Keterlibatan kerja dianggap sebagai perilaku karyawan yang
berkaitan dengan pekerjaan dan telah didefinisikan sebagai identifikasi
psikologis karyawan atau komitmen karyawan terhadap pekerjaan
(Kanungo, 1982). Keterlibatan kerja adalah tingkat pengindenfikasian
psikologis karyawan dengan perkerjaannya, secara aktif berpartisipasi
dalam pekerjaannya, dan menganggap kinerja dalam pekerjaannya adalah
penting untuk kebaikan dirinya sendiri (Robbins & Coulter, 2007).
Kreitner & Kinicki dalam (Patras, 2017) mengatakan bahwa keterlibatan
kerja yaitu derajat dimana seseorang secara sadar merasa terikat dan tidak
terikat dan konsen dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan. Yoshimura
dalam (Utami & Palupiningdyah, 2016) menjelaskan bahwa keterlibatan
kerja (job involvement) berkaitan dengan seberapa besar individu
diidentifikasikan dari pekerjaannya dan menganggap bahwa pekerjaannya
memberikan dampak positif bagi dirinya sendiri dan rasa kepedulian
terhadap pekerjaannya.
Banyak teori mengenai keterlibatan kerja dengan pendapat yang
berbeda-beda. Berdasarkan dari berbagai teori tersebut, pada penelitian
kali ini penulis menggunakan teori keterlibatan kerja dari Kanungo (1982).
Adapun indikator keterlibatan kerja dari Kanungo dalam (Suratman, 2017)
adalah sebagai berikut: keterlibatan kerja menjadi hal penting dalam
hidup, pekerjaan menjadi identitas diri, dan keterikatan antara diri dengan
pekerjaan.
Keterlibatan kerja sangat penting bagi efektivitas kerja karyawan
dan diperlukan untuk meningkatkan produktifitas sebuah perusahaan.
Pentingnya peran pekerjaan bagi karyawan berhubungan dengan
keyakinannya bahwa pekerjaan dapat memenuhi kebutuhan mereka,
misalnya kebutuhan untuk jenjang karir dan kebutuhan akan gaji yang
besar. Karyawan dengan keterlibatan kerja yang tinggi akan benar-benar
peduli dengan pekerjaannya dan menunjukkan perasaan solidaritas yang
tinggi misalnya menyumbangkan ide untuk kemajuan pekerjaannya,
dengan senang hati menyelesaikan pekerjannya dengan maksimal karena
merasa pekerjaan merupakan bagian dari hidupnya. Sebaliknya karyawan
dengan keterlibatan kerja yang rendah akan merasa kurang peduli terhadap
pekerjaannya.
Faktor yang mempengaruhi keterlibatan kerja terdiri dari dua
variabel yaitu:
a. Variabel personal meliputi demografi dan psikologis. Variabel
demografi mencakup jenis kelamin, usia, pendidikan, jabatan, status
pernikahan. Dan variabel psikologis mencakup nilai-nilai performansi
kerja, kepuasan terhadap hasil.
b. Variabel situsional mencakup lingkungan sosial budaya, pekerjaan,
dan organisasi.
Akibat dari karyawan dengan keterlibatan kerja yang tinggi
cenderung akan puas dengan pekerjaannya dan akan menunjukkan
komitmen yang tinggi terhadap karir dan perusahaan mereka
