Signaling Theory

Sinyal adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajemen
perusahaan memberikan petunjuk kepada investor tentang
bagaimana manajemen menilai prospek perusahaan tersebut
(Brigham &Houston, 2011:186). Perusahaan pada prospek yang
menguntungkan akan memberikan sinyal positif kepada para
investor dengan menunjukan bahwa perusahaan tersebut
cenderung menghindari penjualan saham dan akan
mengusahakan cara lain untuk memperoleh modal baru yang
diperlukan dengan penggunaan utang yang lebih banyak.
Perusahaan dengan prospek yang kurang menguntungkan akan
cenderung untuk menjual sahamnya.
Pengumuman emisi saham oleh suatu perusahaan umumnya
merupakan suatu isyarat (signal) bahwa manajemen memandang
prospek perusahaan tersebut suram. Apabila suatu perusahaan
menawarkan penjualan saham baru lebih sering dari biasanya,
maka harga sahamnya akan menurun, karena menerbitkan saham
baru berarti memberikan isyarat negatif yang kemudian dapat
menekan harga saham sekalipun prospek perusahaan cerah.
Berdasarkan Signaling theory perusahaan yang mampu
menghasilkan laba cenderung meningkatkan jumlah utangnya,
karena tambahan pembayaran bunga akan diimbangi dengan laba
sebelum pajak.

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal

Menurut Brigham dan Houston (2011:188) faktor-faktor yang
umumnya dipertimbangkan oleh perusahaan ketika mengambil keputusan
mengenai struktur modal yaitu antara lain :
1. Stabilitas penjualan
Perusahaan dengan stabilitas penjualan yang relatif stabil dapat
lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban
tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang
penjualannya tidak stabil.
2. Struktur aktiva
Perusahaan yang aktivanya sesuai untuk dijadikan jaminan kredit
cenderung lebih banyak menggunakan hutang.
3. Leverage operasi
Perusahaan dengan leverage operasi yang lebih kecil cenderung
lebih mampu untuk memperbesar leverage keuangan karena akan
mempunyai risiko bisnis yang lebih kecil.
4. Tingkat pertumbuhan
Tingkat pertumbuhan ditunjukkan dengan peningkatan penjualan
dari periode ke periode. Dengan semakin meningkatnya ukuran
perusahaan dari penjualan, maka kreditor akan semakin percaya dengan
kinerja perusahaan, sehingga dapat meningkatkan dana untuk operasional
perusahaan.
5. Profitabilitas
Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan perusahaan
membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan mereka dengan dana
yang dihasilkan secara internal.
6. Pajak
Bunga merupakan beban yang dapat dikurangkan untuk tujuan
perpajakan, dan pengurangan tersebut sangat bernilai bagi perusahaan
yang terkena tarif pajak yang tinggi.
7. Pengendalian
Pengaruh hutang melawan saham terhadap posisi pengendalian
manajemen dapat mempengaruhi struktur modal. Pertimbangan
pengendalian tidak selalu menghendaki penggunaan hutang atau ekuitas
karena jenis modal yang memberi perlindungan terbaik bagi manajemen
bervariasi dari suatu situasi ke situasi lain. Jika posisi manajemen sangat
rawan, situasi pengendalian perusahaan akan dipertimbangkan.
8. Sikap manajemen
Sejumlah manajemen cenderung konservatif daripada manajemen
lainnya, sehingga menggunakan jumlah hutang yang lebih kecil daripada
rata-rata perusahaan dalam industri yang bersangkutan, sementara
manajemen lain lebih cenderung menggunakan banyak hutang dalam
usaha mengejar laba yang tinggi.
9. Sikap pemberi pinjaman dan lembaga penilai peringkat
Sikap para pemberi pinjaman dan perusahaan penilai peringkat
(rating agency) sering kali mempengaruhi keputusan struktur keuangan.
10. Kondisi pasar
Kondisi pasar saham dan obligasi mengalami perubahan jangka
panjang dan jangka pendek yang sangat berpengaruh terhadap struktur
modal perusahaan yang optimal.
11. Kondisi internal perusahaan
Perusahaan pada suatu saat perlu menanti waktu yang tepat untuk
mengeluarkan saham atau obligasi tergantung dari kondisi internnya.
12. Fleksibilitas keuangan
Mempertahankan fleksibilitas keuangan dilihat dari sudut pandang
operasional berarti mempertahankan kapasitas cadangan yang memadai
untuk melakukan pinjaman.

Bauran Promosi

Menurut (Jasin, 2019: 30) Bauran promosi merupakan unsur dalam
pemasaran jasa dalam membentuk peranan penting dalam membantu
mengkomunikasikan positioning jasa kepada pelanggannya. Semakin baik bauran
promosi yang digunakan maka semakin banyak pula pelanggan yang akan tertarik
untukmenggunakan jasa tersebut.

Pengukuran Kepuasan Konsumen

Pengukuran tingkat kepuasan konsumen, ada beberapa aspek penting yang
saling berkaitan. Meskipun demikian, ditengah beragamnya cara mengukur
kepuasan konsumen, terdapat enam konsep inti apa yang harus diukur dari
kepuasan konsumen tersebut menurut Tjiptono (2000: 101), yaitu:
1. Kepuasan Konsumen Keseluruhan (Overall Customer Satisfaction)
Merupakan cara yang paling sederhana untuk mengukur kepuasan
konsumen adalah langsung menanyakan kepada konsumen seberapa puas
mereka dengan produk atau jasa spesifik tertentu.
2. Dimensi Kepuasan Konsumen
Merupakan penelitian memilah kepuasan konsumen ke dalam komponenkomponennya. Umumnya proses semacam itu terdiri atas empat langkah.
Berupa, mengidentifikasi dimensi-dimensi kunci kepuasan konsumen,
meminta konsumen menilai produk atau jasa perusahaan berdasarkan itemitem spesifik seperti kecepatan layanan atau keramahan staf layanan
konsumen, meminta konsumen menilai produk atau jasa pesaing
berdasarkan item-item spesifik yang sama dan meminta para konsumen
untuk menentukan dimensi-dimensi yang menurut mereka paling penting
dalam menilai kepuasan konsumen keseluruhan.
3. Konsirmasi Harapan (Confirmation of Expectation)
Dalam konsep ini, kepuasan tidak diukur langsung, namun disimpulkan
berdasarkan kesesuaian/ketidaksesuaian antara harapan konsumen dengan
kinerja aktual produk perusahaan
4. Minat Pembelian Ulang (Repurchase Intent)
Adalah kepuasan konsumen diukur secara behavioral dengan jalan
menanyakan apakah konsumen akan berbelanja atau menggunakan jasa
perusahaan lagi.
5. Kesediaan untuk Merekomendasikan (Willingness to Recommend)
Kesediaan konsumen untuk merekomendasikan produk kepada teman atau
keluarga menjadi ukuran yang penting untuk dianalisis dan ditindaklanjuti.
6. Ketidakpuasan Konsumen (Customer Dissatisfaction)
Dilihat dari beberapa macam aspek yang sering ditelaah guna mengetahui
ketidakpuasan konsumen, meliputi complain, retur atau pengembalian
produk, biaya garansi, recall, word of mouth negatif dan defections.

Pengertian Kualitas Produk

Kotler dan Amstrong (2012:354), mengatakan bahwa kualitas
produk ialah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan
fungsinya, meliputi daya tahan, keandalan ketepatan, kemudahan
operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya. Menurut
Prawirosentono (2007:6) kualitas produk ialah keadaan fisik, fungsi
dan sifat produk yang dapat membuat konsumen merasa puas dan
sesuai keperluan berdasarkan harga yang sudah dibayar.
Usaha untuk menarik minat pelanggan potensial, maka
perusahaan harus memproduksi produk yang berkualitas, terutama
dalam memenuhi harapan konsumen agar merasa puas dan loyal pada
perusahaan. Secara umum, memiliki kualitas yang baik adalah salah
satu cara yang efektif perusahaan dalam menguasai pasar. Bagi
konsumen, kualitas produk adalah alat ukur dalam mencapai
kepuasan.
Kualitas produk tidak diragukan lagi, merupakan elemen yang
sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
Kualitas produk yang dapat diterima adalah faktor utama yang dapat
mempengaruhi perilaku pembelian konsumen. Apabila pelanggan
merasa puas dengan produk yang berkualitas maka pelanggan ingin
membeli kembali produk yang sudah dibeli dan akan memberitahu
kepada orang lain tentang rasa puas dengan produk tersebut
Salah satu elemen yang diutamakan dalam bersaing ialah
kualitas yang membuat konsumen merasa terpenuhi terhadap
kebutuhannya. Apabila tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen
maka produk tersebut akan ditolak. Dengan demikian perusahan harus
memahami tentang kebutuhan dan keinginan konsumen, sehingga
perusahaan mampu menciptakan produk dengan kualitas yang sesuai
dengan harapan konsumen. Konsumen tentunya menginginkan produk
dengan kualitas yang baik, dengan demikian produk dengan kualitas
yang baik adalah kunci dalam pengembangan produktifitas
perusahaan.
Kotler (2013), mengemukakan bahwa perusahaan dalam
menciptakan kualitas produk yang baik maka dibutuhkan beberapa
faktor untuk merumuskan mengenai kualitas produk yaitu :
1. Fungsi barang.
Mempengaruhi kepuasan konsumen, maka harus
memproduksi barang yang mutunya harus sesuai dengan fungsi
serta kegunaannya, daya tahannya, peralatannya dan
kepercayaannya.
2. Wujud luar seperti bentuk, warna dan susunannya
Bila wujud luar dari barang tersebut tidak menarik meskipun
kualitas barangnnya baik maka belum tentu konsumen tertarik.
3. Biaya barang.
Pada umumnya biaya dan harga suatu barang akan dapat
menentukan mutu suatu barang tersebut

Faktor Pembentukan Citra Merek

Citra merek dapat membuat konsumen untuk mengenal produk,
mengevaluasi kualitas produk dari produk tersebut, serta dapat
membuat pembelian yang tinggi. Sebagian konsumen biasanya akan
memilih merek yang sudah dikenal meskipun harga produk tersebut
lebih mahal. Menurut Sciffman dan Kanuk (2013), terdapat beberapa
faktor pembentukan citra merek, yaitu:
a. Kualitas dan mutu, terkait dengan kualitas produk yang di pasarkan
perusahaan dengan merek tertentu
b. Dapat dipercaya atau diandalkan, terkait dengan persepsi
masyarakat dengan produk yang sudah dikonsumsi
c. Kegunaan, terkait dengan produk yang berfungsi dalam manfaat
yang dibutuhkan konsumen
d. Pelayanan, terkait dengan layanan yang diberikan oleh perusahaan
kepada konsumen
e. Resiko, terkait dengan keuntungan atau kerugian yang dialami
konsumen terhadap suatu produk
f. Harga, terkait dengan biaya yang dikeluarkan konsumen dalam
mendapatkan produk
g. Citra yang dimiliki oleh produk itu sendiri, terkait dengan persepsi
dan informasi apa yang di alami konsumen terhadap suatu produk

Pengertian Citra Merek

Merek merupakan identitas dari suatu barang atau jasa.
Perusahaan harus menciptakan suatu merek yang berbeda dari
pesaing, dengan tujuan agar bisa dapat diterima oleh konsumen,
sehingga konsumen dengan mudah bisa menentukan merek dari suatu
perusahaan. Merek yang sudah populer dan bisa dipercaya merupakan
sebuah asset yang sangat bernilai. Merek merupakan sumber asset
yang besar dan merupakan faktor terpenting dalam pemasaran
perusahaan. Ketrampilan yang harus dikembangkan oleh perusahaan
dalam memasarkan adalah kemampuan dalam menciptakan,
memelihara dan melindungi serta meningkatkan citra merek. Assosiasi
Pemasaran Amerika dikutip dari Kotler (2013), mendefisinikan merek
sebagai nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi
dari semuanya, yang bertujuan untuk mengidentifikasi barang atau
jasa penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakan dari
barang atau jasa pesaing.
Menurut Kotler (2013), citra merek adalah persepsi konsumen
terhadap perusahaan atau produknya. Menurutnya citra tidak dapat di
tanamkan kedalam fikiran konsumen dengan waktu yang singkat,
dalam satu hari atau hanya menyebarkan dengan satu media. Citra
merek harus menyebarkan dengan media sebanyak mungkin
disampaikan berulang-ulang, dikarenakan tanpa citra yang kuat
perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan
konsumen dan menarik konsumen baru
Banyak faktor diluar kontrol perusahaan yang mempengaruhi
citra merek. Merek dapat dikatakan faktor yang penting dalam
memasarkan produk atau jasa, dikarenakan kegiatan mengenalkan dan
menawarkan produk atau jasa tidak bisa lepas dari merek yang
diandalkan perusahaan. Menurut Kotler & Keller (2016), ukuran citra
merek dapat dilakukan berdasarkan merek, yaitu:
a. Mudah diingat
Dalam memilih jenis merek sebaiknya mudah diingat dan mudah
disebutkan atau diucapkan. Memilih nama, logo, simbol sebaiknya
dibuat menarik dan unik, sehingga masyarakat tertarik dan mudah
untuk diingat
b. Mudah dikenal
Usaha untuk mengenalkan merek supaya mudah dikenal yaitu
dengan melalui logo, pesan, pengemasan dan disajikan kepada
konsumen atau disebut dengan trade dress. Suatu produk dapat
menarik perhatian dan mudah dikenal melalui komunikasi yang
insentif
c. Reputasi merek baik
Bagi perusahaan citra berarti persepsi masyarakat terhadap jati diri
perusahaan. Persepsi yang ditanamkan masyarakat berdasarkan
dengan apa yang diketahui tentang perusahaan yang tersebut.
Dengan hal ini apabila ada perusahaan yang sama bukan berarti
memiliki citra yang sama dalam persepsi masyarakat. Dalam
mengambil keputusan bagi konsumen, citra perusahaann menjadi
salah satu pegangan. Perusahaan yang memiliki citra yang baik
akan berdampak positif dalam pengambilan keputusan dan bagitu
sebaliknya. Perusahaan yang memiliki citra yang buruk akan
melemahkan kemampuan perusahaan dalam persaingan.

Pengertian Bauran Pemasaran

Menurut Kotler & Amstrong (2012:62) bauran pemasaran (marketing
mix) adalah kumpulan alat pemasaran taktis yang terkendali dipadukan
perusahaan untuk menghasilkan respons yang diinginkannya di pasar
sasaran.
Bauran pemasaran menurut Tjiptono (2014) meliputi:
1. Product (Produk)
Pengertian produk (product) menurut Laksana (2008:67) produk
adalah segala sesuatu baik yang bersifat fisik maupun non fisik yang
dapat ditawarkan kepada konsumen untuk memenuhi segala keinginan
dan kebutuhannya. Kotler & Amstrong (2012:346) adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian,
dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan
atau kebutuhan. Produk terdiri dari ragam produk, desain, kemasan,
fitur, nama merek, kulitas, ukuran, layanan, jaminan, dan
pengembalian. Produk yang disediakan oleh Klinik Kecantikan
Natasha, Larissa dan Naava Green adalah produk jasa seperti
perawatan wajah, perawatan tubuh, perawatan rambut dan perawatan
kuku selain jasa produk barang yang disediakan adalah produk –
produk kecantikan seperti produk cream wajah, produk pembersih
wajah, sunblock, pelembap wajah, cream agni, produk lulur, produk
handbody dan produk shampo. Penelitian ini juga mencoba
melakukan yang lebih mendalam pada aspek produk dengan
melakukan penelitian tentang citra merek, kualitas produk yang tentu
saja hal tersebut tidak dapat terlepas dari produk yang disediakan oleh
Klinik Kecantikan
2. Price (Harga)
Harga adalah jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk
memperoleh produk. Harga adalah kesepakatan nilai yang menjadi
persyaratan bagi pertukaran dalam sebuah transaksi pembeli. Harga
dapat juga diartikan dengan sesuatu yang harus dikeluarkan pembeli
untuk menerima produk (Harjanto, 2009;260). Harga produk barang
dan jasa yang disediakan oleh Klinik Kecantikan Larissa, Klinik
Kecantikan Natasha dan Klinik Kecantikan Naava Green sangat
bervariatif tergantung jenis jasa pelayanan perawatan dan jenis produk
barangnya. Secara umum harga yang disediakan untuk harga termurah
sekitar Rp. 50.000 dan harga tertinggi berkisar pada Rp. 1.000.000.
3. Promotion (Promosi)
Kotler (2013:28) mendefinisikan promosi penjualan sebagai berbagai
kegiatan yang dilakukan antar perusahaan untuk mengkomunikasikan
manfaat dari produknya dan untuk meyakinkan konsumen sasaran
agar membelinya. Strategi promosi yang dilakukan oleh Klinik
Kecantikan Larissa, Klinik Kecantikan Natasha dan Klinik Kecantikan
NaavaGreen tergolong sama yakni melakukan promosi melalui media
online seperti website, media iklan online, sosial media, surat kabar,
brosur, panflet, radio, televisi dan lain lain. Aspek promosi juga
menjadi aspek yang akan dikaji mendalam dalam penelitian ini
dimana riset ini mencoba untuk menganalisis penggunaan celebrity
endorser apakah memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen.
4. Place (Tempat)
Definisi lokasi menurut Kotler (2013:126) adalah berbagai kegiatan
yang dilakukan perusahaan untuk membuat produknya mudah
diperoleh dan tersedia untuk konsumen sasaran. Dalam penentuan
lokasi, Klinik Kecantikan Larissa, Klinik Kecantikan Natasha dan
Klinik Kecantikan NaavaGreen selalu memilih daerah pusat kota hal
ini dilakukan sebab klinik – klinik tersebut memilih pasar sasaran dari
kalangan menengah keatas yang memiliki perilaku atau kepedulian
yang tinggi terhadap perawatan tubuh dan hal tersebut lebih
didominasi oleh masyarakat perkotaan.

Pengertian Pemasaran

Konsep pemasaran menekankan bahwa konsumenlah yang menjadi
fokus utama perusahaan. Oleh karena itu diperlukan berbagai cara untuk
memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen yang
sesungguhnya. Menurut (AMA) American Association pemasaran adalah
suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan,
mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada pelanggan dengan cara
yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya.
Menurut Kotler (2013:5) pemasaran merupakan sebuah proses
kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang
mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan
secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang
lain.
Menurut Sudaryono (2016 : 38), pemasaran (marketing) bersangkut
paut dengan kebutuhan hidup sehari-hari kebanyakan orang. Melalui
proses tersebut, produk atau jasa diciptakan, dikembangkan, dan
distribusikan kemasyarakat. Pada hakikatnya pemasaran adalah kegiatan
manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
melalui pertukaran. Konsep penting dalam studi pemasaran adalah
kebutuhan, keinginan, permintaan, produk, pertukaran, transaksi dan pasar.
Pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran
adalah suatu proses sosial dan manejerial dimana individu dan kelompok
mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan,
menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain.

Pengaruh celebrity endorsement terhadap purchase intention yang di mediasi brand image

Dengan adanya celebrity endorsement dimana bertujuan untuk menarik perhatian
konsumen agar terjadi niat beli produk, dan bertujuan mengembangkan brand
image bagi perusahaan. Brand image memediasi secara signifikan hubungan
celebrity endorser dengan purchase intention (Roshan and Sudiksa 2019). Hal ini
di dukung juga oleh penelitian yang menyatakan bahwa brand image berpengaruh
positif dan signifikan dalam memediasi pengaruh celebrity endorser terhadap niat
beli (Putra and Sulistyawati 2015).

Pengaruh brand image terhadap purchase intention

Pada akhirnya brand image atau citra merek yang menjadi pertimbangan dari
konsumen dalam melakukan pembelian. Brand image memiliki pengaruh positif
terhadap purchase intention (Jalal et al. 2013). Artinya semakin positif citra
merek akan semakin meningkatkan niat beli. Hal ini di dukung juga oleh
penelitian yang menyatakan bahwa variabel-variabel brand image berpengaruh
positif terhadap purchase intention (Ambarwati 2015).

