Penelitian yang dilakukan karena ada masalah yang sangat jarang untuk di teliti. Sesuatu yang para peneliti tidak banyak melakukan penelitian.
B. PENELITIAN DESKRIPTIF
Tujuan penelitian ini adalah agar dapat memberikan sebuah penjelasan yang sangat rinci tentang masalah sosial yang bisa di jadikan sebagai objek penelitian. Kekuatan dari penelitian ini ada pada kualitas dan kuantitas kalimat yang di paparkan dalam hasil penelitian. Jika semakin banyak data maka akan semakin bagus sebuah penelitian tersebut.
C. PENELITIAN EKSPLANATORIS
Tujuan dari penelitian eksplanatoris adalah menguji sebuah teori ataupun hipotesa agar dapat memperkuat maupun sebaliknya dari penelitian sebelumnya.
Apa itu metodologi penelitian? Ternyata memiliki kegunaan yang luar biasa dalam dunia penelitian. Jika selama ini metodologi penelitian hanya untuk kepentingan akademis. Ternyata solusi atau hasil penelitian secara akademis, dapat memberikan solusi dan perubahan banyak ranah. Tidak hanya di ranah pendidikan, tetapi juga di ranah sosial, kedokteran. Salah satunya untuk kepentingan berikut kita simak.
1. Penelitian Murni : Mengembangkan Teori
Jadi kegunaan penelitiaan murni sebagai penelitian dasar yang sering digunakan untuk mengembangkan teori yang sudah ada menjadi lebih komprehensif dan lebih lengkap. Penelitian murni ini berbeda dengan penelitian terapan.
2. Penelitian terapan : Memecahkan Masalah pada Kehidupan Praktis
Jadi penelitian terapan adalah metodologi penelitian yang mendasarakan pada tingkat kegunannya. Penelitian ini lebih fokus pada memecahkan masalah pada kehidupan praktis.
Memecahkan masalah berdasarkan kejadian secara real di lingkungan sosial. Dengan kata lain, metode penelitian satu ini lebih tepat sasaran bagi masyarakat sekitar, karena tidak berpedoman pada teori (dimana untuk beberapa kasus, secara teoritis justru membatasi pengambilan solusi).
3. Penelitian aksi : Membuat Tindakan Khusus Sesuai Dengan Teori
Barangkali kamu jarang mendengar metodologi penelitian yang satu ini. Jadi penelitian aksi ini adalah penelitian yang ditujukan untuk membuat tindakan khusus sesuai dengan teori. Jadi telaah teoritis inilah yang dijadikan acuan atau pencarian solusi atas permasalahan yang ada.
Jadi memang metodologi tidak hanya sebagai pemecah masalah yang sifatnya studi kasus dan akademis. Tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memecahkan permasalahan yang dialami oleh masyarakat. Misalnya, bisa mengentaskan angka kemiskinan, memberikan solusi atas permasalahan kasus yang menghambat produktivitas warga, bisa menemukan obat dibidang kedokteran dan masih banyak kegunaan metodologi penelitian.
Metode kualitatif, yang merupakan metode riset yang memberikan penjelasan lebih analisis dan bersifat subjektif. Pada metode ini peneliti menggunakan perspektif dari partisipan sebagai gambaran yang diutamakan dalam memperoleh hasil penelitian.
Pada metode kualitatif biasanya menggunakan teknik penelitian berupa ovservasi, ekspreimen dan wawancara terbuka.
Jika pada metode kuantitatif datanya bersifat angka/skala, pada kualitatif datanya dapat berupa pendapat atau hasil pencatatan di lapangan.
2. Metode Kuantitatif
Kedua, kebalikan dari kualitatif, yaitu metode kuantitatif. Yaitu metode yang dilakukan secara sistematis dan menggunakan model-model yang bersifat matematis. Hipotesa dan teori yang digunakan biasanya berkaitan dengan fenomena alam. Sifat penelitian ini adalah objektif, dan analitis.
Untuk memperoleh data-data penelitian biasa digunakan beberapa metode seperti tes, pengujian dan wawancara terstruktur. Data penelitian yang di dapat berupa angka, skala maupun grafik yang bisa dihitung.
3. Metode Survey
Ketiga, metode survey adalah metode penelitian yang dikemas dan disusun berbentuk opini. Metode penelitian satu ini pun dimanfaatkan untuk membuat gambaran umum melalui sampel beberapa orang loh.
4. Metode Ekspos Facto
Keempat, metode ekspos facto, adalah metode penelitian yang berhubungan sebab –akibat.
5. Metode Deskriptif
Kelima, metode deskriptif metode penelitian yang mengambarkan peristiwa secara langsung ataupun tidak langsung. apa itu metodologi penelitian deskriptif dibagi menjadi dua, yaitu metode longitudinal dan cross sectional.
Tujuan metode penelitian diharapkan peneliti dapat memperoleh hasil penelitian yang berkompeten, berkredibel, tepat dan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan. Setidaknya dari penelitian yang dilakukan akan menjawab permasalahan yang sedang diteliti oleh penulis.
Dilihat dari segi jenis, metodologi penelitian pada dasarnya memiliki tiga kemanfaatan. Pertama,memperoleh pengetahuan atau penemuan baru. Kedua, dapat dimanfaatkan untuk membuktikan atau menguji kebenaran yang telah ada. Ketiga,membantu dalam mengembangkan pengetahuan lebih kaya dan lebih banyak.
Metodologi penelitian merupakan cara bagaimana kita melakukan penelitian. Penelitian adalah upaya untuk mendapatkan informasi dan melakukan investigasi data, guna mendapatkan ilmu pengetahuan atau menemukan ilmu baru.
Apa itu metodologi penelitian? Secara etimologi, metodologi penelitian akan menjelaskan secara teknis. Misalnya akan mengungkap cara, metode atau trik. Karena konteksnya adalah melakukan penelitian, maka dasar yang paling fundamental yang harus kamu miliki adalah mengetahui proses menjalankan penelitian.
Dalam arti sederhana lain metode penelitian dapat diartikan sebagai proses memilih cara yang spesifik untuk menyelesaikan permasalahan dalam menjalankan riset. Selama menjalankan riset membutuhkan waktu yang panjang, maka diperlukan yang namannya cara yang lebih sistematis.
Metodologi Penelitian Dan Rencana Tindakan Mengenai Kebijakan Prasekolah Siprus
Untuk lebih memahami kebijakan prasekolah Siprus dan terutama untuk belajar tentang pendidikan musik pada usia dini, empat pendidik Siprus diwawancarai.
Individu-individu ini memiliki berbagai perspektif dan pengalaman yang mencakup bidang-bidang dari berbagai tahap pendidikan: seorang guru kepala taman kanak-kanak; seorang guru TK; seorang kepala sekolah dari sekolah bahasa Inggris swasta (dari usia lima tahun sampai usia 18 tahun) kepala sekolah sebuah konservatori; seorang guru sekolah dasar.
Semua wawancara dilakukan selama dua bulan antara Juli 2010 dan Agustus 2010. Tujuan utama dari wawancara evaluasi ini adalah untuk membantu kami memahami betapa pentingnya pendidikan musik di Siprus dan untuk menyoroti kelemahan sistem pendidikan Siprus, mengenai materi musik, staf pendidikan, materi yang dapat digunakan dalam program musik prasekolah di masa depan.4.1 Metode
Alat penelitian yang berlaku dari investigasi ini didasarkan pada metodologi Wawancara Kualitatif untuk memperluas pemahaman TK dan pemikiran pendidik tentang pendidikan musik di Siprus. Meskipun berbagai hal dibahas dalam wawancara, fokusnya adalah pada pendapat aktual responden tentang kelemahan sistem pendidikan saat ini berdasarkan pengalaman mereka.
Untuk tujuan ini, serangkaian pertanyaan dibuat untuk memeriksa program baru atau perkembangan sekolah dan menyarankan perbaikan. Wawancara sangat berguna untuk mendapatkan cerita di balik pengalaman peserta dan dapat mengejar informasi mendalam tentang topik tersebut
Para pendidik dipanggil untuk menjawab serangkaian pertanyaan terbuka dan tertutup dalam urutan tertentu. Wawancara dilakukan secara individual sehingga setiap pendidik tidak akan terpengaruh oleh yang lain dan itu berlangsung sekitar sepuluh menit.
Lembaga akademik mungkin ingin 2 membandingkan kinerja siswa SMP-nya dalam bahasa Inggris dan Matematika. Ini dapat digunakan untuk mengklasifikasikan siswa berdasarkan 2 kelompok besar, dengan satu kelompok akan melanjutkan studi sementara kursus, sedangkan kursus studi lain di bidang Seni & Humaniora.
Siswa yang lebih mahir dalam matematika akan didorong untuk masuk ke STEM dan sebaliknya. Lembaga juga dapat menggunakan data ini untuk mengidentifikasi titik lemah siswa dan bekerja pada cara untuk membantu mereka.
Klasifikasi Ilmiah
Selama klasifikasi ilmiah utama tanaman, hewan, dan elemen tabel periodik, karakteristik dan komponen masing-masing subjek dievaluasi dan digunakan untuk menentukan bagaimana mereka diklasifikasikan.
Sebagai contoh, makhluk hidup dapat diklasifikasikan ke dalam kerajaan Plantae atau hewan kerajaan tergantung pada sifatnya. Klasifikasi lebih lanjut dapat mengelompokkan hewan menjadi mamalia, potongan, vertebra, invertebra, dll.
Semua klasifikasi ini merupakan hasil dari penelitian deskriptif yang menggambarkan apa itu
Kebiasaan manusia
Ketika mempelajari perilaku manusia berdasarkan faktor atau peristiwa, peneliti mengamati karakteristik, perilaku, dan reaksi, kemudian gunakan jika ingin menyimpulkan. Perusahaan yang mau menjual ke pasar sasaran perlu terlebih dahulu mempelajari perilaku pasar.
Ini dapat dilakukan dengan mengamati bagaimana targetnya bereaksi terhadap produk pesaing, kemudian menggunakannya untuk menentukan perilaku mereka.
Pertimbangkan bagaimana metode ilmiah berlaku dalam percobaan sederhana ini dengan air beku di bawah dua kondisi berbeda.
Tentukan Tujuan: Saya ingin tahu apakah air membeku lebih cepat dengan sendirinya atau dengan gula yang ditambahkan.
Bangun Hipotesis: Hipotesis nol adalah bahwa tidak akan ada perbedaan dalam berapa lama air membeku, apakah gula ditambahkan atau tidak. Hipotesis alternatif adalah bahwa akan ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam waktu pembekuan antara kedua skenario.
Uji Hipotesis dan Kumpulkan Data: Isi dua wadah identik dengan jumlah air suhu ruangan yang sama. Tambahkan jumlah gula yang diukur ke salah satu wadah. Masukkan kedua wadah ke dalam freezer. Secara berkala 15 menit, buka freezer dan amati status air di setiap wadah. Lanjutkan sampai keduanya benar-benar beku. Tuliskan waktu yang dibutuhkan untuk setiap wadah air untuk mencapai tingkat beku sepenuhnya.
Menganalisis Data: Lihatlah waktu yang dibutuhkan untuk setiap wadah air untuk membeku. Apakah air yang ditambahkan gula membutuhkan waktu yang lebih lama atau lebih singkat untuk dibekukan?
Menarik Kesimpulan: Berdasarkan hasil percobaan Anda, sampai pada kesimpulan apakah air dengan gula membeku lebih cepat, lebih lambat, atau pada tingkat yang sama dengan air tanpa gula ditambahkan.
Komunikasikan Hasil: Laporkan temuan Anda dalam bentuk laporan tertulis sebagai presentasi lisan.
Dalam kasus percobaan ini, Anda dapat memilih untuk memvariasikan jumlah gula yang ditambahkan (selama langkah 3 dari metode ilmiah di atas) untuk melihat apakah itu mengubah hasil juga. Ini bisa menjadi eksperimen yang lebih kuat karena Anda akan memiliki data tambahan untuk dilaporkan.
Penelitian Kuantitatif digunakan untuk mengukur masalah dengan cara menghasilkan data numerik atau data yang dapat diubah menjadi statistik yang dapat digunakan. Ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, perilaku, dan variabel yang ditetapkan lainnya – dan menggeneralisasi hasil dari populasi sampel yang lebih besar.
Penelitian Kuantitatif menggunakan data terukur untuk merumuskan fakta dan mengungkap pola dalam penelitian. Metode pengumpulan data kuantitatif jauh lebih terstruktur daripada metode pengumpulan data kualitatif.
Beberapa contoh penelitian kuantitatif adalah:
Jika organisasi mana pun ingin melakukan survei kepuasan pelanggan (CSAT), templat survei kepuasan pelanggan dapat digunakan.
Melalui survei ini, suatu organisasi dapat mengumpulkan data kuantitatif dan metrik atas itikad baik merek atau organisasi di benak pelanggan berdasarkan berbagai parameter seperti kualitas produk, harga, pengalaman pelanggan, dll. Data ini dapat dikumpulkan dengan meminta pertanyaan skor promotor bersih (NPS), pertanyaan tabel matriks, dll. yang menyediakan data dalam bentuk angka yang dapat dianalisis dan dikerjakan.
Contoh lain dari penelitian kuantitatif adalah sebuah organisasi yang melakukan suatu acara, mengumpulkan umpan balik dari para peserta acara tentang nilai yang mereka lihat dari acara tersebut.
Dengan menggunakan templat survei peristiwa, organisasi dapat mengumpulkan umpan balik yang dapat ditindaklanjuti tentang tingkat kepuasan pelanggan selama berbagai fase acara seperti penjualan, sebelum dan sesudah acara, kemungkinan merekomendasikan organisasi kepada teman dan kolega mereka, preferensi hotel untuk acara mendatang dan pertanyaan serupa lainnya.
Teori Beralas: Para peneliti mengumpulkan data yang kaya tentang topik yang menarik dan mengembangkan teori secara induktif.
Etnografi: Peneliti membenamkan diri dalam kelompok atau organisasi untuk memahami budaya mereka.
Tindakan Penelitian: Para peneliti dan peserta secara kolaboratif menghubungkan teori dengan praktik untuk mendorong perubahan sosial.
Penelitian Fenomenologis: Para peneliti menyelidiki suatu fenomena atau peristiwa dengan menggambarkan dan menafsirkan pengalaman hidup para partisipan.
Peneliti Naratif: Peneliti memeriksa bagaimana cerita diceritakan untuk memahami bagaimana peserta memahami dan memahami pengalaman mereka.
Metode Penelitian Kualitatif
Setiap pendekatan penelitian melibatkan penggunaan satu atau lebih metode pengumpulan data. Ini adalah beberapa metode kualitatif yang paling umum:
Pengamatan: merekam apa yang telah Anda lihat, dengar, atau temui dalam catatan lapangan yang terperinci.
Wawancara: secara pribadi mengajukan pertanyaan kepada orang-orang dalam percakapan satu lawan satu.
Kelompok fokus: mengajukan pertanyaan dan menghasilkan diskusi di antara sekelompok orang.
Survei: mendistribusikan kuesioner dengan pertanyaan terbuka.
Penelitian sekunder: mengumpulkan data yang ada dalam bentuk teks, gambar, rekaman audio atau video, dll.
Contoh Penelitian
Untuk meneliti budaya perusahaan teknologi besar, Anda memutuskan untuk mengambil pendekatan etnografi. Anda bekerja di perusahaan selama beberapa bulan dan menggunakan berbagai metode untuk mengumpulkan data:
Anda membuat catatan lapangan dengan pengamatan dan merefleksikan pengalaman Anda sendiri tentang budaya perusahaan.
Anda mendistribusikan survei terbuka kepada karyawan di semua kantor perusahaan melalui email untuk mengetahui apakah budaya bervariasi di seluruh lokasi.
Anda melakukan wawancara mendalam dengan karyawan di kantor Anda untuk mempelajari tentang pengalaman dan perspektif mereka secara lebih rinci.
Peneliti kualitatif sering menganggap diri mereka “instrumen” dalam penelitian karena semua pengamatan, interpretasi, dan analisis disaring melalui lensa pribadi mereka sendiri.
Untuk alasan ini, ketika menulis metodologi Anda untuk penelitian kualitatif, penting untuk merenungkan pendekatan Anda dan menjelaskan dengan seksama pilihan yang Anda buat dalam mengumpulkan dan menganalisis data.
Metode penelitian adalah prosedur khusus untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Mengembangkan metode penelitian Anda adalah bagian integral dari desain penelitian Anda. Saat merencanakan metode Anda, ada dua keputusan penting yang akan Anda buat.
Pertama, putuskan bagaimana Anda akan mengumpulkan data. Metode Anda bergantung pada jenis data apa yang Anda butuhkan untuk menjawab pertanyaan penelitian Anda:
Kualitatif vs kuantitatif: Apakah data Anda berbentuk kata atau angka?
Primer vs. sekunder: Apakah Anda akan mengumpulkan data asli sendiri, atau akankah Anda menggunakan data yang telah dikumpulkan oleh orang lain?
Deskriptif vs. eksperimental: Apakah Anda akan mengukur sesuatu seperti apa adanya, atau akankah Anda melakukan percobaan?
Kedua, putuskan bagaimana Anda akan menganalisis data.
Untuk data kuantitatif, Anda dapat menggunakan metode analisis statistik untuk menguji hubungan antar variabel.
Untuk data kualitatif, Anda dapat menggunakan metode seperti analisis tematik untuk menafsirkan pola dan makna dalam data. Berikut beberapa contoh metode penelitian:
Metode yang satu ini adalah sebuah metode yang mana memiliki sebuah pengukuran perlakuan, dampak, unit eksperimen. Namun, tidak memakai penugasan acak untuk bisa membuat sebuah perbandingan dalam rangka pengambilan kesimpulan dari perubahan yang nantinya di timbulkan oleh perlakukan. Itulah sebabnya, metode ini kerap di sebut dengan sebagai eksperimen pura- pura.
Penelitian murni, penelitian ini pada umumnya di sebuat juga dengan penelitian dasar. Dimana penelitian murni ini memiliki tujuan agar dapat mengembangkan sebuah teori serta tidak melihat bagaimana manfaat yang langsung memiliki sifat praktis. Jujun S. Suriasumnatri mengungkapkan jika penelitian yang murni merupakan sebuah penelitian yang memiliki tujuan menemukan sebuah ilmu pengetahuan yang baru yang belum pernah di teliti sebelumnya.
