Menurut Kristanto (2016:200) dalam pemasaran terdapat tiga peran atau
fungsi harga yaitu :
a. Menentukan volume penjualan dengan mengacu pada kurva penawaran dan
permintaan. Semakin tinggi harga sebuah produk maka volume penjualan
semakin rendah begitupun sebaliknya semakin rendah harga sebuah produk
maka volume penjualan semakin tinggi.
b. Menentukan besarnya laba sebuah produk ditentukan oleh harga jual produk
per unit dikurangi dengan biaya-biaya atau harga pokok penjualan.
c. Menentukan image sebuah produk adalah persepsi mengenai kualitas produk,
dan persepsi mengenai kualitas sebuah produk ditentukan antara lain dengan
harga jual produk
Dimensi Persepsi Harga
Menurut Monroe yang dikutip oleh Wijaya (2018) menyatakan bahwa ”Persepsi
harga sering diindetikan dengan persepsi kualitas dan persepsi biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh produk. Persepsi harga dibentuk oleh 2 (dua)
dimensi utama”, yaitu :
- Perceived Quality (Persepsi kualitas)
Dalam persepsi kualitas dimana ketika pelanggan hanya mendapatkan
informasi yang sedikit tentang suatu produk tentunya cenderung pelanggan
akan memilih barang yang harganya mahal karena harga yang mahal
dianggap memiliki kualitas yang baik pula. Karena dipengaruhi oleh
persepsi pelanggan tentang nama merk, nama toko, garansi barang tersebut
yang diberikan (after sale services) dan negara yang menghasilkan produk
tersebut. - Perceived Monetary Sacrifice (Persepsi biaya yang dikeluarkan)
Banyaknya orang atau calon pelanggan beranggapan bahwa harga
merupakan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan suatu barang atau
jasa. Akan tetapi pelanggan mempunyai persepsi yang berbeda-beda
terhadap biaya yang dikeluarkan meskipun untuk barang atau yang sama
Pengertian Persepsi Harga
Menurut Schiffman dan Wisenblit (2015:136) ”Perceived price is
the customer’s view of the value that he or she receives from the purchase”.
Berdasarkan pengertian ahli tersebut, persepsi harga adalah pandangan konsumen
terhadap suatu nilai yang konsumen terima dari sebuah transaksi pembelian.Dari
pengertian tersebut, hal yang dapat disimpulkan adalah dimana harga akan
menjadi suatu acuan untuk konsumen dalam menilai suatu nilai yang diterima dan
akan berdampak pada pembelian. Contohnya adalah dimana banyak orang yang
menggangap bahwa makan di tepi jalan atau lamongan memiliki persepsi harga
yang rendah sedangkan ketika kita makan di dalam mall memiliki persepsi harga
yang mahal, Dengan konsisten dengan nilai yang akan mereka terima terhadap
dua hal tersebut. Intensitas pembelian dan kepuasan berpengaruh terhadap
anggapan konsumen tentang tinggi, sedang dan rendahnya suatu harga
Pengertian Harga
Harga merupakan unsur bauran pemasaran yang sifatnya fleksibel dimana setiap
saat dapat berubah menurut waktu dan tempatnya. Harga bukan hanya angka-
angka yang tertera dilabel suatu kemasan atau rak toko, tapi harga mempunyai
banyak bentuk dan melaksanakan banyak fungsi. Menurut Kotler dan Keller
(2016:27) harga adalah satu elemen bauran pemasaran yang
menghasilkan pendapatan, elemen lain menghasilkan biaya. Harga merupakan
elemen termudah dalam program pemasaran untuk disesuaikan, fitur produk,
saluran, dan bahkan komunikasi membutuhkan banyak waktu.
Harga juga merupakan suatu nilai produk, karena akan berpengaruh
terhadap keuntungan produsen. Harga menjadi pertimbangan konsumen untuk
membeli, sehingga perlu pertimbangan khusus untuk menentukan harga tersebut.
Harga merupakan suatu nilai yang dibuat untuk menjadi patokan nilai suatu
barang atau jasa. Harga dapat didefenisikan secara sempit sebagai jumlah uang
yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa. Atau dapat didefenisikan secara
luas harga sebagai jumlah nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan
memiliki dan menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan
mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar untuk nilai pelanggan yang
diciptakannya (Kotler dan Amstrong, 2016:181)
Menurut Suparyanto dan Rosad (2015: 141), harga adalah jumlah sesuatu
yang memiliki nilai pada umumnya berupa uang yang harus dikorbankan untuk
mendapatkan suatu produk. Menurut Tjiptono (2017:370) istilah harga bisa
diartikan sebagai jumlah uang (satuan moneter) dan/atau aspek lain (non-moneter)
yang mengandung utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan
sebuah produk. Menurut Fandy Tjiptono (2017:369) “penetapan harga merupakan
aktivitas krusial yang menunjang keberhasilan operasi organisasi profit maupun
non-profit.”
Menurut Kotler & Amstrong (2016: 324) mendefinisikan bahwa : “Price
the amount of money charge for a product or service, or the sum of the value that
customers exchange for the benefits or having or using the product or service”.
(harga merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk sebuah produk atau
jasa, atau sejumlah nilai yang ditukarkan oleh konsumen untuk memperoleh
manfaat atau kepemilikan atau penggunaan atas sebuah produk atau jasa)
Pengertian Persepsi
Menurut Kotler dan Keller (2016:189) ”Perception is the process by which
we select, organize, and interpret information input to create a meaningful picture
of the world”. Yang mana artinya adalah persepsi merupakan proses dimana kita
memilih, mengatur, dan menafsirkan input informasi untuk menciptakan
gambaran yang bermakna.
Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran merupakan bagian dari konsep pemasaran yang
mempunyai peranan yang cukup penting dalam mempengaruhi konsumen untuk
membeli produk atau jasa yang ditawarkan. Kotler dan Armstrong (2017:17)
mendefinisikan baura pemasaran sebagai berikut, Marketing mix is the set of
tactical marketing tools that the firm blends to produce the response it wants in the
target market.Definisi tersebut menyatakan bahwa. Bauran pemasaran adalah
Consumer Characteristic (Karakteristik Konsumen) Budaya, sosial, pribadi 18
seperangkat alat pemasaran taktis diperusahaan memadukan dua menghasilkan
respon yang diinginkan dalam pasar sasaran.
Menurut Kotler dan Keller (2016:119) yaitu: Bauran Pemasaran
(marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan
untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran. Unsur-unsur
Bauran Pemasaran dapat digolongkan dalam empat kelompok pengertian
dari masing-masing variabel bauran pemasaran didefinisikan oleh Kotler dan
Armstrong (2018:79) sebagai berikut:
- Produk: adalah kombinasi barang dan jasa perusahaan menawarkan dua target
pasar. - Harga: adalah jumlah pelanggan harus dibayar untuk memperoleh produk.
- Tempat: adalah mencakup perusahaan produk tersedia untuk menargetkan
pelanggan. - Promosi: adalah mengacu pada kegiatan berkomunikasi kebaikan produk dan
membujuk pelanggan sasaran
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Citra Merek
Priansa (2017:267) sejumlah faktor yang mempengaruhi citra merek
yang dibangun perusahaan adalah sebagai berikut:
a. Harga yang ditawarkan
Tingkatan harga yang ditawarkan akan menimbulkan persepsi atas
produk yang berkualitas atau tidak.
b. Reputasi (image) perusahaan dimata pelanggan
Reputasi yang baik menimbulkan persepsi terhadap citra
perusahaan sehingga pelanggan memaafkan satu kesalahan meskipun
tidak untuk kesalahan selanjutnya.
c. Jaminan atas pelayanan yang berkualitas
Jaminan atas pelayanan yang diperoleh pada tahap awal pelayanan
menimbulkan persepsi atas citra perusahaan untuk tahap pelayanan
selanjutnya sehingga pelanggan merasa puas dengan pelayanan secara
keseluruhan.
d. Penampilan fasilitas fisik
Situasi atas pelayanan fasilitas fisik dikaitkan dengan citra
perusahaan sehingga mempengaruhi persepsi pelanggan terhadap baik
atau tidaknya citra perusahaan.
e. Komitmen organisasi
Komitmen organisasi yang dimiliki pegawai merupakan faktor
yang berpengaruh terhadap citra perusahaan karena pegawai yang
berkomitmen akan membangun citra perusahaan yang positif.
Indikator Citra Merek
Menurut Kotler dan Keller dalam Priansa (2017:268) indikator dari
citra merek terdiri dari:
a. Kepribadian (personality)
Keseluruhan karakteristik yang dipahami publik sasaran, misalnya
dapat dipercayakan dan mempunyai rasa tanggung jawab sosial.
b. Reputasi (reputation)
Hak yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini publik sasaran
berdasarkan pengalaman sendiri ataupun pihak lain, misalnya kinerja
keamanan transaksi sebuah perusahaan.
c. Nilai-nilai (value)
Nilai-nilai yang dimiliki perusahaan atau budaya perusahaan,
misalnya sikap manajemen yang peduli terhadap pelanggan, karyawan
yang cepat tanggap terhadap permintaan, ataupun keluhan pelanggan.
d. Identitas perusahaan (corporate identity)
Komponen-komponen yang mempermudah pengenalan publik
sasaran terhadap perusahaan, misalnya logo, warna, dan slogan
Pengertian Citra Merek
Shamp dalam Shopiah dan Sangadji (2016:76) berpendapat bahwa
“Citra merek dapat dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul di benak
konsumen ketika menginginkan sebuah merek tertentu”. Citra terhadap
merek berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi
terhadap suatu merek (Sopiah dan Sangadji, 2016:76). Biasanya konsumen
lebih memungkinkan melakukan pembelian apabila telah menemukan image
positif dari produk tersebut. Menurut Kotler dan Keller dalam Priansa
(2017:265) mengemukakan bahwa “Citra merek adalah respon konsumen
pada keseluruhan penawaran yang diberikan oleh perusahaan”. Sedangkan
menurut Nguyen dan Lablanc dalam Priansa (2017:265) “Menyatakan
bahwa citra merek merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk di benak
masyarakat tentang perusahaan”. Merek perusahaan tersebut biasanya
menguasai pasar dan saat ada produk dengan merek serupa yang diingat
oleh konsumen adalah merek perusahaan tersebut. Suatu citra merek yang
kuat dapat memberikan beberapa keunggulan utama bagi suatu perusahaan
salah satunya menciptakan suatu keunggulan bersaing. Menurut Aker dalam
Priansa (2017:266) “Merupakan tingginya nilai perusahaan di dalam
presepsi pelangan, menyangkut reputasi, citra perusahaan, kepuasan
pelanggan dan loyalitas pelanggan menggunakan produk/jasa perusahaan”.
Pengaruh Persepsi Harga terhadap Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong dalam jurnal Nurul Fatmawati. A dan Euis
Soliha (2017), Persepsi harga (price perception) adalah nilai yang terkandung
dalam suatu harga yang berkaitan dengan manfaat dan memiliki atau
menggunakan suatu produk atau jasa.. Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan oleh Nurul Fatmawati. A dan Euis Soliha (2017), Wifky Muharam dan
Euis Soliha (2017), Agung Wahyu Suseno (2018), Ida Ayu Putu Dian Savitr dan
I Made Wardana (2018), Anita Styaningrum dan Asih Niati (2019) disimpulkan
bahwa Persepsi Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian yang dilakukan konsumen.
Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian
Menurut Yossie Rossanty (2019:119) Citra Merek adalah seperangkat
ingatan yang ada di benak konsumen mengenai sebuah merek, baik itu positif
maupun negatif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nurul
Fatmawati. A dan Euis Soliha (2017), Wifky Muharam dan Euis Soliha (2017),
Agung Wahyu Suseno (2018), Ida Ayu Putu Dian Savitr dan I Made Wardana
(2018), Anita Styaningrum dan Asih Niati (2019) disimpulkan bahwa Citra
Merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian yang
dilakukan konsumen
Dimensi Keputusan Pembelian
Menurut jurmal penelitian yang dilakukan Mongi, Mananeke, dan
Repi (2013:2336), keputusan pembelian dapat diukur dengan 4 indikator
berikut:
1) Kebutuhan dan keinginan akan suatu produk
2) Keinginan mencoba
3) Kemantapan akan kualitas suatu produk
4) Keputusan pembelian ulang
Tipe Perilaku Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2017:174) terdapat 4 tipe perilaku
keputusan pembelian yaitu:
(1) Complex Buying Behavior
Dimana adanya keterlibatan konsumen yang sangat tinggi dalam
pembelian dan melihat adanya perbedaan yang signifikan dirasakan
diantara merek-merek,
(2) Dissonance Reducing Buying Behavior
Dalam situasi dimana konsumen sangat terlibat dalam pembelian
yang mahal, jarang atau berisiko, tetapi hanya melihat sedikit
perbedaan antara merek-merek.
(3) Habitual Buying Behavior
Perilaku pembelian dimana terjadi dibawah kondisi keterlibatan
konsumen rendah tetapi merasakan perbedaan merek yang signifikan.
(4) Variety Seeking Buying Behavior
Ditandai dengan keterlibatan konsumen yang rendah tetapi merasakan
ketidak-samaan merek yang signifikan
Definisi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:177) mendefinisikan keputusan
pembelian adalah keputusan pembeli mengenai merek apa yang ingin
mereka beli.
Menurut Kotler dan Keller dalam jurnal Nurul Fatmawati. A dan Euis
Soliha (2017), keputusan pembelian adalah suatu proses penuntasan
masalah yang terdiri dari pengenalan kebutuhan dan keinginan,
pencarian informasi, penilaian sumber-sumber seleksi terhadap alternatif
pembelian, keputusan pembelian dan perilaku setelah proses pembelian.
Menurut Kotler dan Keller dalam jurnal Anita Styaningrum dan Asih
Niati (2019), Keputusan pembelian adalah keputusan konsumen
mengenai preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan
pilihan.
Dimensi Persepsi Harga
Menurut Monroe dalam Jurnal Lily Harjati dan Vanesia (2015:67)
persepsi harga dibentuk oleh dua dimensi utama yaitu:
(1) Perceived Quality (Persepsi Kualitas), konsumen cenderung lebih
menyukai produk yang memiliki harga yang cenderung mahal ketika
informasi yang didapat hanya harga produknya.
(2) Perceived Monetary Sacrifice (Persepsi Biaya yang Dikelua rkan), secara
umum konsumen berasumsi bahwa harga merupakan biaya yang
dikeluarkan atau dikorbankan untuk mendapatkan produk
Definisi Persepsi Harga
Menurut Kotler dan Amstrong dalam jurnal Nurul Fatmawati. A dan
Euis Soliha (2017), Persepsi harga (price perception) adalah nilai yang
terkandung dalam suatu harga yang berkaitan dengan manfaat dan
menggunakan atau memiliki suatu produk atau jasa.
Menurut Shichiffman dan Kanuk dalam jurnal, Wifki Muharam dan
Euis Soliha (2017), Persepsi harga ialah bagaimana cara konsumen melihat
harga sebagai harga yang tinggi, rendah dan adil.
Menurut Campbell pada Cockril dan Goode dalam jurnal Aprillia
Dharmansah dan Sri Yanthi Yosepha (2020), persepsi harga merupakan
faktor psikologis dari berbagai segi yang mempunyai pengaruh yang penting
dalam reaksi konsumen kepada harga
Dimensi Citra Merek
Menurut Wijaya (2013) dimensi-dimensi citra utama yang
membentuk citra sebuah merek tertuang sebagai berikut:
(1) Identitas Merek
Identitas merek mengacu pada identitas fisik atau perwujudan fisik,
yang terkait dengan merek, atau produk dari merk tersebut yang
membuat konsumen mudah dalam mengidentifikasi dan membedakan
merk atau produk terhadap merek ataupun produk lain, seperti logo,
warna, suara, bau, kemasan, lokasi, identitas perusahaan, slogan, dan
lain-lain.
(2) Personalitas Merek
Personalitas merek, termasuk ke dalam karakteristik suatu merek
yang bisa melaksanakan pembentukan terhadap identitas tertentu, yang
nantinya sebagian besar konsumen bisa dengan mudah membedakan
dengan merek lainnya dalam bermacam-macam ciri khas yang sama,
seperti sifat tegas, kaku, berkelas, mulia, bersahabat, supel, bersemangat,
mandiri.
(3) Asosiasi Merek
Asosiasi merek termasuk ke dalam suatu perihal spesifik yang kerap
dihubungkan dengan sebuah merek serta bisa berasal dari negosiasi suatu
produk yang mempunyai keunikan tersendiri, aktivitasnya secara
berulang serta terus menerus dimana contohnya ialah aktivitas yang
mempunyai pertanggungjawaban di bidang sosial, permasalahan yang
amat kuat berkaitan dengan suatu merek dan juga symbol, serta kesan
yang telah ditentukan sebelumnya serta tertuju kuat pada suatu merek.
