang menari” pilihan jawabannya
adalah 1=sangat tidak setuju, 2=tidak setuju, 3=netral, 4=setuju, 5=sangat
setuju.
b. Semantic differential
Pada jenis skala ini responden menilai perilaku obyek dengan skala 5
atau 7 titik dari dua kutub kata sifat atau frase seperti positif dan
negatifnya suatu objek, orang, kejadian. Misalnya, “Nilailah ice cream Mc
Donald’s dalam dimensi berikut ini” pilihan jawabannya adalah rentang
dari kutub positif dan negatif (enak: __ : __ : __ : __ : __ : tidak enak)
Atribut yang Mempengaruhi Daya Saing (skrisi dan tesis)
Menurut Kotler dan Amstrong (2003) atribut produk merupakan pengembangan pada suatu produk yang melibatkan penentuan manfaat yang akan diberikan.
Atribut dapat menentukan dalam pengambilan keputusan untuk pembelian suatu produk yang ditawarkan. Atribut-atribut yang mempengaruhi daya saing terhadap kompetitor dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Harga
Menurut Sangadji dan Sopiah (2013) harga adalah atribut dari suatu
produk atau jasa yang paling sering digunakan oleh konsumen untuk
mengevaluasi produk. Harga dianggap penting oleh konsumen karena
sangat berhubungan dengan pendapatan yang diterima. Atribut harga
akan mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen.
Semakin mahal harga yang ditawarkan maka konsumen semakin berpikir
untuk melakukan transaksi pembelian atau tidak. Pada kondisi tertentu
konsumen merasa sensitif dengan harga karena harga yang relatif lebih
tinggi dibandingkan kompetitor dapat mengeliminasi produk tersebut.
Dalam kasus lain, harga dapat dijadikan suatu indikator kualitas produk
karena bagi beberapa konsumen menganggap harga yang tinggi akan
memiliki kualitas produk yang lebih baik.
b. Rasa
Rasa merupakan atribut yang sangat sensitif dengan persepsi konsumen
karena dapat menimbulkan rangsangan tertentu dari panca indera
(Sangadji dan Sopiah, 2013). Rasa akan memunculkan suatu kekhasan
tertentu pada produk. Produk seperti bakpia yang merupakan oleh-oleh
daerah Yogyakarta memegang penting atribut rasa karena rasa yang
berbeda dengan bakpia lainnya akan dapat membantu minat beli
konsumen.
c. Merek (Brand Image)
Merek adalah sebuah simbol atau indikator yang menggambarkan
pencitraan suatu produk (Sangadji dan Sopiah, 2013). Menurut Kotler
(1993) merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau
kombinasi dari beberapa unsur seperti logo, cap, atau kemasan yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasi suatu produk sehingga dapat
membedakannya dengan produk yang lain. Kesimpulan yang didapat dari
definisi-definisi tersebut bahwa merek merupakan suatu nama, simbol,
gambaran yang mewakili suatu produk sehingga konsumen mudah untuk
membedakan produk tersebut dengan produk yang lain. Merek
memegang peranan penting bagi sebuah produk atau jasa. Merek yang
sudah terkenal akan menjadi sebuah citra atau status bagi produk
tersebut.
d. Desain (Kemasan)
Kemasan adalah bungkus langsung dari suatu produk (Kotler, 1993).
Kemasan merupakan salah satu atribut yang perlu diperhatikan dalam
persaingan di industri kreatif makanan. Terutama produk oleh-oleh yang
merupakan ciri khas suatu daerah atau objek wisata. Kemasan akan
menggambarkan suatu produk secara tidak langsung karena konsumen
akan melihat produk mulai dari kemasan lalu harga dan atribut lainnya.
Meskipun konsumen memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam
pengambilan keputusan pembelian, tetapi untuk atribut kemasan juga
sangat mempengaruhi. Pada industri kreatif makanan yang menjadi oleholeh seperti bakpia, kemasan dapat membantu dalam menarik minat
pembeli. Kemasan yang menarik dan berbeda serta menunjukkan
kekhasan suatu produk dapat meningkatkan penjualan (Kotler, 1993).
e. Variasi Produk/Rasa
Menurut Kotler (1993) produk adalah segala sesuatu yang di tawarkan
kepada pasar untuk di perhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsikan
yang kemungkinan dapat memuskan keinginan atau kebutuhan. Variasi
produk seperti rasa yang beraneka ragam dapat menarik konsumen.
Semakin bertambahnya variasi rasa pada kompetitor membuat faktor ini
perlu untuk dipertimbangkan
Multidimensional Scaling (skripsi dan tesis)
Mohanty (2012) melakukan penelitian mengenai brand positioning merk
shampoo di India dengan menggunakan pendekatan multidimensional scaling.
Dalam penelitiannya dlakukan perbandingan beberapa merk shampoo seperti
Dove, Sunsilk, Clinic Plus, Head and Shoulder, Pantene, Chick, Nyle, dan
Vatika. Dari hasil analisis MDS, didapatkan 3 faktor yang paling berpengaruh
untuk industri shampoo yaitu hair care, brand image, dan value for money.
Penelitian mengungkapkan bahwa Clinic Plus memiliki citra merk yang unik.
