Menurut Maslach dan Jackson (Sarafino, 2011) Terdapat tiga
komponen yang sering digunakan untuk menjelaskan terjadinya burnout
yaitu:
a. Kelelahan Emosional. Kelelahan emosional ditandai dengan
terkurasnya sumber-sumber emosional, misalnya perasaan seseorang
merasa tidak mampu memberikan pelayanan secara psikologis yang
maksimal.
Kelelahan emosional ditandai dengan perasaan terkurasnya energi yang
dimiliki, berkurangnya sumber-sumber emosional di dalam diri seperti
rasa kasih, empati, perhatian, tidak berdaya, tertekan, apatis terhadap
pekerjaan dan merasa terbelenggu oleh tugas-tugas dalam pekerjaan
yang pada akhirnya memunculkan perasaan tidak mampu lagi
memberikan pelayanan kepada orang lain.
b. Depersonalisasi. Depersonalisasi, menurut Maslach merupakan sikap,
perasaan, maupun pandangan negatif terhadap penerima pelayanan.
Reaksi negatif ini muncul dalam tingkah laku seperti memandang
rendah dan meremehkan klien, bersikap sinis terhadap klien, kasar dan
tidak manusiawi dalam berhubungan dengan klien, serta mengabaikan
kebutuhan dan tuntutan klien. Sindrom ini merupakan akibat lebih
lanjut dari adanya upaya penarikan diri dari keterlibatan secara
emosional dengan orang lain. Sikap lainnya yang muncul adalah
kehilangan idealisme, mengurangi kontak dengan sekitarnya,
berhubungan seperlunya saja, berpendapat negatif dan bersikap sinis
terhadap sekitarnya. Secara konkret seseorang yang sedang
depersonalisasi cenderung meremehkan, memperolok, tidak peduli
dengan orang lain yang dilayani, dan bersikap kasar.
c. Penurunan Pencapaian Prestasi Diri. Adapun penurunan hasrat
pencapaian prestasi diri ditandai dengan adanya kecenderungan
memberi evaluasi negatif terhadap diri sendiri, terutama berkaitan
dengan pekerjaan. Pekerja merasa dirinya tidak kompeten, tidak efektif
dan tidak adekuat, kurang puas dengan apa yang telah dicapai dalam
pekerjaan, bahkan perasaan kegagalan dalam bekerja. Menurut Maslach,
evaluasi negatif terhadap pencapaian kerja ini berkembang dari adanya
tingakan depersonalisasi terhadap penerima pelayanan. Pandangan
maupun sikap negatif terhadap klien lama-kelamaan menimbulkan
perasaan bersalah pada diri pemberi pelayanan.
