Manfaat Pendidikan Kesehatan Pre Operasi (skripsi dan tesis)

Program intruksi berupa pendidikan kesehatan telah dikenal sejak lama.
Setiap pasien diajarkan sebagai seorang individu, dengan
mempertimbangkan segala keunikan ansietas, kebutuhan dan harapanharapannya. Idealnya, pendidikan kesehatan dibagi dalam beberapa
periode waktu untuk memungkinkan pasien mengasimilasi informasi dan
untuk mengajukan pertanyaan ketika timbul pertanyaan. Pada
kenyataannya, perawat harus membuat penilaian tentang seberapa banyak
yang pasien ingin dan harus ketahui. Pada beberapa contoh, terlalu rinci
malah meningkatkan tingkat kecemasan pasien (Smeltzer & Bare, 2002).
Pendidikan kesehatan preoperatif memiliki manfaat yang sangat positif
untuk pasien, baik dalam mempersiapkan mental sebelum dilakukannya
pembedahan itu sendiri ataupun mempersiapkan pasien pada post operasi.
Pendidikan (penyuluhan) kesehatan pre operasi tentang perilaku yang
diharapkan dilakukan oleh pasien pada pascaoperatif, yang diberikan
melalui format yang sistematik dan terstruktur sesuai dengan prinsipprinsip belajar mengajar, mempunyai pengaruh yang positif bagi
pemulihan pasien. Menurut Potter dan Perry (2006), pendidikan kesehatan
preoperatif yang terstruktur dapat mempengaruhi beberapa faktor
pascaoperatif, antara lain:
a. Kapasitas fungsi fisik, pendidikan kesehatan meningkatkan
kemampuan klien melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih awal
b. Perasaan sehat, klien yang telah dipersiapkan untuk menjalani
pembedahan memiliki kecemasan yang lebih rendah dan menyatakan
rasa sehat secara psikologis yang lebih besar
c. Lama rawat inap di rumah sakit, pendidikan kesehatan preoperatif
secara terstuktur dapat mempersingkat waktu rawat inap klien di
rumah sakit

Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Ruang lingkup pendidikan kesehatan menurut Fitriani (2011), dapat
dilihat dari berbagai dimensi yaitu:
a. Dimensi sasaran, ruang lingkup pendidikan kesehatan dibagi menjadi
3 kelompok yaitu:
1) Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu
2) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
3) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas
b. Dimensi tempat pelaksanaanya, pendidikan kesehatan dapat
berlangsung di berbagai tempat yang dengan sendirinya sasaran
berbeda pula yaitu:
1) Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran murid
2) Pendidikan kesehatan di puskesmas atau rumah sakit dengan
sasaran pasien dan keluarga pasien.
c. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat
dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan dari Leavel dan Clark.
1) Promosi kesehatan
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan sangat diperlukan seperti:
peningkatan gizi, perbaikan kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi
lingkungan serta hiegine perorangan.
2) Perlindungan khusus
Program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus
sangat dibutuhkan terutama di negara berkembang. Hal ini juga
sebagai akibat dari kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
imunisasi sebagai perlindungan terhadap penyakit pada dirinya
maupun anak-anak masih rendah.
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera
Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarkat terhadap
kesehatan dan penyakit maka sering kesulitan mendeteksi penyakit
yang terjadi pada masyarakat, bahkan masyarakat sulit atau tidak
mau diperiksa dan diobati sehingga masyarakat tidak memperoleh
pelayanan kesehatan yang layak.
4) Pembatasan kecacatan
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
penyakit sehingga masyarakat tidak melanjutkan pengobatan
sampai tuntas. Dengan kata lain pengobatan dan pemeriksaan yang
tidak sempurna mengakibatkan orang tersebut mengalami
kecacatan.
5) Rehabilitasi
Untuk memulihkan kecacatan kadang-kadang diperlukan latihan
tertentu. Karena kurangnya pengetahuan masyarakat enggan
melakukan latihan yang dianjurkan. Kecacatan juga
mengakibatkan perasaan malu untuk kembali ke masyarakat.
Kadang masyarakat pun kadang-kadang tidak mau menerima
mereka sebagai anggotan masyarakat yang normal.

  Tujuan Pendidikan Kesehatan (skripsi dan tesis)

Adapun tujuan pendidikan kesehatan menurut Fitriani (2011), dibagi
menjadi 2 yaitu:
a. Tujuan pendidikan kesehatan untuk mengubah perilaku individu atau
masyarakat dari perilaku yang tidak sehat atau belum sehat menjadi
perilaku sehat.
b. Mengubah perilaku yang kaitannya dengan budaya. Sikap dan perilaku
merupakan bagian dari budaya. Kebudayaan adalah kebiasaan, adat
istiadat, tata nilai atau norma.

Klasifikasi operasi (skripsi dan tesis)

Smeltzer & Bare (2002) mengkategorikan operasi berdasarkan
urgensinya menjadi lima, yaitu:
1) Kedaruratan, yaitu pasien membutuhkan tindakan segera karena
mengancam jiwa. Sebagai contoh perdarahan hebat, obtruksi
kandung kemih, fraktur tulang tengkorak, luka tembak, luka tusuk.
2) Urgen, yaitu pasien membutuhkan perhatian segera dengan jeda
waktu 24-30 jam. Contoh pada kasus infeksi kandung kemih akut,
batu ginjal atau batu pada uretra.
3) Diperlukan, yaitu pasien harus menjalani pembedahan dalam
tempo bias beberapa minggu atau bulan ke depan. Contoh katarak,
hyperplasia prostat, gangguan tiroid.
4) Elektif, yaitu pasien harus dioperasi bila diperlukan apabila tidak
dilakukan pembedahan tidak berbahaya, contoh vaginoplasti dan
herniotomy.
5) Pilihan, yaitu keputusan terletak pada keinginan pasien, contoh
operasi plastik

Fase pre operasi (skripsi dan tesis)

Fase preoperasi dimulai ketika keputusan untuk menjalani intervensi
bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi
(Smeltzer & Bare, 2002). Persiapan pre operasi sangat penting sekali
untuk mengurangi faktor resiko karena hasil akhir suatu pembedahan
sangat bergantung pada penilaian keadaan pasien. Dalam persiapan
inilah ditentukan adanya kontraindikasi operasi, toleransi pasien
terhadap tindakan bedah, dan ditetapkan waktu yang tepat untuk
melaksanakan pembedahan (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).

Penatalaksanaan (skripsi dan tesis)

Penatalaksanaan hernia menurut Jitowiyono & Kristiyanasari (2010)
adalah dengan dilakukan operasi. Indikasi operasi sudah ada begitu
diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah herniorapy,
yang terdiri dari herniotomy dan hernioplasty.
1) Herniotomy
Pada herniotomy dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada
perlengketan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit, ikat
setinggi mungkin lalu dipotong.
2) Hernioplasty
Pada hernioplasty dilakukan tindakan memperkecil annulus
inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis
inguinalis. Hernioplasty lebih penting artinya dalam mencegah
terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomy. Dikenal
berbagai metode hernioplasty seperti memperkecil annulus
inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan
memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan
muskulus tranversus internus abdominis dan muskulus oblikus
internus abdominis yang dikenal dangan nama conjoint tendon ke
ligamentum inguinale menurut metode Bassini, atau menjahitkan
fasia tranversa muskulus transversus abdominis, muskulus oblikus
internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay.
Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan
pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau
marleks untuk menutup defek.

Bagian dan jenis hernia (skripsi dan tesis)

Bagian-bagian dari hernia menurut Jitowiyono&Kristiyanasari (2010):
1) Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis
2) Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia,
misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum)
3) Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resitance yang dilalui kantong
hernia
4) Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia.
Menurut sifat dan keadaannya hernia dibedakan menjadi:
1) Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar
jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau
didorong masuk perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala
obstruksi usus (Nicks, 2008).
2) Hernia ireponibel: Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali
ke dalam rongga perut. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi
kantong pada peritoneum kantong hernia (Nicks, 2008).
3) Hernia inkarserata atau strangulata: bila isinya terjepit oleh cincin
hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali
ke dalam rongga perut. Akibatnya, terjadi gangguan vaskularisasi.
Reseksi usus perlu segera dilakukan untuk menghilangkan bagian
yang mungkin nekrosis (Sherwinter, 2009).
Menurut Erickson (2009) dalam Muttaqin 2011, ada beberapa
klasifikasi hernia yang dibagi berdasarkan regionya, yaitu: hernia
inguinalis, hernia femoralis, hernia umbilikalis, dan hernia skrotalis.
1) Hernia Inguinalis, yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ
intestinal masuk ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang
tipis atau lemah dari cincin inguinalis. Materi yang masuk lebih
sering adalah usus halus, tetapi bisa juga merupakan suatu jaringan
lemak atau omentum. Predisposisi terjadinya hernia inguinalis
adalah terdapat defek atau kelainan berupa sebagian dinding
rongga lemah. Penyebab pasti hernia inguinalis terletak pada
lemahnya dinding, akibat perubahan struktur fisik dari dinding
rongga (usia lanjut), peningkatan tekanan intraabdomen
(kegemukan, batuk yang kuat dan kronis, mengedan akibat
sembelit, dll).
2) Hernia Femoralis, yaitu: suatu penonjolan organ intestinal yang
masuk melalui kanalis femoralis yang berbentuk corong dan keluar
pada fosa ovalis di lipat paha. Penyebab hernia femoralis sama
seperti hernia inguinalis.
3) Hernia Umbilikus, yaitu: suatu penonjolan (prostrusi) ketika isi
suatu organ abdominal masuk melalui kanal anterior yang dibatasi
oleh linea alba, posterior oleh fasia umbilicus, dan rektus lateral.
Hernia ini terjadi ketika jaringan fasia dari dinding abdomen di
area umbilicus mengalami kelemahan.
4) Hernia Skrotalis, yaitu: hernia inguinalis lateralis yang isinya
masuk ke dalam skrotum secara lengkap. Hernia ini harus cermat
dibedakan dengan hidrokel atau elevantiasis skrotum

Etiologi hernia (skripsi dan tesis)

Etiologi hernia menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2010), ialah:
1) Lemahnya dinding rongga perut (dapat ada seak lahir atau didapat)
2) Akibat dari pembedahan sebelumnya
3) Kongenital
4) Aquisial, adalah hernia yang bukan disebabkan oleh adanya defek
bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami seseorang
selama hidupnya, antara lain:
a) Tekanan abdominal yang tinggi, banyak dialami oleh pasien
yang sering mengejan baik saat buang air besar maupun buang
air kecil.
b) Konstitusi tubuh, orang kurus cenderung terkena hernia karena
jaringan ikatnya sedikit. Sedangkan pada orang gemuk dapat
terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak dalam
tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong
pada LMR.
c) Distensi abdomen
d) Sikatrik
e) Penyakit yang melemahkan dinding perut
f) Merokok

Konsep hernia (skripsi dan tesis)

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Definisi lain menyatakan hernia adalah penonjolan viskus atau sebagian dari viskus melalui celah abnormal pada selubungnya (Grace & Borley, 2007). Menurut Hinchcliff dalam Jitowiyono (2010), hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal suatu organ atau bagian 18 suatu organ melalui lubang (apertura) pada struktur disekitarnya, umumnya celah dari dinding abdomen

Alat ukur tingkat kecemasan (skripsi dan tesis)

Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah
ringan, sedang, berat atau panik dapat menggunakan beberapa alat ukur
(instrumen), yaitu:
a. Alat ukur kecemasan yang dikutip dari Hawari (2008) menggunakan
HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety), yang terdiri atas 14
komponen gejala, yaitu:
1) Perasaan cemas (ansietas), meliputi: cemas, firasat buruk, takut
akan pikiran sendiri, mudah tersinggung
2) Ketegangan, meliputi: merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat
tenang, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah
3) Ketakutan, meliputi: pada gelap, pada orang asing, ditinggal
sendiri, pada binatang besar, pada keramaian lalu lintas, pada
kerumunan orang banyak
4) Gangguan tidur, meliputi: sukar masuk tidur, terbangun malam
hari, tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpimimpi, mimpi buruk, mimpi menakutkan
5) Gangguan kecerdasan, meliputi: sukar konsentrasi, daya ingat
menurun, daya ingat buruk
6) Perasaan depresi (murung), meliputi: hilangnya minat,
berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, bangun dini hari,
perasaan berubah-berubah sepanjang hari
7) Gejala somatik/fisik (otot), meliputi: sakit dan nyeri otot-otot,
kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil
8) Gejala somatik/fisik (sensorik), meliputi: tinnitus (telinga
berdenging), penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa
lemas, perasaan ditusuk-tusuk
9) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), meliputi,
takikardia, berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras,
rasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung berhenti sekejap
10)Gejala respiratori (pernafasan), meliputi: rasa tertekan atau sempit
di dada, rasa tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek/sesak
11)Gejala gastrointestinal (pencernaan), meliputi: sulit menelan, perut
melilit, gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan,
perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual,
muntah, buang air besar lembek, konstipasi, kehilangan berat
badan
12)Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin), meliputi: sering
buang air kecil, tidak dapat menahan air kencing, tidak datang
bulan, darah haid amat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa
haid amat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi
dingin, ejakulasi dini, ereksi ilmiah, ereksi hilang, impotensi
13)Gejala autonom, meliputi: mulut kering, muka merah, mudah
berkeringat, kepala pusing, kepala terasa berat, kepala terasa sakit,
bulu-bulu berdiri
14)Tingkah laku (sikap) pada wawancara, meliputi: gelisah, tidak
tenang, jari gemetar, kerut kening, muka tegang, otot tegang /
mengeras, nafas pendek dan cepat, muka merah
Cara penilaian HRS-A dengan sistem skoring, yaitu: skor 0 = tidak
ada gejala, skor 1 = ringan (satu gejala), skor 2 = sedang (dua
gejala), skor 3 = berat (lebih dari dua gejala), skor 4 = sangat berat
(semua gejala). Bila skor < 14 = tidak kecemasan, skor 14-20 =
cemas ringan, skor 21-27 = cemas sedang, skor 28-41 = cemas
berat, skor 42-56 = panik.
b. Skala analog visual (Visual analog scale, VAS)
Suatu garis lurus yang mewakili tingkatan kecemasan dan
pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi pasien
kebebasan penuh untuk mengidentifikasi kategori cemas yang
dirasakan. VAS dapat merupakan pengukuran tingkat kecemasan yang
cukup sensitif karena pasien dapat mengidentifikasi setiap titik pada
rangkaian, dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka.
Pengukuran dengan VAS pada nilai nol dikatakan tidak ada
kecemasan,nilai 10-30 dikatakan sebagai cemas ringan, nilai antara
40-60 cemas sedang, diantara 70-90 cemas berat, dan 100 dianggap
panik

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan (skripsi dan tesis)

Stuart & Laraia (2005) menyatakan ada beberapa teori yang telah
dikembangkan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
kecemasan, diantaranya faktor predisposisi dan presipitasi:
a. Faktor predisposisi Kecemasan
1) Dalam pandangan psikoanalitis, kecemasan adalah konflik
emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan
superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive,
sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan
oleh norma budaya. Ego atau Aku, berfungsi menengahi tuntutan
dari dua elemen yang bertentangan itu, dan fungsi cemas adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Menurut pandangan interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan
takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal.
Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma,
seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan
tertentu. Individu dengan haraga diri rendah rentan mengalami
kecemasan yang berat.
3) Menurut pandangan perilaku, kecemasan merupakan produk
frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan
individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli teori
perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan yang
dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk
menghindari kepedihan. Ahli teori konflik memandang kecemasan
sebagai pertentangan antara dua kepentingan yang berlawanan.
Mereka meyakini adanya hubungan timbal balik antara konflik dan
kecemasan. Konflik menimbulkan kecemasan, dan kecemasan
menimbulkan perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya
meningkatkan konflik yang dirasakan.
4) Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan
biasanya terjadi dalam keluarga. Gangguan kecemasan juga
tumpang tindih antara gangguan kecemasan dengan depresi.
5) Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor
khusus untuk benzodiasepin, obat-obatan yang meningkatkan
neuroregulator inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang
berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan
dengan kecemasan. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan
fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk
mengatasi stressor.
b. Faktor presipitasi kecemasan
Menurut Stuart & Laraia (2005) kategori faktor pencetus kecemasan
dapat dikelompokkan menjadi dua faktor:
1) Faktor eksternal:
a) Ancaman terhadap integritas fisik meliputi disabilitas fisiologis
yang akan terjadi atau penurunan kemampuan untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari (penyakit, trauma fisik,
pembedahan yang akan dilakukan).
b) Ancaman terhadap sistem diri dapat membahayakan identitas,
harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi pada individu.
2) Faktor internal:
a) Usia, seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata
lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada
seseorang yang lebih tua usianya.
b) Jenis kelamin, gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita
daripada pria. Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih
tinggi dibandingkan subjek berjenis kelamin laki-laki.
Dikarenakan bahwa perempuan lebih peka dengan emosinya,
yang pada akhirnya peka juga terhadap perasaan cemasnya.
c) Tingkat Pengetahuan, dengan pengetahuan yang dimiliki,
seseorang akan dapat menurunkan perasaan cemas yang
dialami dalam mempersepsikan suatu hal. Pengetahuan ini
sendiri biasanya diperoleh dari informasi yang didapat dan
pengalaman yang pernah dilewati individu.
d) Tipe kepribadian, orang yang berkepribadian A lebih mudah
mengalami gangguan kecemasan daripada orang dengan
kepribadian B. Adapun ciri-ciri orang dengan kepribadian A
adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, dan ingin serba
sempurna.
e) Lingkungan dan situasi, seseorang yang berada di lingkungan
asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibanding
bila dia berada di lingkungan yang biasa dia tempati

Tingkat Kecemasan (skripsi dan tesis)

 

Cemas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi dialami secara subjektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Cemas berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Kapasitas untuk menjadi cemas  diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat cemas yang parah tidak sejalan dengan kehidupan. Rentang respon kecemasan menggambarkan suatu derajat perjalanan cemas yang dialami individu Tingkat Kecemasan adalah suatu rentang respon yang membagi individu
apakah termasuk cemas ringan, sedang, berat atau bahkan panik. Beberapa
kategori kecemasan menurut Stuart (2007):
a. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan yang
menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang
persepsinya. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan
menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.
b. Kecemasan sedang
Kecemasan ini memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain. Kecemasan sedang ini
mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian, individu
mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada
lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
c. Kecemasan berat
Pada tingkat kecemasan ini sangat mengurangi lapang persepsi
individu. Individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan
spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan
untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak
arahan untuk berfokus pada area lain.
d. Tingkat Panik pada Kecemasan
Tingkat paling atas ini berhubungan dengan terperangah, ketakutan,
dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami
kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu
melalukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup
disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas
motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang
lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang
rasional. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan, jika
berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan
kematian.
Serangan panik merupakan periode tersendiri dari kecemasan yang
intens, seseorang dikatakan panik bila memilki sedikitnya empat
gejala berikut yang berkembang cepat dan mencapai puncaknya dalam
10 menit (Stuart, 2007). Terdapat banyak gejala yang menandai
serangan panik yang terjadi pada individu, seperti: Palpitasi, jantung
berdenyut keras dengan frekuensi cepat, dapat pula terjadi keluar
keringat yang berlebihan, gemetar, sesak nafas atau seperti tercekik.
Gejala lain yang dapat terjadi ialah merasa tersedak, nyeri dada, mual
atau distress abdomen, pusing dan ingin pingsan, derealisasi (merasa
tidak nyata) atau depersonalisasi (merasa terasing dari diri sendiri),
takut kehilangan kendali atau menjadi gila, takut mati, parestesia.

Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)

Pengertian Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kecemasan dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara personal. Kecemasan adalah respon emosional dan merupakan penilaian intelektual terhadap suatu bahaya (Stuart, 2007). Definisi lain menjelaskan kecemasan merupakan respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara sujektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya (Suliswati, 2005). Sementara itu Stuart & Laraia (2005) mengartikan kecemasan sebagai kekhawatiran yang tidak jelas menyebar di alam pikiran dan terkait dengan perasaan ketidakpastian dan ketidakberdayaan, tidak ada objek yang dapat diidentifikasi sebagai stimulus kecemasan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Expressive Writing (skripsi dan tesis)

Faktor yang mempengaruhi expressive writing dibagi menjadi dua, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang sangat mempengaruhi
individu seperti pola asuh dan lingkungan karena pemberian konseling expressive
writing dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sulit untuk dikendalikan.
Kemudian dengan memberikan pujian kepada para subyek penelitian agar mereka
terus fokus dalam mengikuti instruksi, serta mempertimbangkan tingkat
keparahan masalah subyek.
Faktor internal yang mempengaruhi yaitu motivasi. Semakin besar
motivasi seseorang dalam melakukan suatu hal, dalam hal ini adalah kemampuan
menulis maka diharapkan hal tersebut dapat meningkatkan pula kemauannya
dalam mencari pekerjaan. Dengan menulis, mahasiswa fresh graduate akan
menuangkan segala perasaan, pikiran, dan emosinya yang kurang mampu ia
utarakan.

Tahapan Terapi (skripsi dan tesis)

Hynes dan Thompson (dalam Purnamarini, Setiawan, & Hidayat, 2016)
membagi terapi menulis ke dalam tahapan yakni:
a. Recognation/Initial writing
Tahapan ini merupakan tahapan awal untuk menuju sesi menulis. Tahap
ini bertujuan untuk memfokuskan pikiran, membuka imajinasi, merelaksasi
dan menghilangkan pikiran negatif yang mungkin muncul pada diri klien,
serta mengevaluasi kondisi mood atau konsentrasi klien. Pertama, klien
diberikan kesempatan untuk menulis secara bebas kata-kata, frase, atau
mengungkapkan hal lain yang muncul dalam pikiran tanpa sebuah
perencanaan dan arahan. Selain menulis, sesi ini juga dapat dimulai dengan
pemanasan, menggambar bentuk sederhana, gerakan sederhana, atau
mendengarkan instrumen. Tahap ini berlangsung 6 menit.
b. Examination/writing exercise
Tujuan tahap ini yaitu untuk mengetahui lebih dalam reaksi klien terhadap
suatu situasi tertentu. Proses terapi menulis dilakukan pada tahap ini. Tidak
ada instruksi yang baku pada tahap ini, sehingga instruksi yang diberikan
dapat disesuaikan dengan usia dan pemahaman klien. Tahap ini memakan
waktu sekitar 10-20 menit dalam satu sesi dan dapat dilakukan dalam 3-5 sesi.
Pada sesi ini, menulis yang dilakukan klien sudah terarah. Diawali dengan
peristiwa emosional yang umum sampai dengan peristiwa spesifik yang
mengganggu klien, seperti ketika didiagnosis mengalami suatu penyakit,
kehilangan pekerjaan, atau kecemasan ketika menghadapi suatu peristiwa.
Dalam sesi ini bukan hanya penggalian tentang masa lalu klien, tetapi juga
untuk menghadapi situasi yang sedang maupun yang akan dihadapi di masa
depan.
c. Juxtaposition/Feedback
Pada tahap ini, klien didorong agar memperoleh persepsi baru dalam
memandang suatu permasalahan, sehingga dapat memberikan inspirasi baru
terhadap perilaku, sikap, penilaian dan pemahaman yang lebih pada dirinya.
Hal pokok pada tahap ini yaitu mengetahui bagaimana persaan klien pada saat
menulis ekspresif, setelah menulis dan pada saat membacanya kembali.
d. Application to the self
Pada tahap terakhir ini klien didorong untuk mengaplikasikan pengetahuan
barunya ke dalam dunia nyata. Konselor atau terapis membantu klien
mengintegrasikan apa yang telah dipelajari selama sesi menulis dengan
merefleksikan kembali apa saja yang mesti diubah atau diperbaiki dan mana
yang perlu dipertahankan.
Selain itu juga dilakukan refleksi tentang manfaat menulis bagi klien.
Konselor juga perlu menanyakan apakah klien mengalami ketidaknyamanan
atau bantuan tambahan untuk mengatasi masalah sebagai akibat dari proses
menulis yang mereka ikuti.

