Menurut American Marketing Association dalam Kotler dan Keller
(2009:332) mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol,
atau rancangan, atau kombinasinya yang dimaksudkan untuk
mengidentifikasikan barang atau jasa dari salah satu penjual atau
kelompok penjual dan mendiferensiasikan dari barang atau jasa pesaing.
Menurut David Aaker (2015:8) mengemukakan bahwa merek
merupakan janji satu organisasi kepada pelanggan untuk memberikan
apa yang menjadi prinsip merek itu, tidak hanya dalam hal manfaat
fungsional, tetapi juga manfaat emosional, ekspresi diri, dan sosial.
Menurut David McNally & Karl D. Speak (2009:6) merek
merupakan persepsi atau emosi yang dipertahankan dan dipelihara oleh
para pembeli atau calon pembeli yang melukiskan pengalaman yang
membahagiakan dengan persoalan menjalankan bisnis-bisnis bersama
sebuah organisasi atau memakai produk atau jasa-jasanya.
Pengaruh Citra Merek Terhadap Loyalitas Pelanggan
Menurut Sunarto (2010:18), citra merek memiliki hubungan dengan
loyalitas, dimana suatu perusahaan akan dilihat melalui citranya baik citra itu
negatif atau positif. Citra yang positif akan memberikan arti yang baik terhadap
produk perusahaan tersebut dan seterusnya dapat meningkatkan jumlah
penjualan. Sebaliknya penjualan produk suatu perusahaan akan jatuh atau
mengalami kerugian jika citranya dipandang negative oleh masyarakat atau
konsumen. Jadi dapat dikatakan citra yang baik dari suatu merek dapat
mengarahkan pada loyalitas konsumen terhdap suatu merek. Penting bagi
perusahaan untuk membangun citra dari merek yang dihasilkannya, agar citra
merek yang dibangun dapat dipersepsikan dengan baik oleh konsumen.
Bagaimanapun juga citra merek yang baik ikut membantu terwujudnya
loyalitas merek, sehingga merek tersebut dapat berkembang menjadi merek
yang kuat di pasaran
Pengaruh Citra Merek Terhadap Kepuasan Pelanggan
Menurut Kotler (2013:347), citra merek dari sebuah produk merupakan
salah satu faktor utama yang memberikan keuntungan bagi perusahaan serta
bisa merepresentasikan perusahaan tersebut. Asosiasi konsumen (klien) yang
baik terhadap perusahaan menjadi dasar untuk menumbuhkan kepuasan
pelanggan. Kecenderungan pelanggan lebih didominasi kepada citra merek.
Indikator Loyalitas
Menurut Tjiptono (2012:388), indikator-indikator loyalitas adalah sebagai
berikut:
1) Pelanggan tidak beralih ke produk lain
2) Pembelian ulang
3) Merekomendasikan kepada orang lain
Menurut Laksana (2010:39) indikator loyalitas adalah sebagai berikut
adalah:
1) Kualitas pelayanan. Pelanggan akan merasa puas bila mereka
mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang
diharapkan.
2) Kualitas produk, karena pelanggan akan merasa puas bila hasil
evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan
mempunyai kualitas yang baik.
3) Citra Perusahan, semua asosiasi yang melekat pada perusahaan dan
merupakan persepsi masyarakat yang terbentuk dengan memproses
informasi setiap waktu dan berbagai sumber terpercaya
Jenis Loyalitas
Tjiptono (2012:393) dengan mengkombinasikan komponen sikap dan
perilaku pembelian ulang, maka terdapat empat situasi kemungkinan
loyalitas, yaitu:
1) No Loyalty
Bila sikap dan perilaku pembelian ualng pelanggan sama-sama lemah,
maka loyalitas tidak terbentuk. Ada dua kemungkinan penyebabnya.
Pertama, sikap yang lemah bisa terjadi bila suatu produk atau jasa baru
diperkenalkan atau pemasarnya tidak mampu mengkomunikasikan
keunggulan produk. Kedua, berkaitan dengan dinamika pasar dimana
merek-merek yang berkompetisi dipersepsikan serupa atau sama.
2) Spurious Loyalty
Bila sikap yang relatif lemah disertai dengan pola pembelian ulang
yang kuat, maka yang terjadi adalah spurious loyalty captive loyalty.
Situasi ini bisa dikatakan inertia, dimana konsumen sulit membedakan
berbagai merek dalam kategori produk dengan tingkat keterlibata
rendah, sehingga pembelian ulang dilakukan atas dasar pertimbangan
situasional seperti familiarty penempatan produk yang strategis; lokasi
outlet jasa dipusat perbelanjaan atau dipersimpangan jalan ramai atau
faktor diskon.
3) Laten Loyalty
Situasi laten loyalty tercermin bila sikap kuat disertai dengan pola
pembelian ualng yang lemah. Situasi yang menjadi perhatian
besarpemasar ini disebabkan pengaruh faktor nonsikap yang sama kuat
atau bahkan cenderung lebih kuat daripada faktor sikap dalam
menentukan pembelian ulang.
4) Loyalty
Situasi ini merupakan situasu ideal yang paling diharapkan
pemasar, dimana konsumen bersikap positif terhadap jasa atau
penyedia jasa bersangkutan dan disertai pola pembelian ulang yang
konsisten.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Konsumen
Menurut Tjiptono (2012:389) faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas
konsumen yaitu:
1) Kepuasan (Satisfaction)
Kepuasan pelanggan merupakan pengukuran gap antara harapan
pelanggan dengan kenyataan yang mereka terima atau yang dirasakan.
2) Ikatan emosi (Emotional bonding)
Konsumen dapat terpengaruh oleh sebuah merek yang memiliki daya tarik
tersendiri sehingga konsumen dapat diidentifikasikan dalam sebuah merek,
karena sebuah merek dapat mencerminkan karakteristik konsumen
tersebut. Ikatan yang tercipta dari sebuah merek ia lah ketika konsumen
merasakan ikatan yang kuat dengan konsumen lain yang menggunakan
produk atau jasa yang sama.
3) Kepercayaan (Trust).
Kemauan seseorang untuk mempercayakan perusahaan atau sebuah merek
untuk melakukan atau menjalankan sebuah fungsi.
4) Kemudahan (Choice reduction and habit)
Konsumen akan merasa nyaman dengan sebuah kualitas produk dan merek
ketika situasi mereka melakukan transaksi memberikan kemudahan.
Bagian dari loyalitas konsumen seperti pembelian produk secara teratur
dapat didasari pada akumulasi pengalaman setiap saat.
5) Pengalaman dengan perusahaan (History with company)
Sebuah pengalaman seseorang pada perusahaan dapat membentuk
perilaku. Ketika mendapatkan pelayanan yang baik dari perusahaan, maka
akan mengulangi perilaku pada perusahaan tersebut.
6) Citra Merek
Persepsi dan keyakinan yang dilakukan oleh konsumen, seperti tercermin
dalam asosiasi yang terjadi dalam memori konsumen
Pengertian Loyalitas Konsumen
Loyalitas pelanggan didefinisikan sebagai besarnya kemungkinan
pelanggan membeli kembali dan kesediaan mereka untuk menjadi partner
bagi perusahaan. Loyalitas konsumen adalah seseorang yang secara continue
atau berulang kali datang ke suatu tempat yang sama untuk memuaskan
keinginannya dengan memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu jasa dan
membayar produk atau jasa tersebut. Loyalitas menunjukkan kondisi dari
durasi dari waktu tertentu dan mensyaratkan bahwa tindakan pembelian tidak
terjadi kurang dari dua kali. Menurut Tjiptono (2012:386) loyalitas adalah
perilaku pembelian ulang seringkali dihubungkan dengan loyalitas merek.
Akan tetapi ada perbedaan diantara keduanya. Loyalitas menurut Kotler
(2013) situasi dimana konsumen bersikap positif terhadap produk/produsen
(penyedia jasa) diikuti pola pembelian ulang yang konsisten.
Indikator Kepuasan Pelanggan
Dengan demikian, perusahaan lebih dikenal oleh publik dan mempunyai
citra yang baik. Sunarto (2010:19) menyimpulkan bahwa terdapat tiga indikator
dalam mengukur kepuasan pelanggan, yakni:
1) Pelayanan sesuai dengan harapan
2) Terpenuhinya kebutuhan pelanggan
3) Fasilitas dan kenyamanan
Kotler (2013) menyimpulkan bahwa terdapat enam indikator dalam
mengukur kepuasan pelanggan, yakni:
1) Kepuasan Pelanggan Keseluruhan (Overall Customer Satisfaction) yaitu
dengan langsung menanyakan kepada pelanggan seberapa puas mereka
dengan produk atau jasa spesifik tertentu.
2) Segi dimensi kepuasan pelanggan, yaitu mengukur kepuasan pelanggan
berdasarkan dimensi kepuasan pelanggan dengan meminta para pelanggan
menilai setiap faktor kepuasan pelanggan yang menurut mereka paling
penting untuk mendapatkan kepuasan pelanggan keseluruhan.
3) Segi Konfirmasi Harapan (Confirmation Of Expectations). Dalam konsep
ini, kepuasan tidak diukur langsung, namun disimpulkan berdasarkan
kesesuaian/ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan kinerja
aktual produk perusahaan.
19
4) Segi Minat Pembelian Ulang (Repurchase Intent). Kepuasan pelanggan
diukur secara behaviorial dengan jalan menanyakan apakah pelanggan
akan berbelanja atau menggunakan jasa perusahaan lagi.
5) Segi Kesediaan Untuk Merekomendasi (Willingness To Recommend)
yakni, mengukur kepuasan pelanggan berdasarkan kesediaan pelanggan
untuk merekomendasikan pada teman atau keluarganya. Hal ini
merupakan ukuran yang penting untuk dianalisis dan ditindak lanjuti.
6) segi Ketidakpuasan Pelanggan (Customer Dissatisfaction), yakni
mengukur kepuasan pelanggan berdasarkan tindak lanjut yang dilakukan
oleh perusahaan atas ketidakpuasan yang pernah dirasakan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan
Lupiyoadi (2011:158) menyatakan terdapat sejumlah faktor utama yang
mempengaruhi kepuasan pelanggan yang harus diperhatikan oleh perusahaan.
1) Faktor kualitas produk, karena pelanggan akan merasa puas bila hasil
evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan
mempunyai kualitas yang baik.
2) Faktor Citra Perusahan, semua asosiasi yang melekat pada perusahaan dan
merupakan persepsi masyarakat yang terbentuk dengan memproses infor-
masi setiap waktu dan berbagai sumber terpercaya.
3) Faktor kualitas pelayanan. Pelanggan akan merasa puas bila mereka
mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang
diharapkan. Faktor ketiga adalah harga, karena apabila pelanggan
mendapatkan produk dengan kualitas yang sama tetapi harga untuk
memperolehnya relatif lebih murah, tentunya hal ini akan memberikan
nilai kepuasan yang lebih tinggi.
4) Faktor emosional, pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan
keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap dirinya apabila
menggunakan produk tertentu. Kepuasan yang diperoleh bukan karena
kualitas produk tetapi cenderung kepada nilai sosial atau self esteem yang
membuat pelanggan menjadi puas terhadap merek tertentu.
5) Faktor biaya, pelanggan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau
tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa
sehingga pelanggan cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut.
Kepuasan pelanggan mempunyai peran yang sangat penting bagi
perusahaan. Kepuasan pelanggan akan mendorong munculnya loyalitas
dari pelanggan tersebut. Dengan adanya loyalitas dari pelanggan, hal ini
akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Keuntungan tersebut dapat
berupa adanya promosi dari mulut ke mulut (mouth to mouth) yang
dilakukan oleh seorang pelanggan dimana dalam promosi ini, perusahaan
tidak perlu mengeluarkan biaya, dengan merekomendasikan kepada orang-
orang disekitarnya sehingga akan menarik lebih banyak pelanggan.
Pengertian Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumen mencakup perbedaan antara harapan konsumen
dan kinerja perusahaan atau hasil yang dirasakan konsumen. Peter (2011:65)
mengemukakan bahwa kepuasan konsumen dapat didefinisikan secara
sederhana sebagai suatu keadaan di mana kebutuhan, keinginan dan harapan
pelanggan dapat terpenuhi melalui produk yang dikonsumsi. Menurut Kotler
(2013:245), Kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purna beli dimana
alternative yang dipilih sekurang-kurangnya memberikan hasil (outcome)
yang sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan
timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan pelanggan
(Tjiptono, 2012:126), Selain itu, Menurut Sunarto (2010:17), kepuasan
pelanggan juga diartikan sebagai perasaan senang atau kecewa yang
dirasakan oleh pelanggan setelah membandingkan antara persepsi/kesannya
terhadap kinerja suatu produk dengan harapan-harapannya
Indikator Citra Merek
Menurut Kotler (2013:349), indikator-indikator citra merek adalah sebagai
berikut:
1) Atribut
Suatu merek dapat mengingatkan pada atribut-atribut tertentu
2) Manfaat
Atribut-atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan
emosional.
3) Nilai
Suatu merek juga mengatakan sesuatu tentang nilai produsennya.
Menurut Sunarto (2010:18), indikator-indikator citra merek adalah sebagai
berikut:
1) Atribut produk (product attribute), merupakan hal-hal yang berkaitan
dengan merek tersebut sendiri, seperti kemasan, rasa, harga, dan lain-
lain.
2) Keuntungan konsumen (consumer benefits), merupakan kegunaan
produk dari merek tersebut.
3) Kepribadian merek (brandpersonality), merupakana sosiasi yang
mengenai kepribadian sebuah merek apabila merek tersebut adalah
manusia
Tujuan Pemberian Merek
Sebuah perusahaan menggunakan merek untuk produknya karena mereka
mendapatkan manfaat dari pemakaian merek produk. Kotler (2013:242)
berpendapat bahwa sebuah merek memiliki beberapa peran, antara lain :
- Merek memudahkan dalam proses pemesanan dan penelusuran suatu
produk - Merek membantu untuk mengatur persediaan dan pencat atan akutansi
- Merek menawarkan perlindungan hukum atas aspek atau keunikan
produk yang dimiliki - Merek menandakan suatu kualitas tertentu sehingga pembeli yang puas
akan melakukan pembelian ulang - Merek menjadi suatu sarana yang kuat untuk mengaman kan
keunggulan kompetitif
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Citra Merek
Menurut Kotler (2013:240), faktor-faktor yang mempengaruhi citra merek
yaitu sebagai berikut:
1) Kualitas atau mutu, berkaitan dengan kualitas produk yang ditawarkan
oleh produsen dengan merek tertentu.
2) Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat dan
kesepakatan yang di bentuk oleh masyarakat tentang suatu produk
yang dikonsumsi.
3) Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk
yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen
4) Pelayanan, yang berkaitan dangan tugas produsen dalam melayani
konsumennya.
5) Resiko berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh konsumen.
6) Harga, dalam hal ini yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi
suatu produk, juga dapat mempengaruhicitra berkaitan dengan tinggi
rendahnya atau banyak sedikitnya jumlah uang jangka panjang.
7) Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa pelanggan,
kesempatan dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari
produk tertentu.
Pengertian Citra Merek
Menurut Kotler (2013:344), Citra merek merupakan keseluruan persepsi
terhadap merek dan dibentuk dari informasi masa lalu terhadap merek, citra
terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi
terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap para
konsumen membeli sesuatu, bukan hanya sekedar membutuhkan barang itu, akan
tetapi ada sesuatu yang lain yang diharapkannya. Sesuatu yang lain itu sesuai
dengan image yang terbentuk dalam dirinya. Oleh sebab itu penting sekali
organisasi memberi informasi kepada publik agar dapat membentuk image yang
baik. Istilah image ini mulai populer sejak tahun 1950-an, yang dikemukakan
dalam berbagai konteks seperti image terhadap organisasi. Image terhadap
perusahaan, image nasional, image terhadap merek atau brand image, image
publik, self-image dan sebagainya.
Menurut Kotler (2013:346), Citra merek ialah persepsi dan keyakinan
yang dilakukan oleh konsumen, seperti tercermin dalam asosiasi yang terjadi
dalam memori konsumen. Menurut Kotler (2013:349), indikator citra merek yaitu
atribut, manfaat dan nilai. Menurut Lamb (2011) pengertian merek dapat dibagi ke
dalam:
1) Nama Merek (Brand Name)
Nama merek adalah sebagian dari nama merek yang dapat diucapkan.
Contohnya Avon, Chevrolet, dan Disneyland.
2) Tanda Merek (Brand image)
Tanda merek adalah sebagian dari merek yang dapat dikenali, namun
tidak dapat diucapkan seperti misalnya, lambang, desain, huruf atau
warna khusus. Contohnya adalah tiga berlian dari Mitsubishi.
3) Tanda Merek Dagang (Trademark)
Tanda merek dagang adalah merek atau sebagian dari merek yang
dilindungi oleh hukum karena kemampuannya untuk menghasilkan
sesuatu yang istimewa. Tanda merek dagang ini melindungi penjual
dengan hak istimewanya untuk menggunakan nama merek dan atau
tanda jasa.
4) Hak Cipta (Copy Right)
Hak cipta adalah hak istimewa yang dilindungi oleh undang-undang
untuk memproduksi, menerbitkan, dan menjual karya tulis ataupun
karya seni
Pengertian Merek
Sebuah merek yang terkenal dan terpercaya merupakan aset yang tidak
ternilai. Keahlian yang paling unik dari pemasaran yang professional adalah
kemampuannya untuk menciptakan, memelihara, melindungi, dan meningkatkan
merek. Menurut Gitosudarmo (2015:82), merek adalah cara membedakan sebuah
nama atau simbol seperti logo, trademark, atau desain kemasan yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari satu produsen
atau satu kelompok produsen dan untuk membedakan produk atau jasa itu dari
produsen pesaing.