Dove dan Sunsilk memiliki citra pasar sejenis. Head & Shoulder dan Vatika
memiliki fitur yang mirip. Pada penelitian lainnya, seperti yang dikemukakan oleh Konuk dan Altuna (2011) mengenai perbandingan 5 merk shampoo di Turki dengan menggunakan multidimensional scaling. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mencari faktor yang paling mempengaruhi pemilihan merk shampoo di Turki. Ada 2 faktor yang berpengaruh yaitu “Brand Affect” dan “Brand Trust & Customer Service”. Chen (2010) melakukan penelitian mengenai pemilihan motel di Taoyuan dengan menggunakan multidimensional scaling dan cluster analysis. Penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai pikiran dan pandangan dari warga di Taoyuan, serta pertimbangan dan persyartan dalam memilih motel di Taoyuan. Dari hasil analisis didapatkan lima kelompok yang berbeda, yaitu “iDo supreme motel, York supreme motel”, “iLai leisure motel, Arousing scenario hotel”, “Bird of paradise motel”, “Li-Star International motel, Wego Hotel” dan “168 motel”. Perkembangan akomodasi dan pasar yang belum berkembang menjadi perhatian khsusus untuk pembisnis motel di Taoyuan. Dari beberapa penelitian yang sudah ada didapatkan bahwa pendekatan multidimensional scaling juga dapat dilakukan dengan brand positioning (Posisi Brand/Merk). Namun penelitian lain mengatakan bahwa analysis positioning juga
dapat dilakukan dengan multidimensional scaling. Penelitian lain mengenai hal
ini dilakukan oleh Wardhana (2015) mengenai posisi produk digital di Indonesia seperti notebook, kamera digital, dan smartphone menggunakan
multidimensional scaling dengan 5 atribut (designer attractiveness, reliability,
durability, features completeness, dan easy to find). Penelitian ini
membandingkan beberapa merk dari produk notebook, kamera digital, dan
smartphone tersebut. Shakhshir (2014) melakukan penelitian mengenai posisi
merk makanan di Rumania. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa faktor promosi berpengaruh terhadap persepsi konsumen dalam memilih merk makanan di Rumania. Selain itu, analisis posisi ini juga dilakukan oleh Megawe (2014) tentang produk sabun yang ada di Manado dengan bantuan correspondence analysis. Correspondence analysis ini dilakukan untuk mendapatkan persepsi konsumen mengenai produk sabun yang ada di Manado, yang kemudian akan diolah dengan MDS
Tipe-tipe Kualitatif (skripsi dan tesis)
Penelitian dengan pendekatan kualitatif dapat dibedakan menjadi lima
tipe utama, yaiu : phenomenology, ethnography, case study research,
grounded theory, dan historical research (Johnson, 2005 : 8)
a. Phenomenology : a form of qualitative research in which the
researcher attempts to understand how one or more individuals
experience a phenemenon.
b. Ethnography : is the form of qualitative research that focuses on
describing the culture of a group of people.
c. Case study research : is a form of qualitative research that focused
on providing a detailed account of one or more cases.
d. Grounded theory : is a qualitative approach to generating and
developing a theory form data that the researcher collects.
e. Historical research : research about events that occurred in the past.
Prosedur Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)
Prosedur pelaksanaan penelitian kualitatif bersifat fleksibel sesuai
dengan kebutuhan, serta situasi dan kondisi di lapangan. Secara garis besar
tahapan penelitian kualitatif adalah sebagai berikut (Sudarwan Danim dan
Darwis, 2003 : 80)
a. Merumuskan masalah sebagai fokus penelitian.
b. Mengumpulkan data di lapangan.
c. Menganalisis data.
d. Merumuskan hasil studi.
e. Menyusun rekomendasi untuk pembuatan keputusan.
Karakteristik Penelitian Kualitaif (skripsi dan tesis)
Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik, metode
fenomenologis, metode impresionistik, dan metode post positivistic. Adapun
karakteristik penelitian jenis ini adalah sebagai berikut (Sujana dan Ibrahim,
2001 : 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002: 11-12; Moleong, 2005: 8-11;
Johnson, 2005, dan Kasiram, 2008: 154-155).
a. Menggunakan pola berpikir induktif (empiris – rasional atau bottomup).
Metode kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan grounded
theory, yaitu teori yang timbul dari data bukan dari hipotesis seperti
dalam metode kuantitatif. Atas dasar itu penelitian bersifat generating
theory, sehingga teori yang dihasilkan berupa teori substansif.
b. Perspektif emic/partisipan sangat iutamakan dan dihargai tinggi.
Minat peneliti banyak tercurah pada bagaimana persepsi dan makna
menurut sudut pandang partisipan yang diteliti, sehingga bias
menemukan apa yang disebut sebagai fakta fenomenologis.
c. Penelitian kualitatif tidak menggunakan rancangan penelitian yang
baku. Rancangan pene-litian berkembang selama proses penelitian.
d. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami, mencari makna
di balik data, untuk menemukan kebenaran, baik kebenaran empiris
sensual, empiris logis, dan empiris logis.
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, sumber data yang
dibutuhkan, dan alat pengumpul data bisa berubah-ubah sesuai
dengan kebutuhan.
f. Pengumpulan data dilakukan atas dasar prinsip fenomenologis,
yaitu dengan memahami secara mendalam gejala atau fenomena yang
dihadapi.
g. Peneliti berfungsi pula sebagai alat pengumpul data sehingga
keberadaanya tidak terpisahkan dengan apa yang diteliti.
h. Analisis data dapat dilakukan selama penelitian sedang dan telah
berlangsung.
i. Hasil penelitian berupa deskripsi dan interpretasi dalam konteks
waktu serta situasi tertentu
Asumsi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)
Anggapan yang mendasari penelitian kualitatif adalah bahwa kenyataan
sebagai suatu yang berdimensi jamak, kesatuan, dan berubah-ubah (Nana
Sudjana dan Ibrahim, 2001 : 7). Oleh karena itu tidak mungkin dapat
disusun rancangan penelitian yang terinci dan fixed sebelumnya. Rancangan
penelitian berkembangan selama proses penelitian.
Definisi Penelitian Kualitatif (skripsi dan tesis)
Moleong setelah melakukan analisis terhadap beberapa definisi
penelitian kualitatif kemudian membuat definisi sendiri sebagai sisntesis dari
pokok-pokok pengertian penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2005: 6)
penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya
perilaku, persepsi, motivasi , tindakan, dll. secara holistic, dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus
yang alamiah dahn dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Metode Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)
Metode yang dipergunakan dalam penelitian kuantitatif, khusunya
kuantitatif analitik adalah metode dedutif. Dalam metoda ini teori ilmiah
yang telah diterima kebenarannya dijadikan acuan dalam mencari kebenaran
selanjutnya.