Pengertian Expressive Writing (skripsi dan tesis)

Dalam kegiatan sehari-hari, kita tidak diharuskan menceritakan
permasalahan yang kita hadapi kepada orang lain. Meski demikian, perasaan dan
pikiran yang tidak mampu kita ungkapkan harus disalurkan. Salah satu cara
penyaluran emosi dengan menggunakan tulisan. Menerjemahkan perasaan dan
pikiran kedalam kata-kata yang ditulis pada sebuah kertas ataupun media lain
dapat menguntungkan secara fisik maupun psikologis.
Seseorang yang menyimpan traumanya sendiri akan merugikan kesehatan
baik fisik maupun psikologisnya. Menurut Pannebaker, seseorang yang memiliki
trauma dalam hidupnya sebaiknya mempunyai seseorang yang dapat
membantunya melepaskan trauma-trauma yang dialaminya, namun apabila
seseorang tidak mampu mengutarakan perasaan yang dialaminya maka dapat
melakukan pelepasan perasaan melalui menulis sehingga dapat terhindar dari
stress (Pennebaker, 2017).
Menurut Pennebaker, expressive writing adalah kegiatan menuliskan
perasaan dan pikiran terdalam terhadap suatu peristiwa traumatis atau pengalaman
emosi yang pernah dimiliki. Salah satu keunggulan dari terapi expressive writing
ialah membebaskan para konseli menuangkan segala bentuk rasa kecemasaannya
dalam tulisan mereka tanpa harus memperhatikan susunan kata baku atau
penulisan bahasa yang baik dan benar (Purnamawini, Setiawan, & Hidayat, 2016).
Menulis ekspresif adalah suatu proses yang melibatkan pikiran, afeksi dan
motorik. Ketika seseorang menulis ekspresif, maka ia akan kembali merasakan
peristiwa yang terjadi, membuat suatu penilaian pada kejadian tersebut sehingga
memunculkan persepsi baru terhadap peristiwa tersebut (Ida, et al., 2016).
Expressive writing melibatkan perasaan dan pikiran terdalam dalam diri
seseorang tentang suatu peristiwa tertentu, intervensi ini termasuk sederhana,
tetapi dapat mengungkapkan emosi-emosi yang terpendam dalam diri seseorang
seperti dapat menurunkan stress, menurunkan migraine, menurunkan kecemasan,
dll (Schroder, Moran, & Moser, 2017).
Menulis ekspresif adalah sebuah proses terapi yang menggunakan metode
menulis ekspresif tentang bagaimana pengalaman perasaan yang pernah dialami
klien. Klien diberi waktu tertentu untuk menuangkan segala ekspresi tersebut ke
dalam sebuah tulisan. Terapi ini berfokus pada proses yang terapi tersebut
dilaksanakan, bukan pada hasil yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan menulis
merupakan aktivitas yang personal, artinya menulis tersebut membebaskan
seseorang dalam menuangkan gagasan, saran maupun kritiknya dengan bentuk
tulisan.
Expressive Writing bertujuan untuk pencerahan jiwa melalui pelepasan
atau kegiatan menulis. Siapa saja berhak melakukannya tanpa pandang bulu.
Menulis ekspresif merupakan bentuk tulisan untuk melepaskan dan
mengeksplorasi emosi dan pikiran yang terdalam paling traumatis yang membuat
penderitanya merasa luka batin (Pranoto, 2015).
Konsep dasar dalam expressive writing adalah ketika orang mengubah
perasaan dan pikiran mereka mengenai hal yang bersifat pribadi dan pengalaman
menjengkelkan yang dituangmelalui tulisan. Expressive writing bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman diri sendiri, oranglain mapupun lingkungan,
meningkatkan kreatifitas, mengekspresikan emosi, dll. Expressive writing juga
membantu individu untuk memahami dirinya dengan lebih baik, dan menghadapi
depresi, distress, kecemasan, adiksi, ketakutan terhadap penyakit, kehilangan dan
perubahan dalam kehidupannya (Susanti & Supriyantini, 2013).
Beberapa keuntungan menulis, seperti mengklarifikasi pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan mengetahui diri sendiri dengan lebih baik, menurunkan
tekanan karena menulis mengenai kemarahan, kesedihan dan emosi lain yang
menyakitkan, serta membantu melepaskan intensitas perasaan-perasaan tersebut,
memecahkan masalah dengan lebih efektif karena umumnya masalah dapat
dipecahkan melalui otak kiri, tetapi kadang-kadang hanya dapat ditemukan
dengan menggunakan otak kanan yang bersifat kreatif dan intuitif (Saifudin &
Kholidin, 2015).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan (skripsi dan tesis)

Blacburn & Davidson (dalam Annisa dan Ifdil, 2016) menyebutkan
beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan, seperti pengetahuan yang
dimiliki dalam menyikapi suatu situasi yang mengancam serta mampu
mengetahui kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi kecemasan
tersebut.
Kemudian Adler dan Rodman (dalam Annisa & Ifdil, 2016) menyatakan
terdapat dua faktor yang dapat menimbulkan kecemasan, yaitu:
a. Pengalaman negatif pada masa lalu
Penyebab utama munculnya kecemasan yaitu adanya pengalaman
traumatis yang terjadi pada masa kanak-kanak. Peristiwa tersebut mempunyai
pengaruh pada masa yang akan datang. Ketika individu menghadapi peristiwa
yang sama, maka ia akan merasakan ketegangan sehingga menimbulkan
ketidaknyamanan. Sebagai contoh yaitu ketika individu pernah gagal dalam
menghadapi suatu tes, maka pada tes berikutnya ia akan merasa tidak nyaman
sehingga muncul rasa cemas pada dirinya.
b. Pikiran yang tidak rasional
Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu.
1) Kegagalan ketastropik, individu beranggapan bahwa sesuatu yang buruk
akan terjadi dan menimpa dirinya sehingga individu tidak mampu
mengatasi permasalahannya.
2) Kesempurnaan, individu mempunyai standar tertentu yang harus dicapai
pada dirinya sendiri sehingga menuntut kesempurnaan dan tidak ada
kecacatan dalam berperilaku.
3) Persetujuan
4) Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan, ini
terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman.
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kecemasan. Menurut Iyus
(dalam Saifudin & Kholidin, 2015) menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi
a. Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang penting pada
setiap individu karena berbeda usia maka berbeda pula tahap
perkembangannya, hal tersebut dapat mempengaruhi dinamika kecemasan
pada seseorang.
b. Lingkungan, yaitu kondisi yang ada disekitar manusia. Faktor lingkungan
dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor internal maupun eksternal.
Terciptanya lingkungan yang cukup kondusif akan menurunkan resiko
kecemasan pada seseorang.
c. Pengetahuan dan pengalaman, dengan pengetahuan dan pengalaman seorang
individu dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah psikis, termasuk
kecemasan.
d. Peran keluarga, keluarga yang memberikan tekanan berlebih pada anaknya
yang belum mendapat pekerjaan menjadikan individu tersebut tertekan dan
mengalami kecemasan selama masa pencarian pekerjaan.

Jenis Kecemasan (skripsi dan tesis)

Kecemasan dibagi menjadi beberapa jenis. Menurut Spilberger (dalam
Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra, 2012) menjelaskan kecemasan dalam dua bentuk, yaitu:
a. Trait anxiety
Setiap individu mempunyai intensitas rasa cemas tersendiri. Trait anxiety
adalah suatu respon terhadap situasi yang mempengaruhi tingkat
kecemasannya. Individu yang memiliki trait anxiety tinggi, maka ia akan lebih
cemas dibandingkan dengan individu yang trait anxietynya rendah.
b. State anxiety
Kondisi emosional setiap dalam merespon suatu peristiwa berbeda. State
anxiety adalah respon individu terhadap suatu situasi yang secara sadar
menimbulkan efek tegang dan khawatir yang bersifat subjektif.
Menurut Freud (dalam Nida, 2014), kecemasan mempunyai tiga bentuk:
a. Kecemasan neurosis
Kecemasan neurosis dipengaruhi oleh tekanan id. Kecemasan ini muncul
karena pengalaman pada suatu objek yang menurutnya berbahaya sehingga
menimbulkan bayangan-bayangan yang membuatnya merasa terancam.
b. Kecemasan moral
Moral anxiety adalah kecemasan yang disebabkan adanya konflik antara
ego dan superego. Moral anxiety mucul ketika individu merasa bersalah, yaitu
ketika ia melanggar norma moral ataupun tidak sesuai dengan nilai moral
yang ada sehingga ia mendaptkan hukuman dari superego.
c. Kecemasan realistik
Kecemasan ini dikenal sebagai kecemasan yang objektif sebagai reaksi
dari ego yang terjadi setelah ia mengalami situasi yang membahayakan.
Kecemasan realistik merupakan rasa takut akan adanya bahaya-bahaya nyata
yang berasal dari dunia luar

Ciri-ciri Kecemasan (skripsi dan tesis)

Menurut Jeffrey S. Nevid, dkk kecemasan mempunyai ciri-ciri tersendiri,
diantaranya:
a. Ciri fisik dari kecemasan meliputi kegelisahan, kegugupan, tangan atau
anggota tubuh lain yang bergetar atau gemetar, sensasi dari pita ketat yang
mengikat disekitar dahi, banyak berkeringat, pening atau pingsan, sulit
berbicara, sulit bernapas, jari-jari atau anggota tubuh lain jadi dingin, panas
dingin, dll
b. Ciri behavioral dari kecemasan meliputi perilaku menghindar, perilaku
melekat dan dependen dan perilaku terguncang.
c. Ciri kognitif dari kecemasan meliputi khawatir tentang sesuatu, perasaan
terganggu akan ketakutan atau apprehensi terhadap sesuatu yang terjadi di
masa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi tanpa ada
penjelasan yang jelas, merasa terancam oleh orang ayau peristiwa yang
normalnya haya sedikit atau tidak mendapat perhatian, ketakutan akan
ketidakmampuan untuk mengatasi masalah.

Aspek-aspek dalam Kecemasan (skripsi dan tesis)

Gail W. Stuart (dalam Annisa & Ifdil, 2016) membagi kecemasan
(anxiety) dalam respon perilaku, kognitif, dan afektif, diantaranya.
a. Perilaku, berupa gelisah, tremor, berbicara cepat, kurang koordinasi,
menghindar, lari dari masalah, waspada, ketegangan fisik, dll.
b. Kognitif, berupa konsentrasi terganggu, kurang perhatian, mudah lupa,
kreativitas menurun, produktivitas menurun, bingung, sangat waspada, takut
kehilangan kendali, mengalami mumpi buruk, dll.
c. Afektif, berupa tidak sabar, tegang, gelisah, tidak nyaman, gugup, waspada,
ketakutan, waspada, kekhawatiran, mati rasa, merassa bersalah, malu, dll.
Menurut Vye (dalam Purnamarini, Setiawan, & Hidayat, 2016)
mengungkapkan bahwa gejala kecemasan dapat diidentifikasikan melalui dalam
tiga komponen yaitu:
a. Komponen koginitif:
Cara individu memandang keadaan yaitu mereka berfikir bahwa terdapat
kemungkinan-kemungkinan buruk yang siap mengintainya sehingga
menimbulan rasa ragu, khawatir dan ketakutan yang berlebih ketika hal
tersebut terjadi. Mereka juga menganggap dirinya tidak mampu, sehingga
mereka tidak percaya diri dan menganggap situasi tersebut sebagai suatu
ancaman yang sulit dan kurangmampu untuk diatasi.
b. Komponen Fisik:
Pada komponen fisik berupa gejala yang dapat dirasakan langsung oleh
fisik atau biasa disebut dengan sensasi fisioligis. Gejala yang dapat terjadu
seperti sesak napas, detak jantung yang lebih cepat, sakit kepada, sakit perut
dan ketegangan otot. Gejala ini merupakan respon alami yang terjadi pada
tubuh saat individu merasa terancam atau mengalami situasi yang berbahaya.
Terkadang juga menimbulkan rasa takut pada saat sensasi fisologis tersebut
terjadi.
c. Komponen Perilaku:
Pada komponen perilaku melibatkan perilaku atau tindakan seseorang
yang overcontrolling.
Greenberger dan Padesky (dalam Fenn & Byrne, 2013) menjabarkan
bahwa ada empat aspek kecemasan yaitu:
a. Physical symptoms atau reaksi fisik yang terjadi pada orang yang cemas,
seperti telapak tangan yang berkeringat, otot tegang, jantung berdebar, sulit
bernafas, pusing ketika individu menghadapi kecemasan.
b. Thought, yaitu pemikiran negatif dan irasional individu berupa perasaan tidak
mampu, tidak siap, dan merasa tidak memiliki keahlian, seperti tidak siap
dalam menghadapi wawancara kerja, tidak yakin dengan kemampuannya
sendiri. Pemikiran ini cenderung akan menetap pada individu, jika individu
tidak merubah pemikiran menjadi sesuatu yang lebih positif.
c. Behavior, individu dengan kecemasan akan cenderung menghindari situasi
penyebab kecemasan tersebut dikarenakan individu merasa dirinya terganggu
dan tidak nyaman seperti keringat dingin, mual, sakit kepala, leher kaku, dan
juga gangguan tidur saat memikirkan dunia kerja kelak. Perilaku yang muncul
seperti kesulitan tidur saat memikirkan pekerjaan.
d. Feelings, yaitu susana hati individu dengan kecemasan cenderung meliputi
perasaan marah, panik, gugup yang dapat memunculkan kesulitan untuk
memutuskan sesuatu seperti perasaan gugup saat ada perbincangan dunia
kerja.
Jadi aspek-aspek dari kecemasan yaitu respon reaksi fisik, pemikiran,
perilaku dan suasana hati.

Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)

Setiap individu mempunyai kecemasannya sendiri. Banyak hal yang
dicemaskan oleh setiap individu, misalnya pada kesehatan, relasi sosial, ujian,
karir, kondisi lingkungan adalah beberapa hal yang dapat menjadi sumber
kecemasan seseorang. Hal tersebut dianggap normal apabila seorang individu
sedikit cemas dengan aspek-aspek hidup tersebut. Kecemasan tersebut dapat
bermanfaat apabila mendorong individu agar melakukan pemeriksaan medis
ataupun memotivasi diri untuk melakukan hal yang positif (Nevid, Rathus, &
Greene, 2006).
Kecemasan adalah suatu kejadian yang mudah terjadi pada seseorang
karena suatu faktor tertentu tidak spesifik (Sari & Batubara, 2017).
Anxietas/kecemasan adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang
mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan merupakan
respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan dapat menjadi abnormal
apabila tingkatannya tidak sesuai dengan porsi ancamannya ataupun datang tanpa
adanya sebab tertentu (Nevid, Rathus, & Greene, 2006).
Syamsu Yusuf menyatakan anxiety (cemas) yaitu ketidakmampuan
neurotic, merasa terganggu, tidak matang dan ketidakberdayaan dalam
menghadapi kenyataan yang ada (lingkungan), kesulitan dan tekanan kehidupan
sehari-hari. Sependapat dengan pernyataan tersebut, Kartini Kartono menjelaskan
bahwa kecemasan adalah suatu bentuk ketakutan dan kerisauan dengan hal-hal
tertentu tanpa kejelasan yang pasti. Dikuatkan oleh Sarlito Wirawan bahwa
kecemasan merupakan ketakutan yang tidak jelas pada suatu objek dan tidak
memiliki suatu alasan tertentu (Annisa & Ifdil, 2016).
Spielberger (1971) mendefinisikan kecemasan sebagai suatu bentuk emosi
yang berdasarkan oleh simbol-simbol, kewaspadaan, dan unsur-unsur yang tidak
pasti. Selanjutnya dijelaskan bahwa konsep ancaman yaitu penilaian dari orang
lain yang bersifat negatif sehingga mengancam diri individu tersebut. Kecemasan
juga merupakan keadaan yang mana pola tingkah laku direpresentasikan dengan
keadaan emosional yang dihasilkan dari pikiran-pikiran dan perasaan yang tidak
menyenangkan (Purnamarini, Setiawan & Hidayat, 2016)
Setelah dipaparkan definisi kecemasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kecemasan adalah suatu bentuk emosi yang tidak dapat dikontrol oleh diri
individu sehingga membuat individu tersebut tidak nyaman, meruakan
pengalaman yang samar dan merasa memiliki ketidakmampuan yang irasional

Kelebihan dan kekurangan general anestesi (skripsi dan tesis)

Menurut Press (2013) seorang penyedia anestesi bertanggungjawab
untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien
dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai atribut general anestesi,
meliputi:
1) Kelebihan
a) Mengurangi kesadaran dan ingatan intra operatif pasien
b) Memungkinkan relaksasi otot yang diperlukan untuk jangka
waktu yang lama
c) Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan nafas, pernafasan dan
sirkulasi
d) Dapat digunakan dalam kasus – kasus kepekaan terhadap agen
anestesi lokal
e) Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari posisi terlentang
f) Dapat disesuaikan dengan mudah dengan durasi prosedur yang tak
terduga
g) Dapat diberikan dengan cepat dan bersifat reversible
2) Kekurangan
a) Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya
terkait
b) Membutuhkan beberapa derajat persiapan pasien sebelum operasi
c) Dapat menyebabkan fluktuasi fisiologis yang memerlukan
intervensi aktif
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
d) Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual,
muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, mengigil (hipotermi) dan
tertunda kembali ke fungsi mental yang normal

Fase anestesi (skripsi dan tesis)

Menurut Mangku & Senapathi (2010), ada 3 fase anestesi, meliputi:
1) Fase pre anestesi
Pada tahap pre anestesi, seorang perawat akan menyiapkan hal – hal
yang dibutukan selama operasi. Contoh: pre visite pasien yang akan
melakukan operasi, persiapan pasien, pasien mencukur area yang
akan dilakukan operasi, persiapan catatan rekam medik, persiapan
obat premedikasi yang harus diberikan kepada pasien.
2) Fase intra anestesi
Pada fase intra anestesi, seorang perawat anestesi akan melakukan
monitoring keadaan pasien. Perawat anestesi akan melihat
hemodinamik dan keadaan klinis pasien yang menjalani operasi.
3) Fase pasca anestesi
Pada tahap ini, perawat anestesi membantu pasien dalam menangani
respon – respon yang muncul setelah tindakan anestesi. Respon
tersebut berupa nyeri, mual muntah, hipotermi bahkan sampai
menggigil

Definisi General anestesi (skripsi dan tesis)

Salah satu konsep pelayanan kesehatan modern yang berkembang
saat ini adalah bentuk pelayanan di bidang medis, yang mempunyai
kaitan erat dengan penggunaan peralatan dan pemanfaatan teknologi
dalam pelaksanaannya, seperti misalnya anestesi, akan mengalami
perkembangan teknologi peralatan yang digunakan (Soenarjo & Jatmiko,
2013). Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa
sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh dan salah satu yang sangat penting
dalam anestesi adalah penentuan klasifikasi ASA (Majid, Judha &
Istianah, 2011). General anestesi adalah keadaan fisiologis yang berubah
ditandai dengan hilangnya kesadaran reversible, analgesia dari seluruh
tubuh, amnesia, dan beberapa derajat relaksasi otot (Morgan & Mikhail,
2013). Ketidaksadaran tersebut yang memungkinkan pasien untuk
mentolerir prosedur bedah yang akan menimbulkan rasa sakit tak
tertahankan. Selama anestesi, pasien tidak sadar tetapi tidak dalam
keadaan tidur yang alami (Press, 2013).

Pre anestesi (skripsi dan tesis)

Anestesi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk menghilangkan rasa, baik rasa nyeri, takut dan rasa tidak
nyaman sehingga pasien merasa lebih nyaman. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal selama operasi dan anestesi maka diperlukan tindakan pre
anestesi yang baik. Tindakan pre anestesi tersebut merupakan langkah lanjut
dari hasil evaluasi pre operasi khususnya anestesi untuk mempersiapkan
kondisi pasien, baik psikis maupun fisik pasien agar pasien siap dan optimal
untuk menjalani prosedur anestesi dan diagnostik atau pembedahan yang
akan direncanakan (Mangku, 2010).
Tujuan dari pre anestesi menurut Mangku (2010) adalah :
a. Mengetahui status fisik klien pre operatif
b. Mengetahui dan menganalisa jenis operasi
c. Memilih jenis / teknik anestesi yang sesuai
d. Mengetahui kemungkinan penyulit yang mungkin akan terjadi selama
pembedahan dan atau pasca bedah
e. Mempersiapkan obat / alat guna menanggulangi penyulit yang
dimungkinkan
Pada kasus bedah elektif, evaluasi pre anestesi dilakukan sehari
sebelum pembedahan. Kemudian evaluasi ulang dilakukan di kamar
persiapan instalasi bedah sentral (IBS) untuk menentukan status fisik
berdasarkan ASA (American Society of Anesthesiologist). Pada kasus bedah
darurat, evaluasi dilakukan pada saat itu juga di ruang persiapan operasi
instalasi rawat darurat (IRD), karena waktu yang tersedia untuk evaluasi
sangat terbatas, sehingga sering kali informasi tentang penyakit yang di
derita kurang akurat. Menurut Mangku (2010) persiapan pre anestesi di
rumah sakit meliputi :
a. Persiapan psikologis
1) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarganya agar mengerti
perihal rencana anestesi dan pembedahan yang dijalankan, sehingga
dengan demikian diharapkan pasien dan keluarga bisa tenang.
2) Berikan obat sedatif pada klien yang mengalami kecemasan
berlebihan atau klien tidak kooperatif misalnya pada klien pediatrik
(kolaborasi).
3) Pemberian obat sedatif dapat dilakukan secara oral pada malam hari
menjelang tidur dan pada pagi hari 60 – 90 menit sebelum operasi,
rektal khusus untuk klien pediatrik pada pagi hari sebelum masuk
IBS (kolaborasi).
b. Persiapan fisik
1) Hentikan kebiasaan seperti merokok, minum – minuman keras dan
obat – obatan tertentu minimal dua minggu sebelum anestesi.
2) Tidak memakai protesis atau aksesoris.
3) Tidak mempergunakan cat kuku atau cat bibir.
4) Program puasa untuk pengosongan lambung, dapat dilakukan sesuai
dengan aturan.
5) Klien dimandikan pagi hari menjelang ke kamar bedah, pakaian
diganti dengan pakaian khusus kamar bedah dan kalau perlu klien
diberi label.
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pasien yang akan dilakukan operasi dan anestesi
adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan atau pengukuran status present : kesadaran, frekuensi
napas, tekanan darah, nadi, suhu tubuh, berat badan dan tinggi badan
untuk menilai status gizi pasien.
2) Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan status :
(a) Psikologis : gelisah, cemas, takut, atau kesakitan
(b) Syaraf (otak, medulla spinalis, dan syaraf tepi)
(c) Respirasi
(d) Hemodinamik
(e) Penyakit darah
(f) Gastrointestinal
(g) Hepato – billier
(h) Urogenital dan saluran kencing
(i) Metabolik dan endokrin
(j) Otot rangka
(k) Integumen
d. Membuat surat persetujuan tindakan medik
Pada klien dewasa dan sadar bisa dibuat sendiri dengan
menandatangani lembaran formulir yang sudah tersedia pada catatan
medik dan disaksikan kepala ruangan tempat klien dirawat, sedangkan
pada klien bayi / anak – anak / orangtua atau klien tidak sadar
ditandatangani oleh salah satu keluarganya yang bertanggung jawab dan
juga disaksikan oleh kepala ruangan.
e. Persiapan lain yang bersifat khusus pre anestesi
Apabila dipandang perlu dapat dilakukan koreksi terhadap kelainan
sistemik yang dijumpai pada saat evaluasi pre anestesi misalnya :
transfusi, dialisa, fisioterapi, dan lainnya sesuai dengan prosedur tetap
tatalaksana masing – masing penyakit yang diderita klien

Hal – hal yang dapat mengurangi / menurunkan kecemasan (skripsi dan tesis)