Penelitian terapan, jujun S. Suriasumnatri mengungkapkan jika penelitian terapan memilki tujuan untuk dapat memecahkan problem- problem dari kehidupan yang praktis. Gay juga menyatakan jika penelitian terapan di laksanakan dengan tujuan menguji, menerapkan dan juga mengevaluasi dari masalah praktis. Jadi, penelitian terapan ini memiliki sifat praktis dan juga aplikatif karena penelitian yang berangkat dari sebuah masalah riil dan bukan masalah yang memiliki sifat mendasar.
Penelitian aksi, penelitian ini biasanya di sebut dengan action research yang memiliki tujuan agar dapat menyelesaikan masalah dengan cara melaksanakan beberapa tindakan yang khusus yang juga sudah melalui teritis yang sebelumnya. Hal ini di harapkan untuk bisa memperoleh solusi yang terbaik sehingga masalah dalam penelitian bisa teratasi.
Penelitian kebijakan, ialah sebuah penelitian yang memiliki tujuan yang dapat menentukan sesuatu hal kebijakan yang berdasarkan dengan data dan fakta sesuai di lapangan. Hasil dari sebuah penelitian ini adalah peraturan, keputusan undang- undang dan semua hal yang berhubungan dengan hukum.
Penelitian evaluasi, merupakan sebuah penelitian yang memiliki tujuan agar dapat memberikan sebuah penelitian pada program yang tertentu, kegiatan dan juga sebuah kebijakan yang bisa ditujukan supaya bisa mengintervensi masyarakat.
Penelitian eksploratoris, ialah penelitian yang di laksanakan karena ada masalah yang memang sangat jarang untuk di teliti. Hal yang di teliti adalah suatu yang baru yang mana para peneliti- peneliti tidak banyak yang melakukan penelitian.
Penelitian deskriptif, menunjukkan jika tujuan penelitian ialah agar bisa memberikan sebuah penjelelasan yang kian rinci lagi serta lebih mendalam tentang suatu masalah sosial yang dapat di jadikan sebagai objek penelitian. Kekuatan dari penelitian deskriptif ini ada dalam kualitas dan kuantitas kalimat yang nantinya akan di paparkan di dalam bab hasil sebuah penelitian. Jika semakain banyak data di dalam bentuk kalimat yang dapat di suguhkan dalam sebuah penelitian agar semakin bagus.
Penelitian eksplanatoris, mempunyai sebuah tujuan agar bisa menguji suatu teori maupun hipotesa agar dapat memperkuat maupun menolak dari sebuah teori dari penelitian yang sudah di teliti.
Tujuan penelitian secara praktis ialah mencari serta menemukan ilmu yang bisa di gunakan langsung di dalam kehidupan. Penelitian yang sepert ini sering di sebuat dengan applied research. Tujuan penelitian secara parktis juga ada beberapa hal yang di perlu di ketahui, yakni:
Tujuan eksploratif, yakni merupakan kegiatan dari penelitian yang di lakukan karena memiliki tujuan agar bisa menemukan pengetahuan yang baru dan juga belum ada penelitian sebelumnya.
Tujuan verifikatif, maksudnya adalah kegiatan penelitian ini memiliki sebuah tujuan untuk menguji dan membuktikan dari sebuah kebenaran ilmu pengetahuan yang telah ada.
Tujuan pengembangan, yaitu kegiatan penelitian yang di laksanakan dengan tujuan agar bisa mengembangkan dan menggali lebih dalam dari sebuah penelitian dan pengetahuan yang sudah di lakukan sebelumnya.
Tujuan penelitian secara teoritis adalah sebuah usaha agar dapat mengetahui suatu hal. Namun, pengetahuan yang di dapatkan dari sebuah penelitian tidak akan di gunakan secara langsung dan secara praktis. Penelitian juga memiliki nama lain yakni pure research dan basic research.
Apapun jenis penelitian pastinya memiliki sebuah tujuan penelitian, penelitian tanpa adanya sebuah tujuan maka tidak ada hasil dan juga kesimpulan. Jadi, tujuan dari penelitian merupakan rumusan hasli dari penelirian yang sudah di rumuskan oleh para peneliti sejak awal, dengan cara analisis latar belakang permasalahan di dalam penelitian.
Tujuan- tujuan secara umum dari penelitian:
Agar bisa mendapatkan sebuah pengetahuan maupun penemuan yang baru.
Untuk bisa membuktikan dan menuji dari kebenaran dari bidang ilmu yang telah ada.
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan, menguji, dan menentukan hubungan antar variabel dengan memilah permasalahan menjadi bagian yang dapat diukur atau dinyatakan dalam bentuk angka.
Penelitian kuantitatif menggunakan instrumen penelitian atau alat pengumpul data yang menghasilkan data numerikal (angka).
Istilah “penelitian” sendiri sebenarnya bisa memiliki pengertian yang beragam.
Berikut ini adalah pengertian penelitian menurut para ahli.
1. David H. Penny
Penelitian merupakan pemikiran yang sistematis tentang berbagai jenis masalah yang dalam pemecahannya memerlukan pengumpulan fakta-fakta.
2. J. Suprapto MA
Penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu yang dilakukan untuk mendapatkan fakta-fakta dengan sabar, hati-hati, dan sistematis.
3. Sutrisno Hadi MA
Penelitian adalah sebuah usaha untuk menemukan, mengembangkan, serta menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan.
4. Mohammad Ali
Penelitian adalah sebuah cara untuk memahami suatu hal dengan melakukan penyelidikan melalui bukti-bukti yang muncul dan dilakukan secara hati-hati sehingga dapat diperoleh pemecahannya.
5. Sugiyono
Penelitian adalah sebuah cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Jenis metodologi penelitian studi kasus salah satu penelitian yang gado-gado. kenapa gado-gado? Karena dalam pengambilan data, kamu bisa melakukan beberapa cara sekaligus. Kamu bisa dengan melakukan wawancara, pemeriksaan dokumen hingga bisa juga melakukan observasi. Meskipun caranya bisa dilakukan menggunakan beberapa cara, penelitian tersebut juga perlu diberikan batasan.
Jenis metodologi penelitian yang kedua adalah metode longitudinal. Metode longituginal adalah metode penelitian dengan cara mengumpulkan data melalui survei. Sebenarnya tidak hanya menggunakan survei saja, ada beberapa cara lain, namun paling banyak menggunakan metode survei.
Jadi sampel yang sudah kamu tentukan nantinya akan diberikan lembar kuisioner atau angket yang harus ia isi. Setelah itu, peneliti memberikan jeda waktu (terkait rentang waktu sesuai dengan keinginan peneliti: prinsipnya rentang waktu jangan terlalu pendek). Setelah diberi rentang waktu yang cukup, maka kamu pun bisa memberika surbei kedua, ketiga (sesuai yang kamu inginkan, mau berapa survei). Meskipun tidak ada aturan baku, umumnya survei ini hanya dilakukan sebanyak dua kali.
Hasil jawaban dari survei bisa kamu dapatkan dan diklasifikasikan. Nah, kelemahan metode survei angket, kadang subjek yang tidak mood, sering dijawab asal. Untuk menghindari hal tersebut, kamu pun harus berhati-hati. jika kamu sudah menemukan hasil angket, kamu pun bisa melakukan pengolahan data dan analisis. Terkait analisis, kamu pun bisa menggunakan pengolah data dan manual, ini tergantung dari selera dan penguasaan ilmu yang kamu miliki.
Jenis metodologi penelitian yang pertama adalah metodologi eksperimental. Sesuai dengan istilahnya bahwa metodologi eksperimental merupakan upaya untuk mengumpulkan data. Jadi kamu tidak hanya akan memaparkan tentang survei, cara dan hasil wawancara saja. TEtapi juga mengumpulkan data observasi juga.
Karena sifat metodologi eksperimental adalah melihat respons atau objek penelitian yang berbeda-beda. Umumnya metodologi eksperiment dibaig menjadi dua kelompok. Pertama kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diberi perlakuan untuk melihat tanggapan dan hasil dari apa yang sedang kamu teliti.
Dengan kata lain, kelompok eksperimen sebagai subjek penelitian. Begitupun dengan kelompok kontrol, juga tetap diberi perlakuan. Hanya saja pada kelompok kontrol sifatnya sebagai kontrol dari hasil kelompok eksperimen.
Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sebenarnya memiliki karakteristik yang mirip dan hampir sama loh. Nah, agar memudahkan pemahaman, pada kelompok eksperimen akan menerima perlakuan dari peneliti, sedangkan kelompok kontrol tidak.
Metodologi penelitian” berasal dari kata “Metode”
yang artinya cara yang tepat untuk melakukan
sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau
pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara
melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran
secara saksama untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk
mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis
sampai menyusun laporannya.
Metodologi penelitian terdiri dari kata metodologi
yang berarti ilmu tentang jalan yang ditempuh untuk
memperoleh pemahaman tentang sasaran yang telah
ditetapkan sebelumnya. Sejalan dengan makna penelitian
tersebut di atas, penelitian juga dapat diartikan sebagai
usaha/kegiatan yang mempersyaratkan keseksamaan atau
kecermatan dalam memahami kenyataan sejauh mungkin
sebagaimana sasaran itu adanya.
Metodologi penelitian” berasal dari kata “Metode”
yang artinya cara yang tepat untuk melakukan
sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau
pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara
melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran
secara saksama untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk
mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis
sampai menyusun laporannya.1
Metodologi penelitian terdiri dari kata metodologi
yang berarti ilmu tentang jalan yang ditempuh untuk
memperoleh pemahaman tentang sasaran yang telah
ditetapkan sebelumnya. Sejalan dengan makna penelitian
tersebut di atas, penelitian juga dapat diartikan sebagai
usaha/kegiatan yang mempersyaratkan keseksamaan atau
kecermatan dalam memahami kenyataan sejauh mungkin
sebagaimana sasaran itu adanya.
“Metodologi penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat
untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi,
metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama
untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari,
mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.
Tentang istilah “Penelitian” banyak para sarjana yang mengenukakan pendapatnya,
seperti :
a. David H. Penny
Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang
pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
b. J. Suprapto MA
Penelitian ialah penyelididkan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan
untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta
sistematis.
c. Sutrisno Hadi MA
Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat didefinisikan sebagai usaha untuk
menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
d. Mohammad Ali
Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu dengan melalui penyelidikan atau
melalui usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang
dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.
Dari batasan-batasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
metodologi penelitian adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang
membicarakan/mempersoalkan mengenai cara-cara melaksanakan penelitian sampai
menyusun laporannya) berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala secara ilmiah.
PTK (Classroom Action Research) memiliki peranan yang sangat penting
dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apabila diimplementasikan
dengan baik dan benar.
Kurt Lewin dalam Kunandar (2012, hlm. 42) mengatakan bahwa “Penelitian tindakan
adalah suatu rangkaian langkah yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan,
tindakan, pengamatan, dan refleksi”.
Carr dan Kemmis dalam Kunandar (2012, hlm. 43) mengatakan bahwa:
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang
dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan
penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka serta
pemahaman mereka terhadap praktik-praktik mereka dan terhadap situasi
tempat praktik-praktik tersebut dilakukan.
Berdasarkan pendapat diatas penelitian tindakan penelitian refleksif adalah untuk
meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial.
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu
action research yang dilakukan di kelas. Action research, sesuai dengan arti katanya,
diterjemahkan menjadi penelitian tindakan; menurut Carr dan Kemmis dalam I.G.A.K
Wardani dkk (2006, hlm. 1.4) didefinisikan sebagai berikut:
Action research is a form of self reflective enquiry undertaken by
participants (teachers, student or principals, for example) in social (including
educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a)
their own social or educational practices, (2) their understanding of these
practices, and the situations (and institutions) in which the practices are
carried out.
I.G.A.K Wardani, dkk (2006, hlm. 1.4) menemukan sejumlah ide pokok sebagai
berikut:
1. Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang
dilakukan melalui refleksi diri.
2. Penelitian tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang
diteliti, seperti guru, siswa atau kepala sekolah.
3. Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi
pendidikan.
4. Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki: dasar pemikiran dan
kepantasan dari praktek-praktek, pemahaman terhadap praktek tersebut,
serta situasi atau lembaga tempat praktek tersebut dilaksanakan.
Dari keempat ide pokok di atas dapat kita simpulkan bahwa penelitian
tindakan merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri
sebagai metode utama, dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan
untk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek.
Metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru, karena
populeritasnya belum lama, dinakam metode postpositivistik karena berlandaskan
pada filsafat postpositivisme. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karna
proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut sebagai metode
interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interprestasi
terhadap data yang ditemukan dilapangan.
Metode pnelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena
penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga
sebagai metode etnografi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan
untuk oenelitian bidang antropologi budaya; disebut sebagai metde kualitatif, karena
data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif.
Filsafat postpositivisme sering juga disebbut sebagai paradigma interpretif
dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh,
kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif
(reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah. Obyek yang alamiah
adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan
kehadirian peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut. Dalam
penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti
itu sendiri.
Sugiyono (2013, hlm. 15) mengatakan bahwa:
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan
pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek
yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah
sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara
purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian
kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah
cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian.
Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan filsafat
positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi
kaidah-kaidah ilmiah yaitu kongkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis.
Metode ini juga disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka
dan analisis menggunakan statistik.
Sugiyono (2013, hlm. 14) mengatakan bahwa:
Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada
populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya
dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument
penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistic dengan tujuan untuk
menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Sugiyono (2013, hlm. 12) menyatakan bahwa “Metode penelitian
eksperimen merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh
treatment (perlakuan) tertentu”. Misalnya pengaruh ruang ber AC terhadap efektivitas
pembelajaran.
Sugiyono (2013, hlm. 12) menyatakan bahwa “Metode survey digunakan
untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi
peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan
mnegedarkan kuesioner, test, wawancara terstruktur dan sebagainya (perlskusn tidsk
seperti dalam eksperimen).
Sugiyono (2013, hlm. 12) menyatakan bahwa “Metode penelitian
naturalistic/kualitatif, digunakan untuk meneliti pada tempat yang alamiah, dan
penelitian tidak membuat perlakuan, karena peneliti dalam mengumpulkan data
bersifat emic, yaitu berdasarkan pandangan dari sumber data, bukan pandangan
peneliti.
Jenis-jenis metode penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan, tujuan, dan
tingkat kealamiahan (natural setting) obyek yang diteliti. Berdasarkan tujuan, metode
penelitian dapat diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian
terapan (applied research) dan penelitian pengembangan (research and development)
Borg and Gall dalam Sugiyono (2013, hlm. 9) menyatakan bahwa,
“Penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). merupakan metode
penelitian yang digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk
yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran”.
Jujun S. Suriasumantri dalam Sugiyono (2013, hlm. 9) menyatakan bahwa
“Penelitian dasar atau murni adalah penelitian yang bertujuan menemukan
pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui, sedangkan penelitian
terapan adalah bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis.
Hubungan antara penelitian dasar, penelitian pengembangan (R&D) dan penelitian
terapan”.
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Sugiyono (2013, hlm. 3) menyatakan bahwa:
Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmun,
yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian
itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh
penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat
diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan
mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya, proses yang
digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang
bersifat logis.
Dalam metode penelitian pasti tidak lepas yang namanya data, data yaitu, sekumpulan informasi yang perlu diolah lebih lanjut untuk mendapatkan kunci yang bisa dijadikan untuk pengambilan keputusan dalam suatu permasalahan. Data menjadi sangat penting, sebab diperoleh dengan pengukuran terhadap objek yang diberi nilai.
Data yang baik sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Data harus bersifat objektif, yaitu harus sesuai dengan keadaan di lapangan.
Data bisa mewakili atau representatif.
Menurut jenis data yang digunakan dalam setiap metode penelitian biasanya dibedakan menjadi dua garis besar, yaitu:
Data kualitatif
Data jenis ini penyajiannya tidak menggunakan angka, sebagai contoh penelitian berkaitan dnegan sikap konsumen terhadap pelayanan yang diberikan oleh perbankan syariah “Berkah” sangat negative, layanan yang diberikan oleh BMT sungguh memuaskan, produk perbankan syariah yang digemari msyarakat DIY adalah tabungan wadiah dan lain sebagainya.
Data kuantitatif
Data jenis ini biasanya disajikan dalam bentuk angka, grafik, dan umumnya menggunakan rumus statisika dalam perhitungannya. Misalkan, rata-rata jumlah pembiayaan yang dijalankan oleh Bank syariah sebesar 20%, penjualan buku “Pengantar Akutansi” dalam rata-rata bulan ini mencapai angka 25%, dan lain sebagainya.
Metode riset sendiri ada beberapa jenis dan umumnya peneliti menggunakan metode riset tersebut dengan cara masing-maisng disesuaikan dengan masalah yang di ambil. Dengan demikian data dari lapangan juga mengikuti metode yang digunakan, sehingga tidak heran jika tidak semua orang menguasai banyak metode penelitian. Umumnya peneliti akan lebih memehami jenis metode yang memang dia kuasai, tetapi tidak bisa dipungkiri ada yang menguasai segala jenis metode tersebut.
Penelitian historis
Penelitian ini biasanya digunakan dengan melakukan penyelidikan, pemahaman, dan penjelasan terhadap suatu keadaan di masa lalu. Contoh permasalahan tentang: perkembangan ekonomi Islam di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.
Penelitian korelasional
Penelitian ini biasanya identik dengan membandingkan antara satu variable dengan variabel yang lainnya dalam penelitian tersebut. Contoh permasalahannya tentang: bagaimanakan hubungan antara relegiusitas dengan sikap terhadap bunga bank.
Penelitian kausal kontributif
Penelitian ini biasanya digunakan sebagai petunjuk arah antara hubungan variabel bebas dengan variabel terikat, juga seberapa besar kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Contoh permasalahannya tentang: pengaruh dari pendapatan, pendidikan, pandangan terhadap bunga bank, pemaham produk terhadap minat menabung di bank, dan lain sebagainya.