Undang-Undang Merek Nomor.15 Tahun 2001 Pasal 1 Ayat 1 menyatakan
bahwa merek adalah tanda yang berupa gambar, nama kata, huruf-huruf, angka-
angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki
daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.
Definisi ini memiliki kesamaan dengan definisi versi American Marketing
Association yang menekankan peranan merek sebagai identifier dan
differentiation. Merek sangat bermanfaat bagi konsumen dan produsen. Menurut
Gitosudarmo (2015:84), ada (enam) makna yang bisa di sampaikan melalui suatu
merek, yaitu:
1) Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan
produk bagi perusahaan.
2) Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik Signal
tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa
dengan mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu. Signal tingkat
kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa dengan
mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu.
3) Sarana menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk
dari para pesaing.
4) Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum,
loyalitas pelanggan, dan citra unik yang berbentuk dalam benak
konsumen.
5) Sumber financial returns terutama menyangkut pendapatan masa depan.
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut (Amstrong, 2012) menyatakan bahwa bagi konsumen,
pembelian bukan hanya merupakan suatu tindakan saja (misalnya
karena produk), melainkan terdiri atas beberapa tindakan yang satu
dan lainnya saling berkaitan. Indikator-indikator keputusan
pembelian terdiri atas sebagai berikut:
1) Pilihan produk
2) Pilihan Merek
3) Waktu pembelian
4) Jumlah pembelian
Faktor keputusan Pembelian
Menurut (Kotler, 2012) ada dua faktor yang berada diantara niat
pembelian dan keputusan pembelian:
1) Sikap orang lain
2) Faktor situasi yang tidak terantisipasi yang dapat mengubah
niat pembelian
Adapun penjelasan dari yang dapat mempengaruhi faktor
keputusan pembelian:
- Sikap orang lain.
Sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang
disukai seseorang akan tergantung pada dua hal, yaitu intensitas
sikap negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai
konsumen, dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan
orang lain. Semakin gencar sikap negatif orang lain dan semakin
dekat orang tersebut dengan konsumen maka semakin besar
konsumen akan mengubah niat pembeliannya. Dan sebliknya
preferensi seorang pembeli terhadap sssuatu merek yang sama
maka pengaruh orang lain menjadi rumit saat beberapa orang
yang dekat dengan pembeli memiliki pendapatan yang
berlawanan dan pembeli ingin menyenangkan mereka semua. - Faktor situasi yang tidak terantisipasi yang dapat muncul dan
mengubah niat pembelian
Keputusan konsumen untuk menimbang, menunda, atau
menghindari suatu keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh
risiko yang dirasakan. Pemasar harus memahami faktor-faktor
yang menimbulkan perasaan adanya risiko dalam diri konsumen
dan memberikan informasi serta dukungan untuk mengurangi
risiko yang dirasakan
Proses Keputusan Pembelian
Keberhasilan diraih dengan pemasar melihat faktor yang
mempengaruhi pembeli dan mengembangkan pemahaman mengenai
bagaimana konsumen melakukan keputusan pembelian. Pemasar harus
mengidentifikasi siapa yang membuat keputusan pembelian, jenis-jenis
keputusan pembelian, dan langkah-langkah dalam proses pembelian.
- Peran pembelian
Menurut (Kotler, 2012) lima peran yang dimainkan orang dalam
keputusan pembelian:
a. Pencetus: Seseorang pertama kali mengusulkan gagasan untuk
membeli suatu produk atau jasa.
b. Pemberi pengaruh: seseorang yang pandangan atau sarannya
mempengaruhi keputusan.
c. Pengambilan keputusan: Seseorang yang mengambil
keputusan untuk setiap komponen keputusan pembelian-
apakah membeli, tidak membeli, bagaimana membeli, dan di
mana akan membeli.
d. Pembeli : Orang yang melakukan pembelian yang
sesungguhnya.
e. Pemakai: Seseorang yang mengkonsumsi atau menggunkana
produk atau jasa yang bersangkutan - Perilaku pembelian
Pengambilan keputusan konsumen berbeda-beda, bergantung pada
jenis keputusan pembelian. Pembelian yang mahal dan rumit
membutuhkan banyak pertimbangan pembelian. Menurut (Kotler,
2012) membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen
berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan
merek, yaitu:
a) Perilaku Pembelian yang Rumit. Ada beberapa langkah yaitu,
Pembeli mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut,
membangun sikap tentang produk tersebut, membuat pilihan
pembelian yang cermat.
b) Perilaku Pembelian Pengurangan Ketidaknyamanan.
Konsumen sangat terlibat dalam pembelian namun melihat
sedikit perbedaan di antara berbagai merek. Keterlibatan yang
tinggi didasari oleh fakta bahwa pembelian tersebut mahal,
jarang dilakukan, dan berisiko.
c) Produk Pembelian karena Kehabisan. Perilaku konsumen
seperti ini biasanya konsumen tidak secara luas mencari
informasi tentang merek, mengevaluasi karakteristik merek,
dan memutuskan merek apa yang akan di beli.
d) Perilaku Pembelian yang Mencari Variasi. Beberapa situasi
pembelian ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah
namun perbedaan merek yang signifikan. Konsumen sering
melakukan peralihan merek karena mencari variasi bukan
karena ketidakpuasan
Dimensi Keputusan Pembelian
Menurut (Kotler, 2012) menyebutkan dimensi keputusan pembelian terdiri
dari:
- Pilihan Produk
- Pilihan Merek
- Pilihan Saluran Pembelian
- Waktu Pembelian
- Jumlah Pembelian
Definisi Keputusan Pembelian
Mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua
pilihan alternatif atau lebih. Seorang konsumen yang hendak memilih
harus memiliki pilihan alternatif. Suatu keputusan tanpa pilihan di sebut “
pilihan hobson”. (Schiffman, 2011)
Menurut (Kotler, 2012) menyatakan bahwa bagi konsumen, sebenarnya
pembelian bukanlah hanya merupakan satu tindakan saja (misalnya karena
produk), melainkan terdiri dari beberapa tindakan yang satu sama lainnya
saling berkaitan.
Berdasarkan pengertian dari para ahli diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian dipengaruhi oleh beberapa hal yang datang
informsi mengenai produk, harga, lokasi dan promosi lalu konsumen akan
mengolah segala informasi tersebut dan diambil respon yang muncul
mengenai produk yang dibeli, merek,toko yang akan dipilih dan waktu
pembelian.
Dalam Keputusan pembelian terdapat faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi Keputusan pembelian menurut (Kotler, 2012) keputuan
pembelian konsumen didasari oleh faktor internal dan eksternal yaitu
faktor internal persepsi, sikap, gaya hidup dan kepribadian, faktor
eksternal yaitu citra merek, kualitas produk, harga, promosi dan lokasi
pembelian
Indikator Harga
Harga menjadi salah satu bagian terpenting dalam proses jual beli,
karena harga adalah alat tukar dalam transaksi. Menurut (Stanton, 2012)
menjelaskan indikator-indikator harga yaitu:
- Keterjangkauan harga
- Daya saing harga
- Kesesuaian harga dengan kualitas produk
- Kesesuaian harga dengan manfaa
Tujuan Penetapan Harga
Harga tentu sangat penting dalam kesepakatan jual-beli dari
produsen ke konsumen. Melalui penetapan harga, timbullah sebuah
tujuan dari penetapan harga tersebut.
Menurut (Tjiptono, strategi pemasaran, 2011) pada dasarnya ada empat
jenis tujuan penetapan harga, yaitu :
1) Tujuan berorientasi pada laba
2) Tujuan berorientasi pada volume
3) Tujuan berorientasi pada citra
4) Tujuan stabilisasi harga
Adapun pengertiannya sebagai berikut :
1) Tujuan Berorientasi pada Laba
Asumsi teori ekonomi klasik menyatakan bahwa setiap perusahaan
selalu memilih harga yang dapat menghasilkan laba paling tinggi. Tujuan
ini dikenal dengan istilah memaksimisasi laba. Dalam era persaingan
global yang kondisinya sangat kompleks dan banyak variabel yang
berpengaruh terhadap daya saing setiap perusahaan, maksimisasi laba
sangat sulit dicapai, karena sukar sekali untuk dapat memperkirakan
secara akurat jumlah penjualan yang dicapai pada tingkat harga tertentu.
Dengan demikian, tidak mungkin suatu perusahaan dapat mengetahui
secara pasti tingkat harga yang dapat menghasilkan laba maksimum.
2) Tujuan Berorientasi pada Volume
Selain tujuan berorientasi pada laba, ada pula perusahaan yang
menetapkan harganya berdasarkan tujuan yang berorientasi pada volume
tertentu atau yang biasa deikenal dengan istilah volume pricing
objectives. Harga ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target
volume penjualan (dalam ton, kg, unit, m3, dan lain-lain), nilai penjualan
(Rp) atau pangsa pasar.
3) Tujuan Berorientasi pada Citra
Citra (image) suatu perusahaan dapat dibentuk melalui strategi
penetapan harga. Perusahaan dapat menetapkan harga tinggi untuk
membentuk atau mempertahankan citra prestisius. Sementara itu harga
rendah dapat digunakan untuk membentuk citra nilai tertentu (image of
value), misalnya dengan memberikan jaminan bahwa harganya
merupakan harga yang terendah di suatu wilayah tertentu. Pada
hakikatnya, baik penetapan harga tinggi maupun rendah bertujuan untuk
meningkatkan persepsi konsumen terhadap keseluruhan bauran produk
yang ditawarkan perusahaan.
4) Tujuan Stabilisasi Harga
Pasar yang dimana konsumennya sagat sensitif terhadap harga, bila
suatu perusahaan menurunkan harganya, maka para pesaingnya harus
menurunkan pula harga mereka. Kondisi seperti ini yang mendasari
terbentuknya tujuan stabilisasi harga dalam industri- industri tertentu
yang produknya sangat terstandarisasi
Strategi Harga
Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu perusahaan harus selalu
meninjau kembali strategi penetapan harga produk-produknya yang sudah
ada di pasar, di antaranya yaitu (Shinta, 2011):
1) Adanya perubahan dalam lingkungan pemasaran, misalnya ada
pesaing besar yang menurunkan harganya.
2) Adanya pergeseran permintaan, misalnya terjadi perubahan selera
konsumen
Definisi Harga
Harga adalah jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Lebih
luas lagi, harga adalah jumlah semua nilai yang diberikan oleh pelanggan
untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau menggunakan suatu
produk atau jasa (Cravens, 2013) Menurut (Amstrong, 2012) Harga
merupakan sesuatu yang diserahkan dalam pertukaran untuk mendapatkan
suatu barang maupun jasa. Harga khususnya merupakan pertukaran uang
bagi barang atau jasa
Indikator Promosi
Menurut (Kotler, 2012) indikator yang mencirikan promosi adalah:
1) Jangkauan promosi, yaitu jumlah promosi yang dilakukan oleh
perusahaan dalam waktu tertentu melalui media promosi yang
tersedia
2) Kuantitas promosi, yaitu tolak ukur yang menjadi acuan
penilaian dari promosi yang telah dilakukan
3) Kualitas promosi, yaitu penilaian yang diberikan konsumen
dari promosi yang telah dilakukan
4) Waktu promosi, yaitu jangka watu promosi yang akan
dilakukan oleh perusahaan
5) Ketepatan sasaran promosi, yaitu kesesuaian target yang
diperlukan ketika melakukan promosi untuk mencapai sasaran
yang menjadi tujuan perusahaan
Bauran Promosi
Menutut (Tjiptono, Pemasaran Jasa, 2014) Meskipun secara umum
bentuk-bentuk promosi memiliki fungsi yang sama, tetapi bentuk-
bentuk tersebut dapat dibedakan berdasarkan tugas-tugas khususnya.
Beberapa tugas khusus itu atau sering disebut bauran promosi
(promotion mix, promotion blend, communication mix) adalah :
1) Personal selling,
2) Mass selling, terdiri atas periklanan dan publisitas,
3) Promosi penjualan,
4) Public relations (hubungan masyarakat)
5) Direct marketing
Tujuan Promosi
Promosi adalah fungsi pemasaran yang fokus untuk
mengkomunikasikan program-program pemasaran secara persuasif
kepada target audience (pelanggan-calon pelanggan) untuk mendorong
terciptanya tranksaksi – pertukaran antara perusahaan dan audience.
Kegiatan promosi dilakukan untuk mencapai berbagai tujuan berikut :
(Cravens, 2013)
1) Menciptakan atau meningkatkan awareness produk atau brand.
2) Meningkatkan preferensi brand pada target pasar.
3) Meningkatkan penjualan dan market share
4) Mendorong pembelian ulang merek yang sama.
5) Memperkenalkan produk baru.
6) Menarik pelanggan baru
Definisi Promosi
Menurut (Hasan, 2014) Promosi merupakan proses
mengkomunikasikan variabel bauran pemasaran (marketing mix) yang
sangat penting untuk dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan
produk. Lalu juga ditinjau dalam pendapat (Shinta, 2011) Pada hakikatnya
promosi merupakan bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasi
pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha untuk menyebarkan
informasi, mempengaruhi/membujuk dan atau mengingatkan pasar sasaran
atas perusahaan dan produknya agar bisa menerima, membeli dan loyal
pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan
Indikator Kualitas Produk
Menurut (Tjiptono, strategi pemasaran, 2011) ada 5 indikator
kualitas produk, yaitu : (1) Kinerja (perfomance), (2) Keistimewaan
tambahan (features), (3) Keandalan (reliability), (4) kesesuain dengan
spesifikasi (conformance to specifications), (5) Estetika (asthethic).
Adapun penjelasan mengenai indikator kualitas produk sebagai
berikut:
1) Kinerja (perfomance)
Karakteristik operasi pokok dari produk inti seperti kecepatan,
kemudahan, kenyamanan, dan sebagainya.
2) Keistimewaan tambahan (features)
Karakteristik sekunder atau pelengkap seperti kelengkapan interior
dan eksterior.
3) Keandalan (reliability)
Kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai
seperti mobil tidak sering rewel/rusak.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specificatons)
Sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standart-
standart yang telah ditetapkan sebelumnya seperti standar
keamanan dan emisi terpenuhi.
5) Estetika (asthethic)
Daya tarik suatu produk terhadap panca indera. Misalnya bentuk
fisik mobil yang menarik atau desain, warna, dan sebagainya
Dimensi Kualitas Produk
Menurut (Firmansyah, 2019) apabila perusahaan ingin
mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan
harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen
untuk membedakan produk yang dijual oleh perusahaan tersebut dengan
produk pesaing. Dimensi kualitas produk tersebut terdiri dari : (1)
Perfomance (kinerja), (2) Durability (daya tahan), (3) Conformance to
specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), (4) Features (fitur),(5)
Reliability (reliabilitas), (6) Aesthetics (estetika), (7) Perceived quality
(kesan kualitas).
Adapun penjelasan dari dimensi kualitas produk tersebut, yaitu :
1) Perfomance (kinerja)
Kinerja berhubungan dengan operasi dasar pada suatu produk, seperti
pelanggan yang mempertimbangkan produk tersebut untuk dibelinya.
2) Durability (daya tahan)
Daya tahan merupakan sebuah umur produk atau berapa lama produk
tersebut dapat digunakan. Semakin besar frekuensi pemakaian atas
suatu produk maka akan semakin besar pula daya produk tersebut.
3) Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi)
Kesesuaian merupakan sejauh mana spesifikasi tertentu dari
konsumen atau dengan kata lain tidak ditemukan cacat pada suatu
produk tersebut.
4) Features (fitur)
Fitur merupakan karakteristik sebuah produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk untuk menambah ketertarikan
konsumen atas produk tersebut.
5) Reliability (reliabilitas)
Reliabilitas atau keandalan merupakan produk yang bersangkutan
akan bekerja dengan baik dan memuaskan ataupun tidak dalam waktu
periode tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan
pada suatu produk maka berarti produk tersebut dapat diandalkan.
6) Aesthetics (estetika)
Estetika berkaitan dengan bagaimana tampilan produk yang
bersangkutan.
7) Perceived quality (kesan kualitas)
Merupakan suatu perasaan yang dimiliki oleh seorang konsumen
mengenai keadaan suatu produk apakah berkualitas atau tidak.
Definisi Kualitas Produk
Menurut (Amstrong, 2012)menyatakan bahwa kualitas produk
merupakan salah satu sarana positioning utama untuk pemasar yang
memiliki dampak langsung pada kinerja produk. Menurut (Kotler, 2012)
menyatakan bahwa the ability of a product to perform its functions, it
includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of
operation and repair, and other valued attributes.
Dengan arti sebagai berikut, kemampuan sebuah produk dalam
memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas,
reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoprasian dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya
Klasifikasi Produk
Menurut (Amstrong, 2012) produk dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa kelompok yaitu : (1) berdasarkan wujudnya, (2) berdasarkan
aspek daya tahannya, (3) berdasarkan tujuan konsumsi. Adapun penjelasan
mengenai klasifikasi produk diatas, yaitu:
1) Berdasarkan wujudnya, dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok
utama, yaitu : Pertama, barang merupakan suatu produk yang
berwujud fisik, yang dapat dilihat, disentuh, dipegang, dirasa,
dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya. Kedua, jasa merupakan
aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual yang
dapat dikonsumsi oleh pihak lain. Seperti halnya salon, bengkel, hotel
dan sebagainnya.
2) Berdasarkan aspek daya tahannya, dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu : Pertama, barang tidak tahan lama (nondurable goods)
merupakan suatu barang berwujud yang biasanya bisa habis di
konsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian dengan kata lain
umur ekonomisnya dalam pemakaian normal kurang dari satutahun.