1) Penatalaksanaan farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine, obat ini
digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan untuk jangka
panjang karena pengobatan ini menyebabkan toleransi dan
ketergantungan. Obat anti kecemasan nonbenzodiazepine, seperti
buspiron (Busppar) dan berbagai antidepresan juga digunakan
(Isaacs, 2005).
2) Penatalaksanaan non farmakologi
Banyak pilihan terapi non farmakologi yang merupakan tindakan
mandiri perawat dengan berbagai keuntungan diantaranya tidak
menimbulkan efek samping, simple dan tidak berbiaya mahal
(Roasdalh & Kawalski, 2015). Perawat dapat melakukan terapi –
terapi seperti terapi relaksasi, distraksi, meditasi, imajinasi. Terapi
relaksasi adalah tehnik yang didasarkan kepada keyakinan bahwa
tubuh berespon pada ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri
atau kondisi penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan
ketegangan fisiologis (Asmadi, 2009). Terapi relaksasi memiliki
berbagai macam yaitu latihan nafas dalam, masase, relaksasi
progresif, imajinasi, biofeedback, yoga, meditasi, sentuhan
terapeutik, terapi musik, serta humor dan tawa (Kozier, Erb,
Berman, & Snyder, 2010)

Alat ukur kecemasan (skripsi dan tesis)

Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang
apakah ringan, sedang, berat atau berat sekali menggunakan alat ukur
(instrument) yang dikenal dengan :
1) Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS – A).
Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok, dengan gejala masing masing
kelompok dirinci lagi dengan gejala – gejala yang lebih spesifik.
Petunjuk penggunaan alat ukur HRS – A adalah : penilaian 0 = tidak
ada (tidak ada gejala sama sekali); 1 = ringan (satu gejala dari pilihan
yang ada); 2 = sedang (separuh dari gejala yang ada); 3 = berat (lebih
dari separuh dari gejala yang ada); 4 = sangat berat (semua gejala yang
ada). Penilaian kecemasan skor < 6 = tidak ada kecemasan, skor 7 –
14 = kecemasan ringan, skor 15 – 27 = kecemasan sedang, skor > 27
= kecemasan berat (Hawari, 2008).
2) The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale
(APAIS).
Menurut Firdaus (2014) The Amsterdam Preoperative Anxiety and
Information Scale (APAIS) merupakan salah satu instrument yang
digunakan untuk mengukur kecemasan pre operatif yang telah
divalidasi, diterima dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di
dunia. Instrument APAIS dibuat pertama kali oleh Moerman pada
tahun 1995 di Belanda. Uji validitas dan reliabilitas instrument APAIS
versi Indonesia didapatkan hasil yang valid dan reliabel untuk
mengukur kecemasan pre operatif pada populasi Indonesia dengan
hasil 70,79% dan nilai Cronbach Alpha komponen kecemasan adalah
0,825 dan 0,863. Isi pertanyaan dari Skala APAIS tersebut terdiri dari
enam item pertanyaan, yaitu :
1) Saya cemas di bius (1, 2, 3, 4, 5)
2) Saya terus menerus memikirkan tentang pembiusan (1, 2, 3, 4,
5)
3) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang pembiusan (1, 2, 3,
4, 5)
4) Saya cemas di operasi (1, 2, 3, 4, 5)
5) Saya terus menerus memikirkan tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
6) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
Dari kuesioner tersebut, untuk setiap item mempunyai nilai 1 – 5
dari setiap jawaban yaitu : 1 = sama sekali tidak; 2 = tidak terlalu; 3
= sedikit; 4 = agak; 5 = sangat. Jadi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a) 6 : tidak ada kecemasan
b) 7 – 12 : kecemasan ringan
c) 13 – 18 : kecemasan sedang
d) 19 – 24 : kecemasan berat
e) 25 – 30 : kecemasan berat sekali/panik
Pada penelitian ini peneliti lebih memilih menggunakan alat ukur
APAIS karena alat ukur APAIS dirancang khusus untuk mengukur
kecemasan pasien pre anestesi dan pre operasi.

Rentang respon kecemasan (skripsi dan tesis)

1) Respon adaptif

 Hasil yang positif akan didapatkan jika individu dapat menerima dan mengatur kecemasan. Kecemasan dapat menjadi suatu tantangan, motivasi yang kuat untuk menyelesaikan masalah dan merupakan sarana untuk mendapatkan penghargaan yang tinggi. Strategi adaptif biasanya digunakan seseorang untuk mengatur kecemasan antara lain dengan bekerja kepada orang lain, menangis, tidur, latihan, dan menggunakan teknik relaksasi.
2) Respon maladaptif
Ketika kecemasan tidak dapat diatur, individu menggunakan mekanisme koping ulang disfungsi dan tidak berkesinambungan dengan yang lainnya. Koping maladaptif mempunyai banyak jenis termasuk perilaku agresif, bicara tidak jelas, isolasi diri, banyak makan, konsumsi alkohol, berjudi dan penyalahgunaan obat terlarang

Komunikasi terapeutik (skripsi dan tesis)

Komunikasi sangat dibutuhkan baik bagi perawat maupun pasien. Terlebih bagi pasien yang akan menjalani proses anestesi. Hampir sebagian besar pasien yang menjalani anestesi mengalami kecemasan. Pasien sangat membutuhkan penjelasan yang baik dari perawat. Komunikasi yang baik diantara mereka akan menentukan tahap anestesi selanjutnya. Pasien yang cemas saat akan menjalani tindakan anestesi kemungkinan mengalami efek yang tidak menyenangkan bahkan akan membahayakan.

Faktor – faktor yang mempengaruhi kecemasan (skripsi dan tesis)

Menurut Muttaqin dan Sari (2009) faktor – faktor yang dapat
menyebabkan kecemasan pasien pre operasi adalah takut terhadap nyeri,
kematian, ketidaktahuan, takut tentang deformitas dan ancaman lain
terhadap citra tubuh. Sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi
kecemasan menurut Kaplan dan Sadock (2010) adalah :
1) Faktor – faktor intrinsik antara lain :
a) Usia pasien
Gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih
sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sebagian
besar kecemasan terjadi pada usia 21 – 45 tahun. Feist (2009)
mengungkapkan bahwa semakin bertambahnya usia, kematangan
psikologi individu semakin baik, artinya semakin matang
psikologi seseorang maka akan semakin baik pula adaptasi
terhadap kecemasan.
b) Pengalaman pasien menjalani pengobatan (operasi)
Pengalaman awal pasien dalam pengobatan merupakan
pengalaman – pengalaman yang sangat berharga yang terjadi
pada individu terutama untuk masa – masa yang akan datang.
Pengalaman awal ini sebagai bagian penting dan bahkan sangat
menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.
Apabila pengalaman individu tentang anestesi kurang, maka
cenderung mempengaruhi peningkatan kecemasan saat
menghadapi tindakan anestesi.
c) Konsep diri dan peran
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
pendirian yang diketahui individu terhadap dirinya dan
mempengaruhi individu berhubungan dengan orang lain.
2) Faktor – faktor ekstrinsik antara lain :
a) Kondisi medis (diagnosis penyakit)
Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan
kondisi medis sering ditemukan walaupun insidensi gangguan
bervariasi untuk masing – masing kondisi medis, misalnya : pada
pasien sesuai hasil pemeriksaan akan mendapatkan diagnosa
pembedahan, hal ini akan mempengaruhi tingkat kecemasan
pasien. Sebaliknya pada pasien dengan diagnosa baik tidak terlalu
mempengaruhi tingkat kecemasan.
b) Tingkat pendidikan
Pendidikan bagi setiap orang memiliki arti masing – masing.
Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir,
pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan. Tingkat
pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi
stresor dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat
pendidikan juga mempengaruhi kesadaran dan pemahaman
terhadap stimulus.
c) Akses informasi
Akses informasi adalah pemberitahuan tentang sesuatu agar
orang membentuk pendapatnya berdasarkan sesuatu yang
diketahuinya. Informasi adalah segala penjelasan yang
didapatkan pasien sebelum pelaksanaan tindakan anestesi terdiri
dari tujuan anestesi, proses anestesi, resiko dan komplikasi serta
alternatif tindakan yang tersedia, serta proses administrasi.
d) Proses adaptasi
Tingkat adaptasi manusia dipengaruhi oleh stimulus internal
dan eksternal yang dihadapi individu dan membutuhkan respon
perilaku yang terus menerus. Proses adaptasi sering menstimulasi
individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber – sumber di
lingkungan dimana dia berada. Perawat merupakan sumber daya
yang tersedia di lingkungan rumah sakit yang mempunyai
pengetahuan dan keterampilan untuk membantu pasien
mengembalikan atau mencapai keseimbangan diri dalam
menghadapi lingkungan yang baru.
e) Tingkat sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pola gangguan
psikiatrik.

Tingkat kecemasan (skripsi dan tesis)

 

 Menurut Stuart (2009) ada 4 tingkat kecemasan yaitu: 1) Kecemasan ringan Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari – hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas. 2) Kecemasan sedang Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain  sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. 3) Kecemasan berat Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. 4) Panik (kecemasan sangat berat) Berhubungan dengan ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Kecemasan yang dialami akan memberikan berbagai respon yang dapat dimanifestasikan pada respon fisiologis, respon kognitif dan respon perilaku

Teori – teori kecemasan (skripsi dan tesis)

Konsep kecemasan berkembangnya dari zaman dahulu sampai
sekarang. Masing – masing model mengembangkan beberapa teori
tertentu dari fenomena kecemasan. Teori-teori ini saling diperlukan
untuk memahami kecemasan secara komprehensif. Berikut beberapa
teori kecemasan menurut (Kaplan dan Sadock, 2010) yaitu :
1) Teori genetik
Pada sebagian manusia yang menunjukkan kecemasan, riwayat hidup
dan riwayat keluarga merupakan predisposisi untuk berperilaku
cemas. Sejak kanak – kanak mereka merasa risau, takut dan merasa
tidak pasti tentang sesuatu yang bersifat sehari – hari. Penelitian
riwayat keluarga dan anak kembar menunjukkan faktor genetik ikut
berperan dalam gangguan kecemasan.
2) Teori katekolamin
Situasi – situasi yang ditandai oleh sesuatu yang baru, ketidakpastian
perubahan lingkungan, biasanya menimbulkan peningkatan sekresi
adrenalin (epinefrin) yang berkaitan dengan intensitas reaksi – reaksi
yang subjektif, yang ditimbulkan oleh kondisi yang
merangsangnya. Teori ini menyatakan bahwa reaksi cemas berkaitan
dengan peningkatan kadar katekolamin yang beredar dalam badan.
3) Teori James – Lange
Kecemasan adalah jawaban terhadap rangsangan fisik perifer, seperti
peningkatan denyut jantung dan pernapasan.
4) Teori psikoanalisa
Kecemasan berasal dari impulse anxiety, ketakutan berpisah
(separation anxiety), kecemasan kastrisi (castriation anxiety) dan
ketakutan terhadap perasaan berdosa yang menyiksa (superego
anxiety).
5) Teori perilaku atau teori belajar
Teori ini menyatakan bahwa kecemasan dapat dipandang sebagai
sesuatu yang dikondisikan oleh ketakutan terhadap rangsangan
lingkungan yang spesifik. Jadi kecemasan disini dipandang sebagai
suatu respon yang terkondisi atau respon yang diperoleh melalui
proses belajar.
6) Teori perilaku kognitif
Kecemasan adalah bentuk penderitaan yang berasal dari pola pikir
maladaptif.
7) Teori belajar sosial
Kecemasan dapat dibentuk oleh pengaruh tokoh – tokoh penting masa
kanak – kanak.
8) Teori sosial
Kecemasan sebagai suatu respon terhadap stessor lingkungan, seperti
pengalaman – pengalaman hidup yang penuh dengan ketegangan.
9) Teori eksistensi
Kecemasan sebagai suatu ketakutan terhadap ketidakberdayaan
dirinya dan respon terhadap kehidupan yang hampa dan tidak berarti

Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)

Menurut Stuart dan Sundeen (2016) kecemasan adalah keadaan emosi tanpa objek tertentu. Kecemasan dipicu oleh hal yang tidak diketahui dan menyertai semua pengalaman baru, seperti masuk sekolah, memulai pekerjaan baru atau melahirkan anak. Karakteristik kecemasan ini yang membedakan dari rasa takut. Menurut Kaplan, Saddock, dan Grebb (2010) kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam dan merupakan hal normal yang terjadi yang disertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru, serta dalam menemukan identitas diri dan hidup. Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan perubahan fisiologis dan psikologis. Kecemasan dalam pandangan kesehatan juga merupakan suatu keadaan yang menggoncang karena adanya ancaman terhadap kesehatan.   Menurut Zakariah (2015) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan yang digambarkan dengan kegelisahan atau ketegangan dan tanda – tanda hemodinamik yang abnormal sebagai konsekuensi dari stimulasi simpatik, parasimpatik dan endokrin. Kecemasan ini terjadi segera setelah prosedur bedah direncanakan. Menurut Rachmad (2009) kecemasan timbul karena adanya sesuatu yang tidak jelas atau tidak diketahui sehingga muncul perasaan yang tidak tenang, rasa khawatir, atau ketakutan. Menurut Ratih (2012) kecemasan merupakan perwujudan tingkah laku psikologis dan berbagai pola perilaku yang timbul dari perasaan kekhawatiran subjektif dan ketegangan

Komplikasi setelah pencabutan gigi (skripsi dan tesis)

Komplikasi yang dapat terjadi setelah pencabutan gigi geligi diantaranya ialah kegagalan anastesi atau kegagalan mencabut gigi  Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dengan tang atau elevator, fraktur dari mahkota gigi yang akan dicabut, dislokasi dari gigi sebelahnya, perdarahan berlebihan, kerusakan gusi atau bibir, serta lidah dan dasar mulut, rasa sakit pascaoperasi, pembengkakan pascaoperasi seperti edema atau terbentuknya hematoma dan infeksi (Hongini, 2012).

Instruksi setelah pencabutan gigi (skripsi dan tesis)

Menurut Ramadhan (2010), instruksi pasca pencabutan ialah menggigit tampon selama satu jam agar perdarahan cepat berhenti. Kompres dingin selama 15 menit pada bagian luar pipi dekat daerah bekas pencabutan apabila merasakan sakit atau terjadi pembengkakan pada pipi. Apabila rahang terasa sakit dan kaku setelah dikompres menggunakan kompres dingin, gantilah kompres dengan kompres yang hangat. Minumlah obat yang diberikan sesuai anjuran dokter gigi

Prosedur pencabutan gigi (skripsi dan tesis)

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 284 / MENKES / SK / IV / 2006, prosedur pencabutan gigi dapat dikembangkan mulai dari pasien mendaftar pada loket dan menunggu antrian pelayanan kesehatan, operator dan pasien menggunakan alat pelindung diri, asisten melakukan anamnesa terhadap pasien, asisten menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan. Menurut Hongini (2012), sebelum melakukan pencabutan gigi perlu dilakukan pemeriksaan GDS pada pasien yang dicurigai DM, melakukan pengukuran tekanan darah (TD), meminta pasien mengisi formulir persetujuan pasien (informed consent), asisten memasang celemek pada bagian atas tubuh pasien dan mempersiapkan alat diagnostik serta alat dan bahan pencabutan gigi geligi, melakukan pemeriksaan intra oral terhadap tingkat keparahan karies dan vitalitas gigi dengan menggunakan alat diagnostik, asisten membantu dengan mengarahkan lampu dental dan suction jika diperlukan, mengolesi bahan anti septik pada bagian mukosa / gusi yang akan dinjeksi, operator melakukan anastesi. Asisten dapat melakukan komunikasi terapeutik terhadap pasien untuk menenangkan pasien, melakukan pengecekan sonde,  apakah anastesi sudah berjalan, memasang check retraktor jika pasien sulit menahan mulut tetap terbuka, meluksasi gigi dan melepaskan gigi dari socket alveolar dengan elevator, melakukan pencabutan dengan menggunakan tang forceps, mengecek sisa akar gigi yang mungkin masih tertinggal dengan menggunakan sonde atau explorer, jika ada tulang yang tajam, gunakan knabel tang untuk memotong dan bone file untuk menghaluskan ujung tulang, melakukan pembersihan luka bekas pencabutan dari serpihan gigi dan tulang dengan menggunakan excavator, tutup jaringan yang terbuka dengan tampon yang telah diberi povidoniodin, memberikan instruksi dan memberikan resep obat (Afif, 2017)

Alat dan bahan pencabutan gigi (skripsi dan tesis)

Pencabutan gigi dengan infiltrasi anastesi menggunakan beberapa macam alat dan bahan diantaranya yaitu alat diagnostik (sonde, kaca mulut, excavator dan pinset), syringe, cartridge, jarum, tang ekstraksi, bein/elevator, knabel tang, bone file, check retraktor bengkok, dan bahan yang digunakan ialah tampon dan cotton rol serta larutan antiseptik seperti povidoniodine / iod gliserin

Pencabutan gigi (skripsi dan tesis)

Pencabutan gigi geligi adalah mengeluarkan gigi dari socketnya. Pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik pascaoperasi di masa mendatang (Ramadhan, 2010). Pencabutan gigi dilakukan dengan berbagai alasan penyebab diantaranya yaitu karena gigi berlubang atau patah yang kerusakannya tersebut sudah sangat luas dan tidak bisa dirawat kembali (Hongini, 2012). Pencabutan gigi dengan infiltrasi anastesi adalah suatu tindakan mengeluarkan gigi dari socketnya dengan menggunakan metode injeksi infiltrasi. Infiltrasi anastesi adalah salah satu metode anastesi yang dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit dalam waktu sementara pada satu bagian tubuh dengan cara suntikan tanpa menghilangkan kesadaran. Injeksi infiltrasi digunakan untuk gigi rahang atas, insisif bawah dan molar bawah (Mitchell, 2014).

Tingkat kecemasan dental (skripsi dan tesis)

Tingkatan kecemasan dapat dikelompokkan dalam beberapa tingkatan diantaranya yaitu kecemasan ringan (Mild anxiety), kecemasan sedang (Moderate anxiety) dan kecemasan berat (Severe anxiety) (Soetjiningsih, 2017). Menurut Hurclock (2013), tingkat kecemasan ringan dihubungkan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan seseorang lebih waspada serta meningkatkan ruang persepsinya. Tingkat kecemasan sedang menjadikan seseorang untuk terfokus pada hal yang dirasakan penting dengan mengesampingkan aspek hal yang lain, sehingga seseorang masuk dalam kondisi perhatian yang selektif tetapi tetap dapat melakukan suatu hal tertentu dengan lebih terarah. Tingkatan kecemasan berat dapat menyebabkan seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang lebih terperinci, spesifik serta tidak dapat berpikir tentang perihal lain serta akan memerlukan banyak pengarahan agar dapat memusatkan perhatian pada suatu objek yang lain

Gejala Kecemasan (skripsi dan tesis)

Menurut Sutejo (2018), tanda dan gejala pasien dengan ansietas adalah cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri serta mudah tersinggung, pasien merasa tegang, tidak tenang, gelisah dan mudah terkejut, pasien mengatakan takut bila sendiri atau pada keramaian dan banyak orang, mengalami gangguan pola tidur dan disertai mimpi yang menegangkan

Pengertian Kecemasan Dental (skripsi dan tesis)

Menurut kamus Kedokteran Dorland, kata kecemasan atau
disebut dengan anxiety adalah keadaan emosional yang tidak
menyenangkan, berupa respon-respon psikofisiologis yang timbul
sebagai antisipasi bahaya yang tidak nyata atau khayalan, tampaknya
disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak disadari secara
langsung (Dorland, 2010).
Ansietas adalah suatu perasaan takut akan terjadinya sesuatu
yang disebabkan oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang
membantu individu untuk bersiap mengambil tindakan menghadapi
ancaman. Pengaruh tuntutan, persaingan, serta bencana yang terjadi
dalam kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik
dan psikologi. Salah satu dampak psikologis yaitu ansietas atau
kecemasan (Sutejo, 2018).
Kecemasan dental adalah suatu keadaan mengenai rasa
prihatin seseorang bahwa sesuatu hal yang mengerikan akan terjadi
yang sering dikorelasikan dengan aspek perawatan gigi atau aspek
tertentu dari perawatan gigi. Kecemasan dental merupakan suatu keadaan yang sangat ekstrim dan banyak orang memiliki tingkat
kecemasan dental terutama jika mereka tidak pernah mengalami atau
menjalani perawatan gigi sebelumnya (Klingberg, 2009).

Definisi Kecemasan (skripsi dan tesis)

Kecemasan adalah rasa takut yang tidak jelas disertai dengan
perasaan ketidakpastian, ketidakberdayaan, isolasi, dan
ketidakamanan. Kecemasan adalah keadaan emosi tanpa objek
tertentu. Hal ini dipicu oleh hal yang tidak diketahui dan menyertai
semua pengalaman baru (Stuart, 2016).

Kebutuhan Lemak Perhari (skripsi dan tesis)

Kebutuhan lemak menurut WHO (1990) menganjurkan
konsumsi lemak sebanyak 20-30% kebutuhan energi total dianggap
baik untuk kesehatan. Jumlah ini memenuhi kebutuhan akan asam
lemak esensial dan untuk membantu penyerapan vitamin larut
lemak. Jenis lemak yang dikonsumsi sehari, dianjurkan paling
banyak 8% dari kebutuhan energi total berasal dari lemak jenuh dan
3-7% dari lemak tidak jenuh ganda. Sedangkan konsumsi kolesterol
yang dianjurkan adalah ≤300 mg sehari.