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral,
Sosial, dan Politik (2000: 6) menyatakan bahwa pada dasarnya metoda
ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh
pengetahuannya berdasarkan : a) kerangka pemikiran yang bersifat logis
dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan
sebelumnya yang telah berhasil disusun; b) menjabarkan hipotesis yang
merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut; dan c) melakukan
verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran
pernyataannya secara faktual.
Selanjutnya Jujun menyatakan bahwa kerangka berpikir ilmiah yang
berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari
langkah-langkah sebagai berikut (Suriasumantri, 2005 : 127-128).
a) Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek
empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktorfaktor yang terkait di dalamnya.
b) Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang
merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin
terdapat antara berbagai faktor yang saling mengait dan membentuk
konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara
rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji
kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang
relevan dengan permasalahan.
c) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan
terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan
kesimpulan dari dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
d) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang
relevan dengan hipotesis, yang diajukan untuk memperlihatkan
apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau
tidak.
e) Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis
yang diajukan itu ditolak atau diterima.
Tipe-tipe Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)
Dalam melakukan penelitian, peneliti dapat menggunakan metoda dan
rancangan (design) tertentu dengan mempertimbangkan tujuan penelitian
dan sifat masalah yang dihadapi. Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya,
penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi beberapa tipe sebagai berikut
(Suryabrata, 2000 : 15 dan Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 69 – 78).
a. Penelitian deskriptif
b. Penelitian korelational
c. Penelitian kausal komparatif
d. Penelitian tindakan
e. Penelitian perkembangan
f. Penelitian eksperimen
Tipe-tipe Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)
Dalam melakukan penelitian, peneliti dapat menggunakan metoda dan
rancangan (design) tertentu dengan mempertimbangkan tujuan penelitian
dan sifat masalah yang dihadapi. Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya,
penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi beberapa tipe sebagai berikut
(Suryabrata, 2000 : 15 dan Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 69 – 78).
a. Penelitian deskriptif
b. Penelitian korelational
c. Penelitian kausal komparatif
d. Penelitian tindakan
e. Penelitian perkembangan
f. Penelitian eksperimen
Prosedur Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)
Penelitian kuantitatif pelaksanaannya berdasarkan prosedur yang telah
direncanakan sebelumnya. Adapun prosedur penelitian kuantitatif terdiri dari
tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut.
a. Identifikasi permasalahan
b. Studi literatur.
c. Pengembangan kerangka konsep
d. Identifikasi dan definisi variabel, hipotesis, dan pertanyaan penelitian.
e. Pengembangan disain penelitian.
f. Teknik sampling.
g. Pengumpulan dan kuantifikasi data.
h. Analisis data.
i. Interpretasi dan komunikasi hasil penelitian.
Karakeristik Penelitian Kuantitatif (skripsi dan tesis)
Karakteristik penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut (Nana Sudjana
dan Ibrahim, 2001 : 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002 : 11; Johnson, 2005; dan
Kasiram 2008: 149-150) :
a. Menggunakan pola berpikir deduktif (rasional – empiris atau topdown), yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara
menggunakan konsep-konsep yang umum untuk menjelaskan
fenomena-fenomena yang bersifat khusus.
b. Logika yang dipakai adalah logika positivistik dan menghundari halhal yang bersifat subjektif.
c. Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
d. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyususun ilmu
nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hokum-hukum dari
generalisasinya.
Utu E
12
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang
dibutuhkan, serta alat pengumpul data yang dipakai sesuai dengan
apa yang telah direncanakan sebelumnya.
f. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat yang objektif dan baku.
g. Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian,
dalam arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek
penelitian.
h. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
i. Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks
waktu dan situasi.
Langkah-langkah Penelitian Ex-post Facto (skripsi dan tesis)
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik, peneliti perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
- a)Perumusan Masalah
Masalah yang ditetapkan harus mengandung sebab atau kausa bagi munculnya variabel dependen, yang diketahui berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan atau penafsiran peneliti terhadap hasil observasi fenomena yang diteliti. Masalah penelitian ini dapat berbentuk pernyataan hipotesis atau tujuan. Rumusan hipotesis digunakan jika sifat dasar perbedaan dapat diprediksi oleh peneliti sebelum data dikumpulkan. Sedangkan rumusan pernyataan tujuan digunakan bila peneliti tidak dapat memprediksi perbedaan antar kelompok subjek yang dibandingkan dalam variabel tertentu.
- b)Hipotesis
Setelah masalah dirumuskan, peneliti harus mampu mengidentifikasikan tandingan atau alternatif yang mungkin dapat menerangkan hubungan antar variabel independen dan dependen.
- c)Pengelompokkan Data
Penentuan kelompok subjek yang akan dibagi, pertama-tama kelompok yang diplih harus memiliki karakteristik yang menjadi konsen penelitian. Selanjutnya Peneliti memilih kelompok yang tidak memiliki karakteristik tersebut atau berbeda tingkatannya.
- d)Pengumpulan Data
Hanya data yang diperlukan yang kumpulkan, baik yang berhubungan dengan variabel dependen maupun berkenaan dengan faktor yang dimungkinkan munculnya hipotesis tandingan. Karena penelitian ini menyelidiki fenomena yang sudah terjadi, sering kali data yang diperlukan sudah tersedia sehingga peneliti tinggal memilih sumber yang sesuai. Disamping itu berbagai instrumen seperti les, angket, interview, dapat digunakan untuk mengumpul data bagi peneliti.
- e)Analisis Data
Teknik analisis data yang digunaka, serupa dengan yang digunakan dalam penelitian diferensial maupun eksperimen. Dimana perbandingan nilai variabel dependen dilakukan antar kelompok subjek atas dasar faktor yang menjadi konsen. Hal ini dapat dilakukan dengan teknik analaisi uji-T, independen atau ANAVA, tergantung dari jumlah kelompok dari faktor tersebut. Apapun teknik analisis statistik inferensial yang digunakan, biasanya analisis tersebut diawali dengan perhitungan niali rata-rata atau mean dan stansar deviasi untuk mengetahui antar kelompok secara deskripitif.