Kedua, barang tahan lama (durabel goods) merupakan barang berwujud
yang biasanya bisa bertahan lama dengan kata lain umur ekonomisnya untuk
pemakaian normal adalah satu tahun atau lebih.
3) Berdasarkan tujuan konsumsi, dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu : Pertama, barang konsumsi (consumer’s goods) merupakan
suatu produk yang langsung dapat di konsumsi tanpa melalui
pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari produk
tersebut. Kedua, barang industri (industrial’s goods) merupakan jenis
produk yang memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan
suatu manfaat tertentu, yang biasanya hasil dari pemrosesan tersebut
dijual belikan kembali
Indikator Citra Merek
Menurut (Kotler, 2012) menyatakan bahwa citra merek dapat diukur
dengan indikator- indikator sebagai berikut:
1) Kekuatan(strengthness)
Kekuatan produk merupakan keunggulan yang dimilki suatu merek
produk yang bersifat fisik yang tidak ditemukan pada merek produk
lain
2) Keunikan(uniqueness)
Keunikan suatu produk yaitu tingkat pembeda produk dari
pesaingnya, kesan ini didapat konsumen atas atribut yang dimiliki
suatu produk yang tidak dimiliki produk lainnya.
3) Keunggulan(favorable)
Keunggulan suatu merek merupakan kemudahan suatu merek
produk yang mudah diucapkan oleh konsumen, mudah diingat dan
produk menjadi favorit konsumen
Manfaat Citra Merek
Menurut (Priansa, 2017) Citra merek dianggap sebagai persepsi
masyarakat terhadap jati diri merek atau perusahaan. Ia menyatakan bahwa
manfaat citra merek yang baik dan kuat, yaitu sebagai berikut :
1) Kemampuan daya saing jangka menengah dan panjang.
Perusahaan berusaha memenangkan persaingan pasar dengan
menyusun strategi pemasaran yang taktis, yaitu citra merek
yang positif dibangun untuk menghasilkan keuntungan
berkelanjutan
2) Daya tahan terhadap krisis. Sebagian besar masyarakat dapat
memahami atau memaafkan kesalahan yang dibuat perusahaan
dengan citra baik, yang menyebabkan mereka mengalami krisis
3) Menjadi daya tarik eksekutif handal, karena eksekutif handal
adalah aset perusahaan
4) Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran
5) Menghemat biaya operasional karena citranya yang baik.
Tingkatan Arti Merek dan Kriteria Pemberian Merek
Menurut (Amstrong, 2012) menyatakan enam tingkatan arti senuah
merek berkenaan dengan atribut, manfaat, nilai, budaya, kepribadian, dan
pemakai seperti dijelaskan sebagai berikut.
a. Atribut (attributes); suatu merek mengingatkan atribut-atribut
tertentu.
b. Manfaat (benefit); atribut-atribut harus diterjemahkan menjadi
manfaat fungsional dan emosianal.
c. Nilai (value); merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai
produsen.
d. Budaya (culture); merek dapat mewakili atau melambangkan
suatu budaya tertentu.
e. Personal (personality); merek mampu mencerminkan
kepribadian tertentu.
f. Pemakai (user); merek tersebut menyiratkan jenis konsumen
yang membeli atau menggunakan produk tersebut
Pengaruh Kualitas Persepsian terhadap Keputusan Pembelian
Menurut Sadat (2009) kualitas persepsian menggambarkan respon
keseluruhan pelanggan terhadap kualitas dan keunggulan yang ditawarkan
produk. Respon ini adalah persepsi yang terbentuk dari pengalaman
pelanggan selama berinteraksi dengan merek melalui komunikasi yang
dibangun oleh pemasar. Tentu saja kondisi seperti ini harus terus dijaga
melalui pengembangan kualitas secara berkesinambungan.
Kualitas produk terhadap keputusan pembelian sangat erat
kaintannya. Konsumen pasti ingin mendapatkan produk yang menurut
pandangannya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka
Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2009) menyebutkan citra merek adalah persepsi
masyarakat terhadap perusahaan atau produknya. Citra dipengaruhi oleh
banyak faktor yang di luar kontrol perusahaan. Citra yang efektif akan
berpengaruh terhadap tiga hal yaitu : pertama, memantapkan karakter
produk dan usulan nilai. Kedua, menyampaikan karakter itu dengan cara
yang berbeda sehingga tidak dikacaukan dengan karakter pesaing. Ketiga,
memberikan kekuatan emosional yang lebih dari sekadar citra mental.
Supaya bisa berfungsi citra harus disampaikan melalui setiap sarana
komunikasi yang tersedia dan kontak merek.
Semakin tinggi citra merek suatu produk maka semakin tinggi pula
nilai prestis yang didapat oleh konsumen. Keberadaan merek merupakan
kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat
kembali bahkan menjadi pelanggan setia produk tersebut.
Pengaruh Citra Merek dan Kualitas Persepsian terhadap Keputusan Pembelian
Citra merek yang dibarengi dengan kualitas persepsian menjadi
penting untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari konsumen terhadap suatu
produk atau jasa yang ditawarkan. Kepercayaan yang muncul dibenak
konsumen untuk mengambil keputusan membeli produk tersebut karena
produk tersebut memiliki citra merek dan kualitas persepsian yang baik di
mata konsumen.
Semakin tinggi citra merek dan tingkat persepsi konsumen terhadap
suatu produk atau jasa maka akan semakin tinggi keputusan konsumen
untuk membeli produk atau jasa.
Indikator atau Dimensi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2009), ada 5 indikator untuk mengukur
keputusan pembelian yang diambil konsumen antara lain :
1) Pengenalan masalah
2) Pencarian informasi
3) Evaluasi alternatif
4) Keputusan pembelian
5) Perilaku pasca pembelian
Sedangkan menurut Mazumdar yang dikutip oleh Perdana (2010),
mengemukakan bahwa salah satu indikator keputusan pembelian adalah
perception of sacrifice atau kesediaan untuk berkorban (waktu, biaya dan
tenaga) mendapatkan produk tersebut. Dari teori tersebut maka
dirumuskan indikator keputusan pembelian sebagai berikut :
1) Prioritas pembelian pada produk tertentu.
2) Keyakinan dalam membeli produk.
3) Keinginan untuk membeli produk.
4) Keinginan untuk mencoba menggunakan produk.
5) Sesuai harapan.
6) Pertimbangan manfaat dari produk.
7) Kesediaan meluangkan waktu untuk mendapatkan produk.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Buchari (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa
faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian, yaitu:
1) Faktor sosial, yaitu berupa grup-grup yang turut mempengaruhi,
dimana seseorang masuk sebagai anggota, misalnya kelompok family,
teman, tetangga, teman sekerja, klub olahraga, klub seni, dan lain-lain.
2) Faktor budaya, yaitu faktor budaya yang begitu banyak kelompoknya.
Mulai dari kelompok negara, sampai kelompok etnis/suku yang
memiliki budaya dan kebiasaan adat sendiri. Di negara kita ada suku
Sunda, Jawa, Minang, Batak, dsb. Masing-masing memiliki pola
konsumsi dan barang kesenangan masing-masing.
3) Faktor personal, yaitu menyangkut masalah usia, pekerjaan, jabatan,
keadaan ekonomi pribadi, gaya hidup, kepribadian.
4) Faktor psikologis, yaitu menyangkut motivasi seseorang untuk
membeli apakah mengikuti teory motivasi Maslow atau karena
dorongan lainnya. Juga menyangkut masalah persepsi seseorang
terhadap sesuatu.
c. Tahap-Tahap Pengambilan Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2009) tahap-tahap pengambilan keputusan
pembelian konsumen terdiri dari:
1) Pengenalan masalah
proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau
kebutuhan-kebutuhan tersebut dicetuskan oleh rangsangan internal
atau eksternal rangsangan ini akan berubah menjadi dorongan.
Berdasarkan dorongan yang ada pada diri konsumen maka konsumen
akan mencari objek yang diketahui untuk dapat memuaskan dorongan
tersebut.
2) Pencarian Informasi
Seorang konsumen yang minatnya telah tergugah hanya akan ada
dua kemungkinan yaitu, mencari informasi secara aktif atau mencari
informasi kemudian mengendapkan dalam ingatan.
Menurut Peter dan Donnelly (2007) mengelompokkan sumber
informasi konsumen ke dalam lima kategori berikut :
a) Sumber internal : berupa pengalaman sebelumnya dalam
menangani kebutuhan serupa.
b) Sumber kelompok : yaitu pihak-pihak relevan lain (seperti teman,
keluarga, dan rekan kerja) yang diyakini konsumen memiliki
keahlian khusus dalam keputusan pembeli terkait.
c) Sumber pemasaran : berupa iklan, wiraniaga, dealer dan pajangan.
d) Sumber publik : meliputi publisitas dan pemeringkatan indepeden
terhadap produk.
e) Sumber eksperiensial : yaitu menangani, menilai dan mungkin pula
mencoba produk atau jasa sewaktu berbelanja.
3) Evaluasi Alternatif
Tidak ada proses evaluasi tunggal sederhana yang digunakan oleh
semua konsumen atau oleh salah satu konsumen dalam semua situasi
pembelian, itu berarti setiap konsumen pasti memiliki beberapa
alternatif sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan. Pertama, konsumen
berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua, konsumen mencari manfaat
tertentu dari solusi produk. Ketiga, konsumen mencari manfaat produk
sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda
dalam memberikan manfaat.
4) Keputusan Pembelian
Dalam tahap evaluasi para konsumen membentuk prferensi atas
merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Konsumen
tersebut juga dapat membentuk niat untuk membeli merek yang paling
disukai. Namun, ada dua faktor yang dapat berada di antara niat
pembelian dan keputusan pembelian.
5) Perilaku Pasca Pembelian
Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami level
kepuasan atau ketidak puasan tertentu, dalam tahap ini, konsumen
mungkin mengalami disonansi kognitif (keraguan menyangkut
ketepatan keputusan pembelian)
Definisi Keputusan Pembelian
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010), keputusan pembelian
adalah pemilihan terhadap sebuah pilihan terhadap dua atau lebih
alternatif pilihan. Dengan kata lain, bagi seseorang untuk membuat
sebuah pilihan, pilihan alternatif harus ada. Ketika seseorang memiliki
sebuah pilihan antara membeli atau tidak membeli, sebuah pilihan antara
brand X ataupun brand Y, atau pilihan untuk melakukan A atau B, orang
tersebut berada dalam posisi untuk membuat suatu keputusan. Sedangkan
menurut Sumarwan (2008), mendefinisikan keputusan pembelian adalah
sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif.
Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus
memiliki pilihan alternatif.
Menurut Kotler & Armstrong (2012) menyatakan bahwa keputusan
pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di
mana konsumen benar-benar membeli. Pengambilan keputusan
merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam
mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan pleh
produsen. Sedangkan menurut Tjiptono (2011) keputusan pembelian
adalah sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya, mencari
informasi mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi
seberapa baik masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan
masalahnya, yang kemudian mengarahkepada keputusan pembelian.
Menurut Kotler (2009) keputusan pembelian adalah merupakan
sikap seseorang untuk membeli atau menggunakan suatu produk baik
berupa barang atau jasa yang telah diyakini akan memuaskan dirinya dan
kesediaan menanggung resiko yang mungkin ditimbulkanya. Keputusan
pembelian yang diambil oleh pembeli sebenarnya merupakan kumpulan
dari sejumlah keputusan yang terorganisir.
Menurut Kotler & Keller (2009) menyatakan bahwa keputusan
pembelian adalah konsumen membentuk niat untuk membeli merek yang
paling disukai. Sedangkan menurut Peter dan Olson (2010) menyatakan
bahwa keputusan pembelian adalah proses pengintegrasian yang
mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih
prilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya.
Indikator Kualitas Persepsian
Tsiotsou (2005), mengemukakan indikator perceived quality, yaitu
:
1) Good quality (kualitas yang bagus)
2) Security (aman)
3) A sense of attomplishment (kemampuan untuk memberikan
manfaat)
Astuti dan Cahyadi (2007) mengemukakan indikator perceived
quality yaitu :
1) Overall quality
2) Reliability (kehandalan)
3) Functional
Ulinnuha (2008) mengemukakan ada 3 indikator perceived quality,
yaitu :
1) Produk dengan kualitas yang baik
2) Pengemasan terjamin kualitasnya
3) Bahan baku berkualitas
Nilai Nilai Keuntungan Pada Kualitas Persepsian
Menurut Aaker yang dikutip oleh Sadat (2009) menyebutkan ada
beberapa nilai-nilai keuntungan yang dapat diperoleh dari kualitas
persepsian tinggi, yaitu :
1) Alasan untuk membeli
Kualitas persepsian yang terbangun dengan baik di benak
pelanggan akan membantu efektivitas program pemasaran. Harus
dipahami bahwa informasi yang begitu banyak membuat pelanggan
malas untuk merespon lebih jauh, sehingga kualitas persepsian tinggi
akan berperan menuntun pelanggan dalam proses pembelian.
2) Differensiasi
Sebuah merek yang dipersepsi memiliki kualitas tinggi tentu saja
menjadi berbeda dengan yang lainnya. Walkman merek Sony atau 4
iPod dari Apple dipersepsi oleh sebagian besar pelanggan memiliki
kualitas yang lebih baik dibandingkan merek-merek lain dari kategori
produk yang sama.
3) Harga premium
Dalam banyak kasus tersebut, kualitas persepsian yang tinggi
memungkinkan perusahaan dapat menetapkan harga yang lebih tinggi
pada produk-produknya. Walaupun fungsi dan spesifikasinya sama,
mobil-mobil buatan Eropa dipersepsi memiliki kualitas lebih tinggi
dibandingkan mobil buatan Jepang atau Korea, sehingga para
produsennya dapat menetapkan harga premium.
4) Perlakuan tertentu
Distributor dan para peritel akan memberikan perhatian tersendiri
pada merek-merek berkualitas. Jika Anda berkunjung ke sebuah
tempat pembelanjaan, merek-merek berkualitas biasanya akan
dipajang pada etalase sendiri secara terpisah.
5) Perluasan merek
Merek-merek dengan kualitas persepsian tinggi memiliki peluang
yang besar untuk mengembangnkan produknya dalam berbagai
kategori, dengan cara menggunakan nama merek sebagai payung bagi
produk lainnya. Sebagai contoh, Nestle mampu memperluas rentang
produknya dari Nestle Milo, Nestle Nescafe, dan Nestle Maggi.
Pelanggan pun dapat menerimanya dengan baik karena percaya pada
kualitas Nestle selama ini
Proses Persepsi
Menurut Kotler & Keller (2009) dalam pemasaran, persepsi itu
lebih penting daripada realitas, karena persepsi itulah yang akan
mempengaruhi actual konsumen. Setiap individu memiliki persepsi yang
berbeda atas objek yang sama karena tiga proses persepsi :
1) Perhatian Selektif
Orang mengalami sangat banyak rangsangan setiap hari, karena
seseorang tidak mungkin dapat menanggapi semua rangsangan itu,
rangsangan akan disaring dan proses ini disbeut perhatian selektif. Hal
ini dimaksudkan, para pemasar harus bekerja keras dalam rangka
menarik perhatian konsumen. Tantangan yang sesungguhnya adalah
menjelaskan rangsangan mana yang akan diperhatikan orang.
Walaupun menyaring banyak rangsangan di lingkungan sekitar,
mereka dipengaruhi oleh rangsangan yang tidak diduga. Para pemasar
berusaha mempromosikan tawaran mereka secara halus agar bisa
melewati saringan perhatian selektif.
2) Distorsi Selektif
Rangsangan yang telah mendapatkan perhatian bahkan tidak
sering muncul dalam pikiran orang serupa seperti yang diinginkan
oleh pengirimnya. Distorsi selektif adalah kecenderungan menafsirkan
informasi sehingga sesuai dengan pra-konsepsi seseorang. Konsumen
akan sering merubah informasi sehingga menjadi konsisten dengan
keyakinanawal mereka atas merek dan produk. Ketika konsumen
melaporkan opini yang berbeda antara versi bermerek dan tanpa
merek dari produk yang identik, yang menjadi permasalahan bahwa
keyakinan merek dan produk yang diciptakan oleh sarana apapun agak
mengubah persepsi produk mereka. Distorsi selektif dapat berfungsi
bagi keuntungan pemasar dengan merek yang kuat ketika konsumen
mengganggu informasi merek yang netral atau ambigu (bermakna
ganda) untuk membuatnya lebih positif
3) Ingatan Selektif
Orang akan melupakan banyak hal yang dipelajari, tapi
cenderung mengingat informasi yang mendukung pandangan dan
keyakinan mereka. Adanya ingatan selektif, orang cenderung
mengingat hal-hal yang baik yang disebutkan tentang produk yang
diisukan dan melupakan hal-hal yang baik yang disebutkan tentang
produk pesaing. Ingatan selektif menjelaskan mengapa para pemasar
menggunakan drama dan pengulangan dalam mengirimkan pesan ke
pasar sasaran mereka untuk memastikan bahwa pesan mereka tidak
diremehkan.
Komponen Citra Merek
Menurut Hogan (2007) citra merek merupakan asosiasi dari semua
informasi yang tersedia mengenai produk, jasa dan perusahaan dari
merek yang dimaksud. Informasi ini didapat dari dua cara yaitu:
1) Melalui pengalaman konsumen secara langsung, yang terdiri dari
kepuasan fungsional dan kepuasan emosional. Merek tersebut tidak
cuma dapat bekerja maksimal dan memberikan performansi yang
dijanjikan tapi juga harus dapat memahami kebutuhan konsumen,
mengusung nilai-nilai yang diinginkan oleh kosumen dan juga
memenuhi kebutuhan individual konsumen yang akan mengkontribusi
atas hubungan dengan merek tersebut.