Pengaruh celebrity endorsement terhadap purchase intention

Selebriti adalah seseorang yang memiliki prestasi dalam bidangnya, baik itu aktor, atlet, maupun penghibur. Celebrity endorsement merupakan pemakaian selebriti
yang mempunyai daya tarik tersendiri dalam memasarkan produk yang akan
memuncurkan niat beli konsumen. Celebrity endorsement memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap purchase intention (Herjanto et al. 2020). Hal ini juga
didukung penelitian yang menyatakan bahwa variabel-variabel celebrity
endorsement pengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention
(Anggraeni and Asnawati 2017)

Pengaruh celebrity endorsement terhadap brand image

Celebrity endorsement merupakan dukungan dari seorang selebriti yang
dilakukan oleh pemasar, akan mampu meningkatkan brand image dari sebuah
produk yang diiklankan. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara
celebrity endorser terhadap brand image (Roshan and Sudiksa 2019). Penelitian
lain celebrity endorsement berpengaruh positif dan signifikan berpengaruh
terhadap brand image. Ini berarti bahwa semakin baik kredibilitas (credibility), daya tarik (attractiveness), keahlian (expertise), dan dapat dipercaya
(trustworthiness) celebrity endorser maka akan meningkatkan brand image
produk sapatu Nike Kobe di Kota Denpasar (Putra and Sulistyawati 2015). Hal ini
juga didukung oleh penelitian variabel celebrity endorsment secara statistik
memiliki pengaruh signifikan terhadap brand image.

Indikator Purchase Intention

Berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) menyatakan bahwa
terdapat tiga indikator yaitu attitude/sikap individu terhadap tindakan, norma
subjektif dan kontrol perilaku yang dirasakan (Putu Sayorini , 2020).
a. Sikap (Attitude)
Attitude individu terhadap tindakan bisa bersifat positif atau negatif yang
ditunjukkan oleh keyakinan individu terhadap manfaat dan mudarat tindakan
tersebut. Implementasi Theory of Planned Behavior dalam mengukur attitude
individu terhadap aspek meliputi manfaat, mudarat dan aktivitas serta sarana
pelayanan. Attitude menggambarkan hasil evaluasi terhadap objek maupun
perbuatan apakah dia suka atau tidak suka. Seseorang akan cenderung memiliki
niat untuk melakukan sesuatu jika kegiatan tersebut adalah hal yang disukai
(Putu Sayorini, 2020).
b. Norma Subjektif (Subjective norms)
Subjective norms didefinisikan sebagai persepsi tekanan sosial untuk
melakukan tindakan tertentu atau tidak melakukan tindakan tertentu. Subjective
norms dibentuk oleh Normative belieft yang berhubungan dengan Perceived
Behavioral Control. Behavioral Belieft dihubungkan dengan Real Behavior
berdasarkan aspek-aspek terkait behavioral outcome atau Behavioral cost. Normative Belieft adalah persepsi individu terhadap kuat/lemahnya persetujuan
dari orang-orang penting/kelompok referensi dalam melaksanakan tindakan dan
kepatuhan individu pada kelompok referensi tersebut. Norma subjektif
direfleksikan oleh keyakinan normatif dan motivasi individu untuk mematuhi
norma tersebut (Putu Sayorini, 2020).
c. Kontrol Perilaku yang Dirasakan (Perceived Behavioral Control)
Perceived Behavioral Control diartikan sebagai persepsi kemudahan atau
kesulitan melakukan tindakan. Persepsi ini dibentuk oleh pengalaman masa lalu
dan antisipasi terhadap hambatan terkait tindakan tertentu. Dinyatakan bahwa
semakin positive attitude, semakin kuat tekanan sosial dan semakin besar
perceived behavioral control individu maka intensi bertindak individu cenderung
semakin kuat. Dihubungkan dengan tindakan/perilaku nyata, semakin kuat intensi
bertindak, semakin kuat daya prediksi perilaku nyata (Putu Sayorini, 2020).

Purchase Intention

Purchase intention diartikan sebagai rencana dari konsumen untuk
melakukan upaya dalam membeli. Niat beli ditentukan oleh manfaat dan nilai yang
dirasakan oleh konsumen (Wang and Tsai 2014). Seseorang akan cenderung
memiliki niat untuk melakukan sesuatu jika kegiatan tersebut adalah hal
yang disukai. Niat tersebut akan membuntuk perilaku seseorang yang
berhubungan dengan niat pembeliaan. Timbulnya niat beli terhadap calon
konsumen pada sebuah produk diakibatkan oleh pengaruh dari produk itu sendiri. Theory of Planned Behaviour (TPB) merupakan teori umum yang digunakan
untuk menjelaskan bagaimana suatu perilaku dapat terbentuk. Teori TPB
menyatakan bahwa attitude/sikap individu terhadap tindakan, norma subjektif dan
kontrol perilaku yang dirasakan. Sikap, norma subjektif dan kontrol presepsi
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap niat konsumen dalam membeli
produk (Kadengkang and Linarti 2020). Theory of Planned Behavior (TPB) adalah kerangka kerja untuk
memahami pengaruh sikap, norma subyektif, dan kontrol perilaku yang
dirasakan pada niat untuk terlibat dalam perilaku yang menarik. Dalam model
TPB, keyakinan perilaku diharapkan untuk mempengaruhi sikap, sehingga efek
keyakinan normatif pada norma subyektif sedangkan keyakinan kontrol
merupakan dasar dari kontrol perilaku (Chari 2020).

Indikator Brand Image

Citra Merek terdiri dari tiga konponen yaitu Citra Perusahaan, Citra
Konsumen, dan Citra Produk, menurut Biels dalam (Ambarwati 2015).
a. Citra Pembuat/ Perusahaan (Corporate Image)
Citra Perusahaan adalah asosiasi yang berkaitan dengan organisasi dengan
atribut dari suatu perusahaan, semakin baik citra suatu perusahaan maka produk-
produk dari perusahaan tersebut akan lebih mudah diterima oleh konsumen
(Ambarwati 2015). b. Citra Pemakai (User Image)
Citra Konsumen menunjuk kepada persepsi dari jenis seseorang yang
menggunakan produk, Citra Konsumen dapat mencerminkan status sosial dan
gaya hidup seseorang dalam membeli suatu produk (Ambarwati 2015). c. Citra Produk (Product Image)
Citra Produk adalah kesan atau keyakinan yang dimiliki seseorang
terhadap suatu objek, semakin baik citra dari suatu produk maka konsumen akan
tertarik dan memiliki minat untuk membeli produk tersebut (Ambarwati 2015)

Brand Image

Suatu produk yang memiliki citra merek yang baik merupakan salah satu
cara yang penting di dalam menjaring suatu konsumen, karena konsumen
dengan atau tidak sadar akan memilih suatu produk yang memiliki citra yang
positif (Utami and Seminari 2018). Citra terhadap merek berhubungan dengan
sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen
yang memiliki citra yang positif terhadap suatu merek, akan lebih memungkinkan
untuk melakukan pembelian.
Konsumen beranggapan bahwa merek dapat memberikan nilai tambah
bagi mereka. Hal tersebut dikarenakan adanya persepsi yang menimbulkan
konsumen tertarik untuk membelinya, dengan begitu konsumen akan rela
membayar mahal agar memperoleh produk yang diinginkan. Perusahaan yang
baik adalah yang mampu memberikan citra produk yang positif bagi konsumen
atau pelanggannya (Ambarwati 2015). Brand image merupakan salah satu asset
bagi perusahaan karena dengan brand image tersebut akan memberikan dampak
kepada persepsi konsumen. Untuk menanamkan sebuah sebuah citra merek atau
brand image bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, walaupun beberapa merek
dapat meledakan penjualan dalam waktu singkat, sering kali tidak menjamin
produk tersebut dapat bertahan lama diminati oleh pasar hal itu bisa di golongkan
sebagai suatu kegagalan membangun serta mempertahankan brand image atau
citra merek (Wenas, Tumbel, and Parengkuan 2014).

Indikator Celebrity Endorsement

Berdasarkan teori Source Credibility Scale, terdapat tiga variabel celebrity
endorsement yaitu Trustworthiness, Expertise dan Attractiveness (Gilal et al.
2020).
a. Kepercayaan (Trustworthiness)
Kepercayaan adalah kesan konsumen tentang presenter atau model yang
berkaitan dengan wataknya. Trustworthiness (kepercayaan) mengacu pada
kejujuran, integritas, dan kepercayaan dari sumber. Tingkat kejujuran atau
kepercayaan dari endorser bergantung pada persepsi audiens terhadap maksud
endorser tersebut. Apabila konsumen percaya bahwa seorang selebriti
memotivasi murni karena kepentingan pribadi, maka endorser tersebut kurang
persuasif, begitupun sebaliknya (Gilal et al. 2020). Oleh karena itu, kepercayaan
merupakan indikator yang sangat penting untuk mempengaruhi minat konsumen.
b. Keahlian (Expertise)
Keahlian adalah kesan yang dibentuk oleh konsumen tentang kemampuan
dan pengetahuan selebriti atau model dalam hubunganya dengan produk. Jika
konsumen menganggap bahwa selebriti atau model memiliki kecerdasan,
pengetahuan dan pemahaman yang baik maka konsumen cenderung untuk
menerimanya. Selain factor kharisma juga berperan dalam menilai seseorang ahli
atau bukan. Contoh: iklan sensodine (produk pasta gigi), model atau presenter
bukanlah seorang selebriti atau tokoh terkenal tetapi membuat iklan menaruh
sosok seorang dokter untuk lebih meyakinkan konsumennya. Expertise (keahlian)
mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang dimiliki oleh
selebriti. Seorang selebriti yang dianggap sebagai ahli pada subjek tertentu lebih
persuasif dalam mengubah pendapat audiens yang berkaitan dengan bidang
keahliannya daripada seorang endorser yang dianggap tidak ahli (Gilal et al.
2020).
c. Daya Tarik (Attractiveness)
Pada umumnya individu cenderung menyukai orang-orang yang mereka
senangi, cantik atau tampan dan yang banyak memiliki kesamaan. Attractiveness
(daya tarik) terdiri dari tiga dimensi, yaitu kesamaan, keakraban, dan rasa suka,
yang artinya selebriti dianggap menarik bagi penerima jika mereka memiliki
kesamaan atau keakraban dengan selebriti atau mereka menyukai selebriti terlepas
dari apakah keduanya memiliki kesamaan dan keakraban atau tidak (Gilal et al.
2020). Selebriti yang menarik secara konsisten akan disukai dan memiliki dampak
positif pada produk yang mereka iklankan.

Celebrity Endorsement

Celebrity endorsement digunakan sebagai semua individu yang menikmati
pengenalan publik dan menggunakan pengenalan ini untuk kepentingan produk
konsumen dengan tampil bersama produk tersebut dalam suatu iklan.
Keberhasilan sebuah iklan tidak terlepas dari pesan bintang iklan dalam
mempromosikan sebuah merek produk, terutama bila iklan tersebut ditayangkan
melalui media televisi. Penggunaan bintang iklan dalam sebuah iklan ditelevisi
merupakan strategi yang tepat untuk memperkenalkan produk kepada konsumen.
Celebrity endorsement memoderasi hubungan antara citra merek dan kepercayaan
merek, dan anatara citra merek dan niat membeli kembali suatu produk (Herjanto
et al. 2020). Penggunaan selebriti dalam mengiklankan produk harus terkenal agar
dapat dengan mudah dikenali dan pesan iklan yang disampaikan dengan baik
diterima oleh konsumen.
Celebrity endorsement berpengaruh terhadap niat beli pelanggan pria dan
wanita. Penggunaan selebriti menyoroti pengaruh kesukaan, kepribadian, daya
tarik, dan pengalaman endorser terhadap niat beli pelanggan (Abbas, Afshan, and
Khan 2018). Pemilihan selebriti sebagai bentuk promosi dikarenakan selebriti
tersebut mempunyai pengikut dalam jumlah banyak. Sehingga diharapkan
pengikut sang selebriti tertarik dan memiliki niat beli, lalu menjadi pelanggan.
Terlebih bila selebriti sudah terkenal dan memiliki banyak penggemar. Jadi sangat
jelas, tujuaan dari celebrity endorsement ini untuk meningkatkan penjualan

Pengertian Selebrity Endorser (Celebrity)

Selebrity Endorsement adalah sebagai semua individu yang
menikmati pengenalan publik dan menggunakan poin pengenalan ini untuk kepentingan produk konsumen dengan tampil bersama
produk tersebut dalam suatu iklan. Keberhasilan sebuah iklan tidak
terlepas dari pesan bintang iklan dalam mempromosikan sebuah
merk produk, terutama bila iklan tersebut ditayangkan melalui
media televisi. Penggunaan bintang iklan dalam sebuah iklan
ditelevisi merupakan alternatif strategi yang tepat untuk
memperkenalkan produk pada konsumen8
.
Secara umum selebrity adalah seseorang yang mempunyai
pekerjaan dibidang entertaiment. Menurut Royan berpendapat
bahwa selebriti adalah toko (aktor, penghibur, atau atlet) yang
dikenal karena prestasinya di dalam bidang-bidang yang berbeda
dari golongan produk yang didukungnya. Dan diharapkan selebriti
menjadi spoke person dari merk produk9
.
Celebriti endorsement pada kenyataanya merupakan istitusi
yang special dari proses yang umum didalam transfer model
kepada konsumen10. Mc Craken menggambarkan tiga tahap
transfer model

Strategi Endorsement

Strategi endorsement adalah bagian dari strategi advertising
yang populer yang menggunakan juru bicara untuk memuji atau
mendukung suatu brand, atau pesan yang oleh konsumen dianggap
mereflesikan opinni, keyakinan atau pengalaman dari individu atau
kelompok4
Endorser merupakan individu atau kelompok yang
mengkomunikasikan pesan produk atau jasa sehingga produk atau
jasa tersebut dapat dikenal masyarakat. Pesan yang disampaikan
tersebut bisa berdasarkan pendapat pribadi atau pernah
menggunakan produk atau jasa dari brand tersebut5
. Endorser
adalah individu yang tekenal atau dihormati, seperti selebritis atau
ahli dalam produk maupun jasa yang berbicara untuk sebuah
perusahaan atau brand.
Endorser merupakan salah satu cara untuk membentuk sebuah
brand personality dan image dari sebuah produk. Endorser dapat membentuk dari simbol-simbol yang terbentuk dengan sangat kuat,
yang kemudian ditransfer pada brand atau produk yang diendors.
Edorser dapat membuat produk tersebut memiliki elemen
emosional dari merek yaitu bagaimana brand diinformasikan,
ditampilkan dan dijanjikan.
Menurut Tellis
endorser dapat dikelompokkan kedalam tiga kelas
yaitu:
1). Ahli (expert)
Seorang atau kelompok yang dianggap oleh masyarakat yang
memiliki pengetahuan khusus dalam bidang tertentu. Mereka
dipilih karena pengetahuannya yang diperoleh dari pengalaman,
pelatihan, dan studi. Ekpert ini digunakan untuk menggunakan
produk yang diiklankan sehingga konsumen memiliki penilaian
yang sama tehadap produk tersebut, dan pengiklan harus dapat
memperkuat dan membenarkan atribut produk seseaui yang
diiklankan.
2). Celebritis
Karekter yang secara luas dikenal oleh masyrakat terutama
dikenal oleh publisitas yang berkaitan dengan kehidupannya.
Selebritis yang menjadi endorser pada umumnya berasal dari
dunia hiburan atau dunia olah raga. Iklan yang dibawakan
haruslah mencerminkan keyakinan, pendapat atau pengalaman celebritis sesuai apa adanya. Celebritis harus menggunakan
produk perusahaan sehingga apabila selebrities telah
menggunakan produk tersebut maka seharusnya hal itu adalah
benar.
3). Lay Endorser
Lay Endorser merupakan seseorang atau karakter yang tidak
dikenal sebelumnya yang muncul dalam iklan. Atau pesan yang
disampaikan.
Selain itu menggunakan selebriti sebagai endorser memilki
keuntungan dalam publisitas dan menarik perhataian konsumen
secara spontan dapat mengenal dan mengidentifikasi selebritis
ini, bahkan daya tariknya dan segi positif dari diri selebritis7
Walaupun penggunaan selebrity endorser sering kali menjadi
pertentangan, namun perusahaan tidak gentar dalam
megiklankan produknya dengan menggunakan endorser, ada
anggapan lain bahwa penggunaan selebriti endorser tersebut
dapat meningkatkan penjualan produk dan dapat pula
meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai adanya produk
tersebut.

Pengertian Strategi

Strategi menurut Griffin (2000) yaitu sebagai rencana
komprehensif untuk mencapai tujuan organisasi, tidak hanya
sekedar mencapai, akan tetapi strategi juga dimaksudkan untuk
mempertahankan keberlangsungan organisasi dilingkungan dimana
organisasi tersebut menjalankan aktivitasnya. Bagi organisasi
bisnis, strategi dimaksudkan untuk mempertahankan
keberlangsungan bisnis perusahaan dibanding para pesaingnya
dalam memenuhi kebutuhan konsumen
.
Dari pendapat sofyan Assauri, strategi adalah suatu rencana
yang menyeluruh, terpadu dan menyatu, yang memberikan
panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat
tercapainya suatu tujuan perusahaan atau organisasi2
.
Sedangkan menurut Fandy Tjiptono mengatakan istilah
strategi berasal dari kata Yunani strategia (stratos: militer, dan ag:
memimpin) yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang
jendral. Konsep ini relevan dengan situasi zaman dulu yang sering diwarnai perang, dimana jendral dibutuhkan untuk memimpin
suatu angkatan agar dapat selalu memenangkang perang.
Strategi juga bisa artikan sebagai suatu rencana untuk
pembagian dan penggunaan kekuatan militer dan material pada
daerah-daerah tertentu untuk mencapai tujuan tertetntu.
Konsep strategi militer juga sering kali diadopsi dan
diterapkan dalam dunia bisnis. Dalam konsep bisnis, strategi
menggambarkan arah bisnis yang mengikuti lingkungan yang
dipilih dan merupakan pedoman untuk mengalokasikan sumber
daya dan usaha suatu organisasi.
Menurut Basu Swattha pengertian strategi adalah suatu
rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Beberapa perusahaan maupun organisasi mungkin mempunyai
tujuan yang sama, tetapi strategi yang dipakai untuk mencapai
tujuan tersebut dapat berbeda. Jadi, strategi ini dibuat berdasarkan
suatu tujuan3
.
Hingga saat ini, strategi sangat penting fungsinya untuk
menjadikan hidup maupun tujuan yang lebih terarah mengingat
strategi adalah langkah-langkah yang harus dijalankan oleh suatu
organisasi untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan, karena
untuk mencapai tujuan dalam organisasi juga diperlukan langkah-

Perbedaan niat beli konsumen, daya tarik, kepercayaan dan keahlian antara Celebrity Endorser dan Non- celebrity Endorser

Celebrity endorser adalah pribadi (bintang film, penghibur
atau atlet) yang dikenal oleh masyarakat karena kemampuannya
dalam bidang tertentu yang dapat mendukung produk yang
diiklankan (Shimp, 2010). Celebrity endorser diyakini mampu
mempengaruhi pembentukan citra produk dalam benak konsumen.
Selebriti memiliki kekuatan untuk menghentikan, mereka dapat
menarik perhatian atas pesan iklan ditengah banyaknya iklan (Belch
dan Belch, 2004). Hal ini disebabkan karena seorang celebrity
endorser mampu menjadi panutan yang bisa dicontoh oleh
masyarakat. Sedangkan, non-celebrity endorser dapat lebih dekat
dengan konsumen dikarenakan orang-orang tersebut memiliki
konsep aktual (actual self concept), nilai-nilai yang dianut,
kepribadian, gaya hidup, karakter geografis yang sama
(Shimp,2003).
Selebriti sebagai sumber yang mempunyai efek persuasif
yang besar memiliki karakteristik antara lain: daya tarik,
kepercayaan dan keahlian Selebriti (Shimp, 2003). Kredibilitas
mengacu pada kecenderungan untuk percaya atau mempercayai
seseorang. Jika sebuah informasi, seperti endorser, dianggap
kredibel, maka penonton dapat mengalami perubahan sikap (Shimp
2010).