(4) Sikap dan Perilaku Merek
Sikap dan Perilaku merek termasuk ke dalam bagian dari sikap dan
perilaku suatu merek yang muncul ketika berinteraksi dengan konsumen
dalam menawarkan benefit dan value yang dimilikinya. bisa dikatakan,
sikap dan perilaku merek termasuk ditunjukkan oleh merek dan segala
macam atributnya ketika berinteraksi dengan konsumen yang pada
gilirannya mendorong penilaian dan pandangan konsumen terhadap
merek. Seringkali suatu merek dengan cara-cara yang sedikit melanggar
etika dalam berkomunikasi, atau memberi pelayanan yang buruk yang
mana pada akhirnya mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap
sikap dan perilaku merek, atau sebaiknya perilaku dan sikap simpatik,
jujur, konsisten antara knyataan dan janji, kepedulian terhadap
lingkungan dan masyarakat luas, pelayanan yang baik berpeluang
memunculkan pandangan yang baik terhadap sikap dan perilaku merek.
(5) Manfaat dan Keunggulan Merek
Manfaat merek ialah value, keunggulan, serta kompetensi unik yang
diberikan dari suatu merek dalam menyelesaikan masalah konsumen,
yang memungkinkan konsumen untuk mendapatkan manfaat yang
berasal dari kehendak, keperluan, impian, serta obsesi yang diwujudkan
dengan apa yang ditawarkan. Keunggulan dan nilai ditawarkan oleh
sebuah merek kepada pelanggan yang membuat pelanggan bisa
merasakan keuntungan karena kehendak, keperluan, mimpi serta
obsesinya bisa terwujud lewat apa yang ditawarkan yang telah disebutkan
sebelumnya.dengan memberi manfaat dan nilai yang sifatnya fungsional,
emosional, simbolis, atau sosial.
Definisi Citra Merek
Menurut Yossie Rossanty (2019:119) Citra Merek adalah seperangkat
ingatan yang ada di benak konsumen mengenai sebuah merek, baik itu positif
maupun negatif.
Menurut Tjiptono dalam jurnal Aprillia Dharmansah dan Sri Yanthi
Yosepha (2020), Citra merek adalah deskripsi asosiasi dan keyakinan
konsumen terhadap merek tertentu.
Menurut Kotler dan Keller dalam jurnal Ida Ayu Putu Dian Savitr dan
I Made Wardana (2018) Citra merek termasuk ke dalam penggambaran dari
pandangan individu terhadap suatu merek secara menyeluruh dimana hal ini
terbentuk dari sekumpulan informasi serta pengalaman di masa lampau atas
produk yang telah disebutkan sebelumnya. Citra merek ini termasuk ke
dalam penggambaran serta keyakinan yang dipegangkan oleh konsumennya,
seperti misalnya tergambarkan dari penggabungan yang ada pada ingatan
konsumennya..
Berdasarkan pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa citra
merek adalah sekumpulan kesan, ide, yang mendefinisikan sebuah merek
dalam benak konsumen.
Indikator Minat Beli Ulang
Indikator-indikator dari minat beli ulang Ferdinand (2006) dalam Sartika dewi (2017)
yang terdiri sebagai berikut :
- Kebutuhan akan produk,
- Keinginan membeli ulang,
- Ketertarikan untuk tetap menggunakan
Dimensi Minat Beli Ulang
Terdapat empat dimensi minat beli ulang (repurchase intention) menurut Ferdinand
(Saidani dan Arifin 2012) dalam jurnal Algustin, W., & Matoati, R. (2020), yaitu sebagai
berikut :
- Minat transaksional merupakan kecenderungan konsumen untuk selalu membeli ulang
produk yang telah dikonsumsinya. - Minat referensial merupakan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan produk
yang telah dikonsumsinya kepada orang lain - Minat preferensial merupakan perilaku konsumen yang menjadikan produk yang telah
dikonsumsinya sebagai pilihan utama. - Minat eksploratif merupakan keinginan konsumen untuk selalu mencari informasi
mengenai produk yang diminatinya.
Definisi Minat Beli Ulang
Menurut Kotler dan Keller dalam Juniawati (2015) dalam jurnal Rizal Manullang dkk
(2021), mendefinisiakan minat beli ulang sebagai tindakan konsumen pasca pembelian,
terjadinya kepuasan atau ketidakpuasan pasca pembelian konsumen terhadap suatu produk
yang mempengaruhi perilaku selanjutnya, dimana jika konsumen puas maka akan menunjukan
kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli kembali produk tersebut. Tjiptono (2015) dalam
jurnal Rizal Manullang dkk (2021), menambahkan Minat beli ulang menunjukan keinginan
pembeli untuk melakukan kunjungan ulang dimasa yang akan datang.
Menurut Ferdinand, (2006) dalam Sartika dewi (2017) Minat beli ulang adalah minat
pembelian terhadap suatu produk yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang telah
dilakukan di masa lalu. Menurut M. Yudha Prawira dkk (2019) Minat beli ulang merupakan
suatu perilaku konsumen yang berupa dorongan untuk melakukan pembelian kembali terhadap
suatu produk karena konsumen merasa puas dengan pembelian sebelumnya sehingga
memutuskan untuk melakukan pembelian secara teratur.
Menurut Desi Peburiyanti, Sabran (2020) berpendapat bahwa Minat Beli Ulang adalah
kegiatan dimana seseorang sudah pernah membeli atau pengalaman membeli serta
merasakan produk yang sudah dibeli dan kemudian kembali lagi untuk membeli, dari
kegitan tersebut maka dapat dikatakan bahwa hasil pembelian pertama yang memuaskan
tentu konsumen akan memiliki minat pembelian ulang.
Indikator Materialisme
Indikator dari Schiffman dan Kanuk dalam jurnal Regina Winatha & Sukaatmadja (2014),
sebagai berikut :
- Suatu barang sebagai penentu keberhasilan,
- Jumlah barang menentukan kesuksesan,
- Kepemilikan suatu barang akan membuat orang lain terkesan,
- Penggunaan uang untuk barang yang tidak diperlukan,
- Peran barang dalam menunjukan identitas diri,
- Keberadaan suatu barang yang dirasa mampu menimbulkan kepuasan tersendiri,
- Membeli barang membuat lebih bahagia,
- Membutuhkan banyak barang untuk membuat senang,
- Serta merasa resah jika belum memiliki semua barang yang diinginkan
Dimensi Materialisme
Fitriyah, L. (2016) materialisme sebagai tolak ukur kepuasan hidup mencakup tiga
dimensi dimana materi berfungsi sebagai berikut:
- Tujuan dalam hidup,
- Alat untuk mendapatkan kebahagiaan, dan
- Indikator pencapaian kesuksesan hidup
Pengertian Materialism
Menurut Leon G. Schiffman, Håvard Hansen and Leslie Kanuk (2012) mendefinisikan
Materialism sebagai A personality-like trait of individuals who regard possessions as
particularly essential to their identities and lives, artinya bahwa Materialism adalah Sifat
seperti kepribadian dari individu yang menganggap harta benda sebagai sesuatu yang khusus
penting bagi identitas dan kehidupan mereka.
Menurut Regina Winatha & Sukaatmadja (2014) materialisme didefinisikan sebagai
suatu sifat yang menganggap penting adanya kepemilikan barang, di mana kepemilikan
tersebut dirasa menunjukkan statusnya dan akan membuat ia merasa senang. (Dewi, et al.,
2015) dalam jurnal Rizal Manullang dkk (2021), Materialism didefinisikan sebagai sifat
individu yang ditunjukkan seseorang terhadap harta.
Materialisme didefinisikan sebagai perspektif sosial, budaya, psikologis, dan ekonomi
yang mempengaruhi pandangan hidup, orientasi nilai, sistem budaya, sifat dan kepribadian
seorang individu Bindah dan Othman, (2011) menurut Angga Wijaya & Yuniarinto (2015).
Seorang individu yang materialistis mempunyai kecenderungan untuk mengumpulkan harta
benda, dengan ukuran kuantitas dan kualitas barangnya sehingga hal-hal yang dipentingkan
bersifat keduniaan
Dampak Vanity Seeking
Menurut (Netemeyer, Burton, & Lichtenstein, 1995) dalam jurnal Wang, P. Z., & Waller,
D. S. (2006) dampak vanity yaitu:
- Pada permintaan untuk barang dan jasa yang tidak terhitung jumlahnya.
- Ada kebutuhan untuk lebih banyak tentang konstruksi psikologis penting yang dikenal
sebagai kesombongan konsumen
Indikator Vanity Seeking
Menurut Netemeyer dkk. (1995) , konstruk kesombongan memiliki dua tema (yaitu,
kesombongan fisik; kesombongan prestasi), yang selanjutnya dibagi menjadi empat
komponen:
- Perhatian pada penampilan fisik
- Pandangan positif terhadap penampilan fisik
- Kepedulian terhadap prestasi
- Pandangan positif tentang pencapaian
Definisi Vanity Seeking
Menurut Netemeyer, Burton, & Lichtenstein, (1995) Vanity’ adalah konstruksi yang telah
dieksplorasi secara ekstensif dalam penelitian merek mewah. Vanity adalah sifat pribadi yang
didefinisikan sebagai “memiliki perhatian yang berlebihan, atau pandangan positif tentang
penampilan fisik/prestasi pribadi seseorang”
Menurut Povy Amelia & Herry Maridjo (2020) Vanity seeking adalah salah satu
karakteristik konsumen yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Menurut
Durianto dan Liana (2004) dalam jurnal Rizal Manullang dkk (2021), menyatakan bahwa
vanity seeking adalah kepribadian seseorang yang memiliki kecenderungan ingin dipuji
Indikator Brand Image
Menurut Aaker dalam Aris Ananda (2014:69) ada 4 indikator yang perlu diperhatikan
dalam membentuk sebuah citra merek yaitu :
- Recognition (pengenalan merek) yaitu mencerminkan dikenalnya sebuah merek oleh
konsumen berdasarkan past exposure, yangartinya konsumen mengingat akan adanya atau
mengingat keberadaan merek tersebut. - Reputasion (reputasi merek) yaitu status yang cukup tinggi bagi sebuah merek karena dimata
konsumen merek memiliki track record yang baik. - Affinity (kekuatan merek) yaitu emotional relationship yang timbul antara sebuah merek
dengan konsumennya. - Domain (diferensiasi produk)yaitu menyangkut seberapa besar scope dari suatu produk
yang mau menggunakan merek bersangkutan
Faktor Terbentuknya Brand Image
Menurut (Schiffman & Kanuk, 2008) faktor yang mempengaruhi brand image adalah
:
a. Persepsi konsumen mengenai pengenalan produk
b. Persepsi konsumen terhadap kualitas, ukuran, daya tahan, design, warna produk dan harga.
c. Persepsi konsumen terhadap lokasi
Definisi Brand Image
Menurut Citra Merek Kotler dan Keller (2012) mendefinisikan brand image sebagai the
perceptions and beliefs held by consumers, as reflected in the associations held in consumer
memory, artinya bahwa citra merek adalah persepsi dan keyakinan yang dipegang oleh
konsumen, sebagaimana tercermin dalam asosiasi yang dimiliki dalam memori konsumen.
Menurut Aaker (2013) Citra merek adalah bagaimana pelanggan dan orang lain memandang suatu
merek.
Menurut Pradipta, (2012) Citra merek (brand image) merupakan representasi dari
keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu
terhadap merek itu Menurut Evelina dkk. (2012) Citra merek (brand image) merupakan
representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman masa lalu terhadap merek itu.
Menurut Rizal Manullang dkk (2021) Brand image merupakan persepsi konsumen
terhadap merek suatu produk yang dibentuk dari informasi yang didapatkan konsumen melalui
pengalaman menggunakan produk tersebut. Citra merek merupakan serangkaian kepercayaan
konsumen tentang merek tertentu sehingga asosiasi merek tersebut melekat dibenak konsumen.
Citra merek dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di benak konsumen ketika
mengingat suatu merek dari produk tertentu. Maharani Oktavia dkk (2020)
Dimensi Loyalitas terhadap Merek
Berdasarkan Algesheimer dkk. (2005) dan Fullerton (2005),
loyalitas merek dapat diukur melalui beberapa dimensi, sebagai
berikut:
1) This brand would be my fisrt choice (pilihan pertama).
Komitmen tetap dan konsisten yang dimiliki konsumen pada
merek dan tidak tertarik untuk berpindah pada merek apapun
yang ditawarkan.
2) I consider myself to be loyal to this brand (setia). Konsumen
merupakan pembeli yang memliki kebanggaan sebagai
pengguna merek dan sangat penting bagi mereka.
3) I will not buy other brands if the same product is available at
the store (tidak membeli merek lain). Konsumen tidak perlu
pertimbangan lagi dalam membeli ulang produk tersebut.
4) I recommend this brand to someone who seeks my advice
(merekomendasikan). Konsumen memberikan informasi
kepada orang lain mengenai keunggulan dan manfaat yang
dimiliki produk serta membujuknya untuk menggunakan
merek tersebut.
5) I get good value for my money (berani membayar lebih).
Konsumen berani membayar lebih banyak untuk merek yang
menjadi pilihannya tersebut.
6) I say positive things about this brand to other people
(kebenaran merek). Konsumen mengatakan hal-hal positif
kepada orang lain untuk mempromosikan dan
mengembangkan hubungan baik dengan merek tersebut
Klasifikasi Loyalitas terhadap Merek
Menurut Rundle-Thiele dan Bennett (2001), loyalitas merek
dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan tipe
pasar, yaitu:
1) Consumable goods markets
Riset loyalitas merek pada tipe pasar (Fast Moving
Consumer Goods) yaitu lebih fokus pada ukuran behavioral
loyalitas atau sering merupakan hasil dari perilaku kebiasaan
dan keterlibatan yang rendah dalam pembelian, seperti share
of category requirements (proporsi pembelian) dan allegiance
(periode waktu menggunakan merek tertentu). Contoh tipe
pasar ini yaitu sabun mandi, deterjen, pasta gigi, sereal, susu
bayi, dan es krim.
2) Durable goods market
Durable goods adalah produk manufaktur yang
berukuran ekonomis lama (biasanya lebih dari 1 tahun) dan
bisa digunakan berkali-kali, artinya pelanggan yang membeli
barang pada tipe pasar ini akan secara temporer keluar dari
pasar untuk produk tersebut sampai pelanggan tersebut
membutuhkan produk pengganti atau melakukan pembelian
ulang.
3) Service markets
Karakteristik loyalitas merek dalam tipe pasar ini sebagai
berikut:
a) Karakteristik intangibilitas dan variabilitas pada jasa
menyebabkan kebanyakan konsumen mempersepsikan
resiko yang lebih besar pada jasa dibandingkan barang,
sehingga kemungkinan loyalitas pada merek juga akan
meningkat.
b) Pelanggan biasanya adalah sole loyal dengan 100% share
of category requirements untuk merek tertentu, contohnya
dalam jasa pendidikan, salon kecantikan, konsultasi
hukum, konsultasi akuntansi, dan sebagainya.
c) Konsumen jasa kemungkinan akan tetap setia dengan
penyedia jasa tertentu apabila telah terjalin relasi yang
akrab diantara mereka.
d) Evaluasi kualitas jasa sangat sulit terutama pada
komsumen yang telah familiar dengan penyedia jasa
tertentu sehingga menyebabkan loyalitas merek lebih
sering dijumpai dalam sektor jasa.
e) Loyalitas dalam beberapa pasar jasa merefleksikan inersia.
f) Peranan faktor affect (mempengaruhi) dalam loyalitas
merek jasa adalah sangat penting
Manfaat Loyalitas
Berdasarkan Mao (2010), menunjukkan bahwa loyalitas
terhadap merek memiliki banyak manfaat yang dianggap sebagai
fitur penting dalam nilai merek, mengurangi biaya, sensitif
terhadap harga, membawa konsumen baru yang setia, dan dapat
menguntungkan dalam pasar global.
Terdapat beberapa karakteristik umum yang bisa
diidentifikasi apakah seorang konsumen mendekati loyalitas atau
tidak. Menurut Assael (1997), dikemukakan empat hal yang
menunjukkan kecenderungan konsumen yang loyal, sebagai
berikut:
1) Konsumen yang loyal terhadap merek cenderung lebih
percaya diri terhadap pilihannya.
2) Konsumen yang loyal lebih memungkinkan merasakan tingkat
resiko yang lebih tinggi dalam pembeliannya.
3) Komsumen yang loyal terhadap merek juga mungkin loyal
terhadap toko.
4) Kelompok konsumen yang minoritas cenderung lebih loyal
terhadap merek
Pengertian Loyalitas
Loyalitas adalah suatu komitmen yang mendalam untuk
melakukan pembelian ulang produk atau jasa yang sama dan
menjadi preferensinya secara konsisten pada masa yang akan
datang, meskipun ada pengaruh situasional dan usaha pemasaran
yang dapat menimbulkan perilaku peralihan. Dalam loyalitas
konsumen, tindakan berulang terhadap pembelian merek tersebut
dipengaruhi oleh kesetiaan terhadap merek (Schiffman dan
Kanuk, 2004; Purbasari dan Purnamasari, 2016).