2) Persepsi yang dibentuk oleh perusahaan dari merek tersebut melalui
berbagai macam bentuk komunikasi, seperti iklan, promosi, hubungan
masyarakat (public relations), logo, fasilitas retail, sikap karyawan
dalam melayani penjualan, dan performa pelayanan. Bagi banyak
merek, media, dan lingkungan dimana merek tersebut dijual dapat
mengkomunikasikan atribut-atribut yang berbeda. Setiap alat
pencitraan ini dapat berperan dalam membina hubungan dengan
konsumen. Penting demi kesuksesan sebuah merek, jika semua faktor
ini dapat berjalan sejajar atau seimbang, ketika nantinya akan
membentuk gambaran total dari merek tersebut.
Menurut Arnould (2007) gambaran inilah yang disebut citra merek
atau reputasi merek, dan citra ini bisa berupa citra yang positif atau
negatif atau bahkan diantaranya. Citra merek terdiri dari atribut
objektif/instrinsik seperti ukuran kemasan dan bahan dasar yang
digunakan, serta kepercayaan, perasaan, dan asosiasi yang ditimbulkan
oleh merek produk tersebut.
Komponen citra merek (brand image) menurut Simamora (2011)
terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1) Citra pembuat (corporate image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu
barang atau jasa.
2) Citra pemakai (user image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu
barang atau jasa.
3) Citra produk (product image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa.
Kualitas Persepsian (Perceived Quality)
Menurut Sadat (2009) kualitas persepsian menggambarkan respon
keseluruhan pelanggan terhadap kualitas dan keunggulan yang ditawarkan
produk. Respon ini adalah persepsi yang terbentuk dari pengalaman
pelanggan selama berinteraksi dengan merek melalui komunikasi yang
dibangun oleh pemasar. Tentu saja kondisi seperti ini harus terus dijaga
melalui pengembangan kualitas secara berkesinambungan. Sedangkan
menurut Tsiotsou (2005) kualitas persepsian (perceived quality)
didefinisikan sebagai penilaian konsumen terhadap keseluruhan
kemampuan atau superoritas yang dimiliki oleh produk.
Menurut Aaker (2008) kualitas persepsian adalah persepsi
konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk
atau jasa layanan yang sama dengan maksud yang diharapkannya.
Sedangkan menurut Zeithaml yang dikutip oleh Mayasari (2011) Kualitas
persepsian dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap
keseluruhan kualitas atau keunggulan dari suatu produk atau jasa layanan
yang berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan.
Menurut Kotler & Keller (2009) kualitas persepsian tidak hanya
bergantung pada rangsangan fisik, tapi juga pada rangsangan yang
berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang
bersangkutan. Jika konsumen memberikan persepsi yang positif terhadap
seluruh atribut yang melekat pada suatu produk, maka timbul tanggapan
bahwa produk dapat memenuhi kebutuhan dan keingginannya selanjutnya
dapat memicu keputusan untuk membeli produk
Menurut Hogan (2007) citra merek merupakan asosiasi dari semua
informasi yang tersedia mengenai produk, jasa dan perusahaan dari
merek yang dimaksud. Informasi ini didapat dari dua cara yaitu:
1) Melalui pengalaman konsumen secara langsung, yang terdiri dari
kepuasan fungsional dan kepuasan emosional. Merek tersebut tidak
cuma dapat bekerja maksimal dan memberikan performansi yang
dijanjikan tapi juga harus dapat memahami kebutuhan konsumen,
mengusung nilai-nilai yang diinginkan oleh kosumen dan juga
memenuhi kebutuhan individual konsumen yang akan mengkontribusi
atas hubungan dengan merek tersebut.
2) Persepsi yang dibentuk oleh perusahaan dari merek tersebut melalui
berbagai macam bentuk komunikasi, seperti iklan, promosi, hubungan
masyarakat (public relations), logo, fasilitas retail, sikap karyawan
dalam melayani penjualan, dan performa pelayanan. Bagi banyak
merek, media, dan lingkungan dimana merek tersebut dijual dapat
mengkomunikasikan atribut-atribut yang berbeda. Setiap alat
pencitraan ini dapat berperan dalam membina hubungan dengan
konsumen. Penting demi kesuksesan sebuah merek, jika semua faktor
ini dapat berjalan sejajar atau seimbang, ketika nantinya akan
membentuk gambaran total dari merek tersebut.
Menurut Arnould (2007) gambaran inilah yang disebut citra merek
atau reputasi merek, dan citra ini bisa berupa citra yang positif atau
negatif atau bahkan diantaranya. Citra merek terdiri dari atribut
objektif/instrinsik seperti ukuran kemasan dan bahan dasar yang
digunakan, serta kepercayaan, perasaan, dan asosiasi yang ditimbulkan
oleh merek produk tersebut
Definisi Merek
Menurut (Kotler, 2012)Merek adalah sebuah nama, istilah, tanda,
simbol, atau desain, atau sebuah kombinasi di antaranya, yang bertujuan
untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang dihasilkan oleh
produsen. Brand adalah segala sesuatu yang mengidentifikasi barang atau
jasa penjual dan membedakannya dari barang dan jasa lainnya. Merek
dapat berupa sebuah kata, huruf-huruf, sekelompok kata, simbol, desain,
atau beberapa kombinasi kata di atas (Simamora, 2014). Menurut
(Sumarwan, 2013) mendefinisikan merek sebagai simbol dan indikator
kualitas dari sebuah produk
Indikator Citra Merek
Menurut Da Silva dan Alwi (2006) menyebutkan indikator citra
merek antara lain :
1) The level of physical attributtes yaitu mengenal nama merek, logo
atau lambang merek.
2) The level of the Functional implication yaitu resiko atau manfaat yang
akan diperoleh.
3) The psychosocial implication yaitu perasaan senang dan nyaman
ketika memakainya.
Sedangkan menurut Villegas yang dikutip oleh Perdana (2010)
menambahkan bahwa indikator citra merek adalah image yang positif
(kesan yang baik). Dari teori di atas maka dirumuskan indikator-indikator
citra merek sebagai berikut:
1) Mengenal merek tersebut.
2) Merek yang terpercaya.
3) Merek yang berkualitas.
Faktor-Faktor Pembentuk Citra Merek
Menurut Sciffman dan Kanuk (2010) ada beberapa faktor
pembentuk citra merek, sebagai berikut :
1) Kualitas dan mutu, berkaitan dengan kualitas produk barang yang
ditawarkan oleh produsen dengan merek tertentu.
2) Dapat dipercaya atau diandalkan, berkaitan dengan pendapat atau
kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat tentang suatu produk
yang dikonsumsi.
3) Kegunaan atau manfaat, yang terkait dengan fungsi dari suatu produk
yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
4) Pelayanan, yang terkait dengan tugas produsen dalam melayani
konsumennya.
5) Resiko, terkait dengan besar kecilnya akibat untung dan rugi yang
mungkin dialami oleh konsumen.
6) Harga, yang dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau
banyak sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan oleh konsumen
untuk mempengaruhi suatu produk, juga dapat mempengaruhi citra
jangka panjang.
7) Citra yang dimiliki oleh merek itu sendiri, yaitu berupa pandangan,
kesepakatan, dan informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari
produk tertentu
Definisi Citra Merek
Menurut Kotler (2009) menyebutkan citra merek adalah
persepsi masyarakat terhadap perusahaan atau produknya. Citra
dipengaruhi oleh banyak faktor yang di luar kontrol perusahaan. Citra
yang efektif akan berpengaruh terhadap tiga hal yaitu : pertama,
memantapkan karakter produk dan usulan nilai. Kedua, menyampaikan
karakter itu dengan cara yang berbeda sehingga tidak dikacaukan dengan
karakter pesaing. Ketiga, memberikan kekuatan emosional yang lebih
dari sekadar citra mental. Supaya bisa berfungsi citra harus disampaikan
melalui setiap sarana komunikasi yang tersedia dan kontak merek.
Menurut Hossain (2007) menyatakan bahwa citra merek adalah
keseluruhan dari persepsi konsumen mengenai merek atau bagaimana
mereka mengetahuinya. Hal tersebut dipertegas oleh Simamora (2008)
bahwa citra adalah persepsi yang relatif konsisten dalam jangka panjang
(enduring perception) maka tidak mudah untuk membentuk citra,
sehingga bila telah terbentuk akan sulit mengubahnya.
Menurut Supranto dan Limakrisma (2011) menyatakan citra
merek adalah apa yang konsumen pikir dan rasakan ketika mendengar
atau melihat suatu merek dan apa yang konsumen pelajari tentang merek.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa citra merek adalah sekumpulan
asosiasi merek yang dapat konsumen rasakan dan dipikirkan yang
diciptakan dan dipelihara oleh pemasar agar terbentuk di dalam benak
konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2009) citra merek adalah sejumlah
keyakinan, ide, dan kesan yang dipegang oleh seseorang tentang sebuah
objek. Sedangkan citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang
dipegang oleh konsumen, seperti yang dicerminkan asosiasi yang
tertanam dalam ingatan konsumen. Sedangkan menurut Utami (2010)
citra merek adalah serangkaian asosiasi yang biasanya diorganisasikan di
seputar beberapa tema yang bermakna.
Indikator Minat Beli
Menurut Ferdinand (2002), minat beli dapat dikelompokkan menjadi
beberapa jenis dan tingkatan, yaitu:
a. Minat Transaksional
Kecenderugan seseorang untuk membeli produk. Hal ini bermaksud
yakni konsumen telah memiliki minat untuk melakukan pembelian
suatu produk tertentu yang diinginkan.
b. Minat Referensial
Kecenderungan konsumen untuk mereferensikan produk kepada orang
lain. Hal ini bermaksud yakni seorang konsumen yang telah memiliki
minat untuk membeli akan menyarankan kepada orang lain untuk
melakukan pembelian yang sama.
c. Minat Preferensial
Minat yang menggambarkan perilaku konsumen yang memiliki
preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat
diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
d. Minat Eksploratif
Menggambarkan perilaku konsumen yang selalu mencari informasi
mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk
mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli
Menurut Assael (2002), terdapat dua factor yang dapat mempengaruhi
minat beli konsumen, yaitu:
a. Lingkungan
Lingkungan disekitar dapat mempengaruhi minat beli konsumen
dalam pemilihan suatu produk tertentu.
b. Stimulus Pemasaran
Pemasaran berupaya menstimulus konsumen sehingga dapat menarik
minat beli konsumen.
Kemudian menurut Abdurachman (2004), terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi minat beli konsumen, diantaranya:
a. Faktor Kualitas
Atribut produk yang dipertimbangkan dari segi manfaat fisiknya.
b. Faktor Merek
Atribut yang memberikan manfaat non material, yaitu kepuasan
emosional.
c. Faktor Kemasan
Atribut produk berupa pembungkus atau penutup daripada produk
utamanya.
d. Faktor Harga
Pengorbanan riil dan materiel yang diberikan oleh konsumen untuk
memperoleh atau memiliki produk.
e. Faktor Ketersediaan Barang
Sejauh mana sikap konsumen terhadap ketersediaan produk yang ada.
f. Faktor Acuan
Pengaruh dari luar yang ikut memberikan rangsangan bagi konsumen
dalam memilih produk, sehingga dapat pula dipakai sebagai media
promosi.
Tahapan Minat Beli
Terdapat empat tahapan produsen dalam menentukan minat beli atau
menentukan dorongan konsumen dalam melakukan pembelian terhadap
produk atau jasa yang ditawarkan. Menurut Kotler (2008) empat tahapan
tersebut dikenal dengan model AIDA, yaitu: Attention, Interest, Desire,
Action.
a. Attention, tahap ini merupakan tahap awal dalam menilai suatu produk
atau jasa sesuai dengan kebutuhan calon konsumen, selain itu calon
konsumen juga mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan.
b. Interest, dalam tahap ini calon konsumen mulai tertarik untuk
melakukan pembelian terhadap produk atau jasa yang ditawarkan,
setelah mendapatkan informasi yang lebih terperinci mengenai produk
atau jasa yang ditawarkan.
c. Desire, pada tahap ini calon konsumen mulai memikirkan serta
berdiskusi mengenai produk atau jasa yang ditawarkan, karena hasrat
dan keinginan untuk membeli mulai timbul. Dalam tahap ini calon
konsumen sudah mulai berminat terhadap produk atau jasa yang
ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya minat yang kuat dari
calon konsumen untuk melakukan pembelian dan mencoba produk
atau jasa yang ditawarkan.
d. Action, pada tahap ini calon konsumen telah mempunyai kemantapan
yang tinggi untuk melakukan pembelian atau menggunakan produk
atau jasa yang ditawarkan.
Aspek – Aspek Minat Beli
Minat beli merupakan tahap akhir dari suatu proses keputusan pembelian
yang kompleks. Proses ini dimulai dari munculnya kebutuhan akan suatu
produk atau merek, kemudian pemrosesan informasi oleh konsumen,
selanjutnya konsumen akan melakukan evaluasi terhadap produk atau
merek tersebut. Hasil dari evaluasi tersebut kemudian memunculkan niat
atau keputusan untuk melakukan pembelian. Menurut Schiffman dan
Kanuk (2007), terdapat beberapa aspek minat beli pada konsumen,
diantaranya:
a. Tertarik untuk mencari informasi tentang produk.
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk
mencari informasi mengenai produk tersebut. Level pencarian yang
lebih ringan atau penguatan perhatian dan level aktif mencari informasi
yaitu dengan mencari bahan bacaan, bertanya kepada teman, atau
mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu.
b. Mempertimbangkan untuk membeli.
Melalui pengumpulan informasi, kemudian konsumen mempelajari
merek-merek yang bersaing serta fitur dari merek tersebut. Melakukan
evaluasi terhadap pilihan-pilihan dan mulai mempertimbangkan untuk
melakukan pembelian produk.
c. Tertarik untuk mencoba.
Setelah konsumen berusaha memenuhi kebutuhan, mempelajari merek
yang menjadi pesaing dari produk tersebut serta fitur merek tersebut,
kemudian konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan
melakukan evaluasi terhadap produk-produk tersebut. Evaluasi ini
dianggap sebagai proses yang berorientasi kognitif, maksudnya adalah
konsumen dianggap menilai suatu produk secara sangat sadar dan
rasional hingga mengakibatkan ketertarikan untuk mencoba.
d. Ingin mengetahui produk.
Setelah memiliki ketertarikan untuk mencoba suatu produk, konsumen
akan memiliki keinginan untuk mengetahui produk. Konsumen akan
memandang produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan
yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk
memuaskan kebutuhan
Definisi Minat Beli Penumpang
Minat beli konsumen pada dasarnya merupakan faktor pendorong dalam
pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk. Beberapa ahli
menjelaskan mengenai pengertian dari minat beli, diantaranya:
a. Menurut Abdullah (2003), minat beli merupakan bagian dari
komponen perilaku konsumen dalam sikap mengkonsumsi,
kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan
membeli benar-benar dilaksanakan.
b. Menurut Kotler (2008), minat beli merupakan sesuatu yang timbul
setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihatnya, dari
sana timbul ketertarikan untuk mencoba produk tersebut sampai
pada akhirnya timbul keinginan untuk membeli agar dapat
memilikinya.
c. Menurut Sciffman dan Kanuk (2007), minat beli adalah suatu
model sikap seseorang terhadap objek barang yang sangat cocok
dalam mengukur sikap terhadap golongan produk, jasa, atau merek
tertentu.
d. Menurut Durianto (2013), minat beli adalah keinginan untuk
memiliki produk, minat beli akan timbul apabila seseorang
konsumen sudah terpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari suatu
produk, informasi seputar produk.
Dari beberapa pengertian para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
minat beli merupakan suatu proses perencanaan pembelian suatu produk
barang atau jasa, melakukan perencanaan, mengambil tindakan-tindakan
seperti mengusulkan, merekomendasikan, memilih, dan akhirnya
mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.
Manfaat Citra Merek (Brand Image)
Citra merek (brand image) yang telah dibentuk oleh perusahaan dan sudah
menjadi persepsi konsumen akan memberikan manfaat baik bagi
perusahaan. Adapun manfaat citra merek (brand image) adalah sebagai
berikut :
a. Bagi Perusahaan Menurut Tjiptono (2011),
1) Untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakproduk
bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan
pencataan akuntansi.
2) Untuk menciptakan asosiasi dan makna unik yang
membedakan produk dari para persaing.
3) Untuk meningkatkan kualitas produk atau jasa sehimgga
konsumen merasa puas dan mereka bisa dengaan mudahnya
memilih dan minat membelinya lagi dilain waktu.
4) Sumber keungguan kompetitif, terutama melalui perlindungan,
loyalitas konsumen, dan citra merek yang terbentuk dalam
pikiran konsumen.
5) Sumber financial returns, terutama menyangkut pendapat masa
yang akan datang.
b. Bagi Konsumen Menurut Suntoyo (2012),
1) Mempermudah konsumen meneliti produk atau jasa. Untuk
merek-merek produk yang sudah terkenal, konsumen seolah-
olah sudah menjadi percaya terutama dari segi kualitas produk
atau jasa, pelayanan dan harga.
2) Membantu konsumen dalam memperoleh kualitas produk atau
jasa, pelayanan jika konsumen membeli ulang atau
menggunakan ulang produk atau jasa tersebut.