- f)Penafsiran Hasil
Pernyataan sebab akibat dalam penelitian ini perlu dilakukan secara hati-hati. Kualitas hubungan antar variabel independen dan dependen sangat tergantung pada kemampuan peneliti untuk memilih kelompok perbandingan yang homogen dan keyakinan bahwa munculnya hipotesis tandingan dapat dicegah.
Ciri-ciri Penelitian Ex-post Facto (skripsi dan tesis)
Adapun ciri-ciri penelitian ex-post facto adalah sebagai berikut :
- a)Data dikumpulkan setelah semua peristiwa terjadi.
- b)Variabel terikat ditentukan terlebih dahulu, kemudian merunut ke belakang untuk menemukan sebab, hubungan, dan maknanya.
- c)Penelitian ex post facto dilakukan jika dalam beberapa hal penelitian eksperimen tidak dapat dilaksanakan. Hal tersebut adalah:
- Jika tidak mungkin memilih, mengontrol, dan memanipulasi faktor-faktor yang diperlukan untuk meneliti hubungan sebab akibat secara langsung
- Jika control semua variable kecuali independent tunggal, tidak realistik, dan artificial, mencegah interaksi yang normal dengan variable lain yang mempengaruhi.
- d)Jika kontrol secara laboratori untuk beberapa tujuan tidak praktis, dari segi biaya dan etik dipertanyakan.
Pengertian Penelitian Ex-Post Facto (skripsi dan tesis)
Penelitian ex-post facto merupakan penelitian dimana variabel-variabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan variabel-variabel terikat dalam suatu penelitian (Hammadi, 2010 : 223). Nama ex post facto sendiri dalam bahasa latin artinya “dari sesudah fakta”. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian itu dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variabel bebas itu terjadi karena perkembangan kejadian itu secara alami.
Penelitian ex-post facto secara metodis merupakan penelitian experimen yang juga menguji hipotesis, tetapi tidak memberikan perlakuan-perlakuan tertentu karena sesuatu sebab untuk memberikan perlakuan atau manipulasi. Biasanya karena alasan etika manusiawi atau gejala atau peristiwa tersebut sudah terjadi dan ingin menelusuri faktor-faktor penyebabnya atau hal-hal yang mempengaruhinya.
Penelitian ex-post facto bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variabel bebas secara keseluruhan sudah terjadi. Sebagai contoh : kita akan menguji hipotesis bahwa perceraian akan mengakibatkan penyimpangan perilaku anak-anak. Dalam situasi ini kita tidak dapat mengeksperimenkan suatu keluarga untuk melakukan perceraian. Perceraian dalam hal ini bukan variabel bebas yang tidak dapat dimanipulasikan. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada keluarga yang sedang mengalami perceraian.
Donald Ary (1982:382-383) juga menyatakan bahwa penelitian ex post facto merupakan penemuan empiris yang dilakukan secara sistematis, peneliti tidak melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas karena manifestasinya sudah terjadi. Sebagai contoh seorang peneliti ingin mengetahui pengaruh merokok terhadap kemampuan menyerap oksigen dalam darah. Peneliti tidak mungkin melakukan eksperimen dengan menyuruh orang menghisap beberapa batang rokok dalam sehari untuk diketahui pengaruhnya terhadap kemampuan darah dalam mengikat oksigen.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ex-post facto merupakan penelitian yang menjelaskan atau menemukan bagaimana variabel-variabel dalam penelitian saling berhubungan atau berpengaruh, serta menemukan bagaimana gejala-gejala atau perilaku itu terjadi.
Dasar penelitian ex-post facto adalah :
- Menilai dengan subjek yang berbeda pada variabel bebas dan mencoba untuk menentukan konsekuensi yang berbeda. Contoh : pengaruh orang tua tunggal dan orang tua lengkap (variabel terikat) terhadap pembolosan (variabel bebas).
- Dimulai dari subjek yang berbeda sebagai variabel terikat dan berusaha menentukan penyebab perbedaan itu. Contoh : perbandingan siswa yang latarnya dari sekolah tinggi dengan orang-orang yang drop out (variabel terikat) pada variabel bebas seperti motivasi atau kedisiplinan.
Bentuk-bentuk Desain Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Menurut Sugiyono (2011:73) terdapat beberapa bentuk desain eksperimen, yaitu :
- Pre-experimental (nondesign), yang meliputi one-shot case studi, one group pretestposttest, intec-group comparison;
- True-experimental, meliputi posttest only control design, pretest-control group design;
- Factorial experimental; dan
- Quasi experimental, meliputi time series design dan nonequivalent control group design.
Penjelasan mengenai bentuk-bentuk desain tersebut adalah sebagai berikut
- Pre-experiment
Disebut pre-experiments karena desain ini belum merupakan desain sungguh-sungguh. Masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Hasil eksperimen yang merupakan variabel dependen itu akan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Hal ini dikarenakan tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara random.
Dalam pre-experimental design terdapat tiga alternatif desain sebagai berikut.
1) One-shot case study
Jenis one-shot case study dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan pengukuran dan nilai ilmiah suatu desain penelitian. Adapun bagan dari one-shot case study adalah sebagai berikut:
| X | O |
| Perlakuan terhadap variabel independen
(Treatment of independent variable) |
Pengamatan atau pengukuran terhadap variabel dependen (Observation or measurement of dependent variable) |
Dengan X: kelompok yang akan diberi stimulus dalam eksperimen dan O: kejadian pengukuran atau pengamatan.
Bagan tersebut dapat dibaca sebagai berikut: terdapat suatu kelompok yang diberi perlakuan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya.
Contoh: Pengaruh penggunaan Komputer dan LCD (X) terhadap hasil belajar siswa (O).
2) The one group pretest-posttest design
Perbedaan dengan desain pertama adalah, untuk the one group pretest-posttest design, terdapat pretest sebelum diberi perlakuan, hasil perlakuan dapat diketahui dengan lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.