Pengaruh Keahlian Endorser terhadap Niat Beli Konsumen

Dalam menyampaikan pesan iklan kepada konsumen,
celebrity yang digunakan adalah mereka yang memiliki keahlian,
pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan produk dan merek
yang mereka wakili, sehingga pesan yang ingin disampaikan melalui
iklan dapat diterima dan dipercaya oleh konsumen.
Keahlian selebriti dalam memberikan kontak person terhadap
produk yang dipromosikan mampu membawa konsumen untuk ikut
serta dalam pemanfaatan produk perusahaan. Silvera dan Austad
(2014) menemukan bahwa keahlian seorang pendukung
mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk,
sehingga hal ini menjadi faktor yang penting dalam meningkatkan
efektifitas proses penyampaian pesan pemasaran dari produsen
(perusahaan) kepada konsumen melalui pendukung sebagai
mediatornya. Sebagai contoh penggunaan praktisi ahli sebagai
pendukung suatu produk sangat penting bagi produk dan jasa yang
memiliki resiko keuangan, maupun kesehatan yang tinggi,
sedangkan untuk produk dan jasa berisiko rendah dan non-keuangan,
testimoni dari konsumen dianggap cukup mampu menghasilkan
respon positif konsumen (Khong dan Wu, 2013)

Kepercayaan (Trustworthines)

Paradigma kepercayaan dalam komunikasi adalah tingkat kepercayaan
pendengar, dan tingkat pesan yang diberikan oleh pembicara dapat diterima
(Ahmed dan Wahid,2012). Ohanian (1990) menyatakan bahwa komunikator
yang dapat dipercaya persuasif, entah ahli atau tidak. Kepercayaan dapat
didefinisikan sebagai kejujuran, integritas dan kepercayaan yang dimiliki oleh
endorser.

Faktor-faktor Kualitas Pelayanan

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas
pelayanan Wolkins dalam (Tjiptono, 2004:63) adalah :
1) Mengidentifikasi determinan utama kualitas pelayanan
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan riset
mengidentifikasi determinan kualitas pelayanan yang penting bagi pasar
sasaran dan memperkirakan penilaian yang diberikan pasar sasaran.
2) Mengelola harapan pelanggan
Semakin banyak janji yang diberikan, maka semakin besar pula
harapan pelanggan yang pada gilirannya akan menambah peluang tidak
dapat terpenuhinya harapan pelanggan oleh perusahaan. Untuk itu ada
satu hal yang dapat dijadikan pedoman yaitu jangan janjikan apa yang
tidak bisa diberikan tetapi berikan lebih dari yang dijanjikan.
3) Mengelola bukti
Pengelolaan bukti kualitas pelayanan bertujuan untuk memperkuat
persepsi pelanggan selama dan sesudah pelayanan diberikan. Oleh
karena itu pelanggan lebih cenderung memperhatikan fakta-fakta
tangible.
4) Mengembangkan budaya kualitas
Budaya kualitas merupakan sistem oraganisasi yang menghasilkan
lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan penyempurnaan
kualitas secara terus menerus. Budaya kualitas terdiri dari filosofi,
keyakinan, sikap, norma, nilai, tradisi, prosedur dan harapan.

Jenis-jenis Loyalitas Konsumen

Menurut Jill Griffin (2005:22) terdapat empat jenis loyalitas yang
muncul bila keterikatan rendah dan tinggi diklasifikasi-silang dengan pola
pembelian ulang, yang rendah dan tinggi.
Adapun jenis-jenis loyalitas konsumen yaitu :
1) Tanpa Loyalitas
Untuk berbagai alasan tertentu, ada beberapa konsumen yang
tidak mengembangkan loyalitas atau kesetiaan kepada suatu produk
maupun jasa tertentu. Tingkat keterikatan yang rendah dengan tingkat
pembelian ulang yang rendah menunjukkan absennya suatu kesetiaan.
Pada dasarnya, suatu usaha harus menghindari kelompok no loyality ini
untuk dijadikan target pasar, karena mereka tidak akan menjadi
konsumen yang setia.
2) Loyalitas yang lemah (Inertia Loyality)
Inertia loyality merupakan sebuah jenis loyalitas konsumen yang
dimana adanya keterikatan yang rendah dengan pembelian ulang yang
tinggi. Konsumen yang memiliki sikap ini biasanya membeli
berdasarkan kebiasaan. Dasar yang digunakan untuk pembelian produk
atau jasa disebabkan oleh faktor kemudahan situsional. Kesetiaan
semacam ini biasanya banyak terjadi terhadap produk atau Jasa yang
sering dipakai. Contoh dari kesetiaan ini terlihat dari kegiatan pembelian
bensin yang dilakukan konsumen di dekat daerah rumahnya dan
sebagainya.
Pembeli dengan loyalitas yang lemah rentan beralih ke produk
pesaing yang dapat menunjukkan manfaat yang jelas. Meskipun
demikian, perusahaan masih memiliki kemungkinan untuk mengubah
jenis loyalitas ini ke dalam bentuk loyalitas yang lebih tinggi melalui
pendekatan yang aktif ke pelanggan dan peningkatan nilai perbedaan
positif yang diterima konsumen atas produk maupun jasa yang
ditawarkan kepadnya dibandingkan dengan yang ditawarkan para
pesaing lain. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan keramahan
dalam pelayanan dan fasilitas yang diberikan kepada konsumen.
3) Loyalitas Tersembunyi (Laten Loyality)
Jenis loyalitas tersembunyi merupakan sebuah kesetiaan atau
keterikatan yang relatif tinggi yang disertai dengan tingkat pembelian
ulang yang rendah. Konsumen yang mempunyai sikap laten loyality
pembelian ulang juga didasarkan pada pengaruh faktor situasional
daripada sikapnya. Sebagai contoh, seorang suami menyukai masakan
Eropa, tetapi mempunyai istri yang kurang menyukai masakan Eropa.
Maka suami tersebut hanya sesekali saja mengunjungi restoran Eropa
dan lebih sering pergi ke restoran yang dimana masakan yang
ditawarkan dapat dinikmati bersama.
4) Loyalitas Premium (Premium Loyalty)
Loyalitas ini merupakan yang terjadi bilamana suatu tingkat
keterikatan tinggi yang berjalan selaras dengan aktivitas pembelian
kembali. Setiap perusahaan tentunya sangat mengharapkan kesetiaan
jenis ini dari setiap usaha preference yang tinggi. Contoh jenis loyalty
premium adalah rasa bangga yang muncul ketika konsumen menemukan
dan menggunakan produk atau jasa tersebut dan dengan senang hati
membagi pengetahuan dan merekomendasikannya kepada teman,
keluarga maupun orang lain

Profitabilitas

Profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba atau keuntungan pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham tertentu
(Hanafi, 2014:42). Tingkat profitabilitas dalam perusahaan dapat juga
digunakan sebagai dasar untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan
menganalisis laporan keuangan perusahaan. Perusahaan yang memiliki aliran
kas atau profitabilitas yang baik biasanya membayar dividen atau meningkatkan
dividen. Hal yang sebaliknya akan terjadi jika aliran kas tidak baik. Perusahaan
memiliki alasan lain untuk pembayaran deviden yaitu untuk menghindari
akuisisi oleh perusahaan lain. Perusahaan yang memiliki kas yang berlebihan
seringkali menjadi target dalam akuisisi. Maka untuk menghindari akuisisi
tersebut, perusahaan dapat membayarkan deviden yang sekaligus juga membuat
senang pemegang saham (Hanafi, 2014:375).

Kepemilikan Institusional Memoderasi Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen

Pengaruh Profitabilitas yang dimoderasi kepemilikan
institusional dapat dijelaskan dari pemaparan (Kumar dalam Iin, 2012)
yang menjelaskan bahwa kepemilikan saham institusi dapat
meningkatkan pengawasan terhadap kinerja insider yang dapat
berdampak pada peningkatan laba perusahaan. Keuntungan adalah
fungsi dari rasio profitabilitas, sehingga peningkatan keuntungan akan
meningkatkan rasio profitabilitas.
Berdasarkan teori agensi bahwa dengan adanya pengawasan
dari pihak institusi maka manajer akan bekerja lebih efisien lagi
sehingga profit yang dihasilkan perusahaan tinggi. Semakin tinggi
laba yang diperoleh perusahaan, maka semakin tinggi cash flow dalam
perusahaan, dan diharapkan perusahaan akan membayar dividen yang
lebih tinggi. Akan tetapi hal tersebut berbeda dengan penelitian yang
dilakukan oleh (Wirakusuma, 2014) bahwa manajer mengutamakan
menggunakan laba untuk membiayai investasi perusahaan dalam
proyek dan keputusan tersebut didukung oleh pihak institusi.

Pengertian Keterlibatan Kerja

Keterlibatan kerja didefinisikan sebagai tingkatan seseorang merasa identik
dengan pekerjaan, dimana keterlibatan kerja akan mendorong seseorang bahwa
pekerjaan adalah hal penting bagi dirinya (Allen, 1995). Kanungo, R.N., (1978)
mengatakan bahwa keterlibatan kerja dalam konteks pekerjaan spesifik (specific work
context) lebih terarah pada bagaimana pekerjaan saat ini dapat memberikan kepuasan
terhadap seseorang pada saat ini, sedangkan keterlibatan kerja dalam konteks general
(generalized work context) lebih terarah pada nilai yang diberikan dari pekerjaan
tersebut terhadap kehidupannya.
Keterlibatan kerja mempunyai definisi yaitu derajat dimana orang dikenal dari
pekerjaannya,berpartisipasi aktif didalamnya, dan menganggap prestasinya penting
untuk harga diri (Robbins, 2003:91). Suatu jenis pekerjaan atau situasi dalam
lingkungan kerja akan mempengaruhi orang tersebut makin terlibat atau tidak dalam
pekerjaannya. Karyawan dalam keterlibatan yang tinggi dengan kuat memihak pada
jenis kerja yang dilakukan dan benar-benar peduli dengan jenis kerja itu (Robbins,
2003:9).
Lodahl dan Kejner (dalam Cilliana & Mansoer, 2008) menyatakan keterlibatan
kerja adalah seberapa besar identifikasi secara psikologis individu terhadap
pekerjaannya. Makin besar individu tersebut mengidentifikasikan dirinya dengan
pekerjaannya, maka keterlibatan kerja semakin tinggi. Namun, perlu diingat bahwa
individu yang terlibat dalam pekerjaannya belum tentu merasa senang dengan
pekerjaannya karena pada kenyataannya individu yang merasa tidak senang dengan
pekerjaannya juga dapat memiliki derajat keterlibatan yang sama dengan individu
yang menyukai pekerjaannya.
Keterlibatan kerja merupakan sebuah proses partisipatif yang menggunakan
masukan karyawan- karyawan dan dimaksudkan untuk meningkatkan komitmen
karyawan untuk keberhasilan organisasi. Keterlibatan kerja karyawan dapat
memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan suatu perusahaan
dalam pencapaian tujuan (Robbins dan Judge 2008: 281).
Hiriyappa (2009) mendefinisikan keterlibatan kerja sebagai tingkat sampai
sejauh mana individu mengidentifikasikan dirinya dengan pekerjaannya, secara aktif
berpartisipasi di dalamnya, dan menganggap performansi yang dilakukannya penting
untuk keberhargaan dirinya. Tingkat keterlibatan kerja yang tinggi akan menurunkan
tingkat ketidakhadiran dan pengunduran diri karyawan dalam suatu organisasi.
Sedangkan tingkat keterlibatan kerja yang rendah akan meningkatkan ketidakhadiran
dan angka pengunduran diri yang lebih tinggi dalam suatu organisasi.
Keterlibatan kerja menurut Kenungo (dalam Abutayeh & Al-Qataweh, 2012)
adalah sikap utama yang mengacu pada identifikasi psikologi oleh seorang karyawan
terhadap pekerjaanya, di mana karyawan merasa bahwa pekerjaan merupakan
perwakilan dari kehidupan mereka dan banyak dari kepentingan serta tujuan hidup
berhubungan dengan pekerjaan mereka.
Berdasarkan beberapa pendapat dan batasan yang dikemukakan para ahli di
atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keterlibatan kerja merupakan komitmen
seorang karyawan terhadap pekerjaannya yang ditandai dengan karyawan memiliki
kepedulian yang tinggi terhadap pekerjaan, adanya perasaan terikat secara psikologis
terhadap pekerjaan yang ia lakukan, dan keyakinan yang kuat terhadap
kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan dan terlibat secara aktif terhadap
pekerjaannya, serta menyadari bahwa prestasi kerjanya merupakan hal yang penting
bagi harga dirinya

Definisi Brand Trust

Kepercayaan merek (brand trust) merupakan kemampuan merek untuk
dipercaya, bersumber pada keyakinan konsumen bahwa produk tersebut mampu
memenuhi nilai yang dijanjikan, dan didasarkan pada keyakinan konsumen bahwa
merek yang ditawarkan mampu mengutamakan kepentingan konsumen
(Delgado,1999)
Menurut Lau dan Lee kepercayaan merek (brand trust) menggambarkan
suatu komponen yang penting dari penempatan internal atau sikap yang
diasosiasikan dengan loyalitas merek. Ferrinadewi (2008) mengemukakan terdapat
tiga aktivitas yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menumbuhkan
kepercayaan konsumen yaitu:
a. Achieving Result merupakan harapan konsumen yang berarti adalah janji
konsumen yang harus dipenuhi bila ingin mendapatkan kepercayaan
konsumen.
b. Acting with integrity merupakan bertindak dengan integritas berarti adanya
konsistensi antara ucapan dan tindakan dalam setiap situasi. Integritas
merupakan factor kunci bagi salah satu pihak untuk percaya akan ketulusan
dan pihak lain.
c. Demonstrate concern merupakan kemampuan perusahaan untuk
menunjukkan perhatiannya kepada konsumen dalam bentuk memberikan
sikap pengertian konsumen jika menghadapi masalah dengan produk, hal
ini akan menumbuhkan kepercayaan dengan merek.
Berdasarkan dari beberapa pengertian kepercayaan terhadap merek diatas
dapat disimpulkan bahwa kepercayaan terhadap merek itu penting untuk
meyakinkan konsumen terhadap produk-produk yang dijanjikan dan mampu
memenuhi kepentingan konsumen

Bauran Pemasaran

Di dalam pemasaran terdapat strategi pemasaran yang disebut
Bauran Pemasaran (Marketing Mix), dengan bertujuan untuk
mempengaruhi konsumen agar dapat membeli suatu produk yang
ditawarkan oleh perusahaan. Bauran Pemasaran menurut Kotler dan
Amstrong (2012) “Marketing Mix is good marketing tool is a set of
products, pricing, promotion, distribution, combined to produce the
desired response of the target market”, artinya adalah marketing mix
merupakan alat pemasaran yang baik, dimana perusahaan mampu
mengarahkan sehingga dapat memberikan respon pasar yang tepat
sasaran. Terdapat istilah 4P dalam pemasaran, yaitu:
a. Product (produk)
Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan manusia.
b. Place (tempat)
Tempat adalah kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia
bagi konsumen sasaran.
c. Promotion (promosi)
Promosi adalah aktivitas komunikasi pemasaran dengan cara
menggunakan iklan, personal selling, yang bertujuan untuk
mempengaruhi pasar sasaran agar membeli produk yang dipasarkan.
d. Price (harga)
Sejumlah uang untuk digunakan untuk mendapatkan barang atau
jasa

Corporate Social Responsibility (CSR)

The World Bussines Council for Sustainable Development (WBCSD),
mendefinisikan CSR sebagai komitmen berkesinambungan dari kalangan
bisnis untuk berperilaku dan bertindak etis dan memberi kontribusi dalam
pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup para
karyawan beserta keluarganya, dan juga meningkatan kualitas hidup komunitas
setempat dan masyarakat luas. Sedangkan World Bank Group dalam Tazkiyah
(2007) mendefinisikan CSR sebagai komitmen bisnis untuk memberikan
kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerjasama
dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas
setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas hidup.
Sedangkan Bowen (1953) dengan bukunya yang berjudul “Social
Responsibility of the Businessman” dalam Tambunan (2009), mendefinisikan
CSR sebagai kewajiban dari seorang pebisnis untuk meneruskan
kebijakankebijakan mereka, untuk membuat keputusan atau untuk mengikuti
tema tindakan yang diinginkan dari tujuan dan nilai masyarakat. Pengukuran
ini pada akhirnya akan diupayakan sebagai informasi yang dijadikan dasar
dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan peran lembaga, baik
perusahaan atau yang lain demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan
lingkungan secara keseluruhan.

Prinsip-Prinsip Corporate Governance

Menurut komite nasioal kebijakan governance bahwa terdapat lima unsur
penting dalam good corporate governance, yaitu:
a. Transparansi
Transparansi (transparency) mengandung unsur pengungkapan
(disclosure) dan penyediaan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas,
akurat, dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku
kepentingan dan masyarakat.
b. Akuntabilitas
Akuntabilitas (accountability) mengandung unsure kejelasan fungsi
dalam organisasi dan cara mempertanggungjawabkannya.
c. Responsibilitas
Responsibilitas mengandung unsur kepatuhan terhadap perundangundangan dan ketentuan internal bankserta tanggung jawab terhadap
masyarakat dan lingkungan.
d. Independensi
Independensi mengandung unsure kemandirian dari dominasi pihak
lain dan objektifitas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.
e. Kewajaran dan Kesataraan
Kewajaran dan Kesataraan (Fairness) mengandung unsure perlakuan
yang adil dan kesempatan yang sama sesuai dengan proporsinya.
Prinsip-prinsip corporate governance yang dikembangkan oleh OECD
(Effendi, 2009) mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham
Hak-hak pemegang saham adalah pemberian informasi yang benar,
tepat, & tepat waktu mengenai perusahaan yang berperan serta dalam
pengambilan keputusan mengenai perubahan yang mendasar dalam
perusahaan dan memperoleh bagian dari keuntungan perusahaaan.
b. Perlakuan yang sama terhadap pemegang saham
Perlakuan yang sama terhadap pemegang saham terutama pemegang
saham minoritas dan pemegang saham asing dalam hal keterbukaan
informasi.
c. Peranan semua hak yang berkepentingan (stakeholder) dalam corporate
governance.
Peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh
hukum dan kerjasama yang aktif antara perusahaan dan pemegang
kepentingan dalam mencapai tujuan perusahaan.
d. Keterbukaan dan transparansi
Pengungkapan yang akurat dan tepat waktu serta transparansi
mengenai semua hal yang berkaitan dengan kinerja perusahaan, kepemilikan
serta para pemegang kepentingan,
e. Akuntabilitas dewan komisaris
Kerangka yang dibangun dalam corporate governance harus
menjamin adanya pedoman strategis perusahaan, pengawasan yang efektif
terhadap manajemen oleh dewan komisaris, dan pertanggungjawaban dewan
komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham.

Pengertian Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen menentukan apakah keuntungan yang diperoleh
perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan
ditahan sebagai dana investasi masa depan (Utami et al., 2018). Sedangkan
menurut Purba dkk (2020), kebijakan dividen merupakan praktik manajemen
yang dapat mengambil keputusan metode pembagian dividend dan distribusi kas
kepada pemegang saham selama waktu periode tertentu. Pendapat lain, menurut
Kautsar dalam Nurfatma (2020), kebijakan dividen merupakan rencana pasti yang
harus dilaksanakan dalam menghasilkan keputusan dividen.
Dapat disimpulkan bahwa Kebijkan dividen adalah keputusan metode
pembagian keuntungan dan distribusi kas yang telah diperoleh perusahaan selama
periode tertentu. Kebijakan ini menentukan apakah keuntungan tersebut akan
dibagikan kepada pemegagang saham sebagai deviden atau keuntungan tersebut
ditahan untuk dana investasi dimasa yang akan datang.