- Indikator Citra Merek (Brand Image)
Menurut Freddy Rangkuti (2009), citra merek (brand image) memiliki
beberapa indikator-indikator yang mencirikannya, diantaranya adalah
sebagai berikut :
a. Recognition (Pengenalan)
Tingkat dikenalnya sebuah merek oleh konsumen, jika sebuah merek
tidak dikenal maka produk atau jasa dengan merek tersebut harus
dijual dengan mengandalkan harga termurah seperti pengenalan logo,
tagline, desain produk atau jasa maupun hal lainnya sebagai identitas
dari merek tersebut.
b. Reputation (Reputasi)
Merupakan suatu tingkat reputasi atau status yang cukup tinggi bagi
sebuah merek karena memiliki track record yang baik, sebuah merek
yang disukai konsumen akan lebih mudah dijual dan sebuah produk
atau jasa yang dipersepsikan memiliki kualitas yang tinggi akan
mempunyai reputasi yang baik. Seperti persepsi dari konsumen dan
kualitas produ atau jasa yang ditawarkan.
c. Affinity (Daya Tarik)
Merupakan Emotional Relationship yang timbul antara sebuah merek
dengan konsumennya. Hal tersebut dapat dilihat dari harga, kepuasan
konsumen dan tingkat aosiasi.
d. Loyality (Kesetiaan)
Menyangkut seberapa kesetiaan konsumen dari suatu produk atau jasa
yang menggunakan merek yang bersangkutan. Apabila sebuah merek
telah dikenal oleh masyarakat, serta memiliki track record yang baik di
mata konsumen maka akan menimbulkan daya tarik bagi konsumen
dan konsumen tersebut akan menjadi konsumen yang setia terhadap
merek tersebut
Komponen – Komponen Citra Merek (Brand Image)
Menurut Joseph Plummer (2007), citra merek (brand image) terdiri dari
tiga komponen, yaitu sebagai berikut :
a. Attributes (Atribut), definisi atribut ada deskriptif terkait dengan fitur
yang tersedia didalam produk atau jasa.
1) Product Related Attributes (Atribut Produk)
Atribut produk ini adalah bahan yang dibutuhkan agar fungsi
produk yang dibutuhkan konsumen dapat berjalan lancar. Hal ini
terkai dengan komposisi fisik atau syarat-syarat dari suaty hasa
yang ditawarkan dapat berfungsi.
2) Non-Product Related Attributes (Atribut Non-Produk)
Atribut non produk ini adalah aspek eksternal dari produk yang
terkait dengan pembelian atau konsumsi produk atay jasa. Hal ini
terdiri dari informasi harga, kemasan atau desain produk atau jasa,
bagaimana dan dimana produk atau jasa tersebut dapat digunakan.
b. Benefits (Keuntungan), merupakan yang didapatkan dari suatu produk
dapat dikaitan dengan atribut produk atau jasa tersebut.
1) Functional Benefits
Functional benefits ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar,
seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
2) Experiental Benefits
Experiental benefits ini terkai dengan perasaan yang timbul akibat
dari memakai atau mebggunakan produk atau jasa.
3) Symbolic Benefits
Symbolic benefits ini berkaitan dengan kebutuhan akan persetujuan
sosial atau ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen
akan menghargai nilai eksklusivitas serta gaya fashion merek
karena hal ini terkait dengan konsep diri mereka.
c. Brand Attitude (Sikap Merek)
Brand attitude dapat diartikan sebagai evaluasi atas merek tertentu, apa
yang dapat dipercaya konsumen terkait dengan merek tersebut, sejauh
mana konsumen percaya bahwa produk atau jasa tersebutmemiliki
keuntungan tertentu dan juga evaluatif pada kepercayaan tersebut.
Definisi Citra Merek (Brand Image)
Citra merek (brand image) merupakan representasi dari keselurahan
presepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman
masa lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek berhubungan dengan
sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek.
Konsumen yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek, akan
lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
Beberapa ahli menjelaskan mengenai pengertian dari citra merek
(brand image) seperti menurut Schiffman dan Kanuk (2007), citra merek
(brand image) adalah sekumpulan asiosiasi mengenai suatu merek yang
yang tersimpan dalam benak atau ingatan konsumen. Sedangkan menurut
Kolter (2002), citra merek (brand image) adalah perangkat keyakinan, ide
dan kesan yang dimiliki oleh seseorang pada suatu merek. Adapun
menurut Supranto (2011), citra merek (brand image) yaitu apa yang
konsumen pikirkan atau rasakan ketika mereka mendengar, melihat nama
suatu produk atau pada inti apa yang konsumen telah pelajari atau ketahui.
Durianto, Sugianto dan Sitinjak (2004) juga menjelaskan pengertian citra
merek (brand image) adalah asosiasi brand yang saling terkait dan
menimbulkan rangkaian pada ingata konsumen. Brand image dibentuk
didalam benak konsumen karena mereka terbiasa menggunakan brand
tertentu serta terdapat kosistensi terhadap brand image
Peran Media Sosial Pemasaran
Menurut penelitian (Rudi Yanto Batara Silalahi 2019) Peran pemasaran
media sosial adalah sebagai berikut:
- Memberikan identitas barang, jasa atau perusahaan yang disediakan
- Membantu membina hubungan dengan orang-orang baru yang belum
tahu tentang produk dan jasa perusahaan - Untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan apa yang dicari
konsumen, karena media sosial sangat penting dalam pemasaran,
diharapkan dapat memamerkan produk dan mendorong konsumen
menggunakan produk atau layanan yang ditawarkan oleh media sosial.
Langkah-langkah yang kan dilakukan oleh peneliti dalammemperoleh analisis
data yaitu antara lain: - Membuat daftar pertanyaan yang akan digunakan pada saat wawancara.
- Melakukan wawancara dengan pemilik Nasi goreng Surabaya
melakukan observasi serta melakukan dokumentasi sebagai bukti dari
adanya hasil wawancara dan observasi yang telah berlangsung. - Mengumpulkan informasi serta data dari hasil wawancara dan
observasi yang telah dilakukan. - Dalam hasil kesimpulan dapat diambil berdasarkan pada informasi yang
telah diperoleh dari bentuk hasil wawancara dan observasi
Manfaat Media Sosial Pemasaran
Menurut (Primabda Syafrizal Helmi) manfaat dari penggunaan media
sosial pemasaran pada UMKM diantaranya:
- Sebagai cara untuk terlibat secara langsung dengan pelanggan
- Bermanfaat untuk mendorong atau sarana promosi
- Mencatat kebutuhan pelanggan
- Memberikan respons kepada pelanggan dan memengaruhi keputusan
bisnis - Sebagai forum diskusi di internet
- Monitor pelanggan melalui internet
- Survey pengguna
- Informasikan kebutuhan pemasok
- Mengintegrasikan galeri produk
Pengertian Media Sosial Pemasaran
Menurut (Nunik 2019) Pemasaran media sosial adalah jenis
komunikasi interaktif yang digunakan oleh perusahaan untuk berkomunikasi
dengan konsumen dan sebaliknya dengan tujuan meningkatkan penjualan
barang dan jasa yang dijual oleh perusahaan. Menurut (As’ad Alhadid
2017). Pemasaran media sosial adalah teknik pemasaran yang digunakan
oleh orang-orang di jaringan online. Menurut (Gunelius 2011) Pemasaran
media sosial adalah jenis pemasaran langsung
atau tidak langsung yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran,
pengakuan, penarikan kembali, dan tindakan konsumen terhadap merek,
perusahaan, produk, individu, atau entitas lain. Penggunaan alat web sosial
seperti blog, mikroblog, jejaring sosial, bookmark sosial, dan berbagi konten
adalah cara untuk mencapainya
Pengaruh Electronic Word Of Mouth (E-WOM) Terhadap KeputusanPembelian
E-WOM dianggap lebih dapat dipercaya dibandingkan iklan tradisional karena
informasinya berasal dari pengguna lain yang tidak memiliki minat langsung
terhadap merek tersebut. Ulasan positif dari konsumen lain dapat meningkatkan
kepercayaan pelanggan terhadap suatu produk atau layanan dan mendorong
pembelian (Ismagilova et al., 2020). Menurut penelitian (Nyoko & Semuel, 2021)
menunjukkan bahwa electronic word of mouth (E-WOM) memegang peranan
penting dalam keputusan pembelian.
Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian
Citra merek yang positif memperkuat kepercayaan konsumen terhadap suatu
produk atau layanan. Konsumen cenderung percaya dan merasa aman terhadap
produk bermerek dengan reputasi yang baik. Kepercayaan ini mengurangi risiko
yang dirasakan dan memungkinkan konsumen untuk membuat keputusan pembelian
dengan lebih percaya diri (Wadud Ubaidillah, 2023). Penelitian (Apriany &
Gendalasari, 2022) menunjukkan bahwa citra merek memiliki pengaruh positif
terhadap keputusan pembelian.
Dimensi Keputusan Pembelian
Menurut Alma (2018) dimensi keputusan membeli adalah sebagai berikut:
- Pengenalan Kebutuhan
saat mengenali kebutuhan atau masalah, seseorang merasakan adanya dorongan
untuk membeli sesuatu. - Rangsangan internal
Pancingan yang datang dari dalam diri, misalnya saat seseorang merasa lapar. - Rangsangan eksternal
Pancingan yang datang dari luar, misalnya keinginan untuk mengajak teman atau
karena iklan makanan tertentu. - Riset informasi
Pencarian informasi tentang apa yang ingin dibeli, model apa, di mana,
mengarahkan seseorang untuk mencari informasi dari sumber pribadi seperti
keluarga, teman, dan tetangga. Dari sumber komersial seperti iklan, vendor, dan
etalase. Dari sumber publik seperti media massa, surat kabar, televisi, dan radio.
Dan dari pengalaman masa lalu, saya pernah menggunakan suatu produk atau
melihat produk tersebu
Indikator Keputusan Pembelian
Menurut (Purwaningsih, 2021) menyatakan bahwa terdapat empat indikator
keputusan pembelian, yaitu:
- Pencarian informasi
Konsumen mencari informasi yang relevan untuk membantu mereka menentukan
produk atau layanan mana yang akan dibeli. Pada tahap ini, konsumen berusaha
memperoleh data sebanyak mungkin mengenai produk, merek, harga, kualitas,
fitur, atau pengalaman pengguna lainnya. - Sesuai kebutuhan
Sejauh mana produk atau layanan tersebut mampu memenuhi kebutuhan atau
keinginan konsumen secara spesifik. Konsumen cenderung membeli barang atau
jasa yang dianggap paling relevan dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan
mereka. - Prioritas pembelian
Tingkat kepentingan suatu kebutuhan atau keinginan yang memengaruhi keputusan
pembelian tersebut. Prioritas pembelian berarti konsumen menentukan produk atau
jasa yang akan dibeli berdasarkan kebutuhan atau preferensi utama yang dianggap
paling penting. - Konsumen merasa puas
Konsumen merasa puas mengacu pada ukuran atau tanda-tanda yang
menggambarkan bahwa konsumen telah mencapai tingkat kepuasan setelah
melakukan pembelian
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian mencakup serangkaian langkah yang diambil konsumen
sebelum melakukan transaksi, dimulai dari pengenalan kebutuhan hingga evaluasi
pasca-pembelian. Zusrony (2021) dalam bukunya menjelaskan bahwa proses ini
melibatkan pertimbangan apakah konsumen akan melakukan pembelian atau
menunda keputusan tersebut. Tahap ini menjadi inti dari perilaku konsumen karena
mencerminkan bagaimana individu menentukan pilihan yang dianggap paling sesuai
dengan kebutuhannya. Faktor-faktor seperti ketersediaan informasi, harga, kualitas,
dan pengaruh sosial sering kali memainkan peran signifikan dalam membantu
konsumen membuat keputusan akhir.
Zusrony (2021) juga menekankan bahwa keputusan pembelian tidak hanya
terbatas pada aktivitas membeli tetapi juga mencakup bagaimana konsumen
memanfaatkan produk atau jasa yang telah dibeli. Proses ini dipengaruhi oleh
pengalaman dan persepsi konsumen terhadap nilai yang diberikan produk tersebut.
Keputusan yang diambil tidak hanya berdampak pada kepuasan pribadi konsumen
tetapi juga pada loyalitas mereka terhadap merek tertentu. Dengan memahami proses
pengambilan keputusan konsumen, pemasar dapat mengembangkan strategi yang
lebih efektif untuk memenuhi kebutuhan pasar dan mendorong pembelian ulang.
Tujuan perusahaan adalah untuk melaksanakan kegiatan pemasaran yang
bertujuan untuk memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Keputusan
pembelian dapat dipahami sebagai suatu proses yang dilalui konsumen untuk
membeli suatu produk yang sesuai setelah terlebih dahulu dihadapkan pada beberapa
alternatif dan kemudian mengambil keputusan berdasarkan preferensi konsumen
tersebut (Khafidin, 2020)
Faktor-faktor yang mempengaruhi Electronic Word Of Mouth (E-WOM)
Menurut Ismagilova (2017:32) dalam (Amil, 2021) juga terdapat 4 faktor yang
mempengaruhi keinginan seseorang untuk berbagi dalam E-WOM yaitu:
- Kepuasan (Keadaan yang terjadi ketika kepuasan konsumen terpenuhi).
- Loyalitas (Keinginan untuk melakukan pembelian berulang dan melakukan
tindakan lain yang menunjukkan motivasi terhadap penyedia layanan atau
produk). - Komitmen (Keinginan konsumen untuk mempertahankan hubungan dengan
perusahaan). - Kepercayaan (Kesediaan untuk mengandalkan mitra pertukaran yang dapat
dipercaya).
Faktor pembentuk Electronic Word Of Mouth (E-WOM)
Menurut (Yulianti et al., 2024) terdapat faktor pembentuk dari e-WOM yaitu:
- Platform assistant. Hal ini dijelaskan sebagai parameter kemudahan untuk
medapatkan informasi mengenai barang atau jasa. - Expressing positive feelings. Parameter kepuasan konsumen pada produk atau
layanan sehingga menciptakan perasaan positif mengenai suatu produk. - Economics incentives. Sebagai parameter untuk mendapatkan informasi
mengenai hadiah pembelian seperti diskon dari sebuah barang atau jasa. - Helping the company. Parameter keinginan konsumen untuk membantu
perusahaan memasarkan suatu produk. - Concertn of other. Parameter untuk memastikan tentang informasi yang dibagian
sesuai dengan kualitas suatu produk atau layanan
Indikator Electronic Word Of Mouth (E-WOM)
Adapun Indikator E-WOM menurut Thurau et al.(2004) dalam (Liyono Arie,
2022) yaitu:
- Intensity
Intensitas dalam EWOM mengacu pada komentar yang ditulis oleh konsumen
dijejaring sosial dan seberapa sering informasi itu disebarkan. Semakin tinggi
intensitas nya maka semakin besar potensi informasi menjaungkau audiens. - Valance of opinion
Suatu opini yang dibuat oleh konsumen mengenai suatu produk, layanan, dan
merek. Opini ini dapat berbentuk positif dan negatif. - Content
Konten merujuk pada informasi relevan yang disebarkan melalui E-WOM.
Informasi ini bersifat detail, menarik, dan dapat mempengaruh preferensi
konsumen.
Pengertian Electronic Word Of Mouth (E-WOM)
Electronic Word of Mouth (E-WOM) didefinisikan oleh Kotler & Keller (2016)
sebagai strategi pemasaran yang memanfaatkan internet untuk menciptakan efek
berita dari mulut ke mulut secara digital. Dengan penyebaran informasi yang cepat
melalui media sosial, forum online, dan platform ulasan, E-WOM memberikan
peluang bagi perusahaan untuk mencapai audiens yang lebih luas secara efisien.
Strategi ini tidak hanya membantu meningkatkan kesadaran merek tetapi juga
memungkinkan perusahaan untuk membangun hubungan yang lebih personal dengan
konsumen melalui interaksi langsung dan feedback yang diterima secara cepat.
Faktor-faktor yang membentuk Citra Merek
Menurut (Kotler & Keller, 2016) dalam (Jaya et al., 2020) dimensi citra merek
adalah sebagai berikut:
- Kualitas atau kebaikan, mengacu pada mutu produk atau jasa yang ditawarkan
oleh perusahaan. - Dapat dipercaya dan dapat diandalkan, mengacu pada pendapat atau persetujuan
masyarakat terhadap suatu produk atau jasa yang digunakan atau diminati oleh
konsumen. - Kegunaan atau manfaat, mengacu pada fungsi suatu produk atau jasa yang dapat
digunakan oleh konsumen. - Pelayanan, yang mengacu pada tugas perusahaan dalam melayani konsumen.
- Risiko, mengacu pada tingkat konsekuensi atau keuntungan dan kerugian yang
mungkin dialami konsumen. - Harga, yang mengacu pada tingkat harga atau jumlah uang yang dibelanjakan
konsumen untuk suatu produk atau layanan, juga dapat memengaruhi citra merek
jangka panjang. - Image, yang dimiliki merek itu sendiri, yaitu berupa pelanggan, kesempatan dan
informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk tertentu.
Dimensi Citra Merek
Menurut (Kotler & Keller, 2016) dalam (Fachry, 2020) dimensi citra merek
adalah sebagai berikut:
- Brand Identity
Dimensi pertama adalah identitas merek. Identitas merek adalah identitas fisik
yang dikaitkan dengan merek atau produk sehingga konsumen dapat dengan
mudah mengenalinya dan membedakannya dari merek atau produk lain, misalnya
logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahaan, slogan, dan sebagainya. - Brand Personality
Dimensi kedua adalah kepribadian merek. Kepribadian merek adalah karakter
khas dari sebuah merek yang mirip manusia dan membentuk kepribadian tertentu
sehingga konsumen dapat dengan mudah membedakannya dengan merek lain
dalam kategori yang sama, misalnya tegas, kaku, berwibawa, mulia atau murah
senyum, hangat, penuh kasih sayang, sosial atau dinamis, kreatif, mandiri, dan
lain-lain. - Brand Association
Dimensi ketiga adalah asosiasi merek. Asosiasi dengan merek mengacu pada hal-
hal tertentu yang terkait dengan merek, misalnya penawaran produk yang unik,
aktivitas yang berulang dan konsisten seperti kegiatan sponsor atau tanggung
jawab sosial, topik yang sangat terkait dengan merek, atau seseorang. - Brand Attitude & Behavior
Dimensi keempat adalah sikap terhadap merek atau sikap dan perilaku merek.