Penelitian eksperimental
Penelitian ini bias anya digunakan untuk menguji satu variabel terhadap dampak munculnya variabel yang lain. Contoh permasalahannya tentang: penerapan incentive compatible constraints terhadap masalah agency pada pembiayaan mudharabah.
Metode deskriptif
Metode riset ini mempunyai tujuan menjelaskan peristiwa tertentu yang sedang terjadi di masa sekarang dan pada masa lampau. Ada dua jenis metode riset dalam metode deskriptif ini, yaitu Longitudinal atau sepanjang aktu serta Cross Sectional atau dalam waktu tertentu. Contoh permasalahannya tentang: bagaimana tingkat kepuasaan nasabah terhadap pelayanan bank syariah?
Berbeda halnya dengan metode penelitian kuantitatif, metode kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan, maupun perilaku objek yang diamati. Menurut sumber yang sama, jenis metode penelitian kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data secara triangulasi atau gabungan.
Adapun beberapa karakteristik metode penelitian kualitatif meliputi:
Menerapkan pola pikir induksi (empiris-rasional), sehingga menghasilkan grounded theory, yakni teori yang timbul sesuai data, bukan dari hipotesis.
Mengutamakan perspektif partisipan.
Menggunakan rancangan penelitian yang berkembang selama penelitian berlangsung. Hal tersebut berbeda dengan metode kuantitatif yang menggunakan rancangan penelitian baku.
Pengumpulan data didasarkan pada prinsip fenomenologis, yakni dengan memahami suatu gejala atau fenomena yang dihadapi secara mendalam.
Peneliti berperan sebagai alat pengumpul data. Artinya, peneliti merupakan bagian yang terpisahkan dengan objek yang diteliti.
Merujuk pada buku Metode Penelitian yang ditulis Andra Tersiana, metode penelitian kuantitatif merupakan jenis penelitian yang menghasilkan sebuah penemuan dengan menggunakan prosedur statistik atau cara lain secara kuantitatif atau terukur.
Metode penelitian kuantitatif memiliki beberapa karakteristik, di antaranya:
Menerapkan pola pikir deduktif untuk memahami sebuah fenomena dengan menggunakan konsep yang bersifat khusus.
Menggunakan logika positivistik dan menghindari segala sesuatu yang bersifat subjektif.
Peneliti menempatkan diri sebagai bagian yang terpisah dengan objek yang diteliti.
Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran menggunakan alat yang baku dan objektif.
Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, terlepas dari konteks waktu dan situasi.
Supaya lebih mengerti tentang metode penelitian, maka yang bisa dilakukan adalah menelisik pengertian dari para ahli, yaitu:
Menurut Prof. Dr. Sugiyono
Metode penelitian adalah suatu cara atau proses ilmiah dengan tujuan memperoleh data dengan kegunaan dan tujuan tertentu.
Menurut Muhiddin Sirat
Metode riset merupakan cara yang digunakan untuk menentukan beberapa topik serta penentuan judul dalam suatu penelitian.
Menurut Prof M.E. Winarno
Metodologi penelitian merupakan kegiatan secara ilmiah dilakukan menggunakan teknik yang sistematik dan teliti.
Menurut Hery Rahyubi
Metode riset yaitu salah satu model yang bisa digunakan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar untuk tercapainya proses yang baik.
Menurut Nasir
Metode riset adalah cara yang utama dan umumnya digunakan oleh peniliti dengen tujuan mencapai pemecahan masalah serta menemukan jawaban atas masalah yang ada.
Menurut Muhammad Ramdhan dalam buku Metode Penelitian, penelitian secara etimologi memiliki arti mencari fakta baru yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah teori. Tujuannya tak lain untuk memperdalam dan memperluas ilmu tertentu.
Inilah mengapa, penelitian harus dilakukan dengan tepat, sehingga hasilnya pun dapat dipertanggungjawabkan. Setidaknya terdapat tiga aspek yang harus dimuat dalam sebuah metode penelitian, di antaranya:
Rasional, yakni kegiatan penelitian harus dilakukan secara masuk akal.
Empiris, artinya langkah yang dilakukan bisa diamati sekaligus dirasakan oleh indra manusia. Dengan kata lain, orang lain pun dapat mengamati cara-cara yang dilakukan oleh peneliti.
Sistematis, yakni penelitian yang dilakukan menggunakan langkah yang sesuai dengan panduan penelitian.
Metode penelitian erat kaitannya dengan riset atau penelitian. Menyadur dari buku Metode Penelitian oleh Andra Tersiana, riset atau penelitian merupakan kegiatan mencari kembali guna mendapatkan sesuatu.
Sementara itu, menurut Kerlinger dalam Tersiana, penelitian ialah suatu penyelidikan yang sistematis, terkendali, empiris, dan kritis mengenai fenomena di sekitar. Proses meneliti tersebut dibimbing oleh teori dan hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga berada di antara fenomena yang diteliti.
Berikut ini merupakan beberapa contoh metode penelitian berdasarkan cara pengumpulan datanya.
1. Observasi
Observasi adalah contoh metode penelitian pertama. Observasi juga sering digabungkan dengan metode lainnya dalam satu penelitian karena metode ini yang paling sering digunakan dalam berbagai topik penelitian. Dalam metode observasi pengamatan akan dilakukan dalam beberapa periode waktu tertentu untuk memperoleh data primer atau sekunder.
Data yang dihasilkan dari metode observasi bersifat sekunder. Data sekunder umumnya bersifat pelengkap atau biasanya dijadikan alat pengujian untuk data primer yang sudah didapatkan. Adapun contoh metode observasi yaitu:
Analisis Sikap Pembeli Minyak terhadap Harga Minyak yang Dijual di Minimarket xxx
Pengaruh Kualitas Layanan Cafe xxx terhadap Kepuasan Masyarakat di Kota xxx
Keputusan Manajemen Bisnis Apotek dalam Memilih Jenis Vitamin di Kota xxx
Competitive Positioning Majalah xxx di Era Digital
2. Wawancara
Contoh metode penelitian kedua yaitu wawancara. Jika seorang individu atau kelompok tertentu dijadikan subjek penelitian, biasanya akan dilakukan metode wawancara untuk mendapatkan data oleh peneliti.
Namun, pemilihan subjek penelitian tidak bisa asal dan harus dilakukan secara cermat. Jika pemilihan subjek penelitian tidak tepat, maka hasilnya akan meragukan.
Penelitian sosial kuantitatif merupakan salah satu contoh metode wawancara, jika hasil wawancara dijadikan data primer oleh peneliti. Adapun contoh penelitian yang menggunakan metode berikut yaitu:
Nilai Multikulturalisme dalam Film Cheng-Cheng Po
Identitas Pemuda Kristen Batak dalam Aktivitas Gereja HKBP
Interpretasi Simbol Budaya Masyarakat Lokal Desa xxx
Pemahaman Remaja Terhadap Pelecehan Seksual di Lingkungan Sekolah
3. Kuisioner
Kuesioner juga termasuk contoh metode penelitian. Adapun kuesioner dibuat peneliti dengan tujuan merumuskan pertanyaan yang merujuk pada instrumen penelitian. Selain itu, teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian adalah sumber dari pertanyaan yang dibuat.
Walaupun sering digunakan dalam penelitian kuantitatif, tetapi kuesioner juga tak jarang digunakan pada jenis penelitian lainnya, dimana biasanya hanya berupa data pendukung atau sekunder. Hal ini dikarenakan riset yang dilakukan menggunakan metode kuesioner dibuat tanpa dilandasi konsep dan teori (murni pemikiran peneliti saja).
Adapun contoh penelitian yang menggunakan metode kuisioner yaitu:
Survei Tentang Pendidikan Karakter Melalui Bimbingan Guru BK
Produktivitas Kerja Karyawan di Perusahaan xxx
Minat Mahasiswa Komunikasi terhadap Bidang Pekerjaan Jurnalistik
Keterampilan Guru dan Prestasi Akademik Siswa di SMA xxx
4. Studi Pustaka
Contoh metode penelitian lainnya yaitu studi pustaka. Metode ini pada umumnya merujuk pada penelitian yang bersumber dari literatur atau karya sastra seperti buku.
Biasanya peneliti mencari terlebih dahulu sejumlah buku yang relevan pada topik penelitian. Kemudian membacanya satu persatu untuk mendapatkan data yang diinginkan. Selain buku, peneliti juga mengandalkan hasil riset atau penelitian lain dengan memiliki topik pembahasan serupa.
Dikarenakan contoh metode penelitian studi pustaka menggunakan gaya literatur atau membaca, metode ini juga bisa disebut sebagai penelitian literatur. Contoh penelitian yang menggunakan metode studi pustaka yaitu:
Kompetensi Guru Matematika dalam Mengatasi Minat Belajar Siswa di SMK xxx
Teknik Pengelolaan Limbah pada Industri Tekstil
Penerapan Strategi Pembelajaran Daring dalam Mata Pelajaran Matematika
Meningkatkan Minat Belajar Siswa SMA terhadap Mata Pelajaran Kimia
Berdasarkan cara menganalisis, mengolah, serta menarik kesimpulannya, metode penelitian dibagi menjadi 3 yaitu, pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan campuran. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap mengenai macam-macam metode penelitian.
1. Kuantitatif
Dalam metode ini, sampel diteliti menggunakan instrumen berupa alat ukur. Dimana analisa datanya bersifat statistik atau kuantitatif, dan bertujuan untuk menguji atau membuktikan hipotesis yang sudah ditetapkan. Secara umum, metode kuantitatif dibagi menjadi 2, di antaranya.
a. Metode Survei
Metode survei adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan data tentang keyakinan, pendapat, hubungan variabel atau karakteristik perilaku melalui sampel yang diambil dari populasi tertentu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan (wawancara maupun kuesioner).
b. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode yang dipakai guna mengetahui pengaruh variabel independen (perlakuan atau treatment) terhadap variabel dependen (hasil) dalam kondisi yang terkendali.
Kondisi terkendali ini dimaksudkan supaya tidak ada variabel lain (selain variabel treatment) yang mempengaruhi variabel dependen. Agar dapat mengendalikan kondisi, digunakanlah kelompok kontrol. Penelitian menggunakan metode ini sering dilakukan di laboratorium.
2. Kualitatif
Metode ini biasa digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alami. Dimana analisa datanya bersifat induktif. Dan teknik pengumpulan datanya dilakukan secara triangulasi atau gabungan. Creswell dalam Sugiyono (2012) mengungkapkan bahwa metode kualitatif dibagi menjadi 5, yaitu:
a. Phenomenological Research
Salah satu jenis metode penelitian kualitatif adalah Phenomenological Research. Untuk mengetahui fenomena esensial partisipan, peneliti melakukan pengumpulan data dengan observasi partisipan.
b. Grounded Theory
Berikutnya adalah Grounded Theory. Peneliti dapat menarik generalisasi dari apa yang dianalisa atau diamati secara induktif, tentang proses, interaksi, atau tindakan berdasarkan pandangan partisipan yang diteliti.
c. Ethnography
Jenis lainnya yaitu Ethnography. Dimana peneliti melakukan studi terhadap budaya suatu golongan dalam kondisi yang alami, baik melalui wawancara dan observasi.
d. Case Studies
Case studies adalah jenis metode penelitian dimana peneliti melakukan eksplorasi mendalam terhadap kejadian, aktivitas, proses atau program baik secara individu maupun kelompok. Peneliti akan melakukan pengambilan data menggunakan berbagai prosedur dalam waktu yang berkesinambungan.
e. Narrative Research
Terakhir, yang termasuk jenis metode penelitian kualitatif adalah Narrative Research. Peneliti akan melakukan studi terhadap individu atau kelompok untuk mendapatkan data berupa sejarah perjalanan hidupnya. Data tersebut kemudian akan disusun menjadi laporan naratif kronologis oleh peneliti.
3. Kombinasi
Pengertian metode penelitian kombinasi adalah metode yang digunakan untuk meneliti kondisi objek, baik itu buatan (laboratorium) maupun alami. Dimana peneliti dapat menggunakan instrumen pengukuran serta teknik pengumpulan data berupa kuesioner, wawancara maupun gabungan (triangulasi). Serta analisa datanya bersifat deduktif dan induktif.
Pengertian metode penelitian adalah prosedur, tata cara atau langkah-langkah ilmiah yang digunakan untuk memperoleh data sebagai pemenuhan tujuan penelitian. Artinya kegiatan ini merupakan penyelidikan sistematis terhadap suatu fenomena.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian metode penelitian adalah prosedur atau cara sistematis yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan kebenaran dari suatu fenomena melalui pertimbangan logis dan disokong oleh data faktual sebagai bukti konkret (objektif, bukan asumsi pribadi).
Sedangkan secara praktis, tujuan penelitian ini ialah mencari serta menemukan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan langsung di dalam kehidupan. Penelitian jenis ini disebut juga dengan applied research.
Menurut para ahli, selain tujuan praktis diatas, masih ada beberapa tujuan penelitian praktis lainnya yaitu antara lain di bawah ini:
Tujuan Eksploratif
Tujuan eksploratif artinya ialah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang belum ada sebelumnya.
Misalnya adalah penelitian yang pada akhirnya menemukan teori baru bahwa ekstrak mangga dapat menurunkan kadar kolesterol. Dimana sebelumnya belum pernah ada teori dari penelitian yang menyatakan hal tersebut.
Tujuan Verifikatif
Tujuan verifikatif merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menguji atau membuktikan kebenaran dari pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Misalnya penelitian yang membuktikan apakah benar mentimun dapat menurunkan tekanan darah manusia. Dimana sebelumnya telah ada teori dari penelitian yang menyatakan hal tersebut.
Tujuan Pengembangan
Yang terakhir adalah tujuan pengembangan, yang artinya adalah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan tujuan mengembangkan atau menggali lebih dalam lagi dari pengetahuan atau penelitian yang sudah ada sebelumnya.
Misalnya tentang penelitian mentimun yang dapat menurunkan tekanan darah tinggi.
Teori tentang hal tersebut sudah ada. Namun disini peneliti mengembangkan lagi penelitian yang bertujuan untuk menilai seberapa besar atau efektifkah mentimun tersebut dapat menurunkan tekanan darah manusia pada berbagai kelompok umur.
Secara teoritis, tujuan penelitian merupakan usaha yang dilakukan untuk mengetahui satu hal. Pengetahuan yang diperoleh dari jenis penelitian seperti ini tidak dapat dimanfaatkan secara langsung atau secara praktis. Sehingga nama lain dari penelitian seperti ini disebut sebagai basic research.
Jika anda sudah masuk ke dalam tahap metode penelitian, maka anda akan dihadapkan pada 2 hal yang sangat penting. Yaitu apakah anda akan melakukan metode penelitian kualitatif, metode penelitian kuantitatif atau metode penelitian campuran (combined atau mixed).
Pengertian metode penelitian menurut para ahli yang pertama yaitu menurut Nasir. Nasir menjelaskan bahwa metode dari penelitian ialah cara utama yang digunakan peneliti untuk mencapai tujuan & menentukan jawaban atas masalah yang diajukan.
Pengertian menurut para ahli yang kedua yaitu menurut Winarno. Winarno menjelaskan bahwa metode dari penelitian adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan dengan teknik yg teliti & sistematik.
Pengertian menurut para ahli yang ketiga yaitu menurut Muhiddin Sirat. Muhiddin Sirat menjelaskan bahwa metode penelitian merupakan suatu langkah memilih masalah & penentuan judul penelitian.
Pengertian metode dari penelitian menurut para ahli yang keempat yaitu menurut Sugiyono. Sugiyono menjelaskan bahwa metode sebuah penelitian adalah langkah ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan & kegunaan tertentu.
Sale, et al. (2002) menyatakan bahwa penggunaan metode dipengaruhi oleh dan mewakili paradigma yang merefleksikan sudut pandang atas realitas. Lebih lanjut, Kasinath (2013) mengemukakan ada tiga alasan untuk menggunakan metode kualitatif, yaitu (a) pandangan peneliti terhadap fenomena di dunia (a researcher’s view of the world), (b) jenis pertanyaan penelitian (nature of the research question), dan (c) alasan praktis berhubungan dengan sifat metode kualitatif (practical reasons associated with the nature of qualitative methods).
Sementara itu, menurut McCusker, K., & Gunaydin, S. (2015), pemilihan penggunaan metode kualitatif dalam hal tujuan penelitiannya adalah untuk memahami bagaimana suatu komunitas atau individu-individu dalam menerima isu tertentu. Dalam hal ini, sangat penting bagi peneliti yang menggunakan metode kualitatif untuk memastikan kualitas dari proses penelitian, sebab peneliti tersebut akan menginterpretasi data yang telah dikumpulkannya.
Metode kualitatif membantu ketersediaan diskripsi yang kaya atas fenomena. Kualitatif mendorong pemahaman atas substansi dari suatu peristiwa. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya untuk memenuhi keinginan peneliti untuk mendapatkan gambaran/penjelasan, tetapi juga membantu untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam (Sofaer, 1999). Dengan demikian, dalam penelitian kualitatif, peneliti perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait permasalahan yang akan ditelitinya.
Creswell (2007, p. 45-47) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang baik, antara lain:
peneliti menggunakan prosedur mendapatkan data yang tepat.
Peneliti membatasi penelitian di dalam asumsi dan karakteristik dari pendekatan kualitatif.
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya.
Peneliti memulai penelitian dengan satu fokus.
Penelitian berisi metode yang rinci, pendekatan yang tepat dalam pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.
Peneliti menganalisis data menggunakan pemisahan analisis dalam beberapa level.
Peneliti menulis secara persuasif, sehingga pembaca dapat merasakan pengalaman yang sama.
Proses penelitian dengan pendekatan kualitatif
Penelitian kualitatif dimulai dengan ide yang dinyatakan dengan pertanyaan penelitian (research questions). Pertanyaan penelitian tersebut yang nantinya akan menentukan metode pengumpulan data dan bagaimana menganalisisnya. Metode kualitatif bersifat dinamis, artinya selalu terbuka untuk adanya perubahan, penambahan, dan penggantian selama proses analisisnya (Srivastava, A. & Thomson, S.B., 2009).