Fungsi Lemak (skripsi dan tesis)

1) Sumber Energi
Lemak dan minyak merupakan sumber energi paling padat, yang
menghasilkan 9 kilo kalori untuk setiap gram, yaitu 2 ½ kali besar
energi yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam jumlah
yang sama.
2) Sumber Asam Lemak Esensial
Lemak merupakan sumber asam lemak esensial linoleat dan
linolenat.
3) Alat Angkut Vitamin Larut Lemak
Lemak mengandung vitamin larut lemak tertentu. Lemak susu
dan lemak ikan laut tertentu mengandung vitamin A dan D dalam
jumlah berarti. Hampir semua minyak nabati merupakan sumber
vitamin E. Minyak kelapa sawit mengandung banyak karotenoid
(provitamin A). Lemak membantu transportasi dan absorbsi vitamin
lemak yaitu A, D, E, K.
4) Menghemat Protein
Lemak menghemat penggunaan protein untuk sintesis protein
sehingga protein tidak digunakan sebagai sumber energi.
5) Memberi Rasa Kenyang dan Kelezatan
Lemak memperlambat sekresi asam lambung dan
memperlambat pengosongan lambung sehingga lemak memberi rasa
kenyang lebih lama. Selain itu lemak memberi tekstur yang disukai
dan memberi kelezatan khusus pada makanan.
6) Sebagai Pelumas
Lemak merupakan pelumas dan membantu pengeluaran sisa
pencernaan.
8
7) Memelihara Suhu Tubuh
Lapisan lemak di bawah kulit mengisolasi tubuh dan mencegah
kehilangan panas tubuh secara cepat.
8) Pelindung Organ Tubuh
Lapisan lemak yang mengandung organ-organ tubuh seperti
jantung, hati, dan ginjal membantu menahan organ-organ tersebut
tetap berada di tempatnya dan melindunginya terhadap benturan dan
bahaya lain.
9) Membangun Jaringan Tubuh
Sebagian lemak masuk ke dalam sel-sel tubuh untuk ikut serta
dalam membangun jaringan tubuh. Lemak menjadi bagian esensial
dari struktur sel tersebu

Pengertian Lemak (skripsi dan tesis)

Lemak merujuk pada sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, sterol, vitamin larut lemak (A, D, E, K), monogliserida, digliserida, fosfolipid, dan glikolipid (Susilowati dan Kuspriyanto, 2016). Lemak merupakan sumber energi yang dipadatkan. Lemak dan minyak terdiri atas gabungan gliserol dan asam lemak

Kebutuhan Kalium Perhari (skripsi dan tesis)

Kebutuhan harian minimum untuk kalium pada orang dewasa sehat (lebih dari 18 tahun) baik pada pria dan wanita diperkirakan sekitar 2.000 mg/hari (2 g = 50 mmol). Namun, asupan harian yang direkomendasikan untuk menghasilkan efek yang bermanfaat pada hipertensi atau penurunan risiko stroke adalah lebih   tinggi-dalam rentang 3.500-4.500 mg/hari (meningkatkan konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran). 9

Fungsi Kalium Bersama natrium (skripsi dan tesis)

kalium memegang peranan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam basa. Bersama kalsium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan relaksasi otot. Di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologi terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan protein. Kalium berperan dalam pertumbuhan sel. Taraf kalium dalam otot berhubungan dengan massa otot dan simpanan glikogen, oleh karena itu bila otot berada dalam pembentukan dibutuhkan kalium dalam jumlah cukup. Tekanan darah normal memerlukan perbandingan antara natrium dan kalium yang sesuai di dalam tubuh

Pengertian Kalium (skripsi dan tesis)

Kalium (K) merupakan kation intraseluler utama di dalam sebagian besar jaringan tubuh. Sekitar 95% kalium total dalam tubuh terdapat secara intraseluler dengan konsentrasi 30 kali lipat dari 22 konsentrasi ekstraseluler. Konsentrasi kalium ekstraseluler merupakan penentu penting dalam eksitabilitas neuromuskular.  Perbandingan natrium dan kalium di dalam cairan intraseluler adalah 1:10, sedangkan di dalam cairan ekstraseluler 28:1

Fungsi Natrium (skripsi dan tesis)

Natrium menjaga keseimbangan cairan karena sebagai kation utama dalam cairan ekstraseluler. Selain itu, natrium berperan besar dalam mengatur tekanan osmosis dan menjaga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel-sel. Secara normal tubuh dapat menjaga keseimbangan natrium di luar sel. 8 Natrium menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk asam. Natrium berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Natrium berperan pula dalam absorpsi glukosa dan sebagai alat angkut zat gizi lain melalui membran, terutama melalui dinding usus sebagai pompa natrium.  Bila seseorang memakan terlalu banyak garam, kadar natrium darah akan meningkat. Rasa haus yang ditimbulkan akan menyebabkan minum banyak sehingga konsentrasi natrium dalam darah kembali normal. Ginjal kemudian akan mengeluarkan kelebihan cairan dan natrium tersebut dari tubuh. Hormon aldosteron menjaga agar konsentrasi natrium di dalam darah berada pada nilai normal. Apabila jumlah natrium di dalam sel meningkat 19 secara berlebihan, air akan masuk ke dalam sel dan mengakibatkan sel membengkak yang menyebabkan terjadinya pembengkakan atau oedema dalam jaringan tubuh. Air akan memasuki sel untuk mengencerkan natrium dalam sel. Cairan ekstraseluler akan menurun dan perubahan ini yang dapat menurunkan tekanan darah.

Pengertian Natrium (skripsi dan tesis)

.

Natrium (Na) adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler (luar sel). Sebanyak 35-40% natrium berada di dalam kerangka tubuh. Seperti cairan saluran cerna, cairan empedu dan pancreas   mengandung banyak natrium. Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl. Garam dapur di dalam makanan sehari-hari berperan sebagai bumbu dan sebagai bahan pengawet. Tahun 1937 peranannya sebagai zat gizi esensial baru diketahui secara pasti.

Akibat Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)

Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa penderita ke dalam kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak, dan mata. Penyakit hipertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung (heart attack). Hipertensi tidak dapat secara langsung membunuh penderitanya, melaikna hipertensi memicu terjadinya penyakit lain yang tergolong keras berat alias mematikan. Tekanan darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal

Tanda dan Gejala Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)

Sebagian besar penderita tekanan darah tinggi tidak menimbulkan gejala khusus. Meskipun secara tidak disengaja, beberapa gejala terjadi secara bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan hipertensi padahal sesungguhnya bukan hipertensi.  Tahap awal umumnya kebanyakan pasien tidak memiliki keluhan. Namun lama kelamaan memiliki tanda dan gejala seperti berdebar-debar, rasa melayang (dizzy), dan impoten akibat dari peningkatan tekanan darah. Selain itu penderita hipertensi akan cepat merasa lelah, sesak napas, sakit dada, bahkan perdarahan pada retina.  Gejala lain yang muncul seperti sakit kepala dan nyeri   kepala bagian belakang, pandangan mata kabur, terjadi pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki, serta denyut jantung menguat tetapi tidak teratur

Faktor Penyebab Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)

Hipertensi disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat
mempengaruhi satu sama lain. Kondisi masing-masing orang tidak
sama sehingga faktor penyebab tekanan darah tinggi pada setiap
orang sangat berlainan.
1) Faktor yang tidak dapat diubah
a) Genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan
menyebabkan keluarga tersebut mempunyai risiko menderita
hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai
risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada
individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi.
b) Umur
Kepekaan terhadap hipertensi akan meningkat seiring
dengan bertambahnya umur seseorang. Individu yang berumur
di atas 60 tahun, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar
atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh
degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya.
c) Jenis Kelamin
Hipertensi pada usia dewasa muda lebih banyak terjadi pada
pria. Usia 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah
wanita. Hal ini berkaitan dengan adanya hormon estrogen.
Wanita yang belum mengalami menopause, hormon estrogen
berperan meningkatkan High Density Lipoprotein (HDL) yang
melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Seiring
bertambahnya usia, hormon estrogen akan berkurang dan
menyebabkan wanita rentan mengalami hipertensi setelah
menopause.
d) Etnis
Setiap etnis memiliki kekhasan masing-masing yang
menjadi ciri khas dan pembeda satu dengan lainnya. Tekanan
darah tinggi banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada
yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya,
namun pada orang berkulit hitam ditemukan kadar renin yang
lebih rendah dan sensitivitas terhadap vasopressin yang besar.
2) Faktor yang dapat diubah
a) Stres
Stres merupakan respon tubuh yang bersifat non spesifik
terhadap tuntutan beban. Stres dapat berhubungan dengan
pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
Stres akan meningkatkan curah jantung sehingga akan
menstimulasi aktifitas saraf simpatik. Stres yang dialami
seseorang akan membangkitkan saraf simpatik yang akan
memicu kerja jantung dan akan meningkatkan tekanan darah.

b) Kegemukan (Obesitas)
Kegemukan (obesitas) juga merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat
seperti hipertensi. Penderita obesitas berisiko hipertensi lima
kali lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki berat badan
normal. Kurangnya aktivitas dan terlalu banyak menerima
asupan kalori dapat menimbulkan obesitas. Penderita obesitas
akan mengalami kekurangan oksigen sehingga jantung harus
bekerja lebih keras.
c) Asupan Makan
Asupan makan yang menjadi penyebab terpenting dalam
terjadinya hipertensi adalah natrium. Asupan garam yang tinggi
dapat menimbulkan perubahan tekanan darah. Garam tersebut
didapat dari makanan-makanan asin atau gurih yang dimakan
setiap hari.
d) Merokok
Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan adrenalin
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah, denyut nadi,
dan tekanan kontraksi jantung. Selain itu merokok juga dapat
menyebabkan peningkatan kolesterol yang meningkatkan risiko
terjadinya hipertensi.

e) Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga akan memicu
tekanan darah seseorang. Selain tidak bagi tekanan darah,
alkohol juga membuat seseorang menjadi kecanduan yang akan
sangat menyulitkan untuk dilepas.
f) Kurang Olahraga
Zaman modern ini banyak kegiatan yang dapat dilakukan
secara cepat dan praktis. Manusia pun cenderung mencari segala
sesuatu yang mudah dan praktis sehingga tubuh tidak banyak
bergerak. Selain itu kesibukan yang luar biasa, membuat
seseorang merasa tidak mempunyai waktu untuk berolahraga.
Kondisi ini yang memicu kolesterol tinggi dan juga tekanan
darah yang terus menguat sehingga memicu hipertensi.
Selain
itu orang-orang yang kurang aktif cenderung memiliki detak
jantung lebih cepat yang membuat otot jantung harus bekerta
lebih keras pada setiap kontraks

Klasifikasi Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)

Penyakit darah tinggi atau hipertensi dikenal dengan 2 tipe klasifikasi, yaitu :  1) Hipertensi Primary Hipertensi primary adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula seseorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi stress tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahraga pun bisa mengalami tekanan darah tinggi.  2) Hipertensi Secondary Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami atau menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh

Pengertian Tekanan Darah Tinggi (skripsi dan tesis)

Penyakit darah tinggi atau hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. 5 Penyakit darah tinggi merupakan suatu gangguan pada pembuluh darah dan jantung yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya. Nilai normal tekanan darah seseorang dengan tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal, dan kesehatan umum adalah 120/180 mmHg. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga

Pengukuran Tekanan Darah (skripsi dan tesis)

Tekanan darah umumnya diukur dengan alat yang disebut sphygmomanometer. Sphygmomanometer terdiri dari sebuah pompa, pengukur tekanan, dan sebuah manset dari karet. Alat ini mengukur tekanan darah dalam unit yang disebut millimeter air raksa (mmHg). 5 Manset ditaruh mengelilingi lengan atas dan dipompa dengan sebuah pompa udara sampai dengan tekanan yang menghalangi aliran darah di arteri utama (brachial artery) yang berjalan melalui lengan. Lengan kemudian ditaruh di samping badan pada ketinggian dari jantung, dan tekanan dari manset pada lengan dilepaskan secara berangsur-angsur. Ketika tekanan di dalam manset berkurang, seorang dokter mendengar dengan stetoskop melalui arteri pada bagian depan dari sikut. Tekanan pada mana dokter pertama kali mendengar denyutan dari arteri adalah tekanan sistolik (angka yang di atas). Ketika tekanan manset berkurang lebih jauh, tekanan pada mana denyutan akhirnya berhenti adalah tekanan diastolik (angka yang di bawah). 5 Angka yang di atas, tekanan darah sistolik berhubungan dengan tekanan di dalam arteri ketika jantung berkontraksi dan memompa darah maju ke dalam arteri-arteri. Angka yang di bawah, tekanan diastolik mewakili tekanan di dalam arteri-arteri ketika jantung istirahat (relax) setelah kontraksi. Tekanan diastolik 11 mencerminkan tekanan paling rendah yang dihadapkan pada arteriarteri. Suatu peningkatan dari tekanan darag sistolik dan/atau diastolik meningkatkan risiko komplikasi hipertensi

Pengertian Tekanan Darah (skripsi dan tesis)

Tekanan darah adalah tekanan dari darah yang dipompa oleh jantung terhadap dinding arteri. Tekanan darah seseorang meliputi tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik merupakan tekanan darah waktu jantung menguncup. Tekanan darah diastolik adalah tekanan darah saat jantung istirahat. Selain untuk diagnosis dan klasifikasi, tekanan darah diastolik memang lebih penting daripada sistolik

Fisiologi Senam Yoga Hatha terhadap Penurunan Tekanan Darah (skripsi dan tesis)

Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat ditanggulangi dengan dua cara yaitu dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Penatalaksanaan secara farmakologi yaitu menggunakan obat-obatan kimiawi. Salah satu penanganan secara non farmakologis dalam mengatasi hipertensi adalah dengan latihan senam yoga (Ovianasari, 2015). Senam yoga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh terutama untuk menurunkan tekanan darah, maka yoga sangat direkomendasikan pada penderita tekanan darah tinggi. Yoga memiliki efek fisiologis pada kekuatan otot, peningkatan beberapa asanas (posisi tubuh) yang mempengaruhi sistem saraf otonom dan kelenjar endokrin yang mengatur fungsi internal termasuk detak jantung dan produksi hormon. Senam yoga dapat membuat 25% dari pasien penderita tekanan darah tinggi berhenti mengkonsumsi obat penurun tekanan darah tinggi dan 35% lagi mulai menguranginya (Wiria, 2015). Senam yoga berperan menurunkan tekanan darah karena senam yoga menstimulasi pengeluaran hormon endorfin. Endorfin adalah neuropeptide yang dihasilkan tubuh pada saat relax/tenang. Hal ini sangat berkaitan dengan gerakan dalam senam yoga hatha yang dilakukan dengan gerakan-gerakan sederhana berfokus pada pengendalian sistem pernapasan. Gerakan-gerakan tersebut menstimulasi pengeluaran hormon endorfin. Endorfin dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi oleh otak yang melahirkan rasa nyaman dan meningkatkan kadar endorfin dalam tubuh untuk mengurangi tekanan darah tinggi (Sindhu, 2006 dalam Johan, 2011). Penurunan tekanan darah disebabkan oleh menurunnya tahanan perifer, dengan olahraga lama 38 kelamaan akan melemaskan pembuluh darah sehingga pembuluh darah mengalami pelebaran dan relaksasi, serta dapat mengurangi resiko dari penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah sehingga menjaga elastisitas dari pembuluh darah (Hikmaharidha, 2011 dalam Suri, 2017). Menurut penelitian Putu (2009) dalam Maya (2018) ternyata senam yoga teratur selama 30-45 menit dan dilakukan 3-4 kali seminggu terbukti lebih efektif menurunkan tekanan darah (tekanan darah sistolik turun 4-8 mmHg).

Senam Yoga pada Lanjut Usia (skripsi dan tesis)

Lansia cenderung mengalami masalah kesehatan yang disebabkan dari proses penurunan fungsi tubuh akibat penuaan. Penuaan merupakan proses yang mengakibatkan perubahan meliputi perubahan fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Pada perubahan fisiologis terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi gangguan dari dalam dan luar tubuh. Salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak dihadapi oleh lansia adalah masalah pada sistem kardiovaskuler (Teguh, 2009 dalam Astari dkk, 2012). Seseorang yang makin tua akan memiliki resiko yang lebih besar terhadap penyakit hipertensi, yang diakibatkan metabolisme kalsium yang terganggu dan tidak memperhatikan diet rendah garam, serta terjadi pula penurunan fungsi organ sistem kardiovaskular dimana katup jantung terjadi penurunan 36 elastisitas aorta dan arteri besar lainnya. Kegiatan fisik berupa senam akan berpengaruh terhadap kerja paru dan jantung sekaligus mempertahankan serta meningkatkan komponen kebugaran. Senam juga dapat membuat jantung tetap terpelihara dengan baik dan dapat membuat tekanan darah terkontrol secara terintegrasi oleh baroreseptornya sehingga terjadi penahanan (pengontrolan) tekanan darah (Benny, 2016). Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin melakukan penelitian menggunakan senam yoga hatha yang didalamnya terdapat gerakan-gerakan sederhana agar tidak membebani fisik lansia, namun dengan gerakan tersebut lansia tetap bisa melakukan olahraga yang lama kelamaan akan melemaskan pembuluh darah sehingga pembuluh darah mengalami pelebaran dan relaksasi, serta dapat mengurangi resiko dari penumpukan lemak yang terdapat pada dinding pembuluh darah sehingga menjaga elastisitas pembuluh darah (Hikmaharidha, 2011 dalam Suri, 2017). Berbagai macam jenis yoga diantaranya adalah yoga vinyasa, yoga ashtanga, yoga iyengar dan yoga power biasanya keempat jenis yoga ini memiliki tempo yang lebih cepat dibandingan yoga hatha yang temponya cenderung lebih lambat (Sonnerstedt, 2017). Senam dengan tempo yang lambat sangat cocok dilakukan oleh lansia mengingat kondisi fisik lansia yang mulai mengalami kemunduran. Sindhu (2006) dalam Hardicar (2007) mengatakan Hatha Yoga memfokuskan pada teknik asana (postur), pranayama (olah nafas), bandha (kuncian), mudra (gesture) serta relaksasi yang mendalam. Berbagai macam gerakan yang disertai cara bernafas yang benar dapat meningkatkan kekuatan dan kelenturan, meredakan ketegangan serta memberikan energi baru pada tubuh

Manfaat Senam Yoga (skripsi dan tesis)

Yoga secara teratur dapat menstimulasi saraf tulang punggung. Menstabilkan fungsi kerja tubuh, meningkatkan rasa nyaman, tentram dan bebas stres, memperhalus perasaan, memperbaiki sikap dan perilaku, meningkatkan rasa percaya diri, pola pikir yang lebih positif dan penghargaan terhadap diri sendiri, memperlambat proses penuaan diri, meningkatkan daya ingat, fokus terhadap satu masalah dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh (holistik), keseimbangan kondisi fisik dan kejiwaan seseorang (Muchtar, 2010 dalam Wiria, 2015). Selain dari penjelasan di atas, ada banyak sekali manfaat yang didapatkan dari yoga, beberapa diantaranya adalah: a. Memperbaiki postur tubuh, postur tubuh yang awalnya buruk menjadi lebih baik. Karena tubuh perlu keseimbangan pada tulang punggung dan otot-otot punggung sebagai penyangga tubuh (Stefanus, 2010 dalam Wiria, 2015). b. Mencegah osteoporosis, dengan melakukan pose downward atau upward facing dog dapat membantu untuk menguatkan tulang lengan yang rentan mengalami osteoporosis (Stefanus, 2010 dalam Wiria 2015). c. Latihan yoga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh terutama dalam menurunkan tekanan darah, maka senam yoga sangat direkomendasikan   pada penderita tekanan darah tinggi. Yoga memiliki efek fisiologis pada kekuatan otot, peningkatan beberapa asanas (posisi tubuh) yang dipercaya dapat mempengaruhi sistem saraf otonom dan kelenjar endokrin yang mengatur fungsi internal termasuk detak jantung dan produksi hormon (Windo, 2015). Ketika seseorang melakukan senam, maka endorphin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor di dalam hipothalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur emosi. Peningkatan endorphin terbukti berhubungan erat dengan penurunan rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan seksual, tekanan darah dan pernafasan (Sindhu, 2006 dalam Wiria, 2015). d. Selain itu, senam yoga juga dapat melancarkan aliran oksigen di dalam tubuh (Johan, 2011)

Definisi Senam Yoga (skripsi dan tesis)

Senam yoga adalah aktivitas di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca indera dan tubuhnya secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan seseorang dapat mengendalikan, mengatur, dan berkonsentrasi untuk menyelaraskan tubuh, jiwa,dan pikiran. Selain itu, senam yoga juga dapat melancarkan aliran oksigen di dalam tubuh (Johan, 2011).  Yoga merupakan suatu mekanisme penyatuan dari tubuh (body), pikiran (mind), dan jiwa (soul). Yoga mengkombinasikan antara teknik bernafas, relaksasi, meditasi dan latihan peregangan tubuh (Wiria, 2015).

Problematika pada Lanjut Usia (skripsi dan tesis)

Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan dalam memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi serta memperbaiki kerusakan yang di derita. Seiring
dengan proses menua, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan
atau yang biasa disebut dengan penyakit degeneratif (Maryam dkk, 2008
dalam Suri, 2017).
Problematika yang dihadapi orang-orang yang telah lanjut usia sangat
khas. Mereka mengalami penurunan kondisi fisik dan juga masalah
psikologis. Pada usia lanjut, seseorang tidak hanya perlu menjaga kesehatan
fisik tetapi juga menjaga agar kondisi mentalnya dapat menghadapi
perubahan yang akan mereka alami (Nugraheni, 2005 dalam Islamiyah,
2013). Masyarakat sekarang menganggap bahwa lansia itu hanya dapat
berada di dalam rumah, menikmati hari-harinya dengan hanya bersantai tanpa
melakukan aktifitas apapun padahal disisi lain kita dapat menemukan
fenomena-fenomena dimana lansia dalam menjalani masa-masanya dapat
tetap produktif dan berguna bagi orang lain. Usia tua dipandang sebagai masa
kemunduran, masa dimana para lansia merasakan penurunan penurunan yang
terjadi pada dirinya baik secara fisik dan psikologis. Sebagian lansia masih
memandang usia tua dengan sikap yang menunjukkan keputusasaan, pasif,
lemah dan tergantung dengan sanak saudara. Lansia tersebut kurang berusaha
untuk mengembangkan diri sehingga lansia semakin cepat mengalami
kemunduran baik jasmani maupun mental. Disisi lain pandangan ini tidak
berarti bahwa kelompok lansia adalah kelompok orang yang homogen.
(Indrasawari dkk, 2012 dalam Islamiyah, 2013).
Menurut Wahyunita & Fitrah (2010) dalam Suri (2017) Penyakit
degeneratif yang muncul pada lanjut usia diantaranya yaitu :
a. Osteoarthritis (OA)
Peradangan sendi atau yang sering disebut dengan istilah OA,
disebabkan karena adanya pengapuran atau tidak stabilnya sendi.
b. Osteoporosis
Osteoporosis atau sering disebut dengan istilah tulang keropos
biasa sering menyertai individu yang kurang asupan vitamin D
ataupun kurang beraktivitas ketika masa mudanya.
c. Tekanan Darah Tinggi
Kebanyakan lansia sering menderita penyakit tekanan
darah tinggi atau dikenal sebagai hipertensi yaitu kondisi dimana
tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan
tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg, yang terjadi karena
elastisitas arteri pada proses menua. Apabila penyakit ini tidak cepat
ditangani dapat menyebabkan gangguan pada jantung, ginjal dan
pembuluh darah.
d. Kencing Manis (Diabetes Mellitus)
Lansia biasanya menderita penyakit diabetes mellitus dikarenakan
sudah berkurangnya aktivitas tubuh, obesitas dan pola makan yang tidak
tepat.
e. Sering Lupa (Demensia)
Demensia atau yang sering disebut dengan istilah sering lupa
sebenarnya adalah masalah yang berkaitan dengan susunan saraf
pusat atau penyakit vaskular.
f. Penyakit Jantung
Penyakit kardio rentan sekali menyerang lansia. Penyakit jantung
yang biasa dikenal yaitu penyakit jantung koroner, serangan jantung dan
lainnya.
g. Kanker
Penyakit kanker disebabkan karena berubahnya struktur dan fungsi
sel sehingga tidak mampu melaksanakan fungsinya secara normal.
h. Kolesterol
Kadar kolesterol yang tinggi dapat memicu berbagai penyakit
dalam tubuh seperti tekanan darah tinggi, gagal jantung, stroke,
penyakit jantung koroner dan banyak penyakit yang lain.
2. Perubahan Kondisi Fisik
Meskipun perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh,
diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler,
sistem pengaturan tubuh, muskuluskletal, gastrointestinal, dan integument.
Masalah-masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia menurut
Mubarak, 2006 dalam Wiria, 2015 adalah sebagai berikut:
a. Mudah jatuh
b. Mudah lelah
c. Kekacauan mental akut
d. Nyeri pada dada, berdebar debar
e. Sesak nafas pada saat melakukan aktifitas fisik
f. Pembengkakan pada kaki bawah
g. Nyeri pinggang atau punggung dan pada sendi panggul
h. Sulit tidur dan sering pusing
i. Berat badan menurun
j. Gangguan pada fungsi penglihatan, pendengaran, dan sukar menahan
air kencing
Menurut Wiria tahun 2015, perubahan fungsi organ yang terjadi akibat
proses penuaan, tidak sama diantara satu dengan yang lain, secara umum
dijumpai penurunan fungsi secara menyeluruh. Perubahan fungsi organ yang
terjadi pada lanjut usia adalah sebagai berikut :
a. Sistem integument
Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan
kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adipose,
kulit pucat dan terdapatnya bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran
darah ke kulit dan menurunnya sel-sel yang memproduksi pigmen kuku
pada jari tangan serta kaki menjadi tebal dan rapuh, rambut menipis dan
botak, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya (Ganong, 2002
dalam Wiria, 2015).
b. Temperatur tubuh
Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang
menurun, keterbatasan reflek, menggigil dan tidak dapat memproduksi
panas yang banyak diakibatkan oleh merendahnya aktifitas otot.
c. Sistem muskuloskletal
Kecepatan dan kekuatan otot skeletal berkurang, pengecilan otot
akibat menurunnya serabut otot.
d. Sistem penginderaan (pengecapan danpembau)
Menurunnya kemampuan untuk melakukan pengecapan dan
pembauan, sensitifitas terhadap empat rasa menurun setelah usia 50 tahun.
e. Sistem perkemihan
Ginjal mengecil, nefron menjadi atropi, aliran darah menurun sampai
50% fungsi tubulus berkurang yang berakibat kurang mampu memekatkan
urine, ambang ginjal terhadap glukosa meningkat, kandung kemih sulit
dikosongkan pada pria akibatnya retensi urine (Guyton, 2001 dalam Wiria,
2015).
f. Sistem pernapasan
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,
menurunnya aktifitas selia, berkurangnya aktifitas paru, alveoli ukurannya
melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang, serta berkurangnya reflek
batuk.
g. Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi, indra pengecap menurun, esophagus melebar, rasa
lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan lambung
menurun, peristaltic melemah sehingga dapat mengakibatkan konstipasi,
kemampuan absorbsi menurun, hati mengecil, produksi saliva menurun,
produksi HCL dan juga pepsin menurun pada lambung.
h. Sistem penglihatan
Kornea lebih berbentuk selindris, spingter pupil timbul sclerosis dan
hilangnya respon terhadap sinar, lensa menjadi keruh serta meningkatnya
ambang penglihatan sinar (daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat,
susah melihat cahaya gelap).
i. Sistem pendengaran
Presbiakusis atau berkurangnya pendengaran pada usia lanjut,
membran timpani menjadi atropi yang menyebabkan etoklerosisi,
penumpukan serumen hingga mengeras karena peningkatan jumlah kratin,
berkurangnya persepsi nada tinggi (Darmojo, 2006 dalam Wiria 2015).
j. Sistem saraf
Berkurangnya berat otak hingga 10 sampai 20 %, berkurangnya sel
kortikal, reaksi menjadi lambat, kurang sensitive terhadap sentuhan,
berkurangnya aktifitas sel, bertambahnya waktu jawaban motorik,
hantaran neuron motorik melemah, dan mengalami kemunduran fungsi
saraf otonom (Darmojo, 2006 dalam Wiria 2015).
k. Sistem endokrin
Produksi hampir semua hormone menurun, fungsi paratiroid dan
sekresi tidak berubah, berkurangnya ACTH, TSF, FSH, LH, menurunnya
aktifitas tiroid akibatnya basal metabolisme menurun, menurunnya
produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon, progesteron, estrogen,
dan aldosteron serta bertambahnya insulin (Darmojo, 2006 dalam Wiria,
2015).
l. Sistem reproduksi
Selaput lendir vagina kering atau menurun, menciutnya ovarium dan
uterus, atropi payudara, testis masih dapat memproduksi, meskipun adanya
penurunan berangsur angsur dan dorongan seks menetap sampai diatas
usia 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik, penghentian produksi ovum
pada saat menopause (Darmojo, 2006 dalam Wiria, 2015).
m. Sistem kardiovaskuler
Perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler dapat dipahami
dari organ jantung dan pembuluh darah. Pada lansia jantung kirinya
mengalami pengecilan karena rendahnya beban kerja, terjadi penebalan
dan kekakuan atau penebalan katup jantung, serta terdapatnya jaringan ikat
pada sistem hantaran khusus jantung Hal ini mengakibatkan penurunan
kontraktilitas miokardium, lamanya waktu pompa ventrikel kiri, dan juga
perlambatan sistem hantaran jantung.