Bentuk bagan desain tersebut adalah sebagai berikut.
| O1 | X | O2 |
| Pretest | Treatment | Posttest |
Pengaruh perlakuan: O1 – O2
Desain ini mempunyai beberapa kelemahan, karena akan menghasilkan beberapa ukuran perbandingan. Kelemahan tersebut antara lain disebabkan oleh faktor historis (tidak menghasilkan perbedaan O1 dan O2), maturitation (subjek penelitian dapat mengalami kelelahan, kebosanan, atau kelaparan dan kadang enggan menjawab jika dinilai tidak sesuai dengan nilai yang berlaku), serta pembuatan instrument penelitian. Kejelekannya yang paling fatal adalah tidak akan menghasilkan apapun.
3) The static-group comparison.
Penelitian jenis ini menggunakan satu group yang dibagi menjadi dua, yang satu memperoleh stimulus eksperimen (yang diberi perlakuan) dan yang lain tidak mendapatkan stimulus apapun sebagai alat kontrol. Masalah yang akan muncul dalam desain ini adalah meyangkut resiko penyeleksian terhadap subjek yang akan diteliti. Oleh karena itu, grup tersebut harus dipilih secara acak.
Ketiga bentuk desain preexperiment itu jika diterapkan untuk penelitian akan banyak variabel luar masih berpengaruh dan sulit dikontrol, sehingga validitas internal penelitian menjadi rendah.
- True Experiments
Disebut sebagai true experiments karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Jadi, validitas internal (kualitas pelaksnaaan rancangan penelitian) menjadi tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan dari true experiments menurut Suryabrata (2011 : 88) adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan perlakuan. True experiments ini mempunyai ciri utama yaitu sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Atau dengan kata lain dalam true experiments pasti ada kelompok kontrol dan pengambilan sampel secara random. Selanjutnya, jenis penelitian yang termasuk dalam true experiments adalah: pretestposttes control group design, posttest-only control group design, extensions of true experimental design, multigroup design, randomized block design, latin square design, factorial design.
Adapun penjelasan mengenai jenis-jenis penelitian tersebut dapat dielaborasi sebagai berikut :
1) Pretest-posttes control group design
Dalam desain ini terdapat dua grup yang dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui perbedaan keadaan awal antara group eksperimen dan group kontrol. Hasil pretest yang baik adalah jika nilai group eksperimen tidak berbeda secara signifikan.
Bagan dari desain penelitian tersebut adalah sebagai berikut.
| R | O1 | X | O2 |
| R | O3 | O4 |
Pengaruh perlakuan adalah: (O2 – O1) – (O4 – O3)
2) Posttest-only control group design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Grup pertama diberi perlakuan (X) dan grup yang lain tidak.
Bagan penelitian ini adalah sebagai berikut.
| R | X | O1 |
| R | O2 |
Pengaruh adanya perlakuan adalah (O1:O2)
Dalam penelitian, pengaruh perlakuan dianalisis dengan uji beda menggunakan statistik t-test. Jika ada perbedaan yang signifikan antara grup eksperimen dan grup kontrol maka perlakuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan.
- Factorial Design
Desain merupakan modifikasi dari design true experimental, yaitu dengan memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan terhadap hasil. Semua grup dipilih secara random kemudian diberi pretest. Grup yang akan digunakan untuk penelitian dinyatakan baik jika setiap kelompok memperoleh nilai pretest yang sama.
- Quasi Experiments
Quasi experiments disebut juga dengan eksperimen pura-pura. Bentuk desain ini merupakan pengembangan dari trueexperimental design yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai variabel kontrol tetapi tidak digunakan sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain digunakan jika peneliti dapat melakukan kontrol atas berbagai variabel yang berpengaruh, tetapi tidak cukup untuk melakukan eksperimen yang sesungguhnya.
Dalam eksperimen ini, jika menggunakan random tidak diperhatikan aspek kesetaraan maupun grup kontrol. Bentuk-bentuk quasiexperiments antara lain :
1) Time Series Design
Ciri desain ini adalah grup yang digunakan tidak dapat dipilih secara random.
| O1 O2 O3 O4 x O5 O6 O7 O8 |
Dalam desain ini, kelompok yang digunakan untuk penelitian tidak dapat dipilih secara acak. Sebelum diberi perlakuan, kelompok diberi pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan.
Jika hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti kelompok tersebut keadaannya labil, tidak menentu, dan tidak konsisten. Setelah kestabilan kelompok dapat diketahui dengan jelas, maka baru diberi perlakuan.
Hasil pretest yang baik adalah O1 = O2 = O3 = O4 dan hasil perlakuan yang baik adalah O5 = O6 = O7 = O8. Besar pengaruhnya perlakuan adalah (O5 + O6 + O7 + O8) – O1 + O2 + O3 + O4).
Sebelum diberi perlakuan, grup diberi pretest sampai empat kali, dengan maksud untuk mengetahui kestabilan dan kejelasan keadaan grup sebelum diberi perlakuan.
Jika hasil pretest selama empat kali ternyata nilainya berbeda-beda, berarti grup tersebut dalam kondisi tidak stabil dan tidak konsisten. Setelah kondisi tidak labil maka perlakuan dapat mulai diberikan.
2) Nonequivalent control group design
Desain ini hampir sama dengan pretest-posttest control group design, tetapi pada desain ini group eksperimen maupun group kontrol tidak dipilih secara random.
Karakteristik Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Menurut Ary (1985), ada tiga karakteristik penting dalam penelitian eksperimen, anatara lain:
- Variabel bebas yang dimanipulasi
Memanipulasi variabel adalah tindakan yang dilakukan oleh peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah. Perlakuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka untuk memperoleh perbedaan efek dalam variabel yang terkait.
- Variabel lain yang berpengaruh dikontrol agar tetap konstan
Menurut Gay (1982), control is an effort on the part of researcher to remove the influence of any variable other than the independent variable that ought affect performance on a dependent variable. Dengan kata lain, mengontrol merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi variabel terkait. Dalam pelaksanaan eksperimen, group eksperimen dan group kontrol sebaiknya diatur secara intensif agar karakteristik keduanya mendekati sama.