Sikap dan perilaku merek adalah sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi
merek dengan konsumen dalam menawarkan manfaat dan nilai-nilainya.
Seringkali sebuah merek menggunakan cara komunikasi yang tidak tepat dan
tidak etis serta pelayanan yang buruk, sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku
merek tersebut kepada masyarakat, atau sebaliknya menyenangkan, jujur,
konsisten antara janji dan kenyataan, pelayanan yang baik dan kepedulian
terhadap lingkungan dan masyarakat luas membentuk persepsi yang baik
terhadap sikap dan perilaku merek tersebut. Oleh karena itu, sikap dan perilaku
merek mencakup sikap dan perilaku komunikasi, aktivitas, dan atribut yang
diasosiasikan dengan merek saat berhubungan dengan konsumen, termasuk
perilaku karyawan dan pemilik merek. - Brand Benefit & Competence
Dimensi kelima adalah brand benefits and competences atau manfaat dan
keunggulan merek. Manfaat dan kompetensi merek adalah nilai dan keunggulan
khas yang ditawarkan sebuah merek kepada konsumen, sehingga konsumen
merasakan manfaatnya karena kebutuhan, keinginan, impian, dan obsesinya
terpenuhi oleh penawaran tersebut. Nilai dan manfaat di sini dapat bersifat
fungsional, emosional, simbolis dan sosial, misalnya sebuah merek deterjen
dengan manfaat membersihkan pakaian (fungsional), membuat pemakai pakaian
yang dibersihkan merasa percaya diri (emosional), menjadi simbol gaya hidup
masyarakat modern yang bersih (simbolis) dan menginspirasi lingkungan sekitar
untuk menjaga kebersihan diri, lingkungan dan hati nurani (sosial)
Indikator Citra Merek
Menurut (Rahmah, 2022) indikator-indikator citra merek adalah sebagai berikut:
- Kekuatan asosiasi merek
Kekuatan yang terdapat dalam suatu produk terhadap produk lain sehingga
menjadi keunggulan yang dapat dipertahankan atau dilakukan inovasi. - Kesukaan asosiasi merek
Kesukaan terhadap merek adalah kemampuan pelanggan untuk mengingat suatu
merek setiap mereka akan melakukan pembelian. Hal ini terjadi karena konsumen
tersebut suka terhadap merek tersebut dan percaya bahwa merek tersebut tidak
akan mengecewakannya. - Keunikan asosiasi merek
Keunikan suatu merek adalah kemampuan yang dimiliki sebuah merek sehingga
merek tersebut istimewa dan dapat membedakannya dari pesaing
Pengertian Citra Merek
Aaker dalam Simamora menjelaskan bahwa brand image merupakan sekumpulan
asosiasi unik yang ingin dibangun atau dipertahankan oleh para pemasar. Asosiasi
tersebut menjelaskan esensi dari sebuah merek dan janji kepada pelanggan. Merek
dagang melambangkan dan mengidentifikasi kualitas suatu produk. Oleh karena itu,
merek produk yang sudah ada selama bertahun-tahun menjadi sebuah image dan
status bagi para penggunanya yang dapat meningkatkan reputasinya. Menurut
Simamora, asosiasi merek menurut Aaker merupakan sekumpulan entitas yang
diasosiasikan dengan merek. Kehadiran asosiasi terhadap merek akan semakin kuat
apabila pelanggan memiliki banyak pengalaman dalam bertransaksi dengan merek
tersebut (Zahra, 2017).
Faktor yang mempengaruhi efektifitas Digital Marketing
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas digital marketing (Aeni,
2024) yaitu:
- Sasaran Pasar.
Faktor terpenting dalam memilih target pasar adalah jika anda ingin
mempromosikan produk Anda di setiap platform di Internet dan berfokus pada
jutaan pengguna Internet sebagai target pasar anda, itu melibatkan biaya yang
sangat besar. - Teknologi.
Teknologi merupakan tulang punggung digital marketing, sehingga penting bagi
para pemasar untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi terkini. - Konten.
Konten yang dihasilkan harus mudah dipahami oleh konsumen dengan
menggunakan bahasa yang lugas dan menampilkan konten yang menarik untuk
menarik minat konsumen. - Anggaran.
Pemasaran digital memang lebih murah daripada pemasaran tradisional, tetapi
tidak gratis. Oleh karena itu, perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk hal
ini. - Media Sosial.
Banyak perusahaan yang berkecimpung di media sosial. Media sosial merupakan
media untuk saling terhubung secara daring tanpa dibatasi oleh batasan waktu
Dimensi Digital Marketing
Dimensi penjualan digital marketing merupakan bagian dari faktor pemasaran 4P
menurut Kotlar dan Keller (2012: 25) dalam (Nurhidayati et al., 2023) yaitu product,
price, place, promotion yaitu:
- Product (produk).
Sesuatu yang dapat ditawarkan di pasar untuk menarik perhatian sehingga produk
yang dijual dibeli, digunakan atau dikonsumsi, yang dapat memenuhi suatu
keinginan atau kebutuhan konsumen. - Price (harga).
Nilai yang dipertukarkan konsumen untuk mendapatkan manfaat dari
kepemilikan atau penggunaan suatu produk atau jasa, yang nilainya ditentukan
oleh negosiasi antara pembeli dan penjual, atau yang ditetapkan oleh penjual
dengan harga yang sama untuk semua pembeli. - Place (tempat).
Lokasi terkait dengan saluran penjualan yang akan digunakan untuk menjangkau
pelanggan sasaran. Sistem distribusi ini meliputi lokasi, transportasi,
pergudangan, dan lain-lain. - Promotion (promosi).
Promosi penjualan mengacu pada kegiatan yang menyampaikan manfaat produk
dan membujuk pelanggan untuk membelinya
Indikator Digital Marketing
Menurut Yazer Nasdini (2012:32) dalam (Belan, 2024) digital marketing
memiliki 6 indikator yaitu:
- Accessibility (aksessibilitas).
Kemampuan pengguna untuk mengakses informasi dan layanan yang disediakan
melalui iklan daring. Istilah aksesibilitas secara umum mengacu pada cara
pengguna dapat mengakses situs media sosial. - Interactivity (interaktivitas).
Tingkat komunikasi dua arah, yang mengacu pada kemampuan komunikasi dua
arah antara pengiklan dan konsumen serta respons terhadap masukan yang
diterima. - Entertainment (hiburan).
Kemampuan iklan untuk memberikan kesenangan atau hiburan kepada
konsumen. Secara umum, banyak iklan yang memberikan hiburan sekaligus
informasi. - Credibility (kepercayaan).
Seberapa dapat dipercayanya iklan yang ditayangkan kepada konsumen secara
daring dan sejauh mana iklan tersebut memberikan informasi tentang mereka
yang dapat dipercaya, tidak memihak, kompeten, kredibel, dan spesifik. - Irritation (kejengkelan).
Gangguan dalam periklanan daring, seperti manipulasi iklan yang menyebabkan
penipuan atau pengalaman konsumen yang buruk dengan iklan daring. - Informativeness (informative).
Kemampuan sebuah iklan untuk memberikan informasi kepada konsumen
merupakan hakikat sebuah iklan. Sebuah iklan juga harus memberikan deskripsi
yang jujur tentang sebuah produk agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi
konsumen.
Pengertian Digital Marketing
Menurut Kotler dan Armstrong (2018:34), digital marketing dan media sosial
mencakup penggunaan perangkat pemasaran digital seperti situs web, jejaring sosial,
iklan seluler, aplikasi, video daring, email, dan platform digital lainnya untuk
menjangkau konsumen di berbagai tempat dan kapan saja melalui PC, smartphone,
tablet, televisi, dan fungsi digital lainnya. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan
untuk memperhatikan dan memenuhi harapan pelanggan guna meningkatkan
kepuasan konsumen terhadap produk atau layanan yang ditawarkan perusahaan.
Harapan pelanggan merupakan pemikiran yang harus dipenuhi oleh penyedia
layanan (produsen) dan terkait dengan keputusan pembelian produk yang harus
diperhitungkan oleh Perusahaan (Noviaty et al., 2022).
Digital Marketing atau bisa disebut pemasaran digital adalah suatu usaha atau
metode untuk memasarkan sebuah merek atau produk dengan menggunakan media
pendukung dalam bentuk digital. Metode ini mampu menjangkau konsumen baik
secara pribadi, relevan dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan atau keinginan
konsumen. Sejak awal tahun 2000, teknologi informasi telah memasuki pasar utama
dan dikembangkan labih jauh menjadi apa yang disebut sebagai new wave
technology. Menurut Kotler dalam (Musnaini et al., 2020) New wave technology
adalah teknologi yang memungkinkan konektivitas dan interaktivitas antar individu
dan kelompok.
Digital marketing merupakan bagian integral dari riset pemasaran, karena proses
ini melibatkan pengumpulan, analisis, dan pelaporan data yang diperoleh melalui
platform digital untuk mendukung keputusan pemasaran. Hair et al. (2021) dalam
Gea et al., (2024) menjelaskan bahwa digital marketing memungkinkan perusahaan
untuk mengakses data konsumen secara real-time, yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, mengembangkan strategi pemasaran, dan
mengevaluasi keberhasilan kampanye. Dengan menggunakan pendekatan sistematis
ini, perusahaan dapat memastikan bahwa aktivitas pemasaran digital seperti
kampanye media sosial, email marketing, dan optimasi mesin pencari (SEO)
dirancang untuk mencapai tujuan spesifik dan memberikan hasil yang terukur
Indikator Minat Beli
Menurut Kotler & Keller dalam Tumuju et al., (2022:33) menyatakan
minat beli diidentifikasikan melalui indikator-indikator berikut, yaitu :
Attention, Interest, Desire :
a. Attention
Attention menarik perhatian calon konsumen kebayang yang
ditawarkan produsen. Indikator ini merupakan tahap pertama dalam
mengevaluasi produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan calon
konsumen. Indikator ini juga membantu calon konsumen menjadi
lebih akrab dengan barang atau jasa yang ditawarkan.
b. Interest
Interest proses untuk menarik konsumen potensial untuk
membeli barang produsen. Setelah ini mereka mendapatkan
informasi lebih lanjut tentang barang atau jasa yang ditawarkan,
calon konsumen mulai tertarik untuk membeli barang tersebut.
c. Desire
Desire keinginan calon konsumen untuk mendapatkan
produk dari produsen setelah muncul keinginan untuk membeli,
calon konsumen mulai berpikir dan berbicara tentang barang atau
jasa yang ditawarkan. Pada tahap ini, mereka mulai tertarik dengan
barang atau jasa yang ditawarkan. Konsumen potensial sangat
tertarik untuk membeli dan mencoba barang atau jasa yang
ditawarkan selama tahapan ini.
d. Action
Mengambil keputusan atas penawaran secara pasif. Pada
titik ini, calon konsumen yang telah mengunjungi perusahaan akan
cukup yakin untuk membeli atau menggunakan barang yang
ditawarkan. Berdasarkan uraian dan penjelasan di atas dalam
kaitannya dengan hierarki tanggapan konsumen model AIDA, minat
konsumen yang dimaksud adalah respons konsumen yang melewati
tahap kognitif, tahap pengaruh (affective), dan tahap perilaku.
Dalam tahap ini perhatian konsumen (attention), ketertarikan
konsumen (interest), dan kemudian menimbulkan keinginan
(desire) konsumen untuk membeli produk, yang menyebabkan
konsumen melakukan pembelian (action)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Beli
Menurut Super dan Crites dalam Maulidah & Russanti (2021:65-66)
berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli
pelanggan :
a) Faktor Sosial
Faktor sosial seperti kelompok sosial, keluarga, peran, dan
perilaku status sosial mempengaruhi perilaku konsumen. Bahwa
pada dasarnya seseorang cenderung meniru kebiasaan atau gaya
hidup orang terdekat mereka. Contohnya keluarga, kemungkinan
besar akan mempengaruhi keinginan beli seseorang.
b) Faktor Harga
Tidak dapat dihindari bahwa harga sangat mempengaruhi
minat sebagian besar pembeli pada pakaian bekas. sebagian besar
orang cenderung membeli barang dengan merek dan kualitas yang
sama dengan harga yang relatif rendah.
c) Faktor Kualitas Produk
Kualitas produk ditentukan oleh faktor pendukung yang
mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli atau
mengkonsumsi produk. Kualitas produk yang dijual juga akan
mempengaruhi tingkat ketertarikan masyarakat terhadap produk
tersebut.
d) Faktor Promosi
Mempengaruhi volume penjualan secara signifikan,
menunjukkan peran pentingnya promosi dalam pemasaran. Promosi
yang menarik pelanggan, sementara promosi yang tidak menarik
pelanggan enggan membeli
Aspek-aspek Minat Beli
Menurut Lucas dan Britt dalam Latief (2018:34) aspek-aspek yang
terdapat dalam minat beli adalah :
- Aspek ketertarikan didefinisikan sebagai perilaku pelanggan yang
menunjukkan pemusatan perhatian yang disertai dengan rasa senang
mereka terhadap suatu produk. - Aspek keinginan didefinisikan sebagai perilaku konsumen yang
menunjukkan keinginan untuk memiliki suatu produk. - Aspek keyakinan didefinisikan sebagai perilaku pelanggan yang
menunjukkan rasa percaya diri terhadap kualitas, daya guna, dan
keuntungan dari membeli suatu produk disebut sebagai aspek
keyakinan.
Pengertian Minat Beli
Menurut Kotler dan Keller dam Mardiani & Wardhana (2018:2580)
mendefinisikan sebagai perilaku konsumen dimana mereka berdasarkan
keinginan untuk membeli atau memilih suatu produk berdasarkan
pengalaman mereka memilih, menggunakan, dan mengkonsumsi
produk tersebut, atau bahkan keinginan tersebut.
Menurut Saputri dan Sidanti (2024:4) minat beli adalah keinginan
yang muncul secara spontan terhadap suatu produk sebagai hasil dari
proses pengamatan dan penelitian konsumen terhadap produk tersebut.
Ketika konsumen tertarik untuk membeli suatu produk akan muncul
perasaan tertarik dan menyukai produk tersebut, yang pada gilirannya
akan menimbulkan perasaan ingin membeli.
Menurut Tania et al. (2022:76) minat beli didefinisikan sebagai
ketika seseorang tertarik dengan produk yang dilihat dan kemudian
memiliki rasa keinginan untuk membeli dan memiliki produk tersebut.
Minat beli juga dikaitkan dengan keinginan konsumen untuk membeli
produk yang memenuhi kebutuhan mereka
Indikator Digital Marketing
Menurut Sanchez-Franco et al., (2014:81-97) indikator Digital
Marketing, yaitu :
a. Accessibility (aksesibilitas)
Kemampuan pengguna untuk mengakses informasi dan
layanan yang disediakan oleh periklanan online dikenal sebagai
aksesibilitas. Istilah ini biasanya dikaitkan dengan cara pengguna
dapat mengakses situs sosial media.
b. Interactivity (interaktivitas)
Interaksi adalah tingkat komunikasi dua arah di mana
pengiklan dan pelanggan dapat berkomunikasi satu sama lain dan
menanggapi informasi yang mereka terima.
c. Entertainment (hadiah)
Entertainment adalah iklan dapat memberikan kesenangan
atau hiburan kepada pelanggan sambil memberi mereka informasi.
d. Credibility (kepercayaan)
Credibility adalah sejauh mana iklan memberikan informasi
tentang mereka yang dapat dipercaya, tidak memihak, kompeten,
kredibel, dan spesifik.
e. Irritation (kejengkelan)
Irritation adalah iklan online, seperti iklan yang
dimanipulasi yang menyebabkan penipuan atau pengalam buruk
konsumen, dikenal sebagai iritasi.
f. Informativeness (informative)
Hakekat iklan adalah dapat menyampaikan informasi kepada
pelanggan dan menghasilkan keuntungan finansial.
Faktor – faktor Digital Marketing
Menurut Goel et al., (2017:1064) faktor yang mempengaruhi efektifitas
Digital Marketing :
- Sasaran Pasar
Yaitu komponen terpenting dalam memilih target pasar, jika
ingin mempromosikan produk di setiap platform di internet dan
fokus pada jutaan pengguna internet sebagai target pasar, ini akan
melibatkan biaya besar. - Teknologi
Seperti yang diketahui teknologi adalah dasar pemasaran
digital, jadi sangat penting bagi pemasar untuk tetap up-to-date
dengan teknologi. - Konten
Konten adalah tempat dapat membedakan diri dari pemain
lain di industri, harus menggunakan bahasa yang menarik dan
rasional untuk konten yang di tawarkan. - Anggaran
Pemasaran digital tidak semahal pemasaran tradisional,
tetapi tidak gratis. Oleh karena itu, anggaran yang khusus untuk itu
diperlukan. - Media Sosial
Banyak perusahaan menggunakan media sosial. Organisasi
hari ini tetap hidup dan memiliki catatan jaringan online yang baik.