Definisi Lanjut Usia (skripsi dan tesis)

Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan proses alami yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap individu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO ) menggolongkan lanjut usia menjadi empat yaitu; usia pertengahan 45-59 tahun, lanjut usia 60-74 tahun, lalu lanjut usia tua 75- 90 tahun, dan usia sangat tua 90 tahun. Batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang- Undang No 4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan yaitu mereka yang berusia 56 tahun ke atas (Wiria, 2015). Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Semakin meningkatnya usia   harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut usia yaitu penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Diseluruh dunia penduduk lansia (usia lebih dari 60 tahun) tumbuh dengan sangat cepat bahkan tercepat dibandingkan kelompok usia lainnya. Diperkirakan mulai tahun 2010 terjadi ledakan jumlah penduduk lanjut usia. Mindset yang selama ini ada bahwa penduduk lanjut usia merupakan kelompok rentan yang hanya menjadi tanggungan keluarga, masyarakat dan negara, harus kita ubah. Kita harus menjadikan lanjut usia sebagai aset bangsa yang perlu terus diberdayakan (BPS,2009 dalam Islamiyah, 2013). Lanjut usia merupakan fase perkembangan manusia yang sangat menarik, ada beberapa alasan, yaitu : (1) fase usia lanjut kalau dibandingkan dengan fase-fase perkembangan manusia lainnya adalah sangat unik. Fase –fase yang lain berkembang secara progresif, sedangkan pada fase lanjut usia sebaliknya yaitu regresif dimana arah yang regresif ini ditandai dengan kemunduran secara fisik dan mental. (2) secara umum, untuk menghindari over generalisasi, kualitas kemampuan adaptasi orang lanjut usia terhadap perubahan-perubahan fisik dan mental yang bersifat regresif tersebut cukup buruk sehingga menyebabkan lanjut usia menjadi cukup rentan mengalami gangguan psikologis (Muis,2006 dalam Islamiyah, 2013). Data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah warga lanjut usia bertambah dari tahun ke tahun. Tahun 2000 jumlah warga berusia 65-70 tahun meningkat menjadi 22,7 juta jiwa, maka di tahun 2020 diperkirakan jumlah tersebut menjadi 30,1 juta jiwa atau sekitar 10 % dari total penduduk Indonesia. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Bureau of the Cencus USA bahwa di Indonesia sejak tahun 1990-2025 (sekitar 35 tahun) mempunyai jumlah lansia sebesar 414 % dan hal tersebut merupakan suatu angka tertinggi di dunia. (BPS,2009 dalam Islamiyah, 2013).

Hipertensi Pada Lanjut Usia (skripsi dan tesis)

Tekanan darah tidak konstan di sepanjang daur hidup seseorang. Tekanan darah lebih rendah saat lahir dan akan meningkat secara bertahap dengan bertambahnya usia. Pada usia 16-18 tahun, tekanan darah mencapai kadar dewasa. Kemungkinan besar tekanan darah akan meningkat terus setelah usia 60 tahun. Di Indonesia penyakit tekanan darah tinggi menjadi pembunuh nomor tiga setelah diare dan saluran nafas, angka kematian akibat penyakit jantung pada usia lanjut dengan hipertensi adalah 3 kali lebih sering dibandingkan pada usia lanjut tanpa hipertensi di usia yang sama (Sudjaswandi dkk, 2003 dalam Wiria, 2015). Penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia pada tahun 2007 sebanyak 18.960.000 jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 jiwa pada tahun 2009 (Nyoman, 2013 dalam Bradley, 2015). Seiring dengan proses menua 24 tersebut, tubuh mengalami berbagai masalah kesehatan yang disebut penyakit degeneratif. Salah satu contohnya adalah penyakit darah tinggi yang merupakan faktor resiko utama dari perkembangan penyakit jantung dan stroke, dan disebut sebagai “the silent disease” karena tidak terdapat tanda atau gejala yang dapat dilihat dari luar (Junita, 2014). Proses penuaan adalah proses penurunan fungsi tubuh yang mengakibatkan perubahan-perubahan meliputi perubahan fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Pada perubahan fisiologis terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi gangguan dari dalam maupun luar tubuh. Salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak dialami lansia adalah pada sistem kardiovaskuler (Teguh, 2009 dalam Astari, 2012). Secara alamiah lansia akan mengalami penurunan fungsi organ dan mengalami labilitas tekanan darah (Mubarak dkk, 2006 dalam Astari, 2012) Oleh sebab itu, lansia dianjurkan untuk selalu memeriksakan tekanan darah secara rutin agar dapat mencegah penyakit kardiovaskuler khususnya hipertensi (Martono & Pranaka, 2009 dalam Astari, 2012). Penelitian saya kali ini akan mengambil sample dari lansia yang memiliki riwayat hipertensi jangka panjang, yaitu lansia yang diketahui mengidap hipertensi lebih dari atau 2 sampai 4 minggu sebelum diberikan latihan senam yoga hatha

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang berkaitan dengan hipertensi diantaranya adalah
penebalan dinding arteri, yang mengurangi ukuran lumen arteri, dan
penurunan elastisitas arteri serta faktor gaya hidup seperti merokok,
obesitas, konsumsi alkohol yang berlebihan, kurang berolah raga,
peningkatan kadar kolestrol darah, dan stres berkepanjangan (Kozier, 2010
dalam Parlindungan, 2016).
Tekanan darah tinggi terkadang disebabkan oleh sesuatu yang spesifik
misalnya, hipertensi sekunder biasanya timbul akibat penyakit lain (seperti
penyakit ginjal atau gangguan pada penyakit adrenal) atau akibat
penggunaan obat (seperti pil KB kombinasi atau steroid). Tekanan darah
tinggi juga dapat meningkat pada masa kehamilan (Palmer & Williams,
2007 dalam Suri, 2015).
Menurut Sutanto (2010) Hipertensi tidak hanya di disebabkan oleh
satu faktor penyebab yang spesifik saja, meskipun hal tersebut mungkin saja
terjadi. Berikut penyebab hipertensi lainnya akan dibahas lebih lanjut pada
uraian di bawah ini :
a. Genetika
Apabila riwayat hipertensi didapat pada kedua orangtua maka
dugaan hipertensi primer pada seseorang akan cukup besar. Hal ini
terjadi karena pewarisan sifat melalui gen. Pengaruh genetika ini
terjadi pula pada anak kembar yang lahir dari satu sel telur. Jika salah
satu dari anak kembar adalah penderita hipertensi maka akan dialami
juga oleh anak kembar yang lain.
b. Obesitas
Obesitas atau kegemukan juga merupakan salah satu faktor resiko
timbulnya hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah
penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dibandingkan penderita
hipertensi yang tidak mengalami obesitas. Walaupun belum diketahui
secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti
bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita
obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibandingkan penderita
hipertensi dengan berat badannya normal.
c. Stres Lingkungan
Kondisi stres menimbulkan respons sel-sel saraf yang
mengakibatkan kelainan pengeluaran atau pengangkutan natrium.
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktifitas saraf
simpatis (saraf yang bekerja ketika beraktifitas) dapat meningkatkan
tekanan darah secara bertahap.
d. Jenis Kelamin
Bila ditinjau dari segi perbandingan antara laki-laki dan
perempuan, secara umum perempuan lebih banyak menderita
hipertensi dibandingkan laki-laki. Hipertensi berdasarkan genre ini
dapat pula dipengaruhi oleh faktor fisiologis. Wanita seringkali
mengadopsi perilaku tidak sehat seperti merokok dan pola makan
yang tidak seimbang sehingga menyebabkan kelebihan berat badan,
depresi, dan juga rendahnya status pekerjaan.
e. Usia
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ternyata angka
kejadian hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Hilangnya
elastisitas jaringan dan arterisklerosis serta pelebaran pembuluh darah
adalah factor penyebab hipertensi pada usia tua. Berbagai penelitian
yang dilakukan di Indonesia menunjukan penduduk yang berusia
diatas 20 tahun sudah memiliki resiko menderita hipertensi.
f. Gaya Hidup Kurang Sehat
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan atau
kerusakan pada pembuluh darah ikut berperan terhadap menculnya
penyakit hipertensi. Faktor-faktor tersebut antara lain merokok,
asupan lemak jenuh dan tingginya kolesterol dalam darah.
g. Obat-Obatan
Obat pencegah kehamilan, steroid dan obat anti infeksi dapat
mengakibatkan tekanan darah. Beberapa jenis obat dapat menaikkan
kadar insulin. Kadar insulin yang tinggi dapat mengakibatkan tekanan
darah meningkat.
h. Akibat Penyakit Lain
Penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler maka sangat
berpotensi menderita hipertensi sekunder. Penyebabnya sudah cukup
jelas, antara lain ginjal yang tidak berfungsi, pemakaian kontasepsi
oral dan terganggunya keseimbangan hormon yang merupakan factor
pengatur tekanan darah dalam tubuh.
i. Kurang Gerak
Kurang gerak tentu memiliki efek buruk yang dapat memicu
terjadinya hipertensi, terutama bila gaya hidup pasif itu dimulai sejak
usia muda. Sebab, kurang gerak cenderung dapat meningkatkan risiko
penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah. Kondisi ini pada
akhirnya akan meningkatkan risiko darah tinggi. Karena itu sangat
dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin agar pembuluh
darahnya normal

Patofisiologi Hipertensi (skripsi dan tesis)

Hipertensi terjadi karena adanya perubahan pada struktur dan fungsi sistem pembuluh darah perifer yang bertanggung jawab atas perubahan tekanan darah. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, yaitu suatu keadaan dimana hilangnya elastisitas jaringan ikat dan menurunnya relaksasi otot polos pembuluh darah sehingga mengakibatkan penurunan kemampuan daya regang dan distensi pembuluh darah. Hal ini menyebabkan aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi sistema darah yang dipompa jantung sehingga tekanan darah dan nadi istirahat menjadi tinggi (Smeltzer & Bare, 2002 dalam Dwi, 2015). Mekanisme pengaturan konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor pada sistem otak. Pusat vasomotor bermula pada saraf simpatis yang berlanjut ke arah bawah menuju korda spinalis dan keluar melalui kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis yang berada di toraks dan abdomen. Rangsangan dari pusat vasomotor bergerak ke bawah ganglia simpatis dalam bentuk impuls yang bergerak melalui saraf simpatis. Pada titik ini posisi neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dengan dilepaskannya norepinefrin bermanifestasi pada berkonstriksinya pembuluh darah. Respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriktor dapat dipengaruhi oleh berbagai macam sistem seperti rasa cemas dan takut. Pada waktu yang bersamaan, respon rangsangan emosi menstimulasi sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah dan kelenjar adrenal yang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medula adrenal mensekresi epinefrin kemudian menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, begitu juga dengan korteks adrenal yang mensekresi kortisol dan steroid yang memperkuat efek vasokonstriksi pada pembuluh darah (Handayani, 2014). Vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal yang menyebabkan pelepasan renin. Renin kemudian merangsang pembentukan angiotensin I lalu diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat yang merangsang sistem sekresi oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal menyebabkan peningkatan volume intravaskular. Keadaan diatas itulah yang cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Handayani, 2014).   Jika ditinjau dari pertimbangan gerontologis, hipertensi dapat dihubungkan dengan perubahan struktur dan fungsional sistem pembuluh darah perifer yang bertanggung jawab atas perubahan tekanan darah pada lanjut usia. Perubahan tekanan darah pada lanjut usia dapat disebabkan karena aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan relaksasi otot polos pada pembuluh darah, keadaan ini menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan arteri dan aorta dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung yang mengakibatkan terjadinya penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer & Bare, 2002 dalam Handayani, 2014).

Epidemiologi Hipertensi (skripsi dan tesis)

Prevalensi hipertensi diperkirakan terus meningkat, dan diprediksi pada
tahun 2025 sebanyak 29% orang dewasa diseluruh dunia menderita
hipertensi, sedangkan di Indonesia angkanya mencapai 31,7%. Hipertensi
dikenal juga dengan tekanan darah tinggi dan sering disebut sebagai “silent
killer” karena terjadi tanpa tanda dan gejala, sehingga penderita tidak
mengetahui jika dirinya terkena hipertensi. Hasil penelitian mengungkapkan
sebanyak 76,1% tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi
(KEMENKES, 2013 dalam Hermanto, 2014)

Definisi Hipertensi (skripsi dan tesis)

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu gangguan pembuluh darah sehingga mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi terhambat untuk diedarkan dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan tekanan darah di arteri meningkat dan jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila hal ini berlangsung lama dan menetap, maka timbullah gejala yang disebut dengan penyakit tekanan darah tinggi (Vita, 2004). Kondisi yang terjadi pada penderita hipertensi yaitu terjadinya peningkatan terus menerus tekanan darah melebihi batas normal (tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg). Tekanan darah normal adalah 110/90 mmHg. Tekanan sistolik dewasa 16 berkisar diantara 90-140 dan tekanan diastolik berkisar diantara 60-90 mmHg. Hipertensi merupakan produk resistensi perifer dan kardiak output (Devina, 2011 dalam Bradley, 2016). Tekanan darah lebih dari 180/100 mmHg beresiko untuk mengalami penyakit jantung koroner 5 kali lebih besar dibandingkan seseorang dengan tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg (Dwi, 2014). Hipertensi dapat dikendalikan dengan meningkatkan latihan fisik secara rutin. Maryam (2008) dalam Bradley (2016) menyatakan bahwa olahraga yang dilakukan secara rutin dapat menghasilkan suatu respon terhadap kardiovaskuler, yakni penurunan tekanan darah dan denyut nadi istirahat secara bermakna. Latihan fisik akan memberikan efek akut pada tubuh yang akan mempengaruhi sistem otot, sistem hormonal, sistem peredaran darah, sistem pernafasan, sistem pencernaan, metabolisme, serta sistem pembuangan ( Sebastianus, 2011 dalam Dwi, 2015 ).

Pengukuran Tekanan Darah (skripsi dan tesis)

a. Prosedur pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer
manual (Susilo, 2013 dalam Suri, 2017) :
1) Responden duduk rileks dan tenang sekitar 5 menit.
2) Pemeriksa menjelaskan manfaat dari rileks, agar nilai tekanan darah
saat pengukuran tersebut dihasilkan nilai yang stabil.
3) Pasangkan manset pada salah satu lengan dengan jarak sisi manset
paling bawah 2,5 cm dari siku kemudian rekatkan dengan baik.
4) Tangan responden diposisikan di atas meja dengan posisi telapak
tangan terbuka keatas dan sejajar dengan jantung.
5) Lengan yang terpasang manset harus bebas dari lapisan apapun.
13
6) Raba nadi pada lipatan lengan, lalu pompa alat hingga denyut nadi
tidak teraba kemudian dipompa kembali sampai tekanan meningkat 30
mmHg.
7) Tempelkan stetoskop pada perabaan denyut nadi, lepaskan pemompa
perlahan-lahan dan dengarkan bunyi denyut nadi tersebut.
8) Catat tekanan darah sistolik yaitu nilai tekanan ketika denyut nadi
yang pertama kali terdengar dan tekanan darah diastolik ketika bunyi
denyut nadi sudah tidak terdengar.
9) Pengukuran sebaiknya dilakukan 2 kali dengan selang waktu 2 menit.
Jika terdapat perbedaan hasil pengukuran sebesar 10 mmHg atau lebih
lakukan pengukuran untuk ke 3 kalinya.
10) Apabila responden tidak mampu duduk, pengukuran dapat dilakukan
dengan posisi baring, kemudian catat kondisi tersebut di lembar
catatan.

a. Persiapan Sphygmomanometer Sebelum Digunakan
1) Pasang dengan rapat manset atau sabuk tensimeter pada lengan kiri atas
pasien.
2) Tempatkan stetoskop pada telinga terapis.
3) Pastikan kepala stetoskop dalam posisi terbuka (on).
4) Cara memastikannya dengan mengetuk secara perlahan-lahan pada area
sensor kepala stetoskop.
5) Jika terdengar bunyi, maka stetoskop dalam kondisi on.
6) Cari denyut nadi atau arteri brakhialis di bagian siku dalam lengan kiri
pasien.
7) Biarkan lengan nyaman, kemudian letakkan kepala stetoskop pada
denyut nadi atau arteri tadi (gunakan tangan kiri).
8) Pastikan katup kantung tekanan dalam keadaan tertutup (dengan
memutar skrup searah jarum jam sampai rapat).
b. Persiapan Pasien
Sebelum melakukan pemeriksaan tekanan darah, berikut beberapa
persiapan yang perlu dilakukan oleh pasien (Potter, 1994) :
1) Beritahu pasien untuk menghindari latihan dan merokok selama 30
menit sebelum pengukuran.
15
2) Jelaskan prosedur dan buatlah pasien istirahat sedikitnya 5 menit
sebelum pengukuran.
3) Pastikan bahwa ruangan hangat dan terang. Buatlah pasien dalam
kondisi duduk.
4) Tentukan sisi anatomik terbaik untuk pengukuran tekanan darah, seperti
hindari lengan di sisi dimana telah dilakukan operasi payudara atau
ketiak dan pengangkatan jaringan limfe.
5) Hindari lengan atau tangan yang mengalami trauma, penyakit atau ila
lengan bawah telah diamputasi atau tetutup gips atau balutan yang
keras

Fisiologi Tekanan Darah (skripsi dan tesis)

Darah mengambil oksigen dari dalam paru-paru. Darah yang mengandung oksigen memasuki jantung dan kemudian dipompakan ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah yang disebut arteri. Pembuluh darah  yang lebih besar bercabang-cabang menjadi pembuluh-pembuluh darah lebih kecil hingga berukuran mikroskopik dan akhirnya membentuk jaringan yang terdiri dari pembuluh-pembuluh darah sangat kecil atau disebut dengan pembuluh kapiler. Jaringan ini mengalirkan darah ke sel tubuh dan menghantarkan oksigen untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup. Kemudian darah yang sudah tidak beroksigen kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena, dan di pompa kembali ke paru-paru untuk mengambil oksigen lagi. Saat jantung berdetak, otot jantung berkontraksi untuk memompakan darah ke seluruh tubuh. Tekanan tertinggi berkontraksi dikenal dengan tekanan sistolik. Kemudian otot jantung rileks sebelum kontraksi berikutnya, dan tekanan ini paling rendah, yang dikenal sebagai tekanan diastolik. Tekanan sistolik dan diastolik ini diukur ketika seseorang memeriksakan tekanan darah (Beevers, 2002 dalam Jennie, 2007)

Definisi Tekanan (skripsi dan tesis)

Darah Tekanan darah adalah daya yang di perlukan agar darah dapat mengalir di dalam pembuluh darah dan beredar mencapai seluruh jaringan tubuh manusia. Darah dengan lancar beredar ke seluruh bagian tubuh berfungsi sebagai media pengangkut oksigen serta zat lain yang di perlukan untuk kehidupan sel-sel di dalam tubuh (Moniaga, 2012). Menurut Gunawan (2007) dalam Suri (2017) istilah “tekanan darah” berarti tekanan pada pembuluh nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia. Tekanan darah di bedakan antara tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah ketika menguncup (kontraksi) sedangkan, tekanan darah diastolik adalah tekanan darah ketika mengendor kembali (rileksasi). Tekanan darah tiap orang sangat bervariasi. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah lebih rendah dibandingkan usia dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana tekanan darah akan lebih tinggi ketika seseorang melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika sedang beristirahat (Sutanto, 2010)

Pengertian Body image (skripsi dan tesis)