- Observasi langsung oleh peneliti
Tujuan dari kegiatan observasi dalam penelitian eksperimen adalah untuk melihat dan mencatat segala fenomena yang muncul yang menyebabkan adanya perbedaan diantara dua group.
- Perlakuan (treatment) Penelitian Eksperimen.
- Penelitian eksperimen pada intinya sama dengan observasi. Perbedaan antara keduanya terletak pada objek yang diamati.
- Pada observasi yang bukan eksperimen, objek yang diamati telah ada, sedangkan pada eksperimen objek yang diamati itu diciptakan situasi munculnya oleh peneliti.
- Memunculkan objek pengamatan itu adalah melalui perlakuan atau treatment.
- Pengendalian / Kontrol Penelitian Eksperimen.
Kesimpulan tentang hubungan kausal antara variabel bebas dan variabel terikat dengan valid, bila dilakukan pengontrolan pengaruh variabel lain terhadap variabel terikat.
- Pengontrolan ini menggunakan apa yang disebut dengan kelompok kontrol. Dalam berbagai segi, keberadaan kelompok kontrol sarna dengan kelompok eksperimen.
- Satu-satunya perbedaan adalah, pada kelompok eksperimen diberi perlakuan (treatment), sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perlakuan.
- Dengan demikian, bila muncul gejala yang berbeda antara kedua kelompok, maka itu dianggap sebagai pengaruh perlakuan atau treatment effect.
- Model Rancangan Penelitian Eksperimen.
Pengertian Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Penelitian eksperimen menurut Faisal (1982: 76) merupakan suatu metode yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan: ”Jika sesuatu dilakukan pada kondisi-kondisi yang dikontrol dengan teliti, maka apakah yang akan terjadi?”. Selanjutnya, Sugiyono (2011: 72) menyatakan bahwa penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.
Fraenkel, dkk (2012: 265) menyatakan bahwa penelitian eksperimen adalah unik di dalam dua hal yang sangat penting. Penelitian ini merupakan satu-satunya jenis penelitian yang secara langsung mencoba untuk mempengaruhi suatu variabel tertentu, dengan ,enerapkan variabel bebas dan variabel terikat. Penelitian ini juga merupakan jenis penelitian yang terbaik dalam pengujian hipotesis hubungan sebab akibat atau kausalitas.
Hamid Darmadi (2011:175) menyatakan bahwa penelitian eksperimen adalah satu-satunya metode penelitian yang benar-benar dapat menguji hipotesis hubungan sebab-akibat. Metode ini menyajikan pendekatan yang paling valid untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial/pendidikan; suatu metode yang sistematis dan logis untuk menjawab pertanyaan: “Jika penyelidikan dilakukan pada kondisi-kondisi yang dikontrol dengan teliti, maka apakah yang akan terjadi?”.
Dalam penelitian eksperimen, peneliti memanipulasi variabel bebas, kemudian mengobservasi pengaruh yang diakibatkan dari manipulasi yang dilakukan. Untuk mendapatkan pengaruh yang betul-betul bersih dari pengaruh luar, peneliti melakukan kontrol yang cermat terhadap masuknya pengaruh faktor luar. Dalam penelitian eksperimen variabel-variabel yang ada termasuk variabel bebas atau independent variabel dan variabel terikat atau dependent variabel, sudah ditentukan secara tegas oleh peneliti sejak awal penelitian.
Dalam penelitian eksperimen, kontrol yang cermat terhadap kemungkinan masuknya pengaruh faktor lain sangat diperlukan agar mendapatkan faktor-faktor yang benar-benar murni dari faktor-faktor yang dimanipulasi. Penelitian eksperimen bertujuan untuk:
- Menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian.
- Memprediksi kejadian atau peristiwa di dalam latar eksperimen.
- Menarik generalisasi hubungan antarvariabel.
PERBEDAAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF (skripsi dan tesis)
Penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif mengambil jarak antara peneliti dengan obyek yang diteliti, menggunakan instrumen-instrumen formal, standar, dan bersifat mengukur. Sedangkan penelitian kualitatif menyatu dengan situasi dan fenomena yang diteliti, menggunakan peneliti sebagai instrumen.
Berdasarkan Williams (1988) ada lima pandangan dasar perbedaan antara pendekatan kuantitatif (istilah Williams dengan kuantitatif positivistik) dan kualitatif. Kelima pendangan dasar perbedaan tersebut adalah:
- 1. Bersifat realitas, pendekatan kuantitatif melihat realitas sebagai tunggal, konkrit, teramati, dan dapat difragmentasi. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat realitas ganda (majemuk), hasil konstruksi dalam pandangan holistik. Sehingga peneliti kuantitatif lebih spesifik, percaya langsung pada obyek generalis, meragukan dan mencari fenomena pada obyek yang realitas.
- 2. Interaksi antara peneliti dengan obyek penelitiannya, pendekatan kuantitatif melihat sebagai independen, dualistik bahkan mekanistik. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat sebagai proses interaktif, tidak terpisahkan bahkan partisipasif.
- 3. Posibilitas generalis, pendekatan kuantitatif bebas dari ikatan konteks dan waktu (nomothetic statements), sedangkan pendekatan kualitatif terikat dari ikatan konteks dan waktu (idiographic statements).
- 4. Posibilitas kausal, pendekatan kuantitatif selalu memisahkan antara sebab riil temporal simultan yang mendahuluinya sebelum akhirnya melahirkan akibat-akibatnya. Sedangkan pendekatan kualitatif selalu mustahilkan usaha memisahkan sebab dengan akibat, apalagi secara simultan.
- 5. Peranan nilai, pendekatan kuantitatif melihat segala sesuatu bebas nilai, obyektif dan harus seperti apa adanya. Sebaliknya pendekatan kualitatif melihat segala sesuatu tidak pernah bebas nilai, termasuk si peneliti yang subyektif.
PENELITIAN KUALITATIF (skripsi dan tesis)
Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, maupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya yang kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di laporan.