Dalam hal pengumpulan data, Gill et. al. (2008) mengemukakan terdapat beberapa macam metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yaitu observasi, analisis visual, studi pustaka, dan interview (individual atau grup). Namun demikian, yang paling popular adalah menggunakan metode interview dan focus group discussion (FGD). Selanjutnya data yang berhasil dikumpulkan, dianalisis untuk dapat memahami dan mendapatkan kesimpulan dalam penelitian tersebut.
Untuk analisis data sendiri, terdapat empat permasalahan yang ditemui dalam menganalisis data (Li & Seal, 2007), yaitu:
not knowing where to begin analyzing a large amount of material or how to relate research questions to data.
ambiguous definition of coding categories
reporting or recording of data, often involving the omission of line numbers in transcripts or the names of speakers.
inaccurate or overinterpretation of data.
Selanjutnya, untuk mengantisipasi permasalahan dalam analisis data, Li & Seal (2007) memberikan lima strategi dalam analisis data, yaitu:
connecting, was characterized by the need to establish a rigorous and valid connection between statements made by the researcher and the actual data.
Separating, was characterized by the need to separate participants’ categories (emic analysis) from researchers categories (etic analysis) and from the views of other authors.
Contrasting, was characterized by advice on adopting a systematic approach to identify regular features or differences across settings.
Quantifying, was characterized by advice about counting or establishing the size of selection of data needed to sustain arguments.
Deleting, was charactized by advice to get rid of irrelevant materials.
Secar umum ada tiga metode penelitian yang umum digunakan terutama dalam penulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Ketiga metode penelitian itu terdiri dari, metode penelitian kuantitatif, metode penelitian kualitatif, dan metode penelitian kombinasi (mixed methods).
1. Metode Penelitian Kuantitatif
Metode penelitian kuantitatif berlandaskan pada filsafat positivisme, dipakai untuk meneliti pada populasi ataupun sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan alat ukur (instrumen) penelitian, analisa data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji dan membuktikan hipotesis yang telah dibuat/ditetapkan.
Secara umum metode kuantitatif terdiri atas metode survey dan metode eksperimen.
Metode Survei
Metode penelitian survei adalah metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data yang terjadi pada masa lampau atau saat ini, tentang keyakinan, pendapat, karakteristik perilaku, hubungan variabel dan untuk menguji beberapa hipotesis tentang variabel sosiologis dan psikologis dari sampel yang diambil dari populasi tertentu. Teknik pengumpulan data dengan pengamatan (wawancara atau kuisioner) dan hasil penelitian cenderung untuk digeneralisasikan.
Metode Eksperimen
Metode eksperimen merupakan metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (treatment/perlakuan) terhadap variabel dependen (hasil) dalam kondisi yang terkendalikan. Kondisi dikendalikan agar tidak ada variabel lain (selain variabel treatment) yang mempengaruhi variabel dependen. Agar kondisi dapat dikendalikan, maka dalam penelitian eksperimen menggunakan kelompok kontrol. Penelitian eksperimen sering dilakukan di laboratorium.
2. Metode Penelitian Kualitatif
Landasan Metode penelitian adalah filsafat postpositivisme. Digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah (lawan eksperimen), dimana peneliti sebagai instrument kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan). Analisis data bersifat induktif/kualitatif. Hasil penelitian kualitatif menekankan makna dari pada generalisasi.
Menurut Creswell dalam Sugiyono (2012), metode penelitian kualitatif dibagi menjadi lima macam yaitu phenomenological research, grounded theory, ethnography, case study dan narrative research.
4. Metode Penelitian Deskriptif
Pengertian Metode penelitian deskriptif adalah prosedur penelitian atau pemecahan masalah yang diselidiki dengan gambaran subjek atau objek yang digunakan berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya.
5. Metode Penelitian Pengembangan
Pengertian Metode Penelitian pengembangan (Litbang) atau sering juga disebut dengan istilah Research & Development (R&D), merupakan jenis penelitian yang umumnya banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Secara umum pengertian penelitian pengembangan dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk memperoleh data sehingga dapat dipergunakan untuk menghasilkan, mengembangkan dan memvalidasi produk.
Penelitian pengembangan difungsikan sebagai dasar untuk bangunan/konstruksi model dan teori. Kata penelitian merujuk pada proses pemecahan masalah dan menemukan fakta secara terorganisir sedangkan pengembangan merujuk kepada usaha peningkatan kemampuan teoritis, konseptual dan moral sesuai kebutuhan melalui latihan dan pendidikan.
Menurut Sugiyono Pengertian metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dapat dideskripsikan, dibuktikan, dikembangkan dan ditemukan pengetahuan, teori, untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam kehidupan manusia (Sugiyono: 2012).
Metode penelitian menurut Prof. M.E Winarno adalah sebuah kegiatan ilmiah yang dilakukan menggunakan teknik yang cermat dan sistematis.
Metode Penelitian menurut Muhammad Nasir, metode penelitian merupakan hal yang penting bagi seorang peneliti untuk mencapai sebuah tujuan, serta dapat menemukan jawaban dari masalah yang di ajukan.
Judul: Dampak Bencana Banjir terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Waru, Sidoarjo
Oleh: Reni Kumalawati, Bambang Tedjo, Yunida Rosalina, Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Surabaya
Publikasi : Jurnal Pendidikan Geografi
Metode Penelitian:
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2010).
Hasil metodologi penelitian kuantitatif berupa hipotesis. Instrumen, statistik, dan hipotesis pada umumnya ditemukan pada:
1. Survei
Metode survei digunakan untuk mendapatkan data tentang karakteristik sesuatu. Metode ini juga digunakan untuk menguji beberapa hipotesis atas sampel yang diambil dari suatu populasi. Teknik pengumpulan data adalah dengan kuisioner atau wawancara. Hasil dari metodologi penelitian ini berupa generalisasi.
2. Eksperimen
Metode eksperimen digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (perlakuan/treatment) terhadap variabel dependen (hasil) dalam kondisi yang dikendalikan. Agar kondisi dapat dikendalikan, dalam penelitian eksperimen dibutuhkan kelompok kontrol. Metodologi penelitian ini sering dilakukan di laboratorium.
Kreativitas merupakan hal yang sangat diperlukan dalam kehidupan. Kreativitas dapat membantu seseorangdalam mengembangkan bakat yang dimilikinya untuk meraih prestasi dalam hidupnya.Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2012: 42-43), memaparkan bahwa kreativitas adalah ciri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang ditandai denganadanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari kombinasi karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi suatu karya baru yang berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya dan dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya dengan caraberpikir divergen. Seseorang yang memiliki keativitas selalu berpikir luas dalam mengembangkan gagasannya. Potensi kreativitas yang dimiliki seseorang dapat membantu menciptakan hasilkarya, baik dalam bentuk ide atau gagasan yang bermakna dan berkualitas. Menurut Utami Munandar (1992: 47),kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk membuat sesuatu melalui kombinasi baru berdasarkan data, informasi, dan unsur-unsur yang
9telah ada sebelumnya. Menciptakan sesuatu tidak perlu dimulai dari hal-hal yang baru, tetapi dapat melakukan kombinasi dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Salah satu hal yang dapat menentukan seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada.Menurut Hamzah & Nurdin ( 2011: 154),kreativitas sering digambarkan dengan kemampuan berpikir kritis, mempunyai banyak ide, mampu menggabungkan sesuatu gagasan yang belum pernah tergabung sebelumnya dan kemampuan untuk menemukan ide untukmemecahkan permasalahan.Kreativitas tidak harus menciptakan sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya, melainkan siswa dapat menyalurkan ide dengan membuat sesuatu yang menurutnya berbeda dari yang lain melalui kombinasi dari data atau informasiyang tersedia sebelumnya, sehingga ada kebanggaan sendiri dari siswa dalam menciptakankaryanya. Kreativitas sangat dibutuhkan dalam menyiasati segala keterbatasan yang dimilki oleh seseorang, sehingga seseorang yang telah menggunakan kreativitasnya berarti telah melatih dirinya sendiri untuk mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan juga berpeluang untuk menghasilkan sesuatu yang baru untuk memudahkan dalam kehidupannya.Menurut Beetlestone (2011: 2), kreativitas dapat membantu seseorang dalam menjelaskan dan menggambarkan konsep-konsep abstrak dengan melibatkan skil-skil seperti keingintahuan, kemampuan, menemukan,
10eksplorasi, pencarian kepastian dan antusiasme, yang semuanya merupakan kualitas-kualitas yang sangat besar terdapat pada siswa. Berdasarkan pendapat tersebut, kreativitas merupakan komponen penting dalam pembelajaran, tanpa kreativitas siswa hanya akan belajar pada tingkat kognitifnya saja, dan hal ini akan mempersempit pengetahuan siswa dalam belajar mengembangkan kreativitasnya.Kreativitas diperlukan untuk mempermudah siswa dalam memahami pelajaran yang sulit untuk dimengerti. Guru harus mampu menciptakan kondisi yang nyaman dalam pembelajaran sehingga bakat-bakat kreativitas dalam siswa dapat keluar dan menghasilkan pemahaman yang mudah dimengerti oleh siswa. Kreativitas tidak hanya bersifat abstrak, namun juga bersifat konkrit. Guru dapat menggunakan acuan taksonomi untuk mengetahui kreativitas siswa. David R. Krathwohl (2002: 212), mengemukakan “The taxonomy of educational objectivest is a framework for classifying statements of what we expect or intend students to learn as a result of instruction”. Berdasarkan pernyataan diatas bahwa taksonomi adalah sebuah kerangka kerja untuk mengklasifikasikan apa yang diharapkan pada pembelajaran yang tujuannya untuk menginstruksikan siswa dalam belajar.Menurut Nana Sudjana (2006: 22), mengemukakan bahwa dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu: 1)
ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual, 2) ranah afektif berkenaan dengan sikap, 3) ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ketiga taksonomi tersebut tidak dapat berdiri sendiri secara terpisah satu dengan yang lain namun saling berhubungan satu sama lain.Taksonomi pada ranah kognitif meliputi enam jenjang, yaitu: 1) mengingat (remembering) merupakan kemampuan menyebutkan kembali informasi atau pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan; 2) memahami (understanding) merupakan kemampuan memahamiintruksi dan menegaskan pengertian/makna ide atau konsep yang telah diajarkan baik dalam bentuk lisan, tertulis, maupun grafik/diagram; 3) menerapkan (applying)merupakan kemampuan melakukan sesuatu dan mengaplikasikan konsep dalam situasi tetentu; 4) analisis (analyzing) merupakan kemampuan memisahkan konsep kedalam beberapa komponen dan mnghubungkan satu sama lain untuk memperoleh pemahaman atas konsep tersebut secara utuh; 5) menilai (evaluating)merupakan kemampuan menetapkan derajat sesuatu berdasarkan norma, kriteria atau patokan tertentu; 6) mencipta (creating) merupakan kemampuan memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu bentuk baru yang utuh dan koheren, atau membuat sesuatu yang orisinil (Atwi Suparman, 2012: 140). Kreativitas merupakan puncak dari taksonomi pada ranah kognitif. Siswa sebelum melakukan kreasi atau menciptakan sesuatu, maka siswa
harus melakukan tahapan antara lain: 1) mengingat materi pembelajaran dengan cara menyebutkan, mengingat, menjelaskan, dan mengulang pembelajaran; 2) memahami materi dengan cara menerangkan, menjelaskan, menguraikan, mendiskusikan, dan mencontohkan; 3) menerapkan materi yang dapat dilakukan dengan mendemonstrasikan, mempraktekkan, mengemukakan, menggambar dan menyusun; 4) menganalisis materi pembelajaran dengan cara menemukan, memecahkan, merinci, dan menyimpulkan; 5) mengevaluasi materi pembelajaran dengan cara mempertahankan, menggkritik, membuktikan, dan merangkum. Setelah semua tahapan tersebut dilakukan, maka siswa dapat menciptakan sebuah produk dari materi yang didapatkan dengan cara melakukan inovasi dan mengahasilkan suatu karya
Menurut Kasmir (2014:136) Net Profit Margin(NPM) merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Untuk mengukur rasio ini adalah dengan cara membanding antara laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih.Menurut Jusuf (2014:75) Net Profit Margin (NPM) yaitu tingkat keuntungan yang diperoleh dari bisnis setelah mengurangi penjualan dengan segala biayanya. Rasio Net Profit Margin (NPM) disebut juga dengan rasio pendapatan terhadap penjualan.Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Net Profit Margin (NPM) adalah perbandingan laba bersih setelah pajak terhadap total penjualan. Rasio ini untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan bersihnya terhadap total penjualan.
Best (2009:46), menyatakan Bahwa terdapat tiga kekuatan fundamental
yang mendorong tingkat dimana sebuah bisnis mempunyai orientasi pasar :
1. Marketing Knowledge : tingkat dimana manajer dan karyawan
telah di didik dan dilatih dalam pemasaran yang secara langsung
berdampak pada orientasi sebuah bisnis.
2. Marketing Leadership : orientasi pasar sebuah unit bisnis
dimulai dari atas. Jika manajemen senior dan manajer-manajer
kunci marketing tidak mempunyai orientasi pasar yang kuat, sulit
bagi sebuah unit bisnis untuk membangun level marketing yang
sempurna.
3. Employee Satisfaction : jika karyawan tidak bahagia dalam
pekerjaan mereka dan tidak diinformasikan mengenai bagaimana
mereka berdampak pada pelanggan, bisnis yang berorientasi pasar
16
tidak akan mencapai seperti apa yang diinginkan oleh senior
manajemen.
Evaluasi kadar hemoglobin dan hematokrit merupakan bagian penting dalam pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan dilakukan secara rutin pada pasien yang melakukan persalinan secara bedah sesar. Kadar hemoglobin menunjukkan perkiraan kemampuan kapasitas angkut oksigen. Isitilah hematokrit sering digunakan untuk menunjukkan presentasi jumlah eritrosit dari keseluruhan sel darah (Anne, 1998).
Selama kehamilan volume darah meningkat sampai 50% dan peningkatan eritrosit kurang dari 33%. Peningkatan relatif volume plasma hematokrit yang lebih rendah. Nilai normal hemoglobin pada wanita hamil adalah lebih dari 10,5g/dl (Incorpi, 2007).
Menurut Kreitner dan Kinicki (2015), bahwa budaya organisasi adalah satu wujud anggapan yang dimiliki, diterima secara implisit oleh kelompok dan menentukan bagaimana kelompok tersebut rasakan, pikirkan, dan bereaksi terhadap lingkungannya yang beraneka ragam. Hasil penelitian Supriyadi et al. (2017) menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap OCB.
Return saham di pasar modal dibedakan menjadi dua jenis yaitu current income (pendapatan lancar) dan capital gain/capital loss (keuntungan selisih harga).
Current income adalah keuntungan yang didapat melalui pembayaran yang bersifat periodik seperti dividen. Keuntungan ini biasanya diterima dalam bentuk kas atau setara kas sehingga dapat diuangkan secara cepat. Misalnya dividen saham yaitu dibayarkan dalam bentuk saham yang bisa dikonversi menjadi uang kas dengan cara menjual saham yang diterimanya.
Capital gain (loss) merupakan selisih laba (rugi) yang dialami oleh pemegang saham karena harga saham sekarang relatif lebih tinggi (rendah) dibandingkan harga saham sebelumnya. Jika harga saham sekarang (Pt) lebih tinggi dari harga saham periode sebelumnya (Pt-1) maka pemegang saham mengalami capital gain. Jika yang terjadi sebaliknya maka pemegang saham akan mengalami capital loss.
Kecemasan sering diukur dengan menggunakan kuesioner.
Kuesioner dapat digunakan pada remaja dan orang dewasa, sebab
tidak dipengaruhi oleh keterbatasan vokabulari (kata – kata),
pemahaman dan perkembangan. Kuesioner yang sering digunakan
untuk melakukan penilaian kecemasan adalah CDAS dan MDAS
(Modified Dental Anxiety Scale’s) (Riksavianti, 2014).
Tingkat kecemasan menurut Peplau dalam Stuart (2016)
diidentifikasi menjadi empat tingkat, sebagai berikut:
1) Kecemasan ringan, terjadi saat ketegangan hidup sehari-hari.
2) Kecemasan sedang, dimana seseorang hanya berfokus pada hal
yang penting saja.
3) Kecemasan berat, ditandai dengan penurunan yang signifikan di
lapang persepsi.
4) Panik, dikaitkan dengan rasa takut dan teror
Penentuan suatu prestasi sebagai sebuah prestasi yang substansial atau tidak,
dapat digunakan beberapa doktrin pelaksanaan prestasi, yakni doktrin pemenuhan
prestasi substansial dan dokrin pemenuhan prestasi penuh. Doktrin pemenuhan
prestasi penuh diartikan sebagai suatu doktrin yang pelaksanaan prestasinya harus
dilakukan sepenuhnya, misalnya dalam jual beli tanah. Menurut Munir Fuady,
pemenuhan prestasi substansial adalah suatu doktrin yang mengajarkan bahwa
sungguhpun satu pihak tidak melaksanakan prestasinya secara sempurna, tetapi jika
dia telah melasanakan prestasinya tersebut secara substansial, maka pihak lain harus
juga melaksanakan prestasinya secara sempurna
Untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik ada beberapa hal
yangharus diperhatikan yaitu(Siagian, 2006:63):
1) Bangunan tempat kerja
2) Ruang kerja yang lega
3) Ventilasi pertukaran udara
4) Tersedianya tempat-tempat ibadah keagamaan
5) Tersedianya sarana angkutankhusus maupun umum untuk
karyawannyaman dan mudah
Menurut (Sedarmayanti, 2009:21) Menyatakan bahwa secara
garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua faktor yaitu
faktor lingkungan kerja fisik dan faktor lingkungan kerja non fisik.
1. Faktor Lingkungan Kerja Fisik
1) Pewarnaan
2) Penerangaan
3) Udara
4) Suara bising
5) Ruang gerak
6) Keamanan
7) Kebersihan
2. Faktor Lingkungan Kerja Non Fisik
1) Struktur kerja
2) Tanggung jawab kerja
3) Perhatian dan dukungan pemimpin
4) Kerja sama antar kelompok
5) Kelancaran komunikasi
Menurut (Suwatno dan Priansa, 2011:163) secara umum
lingkungakerja terdiri dari lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja
psikis.