Indikator Orientasi Kewirausahaan

Frishammar dan Horte (2007) dalam jurnal Renita Helia et. al (2015)
menyarankan Orientasi Kewirausahaan terdiri dari tiga dimensi, yaitu :
1. Keinovasian
Bagaimana sikap seorang wirausaha untuk terlibat secara kreatif dalam
percobaan terhadap ide baru yang dapat menghasilkan metode produksi
baru atau menghasilkan produk dan jasa baru.
2. Pengambilan Risiko
Bagaimana keberanian dari seorang wirausaha dalam menghadapi
tantangan dan membuat keputusan dengan sumber daya yang dimilikinya
dalam pembuatan strategi bisnis yang hasilnya penuh dengan
ketidakpastian.
3. Proaktif
Mengambarkan bagaiman sikap seorang wirausaha dalam mengantisiapsi
datangnya pesaing dan dalam memperkenalkan produknya.

Pengertian Gaya Kepemimpinan Demokratis

Rivai (2014 ) mendefinisikan bahwa pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Menurut Winardi dalam Rivai (2014 ) yang dimaksud dengan pemimpin adalah “seorang yang karena kecakapan-kecakapan pribadinya dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat memengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk mengerahkan upaya bersama kearah pencapaian sasaran-sasaran tertentu”

Kartono (2018) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan orang lain. Thoha (2015) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan merupakan norma prilaku yang digunakan oleh seseorang pada saaat orang tersebut mencoba mempengaruhi prilaku orang lain atau bawahan. Menurut Herujito (2016) mengartikan gaya kepemimpinan bukan bakat, oleh karena itu gaya kepemimpinan dipelajari dan dipraktekan dalam penerapannya harus sesuai dengan situasi yang dihadapi. Sedangkan menurut Supardo (2016 ), mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu cara dan porses kompleks dimana seseorang mempengaruhi orang-orang lain untuk mencapai suatu misi, tugas atau suatu sasaran dan mengarahkan Instansi dengan cara yang lebih masuk akal.

Pemahaman mengenai kepemimpinan demokratis sendiri ditandai dengan adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif yang artinya atasan menolak segala bentuk persaingan dan atasan dapat bekerjasama dengan karyawan dalam mengambil keputusan. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri. Kepemimpinan demokratis ialah kepemimpinan yang aktif, dinamis dan terarah. Aktif dalam menggerakkan dan memotivasi (Rivai, 2014).

Robbins Coulter (2010) menyatakan bahwa gaya demokratis menggambarkan pemimpin yang melibatkan karyawan dalam membuat keputusan, mendelegasikan wewenang dan menggunakan umpan balik sebagai kesempatan untuk melatih karyawan. Kartono (2016) menyatakan bahwa, kepemimpinan demokratis menitik beratkan masalah aktivitas setiap anggota kelompok juga para pemimpin lainnya, yang semua terlibat aktif dalam penentian sikap, pembuatan rencana – rencana, pembuatan keputusan penerapan disiplin kerja (yang ditanamkan secara sukarela oleh kelompok – kelompok dalam suasana demokratis)

Berdasarkan pengertian di atas maka gaya kepemimpinan demokratis adalah kemampuan pemimpin yang melibatkan karyawan dalam membuat keputusan, mendelegasikan wewenang dan menggunakan umpan balik sebagai kesempatan untuk melatih karyawan

Definisi Operasional Disiplin Kerja

  1. adalah tindakan yang dilakukan karyawan dengan sikap tanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan, menekankan timbulnya masalah sekecil mungkin, dan mencegah berkembangnya kesalahan yang mungkin terjadi.

Dalam penelitian ini akan diukur dengan menggunakan beberapa aspek yaitu kehadiran, ketaatan pada peraturan kerja, ketaatan pada standar kerja, dan tingkat kewaspadaan tinggi, serta bekerja etis.

Definisi Operasional Peran kepemimpinan

adalah tindakan-tindakan yang dilakukan kepala desa terkait kedudukannya dalam pemerintahan. Peran pemerintah desa dapat mengacu pada Peran Pemerintah dalam Pembangunan Seperti yang diungkapkan oleh Siagian (2003), yaitu :

  1. Selaku modernisator
  2. Selaku katalisator.
  3. Selaku dinamisator.
  4. Selaku stabilisator.
  5. Selaku pelopor

Pengukuran Efektivitas Audit Internal

Menurut Bota dan Palvi (2009), efektivitas audit internal dapat diukur dengan indikator :

  1. Penentuan memenuhi tingkat rencana audit internal yang terdiri dari proporsi kegiatan realisasi kegiatan audit internal dibandingkan rencana audit internal dalam jangka waktu tertentu. Ini dapat diukur dengan menentukan jumlah reaisasi kegiatan yang dilaporkan pada periode waktu perencanaan tertentu untuk setiap jenis aktivitas.
  2. Identifikasi waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan laporan akhir audit internal yang merupakan penentuan waktu yang dibutuhkan dari berakhirnya pekerjaan audit internal sampai dengan keluarnya laporan akhir audit internal, termasuk rencana tindakan manajemen;
  3. Pemantauan waktu yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan temuan audit internal. Hal ini berkaitan dengan data statistik dasar realisasi jumlah kekurangan-kekurangan yang diselesaikan dalam waktu yang ditetapkan, jumlah kekurangan diselesaikan dengan penundaan dan jumlah kekurangan yang belum terpecahkan;
  4. Penilaian sertifikasi pribadi: dari sudut pandang kuantitatif, yang dapat ditentukan melalui jumlah staf karyawan dari Departemen audit internal dengan sertifikasi profesional Diploma atau pengalaman profesional yang diukur dalam tahun kerja audit internal;
  5. Penetapan laporan antara waktu yang didedikasikan untuk beberapa kegiatan audit internal dan waktu yang didedikasikan untuk kegiatan administrasi yang dapat ditentukan melalui pemantauan waktu harian setiap auditor internal dengan jelas menentukan jenis kegiatan selama hari kerja.

Wawancara Terstruktur

Wawancara terstruktur memiliki pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya dalam urutan yang ditetapkan. Mereka seringkali tertutup, menampilkan pertanyaan dikotomis (ya/tidak) atau pilihan ganda. Sementara wawancara terstruktur terbuka ada, mereka jauh lebih jarang. Jenis pertanyaan yang diajukan menjadikan wawancara terstruktur alat yang dominan kuantitatif.

Mengajukan serangkaian pertanyaan dalam urutan tertentu dapat membantu Anda melihat pola di antara respons, dan ini memungkinkan Anda dengan mudah membandingkan respons antar peserta sekaligus menjaga agar faktor lain tetap konstan. Ini dapat mengurangi bias penelitian dan mengarah pada keandalan dan validitas yang lebih tinggi. Namun, wawancara terstruktur bisa terlalu formal, serta terbatas dalam ruang lingkup dan fleksibilitas.

Wawancara terstruktur mungkin cocok untuk penelitian Anda jika:
Anda merasa sangat nyaman dengan topik Anda. Ini akan membantu Anda merumuskan pertanyaan Anda dengan paling efektif.
Anda memiliki waktu atau sumber daya yang terbatas. Wawancara terstruktur sedikit lebih mudah untuk dianalisis karena sifatnya yang tertutup, dan dapat menjadi upaya yang dapat dilakukan untuk seorang individu.
Pertanyaan penelitian Anda bergantung pada menjaga kondisi lingkungan di antara peserta tetap konstan.

Uji Validitas

 

Penelitian ini menggunakan 2 (dua) uji validitas, yaitu validitas isi yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana instrumen penelitian dapat mencakup pertanyaan penyelidikan yang memadai sebagai panduan ketika melakukan penelitian dan validitas konstruk yang digunakan untuk menguji instrumen penelitian berdasarkan teori dan instrumen pengukuran yang digunakan (Cooper dan Schindler, 2014:257-259)

Untuk melihat keterkaitan pada validitas konverjen, digunakan analisis faktor. Analisis faktor digunakan untuk penelitian awal di mana faktor-faktor yang mempengaruhi suatu variabel belum diidentifikasikan secara baik (penelitian eksplanatori).  Analisis faktor ada dua jenis, yaitu EFA (exploratory factor analysis) dan CFA (confirmatory factor analysis).

Penelitian ini menggunakan CFA untuk menunjukkan keterkaitan antara variabel. Item yang digunakan dalam penelitian adalah yang mempunyai nilai factor loading ≥ 0,5. Factor loading adalah korelasi item-item pertanyaan dengan konstruk yang diukur. Menurut Hair dkk (2018) factor loading ≥ 0,3 telah memenuhi level minimal, namun sangat disarankan besarnya nilai loading ± 0,4. Jika loading suatu item pertanyaan mencapai ≥ 0,5 maka item tersebut sangat penting dalam menginterprestasikan konstruk yang diukurnya

Efisiensi layanan rumah sakit

 

Efisiensi produksi (teknis) adalah jumlah minimum sumber daya yang digunakan untuk dapat menghasilkan tingkat output pelayanan kesehatan tertentu. Sebagai contoh dengan merubah letak fasilitas pelayanan kesehatan akan diharapkan mampu mengurangi jarak pelayanan paramedis kepada pasien sehingga memungkinkan mereka untuk dapat berkerja lebih efisien (Hope dan Muhlemann, 1997, 368). Keefektifan dapat didefinisikan sebagai pencapaian output pelayanan kesehatan yang diharapkan setelah menjalani perawatan. Kedua hal tersebut dapat digunakan sebagai ukuran dari kinerja suatu unit kegiatan ekonomi.

Dengan memperhatikan bahwa efisiensi adalah perbandingan antara output dengan input, maka rumah sakit yang menghasilkan lebih banyak output dengan penggunaan sejumlah input tertentu dapat dikategorikan lebih efisien bila dibandingkan dengan rumah sakit yang menghasilkan output yang lebih sedikit dengan penggunaan input yang sama. Demikian halnya rumah sakit yang menggunakan input dalam jumlah besar untuk menghasilkan output tertentu akan kurang efisien dibandingkan dengan rumah sakit yang menggunakan input yang sedikit untuk menghasilkan output yang sama (Grosskopf et al, 1995 : 575-587).

Analisis Regresi

 

            Regresi adalah berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel (variabel tak bebas) pada satu atau lebih variabel lain (variabel yang menjelaskan), dengan maksud untuk menaksir atau meramalkan nilai rata-rata hitung (mean) atau rata-rata ( Populasi) variabel tak bebas, yang dipandang dari segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel berulang-ulang) dari variabel yang menjelaskan (Insukindro, dkk. 2001:35).

Dalam menganalisis faktor-faktor penentu pertumbuhan PDRB per kapita digunakan model regresi data panel. Data panel atau poling data adalah penggabungan data lintas sektoral (cross section) dan data runtun waktu (time series) untuk tujuan penaksiran suatu model regresi tertentu (Insukindro, dkk. 2001:71).

Berikut model yang akan digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan PDRB per kapita di Provinsi X baik sebelum dan sesudah otonomi daerah yaitu:

Keterangan :

Yi           =  Pertumbuhan PDRB per kapita (%)

PMDN1 =  Realisasi investasi riil penanaman modal dalam negeri terhadap PDRB(%)

GP2       =  Pertumbuhan penduduk (%)

Gov3      =  Pengeluaran Pemerintah terhadap PDRB (%)

K4          =  Tenaga Kerja (%)

Tg5         =  Teknologi (%)

Dot         =  Variabel Dummy Otonomi Daerah (0=Sebelum, 1= Sesudah)

εi            =  error term

Analisa model data panel terdiri dari 3 (tiga) pendekatan yaitu metode OLS (Common effect), model Fixed effect, dan model random effect (Widarjono, 2007:257-262).

 

Uji Goodness of Fit

Uji goodness of fit digunakan untuk menilai ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual. Secara statistik, model ini dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F, dan nilai statistik t. Jika nilai uji statistik berada di dalam daerah kritis maka H0 ditolak, sedangkan jika nilai uji statistik berada di luar daerah kritis maka H0 diterima.

Bentuk-Bentuk Manajemen laba

Menurut Sri Sulistyanto (2008:33) ada beberapa bentuk rekayasa laba
yang sering dilakukan pihak manajemen agar laba yang dilaporkan sesuai dengan
yang dikehendaki yaitu:
1. Taking a Bath
2. Income Minimization
3. Income Maximization
4. Income Smoothing
5. Timing Revenue and Expense Recognition.
Penjelasan dari bentuk-bentuk manajemen laba diatas adalah sebagai
berikut:
1. Taking a Bath
Disebut juga big baths, bisa terjadi selama periode dimana terjadi tekanan
dalam organisasi atau terjadi reorganisasi, misalnya pergantian direksi. Bila
teknik ini digunakan maka biaya-biaya yang ada pada periode yang akan
datang diakui pada periode berjalan. Ini dilakukan bila kondisi yang tidak
menguntungkan tidak bisa dihindari. Akibatnya laba pada periode yang akan
datang menjadi tinggi meski kondisi sedang tidak menguntungkan.
2. Income Minimization
Cara ini hampir sama dengan taking a bath namun tidak ekstrim. Cara ini
dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud
mengurangi kemungkinan munculnya biaya politis. Kebijakan yang diambil
dapat berupa penghapusan barang modal dan aktiva tidak berwujud,
pembebanan pengeluaran iklan, serta pembebanan biaya riset.
3. Income Maximization
Maksimalisasi laba bertujuan untuk memperoleh bonus yang lebih besar.
Selain itu tindakan ini juga bisa dilakukan untuk menghindari pelanggaran
terhadap kontrak hutang jangka panjang.
1. Income Smoothing
Perusahaan cenderung lebih memilih untuk melaporkan trend pertumbuhan
laba yang stabil dari pada perubahan laba yang meningkat atau menurun
secara drastis. Perataan laba dapat dicapai dengan suatu ketentuan yang tinggi
untuk hutang dan bertentangan dengan nilai asset pada tahun yang baik
sehingga ketentuan itu dapat dikurangi. Hal ini dapat mempengaruhi laba yang
dilaporkan pada masa yang buruk.
2. Timing Revenue and Expense Recognition
Teknik ini dilakukan dengan membuat kebijakan tertentu yang berkaitan
dengan timing suatu transaksi. Misalnya pengakuan prematur atas pendapatan

Pengukuran Dalam Ambiguitas Peran

Menurut Nimran (2007), seseorang dapat dikatakan berada dalam kekaburan peran apabila ia menunjukkan ciri-ciri antara lain sebagai berikut

  1. Tidak jelas benar apa tujuan peran yang dia mainkan.
  2. Tidak jelas kepada siapa ia bertanggung jawab dan siapa yang melapor kepadanya.
  3. Tidak cukup wewenang untuk melaksanakan tanggung jawabnya.
  4. Tidak sepenuhnya mengerti apa yang diharapkan dari padanya.
  5. Tidak memahami benar peranan dari pada pekerjaannya dalam rangka mencapai tujuan secara keseluruhan.

Mondy, Sharplin, dan Premeaux (2008) menyarankan supaya pemegang peran mengetahui 6 (enam) tipe dasar informasi  sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya ambiguitas peran yaitu:

  1. Pemegang peran harus tahu apa yang diharapkan oleh orang lain.
  2. Pemegang peran harus tahu aktivitas yang seharusnya mereka lakukan dan hubungan interpersonal yang harus mereka tunjukkan untuk memenuhi harapan orang lain.
  3. Pemegang peran harus mengetahui konsekuensi dari pelaksanaan aktivitas atau interaksi dengan orang lain dalam hal teretentu.
  4. Pemegang peran harus mengetahui macam-macam tingkah laku atau sikap yang akan diterima baik sebagai imbalan maupun hukuman.
  5. Pemegang peran harus menemukan tipe-tipe dari imbalan dan hukuman yang akan diberikan dan mengukur kemungkinan mereka (karyawan) menerimanya.
  6. Pemegang peran harus mengetahui tingkah laku atau sikap yang akan memuaskan atau mengecewakan kebutuhan individu.

Menurut Everly dan Girdano dalam Tobing (2007) faktor-faktor yang dapat menimbulkan ambiguitas peran adalah:

  1. Ketidakjelasan dari sasaran-sasaran atau tujuan kerja
  2. Kesamaran tentang tanggung jawab
  3. Ketidakjelasan tentang prosedur kerja
  4. Kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain / perusahaan
  1. Kurang adanya informasi tentang balikan atau ketidakpastian tentang penilaian pekerjaan

Definisi Koordinasi

Menurut Pearce dan Robinson (dalam Ulber Silalahi, 2006) yang dimaksud dengan koordinasi adalah integrasi dari kegiatan-kegiatan individual dan unit-unit ke dalam satu usaha bersama yaitu bekerja ke arah tujuan bersama. Sedangkan menurut Stoner koordinasi adalah proses penyatu-paduan sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan dari unit-unit yang terpisah (bagian atau bidang fungsional) dari sesuatu organisasi untuk mncapai tujuan organisasi secara efisien. Sedangkan Hasibuan (2001) menyatakan bahwa : “Koordinasi adalah kegiatan mengarahkan, mengintegrasikan, dan mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen dan pekerjaan-pekerjaan para bawahan dalam mencapai tujuan organisasi”.

Menurut Stoner koordinasi adalah proses penyatu-paduan sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan dari unit-unit yang terpisah (bagian atau bidang fungsional) dari sesuatu organisasi untuk mncapai tujuan organisasi secara efisien. Sedangkan Handoko (2009) menyebutkan bahwa koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen-departemen atau bidang-bidang fungsional) pada suatu organisasi untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif. Dimana melalui pendelegasian wewenang dan pembagian kerja kepada para bawahan maka setiap bawahan akan mengerjakan pekerjaanya sesuai dengan wewenang yang diterimanya. Pendelegasian wewenang mempengaruhi atasan dan bawahan dalam melakukan pekerjaan dengan efektif. Setiap bawahan mengerjakan hanya sebagian dari pekerjaan perusahaan, karena itu masing-masing pekerjaan harus disatukan, diintegrasikan, dan diarahkan untuk tercapainya tujuan. Karena tanpa koordinasi tugas dan pekerjaan dari setiap individu karyawan tidak tercapai. Koordinasi ini merupakan tugas penting yang harus dilakukan oleh manajer dan tugas ini sangat sulit. Pendelegasian wewenang adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada seseorang bawahan untuk menyelesaikan aktivitas tertentu. Sedangkan Pembagian kerja adalah pembagian tugas dan tanggung jawab kepada seseorang bawahan yang harus di selesaikan agar dapat mencapai tujuan.

Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap kinerja

Menurut Iverson (2007) komitmen organisasi dalah prediktor terbaik dalam perubahan dibandingkan dengan kepuasan kerja, dimana karyawan yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi akan mengerahkan usaha lebih dalam proyek perubahan.

Penelitian mengenai pengaruh komitmen organisasi terhadap kinerja pernah dilakukan oleh Hueryren Yeh et al (2012) yaitu komitmen organisasi secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

   Pengaruh Struktur organisasi, koordinasi dan kemampuan SDM   terhadap efektivitas kerja

Penelitian Yanti Budiasih (2012) menemukan bahwa Struktur Organisasi, Desain Kerja dan Budaya Organisasi berpengaruh terhadap produktivitas karyawan, demikian pula penelitian Prasetyaningsih (2009) menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara variabel bebas struktur organisasi, kepemimpinan, dan kemampuan SDM terhadap efektivitas pelayanan Kantor Pertanahan Kabupaten Kendal. Oleh karena itu penelitiian ini selain menguji masing-masing variabel bebas terhadap efektivitas kerja, juga menghitung pengaruh ketiga variabel bebas tersebut secara bersama-sama terhadap efektivitas kerja.

 

Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Imam Ghozali, 2005).

Pengujian validitas dilakukan dengan membandingkan rhitung dan rtabel. Nilai rhitung merupakan hasil korelasi jawaban responden pada masing-masing pertanyaan di setiap variabel yang dianalisiss dengan program SPSS dan outputnya bernama corrected item correlation. Sedangkan untuk mendapatkan rtabel dilakukan dengan tabel r product moment, yaitu menentukan α = 0,05 kemudian n (sampel).

Sedangkan untuk mengetahui skor masing – masing item pertanyaan valid atau tidak, maka ditetapkan kriteria statistik sebagai berikut :

  • Jika rhitung > rtabel dan bernilai positif, maka variabel tersebut valid.
  • Jika rhitung < rtabel, maka variabel tersebut tidak valid.
  • Jika rhitung > rtabel tetapi bertanda negatif, maka Ho akan tetap ditolak dan Ha diterima.