Penelitian kualitatif adalah penekanan pada proses dan makna yang tidak dikaji secara ketat atau belum diukur, menekankan sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara yang diteliti dengan peneliti, tekanan situasi yang membentuk penyelidikan, sarat nilai, menyoroti cara munculnya pengalaman sosial sekaligus perolehan maknanya
PENELITIAN KUANTITATIF (skripsi dan tesis)
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dimaksud untuk mengungkapkan gejala secara holistik-konstektual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kuantitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif lebih menonjol disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh dengan nilai-nilai otentik.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menitikberatkan pada pengukuran dan analisis hubungansebab-akibat antara bermacam-macam variabel, bukan prosesnya, penyelidikan dipandang berada dalam kerangka bebas nilai.
Kelemahan Metode Eksperimen (skripsi dan tesis)
Kelemahan-kelemahan pada penelitian eksperimen sebagaimana dijelaskan oleh Jaedun (2011) adalah dalam validitas internal, antara lain: history, maturation, testing, instrumentation, selection, statistical regretion, experiment mortality, diffusion of treatments. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
- History. Banyak kejadian di masa lampau yang dapat mempengaruhi validitas penelitian eksperimental yang disebabkan oleh adanya interaksi antar individu.
- Maturation. Beberapa perubahan dapat terjadi pada dependent variable yang berfungsi dalam kurun waktu dan bukannya kejadian yang spesifik ataupun kondisi tertentu. Terutama berkaitan dengan jangka waktu pengamatan yang memakan waktu lama.
- Testing. Proses pengujian juga dapat menimbulkan distorsi yang akan mempengaruhi hasil-hasil eksperimen.
- Instrumentation. Instrumen yang digunakan dalam penelitian eksperimen kadang kala sudah tidak sesuai lagi dengan standar yang berlaku.
- Selection. Peneliti kadang masih menggunakan unsur subjektifitas dalam memilih orang yang akan dijadikan objek eksperimen yang baik.
- Statistical Regretion. Peneliti kadangkala dihadapkan pada kesulitan apabila hasil yang diperoleh dalam penelitian menghasilkan skor yang ekstrim.
- Experiment Mortality. Dalam penelitian eksperimen seringkali terjadi perubahan komposisi kelompok yang diobservasi. Ada anggota kelompok yang harus didrop karena tidak sesuai dengan situasi pengetesan saat tertentu.
Langkah-langkah dan Prosedur Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Jika ditinjau dari langkah-langkahnya maka langkah-langkah penelitian eksperimen tidak jauh berbeda dengan penelitian lain. Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, maka langkah-langkah penelitian ini, sebagai berikut (Sukardi, 2003):
- Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak
- Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
- Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan
definisi istilah. - Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) Menentukan cara mengontrol; c) Memilih rancangan penelitian yang tepat; d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; dan e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
- Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan.
- Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
- Melaksanakan eksperimen.
- Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
- Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
- Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
- Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.
Sedangkan menurut Jaedun (2011) adalah Langkah-langkah penelitian eksperimen pada dasarnya sama dengan jenis penelitian positivistik yang lain, yaitu:
- Memilih dan merumuskan masalah, termasuk akan mengujicobakan perlakuan apa, dampak dampak apa yang ingin dilihat.
- Memilih subyek yang akan dikenai perlakuan dan subyek yang tidak dikenai perlakuan.
- Memilih disain penelitian eksperimen.
- Mengembangkan instrumen pengukuran (instrumen untuk mengumpulkan data).
- Melaksanakan prosedur penelitian dan pengumpulan data.
- Menganalisis data.
- Perumusan kesimpulan.
Sedangkan langkah operasionalnya adalah sebelum peneliti mulai “on action” maka perlu melakukan:
- Membentuk atau memilih kelompok-kelompok (kelompok yang dikenai perlakuan dan kelompok pembanding/kelompok kontrol).
- Memperkirakan apa yang akan terjadi pada setiap kelompok.
- Mencoba mengontrol semua faktor lain di luar perubahan yang direncanakan.
- Mengamati atau mengukur efek pada kelompok-kelompok setelah perlakuan berakhir.
- Penelitian eksperimen adalah penelitian untuk menguji hipotesis. Setidaktidaknya dengan 1 hipotesis hubungan sebab-akibat dari 2 variabel, yaitu variabel perlakuan dan variabel dampak.
- Penelitian eksperimen yang paling sederhana biasanya melibatkan 2 kelompok, yaitu: (1) Kelompok eksperimen, yaitu kelompok yang dikenai perlakuan tertentu, dan (2) Kelompok kontrol atau kelompok pembanding, yaitu kelompok yang tidak dikenai perlakuan.
- Kelompok eksperimen menerima treatmen yang baru, suatu treatmen yang sedang diselidiki, sedangkan kelompok kontrol menerima treatmen yang berbeda atau diberi treatmen seperti biasa.
- Dua kelompok yang akan dibandingkan, yaitu kelompok yang menerima treatmen dan kelompok yang tidak dikenai treatmen harus disetarakan terlebih dahulu, agar dapat dipastikan bahwa adanya perbedaan pada variabel terikat semata-mata karena pengaruh perlakuan yang diberikan bukan karena memang sejak awalnya sudah berbeda.
- Cara penyetaraan yang dapat dilakukan:
- Membuat berpasang-pasangan (matching), misal siswa yang nilai awalnya sama, dikelompokkan berpasang-pasangan pada kelompok yang berbeda.
- Penugasan secara random (random assignment), yaitu menempatkan subyek baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding dengan cara diundi (dirandom), atau tidak dipilih-pilih.
- Kesulitan yang terjadi adalah tidak memungkinkan (sulit) mengelompokkan siswa secara bebas, dan terpisah dari rombelnya, karena akan merusak sistem yang telah berjalan. Sehingga sampelnya apa adanya, atau disebut intax sampel.
Pre-experimental Design (Nondesigns) (skripsi dan tesis)
Desain ini dikatakan sebagai pre experimental design karena belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh sebab masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Rancangan ini berguna untuk mendapatkan informasi awal terhadap pertanyaan yang ada dalam penelitian. Dalam desain ini karena tidak menggunakan kelompok kelas eksperimen dan kelompok kontrol yang diambil secara random, maka analisis datanya menggunakan statistik deskriptif bukan statistik inferensial seperti t-tes dan analisis varians (ANOVA). Tidak ada uji signifikansi terhadap pengaruh treatment (nilai sebelum dan sesudah ada treatment). Ada beberapa macam bentuk penelitian ini, yaitu: One Shoot Case Study, (Studi Kasus Satu Tembakan), One – Group Pretest-Posttest Design (Satu Kelompok Pretes-Postes), dan Intact Group Comparison.