Pengertian Body image adalah bagaimana cara individu mempersepsikan tubuhnya, baik secara sadar maupun tidak sadar yang meliputi ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi tubuh berikut bagian-bagiannya. Dengan kata lain, body image adalah kumpulan sikap individu, baik yang disadari ataupun tidak yang ditujukan terhadap dirinya. Beberapa hal terkait body image antara lain: 1) Fokus individu terhadap bentuk fisiknya. 2) Cara individu memandang dirinya berdampak penting terhadap aspek psikologis individu tersebut. 3) Body image seseorang sebagian dipengaruhi oleh sikap dan respon orang lain terhadap dirinya, dan sebagian lagi oleh eksplorasi individu terhadap dirinya. 4) Gambaran yang realistis tentang menerima dan menyukai bagian tubuh akan memberi rasa aman serta mencegah kecemasan dan meningkatkan harga diri. 5) Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap body imagenya dapat mencapai kesuksesan dalam hidup (Mubarak, Wahit & Chayatin, 2009). Body image adalah bagian dari konsep diri yang mencakup sikap dan pengalaman yang berkaitan dengan tubuh, termasuk pandangan mengenai maskulinitas dan feminitas, kegagahan fisik, daya tahan dan kapabilitas. Konsep diri adalah citra subjektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri merupakan representasi fisik seorang individu pusat inti dari diri dimana semua persepsi dan pengalaman terorganisasi. Konsep diri adalah kombinasi dinamis yang terbentuk selama bertahun-tahun dan didasarkan pada hal berikut ini: (1) Reaksi orang lain terhadap tubuh seseorang. (2) Persepsi berkelanjutan tentang reaksi orang lain terhadap diri. (3) Hubungan diri dan orang lain. (4) Struktur kepribadian. (5) Persepsi terhadap stimulus yang mempunyai dampak pada diri. (6) Pengalaman baru atau sebelumnya. (7) Perasaan saat ini tentang fisik, emosional, dan sosial diri. (8) Harapan tentang diri Body image juga terbentuk selama bertahun-tahun sejalan dengan manusia belajar mengenai tubuh dan struktur serta fungsi, kemampuan dan keterbatasan mereka. Body image dapat berubah dalam beberapa jam, hari, minggu, atau bulan bergantung pada stimuli eksternal pada tubuh dan perubahan aktual dalam penampilan, struktur atau fungsi. Hal yang paling berpengaruh dalam konsep Body image adalah cara orang lain melihat dan bereaksi pada tubuh seseorang. Body image membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Body image dipengaruhi pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oelah persepsi dari pandangan orang lain. Body image dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan yang normal seperti pertumbuhan dan penuaan mempunyai efek penampakan yang lebih besar pada tubuh dibandingkan dengan aspek lainnya dari konsep diri. Sikap dan nilai kultural serta sosial juga mempengaruhi Body image. Dalam kultur barat, wanita yang cantik, muda adalah hal-hal yang ditekankan dalam masyarakat, semua ini didapat dari apa yang biasa ditayangkan di program televisi. Sedangkan dalam kultur timur, penuaan dipandang secara sangat positif, karena orang dengan usia tua dihormati. Body image bergantung hanya sebagian pada realitas tubuh. Seseorang umumnya tidak mengadaptasi dengan cepat terhadap perubahan dalam fisik tubuh. Perubahan fisik mungkin tidak dimasukan ke dalam Body image ideal seseorang. Misalnya saja orang yang mengalami penurunan berat badan masih tidak menganggap diri mereka kurus. Perubahan dalam penampilan, struktur atau fungsi bagian tubuh akan membutuhkan perubahan dalam Body image. Meskipun terjadi perubahan pada bagian yang tak terlihat oleh orang lain, perubahan tubuh mempunyai efek yang signifikan pada individu. Selain itu, penurunan atau penambahan berat badan juga mengubah Body image seseorang. Persepsi seseorang mengenai perubahan pada tubuhnya dapat dipengaruhi oleh bagaimana perubahan tersebut terjadi selain itu respons orang lain mengenai perubahan yang dialami juga mempengaruhi persepsi seseorang mengenai perubahan yang dialami tubuhnya. Makna dari kehilangan fungsi atau perubahan dalam penampilan dipengaruhi oleh persepsi individu tentang perubahan yang dialaminya. Body image terdiri dari elemen yang ideal dan nyata. Makin besar makna penting dari tubuh atau bagian tubuh yang spesifik, maka makin besar ancaman yang dirasakan akibat perubahan dalam Body image. Untuk meraih kembali konsep diri dan harga diri yang positif dan untuk mempertahankan kesehatan yang baik, mereka harus mengadaptasi stressor Body image mereka. Seseorang yang mengalami perubahan Body image sering merasa ditolak atau terasing. Perasaan tak berdaya juga merupakan perasaan yang umum pada orang yang mengalami perubahan Body image. Media yang sering menyajikan cerita positif mengenai orang yang mengalami perubahan tubuh dapat memberikan peran model positif bagi individu yang mengalami stressor akibat perubahan tubuh yang dialaminya, begitu juga bagi keluarga, teman dan masyarakat sekitar mereka secara keseluruhan. Pada masa remaja pergolakan fisik, emosional, dan sosial sering terjadi. Anak remaja dipaksa untuk mengubah gambaran mental mereka tentang diri mereka. Perubahan fisik dalam ukuran badan dan penampilan menyebakan perubahan dalam persepsi diri dan penggunaan tubuh. Anak remaja menghabiskan banyak waktu di depan cermin untuk mencari perbaikan dari penampilan mereka sebanyak mungkin, hal ini menyebabkan distress yang besar berkaitan dengan ketidaksempurnaan tubuh yang dirasakan. Pada dewasa muda, konsep diri dan Body image adalah kreasi sosial dan penghargaan dan penerimaan diberikan untuk penampilan normal dan perilaku yang sesuai berdasarkan standar sosial. Konsep diri secara konstan terus berkembang dan dapat diidentifikasi dalam nilai, sikap dan perasaan tentang diri. (Potter & Perry, 2005)

Faktor-faktor yang mempengaruhi spiritualitas (skripsi dan tesis)

Menurut Taylor et al (1997) dalam buku Aspek Spiritual Dalam Keperawatan, ada beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang, yaitu: 1) Tahap perkembangan: berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat agama yang berbeda ditemukan bahwa mereka memiliki konsep spiritualitas yang berbeda menurut usia, jenis kelamin, agama dan kepribadian anak 2) Keluarga: peran orang tua sangat penting dalam perkembangan spiritualitas seorang anak karena orang tua sebagai role model. Keluarga juga sebagai orang terdekat di lingkungan dan pengalaman pertama anak dalam mengerti dan menyimpulkan kehidupan di dunia, maka pada umumnya pengalaman pertama anak selalu berhubungan dengan orang tua ataupun saudaranya 3) Latar belakang etnik budaya: sikap, keyakinan dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial budaya. Hal yang perlu diperhatikan adalah apapun tradisi agama atau system keagamaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual tiap individu berbeda dan mengandung hal unik. 4) Pengalaman hidup sebelumnya: Pengalaman hidup baik positif maupun negatif dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang. Selain itu juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman tersebut. Peristiwa dalam kehidupan sering dianggap sebagai suatu ujian . Pada saat ini, kebutuhan spiritual akan meningkat yang memerlukan kedalaman spiritual dan kemampuan koping untuk memenuhinya. 5) Krisis dan perubahan: krisis dan perubahan dapat memperkuat kedalaman spiritual seseorang. Krisis sering dialami ketika individu dihadapkan dengan hal sulit. Apabila klien mengalami krisis, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk melakukan kegiatan spiritual menjadi lebih tinggi. 6) Terpisah dari ikatan spiritual: individu yang biasa melakukan kegiatan spiritual ataupun tidak dapat berkumpul dengan orang terdekat biasanya akan mengalami terjadinya perubahan fungsi spiritual.

Spiritual dan Keperawatan (skripsi dan tesis)

Secara tradisional, model holistic keperawatan tentang kesehatan telah mencakup dimensi fisik, psikologis, kultural, perkembangan, sosial dan spiritual. Setiap dimensi berhubungan dengan dimensi lainnya mengandung gambaran atau karakteristik yang unik. Terdapat model pilihan yang dikembangkan oleh Farran et al, yang menunjukkan signifikansi tentang spiritualitas sebagai suatu tema yang terintegrasi dalam hidup. Dalam model ini dijelaskan bahwa spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. Lebih jauh didefinisikan model penyatuan spiritualitas dengan meringkaskan berbagai pandangan teoritis tentang spiritualitas (Potter & Perry, 2005). Dimensi spiritualitas menyebar di seluruh dimensi lainnya, baik itu dikenali atau dikembangkan oleh individu atau tidak. Individu dikuatkan melalui diri yang mengakibatkan peralihan kearah kesejahteraan. Pertumbuhan spiritual terjadi hampir pada seluruh rentang kehidupan. Individu mencapai tahap perkembangan yang berbeda tergantung pada karakteristik individu masing – masing dan interpretasi tentang pengalaman dan pertanyaan dalam kehidupan. Terdapat pandangan teoritis mengenai spiritual serta bagaimana teori ini dapat diaplikasikan terhadap keperawatan. Menurut teori filosofi, perawat dapat meneliti esensial, asal, sifat dan nilai keyakinan spiritual seseorang. Filosofi membantu seseorang meneliti keyakinan seseorang guna memahami secara logis dan seberapa jauh spiritualitas menjadi cara hidup seseorang. Hal ini memberikan pemandangan yang luas tentang dimensi spiritual. Dari teori teologi spiritualitas dapat membantu perawat mencapai pemahaman tentang keyakinan seseorang mengenai sifat Tuhan atau menghargai kehidupan yang lebih tinggi. Teologi membentuk keyakinan seseorang tentang hidup dan makna dari pengalaman ini. Melalui pandangan teori fisiologis tentang spiritrualitas membantu perawat untuk memahami interaksi yang terjadi diantara tubuh, pikiran dan spirit dalam sehat dan sakit. Pandangan psikologis memberi perawat suatu pemahaman tentang proses mental seseorang, pengalaman, dan emosi serta peran spiritualitas yang dimainkan dalam ekspresi yang berbeda pada tiap – tiap individu. Perawat akan mampu mencerna apa yang member makna hidup pada klien, kemana klien mencari pedoman, dan dari sumber apa klien mendapat dorongan dan harapan. Dalam teori sosiologi dijelaskan bahwa semua orang dipengaruhi oleh masyarakat atau kelompok dimana mereka hidup. Pandangan ini membantu perawat memahami pentingnya individu dan kelompok yang menempatkan hubungan dengan seseorang yang mempunyai keyakinan serupa. Pandangan ini juga menunjukkan kepentingan dan makna yang dimiliki dalam ritual dan praktik bagi individu dan kelompok (Potter & Perry, 2005).

Spiritual dan Fase Perkembangan (skripsi dan tesis)

Spiritualitas dimulai ketika anak-anak belajar tentang diri mereka dan hubungan mereka dengan orang lain dan sering memulai konsep tentang ketuhanan atau nilai seperti yang disuguhkan kepada mereka oleh lingkungan rumah mereka atau komunitas religi mereka. Remaja sering mempertimbangkan kembali konsep masa kanak – kanak mereka tentang kekuatan spiritual dalam pencarian identitas, mungkin dengan mempertanyakan tentang praktik atau nilai dalam menemukan kekuatan spiritual sebagai motivasi untuk mencari makna hidup yang lebih jelas. Banyak orang dewasa yang mengalami pertumbuhan spiritual ketika memasuki hubungan yang harmonis. Kemampuan untuk mengasihi orang lain dan diri sendiri secara bermakna adalah bukti dari kesehatan spiritualitas. Sejalan dengan semakin dewasanya seseorang, mereka sering berintrospeksi untuk memperkaya nilai dan konsep ketuhanan yang telah lama dianut dan bermakna. Pada orang tua, sering terarah pada hubungan yang penting dan menyediakan diri mereka bagi orang lain sebagai tugas spiritual. Menetapkan hubungan dengan kehidupan atau nilai adalah salah satu cara mengembangkan spiritualitas. Kesehatan spiritual yang sehat pada lansia adalah sesuatu yang memberikan kedamaian dan penerimaan tentang diri dan hal tersebut sering didasarkan pada hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Penyakit dan kehilangan dapat mengancam dan menantang proses perkembangan spiritual. Distress spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Individu meungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup dan sumber dari makna hidup (Potter & Perry, 2005).

Pengertian Spiritual (skripsi dan tesis)

Pengertian Spiritual adalah suatu usaha dalam mencari arti kehidupan, tujuan dan panduan dalam menjalani kehidupan bahkan pada orang-orang yang tidak memercayai adanya Tuhan. (Ellison, 2002). Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan sang pencipta (Achir Yani, 2000). Burkhard (1993) dalam buku Aspek Spiritual Dalam Keperawatan, berpendapat bahwa spiritualitas meliputi aspek sebagai berikut: (1) berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, (2) cara dalam menemukan suatu arti dan tujuan hidup, (3) memiliki kemampuan dalam menyadari kekuatan dalam untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, (4) mempunyai perasaan terikat dengan diri sendiri dan dengan Pencipta. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan Tuhan (Carson, 1989). Kesejahteraan spiritual adalah suatu aspek yang terintegrasi dari manusia secara keseluruhan yang ditandai oleh makna dan harapan. Kesehatan spiritual atau kesejahteraan adalah rasa keharmonisan yang saling berdekatan antara diri dengan orang lain, alam dan dengan kehidupan yang tertinggi. Rasa keharmonisan ini dicapai ketika seseorang menemukan keseimbangan antara nilai, tujuan dan system keyakinan individu dengan hubungan mereka di dalam diri mereka sendiri dan dengan orang lain. Keyakinan ini sering berakar dalam spiritualitas orang tersebut. Sepanjang hidup seorang individu mungkin spiritual akan lebih tumbuh sehingga individu menjadi lebih menyadari tentang makna, tujuan dan nilai hidup. Spiritualitas memberi dimensi luas pada pandangan holistik kemanusiaan. Definisi spiritualitas atau dimensi spiritualitas akan unik dan berbeda bagi setiap individu. Definisi individual tentang spiritualitas dipengaruhi oleh kultur, perkembangan, pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Dimensi spiritual berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berusaha untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stress emosional, penyakit fisik, atau kematian, yang merupakan kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995; Murray & Zentner, 1993, dalam buku Aspek Spiritual Dalam Keperawatan). Mickley et al (1992) membagi spiritualitas sebagai suatu yang multidimensi, yaitu dimensi eksistensial dan dimensi agama. Dimensi eksistensial berfokus pada tujuan dan arti kehidupan, sedangkan dimensi agama lebih berfokus dengan hubungan seseorang dan sang pencipta. Stoll (1989), menguraikan bahwa spiritualitas sebagai konsep dua dimensi yaitu dimensi vertikal yang merupakan hubungan dengan pencipta yang menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri dengan orang lain dan dengan lingkungan. Hubungan antara dua dimensi ini berlangsung terus menerus. Meskipun spiriualitas sulit untuk didefinisikan, terdapat dua karakteristik penting tentang spiritualitas yang disetujui oleh sebagian orang: (1) Spiritualitas adalah kesatuan tema dalam kehidupan kita. (2) Spiritualitas merupakan keadaan hidup. Jika diambil dari definisi fungsionalnya, spiritualitas adalah komitmen tertinggi individu yang merupakan prinsipyang paling komprehensif dari perintah atau nilai final yaitu argument yang sangat kuat yang diberikan untuk pilihan yang dibuat dalam hidup kita (Potter & Perry, 2005).

PEMANTAUAN KADAR OBAT DALAM DARAH (skripsi dan tesis)

  

Menurut Usman (2007), pemantauan kadar obat di dalam darah adalah suatu teknik yang digunakan klinisi untuk mengoptimalkan dosis obat dengan memberikan dosis yang ditetapkan berdasarkan konsentrasi target (C target) dengan cara mengukur kadar obat dalam darah dan bila perlu melakukan penyesuaian dosis. Pemantauan kadar obat dalam darah ini bertujuan untuk mem-bantu meningkatkan penggunaan obat yang lebih rasional baik keamanan dan efektifitas dosis pada individu penderita.

          Keberhasilan suatu terapi dengan obat terletak pada pendekatan sejauh mana optimalisasi keseimbangan antara efek terapeutik yang diinginkan dengan efek samping atau efek toksik yang tidak diinginkan dapat dicapai. Untuk men-capai hasil terapi yang optimal, pemilihan obat dan rancangan regimen dosis yang tepat perlu dilakukan. Rancangan regimen dosis yang diberikan dokter pada penderita adalah berdasarkan tujuan untuk pengo-batan individu, di mana dosis yang dibe-rikan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penderita. Cara penentuan dosis ini di kenal dengan “individualisasi dosis”. Di dalam pemberian regimen dosis akan melibatkan tiga pertanyaan yang saling berkaitan, Berapa banyak obat yang diberikan ?. Berapa kali per hari obat diberikan ?. Berapa lama obat diberikan?.  Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini agar tujuan dan sasaran terapeutik dapat dicapai.

Adanya variabilitas individu baik intra maupun inter individu pada pen-derita, menyebabkan pengaturan dosis yang sesuai dengan penderita diperlukan, terutama untuk obat dengan indek terapi sempit. Pada dasarnya obat-obat yang perlu dilakukan TDM mempunyai kriteria atau kondisi klinik antara lain (Usman (2007).

  1. Obat yang mempunyai batas keamanan (margin of safety) yang sempit
  2. Efek toksis sukar diamati atau dipasti-kan secara klinis
  3. Efek terapinya sukar di pantau secara klinis
  4. Kadar obat dalam plasma bervariasi antar individu
  5. Penderita mempunyai gangguan pada salah satu organ ekskresi
  6. Penderita yang sudah diberi dosis tetapi memperlihatkan tanda toksik atau tidak memperlihatkan efek terapi yang diha-rapkan
  7. Terjadinya interaksi obat akibat polifar-masi
  8. Untuk menilai kepatuhan penderita makan obat secara teratur

Salah satu cara pemantauan kadar obat dalam darah adalah dengan menggunakan metode farmakokinetika. Farmakokinetika yaitu suatu cara untuk melakukan pengukuran kuan-titatif keberadaan obat dalam tubuh sebagai suatu sistem yang dinamik, di mana obat berubah setiap saat oleh proses ADME (Absorbsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekresi). Bila konsep farmakokinetika ini digunakan untuk tujuan keamanan dan efektifitas terapi pada penderita di klinik, di sebut Farmakokinetika Klinik. Dari perubahan kadar obat setiap saat dalam darah (dc/dt) dapat ditentukan parameter kinetik yaitu besarnya absorbsi (Ka), kadar puncak (Cmaks), kadar tunak (Css), klirens, volume distribusi (Vd), waktu paruh (t1/2) dan bioavailabiltas. Dari parameter kinetik diciptakan model farmakokinetik. Model adalah salah satu alat dasar dari ilmu pengetahuan yang sifatnya tiruan dan merupakan sistim riil yang sederhana. Model kompartemen dalam ilmu faal dan ilmu farmakokinetika sering digunakan untuk mengambarkan perilaku zat-zat endo-gen atau eksogen termasuk obat.

Model farmakokinetik ini bertujuan untuk mendapatkan metode yang sesuai dalam menggambarkan dan menginterprestasikan satu data atau beberapa set data yang di peroleh dari percobaan. Model ini me-ngarah kepada pembuatan konsep mate-matika yang disebut model kompartemen. Prinsip dari model kompartemen ini menganggap tubuh terdiri dari bagian-bagian atau kompartemen yang satu dengan yang lain saling berhubungan, di mana distribusi obat di dalam tubuh tidaklah sama, hal ini disebabkan perbe-daan anatomi, faal organ, media cairan tubuh serta proses difusi yang terjadi. Penggunaan model matematika ini dengan parameter farmakokinetik, dapat meng-gambarkan dan meramalkan hubungan antara waktu dan perubahan kadar obat dalam darah setiap saat sebagai fungsi dari dosis serta cara dan frekuensi pemberiaan obat.

atalaksana terapi pada pasien yang menjalani hemodialisis memerlukan perhatian pada manajemenstatus cairan/volume ekstra vaskuler dan penyesuaian terapianti (National Kidney Foundation, 2005). Penyesuaian terapi diperlukan karena adanya jenis obat yang terdialisis serta adanya abnormalitas respon tubuh terhadap hemodialisis. Kadar obat yang terdialisis mengakibat-kan penurunan efektifitas obat atau under dose (Bochler et al, 1999 ; Chen etal, 2006) yang berakibat tidak ter-kontrolnya tekanan darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantungdan pembuluh (Agarwal,1999). Oleh karenanya, kadangkala pasien mem-butuhkankan adanya supplemental dose dari obat yang digunakan setelah dialysis untuk mempertahankan konsentrasi obatdi dalam darah (Quan dan Aweeka,2005; Bochler et al, 1999 ; Keller et al,1999 ). Bahkan berkurangnya kadar obatdi dalam darah dapat berakibat fatal pada pasien dengan kondisi kritis (Keller et al,1999)

Frekuensi hemodialisis (skripsi dan tesis)

Perdede (dalam RS PGI Cikini, 2007) menyatakan bahwa jumlah jam hemodialisis per minggu untuk mencapai adekuasi yaitu 10-15 jam. Adapun jadwal hemodialisis sebagai berikut:

  1. 2 x 5 jam/ minggu
  2. 3 x 4 jam/ minggu
  3. 4 x 3 jam/ minggu
  4. 5 x 3 jam/ minggu
  5. Setiap hari selama 2 jam

Untuk pasien baru terapi hemodialisis dapat dilakukan dengan jadwal sebagai berikut :

  1. Minggu I : 2-3 jam per hemodialisis atau semampu pasien. Hemodialisis dilakukan setiap hari atau setiap 2-3 hari.
  2. Minggu II : 3-4 jam per hemodialisis → 3-4 jam per minggu.
  3. Minggu III : 3-4 jam per hemodialisis → 3-4 jam per minggu.
  4. Minggu IV : 3-5 jam per hemodialisis → 2-3 jam per minggu. Minggu berikutnya diprogramkan kembali sesuai dengan indikasi medik

komplikasi hemodialisis (skripsi dan tesis)

 Menurut Smeltzer (2002) komplikasi hemodialisis mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan dikeluarkan.
  2. Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja terjadi jika udara memasuki sistem vaskuler pasien.
  3. Nyeri dada dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi darah di luar tubuh.
  4. Pruritus dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk akhir metabolisme meninggalkan kulit.
  5. Gangguan keseimbangan dialisis terjadi karena perpindahan cairan serebral dan muncul sebagai serangan kejang. Komplikasi ini memungkinkan terjadinya lebih besar jika terdapat gejala uremia yang berat.
  6. Kram otot yang nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan ruang ekstrasel.
  7. Mual dan muntah merupakan peristiwa yang sering terjadi.
  8. Komplikasi hemodialisis menurut Situmorang (dalam RS PGI Cikini, 2007) meliput:
  9. Jangka Pendek

1)     Komplikasi yang sering adalah hipotensi 20-30%, kram 5-20%, mual/ muntah 5-15%, sakit kepala 5%, nyeri dada 2-3%, nyeri punggung 2-5%

2)     Kurang sering tapi serius Sindrom disekuilibrium, reaksi hipersensitivitas, aritmia, cardiac tamponade, hemolysis, reaksi dialisis, perdarahan intracainial, emboli udara.

  1. Jangka Panjang

Terjadi resiko kardiovaskular meningkat,osteodistrofi renal, neuropati uremik, amyloidosis disease, kegagalan akses.

Kelemahan hemodialisis (skripsi dan tesis)

     Kelemahan hemodialisis menurut Nuryandari (1999) sebagai berikut:

  1. Tergantung mesin
  2. Sering terjadi hipotensi, kram otot, disequilibrium sindrom
  3. Terjadi activasi: complemen, sitokines, mungkin menimbulkan amyloidosis
  4. Vasculer access: infeksi, trombosis
  5. Sisa fungsi ginjal cepat menurun, dibandingkan peritoneal dialisis.

Keunggulan hemodialisis (skripsi dan tesis)

  1. Keunggulan hemodialisis menurut Nuryandari (1999) sebagai berikut :
  2. Produk sampah nitrogen molekul kecil cepat dapat dibersihkan
  3. Waktu dialisis cepat

Dialiser akan mengeluarkan melekul dengan berat sedang dengan laju yang lebih cepat dan melakukan ultrafiltrasi dengan kecepatan tinggi hal ini di perkirakan akan memperkecil kemungkinan komplikasi dari hemodialisis misalnya emboli udara dan ultrafiltrasi yang tidak kuat atau berlebihan (hipotensi, kram otot, muntah).

  1. Resiko kesalahan teknik kecil
  2. Adequasy dapat ditetapkan sesegera, underdialisis segera dapat dibenarkan

Adequasy hemodialisis atau kecukupan hemodialisis segera dapat ditetapkan dengan melihat tanda-tanda tercapainya berat badan kering/tidak ada oedema, pasien tampak baik, aktif, tensi terkendali dengan baik, hb >10 gr% demikian juga bila terjadi keluhan-keluhan tersebut berarti tidak terpenuhinya kecukupan dialisis sehinnga dapat di benarkan terjadi underdialisis.