1. Faktor Lingkungan Fisik
Faktor lingkungan fisik adalah lingkungan yang berada
disekitarpekerja itu sndiri. Kondisi di lingkungan kerja dapat
mempengaruhikepuasan kerja karyawan yang meliputi :
1) Rencana Ruang Kerja
Meliputi kesesuaian pengaturan dan tata letak peralatan
kerja, halini berpengaruh besar terhadap kenyamanan
dan tampilan kerjakaryawan.
2) Rancangan Pekerjaan
Meliputi peralatan kerja dan prosedur kerja atau metode
kerja,peralatan kerja yang tidak sesuai dengan
pekerjaannya akanmempengaruhi kesehatan hasil kerja
karywan.
3) Kondisi Lingkungan Kerja
4) Penerangan dan kebisingan sangat berhubungan
dengankenyamanan para pekerja dalam bekerja. Sirkulasi
udara, suhu ruangandan penerangan yang sesuai sangat
mempengaruhi kondisi seseorangdalam menjalankan
tugasnya.
5) TingkatVisual PripacydanAcoustical Privacy
Dalam tingkat pekerjaan tertentu membutuhkan tempat
kerjayang dapat mdemberi privasi bagi karyawannya.
Yang dimaksudprivasi disini adalah sebagai “
keleluasan pribadi “ terhadapa hal-halyang menyangkut
dirinya dan kelompoknya.
Sedangkanacousticalprivasiberhubungan dengan
pendengaran.
2. Faktor Lingkungan Psikis
Faktor lingkungan psikis adalah hal-hal yang menyangkut
dengan hubungan sosial dan keorganisasian. Kondisi psikis yang
mempengaruhikepuasan kerja karyawan adalah :
1) Pekerjaan Yang Berlebihan
Pekerjaan yang berlebihan dengan waktu yang
terbatas ataumendesak dalam penyelesaian suatu
pekerjaan akan menimbulkanpenekanan dan ketegangan
terhadap karyawan, sehingga hasil yangdidapat kurang
maksimal.
2) Sistem Pengawasan Yang Buruk
Sistem pengawasan yang buruk dan tidak efisien
dapat menimbulkan ketidakpuasaan lainnya, seperti ketidak
stabilan suasana politik dan kurangnya umpan balik prestasi
kerja.c.FrustasiFrustasi dapat berdampak pada
terhambatnya usaha pencapaian tujuan, misalnya harapan
perusahaan tidak sesuai dengan harapan karyawan, apa
bila hal ini berlangsung terus menerus akan
menimbulkan frustasi bagi karyawan.
3) Perubahan-Perubahan Dalam Segala Bentuk
Perubahan yang terjadi dalam pekerjaaan akan
mempengaruhicara orang-orang dalam bekerja, misalnya
perubahan lingkungan kerja seperti perubahan jenis
pekerjaan, perubahan organisasi, dan pergantian
pemimpin perusahaan.
4) Perselisihan Antara Pribadi Dan Kelompok
Hal ini terjadi apabila kedua belah pihak mempunyai tujuan
yangsama dan bersaing untuk mencapai tujuan tersebut.
Perselisihan inindapat berdampak negatif yaitu
terjadinya peselisihan dalam berkomunikasi, kurangnya
kekompakan dan kerjasama. Sedangkandampak positifnya
adalah adanya usaha positif untuk mengatasi perselisihan
ditempat kerja, diantaranya: persaingan,masalah status
dan perbedaan antara individu.
Lingkungan kerja fisik dan psikis keduanya tidak dapat dipisahkan
keduanya sama pentingnya dalam sebuah perusahaan. Jika perusahaan hanya
mendukung satu lingkungan kerja saja maka akan menciptakan
ketidaknyamanan bagi karyawan dalam bekerja. Dan jika karyawan merasa
tidak nyaman akan menurunkan produktivitas karyawan.
Join Active Adult Chat Group Telegram for Engaging Discussions
Joining an active adult chat group on Telegram can be a fun way to engage in adult-themed discussions. These groups provide a space where people can share their thoughts and experiences in a safe environment. Telegram communication is known for its privacy features, making it a secure messaging platform for users.
In these private chat groups, you can connect with like-minded individuals who are interested in various topics. Whether you want to discuss relationships, lifestyle choices, or other adult themes, joining adult groups on Telegram can enhance your social experience. It’s a great way to meet new friends and share ideas in a respectful and engaging manner.
Joining adult chat groups on Telegram offers many advantages. You can create chat groups that focus on specific interests, making it easier to find people who share your passions.
In these groups, you can participate in adult discussions that are both informative and entertaining. This allows for a deeper understanding of various topics and helps you learn from others’ experiences.
Another benefit is the ability to share media in chat. Whether it’s articles, videos, or images, sharing content can enhance conversations and provide more context to discussions.
Additionally, these groups help you connect with similar interests, making it easier to form friendships and networks based on shared hobbies or ideas.
What is the top 1 channel of Telegram?
The top channel on Telegram is often considered to be an adult interaction platform that caters to a wide audience. This Telegram adult community is known for its engaging content and active members.
People join this channel to find a variety of discussions and topics that interest them. It serves as a hub for those looking to explore adult themes in a respectful and fun way.
User Testimonials
Many users have shared their positive experiences regarding private adult conversations in Telegram groups. They appreciate the adult group privacy that these chats offer, allowing them to express themselves freely without fear of judgment.
Users often mention how these groups have helped them connect with others and share their thoughts in a safe environment. The sense of community and support is a significant factor in why many choose to join these adult chat groups.
How to Find and Join Telegram Adult Groups
Finding and joining Telegram adult groups can be an exciting journey. Here are some steps to help you get started with secure adult chats and adult group participation.
Search for Groups: Use the search function in Telegram to look for adult groups. You can type in keywords related to your interests.
Join Public Groups: Many adult groups are public. You can join them easily without needing an invitation.
Ask for Recommendations: Friends or online communities can help you find good groups for adult media sharing.
Check Group Descriptions: Before joining, read the group descriptions to ensure they match your interests.
Telegram adults group links for 2025
In 2025, there will be many Telegram adult groups that focus on adult interest connections. These groups will be part of the Telegram adult platform, making it easier for users to find like-minded individuals.
Interest-Based Groups: Look for groups that focus on specific adult topics.
Networking Opportunities: Join groups that allow you to connect with others who share your interests.
Telegram links for movies?
If you’re looking for Telegram links for movies, you can find groups that focus on adult group communication and adult-themed interaction. These groups often share movie recommendations and discussions.
Movie Sharing: Many groups allow members to share links to adult-themed movies.
Discussion Threads: Engage in conversations about your favorite films with other members.
Telegram has many popular adult content channels that cater to various interests. These channels provide an adult group environment where users can engage in discussions and share content.
Many people appreciate the adult chat privacy that these channels offer, allowing them to explore topics freely.
Pr00n🔞 Tushy | Blacked | Babes | Vixen | Mofos
This channel is known for its engaging adult group discussions. Users can connect with others who share similar interests in adult content.
The adult chat security features on Telegram ensure that conversations remain private and safe.
Engaging Content: Members can share their favorite adult media.
Community Interaction: Users can participate in discussions about various topics.
Incest Lover
This channel focuses on specific themes within the adult genre. It encourages adult group media sharing among its members.
Users can join adult interest groups to discuss their preferences and experiences.
Themed Discussions: Engage in conversations about niche topics.
Content Sharing: Share and receive recommendations from other members.
Dian Telegram Channels for Adult Content
Dian Telegram channels are popular for adult chat connections. These channels serve as an adult group platform where users can meet and interact with others.
Members can share their thoughts and experiences in a safe environment.
Diverse Interests: Find groups that cater to various adult themes.
Networking Opportunities: Connect with like-minded individuals easily.
Important Links and Resources
In the world of online communication, having access to important links and resources can enhance your experience. This is especially true when it comes to adult-themed discussions.
A secure messaging platform can help you connect with others safely. It ensures that your conversations remain private and secure.
روابط مهمة
When looking for an adult interaction platform, consider joining private chat groups. These groups allow you to engage in meaningful conversations with others who share your interests.
Here are some key points to remember:
Privacy Matters: Always choose platforms that prioritize your privacy.
Engagement: Look for groups that encourage active participation.
Respectful Environment: Ensure the platform promotes respectful discussions.
“Finding the right platform can make all the difference in your online experience.”
When using adult group participation and secure adult chats, you may encounter some common issues. Here are some tips to help you troubleshoot these problems effectively.
Connection Problems: If you can’t connect to a group, check your internet connection. Sometimes, a weak signal can cause issues.
App Updates: Ensure that your messaging app is up to date. Outdated apps can lead to bugs and glitches.
Privacy Settings: Review your privacy settings to make sure they allow you to join and participate in groups.
Here’s how you can update Chrome
Updating Chrome is essential for smooth browsing, especially when engaging in adult media sharing and connecting with similar interests. Follow these steps to keep your browser updated:
Open Chrome: Launch the Chrome browser on your device.
Access Menu: Click on the three dots in the upper right corner.
Select “Help”: Hover over “Help” and then click on “About Google Chrome.”
Check for Updates: Chrome will automatically check for updates and install them if available.
Restart Chrome: After the update, restart the browser to apply changes.
By keeping your browser updated, you can enjoy a better experience in adult group chats and media sharing.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan
kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak dapat dipersiapkan
penanggulangan sebelumnya sehingga menghasilkan cedera
yang riil. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak
dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan
korban jiwa dan harta benda (Peraturan Menteri Tenaga Kerja
(Permenaker) Nomor: 03/Men/1998).
Menurut (OHSAS 18001, 1999) dalam Shariff (2007),
kecelakaan kerja adalah suatu kejadian tiba-tiba yang tidak
diinginkan yang mengakibatkan kematian, luka-luka, kerusakan
harta benda atau kerugian waktu.
Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan
kerja, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga
semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang
telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian
baik korban manusia maupun harta benda. Sedangkan menurut
UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja,
kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi dalam pekerjaan
sejak berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke
rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Menurut Tarwaka (2016) Kecelakaan kerja adalah suatu
kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga
semula yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta
benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam
suatu proses kerja indusri atau yang berkaitan dengannya.
Dengan demikian kecelakaan kerja mengandung unsur-unsur
sebagai berikut :
1. Tidak diduga semula, oleh karena dibelakang peristiwa
kecelakaan tidak terdapat unsur kesengajaan dan perencanaan
2. Tidak diinginkan atau diharapkan, karena setiap peristiwa
kecelakaan akan selalu disertai kerugian baik fisik maupun
mental
3. Selalu menimbulkan kerugian dan kerusakan, yang sekurangkurangnya akan dapat menyebabkan gangguan proses kerja.
Menurut ILO/ WHO (1998) Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) adalah suatu promosi, perlindungan dan peningkatan
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya mencakup aspek fisik,
mental, dan sosial untuk kesejahteraan seluruh pekerja di semua
tempat kerja. Pelaksanaan K3 merupakan salah satu bentuk
upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas
dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan
atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas
kerja.
Menurut OHSAS 18001:2007, Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) adalah semua kondisi dan factor yang dapat
berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja
maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu)
di tempat kerja. Sedangkan dari sudut ilmu hukum, K3
didefinisikan sebagai salah satu upaya perlindungan agar
setiaptenaga kerja dan orang lain memasuki tempat kerja
senantiasa dalam keadaan yang sehat dan selamatn serta
sumber-sumber proses produkasi dapat dijalankan secara aman,
efisien dan produktif (Tarwaka, 2014).
Syarat dalam keselamatan dan kesehatan kerja dalam
peraturan perundangan No. 1 tahun 1970 Pasal 3 sebagai berikut:
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
b. Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran
c. Memberi kesempatan atau jalan penyelamatan diri pada
waktu kebakaran atau kejadian -kejadian lain yang
membahayakan
d. Memberi pertolongan pada kecelakaan
e. Memberi alat pelindung diri pada para pekerja
f. Mencegah dan mengendalikan timbulnya atau menyebar
luasnya suhu, kelembapan, debu, kotoran, asap, uap, gas,
aliran udara, cuaca, sinar radiasi, kebisingan dan getaran.
g. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja
baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan.
h. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
i. Menyelenggarakan suhu dan kelembapan udara yang baik
j. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup
k. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban
l. Menerapkan ergonomi di tempat kerjam.
m. Mengamankan dan mengamankan pengangkutan orang dan
barang
n. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan
o. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat,
perlakuan dan penyimpananan barang
p. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
q. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada
pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah
tingg
Menurut (Darmawi, 2006), manajemen risiko adalah suatu usaha untuk
mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan
perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih
tinggi. Atau manajemen risiko adalah upaya untuk mengendalikan risiko yang
terjadi dengan menerapkan cara-cara sistematik agar kerugian dapat dihindari atau
diminimalisirkan.
Tujuan manajemen risiko secara umum adalah cara yang bisa digunakan
untuk dasar memprediksikan bahaya yang akan dihadapai dengan perhitungan
yang akurat serta pertimbangan yang matang dari berbagai informasi awal untuk
menghindari kerugian. Namun secara khusus tujuan dari manajemen resiko
adalah:
1) Menyediakan informasi tentang resiko kepada pihak regulator.
2) Meminimalisasi kerugian dari berbagai resiko yang bersifat uncontrolled
atau tidak dapat diterima
3) Agar perusahaan tetap hidup dengan perkembangan yang
berkesinambungan.
4) Memberikan rasa aman.
5) Biaya risiko manajemen yang efisien dan efektif.
6) Agar pendapatan perusahaan stabil dan wajar, memberikan kepuasan bagi
pemilik dan pihak lain.
Manfaat manajemen resiko adalah suatu cara untuk melindungi perusahaan
atau suatu usaha dari setiap kemungkinan yang merugikan. Adapun manfaat lain
dari manajemen resiko adalah :
1) Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi resiko dari setiap
kegiatan yang mengandung bahaya.
2) Menekan biaya untuk penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan.
3) Menimbulkan rasa aman dikalangan pemegang saham mengenai
kelangsungan dan keamanan investasinya.
Menurut Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah Republik Indonesia Nomor : 02/Per/M.KUKM/II/2017,
koperasi adalah organisasi ekonomi yang dimiliki dan dioperasikan
oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Koperasi
melandaskan kegiatan berdasarkan pinsip gerakan ekonomi rakyat
yang berdasarkan asas kekeluargaan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor :
13/Per/M.KUKM/XI/2015 yang terdapat di Bab 1 Ketentuan
umum, koperasi adalah bahan usaha yang beranggotakan orang
seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan
kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.
Teori atribusi mempelajari mengenai proses bagaimana seseorang menginterpretasikan suatu peristiwa, alasan, atau sebab perilakunya. Lubis (2010: 90) dalam bukunya “akuntansi keperilakuan”, menyatakan bahwa teori atribusi dikembangkan oleh Fritz Heider. Teori ini menjelaskan mengenai bagaimana cara menentukan sumber, penyebab atau motif perilaku seseorang. Sarwono (Darwati, 2015) mengatakan Heider percaya, bahwa orang seperti ilmuwan amatir, berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba-tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu.
Penghargaan dalam kaitannya kegiatan CSR yaitu CSR Awards. Menurut Radyati (2016) penganugerahan CSR Awards diharapkan dapat mengedukasi, menginspirasi, dan mendorong perusahaan menjalankan bisnis secara bertanggung 25 jawab dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan melalui CSR holistis. Sesuai dengan teori stakeholder manajerial, dimana Perusahaan yang menerima CSR Awards memiliki komitmen yang tinggi dalam mengelola hubungan dengan stakeholder kunci, perusahaan akan lebih transparan dalam pengungkapan informasi, terutama pengungkapan informasi anti korupsi. Mendapatkannya awards dapat merefleksikan perusahaan tersebut melakukan praktik CSR yang baik melalui pengungkapan informasi (Anas, 2015) hasil penelitiannya menunjukan bahwa awards berpengaruh positif terhadap pengungkapan informasi CSR
Menurut Monroe dalam Fandy Tjiptono (2011: 374), “nilai pelanggan adalah tradeoff antara persepsi pelanggan terhadap kualitas atau manfaat produk dan pengorbanan yang dilakukan lewat harga yang dibayarkan”. Konsep nilai pelanggan mengindikasikan suatu hubungan yang kuat terhadap kepuasan pelanggan, dimana konsep tersebut menggambarkan pertimbangan yang evaluatif pelanggan tentang produk yang ditawarkan. Dari pernyataan di atas maka dapat dirumuskan bahwa nilai pelanggan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan
Dalam membangun kepercayaan, pemimpin mempunyai dampak yang besar terhadap iklim kepercayaan sebuah organisasi. Akibatnya pemimpin perlu membina kepercayaan diantara mereka sendiri dan anggotanya. Berikut cara-cara untuk membangun kepercayaan : 1) Tunjukkan cara dalam bekerja, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk orang lain. 2) Menjadikannya sebagai pemain tim 3) Mempraktikkan keterbukaan 4) Bersikap adil 5) Memelihara keyakinan 6) Menunjukkan kompetensi yang dimiliki.
Terdapat tiga prinsip utama dalam pemecahan masalah dalam AHP menurut Saaty, yaitu: Decomposition, Comparative Judgement, dan Logical Concistency. Secara garis besar prosedur AHP meliputi tahapan sebagai berikut: 1. Dekomposisi masalah Dekomposisi masalah adalah langkah dimana suatu tujuan (Goal) yang telah ditetapkan selanjutnya diuraikan secara sistematis kedalam struktur yang menyusun rangkaian sistem hingga tujuan dapat dicapai secara rasional. Dengan kata lain, suatu tujuan yang utuh, didekomposisi (dipecahkan) kedalam unsur penyusunnya. 2. Penilaian/pembobotan untuk membandingkan elemen-elemen Apabila proses dekomposisi telah selasai dan hirarki telah tersusun dengan baik. Selanjutnya dilakukan penilaian perbandingan berpasangan (pembobotan) pada tiap-tiap hirarki berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya. 3. Penyusunan matriks dan Uji Konsistensi Apabila proses pembobotan atau pengisian kuisioner telah selesai, langkah selanjutnya adalah penyusunan matriks berpasangan untuk melakukan normalisasi bobot tingkat kepentingan pada tiap-tiap elemen pada hirarkinya masingmasing. Pada tahapan ini analisis dapat dilakukan secara manual ataupun dengan menggunakan program komputer seperti Expert Choice. 8 4. Penetapan prioritas pada masing-masing hirarki Untuk setiap kriteria dan alternatif,perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat alternatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria kualitatif, maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai dengan penilaian yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan proritas. Bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematik. 5. Sistesis dari prioritas Sistesis dari prioritas didapat dari hasil perkalian prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan yang ada pada level atasnya dan menambahkannya ke masing-masing elemen dalam level yang dipengaruhi oleh kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau lebih dikenal dengan istilah prioritas global yang kemudian dapat digunakan untuk memberikan bobot prioritas lokal dari elemen yang ada pada level terendah dalam hirarki sesuai dengan kriterianya. 6. Pengambilan/penetapan keputusan. Pengambilan keputusan adalah suatu proses dimana alternatifalternatif yang dibuat dipilih yang terbaik berdasarkan kriterianya.