Definisi Kinerja

Konsep tentang kinerja diungkapkan oleh Dessler (1997) yang mendefinisikan kinerja sebagai prestasi kerja yakni perbandingan antara hasil kerja yang secara nyata dengan standar kerja yang ditetapkan. Dengan demikian, kinerja menfokuskan pada hasil kerjanya. Bernaders dan Russel (1993: 379) menyatakan kinerja sebagai “performance is defined as the record of outcomes produced on specified job function or activity during a specified time period”. Hal tersebut berarti bahwa kinerja dihasilkan dari suatu pekerjaan tertentu atau hasil dari suatu aktivitas selama periode waktu tertentu.

Hasibuan (2003) juga menjelaskan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan dan waktu. Lebih lanjut, Hasibuan mengungkapkan bahwa kinerja merupakan gabungan tiga faktor penting, yaitu kemampuan dan minat seorang pekerja, kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas dan peran serta tingkat motivasi pekerja. Apabila kinerja tiap individu atau karyawan baik, maka diharapkan kinerja perusahaan akan baik pula.

Multikolinearitas

Multikolinearitas merupakan suatu keadaan di mana satu atau lebih variabel bebas terdapat korelasi dengan variabel bebas lainnya, atau dengan kata lain suatu variabel bebas merupakan fungsi linear dari variabel bebas lainnya. Untuk menguji ada atau tidaknya multikolinearitas pada model, peneliti menggunakan metode korelasi parsial (examination of partial correltion). Metode ini disarankan oleh Farrar dan Glauber (1967) dalam Firmansyah (2001). Metode ini membandingkan koefisien-koefisien korelasi yang dihasilkan dengan nilai koefisien determinasi (R2). Hipotesis yang digunakan menyatakan, apabila kuadrat dari koefisien korelasi lebih kecil daripada koefisien determinasi maka dalam model tidak dijumpai adanya masalah multikolinearitas dan sebaliknya.

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia (skripsi, tesis, dan disertasi)

Tujuan manajemen sumber daya manusia adalah meningkatkan dukungan sumber daya manusia guna untuk meningkatkan efektivitas organisasi dalam proses pencapain tujuan perusahaan. Menurut (Mila Badriyah, 2015) menjelaskan bahwa ada empat tujuan manajemen sumber daya manusia sebagai berikut: 1.Tujuan sosial, yaitu perusahaan bertanggung jawab secara sosial dan etis terhadap kebutuhan serta tantangan terhadap masyarakat dengan meminimalkan dampak negatifnya. 2.Tujuan organisasi, yaitu sasaran formal yang dibuat untuk membantu organisasi mencapai tujuannya. 3.Tujuan fungsional, yaitu mempertahankan departemen sumber daya manusia pada tingkat yang sesuai dengan organisasi. 4.Tujuan individual, yaitu tujuan pribadi dari setiap anggota organisasi atau perusahaan yang hendak dicapai melalui aktivitasnya dalam organisasi

Konsep Mediasi

 

         Sesuai dengan konsep pemediasi (intervening) dinyatakan bahwa variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen, tetapi tidak dapat diamati dan diukur. Variabel intervening merupakan variabel penyela antara yang terletak diantara variabel independen dan variabel dependen, sehingga variabel independen tidak secara langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.(Tuckman, 1988) dalam        (Aditya,2009). Menurut Ghazali (2012) mengatakan bahwa suatu variabel disebut Mediator jika variabel tersebut ikut mempengaruhi hubungan antara variabel prediktor (independen) dan variabel kriterion (dependen).

Sharma et al. (1981) juga menyatakan bahwa tipologi spesifikasi variabel dan variabel moderator  bisa dikembangkan  dengan menggunakan dua dimensi. Pertama, klasifikasi bisa berdasarkan pada hubungan standar variabel yitu apakah spesifikasi variabel itu berhubungan atau tidak dengan standar variabel. Dimensi kedua apakah spesifikasi variabel berpengaruh terhadap variabel prediktor. Jika spesifikasi variabel berhubungan dengan standar atau variabel prediktor tapi tidak berpengaruh terhadap prediktor, maka variabel itu mengacu pada mediasi ( intervening ).

Variabel Mediasi Pengaruh Kompensasi Terhadap Kinerja

 

Handoko (2011) bahwa pengertian kompensasi adalah pemberian kepada karyawan dengan pembayaran finansial sebagai balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dan sebagai motivator untuk pelaksanaan kegiatan diwaktu yang akan datang. Hasil penelitian Supriyadi et al. (2017) menunjukkan bahwa OCB merupakan variabel mediasi pengaruh kompensasi terhadap kinerja.

Pengaruh Antara Komitmen Kerja Terhadap Kinerja

Menurut Mathis and Jackson (2012) komitmen organisasional adalah tingkat sampai dimana karyawan yakin dan menerima tujuan organisasional, serta berkeinginan untuk tinggal bersama organisasi. Hasil penelitian Rizal et al. (2014) menunjukkan bahwa komitmen berpengaruh signifikan terhadap kinerja

Aspek dalam Komitmen Kerja

 

komitmen kerja yang pertama dikemukakan oleh Potter, et al. (1982). Komitmen organisasi yang dikemukakan oleh Potter, et al. ini bercirikan adanya: (1) belief yang kuat serta penerimaan terhadap tujuan dan nilai organisasi; (2) kesiapan untuk bekerja keras; serta (3) keinginan yang kuat untuk bertahan dalam organisasi. Komitmen ini tergolong komitmen sikap atau afektif karena berkaitan dengan sejauhmana individu merasa nilai dan tujuan pribadinya sesuai dengan nilai dan tujuan organisasi. Semakin besar kongruensi antara nilai dan tujuan individu dengan nilai dan tujuan organisasi maka semakin tinggi pula komitmen karyawan pada organisasi.

Menurut Meyer dan Allen (1991) dalam Luthans (2008). Menurutnya faktor-faktor penyebab komitmen kerja mengakibatkan timbulnya perbedaan bentuk komitmen organisasi yang dibaginya atas tiga aspek, yaitu: komitmen afektif (affective commitment), komitmen kontinuans (continuence commitment), dan komitmen normative (normative commitment). Hal yang umum dari ketiga aspek komitmen ini adalah dilihatnya komitmen sebagai kondisi psikologis yang: (1) menggambarkan hubungan individu dengan organisasi, dan (2) mempunyai implikasi dalam keputusan untuk meneruskan atau tidak keanggotaannya dalam organisasi.

Allen dan Meyer (1990) dalam Luthans (2008) lebih memilih untuk menggunakan istilah aspek komitmen kerja daripada tipe komitmen organisasi karena hubungan karyawan dengan organisasinya dapat bervariasi dalam aspek tersebut. Adapun definisi dari masing-masing aspek tersebut adalah sebagai berikut:

  • Komitmen Afektif (Af ective Commitment)

Komitmen afektif berkaitan dengan keterikatan emosional karyawan, pada siapa karyawan mengidentifikasikan dirinya, dan keterlibatan karyawan pada organisasi. Dengan demikian, karyawan yang memiliki komitmen afektif yang kuat akan terus bekerja dalam organisasi karena mereka memang ingin (want to) melakukan hal tersebut (Allen dan Meyer, dalam Luthans (2008).

Menurut Morgan (1988) dalam (Ahmad, S, K. Shahzad, S. Rehman, N. A. Khan & I.U. Shad 2010) komitmen afektif merupakan perasaan pribadi karyawan dan identifikasi dirinya pada organisasi dikarenakan kepercayaan yang kuat terhadap fungsi dan tujuan organisasi. Komitmen afektif dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama yaitu karakteristik pribadi, karakteristik struktur, karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan dan pengalaman kerja. Walaupun keempat kategori ini mempengaruhi komitmen afektif secara signifikan, kebanyakan literatur mendukung bukti bahwa pengalaman kerja mempunyai hubungan pengaruh yang lebih kuat (Mowder, et al., 1982 dalam Azliyanti, 2009).

  • Komitmen Kontinuans (Continuence Commitment)

Komitmen kontinuans berkaitan dengan adanya pertimbangan untung rugi dalam diri karyawan yang berkaitan dengan keinginan untuk tetap bekerja atau justru meninggalkan organisasi. Komitmen kontinuans sejalan dengan pendapat Becker yaitu bahwa komitmen kontinuans adalah kesadaran akan ketidakmungkinan memilih identitas sosial lain ataupun alternatif tingkah laku lain karena adanya ancaman akan kerugian besar. Karyawan yang terutama bekerja berdasarkan komitmen kontinuans ini bertahan dalam organisasi karena mereka butuh (need to) melakukan hal tersebut karena tidak adanya pilihan lain (Allen dan Meyer, dalam Luthans, 2008).

Menurut Morgan (1988) dalam Ahmad, et al. (2010) komitmen kontinuans merupakan persepsi seseorang terhadap kerugian yang akan dialaminya apabila meninggalkan organisasi. Komitmen kontinuans berdasarkan pada persepsi karyawan tentang kerugian yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi. Komitmen ini pada saat awal dikembangkan dianggap sebagai aktifitas yang dianggap konsisten. Ketika individu tak melanjutkan lagi aktifitasnya pada suatu organisasi, maka akan timbul di hatinya suatu perasaan kehilangan. Oleh sebab itu selanjutnya komitmen ini disebut juga dengan exchanged oriented commitment atau komitmen yang berorientasi pada pertukaran atau biasa juga disebut komitmen komulatif (Dewayani, 2007).

  • Komitmen Normatif (Normative Commitment)

Komitmen normatif berkaitan dengan perasaan wajib untuk tetap bekerja dalam organisasi. Ini berarti, karyawan yang memiliki komitmen normatif yang tinggi merasa bahwa mereka wajib bertahan dalam organisasi (Allen dan Meyer, dalam Luthans , 2008). Wiener (dalam Luthans , 2008) mendefinisikan aspek komitmen ini sebagai tekanan normatif yang terinternalisasi secara keseluruhan untuk bertingkah laku tertentu sehingga memenuhi tujuan dan minat organisasi.

Menurut Morgan (1988) dalam Ahmad, et al. (2010) komitmen normatif adalah perilaku yang ditunjukkan karyawan atas pertimbanan moral dan apa yang benar untuk dilakukan. Chang, C. C., M. C. Tsai dan M. S. Tsai (2011), menyatakan bahwa komitmen normatif mengacu kepada perasaan pekerja bahwa mereka berkewajiban untuk tetap tinggal dalam organisasi. Sedangkan Dewayani (2007) mengatakan bahwa komitmen normatif ini juga disebut sebagai komitmen moral, merefleksikan persepsi individu terhadap norma, perilaku yang dapat diterima, yang timbul sebagai akibat perlakuan organisasi terhadap karyawan. Misalnya dengan gaji yang mereka terima serta pelatihan-pelatihan yang mereka ikuti. Perasaan wajib ini terus tumbuh sampai mereka merasa impas dan tidak mempunyai kewajiban lagi.

Meyer dan Allen (1991) dalam Luthans (2008) berpendapat bahwa setiap aspek memiliki dasar yang berbeda. Karyawan dengan aspek afektif tinggi, masih bergabung dengan organisasi karena keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi. Sementara itu karyawan dengan aspek continuance tinggi, tetap bergabung dengan organisasi tersebut karena mereka membutuhkan organisasi. Karyawan yang memiliki aspek normatif yang tinggi, tetap menjadi anggota organisasi karena mereka harus melakukannya.

Pengaruh Keadilan Organisasi terhadap Kinerja (skripsi,tesis,disertasi)

Keadilan organisasi berkaitan dengan persepsi karyawan apakah mereka
sudah diperlakukan secara adil di tempat kerja atau sebaliknya Noe et al. (2011).
Jadi, keadilan organisasi menyangkut bagaimana karyawan melihat keadilan di
tempat kerja. Keadilan organiasi dapat sebagai ukuran bagaimana pegawai
diperlakukan dalam organisai tersebut. Persepsi karyawan yang merasa
mendapatkan keadilan dalam bekerja akan berdampak pada kinerja yang
dihasilkan. Pegawai yang merasa mendapatkan keadilan akan memberikan kinerja
yang semakin baik.
Hal ini sesuai dengan peneltian yang dilakukan oleh Kristianto (2015) dan
Sulistyo dan Yunus (2016) bahwa keadilan organisasi berpengaruh posotif dan
signifikan terhadap kinerja.

Kepemimpinan Manajer Proyek (skripsi,tesis,disertasi)

Salah satu karakteristik proyek konstruksi adalah adanya organisasi. Setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di mana di dalamnya terlibat sejumlah individu dengan ragam kehlian, ketertarikan, kepribadian dan juga ketidak pastian. Langkah awal manajer proyek sebagai pimpinan organisasi proyek konstruksi bertugas menyatukan visi menjadi satu tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.(Ervianto, 2005) Menurut Soehardi Sigit (2003), kepemimpinan merupakan upaya untuk memepngaruhi orang lain untuk melakukan perbuatan ke arah yang dikehendaki. Kepemimpinan dalam proyek konstruksi adalah kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya 5 M (men, machines, mathods, materials, money) untuk dapat menyelesaikan masalah dan menentukan arah tujuan tercapainya proyek konstruksi yang tepat biaya, tepat mutu, dan tepat waktu.

Dalam pandangan tradisional, pemimpin dianggap sebagai hero. Pengertian pahlawan di sini menurut Yukl (1989) adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menentukan takdir organisasi yang dipimpinnya. Jadi apa yang dilakukan dan diputuskan oleh seorang pemimpin akan mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan. Hal ini seringkali disebut sebagai romantisme kepemimpinan yang menurut Thomas (1988), “Convensional leadership have generally assumed that leader have significant and crucial impact on the performance of organization they lead”. Pandangan ini kemudian disebut Thomas sebagai pandangan ‘Individualis’, yang mengandung makna bahwa individu merupakan figus yang berarti bagi kehidupan organisasi.

Salah satu elemen prinsip dalam konsep romantisme, menurut Meindl, Ehlirch dan Dukerich (1985) adalah pandangan bahwa kepemimpinan merupakan pusat dari proses organisasi dan kekuatan utama dalam skema aktivitas dan kejadian dalam organisasi.

Dalam realitasnya pandangan ini dianggap positif oleh pemimpin, bahkan memanfaatkan padangangan tersebut untuk kepentingan politisnya dengan melakukan manipulasi terhadap kinerja. Hal tersebut ditengarai oleh Yukl (1989a),

 

The attributional biases about leader are exploited by many political leader and top executives who seek to create the impression that are in control of events. Symbol and rituals, such as elaborate inagural ceremonies, reinforce the percieved importance of leaders (Pfeffer). Successes are announced and celebrated; filure are suppresed or downplayed”

 

Namun di sisi lain, hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang negatif bagi pertumbuhan organisasi. Anggapan bahwa pemimpin adalah segalanya dan apapun yang dilakukan dan diputuskan membawa dampak bagi kehidupan dapat menjadi bumerang bagi pemimpin dan organisasi yang dipimpinnya, yakni bila pemimpin menjadi cenderung berhati-hati, menghindari resiko dan mengambil langkah aman. Hal tersebut tentunya dapat menghambat pertumbuhan organisasi.

Seorang pemimpin yang baik harus mempunyai sifat-sifat yang baik dan terpuji sehingga menjadi teladan bagi bawahannya. Menurut Mulia Nasution (1994) kepmimpinan yang baik harus memiliki sifat-sifat yaitu:

  1. Mempunyai kemampuan melebihi orang lain. Seorang pemimpin tidak mau menjadi nomor dua, juga mempunyai keinginan mengatasi dann mengungguli orang lain. Seorang pemimpin harus penuh inisiatif dan sanggup bekerja keras serta ulet untuk mencapai tujuan.
  2. Mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Seorang pemimpin tidak akan pernah merasa takut untuk memikul tanggung jawab terhadap orang lain, atau pekerjaan yang sukara sekalipun.
  3. Mau bekerja keras. Seorang pemimpin akanselalu sanggup bekerja keras dan tidak kenal lelah, ia mempunyai daya tahan yang kuat untuk bekerja keras dakan jangka waktu yang lama. Hal ini untuk dapat memberi contoh atau motivasi bawahannya.
  4. Pandai bergaul, seorang pemimpin yang baik, selalu pandai bergaul dengan teman sejawat. Ia akan berusaha mengnal baik temannya serta memahami segala persoalannya.
  5. Memberi contoh bekerja dengan semangat pada bawahan. Seorang pemimpin selalu menjadi pelopor dan selalu menjadi contoh bagaimana cara bekerja keras dan bersemangat, sehingga bawahan dengan sendirinya termotivasi untuk ikut bekerja dengan semangat.
  6. Memiliki rasa integritas. Pemimpin harus mempunyai rasa bersatu padu dengan kelompok yang ada di dalam organisasinya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (skripsi,tesis,disertasi)

 

Menurut Suma’mur (2013) kecelekaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja pada perusahaan. Hubungan kerja disini dapat berarti, bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Guna mengadakan atau memelihara keselamatan dan kesehatan kerja, perlu diperhatikan faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan dengan gangguan kesehatan. Menurut Mangkunegara (2016:163), beberapa sebab yang memungkinkan terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan pegawai adalah:

  1. Keadaan tempat lingkungan kerja
  1. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang diperhitungkan kemananya.
  2. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
  3. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
    1. Pengatur udara
    2. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor, berdebu, dan berbau tidak enak).
    3. Suhu udara kerja yang tidak dikondisikan pengaturannya.
    4. Pengaturan penerangan
    5. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
    6. Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
    7. Pemakaian peralatan kerja
    8. Pengaman peralatan kerja yang sudah using atau rusak.
    9. Pengunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik.
    10. Kondisi fisik dan mental pegawai
    11. Kerusakan alat indera, stamina pegawai yang tidak stabil.
    12. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh, cara berpikir dan kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pegawai yang cerobo, kurang cermat, dan kurang pengetahuan dalam pengunaan fasilitas kerja terutama fasilitas kerja yang membawa eisiki bahaya.

Sedangkan menurut Sayuti (2013:200) terdapat 3 (tiga) faktor utama yang menjadi penyebab gangguan dan terjadinya kecelakaan, yaitu:

  1. Lingkungan kerja, maksudnya tempat dimana pekerja melakukan pekerjaannya dalam kondisi yang tidak aman atau dalam kondisi membahayakan. Kondisi yang tidak aman ini dapat terjadi karena tidak teraturnya suasana, perlengkapan dan peralatan kerja.
  2. Manusia atau karyawan, factor ini banyak disebabkan oleh beberapa hal:
  1. Sifat fisik dan mental manusia yang tidak standar, contohnya: karyawan yang rabun, penerangan kurang, otot lemah, reaksi mental lambat, syaraf yang tidak stabil dan lainnya. Bagi yang memiliki sifat dan kondisi seperti ini sering menjadi penyebab kecelakaan dan gangguan kerja.
  2. Pengetahuan dan keterampilan, karena kurangnya pengetahuan maka kurang memperhatikan metode kerja yang aman dan baik, memiliki kebiasaan yang salah, dan kurang pengalaman.
  3. Sikap, karyawan memiliki sikap kurang minat dan kurang perhatian, kurang teliti, malas dan sombong (mengabaikan peraturan dan petunjuk), tidak peduli akan suatu akibat, hubungan yang kurang baik dengan pihak lain, sifat ceroboh dan perbuatan yang berbahaya.
    1. Mesin dan alat, jika pada lingkungan kerja menyangkut pengaturan peralatan dan konstruksi bangunan, maka factor mesin dan alat ini adalah penggunaan mesin-mesin dan perlatan yang tidak memenuhi standar

Berdasarkan penelitian Kurnia (2020), faktor yang mempengaruhi penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Perusahaan, yaitu :

  1. Pemenuhan peraturan perundangan
  2. Tidak dilaksanakan secara konsisten.
  3. Tidak sesuai dengan standar yang ada.
  4. Sebagian kecil melaksanakan pemenuhan peraturan perundangan.
  5. Komitmen kebijakan K3
  6. Kurangnya ketegasan dalam penerapan sanksi
  7. Kurangnya prioritas dalam menanggulangi kebijakan K3
  8. Manusia dan lingkungan
  9. Masih banyak pekerja yang tidak mau bekerjasama dalam penerapan SMK3
  10. Banyak pekerja yang mempunyai persepsi bahwa keselamatan kerja tidak terlalu penting dalam penerapan SMK3
  11. Anggaran atau keuangan

Keterbataaan biaya dan tidak adanya anggaran mengenai K3.