Pengobatan Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Terdapat 2 jenis terapi pengganti ginjal yaitu : dialisis dan transplantasi ginjal

  1. Dialisis yang terdiri dari hemodialisis, dialis peritoneal dan hemofiltrasi

Cuci darah apabila fungsi ginjal untuk membuang zat-zat metabolik yang beracun dan kelebihan cairan dari tubuh sudah sangat menurun (lebih dari 90%) sehingga tidak mampu lagi menjaga kelangsungan hidup penderita gagal ginjal, maka harus dilakukan dialisis (cuci darah) sebagai terapi pengganti fungsi ginjal. Ada dua jenis dialisis yaitu:

1)      Hemodialisis (cuci darah dengan mesin dialiser)

Cara yang umum dilakukan di Indonesia adalah dengan menggunakan mesin cuci darah (dialiser) yang berfungsi sebagai ginjal buatan. Darah dipompa keluar dari tubuh, masuk ke dalam mesin dialiser untuk dibersihkan melalui proses difusi dan ultrafiltrasi dengan dialisat (cairan khusus untuk dialisis), kemudian dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Agar prosedur hemodialisis dapat berlangsung, perlu dibuatkan akses untuk keluar masuknya darah dari tubuh. Akses tersebut dapat bersifat sementara (temporer) Akses temporer berupa kateter yang dipasang pada pembuluh darah balik (vena) di daerah leher. Sedangkan akses permanen biasanya dibuat dengan akses fistula, yaitu menghubungkan salah satu pembuluh darah balik dengan pembuluh darah nadi (arteri) pada lengan bawah, yang dikenal dengan nama cimino. Untuk memastikan aliran darah pada cimino tetap lancar, secara berkala perlu adanya getaran yang  ditimbulkan oleh aliran darah pada cimino tersebut.

2)      Dialisis peritonial (cuci darah melalui perut).

Adalah metode cuci darah dengan bantuan membran selaput rongga perut (peritoneum), sehingga darah tidak perlu lagi dikeluarkan dari tubuh untuk dibersihkan seperti yang terjadi pada mesin dialisis. Dapat dilakukan pada di rumah pada malam hari sewaktu tidur dengan bantuan mesin khusus yang sudah diprogram terlebih dahulu. Sedangkan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) tidak membutuhkan mesin khusus tersebut, sehingga dapat dikatakan sebagai cara dialisis mandiri yang dapat dilakukan sendiri di rumah atau di kantor (Pernefri, 2003)

  1. Transplantasi ginjal yang dapat berasal dari donor hidup atau donor jenazah (cadaver).

Cangkok atau transplantasi ginjal adalah terapi yang paling ideal mengatasi gagal ginjal terminal. Ginjal yang dicangkokkan berasal dari dua sumber, yaitu donor hidup atau donor yang baru saja meninggal (donor kadaver). Akan lebih baik bila donor tersebut dari anggota keluarga yang hubungannya dekat, karena lebih besar kemungkinan cocok, sehingga diterima oleh tubuh pasien. Selain kemungkinan penolakan, pasien penerima donor ginjal harus minum obat seumur hidup. Juga pasien operasi ginjal lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi, kemungkinan mengalami efek samping obat dan resiko lain yang berhubungan dengan operasi (Alam & Hadibroto, 2008).

Terapi hemodialisis adalah pengobatan dengan menggunakan hemodialisis yang berasal dari kata hemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti memisahkan darah dari bagian yang lain. Jadi hemodialisis yaitu memisahkan sampah nitrogen dan sampah yang lain dari dalam darah melalui membran semipermiabel. Hemodialisis tidak mampu menggantikan seluruh fungsi ginjal, namun dengan hemodialisis kronis pada penderita gagal ginjal kronis dapat bertahan hidup bertahun-tahun. (Nuryandari, 1999).

Indikasi hemodialisis yaitu BUN (> 100 mg/dl), kreatinin (> 10 mg/dl), hiperkalemia, acidosis metabolik. Secara klinis meliputi (1) Anoreksi, nausea, muntah; (2) Ensepalopati ureikum; (3) Odema paru; (4) Pericarditis uremikum; (5) Pendarahan uremik (Nuryandari, 1999).

Komplikasi Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Komplikasi yang sering ditemukan pada penderita penyakit gagal ginjal kronik menurut Alam &amp; Hadibroto (2008) antara lain :

  1. Anemia

Terjadinya anemia karena gangguan pada produksi hormon eritropoietin yang bertugas mematangkan sel darah, agar tubuh dapat menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Akibat dari gangguan tersebut, tubuh kekurangan energi karena sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan jaringan tidak mencukupi. Gejala dari gangguan sirkulasi darah adalah kesemutan, kurang energi, cepat lelah, luka lebih lambat sembuh, kehilangan rasa (baal) pada kaki dan tangan.

  1. Osteodistofi ginjal

Kelainan tulang karena tulang kehilangan kalsium akibat gangguan metabolisme mineral. Jika kadar kalsium dan fosfat dalam darah sangat tinggi, akan terjadi pengendapan garam dalam kalsium fosfat di berbagai jaringan lunak (klasifikasi metastatik) berupa nyeri persendian (artritis), batu ginjal (nefrolaksonosis), pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah, gangguan irama jantung, dan gangguan penglihatan.

  1. Gagal jantung

Jantung kehilangan kemampuan memompa darah dalam jumlah yang memadai ke seluruh tubuh. Jantung tetap bekerja, tetapi kekuatan memompa atau daya tampungnya berkurang. Gagal jantung pada penderita gagal ginjal kronis dimulai dari anemia yang mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras, sehingga terjadi pelebaran bilik jantung kiri (left venticular hypertrophy/ LVH). Lama-kelamaan otot jantung akan melemah dan tidak mampu lagi memompa darah sebagaimana mestinya (sindrom kardiorenal).

  1. Disfungsi ereksi

Ketidakmampuan seorang pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang diperlukan untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Selain akibat gangguan sistem endokrin (yang memproduksi hormon testeron) untuk merangsang hasrat seksual (libido), secara emosional penderita gagal ginjal kronis menderita perubahan emosi (depresi) yang menguras energi. Namun, penyebab utama gangguan kemampuan pria penderita gagal ginjal kronis adalah suplai darah yang tidak cukup ke penis yang berhubungan langsung dengan ginjal.

Komplikasi Gagal Ginjal Kronik (skripsi dan tesis)

Komplikasi yang sering ditemukan pada penderita penyakit gagal ginjal kronik menurut Alam & Hadibroto (2008) antara lain :

  1. Anemia

Terjadinya anemia karena gangguan pada produksi hormon eritropoietin yang bertugas mematangkan sel darah, agar tubuh dapat menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Akibat dari gangguan tersebut, tubuh kekurangan energi karena sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan jaringan tidak mencukupi. Gejala dari gangguan sirkulasi darah adalah kesemutan, kurang energi, cepat lelah, luka lebih lambat sembuh, kehilangan rasa (baal) pada kaki dan tangan.

  1. Osteodistofi ginjal

Kelainan tulang karena tulang kehilangan kalsium akibat gangguan metabolisme mineral. Jika kadar kalsium dan fosfat dalam darah sangat tinggi, akan terjadi pengendapan garam dalam kalsium fosfat di berbagai jaringan lunak (klasifikasi metastatik) berupa nyeri persendian (artritis), batu ginjal (nefrolaksonosis), pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah, gangguan irama jantung, dan gangguan penglihatan.

Gagal ginjal kronik (cronic renal failure) (skripsi dan tesis)

Gagal ginjal kronik (cronic renal failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan di tandai dengan uremia(urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau tansplantasi ginjal) (Nursalam, 2002).

Gagal ginjal kronik dapat disebabkan oleh penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, glomerulonefretis kronis, pielonefretis, hipertensi yang tidak dapat dikontrol, obstuksi traktus urinarius, lesi heriditer, lingkungan dan agen berbahaya yang mempengaruhi gagal ginjal kronis seperti timah, kadmium, merkuri, dan kromium. Dialisis atau transplantasi ginjal kadang-kadang diperlukan untuk kelangsungan hidup pasien (Smeltzer, 2002).

Pengertian Evaluasi (skripsi dan tesis)

 

Evaluasi adalah serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan memperoleh informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, kegiatan, hasil dan dampak serta biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai perkiraan yang sistematis dari dampak program (Anonim, 2002).

Evaluasi bermanfaat untuk (Anonim, 2002) :

  1. Menetapkan kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam program yang sedang berjalan.
  2. Meramalkan kegunaan dari pengembangan usaha-usaha dan memperbaikinya.
  3. Mengukur kegunaan program-program yang inovatif
  4. Meningkatkan efektifitas program, manajemen dan administrasi
  5. Kesesuaian tuntutan tanggung jawab.

     Proses evaluasi akan memberikan lima langkah umpan balik sebagaimana yang diungkapkan oleh Hunger and Wheelen (2000). Kelima langkah umpan balik tersebut adalah :

  1. Menentukan apa yang diukur
  2. Menetapkan standar kerja
  3. Mengukur kinerja aktual
  4. Membandingkan kinerja aktual standar yang telah ditetapkan
  5. Mengambil tindakan perbaikan

Tujuan diadakan evaluasi adalah untuk memperbaiki pelaksanaan dan perencanaan program sehubungan dengan perlu adanya kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain: untuk mengecek relevansi dari program dalam hal perubahan -perubahan kecil yang terus-menerus mengukur kemajuan terhadap target yang direncanakan menentukan sebab dan faktor di dalam maupun di luar yang mempengaruhi pelaksanaan program (Subarsono,2005).

ndikator-indikator pengadaan obat Kabupaten/Kota (skripsi dan tesis)

Menurut Departemen Kesehatan RI (Anonim, 2002) melaui penelaahan konsep pada Pedoman Supervisi Dan Evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, maka diukur indikator-indikator pengadaan obat Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

  1. Alokasi dana pengadaan obat

Ketersediaan dana pengadaan obat yang sesuai dengan kebutuhan obat untuk populasi merupakan prasyarat terlaksananya penggunaan obat yang rasional yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Dengan indikator ini dapat dilihat komitmen Kabupaten/Kota dalam penyediaan dana pengadan obat sesuai kebutuhannya. Dana pengadaan obat adalah besarnya dana pengadaan obat yang disediakan/dialokasikan oleh pemerintah Kabupaten/Kota untuk memenuhi kebutuhan obat pelayanan kesehatan diwilayah tersebut. Yang dilihat pada indikator ini adalah jumlah dana anggaran pengadaan obat yang disediakan pemerintah daerah Kabupaten/Kota dibandingkan dengan jumlah kebutuhan dana untuk pengadaan obat yang sesuai dengan kebutuhan populasi. Angka ideal dana pengadaan obat yang disediakan apabila sangat mendekati dengan kebutuhan sebenarnya.

  1. Persentase alokasi dana pengadaan obat

Obat merupakan pendukung utama untuk hampir semua program kesehatan di unit pelayanan kesehatan. Untuk itu ketersediaan dana pengadaan obat harus proposional dengan anggaran kesehatan secara keseluruhan. Dana pengadaan obat adalah besarnya dana pengadaan obat yang disediakan/dialokasikan oleh pemerintah daerah Kabupaten/Kota untuk mendukung program kesehatan di daerahnya dibandingkan dengan jumlah alokasi dana untuk bidang kesehatan. Angka ideal dana pengadaan obat harus proposional dengan anggaran kesehatan secara keseluruhan.

  1. Biaya obat perpenduduk

Ketersediaan dana pengadaan obat yang sesuai kebutuhan populasi bervariasi untuk masing-masing Kabupaten/Kota untuk itu perlu diketahui besarnya dana yang disediakan oleh Kabupaten/Kota apakah telah memasukkan parameter jumlah penduduk dalam pengalokasian dananya.

tujuan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan (skripsi dan tesis)

Menurut Departemen Kesehatan RI (Anonim, 2008) tujuan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan adalah :

  1. Tersedianya obat dan perbekalan kesehatan dengan jenis dan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan.
  2. Mutu obat dan perbekalan kesehatan terjamin.
  3. Obat dan perbekalan kesehatan dapat diperoleh pada saat diperlukan.

metode pengadaan obat (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa metode pengadaan menurut WHO (2002) ,yaitu:

  1. Tender terbuka

Tender terbuka adalah metode penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan pengumuman secara luas mealui media massa dan  pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. Untuk pelaksanaan sistem tender terbuka ini perlu dipersiapkan beberapa hal yang mencakup jadwal lelang, pengumuman lelang, persyaratan peserta, periode lelang, seleksi dan penetapan peserta lelang. Dalam tender terbuka akan banyak penawar yang mengajukan penawaran, untuk mengevaluasi penawar memerlukan waktu yang lama dan terkadang tidak dapat dilakukan sesuai dengan jadwal proses lelang yang berakibat pada terhambatnya proses pengadaan.

  1. Tender tertutup

Tender hanya dilakukan pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan mempunyai riwayat yang baik. Tender terbuka biasanya didahului dengan prakualifikasi supplier, tetapi secara keseluruhan beban kerja tender tertutup lebih ringan daripada tender terbuka. Penetapan metode ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengadaan obat dengan kualitas produk yang akan diperoleh tetap akan terjamin walaupun dengan supplier terbatas.

  1. Pemilihan langsung

Pemilihan langsung dilaksanakan apabila metode tender terbuka dan tertutup dinilai tidak efisien dari segi biaya tender. Pemilihan dilaksanakan dengan membandingkan sekurang-kurangnya 3 penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun harga serta diumumkan melaui pengumuman resmi. Pengadaan langsung memungkinkan terjadinya penawaran secara rinci kepada pemasok, baik meliputi jumlah, jenis, dan harga. Negosiasi umumnya dilakukan kepada beberapa pemasok terpilih untuk mendapatkan harga yang layak. Keuntungan pemilihan langsung adalah obat dapat segera terpenuhi tanpa harus melaui proses tender yang berkepanjangan.

  1. Pengadaan langsung,

Pengadaan langsung dilakukan dalam jumlah kecil untuk jenis obat yang harus segera tersedia. Metode pengadaan langsung yang dikombinasikan dengan kontrak negosiasi, akan memberikan keuntungan yang lebih besar  karena harga dapat disepakati dengan harga yang lebih murah.

Pengelolaan obat (skripsi dan tesis)

Menurut Quick et al (1997) siklus pengelolaan obat meliputi seleksi, pengadaan, distribusi, serta penggunaan yang didukung oleh struktur organisasi, keuangan, dan sistem informasi manajemen yang layak serta staf yag termotivasi.

Tujuan pengelolaan obat adalah terjaminnya ketersediaan obat yang bermutu baik, secara tepat jenis, tepat jumlah dan tepat waktu serta digunakan secara rasional dan supaya dana yang tersedia dapat digunakan dengan sebaik-baiknya dan berkesinambungan guna memenuhi kepentingan masyarakat yang berobat ke Unit Pelayanan Kesehatan Dasar (Puskesmas) (Anonim,2002). Agar tujuan tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka pada Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten dalam pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan sebaiknya ada pembagian tugas dan peran seperti di bawah ini :

  1. Perencanaan kebutuhan obat untuk pelayanan kesehatan dasar disusun oleh tim perencanaan obat terpadu berdasarkan system “bottom up”
  2. Perhitungan rencana kebutuhan obat untuk satu tahun anggaran disusun dengan menggunakan pola konsumsi dan atau epidemiologi.
  3. Mengkoordinasikan perencanaan kebutuhan obat dari beberapa sumber dana, agar jenis dan jumlah obat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan tidak tumpang tindih.
  4. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengajukan rencana kebutuhan obat kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, Pusat, Provinsi dan sumber lainnya.
  5. Melakukan Pelatihan Petugas Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Puskesmas
  6. Melakukan Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan ke Puskesmas.
  7. Melaksanakan Advokasi Penyediaan Anggaran Kepada Pemerintah Kabupaten/Kota
  8. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggungjawab terhadap pen-distribusian obat kepada unit pelayanan kesehatan dasar.
  9. Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggungjawab terhadap penanganan obat dan perbekalan kesehatan yang rusak dan kadaluwarsa.
  10. Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggungjawab terhadap jaminan mutu obat yang ada di Instalasi Farmasi dan Unit Pelayanan Kesehatan Dasar.

Instalasi Farmasi di Provinsi/ Kabupaten/ Kota mempunyai tugas pokok melaksanakan semua aspek pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian penggunaan, pencatatan pelaporan, monitoring, supervisi dan evaluasi. Termasuk didalamnya pelatihan pengelolaan obat serta melakukan koordinasi dalam perencanaan dan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan.

Instalasi Farmasi di Provinsi/ Kabupaten/ Kota mempunyai fungsi antara lain :

  1. Melakukan seleksi obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar.
  2. Melakukan perhitungan kebutuhan obat publik dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar.
  3. Pro-aktif membantu perencanaan dan pelaksanaan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan di Kabupaten/ Kota.
  4. Melakukan penerimaan obat publik dan perbekalan kesehatan yang berasal dari berbagai sumber anggaran.
  5. Melakukan penyimpanan obat publik dan perbekalan kesehatan dari berbagai sumber anggaran.
  6. Melakukan pendistribusian obat publik dan perbekalan kesehatan yang berasal dari berbagai sumber anggaran sesuai dengan permintaan dari pemilik program atau permintaan unit pelayanan kesehatan.
  7. Melakukan pencatatan pelaporan obat publik dan perbekalan kesehatan serta obat program kesehatan yang menjadi tanggung jawabnya.
  8. Melakukan monitoring, supervisi dan evaluasi pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan pada unit pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya.
  9. Melaksanakan kegiatan pelatihan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan serta penggunaan obat rasional bagi tenaga kesehatan di unit pelayanan kesehatan dasar
  10. Melaksanakan kegiatan bimbingan teknis pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan serta pengendalian penggunaan obat di unit pelayanan kesehatan dasar
  11. Melaksanakan kegiatan administrasi unit pengelola obat publik dan perbekalan kesehatan

  A.1 Perencanaan

Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan Quick et al (1997), perencanaan obat merupakan suatu proses kegiatan pengelolaan obat yang memerlukan adanya dukungan sumber daya manusia dan kebijakan obat yang berkaitan erat dengan penyediaan obat sehingga untuk meningkatkan mutu pelayanan maka perencanaan obat harus dikelola secara efektif dan efisien. Dengan adanya efesiensi dalam perencanaan obat dapat menurunkan biaya belanja obat, sehingga dana tersebut dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi yang pada gilirannya dapat meningkatkan petumbuhan ekonomi negara (Chan,C.K, 2000).

Proses pemilihan obat sebaiknya mengikuti pedoman seleksi obat yang telah disusun oleh WHO (1993), yaitu: memilih obat yang telah terbukti efektif dan merupakan drug of choice, mencegah duplikasi obat, pemilihan obat yang seminimal untuk suatu jenis penyakit, melaksanakan evaluasi kontra indikasi dan efek samping secara cermat.

Salah satu cara untuk meningkatkan efesiensi penggunaan dana obat yang terbatas adalah dengan cara mengelompokkan obat berdasarkan kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan berdasarkan metode VEN. Semua jenis obat yang tercantum dalam daftar obat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok berikut:

  1. Kelompok V (Vital) adalah kelompok obat-obatan yang sangat esensial, yang termasuk dalam kelompok ini adalah obat-obatan penyelamat (life saving drugs), obat-obat untuk pelayanan kesehatan khusus (vaksin, dll), obat-obatan untuk mengatasi penyakit-penyakit penyebab kematian terbesar.
  2. Kelompok E (Esensial) adalah kelompok obat-obatan yang harus ada yang diperlukan untuk menyelamatkan kehidupan, yang bekerja pada sumber penyakit.
  3. Kelompok N (Non Esensial) adalah merupakan obat-obat penunjang yaitu obat-obatan yang kerjanya ringan yang biasa digunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatas keluhan ringan contohnya vitamin (Quick et al, 1997)

Analisa perencanaan lain yang dapat digunakan adalah analisa ABC (Always Better Control) yaitu suatu metode pengelompokan obat berdasarkan kebutuhan dana, yaitu:

  1. Kelompok A adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 70 % dari jumlah dana obat keseluruhan
  2. Kelompok B adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20%
  3. Kelompok C adalah kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 10% dari jumlah dana keseluruhan.

   Untuk lebih akuratnya perencanaan obat dan untuk menyesuaikan rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang tersedia, maka dapat dilakukan analisa ABC-VEN

Beberapa macam metode yang digunakan dalam melakukan perencanaan, antara lain:

  1. Metode Epidemiologi

Perencanaan dengan metode ini dibuat berdasarkan pola penyebaran penyakit dan pola pengobatan penyakit yang terjadi dalam masyarakat sekitar. Juga dengan memperhatikan kemampuan dan sosio cultural masyarakat sekitar.

  1. Metode Konsusmsi

Perencanaa dengan metode ini dibuat berdasarkan data pengeluaran barang metode lalu.

  1. Metode kombinasi

Merupakan metode gabungan dari metode epidemiologi dan metode konsumsi

Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan kebutuhan obat adalah sebagai berikut (Anonim,2002a):

  1. Tahapan pemilihan obat, tahap ini dimulai dengan tahap seleksi atau pemilihan obat bertujuan untuk menentukan apakah obat benar-benar diperlukan sesuai dengan jumlah penduduk dan pola penyakit di daerah.
  2. Tahap kompilasi pemakaian obat, berfungsi untuk mengetahui pemakaian bulanan masing-masing jenis obat di Puskesmas selama satu tahun sebagai pembanding stok optimum.
  3. Tahap perhitungan kebutuhan obat dapat menggunakan metode konsumsi, metode epidemiologi atau gabungan dari kedua metode tersebut.
  4. Tahap proyeksi kebutuhan obat, adalah perhitungan kebutuhan obat secara komprehensif dengan mempertimbangkan data pemakaian obat dan jumlah sisa stok pada periode yang masih berjalan dari berbagai sumber anggaran.
  5. Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat, dengan melaksanakan penyesuaian rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang tersedia maka informasi yang didapat adalah jumlah rencana pengadaan, skala prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah kemasan, untuk rencana pengadaan obat tahun yang akan datang.

Proses perencanaan obat diawali dengan seleksi obat untuk menentukan obat-obat yang diperlukan berdasarkan obat generik yang tercantum dalam DOEN yang masih berlaku. World Health Organization (WHO) merekomendasikan kriteria seleksi obat-obat esensial berdasarkan bahwa obat-obat tersebut dapat memberikan kepuasan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh mayoritas masyarakat, tersedia setiap saat dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat. Pemilihan obat berdasarkan pola prevalensi penyakit di fasilitas pelayanan dengan personel yang berpengalaman dan terlatih. Obat yang dipilih mempunyai mutu yang terjamin, termasuk bioavailabilitas, stabil dalam penyimpanan dan dengan bahan aktif yang tunggal (Quick et al., 1997).

Tahap kompilasi pemakaian obat dilakukan dengan menentukan jumlah pemakaian obat setiap bulan dari masing-masing sub unit  menggunakan format Laporan Pemakain Dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) yang diajukan oleh Puskesmas dengan mengetahui kepala Puskesmas untuk ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota dan selanjutnya diproses oleh Instalasi Farmasi (IF) (Depkes, 2004). LPLPO merupakan sistem informasi obat yang digunakan Puskesmas untuk meminta dan melaporkan pemakaian obat ke IF. Kegunaan dari LPLPO adalah sebagai bukti penerimaan, pengeluaran dan penggunaan obat di Puskesmas. Informasi yang didapat di dalam LPLPO berupa sisa stok, jumlah pemakaian, jumlah obat yang diterima dan jumlah kunjungan resep tiap bulannya. Format ini juga digunakan sub-sub unit pelayanan untuk memperoleh obat ke Puskesmas (Depkes, 2005).

Menurut Departemen Kesehatan RI (Anonim, 2002) melaui penelaahan konsep pada Pedoman Supervisi Dan Evaluasi Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, maka diukur indikator-indikator perencanaan obat Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

  1. Ketepatan perencanaan obat

Ketersediaan perencanaan obat adalah perencanaan kebutuhan nyata obat untuk Kabupaten/Kota dibagi dengan pemakaian obat pertahun. Ketepatan perencanaan kebutuhan obat Kabupaten/Kota merupakan awal dari fungsi pengelolaan obat yang strategis. Angka ideal dari perencanaan kebutuhn adalah 100% dari kebutuhan baik dalam jumlah dan jenis obat.