Pengertian dari pemberdayaan pegawai adalah upaya dalam memberikan wewenang kepada karyawan dalam merencanakan (planning), mengendalikan (controlling) dan membuat keputusan atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa harus mendapatkan otorisasi secara eksplisit dari atasan diatasnya (Hansen & Mowen, 2017). Dalam pengertian lain, Spreitzer (2015) mendefinisikan pemberdayaan sebagai suatu proses dimana individu mempunyai kekuasaan untuk berpartisipasi secara langsung untuk mengendalikan dan mempengaruhi suatu kejadian yang memiliki efek langsung terhadap kehidupannya.
Adapun pengertian pemberdayaan sumber daya manusia menurut Sedarmayanti (2017) mengatakan bahwa: Pemberdayaan sumber daya manusia adalah suatu proses kegiatan usaha untuk lebih memberdayakan “daya manusia” melalui perubahan dan pengembangan manusia itu sendiri, berupa kemampuan, kepercayaan, wewenang, dan tanggung jawab dalam rangka pelaksanaan kegiatan-kegiatan organisasi untuk meningkatkan kinerja sebagaimana diharapkan. Menurut Stewart diterjemahkan oleh Haradjana (1998:22) bahwa: “Pemberdayaan sumber daya manusia merupakan cara yang amat praktis dan produktif untuk mendapatkan yang terbaik dari diri kita sendiri dan dari staf kita”.
Menurut Stewart dalam Kadarisman (2017) mengajukan teori pemberdayaan SDM dengan istilah “pegawai” yang dikenal dengan “the eight e’s of empowerment” dikatakan bahwa: “People want to do a good job and will do so if you let them”. (atas dasar uraian tersebut, dapat ditegaskan bahwa bukan berarti meniadakan kontrol sama sekali kepada pegawai, namun memberi keleluasaan serta kewenangan kepada pegawai untuk mengatur dan mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya ke arah yang lebih positif).
Beradasrkan pengertian di atas maka pemberdayaan pegawai adalah upaya dalam memberikan wewenang kepada karyawan dalam merencanakan (planning), mengendalikan (controlling) dan membuat keputusan atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa harus mendapatkan otorisasi secara eksplisit dari atasan diatasnya
Luthans (Kaswan, 2012) menyatakan aspek-aspek dalam kepuasan kerja, antara lain:
Pekerjaan itu sendiri
Dalam hal ini pekerjaan memberikan tugas yang menarik, kesempatan untuk belajar, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab. Jika karyawan merasa mampu untuk menerima tanggungjawab dari pekerjaan yang dibebankan dan karyawan juga merasa yakin bahwa pekerjaannya merupakan bakat dan keterampilannya maka karyawan akan sangat mudah untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan begitupun sebaliknya. Jika pekerjaan itu dirasa membuat karyawan merasa senang maka akan terasa mudah untuk menjalaninya.
Gaji
Sejumlah upah atau gaji yang diterima dan tingkat dimana hal ini bisa dipandang sebagai hal yang dianggap pantas dibandingkan dengan orang lain dalam organisasi. Karyawan akan merasa senang jika upah yang diterima sesuai dengan pekerjaan yang dilakukannya dan merasa gaji yang diterima dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
Promosi
Kesempatan untuk maju didalam organisasi dilakukan dengan cara promosi. Dalam hal ini karyawan akan senang jika promosi dilakukan secara objektif dan kesempatan untuk meningkatkan karier di dalam organisasi sangat besar. Promosi ditempat kerja dilakukan dengan alasan untuk memotivasi karyawan agar selalu bekerja dengan baik supaya naik jabatan.
Pengawasan
Kemampuan penyelia untuk memberikan bantuan teknis dan dukungan perilaku. Apabila atasan dalam memberikan pengarahan dan mengambil keputusan sangat tegas dan objektif maka karyawan akan sangat puas. Atasan yang mengayomi dan mendukung prestasi bawahan akan sangat membuat karyawan merasa senang dan nyaman bekerja dengan atasan.
Rekan Kerja
Tingkat dimana rekan kerja pandai secara teknis dan mendukung secara sosial. Rekan kerja sangat berpengaruh dalam kepuasan kerja karyawan. Jika setiap karyawan memiliki hubungan dan komunikasi yang baik, maka akan tercipta suasana kekeluargaan yang hangat dan situasi yang baik didalam organisasi. Setiap karyawan harus pandai menempatkan diri dan dapat memberikan dukungan kepada sesama rekan kerja dan lingkungan sekitar.
Kondisi Kerja
Jika kondisi kerja bagus (misalnya bersih, rapih dan lingkungan menarik) maka karyawan akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dan sebaliknya. Lingkungan yang menarik dapat membuat suasana hati karyawan menjadi baik sehingga dapat memengaruhi hasil kerja karyawan. Kondisi kerja seperti fasilitas yang memadai juga turut membuat karyawan merasa puas
Jewell dan Siegall (dalam Prestawan, 2010) beberapa aspek dalam mengukur kepuasan kerja adalah:
Aspek psikologis yaitu kepuasan kerja yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan meliputi minat terhadap pekerjaan, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan.
Aspek fisik yaitu berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja, pengaturan waktu istirahat, keadaan ruangan, suhu udara, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur.
Aspek sosial yaitu berhubungan dengan interaksi sosial, baik antar sesama karyawan dengan atasan maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya serta hubungan dengan anggota keluarga.
Aspek finansial yaitu berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besar gaji, jaminan sosial, tunjangan, fasilitas dan promosi. Dari pemaparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kepuasan kerja terdiri dari aspek prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, promosi, pengembangan potensi individu. Selain itu aspek psikologis, aspek fisik, aspek sosial dan aspek finansial. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan aspek kepuasan kerja yang mengacu pada teori Herzberg (dalam Robbins & Judge, 2018) yaitu prestasi kerja, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, promosi, dan pengembangan potensi individu sebagai acuan untuk membuat alat ukur tentang kepuasan kerja karyawan karena aspek ini dipercaya sebagai sumber kepuasan kerja secara keseluruhan.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja pada karyawan menurut Robbins dan Judge (2018) ada empat faktor:
Rekan kerja yang mendukung
Individu mendapat sesuatu yang lebih dari pada sekadar uang atau prestasi yang nyata dari pekerjaan. Untuk sebagian karyawan, kerja memenuhi kebutuhan interaksi sosial. Oleh karena itu, memiliki rekan-rekan kerja yang ramah dan mendukung mampu meningkatkan kepuasan kerja. Memiliki rekan kerja yang mendukung akan membuat karyawan merasa nyaman di tempat kerja. Lingkungan yang nyaman tersebut membuat karyawan tidak mudah stress dan tertekan sehingga mudah memperoleh kepuasan dalam bekerja.
Penghargaan yang sesuai
Karyawan menginginkan sistem bayaran yang mereka rasa adil dan sesuai dengan harapan-harapan mereka. Ketika bayaran dianggap adil, sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individual, dan standar bayaran masyarakat, kemungkinan akan tercipta kepuasan. Karyawan yang merasakan bahwa bayaran yang diterimanya sesuai dengan apa yang diharapkan dan dikerjakan maka akan menciptakan kepuasan dalam bekerja.
Kondisi lingkungan kerja yang mendukung
Karyawan berhubungan dengan lingkungan kerja mereka untuk kenyamanan pribadi dan kemudahan melakukan pekerjaan yang baik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa karyawan lebih menyukai lingkungan fisik yang nyaman atau tidak berbahaya. Selain itu, sebagian besar karyawan lebih menyukai bekerja relatif dekat dengan rumah, mudah dijangkau dengan kendaraan dengan fasilitas yang relatif modern dan bersih, serta dengan peralatan yang memadai. Fasilitas yang memadai tersebut akan membantu karyawan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah sehingga akan memperoleh kepuasan dalam bekerja.
Pekerjaan yang menantang
Pada umumnya, individu lebih menyukai pekerjaan yang memberi mereka peluang untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan serta memberi beragam tugas, kebebasan, dan umpan balik tentang seberapa baik kerja mereka. Karakteristik-karakteristik ini membuat kerja lebih menantang secara mental dan membuatnya tertarik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apabila karyawan tertarik dengan pekerjaannya maka akan menajdi motivasi untuk menghasilkan pekerjaan yang berkualitas. Hasil pekerjaan yang berkualitas akan membuat dirinya bangga dan puas dengan pekerjaannya.
Indeks harga saham adalah suatu indicator yang menunjukkan pergerakan harga saham. Indeks berfungsi sebagai indictor tren pasar, artinya pergerakan indeks menggambarkan kondisi pasar pada suatu saat, apakah pasar sedang aktif atau lesu. Dengan adanya indeks, kita dapat mengetahui tren pergerakan harga saham saat ini, apakah sedang naik, stabil atau turum. Misalnya jika di awal bulan nilai indeks 300 dan saat ini di akhir bulan menjadi 360, maka kita dapat mengatakan bahwa secara rata-rata harga saham mengalami peningkatan sebesar 20%. Pergerakan indeks menjadi indicator penting bagi para investor untuk menentukan apakah mereka akan menjual, menahan atau membeli suatu atau beberapa saham karena harga saham bergerak dalam hitungan detik dan menit maka nilai indeks pun turun naik dalam waktu yang cepat pula (Martalena dan Maya Malinda, 2011). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau composite stock index menggunakan seluruh saham tercatat sebagai komponen perhitungan indeks. Masing-masing pasar modal memiliki indeks yang dibentuk berdasarkan saham-saham yang dipakai sebagai dasar dalam perhitungan indeks harga (Tandelilin, 2010:86). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983 sebagai indicator pergerakan harga saham yang tercatat di bursa. Hari dasar perhitungan indeks adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100. Sedangkan jumlah emiten yang tercatat pada 20 waktu itu adalah sebanyak 13 emiten (Mie dan Agustina, 2014)
Menurut Darmadji dan Hendy (2006: 1), pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai intrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas (saham), intrumen derivatif, maupun intrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah) dan sarana kegiatan berinvestasi. Pasar modal adalah pasar untuk surat berharga dan bagian dari pasar keuangan (financial market). Pаsаr modаl mеnyеdiаkаn fаsilitаs yаng mеmpеrtеmukаn duа kеpеntingаn yаitu pihаk yаng mеmiliki kеlеbihаn dаnа (invеstor) dаn pihаk yаng mеmеrlukаn dаnа (еmitеn). Tаvаniyаti dаn Qаmаriyаnti (2009: 3) mеnyеbutkаn bаhwа pаsаr modаl mеrupаkаn аltеrnаtif pеndаnааn bаgi pеmеrintаh dаn swаstа. Pasar modal juga dapat dikatakan sebagai wadah dan monopoli pemilikan perusahaan karena setelah perusahaan go public dan memanfaatkan pasar modal kemudian pemegang surat berharga juga menjadi pemilik perusahaan sehingga menjadi pemilik publik (Gitosudarmo dan Basri, 2002: 239). Secara umum fungsi pasar modal adalah sebagai berikut: 1. Sebagai sarana penambah modal bagi Perusahaan dapat memperoleh dana dengan cara menjual saham ke pasar modal yang kemudian akan dibeli oleh masyarakat dan perusahaan lain. 9 2. Sebagai sarana pemerataan pendapatan Setelah jangka waktu tertentu, saham-saham yang telah dibeli akan memberikan dividen (bagian dari keuntungan perusahaan) kepada para pembelinya (pemiliknya). Oleh karena itu, penjualan saham melalui pasar modal dapat dianggap sebagai sarana pemerataan pendapatan. 3. Sebagai sarana peningkatan kapasitas produksi Dengan adanya tambahan modal yang diperoleh dari pasar modal, maka produktivitas perusahaan akan meningkat. 4. Sebagai sarana penciptaan tenaga kerja Keberadaan pasar modal dapat mendorong muncul dan berkembangnya industri lain yang berdampak pada terciptanya lapangan kerja baru. 5. Sebagai sarana peningkatan pendapatan Negara Setiap dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham akan dikenakan pajak oleh pemerintah. Adanya tambahan pemasukan melalui pajak ini akan meningkatkan pendapatan Negara. 6. Sebagai indikator perekonomian Negara Aktivitas dan volume penjualan/ pembelian di pasar modal yang semakin meningkat (padat) memberi indikasi bahwa aktivitas bisnis berbagai perusahaan berjalan dengan baik, begitu pula sebaliknya. Manfaat dari pasar modal, diantaranya: 1. Menyediakan sumber pendanaan atau pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal. 10 2. Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus menjadi upaya diversifikasi. 3. Menyediakan indikator utama (leading indicator) bagi tren ekonomi negara. 4. Memungkinkan penyebaran kepemilikan perusahaaan sampai lapisan masyarakat menengah. 5. Menciptakan lapangan kerja atau profesi yang menarik. 6. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dengan prospek yang baik. 7. Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan resiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan diversifikasi investasi. 8. Membina iklim keterbukaan bagi dunia usaha dan memberikan akses kontrol sosial. 9. Mendorong pengelolaan perusahaan dengan iklim terbuka, pemanfaatan manajemen profesional, dan penciptaan iklim berusaha yang sehat. Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, efek adalah setiap surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, sekuritas kredit, tanda bukti utang, setiap right, waran, opsi atau setiap derivatif dari efek, atau setiap instrument yang ditetapkan sebagai efek. Berikut penulis sertakan penjelasannya: 1. Saham adalah penyertaan modal dalam kepemilikan suatu Perseroan Terbatas (PT) atau biasa disebut emiten. 11 2. Obligasi adalah surat pengakuan utang atas pinjaman yang diterima oleh perusahaan penerbit obligasi dari masyarakat. Jangka waktu obligasi yang ditetapkan dan disertai dengan pemberian imbalan bunga yang jumlah dan saat pembayarannya juga telah ditetapkan dalam perjanjian. 3. Right / klaim adalah hak memesan saham terlebih dahulu yang melekat pada saham yang akan diterbitkan untuk perusahaan, sebelum saham-saham tersebut ditawarkan kepada puhak lain. 4. Waran adalah efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan, yang memberi hak kepada pemegang saham untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada harga tertentu untuk enam bulan atau lebih. 5. Obligasi konveribel adalah obligasi yang setelah jangka waktu tertentu dan selam masa tertentu, dapat ditukarkan menjadi saham dari perusahaan emiten. 6. Saham dividen adalah saham baru yang diterbitkan perusahaan bagi pemegang saham. Alasan perusahaan membagi saham dividen adalah karena perusahaan ingin menahan laba yang bersangkutan di dalam perusahaan untuk digunakan sebagai modal kerja. 7. Saham bonus adalah saham yang diterbitkan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham lama, dengan tujuan untuk memeperkecil harga saham yang bersangkutan sehingga diharapkan mampu menyerap banyak investor karena harga yang terjangkau. 12 8. Sertifikat reksadana adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa pemodal menitipkan uang kepada manajer investasi sebagai pengelola dana untuk di investasikan baik di pasar modal atau pasar uang. 9. Sertifikat ADR / CDR (American Depository Receipts/ Continental Depository Receipts) adalah suatu resi (tanda terima) yang memberikan bukti bahwa saham perusahaan asing, disimpan sebagai titipan atau berada dibawah penguasaan suatu bank Amerika.
Menurut Verplanken & Herabadi (2001), pembelian impulsif dibagi menjadi dua
aspek penting, yaitu:
a. Kognitif
Aspek ini fokus kepada kurangnya perencanaan dalam keputusan pembelian
suatu barang. Individu membeli barang tanpa adanya pertimbangan harga terlebih
dahulu. Kegunaan dari barang yang dibeli juga diabaikan oleh individu. Individu
langsung membeli barang tersebut tanpa melakukan perbandingan dengan produk
lain.
b. Afektif
Aspek ini fokus kepada perasaan senang, adanya dorongan yang kuat untuk
membeli suatu barang, kurangnya kontrol diri, dan disertai dengan penyesalan
setelah membeli barang. Individu juga dapat merasakan respon emosi seperti
perasaan puas setelah melakukan pembelian.
Menurut Notoatmodjo (2010) dalam bukunya yang berjudul Ilmu Perilaku Kesehatan pada dasarnya ada dua kategori pelayanan kesehatan berdasarkan sasaran dan orientasinya, yaitu: a. Kategori yang berorientasi pada masyarakat: Pelayanan yang berorientasi pada publik ini terdiri dari sanitasi lingkungan seperti: sarana, air bersih, pembuangan limbah, imunisasi, dan sebagainya. b. Orientasi pelayanan kesehatan ini lebih kepada promotif dan preventif. Kategori yang berorientasi pada individu Pelayanan ini langsung kepada individu yang biasanya mengalami kondisi sakit sehingga pelayanan ini lebih kepada rehabilitatif dan kuratif.
