Menurut Fahlman, Lynn, Flora, dan Eastwood (2011), kebosanan kerja
adalah sebuah konsep keadaan afektif dan kognitif dimana individu mengalami
suatu keadaan tidak menyenangkan yang terjadi ketika stimulus lingkungan
berlebihan, monoton, dengan intensitas rendah dan tidak berarti. Artinya,
kebosanan kerja dipandang sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan dari
terpenuhinya keinginan untuk ikut terlibat dalam kegiatan yang memuaskan.
Secara afektif, individu yang mengalami kebosanan kerja memiliki perasaan
terlepas dari ketertarikannya atau kebermaknaannya suatu pekerjaan, hal ini
terkait dengan rendahnya gairah yang individu rasakan pada pekerjaannya. Secara
kognitif, individu yang mengalami kebosanan kerja mengalami distorsi persepsi
mengenai waktu dalam memfokuskan perhatiannya.
Kebosanan digambarkan sebagai suatu situasi lingkungan yang kurang
menyenangkan, hal ini berhubungan dengan situasi dan konteks sosial yang ada
pada lingkup kerja pegawai. Pegawai akan lebih mudah merasa bosan manakala
dirinya harus berada dalam kondisi lingkungan yang kurang ia sukai. Selain itu,
kebosanan kerja juga dapat ditimbulkan oleh pekerjaan yang ditangani pegawai.
Ketika pegawai dihadapkan dengan tipe pekerjaan yang rutin, monoton, pekerjaan
yang kurang menstimulasi ataupun pekerjaan yang dianggap sudah tidak menarik
lagi bagi pegawai, mereka akan mengembangkan suatu perasaan bosan.
Kebosanan kerja berkaitan erat dengan keterlibatan kerja, hal ini
bersumber dari perkerjaan yang membosankan. Wan, Downey & Stough, (2014)
menjelaskan bahwa ketika pegawai merasa terjebak dalam situasi pekerjaan yang
rutin, stagnan, dan tidak menstimulasi (misalnya tugas yang tidak terselesaikan,
tugas yang harus diulang-ulang, atau tugas dianggap sebagai sesuatu yang sudah
tidak menarik lagi) mereka akan mengembangkan suatu perasaan bosan sehingga
tidak memiliki motivasi untuk ikut terlibat dalam berbagai kegiatan.
Menurut Saleh dan Hosek (Auliah, 2011), karakteristik pekerjaan yang
rutin, monoton, tidak menarik dan stagnan telah mengekang kesempatan pegawai
untuk belajar, mengeluarkan ide, kemampuan dan keahlian mereka sehingga
menyebabkan keterlibatan kerja menurun. Hasil sebuah penelitian menyatakan
bahwa pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhan emosional pegawai dapat
meningkatkan keterlibatan kerja, sebaliknya pekerjaan yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan emosional pegawai dapat menurunkan keterlibatan kerja
(Lambert, 2006). Berdasakan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
dengan karakteristik pekerjaan yang kurang menstimulasi, rutin dan monoton,
individu mengalami peningkatan kebosanan dan penurunan keterlibatan kerja.
Menurut Kanungo (1982), keterlibatan kerja adalah keterlibatan ego
individu dengan pekerjaan. Keterlibatan kerja merupakan penggambaran sejauh
mana keyakinan seseorang pada pekerjaannya (saat ini) dan seberapa jauh
pekerjaannya berguna untuk memuaskan kebutuhannya. Kanungo menjelaskan
bahwa individu cenderung lebih terlibat dalam kegiatan tertentu ketika hal
tersebut dipandangnya memiliki potensi memuaskan bagi kebutuhan
psikologisnya.
Menurut Omolayo & Ajila (2012), faktor yang mempengaruhi keterlibatan
kerja salah satunya adalah kebosanan kerja yang telah dijelaskan dalam faktor
personal. Selain itu, faktor situasional juga menentukan keterlibatan dalam
bekerja. Situasi kerja yang monoton, berulang dan tidak menarik dapat menjadi
salah satu faktor penting dalam keterlibatan kerja pegawai.