Selain itu, perusahaan meminta karyawannya melakukan hal yang
sama saat berinteraksi dengan klien mereka. Banyak bisnis
menggunakan platform jejaring sosial berbasis web untuk
melakukan promosi
Indikator Green Marketing
Setelah mengetahui strategi pemasaran yang ramah lingkungan,
langkah selanjutnya bagi perusahaan adalah belajar tentang alat
pemasaran hijau yang digunakan oleh pemasar untuk mempromosikan
perusahaan dan barang-barangnya. Menurut Efendi, Ari, et al.
(2015:315) alat green marketing terdiri dari eco-label eco-brand, dan
enviromental advertisement.
a. Eco-label
Eco-label digunakan oleh konsumen untuk membantu
mereka memilih produk yang ramah lingkungan dan memungkinkan
mereka mengetahui tentang proses pembuatan produk. Mereka juga
berfungsi sebagai panduan bagi konsumen dalam memilih produk
yang ramah lingkungan dan berfungsi sebagai alat yang sering
digunakan oleh perusahaan untuk membedakan produk,
mempromosikan produk, dan mengkomunikasikan pesan yang
berkontribusi pada tanggung jawab lingkungan.
b. Eco-brand
Eco-brand merupakan nama, simbol atau desain barang yang
tidak merusak lingkungan. Konsumen di negara-negara Barat seperti
Amerika Serikat menanggapi merek produk ramah lingkungan
seperti Beauty Love and Planet dengan positif. Bisnis dapat
menggunakan merek hijau untuk menandai barang-barang mereka
sebagai produk hijau, sehingga pelanggan dapat membedakan merek
hijau dari merek non-hijau dalam kategori produk yang sama.
c. Enviromental Advertisement
Iklan dengan menggunakan tema lingkungan, perusahaan
dapat mempromosikan barang-barangnya kepada pelanggan yang
sadar lingkungan. Iklan hijau bertujuan untuk mempengaruhi
perilaku pembeli dengan mendorong mereka untuk membeli barang
yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan mengalihkan perhatian
mereka pada keuntungan yang dihasilkan dari perilaku pembelian
mereka sendiri, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk
lingkungan. Iklan yang berfokus pada lingkungan terdiri dari tiga
komponen utama: iklan yang menunjukkan bagaimana perusahaan
memperhatikan lingkungan, iklan yang menunjukkan bagaimana
perusahaan mengubah operasi mereka untuk menunjukkan
kepedulian dan dedikasi mereka untuk meningkatkan lingkungan,
dan iklan terakhir yang menunjukkan bagaimana perusahaan
bertindak
Faktor-faktor Green Marketing
Menurut Damastuti et al., (2021:363) Faktor Green Marketing yaitu:
- Environmental Awarness
Menerapkan pemasaran hijau, tingkat kesadaran lingkungan
adalah salah satu faktor kunci yang perlu dipertimbangkan.
Environmental Awarness menghadirkan produk-produk yang
ramah lingkungan dan lepas dari bahan-bahan yang berbahaya
bagi alam dan kesehatan. - Green Product Features
Untuk menjadi produk unggul dibandingkan dengan yang
lain, beberapa aspek seperti mutu, desain, rangka, takaran,
kemasan, penyajian, jaminan dan rasa harus dievaluasi, yang
dapat memikat minat konsumen. - Green Product Price
Green Product Price adalah harga komponen penting dalam
pemasaran yang dapat mempengaruhi pelanggan terhadap
kualitas produk. Banyak pelanggan yang bersedia membayar
lebih mahal untuk barang yang mereka anggap memiliki nilai
lebih. Karena produk hijau terbuat dari bahan-bahan alami,
banyak pelanggan percaya bahwa produk hijau memiliki nilai
dan manfaat untuk dirinya sendiri dan lingkungan. - Green Product Promotion
Yaitu dalam marketing hijau, promosi produk hijau adalah
komponen yang harus dipertimbangkan. Banyak bisnis memilih
untuk menggunakan iklan lingkungan di media elektronik dan
cetak sebagai tanggapan terhadap peningkatan perhatian publik
terhadap masalah lingkungan
Pengertian Green Marketing
Grand theory dalam penelitian ini menggunakan teori green
marketing. Menurut Delafrooz dan Nouri (2014:5) green marketing
didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan untuk menggantikan
kebutuhan dan keinginan saat ini dengan dampak negatif terhadap
lingkungan yang minimal. Ini digunakan sebagai alat pemasaran hijau
untuk mengkomunikasikan praktik-praktik, termasuk eco-label, eco-
brand, dan environmental advertisemental.
Menurut Arseculeratne and Yazdanifard (2014:136) pemasaran
produk yang aman bagi lingkungan adalah salah satu contoh pemasaran
hijau. Konsep pemasaran hijau mencangkup pembuatan produk yang
ramah lingkungan, pembuatan, promosi, dan pengepakan produk
dengan cara yang ramah lingkungan, dan upaya produsen dan
pemasaran iklan untuk mengembangkan produk yang memenuhi
tuntutan masyarakat yang peduli akan lingkungan. Konsep ini juga
memungkinkan pengembangan yang lebih inovatif dan ramah
lingkungan. Menurut Malyan dan Duhan (2019:5) green marketing
didefinisikan sebagai menilai pengaruh pemasaran terhadap lingkungan
dan bagaimana faktor lingkungan dapat mempengaruhi pilihan
pemasaran bagi perusahaan.
Sales Promotion Tools
Terdapat 9 bentuk dari sales promotion tools, yakni
(Nathania, 2021):
- Samples
Sampel adalah salah satu alat paling penting untuk promosi
penjualan. Sampel didefinisikan sebagai penawaran kepada konsumen
sejumlah kecil produk untuk uji coba. Sampel gratis diberikan kepada
konsumen untuk membangkitkan minat mereka pada produk. Sampel
membantu konsumen memverifikasi kualitas produk.
Sampel dikirimkan kepada konsumen. Sampel ini juga dikirim
melalui surat atau diberikan kepada pelanggan di toko eceran itu sendiri.
Terkadang, sampel dilampirkan ke produk lain. - Coupons
Kupon adalah sertifikat yang memberi pembeli tabungan saat
mereka membeli produk tertentu. Kupon biasanya dikeluarkan bersama
dengan produknya. Mereka memberikan hak kepada pemegangnya
untuk simpanan tertentu atas produk atau pengembalian uang tunai.
Kupon digunakan untuk kenyamanan dari barang yang
diperoleh konsumen. Mereka dapat didistribusikan dari pintu ke pintu,
melalui surat atau mereka dapat dimasukkan ke dalam paket.
Terkadang, kupon dapat menjadi bagian dari iklan majalah atau surat
kabar. - Demonstration
Demonstrasi diperlukan jika produk bersifat kompleks dan
bersifat teknis. Pelanggan dididik tentang cara menggunakan produk
dengan benar. Demonstrasi produk mendorong pelanggan untuk
membeli. Demonstrasi diberikan tanpa biaya. - Contests
Kontes adalah acara promosi yang memberikan kesempatan
kepada konsumen untuk memenangkan sesuatu seperti uang tunai,
perjalanan, atau barang. Kontes dilakukan untuk menarik pelanggan
baru. Mereka memperkenalkan produk baru dengan meminta prospek
menyebutkan alasan pembelian produk tersebut. - Cash refund offer
Penawaran pengembalian uang tunai adalah potongan harga
yang diberikan dari harga produk. Ini adalah tawaran untuk
mengembalikan sebagian dari harga pembelian suatu produk kepada
konsumen yang mengirimkan bukti pembelian ke produsen. Selain itu,
jika pembeli tidak puas dengan produk tersebut, seluruh harga atau
sebagian akan dikembalikan. Penawaran pengembalian uang tunai
tertera pada produk. - Premium
Premium mengacu pada barang yang ditawarkan secara gratis
atau dengan biaya rendah sebagai insentif untuk membeli suatu produk.
Premi mungkin ada di dalam paket, di luarnya, atau diterima melalui
pos. Paket yang dapat digunakan kembali berfungsi sebagai premium.
Premi likuiditas adalah jumlah tambahan yang ditawarkan
dengan harga normal. Stempel perdagangan diberikan oleh penjual
kepada konsumen. Ini dapat ditebus di pusat penebusan stamp. - “Price off” offer
Barang dijual dengan harga lebih murah selama periode
penjualan cukup rendap. Dengan adanya penurunan harga maka dapat
mendorong penjualan barang. - Consumer sweepstakes
Undian meminta konsumen untuk mengirimkan nama mereka
untuk undian. Nama-nama konsumen termasuk dalam daftar pemenang
hadiah kontes. Pengundian undian dan pemenang mendapatkan hadiah. - Buy back allowances
Tunjangan diberikan kepada pembeli atas dasar pembelian
mereka sebelumnya. Dengan kata lain, tunjangan pembelian kembali
diberikan untuk pembelian selanjutnya, berdasarkan jumlah barang
yang dibeli sebelumnya
Dimensi Sales Promotion
Terdapat tiga aspek yang merupakan dimensi dari sales promotion
yang memengaruhi keberhasilan sales promotion. Ketiga aspek tersebut, yakni
(Kotler & Keller, 2018, p. 622):
- Incentive Value
Sebelum suatu perusahaan melakukan kegiatan promosi, perusahaan
tersebut diharuskan menentukan besaran budget tambahan atau insentif
yang akan diberikan kepada konsumennya. Perhitungan incentive value
ditentukan dari beberapa hal seperti, margin perusahaan, reaksi
konsumen dalam menilai promosi, dsb. Konsumen produk atau jasa
akan semakin tertarik apabila nilai insentif yang ditawarkan dalam
promosi semakin besar. - Duration
Perusahaan yang ingin menjalankan kegiatan sales promotion harus
menentukan jangka waktu promosi yang akan dilaksanakan. Tidak ada
patokan pasti untuk menentukan durasi promosi tersebut, akan tetapi
promosi dengan durasi yang pendek akan menimbulkan respon impulsif
yang lebih besar daripada promosi dengan durasi yang panjang. Di lain
hal, promosi dengan durasi yang panjang memiliki kesempatan untuk
diketahui oleh lebih banyak target market daripada promosi dengan
durasi yang pendek - Distribution Media
Aspek ini memberikan penjelasan mengenai cara yang digunakan oleh
perusahaan atau merek dalam memilih saluran yang dianggap paling
tepat dalam menyebarkan aktivitas sales promotion. Lahirnya berbagai
macam media baru untuk menyalurkan informasi dalam aktivitas sales
promotion ini disebabkan oleh perkembangan zaman. Hal ini
menyebabkan aktivitas sales promotion juga dapat disebarkan melalui
media sosial, digital ads, hingga penggunaan influencer. Tidak lagi
hanya sekedar melalui iklan tradisional.
Sales Promotion
Kotler dan Keller berpendapat bahwa sales promotion adalah arahan
langsung dalam pemasaran yang terdiri dari insentif jangka pendek untuk
merangsang konsumen untuk melakukan pembelian atau penjualan produk
atau jasa (Kotler & Keller, 2018, p. 622). Sedangkan menurut Belch & Belch,
sales promotion merupakan suatu elemen promosi yang memberikan nilai lebih
pada suatu produk atau jasa yang ditawarkan. Nilai lebih tersebut ditujukan
kepada reseller atau konsumen akhir. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
meningkatkan pembelian langsung yang sebagian besar berasal dari impulsive
buyer (Belch & Belch, 2012, p. 87). Dalam bukunya Andrews & Shimp
mengatakan bahwa Sales promotion mengarah pada perdagangan (grosir/
distributor dan pengecer), konsumen dan terkadang kepada pihak penjualan
perusahaan itu. Sales promotion terbagi menjadi dua kategori, yakni (Andrews
& Shimp, 2017, p. 40):
- Trade Sales Promotion
Kategori ini ditujukan untuk mengaktifkan respon dari para perantara
pemasaran yaitu pedagang grosir, distributor, dan pengecer. Contoh bentuk
dari trade sales promotion adalah display allowances, diskon untuk jumlah
besar, dan rewards. - Consumer Sales Promotion
Kategori ini ditujukan untuk konsumen akhir atau pengguna dari produk
atau jasa. Contoh bentuk dari consumer sales promotion adalah
penggunaan kupon, premi, sampel gratis, kontes/ undian, dan rabat.
Selain itu, salah satu bentuk contoh dari consumer sales promotion
adalah influencer marketing karena bentuk kegiatan yang dimiliki oleh
influencer marketing meliputi pembagian kode promo, pembagian
voucher, undian/ giveaway, dsb yang merupakan bagian dari consumer
sales promotion juga.
Tipe Influencer Marketing berdasarkan Tujuan
Di era sekarang ini banyak perusahaan yang menggunakan strategi
influencer marketing dalam memasarkan produknya. Strategi pemasaran ini
dianggap paling relevan. Hal ini dikarenakan karakteristik yang dimiliki oleh
influencer media sosial sangat efektif untuk digunakan sebagai media perantara
dalam memperkenalkan sebuah merek dan membuat audiens dari influencer
tersebut melakukan aksi yang diharapkan oleh sebuah merek.
Namun dalam menjalankan strategi ini juga diperlukannya tahap
identifikasi tujuan pemasaran dengan tepat agar tidak terjadi kesalahan dalam
menjalankan kegiatan promosi sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut Dimas, terdapat beberapa tipe influencer marketing berdasarkan
tujuannya yang dapat dilakukan, yaitu (Gityandraputra, 2020):
- Bertujuan untuk meningkatkan Brand Awareness
a. Channel Takeover
Melalui tipe ini sebuah merek dapat bekerja sama dengan
puluhan hingga ratusan influencer untuk menyebarkan pesan dari
kampanye yang dijalankan oleh merek tersebut melalui sudut pandang
influencer. Hal ini memberikan gambaran keadaan seolah-olah berbagai
saluran media sosial itu diambil alih oleh sebuah merek.
Tujuan strategi ini adalah untuk dapat meningkatkan jangkauan
sasaran audiens yang lebih luas. Tipe ini juga dapat menimbulkan rasa
penasaran pada masyarakat untuk mencari tahu lebih banyak lagi
mengenai kampanye yang sedang berlangsung. Hal ini mengakibatkan
semakin banyak orang yang lebih mengenal merek yang ditawarkan
dalam kegiatan pemasaran tersebut.
b. Creative Challenge
Creative challenge merupakan suatu aktivitas unik menantang
yang dibuat oleh suatu merek untuk diikuti oleh masyarakat luas melalui
sebuah platform, biasanya melalui media sosial. Jika suatu merek
melangsungkan aktivitas tersebut dan diikuti oleh ribuan hingga jutaan
pengguna media sosial, maka merek tersebut akan mendapatkan
keuntungan dari banyaknya orang yang jadi mengenal dan
memperbincangkan kampanye dari merek tersebut.
c. Emotional Storytelling
Melalui emotional storytelling, sebuah merek dapat menangkap
perhatian audiens dengan mengangkat berbagai kisah emosional.
Keunggulan dari tipe strategi ini adalah cerita yang disampaikan oleh
influencer atau merek dapat membuat calon konsumen melibatkan
perasaan yang pada akhirnya konsumen merasa lebih percaya dengan
pesan yang disampaikan. - Bertujuan untuk membangun merek (Brand Building)
a. Product Placement
Bentuk dari tipe strategi ini adalah bekerja sama dengan
berbagai influencer yang cocok dengan merek agar mereka dapat
membagikan kisah unik dan mengemas pesan dari kampanye yang ingin
disampaikan ke dalam cerita yang familiar bagi sasaran audiensnya.
b. How-To’s
Manfaat yang dapat diperoleh dari tipe strategi ini adalah
memberikan merek kesempatan untuk dapat lebih mudah ditemukan
calon konsumen. Pada dasarnya, terdapat banyak pengguna internet
yang senang dan sering mencari video dari cara untuk melakukan
sesuatu, atau how-to dari produk tertentu yang mereka inginkan. - Bertujuan untuk Product Consideration
a. Guides and Review
Tipe strategi ini memiliki kemiripan dengan tipe how-to, yang
menjadi perbedaannya adalah melalui guides and review sebuah pesan
disampaikan dengan lebih mendalam. Cara ini dikatakan cukup efektif
untuk mengkonversi calon konsumen, dikarenakan isi kontennya yang
bermanfaat untuk audiens. Terlebih pesan pada konten ini disampaikan
oleh influencer dengan cara komunikasi yang mudah dipahami banyak
orang.
b. Promos
Pada dasarnya banyak orang yang tertarik dengan penawaran
promo dikarenakan mereka dapat memperoleh atau membeli sesuatu
yang mereka inginkan dengan harga yang relatif lebih murah atau
terdapat keuntungan lebih. Hal ini juga yang yang membuat tipe strategi
ini dikatakan tepat untuk menarik audiens agar segera membeli produk
yang dipromosikan. Keunggulan lainnya dari tipe ini adalah ROI lebih
mudah diukur lewat kode unik atau tautan yang diikutsertakan dalam
kontennya
Kriteria Pemilihan Influencer
Menurut Backaler terdapat beberapa faktor yang menjadi kunci utama
yang perlu dianalisis oleh perusahaan dalam proses pemilihan influencer
terlepas dari jumlah pengikut atau audiens yang mereka pengaruhi, atau peran
yang mereka lakukan guna menciptakan awareness maupun engagement antara
pengikutnya dengan perusahaan. Konsep ini disebut dengan Influencer’s ABCC
yaitu (Backaler, 2018, p. 28):
a. Authenticity
Kunci utama dari seorang influencer agar dapat sukses adalah memiliki
hubungan yang asli atau otentik dan terpercaya antara influencer itu sendiri
dengan komunitas yang dimilikinya. Hal ini juga akan menjadi salah satu
faktor yang memengaruhi seorang influencer ketika bekerja sama dengan
sebuah merek. Yang menjadi perhatian utama seorang influencer adalah
bagaimana cara menjaga keotentikan dan kepercayaan dari para
pengikutnya.
b. Brand Fit
Bagi influencer konsistensi personal brandingnya juga sangat penting agar
dapat memperoleh “efek pengaruh” yang lebih banyak dari para
pengikutnya. Akan tetapi seorang influencer dan perusahaan memerlukan
keseimbangan antara personal branding dari influencer itu sendiri dengan
citra yang dimiliki oleh perusahaan atau merek sebelum memutuskan untuk
berkolaborasi. Apabila terdapat ketidaksesuaian, hal ini hanya akan
mengakibatkan usaha yang sia-sia bagi kedua pihak.
c. Community (Reach, Resonance, Relevance)
Seorang influencer identik dengan komunitas yang dimilikinya. Komunitas
yang dimaksud dalam hal ini merupakan kumpulan pengikut di media
sosial. Yang menjadi salah satu bentuk analisis untuk mengukur tingkat
kesuksesan dari kolaborasi atau kerja sama dengan influencer adalah
analisis mengenai komunitas yang sudah ditargetkan, dilibatkan, dan
berkembang beriringan dengan influencer tersebut.