Dewasa ini, Indonesia dikenal sebagai negara yang masyarakatnya beragama dan sangat mementingkan religi dalam hidupnya, hal ini bisa dilihat pada ideologi dasar negara yang meletakan keTuhanan di posisi teratas. Fenomena semangat pendalaman ajaran agama pada generasi muda di Indonesia menunjukan gejala peningkatan (Afiatin, 1998). Individu yang religius diketahui memiliki keyakinan, ketaatan, pengalaman, pengetahuan dan pengamalan yang diarahkan secara sadar dan sungguh-sungguh pada ajaran agamanya. Individu yang religiusitasnya tinggi cenderung memiliki regulasi diri yang baik sehingga tidak kompulsif dalam berbelanja (Djudiyah dan Sumantri, 2015). Religiusitas merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meminimalisir terbentuknya nilai materialistik dan belanja impulsif maupun kompulsif. Komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai agama yang telah diinternalisasinya akan berfungsi sebagai regulasi diri mapun kontrol diri dalam berperilaku. Individu yang memiliki religiusitas tinggi mampu menunda kegembiraan dengan baik serta memiliki performance yang lebih baik pada pengukuran prestasi akademik dan penyesuaian sosial (McCullough dan Willoughby, 2009). Menurut Joung, (2013) mahasiswa saat ini sangat memperhatikan penampilan, dan memiliki sikap konsumtif terhadap barang yang pembeliannya cenderung tidak direncanakan (compulsive), dan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Pusat perbelanjaan modern, seperti supermarket dan mall selalu dipenuhi oleh kalangan muda berstatus mahasiswa yang menunjukan perilaku konsumtif. Lingkungan hidup mahasiswa saat ini juga serat dengan nilai-nilai materialistis. Individu tersebut menjadi mudah terpengaruh oleh lingkungannya yang menyebabkan munculnya materialisme di kalangan mahasiswa. (Johan dan Cahyo, 2016). Individu yang materialistis juga dapat diketahui dari nilai yang dianutnya, yang menekankan kepentingan pada pemilikan harta benda dan pemerolehannya sebagai tujuan hidup, parameter kesuksesan, dan sumber kebahagiaan (Richins dan Dawson, 1992). Individu yang materialistis melakukan konsumsi demi konsumsi itu sendiri, karena tujuan hidupnya berhenti pada pemerolehan barang dan harta benda. Mereka memandang harta benda dan uang adalah kunci kebahagiaan dan kesuksesan sosial, dan mengabaikan pentingnya hubungan sosial, pengalaman, dan prestasi. Mereka 27 menilai kesuksesan diri dan orang lain berdasarkan jumlah dan kualitas harta benda yang dikumpulkan (Husna, 2016). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa religiusitas menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan materialisme pada mahasiswa. Karakteristik dari mahasiswa yang memiliki religiusitas dapat dijelaskan melalui dimensi religiusitas yaitu, dimensi ideologi, ritual, pengalaman, intelektual, dan pengamalan. Kelima aspek tersebut berhubungan dengan aspek-aspek materialisme yaitu, kepemilikan barang milik material dan uang adalah tujuan hidup yang paling penting, barang sebagai jalan utama untuk mencapai kebahagiaan personal dan barang milik sebagai alat ukur kesuksesan. Dimensi religiusitas yang pertama adalah dimensi kepercayaan (ideologi) terhadap Tuhan yaitu, keimanan individu terhadap ajaran-ajaran agamanya, terutama yang termuat dalam kitab suci atau pedoman ajaran agamanya. Serta keyakinan atau keimanan individu terhadap kebenaran ajaran agama, terutama terhadap ajaran-ajaran agama yang bersifat fundamental dan dogmatik. Individu yang memiliki kepercayaan yang tinggi pada Tuhan, mereka akan meletakan Tuhan sebagai tujuan hidup yang paling penting karena individu yang religius memiliki pemahaman bahwa hanya dengan menuju Tuhan, kebahagiaan sejati bisa didapatkan. Hal tersebut tentu berhubungan dengan materialisme individu yang hanya membatasi kebahagiaan sebatas kepemilikan benda-benda material semata. Aspek materialisme berupa tujuan hidup materialistis yang menekankan akan pentingnya kepemilikan barang dan uang pun akan berkurang dengan sendirinya karena tuntutan keimanan dan 28 ajaran agama yang fundamental dengan hanya menuju Tuhan (Jalaluddin, 2016). Dimensi yang kedua adalah dimensi praktik agama (ritualistik) yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan individu untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik agama ini terdiri dari ritual dan ketaatan yang ditandai dengan seberapa jauh kepatuhan individu dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual yang diperintahkan oleh agamanya. Kepatuhan ini ditunjukkan dengan meyakini dan melaksanakan kewajiban-kewajiban secara konsisten. Individu yang selalu taat menjalankan ajaran agamanya akan mengurangi sikap konsumtifnya karena di dalam agama terdapat ajaran tentang dilarangnya sikap hidup berlebihan terhadap barang materil yang identik dengan aspek materialisme yang meyakini bahwa barang dan uang adalah jalan utama untuk mencapai kebahagian personal, kehidupan yang lebih baik, dan identitas diri yang lebih positif (Ahyadi, 2011). Dimensi yang ketiga adalah dimensi pengalaman keagamaan (eksperiensial) yaitu, pengalaman, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensasi yang dialami individu terhadap komunikasinya dengan Tuhan. Individu yang yang mengalami pengalaman spiritual akan menilai kesuksesan seseorang berdasarkan pencapaian pada pengalaman spiritual tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan orientasi hidup antara Individu yang religius dengan individu yang materialis, di dalam ajaran agama, tujuan tertinggi dari kehidupan manusia adalah perjumpaannya dengan Tuhan dalam Syurga. Hal tersebut jelas berbeda dengan individu materialistis yang 29 menekankan aspek kepemilikan barang dan uang sebagai alat ukur untuk mengevaluasi prestasi dan tolak ukur kesuksesan diri sendiri juga orang lain. Individu yang materialistis hanya melihat kesuksesan seseorang sebatas pada pencapaian materi seperti memiliki barang dan uang. Mahasiswa yang mengalami pengalaman spiritualitas dalam hidupnya akan menilai kesuksesan seseorang tidak hanya pada pencapaian materi semata tapi kesuksesan tersebut diartikan sebagai pengalaman spiritualitas itu sendiri seperti kedekatan dan perjumpaan dengan Tuhan (Purwadi, 2007). Dimensi yang keempat adalah dimensi pengetahuan (intelektual) yang ditunjukkan dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman individu terhadap ajaran-ajaran agamanya, terutama yang termuat dalam kitab suci atau pedoman ajaran agamanya. Hal tersebut berpengaruh pada penurunan nilai materialisme. Individu yang religius memandang kesuksesan sejati dapat diperoleh tidak hanya dengan perolehan benda material semata tapi lebih dari itu, kesuksesan menurut individu yang memiliki religiusitas tinggi adalah perjumpaan dengan Tuhan, baik itu dalam dimensi kehidupan saat ini maupun kehidupan setelah kematian (Jalaluddin, 2016). Dimensi yang kelima adalah dimensi pengamalan (konsekuensial) yang mengacu pada identifikasi dari akibat-akibat keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan individu dari hari ke hari seperti perilaku individu yang dimotivasi oleh ajaran agamanya atau seberapa jauh individu menerapkan ajaran agamanya dalam perilaku hidupnya sehari-hari. Hal tersebut tentu berhubungan dengan meminimalisir terbentuknya nilai-nilai materialistik. 30 Komitmen yang tinggi dalam beragama akan berfungsi sebagai kontrol diri dalam menghadapi nilai-nilai materialisme (Djudiyah dan Sumantri, 2015).
Faktor-faktor yang mempengaruhi self management menurut Dembo (2004) dan Gantina (2011) adalah : 1) Faktor lingkungan Faktor lingkungan diasumsikan berinteraksi secara timbal balik dengan faktor pribadi dan perilaku. Ketika seseorang dapat memimpin dirinya, faktor pribadi digerakkan untuk mengatur perilaku secara terencana dan mengatur lingkungan belajar. Individu diperkirakan memahami dampak lingkungan selama proses penerimaan dan mengetahui cara mengembangkan lingkungan melalui penggunaan strategi yang bervariasi. 2) Faktor internal atau faktor personal Faktor internal atau faktor personal ini meliputi keyakinan dan persepsi (self efficacy, atribusi, dan self talk), respon fisiologis (misalnya kecemasan), dan mood (misalnya tertarik atau bosan). 3) Faktor perilaku. Faktor perilaku meliputi: a) Motivasi (misalnya: tujuan, pilihan, tingkat keterlibatan / usaha dan ketekunan); b) Metode pembelajaran (misalnya: penggunaan latihan, elaborasi, dan strategi organisasi); c) Menggunakan waktu (misalnya: perencanaan, memprioritaskan, dan penjadwalan pada saat-saat tugas diberikan, mulai, dan selesai); d) Lingkungan fisik dan sosial (jenis gangguan internal dan eksternal, jumlah waktu yang dihabiskan atau berkonsentrasi pada tugas-tugas) dan penggunaan sumber daya sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, berada dalam suatu struktur pendidikan tertentu dan merupakan tingkatan pendidikan tertinggi dibandingkan yang lainnya. Sedangkan menurut Hartaji (2012) mahasiswa adalah seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu maupun sedang belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada suatu institusi seperti universitas, politeknik maupun institusi pendidikan lainnya.
Menurut Naim (2013), merantau adalah meninggalkan kampung halaman, dengan kemauan sendiri, memiliki jangka waktu lama, dengan tujuan tertentu, menuntut ilmu dan mencari pengalaman, namun suatu saat akan kembali pulang. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa rantau adalah orang yang meninggalkan kampung halaman dan jauh dari orang tua yang sedang dalam proses belajar dan telah terdaftar di suatu institusi pendidikan. Seorang mahasiswa dikategorikan pada tahap perkembangan yang usianya 18 sampai 25 tahun. Tahap ini dapat digolongkan pada 2 masa remaja akhir sampai masa dewasa awal dan dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup (Yusuf, 2012).
Ciri-ciri kelompok sosial menurut Santoso (2004: 37) adalah sebagai berikut:
Adanya dorongan/motif yang sama pada setiap individu sehingga terjadi interaksi sosial sesamanya dan tertuju pada tujuan yang sama.
Adanya reaksi dan kecakapan yang berbeda di antara individu satu dengan yang lain akibat terjadinya interaksi sosial.
Adanya pembentukan dan penegasan struktur kelompok yang jelas, terdiri dari peranan dan kedudukan yang berkembang dengan sendirinya dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Adanya penegasan dan pengetahuan norma-norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasi tujuan kelompok.
Ciri-ciri kelompok sosial menurut Georg Simmel adalah sebagai berikut:
Robbins dan Jugde (2009) mendefinisikan komitmen organisasi
sebagai suatu keadaan dimana seorang karyawan memihak organisasi
tertentu serta tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Menurut Meyer dan Allen
(1990) komitmen organisasi merupakan hubungan karyawan dengan
organisasi dan memiliki implikasi terhadap keputusan untuk melanjutkan
atau tidak melanjutkan keanggotannya dalam organisasi.
Menurut Newstrom dan Davis (dalam Teresia & Suyasa, 2008),
komitmen organisasi adalah derajat dimana karyawan mengidentifikasikan
dengan organisasi dan ingin terus berpartisipasi secara aktif dalam
organisasi tersebut. Teresia dan Suyasa (2008) mengatakan komitmen
organisasi adalah derajat dimana karyawan mengidentifikasi dengan
organisasi dan menginternalisasi nilai-nilai organisasi, sehingga karyawan
ingin tetap bertahan dalam organisasi Greenberg (1996) menjelaskan
bahwa komitmen organisasi mendorong karyawan untuk mempertahankan
pekerjaannya dan menunjukkan hasil yang seharusnya. Hulin (1998)
komitmen organisasi adalah ketertarikan kepada organisasi menunjukan
sikap kepada organisasi sebagai keseluruhan.
Berdasarkan dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
komitmen merupakan hubungan karyawan dengan organisasinya dimana
karyawan percaya dan menerima tujuan, tugas dan peraturan dalam
organisasi tersebut sehingga karyawan tetap bekerja dalam organisasi
tersebut.
Berdasarkan definisi yang sudah dijelaskan sebelumnya
menunjukkan bahwa iklim organisasi merupakan kumpulan persepsi
karyawan terhadap lingkungan internal organisasi. Pemahaman tentang
iklim organisasi dapat dilihat melaluli teori Gestalt yang mengkaji tentang
persepsi. Menurut penjelasan teori Gestalt ketika individu memberikan
reaksi pada lingkungan, maka individu tersebut tidak hanya merespons
tetapi juga ada unsur subjektifnya.
Stringer (2002) mangatakan bahwa iklim organisasi berfokus pada
persepsi-persepsi yang masuk akal atau dapat dinilai, terutama yang
memunculkan motivasi, sehingga mempunyai pengaruh langsung terhadap
kinerja anggota organisasi. Iklim organisasi penting untuk diciptakan
karena merupakan persepsi anggota organisasi tentang apa yang telah
diberikan organisasi dan dapat dijadikan dasar bagi penentuan tingkah
laku anggota selanjutnya.
Konsep iklim organisasi dalam penelitian ini lebih ditekankan pada
konsep iklim organisasi sekolah dari Hoy dan Miskel (2014) yang
menyatakan bahwa iklim organisasi merupakan konsep yang luas
mengenai persepsi terhadap sifat atau karakter tempat kerja, dalam hal ini
adalah karakteristik internal sekolah satu dengan yang lainnya berbeda dan
akan mempengaruhi perilaku anggotanya. Perbedaan karakteristik ini
dapat disebabkan oleh berbagai faktor baik anggota yang ada di sekolah
maupun lingkungannya.
Teori OCB dikembangkan oleh Organ pada tahun 1983. Organ
(1997) OCB merupakan peran ekstra individu dalam bekerja. Organ juga
menambahkan bahwa OCB sebagai perilaku dan sikap yang
menguntungkan organisasi yang tidap dapat ditumbuhkan lewat kewajiban
formal yang diberikan perusahaan maupun dalam bentuk pemberian
kompensasi. OCB merupakan perilaku pilihan dan inisiatif individual,
tidak berkaitan dengan sistem reward formal organisasi tetapi mampu
meningkatkan efektivitas organisasi. OCB tidak termasuk dalam
persyaratan kerja tetapi dalam perusahaan perilaku OCB karyawan sangat
dibutuhkan. Organ (1997) mengatakan bahwa OCB sangat penting bagi
organisasi karena dapat meningkatkan kinerja secara keseluruhan pada
organisasi, kinerja untuk diri sendiri, serta kinerja untuk kelompok kerja.
Teori yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan teori dari Organ
yang sesuai dengan keadaan sekolah yang akan diteliti.
Menurut brougmen Diane C (2002) dalam Astuti (2015) cara-cara
yang dapat menurunkan.
1. Mengkaji tingkat kecemasan dan mekanisme koping untuk mengatasi
stress.
2. Meningkatkan rasa nyaman dengan bersikap rileks dan empati.
3. Menjelaskan semua prosedur dalam bahasa yang mudah dimengerti.
4. Mengkaji kebutuhan dan keinginan untuk informasi.
5. Menerima hubungan saling percaya dan professional.
6. Memberikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan serta rasa
keprihatinan.
7. Memberikan dukungan emosional.
8. Memberikan dorongan untuk memfokuskan pada pembelajaran
perilaku.
9. Memberikan penguatan yang positif untuk perilaku yang telah
dirasakan
Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan termasuk salah satu hal yang
penting untuk diperhatikan. Meskipun lingkungan kerja tidak melaksanakan
proses produksi dalam suatu perusahaan, namun lingkungan kerja mempunyai
pengaruh langsung terhadap para karyawan yang melaksanakan proses produksi
tersebut. Lingkungan kerja yang memusatkan bagi karyawannya dapat
meningkatkan kinerja. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak memadai akan
dapat menurunkan kinerja dan akhirnya menurunkan motivasi kerja karyawan.
Menurut Lewa dan Subowo (2009:75) lingkungan kerja didesain
sedemikian rupa agar dapat tercipta hubungan kerja yang mengikat pekerja
dengan lingkungannya. Lingkungan kerja yang baik yaitu apabila karyawan
dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan nyaman.
Lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja serta waktu
yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rencangan sistem kerja
yang efisien.
Alex (2009:183) mendefinisikan lingkungan kerja sebagai berikut :
“Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang
dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan”.
Menurut Sedarmayati (2009:21) definisi lingkungan kerja adalah sebagai
berikut : “Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang
dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja, metode kerjanya,
serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok”.
Menurut Schultz & Schultz yang dialihbahasakan oleh Kuntjojo, (2010:
135) lingkungan kerja diartikan sebagai suatu kondisi yang berkaitan dengan ciriciri tempat bekerja terhadap perilaku dan sikap pegawai dimana hal tersebut
berhubungan dengan terjadinya perubahan-perubahan psikologis karena hal-hal
yang dialami dalam pekerjaannya atau dal am keadaan tertentu yang harus terus
diperhatikan oleh organisasi yang mencakup kebosanan kerja, pekerjaan yang
monoton dan kelelahan.
Dari beberapa pendapat di atas, disimpulkan bahwa lingkungan kerja
merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat bekerja, yang
dapat mempengaruhi dirinya dan pekerjaannya saat bekerja.