  1. Dukungan dari pemerintah

Pemerintah sendiri masih kurang melakukan pengawasan mengenai peraturan perundangan dalam menerapkan SMK3 kepada perusahaan

Pengertian Financial Technology (skripsi,tesis,disertasi)

Perkembangan teknologi digital merupakan hal yang niscaya terjadi dan tidak dapat dihindari. Revolusi industri pada abad ke-18 di Inggris, selalu menyebabkan perubahan tatanan industri yang mempengaruhi hampir setiap bidang, baik mempengaruhi secara negatif maupun maupun positif. Industri selanjutnya yang akan terdisrupsi adalah industri jasa keuangan, yang kemudian dikenal sebagai Financial Technology (Fintech) atau teknologi finansial (Tekfin) (Ilman dkk, 2019).

Adapun yang dimaksud dengan Financial Technology (Fintech) menurut The National Digital Research Centre (NDRC) ialah suatu inovasi pada sektor finansial sebagai sebuah inovasi layanan dalam lembaga keuangan non bank yang memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat untuk menjangkau konsumennya. Bank Indonesia juga memberikan definisi Teknologi Finansial (Fintech) yang diatur dalam Pasal 1 Angka 11 Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 Tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial bahwa Teknologi Finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran.

Fintech merupakan singkatan dari financial technology atau teknologi finansial dan dapat diartikan sebagai inovasi layanan keuangan berbasis teknologi. Definisi Fintech yang dijabarkan oleh Bank Indonesia adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran (Fajar dan Larasati, 2021)

Berdasarkan uraian di atas maka fintech dapat diartikan sebagai inovasi dalam jasa keuangan yang memanfaatkan teknologi informasi. Perkembangan Fintech yang cukup signifikan di Indonesia diharapkan dapat mendorong pertumbuhan perekonomian nasional.

 

Tipe pemimpin fathernalistis (skripsi,tesis,disertasi)

 

Tipe kepemimpinan fathornalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapaan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil. Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. a) Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
  2. b) Bersikap terlalu melindungi bawahan
  3. c) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil

keputusan. Karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.

  1. d) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan

inisyatif daya kreasi.

  1. e) Sering menganggap dirinya maha tau.

Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diperlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifar-sifar negatifnya pemimpinfaternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.

Macam – Macam Interaksi Sosial (skripsi,tesis,disertasi)

Menurut Maryati dan Suryawati (2003:23) interaksi sosial dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

  • Interaksi antara individu dan individu

Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).

  • Interaksi antara individu dan kelompok

Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok bermacam – macam sesuai situasi dan kondisinya.

  • Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok

Interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Misalnya, kerja sama antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek.

Pengertian Firm Size (skripsi,tesis,disertasi)

Menurut Pasadena (2013) firm Size (ukuran perusahaan)
adalah skala besar kecilnya perusahaan yang ditentukan oleh
total asset. Menurut Marietta (2013) firm size (ukuran
perusahaan) adalah skala besar kecilnya perusahaan yang
ditentukan berdasarkan total penjualan, total aktiva, dan rata-rata
tingkat penjualan perusahaan. Menurut Sumantri dan
Candraningrat (2017) firm size merupakan simbol dari ukuran
perusahaan yang dapat dinyatakan dalam total asset, penjualan,
dan kapitalisasi pasar.
Jadi, dapat disimpulkan Firm Size (ukuran perusahaan)
merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan
yang diukur dengan total asset yang dimiliki oleh perusahaan.

Pengertian Pasar Modal (skripsi,tesis,disertasi)

Pasar modal adalah tempat bertemunya investor dan issuer
untuk melakukan penawaran dan permintaaan surat berharga
(Sunariyah,2011). Di pasar modal inilah investor baik individu
maupun badan usaha melakukan investasi dalam dalam bentuk
surat berharga yang ditawarkan oleh emiten. Sebaliknya
dipasar modal pula perusahaan atau entitas yang membutuhkan
dana menawarkan surat berharga dengan cara listing terlebih
dahulu pada badan otoritas dipasar modal sebagai emiten.
Menurut Keputusan Presiden RI Nomor 53 Tahun 1990
pasar modal merupakan alternatif penting bagi pengerahan
dana yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan
pembangunan ekonomi nasional dan perluasan
pengikutsertaan masyarakat dalam pemilikan efek perusahaan
menuju pemerataan pendapatan masyarakat.
Menurut Undang-Undang No.8 Tahun 1995 pasar
Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran
Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang
berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta
lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat
diambil kesimpulan pasar modal merupakan tempat
bertemunya investor dan emiten (perusahaan) dengan
melakukan permintaan dan penawaran surat berharga yang
sebelumnya emiten (perusahaan) tersebut harus listing
terlebih dahulu di Bursa Efek Indonesia dengan harapan
dapat memberikan keuntungan dimasing-masing pihak.

Return Realisasi (realized return) (skripsi,tesis,disertasi)

Return Realisasi (realized return) merupakan return yang telah terjadi.
Return dihitung berdasarkan data histories, return realisasi penting karena
digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis
ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (ekspekted return)
dan risiko dimana mendatang

Pengertian Lingkungan Kerja (skripsi, tesis, dan disertasi)

Lingkungan kerja merupakan bagian komponen yang sangat penting bagi pegawai di dalam melakukan aktivitas pekerjaan. Pegawai dituntut secara maksimal
untuk menjalankan pekerjaannya. Dalam hal ini, perusahaan harus mampu memberikan fasilitas yang memadai agar karyawan dapat memberikan kinerja yang diinginkan, seperti yang dikatakan dalam jurnal jurnal internasional Ollukaran (2012) bahwa “The environment that people are required to work in can have a significant impact on their ability to undertake the tasks that they have been asked to do”.Menurut Nitisemito (2010) dalam Nugroho (2016), mendefinisikan “Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang diembankan”. Sedangkan menurut (Sedarmayanti, 2009) dalam Prasetyo dkk (2015), menjelaskan “Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang berkerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik perseorangan maupun sebagai kelompok

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Margin Keuntungan (skripsi,tesis,disertasi)

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
No. 91/kep/M.KUKMI/IX/2004 dan Fatwa DSN MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000
tentang murabahah bahwa penentuan margin dalam sistem syariah dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:
1. Jenis barang
Jenis barang yang dimaksud adalah selisih harga jual atau margin terhadap
barang yang kompetitif di pasaran lebih rendah dibanding investasi.
2. Ada pembanding
Pembanding digunakan sebagai penentu harga barang sebanding dengan
aktivitas transaksi yang dilakukan oleh BMT terhadap supplier.
3. Reputasi mitra pada pembiayaan sebelumnya
Reputasi mitra dilihat dari kelancaran angsuran, perkembangan prospek
usaha, dan loyalitas serta tujuan usaha.
4. Alat ukur
BMT melakukan perhitungan berdasarkan rumus harga jual atau standar
penentuan harga. Dalam penentuan harga, harga jual yang ditetapkan menjadi
fleksibel dalam bersaing. Kemudian sebelum margin ditentukan, ada hal-hal yang
berkaitan dengan penentuan besaran margin, yaitu:
a. Jangka waktu atau angsuran; dan
b. Besarnya pembiayaan yang diajukan nasabah

Pengertian Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)

Menurut Ahmad dkk (2014:4) berpendapat bahwa :
“Keberhasilan usaha merupakan utama dari sebuah perusahaan dimana
segala aktivitas yang ada didalamnya ditujukan untuk mencapai suatu
keberhasilan.”
Menurut Dedi dalan Ahmad dkk (2015:6) “Keberhasilan usaha biasanya
dicirikan dengan membesarnya skala usaha yang dimilikinya. Hal tersebut bisa
dilihat dari volume produksinya yang tadinya biasa menghabiskan sejumlah bahan
baku perhari meningkat menjadi mampu mengolah bahan baku yang lebih banyak
dengan meningkatnya bahan baku yang dibutuhkan berarti meningkat pada jumlah
buruhnya (baik buruh produksi maupun pemasaran) sekaligus mencirikan perluasan
jaringan pemasaran”.
Kriteria keberhasilan usaha menurut Suryana (2003) dalam Alex Wibowo
(2015:110) meliputi meningkatnya modal, meningkatnya pendapatan,
meningkatnya volume penjualan, meningkatnya output produksi serta
meningkatnya tenaga kerja. Keberhasilan usaha dapat dilihat melalui kemampuan
bertahan hidup dan semakin berkembangnya suatu perusahaan Saboet (1994:110)
dalam Alex Wibowo (2015:111).
Dalam pengertian umum, Mudzakar dalam Andari (2011:21)
mengemukakan bahwa keberhasilan usaha adalah suatu kondisi yang menunjukkan
suatu keadaan yang lebih baik/unggul dari masa sebelumnya

Hubungan Perilaku Kewirausahaan dengan Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)

Mengenai pengaruh perilaku kewirausahaan terhadap keberhasilan usaha
menurutSuryana ( 2003:63 ), ”Orang yang berhasil dalam wirausaha adalah orang
yang dapat membentuk Perilaku Kewirausahaan”. Maka untuk mencapai
Keberhasilan usaha maka pengusaha harus mempunyai Perilaku Kewirausahaan.
Sebab itu Perilaku Kewirausahaan mutlak dikembangkan melalui
pendidikan, latihan, lokakarya, dan kesempatan. Kesempatan memperoleh
wawasan yang lebih luas. Berdasarkan pendapat para ahli dan hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa perilaku kewirausahaan berpengaruh dalam menentukan
keberhasilan usaha. Sehingga para pengusaha dalam menentukan usahanya
dituntut untuk memiliki perilaku kewirausahaan

Tahap – Tahap Usia Remaja (skripsi,tesis,disertasi)

Menurut Sarwono pada tahun 2000, ada tiga tahap perkembangan remaja,
yaitu remaja awal, remaja madya dan remaja akhir.
a. Masa Remaja Awal / Early Adolescense (11–13 tahun)
Merupakan remaja yang berusia berkisar 11-13 tahun, dimana pada
masa ini adalah masa yang paling penting untuk mengetahui pendidikan
seks, karena pada masa ini remaja cepat tertarik dengan lawan jenis dan
mudah terangsang secara erotis. Oleh karena itu, anak remaja penting untuk
mengetahui pendidikan seks sejak dini (Soetjiningsih, 2004)
b. Masa Remaja Pertengahan / Middle Adolescene (14-16 tahun)
Merupakan remaja yang berusia berkisar 14-16 tahun, masa ini adalah
masa mengenal diri sendiri, menjauhkan diri dari keluarga dan lebih senang
bergaul dengan temannya. Remaja mungkin tidak mau berbagi perasaan
mereka dengan orang tuanya, jika tidak ditangani secara serius dapat
menimbulkan kesenjangan dalam komunikasi dan hilangnua rasa percaya
terhadap orang lain. Pada masa ini remaja memerlukan informasi mengenai
penyakit menular seksual (Soetjiningsih, 2004).
c. Masa Remaja Akhir / Late Adolescene (17-20 tahun)
Merupakan remaja yang berusia berkisar 17-20 tahun, masa ini adalah
masa yang sudah lebih terkontrol oleh karena masa ini adalah masa menuju
periode dewasa. Pada masa ini remaja mengenal dirinya sendiri, tahu apa
yang menjadi minatnya, mau bersosialisasi dengan orang lain, tidak terlalu
egois terhadap keinginannya sendiri, dan dapat membedakan antara hal
yang pribadi dengan hal yang umum (Soetjiningsih, 2004)

Inovasi (skripsi, tesis, dan disertasi)

Kata inovasi berasal dari bahasa inggris innovation berarti perubahan. Inovasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan atau pemikiran manusia untuk menemukan sesuatu yang baru yang berkaitan dengan input, proses, dan output, serta dapat memberikan manfaat dalam kehidupan manusia. Inovasi yang berkaitan dengan input diartikan sebagai pola-pola pemikiran atau ide manusia yang disumbangkan pada temuan baru. Adapun inovasi yang berkaitan dengan dengan proses banyak berorientasi pada metode, teknik, ataupun cara bekerja dalam rangka menghasilkan sesuatu yang baru. Selanjutnya, inovasi yang berkaitan dengan output berdasarkan definisi tersebut lebih ditujukan pada hasil yang telah dicapai terutama penggunaan pola pemikiran dan metode atau teknik kerja yang dilakukan. Ketiga elemen dalam inovasi tersebut sesungguhnya membentuk suatu kesatuan yang utuh. (Makmur & Rohana, 2012:9) Menurut Oslo Manual (dalam Zuhal, 2013 :58), inovasi memiliki aspek yang sangat luas karena dapat berupa barang maupun jasa, proses, metode pemasaran atau metode organisasi yang baru atau telah mengalami pembaharuan yang menjadi jalan keluar dari permasalahan yang pernah dihadapi oleh organisasi.Selanjutnya Green, Howells & Miles (dalam Zulfa Nurdin, 2016:11) mendefenisikan inovasi sebagai sesuatu yang baru yaitu dengan memperkenalkan dan melakukan praktek atau proses baru (barang atau layanan) atau bisa juga

dengan mengadopsi pola baru yang berasal dari organisasi lain. Thomas (dalam Zulfa Nurdin, 2016:12) mendefinisikan inovasi sebagai peluncuran sesuatu yang baru. Tujuan diluncurkannya sesuatu yang baru kedalam suatu proses adalah untuk menimbulkan perubahan besar yang radikal. Sejalan dengan pendapat diatas Albury dan mulgan (dalam Zulfa Nurdin, 2016:12) mengatakan bahwa sebuah inovasi dapat dikatakan berhasil apabila penciptaan dan pelaksanaan proses, produk, jasa dan metode yang baru dapat menghasilkan perbaikan kualitas hasil yang efektif dan efisien. Adapun inovasi menurut Evert M.Rogers (dalam Suwarno, 2008:9) adalah sebagai suatu ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi. Inovasi sendiri secara singkat didefinisikan oleh Ellitan dan Anatan (2009:36) sebagai perubahan yang dilakukan dalam organisasi yang didalamnya mencakup kreatifitas dalam menciptakan produk baru, jasa, ide, atau proses baru. Sedangkan Fontana (2011:18) menjelaskan inovasi sebagai keberhasilan ekonomi berkat adanya pengenalan cara baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam mentransformasi input menjadi output (teknologi) yang menghasilkan perubahan besar atau drastis dalam perbandingan antara nilai guna yang dipersiapkan oleh konsumen atas manfaat suatu produk (barang/jasa) dan harga yang ditetapkan oleh produsen.Selanjutnya Samson dalam Ellitan dan Anatan (2009:3) menerangkan salah satu alasan mengapa inovasi sangat diperlukan karena cepatnya perubahan lingkungan bisnis yaitu semakin dinamik dan hostile, sehingga sebuah organisasi harus bisa mengelola inovasi sebagai penentu keberhasilan organisasi untuk menjadi competitive.

 Ada tiga kunci sukses organisasi untuk melakukan inovasi secara efektif yang disebutkan oleh Saleh dan Wang (dalam Ellitan dan Anatan, 2009:6) yaitu: 1. Enterprenueral strategi yaitu berani mengambil resiko, melakukan pendekatan bisnis yang proaktif dan komitmen manajemen. 2. Struktur organisasi yaitu dengan struktur yang lebih fleksibel, adanya disiplin interfungsional, dan orientasi pada tim kerja lintas fungsional. 3. Iklim organisasi, yaitu iklim yang promotif dan terbuka kekuasaan dalam organisasi disebarkan tidak terpusat pada jenjang atas dan memberikan sistem imbalan yang efektif. Borins (dalam Sangkala, 2013:25) menyatakan bahwa dalam literature inovasi terdapat perbedaan antara temuan (invention), kreasi ide baru, dan inovasi. Dalam literature manajemen juga dikemukakan sejumlah defenisi inovasi dimana cara luas berada dalam tema-tema perubahan proses atau teknologi yang menciptakan nilai bagi pelanggan atau organisasi. Inovasi yang berbeda tersebut lebih kepada semata-mata perubahan.Halversen (dalam Sangkala, 2013:26) mendefenisikan inovasi dalam pengertian yang agak luas sebagai “perubahan dalam perilaku” Halversen menyatakan bahwa tidak ada satupun defenisi yang mampu memberikan pemahaman inovasi didalam evolusi yang konstan. Osborn & Brown (dalam Emy, 2015:80) menyatakan bahwa inovasi merupakan representasi dari ketidakberlanjutan kondisi dimasa lalu.Ketidakberlanjutan ini menjadi karakteristik yang membedakan inovasi dari perubahan karena perubahan merepresentasikan sebuah pecahan dari konfigurasi pelayanan sebelum atau pada saat tersebut dan atau kemampuan profesionalnya. Inovasi adalah pengenalan terhadap elemen baru kedalam pelayanan organisasi
 dalam bentuk pengetahuan baru, organisasi baru, manajemen atau keterampilan proses yang baru. Perubahan merupakan gambaran perubahan secara bertahap dari kondisi yang ada saat ini atau merupakan gambaran keberlanjutan dari masa lalu.Pugh (dalam Emy, 2015:84) menilai inovasi adalah sebuah pengenalan atas fitur baru dalam organisasi. Inovasi adalah sumber dari perkembangan sosial dan ekonomi, serta merupakan produk dan fasilitator dari pertukaran ide yang merupakan darah dari pembangunan. Inovasi dicerminkan oleh produk-produk dan proses produksi baru, kemajuanteknologi komunikasi, organisasi dan layanan baru disektor publik dan sector non-profit.