Perilaku pembelian ulang kerapkali dihubungkan dengan
loyalitas merek (brand loyalty). Keduanya sama sekali berbeda,
perilaku pembelian berulang yaitu tindakan pembelian berulang
pada suatu atau merek yang lebih dipengaruhi oleh faktor
kebiasaan sedangkan loyalitas merek yaitu tindakan berulang
terhadap merek tersebut dipengaruhi oleh kesetiaan terhadap
merek (Shandi, 2011). Bila loyalitas merek mencerminkan
komitmen psikologis terhadap merek tertentu, sedangkan
pembelian ulang bisa merupakan hasil dominasi pasar oleh suatu
perusahaan yang berhasil membuat produknya menjadi satu-
satunya alternatif tersedia atau hasil upaya promosi terus menerus
sehingga dapat memikat dan membujuk pelanggan untuk membeli
kembali merek yang sama. Pelanggan yang setia pada merek
tertentu cenderung terikat pada merek tersebut dan bakal membeli
produk yang sama lagi sekalipun tersedia banyak alternatif
sebagai suatu komitmen (Tjiptono, 2011)
Dimensi Kepercayaan terhadap Merek
Berdasarkan Chaudhuri dan Holbrook (2001), serta Matzler
dkk. (2008), terdapat lima dimensi dalam kepercayaan terhadap
merek, yaitu:
1) I trust on this brand (percaya), merupakan wujud dari
konsumen yang mempercayai sebuah produk atau jasa melalui
merek.
2) I rely on this brand (dapat diandalkan), suatu tingkat
kepercayaan terhadap merek melalui katakteristik dari sebuah
merek bahwa produk atau jasa tersebut dapat diandalkan.
3) This is an honest brand (jujur), tingkat kepercayaan terhadap
merek yang jujur.
4) This brand meets my expectations (sesuai harapan), tingkat
kepercayaan dari produk atau jasa sebuah merek yang sesuai
dengan harapan seperti yang diinginkan konsumen.
5) This brand is safe (aman), tingkat keamanan yang dipercayai
konsumen terhadap suatu merek produk atau jasa
Faktor Trust
Berdasarkan Lau dan Lee (1999), terdapat beberapa faktor
yang berperan penting dalam membentuk kepercayaan terhadap
merek meliputi, yaitu:
1) Brand Predictability, berkaitan dengan kemampuan pelanggan
untuk mengantisipasi (tingkat keyakinan yang beralasan)
kinerja merek pada berbagai situasi pemakaian dengan
terbentuknya berbagai hasil interaksi ulangan dan konsistensi
tingkat kualitas produk/jasa.
2) Brand Liking, berkaitan dengan merek tertentu disukai atau
tidak oleh pelanggan.
3) Brand Competence, mengacu pada kemampuan merek untuk
memecahkan masalah pelanggan dan memenuhi kebutuhan
atau keinginan pelanggan, dengan menilai pelanggan melalui
pengalaman atau komunikasi terhadap pemaikaian
produk/jasa.
4) Brand Reputation, mengacu pada pendapat orang lain bahwa
merek tersebut bagus dan handal yang dapat terbentuk melalui
periklanan, public relations, kualitas produk, dan kinerja
produk/jasa.
Pengertian Kepercayaan
Kepercayaan adalah perilaku kerelaan konsumen untuk
bergantung pada kemampuan yang menggambarkan fungsi produk
(Chauduri dan Holbrook, 2001). Kepercayaan merek (brand trust)
digambarkan sebagai kerelaan individu mempercayai kemampuan
merek untuk memuaskan kebutuhannya. Dalam situasi ini dimana
individu tidak dapat secara objektif mengevaluasi kualitas dari
produk di muka, brand trust memainkan peranan penting dalam
mengurangi ketidakpastian dalam pembelian (Fauzan, 2016).
Kepercayaan konsumen terhadap merek hanya dapat
diperoleh bila pemasar dapat menciptakan dan mempertahankan
hubungan emosional yang positif dengan konsumen. Hubungan
emosional yang positif ini harus dibangun selama jangka waktu
yang tidak pendek namun harus dilakukan secara konsisten dan
persisten. Terdapat tiga aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan
untuk menumbuhkan kepercayaan konsumen yaitu harapan
konsumen, konsistensi ucapan dan tindakan, dan kemampuan
perusahan dalam memperhatikan konsumen (Ferrinadewi, 2008).
Dimensi Citra Merek
Terdapat tiga tipe utama merek, dimana masing-masing
memiliki citra merek yang berbeda, yaitu (Hankinson, 2003;
Whitwell dkk., 2003):
1) Attribute brands, yaitu merek-merek yang memiliki citra yang
dapat menghubungkan keyakinan/kepercayaan terhadap
atribut fungsional produk, sehingga konsumen akan memilih
merek-merek yang terlihat sesuai dengan kualitasnya.
2) Aspirational brands, yaitu merek-merek yang menyampaikan
citra tentang tipe orang yang membeli merek bersangkutan
(gaya hidup), sehingga status, pengakuan sosial, dan identitas
jauh lebih penting dari pada nilai fungsional produk.
3) Experience brands, yaitu mencerminkan merek-merek yang
menyampaikan citra asosiasi dan emosi bersama, sehingga
citra dapat melebihi dari sekedar aspirasi dan lebih berkenaan
dengan filosofi antara merek dan konsumen individual.
Berdasarkan Keller (1993), citra merek memiliki tiga
dimensi merupakan serangkaian asosiasi yang terdapat dalam
benak konsumen terhadap suatu merek yang akan terorganisasi
menjadi suatu makna, sebagai berikut:
1) Favorability of brand association, keuntungan atau kesukaan
dari asosiasi merek agar dapat menciptakan sikap positif jika
manfaat dan atribut merek tersebut dapat memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen.
2) Strength of brand association, kekuatan dari asosiasi merek
yang terbentuk dari informasi yang masuk ke dalam ingatan
konsumen dan dapat terus bertahan.
3) Uniqueness of brand association, keunikan dari asosiasi merek
yang mampu menimbulkan asosiasi yang kuat dalam pikiran
konsumen.
Hubungan pada suatu merek akan menjadi kuat jika
didasarkan pada pengalaman dan mendapat banyak informasi.
Citra atau asosiasi mempresentasikan persepsi yang dapat
merefleksikan kenyataan secara obyektif. Citra yang terbentuk
dari asosiasi ini yang akan menjadi tolak ukur dalam keputusan
pembelian oleh konsumen
Faktor Citra Merek
Menurut Sulistian (2011), terdapat tujuh faktor pembentuk
citra merek, yaitu sebagai berikut:
1) Kualitas atau mutu yaitu berkaitan dengan kualitas produk
barang atau jasa yang ditawarkan oleh produsen dengan merek
tertentu.
2) Dapat dipercaya atau diandalkan yaitu berkaitan dengan
pendapat atau kesepakatan yang dibentuk oleh masyarakat
tentang suatu produk yang dikonsumsi.
3) Kegunaan dan manfaat yaitu berkaitan dengan fungsi suatu
produk atau jasa yang bisa dimanfaatkan oleh konsumen.
4) Pelayanan yaitu berkaitan dengan tugas produsen dalam
melayani.
5) Resiko yaitu berkaitan dengan besar kecilnya akibat atau
untung rugi yang mungkin dialami oleh konsumen. rkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak
sedikitnya jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk
mempengaruhi suatu produk, yang dapat mempengaruhi citra
jangka panjang.
7) Citra yang dimiliki merek itu sendiri yaitu berupa pandangan,
kesepakatan, dan informasi yang berkaitan dengan suatu
merek dari produk tertentu
Pengertian Citra Merek
Citra merek adalah apa yang konsumen pikir atau rasakan
ketika mereka mendengar atau melihat nama suatu merek atau apa
yang konsumen telah pelajari tentang merek (Supranto dan
Limakrisna, 2011). Citra merek menurut Keller (1993) yaitu
“brand image is consumer perception about a brand, as reflected
by the brand associations held inconsumer memory” yang artinya
citra merek merupakan persepsi konsumen tentang suatu merek
yang ada pada pikiran konsumen. Persepsi ini terbentuk
berdasarkan pengalaman pribadi konsumen, dapat berupa persepsi
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, sehingga dapat
membentuk citra yang kuat dan akan tersimpan di memori
konsumen (Hsieh, 2008).
Indikator Variabel Keputusan Pembelian
Menurut Sfenrianto et al. (2018), indikator dalam mengukur keputusan pembelian
adalah sebagai berikut:
1) Perceived ease of use and usefulness didefinisikan sebagai sejauh mana individu
merasakan betapa mudahnya menggunakan teknologi dan sejauh mana individu
percaya betapa bermanfaatnya teknologi tersebut.
2) Perceived low cost adalah biaya unit yang menurut konsumen timbul dengan
melakukan aktivitas tertentu. Pengeluaran konsumen terdiri dari elemen harga
langsung dan biaya non-harga yang kami asumsikan independen.
3) Purchase experience berarti lamanya waktu yang digunakan dalam posisi di
mana pelanggan memiliki tanggung jawab untuk melakukan fungsi dalam siklus
pembelian.
4) Compatibility adalah metrik keseluruhan yang mengukur nilai yang diberikan
konsumen pada merek. Ini menunjukkan seberapa efektif hubungan konsumen
dengan merek.
5) Interpersonal influence adalah kemampuan dari orang yang bisa memberikan
pengaruh di lingkungan sekitar terutama di masyarakat, suatu kelompok atau
komunitas
6) External influence adalah faktor-faktor yang berada di luar kendali suatu merek.
Meskipun merek tidak memiliki kendali atas pengaruh eksternal, pengaruh
tersebut dapat berdampak besar pada keputusan pembelian pelanggan.
7) Facilitating conditions adalah variabel yang menjelaskan seorang individu
percaya bahwa infrastruktur dan teknis dan organisasi yang ada dapat
mendukung dalam menggunakan teknologi
8) Self-efficacy merupakan sebuah keyakinan diri atau kepercayaan individu
terhadap kemampuan mereka dalam melakukan suatu hal, menghasilkan sesuatu,
mengorganisasi, mencapai tujuan mereka, dan juga mengimplementasikan
tindakan guna mewujudkan keahlian tertentu
Dimensi Keputusan Pembelian
Ada enam dimensi keputusan pembelian menurut Kotler dan Armstrong dalam
Widokarti (2019:38) antara lain:
1) Product Choice (Pilihan Produk)
Konsumen dapat memilih untuk membeli produk atau membelanjakan
uangnya di tempat lain. Dalam hal ini, perusahaan harus mengalihkan
perhatiannya ke orang yang tertarik untuk membeli produk yang mereka
pertimbangkan sebagai penggantinya.
2) Brand Choice (Pilihan Merek)
Konsumen harus memilih merek mana yang akan dibeli. Setiap merek
memiliki perbedaannya sendiri. Dalam hal ini, perusahaan perlu mengetahui
bagaimana konsumen memilih merek yang mereka percayai.
3) Dealer Choice (Pilihan tempat Penyalur)
Konsumen harus memutuskan retailer yang akan dituju. Setiap
konsumen berbeda ketika memilih pengecer. Hal ini mungkin disebabkan oleh
faktor-faktor seperti kedekatan dengan lokasi, harga yang murah, pemilihan
produk yang baik, kemudahan berbelanja, dan keluasan tempat dan sebagainya.
4) Purchase Amount (Jumlah Pembelian atau Kuantitas)
Konsumen dapat memutuskan berapa banyak produk yang ingin mereka
beli dalam satu waktu. Pembeli mungkin menginginkan beberapa jenis produk.
Dalam hal ini, perusahaan harus menyiapkan jumlah produk sesuai dengan
permintaan pembeli yang berbeda.
5) Purchase Timing (Waktu Pembelian)
Konsumen memiliki pilihan waktu yang berbeda saat menentukan
kapan akan membeli sesuatu.
6) Payment Method (Metode Pembayaran)
Konsumen dapat membuat pilihan metode pembayaran saat membuat
keputusan pembelian menggunakan produk atau layanan yang tersedia. Saat ini,
keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh aspek budaya, lingkungan,
dan keluarga, tetapi keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh teknologi yang
digunakan di dalamnya
Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian menurut Kotler
(2016) dipengaruhi oleh empat faktor sebagai berikut :
1) Faktor Budaya
Budaya, sub budaya, dan kelas sosial merupakan hal yang sangat
penting dalam terbentuknya perilaku pembelian. Budaya merupakan salah satu
faktor penentu keinginan dan perilaku konsumen yang paling dasar.
2) Faktor Sosial
a. Kelompok acuan
Kelompok acuan dalam perilaku pembelian konsumen dapat diartikan
sebagai kelompok yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung
terhadap sikap atau perilaku seseorang.
b. Keluarga
Keluarga dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu keluarga orientas yang
terdiri dari orang tua dan saudara kandung seseorang yang dapat memberikan
orientasi agama, politik, dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri, dan
cinta. Selanjutnya itu ada keluarga prokreasi yang terdiri dari pasangan dan
jumlah anak.
c. Pribadi
- Usia dan siklus hidup keluarga Orang membeli barang dan jasa tentunya
mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda sepanjang hidupnya dimana
kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh faktor usia dan siklus hidup
keluarga. - Pekerjaan dan lingkungan ekonomi, Pekerjaan dan lingkungan ekonomi
seseorang dapat mempengaruhi kebutuhannya. Biasanya pemilihan
produk juga dipertimbangkan berdasarkan keadaan ekonomi seseorang
seperti besarnya penghasilan yang dimiliki, jumlah tabungan, utang dan
sikap terhadap belanja atau menabung. - Gaya hidup, Gaya hidup dapat diartikan sebagai sebuah pola hidup
seseorang yang terungkap dalam aktivitas, minat dan opininya yang
terbentuk melalui kelas sosial dan pekerjaan. Melihat hal ini sebagai
peluang dalam kegiatan pemasaran, banyak pemasar atau penjual yang
mengarahkan merek mereka pada gaya hidup seseorang. - Kepribadian, Kepribadian merupakan ciri bawaan psikologis manusia
yang berbeda yang menghasilkan tanggapan relatif konsisten dan tahan
lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian dapat menjadi
variabel yang sangat berguna dalam menganalisis pilihan merek
konsumen. Hal ini disebabkan karena beberapa kalangan konsumen akan
memilih merek yang cocok dengan kepribadiannya.
3) Faktor Psikologis
Faktor psikologis ini dipengaruhi oleh empat faktor utama diantaranya
motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.
4) Faktor Peran dan Status
Semakin tinggi peran seseorang dalam organisasi maka semakin tinggi
pula status seseorang dalam organisasi tersebut dan secara langsung dapat
berdampak pada perilaku pembeliannya
Definisi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Armstrong (2018:177), keputusan pembelian adalah
keputusan konsumen dalam membeli merek yang paling disukai. Pada tahap evaluasi,
konsumen memeringkat merek dan membentuk niat pembelian. Secara umum, ada dua
faktor yang muncul antara niat membeli dan keputusan pembelian, yaitu sikap orang
lain dan faktor situasional yang tak terduga.
Kotler dan Keller (2016:198) menjelaskan bahwa keputusan pembelian adalah
proses dalam tahap evaluasi dimana konsumen membentuk preferensi di antara merek-
merek dalam kumpulan pilihan yang memungkinkan untuk membentuk niat membeli
merek yang paling disukai.
Menurut Kerin dan Hartley (2018:96), keputusan pembelian adalah proses lima
tahap yang dilalui pembeli dalam membuat pilihan tentang produk dan jasa mana yang
akan dibeli mencakup pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif,
keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian.
Keputusan konsumen untuk membeli atau tidak membeli suatu produk atau jasa
merupakan aspek yang penting bagi pemasar. Keputusan tersebut sekaligus
menunjukkan seberapa efektif sebuah program pemasaran yang direncanakan oleh para
pemasar berhasil mempengaruhi perilaku pembelian konsumen (Razak,2016).
Sedangkan menurut Firmansyah (2019:205), keputusan pembelian adalah
kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan individu untuk memilih alternatif yang
sesuai dari dua atau lebih alternatif dan dianggap sebagai tindakan yang paling tepat
dalam membeli dengan terlebih dahulu melalui tahap-tahap proses pengambilan
keputusan.
Indikator Variabel Online Customer Review
Ulasan adalah salah satu dari beberapa faktor yang menentukan keputusan
pembelian seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah ulasan dapat digunakan
sebagai indikator popularitas produk atau nilai produk, yang mempengaruhi kemauan
untuk membeli suatu produk. Menurut Farki (2016), ulasan pelanggan online memiliki
tiga indikator antara lain:
1) Perceived Usefulness
Perceived Usefulness didefinisikan sebagai persepsi subjektif individu
tentang kemampuan sistem untuk meningkatkan kinerja saat menyelesaikan
tugas, secara tidak langsung mempengaruhi penerimaan penggunaan sistem
Dengan demikian, hal itu mempengaruhi kegunaan yang dirasakan.
2) Perceived Enjoyment
Perceived Enjoyment adalah motivasi intrinsik yang menggaris bawahi
proses penggunaan dan mencerminkan kesenangan dan kenikmatan yang
terkait dengan menggunakan sistem.