Stress merupakan respon keseimbangan tubuh dan pikiran terhadap
perubahan. Perubahan dalam hidup tersebut dapat baik maupun buruk
terhadap situasi yang baru atau berbeda dari sebelumnya, bertambah atau
berkurangnya orang-orang dalam kehidupan, dan perubahan perasaan dalam
diri tiap individu. Masa remaja merupakan masa perkembangan yang
dialami setiap individu. Remaja mengalami perubahan yang cepat secara
fisik, kognitif, dan emosional. Perubahan tersebut awal stresor bagi setiap
individu dalam kehidupan. Menurut suat penelitian, stres dapat
berkontribusi menimbulkan permasalahan pada remaja secara fisik maupun
tingkah laku. Stres pada remaja dapat mengganggu fungsi kognitif, berkurangnya konsentrasi, memori, perhatian dan kemampuan dalam
membuat keputusan. Penyebab stres pada remaja beragam, salah satunya
stres psikologi yang disebabkan oleh lingkungan sosial individu. Stres yang
disebabkan oleh stresor lingkungan sosial disebut sebagai stres psikososial. Stres dalam arti secara umum adalah perasaan tertekan, cemas dan
tegang. Dalam bahasa sehari – hari stres di kenal sebagai stimulus atau
respon yang menuntut individu untuk melakukan penyesuaian. Menurut
Lazarus & Folkman, stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan
oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai
potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan
individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis ( Chapplin, 2012). Stres juga diterangkan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam
ilmu perilaku dan ilmu alam untuk mengindikasikan situasi atau kondisi
fisik, biologis dan psikologis organisme yang memberikan tekanan kepada
organisme itu sehingga ia berada diatas ambang batas kekuatan adaptifnya. (McGrath, dan Wedford dalam Arend dkk, 2012). Menurut Lazarus &
Folkman (2013) ada tiga bentuk yaitu:
1) Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang
menimbulkan stres atau disebut juga dengan stressor. 2) Respon, yaitu stres yang merupakan suatu respon atau reaksi individu
yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: jantung
berdebar, gemetar, pusing, serta respon psikologis seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah tersinggung. 3) Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimana individu
secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui strategi
tingkah laku, kognisi maupun afeksi. Rice (2012) mengatakan bahwa stres adalah suatu kejadian atau
stimulus lingkungan yang menyebabkan individu merasa tegang. Atkinson
(2012) mengemukakan bahwa stres mengacu pada peristiwa yang
dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi individu terhadap
situasi stres ini sebagai respon stres. Berdasarkan berbagai penjelasan
diatas dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu keadaan yang
menekan diri individu. Stres merupakan mekanisme yang kompleks dan
menghasilkan respon yang saling terkait baik fisiologis, psikologis, maupun perilaku pada individu yang mengalaminya, dimana
mekanisme tersebut bersifat individual yang sifatnya berbeda antara
individu yang satu dengan individu yang lain
Investor akan lebih cenderung pada data yang dihasilkan oleh auditor yang bereputasi tinggi dibandingkan dengan yang bereputasi rendah (Sinarwati,2010). KAP yang besar umumnya dianggap sebagai penyedia kualitas audit yang tinggi dan menikmati reputasi tinggi dalam lingkungan bisnis, karena itu akan berusaha untuk mempertahankan independensi mereka untuk menjaga image mereka. Perusahaan cenderung memilih KAP yang tingakat kreadibilitas yang tinggi dibandingkan KAP yang memiliki tingakat kreadibilitas rendah untuk meningkatkan kualitas laporan keuangannya. KAP big-4 dianggap memiliki tingkat independendensi yang lebih baik daripada KAP yang lebih kecil, karena KAP yang besar memiliki kemampuan finansial dan kualitas sumber daya yang lebih tinggi (Asti dan Putra, 2013).
Literasi keuangan mencakup beberapa aspek dalam keuangan yaitu
pengetahuan dasar mengenai keuangan pribadi (basic personal finance), tabungan
(saving), asuransi (insurance) dan investasi, (Chen & Volpe,2002).
1. Pengetahuan dasar mengenai keuangan pribadi yaitu mencakup pemahaman
terhadap beberapa hal-hal yang paling dasar dalam sistem keuangan.
Menurut (Chen dan Volpe,2002), mahasiswa perempuan lebih rendah
pengetahuan dasar mengenai keuangan pribadi dibandingkan dengan lakilaki.
2. Tabungan (saving) adalah bagian pendapatan masyarakat yang tidak
digunakan untuk konsumsi, dan biasanya masyarakat yang mempunyai
penghasilan lebih besar dari kebutuhan konsumsinya sehingga mempunyai
kesempatan untuk menyisihkan uangnya menabung.
3. Asuransi (insurance) adalah salah satu teknik untuk mengelola risiko yang
cukup banyak digunakan. Asuransi bisa dipandang sebagai alat di mana
individu bisa mentransfer risiko ke pihak lainnya, di mana pihak asuransi
mengakumulasi dana dari individu-individu untuk memenuhi kebutuhan
keuangan yang berkaitan dengan kerugian yang timbul. Pengertian
semacam ini mengandung dua kata kunci, yaitu transfer risiko dan sharing
kerugian. Dari sisi individu (yang mengansuransikan), asuransi bisa dilihat
sebagai kontrak di mana individu bersedia membayar premi tertentu, dan
sebagai gantinya, perusahaan asuransi bersedia membayar sejumlah uang
tertentu sebagai kompensasi atas kerugian yang timbul (Mamduh.
Hanafi.2006).
4. Investasi adalah salah satu bentuk penanaman modal dalam usaha manusia
untuk mendapatkan keuntungan di masa mendatang. Investasi adalah
penanaman modal saat ini selama beberapa periode waktu untuk
mendapatkan pembayaran di masa depan, dan mengimbangi waktu modal
tersebut di tanamkan, tingkat inflasi, serta ketidakpastian pembayaran masa
depan
Perusahaan merupakan suatu kumpulan hubungan antara pemangku kepentingan
internal (Pemilik, karyawan dan para manajer) dan pemangku kepentingan eksternal
(Para pelanggan, masyarakat sekitar, pesaing dan kelompok lainnya) yang terikat
dengan peraturan formal maupun tidak formal. Adanya jaringan kepentingan yang
saling terikat ini menciptakan nilai tambah yang tidak akan didapatkannya sendiri
karena perusahaan menjadi tidak bermakna tanpa adanya keterkaitan ini (Friedman,
2006).
Keterkaitan antara perusahaan dan stakeholder dapat dilihat dari adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara satu sama lain, sehingga perubahan pada
salah satu pihak akan memicu dan mendorong terjadinya perubahan pada pihak yang
lainnya. Pemahaman mengenai teori stakeholder diperlukan untuk mengetahui para
pihak yang berkepentingan dalam kebijakan perusahaan, termasuk kebijakan
Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.
Berikut adalah pengertian stakeholder yang dikemukakan oleh beberapa ahli :
1. Friedman (2006) mengemukakan bahwa stakeholder adalah kelompok- kelompok
yang tanpa dukungannnya berakibat organisasi tidak dapat melanjukan
keberadaannya.
2. Kiroyan (2006) mengemukakan bahwa stakeholder adalah kelompok atau orang
yang dapat berdampak terhadap atau dapat terkena dampak pencapaian organisasi
3. Kasali dalam Wibisono (2007) mengemukakan bahwa stakeholder adalah orang yang mempertaruhkan hidupnya pada perusahaan baik kelompok yang ada di
dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran dalam menentukan
keberhasilan perusahaan.
Ruang lingkup stakeholder yang dikemukakan Friedman (2006) dapat
memberikan gambaran kepada perusahaan mengenai pihak yang berkepentingan
terhadap keberadaan perusahaan dan bagaimana perusahaan dapat
memperlakukannya dengan bijak, karena semakin besar suatu bisnis, semakin besar
pula ruang lingkup stakeholdernya. Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat
disimpulkan bahwa stakeholder merupakan individu atau kelompok yang mempunyai
kepentingan atau peran terhadap keberlanjutan perusahaan sehingga mempengaruhi
kebijakan perusahaan. Pada aktivitas CSR diperlukan pemahaman mengenai ruang
lingkup stakeholder sebagaimana dikemukakan oleh Friedman yang menganjurkan
untuk melakukan integrasi hubungan-hubungan dengan segenap kelompok
stakeholder dan melakukan pemetaan pemangku kepentingan suatu organisasi atau
perusahaan yang dapat diterapkan terhadap bagian-bagian, kegiatan operasi atau
bisnis yang spesifik Teori stakeholder dalam konsep CSR memiliki gagasan tersendiri, sebenarnya
kepada siapa perusahaan harus bertanggung jawab. Seringkali konteks stakeholder
cenderung mengarah kepada stockholder dan dimaksudkan untuk kelompok yang
memiliki kekuasaan dan kepentingan dalam operasional maupun pengambilan
keputusan dari perusahaan. Kadang-kadang kepentingan ini mewakili aspek legal
namun juga bisa mewakili aspek moralitas (morality) seperti kelompok yang
seharusnya diperhatikan dengan adil atau yang pendapatnya menjadi suatu
pertimbangan yang sangat penting bagi perusahaan. Manajemen harus memutuskan
kepentingan para stakeholder dan mempertimbangkannya dalam proses pengambilan
keputusan.
Menurut Carroll (1991) ada dua hal yang harus diperhatikan dalam memutuskan
urgensi dan kepentingannya yatu stakeholder’s legitimacy dan kekuatan (power) stakeholder itu sendiri. Dari sudut pandang CSR, legitimasi merupakan hal yang
paling penting, sedangkan dari pandangan manajemen, kekuatan merupakan hal yang
diutamakan. Legitimacy merujuk pada kelompok yang memiliki hal dalam
menjustifikasi apa yang dilakukannya. Misalnya 500 orang karyawan akan
dirumahkan karena adanya keputusan menutup perusahaan memiliki klaim legitimasi
yang lebih besar pada manajemen dibandingkan dengan pemerintah daerah yang
khawatir kehilangan perusahaan sebagai salah satu pihak yang membayar
kewajiban/pajak.
Kekuatan (power) merupakan salah satu faktor lainnya, contohnya: sekumpulan
individual atau investor memiliki kekuatan yang lemah kecuali mereka berkumpul
dan terorganisir, sedangkan sebuah institusi dari investor atau kelompok (group) yang
besar memiliki kekuatan yang signifikan dengan adanya investasi yang signifikan dan
dengan adanya fakta bahwa mereka sudah terorganisir dengan baik.
Dengan pandangan seperti ini, maka perusahaan harus menentukan stakeholder
yang memiliki legitimasi paling kuat terhadap perusahaan, namun dengan tidak
mengesampingkan stakeholder lainnya. Walaupun metode win-win solution tidak
selalu berhasil, namun hal ini menggambarkan legitimasi dan tujuan yang ingin
dicapai oleh perusahaan dalam jangka panjang. Stakeholder ini kemudian akan
menjadi landasan bagi perusahaan dalam menanggapi berbagai strategi yang akan
dibuat, tindakan yang akan dilakukan dan keputusan yang harus selalu
mempertimbangkan stakeholder dalam menjalankan bisnisnya.
Carroll (1991) berpendapat bahwa terdapat keselarasan antara stakeholder dan CSR. Konsep ini membantu perusahaan untuk mengidentifikasi para stakeholder dan
tanggung jawab perusahaan terhadap masing-masing stakeholder. Oleh sebab itu
dalam penelitian ini selanjutnya akan menggunakan model piramida yang
dikemukakan oleh Hendeberg (2009) yang mengadaptasi Carroll’s CSR Pyramid
sebagai model dari teori stakeholde
Adapun indikator dari minat beli konsumen menurut (Rizky danYasin, 2014) adalah sebagai berikut: 1. Attention, ialah Perhatian calon konsumen pada produk yang ditawarkan dari produsen jadi apabila konsumen sudah perhatian terhadap suatu produk maka dapat dikatakan kalau konsumen tersebut sudah minat terhadap produk tersebut. 2. Interest, ialah Ketertarikan calon konsumen pada produk yang ditawarkan dari produsen apabila sudah muncul ketertarikan maka sudah ada minat didalam benak konsumen tersebut. 3. Desire, ialah Keinginan calon konsumen agar memiliki produk yang ditawarkan dari produsen apabila sudah ada keinginan untuk memiliki maka berarti orang tersebut sudah timbul minat dibenaknya. 4. Action, ialah Konsumen melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan dari produsen tahap terakhir yaitu konsumen melakukan pembelian produk
Menurut (Tjiptono, 2014) Kepercayaan pada perusahaan adalah tingkat kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan yang memiliki merek bersangkutan. Dalam kasus sebuah perusahaan dan merek, perusahaan adalah sebuah kesatuan yang besar dan merek lebih kecil yang berada didalamnya, konsumen yang menempatkan kepercayaan kepada perusahaan cenderung akan mempercayai merek (Lau & Lee, 1999). Disaat suatu merek bekerja dengan baik, hal tersebut menjelaskan kehebatan tentang sebuah perusahaan yang berada dipikiran masyarakat (Gregory, 2004).
Pengertian rasio keuangan menurut Harahap (2010) adalah sebagai
berikut: “Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil
perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti)”.
Menurut Kasmir (2012) pengertian dari rasio keuangan adalah
sebagai berikut:
Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka
yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka
dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu
komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau
antar komponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian
angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu
periode maupun berbeda periode.
Pengertian rasio keuangan menurut James C. Van Horne dalam
Kasmir (2012) adalah sebagai berikut:
Rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka
akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka
lainnya. Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi
keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan
terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan
adalah suatu perhitungan matematis yang dilakukan dengan cara
membandingkan beberapa pos tertentu dalam laporan keuangan yang
memiliki hubungan untuk kemudian yang ditujukan untuk menunjukkan
perubahan kondisi keuangan sebuah perusahaan
Pengertian manajemen rantai pasokan menurut Heizer & Render (2015) adalah suatu proses yang menggambarkan koordinasi dari keseluruhan kegiatan rantai pasokan dimulai dari bahan baku dan diakhiri dengan konsumen atau pelanggan puas. Tujuan dari manajemen rantai pasokan adalah mengkoordinasi kegiatan dalam rantai pasokan untuk memaksimalkan keunggulan kompetitif dan manfaat dari rantai pasokan bagi konsumen akhir. Fitur utama dari rantai pasokan adalah peran dari anggota- anggotanya demi kepentingan timnya (rantai pasokan). Manajemen rantai pasokan adalah pengintregasian aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman kepada konsumen atau pelanggan. Tujuan utama dari manajemen rantai pasokan ini adalah penyerahan atau pengiriman produk secara tepat waktu demi kepuasan konsumen, mengurangi waktu, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari supply chain, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi. Penerapan manajemen rantai pasokan dimasa sekarang ini sangat cocok diterapkan, karena sistem ini memiliki kelebihan dimana mampu memanage aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasokan (Paoki, dkk.2016).
Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) merupakan suatu proses yang dimulai dari pengembangan produk, pengadaan, perencanaan atau pengendalian, operasi, dan distribusi dimana semua cakupan yang ada saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan suatu produk yang berkualitas dan memudahkan produk tersebut sampai pada pengguna akhir (konsumen) secara efektif dan efisien. Lebih singkatnya manajemen rantai pasokan ini merupakan sistem yang melibatkan dari proses produksi, pengiriman, penyimpanan, distribusi, dan penjualan produk dalam memenuhi permintaan dalam proses produksi pada sebuah perusahaan (Wuwung,dkk. 2013). Supply chain management merupakan suatu konsep yang menyangkut sebuah pendistribusian produk secara optimal. Konsep ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logostik. Supply chain management juga merupakan suatu pendekatan yang meliputi seluruh proses manajemen material, memberikan orientasi kepada proses untuk meyediakan, memroduksi, dan mendistribusikan produk kepada konsumen. Supply Chain Management secara fisik dapat mengkonveksikan suatu bahan baku menjadi produk jadi dan mengantarkannya atau menyalurkan kepada konsumen akhir. 11 Sebuah perusahaan dapat menerapkan Supply Chain Management secara efektif dengan cara perusahaan tersebut harus mampu menyediakan dan mengelola sebuah bahan baku dengan supplier maupun distributor yang terpilih. Pada akhirnya Supply Chain Management secara menyeluruh dapat menciptakan sinkronisasi dan koordinasi aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan aliran bahan baku baik didalam maupun diluar perusahaan (Widyarto, 2012). Supply Chain Management berfokus pada mengintegrasikan dan mengelola aliran barang, jasa, dan informasi melalui rantai suplai untuk membuatnya responsif terhadap kebutuhan pelanggan sambil menurunkan total biaya dan manajemen rantai pasokan juga berfokus pada manajemen proses di dalam dan di luar batas-batas organisasi (Chopora, Shweta, dkk. 2017). Mengevaluasi kinerja berbagai proses yang mempengaruhi supply chain merupakan salah satu kriteria utama untuk pengelolaan rantai pasokan yang efektif. Seiring dengan perkembangan pasar sekarang ini yang semakin berkembang, kebutuhan pelanggan semakin tinggi. Maka dibutuhkan peran pemasok dalam pengelolaan dan pendistribusian produk sampai ke pelanggan akhir. Pengertian yang lebih spesifik untuk Supply Chain Management adalah sebuah serangkaian pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan pemasok, pabrik, gudang, dan toko secara efisien, sehingga barang atau produk yang diproduksi dan didistribusikan pada jumlah yang tepat, ke lokasi yang tepat, dan pada saat yang tepat, dapat meminimalkan biaya keseluruhan sistem sambil memenuhi persyaratan tingkat layanan (D. du Toit, P.J. Vlok.2014).
Media yang digunakan sebagai alat untuk kegiatan belajar memberikan beberapa manfaat yaitu: 1. Informasi yang disajikan melalui media ketika kegiatan belajar dilakukan akan lebih unik sehingga memunculkan stimulus tersendiri bagi anak untuk mengingat. 2. Dilakukannya pemakaian media sebagai penyampaian informasi saat mengajar akan memunculkan motivasi tersendiri bagi anak didik untuk pencapaiannya yang lebih baik. 3. Tanpa disadari anak didik yang berbeda dapat diatasi ketika dilaksanakannya kegiatan belajar melalui media yang dipakai sebagai penyampai informasi. 4. Secara tidak langsung diberitahukan pada anak didik bahwa hal yang disampaikan melalui media saat belajar merupakan sebuah kesamaan yang akan selalu terjadi diantara mereka. (Azhar Arsyad, 2013: 29-30). Hal ini juga diungkapkan oleh Sudjana dan Rivai yang menjelaskan bahwa media yang digunakan sebagai penyampai pesan akan sangat memberikan keuntungan dalam proses kegiatan belajar. Adapaun manfaatnya yaitu:
Dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran seorang guru diperlukan strategi dalam pembelajran diantaranya yaitu perlu adanya model dan media pembelajaran untuk menunjang proses kegiatan belajar. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru dan siswa bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses pembelajaran. Istilah umunnya dikenal dalam kegiatan belajar mengajar adalah pendekatan, model pembelajaran, startegi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran, serta keterampilan belajar. Model pembelajaran terkait pada pemilihan strategi dan pembuatan struktur metode, ketrampilan, dan aktifitas peserta didik. Model pembelajaran tersebut dicirikan dengan adanya tahapan atau sintaks pembelajaran. Menurut Sani (2019) strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumberdaya dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran menentukan pendekatan yang dipilih guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, sedangkan komunikasi terdiri dari dari guru, bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa, dan tujuan pembelajaran.