Faktor Yang Mempengaruhi Gaya Hidup (skripsi, tesis, disertasi)

Menurut Kotler dan Armstrong (2014:48) mengemukakan bahwa gaya
hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu
seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan
barang-barang dan jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan
keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Kotler dan Armstrong (2014:48) juga menyatakan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 yaitu faktor dari dalam
diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).
Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang yaitu sebagai
berikut:
1) Sikap
Sikap berarti keadaan jiwa dan keadaan fikir yang dipersiapkan
untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi
melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada
perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi,
kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.
2) Pengalaman dan pengamatan
Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam
tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya di
masa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat
memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat
membentuk pandangan terhadap suatu objek tertentu.
3) Kepribadian
Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara
berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.
4) Konsep diri
Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep
diri. Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas
untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan
image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan
mempengaruhi minat terhadap suatu objek.
5) Motif
Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk
merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa
contoh tentang motif. Jika motif seseorang tentang kebutuhan akan
prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung
mengarah pada gaya hidup hedonis.
6) Persepsi
Persepsi adalah dimana proses seseorang memilih, mengatur, dan
menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang
berarti mengenai dunia. Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh
Handoko (2015:75) sebagai berikut:
a) Kelompok referensi
Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan
pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan
perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh
langsung adalah kelompok yang dimana individu tersebut menjadi
anggotanya dan sering berinteraksi, sedangkan kelompok yang
memberi pengaruh tidak langsung adalah dimana individu tidak
menjadi anggota di dalam kelompok tersebut seperti melihat
orang-orang di dunia maya dan berdampak pada gaya hidup.
b) Keluarga
Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam
pembentukan sikap dan perilaku individu. Hal ini karena pola
asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak
langsung mempengaruhi pola hidupnya.
c) Kelas sosial
Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen
dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam
sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu
memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Berdasarkan
uraian di halaman sebelumnya dapat disimpulkan bahwa faktor
faktor yang mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam dan dari
luar. Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan,
kepribadian, konsep diri motif, dan persepsi. Adapun faktor
eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga

Faktor Penentu Keberhasilan Good Corporate Governance (skripsi, tesis, disertasi)

Syarat keberhasilan good corporate governance memiliki dua faktor
yang memegang peranan sebagai berikut:
1) Faktor internal. Faktor internal adalah pendorong keberhasilan
pelaksanaan praktek Good Corporate Governance yang berasal
dari dalam perusahaan. Beberapa faktor yang dimaksud antara
lain:
a) Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang
mendukung penerapan good corporate governance dalam
mekanisme serta sistem kerja manajemen di perusahaan;
b) Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan
mengacu pada penerapan nilai-nilai good corporate governance;
c) Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan
pada kaidah-kaidah standar good corporate governance;
d) Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam
perusahaan untuk menghindari setiap penyimpangan yang
mungkin akan terjadi; dan
e) Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu
memahami setiap gerak dan langkah manajemen dalam
perusahaan sehingga kalangan publik dapat memahami dan
mengikuti setiap langkah perkembangan dan dinamika
perusahaan dari waktu ke waktu.
2) Faktor eksternal. Faktor eksternal adalah beberapa faktor yang
berasal dari luar perusahaan yang sangat mempengaruhi
keberhasilan penerapan good corporate governance diantaranya:
a) Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu
menjamin berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan
efektif;
b) Dukungan pelaksanaan good corporate governance dari sektor
publik atau lembaga pemerintahan yang diharapkan dapat pula
melaksanakan good governance dan clean government menuju
good corporate governance yang sebenarnya;
c) Terdapatnya contoh pelaksanaan good corporate governance
yang tepat (best practices) yang dapat menjadi standar
pelaksanaan good corporate governance yang efektif dan
profesional;
d) Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung
penerapan good corporate governance di masyarakat. Ini
penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi aktif
berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta
sosialisasi good corporate governance secara sukarela; dan
e) Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat
keberhasilan implementasi Good Corporate Governance
terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi
yang berkembang di lingkungan publik dimana perusahaan
beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas pendidikan dan
perluasan peluang kerja. Bahkan dapat dikatakan bahwa
perbaikan lingkungan publik sangat mempengaruhi kualitas dan
skor perusahaan dalam implementasi good corporate
governance

Pengaruh ROE dalam memediasi tax avoidance terhadap nilai perusahaan (skripsi, tesis, disertasi)

Profitabilitas atau laba secara teoritis mempengaruhi hubungan antara tax
avoidance dengan nilai perusahaan. Laba merupakan komponen laporan keuangan
yang disediakan dengan tujuan membantu menyediakan informasi untuk menilai
kinerja manajemen, mengestimasi kemampuan laba yang representative dalam
jangka panjang dan menaksir resiko dalam investasi atau kredit.
Dengan menggunakan rasio yang digunakan sebagai proxy dari profitabilitas
perusahaan adalah return on equity (ROE), karena menurut Susilowati (2011),
return on equity (ROE) merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri, sehingga ROE sering disebut
dengan rentabilitas modal sendiri. Rasio ini diperoleh dengan membagi laba
setelah pajak dengan modal sendiri. ROE dapat menunjukkan kinerja perusahaan
semakin baik dan berdampak pada meningkatnya harga saham perusahaan.
Karena dengan adanya laba tersebut sebagai variabel intervening maka secara
tidak langsung tax avoidance dapat mempengaruhi nilai perusahaan.

Partial Least Square (PLS) (skripsi, tesis, disertasi)

Metode Partial Least Square (PLS) merupakan soft model yang dapat menjelaskan struktur
keragaman data. Partial Least Square (PLS) dapat dilihat sebagai bentuk yang saling berkaitan
dengan Prinsip Component Regression (PCR). Model yang dihasilkan oleh metode Partial Least
Square (PLS) mengoptimalkan hubungan antara dua kelompok variabel. Pendugaan model
hubungan Y dengan X dan pendugaan nilai Y tertentu menggunakan suatu algoritma. Proses
penentuan model dilakukan secara iterasi dengan melibatkan keragaman pada variabel X dan
Y. Struktur ragam dalam Y mempengaruhi perhitungan komponen kombinasi linear dalam X
dan sebaliknya, struktur ragam dalam X berpengaruh terhadap kombinasi linear dalam Y
(Bilfarsah, 2005).
Pada dasarnya Partial least square (PLS) memodelkan hubungan variabel Y dengan variabel X
berdasarkan variabel internal.

Minat Beli (skripsi, tesis, disertasi)

Minat beli didefinisikan sebagai kemungkinan seseorang untuk berniat
membeli suatu produk setelah konsumen merasa tertarik, membutuhkan dan ingin
memiliki suatu produk tertentu yang dilihatnya. Minat beli ini berasal dari
keinginan dan kebutuhan konsumen untuk memakai atau memiliki produk atau
jasa yang telah ditawarkan oleh perusahaan (Puspitasari & Soenhadji, 2010).
Minat beli merupakan tahapan kecenderungan konsumen untuk bertindak
sebelum keputusan membeli dilakukan. Minat beli dapat dikerucutkan arti
menjadi niat untuk melakukan pembelian pada suatu barang atau jasa yang telah
diinginkan atau menjadi kebutuhan bagi konsumen (Suradi dkk, 2012).
Minat beli konsumen dapat diartikan sebagai kegiatan individu yang
secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa
termasuk didalamnya proses pengambilan suatu produk. Artinya minat beli
merupakan tindakan dan hubungan sosial yang dilakukan oleh konsumen
perorangan atau kelompok ataupun suatu organisasi untuk menilai, memperoleh
dan menggunakan barang atau jasa melalui proses pertukaran atau pembelian
yang diawali dari proses pengambilan keputusan yang menentukan tindakantindakan tersebut (Suradi dkk, 2012).
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli berhubungan dengan
perasaan dan emosi, bila seseorang merasa senang dan puas dalam membeli
barang atau jasa maka akan memperkuat minat beli konsumen. Selain perasaan
dan emosi, faktor lain yang mempengaruhi minat konsumen adalah keinginan
untuk membeli, minat beli yang didasarkan pada pengalaman dalam memilih dan
membeli serta menggunakan suatu produk (Kotler & Keller, 2009:181).
Senada dengan Suradi dkk (2012), menjelaskan bahwa minat beli
dipengaruhi oleh emosi seseorang yang ingin dan membutuhkan barang atau jasa
yang dapat didasarkan pada pengalaman pribadi yang datang dari dalam atau luar,
misalnya pengalaman orang lain yang sudah memakai produk tersebut.
Pendapat lain dijelaskan oleh Ujianto & Abdurachman (2004),
mengemukakan bahwa minat beli konsumen dipengaruhi oleh budaya (culture),
sosial (social), pribadi (personal) dan psikologi (psychology). Faktor tersebut
merupakan faktor pendorong minat konsumen untuk melakukan proses
pengambambilan keputusan dalam memutuskan membeli atau tidaknya suatu
barang atau jasa. Simamora (2002:94), menjelaskan bahwa minat beli dipengaruhi
oleh keinginan seseorang untuk melakukan pembelian, pemilihan produk yang
tepat dengan kebutuhan, pengalaman dalam menggunakan produk, keinginan
untuk memiliki produk.
Minat merupakan selera masing-masing orang yang menjadi dasar
pemilihan sesuatu, minat membeli menunjukkan pada kecenderungan seseorang
untuk lebih menyukai produk dengan merek tertentu. Untuk pengukuran empiris
faktor minat konsumen didekati dengan: (a) ketertarikan pada promosi produk; (b)
keinginan memakai produk; (c) pengaruh lingkungan konsumen. Minat membeli
adalah pemusatan perhatian terhadap sesuatu yang disertai dengan perasaan
senang terhadap barang tersebut, kemudian minat individu tersebut menimbulkan
keinginan sehingga timbul perasaan yang meyakinkan bahwa barang tersebut
mempunyai manfaat sehingga individu ingin memiliki barang tersebut dengan
cara membayar atau menukar dengan uang (Fauzan, 2010:8).
Adapun indikator-indikator minat beli menurut Astuti (2010) sebagai
berikut: (a) Ketertarikan, yaitu ketertarikan konsumen yang menimbulkan rasa
senang, puas, dalam diri seseorang yang dapat membangkitkan rasa ingin
membeli; (b) Perhatian, yaitu keaktifan pikiran, akal, ingatan yang dapat
membangkitkan rasa ingin membeli; dan (c) Pencarian informasi, yaitu adanya
rasa ingin tahu yang membangkitkan rasa ingin membeli.
Ferdinand (2002:129), minat beli dapat diidentifikasi melalui indikatorindikator sebagai berikut:
a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk.
b. Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain.
c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya
dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk prefrensinya.
d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu
mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi
untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut. Pemaparan teori
minat beli diatas,

Dimensi Adaptabilitas Karir (skripsi, tesis, disertasi)

Menurut Savickas & Profeli, Adaptabilitas karir dapat dilihat melalui empat dimensi (dalam Journal of Vocational Behavior, 2009), yaitu : a. Perhatian (Concerned) Menjelaskan tentang kecenderungan seseorang untuk memiliki kesadaran dalam mempersiapkan, merencakan dan mengembangkan karir yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. b. Kontrol (Control) Menjelaskan tentang bagaimana individu mengontrol dan membentuk diri agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kontrol membuat individu memiliki tanggung jawab dalam karirnya. c. Keingintahuan (Curiosity)  Menjelaskan tentang bagaimana mencari tahu informasi dan cara mengembangkan karir. Keingintahuan membantu individu meningkatkan peluang sosial untuk karirnya. d. Kepercayaan diri (Confidence) Menjelaskan tentang kemampuan individu dalam mempertahankan pendapatnya serta dapat memecahkan masalah ketika menghadapi hambatan dan rintangan.

Pengertian Minat Beli (skripsi, tesis, dan manajemen)

Menurut (Kotler & Keller, 2013:137) minat beli didefinisikan sebagai perilaku konsumen yang muncul sebagai respon terhadap objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian. Pengertian lain dari (Durianto, 2013) minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli produk tertentu, serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu.Sedangkan menurut Nugroho (2013:342) minat beli adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi duaatau lebih prilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya. Minat yang muncul dalam melakukan pembelian dapat menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan bisa menjadi suatu kegiatan yang sangat kuat dan jika pada akhirnya ketikaseorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya, maka konsumen akan mengaktualisasi apa yang ada dalam benaknya tersebut (Ferdinand, 2014:189).

Dimensi Fasilitas (skripsi tesis dan disertasi)

Weerasinghe dan Fernando (2018), terdapat tiga dimensi fasilitas yangdapat mengukur dan mengevaluasi fasilitas, yaitu:1.Penampilan dan keadaan yaitu bentuk fisik untuk mendukung keamanan dan kenyamanan pelanggan.2.Sarana dan prasarana yaitu sarana merupakan segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai tujuan, sedangkan prasarana merupakan segala sesuatu yang menunjang utama terselenggaranya suatu proses.3.Perlengkapan dan peralatan yaitu segala sesuatu yang menunjukan eksistensinya kepada eksternal yang bertujuan untuk mendukung kenyamanan pelanggan.

Definisi Kualitas Pelayanan (skripsi tesis dan disertasi)

 Kualitas pelayanan menurut Gevan (dalam Sunarto, 2004) merupakan perbandingan subyektif yang dibuat oleh konsumen antara kualitas pelayanan yang ingin diterima dengan apa yang didapatkan oleh konsumen secara nyata. Menurut Tjiptono (1997) kualitas pelayanan merupakan perilaku yang nyata diberikan oleh perusahaan yang memiliki hubungan erat dengan kepuasan konsumen, serta dapat mendorong konsumen untuk menjalin hubungan yang kuat dengan perusahaan dan dengan adanya ikatan dalam waktu panjang perusahaan akan memahami terus kebutuhan konsumen dan harapan pelanggan. Kualitas pelayanan juga merupakan gambaran perbedaan antara harapan harapan dari pelayanan oleh pelanggan dan pelayanan yang dirasakan. Jika harapan yang dirasakan oleh konsumen lebih besar dari kinerja dan mutu yang dirasakan juga kurang memuaskan sehingga dapat menyebabkan ketidakpuasan konsumen dapat terjadi (Parasuraman dalam Sunarto, 2006) Kualitas pelayanan menurut Roesanto (dalam Iswayanti, 2010) merupakan penilaian-penilaian yang mengacu pada inti pelayanan yaitu si pemberi layanan itu sendiri atau seluruh organisasi pelayanan yang mampu memenuhi tuntunan konsumen yang bukan hanya mementingkan produk yang bermutu tetapi konsumen yang lebih senang menikmati kenyamanan pelayanan yang diberikan. Menurut Tjiptono (2002) kualitas pelayanan merupakan suatu kondisi yang dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen. Kualitas sangat banyak mengandung pengertian, antara lain bahwa kualitas mengandung banyak kesesuaian, kecocokan untuk pemakaian, perbaikan berkelanjutan, bebas dari kerusakan/cacat, pemenuhan kebutuhan konsumen sejak awal dan setiap saat, melakukan sesuatu secara benar atau sesuatu yang bisa membahagiakan konsumen. Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan konsumen, dengan demikian penyedia jasa dapat meningkatkan kepuasan konsumen dengan meminimkan atau meniadakan pengalaman konsumen yang kurang menyenangkan (Wyckof dalam Hardiyati 2010). Menurut Kasmir (dalam kusuma, 2009) kualitas pelayanan adalah tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Pelayanan merupakan suatu kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain yang menyediakan kepuasan kepada konsumen. Mengacu pada pengertian kualitas layanan, konsep kualitas layanan adalah suatu daya tanggap dan realitas dari jasa yang diberikan perusahaan. Kualitas pelayanan harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan (Kotler, 2008). Menurut Zethaml dan Bitner (1996) kualitas pelayanan (jasa) merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan, dengan demikian ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas pelayanan (jasa) yaitu bagaimana kualitas yang diharapkan oleh konsumen dan bagaimana nantinya kualitas pelayanan yang dirasakan oleh konsumen. Kualitas pelayanan mengacu pada penilaian-penilaian pelanggan tentang inti pelayanan, yaitu pemberi pelayanan itu sendiri atau keseluruhan organisasi pelayanan, sebagian besar masyarakat sekarang mulai menampakkan tuntutan terhadap pelayanan prima, mereka bukan lagi sekedar membutuhkan produk yang bermutu tetapi mereka lebih senang menikmati kenyamanan pelayanan (Roesanto dalam Nanang Tasunar, 2005). Moonir (dalam Jaya, 2013) menyatakan secara umum pelayanan yang baik merupakan pelayanan yang cepat, jujur dan terbuka. Pelayanan yang secara umum didambakan oleh masyarakat adalah kemudahan dalam pengurusan kepentingan, mendapatkan pelayanan yang wajar, mendapatkan perlakuan yang sama tanpa pilih kasih dan mendapatkan perlakuan yang jujur dan terus terang. Kualitas pelayanan juga merupakan upaya penyampaian jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaian untuk mengimbangi harapan konsumen (Tjiptono, 2002). Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kualias pelayanan merupakan keunggulan yang dimiliki oleh perusahaan kemudian keunggulan tersebut dapat dikendalikan untuk terus dapat memenuhi kebutuhan konsumen

Pengertian Pemasaran (skripsi tesis dan disertasi)

Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan
oleh perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam
upayamempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Hal tersebut disebabkan
karena pemasaran merupakan salah satu kegiatan perusahaan, dimana secara
langsung berhubungan dengan konsumen. Maka kegiatan pemasaran dapat
diartikan sebagai kegiatan manusia yang berlangsung dalam kaitannya dengan
pasar, pemasaran juga memiliki aktivitas penting dalam menganalisis dan
mengevaluasi segala kebutuhan dan keinginan para konsumen yang juga meliputi
segala aktivitas di dalam perusahaan. Dalam arti lain pemasaran adalah sebuah
kerangka perusahaan yang telah dirancang untuk penyampaian nilai dari sebuah
barang atau jasa secara langsung kepada konsumen dalam rangka pencapaian
tujuan perusahaan. Berikut adalah para ahli pemasaran mendefinisikan pemasaran,
Menurut Kotler dan Keller (2016:27) mendefinisikan pemasaran sebagai
berikut:
“Marketing is meeting needs profitability”, maksud ungkapan tersebut
adalah pemasaran merupakan hal yang dilakukan untuk memenuhi setiap
kebutuhan (kebutuhan konsumen) dengan cara-cara yang menguntungkan
semua pihak.
Sedangkan menurut Buchary Alma dan Djaslim Saladin (2010:2),
menyatakan bahwa pemasaran sebagai berikut :
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial menyangkut individu
atau kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui
penciptaan, penawaran dan pertukaran (nilai) produk dengan yang lain.
Lain halnya dengan definisi formal yang ditawarkan America Marketing
Association (AMA) yang dikutip oleh Kotler dan Keller (2016:27) sebagai
berikut:
“Marketing is the activity, set of institutions, and processes for creating,
communicating, delivering, and exchanging offerings that have value for
customers, clients, partners, and society at large.”
Berdasarkan uraian yang dikemukakan para ahli pemasaran, penulis
sampai pada pemahaman bahwa pemasaran adalah suatu aktivitas social dan
manajerial yang dilakukan perusahaan secara terorganisir dalam proses
menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberi nilai kepada konsumen, baik
secara individu atau kelompok guna memenuhi kebutuhan dan keinginan
konsumen yang bervariasi melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran nilai
produk dengan yang lain serta memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal (skripsi, tesis, dan disertasi)

Struktur aktiva adalah penentuan berapa besar alokasi untuk masing-masing komponen aktiva, baik dalam aktiva lancar maupun aktiva tetap (Syamsudin, 2007:9). Titman dan Wessels (1998) dalam Eka Amelia dan Andayani (2015) menyatakan bahwa struktur aktiva menggambarkan sebagian jumlah aktiva yang dimiliki perusahaan. Secara umum, perusahaan yang memiliki jaminan terhadap hutang akan lebih mudah mendapatkan hutang dari pada perusahaan yang tidak memiliki jaminan terhadap hutang. Pada umumnya, perusahaan yang memiliki proporsi struktur aktiva yang lebih besar kemungkinan juga akan lebih mapan dalam industri, memiliki risiko yang lebih kecil, dan akan menghasilkan tingkat leverage yang besar.

Laporan Keuangan (skripsi tesis dan disertasi)

Laporan keuangan dalam Ardhianto (2019:75) merupakan laporan yang disusun secara lengkap dan terperinci bertujuan untuk memberikan informasi kuantitatif mengenai posisi keuangan
perusahaan dan perubahan-perubahannya, serta hasil yang dicapai selama periode tertentu. Laporan keuangan utama meliputi:a.Laporan laba rugi, yaitu laporan yang memberikan informasi mengenai pendapatan, beban, dan laba atau rugi perusahaan dalam suatu periode.b.Laporan perubahan ekuitas, yaitu laporan yang menyajikan perubahan modal karena adanya penambahan atau pengurangan yang berasal dari laba rugi dan transaksi pemilik.c.Neraca, yaitu laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan yang meliputi aktiva, kewajiban, dan ekuitas pada periode tertentu.d.Laporan arus kas, yaitu laporan yang menggambarkan penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu.e.Catatan atas laporan keuanganMenurut Bahri (2020:187) laporan keuangan merupakan ringkasan atas pencatatan transaksi keuangan yang terjadi selama periode palaporan yang bertujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas yang dibebankan kepadanya oleh pemilik entitas. Terdapat beberapa jenis laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi, yaitu:a)SAK ETAP terdiri dari laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.b)SAK terdiri dari laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, laporan posisi keuangan, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

Pengendalian Persediaan (skripsi tesis dan disertasi)

Menurut Ristono, A. (2008) pengendalian persediaan merupakan suatu
usaha memonitoring dan menentukan tingkat komposisi bahan yang optimal
dalam menunjang kelancaran dan efektivitas serta efisiensi dalam kegitan
perusahaan
Pengendalian persediaan dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan untuk
menentukan tingkat dan komposisi dari pada persediaan parts, bahan baku dan
barang hasil produksi, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran
produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan
dengan efektif dan efisien (Assauri (2004), dalam Wardani, P. S. (2015)).
Pengendalian persediaan perlu diperhatikan karena berkaitan langsung dengan
biaya yang harus ditanggung perusahaan sebagai akibat adanya persediaan.
Oleh sebab itu persediaan yang ada harus seimbang dengan kebutuhan.