  1. Kesesuian item obat yang tersedia dengan DOEN

Obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan. Kesesuaian jenis obat dengan DOEN merupakan upaya untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi pemanfaatan dana pengadaan obat. Angka ideal kesesuaian jenis obat adalah 100% dari daftar DOEN. Kesesuaian item obat dengan DOEN adalah total obat yang masuk dalam DOEN dibagi dengan total jenis obat yang tersedia di gudang/instalasi pengelolaan obat.

  1. Rata-rata waktu kekosongan obat

Rata-rata waktu kekosongan obat menggambarkan kapasits sistem pengadaan dan distribusi dalam menjamin kesinambungan suplai obat dan merupakan salah satu faktor koreksi dalam perencanaan obat khususnya dalam penetapan pemakaian rata-rata per bulan. Angka ideal kekosongan obat adalah 0 (nol). Rata-rata waktu kekosongan obat didefinisikan sebagai jumlah hari obat kosong dalam waktu satu tahun.

  1. Tingkat ketersediaan obat

Ketersediaan kebutuhan obat adalah kondisi terpenuhinya jumlah obat-obatan yang diperlukan daerah dalam rangka pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kategori status ketersediaan obat adalah:

  1. a)Berlebih jika persediaan lebih dari 18 bulan pemakaian rata-rata
  2. b)Aman jika persediaan antara 12-18 bulan pemakaian rata-rata
  3. c)Kurang jika persediaan dibawah 12 bulan pemakaian rata-rata
  4. d)Stok kosong apabila persediaan kurang dari 1 bulan pemakaian rata-rata

Obat yang disediakan untuk tingkat pelayanan kesehatan di Puskesmas harus sesuai dengan kebutuhan populasi berarti jumlah (kuantum) obat yang tersedia minimal harus sama dengan stok selama waktu tunggu kedatangan obat. Kecukupan obat merupakan indikasi kesinambungan pelayanan obat untuk mendukung pelayanan kesehatan di Kabupaten/Kota.

  1. Persentase obat kadaluwarsa

Terjadinya obat kadaluwarsa mencerminkan ketidaktepatan perencanaan, kurang baik sistem distribusi, kurangnya pengamatan mutu dalam penyimpanan obat dan perubahan pola penyakit. Angka ideal persentase obat kadaluwarsa adalah 0%. Persentase obat kadaluwarsa didefinisikan sebagai jumlah jenis obat yang kadaluwarsa dibagi dengan total jenis penyakit.

A.2 Pengadaan

Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui melalui pembelian, baik secara langsung atau tender dari distributor, produksi/pembuatan sediaan farmasi baik steril maupun non steril, maupun bersasal dari sumbangan/hibah (Anonim, 2004).

Proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang diatur dalam Keppres No. 80 tahun 2003 untuk proses pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan setelah tahun 2003 (sebelumnya proses pengadaan barang/jassa dilaksanakan sesuai Keppres No. 18 tahun 2000), bertujuan agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayi oleh APBN/APBD dilakukan secara efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel.

Kebijakan Terkait Tentang Produk Suplemen Penstimulasi Stamina (skripsi dan tesis)

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM) memberi
batasan mengenai suplemen sebagai produk yang digunakan untuk melengkapi
makanan dan mengandung satu atau lebih bahan-bahan seperti, vitamin, mineral,
asam amino, bahan yang digunakan untuk meningkatkan angka kecukupan gizi
dalam bentuk konsentrat, metabolit, ekstrak atau kombinasi dari bahan-bahan
sebelumnya (BPOM, 1996).
Pemerintah melalui Departemen Perindustrian cq. Dewan Standarisasi
Nasional telah melakukan standarisasi terhadap produk suplemen untuk menjaga
mutu produksi. Standar mutu produk atau yang dikenal dengan nama Standar
Nasional Indonesia (SNI) dibentuk pemerintah dengan pertimbangan melindungi
produsen, menunjang ekspor non migas, mendukung perkembangan agroindustri
dan melindungi konsumen.
Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1996 tentang pangan pasal
38 meyatakan bahwa, setiap orang yang memasukkan pangan ke dalam wilayah
Indonesia untuk diedarkan harus bertanggungjawab atas keamanan, mutu, dan gizi
pangan (Syah et al. 2005). Keamanan pangan merupakan kondisi yang diperlukan
untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda
lain dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan,
pengangkutan, dan atau peredaran pangan demi kepentingan kesehatan manusia.
Mutu pangan dimaksud adalah jaminan yang wajib dilakukan oleh produsen,
sesuai dengan jenis pangan yang diproduksi. Sementara gizi pangan yang
dimaksud dalam ketentuan UU tersebut adalah setiap orang yang memproduksi
pangan olahan tertentu untuk diperdagangkan wajib menyelenggarakan tata cara
pengolahan pangan yang dapat menghambat proses penurunan atau kehilangan
kandungan gizi bahan baku pangan yang digunakan.
Dalam surat keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Nomor HK.00.023060 tahun 1996 tentang suplemen ditegaskan bahwa,
penandaan (label) tidak boleh mencantumkan (a) klaim efek produk terhadap
kesehatan dan pencegahan atau penyembuhan penyakit; (b) informasi yang tidak
benar dan menyesatkan; (c) perbandingan dengan produk lain; (d) promosi produk
suplemen tertentu; (e) informasi tentang bahan dalam bentuk stiker atau bentuk
lain yang belum disetujui. Penandaan dapat mencantumkan klaim fungsi gizi
dengan ketentuan hanya menjelaskan peran gizi dalam mekanisme tubuh seperti;
kalsium membantu perkembangan tulang gigi yang kuat (BPOM, 1996).
Terkait dengan iklan produk suplemen, dijelaskan dalam UU No. 8 Tahun
1999 tentang Hukum Perlindungan Konsumen bahwa (a) iklan harus sesuai
dengan indikasi jenis produk; (b) iklan tidak boleh menyatakan/memberi kesan
bahwa vitamin dan mineral selalu dibutuhkan untuk melengkapi makanan yang
sudah sempurna nilai gizinya; (c) iklan tidak boleh menyatakan memberi kesan
bahwa penggunaan vitamin/mineral adalah syarat mutlak bagi semua orang;
(d) iklan tidak boleh menyatakan bahwa kesehatan, kegairahan dan kecantikan
akan dapat diperoleh hanya dari menggunakan vitamin dan mineral; (e) iklan tidak
boleh mengandung pernyataan tentang peningkatan kemampuan sex secara
langsung atau tidak langsung (Widjaya dan Yani, 2000).

Mineral Untuk Tubuh (skripsi dan tesis)

Secara alamiah, air telah mengandung bermacam-macam mineral,
seperti fluor, kalsium, magnesium, iodium, natrium, kalium dan lain- lain.
Kadar mineral dalam air minum sangat bervariasi dan terbatas jumlahnya,
yang ditentukan oleh sumber air dan proses pengolahannya, sehingga
beralasan bahwa, mineral sangat penting ditambahkan ke dalam berbagai jenis
produk suplemen. Winarno (1982) mengemukakan bahwa, mineral dapat
dibagi atas mineral makro dan mikro.
Mineral mikro merupakan istilah yang digunakan bagi sisa mineral yang
secara tetap terdapat dalam sistem biologis dalam jumlah sedikit (Winzerling
and Law, 1997). Sementara Fessenden and Fessenden (1997) mengemukakan
bahwa, metabolisme tubuh cenderung memanfaatkan kembali mineral yang
ada di dalam tubuh daripada membuangnya.
Menurut Linder (1992), natrium, klor, kalsium, fosfor, magnesium dan
belerang yang terdapat dalam tubuh cukup besar. Natrium dan klorida
biasanya berhubungan erat, baik sebagai bahan makanan maupun fungsinya
dalam tubuh. Griffith (1988) mengatakan bahwa, natrium dan klorida
membantu mempertahankan tekanan osmotik sehingga cairan tidak keluar dari
darah dan masuk ke dalam sel, disamping membantu menjaga keseimbangan
asam dan basa dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk asam, transmisi
syaraf, kontraksi otot dan absorpsi glukosa. Kalsium dalam sel tubuh
berbentuk ion yang berperan pada pembentukan tulang, transmisi impuls
syaraf, kontraksi otot, penggumpalan darah, proses penyerapan vitamin B12,
struktur dan pengaturan permeabilitas membran sel, serta keaktifan enzim
(Winarno, 1982).
Iodium merupakan komponen esensial tiroksin dan kelenjar tiroid
(Griffith, 1988). Ohtaki et al. (1985) mengungkapkan bahwa, tiroksin
mempunyai peran dalam meningkatkan laju oksidasi dalam sel-sel tubuh,
sehingga meningkatkan basal metabolic rate (BMR), menghambat proses
fosforilasi oksidatif, sehingga terbentuknya adenosin tripospat (ATP)
berkurang dan lebih banyak dihasilkan panas.
Kalsium berperan dalam aktivitas enzim, menurunkan permeabilitas
membran sel dan pembuluh kapiler, membantu proses pembekuan atau
koagulasi darah, transmisi impuls syaraf, kontraksi dan kekenyalan otot,
membantu fungsi jantung (Winarno, 1982). Sedangkan kalium berperan
sebagai kation utama dalam cairan intrasel, bergerak dari sel ke cairan
ekstraseluler, berkaitan dengan fungsi sel dan metabolisme, terutama
metabolisme karbohidrat dan penyimpanan glikogen, membantu sintesa
protein, membantu potensi transmembran, berperan terhadap kerja otot,
termasuk otot jantung, dan aktivator enzim.

Pemanis buatan (skrispi dan tesis)

Pemanis buatan yang ditambahkan ke dalam produk suplemen
merupakan pengganti gula, karena mempunyai kelebihan dibandingkan
dengan pemanis alami yaitu rasanya lebih manis, membantu mempertajam
penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori dan harga lebih
murah. Pemanis buatan yang paling umum digunakan dalam pengolahan
pangan di Indonesia adalah aspartam, sorbitol, sakarin dan siklamat yang
mempunyai tingkat kemanisan masing-masing 30-80 dan 300 kali gula alami
(Syah et al. 2005).
Menurut Permenkes 208/Menkes/Per/IV/85, pemanis buatan hanya
digunakan untuk penderita diabetes dan penderita yang memerlukan diet
rendah kalori, yaitu aspartam, sakarin dan sorbitol. Aspartam merupakan
molekul dipeptida dari asam amino L- fenilalanin sebagai metil ester dan Lasam
aspartat dengan tingkat kemanisan mencapai 160-220 kali sukrosa dan
stabil pada kisaran pH 3 hingga 5, serta titik isoelektriknya 5,2 (Brannen et al,
1990), sementara sakarin yang merupakan pemanis buatan tanpa energi (nonnutritive)
memiliki daya kemanisan 300 kali lipat lebih kuat dibanding gula
(Syah et al, 2005). Menurut Brannen et al, (1990), sorbitol merupakan gula
alkohol yang banyak digunakan sebagai pemanis buatan dalam produk diet
dan juga berguna sebagai humektan maupun penstabil, namun penggunaan
sorbitol dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan flatulensi dan diare,
(Syah et al, 2005) derajat kemanisannya berkisar 50-70% gula dan energi
yang dihasilkan 2,6 kalori per gr.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan Surat
Keputusan Kepala Badan POM No. HK.00.05.5.1.4547 tahun 2004 tentang
Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam
produk pangan. Surat keputusan ini merupakan panduan bagi produsen dalam
menambahkan pemanis buatan untuk produk yang dihasilkan, dan sebagai
rujukan konsumen untuk memilih dan menggunakan produk yang aman bagi
kesehatan.

Kafein (skripsi dan tesis)

Kafein merupakan derivate xantin berbentuk serbuk berwarna putih dan
sedikit rasa pahit yang dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat dan otot
sehingga mencegah rasa mengantuk, menaikkan daya tangkap pancaindra,
mempercepat daya pikir dan mempengaruhi rasa lelah (Konarek et al. 1994),
mempengaruhi sistem pernapasan, sistem pembuluh darah dan jantung,
mempercepat laju sperma, serta mempertahankan ereksi, sering dimanfaatkan
untuk menciptakan efek penstimulasi stamina (Ashurst, 1998) dan
menumbuhkan kewaspadaan tingkat tinggi (Martindale, 1997). Oleh karena
itu, setiap mengkonsumsi kopi 85–200 mg atau 1-3 cangkir/hari stamina terasa
meningkat, bersemangat dan tidak mudah lelah atau mengantuk (Yunita,
1997).
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan kandungan
kafein dalam produk suplemen tidak boleh melebihi 50 mg. Jika dikonsumsi
melebihi dosis, dalam jangka panjang konsumen akan terkena penyakit
jantung, darah tinggi, ginjal dan penyakit gula serta efek kecanduan yang
diindikasikan dengan rasa lesu jika tidak mengkonsumsi produk suplemen
(BPOM, 1996). Hal senada dikemukakan Linder (1992) bahwa, konsumsi
kafein berlebih dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung,
pembengkakan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, peningkatan aktivitas
usus, pengeluaran asam lambung, gagal ginjal, (Martindale, 1997) rasa
gelisah, susah tidur, sering buang air kecil, nafsu makan turun dan iritasi pada
lambung sehingga produksi getah lambung meningkat.

Vitamin (skripsi dan tesis)

Vitamin dibagi atas kelarutannya, yaitu vitamin larut dalam air dan
vitamin larut dalam minyak (Linder, 1992). Sementara Winarno (1982)
mengemukakan bahwa, vitamin yang larut air mudah diserap ke dalam darah,
tidak melalui saluran lymphe dan tidak dapat ditimbun di dalam tubuh.
Vitamin yang ditambahkan ke dalam produk suplemen umumnya berupa
vitamin yang larut dalam air (Hidayat, 2002).
Produk suplemen sebagian besar mengandung multivitamin B dan zat
non gizi, stimulant dan flavouring. Jenis vitamin yang banyak digunakan
adalah vitamin B komplek, yaitu vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), niasin
(asam nikotinat, niasinamida), vitamin B6 (pyridoxine) asam pantotenat,
inositol dan vitamin B12 (Sianokobalamin).
emua bahan pangan baik hewani maupun nabati mengandung vitamin
B1 (tiamin) (Hendler, 2001). Menurut Winarno (1982), tiamin berperan
sebagai koenzim dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi dari
karbohidrat dan memindahkan energi membentuk senyawa kaya energi.
Kekurangan tiamin akan terjadi polyneuritis yang disebabkan terganggunya
transmisi syaraf atau jaringan syaraf menderita kekurangan energi. Hal yang
sama diungkapkan Tallaksen et al. (1997) bahwa, vitamin B1 dikenal esensial
bagi tubuh untuk fungsi pertumbuhan, menambah nafsu makan, memperbaiki
fungsi saluran pencernaan dan memelihara proses kehidupan sel-sel dalam
tubuh. Winarno (1982) mengatakan bahwa, vitamin B2 (riboflavin) larut
dalam air dan memberi warna fluoresens kuning-kehijauan merupakan
komponen suatu sistem enzim yang dikenal sebagai flavoprotein dan terlibat
dalam reaksi-reaksi metabolisme intermediet.
Niasin merupakan dua komponen koenzim, yaitu nicotinamide adenine
dinucleotide (NAD) dan nicotinamide adenine dinucleotide phosphate
(NADP) (Hendler and Rorvik, 2001) yang berfungsi sebagai katalis reaksireaksi
reduksi dan oksidasi guna menjaga sistem syaraf dan sistem
pencernaan, menurunkan kolesterol dan trigliserida dalam darah (Carpenter.
1981), serta menjaga agar suplai energi dalam jaringan tubuh berjalan normal
(Winarno, 1982).
Vitamin B6 (pyridoxine HCl) merupakan kelompok piridina dengan
keasaman tinggi (Winarno, 1982) yang terdiri dari piridoksin, piridoksal dan
piridoksamina (Hanna, 1997). Vitamin B6 berfungsi sebagai koenzim
piridoksal fosfat yang banyak berperan dalam reaksi enzim, terutama dalam
metabolisme asam amino, membantu fungsi otak, produksi energi (Tsuge,
1997), mencegah stress, memacu pembentukan sel darah merah, memelihara
keseimbangan cairan tubuh dan pengaturan eksresi air (Griffith, 1988).
Menurut Winarno (1982), vitamin B12 (sianokobalamin) merupakan senyawa
berbentuk kristal, berwarna merah yang berperan menjaga agar sel-sel
berfungsi normal, terutama sel-sel saluran pencernaan dan sistem syaraf .

Produk Suplemen (skripsi dan tesis)

Produk suplemen pada dasarnya merupakan pangan olahan, karena dalam
Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1996 tentang pangan dikatakan
bahwa, pangan olahan adalah makanan dan minuman hasil proses dengan cara
atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan (Syah et al. 2005).
Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM, 1996), minuman suplemen adalah salah satu bentuk produk makanan
suplemen yang mengandung satu atau lebih vitamin, mineral, tumbuhan atau
bahan yang berasal dari tumbuhan, asam amino, bahan yang digunakan untuk
meningkatkan angka kecukupan gizi, atau konsentrat, metabolit, konstituen,
ekstrak, atau kombinasi beberapa bahan tersebut.
Bisnis minuman di Indonesia sedikitnya telah mengalami lima periode
perkembangan. Periode pertama sekitar tahun 60-an ditandai dengan mulai
dipasarkannya jenis minuman soft drink. Sekitar tahun 70-an mulai dikenal
minuman yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya teh botol yang saat itu
sempat menguasai pasaran. Produk tersebut selanjutnya digantikan oleh air
mineral pada tahun 90-an. Periode 1990-1995 dikenal produk baru yang disebut
minuman sari buah (fruit juice) dan akhirnya pada tahun 1995, minuman
kesehatan (suplemen) mulai banyak diproduksi dan dipasarkan (Yunita, 1997).
Berbagai produk minuman baru yang oleh produsen sering disebut sebagai
minuman kesehatan (health drink), meliputi produk yang diklaim sebagai
minuman untuk meningkatkan kesehatan, minuman berenergi tinggi
(energy/stamina drink) atau minuman untuk olahragawan (sport drink), minuman
isotonik (isotonik drink) dan minuman kesehatan dari susu (milk base). Minuman
berenergi dibedakan menjadi dua, yaitu dengan dasar vitamin dan mineral
(vitamin base) dan minuman dengan dasar ginseng (ginseng base). Minuman
isotonik juga dibedakan menjadi dua, yaitu berflavor (flavour base) dan tidak
berflavour (non flavour base) (BPOM, 1996).
Trend produk suplemen telah merambah Indonesia yang ditandai beredarnya
produk Lipovitan produksi PT. Taisho Indonesia (TI). Produk Lipovitan dapat
dikatakan sebagai biangnya, karena sebelum merek-merek seperti Kratingdaeng,
Hemaviton dan Extra Joss, Lipovitan sudah menguasai pasar lebih dari 10 tahun.
Di tengah maraknya produk suplemen, merek Lipovitan yang menjadi pioner
dalam industri produk suplemen justru menurun, walaupun tetap melakukan
upaya pemasaran dan periklanan. Lipovitan tertinggal jauh dibanding produk
suplemen Kratingdaeng, Hemaviton dan Extra Joss. Lipovitan mulai goyah pada
awal 1990-an setelah hadirnya produk suplemen Kratingdaeng dengan
menawarkan cita rasa dan konsep pemasaran yang strategis pada tahun 1993
(Durianto et al, 2004a).
Sementara PT. Bintang Toejoe pada tahun 1994 meluncurkan langkah
spektakuler dengan produk suplemen Extra Joss dalam bentuk serbuk yang di
kemas sachet dengan harga jual murah (Hidayat, 2002). Tiga kekuatan produk
suplemen Extra Joss tersebut mendapat minat konsumen yang umumnya sering
mengkonsumsi produk suplemen dalam bentuk cair kemasan botol dan harga
relatif mahal. Permintaan dan prospek pasar menjanjikan ini, mendorong produsen
lain untuk mencari positioning baru yang berbeda dari produk terdahulu. Salah
satu kelebihan yang ditawarkan produsen adalah komposisi. Hemaviton Energy
Drink produksi PT. Tempo Scan Pacifik memposisikan diri sebagai produk
suplemen yang cenderung memiliki atribut seksualitas, seperti yang melekat pada
produk sebelumnya, Hemaviton kapsul. Tidak dapat dipungkiri (Yunita, 1997),
produk-produk suplemen sangat dekat dengan atribut seksual. Apalagi unsur
ginseng dan madu selain vitamin dijadikan kekuatan utama untuk menstimulasi
stamina. Oleh karena itu, konsumen semakin tertarik untuk mengkonsumsi produk
suplemen, sehingga pertumbuhan produk terus berkembang di Indonesia.
Perkembangan produk suplemen ternyata tidak selalu berjalan lancar. Pada
tahun 2001, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan menarik
empat jenis produk suplemen: Kratingdaeng, Kratingdaeng-S, Galian Bugar dan
M-150 dari peredaran, karena ketidakcocokan antara kandungan produk dengan
label yang tertera.

Komplikasi Diabetes Mellitus Tipe II (skripsi dan tesis)

 

DM tipe II bisa menimbulkan komplikasi. Komplikasi menahun DM merajalela ke mana-mana bagian tubuh. Selain rambut rontok, telinga berdenging atau tuli, sering berganti kacamata (dalam setahun beberapa kali ganti), katarak pada usia dini, dan terserang glaucoma (tekanan bola mata meninggi, dan bisa berakhir dengan kebutaan), kebutaan akibat retinopathy, melumpuhnya saraf mata terjadi setelah 10-15 tahun. Terjadi serangan jantung koroner, payah ginjal neuphropathy, saraf-saraf lumpuh, atau muncul gangrene pada tungkai dan kaki, serta serangan stroke.

Pasien DM tipe II mempunyai risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak 2 kali lebih besar, kematian akibat penyakit jantung 16,5% dan kejadian komplikasi ini terus meningkat. Kualitas pembuluh darah yang tidak baik ini pada penderita diabetes mellitus diakibatkan 20 faktor diantaranya stress, stress dapat merangsang hipotalamus dan hipofisis untuk peningkatan sekresi hormonhormon kontra insulin seperti ketokelamin, ACTH, GH, kortisol,dan lainlain. Akibatnya hal ini akan mempercepat terjadinya komplikasi yang buruk bagi penderita diabetes mellitus (Nadesul, 2002).

Faktor resiko Diabetes Mellitus Tipe II (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang diketahui dapat mempengaruhi DM tipe II (Smeltzer & Bare, 2002)  antara lain  kelainan genetik, usia,  gaya hidup stress, dan pola makan yang salah. Secara genetis diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes, karena gen yang mengakibatkan tubuh tak dapat menghasilkan insulin dengan baik. Berkaitan dengan usia umumnya penderita DM tipe II mengalami perubahan fisiologi yang secara drastis, DM tipe II sering muncul setelah usia 30 tahun ke atas dan pada mereka yang berat badannya berlebihan sehingga tubuhnya tidak peka terhadap insulin.

Gaya hidup stress cenderung membuat seseorang makan makanan yang manis-manis untuk meningkatkan kadar lemak seretonin otak. Seretonin ini mempunyai efek penenang sementara untuk meredakan stresnya. Tetapi gula dan lemak berbahaya bagj mereka yang beresiko mengidap penyakit DM tipe II. Hal ini bisa diperparah oleh pola makan yang salah, karena pada penderita DM tipe II terjadi obesitas (gemuk berlebihan) yang dapat mengakibatkan gangguan kerja insulin (resistensi insulin).Obesitas bukan karena makanan yang manis atau kaya lemak, tetapi lebih disebabkan jumlah konsumsi yang terlalu banyak, sehingga  cadangan gula darah yang disimpan didalam tubuh sangat berlebihan.  Sekitar 80% pasien DM tipe II adalah mereka yang tergolong gemuk