3) Perceived Control
Perceived control yaitu jumlah control yang konsumen rasakan dari
yang online customer review berikan selama proses belanja online. Perceived
control tidak hanya dianggap sebagai interaksi dengan produk itu sendiri,
melainkan sebagai konsekuensi dari perilaku interaksi dengan situs dan fitur-
fiturnya.
Dimensi Online Customer Review
Online customer review merupakan bagian dari electronic word of mouth (e-
WOM) dimana konsumen melakukan keputusan pembelian berdasarkan ulasan positif
dan negatif mengenai suatu produk atau layanan melalui jaringan internet. Dengan
demikian, dimensi Online customer review diambil berdasarkan dimensi e-WOM.
Menurut Zhao et al (Kamila,2019) terdapat 6 dimensi e-WOM diantaranya:
1) Usefulness of Online Consumer Review
Kegunaan ulasan konsumen online terletak pada sejauh mana mereka
memfasilitasi proses pengambilan keputusan pembelian konsumen. Kegunaan
ulasan konsumen online adalah salah satu aspek yang digunakan pengguna
untuk mengukur ulasan konsumen online. Dengan begitu banyak informasi
yang diperoleh, hanya komentar dan opini yang layak mempengaruhi
keputusan konsumen.
2) Reviewer Expertise
Salah satu karakter ulasan konsumen online adalah dibuat oleh orang
tanpa nama. Untuk menyaring informasi, pengguna dapat mengikuti pakar
pasar yang berspesialisasi dalam minat tertentu. Individu yang memiliki
keahlian tinggi adalah seseorang yang memiliki atau lebih pengetahuan tentang
suatu produk atau layanan. Di dunia maya dan Internet, seseorang yang
menulis informasi di Internet mengundang orang lain yang sudah
berpengalaman untuk mendiskusikannya karena dianggap sudah ahli.
Konsumen dapat mengidentifikasi pakar pasar dan mengikuti mereka saat
membuat keputusan pembelian. Sejauh mana sumber dianggap sebagai pakar
pasar ditentukan oleh keahliannya dalam bidang minat tertentu.
3) Timeliness of Online Customer Review
Saat mencari informasi, konsumen dihadapkan pada sejumlah besar
informasi relevan yang ditetapkan untuk periode waktu tertentu. Timeliness
mengacu pada apakah pesan tersebut up to date. Pesan itu disebut “spotlight
review” karena dapat menampilkan satu ulasan di depan yang lain. Ulasan
terbaru akan menarik perhatian konsumen.
4) Volume of Online Customer Review
Volume adalah atribut penting word of mouth dan digunakan untuk
mengukur jumlah pesan interaktif. Volume of Online Customer Review adalah
jumlah komentar atau testimonial dari pengulas tentang produk atau layanan
yang lebih spesifik. Ulasan Diposting oleh pengulas adalah atribut word of
mouth, mewakili kumpulan ulasan dari semua penulis. Volume of Online
Customer Review membuktikan tidak semua produk dan layanan yang
diperlukan sama. Oleh sebab itu, ulasan yang diperoleh akan berbeda karena
setiap konsumen berbeda dalam menilai sesuatu.
5) Valence of Online Customer Review
Nilai sebuah pesan yang diberikan dalam rating konsumen online dapat
dibagi menjadi dua kategori. Pesan yang terfokus pada hal yang positif (benefit
gain) dan sebaliknya pada hal yang negatif (benefit lost). Ulasan Konsumen
Online memungkinkan laporan negatif dan positif disampaikan secara
bersamaan.
6) Comprehensiveness of Online Customer Review
Kelengkapan ulasan konsumen online digunakan untuk mengukur
seberapa detail dan lengkap sebuah ulasan. Ulasan konsumen online di Internet
mengandung variasi pesan yang disampaikan, dari rekomendasi sederhana
hingga rekomendasi yang lebih rinci dan kompleks berdasarkan deskripsi
faktual, pengetahuan yang lebih spesifik dibutuhkan untuk menentukan
keputusan pembelian. Integritas peringkat konsumen online dapat menjadi
faktor penting bagi pelanggan ketika dihadapkan dengan ketidakpastian di
lingkungan dunia maya karena banyaknya informasi yang tersedia.
Manfaat Online Customer Review
Menurut Haije (2017) manfaat dari adanya online customer review adalah:
1) Memberikan gambaran produk pada pelanggan
2) Membangun kepercayaan merek
3) Menunjukkan ciri khas merek suatu merek
Licata (2022) mengungkapkan online customer review memiliki peran penting
dalam jalannya bisnis diantaranya :
4) Memperluas jangkauan pasar
5) Mempengaruhi keputusan pembelian calon konsumen
6) Meningkatkan reputasi merek
Definisi Online Customer Review
Menurut Zhu (Setyani & Azhari, 2021) Online Customer review merupakan
ulasan yang diberikan oleh konsumen berkaitan dengan informasi penilaian suatu
produk dari berbagai aspek, dengan adanya informasi ini konsumen dapat mengetahui
kualitas produk yang akan dibeli dari pengalaman konsumen lain yang telah membeli
produk dari penjual online. Konsumen biasanya akan mencari informasi mengenai
produk sebelum melakukan keputusan pembelian, salah satu caranya dengan melihat
ulasan konsumen mengenai produk yang akan dibeli. Online customer review biasanya
berisi ulasan positif dan ulasan negatif mengenai suatu produk, jasa atau penjual
(perusahaan) dan dibuat oleh konsumen menggunakan jaringan internet dan
mendeskripsikan kondisi produk yang dibeli.
Ulasan online berfokus membangun kehadiran dan kepercayaan konsumen
yang ingin bertransaksi secara online, sekaligus mempelajari pendapat pengunjung
tentang produk atau layanan tertentu atau bahkan toko atau web secara keseluruhan.
Ulasan sering ditampilkan secara publik di situs web atau platform pihak ketiga untuk
mendapatkan kepercayaan pengunjung (Haije,2017).
Online Customer review merupakan bagian dari electronic word of mouth
(eWOM) dimana ulasan tersebut merupakan pendapat langsung dari konsumen yang
pernah membeli atau menggunakan produk dan bukan sebuah iklan. Online Customer
review dianggap benar karena dilakukan tanpa paksaan oleh konsumen yang sudah
membeli atau menggunakan produk tersebut (Hariyanto dan Trisunarno, 2021)
Indikator Variabel Brand Image
Menurut Aaker & Biel dalam Keller & Swaminathan (2020:239), indikator brand
image dapat dilihat dari:
1) Citra Perusahaan (Corporate Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau
jasa. Meliputi: popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, serta pemakai itu
sendiri.
2) Citra produk / konsumen (product Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa. Meliputi: atribut dari
produk, manfaat bagi konsumen, serta jaminan.
3) Citra pemakai (User Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.
Meliputi: pemakai itu sendiri, serta status sosialnya.
Komponen Brand Image
Menurut Keller (2020:76) bahwa brand image terdiri dari komponen-komponen:
1) Attributes (Atribut) Merupakan pendefinisian deskriptif tentang fitur-fitur yang ada
dalam produk atau jasa.
a. Product related attributes (atribut produk) Didefinisikan sebagai bahan-bahan
yang diperlukan agar fungsi produk yang dicari konsumen dapat bekerja.
Berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang
ditawarkan, dapat berfungsi.
b. Non-product related attributes (atribut non-produk) Merupakan aspek eksternal
dari suatu produk yang berhubungan dengan pembelian dan konsumsi suatu
produk atau jasa. Terdiri dari: informasi tentang harga, kemasan dan desain
produk, orang, per group atau selebriti yang menggunakan produk atau jasa
tersebut, bagaimana dan dimana produk atau jasa itu digunakan.
2) Benefits (Keuntungan) Nilai personal yang dikaitkan oleh konsumen pada atribut-
atribut produk atau jasa tersebut.
a. Functional benefits : berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti
kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah.
b. Experiential benefits : berhubungan dengan perasaan yang muncul dengan
menggunakan suatu produk atau jasa. Benefit ini memuaskan kebutuhan
bereksperimen seperti kepuasan sensori.
c. Symbolic benefits : berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan sosial atau
ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Konsumen akan menghargai nilai-
nilai prestise, eksklusivitas dan gaya fashion merek karena hal-hal ini
berhubungan dengan konsep diri mereka
Faktor-Faktor Pembentuk Brand Image
Menurut Schiffman & Kanuk dalam Murti (2019) faktor-faktor yang
mempengaruhi dan membentuk brand image di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Quality, berkaitan dengan kualitas yang ditawarkan produsen baik barang
maupun jasa. Dalam hal pendidikan mencakup kompetensi tenaga pendidik dan
kapabilitas alumni serta keluasan dalam memperoleh pekerjaan.
2) Trusted, berkaitan dengan pandangan atau pendapat yang tercipta oleh
masyarakat atau konsumen terhadap suatu produk yang dikonsumsi.
3) Profit, berkaitan dengan manfaat dari suatu produk barang atau jasa yang bisa
digunakan konsumen.
4) Service, berkenaan perihal pelayanan yang melayani konsumen oleh pembuat
atau produsen.
5) Consequence, berkaitan dengan efek yang mungkin dihadapi konsumen baik
besar kecilnya akibat atau untung ruginya setelah konsumen atau mahasiswa
memilih atau memutuskan suatu produk atau perguruan tinggi dalam
pendidikan.
6) Cost, berkaitan dengan sedikit atau banyaknya jumlah uang atau biaya untuk
suatu produk yang dikeluarkan konsumen atau mahasiswa untuk menempuh
pendidikan ke depannya.
7) Citra yang dipunyai brand itu sendiri, berkaitan dengan pendapat, persepsi serta
berita suatu produk dari merek tertentu.
Dimensi Brand Image
Menurut Wijaya (2013), terdapat lima dimensi yang membentuk brand image,
antara lain:
1) Brand Identity
Brand identity mengacu pada identitas fisik atau berwujud yang terkait
dengan merek atau produk yang membuat konsumen mudah mengidentifikasi
dan membedakan dengan merek atau produk lain, seperti logo, warna, suara,
bau, kemasan, lokasi, identitas perusahaan, slogan, dan lain-lain.
2) Brand Personality
Brand personality adalah karakter khas suatu merek yang membentuk
kepribadian tertentu sebagai manusia, sehingga khalayak konsumen dapat
dengan mudah membedakan dengan merek lain dalam kategori yang sama,
seperti karakter tegas, kaku, bermartabat, mulia, ramah, hangat, penyayang,
mudah bergaul, dinamis, kreatif, mandiri, dan sebagainya.
3) Brand Association
Brand association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu
dikaitkan dengan suatu merek, dapat timbul dari penawaran unik suatu produk,
kegiatan yang berulang dan konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau
kegiatan tanggung jawab sosial, isu-isu yang sangat kuat terkait dengan suatu
merek, serta simbol dan makna tertentu yang sangat kuat melekat pada sebuah
brand
4) Brand Behavior & Attitude
Brand behavior & attitude adalah perilaku dan sikap suatu merek ketika
berkomunikasi dan berinteraksi dengan konsumen dalam rangka menawarkan
manfaat-manfaat dan nilai-nilai yang dimilikinya. Dengan kata lain, sikap dan
perilaku merek adalah sikap, tata krama, dan perilaku yang ditunjukkan oleh
merek dan segala atributnya ketika berkomunikasi dan berinteraksi dengan
konsumen yang pada gilirannya mempengaruhi persepsi dan penilaian
konsumen terhadap merek tersebut.
5) Brand Competence & Benefit
Brand competence & benefit adalah nilai-nilai, keunggulan, dan
kompetensi khas yang ditawarkan oleh suatu merek dalam memecahkan
masalah konsumen, yang memungkinkan konsumen memperoleh manfaat
karena kebutuhan, keinginan, impian, dan obsesinya diwujudkan dengan apa
yang ditawarkannya
Definisi Brand Image
Menurut Keller (2020:76), brand image adalah persepsi tentang suatu merek
sebagaimana tercermin oleh asosiasi merek yang ada dalam ingatan konsumen. Dapat
disimpulkan bahwa brand image merupakan pemahaman konsumen mengenai suatu
brand secara keseluruhan dengan kepercayaan dan pandangan terhadap suatu brand.
Sedangkan, Firmansyah (2019:60) mendefinisikan brand image sebagai suatu
persepsi yang muncul di benak konsumen ketika mengingat suatu merek dari jajaran
produk tertentu. Selanjutnya, pengalaman tersebut kemudian akan tercitra atau
tergambarkan pada merek sehingga membentuk brand image yang positif maupun
negatif tergantung dari berbagai pengalaman dan citra sebelumnya dari merek.
Kotler dan Keller (2014:315) menjelaskan brand image adalah persepsi dan
keyakinan konsumen yang tercermin dalam asosiasi yang terjadi dalam ingatan
konsumen. Asosiasi-asosiasi itu akan menyamakan serta membedakan produk serupa
dengan merek yang berbeda. Brand image adalah citra pembeda yang dihasilkan serta
digunakan sebagai pembanding dalam asosiasi-asosiasi tersebut.
Sedangkan menurut Setiadi (2016), brand Image adalah representasi dari
keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa
lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa
keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang
positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
STRUKTUR KEPUTUSAN PEMBELIAN
Kepentingan untuk membeli yang diambil oleh pembeli itu sebenarnya
merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan-keputusan. Menurut Swastha
(2010:102), setiap keputusan membeli merupakan suatu struktur sebanyak tujuh
komponen yaitu:
a. Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli atau menggunakan uangnya
untuk membeli suatu barang atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal
ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat
membeli produk serta instrumentvlain yang mereka pertimbangkan.
b. Keputusan tentang bentuk produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu produk dengan bentuk
tertentu. Keputusan tersebut menyangkut pola, ukuran, mutu, suara, corak, dan lain-
lain.
c. Keputusan tentang merek
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang merek mana yang akan diambil. Dalam
hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
d. Keputusan tentang penjualan
Konsumen mengambil keputusan dimana produk tersebut akan dibeli, apakah di serba
ada, elektronik, khusus dan lain-lain. Oleh karena itu pemasar harus mengetahui
bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.
e. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya
pada suatu saat.
f. Keputusan waktu pembelian
Konsumen mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian.
Keputusan tersebut menyangkut tentang ketersediaan dana (kapan uang/kesempatan
tersedia) untuk membeli produk yang akan dipilihnya.
g. Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen harus dapat mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran
produk yang akan dibeli, apa secara tunai atau cicilan.
Tipe Pengambilan Keputusan Konsumen
Konsumen dibagi menjadi beberapa tipe dalam pemecahan masalah ketika melakukan
pengambilan keputusan. Hal tersebut dijelaskan oleh Schiffman dan Kanuk dalam buku
Ujang Sumarwan (2011:360) menyebutkan tiga tipe pengambilan keputusan konsumen
:
- Pemecahan masalah yang diperluas
Ketika konsumen tidak memiliki kriteria untuk mengevaluasi sebuah kategori
produk atau merek tertentu pada kategori tersebut, atau tidak membatasi jumlah mereka
yang dipertimbangkan ke dalam jumlah yang mudah dievaluasi, maka pengambilan
keputusannya bisa disebut sebagai pemecahan masalah yang diperluas. - Pemecahan masalah terbatas
Pada tipe keputusan ini, konsumen telah memiliki kriteria dasar untuk
mengevaluasi kategori produk dan berbagai merek pada kategori tersebut. Namun,
konsumen belum memiliki preferensi tentang merek tertentu. Konsumen hanya
membutuhkan tambahan informasi untuk bisa membedakan antara berbagai merek
tersebut. - Pemecahan masalah rutin
Konsumen telah memiliki pengalaman terhadap produk yang akan dibelinya. Ia
juga telah memiliki standar untuk mengevaluasi merek. Konsumen sering kali hanya
me-review apa yang telah diketahuinya. Konsumen hanya membutuhkan informasi
yang sedikit
Model dan Pengambilan Keputusan
Setiap individu pasti memiliki cara pandang yang berbeda-beda, cara pandang
tersebut mempengaruhi konsumen dalam pengambilan keputusan. Menurut Schiffman
dan Kanuk dalam buku Ujang Sumarwan (2011:358) menjelaskan terdapat empat
model konsumen yang mempunyai cara pandang berbeda dalam pengambilan
keputusan, yaitu:
- Manusia Ekonomi
Manusia dipandang sebagai individu yang melakukan keputusan secara rasional.
Manusia ekonomi berusaha mengambil keputusan yang memberikan kepuasan
maksimum. Keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ekonomi, seperti
harga, jumlah barang, utilitas marjinal, dan kurva indifferen. - Manusia Pasif
Model ini menggambarkan manusia sebagai individu yang mementingkan diri
sendiri dan menerima berbagai macam promosi yang ditawarkan pemasar. - Manusia Kognitif
Model manusia kognitif menggambarkan konsumen sebagai individu yang berfikir
untuk memecahkan masalah (a thinking problem solver). - Manusia Emosional
Model ini menggambarkan konsumen sebagai individu yang memiliki perasaan
mendalam dan emosi yang memperngaruhi pembelian atau pemilikan barang-barang
tertentu
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan salah satu bagian dalam tahap-tahap proses
pembelian konsumen. Sebelum membahas tahap-tahap tersebut dan untuk memberikan
gambaran mengenai keputusan pembelian, maka akan dikemukakan terlebih dahulu
definisi mengenai keputusan pembelian menurut para ahli.
Schiffman dan Kanuk (2007) dalam swas (2004:289) mendefinisikan bahwa suatu
keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif.
Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan
alternatif. Artinya bahwa seseorang dalam membuat keputusan, haruslah tersedia
beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada
bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut. Kotler & Keller (2009:240)
mendefinisikan “Keputusan Pembelian konsumen adalah keputusan para konsumen
membentuk preferensi atas merek-merek yang ada dalam kumpulan pilihan, konsumen
tersebut juga dapat membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai”.
Dari pengertian keputusan pembelian menurut para ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa keputusan pembelian konsumen adalah proses yang dialami oleh konsumen
pada suatu kegiatan pembelian suatu produk, sehingga konsumen dalam kegiatan
tersebut melakukan tindakan yaitu memilih dari beberapa alternatif yang ada.
Faktor – Faktor yang Mempengharui Keputusan Pembelian Konsumen
Keputusan pembelian dari konsumen sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor penting.
Faktor-faktor ini sangat penting untuk diketahui bagi pemasar agar dapat menentukan
strategi yang akan diterapkan. Seperti yang telah dikemukakan oleh Kotler & Keller
(2009:166-172) bahwa perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor
budaya, sosial, pribadi dan psikologis. Masing-masing dari faktor-faktor tersebut
memiliki subfaktor yang menjadi elemen pembentuknya. Faktor-faktor budaya
mempunyai pengaruh yang paling luas dan paling dalam. Faktor-faktor tersebut adalah
:
a. Faktor Budaya
Faktor budaya memiliki pengaruh yang sangat luas dan mendalam terhadap perilaku
konsumen, mencakup budaya, sub budaya, dan kelas sosial konsumen. Budaya adalah
suatu nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan tingkah laku dari keluarga dan institusi
lainnya. Setiap perilaku konsumen dipengaruhi oleh berbagai sistem nilai dan norma
budaya yang berlaku pada suatu daerah tertentu, untuk itu perusahaan harus tahu
produknya itu dipasarkan pada suatu daerah yang berkebudayaan seperti apa dan
bagaimana (kondisional).
Sub-budaya adalah kelompok orang yang mempunyai sistem nilai yang sama
berdasarkan pada pengalaman hidup dan situasi. Sub budaya meliputi nasionalis,
agama, kelompok ras dan wilayah geografis. Bagian pemasaran harus merancang
produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka
(konsumen).
Kelas sosial adalah divisi atau bagian-bagian masyarakat yang relatif permanen dan
teratur dengan para anggotanya yang mengikuti nilai-nilai, kepentingan dan perilaku
yang sama. Kelas sosial tidak ditentukan oleh satu faktor saja, misalnya pendapatan,
tetapi ditentukan sebagai suatu kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan dan
kekayaan.
c. Faktor Sosial
Selain faktor-faktor budaya, perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor
sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial konsumen.
Kelompok acuan adalah kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak
langsung terhadap sikap atau tingkah laku seseorang. Seperti teman, saudara, tetangga
dan rekan kerja. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting
dalam masyarakat dan anggota keluarga sangat mempengaruhi perilaku pembelian.
Sedangkan peran status seseorang yang berpartisipasi diberbagai kelompok akan
membawa pada posisi tertentu. Setiap peran membawa status yang mencerminkan
penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.
Seseorang sering kali memilih produk yang menunjukkan status mereka dalam
masyarakat. Pemasar menyadari potensi simbol status dari produk dan
merek.Kelompok adalah Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok
(group). Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai
sasaran individu maupun bersama. Pentingnya pengaruh kelompok, bervariasi untuk
setiap produk dan merknya. Pembelian produk yang dibeli dan digunakan secara
pribadi tidak banyak dipengaruhi oleh kelompok karena baik produk maupun merknya
tidak akan dikenali oleh orang lain
Anggota keluarga dapat sangat memengaruhi perilaku pembeli. Keluarga adalah
organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Orang
pemasaran tertarik pada peran dan pengaruh seorang suami, istri, maupun anak- anak
dalam pembelian produk dan jasa yang berbeda. Posisi seseorang dalam setiap
kelompok dapat ditetapkan baik lewat peranya maupun statusnya dalam organisasi
tersebut. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang
diberikan oleh masyarakat. Seseorang seringkali memilih produk yang menunjukkan
status mereka dalam masyarakat.
c. Faktor pribadi
Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti usia
dan tahap siklus hidup, pekerjaaan, keadaan ekonomi dan gaya hidup, serta kepribadian
dan konsep diri pembeli. Usia berhubungan erat dengan perilaku dan selera seseorang,
dengan bertambahnya usia seseorang diikuti pula dengan berubahnya selera terhadap
produk begitu juga dengan faktor pekerjaan dan keadaan ekonomi. Pilihan produk
sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi seseorang
Dimensi Kualitas Pelayanan
Dimensi kualitas pelayanan dikelompokan menjadi lima. Kelima dimensi kualitas
pelayanan menurut Kotler dan Keller (Dialih bahasakan oleh Bob Sabran, 2012: 174)
adalah :
- Produk-produk fisik (Tangibles)
Produk-produk fisik yang tersedianya fasilitas fisik, perlengkapan dan sarana
komunikasi dan lain-lain yang dapat dan harus ada dalam proses jasa. - Kehandalan (Reliability)
Kehandalan yaitu kemampuan untuk memberikan pelajaran yang dijanjikan dengan
tepat (accurately) dan kemampuan untuk dipercaya (dependably) terutama
memberikan jasa secara tepat waktu (ontime), dengan cara yang sama sesuai dengan
jadwal yang telah dijanjikan dan tanpa ada kesalahan. - Daya Tanggap (Responsiveness)
Daya tanggap yaitu kemauan atau keinginan para karyawan untuk membantu dan
memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan. - Jaminan (Assurance)
Jaminan yaitu meliputi pengetahuan, kemampuan, keramahan, kesopanan dan sifat
dapat dipercaya dari kontak personal untuk menghilangkan sifat keragu raguan
pelanggan dan merasa terbebas bahaya dan risiko. - Empati (Emphaty)
Empati yaitu meliputi sikap kontak personal maupun perusahaan dalam memahami
kebutuhan maupun kesulitan pelanggan, komunikasi atau hubungan.
Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan pemahaman bahwa kinerja yang ditawarkan oleh
penjual mempunyai nilai yang sempurna bagi konsumen dan tidak dimiliki oleh
perusahaan pesaing. Oleh karena itu perusahaan penting memfokuskan pada kualitas
pelayanan agar konsumen merasa terpenuhi mengenai apa yang diinginkannya sesuai
dengan kinerja pelayanan didapat. Memasarkan produk perusahaan harus memiliki
strategi pemasaran untuk mencapai tujuannya, selain itu perusahaan juga harus
mempunyai kualitas pelayanan yang baik pula supaya dapat meraih konsumen.
Menurut Kotler (2008: 57), kualitas adalah keseluruhan sifat suatu produk atau
pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan atau tersirat.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (Dialih bahasakan oleh Bob Sabran, (2012:
131), mendefinisikan kualitas pelayanan adalah kemampuan perusahaan untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Berdasarkan definisi ini, kualitas
pelayanan ditentukan oleh kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen sesuai dengan ekspektasi konsumen. Atau dengan kata lain, faktor
utama yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah layanan yang diharapakan
konsumen (expexted service) dan persepsi layanan (perceived service).
Atribut Brand Image
Penelitian tentang citra perusahaan dilakukan dengan mengumpulkan
persepsi tentang sikap dan pendapat konsumen terhadap dimensi tertentu (Peter
dan Olson, 2000:248-249). Determinan keputusan tentang pilihan produk
bervariasi menurut pangsa pasar dan menurut kelas produk. Menurut Engel, dkk
(2006:249) atribut yang dominan dari citra merek tersebut, meliputi:
- Lokasi
Tujuan strategi lokasi adalah untuk memaksimalkan keuntungan lokasi bagi
perusahaan. Keputusan lokasi sering bergantung kepada tipe bisnis. Pada
analisis lokasi di sektor industri strategi yang dilakukan terfokus pada
minimisasi biaya, sementara pada sektor jasa, fokus ditujukan untuk
memaksimalkan pendapatan. Oleh karena itu bagi perusahaan jasa lokasi yang
spesifik sering kali lebih mempengaruhi pendapatan daripada mempengaruhi
biaya. Hal ini berarti bahwa fokus lokasi bagi perusahaan jasa seharusnya pada
penetapan volume bisnis dan pendapatan.
1) Sifat dan Kualitas Keragaman Produk
Didalam produk terkandung sifat dan kualitas produk yang
meliputi: penampilan (features), pilihan yang ada (options), gaya (style),
merek (brand lines), macam produk (product item), jaminan
(guaranties), dan pelayanan (services).
2) Harga
Harga merupakan satu-satunya unsur marketig mix yang
menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan unsur lainnya
merupakan unsur biasa saja. Meskipun penetapan harga merupakan
persoalan yang penting, namun masih banyak perusahaan yang kurang
mampu menangani permasalahan penetapan harga yang dapat
mempengaruhi penerimaan perusahaan, sebab harga dapat
mempengaruhi tingkat penjualan yang mana berdampak pada
keuntungan.
3) Iklan dan Promosi
Iklan dan promosi merupakan bagian terpenting dan sangat
menentukan arah tujuan perusahaan. Suatu produk bagaimanapun
bermanfaatnya jika tidak dikenal konsumen maka produk tersebut tidak
akan diketahui dan bermanfaat bagi konsumen. Oleh karena itu
perusahaan harus melakukan cara agar konsumen dapat mengetahui
produk perusahaan tersebut.
4) Personal Penjualan
Personal selling merupakan proses penjualan dari penjual
terhadap pembeli secara langsung, dengan cara menawarkan dan
menjelaskan mengeni produk dengan maksud mempengaruhi seseorang
untuk membeli.
5) Atribut Fisik Produk
Atribut fisik produk merupakan unsur penting karena dapat
mempengaruhi strategi pemasaran lainnya. Pemilihan jenis produk yang
akan di hasilkan dan di pasarkan sehingga menentukan kegiatan promosi
yang dibutuhkan serta penentuan harga serta cara penyalurannya.
6) Pelayanan dan Kepuasan Pasca Pembelian.
Pelayanan terhadap pelanggan berpengaruh secara asimetris
terhadap kepuasan pelanggan, dimana pelayanan yang buruk berakibat
lebih besar terhadap kepuasan pelanggan daripada pelayanan yang
dikategorikan baik. Implementasi strategi dengan kategori terbaik akan
meningkatkan kepuasan dan kesetiaan pelanggan lebih besar daripada
tidak ada pemasaran yang relasional yang dilakukan
Dimensi dan Indikator Citra Merek (Brand Image)
Angelina Rares & Rotinsulu Jopie Jolie dalam jurnalnya yang berjudul The Effect
of the price, promotion,location, brand image, and quality of products toward the
purchase decision of consumers at bengkel gaoel store (2016) bahwa citra merek
memiliki tiga dimensi yakni atribut,manfaat dan evaluasi sedangkan menurut
Kotler dan Keller (2013:97) mengemukakan dimensi-dimensi utama yang
membentuk citra sebuah merek tertuang dalam berikut :
- Brand Identity
Dimensi pertama adalah brand identity atau identitas merek. Brand identity
merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan merek atau produk tersebut
sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakannya dengan merek atau
produk lain, seperti logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahaan yang
memayunginya, slogan, dan lain-lain. - Brand Personality
Dimensi kedua adalah brand personality atau personalitas merek. Brand personality
adalah karakter khas sebuah merek yang membentuk kepribadian tertentu
sebagaimana layaknya manusia, sehingga khalayak konsumen dengan
mudah membedakannya dengan merek lain dalam kategori yang sama, misalnya
karakter tegas, kaku, berwibawa, ningrat, atau murah senyum, hangat, penyayang,
berjiwa sosial, atau dinamis, kreatif, independen, dan sebagainya. - Brand Association
Dimensi ketiga adalah brand association atau asosiasi merek. Brand association
adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu dikaitkan dengan suatu merek, bisa
muncul dari penawaran unik suatu produk, aktivitas yang berulang dan konsisten
misalnya dalam hal sponsorship atau kegiatan social responsibility, isu-isu yang
sangat kuat berkaitan dengan merek tersebut, ataupun person. - Brand Attitude & Behavior
Dimensi keempat adalah brand attitude atau sikap dan perilaku merek. Brand
attitude and behavior adalah sikap atau perilaku komunikasi dan interaksi merek
dengan konsumen dalam menawarkan benefit-benefit dan nilai yang dimilikinya.
Kerap sebuah merek menggunakan cara-cara yang kurang pantas dan melanggar
etika dalam berkomunikasi, pelayanan yang buruk sehingga memengaruhi
pandangan publik terhadap sikap dan perilaku merek tersebut, atau sebaliknya,
sikap dan perilaku simpatik, jujur, konsisten antara janji dan realitas, pelayanan
yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas membentuk
persepsi yang baik pula terhadap sikap dan perilaku merek tersebut. Jadi brand
attitude & behavior mencakup sikap dan perilaku komunikasi, aktivitas dan atribut
yang melekat pada merek saat berhubungan dengan khalayak konsumen termasuk
perilaku karyawan dan pemilik merek. - Brand Benefit & Competence
Dimensi kelima adalah brand benefit and competence atau manfaat dan keunggulan
merek. Brand benefit and competence merupakan nilai-nilai dan keunggulan khas
yang ditawarkan oleh suatu merek kepada konsumen yang membuat konsumen
dapat merasakan manfaat karena kebutuhan, keinginan, mimpi dan obsesinya
terwujudkan oleh apa yang ditawarkan tersebut. Nilai dan benefit di sini dapat
bersifat functional, emotional, symbolic maupun social, misalnya merek produk
deterjen dengan benefit membersihkan pakaian (functional benefit/ values),
menjadikan pemakai pakaian yang dibersihkan jadi percaya diri (emotional
benefit/values), menjadi simbol gaya hidup masyarakat modern yang bersih
(symbolic benefit/ values) dan memberi inspirasi bagi lingkungan untuk peduli
pada kebersihan diri, lingkungan dan hati nurani (social benefit/ values). Manfaat,
keunggulan dan kompetensi khas suatu merek akan memengaruhi brand image
produk, individu atau lembaga/ perusahaan tersebut
Indikator Brand Image (citra merek)
Menurut Aaker dan Biel, Indikator yang digunakan untuk mengukur sebuah
brand image (citra merek) adalah sebagai berikut:
a. Citra Perusahaan (Corporate Image)
Citra perusahaan yaitu Yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau jasa seperti:
1) Popularitas Perusahaan
Popularitas perusahan adalah tingkat popularitas perusahaan dimata
masyarakat. Popularitas perusahaan dapat diukur dengan sejauh mana konsumen
mengenali atau mengingat suatu perusahaan atau merek tertentu dalam katagori produk
tertentu. Semakin populer suatu merek tersebut akan semakin diingat oleh konsumen.
2) Kredibilitas
Kredibilias perusahaan mengacu kepada kepercayaan konsumen bahwa
perusahaan mampu merancang dan menyampaikan produk dan jasanya untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
3) Jaringan Perusahaan
Jaringan perusahaan atau jaringan toko retail merupakan dua atau lebih gerai
yang umumnya dimiliki atau diawasi. Semakin bantak gerai yang dimiliki oleh suatu
perusahaan, maka semakin besar pula jaringan perusahaan tersebut.
Dari penjabaran citra perusahaan diatas dapat diketahui pentingnya perusahaan
dalam menjaga citra perusahaan dapat tertanam dibenak konsumen dan mempercayai
perusahaan tersebut dalam menciptakan produk yang sesuai berdasarkan kebutuhan
dan keinginan konsumen.
b. Citra Konsumen
Konsumen adalah pihak yang memakai suatu produk barang jasa. Citra
konsumen menunjukan kepada persepsi dari jenis seseorang yang menggunaan
produk atau jasa tersebut, citra konsumen meliputi :
` 1) Status Sosial
Menurut Kotler dan Keller (2009:168) “Status mencerminkan nilai
umum yang diberikan kepada seseorang masayarkat”. Produk atau jasa
yang dibeli konsumen sering kali digunakan untuk menunjukan status
sosial juga disebut sebagai kedudukan seseorang dalam masyarakat.
2) Gaya Hidup
Menurut Kotler dan Keller (2009:175) Gaya hidup merupakan pola
hidup seseorang didunia yang dapat dilihat dalam bentuk kegiatan,
monat, dan pendapat.
c. Citra Produk (Product Image) yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan
konsumen terhadap suatu produk atau jasa. Asosiasi ini yaitu:
1) Kualitas atau mutu, baik atau buruknya suatu produk atau jasa yang dihasilkan
suatu perusahaan dimata konsumen.
2) Harga, suatu nilai yang harus diukur oleh konsumen untuk mendapatkan produk
yang dihasilkan suatu perusahaan.
3) Jenis jasa dan manfaat, keragaman jasa yang dimiliki perusahaan atau model-
model jasa yang diberikan memberikan kepuasan
Manfaat Brand Image (citra merek)
Pandangan konsumen terhadap suatu brand merupakan hal yang sangat penting dalam
strategi pemasaran. Suatu image akan membantu perusahaan untuk mengetahui apakah
strategi pemasaran yang dijalankan sudah tepat atau belum. Menurut sutisna, ada
beberapa manfaat dari brand image yang positif yaitu:
a. Konsumen dengan image yang positif terhadap suatu brand, lebih memungkinkan
untuk melakukan pembelian.
b. Perusahaan dapat mengembangkan nilai produk dengan memanfaatkan image positif
yang telah terbentuk terhadap brand produk lama.
c. Kebijakan family branding dapat dilakukan jika brand produk yang telah ada positif
Pengukuran Brand Image (citra merek)
Pengukuran citra adalah subjektif, artinya tidak ada ketentuan baku untuk
pengukuran citra merek (brand image). Bahwa pengukuran citra merek dapat dilakukan
berdasarkan pada aspek sebuah merek yaitu :
a. Strengthness (Kekuatan), yaitu keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh merek
yang bersifat fisik dan tidak ditemukan pada merek lainnya. Keunggulan merek ini
mengacu pada atribut-atribut fisik atas merek tersebut sehingga biasa dianggap sebagai
sebuah kelebihan dibandingkan dengan merek lain, yang termasuk pada kelompok.
Strengthness ini antara lain : fisik produk, keberfungsian semua fasilitas produk, harga
produk, maupun penampilan fasilitas pendukung dari produk tersebut.
b. Uniqueness (Keunikan), yaitu kemampuan untuk membedakan sebuah merek di
antara merek-merek lainnya. Kesan unik ini muncul dari atribut produk, menjadi kesan
unik berarti terdapat diferensiasi antara produk satu dengan produk lainnya. Termasuk
dalam kelompok unik ini antara lain: variasi layanan yang biasa diberikan sebuah
produk, variasi harga produk-produk yang bersangkutan maupun diferensiasi dan
penampilan fisik sebuah produk.
c. Favorable (Kesukaan), mengarah pada kemampuan merek tersebut agar mudah
diingat oleh konsumen, yang termasuk dalam kelompok. Favorable ini antara lain:
kemudahan merek tersebut diucapkan, kemampuan merek untuk tetap diingat oleh
pelanggan, maupun kesesuaian antara kesan merek dibenak pelanggan dengan citra
yang diinginkan perusahaan atas merek yang bersangkutan
Ciri – Ciri Brand Image (citra merek)
Merek merupakan hal penting bagi sebuah perusahaan karena dengan merek
yang bernilai positif, para konsumen dapat menyimpan informasi yang unik didalam
memori mereka sehingga ketika disebutkan sebuah kategori produk, muncul merek
tertentu untuk di tarik kembali dalam ingatan individu. Merek juga menjadi pembeda
antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya. Menurut sebuah biro
riset terdapat beberapa ciri dari Brand Image (citra merek) yang terdiri dari tiga
komponen, yakni:
a. Brand Association
Merupakan tindakan dari konsumen untuk membuat asosiasi tentang merek tertentu
berdasarkan informasi atau pengetahuan mereka, baik pengetahuan yang sifatnya
faktual maupun berdasar pada pengalaman dan emosi.
b. Brand Value
Merupakan tindakan konsumen dalam memilih merek, tindakan konsumen
tersebut lebih mengarah pada alasan persepsi mereka terhadap karakteristik merek
dengan menghubungkannya dengan nilai- nilai yang di yakini mereka.
c. Brand Positioning
Merupakan persepsi konsumen tentang kualitas merek, dimana mereka akan
menggunakannya pada saat memilih berbagai alternative pilihan yang ada. Penjelasan
tersebut dapat dipahami bahwa brand association, brand value, dan brand positioning
merupakan ciri dari citra merek yang mempunyai hubungan dengan keputusan
membeli konsumen
Pengertian Brand Image (citra merek)
Persepsi atas suatu citra berbeda dari satu kebudayaan dengan kebudayaan yang
lain. citra dianggap sebagai gambar bermakna seribu kata yang merupakan suatu
ilustrasi, foto, ikon, symbol, dan karakter yang dapat digunakan dalam berbagai gaya
yang masing-masing menciptakan bahasa visual yang kaya dan menyediakan
rangsangan visual.
Menurut Kotler dan Keller (2009:403) Brand Image (citra merek) adalah
Persepsi dan keyakinan yang dipegang oleh konsumen, seperti yang dicerminkan
asosiasi yang disimpan dan tertanam dalam memori atau ingatan pelanggan, yang
selalu diingat pertama kali saat mendengar slogan dan tertanam dibenak konsumenya.
Sedangkan Menurut Tjiptono (2015:49) Brand Image (citra merek) adalah
Deskripsi asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Citra merek
(Brand Image) adalah pengamatan dan kepercayaan yang digenggam konsumen,
seperti yang dicerminkan di asosiasi atau di ingatan konsumen
Indikator Harga
Menurut Amilia dan Asmara (2017:663) indikator – indikator harga yaitu
sebagai berikut:
- Keterjangkauan harga
Dimana harga yang terjangkau adalah harapan pelanggan sebelum mereka melakukan
proses pembelian. Pelanggan akan mencari produk – produk yang harga sekiranya
dapat mereka jangkau. - Kesesuain harga dengan kualitas produk
dimana untuk produk tertentu , biasanya pelanggan tidak keberatan apabila harus
membeli dengan harga relatif mahal asalkan kualitas produknya baik. Namun
pelanggan lebih menginginkan produk dengan harga murah dan kualitasnya baik. - Daya saing harga
dimana perusahaan menetapkan harga jual suatu produk dengan mempertimbangkan
harga produk yang dijual oleh pesaingnya agar produknya dapat bersaing dipasar. - Kesesuaian harga dengan manfaat
pelanggan terkadang mengabaikan harga suatu produk namun lebih mementingkan
manfaat dari produk tersebut.
Pengertian Harga
Harga merupakan unsur yang ada dalam bauran pemasaran yang dimana
mempunyai sifat yang fleksibel setiap saat dapat berubah menurut waktu dan
tempatnya. Harga bukan hanya membahas angka – angka yang tertera di label suatu
kemasan, tetapi harga mempunyai banyak bentuk. Menurut Kotler & Amstrong
dalam Reminta (2016:324) Harga ialah jumlah uang yang dibebankan untuk suatu
produk atau layanan, atau jumlah nilai yang ditukar pelanggan dengan manfaat atau
memiliki atau menggunakan produk atau layanan. Sedangkan menurut Fandy dalam
Tjiptono (2016:218) bahwa harga merupakan satu- satunya unsur bauran pemasaran
yang mendatangkan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan
Dimensi dan Indikator – Indikator Inovasi
Menurut Soleh (2014 :74) dimensi inovasi yang akan digunakan adalah product
innovation (inovasi produk), process innovation ( inovasi proses), market innovation
(inovasi pasar). Setiap dimensi inovasi yang digunakan terdapat beberapa indikator
yang akan memperjelas dimensi tersebut. Berdasarkan uraian diatas indikator yang
akan digunakan untuk dimensi – dimensi inovasi adalah sebagai berikut:
- Inovasi Produk
Dalam inovasi produk mengingat perubahan selera yang cepat dalam teknologi
perusahaan harus meningkatkan bagaimana cara keamanan dan kenyamanan
pelanggannya sendiri. - Inovasi Proses
Dimana inovasi proses teknologi yang semakin meningkat aplikasi dan fitur yang
diberikan perusahaan kepada pelanggan sangat mudah digunakan sehingga pelanggan
mudah menemukan apa yang dibutuhkan. - Inovasi Pasar
Inovasi target pasar dalam perusahaan ini ditargetkan pada kalangan pekerja,
mahasiswa, dan juga anak- anak sekolah sehingga targeting yang dilakukan sesuai
dengan pasarnya
Sumber – Sumber Inovasi
Untuk saat ini bukan perkara mudah untuk membangun sebuah brand atau
merek yang kuat ditengah ketatnya persaingan. Membicarakan inovasi dala wirausaha
tentu tidak terlepas dari sumber- sumber inovasi itu sendiri . Menurut Drucker dalam
Moh Alifuddin & Mashur Razak (2015:124) terbagi sumber inovasi menjadi 7 jenis
yaitu:
- Hal yang tidak di perikirakan ( The Unexpected), yakni sukses yang tidak
diperkirakan atau kegagalan yang tidak diperkirakan. - Keganjilan / ketidaksesuaian (The Incongruity) ada perbedaan antara realitas yang
sebenarnya dengan kenyataan yang dirumuskan. - Proses kebutuhan (Process Need)
- Perubahan struktur pasar dan struktur industri.
- Demografi , yaitu perubahan dalam besaranpopulasi, struktur usia, komposisi
tenaga kerja, tingkat pendidikan. - Perubahan persepsi, suasana hati.
- Pengetahuan baru , ilmiah atau tidak
Pengertian Inovasi
Inovasi menurut Amabile dalam Riyanti, B.P.D (2019: 76) bahwa muculnya
gagasan – gagasan baru disebut kreativitas, sedangkan penerapan gagasan baru disebut
inovasi. Sedangkan menurut Sutirna, H. (2018:23) menyatakan bahwa inovasiialah
suatu ide atau hal- hal yang praktis, metode , cara , barang – barang buatan manusia
yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau masyarakat.
Dan menurut Crawfotd & De Baredetto, dalam Julianti (2012:16) inovasiadalah suatu
usaha yang dijalankan perusahaan untuk menciptakan produk baru yang bertujuan
untuk menyesuaikan dengan selera pelanggan dan dapat meningkatkanpenjualan.
Sedangkan menurut Kotler dalam Moh Alifuddin & Mushur Razak (2015:121)
inovasi ialah sebagai sesuatu yang berkenan dengan barang, jasa atau ide yang
dirasakan baru oleh seseorang. Meskipun ide tersebut telah lama di eksis tetapi ini dapat
dikatakan suatu inovasi bagi orang yang baru melihat atau merasakannya. Ada 2 cara
perusahaan dapat melakukan inovasi menurut Kotler dalam Moh Alifuddin & Mashur
Razak (2015:121) yaitu :
- Inovasi manajemen (Proses kerja, proses produksi, keuangan, pemasaran )
- Inovasi Produk ( barang, jasa dan ide)
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa inovasi ialah suatu proses
dimana seseorang dapat mengubah suatu kesempatan menjadi peluang ide yang dapat
dikembangkan dan diterima dilingkungan. Sebuah inovasi lebih dari sekedar ide biasa,
melainkan sebuah pemikiran kreatif yang dikembangkan menjadi gagasan yang
berharga dan dapat meningkatkan penjualan
Dimensi Citra Merek
Menurut Riley dkk ( 2016: 276) menyatakatan faktor- faktor yang membentuk
citra merek yaitu :
- Economicfit( Kesesuaian Ekonomi):Sesuai antara merek dalam hal yang dirasakan
dengan harga atau nilai. Dimensi yang termasuk dalam Economicfit yaitu : Bahan bakar
yang irit, nilai yang sesuai dengan uang yang telah dikeluarkan, dan daya saing harga. - Symbolicfit (Kesesuaian simbolik):Sesuai dalam hal manfaat simbolik yangdirasakan
pelanggan jika mungkin dia ingin memiliki merek tertentu. Manfaatnya untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan untuk peningkatan diri. - Sensoryfit (Kesesuaian Perasaan):Sesuai dalam hal perasaan yang dirasakan atau
pengalaman pelanggan ketika menggunakan produk atau jasa dari merek tertentu yang
dapat memberikan kesan positif terhadap merek. - Futuristicfit (Kesesuaian Futuristic): Dimana meliputi aspek teknologi yang
mencerminkan citra merek, dan menunjukkan bahwa (semua hal lain dianggap sama)
dimana dilihat dari tingkat desain, inovasi dan keunikan merek. Dimensi yang ada
didalam Futuristicfit yaitu : teknologi baru dan bentuk yang menarik. - Utilitarianfit (Kesesuaian Kegunaan): Adalah suatu yang mempertimbangkan
seberapa baik merek sesuai dalam segi aspek kualitas manufaktur, dan bahan yang
digunakan. Dimensi yang ada didalam Utilitarian yaitu : tingkat keamanan.
Indikator – Indikator Pembentuk Citra Merek
Agar suatu citra merek memiliki pandangan yang baik dari pelanggan, maka
perusahaan harus memperhatikan berbagai indikator- indikator pembentuk citra merek.
Menurut (Kotler & keller, 2016) indikator citra merek yaitu:
- Kekuatan asosiasi merek (Strength of brand association)
Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam benak ingatan pelanggan dan
bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari brand image. - Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association)
Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering bergantung pada proses terciptanya
asosiasi merek yang menguntungkan, dimana pelanggan dapat percaya pada atribut
yang diberikan mereka dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan. - Keunikan asosiasi merek ( Uniqueness of brand association)
Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi pelanggan
untuk memilih merek tertentu
Manfaat Citra merek
Menurut Sopiah dan Sangadji (2016:74) citra merek memiliki manfaat sebagai
berikut:
- Konsumen dengan citra yang positif terhadap suatu merek, lebih memungkinkan
untuk melakukan pembelian. - Perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan citra positif
yang telah terbentuk terhadap merek produk lama.
Pengertian Citra Merk
Citra Merek menurut Kotler dalam Fandy Tjiptono (2015:113), merek adalah
tanda yang berupa gambar, nama , huruf huruf , angka-angka, susunan warna , atau
kombinasi dari unsur- unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan
dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Definisi tersebut dapat diambil
kesimpulan sederhana bahwa merek merupakan salah satu faktor utama yang
mempengaruhi kepuasan pelanggan dalam melakukan pembelian produk maupun
menggunakan jasa. Menurut Kenneth dan Donald (2018:42) citra merek mencerminkan
perasaan yang dimiliki konsumen dan bisnis tentang keseluruhan organisasi serta
produk atau lini produk individu.
Ada enam makna yang disampaikan melalui sebuah merek menurut Kotler
dalam Fandy Tjiptono (2015:105) , yaitu :
Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan produk bagi
perusahaan.
- Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik.
- Signal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, signal tingkat kualitas bagi
para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa dengan mudah memilih dan
membelinya lagi di lain waktu. - Sarana menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk dari para
pesaing. - Sumber keunggulan kompetitif , terutama melalui perlindungan hukum, loyalitas
pelanggan, dan citra unik yang berbentuk dalam benak konsumen.
Indikator Loyalitas Konsumen
Pelanggan yang loyal merupakan aset yang penting bagi suatu perusahaan.
Hal ini dapat dilihat dari karakteristik yang dimilikinya. Seperti yang
dikemukakan oleh Griffin dalam Sangadji dan Shopiah (2013), bahwa
pelanggan yang loyal terhadap perusahaan mempunyai beberapa
karakteristik. Adapun karakteristik pelanggan yang loyal terhadap
perusahaan tersebut adalah sebagai berikut :
- Melakukan pembelian secara teratur (makes regular repeat purchase).
- Melakukan pembelian disemua lini produk atau jasa (purchase across
product and service lines). - Merekomendasikan produk lain (refers other).
- Menunjukan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari pesaing
(demonstrates on immunity to the full of the competition)
Pengertian Loyalitas Konsumen
Customer atau Pelanggan memberikan pandangan mendalam yang penting
untuk memahami mengapa perusahaan bukan hanya menarik pembeli
tetapi diharuskan untuk menciptakan dan memelihara pelanggan.
Pelanggan adalah seseorang yang menjadi terbiasa untuk membeli suatu
produk dari penjual. Kebiasaan itu terbentuk melalui pembelian dan
interaksi yang sering atau berulang kali selama periode waktu tertentu.
Tanpa adanya rekam jejak hubungan yang kuat dan pembelian berulang
orang tersebut bukanlah pelanggan anda, Dia adalah pembeli. Pelanggan
yang sejati tumbuh seiring dengan waktu. Banyak pelaku bisnis setuju
bahwa dapat mencapai loyalitas pelanggan adalah hal yang baik bagi
perusahaan mereka dan penjual yang memiliki pelanggan loyal biasanya
dapat menghasilkan dividen sepanjang perjalanan bisnis perusahaan
tersebut.
Pengertian loyalitas secara umum yang berarti setia, kesetiaan tersebut
timbul tanpa adanya paksaan dari siapapun dan timbul dari kesadaran diri
sendiri pada pengalaman dimasa lalu. Loyalitas pelanggan yaitu salah satu
dari tujuan inti yang diupayakan dalam pemasaran modern karena dengan
loyalitas, diharapkan perusahaan akan mendapatkan keuntungan jangka
panjang atas hubungan mutualisme yang terjalin antara pelanggan dalam
kurun waktu tertentu. Tjiptono (2014) menyatakan bahwa loyalitas
konsumen adalah sebuah komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko
atau pemasok berdasarkan sifat yang sangat positif dalam pembelian
jangka panjang. Kotler dan Keller (2016: 153) mendefinisikan bahwa
loyalitas konsumen adalah “A deeply held commitment to rebuy or
repatronize a preferred product or service in the future despite situational
influences and marketing efforts having the potential to cause switching
behavior.” Sedangkan Oliver yang dikutip oleh Tjiptono (2014: 393)
mendefinisikan Loyalitas pelanggan (Customer Loyalty) adalah komitmen
yang dipegang teguh untuk membeli ulang atau berlangganan dengan
produk atau jasa yang disukai secara konsisten dimasa mendatang,
sehingga menimbulkan pembelian merek atau rangkaian merek yang sama
secara berulang, meskipun pengaruh situasional dan upaya pemasaran
berpotensi untuk menyebabkan beralih merek. Jadi kesetiaan terhadap
merek dapat diperoleh karena adanya berbagai kombinasi dari kepuasan
maupun keluhan konsumen.
Loyalitas merupakan sesuatu yang timbul tanpa adanya paksaan tetapi
timbul dengan sendirinya. Menurut Giffin yang dikutip oleh Sangadji dan
Shopiah (2013) menyatakan bahwa : “Loyalitas lebih mengacu pada wujud
perilaku unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian
secara terusmenerus terhadap barang atau jasa dari suatu perusahaan yang
dipilih.” Dengan pembelian yang dilakukan pelanggan secara terus-
menerus dapat memberikan keuntungan jangka panjang bagi perusahaan.
Kotler dan Keller (2016) mendifinisikan bahwa loyalitas konsumen adalah
: “A deeply held commitment to rebuy or repatronize a preferred product
or service in the future despite situational influences and marketing efforts
having the potential to cause switching behavior.
Menurut Tjiptono (2014) mengemukakan bahwa : “Loyalitas pelanggan
adalah komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko, atau pemasok,
berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian
ulang yang konsisten.” Selanjutnya Pasuraman yang dikutip oleh Sangadji
dan Shopiah (2013) mendefinisikan bahwa : “Loyalitas pelanggan dalam
konteks pemasaran jasa sebagai respon yang terkait erat dengan ikrar atau
janji dengan memegang teguh komitmen yang mendasari kontinuitas
relasi, dan biasanya tercermin dalam pembelian berkelanjutan dari
penyedia jasa yang sama atas dasar dedikasi dan kendala pragmatis.”
Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan para ahli di atas, maka
peneliti sampai pada pemahaman bahwa loyalitas pelanggan adalah
komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko, ataupun pemasok yang
tercermin atau ditunjukan dengan perilaku positif yaitu melakukan
pembelian ulang yang berkelanjutan tanpa terpengaruh pemasaran yang
dilakukan oleh pesaing
Dimensi Kualitas Produk
Dimensi kualitas produk menurut David Gravin dalam buku Fandi
Tjiptono (2016) adalah:
- Kinerja (Performance) yaitu karakteristik atau fungsi utama suatu
produk yang kita beli. Biasanya ini menjadi pertimbangan pertama
kita dalam membeli suatu produk. - Kehandalan (Reliability) yaitu kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu
tertentu dan dalam kondisi tertentu juga. - Daya tahan (Durability) berkaitan berapa lama produk tersebut
dapat secara terus digunakan. - Estetika (Asthethic) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
- Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality) yaitu persepsi
konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu
produk. Biasanya, karena kurangnya pengetahuan pembeli akan
atribut atau ciri produk yang akan dibeli maka pembeli
mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan,
reputasi perusahaan, maupun negara pembuatanya. - Dimensi Kemudahan Perbaikan (Serviceability) meliputi kecepatan,
kemudahan, penganan keluhan yang memuaskan. Pelayaanan yang
diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjulan, tetapi juga selama
proses penjualan hingga purna jual yang mencangkup pelayanan
reparasi dan ketersediaan komponen yang dibutuhkan. - Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (Features) yaitu karakteristik
sekunder atau pelengkap. - Keseuaian dengan spesifikasi ( Conformance to Spesification) yaitu
sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang
telah ditetapkan sebelumnya
Indikator Citra Merek
Menurut Kotler & Keller, ( Tingkir, 2014): Indikator citra merek yaitu:
- Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association)
Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan
konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari
brandimage. - Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association)
Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses
terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana konsumen
dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen. - Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association)
Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan
bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. Keunikan asosiasi merek
dapat berdasarkan atribut produk, fungsi produk atau citra yang dinikmati
konsumen
Pengukuran Citra Merek
Ada tiga bagian yang terdapat dalam pengukuran citra merek. Bagian
pertama adalah atribut. Atribut adalah ciri-ciri atau berbagai aspek dari
merek yang diiklankan. Atribut juga dibagi menjadi dua bagian yaitu hal-
hal yang tidak berhubungan dengan produk (contoh: harga, kemasan,
pemakai, dan citra penggunaan), dan hal-hal yang berhubungan dengan
produk (contoh: warna, ukuran, desain). Kemudian bagian kedua
pengukuran citra merek menurut Shimp adalah manfaat. Manfaat dibagi
menjadi tiga bagian yaitu fungsional, simbolis, dan pengalaman (A. Shimp,
2014):
- Fungsional, yaitu manfaat yang berusaha menyediakan solusi bagi
masalah- masalah konsumsi atau potensi permasalahan yang dapat
dialami oleh konsumen, dengan mengasumsikan bahwa suatu merek
memiliki manfaat spesifik yang dapat memecahkan masalah tersebut. - Simbolis, yaitu diarahkan pada keinginan konsumen dalam upaya
memperbaiki diri, dihargai sebagai anggota suatu kelompok, afiliasi,
dan rasa memiliki. - Pengalaman, yaitu konsumen merupakan representasi dari keinginan
mereka akan produk yang dapat memberikan rasa senang,
keanekaragaman, dan stimulasi kognitif. Terakhir, bagian ketiga dari
pengukuran citra merek menurut Shimp adalah evaluasi keseluruhan,
yaitu nilai atau kepentingan subjektif dimana pelanggan
menambahkannya pada hasilkonsumsi.Evaluasi keseluruhan, yaitu nilai
atau kepentingan subjektif dimana pelanggan menambahkannya pada
hasil konsumsi.
Pengertian Citra Merek
Berikut ini adalah berberapa pengertian citra merek dari beberapa sumber
Menurut Kotler & Keller, (2016). Citra merek adalah persepsi tentang
merek yang digambarkan oleh asosiasi merek yang ada dalam ingatan
konsumen Berdasarkan pengertian citra merek di atas, dapat disimpulkan
bahwa citra merek merupakan kumpulan kesan yang ada di benak
konsumen tentang suatu merek yang dirangkai dari ingatan-ingatan
konsumen terhadap merek tersebut. Produk dengan citra merek yang baik
akan membantu perusahaan dalam mempromosikan produk sehingga
menjadi kekuatan perusahaan dalam persaingan bisnis. Hubungan citra
merek terhadap keputusan pembelian konsumen, merek kerap muncul
sebagai kriteria determinan, berfungsi sebagai indikator pengganti dari
mutu produk dan kepentingannya tampak bervariasi dengan kemudahan
dimana kualitas dapat dinilai secara obyektif. Jika sulit untuk menilai
kualitas, konsumen kadang akan merasakan tingkat resiko yang tinggi
dalam pembelian, jadi kepercayaan pada merek terkenal dengan reputasi
kualitas yang sudah lama dapat menjadi cara efektif mengurangi
Keller (2016) menyatakan anggapan tentang merek yang direflesikan
konsumen yang berpegangan pada ingatan konsumen. Cara orang
berfikir tentang sebuah merek secara abstrak dalam pemikiran mereka,
sekalipun pada saat mereka memikirkannya, mereka tidak berhadapan
langsungan dengan produk. Membangun citra merek yang positif dapat
dicapai dengan program marketing yang kuat terhadap produk tersebut,
yang unik dan memiliki kelebihan yang ditonjolkan, yang
membedakannya dengan produk lain. Kombinasi yang baik dari elemen-
elemen yang mendukung dapat menciptakan citra merek yang kuat bagi
konsumen.
Pengaruh harga Terhadap Keputusan Pembelian
Menurut Kotler dan Amstrong (2018:87) terjadinya hubungan antara harga yang
ditetapkan dengan keputusan pembelian dikarenakan semakin tinggi harga suatu
produk, maka semakin rendah suatu keputusan pembelian yang dilakukan oleh
konsumen. Menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Adrianto (2021)
tingkat harga yang semakin tinggi membuat mahasiswa mengambil keputusan yang
lebih kuat untuk mengambil keputusan membeli smartphone.
Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian
Citra merek merupakan hasil pandangan atau persepsi konsumen terhadap suatu
merek tertentu, yang didasarkan pada pertimbangan dan perbandingan dengan
beberapa merek lain untuk jenis produk yang sama. Citra merek adalah penilaian yang
akurat dari sebuah merek. Keputusan konsumen sangat penting bagi perusahaan
(Tiptono, 2015:32). Menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Herawati dan
Khoirotunisa (2022) citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian
Faktor-Faktor Keputusan Pembelian
Para pemasar harus melihat lebih jauh bermacam-macam faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen dan mengembangkan pemahaman mengenai
bagaimana konsumen mengambil keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Keller
(2016: 199), terdapat lima peran yang dimainkan orang dalam keputusan pembelian:
- Pencetus adalah orang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk membeli
produk dan jasa. - Pemberi pengaruh adalah orang yang pandangan atau sarannya dapat
mempengaruhi keputusan. - Pengambil keputusan adalah orang yang mengambil suatu keputusan tentang setiap
komponen keputusan pembelian. - Pembeli adalah orang yang melakukan pembelian suatu produk yang sesungguhnya
- Pemakai adalah seseorang yang menggunakan suatu produk
Indikator Kualitas Produk
Menurut Tjiptono (2016:134), indikator kualitas produk menunjukkan bahwa
kualitas produk memiliki beberapa indikator, antara lain:
a. Kinerja (Performance), merupakan karakteristik operasional dan produk inti
yang dibeli (core product). Misalnya kecepatan dalam penggunaan.
b. Fitur atau fitur tambahan (Features), yaitu fitur sekunder atau pelengkap.
c. Kesesuaian dengan spesifikasi, yaitu sejauh mana fitur desain dan
pengoperasian memenuhi standar yang telah ditentukan.
d. Keandalan (Realibility) yang kecil kemungkinannya rusak atau tidak terpakai.
e. Daya tahan (Durability) berkaitan dengan berapa lama produk dapat digunakan.
Dimensi ini meliputi umur teknis dan umur ekonomis.
f. Estetika (Esthetica), yaitu daya tarik produk terhadap panca indera. Misalnya
keindahan bentuk produk, keunikan jenis produk dan kombinasinya.
g. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived quality) adalah persepsi konsumen
terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena
kurangnya pengetahuan pembeli tentang karakteristik suatu produk yang akan
dibeli. Jadi pembeli mempertimbangkan kualitas dari aspek harga, nama merek,
iklan, reputasi perusahaan dan negara produsen.
h. Dimensi kemudahan perbaikan (Serviceability) meliputi kecepatan,
kenyamanan dan penanganan keluhan yang tepat. Layanan yang diberikan tidak
terbatas pada saat sebelum penjualan, tetapi juga selama proses penjualan
hingga setelah penjualan, termasuk layanan perbaikan dan ketersediaan
komponen yang diperlukan.
Kualitas Produk
Pada dasarnya ketika membeli suatu produk, konsumen tidak hanya membeli
suatu produk, tetapi konsumen juga membeli manfaat atau kelebihan yang dapat
diperoleh dari produk yang akan dibeli. Oleh karena itu, suatu produk harus memiliki
keunggulan dibandingkan produk lainnya, termasuk kualitas produk yang ditawarkan
kepada konsumen. Kualitas produk merupakan salah satu kunci persaingan antar
pelaku usaha yang ditawarkan kepada konsumen. Berikut pengertian kualitas produk
menurut para ahli.
Menurut Kotler dan Keller (2018: 244), kualitas produk merupakan salah satu
kunci terpenting bagi perusahaan untuk menarik perhatian konsumen agar membeli
produk yang dihasilkan. Selain itu, kualitas produk juga memegang peranan penting
dari sudut pandang konsumen. Konsumen akan melihat suatu produk dari keunggulan
dan kemampuannya dalam menjalankan fungsi yang tercermin dari kualitas produk
tersebut
Indikator harga
Menurut Kotler dan Armstrong dalam Suri dan Oloan (2017:663), ada empat
indikator harga, yaitu:
- Keterjangkauan harga
Harga yang diberikan perusahaan atas produknya dapat dicapai oleh
konsumennya. Harga yang sesuai dan terjangkau tentunya akan menjadi
pertimbangan konsumen untuk membeli produknya. - Harga sesuai dengan kualitas produk
Harga yang diberikan perusahaan terhadap produk sesuai dengan kualitas produk
yang dihasilkannya, misalnya jika harganya tinggi maka kualitas produk yang
diberikan berkualitas tinggi, sehingga konsumen pena tidak keberatan jika mereka
membeli produk. - Daya Saing Harga
Di pasar, perusahaan juga harus memperhatikan fakta bahwa harga yang diberikan
memiliki daya saing yang tinggi terhadap pesaingnya. Jika harga yang diberikan
terlalu tinggi di atas harga pesaingnya, produk tersebut tidak akan memiliki posisi
bersaing yang baik. - Kesesuaian Harga dengan Manfaat
Manfaat memiliki produk harus sesuai dengan harga yang diberikan perusahaan
terhadap produknya. Adalah baik jika harga tinggi memiliki posisi kompetitif yang
baik.
Dimensi Harga
Menurut Kotler dan Armstrong, diterjemahkan oleh Bob Sabran (2012:52), ada
empat ukuran yang mencirikan harga, yaitu keterjangkauan harga, kesesuaian harga
dengan kualitas produk atau jasa, kesesuaian harga dengan manfaat, dan harga menurut
kemampuan atau daya saing harga. Keempat ukuran harga tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Keterjangkauan Harga
Konsumen dapat mencapai harga yang ditetapkan oleh perusahaan. Produk atau
jasa biasanya memiliki beberapa jenis dalam satu merek, juga harganya berbeda-
beda dari yang paling murah hingga yang paling mahal.
b. Harga sesuai dengan kualitas pelayanan.
Harga sering digunakan sebagai indikator kualitas bagi konsumen, orang sering
memilih harga yang lebih tinggi di antara dua barang karena mereka melihatnya.
Ada perbedaan kualitas. Jika harganya lebih tinggi, orang cenderung berpikir
bahwa kualitasnya juga lebih baik.
c. Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan untuk menggunakan jasa jika manfaat yang dirasakan
lebih besar atau sama dengan yang dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika
konsumen merasa manfaat produk lebih sedikit daripada uang yang dikeluarkan,
konsumen akan menganggap produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir
dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
d. Harga berdasarkan kemampuan atau daya saing harga
Konsumen seringkali membandingkan harga suatu barang, dalam hal ini murah
atau mahal, sangat dihargai oleh konsumen ketika akan menggunakan jasa.
Faktor-Faktor Harga
Menurut Kotler dan Keller (2016:491), ada beberapa faktor penentu yang harus
diperhatikan perusahaan dalam menetapkan harga, yaitu:
- Mengidentifikasi permintaan produk dan pesaing
Banyaknya permintaan produk dan jumlah pesaing juga mempengaruhi harga jual,
sehingga menentukan harga tidak hanya berdasarkan biaya produksi, distribusi dan
promosi. - Target pasar untuk dilayani atau dijangkau
Semakin banyak Anda menetapkan target tinggi, semakin akurat penetapan harga
yang dibutuhkan. - Bauran pemasaran sebagai strategi
- Produk baru
Jika produk baru, harga tinggi atau rendah dapat ditentukan, tetapi kedua strategi
memiliki kelebihan dan kekurangan. Harga tinggi dapat menutupi biaya penelitian,
tetapi juga dapat mencegah produk bersaing di pasar. Sedangkan dengan harga
yang rendah jika terjadi kesalahan dalam ramalan pasar, maka pasar akan terlalu
rendah dari yang diharapkan. Maka biaya tidak dapat ditutup dan perusahaan dapat
mengalami kerugian. - Respon Pesaing
Dalam pasar yang semakin kompetitif, respon para pesaing tersebut harus selalu
dikendalikan oleh perusahaan agar perusahaan dapat secara menguntungkan
menetapkan harga yang dapat diterima pasar. - Biaya produk dan perilaku biaya
- Kebijakan atau peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah dan lingkungan
Tujuan Penetapan Harga
Tentunya dalam menetapkan harga suatu produk, suatu tujuan harus dicapai, baik
untuk bersaing dengan kompetitor maupun untuk mengejar keuntungan yang
maksimal. Beberapa tujuan penetapan harga menurut Tjiptono (2015: 293) adalah:
- Beriorentasi laba (Profit oriented)
Dirancang untuk memaksimalkan harga versus harga. Pesaing, persepsi nilai
produk, struktur biaya operasi dan efisiensi produk. Target profit biasanya
didasarkan pada target return dan bukan hanya maksimisasi laba. - Berorientasi volume Menetapkan harga untuk memaksimalkan volume penjualan
(dalam rupiah atau dalam satuan). Tujuan ini mengorbankan margin keuntungan
untuk penjualan produk yang tinggi. - Permintaan Pasar Menentukan harga berdasarkan ekspektasi konsumen dan situasi
pembelian tertentu. Tujuan ini sering dikenal sebagai “membebani apa yang akan
ditanggung pasar” - Pangsa Pasar
Dirancang untuk meningkatkan atau mempertahankan pangsa pasar terlepas dari
fluktuasi penjualan industri. Target pangsa pasar sering digunakan dalam fase
kedewasaan dari siklus hidup produk. - Aliran kas (Cash Flow) Dirancang untuk memaksimalkan cash return secepat
mungkin. Tujuan ini berguna ketika perusahaan mengalami keadaan darurat kas
atau ketika siklus hidup produk diperkirakan akan relatif singkat. - Mencocokkan Pesaing
Dirancang untuk menyamai atau mengalahkan tingkat harga pesaing. Tujuannya
adalah untuk mempertahankan persepsi nilai yang baik dibandingkan dengan
pesaing. - Prestise
Tetapkan harga tinggi ini yang konsisten dengan status tinggi atau produk prestise.
Harga ditentukan tanpa terlalu menunjukkan struktur biaya atau tingkat persaingan - Status quo
Pertahankan tingkat harga saat ini untuk mengamankan posisi kompetitif
Harga
Harga adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk mendapatkan suatu produk.
Menurut Kotler dan Armstrong (2018:308), harga adalah sejumlah uang yang
ditukarkan untuk suatu produk atau jasa. Selanjutnya, harga adalah jumlah nilai yang
ditukarkan konsumen untuk sejumlah manfaat dengan memiliki atau menggunakan
suatu barang atau jasa.
Menurut Alma (2013:169), harga adalah sejumlah uang yang dibayarkan untuk
jasa, atau nilai yang ditukarkan konsumen untuk mendapatkan manfaat dari memiliki
atau menggunakan barang atau jasa. Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
harga sering digunakan sebagai indikator nilai ketika harga dikaitkan dengan manfaat
yang dirasakan dari suatu barang atau jasa. Tingkat harga yang ditetapkan
mempengaruhi kuantitas yang dijual, secara tidak langsung harga juga mempengaruhi
biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan efisiensi produksi. Karena penetapan harga
memengaruhi pendapatan total dan biaya total, keputusan dan strategi penetapan harga
memainkan peran penting dalam bisnis apa pun
Indikator Citra Merek
Menurut Kotler dan Keller (2018:256), ada beberapa indikator yang
mempengaruhi citra merek, antara lain:
- Identitas merek (Brand identity)
Identitas merek adalah identitas merek yang berkaitan dengan produk dan fisik
produk itu sendiri, meliputi warna, kemasan dan identitas perusahaan. - Kepribadian merek (Brand personality)
Kepribadian merek adalah karakter merek dengan ciri-ciri produknya,
memungkinkan konsumen untuk mengetahui perbedaan dari merek lain. Dalam
hal ini merek dapat dibedakan dari segi kreatif, dinamis dan solid, sehingga
mencerminkan kepribadian seseorang. - Asosiasi merek (brand association)
Asosiasi merek adalah suatu hal yang spesifik dan pantas untuk diasosiasikan
dengan merek tertentu, yang diperoleh dari penawaran yang unik pada suatu
produk, kegiatan berulang ini memerlukan konsistensi, misalnya dalam hal
kegiatan sponsorship dan tanggung jawab sosial yang berlangsung di dalam merek
tersebut. - Sikap dan perilaku merek (brand attitude and Behavour)
Sikap merek merupakan sikap dan perilaku terhadap suatu merek yang dapat
diartikan sebagai perilaku komunikasi dan interaksi pada suatu merek, suatu merek
harus menjaga citra mereknya yang dilihat tidak hanya dari mereknya tetapi juga
dari karyawannya, oleh karena itu hal ini sangat penting sebagai itu adalah persepsi
konsumen dari merek. itu. - Keunggulan dan Kompetensi Merek (Brand benefit and Competence)
Manfaat dan manfaat dari merek ini antara lain manfaat dari sebuah merek dan
nilai, hal ini dapat membuat konsumen merasa kebutuhannya terpenuhi akan
manfaat dan manfaat dari produk itu sendiri.
Citra Merek
Citra merek merupakan pedoman yang digunakan konsumen untuk menilai
produk ketika mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang suatu produk.
Menurut Kotler dan Keller dalam Priansa (2017:265) bahwa citra merek merupakan
respon konsumen terhadap penawaran perusahaan secara keseluruhan. Menurut
Priansa (2017:266) bahwa citra merek muncul dari pengalaman dan upaya komunikasi
hingga penilaian atau pengembangan berlangsung di salah satu atau di ke dua hal
tersebut. Citra merek ang timbul dari pengalaman memberikan gambaran tentang
keterlibatan antara konsumen dan merek.
Kotler dan Armstrong (2018:254) berpendapat bahwa citra merek adalah suatu
keyakinan terhadap suatu merek yang disebut sebagai citra merek, yang meliputi hal-
hal sebagai berikut:
- Atribut.
Sebuah merek akan selalu memiliki atribut, atribut tersebut diciptakan dan harus
dikelola agar konsumen mengetahui atribut mana saja yang ada pada merek
tersebut - Manfaat.
Merek memiliki berbagai manfaat, dengan konsumen saat ini tidak hanya membeli
atribut, tetapi konsumen juga mendapatkan keuntungan dari produk. Oleh karena
itu, sebagai produsen perlu memahami konsumen dan mampu menerjemahkan
atribut-atribut yang bermanfaat baik secara fungsional maupun emosional. - Nilai.
Merek tentu akan memiliki nilai di mata konsumennya. Jika suatu merek memiliki
nilai yang baik, merek tersebut akan lebih disukai oleh konsumen dan dianggap
berharga oleh konsumen karena konsumen merasa bahwa produk tersebut
mencerminkan penggunanya. - Budaya.
Setiap merek mewakili setiap budaya, karena setiap perusahaan memiliki budaya
yang berbeda baik dari segi kerja, efektifitas maupun efisiensi sesuai dengan
budaya perusahaan untuk selalu menghasilkan produk yang berkualitas. - Kepribadian.
Merek selalu memiliki karakter pemakai merek tersebut, sehingga ketika
konsumen menggunakannya, karakter pengguna tercermin. - Pengguna.
Pengguna ini dapat menunjukkan identitas seseorang, melalui ini pemasar
membuat strategi dengan menggunakan orang-orang terkenal untuk
mempromosikan produk perusahaan.
Menurut Kotler dan Keller (2016:347), citra merek tidak dapat ditanamkan di
benak konsumen dalam semalam atau menyebar hanya melalui satu media. Sebaliknya,
citra harus disampaikan melalui segala sarana komunikasi yang ada dan disebarluaskan
secara terus menerus, karena tidak ada citra yang kuat. Pengukuran citra merek dapat
dilakukan berdasarkan aspek sebuah citra merek, yaitu: - Kekuatan (Strengthness)
Kekuatan yang dimiliki merek yang tidak terdapat pada merek lain. Kekuatan
merek ini mengacu pada ciri fisik merek, sehingga dapat dianggap sebagai
keunggulan dibandingkan merek lain. - Keunikan (Uniqueness)
Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan suatu merek dengan merek lain.
Kesan ini berasal dari fitur produk yang membuatnya berbeda atau berbeda dari
produk lain. - Keunggulan (Favorable)
Keunggulan adalah kemudahan merek produk diucapkan dengan kemampuan
merek tersebut tetap diinginkan oleh konsumen yang menjadikan produk tersebut
terkenal dan favorit di masyarakat, serta kesesuaian antar merek kesan di benak
pelanggan dan citra yang diinginkan perusahaan untuk merek tersebut
Indikator Keputusan Pembelian
Dalam penelitian ini menggunakan empat indikator untuk menentukan
keputusan pembelian yang diambil dari (Kotler 2012:159), yaitu :
a. Kemantapan pada sebuah produk
Dalam melakukan pembelian, konsumen akan memilih salah satu dari
beberapa alternatif yang ada. Pilihan teersebut didasarkan pada kualitas,
mutu, harga yang terjangkau, dan faktor-faktor lain yang dapat
memantapkan keinginan konsumen untuk membeli produk apakah
produk tersebut benar-benar ingin digunakan atau dibutuhkan.
b. Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan konsumen dalam membeli produk juga berpengaruh terhadap
keputusan pembelian. Konsumen merasa produk tersebut sudah terlalu
melekat dibenak karena mereka sudah merasakan manfaat dari produk
tersebut. Oleh karena itu, konsumen akan merasa tidak nyaman jika
mencoba produk baru dan harus menyesuaikan diri lagi. Mereka
cenderung memilih produk yang sudah biasa digunakan.
c. Memberikan rekomendasi pada orang lain
Dalam melakukan pembelian, jika komsumen mendapatkan manfaat
yang sesuai dengan produk, mereka pasti akan merekomendasikan
produk tersebut kepada orang lain. Mereka ingin orang lain juga
merasakan produk tersebut sangat bagus dan lebih baik dari produktivitas
lain.
d. Melakukan Pembelian Ulang
Kepuasan konsumen dalam menggunakan sebuah produk akan
menyebabkan kosumen melakukan pembelian ulang produk atau jasa
tersebut, mereka merasa produk atau jasa tersebut sudah cocok dan sesuai
dengan apa yang mereka inginkan dan harapkan
Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan Pembelian menurut Kotler dan Armstrong (2009:234)
mengemukakan bahwa keputusan pembelian adalah proses psikologi dasar
untuk memainkan peran penting dalam memahami bagaimana konsumen
secara aktual melakukan pembelian. Sedangkan menurut Buchari
(2016:102) keputusan pembelian adalah seseorang yang asalnya dipengaruhi
oleh lingkungan, kebudayaan, keluarga dan sebagainya, akan membentuk
suatu sikap pada diri individu, kemudian melakukan pembelian
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga
Menurut Saladin (2011: 98) faktor-faktor yang mempengaruhi harga
adalah sebagai berikut :
1..Demand for the product, dimana perusahaan perlu memperkirakan
permintaan terhadap produk yang merupakan langkah penting dalam
penetapan harga suatu produk.
- Target share of the market, yaitu pangsa pasar mana yang ditargetkan
oleh perusahaan. - Competitive reactions, yaitu reaksi dari pesaing
4..Use of creams-skimming pricing of penetration pricing, yaitu
mempertimbangkan langkah-langkah yang harus diambil pada saat
perusahaan memasuki pasar dengan harga yang tinggi atau dengan harga
yang rendah.
5..Other parts of the marketing mix, yaitu perusahaan perlu
mempertimbangkan kebijakan marketing mix (kebijakan produk,
kebijakan promosi dan saluran distribusi). - Biaya untuk memproduksi atau membeli produk.
Berdasarkan teori-teori yang dikemukan oleh para ahli, bahwa harga
adalah salah satu elemen baru pemasaran yang menghasilkan pendapatan
atau menghasilkan laba dan elemen lain yang menghasilkan biaya. Yang
dapat diukur dengan indikator : (1) Daftar harga, (2) Keterjangkauan harga,
(3) Kesesuaian harga (4) Potongan harga
Tujuan Penetapan Harga
Menurut Swastha (2017:12) tujuan penetapan harga adalah
meningkatkan penjualan, mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar,
menstabilkan harga, mencapai target pengembalian investasi dan mencapai
laba maksimum.
Menurut menurut Saladin (2011: 95) tujuan penetapan harga adalah
sebagai berikut :
1..Profit maximalitazion pricing (maksimalisasi keuntungan), untuk
mencapai keuntungan maksimal yang didapatkan perusahaan.
- Market share pricing (penetapan harga untuk merebut pangsa pasar),
dengan harga rendah, maka pasar dapat dikuasai dengan syarat pasar
yang cukup sensitif terhadap harga, biaya produksi dan distribusi turun
jika produksi naik dan harga turun, pesaing sedikit. - Current revenue pricing (penetapan laba untuk pendapatan maksimal),
penetapan harga yang tinggi untuk memperoleh pendapatan yang cukup
agar uang kas kembali dengan cepat. - Market skimming pricing, jika ada sekelompok pembeli yang bersedia
membayar dengan harga tinggi terhadap produk yang ditawarkan maka
perusahaan akan menetapkan harga yang tinggi walaupun kemudian
harga tersebut akan turun dengan syarat pembeli yang cukup, perubahan
biaya distribusi lebih kecil dari perubahan pendapatan, harga naik tidak
begitu berbahaya terhadap pesaing dan harga naik menimbulkan kesan
produk yang superior. - Target profit pricing (penetapan harga untuk sasaran), harga berdasarkan
target penjualan dalam periode tertentu. - Promotional pricing (penetapan harga untuk promosi), penetapan harga
untuk suatu produk dengan maksud untuk mendorong penjualan-
penjualan produk lain. Ada dua macam penetapan harga yaitu loss leader
pricing yaitu penetapan harga untuk suatu produk agar pasar mendorong
penjualan produk lainnya dan prestice pricing yaitu penetapan harga
yang tinggi untuk suatu produk guna meningkatkan image tentang
kualitas
Pengertian Harga
Harga menurut Saladin (2011: 95) adalah sejumlah uang sebagai alat
tukar untuk memperoleh produk atau jasa. Harga juga dapat dikatakan
penentuan nilai suatu produk dibenak pelanggan. Menurut Swastha
(2017:7.2) harga adalah sejumlah uang yang dikeluarkan dalam pertukaran
untuk mendapatkan barang atau jasa. Definisi tentang harga tersebut
menunjukan bahwa harga yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk
pelayanan yang diberikan oleh penjual. Dari sisi pelanggan, harga dapat
dipersepsikan sebagai ongkos atau pengeluaran yang bahkan secara luas
dapat diartikan sebagai pengorbanan (waktu antre, energi untuk antre,
pengorbanan psikis karena antre dan sejumlah biaya untuk mendapatkan
jasa atau produk). Sedangkan menurut Peter dan Olson (2014:240) harga
dalam sudut pandang pelanggan didefinisikan sebagai yang harus diberikan
pelanggan untuk membeli barang atau jasa
Dimensi Citra Merek
Menurut Aaker (2015:8) tujuan utama membangun citra merek
adalah untuk membangun, meningkatkan, atau menaikkan ekuitas
merek yang dimensi-dimensi utamanya adalah sebagai berikut :
a. Kesadaran merek
Suatu aset yang sering diremehkan, telah ditunjukan dapat
mempengaruhi presepsi, rasa suka, dan bahkan tingkah laku. Orang-
orang menyukai hal yang familiar bagi mereka dan cenderung
menganggap positif hal-hal yang sudah mereka kenal baik. Lebih
jauh lagi, kesadaran merek dapat menjadi syarat keberhasilan,
komoitmen, subtansi, atribut-atribut yang penting bagi para pembeli
barang-barang berharga mahal dan barang-barang yang tahan lama.
b. Asosiasi merek
Meliputi atribut-atribut produk, desain, program sosial, kualitas,
pencitraan pengguna, keberagaman produk, menjadi global, inovasi,
solusi-solusi sistem, kepribadian merek, dan simbol-simbol. Satu
bagian penting dalam pengelolaan merek sebagai aset melibatkan
penentuan asosiasi apa yang harus dikembangkan, penciptaan
program-program yang dapat meningkatkan asosiasi tersebut dan
menautkannya dengan merek yang dimaksud.
c. Loyalitas Merek
Inti dari setiap nilai merek karena begitu inti ini didapatkan,
loyalitas itu akan bertahan. Ketidak inginan pelanggan untuk
berpindah merek akan memberi keuntungan bagi merek yang sudah
memperoleh loyalitas. Akan sulit dan mahal bagi pesaing untuk bisa
mematahkan loyalitas tersebut. Pada hakikatnya tujuan membangun
citra merek adalah memperkuat ukuran dan intensitas dari setiap
loyalitas dengan membuat landasan hubungan pelanggan itu
konsisten dari waktu ke waktu dan apabila memungkinkan, tetap
kaya, mendalam dan penuh arti
Manfaat Merek Bagi Produsen dan Penjual
Menurut Saladin (2011:134) manfaat merek bagi produsen dan
penjual sebagai berikut :
a. Memudahkan penjual mengolah pesanan-pesanan dan menekan
masalah.
b. Nama merek dan tanda dagang secara hukum akan melindungi
penjual dari pemalsuan ciri-ciri produk karena jika tidak demikian
setiap pesaing akan meniru produk tersebut.
c. Memberi peluang bagi penjual kesetiaan pelanggan pada produknya
dengan menetapkan harga lebih tinggi.
d. Membuat penjual dalam mengelompokkan pasar ke dalam segmen-
segmen.
e. Citra perusahaan dapat dibina dengan adanya merek yang baik.
f. Memberi pertahanan terhadap persaingan harga yang ganas