Definisi Kepuasan Kerja (Skripsi, tesis, dan disertasi)

Kepuasaan kerja adalah tingkat kesenangan yang dirasakan oleh seseorang atas peranan atau pekerjaannya dalam organisasi. Kepuasaan kerja adalah tingkat rasa puas individu bahwa mereka dapat imbalan yang setimpal dari bermacam-macam aspek situasi pekerjaan dari organisasi tempat mereka bekerja. Jadi kepuasaan kerja menyangkut psikologis individu didalam organisasi, yang diakibatkan oleh keadaan yang ia rasakan dari lingkungannya. Kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya, senang atau tidak senang, puas, atau tidak puas dalam bekerja (Rivai, 2005).Menurut Handoko(2000 dalam Tangkilisan) mengemukakan bahwa kepuasaan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dari para karyawan dalam memandang pekerjaan mereka (Tangkilisan, 2005).Menurut Locke (1976 dalam Kaswan) memberikan definsi komprehensif dari kepuasaan kerja yang meliputi reaksi atau sikap kognitif, afektif, dan evaluatif dan menyatakan bahwa kepuasaan kerja adalah keadaan emosi yang senang atau emosi positif yang bersal dari penialian pekerajaan atau pengalaman kerja seorang. Kepuasaan kerja adalah hasil dari persepsi karyawan mengenai
seberapa baik pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting (Kaswan,2012).Menurut Robbins (2003 dalam Wibowo)kepuasaan kerja adalah sikap umum terhadap pekerjaan seseorang, yang menunujukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima(Wibowo, 2010). Menurut Handoko dan Asa’ad (1987 dalam Umar) mendefinisikan kepuasaan kerja sebagai penilaian atau cerminan dari perasaan pekerja terhadap pekerjaannya. Hal ini tampak dalam sikap positif pekerja terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi lingkungan kerjanya (Umar, 2000). Menurut Jewell dan Siegall (1998) kepuasan kerja adalah sikap yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi kerja dan merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang bermacam-macam. Kepuasan kerja erat kaitannya dengan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan menurut cara karyawan memandang pekerjaannya. (Jewell dan Siegall, 1998).Kepuasan kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Kepuasan kerja karyawan harus diciptakan sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan karyawan meningkat. Karyawan sendiri menurut Hasibuan adalah setiap orang yang bekerja dengan menjual tenaganya (fisik dan pikiran) kepada suatu perusahaan dan memperoleh imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan (Hasibuan, 2000).
Untuk lebih memahami kepuasaan kerja yang lebih komperehensif berikut ini disajikan pengertian kepuasaan kerja dalam berbagai kepustakaan.1.Kepuasaan kerja dan sikap umum terhadap pekerjaan seorang yang menunjukan perbedaan anatarajumlah penghargaan yang diterimadengan yang seharusnya diterima.2.Kepuasaaan kerja adalah sikap positif atau negatif yang dilakukan individu terhadap pekerjaan.3.Kepuasaan kerja adalah pemikiran, perasaan, dan kecenderungan tindakan seseorang yang meruapakan sebagaian dari pekerjaan tersebut.4.Kepusaan kerja dalah respon affetive atau emosional terhadap berbagai segi pekerjaan.(Sinambela, 2012)

Definisi Komitmen Organisasi (Skripsi, tesis, dan disertasi)

Dalam suatu organisasi seorang karyawan haruslah memiliki komitmen organisasi didalamnya, sehingga dapat diharapkan bahwa karyawan yang bekerja memiliki rasa tanggung jawab dalam tercapainya suatu tujuan organisasi. Komitmen organisasi sendiri adalah suatu hubungan timbal balik antara karyawan yang bekerja dengan organisasi dalam pelaksanaannya dan dapat menghasilkan ikatan yang tinggi.
Komitmen organisasi sering dikaitkan dengan keadaan di mana seorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Pada suatu perusahaan, komitmen organisasi berfungsi sebagai salah satu cara dalam upaya menjaga kelangsungan hidup organisasi, dimana di dalamnya menyangkut rasa keterikatan, keterlibatan, dan keikut sertaan karyawaan dalam berbagai aktivitas organisasi.Berikut ini adalah beberapa definisi komitmen organisasi menurut para ahli. Robbins (2007) bahwa komitmen organisasional adalah suatu sikap merefleksikan perasaan suka atau tidak suka dari karyawan terhadap organisasi. Kemudian menurut Mowday (1982) dalam Sopiah (2008)bahwa komitmen organisasi merupakan dimensi perilaku penting yang dapat digunakan untuk menilai kecenderungan karyawan untuk bertahan sebagai anggota organisasi. Komitmen organisasi merupakan identifikasi dan keterlibatan seseorang yang relatif kuat terhadap organisasi.Komitmen organisasi adalah keinginan angota organisasi untuk tetap mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi dan bersedia berusaha keras bagi pencapaian tujuan organisasi. Selanjutnya menurut Steers dan Porter (1982) dalam Sopiah (2008) suatu bentuk komitmen yang muncul bukan hanya\bersifat loyalitas yang pasif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi kerja yang memiliki tujuan memberikan segala usaha demi keberhasilan organisasi yang
bersangkutan. Sedangkan menurut Blau dan Boal (1995) dalam Sopiah (2008) bahwa komitmen organisasional didefinisikan sebagai suatu sikap yang merefleksikan perasaan suka atau tidak suka dari karyawan terhadap organisasi.Allen dan Meyer (1997) dalam Sopiah (2008) menyatakan bahwa komitmen organisasional merupakan keyakinan yang menjadi pengikat pegawai dengan organisasi tempatnya bekerja, yang ditunjukkan dengan adanya loyalitas, keterlibatan dalam pekerjaan, dan identifikasi terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. Terdapat tiga definisi dalam komitmen organisasional, yaitu: 1)Komitmen Afektif (Affective Commitment)Komitmen yang dimiliki karyawan karena adanya perasaan emosional, identifikasi dan keterlibatannya organisasi terhadap nilai-nilai di dalamnya. Karyawan memiliki keyakinan, keinginan atau kemauan untuk bekerja bukan berdasarkan pertimbangan ekonomi melainkan keinginannya dari dalam sendiri. 2)Komitmen Berkelanjutan (Continuance Commitment) Komitmen yang dimiliki karyawan berdasarkan adanya imbalan yang ditanggung atau nilai ekonomi jika ia meninggalkan organisasinya. Karyawan akan memiliki komitmen untuk bertahan pada pekerjaannya karena ia merasa membutuhkannya atau atas dasar kebutuhan.
3)Komitmen Normatif (Normative Commitment) Komitmen karyawan yang berkaitan dengan kewajiban untuk tetap bertahan dalam organisasi karena alasan-alasan moral atau etis. Hal ini seorang karyawan mengambil keputusan untuk bertahan dalam organisasi adalah suatu keharusan atau kewajiban moral

Objek Biaya (skripsi tesis dan disertasi)

Menurut Daljono (2011) “Objek biaya adalah sesuatu seperti produk, aktivitas, proyek, departemen dan lain sebagainya, yang mana biaya tersebut dimasudkan untuk diukur. Adapun menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2006) “Objek biaya atau tujuan biaya (cost objectif) adalah tempat dimana biaya atau aktivitas diakumulasikan atau diukur”. Objek biaya adalah sesuatu seperti produk, aktivitas, proyek, departemen dan lain sebagainya atau tujuan biaya adalah tempat dimana biaya atau aktivitas diakumulasikan atau diukur apa saja yang memperoleh pembebanan biaya

Manfaat Penelitian Kuantitatif

1. Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis merupakan manfaat yang berhubungan dengan pengembangan ilmu, dalam hal ini adalah ilmu linguistik. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam pengembangan ilmu bahasa, khususnya dalam bidang pragmatik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan mengenai studi tentang pelanggaran prinsip kesantunan dan implikatur percakapan berdasarkan pelanggaran prinsip kesantunan khususnya dalam tuturan yang bersifat komedi.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis merupakan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini oleh peneliti itu sendiri dan pembaca. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pembaca mengenai pemahaman terhadap percakapan di dalam komik berbahasa Jawa ngapak, terutama dalam memahami prinsip kesantunan dan implikatur percakapan berdasarkan pelanggaran prinsip kesantunan dalam komik Banyumasan. Dengan cara menganalisis secara langsung tuturan yang ada di dalam komik tersebut. Selain itu, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.

Macam-Macam Metode Penelitian Kuantitatif Selanjutnya

1. Korelasi

Metode Korelasional merupakan salah satu dari macam-macam metode penelitian kuantitatif yang digunakan dalam evaluasi. Terutama untuk mendeteksi sejauh mana variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefesian korelasi.

Macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti korelasional adalah penelitian dengan tujuan untuk mendeteksi tingkat kaitan variasi-variasi yang ada dalam suatu faktor dengan variasi-variasi dalam faktor yang lain dengan berdasarkan pada koefisien korelasi.

2. Deskriptif

Metode deskriptif merupakan salah satu macam-macam metode penelitian kuantitatif dengan suatu rumusan masalah yang memadu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas, dan mendalam. Macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti deskriptif ini bertujuan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat.

3. Kausal Komparatif

Metode penelitian kausal komparatif merupakan salah satu dari macam-macam metode penelitian kuantitatif. Nama populer dari macam-macam metode penelitian kuantitatif ini adalah ex-post facto. Metode Kausal komperatif digunakan dalam evaluasi untuk mengetahui kemungkinan hubungan sebab-akibat.

Proses dari macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti kasual komparatif adalah dengan pengamatan terhadap akibat yang ada dengan mencari faktor-faktor penyebabnya. Melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya, kemudian mencari kemungkinan variabel penyebabnya.

4. Komparatif

Macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti yang komparatif berfungsi membandingkan dua perlakuan atau lebih dari suatu variable, atau beberapa variabel sekaligus. Tujuan macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti komparatif ini untuk melihat perbedaan dua atau lebih situasi, peristiwa, kegiatan, atau program.

Perbandingan yang dilihat dari bagaimana seluruh unsur dalam komponen penelitian terkait antara satu sama lain. Perhitungan yang digunakan macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti komparatif adalah berupa persamaan dan perbedaan dalam perencanaan, pelaksanaan, serta faktor pendukung hasil. Bagaimana unsur pembentuk hasil penelitian dapat menjadi latar belakang dari hasil penelitian tersebut.

Macam-Macam Metode Penelitian Kuantitatif

1. Korelasi

Metode Korelasional merupakan salah satu dari macam-macam metode penelitian kuantitatif yang digunakan dalam evaluasi. Terutama untuk mendeteksi sejauh mana variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefesian korelasi.

Macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti korelasional adalah penelitian dengan tujuan untuk mendeteksi tingkat kaitan variasi-variasi yang ada dalam suatu faktor dengan variasi-variasi dalam faktor yang lain dengan berdasarkan pada koefisien korelasi.

2. Deskriptif

Metode deskriptif merupakan salah satu macam-macam metode penelitian kuantitatif dengan suatu rumusan masalah yang memadu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas, dan mendalam. Macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti deskriptif ini bertujuan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat.

3. Kausal Komparatif

Metode penelitian kausal komparatif merupakan salah satu dari macam-macam metode penelitian kuantitatif. Nama populer dari macam-macam metode penelitian kuantitatif ini adalah ex-post facto. Metode Kausal komperatif digunakan dalam evaluasi untuk mengetahui kemungkinan hubungan sebab-akibat.

Proses dari macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti kasual komparatif adalah dengan pengamatan terhadap akibat yang ada dengan mencari faktor-faktor penyebabnya. Melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya, kemudian mencari kemungkinan variabel penyebabnya.

4. Komparatif

Macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti yang komparatif berfungsi membandingkan dua perlakuan atau lebih dari suatu variable, atau beberapa variabel sekaligus. Tujuan macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti komparatif ini untuk melihat perbedaan dua atau lebih situasi, peristiwa, kegiatan, atau program.

Perbandingan yang dilihat dari bagaimana seluruh unsur dalam komponen penelitian terkait antara satu sama lain. Perhitungan yang digunakan macam-macam metode penelitian kuantitatif seperti komparatif adalah berupa persamaan dan perbedaan dalam perencanaan, pelaksanaan, serta faktor pendukung hasil. Bagaimana unsur pembentuk hasil penelitian dapat menjadi latar belakang dari hasil penelitian tersebut.

Contoh Metode Penelitian Sosial

Contoh metode penelitian sosial ada berbagai macam. Model penelitian yang kerap dilakukan adalah metoda longitudinal, studi kasus, etnografi, pengamatan, wawancara, eksperimental, survey dan metoda deskriptif. Dengan banyaknya pilihan contoh metode penelitian akan memudahkan para peneliti untuk memilih jenis metode yang tepat bagi riset yang tengah dilakukannya.

Metode riset sosial adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial. Penelitian dimulai dengan mengumpulkan bahan dan data. Kemudian data diolah secara sistematis dan ilmiah. Hingga dapat ditarik sebuah kesimpulan tentang fakta di sosial dan pemecahannya.

Berikut ini contoh-contoh metode penelitian sosial yang bisa anda terapkan pada penelitian yang tengah anda laksanakan.

1.Metode Penelitian Deskriptif

Metode ini hanya bersifat menggambarkan sesuatu yang tengah terjadi di masyarakat. Para pakar sering menyebutnya sebagai metode naratif. Hal utama yang didapatkan tulisan atau wawancara deskriptif yang menguraikan objek yang tengah diriset secara mendalam.

Penelitian ini akan memberikan gambaran apa yang menjadi fenomena di masyarakat , apa saja pemicunya dan bagaimana cara mengatasinya. Selain menggunakan metode narasi seringkali diperkuat dengan observasi secara langsung.

2.Metode Penelitian Survey

Metode riset sosial yang tak kalah populer adalah metode survey. Beberapa permasalahan sosial di tengah masyarakat dapat diselesaikan dengan baik menggunakan metode survey.

Namun sama seperti metode penelitian yang lainnya, tingkat keakuratan data tidak seratus persen. Tingkat kesalahan masih ada tapi sangat kecil prosentasenya. Contoh metode penelitian survey dapat dilakukan dengan menggunakan teknik angket maupun kuisioner.

Macam-Macam Metode Penelitian Sosial

Setiap ilmu bisa diteliti dan melahirkan ilmu baru lainnya. Dengan adanya penelitian maka ilmu-ilmu akan berkembang lebih bagus lagi. Inilah salah satu manfaat dari adanya metode riset sosial. Yang melakukan penelitian disebut peneliti. Sedangkan yang diteliti adalah objek masalah

Berikut ini macam-macam metode penelitian sosial yang umum berlaku dan banyak digunakan.

1.Metode Penelitian Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah sebuah sistem riset untuk mendapatkan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi dengan cara elegan, sistematis, dan ilmiah. Metode ini berlawanan dengan metode riset dan pengalaman. Untuk mengumpulkan data bagi penelitian menggunakan sistem gabungan. Untuk hipotesa yang dihasilkan cenderung pada arti khusus ketimbang umum.

Yang membedakan antara metode penelitian kuantitatif dengan kualitatif adalah dari segi pendekatannya. Pengumpulan bahan atau data dari metode penelitian kuantitatif bersifat terukur. Contoh metode riset sosial jenis ini seperti frekuensi tindakan, besaran gaji, teknik korelasi, gambaran statistik, dan lain-lain.

2.Metode Penelitian Kualitatif

Metode penelitian kualitatif adalah riset yang dilakukan berdasarkan fakta di lapangan yang meliputi banyak hal. Seperti dalam mengumpulkan bahan menggunakan teknik visual, interaksional atau wawancara, historis, mengamati, teks sumber referensi, perjalanan hidup, introspeksi, pengalaman, dan studi kasus empiris.

Demikianlah macam-macam metode penelitian sosial maupun pengertian teknik penelitian kuantitatif dan kualitatif. Persamaannya sangat jelas dan juga perbedaannya. Namun yang membedakannya sangat mudah karena metode penelitian kuantitatif mendasarkan pada penelitian yang bersifat keluasan data.

Contoh penelitian yang pas bagi metode ini adalah populasi. Hal ini berbeda dengan metode penelitian kualitatif yang lebih memfokuskan pada kualitas penelitian dan data. Para peneliti fenomena sosial akan membiasakan diri pada penggunaan metode riset sosial yang tepat bagi suatu masalah. Ia bisa menggunakan metode penelitian kualitatif maupun kuantitatif.

Syarat-Syarat Penelitian Sosial

Penelitian sosial tak dapat dilakukan secara terburu-buru. Semua harus dilakukan secara sistematis dan terdapat beberapa persyaratan sebagai berikut, antara lain :

  1. Mengikuti kaidah ilmiah yang logis atau masuk akal
  2. Terencana
  3. Terstruktur
  4. Sistematis
  5. Empiris

Manfaat Penelitian Sosial

Teknik penelitian sosial adalah sebuah riset yang dilakukan secara sistematis dan tersusun dengan baik. Penelitian ini sangat populer dengan beragam manfaat. Lalu apa saja manfaat penelitian sosial? Berikut ini kumpulan manfaat metode penelitian sosial bagi masyarakat secara umum, antara lain:

  1. Media untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih sempurna. Kemudian ilmu itu bisa dikembangkan lebih lanjut lagi
  2. Menjelaskan secara sistematis atau sebuah kejadian yang terdapat di sosial masyarakat beserta pemecahan solusinya
  3. Memberikan penjelasan lengkap tentang peristiwa yang berlangsung di masyarakat. Dari mulai penyebab, dan cara mengatasinya.

Pengertian Metode Penelitian

Dengan penjelasan inilah, dapat dikatakan pengertian metode penelitian sangat luas. Beberapa pakar mencoba memberikan definisinya. Berikut ini pandangan para pakar mengenai definisi metode penelitian yang sebaiknya anda tahu.

1.Kamus Webster

Metode penelitian merupakan bagian dari proses untuk menyelidiki suatu objek tertentu untuk mendapatkan pengetahuan darinya secara terencana dan ilmiah.

2.Carter Good

Metode penelitian adalah upaya yang dilakukan untuk mendapatkan solusi atas permasalahan yang terjadi.  Sehingga bisa didapatkan kesimpulan atas fakta-fakta yang telah terjadi secara terstruktur dan sistematis.

3.Sanafiah Anwar

Metode penelitian adalah suatu kegiatan untuk menemukan masalah dan memecahkan masalah tersebut secara ilmiah.

PENELITIAN MENURUT TINGKAT EKSPLANASI

PENELITIAN DESKRIPTIF

adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau penghubungan dengan variabel yang lain.

Contoh : Penelitian mengenai penggunaan teknologi computer di beberapa SD di pedesaan

PENELITIAN KOMPARATIF

Merupakan suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Variabelnya masih sama dengan penelitian varabel mandiri tetapi untuk sample yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda.

Contoh : Penelitian mengenai kualitas air tanah di pedesaan dibandingkan di perkotaan.

PENELITIAN ASSOSIATIF

Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variable atau lebih. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala.

Contoh : Penelitian mengenai hubungan kelengkapan media pembelajaran dengan motivasi belajar siswa

PENELITIAN TERAPAN

Menurut Jujun S. Suriasimnatri, penelitian terapan bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang bersifat praktis. Gay prnah mengatakan bahwa, penelitian terapan bertujuan untuk menguji, menerapkan serta mengevaluasi masalah praktis. Jadi, penelitian terapan ini bersifat praktis dan aplikatif karena  penelitian ini berasal dari masalah yang nyata bukan dari masalah yang mendasar.

Contoh Penelitian Murni adalah Penelitian pendidikan yang berkaitan tentang bagaimana meningkatkan minat baca siswa, penelitian yang berkaitan dengan factor-faktor yang mempengaruhi motivasi siswa untuk belajar

PENELITIAN MURNI

Penelitian murni atau juga disebut penelitian dasar memiliki tujuan untuk mengembangkan teori yang tidak memiliki sifat praktis. Menurut Jujun S. Suriasumnatri, penilitian murni bertujuan untuk menemukan ilmu pengetahuan yang baru yang belum pernah di teliti.

Contoh Penelitian Murni adalah Penelitian tentang gen, DNA, penelitian yang berhubungan dengan penemuan dan pengembangan ilmu