Terdapat 3 tahap dalam mengukur kesesuaian komunitas influencer
dengan target audience perusahaan, yakni (Solis, 2012, p. 258):
- Reach
Hal ini merujuk pada jumlah pengikut (followers) dari seorang digital
influencer. Akan tetapi besarnya jumlah pengikut dari seorang
influencer tidak selalu menjamin kesuksesan. Mengetahui pengikut dari
influencer mana yang cocok dengan target audience dari sebuah merek
merupakan hal yang lebih penting. Aspek inilah yang membedakan satu
influencer dengan influencer lainnya berdasarkan kategori jumlah
followers mereka. - Resonance
Resonance merupakan jumlah engagement yang diberikan oleh follower
dari seorang influencer terhadap konten yang dibagikan oleh influencer
tersebut. Faktor inilah yang dapat menentukan apakah sebuah
komunitas akan aktif untuk meneruskan konten dari influencer tersebut
serta membagikannya lagi. - Relevance
Relevance ini menggambarkan tingkat kesesuaian dan kesetaraan antara
nilai-nilai yang dimiliki oleh influencer dengan brand image sebuah
merek atau produk. Relevance dapat dilihat dari konten yang dibagikan
dan dibuat oleh influencer dan apakah influencer tersebut memiliki
nilai, kultur dan demografis yang serupa dengan target audience dari
sebuah merek.
Ketiga aspek di atas akan sangat berpengaruh dalam mengukur
kesuksesan seorang influencer sebelum perusahaan menentukan akan
berkolaborasi dengan influencer tersebut.
d. Content
Konten merupakan cara yang dilakukan seorang influencer untuk dapat
meningkatkan nilai dan membangun relasi dengan komunitas yang mereka
miliki melalui konten-konten yang mereka buat di akun media sosialnya.
Backaler berpendapat bahwa seorang influencer harus dapat
mempertimbangkan dan memikirkan bagaimana cara agar dapat membuat
konten yang konsisten mengenai topik tertentu dan mengemasnya dengan
sekreatif mungkin sehingga dapat menarik komunitas untuk mengikuti akun
tersebut (Backaler, 2018, p. 31)
Kategori Influencer
Influencer marketing merupakan salah satu bentuk dari pemasaran
digital yang dianggap paling tepat dan efektif untuk ROI (Return of Investment).
Setiap US$ 1 yang digunakan untuk kegiatan influencer marketing, sebuah
merek bisa mendapatkan penghasilan sebesar US$ 5,78 sebagai bentuk dari
ROI (Return of Investment). Hal ini lah yang mengakibatkan 91% pemasar
percaya bahwa influencer marketing merupakan bentuk pemasaran yang paling
efektif (Geyser, 2021).
Salah satu tantangan yang dihadapi sebuah merek dalam menjalankan
influencer marketing adalah bagaimana cara memilih influencer yang tepat
untuk mempromosikan kampanye pemasaran mereka. Hal ini dikarenakan
karena terdapat banyak sekali kategori influencer (Geyser, 2021).
Berdasarkan jumlah pengikutnya (followers) kategori influencer terbagi
menjadi 4, yakni (Geyser, 2021):
- Nano Influencer (1K-10K followers)
Kategori influencer ini memiliki dari 1000 hingga 10.000 pengikut di
media sosialnya. Biasanya pengikut mereka di media sosialnya sangat
terlibat dan memiliki tingkat keterlibatan yang tinggi (engagement
rate). Nano influencer biasanya merupakan pendukung yang sangat
aktif dalam menyuarakan merek dan produk yang mereka sukai dan
pengikut mereka menghargai rekomendasi dan review jujur dari
mereka. Mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dengan
pengikutnya dan mereka juga meluangkan waktu mereka untuk terlibat
dengan pengikutnya guna mengembangkan hubungan tersebut. - Micro Influencer (10K-100K followers)
Micro influencer memiliki antara 10.000 hingga 100.000 pengikut di
media sosialnya. Meskipun mereka memiliki pengikut yang cukup
banyak, micro influencer masih dianggap memiliki hubungan cukup
dekat dengan pengikutnya dan pengikutnya cenderung terlibat. Pada
kategori ini, influencer cenderung mengkhususkan diri dalam kategori
tertentu. Mereka juga biasanya memiliki tingkat keterlibatan yang tinggi
dengan audiens yang ditargetkan. Hal ini mempermudah sebuah merek
untuk membuat iklan khusus dengan influencer ini. - Macro Influencer (100K-1M followers)
Macro influencer memiliki antara 100.000 hingga 1.000.000 pengikut
dan cenderung memiliki daya tarik yang lebih luas daripada micro
influencer. Macro influencer biasanya adalah selebgram, blogger,
vlogger, atau podcaster. Macro influencer memiliki jumlah pengikut
yang cukup besar yang telah mereka kembangkan selama berbulan-
bulan atau bahkan bertahun-tahun dalam membina hubungan yang juga
beriringan dengan meningkatkan jumlah pengikut. Dikarenakan jumlah
pengikut mereka yang cukup besar, kemungkinan mereka akan
memiliki tingkat keterlibatan relatif rendah. - Mega Influencer (> 1M followers)
Kategori influencer ini lebih dari 1.000.000 pengikut, biasanya mereka
adalah selebritas. Sebuah merek harus memiliki anggaran pemasaran
yang sehat dan cukup besar untuk dapat bekerja sama dengan Mega
influencer ini. Perlu juga dipahami bahwa audiens yang tertarik dengan
mega influencer akan sangat luas
Influencer Marketing
Seperti yang sudah dikatakan Chaffey & Chadwick pada bukunya
yang berjudul Digital Marketing; Strategy, Implementation and Practice yang
menjelaskan bahwa saluran media digital terbagi menjadi enam yang salah
satunya merupakan social media marketing (Chaffey & Chadwick, 2016, p.
478). Dalam elemen ini terdapat dua konsep utama yakni viral marketing dan
e-WOM (electronic word of mouth). Influencer marketing merupakan salah
satu bentuk dari electronic word of mouth yang akan menjadi fokus dalam
penelitian ini.
Hsieh, Hsieh & Tang mengatakan bahwa Electronic word of mouth
mengacu pada testimoni dan komentar baik atau buruk yang dibuat oleh
konsumen mengenai suatu produk, layanan atau organisasi yang didiskusikan
secara terbuka melalui media online. Salah satu penerapan dari penggunaan e-
WOM adalah berkomunikasi melalui influencer yang dilakukan pada orang
yang sesuai dengan target market serta memiliki kredibilitas (Suki & Suki,
2019).
Dalam pengembangan strategi digital marketing terdapat berbagai jenis
media yang digunakan, selain itu digital marketing juga melibatkan
pemahaman yang kompleks. Ada tiga jenis saluran utama media dalam digital
marketing, yakni (Chaffey & Chadwick, 2016, p. 38):
- Paid Media
Merupakan media yang dibeli oleh perusahaan yang digunakan
untuk memperoleh paparan atau exposure sehingga dapat
menjangkau target market. Umumnya media ini merupakan
contoh dari penerapan iklan dari sebuah perusahaan. - Owned Media
Merupakan media yang dimiliki oleh perusahaan yang
diterbitkan dan dikelola sendiri oleh perusahaan. - Earned Media
Merupakan media yang publik miliki dan dengan sukarela
menjadi media yang menyebarkan atau membicarakan hal-hal
mengenai sebuah merek atau perusahaan
Digital Marketing
Menurut Chaffey & Smith digital marketing merupakan suatu cara
yang dilakukan untuk memasarkan produk atau jasa yang relevan dengan
pelanggan dikarenakan pemahaman pelanggan sangat baik yang pada
akhirnya akan memperluas jalur distribusi dan meningkatkan penjualan
(Chaffey & Smith, Digital Marketing Excellence: Planning, Optimizing and
Integrating Online Marketing. 5th Edition., 2017, p. 44). Di samping itu,
Chaffey & Chadwick juga mengatakan bahwa digital marketing adalah suatu
kegiatan pemasaran yang menerapkan teknologi dan media digital untuk
menjalankan fungsi pemasaran serta mencapai objektif yang diinginkan
(Chaffey & Chadwick, 2016, p. 106).
Dalam bukunya, Chaffey & Chadwick mengatakan bahwa digital
marketing memiliki dan menggunakan beberapa saluran media digital yang
berbeda untuk menjalankan proses pemasaran. Saluran-saluran media digital
tersebut terbagi menjadi 6 yakni (Chaffey & Chadwick, 2016, p. 406):
- Search Engine Marketing (SEM)
- Online Public Relations (E-PR)
- Online Partnerships (affiliate marketing and co-marketing)
- Interactive Display Advertising
- Opt-in Email Marketing
- Social Media Marketing (Viral and Electronic Word of Mouth
Marketing)
Marketing Communication
Menurut Kotler dan Keller“Marketing communications are means by
which firms attempt to inform, persuade, and remind consumers – directly or
indirectly – about the products and brands they sell”. Artinya, komunikasi
pemasaran merupakan sebuah cara yang dipakai oleh perusahaan untuk
menginformasikan, memengaruhi, serta memperingatkan konsumen secara
langsung dan tidak langsung mengenai suatu produk dan merek yang dijual
(Kotler & Keller, 2018, p. 580). Sedangkan menurut Clow dan Baack
menyatakan bahwa komunikasi didefinisikan sebagai kegiatan mengirimkan,
menerima, dan memproses informasi (Clow & Baack, 2016, p. 30).
Definisi dari komunikasi pemasaran (marketing communication) dapat
dijabarkan demikian yaitu hubungan antara “komunikasi” dan “pemasaran”
karena komunikasi pemasaran merupakan gabungan dari kedua kajian tersebut.
Secara umum, marketing communication merupakan aktivitas pemasaran yang
menggunakan cara-cara komunikasi dengan tujuan untuk menyampaikan pesan
kepada masyarakat yang berkeinginan mencapai tujuan dari perusahaan yakni
meningkatkan keuntungan.
Menurut Alison Theaker, bahwa public relations dalam ranah
hubungan dengan pelanggan sering dikategorikan sebagai marketing
communications (Theaker, 2011, p. 186). Marketing communications tidak
hanya sekedar berfokus pada proses meraih pelanggan, namun pada
bagaimana cara mempertahankan mereka (Theaker, 2011, p. 191). American
Marketing Association (AMA) berpendapat bahwa pemasaran merupakan
sebuah proses yang merencanakan dan melaksanakan konsep, harga, promosi,
dan mendistribusikan pokok pikiran, barang, jasa guna menciptakan
pertukaran nilai yang menguntungan individu atau organisasi yang terkait.
Dalam marketing communication terdapat konsep marketing mix atau
bauran pemasaran. Bauran pemasaran ini terdiri dari sekumpulan tingkatkan
tertentu yang spesifik dari suatu merek yang juga disebut dengan 4p (product,
price, place (distribution), promotion) dan biasanya ditujukan pada target
market tertentu (Andrews & Shimp, 2017, p. 8).
Keunggulan Dan Kendalan Pemasaran Digital
Berikut ini ada bebrapa keungulan dari pemasaran produk secara digital)adalah
sebagai berikut:
- Membuat Pemasaran Jauh Lebih Efektif
Pemasaran digital secara tidak langsung dapat meningkatkan efisiensi
pemasaran karena dukungan platform periklanan memungkinkanpembisnis
menargetkan pelanggan untuk menyesuaikan diri dengan barangdan jasa
yang mereka jual. Akibatnya, biaya pemasaran tidak akan sia-sia di masa
depan. - Lebih mudah dalam mengumpulkan data
Untuk mengembangkan strategi pemasaran media sosial, pemilik dapat
mendapatkan banyak data, seperti komentar pelanggan, yang kemudian akan
digunakan sebagai evaluasi. Ini lebih mudah dalam pemasaran. untuk pemilik
dalam mengembangkan strategi pemasaran media sosial. - Lebih memudahkan dalam pemasaran
Karena kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis media sosial yang
paling populer seperti Instagram, Facebook dan lain-lain. Pemasaran digital
menjadi lebih mudah untuk memperluas jangkauan pelanggan. - Biaya untuk iklan yang lebih murah dalam pemasaran digital
sekarang dapat dilakukan dengan biaya yang lebih sedikit. Memasang iklan
di TV atau menggunakan influencer akan membutuhkan biaya yang lebih
tinggi dan target pelanggannya tidak spesifik. Dengan menampilkan atau
memposting konten yang menarik, pengguna dalam dunia digital marketing
anda lebih bebas menentukan tujuan sesuai dengan keinginan dan tujuan
anda bisnis
Manfaat Pemasaran Digital
Menurut (pangestika 2018) manfaatn dari adanya pemasaran yaitu sebagai
berikut:
- Keputusan penyebaran pemsaran menggunakan media digital dan mengukur
pemasaran digital dapat dilakukan dengan cepat, - Jangkauan pemasaran digital yang luas memilki jangkuan geografis yang luas
sehinga dapat meyebarkan produk ke seluruh dunia hanya dengan
memanfaatkan internet. - Jika menggunakan media online, mudah untuk menilai hasil kegiatan secara
langsung. Informasi seperti jumlah produk yang tersedia, serta tingkat konversi
penjualan setiap iklan dan individu lainnya juga dapat diakses (Sasongko et al.,
2020)
Pemasaran digital
Bawha menjelaskan bahwa strategi pemasaran adalah cara berpikir tentang
pemasaran untuk mencapai suatu tujuan. (Alma Dicky dan Resti 2020) mengatakan
bahwa strategi pemasaran adalah pola keputusan bisnis yang mengidentifikasi dan
mengungkapkan tujuan, sasaran, atau tujuan yang mengarah pada kebijakan dan
rencana utama untuk mencapai tujuan tersebut, serta merici jangkauan bisnis akan
dicapai oleh perusahaan. Menurut (Adhikari 2018), stategi pemasaran strategi
marketing didasarkan pada kombinasi marketingmix yang mencakup fitur produk,
nilai proposal, harga, komunikasi intergrated marketing, manajemen penjualan dan
distribusi, dan layanan yang akan memberikan nilai yang lebih baik kepada
pelanggan daripada pesaing mereka di pasar. Dengan kata lain, strategi pemasaran
memerlukan kombinasi produk dan layanan yang akan memberikan nilai yang lebih
besar kepada pelanggan daripada pesaing di pasar (Silviana, 2012).
Pemasaran digital adalah suatu aktivitas promosi yang memanfaatkan digital
untuk mempromosikan barang, jasa, atau merek. Karena perkembangan tren
teknologi dan bisnis di dunia bisnis semakin beragam. Salah satunya adalah tren
pemasaran digital. Setara yang kita tahu digital marketing menjadi pilihan utama
banyak pihak. Alhasil, semua pihak berlomba-lomba membuat konten yang
menarik untuk ditampilkan di web digital marketing (Irfani et al., 2020). Tujuan
pemasaran digital adalah untuk menarik konsumen dan pelanggan potensial dengan
cepat. Pengertian digital marketing menurut (Ryan Kristo Muljono 2018) Digital
marketing menggunakan internet dan teknologi informasi sebagai medianya.
Kegiatan pemasaran digital yang melibatkan penggunaan berbagai media sosial
untuk mempromosikan produk dan mencari pasar.
Menurut (Kotler dan Armstrong 2018), pemasaran digital adalah pemasaran
melalui jejaring sosial dengan menggunakan platform layanan digital seperti situs
web, jejaring sosial, aplikasi, video online, pasar email, dll untuk menjangkau
pelanggan kapan saja, di mana saja melalui . komputer atau ponsel. Dari Pemasaran
digital mencakup segala kegiatan pemasaran dan promosi barang dan jasa melalui
media online yang memiliki jangkauan pasar yang luas dan mudah dilakukan dari
mana saja.
Menurut (Sudaryo 2020) mengatakan pemasaran digital melalui telepon,
web atau perangkat lain menawarkan pendekatan baru dan canggih dalam dunia
pemasaran dan sangat tepat sasaran. berpengaruh untuk pengusaha dan banyak
perusahaan memilih untuk pengusaha dan banyak perusahaan memilih untuk
melakukan pemasaran digital daripada pemasaran tradisional karena dianggap
interaktif.
Menurut (Ekollar dan oberer 2007) mengakatakn bahwa pemasaran dgital
mengacu bentuk yang memberikan informasi dalam bentuk digital yang dapat
diakses melalui komputer, mobile phone atau segala bentuk perangkat digital yang
lainnya dengan melalui iklan produk untuk mencapai peningkatan penjualan dan
mempromosikan brand menyapaikan pesan brand tersebut