Langkah-langkah Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Penelitian eksperimen dilakukan dengan menempuh langkah-langkah (Sukardi, 2003):
- Melakukan kajian secara induktif yang terkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
- Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
- Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
- Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan: a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen; b) Menentukan cara mengontrol; c) Memilih rancangan penelitian yang tepat; d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian; e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen; f) Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan; dan g) Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
- Melaksanakan eksperimen.
- Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
- Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan.
- Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.
- Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan
Ruang Lingkup dan Variabel Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Penelitian eksperimen dilakukan dalam lingkup (Jaedun, 2011):
- Sebagian besar eksperimen dalam bidang pendidikan pada umumnya dilakukan dalam rangka melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, biasanya berkaitan dengan usaha untuk menguji pengaruh materi, media, metode, atau praktik pendidikan yang baru terhadap hasil belajar siswa.
- Rancangan penelitian eksperimen pada umumnya, menggunakan variabel tunggal, yaitu:
- Satu variabel perlakuan dimanipulasikan (dibuat kondisinya berbeda), selanjutnya diamati akibat/ dampak dari perlakuan tersebut terhadap satu atau lebih variabel tergantung.
- Variabel yang dimanipulasikan disebut: variabel perlakuan, variabel treatment, variabel eksperimen, atau variabel independen.
- Variabel yang merupakan akibat/dampak disebut: variabel tergantung, variabel dependen, atau variabel dampak.
- Masalah pokok: 1) Menentukan kelompok kontrol (pembanding) yang sebanding (komparabel); dan 2) Membuat konstan (mengontrol/ mengendalikan) variabel-variabel non-eksperimental yang dapat mempengaruhi variabel dampak.
Agar lebih jelas pemahaman ruang lingkup penelitian eksperimen, maka berikut ini dijelaskan variabel-variabelnya. Variabel-variabel penelitian eksperimen adalah gejala atau fakta (data) yang harganya berubah-berubah atau bervariasi. Berikut ini dijelaskan jenis-jenis variabel yang termasuk dalam penelitian ini, yaitu:
- Variabel bebas/ independen (variabel perlakuan/ eksperimen) merupakan variabel yang akan dilihat pengaruhnya terhadap variabel terikat/ dependen, atau variabel dampak.
- Variabel terikat/ dependen (variabel dampak) merupakan variabel hasil/ dampak/ akibat dari variabel bebas/ perlakuan.
- Variabel terikat umumnya menjadi tujuan penelitian, sumber masalah, yang ingin ditingkatkan kualitasnya.
- Variabel kontrol (pengendali) variabel yang berpengaruh terhadap variabel terikat, tetapi pengaruhnya ditiadakan/ dikendalikan dengan cara dikontrol (diisolasi) pengaruhnya. Pengontrolan dapat dilakukan melalui pengembangan disain penelitiannya (kondisinya dibuat sama) atau secara statistik tertentu.
- Variabel Moderator variabel yang mempengaruhi tingkat hubungan (pengaruh) variabel bebas terhadap variabel terikat. Atau hubungan/ pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat memiliki nilai yang berbeda pada level yang berbeda.
Untuk lebih jelasnya mengenai variabel penelitian ini, Farida Nursyahidah (2015) menjelaskan bahwa variabel-variabel penelitian eksperimen adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi, keadaan, faktor, perlakuan, atau tindakan yang diperkirakan dapat memengaruhi hasil eksperimen. Variabel yang berkaitan secara langsung dan diberlakukan untuk mengetahui suatu keadaan tertentu dan diharapkan mendapatkan dampak/akibat dari eksperimen, sering disebut variabel eksperimental (treatment variable), dan variabel yang tidak dengan sengaja dilakukan tetapi dapat memengaruhi hasil eksperimen disebut variabel noneksperimental. Variabel eksperimental adalah kondisi yang hendak diteliti bagaimana pengaruhnya terhadap suatu gejala. Untuk mengetahui pengaruh varibel itu, kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimental dan kontrol dikenakan variabel eksperimen yang berbeda atau yang bervariasi. Variabel noneksperimental sebagian dapat dikontrol, baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Ini disebut variabel kontrol atau controlled variabel. Akan tetapi, sebagian lagi dari variabel non-eksperimen ada di luar kekuasaan eksperimen untuk dikontrol atau dikendalikan. Jenis variabel ini disebut variabel ekstrane atau extraneous variabel. Dalam setiap eksperimen, hasil yang berbeda pada kelompok eksperimen dan kontrol sebagian disebabkan oleh variabel eksperimental dan sebagian lagi karena pengaruh variabel ekstrane. Oleh karena itu, setiap peneliti yang akan melakukan eksperimen harus memprediksi akan munculnya variabel pengganggu ini.
Syarat-syarat Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Penelitian eksperimen dapat berjalan baik dan memberikan hasil yang akurat jika dilaksanakan dengan mengikuti kaidah dan syarat-syarat tertentu. Seperti halnya dengan penelitian eksperimen, akan memberikan hasil yang valid jika dilaksanakan dengan mengikuti syarat-syarat yang ada. Berkaitan dengan ini, Wilhelm Wundt dalam Alsa (2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimen, yaitu:
- Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian.
- Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama.
- Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya.
- Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi perlakukan (experimental group).
Tujuan Umum Penelitian Eksperimen (skripsi dan tesis)
Secara umum tujuan penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dalam bidang pendidikan dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode problem solving) terhadap prestasi belajar dan kemampuan komunikasi matematika pada siswa SMP atau untuk menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh perlakuan tersebut jika dibandingkan dengan metode konvensional.
Selanjutnya, tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/ diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas pada mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan tetapi juga ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut jika dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda


