Terapi Farmakologi diabetes (skripsi dan tesis)

Terapi farmakologi dilakukan apabila penatalaksanaan terapi non farmakologi belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus. Menurut PERKENI (2006), terapi farmakologi bagi penderita diabetes mellitus dapat diberikan dalam 2 macam, yaitu:

  1. Obat hipoglikemik oral (OHO)

Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan:

1)      Pemicu sekresi insulin

  1. a)Sulfonilurea

Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang.

  1. b)Glinid

Glinid merupakan obat yang cara kerjanya dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: repaglinid (derivat asam benzoat) dan nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresikan secara cepat melalui hati.

2)      Penambah sensitivitas terhadap insulin

Tiazolidindion

Golongan tiazolidindion mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Pada pasien yang menggunakan golongan obat ini perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala.

3)      Penghambat glukoneogenesis

Metformin

Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin> 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia.

4)      Penghambat glukosidase alfa (Acarbose)

Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.

  1. Insulin

Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi menjadi 4 jenis, yaitu:

1)      Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)

2)      Insulin kerja pendek (short acting insulin)

3)      Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)

4)      Insulin kerja panjang (long acting insulin)

Terapi Non Farmakologi Untuk Diabets (skripsi dan tesis)

Dalam penatalaksanaan penyakit diabetes mellitus, langkah pertama yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan tanpa obat/terapi non farmakologi yang berupa pengaturan diet dan olah raga.

  1. Pengaturan diet

Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan penyakit diabetes mellitus. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik yaitu karbohidrat sebanyak 60-70%,  protein sebanyak 10-15%, dan lemak sebanyak 20-25%

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut dan kegiatan fisik yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

  1. Olah raga

Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal. Prinsipnya tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat baik pengaruhnya bagi kesehatan. Olah raga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurence Training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur), disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan akktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

Diagnosis Diabetss (skripsi dan tesis)

Kriteria diagnosis DM menurut Triplitt, et al. (2005):

  1. Gejala diabetes disertai kadar glukosa dalam plasma darah pada keadaan biasa≥200 mg/dL (11,1 mmol/L). Keadaan biasa ini maksudnya setiap waktu

sepanjang hari tanpa memperhatikan makan terakhir.

b.Kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL (7,0 mmol/L). Puasa artinya tidak ada masukan kalori selama minimal 8 jam.

c.Kadar glukosa dalam plasma selama 2 jam setelah pemberian glukosa ≥200 mg/dL ditetapkan dengan oral glucose tolerance test (OGTT). OGTT harus dilakukan dengan proses seperti yang diberikan WHO, yaitu menggunakan cairan glukosa yang setara dengan 75 g glukosa yang dilarutkan dalam air.

Tanda dan gejala (skripsi dan tesis)

Gejala yang khas pada DM yaitu polidipsi (banyak minum), poliphagia (banyak makan) dan poliuria (banyak kencing) disertai keluhan rasa lelah dan kelemahan otot akibat ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi (Corwin, 2007).

Terjadinya hiperosmolaritas yang parah dapat menyebabkan menurunnya tekanan intraokuler yang dapat menyebabkan bola mata dan lensa mata mengalami perubahan bentuk yang kemudian berakibat pada penurunan penglihatan menjadi buram (blurred vision) (Harris dan Greene, 2000).

Patofisiologi Diabetes (skripsi dan tesis)

Pengolahan bahan makanan dimulai dari mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan, makanan yang terdiri atas karbohidrat dipecah menjadi glukosa, protein dipecah menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu diedarkan ke seluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya berfungsi sebagai bahan bakar zat makanan itu harus diolah, dimana glukosa dibakar melalui proses kimia yang menghasilkan energi yang disebut metabolisme (Misnadiarly,2006).

Dalam proses metabolisme, insulin memegang peranan penting yaitu memasukkan glukossa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar. Insulin adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas, bila insulin tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa tetap berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat (Misnadiarly,2006).

Pada Diabetes Melitus tipe 1, terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas. Respons autoimun dipacu oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin itu sendiri (Misnadiarly,2006).

Pada Diabetes Melitus tipe 2, jumlah insulin normal tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat (Misnadiarly,2006).

Epidemiologi Diabetes (skripsi dan tesis)

 DM tipe 2 lebih umum terjadi dibandingkan DM tipe 1 dimana lebih dari 75% dari seluruh pasien DM dari suatu populasi menderita DM tipe 2. Kejadian DM tipe 2 meningkat seiring dengan usia dan meningkatnya obesitas dimana DM tipe 2 biasanya terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 45 tahun (Walker, 2003).

Prevalensi di Amerika Serikat 6% sampai 7% pada orang berusia 45 sampai 65 tahun dan 10% sampai 12% pada orang berusia lebih dari 65 tahun; sekitar 16 juta orang di Amerika serikat terdiagnosis diabetes, 90% di antara mereka menderita diabetes tipe II. Terdapat peningkatan epidemi diabetes melitus tipe II pada anak muda sesuai dengan peningkatan obesitas dan gaya hidup nyaman (kurang gerak) pada kelompok usia ini (Brashers, 2008).

Klasifikasi Diabetes (skripsi dan tesis)

 

 Beberapa klasifikasi diabetes mellitus, antara lain DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional dan DM tipe lain. DM tipe 1 terjadi karena adanya destrtuksi sel beta pankreas yang mengakibatkan terjadinya defisiensi insulin. Diabetes tipe 1 ini dapat muncul disegala usia. DM tipe 2 terjadi karena adanya resistensi insulin atau kekurangan sekresi insulin. DM gestasional merupakan DM yang terjadi karena intoleransi glukosa selama masa kehamilan. DM tipe lain disebabkan oleh kerusakan genetik fungsi sel benta pankreas, endokrinopati, induksi obat atau senyawa kimia, infeksi, atau karena sindrom genetik lainnya (Triplitt, et al., 2005)

Diabetes Mellitus (DM) Tipe II merupakan penyakit hiperglikemi akibat insensivitas sel terhadap insulin.  Kadar insulin mungkin sedikit menurun atau berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap di hasilkan oleh sel-sel beta pankreas, maka diabetes mellitus tipe II dianggap sebagai non insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) (Corwin, 2007).

Pengertian Diabetes Mellitus (SKRIPSI DAN TESIS)

Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kelompok gejala penyimpangan metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein sebagai akibat dari kurangnya insulin, sentitivitas tubuh terhadap insulin atau keduanya yang ditandai naiknya kadar gula dalam darah (Triplitt, Reasner, dan Isley, 2005).

Diabetes mellitus adalah sekelompok sindrom yang ditandai dengan hiperglikemia; perubahan metabolism lipid, karbohidrat dan protein; dan peningkatan kompplikasi penyakit kardiovaskular. (Goodman & Gilman, 2003)

Klasifikasi obat generik (skripsi dan tesis)

Obat generik dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu  obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkasiat yang dikandungnya (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010)  dan obat generik bermerek/bernama dagang adalah obat generik dengan nama dagang yang menggunakan nama milik produsen obat yang bersangkutan (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

Obat generik adalah obat yang sama dengan zat berkhasiat yang dikandungnya, sesuai nama resmi International Non Propietary Names yang telah di tetapkan dalam Farmakope Indonesia. Pengertian lain dari Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya (Wakidi, 2009)

Obat generik merupakan obat yang ketersediaannya dalam  jumlah banyak dan jenis yang cukup terjangkau oleh masyarakat serta terjamin mutu dan keamanannya. Obat generik tersebut perlu digerakkan dan didorong penggunaannya di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

            Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes /068/I/2010 memuat tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, menimbang :

  1. bahwa ketersediaan obat generik dalam jumlah dan jenis yang cukup, terjangkau oleh masyarakat serta terjamin mutu dan keamanannya, perlu digerakkan dan didorong penggunaannya di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah.
  2. bahwa agar penggunaan obat generik dapat berjalan efektif perlu mengatur kembali ketentuan Kewajiban Menuliskan Resep dan/atau Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah dengan Peraturan Menteri Kesehatan. (Anonim, 2010b)

Permenkes 2010 merupakan penegasan dari Permenkes 1989 yang memuat tentang Kewajiban Menuliskan Resep dan/atau Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Fakta yang ada, kewajiban ini sering diabaikan oleh tenaga kesehatan (dokter dan apoteker) dalam memberikan pelayanan pada pasien. Dokter dan apoteker tetap memberikan obat generik bermerek pada pasien, tanpa melihat daya beli pasien dan masyarakat pada umumnya (Anonim, 2010).

Harga Obat Generik (skripsi dan tesis)

Menurut Menkes, harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah untuk menjamin akses masyarakat terhadap obat. (Depkes, 2004) Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) akan merasionalisasikan harga Obat Generik. Menurut Syamsul Arifin Sekretaris Jendral GP Farmasi, itu sudah merupakan kewenangan GP Farmasi untuk melakukan rasionalisasi agar masyarakat umum juga bisa menjangkaunya. (Anonim, 2006)

Produksi dan Distribusi Obat Generik (skripsi dan tesis)

Saat ini obat generik diproduksi oleh perusahaan milik negara, yaitu PT Kimia Farma, PT Indofarma, dan PT Phapros, serta beberapa perusahaan swasta sebanyak 20 perusahaan farmasi swasta yang telah ditunjuk pemerintah dan sudah mendapatkan sertifikat CPOB (Isnawati, 2008) Sebagai produsen obat generik utama, Indofarma dibangun pemerintah untuk melayani kebutuhan rakyat akan obat-obatan dengan harga semurah-murahnya, karena 90 % produknya adalah obat generik (Yanfar, 2006)

Kebijakan pemerintah mengenai obat generik (skripsi dan tesis)

Dalam pemasaran obat di Indonesia, masyarakat dapat memilih antaraobat paten atau obat generik. Namun untuk meningkatkan akses terapi bagi masyarakat yang kurang mampu, pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kebijakan Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah (Menkes,2010). Bila kebijakan penggunaan obat generik dapat diterapkan, maka banyak manfaat yang dapat diperoleh, antara lain dapat menghemat biaya obat.

Mutu obat generik (skripsi dan tesis)

Masyarakat umumnya berpendapat bahwa obat generik adalah obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu karena harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya bahwa obat generik sama kualitasnya dengan obat bermerk. Kualitas obat generik tidak kalah dengan obat bermerk karena dalam memproduksinya perusahaan farmasi bersangkutan harus melengkapi persyaratan ketat dalam Cara-cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). (Arif,2004)

Para ahli farmasi menyatakan bahwa obat paten dan obat generik sama sekali tidak berbeda, kecuali pada nama dan harganya, harganya yang jauh lebih murah bukan berarti mutunya rendah, atau dibuat dari baku yang bermutu rendah, tetapi karena banyak factor-faktor biaya yang dapat dipangkas dalam produksi dan pemasaran misalnya pada biaya pengemasan dan juga biaya dalam periklanan, selain itu promosi obat ke dokter membuat obat paten mahal.

Pengertian tentang obat generik (skripsi dan tesis)

Ketika suatu industri farmasi mengembangkan obat baru, yang bersangkutan memiliki hak paten selama 15-20 tahun untuk memasarkan obat produknya tanpa diusik industri farmasi lain. Obat yang memiliki hak paten ini lazim disebut obat originator. Setelah masa paten terlewati, industri farmasi lain boleh memproduksi obat yang kandungan zat aktifnya sama. Ini yang disebut sebagai obat generik. Jika obat generik diberi logo, disebut obat generik berlogo (Dwiprahasto, 2010).

Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI No. 085/Menkes/Per.1/ 1989 tanggal 28 Januari 1989, yang dimaksud dengan obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkasiat yang dikandungnya.

Pengertian Kesehatan (skripsi dan tesis)

Kesehatan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa ada gangguan yang menghalanginya. Setiap orang ingin selalu sehat itu merupakan hal yang wajar karena karena sempurna apapun keadaan seseorang, bila terkena sakit pasti tidak akan merasa senang dan tidak dapat memanfaatkan segala kemampuan yang dimilikinya tersebut.

Departemen kesehatan dengan bersumber pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa: Sehat adalah sejahtera jasmani, rohani dan sosial bukan hanya bebas dari penyakit, ataupun kelemahan.

Menurut batasan ilmiah dan teori kesehatan WHO, sehat atau kesehatan telah dirumuskan dalam Undang – Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 sebagai berikut : “Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi”. Notoatmodjo (2005:2) menjelaskan kesehatan yaitu:  ‘kesehatan adalah keadaan seseorang dalam kondisi tidak sakit, tidak ada keluhan, dapat menjalankan kegiatan sehari – hari, dan sebagainya.’ ‘Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari fisik, mental dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi’ (Poltekes Depkes 2010:64)

Kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Kesehatan (sesuai dengan definisi pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009) adalah keadaaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Hartini dan Sulasmono, 2010).

Rekam Medis (skripsi dan tesis)

 

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa rekam medis adalah kumpulan keterangan tentang identitas, hasil anamnesis, pemeriksaan, dan catatan kegiatan pelayanan kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu. Catatan ini berupa tulisan atau gambar, dan belakangan ini dapat berupa pula rekaman elektronik, seperti komputer, mikrofilm,  dan rekaman suara (Tunggal 2010).

Bila ditelusuri lebih jauh, rekam medis mempunyai hukum kedisiplinan dan etik petugas kesehatan, kerahasiaan, keuangan, mutu mutu serta manajemen rumah sakit dan audit medis. Secara umum kegunaan rekam medis adalah sebagai berikut: (Tunggal 2010).

  1. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut ambil bagian dalam memberi pelayanan, pengobatan dan perawatan pasien
  2. Sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien.
  3. Sebagai bukti tertulis berkunjung/dirawat dirumah sakit.
  4. Sebagai dasar analisa, studi, evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien.
  5. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
  6. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan pendidikan.
  7. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medis pasien.
  8. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan.

Rumah Sakit (skripsi dan tesis)

Rumah sakit adalah institusi (atau fasilitas) yang menyediakan pelayanan pasien rawat inap, ditambah dengan beberapa penjelasan lain. Sementara itu, Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 menyebutkan bahwa rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik, dan subspesialistik (Tunggal 2010).

            Fungsi rumah sakit berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 pasal 5 sebagai berikut :

  1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
  2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
  3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
  4. Penyelengaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Peresepan Antibiotik Irasional (Rani 2010) (skripsi dan tesis)

Penggunaan obat yang tidak rasional (irasional) merupakan masalah yang kadang-kadang terjadi karena maksud baik dan perhatian dokter. Menurut departemen kesehatan peresepan irasional dapat dikelompokkan menjadi :

1).  Peresepan berlebih (over prescribing), yaitu jika memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan, misalnya pemberian vitamin sementara pasien tidak menunjukkan gejala defisiensi  vitamin.

2). Peresepan kurang (under prescribing), yaitu jika pemberian obat kurang dari yang seharusnya diperlukan, baik dalam dosis jumlah maupun lama pemberian. Tidak diresepkan obat yang tidak diperlukan untuk penyakit yang diderita juga termasuk dalam ketegori ini.

3). Peresepan majemuk (multiple prescribing), yaitu mencakup pemberian beberapa obat untuk indikasi yang sama.

4). Peresepan salah (incorect prescribing), yaitu mencakup pemberian obat untuk indikasi yang keliru, pada kondisi yang sebenarnya kontra indikasi pemberian obat, memberikan kemungkinan resiko efek samping yang lebih, pemberian informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan pada pasien dan sebagainya.

Konsep Penggunaan Obat Yang Rasional (Rational Drug Therapy/RDT (Priyanto 2009) (skripsi dan tesis)

  1.    

1). Pemilihan obat yang tepat yaitu : efektif, aman, dan dapat diterima dari segi mutu dan biaya serta diresepkan pada waktu yang tepat, dosis yang benar, cara pemakaian yang tepat, dan jangka waktu yang benar.

2).  Menurut WHO : penggunaan obat yang efektif, aman, murah, tidak polifarmasi, individualisasi, pemilihan obat atas dasar-dasar obat yang telah ditentukan bersama.

3).  Pemberian obat yang rasional adalah pemberian obat yang mencakup hal-hal sebagai berikut (Rani D 2010)

a). Tepat diagnosis

Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis yang tepat.

b). Tepat indikasi

Setiap obat memiliki spectrum terapi yang spesifik. Antibiotik , misalnya diindikasikan untuk infeksi bakteri.

c). Tepat obat

Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis ditegakkan dengan benar. Dengan demikian obat yang dipilih haruslah yang memiliki efek terapi sesuai dengan spectrum penyakit.

d). Tepat dosis

Dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan kegagalan terapi atau timbul efek berbahaya. Kesalahan dosis sering terjadi pada pasien anak-anak, lansia atau orang obesitas. Pada pasien tersebut paramedis harus mengerti cara mengkonversi dosis dari orang dewasa normal.

e).     Tepat rute

Jalur atau rute pemberian obat adalah jalur obat masuk kedalam tubuh. Jalur pemberian yang salah dapat berakibat fatal atau minimal obat-obat yang diberikan tidak efektif.

f). Tepat interval waktu pemberian

          Cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis agar mudah ditaati oleh pasien.

g). Tepat lama pemberian

          Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing-masing.

h).  Tepat dokumentasi

Aspek dokumentasi sangat penting dalam pemberian obat karena sebagai sarana untuk evaluasi. Dokumentasi pemberian obat yang harus dikerjakan meliputi nama obat, dosis, jalur pemberian, tempat pemberian, alasan kenapa obat di berikan, dan tandatangan yang memberikan.

Dosis Antibiotik Pada Anak (Priyanto 2009) (skripsi dan tesis)

Usia, berat badan, luas permukaan tubuh atau kombinasi faktor-faktor ini dapat digunakan untuk menghitung dosis anak dari dosis dewasa. Dari usia, berat badan (BB), luas permukaan tubuh (LPT), perhitungan dosis berdasarkan LPT adalah yang paling tepat. Kesulitan yang sering timbul dalam menghitung dosis berdasarkan LPT adalah menemukan tinggi badan dan berat badan secara akurat pada anak yang sedang sakit.Selain itu, kebanyakan informasi dosis dari industri untuk kebanyakan obat adalah berdasarkan berat badan.

Dalam menghitung LPT dapat berdasarkan nomogram west atau berdasarkan rumus berikut, yaitu berdasarkan akar hasil perkalian antara tinggi badan (TB) dengan berat badan (BB).

LPT = √TB (cm) x BB (kg)

                        3600

Selain itu juga dapat digunakan pedoman praktis seperti pada tabel berikut :

Tabel 2.  Dosis Neonatus dan Anak Berdasarkan Usia dan Berat Badan (BB)(Priyanto 2009)

Usia Berat badan (Kg) Dosis anak *

(% dosis dewasa)

Neonatus 3,4 <12,5
1 bulan 4,2 <14,5
3 bulan 5,6 18
6 bulan 7,7 22
1 tahun 10 25
3 tahun 14 33
5 tahun 18 40
7 tahun 23 50
12 tahun 37 75

*   Dihitung berdasarkan luas permukaan tubuh.

*   Untuk neonatus sampai 1 bulan gunakan dosis lebih rendah lagi, sesuai keadaan klinik pasien.

Antibiotik Untuk ISPA (skripsi dan tesis)

1).  Sefalosforin generasi III

Sefalosforin termasuk antibiotik beta-laktam dengan struktur, khasiat dan sifat yang banyak mirip dengan penisilin.Obat ini umumnya kurang efektif terhadap kuman gram positif dibandingkan sefalosforin generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap Enterobacteriaceaesp dan Pseudomonas aeruginosa (Sukandar 2008). Golongan sefalosforin generasi ketiga yang umum digunakan dalam terapi infeksi saluran pernafasan akut adalah :

  1. Sefiksim

          Sefiksim merupakan antibiotik golongan sefalosforin generasi ketiga yang diberikan secara oral.Obat ini biasa digunakan untuk terapi infeksi saluran kemih, otitis media, dan bronkhitis (Gunawan 2007).

  1. Seftriakson

Obat ini aktif terhadap kuman gram positif. Waktu paruhnya mencapai 8 jam (Gunawan 2007). Obat ini umum digunakan untuk infeksi saluran pernafasan akut (BPOM RI 2008).

  1. Sefotaksim

Sefotaksim bersifat anti pseudomonas sedang dan biasa digunakan untuk terapi infeksi karena kuman gram negatif (Tjay dan Kirana 2007). Obat ini umum digunakan untuk infeksi saluran pernafasan akut (Depkes 2005).

2).  Kotrimoksazol

Kotrimoksazol merupakan antibiotik golongan sulfonamida.Kombinasi ini dari sulfametoksazol dan trimetoprim bersifat bakterisid (Tjay dan Kirana 2007). Obat ini efektif terhadap bronkhitis, otitis media, dan sinusitis. Tetapi tidak dianjurkan untuk mengobati faringitis karena tidak dapat membasmi mikroba (Gunawan 2007).

3).  Klaritromisin

Klaritromisin adalah antibiotik golongan makrolida yang diindikasikan untuk infeksi saluran pernafasan (BPOM RI 2008). Efek samping berupa iritasi saluran pencernaan, lebih jarang dibandingkan eritromisin (Gunawan 2007).

4). Amoksisilin

Amoksisilin memiliki aktivitasyang sama dengan ampisilin. Obat ini diabsorbsi baik bila digunakan per oral dan tidak terganggu dengan adanya makanan, biasanya digunakan untuk penderita bronkhitis dan infeksi saluran kemih (Gunawan 2007).

5). Klindamisin

Clindamycin merupakan antibiotik makrolide yang termasuk ke dalam kelas lincosamide, dan Clindamycin seringkali digunakan untuk infeksi bakteri anaerob. Clindamycin bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri dengan menghambat translokasi ribosomal, Clindamycin dapat digunakan pada infeksi anaerob seperti abses, bisul/furuncle, infeksi pada gigi (pulpitis, abses periapikalis, gingivitis, dan paska operasi / pencabutan gigi), infeksi saluran nafas, infeksi jaringan lunak dan peritonitis. (Gunawan 2007).

Penggolongan Antibiotik (skripsi dan tesis)

Berdasarkan mekanisme kerjanya,antibiotik dibagi dalam lima kelompok yaitu :

  1. Menghambat metabolisme sel mikroba.

Antimikroba yang termasuk kelompok ini adalah sufonamid dan trimetoprim.

  1. Menghambat sintesis dinding sel mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosforin dan basitrasin.

  1. Mengganggu permeabilitas membran sel mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah polimiksin dan golongan polien.

  1. Menghambat sintesis protein mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah golongan makrolid, tetrasiklin dan kloramfenikol.

  1. Menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba

Obat yang termasuk kelompok ini ialah golongan aminoglikosid, makrolid, tetrasiklin dan kloramfenikol (Gunawan 2007).

Pengertian Antibiotik (skripsi dan tesis)

Antibiotik (Anti = lawan, bios = hidup) adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi atau bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil (Tjay dan Kirana 2007).

Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif mungkin.Artinya, obat tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes (Gunawan 2007).

Terapi Antibiotik Untuk ISPA Anak (skripsi dan tesis)

Tabel 1. Terapi Antibiotik untuk Anak ISPA Menurut Dipiro (2009)

Penyakit Antimikroba
Bronkitis Amoksisilin 3×250 mg/kg/hari
Seftazidim 3x150mg/kg/hari
Faringitis Amoksisilin 40-50 mg/kg/hari (dalam 3 dosis)
Eritromisin 40mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Sefaleksin 25-50 mg/kg/hari (dalam 4 dosis)
Otitis media Amoksisilin 80-90 mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Klindamycin 30–40 mg/kg /hari (dalam 3 dosis)
Seftriakson 50mg/kg/hari
Pnemunia Klaritromisin 15mg/kg/hari
Seftazidim 150mg/kg/hari
Seftriakson 50-75mg/kg/hari
Sefotaksim 75mg/kg/hari
Sinusitis Amoksisilin 40-50 mg/kg/hari (dalam 3 dosis)
Kotrimoksazol 36-48mg/kg/hari ( dalam 2 dosis)
Klaritromisin 15mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Sefiksim 18mg/kg/hari (dalam 2 dosis)
Klindamycin 30–40 mg/kg /hari (dalam 3 dosis)

 

Pencegahan ISPA (Dini 2010)

Beberapa upaya untuk mencegah ISPA menurut Departemen Kesehatan (Depkes) tahun 2005 antara lain :

  1. Pemberian imunisasi, yaitu imunisasi campak pada usia 9bulan.
  2. Perbaikan gizi anak.
  3. Menjauhkan anak dari penderita ISPA.
  4. Menjaga agar lingkungan tempat tinggal tetap bersih dan menjaga kesehatan perorangan.

Penatalaksanaan ISPA (Hera 2010) (skripsi dan tesis)

   Menurut pedoman penatalaksanaan penyakit ISPA Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008, klasifikasi ISPA berdasarkan derajat keparahan penyakit, yaitu ISPA ringan, ISPA sedang dan ISPA berat.

1)      Infeksi Saluran Penafasan Akut ringan / non pneumonia :

Penatalaksanaannya cukup dilakukan di rumah tidak perlu dibawa kedokter atau puskesmas, cukup diberi obat yang dijual bebas di toko atau apotik.

2)      Infeksi Saluran Pernafasan Akut sedang :

Penatalaksanaannya memerlukan pengobatan dengan antimikroba, tetapi tidak dirawat. Tanda dan gejala : suhu lebih dari 39°C, pernafasan lebih dari 50 kali/menit, tenggorokan berwarna merah, pernafasan berbunyi seperti mendengkur atau mencuit-cuit dan telinga sakit.

3)      Infeksi Saluran Pernafasan Akut berat :

Penatalaksanaannya harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus. Tandadan gejala : Bibir atau kulit membiru, tidak sadar atau kesadarannya menurun, pernafasan berbunyi mengorok dan tampak gelisah.

Etiologi ISPA (skripsi dan tesis)

Etiologi  ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan ricketsia. Bakteri penyebabnya adalah antara lain Streptococcus, Haemofilus, Bordetelia, dan Corynebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Miscovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, dan Herpesvirus (Kunoli 2013).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut Bawah (ISPAb) (skripsi dan tesis)

a). Bronkhitis

                   Inflamasi pada cabang trakheobronkial tidak termasuk alveoli.Tanda dan gejala dari bronkhitis akut adalah batuk, pilek, pusing, demam jarang hingga 390C. Batuk merupakan tanda utama dari bronkhitis, frekuensi batuk non produktif, tetapi berkepanjangan.Bronkhitis disebabkan oleh virus (Rhinovirus, Adenovirus) dan bakteri (Myoplasma pneumonia, Chlamydia pneumonia, Bordetella pertussis) (Sukandar dan Retnosari 2008). Diagnosis bronkhitis dilakukan dengan cara: Tes C-reactif protein (CRP) dengan sensitifitas sebesar 80-100%, namun hanya menunjukkan 60-70% spesifitas dalam mengidentifikasi infeksi bakteri. Metode lainnya adalah pemeriksaan sel darah putih (Depkes RI 2005).

  b). Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial. Walaupun banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia merupakan suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk membuat suatu definisi tunggal yang universal. Pneumonia didefinisikan berdasarkan gejala dan tanda klinis, serta perjalanan penyakitnya. World Health Organization (WHO) mendefinisikan pneumonia hanya berdasarkan penemuan klinis yang didapat pada pemeriksaan inspeksi dan frekuensi pernapasan. Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Insidens pneumonia pada anak.

Gejala berupa demam meningkat, batuk produktif sputum berwarna atau berdarah, nyeri dada, dan takikardia. Diagnosis berupa tes thorax dan tes darah (leukositosis meningkat, gas darah O2 arteri rendah). Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak <5 tahun. Antibiotik intravena yang danjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime, dan cefotaxime (IDAI, 2009).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut atas (ISPA ) (skripsi dan tesis)

a). Sinusitis

Sinusitis adalah infeksi pada sinus yang disebabkan oleh streptococcus pneumonia 30-40% dan haemophilus influenza 20-30%.Gejala umum dari sinusitis yaitu, keluarnya cairan kental berwarna dari hidung, sumbatan di hidung, nyeri pada muka, sakit gigi, dan demam.Gejala tersebut dapat sembuh sendiri dalam 48 jam, bila tidak membaik maka dilakukan pemberian antibiotik dengan lama terapi 10-14 hari (Sukandar dan Retnosari 2008).Penegakan diagnosis adalah melalui pemeriksaan THT, dilanjutkan dengan kultur dan dijumpai lebih dari 104/ml koloni bakteri, pemeriksaan x-ray dan CT scan (Depkes RI 2005).

b). Faringitis

                  Faringitis adalah inflamasi faring dan jaringan sekitarnya akibat infeksi virusdanbakteri(streptococcus pyogenes).Gejala umum berupa sakit tenggorokan, disfagia (kesulitan menelan), dan demam (Sukandar dan Retnosari 2008). Didiagnosis dengan cara pemeriksaan tenggorokan, kultur swab tenggorokan, pemeriksaan kultur memiliki sensivitas 90-95% dari diagnosis, sehingga diandalkan sebagai penentu faringitis (Depkes RI 2005).

c). Otitis Media

Otitis media adalah peradangan telinga tengah yang gejala dan tanda-tandanya muncul cepat. Manifestasi klinik berupa lebih dari 1gejala: gangguan pendengaran, demam dan adanya cairan pada telinga bagian tengah. Bakteri penyebab berupa streptococcus pneumonia 35% dan haemophilus influenza 25% (Sukandar dan Retnosari 2008). Diagnosis dengan melihat membran timpani menggunakan otoscope.Teslainnya dengan mengukur kelenturan membran timpani dengan tympanometer

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (skripsi dan tesis)

    

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Kunoli 2013).

Menurut WHO, ISPA adalah suatu penyakit saluran pernafasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya dan lingkungan (WHO 2007).

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2007) istilah ISPA mengandung tiga unsur, yaitu infeksi, saluran pernafasan, dan akut. Batasan masing-masing unsur adalah sebagai berikut :

  1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
  2. Saluran pernafasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ sinus, rongga telinga tengah, dan pleura.

Infeksi akut adalah 

Prevalensi TB-HIV (skripsi dan tesis)

Pada daerah dengan angka prevalensi
HIV tinggi atau di populasi dengan
kemungkinan koinfeksi TB-HIV, konseling
dan pemeriksaan HIV diindikasikan untuk
seluruh penderita TB secara rutin. Pada
daerah dengan angka prevalensi HIV
rendah, konseling dan pemeriksaan HIV
hanya diindikasikan pada pasien TB dengan
keluhan dan tanda yang diduga
berhubungan dengan HIV dan pada pasien
TB dengan riwayat resiko tinggi terpajan
HIV. TB paru yang memerlukan uji HIV
yaitu : riwayat perilaku resiko tinggi
tertular HIV, hasil pengobatan OAT tidak
memuaskan, MDR TB / TB kronik.
Pemeriksaan minimal yang perlu
dilakukan untuk memastikan diagnosis TB
paru adalah pemeriksaan BTA sputum, foto
thorax dan bila memungkinkan pemeriksaan
CD4.
Diagnosis dibuat berdasarkan riwayat
penyakit, pemeriksaan langsung sputum 3
hari berturut-turut, faktor resiko HIV, foto
thorak terlihat pembesaran kelenjar hilus,
infiltrat di apek paru, efusi pleura, kavitas
paru atau gambaran TB milier. Sensitivitas
pemeriksaan sputum BTA pada penderita
HIV/ AIDS sekitar 50%, tes tuberkulin
positif pada 30 – 50% pasien HIV/AIDS
dengan TB.
Diagnosis presumtif ditegakkan
berdasarkan ditemukannya basil tahan asam
(BTA) pada spesimen dengan gejala sesuai
TB atau perbaikan gejala setelah terapi
OAT. Diagnosis definitif TB pada penderita
HIV/AIDS adalah dengan ditemukannya
MTB pada pembiakan spesimen

Manifestasi klinis TB pada HIV/AIDS (skripsi dan tesis)

Manifestasi klinis TB pada HIV/AIDS
menyerupai akibat infeksi lain, berupa
demam berkepanjangan (100%), penurunan
berat badan dramatis (74%), batuk (37%),
diare kronis (28%), meningitis (12%), sesak
nafas (5%), Hematochezia (3,5%), Obstruksi
saluran cerna (2,6%). Menurut WHO
manifestasi koinfeksi dapat ditinjau dari
keluhannya berupa infeksi menular seksual,
herpes zoster (sering disertai jaringan parut),
pneumonia (baru atau rekuren), infeksi
bakteri berat, baru masuk program terapi OAT, penurunan berat badan > 10% dari
berat badan basal, diare kronis > 1 bulan,
nyeri retrospinal saat menelan (curiga
kandidiasis esophageal), kaki terasa panas
akibat neuropati perifer sensorik. Sedangkan
gejala yang timbul berupa jaringan parut
akibat herpes zoster, rash kulit popular dan
gatal, sarkoma kaposi, limpadenopati
generalisata simetris, kandidiasis oris,
kheilitis angularis, gingivitis necrotizing,
ulserasi aphthous besar, ulserasi genital
dengan nyeri persisten.
Radiologis : Hasil pemeriksaan radiologi
paru sangat tergantung pada luas dan
beratnya kerusakan serta penyulitnya.
Laboratoris : Pada infeksi dini (CD4 >
200/mm3), sputum mikroskopis sering
positif dibandingkan pada infeksi lanjut
(CD4 < 200/mm3) yang sering negative,
keadaan mikrobakteremia dijumpai pada
infeksi lanjut.

HUBUNGAN TB DAN HIV (skripsi dan tesis)

MTB mempunyai komponen penting
yaitu Lipoarabinomannan (LAM) yang
memiliki kemampuan luas menghambat
pengaruh imunoregulator. LAM merupakan
kompleks heteropolisakarida yang tersusun
dari pospatidilinositol, berperan langsung
dalam pengendalian pengaruh sistem imun
sehingga MTB tetap mampu
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Dalam upaya mempertahankan
kehidupannya tersebut MTB juga menekan
proliferasi limfosit T, menghambat aktivitas
makrofag, dan menetralisasi pengaruh toksik
radikal bebas. Di sisi lain LAM
mempengaruhi makrofag dan sebagai
induktor transkripsi mRNA sehingga
mampu menginduksi produksi dan sekresi
sitokin termasuk TNF, granulocyte macrophage- CSF, IL-1α, IL-1β, IL-6, IL-8
dan IL-10. Pengaruh sitokin tersebut
menghambat peran antimikrobial, memicu
gejala demam, mengakibatkan nekrosis
jaringan. Tetapi LAM tidak menginduksi
transkripsi mRNA dari sitokin yang
mestinya diproduksi limfosit seperti
limfositokin, IFN-γ, IL-2, IL-3, IL-4.
Struktur yang lebih sederhana dari LAM
adalah Limpomannan (LM) dan
phosphatidylinositol mannosides (PIM). LM
tidak memiliki Arabian, sementara PIM
memiliki arabain dan residu mannan. LAM,
LM dan PIM menginduksi transkripsi
mRNA sitokin sehingga dapat memicu
munculnya manifestasi klinis tuberkulosis
seperti demam, penurunan berat badan,
nekrosis jaringan dan kakeksia. Ada tiga
mekanisme yang menyebabkan terjadinya
TB pada penderita HIV, yaitu reaktivasi,
adanya infeksi baru yang progresif serta
terinfeksi. Penurunan CD4 yang terjadi
dalam perjalanan penyakit infeksi HIV akan
mengakibatkan reaktivasi kuman TB yang
dorman. Data dari Rwanda dan Zaire
menunjukkan bahwa pengidap HIV yang
telah pernah terinfeksi TB (Mtx positif)
ternyata 20 kali lebih sering mendapat TB.
Pada penderita HIV jumlah serta
fungsi sel CD4 menurun secara progresif,
serta gangguan pada fungsi makrofag dan
monosit. CD4 dan makrofag merupakan
komponen yang memiliki peran utama
dalam pertahanan tubuh terhadap
mikobakterium. Salah satu aktivator
replikasi HIV di dalam sel limfosit TB
adalah tumor necrosis factor alfa. Sitokin ini
dihasilkan oleh makrofag yang aktif dan
dalam proses pembentukan jaringan
granuloma pada TB. Kadar bahan ini 3-10
kali lebih tinggi pada mereka yang terinfeksi
TB dengan HIV-AIDS dibandingkan dengan
yang terinfeksi HIV saja tanpa TB.
Tingginya kadar tumor necrosis factor alfa
ini menunjukkan bahwa aktivitas virus HIV
juga dapat meningkat, yang artinya
memperburuk perjalanan penyakit AIDS.
Pada penelitian lain dijumpai adanya
peningkatan kadar beta 2 mikroglobulin
pada penderita HIV/AIDS dengan TB.
Acquired immune deficiency
syndrome (AIDS) disebabkan oleh HIV
adalah virus sitopatik diklasifikasikan dalam
famili Retroviridae, subfamili Lentivirinae,
genus Lentivirus. Berdasarkan strukturnya
HIV termasuk famili retrovirus obligat
intraseluler dengan replikasi sepenuhnya di
dalam sel host, dan merupakan virus RNA
dengan berat molekul 9,7 kb (kilobase ).
Maifestasi TB pada HIV dapat berupa
TB paru atau infeksi di luar paru. TB ekstra
pulmonal lebih sering terjadi pada penderita
HIV sampai 70% dibanding populasi
umum, dapat berupa limfadenitis TB, infeksi
pada saluran genital, saluran kencing,
susunan saraf pusat dan sumsum tulang,
biasanya terjadi pada CD4 <400 sel /mm3.
Di negara maju resiko terinfeksi MTB pada
penderita HIV adalah 50% sedangkan orang
dengan HIV negatif hanya 5-10%. Di Asia
Tenggara, infeksi sekunder TB mencapai
40%, pada tahun 2005 di UPIPI RSU Dr
Soetomo men manifestasi AIDS akibat
infeksi sekunder TB paru mencapai 25-83%.

GAMBARAN RADIOLOGI TUBERCOLOSIS (skripsi dan tesis)

Tidak ada gambaran khas TB pada
paru, secara radiologis TB dapat memberi
gambaran bermacam-macam, dapat berupa :
a) Bayangan lesi di lapangan atas paru atau
segmen apical lobus bawah. b) Bayangan
berawan atau berbercak. c) Adanya kavitas
tunggal atau ganda. d) Bayangan bercak
milier. e) Bayangan efusi pleura umumya
unilateral. f) Destroyed lobe sampai
destroyed lung. g) Kalsifikasi. h) Schwarte
Luas proses yang tampak pada foto
thoraks dapat dinyatakan sbb : a) Lesi
minimal: bila proses mengenai sebagian
kecil dari satu atau dua paru dengan luas
tidak lebih dari volume paru yang terletak di
atas chondrosternal junction dari iga kedua
dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis
IV atau korpus vertebrs torakalis V dan tidak
dijumpai kavitas. b) Lesi sedang : proses
penyakit lebih luas dari minimal dan dapat
menyebar dengan densitas sedang, tetapi
luas proses tidak boleh lebih luas dari satu
paru, atau jumlah seluruh proses yang ada
paling banyak seluas satu paru atau bila
proses tuberculosis tadi mempunyai densitas
lebih padat, lebih tebal, maka luas proses
tidak boleh lebih dari sepertiga luas satu
paru dan proses ini dapat/tidak disertai
kavitas. Bila disertai kavitas, maka luas
semua kavitas (diameter) tidak boleh lebih
dari 4 cm. c) Lesi luas : kelainan lebih luas
dari lesi sedang.

PATOFISIOLOGI TUBERKULOSIS (skripsi dan tesis)

TB primer : Mikobakterium
Tuberkulosis (MTB) yang mengalami
inhalasi melalui saluran napas mencapai
permukaan alveoli, MTB tumbuh serta
berkembang biak dalam sitoplasma
makrofag dan membentuk sarang tuberkel
pneumonik yang disebut sarang primer atau
kompleks primer. Melalui aliran limfe MTB
mencapai kelenjar limfe hilus. Dari sarang
primer akan timbul peradangan saluran
getah bening menuju hilus (limfangitis
lokal) dan diikuti pembesaran kelenjar getah
bening hilus (limfadenitis regional). Sarang
primer ditambah limfangitis lokal ditambah
limfadenitis regional dikenal sebagai
kompleks primer.
Idea Nursing Journal Mulyadi,dkk
163
TB post primer : Infeksi MTB post
primer akan muncul beberapa bulan atau
tahun setelah terjadi infeksi primer karena
reaktivasi atau reinfeksi. Hal ini terjadi
akibat daya tahan tubuh yang lemah. Infeksi
tuberkulosis post primer dimulai dengan
sarang dini yang umumnya terdapat pada
segmen apikal lobus superior atau lobus
inferior dengan kerusakan paru yang luas
dan biasanya pada orang dewasa.
Patogenesis dan manifestasi patologi
tuberkulosis paru merupakan hasil respon
imun seluler dan reaksi hipersensitiviti tipe
lambat terhadap antigen kuman tuberkulosis,
perjalanan infeksi tuberkulosis terjadi
melalui 5 tahap.
Wallgreen membuat suatu skema fase
perjalanan dan penyebaran TB primer yang
mengikuti suatu pola tertentu yang meliputi
empat tahapan sebagai berikut :
Tahap pertama : terjadi rata-rata 3-8
minggu setelah masuknya kuman,
memberikan test tuberculin yang positif,
disertai demam dan pada fase ini terbentuk
komplek primer.
Tahap kedua : berlangasung ratarata
3 bulan (1-8 bulan) sejak pertama
kuman masuk. Pada fase ini sering
terjadi penyebaran milier atau terjadi
meningitis TB.
Tahap ketiga : terjadi rata-rata
dalam 3-7 bulan (1-12 bulan), pada fase ini
terjadi penyebaran infeksi ke pleura.
Tahap keempat : rata-rata dalam
waktu 3 tahun (1 – 6 tahun), terjadi setelah
komplek primer mereda, tahap ini
merupakan periode skeletal.
Penyebaran dan perkembangannya
tidak harus mengikuti tiap tahap, adakalanya
dengan cepat menuju tahap lanjut.

Studi kohort retrospektif (skripsi dan tesis)

Studi kohort retrospektif dilakukan dengan menggunakan dua kelompok yaitu kelompok studi (sekelompok orang yang terpajan pada faktor risiko) dan kelompok kontrol (sekelompok orang yang tidak terpajan faktor risiko). Kedua kelompok itu selanjutnya diikuti terus-menerus selama periode waktu tertentu untuk memastikan apakah individu yang terpajan atau tidak terpajan faktor risiko itu terjadi keluaran atau tidak. Kegunaan studi kohort adalah untuk memberikan informasi yang pasti mengenai faktor etiologi, terutama pada penyakit yang kronik, dan untuk mengukur asosiasi berbagai tingkatan faktor risiko dengan penyakit (Chandra, 2008).

Faktor-faktor yang mempengaruhi outcome terapi. (skripsi dan tesis)

Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan baik di Indonesia ataupun di luar negeri didapatkan beberapa hasil.

  1. Faktor yang mempengaruhi outcome terapi CD4

1). Jenis kelamin

Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan dengan peningkatan jumlah CD4. Gandhi et al., (2006) di Italia melaporkan bahwa perempuan memiliki median jumlah CD4 yang meningkat sebesar 346 sell/mm 3 dibandingkan laki-laki dengan median jumlah CD4 yang meningkat hanya sebesar 282 sell/mm3 (p=0.02) pada minggu ke 144 terapi. Di Indonesia, Yuneti (2014) melaporkan bahwa perempuan lebih besar dalam peningkatan CD4>350 sell/mm3 dibandingkan dengan lakilaki (p=0,001). Sebaliknya Diego et al., (2008) di Peru melaporkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan peningkatan jumlah CD4.

2). Umur

Beberapa penelitian melaporkan bahwa usia yang lebih tua mempunyai peningkatan CD4 yang lebih baik dibandingkan usia yang lebih muda. Kaufman (2005) di Swiss melaporkan bahwa pasien dengan usia 36,5 tahun mempunyai hubungan yang mempengaruhi peningkatan jumlah CD4 >500 sel/mm3 selama 5 tahun pengobatan ARV. Prisilia (2012) di Depok melaporkan bahwa pasien dengan usia >30 tahun mengalami peningkatan CD4 lebih besar dibandingkan usia250 sel/mm3 .

3). Pendidikan

Pendidikan diduga mempengaruhi hasil pengobatan. Berdasarkan penelitian Alvarez (2012) di India melaporkan bahwa pendidikan rendah terkait dengan hasil akhir (peningkatan CD4) pada pasien yang melakukan pengobatan ARV. Yuneti (2014) melaporkan bahwa pendidikan rendah mengalami kenaikan jumlah CD4 lebih besar daripada pendidikan tinggi tapi tidak bermakna.

4). Jumlah CD4 awal

Jumlah CD4 awal yang tinggi pada pasien HIV dengan terapi ARV dihubungkan dengan kenaikan jumlah CD4 yang lebih besar. Boris (2012) di Afrika melaporkan bahwa pasien dengan jumlah  CD4 awal 200 sel/m3 dan 2x tidak mengalami peningkatan jumlah CD4 >500 sel/mm3 selama 12-30 bulan terapi ARV. Sebaliknya Muzah (2012) melaporkan bahwa selama 13 bulan terapi ARV, pasien dengan jumlah CD4 ≥200 sel/mm3 berhubungan dengan peningkatan CD4 lebih besar dibandingkan jumlah CD4 ≤200 sel/mm3 .

  1. Faktor yang mempengaruhi outcome terapi berat badan

HIV yang menyerang sel CD4 menyebabkan sel tersebut menurun secara terus menerus, sehingga jika tidak diobati maka akan terjadi imunocompromised dan mudah terkena infeksi lainnya. Tubuh berada pada kondisi yang sulit untuk mempertahankan metabolismenya karena infeksi itu sendiri, dan akhirnya tubuh kehilangan kalori dan berat badan menjadi turun. Sehingga dengan pengobatan ARV bisa menaikkan jumlah CD4, sel imunitasnya naik sehingga bisa mengurangi infeksi yang terjadi dan berat badan bisa naik kembali (Anonim, 2014). Oktaviani (2011) di Semarang melaporkan bahwa peningkatan berat badan setelah pengobatanARV dapat memperbaiki kondisi infeksi dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan asupan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.

 Faktor-faktor lain yang mempengaruhi outcome terapi berat badan:

1). Umur

Noor (2008) mengatakan bahwa umur merupakan karakteristik yang paling utama karena berhubungan dengan keterpaparan. Umur juga mempunyai hubungan dengan besarnya resiko terhadap penyakit tertentu.

2). Jenis kelamin

Perbedaan kejadian penyakit menurut jenis kelamin dapat timbul karena perbedaan bentuk anatomis, fisiologis, dan hormonal. Jenis kelamin juga mempunyai hubungan yang cukup erat dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan terhadap penyakit.

3). Pendidikan

Pendidikan merupakan sarana untuk medapatkan pengetahuan dan pengaruh perilaku. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pasien HIV/AIDS untuk menyerap informasi mengenai pola hidup sehat, cara pencegahan terhadap penularan penyakit, mampu mengembangkan sikap positif serta dapat mempengaruhi dalam mengambil keputusan untuk mencari pengobatan, dan kepatuhan dalam berobat.

Etiologi HIV/AIDS (skripsi dan tesis)

HIV adalah virus sitopatik yang diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentivirinae, genus Lentivirus. HIV termasuk virus ribonucleic acid (RNA) dengan berat molekul 9,7 kb (kilobases). Strukturnya terdiri dari lapisan luar atau envelop yang terdiri atas glikoprotein gp120 yang melekat pada glikoprotein gp4 dibagian dalam terdapat lapisan kedua yang terdiri dari protein p17. Setelah itu terdapat inti HIV yang dibentuk oleh protein p24. pada inti terdapat komponen penting berupa dua buah rantai RNA dan enzim reverse transcriptase. Bagian envelope yang terdiri atas glikoprotein, mempunyai peran penting pada terjadinya infeksi karena mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor spesifik CD4 dari sel host.Molekul RNA dikelilingi oleh kapsid berlapis dua dan suatu membran selubung yang mengandung protein (Nasronudin, 2007).

Jenis virus RNA dalam proses replikasinya harus membuat sebuah salinan deoxyribo nucleic acid (DNA) dari RNA yang ada di dalam virus. Gen DNA tersebut yang memungkinkan virus untuk bereplikasi. Seperti halnya virus yang lain, HIV hanya dapat bereplikasi di dalam sel induk. Di dalam inti virus, juga terdapat enzim-enzim yang digunakan untuk membuat salinan RNA yakni antara lain: reverse transcriptaseintegrase, dan protease. RNA diliputi oleh kapsul berbentuk kerucut terdiri atas sekitar 2000 kopi p24 protein virus. Jumlah limfosit T penting untuk menentukan progresifitas penyakit infeksi HIV ke AIDS. Sel T yang terinfeksi tidak akan berfungsi lagi dan akhirnya mati. Infeksi HIV ditandai dengan adanya penurunan drastis sel T dari darah tepi (Baratawidjaya, 2009).

Infeksi oportunistik (skripsi dan tesis)

                Infeksi oportunistik adalah infeksi yang terjadi karena penurunan imunitas tubuh. Infeksi ini terjadi ketika jumlah CD4 <500 sel/mm3. Infeksioportunistik terjadi akibat organisme non patogen (flora normal) maupun organisme patogen yang mengalami reaktivasi dalam tubuh.Ada beberapa jenis infeksi oportunistik yang sering terjadi pada penderita HIV (+), antara lain :

  1. Pneumonia pneumosistis karinii ( PPK )

Infeksi oportunistik jenis ini merupakan infeksi awal yang sering terjadi pada penderita AIDS. Hal ini terjadi karena organisme kecil (protozoa) penyebab infeksi ini, terdapat pada sebagian besar paru-paru seseorang (Crofton et al., 2001). Pada manusia sehat organisme ini tidak menimbulkan PPK. Hal ini di karenakan daya tahan tubuh yang baik dapat melawan organisme ini. Pada penderita AIDS, daya tahan tubuh rusak berat sehingga organisme ini dapat menimbulkan penyakit. Gejala awal PPK hampir menyerupai gejala umum AIDS, yaitu penurunan berat badan, keringat malam, pembesaran kelenjar getah bening, lelah, kehilangan nafsu makan, diare kronik dan sariawan yang hilang timbul. Terkadang gejala ini tidak ada, tetapi timbul gejala lain seperti batuk kering, demam dan sesak nafas, terutama bila jalan jauh atau naik tangga. Demam hampir selalu ada dengan suhu yangtidak terlalu tinggi, dan biasanya timbul pada sore hari. Gejala tersebut dapat timbul bertahap dan dalam jangka waktu 2-6 minggu menjadi berat. Pleuritis dengan gejala sakit dada dibagian tengah, pernafasan dangkal, dan tidak dapat menarik nafas juga sering dijumpai pada 30% pasien PPK.

PPK dapat diatasi dengan pengobatan yang efektif. Banyak kemajuan yang telah ditemukan mengenai diagnosis awal dan pengobatan penyakit ini. Sebagian besar pasien dapat disembuhkan, namun penyembuhan PPK ini tidak diikuti dengan kembalinya kekebalan tubuh pasien. Diagnosis penyakit ini dipastikan dengan menggunakan foto rontgen paru, analisa gas darah, dan sputum. Cara terbaik diagnosis penyakit ini adalah dengan menggunakan pemeriksaan bonkoskopi disertai dengan biopsi dan bilasan (Crofton et al.,2001).

  1. Kandidiasis

Kandidiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur candida dan sering menimbulkan masalah serius pada penderita AIDS ataupun penderita yang masih dalam tahap HIV. Infeksi ini biasanya terjadi di mulut dan tenggorokan. Kandisiasis mulut sering mendahului infeksi oportunistik lain seperti sarkoma kaposi, sedangkan kandidiasis esofagus sering ditemukan pada pasien AIDS  (Crofton et al.,2001).

  1. Sarkoma Kaposi

Gejala klinik sarkoma kaposi yaitu kelainan pada mulut dan kulit atau pembesaran kelenjar getah bening. Biasanya kelainan berawal dari daerah langit- langit mulut atau muka. Sarkoma kaposi dapat ditemukan juga di kaki, lengan dan badan. Kelainan di kulit bisa dilihat dari adanya palpasi, tetapi jarang menonjol dan berwarna ungu. Bentuk lesi penyakit ini adalah bulat lonjong, tetapi dapat juga berupa garis memanjang bila terletak di lipatan kulit. Pada tingkat awal penyakit tidak disertai rasa nyeri, tetapi pada tingkat lanjut dapat disertai nyeri terutama di kaki dan tungkai bawah. Sarkoma kaposi yang menyerang saluran pencernaan menunjukkan gejala ringan dan tidak ditemukan adanya perdarahan. Penyakit ini juga menyerang paru-paru dengan gejala yang lebih berat dan progresif, jika dibandingkan dengan serangan pada saluran cerna (Crofton et al.,2001).

  1. Tuberculosis

HIV merupakan faktor risiko yang paling potensial untuk terjadinya TB aktif. TB yang didapat pada penderita HIV bisa berasal dari infeksi laten maupun infeksi baru dan bisa juga terjadi di setiap perjalanan penyakit(Crofton et al.,2001). Penyakit TB ditimbulkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sepertiga dari penduduk dunia pernah terpajan oleh jenis bakteri ini. Risiko orang sehat untuk mengalami penyakit TB adalah sebesar 5-10%, sedangkan pada penderita HIV, risiko untuk mengalami TB adalah sebesar 50 % (Crofton et al.,2001).

Kategori pengobatan TB tidak dipengaruhi oleh status HIV pasien TB tetapi mengikuti Buku Pedoman Nasional Program Pengendalian TB (BPN PPTB). Pada prinsipnya pengobatan TB pada pasien ko-infeksi TB HIV harus diberikan segera. Pengobatan ARV baru dimulai setelah pengobatan TB dapat ditoleransi dengan baik, dianjurkan diberikan paling cepat 2 minggu dan paling lambat 8 minggu.

  1. Pengobatan TB pada ODHA yang belum dalam pengobatan ARV

Pasien yang belum dalam pengobatan ARV, maka pengobatan TB dapat segera dimulai. Jika pasien dalam pengobatan TB, maka pengobatan TB-nya diteruskan sampai dapat ditoleransi dan setelah itu diberi pengobatan ARV. Keputusan untuk memulai pengobatan ARV pada pasien dengan pengobatan TB sebaiknya dilakukan oleh dokter yang telah mendapat pelatihan  tata laksana pasien TB-HIV.

  1. Pengobatan TB pada ODHA yang sedang dalam pengobatan ARV

Pasien yang sedang dalam pengobatan ARV, sebaiknya memulai pengobatan TB di RS yang petugasnya telah dilatih TB-HIV. Ini bertujuan agar pengobatan yang diterima pasien sesuai dengan aturan medis untuk pengobatan ko-infeksi TB-HIV. Hal ini penting karena ada banyak kemungkinan masalah yang harus dipertimbangkan, antara lain: interaksi obat (Rifampisin dengan beberapa jenis obat ARV), kegagalan pengobatan ARV, immune reconstitution syndrome (IRIS) atau perlu substitusi obat ARV.

  1. Memulai pengobatan ARV pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB Terapi ARV diberikan untuk semua ODHA yang menderita TB tanpa memandang jumlah CD4. Namun pengobatan TB tetap merupakan prioritas utama untuk pasien dan tidak boleh terganggu oleh terapi ARV. Seperti telah dijelaskan di atas, pengobatan ARV perlu dimulai meskipun pasien sedang dalam pengobatan TB. Perlu diingat, pengobatan TB di Indonesia selalu mengandung Rifampisin. Oleh karena itu pasien yang menjalani pengobatan TB dan mendapat obat ARV bisa mengalami masalah interaksi obat dan efek samping obat. Pengobatan ARV yang mengandung Efavirenz (EFV) perlu diberikan pada pasien yang sedang dalam pengobatan TB. Jadi, jumlah obat yang digunakan bertambah banyak sehingga diperlukan beberapa perubahan dalam paduan ARV. Setiap perubahan tersebut harus dijelaskan secara seksama kepada pasien dan pengawas menelan obat (PMO).

EFV tidak dapat digunakan pada trimester I kehamilan, sehingga penggunaan pada wanita usia subur (WUS) harus mendapat perhatian khusus. Jika seorang ibu hamil trimester ke-2 atau ke-3 sakit TB, paduan ART yang mengandung EFV dapat dipikirkan untuk diberikan. Paduan yang mengandung NVP dapat digunakan bersama dengan paduan OAT yang mengandung Rifampisin bila tidak ada alternatif lain. Pemberian NVP pada ODHA perempuan dengan jumlah CD4 >250 sel/mm3 harus hati-hati karena dapat menimbulkan gangguan fungsi hati yang lebih berat atau meningkatnya hipersensitifitas.

NVP dapat diberikan kembali setelah pengobatan dengan Rifampisin selesai. Waktu mengganti kembali (substitusi) dari EFV ke NVP tidak memerlukan loading dose (langsung dosis penuh). Mengingat hal tersebut di atas, rencana pengobatan ko-infeksi TB-HIV seharusnya dilakukan minimal oleh dokter di RS yang telah dilatih TB-HIV. Pasien yang akan mendapat pengobatan ko-infeksi TB-HIV perlu diberi pengetahuan tentang efek samping pengobatan baik ringan maupun berat dan tindakan yang harus dilakukan selanjutnya. Petugas kesehatan di Puskesmas dapat melanjutkan pengobatan ko-infeksi TB-HIV setelah paduan pengobatan yang diberikan oleh dokter di RS dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien.

Pasien HIV yang akan memulai pengobatan ARV perlu mendapatkan konseling tentang pengobatan ARV dan implikasinya. Pasien juga perlu difasilitasi untuk mendapatkan akses dukungan nutrisi dan psikososial dari keluarga dan kelompok dukungan sebaya (KDS). Hal ini penting untuk menjamin kesinambungan perawatan dan pengobatan  ARV(KemenKes RI, 2012).

HIV/AIDS (skripsi dan tesis)

HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4+ T-sel dan makrofag yang merupakan komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya defisiensi sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit lain (Sepkowitz, 2001).

Depkes RI (2003) mendefinisikan HIV sebagai virus yang menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4, sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Gejala-gejala yang timbul tergantung dari infeksi oportunistik yang menyertainya. Infeksi oportunistik terjadi karena menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan) yang disebabkan rusaknya sistem imun tubuh akibat infeksi HIV tersebut (Mandal, 2010).

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyebar melalui cairan tubuh dan menyerang sel-sel tertentu dari sistem imun tubuh yaitu sel CD4 atau sel-T. HIV dapat menghancurkan sel-sel pada tubuh sehingga sistem imun tubuh tidak mampu melawan infeksi dan penyakit (CDC, 2014). Sistem imun tubuh yang lemah memungkinkan perkembangan infeksi, sehingga timbul AIDS. AIDS yaitu kumpulan gejala penyakit defisiensi imunitas seluler (Pinsky &Douglas, 2009). AIDS ditandai dengan berbagai gejala klinik, termasuk immuno defisiensi berat disertai infeksi oportunistik dan kegananasan, serta degenerasi susunan saraf pusat. Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 1993) memperluas definisi AIDS, yaitu dengan memasukkan semua orang HIV + dengan jumlah CD4<200 per μL darah  atau 14% dari seluruh limfosit.

CD4 merupakan suatu glikoprotein yang diekspresikandi permukaan sel T helper, sel T regulator, monosit, makrofag dan sel dendritik. Pada manusia ekspresi CD4 disandi oleh gen CD4. CD4 pertama kali ditemukan pada tahun 1970,  disebut sebagai leu-3 dan T4. Tahun 1984 istilah tersebut berubah menjadi CD4 (Bernard, 1984). Seperti halnya reseptor permukaan lainnya, CD4 merupakan anggota dari immunoglobulin superfamily. CD4 memiliki 4 domain immunoglobulin (D1-D4) yang terletak dipermukaan ekstraseluler dari sel. Sel T mengekspresikan molekul CD4 di permukaannya (Janeway et al., 2001).

Nilai absolut CD4 menggambarkan seberapa banyak CD4 fungsional yang beredar di dalam darah. Semakin rendah jumlah CD4 maka semakin rendah sistem imun tubuh. Nilai absolut CD4 pada orang sehat berada dalam rentang 600-1200 sel/mm3. Orang yang terinfeksi HIV rata-rata memiliki jumlah CD4 <500 sel/mm3. Persentase CD4 menggambarkan persentase dari seluruh limfosit yang merupakan sel CD4. Rata-rata orang sehat akan memiliki persentase CD4 sebesar 40 % (Cichocki, 2007).

Perkembangan Kognitif Remaja (skripsi dan tesis)

Piaget (Santrock, 2007) mengatakan bahwa individu secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Piaget mengatakan bahwa ada empat tahapan yang harus dilalui individu dalam memahami dunia yaitu tahap sensomotor, tahap praoperasional, tahap operasional kongkrit, tahap operasional formal. Pada empat tahapan tersebut maka remaja termasuk ke dalam tahapan ke empat yaitu tahap operasional formal yaitu tahap di mana remaja sudah mampu bernalar secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Menurut Piaget (Santrock, 2007) remaja termotivasi untuk memahami dunianya karena hal ini merupakan bentuk adaptasi biologis. Secara aktif remaja mengkonstruksikan dunia kognitifnya sendiri dengan demikian informasi- informasi dari lingkungan tidak hanya sekedar tertuang dalam pikiran mereka. Agar remaja lebih mampu memahami dunia, remaja mengorganisasikan pengalaman- pengalaman yang mereka peroleh dan kemudian memisahkan gagasan- gagasan yang menurut mereka penting dan gagasan yang menurut mereka tidak penting yang kemudian akan digabungkan satu sama lain. Remaja juga akan mengadaptasikan pemikiran- pemikiran mereka yang melibatkan gagasan baru yang kemudian akan menambah pemahaman mereka.
Sedangkan Vigotsky (Santrock, 2007) memiliki pandangan tersendiri mengenai perkembangan kognitif remaja. Salah satu konsep Vigotsky adalah zone of proximal development (ZPD), yang merujuk pada rentang tugas- tugas yang terlalu sulit bagi individu untuk dikuasai sendiri namun dapat dipelajari melalui bimbingan dan bantuan dari orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil. Batas bawah dari ZPD adalah level keterampilan yang mampu diraih dengan bekerja sendiri. Sementara batas atas dari ZPD adalah tingkat tangung jawab tambahan yang dapat diterima dengan bantuan instruktur yang mampu. Penekanan Vigotsky terhadap ZPD memperlihatkan keyakinannya mengenai pentingnya pengaruh sosial terhadap perkembangan kognitif. Dalam pendekatan Vigotsky, sekolah formal merupakan salah satu agen budaya yang menentukan pertumbuhan seorang remaja. Para orang tua, teman sebaya, komunitas, dan orientasi teknologi budaya juga mempengaruhi pemikiran remaja. Sikap orang tua dan kawan- kawan terhadap kompetensi intelektual mempengaruhi motivasi mereka untuk memperoleh pengetahuan. Demikian pula sikap para guru dan orang- orang dewasa lainnya di dalam komunitas tersebut. Perubahan perkembangan dalam pemprosesan informasi dipengaruhi oleh meningkatnya kapasitas dan kecepatan pemprosesan (Frye dalam Santrock, 2007). Ke dua karakteristik ini dirujuk sebagai sumber daya kognitif (cognitive resource), yang berpengaruh penting terhadap memori dan pemecahan masalah. Selama masa remaja, individu secara bertahap mengembangkan potensi untuk mengelola dan menyebarkan sumber daya kognitifnya dalam cara- cara tertentu secara terkontrol dan bertujuan (Kuhn & Franklin dalam Santrock 2007).

Tugas Perkembangan Remaja (skripsi dan tesis)

Adapun tugas perkembangan remaja menurut Hurlock (1997) adalah: a. Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita b. Mencapai peran sosial pria dan wanita c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertangung jawab e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang- orang dewasa lainnya f. Mempersiapkan karier ekonomi g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi

Pengertian Remaja (skripsi dan tesis)

Remaja berasal dari kata adolensence (remaja) masa perkembangan transisi antara anak- anak menjadi dewasa yang mencakup perubahan biolologis, kognitif, dan sosial emosional (Santrock, 2003). Sedangkan menurut Hurlock remaja adalah tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolesence mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1997). Kedua pandangan itu didukung oleh Piaget (Hurlock, 1997) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi berintegrasi dengan masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang- kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat mempunyai banyak aspek efektif dan berhubungan dengan masa puberitas. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.

Kematian dalam Perspektif Remaja (skripsi dan tesis)

 Salah satu peristiwa hidup yang dihadapi remaja adalah kematian anggota keluarga dicintai atau kematian sendiri yang akan datang kepada mereka yang mengancam jiwa. Kematian bukan masalah yang biasa bagi remaja. Sekitar 4% remaja di Amerika Serikat kehilangan orang tua karena kematian sebelum mereka mencapai usia 18, dan 1,5 juta remaja tinggal di keluarga orang tua tunggal karena kematian (US Biro Sensus, 1993). Koocher dan Gudas (1992) dengan tepat menyatakan bahwa asumsi remaja tentang kematian yakni tidak nyamannya remaja dengan kematian, bukan realitas kemampuan remaja untuk memahami dan mengatasi kematian. Sebagai akibatnya, remaja memiliki kekhawatiran ketika berpikir tentang kematian, dan kekhawatiran terhadap pertanyaan tentang kematian. Masa remaja, timbulnya pemikiran operasional formal, kematian dipahami sepenuhnya, dan ide-ide teologis yang abstrak dapat di masukkan dalam konsepsi remaja tentang kematian (Gudas & Koocher, 2001). Studi lain menunjukkan bahwa tidak semua remaja mampu memahami kematian akan tetapi peristiwa itu akan sangat terkait erat dengan masa perkembangan remaja terutama pada perkembangan kognitif (Koocher, 1973; Putih, Elsom, & Prawat, 1978).
Tidak mengherankan, remaja yang telah memiliki pengalaman tentang kematian tampaknya memiliki pemahaman yang lebih matang dari pada rekan-rekan mereka yang kurang berpengalaman (Schonfeld& Kappelman, 1990). Tidak adanya pengalaman tentang kematian membuat remaja kurang mampu dalam memahami konsep tentang kematian. Pengembangan konsep kematian tampaknya tergantung sampai batas tertentu pada perkembangan kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman remaja terhadap kematian bervariasi secara sistematis dengan usia (dan mungkin dengan tingkat perkembangan kognitif remaja). Namun, untuk remaja khususnya, pengalaman tentang kematian anggota keluarga tercinta dapat berfungsi untuk mempercepat pemahaman tentang kematian. Peristiwa hidup mungkin mampu memberikan informasi dan pemahaman tentang kematian yang kemudian akan mampu mempengaruhi karakteristik pola pikir dan aktivitas sehari-hari dan pengalaman remaja. Pengalaman ditinggal oleh orang- orang yang mereka sayangi akan memberikan dampak positif maupun dampak negatif bagi remaja. Dampak negatif dari pengalaman remaja tentang kematian akan membuat mereka takut untuk mengenang kematian dan merasa bahwa kematian itu sebagai hal yang menakutkan. Tapi jika melihat dari sisi positif pengalaman remaja tentang kematian maka remaja mampu memahami kematian dan lebih mengakui kebesaran Allah sebagai pemilik semesta alam dan lebih mendekatkan diri pada sang Khalik

Kematian dalam Persfektif Psikologi (skripsi dan tesis)

Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang melihat kematian sebagai suatu peristiwa dahsyat yang sesungguhnya sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada segolongan orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka. Namun ada pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan ada kehidupan lain yang lebih mulia kelak, yaitu kehidupan di akhirat. Maut merupakan luka paling parah untuk narsisisme insani. Untuk menghadapi frustrasi terbesar ini, manusia bertindak religius (Dister, 1982). Masalah kematian sangat menggusarkan manusia. Mitos, filsafat juga ilmu pengetahuan tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Kekosongan batin akan semakin terasa ketika individu dihadapkan pada peristiwa- peristiwa kematian. Terutama jika dihadapkan pada kematian orang- orang terdekat dan yang paling dicintai. Rasa kehilangan bersifat individual, karena setiap individu tidak akan merasakan hal yang sama tentang kehilangan. Sebagian individu akan merasa kehilangan hal yang biasa dalam hidupnya dan dapat menerimanya dengan sabar. Individu yang tidak dapat menerima kehilangan orang yang disayang dalam hidupnya akan merasa sendiri dan berada dalam keterpurukan. Berbagai proses yang dilalui untuk kembali dari keterpurukan karena setiap orang akan mengalami hal- hal yang unik dan khusus, tergantung bagaimana cara dia ditinggalkan. Sebagian individu yang lebih memilih untuk tegar karena kesadaran utuk melanjutkan kehidupan. Perasaan kehilangan akan semakin berat dirasakan jika kadar rasa memiliki itu tinggi hal ini terjadi karena adanya kedekatan batin yang tinggi. Kematian juga disikapi manusia mengenai dirinya. Sadar bahwa suatu saat dirinya juga akan mengalami kematian. Masing- masing mulai menakar diri. Menginvetarisasi semua aktivitas dan lakon hidup. Mengingat kebaikan dan keburukan yang sudah pernah dilakukan. Khawatir akan balasan yang akan diterima dihari kebangkitan. Perasaan seperti ini sering dirasakan dan menghantui manusia yang terjadi semacam kecemasan batin. Sebagai suatu ilmu pengetahuan empiris psikologi terikat pada pengalaman dunia. Psikologi tidak melihat kehidupan manusia setelah mati, melainkan mempelajari bagaimana sikap dan pandangan manusia terhadap masalah kematian dan apa makna kematian bagi manusia itu sendiri (Boharudin, 2011)

Kematian dalam Persfektif Agama Islam (skripsi dan tesis)

Menurut persfektif Islam kematian dianggap sebagai peralihan kehidupan, dari dunia menuju kehidupan di alam lain. Kematian didefinisikan sebagai kehilangan permanen dari fungsi integratif manusia secara keseluruhan (Hasan, 2006). Al- qur’an merupakan media terbaik yang paling representatif dalam mengungkapkan perspektif Islam mengenai kematian dan pasca kematian. Al- qur’an memberikan perhatian yang cukup berpengaruh pada masalah ini dalam kehidupan individu dan masyarakat (bangsa). Bahkan al- qur’an sering menyandingkan antara keimanan pada Allah dalam keimanan pada hari akhir, sehingga sekali lagi, mengesankan bahwa keimanan pada Allah saja belum cukup bagi individu dalam mewujudkan kesempurnaan mental, ketenangan jiwa, dan kesalehan moral serta perilaku tanpa disertai keimanan pada hari akhir (Rasyid,2008). Menurut para ulama kematian bukan sekedar ketiadaan atau kebinasaan belaka, tetapi sebenarnya mati adalah terputusnya hubungan roh dengan tubuh, terhalangnya hubungan antara keduanya, dan bergantinya keadaan dari suatu alam ke alam lainnya (Al- Qurtubi, 2005).

Definisi Kematian (skripsi dan tesis)

Kematian merupakan fakta biologis, akan tetapi kematian juga memiliki dimensi sosial dan psikologis. Secara biologis kematian merupakan berhentinya proses aktivitas dalam tubuh biologis seorang individu yang ditandai dengan hilangnya fungsi otak, berhentinya detak jantung, berhentinya tekanan aliran darah dan berhentinya proses pernafasan. Dimensi sosial dari kematian berkaitan dengan perilaku dan perawatan sebelum kematian, tempat letak di mana proses sebelum dan sesudah bagi kematian si mati. Penawaran dan proses untuk memperlambat atau mempercepat kematian, tata aturan di seputar kematian, upacara ritual dan adat istiadat setelah kematian serta pengalihan kekayaan dan pengalihan peran sosial yang pernah menjadi tanggung jawab si mati (Hartini, 2007). Ismail (2009) mengatakan bahwa secara medis kematian dapat dideteksi yaitu ditandai dengan berhentinya detak jantung seseorang. Namun pengetahuan tentang kematian sampai abad moderen ini masih sangat terbatas. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan dia akan mati. Karena itu tidak sedikit pula yang merasa gelisah dan stress akibat sesuatu hal yang misterius ini. Dimensi psikologis dari kematian menekankan pada dinamika psikologi individu yang akan mati maupun orang- orang di sekitar si mati baik sebelum dan sesudah kematian (Hartini,2007). Sihab (2008) mengatakan bahwa kematian pemutusan segala kelezatan duniawi, dia adalah pemisah antara manusia dan pengaruh kenyamanan hidup orang- orang yang lalai. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al- Qur’an “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh” (Annisa:4:78). Maut juga disebut sebagai pengancam hidup bagi manusia, sehingga kebanyakan dari individu takut akan kematian itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kematian terjadi ketika berhentinya proses aktivitas dalam tubuh biologis seorang individu yang ditandai dengan hilangnya fungsi otak, berhentinya detak jantung, berhentinya tekanan aliran darah dan berhentinya proses pernafasan serta terhentinya hubungan manusia dengan alam dunia.

Remaja (skripsi dan tesis)

Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Hurlock, 2009: 206). Menurut Papalia, dkk (2008: 534) dalam masyarakat industrial modern, perjalanan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa ditandai oleh periode transasional panjang yang dikenal dengan masa remaja. Masa remaja dimulai pada usia 11 atau 12 sampai masa remaja akhir atau awal usia dua puluhan, dan masa tersebut membawa perubahan besar saling bertautan dalam semua ranah perkembangan.

Kematian (skripsi dan tesis)

Definisi kematian ialah saat dimana berakhirnya fungsi biologis tertentu, seperti pernafasan dan tekanan darah serta kakunya tubuh, hal tersebut telah dianggap cukup jelas menjadi tanda-tanda kematian (Santrock 2004: 263). Ann dan Lee (2001: 385) menjelaskan beberapa jenis kematian, yaitu:

a. Kematian yang diantisipasi Fenomena dukacita yang diantisipasi (anticipatory grief), dapat dipahami sebagai reaksi akan kesadaran terhadap kehilangan di waktu yang akan datang. Beberapa orang percaya bahwa kematian yang telah diketahui atau diantisipasi terlebih dahulu, seperti kasus penyakit yang kronis atau berkepanjangan, dapat memudahkan orang-orang untuk mengatasi rasa kehilangan daripada kematian yang tiba-tiba.

d. Kematian mendadak Kematian mendadak muncul dalam konteks tertentu, contohnya, perang mengakibatkan suatu keadaan tertentu yang melingkupi kematian, dan keadaan ini mempengaruhi bagiamana subjek berhadapan dengan kehilangan. Seseorang yang kehilangan karena kematian yang mendadak biasanya menginginkan informasi secepatnya dan biasanya yang detail mengenai penyebab kematian, guna membantu mereka mulai merasakan kehilangan tersebut.

b. Bunuh diri Orang-orang yang mengalami kehilangan orang yang disayangi karena bunuh diri seringkali merasa bingung. Dampak dari bunuh diri tersebut dapat meningktkan parasaan bermasalah pada subjek. Jika seseorang yang dekat dengan kita dalam keadaan terluka dan akhirnya mati karena bunuh diri. Disamping perasaan bersalah dan timbul petanyaanpertanyaan penyesalan, para survivor dapat memiliki perasaan marah yang kuat dan mempersalahkan orang yang mati karena bunuh diri.
 c. Pembunuhan Ketika seorang yang disayangi meninggal karena menjadi korban pembunuhan, mereka yang ditinggalkan dapat merasa bahwa dunia menjadi berbahaya, kejam, tidak aman, dan tidak adil. Berhubungan dengan kejahatan criminal dapat memperluas dukacita yang normal saat kasus itu berlanjut, karena tidak ada jaminan hasilnya nanti akan adil bagi subjek.
 d. Bencana Orang yang selamat dari bencana dimana orang lain tidak selamat (meninggal) menjadikan mereka disebut survivor dua kali, pertama mereka survivor dari bencana yang besar yang bisa saja mengakhiri hidup mereka, juga survivor dari kematian orang lain, baik teman maupun saudara. Dikarenakan para survivor merasa mereka tidak pantas untuk hidup sedangkan orang lain tidak (mati), maka perasaan bersalah yang mendalam dapat mengikuti dukacita dan kesedihan mereka yang mendalam.

Faktor Grief (skripsi dan tesis)

Faktor Grief tersebut dikemukakan oleh (Aiken, 1994: 164), yaitu:

 a. Hubungan individu dengan almarhum Yaitu reaksi-reaksi dan rentang waktu masa berduka yang dialami setiap individu akan berbeda tergantung dari hubungan individu dengan almarhum, dari beberapa kasus dapat dilihat hubungan yang sangat baik dengan orang yang telah meninggal diasosiasikan dengan proses grief yang sangat sulit.
 b. Kepribadian, usia, dan jenis kelamin orang yang ditinggalkan Merupakan perbedaan yang mencolok ialah jenis kelamin dan usia orang yang ditinggalkan. Secara umum grief lebih menimbulkan stress pada orang yang usianya lebih muda.
c. Proses kematian Cara dari seseorang meninggal juga dapat menimbulkan perbedaan reaksi yang dialami orang yang ditinggalkannya. Pada kematian yang mendadak kemampuan orang yang ditinggalkan akan lebih sulit untuk menghadapi kenyataan. Kurangnya dukungan dari orangorang terdekat dan lingkungan sekitar akan menimbulkan perasaan tidak berdaya dan tidak mempunyai kekuatan, hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatasi grief

Tahapan Grief (skripsi dan tesis)

Menurut Santrock (2002: 272) dukacita (grief) adalah kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa, sedih, dan kesepian yang menyertai disaat kita kehilangan orang yang kita cintai. Sedangkan menurut Papalia, dkk (2008: 957) ialah kehilangan, karena kematian seseorang yang dirasakan dekat dengan yang sedang berduka dan proses penyesuaian diri kepada kehilangan.
 Glick, dkk (dalam Lemme, 1995: 201) membagi tahapan grief menjadi tiga tahap, yaitu: a. Tahap inisial respon, Tahap pertama ini dimulai ketika peristiwa kematian terjadi dan selama masa pemakaman dan ritualritual lain dalam melepas kematian orang yang disayangi. Reaksi awal terhadap kematian orang yang disayangi pada tahap ini meliputi shock atau kaget dan mengalami perasaan tidak percaya. Seseorang yang ditinggalakan akan merasa mati rasa, bingung, merasa kosong, hampa, dan mengalami disorientasi atau tidak dapat menentukan arah.
b. Tahap intermediate, Tahapan ini adalah lanjutan dari beberapa kondisi pada tahap sebelumnya dan timbul beberapa kondisi baru yang merupakan lanjutan atas reaksi kondisi sebelumnya. Kemarahan, perasaan bersalah, kerinduan, dan perasaan kesepian merupakan emosi-emosi yang umum terjadi pada tahapan ini.
c. Tahap recovery, Pada tahap ini, pola tidur dan makan sudah kembali normal dan orang yang ditinggalkan mulai dapat melihat masa depan dan bahkan sudah dapat memulai hubungan yang baru. Pada tahap ini perilaku yang muncul yaitu sudah dapat mengakui kehilangan yang terjadi, berusaha melalui kekacauan yang emosional, menyesuaikan dengan lingkungan tanpa kehadiran orang yang telah tiada dan melepaskan ikatan dengan orang yang telah tiada

Respon psikologis pasien stroke (skripsi dan tesis)

Shimberg (1998) menyatakan bahwa penyakit stroke dapat mempengaruhi psikologis pasien stroke, ada beberapa masalah psikologis yang dirasakan oleh pasien stroke yaitu :
1. Kemarahan
 Kebanyakan pasien stroke, mengekspresikan amarahnya adalah hal yang sulit bahkan seringkali merasa tidak mau patuh, melawan perawat, dokter dan ahli terapinya. Pasien juga bisa memaki-maki dengan kata-kata yang menyakitkan dan memukul secara fisik. Pasien juga sering memiliki amarah yang meledak-ledak.
2. Isolasi
Pasien kelumpuhan akibat stroke dapat mengakibatkan individu melakukan penarikan diri terhadap lingkungan, karena perasaan pasien sering terluka karena sering tidak diperdulikan oleh orang lain. Sering sekali temanteman pasien meninggalkan pasien sendirian karena tidak mengetahui bagaimana harus bereaksi dengan pasien kelumpuhan tersebut.
3. Kelabilan Emosi
 Pasien stroke memiliki reaksi-reaksi emosional yang membingungkan. Kelabilan emosi merupakan gejala yang aneh, terkadang pasien stroke tertawa atau menangis tanpa alasan yang jelas. Kecemasan yang berlebihan sebahagian pasien mungkin memperlihatkan rasa ketakutannya ketika keluar rumah, keadaan ini dinamakan agorafobia. Hal ini terjadi karena pasien merasa malu ketika bertemu dengan orang lain, sekalipun dengan teman lamanya. Perasaan malu ini mungkin timbul akibat adanya gangguan pada kemampuan bicara dan kelumpuhannya.
4. Depresi
 Depresi adalah perasaan marah yang berlangsung di dalam batin, beberapa depresi tidak hanya bersifat reaktif, tetapi pasien kelumpuhan akibat stroke akan bereaksi terhadap semua kehilangannya dan merasa putus asa. Gangguan depresi merupakan gangguan emosi yang paling sering dikaitkan dengan stroke. Berbagai reaksi yang dapat terjadi pada pasien kelumpuhan akibat stroke dapat mengakibatkan masalah psikologis bagi pasien. Peneliti memasukkan teori ini mengingat bahwa masalah psikologis yang dialami oleh pasien kelumpuhan akibat stroke dapat menyebabkan individu mengalami kehilangan sehingga dapat menimbulkan stres.

Respon berduka (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa teori mengenai respon berduka terhadap kehilangan. Teori yang dikemukan Kubler-Ross (1969 dalam Hidayat, 2009) mengenai tahapan berduka akibat kehilangan berorientasi pada perilaku dan menyangkut lima tahap, yaitu sebagai berikut:
.1. Fase penyangkalan (Denial)
Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya, atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. Sebagai contoh, orang atau keluarga dari orang yang menerima diagnosis terminal akan terus berupaya mencari informasi tambahan. Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernapasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah, dan sering kali individu tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa tahun.
.2. Fase marah (Anger)
Pada fase ini individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri. Orang yang mengalami kehilangan juga tidak jarang menunjukkan perilaku  agresif, berbicara kasar, menyerang orang lain, menolak pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat tidak kompeten. Respon fisik yang sering terjadi, antara lain muka merah, deyut nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan menggepal, dan seterusnya.
.3. Fase tawar menawar (Bargaining)
Pada fase ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah kehilangan tersebut dapat dicegah. Individu mungkin berupaya untuk melakukan tawar-menawar dengan memohon kemurahan Tuhan.
.4. Fase depresi (Depression)
Pada fase ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap sangat penurut, tidak mau berbicara menyatakan keputusasaan, rasa tidak berharga, bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri. Gejala fisik yang ditunjukkan, antara lain, menolak makan, susah tidur, letih, turunnya dorongan libido, dan lain-lain.
5. Fase penerimaan (Acceptance)
Pada fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan, pikiran yang selalu berpusat pada objek yang hilang mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya dan mulai memandang kedepan. Gambaran tentang objek yang hilang akan mulai dilepaskan secara bertahap. Perhatiannya akan beralih pada  objek yang baru. Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan menerima dengan perasaan damai, maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas. Kegagalan untuk masuk ke tahap penerimaan akan mempengaruhi kemampuan individu tersebut dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya.
Bowlby (1980 dalam Videbeck, 2008) mendeskripsikan proses berduka akibat suatu kehilangan yang terdiri dari 4 fase yaitu, fase pertama mati rasa dan penyangkalan terhadap kehilangan, fase kedua kerinduan emosional akibat kehilangan orang yang dicintai dan memprotes kehilangan yang tetap ada, fase ketiga kekacauan kognitif dan keputusasaan emosional, mendapatkan dirinya sulit melakukan fungsi dalam kehidupan sehari-hari dan fase keempat reorganisasi dan reintegrasi kesadaran diri sehingga dapat mengembalikan hidupnya.
 John Harvey (1998 dalam Videbeck, 2008) mendeskripsikan fase berduka yaitu, fase pertama syok, menangis dengan keras, dan menyangkal, fase kedua intrusi pikiran, distraksi, dan meninjau kembali kehilangan secara obsesif dan fase ketiga menceritakan kepada orang lain sebagai cara meluapkan emosi dan secara kognitif menyusun kembali peristiwa kehilangan. Rodebaugh (1999 dalam Videbeck, 2008) memandang proses berduka sebagai suatu proses melalui empat tahap yaitu pertama terguncang (Reeling) klien mengalami syok, tidak percaya, atau menyangkal, kedua merasa (feeling) klien mengekspresikan penderitaan yang berat, rasa bersalah, kesedihan yang mendalam, kemarahan, kurang konsentrasi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, ketidaknyamanan fisik yang umum, ketiga menghadapi (dealing) klien mulai beradaptasi terhadap kehilangan dengan melibatkan diri dalam kelompok pendukung, terapi dukacita, membaca, dan bimbingan spiritual, keempat pemulihan (healing), klien mengintegrasikan kehilangan sebagai bagian kehidupan dan penderitaan yang akut berkurang. Pemulihan tidak berarti bahwa kehilangan tersebut dilupakan atau diterima

Tanda dan gejala berduka (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa sumber yang menjelaskan mengenai tanda dan gejala yang sering terlihat pada individu yang sedang berduka. Buglass (2010) menyatakan bahwa tanda dan gejala berduka melibatkan empat jenis reaksi, meliputi:
.1. Reaksi perasaan, misalnya kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, kecemasan, menyalahkan diri sendiri, ketidakberdayaan, mati rasa, kerinduan.
2. Reaksi fisik, misalnya sesak, mual, hipersensitivitas terhadap suara dan cahaya, mulut kering, kelemahan.
3. Reaksi kognisi, misalnya ketidakpercayaan, kebingungan, mudah lupa, tidak sabar, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, ketidaktegasan.
.4. Reaksi perilaku, misalnya, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, penarikan sosial, mimpi buruk, hiperaktif, menangis.

Faktor penyebab berduka (skripsi dan tesis)

Banyak situasi yang dapat menimbulkan kehilangan dan dapat menimbulkan respon berduka pada diri seseorang (Carpenito, 2006). Situasi yang paling sering ditemui adalah sebagai berikut: Universitas
1. Patofisiologis Berhubungan dengan kehilangan fungsi atau kemandirian yang bersifat sekunder akibat kehilangan fungsi neurologis, kardiovaskuler, sensori, muskuloskeletal, digestif, pernapasan, ginjal dan trauma.
2. Terkait pengobatan Berhubungan dengan peristiwa kehilangan akibat dialisis dalam jangka waktu yang lama dan prosedur pembedahan (mastektomi, kolostomi, histerektomi).
3. Situasional (Personal, Lingkungan) Berhubungan dengan efek negatif serta peristiwa kehilangan sekunder akibat nyeri kronis, penyakit terminal, dan kematian; berhubungan dengan kehilangan gaya hidup akibat melahirkan, perkawinan, perpisahan, anak meninggalkan rumah, dan perceraian; dan berhubungan dengan kehilangan normalitas sekunder akibat keadaan cacat, bekas luka, dan penyakit.
.4. Maturasional Berhubungan dengan perubahan akibat penuaan seperti temanteman, pekerjaan, fungsi, dan rumah dan berhubungan dengan kehilangan harapan dan impian. Rasa berduka yang muncul pada setiap individu dipengaruhi oleh bagaimana cara individu merespon terhadap terjadinya peristiwa kehilangan. Miller (1999 dalam Carpenito, 2006) menyatakan bahwa dalam menghadapi kehilangan individu dipengaruhi oleh dukungan sosial (Support System), keyakinan religius yang kuat, kesehatan mental yang baik, dan banyaknya sumber yang tersedia terkait disfungsi fisik atau psikososial yang dialami.

Definisi berduka (skripsi dan tesis)

Berduka merupakan reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respon emosional yang normal (Suliswati, 2005). Definisi lain menyebutkan bahwa berduka, dalam hal ini dukacita adalah proses kompleks yang normal yang mencakup respon dan perilaku emosi, fisik, spiritual, sosial, dan intelektual ketika individu, keluarga, dan komunitas menghadapi kehilangan aktual, kehilangan yang diantisipasi, atau persepsi kehilangan ke dalam kehidupan pasien sehari-hari (NANDA, 2011). Dari berbagai definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa berduka merupakan suatu reaksi psikologis sebagai respon kehilangan sesuatu yang dimiliki yang berpengaruh terhadap perilaku emosi, fisik, spiritual, sosial, maupun intelektual seseorang. Berduka sendiri merupakan respon yang normal yang dihadapi setiap orang dalam menghadapi kehilangan yang dirasakan.

Faktor presdisposisi yang mempengaruhi reaksi kehilangan (skripsi dan tesis)

Faktor predisposisi yang mempengaruhi reaksi kehilangan adalah genetik, kesehatan fisik, kesehatan jiwa, pengalaman masa lalu (Suliswati, 2005).

.1. Genetik Individu yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga yang mempunyai riwayat depresi biasanya sulit mengembangkan sikap  optimistik dalam menghadapi suatu permasalahan, termasuk menghadapi kehilangan.
2. Kesehatan fisik Individu dengan keadaan fisik sehat, cara hidup yang teratur, cenderung mempunyai kemampuan mengatasi stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang sedang mengalami gangguan fisik.
.3. Kesehatan jiwa/mental Individu yang mengalami gangguan jiwa terutama mempunyai riwayat depresi, yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya, pesimistik, selalu dibayangi oleh masa depan yang suram, biasanya sangat peka terhadap situasi kehilangan.
4. Pengalaman kehilangan di masa lalu Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang bermakna di masa kanak-kanak akan mempengaruhi kemampuan individu dalam menghadapi kehilangan di masa dewasa.

Tipe Kehilangan (skripsi dan tesis)

 Potter dan Perry (2005) menyatakan kehilangan dapat dikelompokkan dalam 5 kategori: kehilangan objek eksternal, kehilangan lingkungan yang telah dikenal, kehilangan orang terdekat, kehilangan aspek diri, dan kehilangan hidup.
1. Kehilangan objek eksternal
 Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi usang, berpindah tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam. Bagi seorang anak benda tersebut mungkin berupa boneka atau selimut, bagi seorang dewasa mungkin berupa perhiasan atau suatu aksesoris pakaian. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang tehadap benda yang hilang tergantung pada nilai yang dimiliki orang tersebut terhadap benda yang dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.
.2. Kehilangan lingkungan yang telah dikenal
Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah di kenal mencakup meninggalkan lingkungan yang telah dikenal selama periode tertentu atau kepindahan secara permanen. Contohnya, termasuk pindah ke kota baru, mendapat pekerjaan baru, atau perawatan di rumah sakit. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah di kenal dan dapat terjadi melalui situasi maturasional, misalnya ketika seorang lansia pindah ke rumah perawatan, atau situasi  situasional, contohnya kehilangan rumah akibat bencana alam atau mengalami cedera atau penyakit. Perawatan dalam suatu institusi mengakibatkan isolasi dari kejadian rutin. Peraturan rumah sakit menimbulkan suatu lingkungan yang sering bersifat impersonal dan demoralisasi. Kesepian akibat lingkungan yang tidak dikenal dapat mengancam harga diri dan membuat berduka menjadi lebih sulit.
.3. Kehilangan orang terdekat
Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara sekandung, guru, pendeta, teman, tetangga, dan rekan kerja. Artis atau atlet yang telah terkenal mungkin menjadi orang terdekat bagi orang muda. Riset telah menunjukkan bahwa banyak hewan peliharaan sebagai orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan, pindah, melarikan diri, promosi di tempat kerja, dan kematian.
4. Kehilangan aspek diri
Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau psikologis. Kehilangan bagian tubuh dapat mencakup anggota gerak, mata, rambut, gigi, atau payudara. Kehilangan fungsi fisiologis mencakup kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, mobilitas, kekuatan, atau fungsi sensoris. Kehilangan fungsi psikologis termasuk kehilangan ingatan, rasa humor, harga diri, percaya diri, kekuatan, respek atau cinta. Kehilangan aspek diri ini dapat terjadi akibat penyakit, cedera, atau perubahan perkembangan atau situasi. Kehilangan seperti ini, dapat menurunkan kesejahteraan individu. Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan konsep diri.
5. Kehilangan hidup
Sesorang yang menghadapi kematian menjalani hidup, merasakan, berpikir, dan merespon terhadap kejadian dan orang sekitarnya sampai terjadinya kematian. Perhatian utama sering bukan pada kematian itu sendiri tetapi mengenai nyeri dan kehilangan kontrol. Meskipun sebagian besar orang takut tentang kematian dan gelisah mengenai kematian, masalah yang sama tidak akan pentingnya bagi setiap orang. Setiap orang berespon secara berbeda-beda terhadap kematian. orang yang telah hidup sendiri dan menderita penyakit kronis lama dapat mengalami kematian sebagai suatu perbedaan. Sebagian menganggap kematian sebagai jalan masuk ke dalam kehidupan setelah kematian yang akan mempersatukannya dengan orang yang kita cintai di surga. Sedangkan orang lain takut perpisahan, dilalaikan, kesepian, atau cedera. Ketakutan terhadap kematian sering menjadikan individu lebih bergantung. Maslow (1954 dalam Videback, 2008) tindakan manusia dimotivasi oleh hierarki kebutuhan, yang dimulai dengan kebutuhan fisiologis, (makanan, udara, air, dan tidur), kemudian kebutuhan keselamatan (tempat yang aman untuk tinggal dan bekerja), kemudian kebutuhan keamanan dan memiliki.  Apabila kebutuhan tersebut terpenuhi, individu dimotivasi oleh kebutuhan harga diri yang menimbulkan rasa percaya diri dan adekuat. Kebutuhan yang terakhir ialah aktualisasi diri, suatu upaya untuk mencapai potensi diri secara keseluruhan. Apabila kebutuhan manusia tersebut tidak terpenuhi atau diabaikan karena suatu alasan, individu mengalami suatu kehilangan.
Beberapa contoh kehilangan yang relevan dengan kebutuhan spesifik manusia yang diindentifikasi dalam hierarki Maslow antara lain:
1. Kehilangan fisiologis
 kehilangan pertukaran udara yang adekuat, kehilangan fungsi pankreas yang adekuat, kehilangan suatu ekstremitas, dan gejala atau kondisi somatik lain yang menandakan kehilangan fisiologis.
2. Kehilangan keselamatan
 kehilangan lingkungan yang aman, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan publik, dapat menjadi titik awal proses duka cita yang panjang misalnya, sindrom stres pasca trauma. Terungkapnya rahasia dalam hubungan profesional dapat dianggap sebagai suatu kehilangan keselamatan psikologis sekunder akibat hilangnya rasa percaya antara klien dan pemberi perawatan.
3. Kehilangan keamanan dan rasa memiliki
kehilangan terjadi ketika hubungan berubah akibat kelahiran, perkawinan, perceraian, sakit, dan kematian. Ketika makna suatu hubungan berubah, peran dalam keluarga atau kelompok dapat hilang. Kehilangan seseorang yang dicintai mempengaruhi kebutuhan untuk mencintai dan dicintai.
 4. Kehilangan harga diri
 kebutuhan harga diri terancam atau dianggap sebagai kehilangan setiap kali terjadi perubahan cara menghargai individu dalam pekerjaan dan perubahan hubungan. Rasa harga diri individu dapat tertantang atau dialami sebagai suatu kehilangan ketika persepsi tentang diri sendiri berubah. Kehilangan fungsi peran sehingga kehilangan persepsi dan harga diri karena keterkaitannya dengan peran tertentu, dapat terjadi bersamaan dengan kematian seseorang yang dicintai.
5. Kehilangan aktualisasi diri
 Tujuan pribadi dan potensi individu dapat terancam atau hilang seketika krisis internal atau eksternal menghambat upaya pencapaian tujuan dan potensi tersebut. Perubahan tujuan atau arah akan menimbulkan periode duka cita yang pasti ketika individu berhenti berpikir kreatif untuk memperoleh arah dan gagasan baru. Contoh kehilangan yang terkait dengan aktualisasi diri mencakup gagalnya rencana menyelesaikan pendidikan, kehilangan harapan untuk menikah dan berkeluarga, atau seseorang kehilangan penglihatan atau pendengaran ketika mengejar tujuan menjadi artis atau komposer.

Definisi kehilangan (skripsi dan tesis)

Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama rentang kehidupan, sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda (Yosep, 2011). Kehilangan adalah situasi aktual atau potensial ketika sesuatu (orang atau objek) yang dihargai telah berubah, tidak ada lagi, atau menghilang. Seseorang dapat kehilangan citra tubuh, orang terdekat, perasaan sejahtera, pekerjaan, barang milik pribadi, keyakinan, atau sense of self baik sebagian ataupun keseluruhan. Peristiwa kehilangan dapat terjadi secara tiba-tiba atau bertahap sebagai sebuah pengalaman traumatik. Kehilangan sendiri dianggap sebagai kondisi krisis, baik krisis situasional ataupun krisis perkembangan (Mubarak & Chayatin, 2007) Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah Universitas Sumatera Utara 10 dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian ataupun seluruhnya.

Bentuk dzikir yang digunakan pada terapi dzikir (skripsi dan tesis)

Menurut Hawari (2003) dalam Surat al-Ra’d ayat 28, yang artinya : “Mengingat (dzkir) kepada Allah maka hati menjadi tenteram”. Dzikir sebagai metode mencapai ketenangan hati dilakukan dengan tata-cara tertentu. Dzikir dipahami dan di ajarkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah secara keras (dzikir jahr) maupun dengan suara yang lembur( dzikir shir). Pada penelitian ini dzikir yang digunakan menggunakan dzikir bentuk shir( suara halus ) wal Lisan sesuai dengan firman Allah surat Al – A’raf ayat 55 yang artinya “Serullah tuhanmu dengan tadharu dan khufyah , bahwasanya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas” . Lafat – lafat yang diucapkan dalam terapi dzikir menggunakan dzikir shir dengan bentuk lisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Tasbih (subhanallah) Tasbih yang bermakna Maha Suci Allah. Dalil khash yang menunjukkan manusia wajib bertasbih , mengakui kesucian Allah adalah dalam firmannya dalam surat Al Ahzab ayat 42 yang bebunyi “Wa sabbihuuhu bukrotaw wa ashilla” artinya dan bertasbihlah kepada- Nya pada waktu pagi dan petang. 2) Tahmid (alhamdulillah) Tahmid (alhamdulillah) yang bermakna segala puji bagi Allah. Tahmid adalah menyatakan pujian dan kesyukuran kita kepada Allah tuhan semesta alam. Sesuai dengan firman Allah surat An-Naml ayat 59 yang artinya “ Katakanlah (Muhammad), segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba –hambanya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik , ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” 3) Tahlil (la illaha illallah) Tahlil yang bermakna tiada Tuhan selain Allah. Dalil yang menegaskan kewajiban bertahlil adalah sabda Rasulullah yang memiliki arti “Senantiasalah kamu memperbaharui imanmu dengan mengucapkan La illaha illalah”. Dengan bertahlil, manusia mengakui bahwa Allah, suci dari segala kekurangan, mengakui keesaan-Nya 4)Takbir (Allahu akbar) Takbir yang berarti Allah Maha Besar. Mengakui kebesaran Allah , Tuhan yang menciptakan segala yang ada di langit dan dibumi, dalil tentang kewajiban bertakbir tertuang didalam surat Al isra ayat 111 yang artinya” “Segala puji bagi Allah yang tidak memiliki anak dan tidak mempunyai sekutu dalam pemerintahan-Nya, tiada mempunyai penolong yang membantu-Nya untuk menolak suatu kehinaan, dan bertakbirlah Dia dengan sebenar- benarnya. 5)Hauqalah (la haula wala quwwata illa billah) Hauqallah yang bermakna tiada daya upaya dan kekuatan kecuali Allah. Hauqallah adalah mengakui bahwa tidak ada yang dapat memalingkan hamba dari maksiat selain Allah dan tidak ada kekuatan bagi hamba untuk melaksanakan taat melainkan dengan taufiqnya. Kalimat ini juga bermakna manusia menyerahkan diri atas segala yang terjadi kepada Allah . 6). Istighfar : Astaghfirullahal adzim yang bermakna saya memohon ampun kepada Allah yang maha agung. adalah tindakan memohon ampun kepada Allah yang dilakukan oleh hamba yang beriman . Tindakan ini secara harfiah dilakukan dengan mengulang – ulang perkataan dengan lafat يِالَّذَ اللهُ رِفْغَتْسَأ yang artinya aku memohon ampun kepada Allah yang maha Agung. Istigfar merupakan cermin akan kesadaran individu yang bertakwa tentang betapa banyak kesalahannya dan meminta ampun kepada Allah dan kembali kepada kebenaran sesuai dengan firman Allah surat Al imran ayat 135 yaitu “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. 7). Membaca surat Al Fatihah. Surat Al-Fatihah memiliki bermacam keistimewaan selain sebagai ummul qur’an. Didalam surat Al-Fatihah terkandung doa yang lengkap, mantera, serta obat (penyembuhan) (Shihab, 2005). Alfatihah mampu menyembuhkan segala macam penyakit pada diri manusia baik secara fisik maupun psikis, serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahan nya (Shihab, 2005). Keistimewaan tersendiri surat Al-Fatihah dibandingkan surat yang lain yaitu setiap ayat didalam surat Al-Fatihah yang dibaca akan dijawab langsung oleh Allah sehingga terdapat dialog langsung dari hamba dan Tuhan (Allah) (Makhdlori, 2008) . Dalam kondisi kepasrahan yang total maka suratul-Fatihah dapat digunakan sebagai dzikir dan pembuka dari segala sesuatu yang masih tertutup dan menghilangkan kesulitan dalam diri individu (shihab, 2005)

Tahapan terapi dzikir.(skripsi dan tesis)

Menurut Shiddieqy (2014), tahapan dalam terapi dzikir dibagi atas 3 tahap yaitu 1) Tahap persiapan Tahapan ini dimulai dengan niat, melaksanakan dengan keiklasan hanya mengharap ridho Allah, bersuci (wudhu), menghadap kiblat, duduk posisi yang nyaman , khusuk 2) Tahap pelaksaanaan Pada tahapan ini individu diajak untuk merendahkan diri dihadapan Allah dengan membaca istigfar (memohon ampunan Allah) sebanyak 3 kali . Dilanjutkan dengan membaca surat Alfatihah, dimana surat tersebut mampu menyembuhkan segala macam penyakit pada diri manusia baik secara fisik maupun psikis serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahannya, selanjutnya membaca kalimat thaibah ( tasbih, tahmid,tahlil serta takbir) yang memiliki makna pujian atas kebesaran Allah, setelah selesai membaca kalimat thaibah, dilanjutkan dengan membaca kalimat hauqalah yang memiliki makna meyerahkan diri bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk menolak qada dan qadarnya kecuali atas kehendak-Nya. Diakhiri dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 201 yang memiliki makna yang sangat dalam diantaranya meminta kebaikan dunia dan akhir dari Allah SWT. 3) Tahap penyelesaian Menarik nafas dengan berlahan dan berulang, berdiam diri sebentar setelah selesai dzikir, dilanjutkan dengan menahan minum pasca berdzikir sebentar dikarenakan akan timbul kehangatan didalam diri pasca dzikir, dikhawatirkan saat minum kehangatan itu akan hilang

Adab dalam berdzikir (skripsi dan tesis)

Menurut Shiddieqy (2014) adab dalam berdzikir dibagi atas 2 yaitu adab berdzikir secara batin dan adab berdzikir secara zhahir 1) Adab- adab berdzikir batin Seseorang yang berdzikir batin hendaknya menghadirkan hatinya, dan memahami makna yang diucapkanya 2) Adab – adab berdzikir dzahir i. Seseorang yang berdzikir hendaknya bersikap tertib, jika duduk hendaknya menghadapk kiblat dengan sikap khusuk, merendahkan diri kepada Allah, tenang dan menundukan kepala. ii. Tempat berdzikir suci, bersih, terlepas dari segala yang meragukannya. iii. Sebaiknya sebelum melakukan dzikir terlebih dahulu membersihkan mulut (berkumur atau gosok gigi). iv. Berdzikir dengan suara yang halus dan lembut

Esensi Dzikir (skripsi dan tesis)

Dzikir, didalamnya banyak terkandung esensi-esensi psikologis yaitu a. Dzikir sebagai media relaksasi Fokus dari relaksasi ini tidak pada pengendoran otot namun pada frase tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme teratur disertai sikap pasrah terhadap objek transendensi yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa nama-nama Tuhan atau kata-kata yang memiliki makna menenangkan. Pengucapan lafadz dzikir disertai dengan keyakinan terhadap kasih sayang-Nya,perlindungan-Nya, dan sifat-sifat baik- Nya akan menimbulkan rasa tenang dan aman (Purwanto, 2006). b. Dzikir sebagai media katarsis Dzikir akan selalu berhubungan dengan doa serta memiliki ikatan yang kuat, terlebih dalam kaitannya sebagai pengobat hati, maka dzikir lebih utama disampaikan dengan doa yang tulus. (haq, 2011) c. Dzikir sebagai media pengharapan terhadap Tuhan Dzikir akan menimbulkan perasaaan optimis kepada Allah SWT, bahwa Allah senantiasa membantu individu yang menghadapi musibah yang sedang menimpa.(haq, 2011) sesuai dengan firman Allah surat Al Insyirah ayat 7 dan 8 yang artinya: “Maka apabila telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain nya, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. d. Dzikir dan doa sebagai media mengadu kepada Allah Dzikir dan doa memiliki hubungan yang sangat erat. Allah akan memuliakan umatnya yang berdoa semenjak mereka hidup hingga diakhirat. Memohonlah hanya kepada Allah disaat hati gundah maupun lapang. Doa yang baik tidak terlepas dari mengingat, memuji kebesaran serta keagungan-Nya (Haq,2011). e. Dzikir media untuk pasrah kepada Allah Berdzikir membuat seseorang terus ingat kepada Sang Khalik. Mereka akan senantiasa bahagia dan ridha terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya (Haq, 2011) f. Dzikir secara emosional dapat memunculkan emosi-emosi positif, seperti perasaan cinta, bahagia, dan nikmat (Subandi, 2009) g. Dzikir memberikan ketenangan , ketentraman , menurunkan rasa cemas, stres serta depresi (Haryanto, 2002) h. Dzikir secara fungsional dapat sebagai tempat menetramkan jiwa, obat penyakit hati serta mampu mendatangkan kebahagiaan bagi individu yang mengamalkannya ( Syukur, 2006 )

Bentuk –bentuk Dzikir (skripsi dan tesis)

Dzikir merupakan pengalaman ruhani yang dapat dinikmati oleh pelakunya, hal ini yang dimaksud oleh Allah sebagai penentram hati. Ata (2000), membagi dzikir atas tiga bagian: dzikir jali (dzikir jelas, nyata), dzikir khafi (dzikir samar-samar) dan dzikir haqiqi (zikir sebenar-benarnya) a. Dzikir jali Dzikir jali adalah suatu perbuatan mengingat Allah dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung pujian, rasa syukur serta doa yang ditujukan kepada Allah, dengan menggunakan suara secara jelas sehingga mampu menggerakan hati untuk menyertai dzikir tersebut. b. Dzikir khafi Dzikir khafi adalah dzikir yang dilakukan secara khusuk oleh ingatan, hati disertai dzikir lisan maupun tidak. individu yang mampu melakukan dzikir ini akan merasa bahwa Allah selalu dekat di hati Individu tersebut selalu merasa kehadiran Allah di segala Aspek kehidupannya. c. Dzikir haqiqi Dzikir haqiqi adalah dzikir yang dilakukan dengan seluruh jiwa raga, lahir dan batin, kapan pun dan dimana pun, dengan menjaga seluruh jiwa raga dari larangan Allah serta mengerjakan apa yang diperintah-Nya. Untuk mencapai tingkat dzikir ini perlu dijalani latihan mulai tingkat dzikir jali dan tingkat dzikir khafi . Dzikir lisan menurut Hawari (2002) adalah dzikir yang dilafalkan secara lisan dengan suara yang jelas. Adapun bacaan –bacaan yang dianjurkan dalam dzikir lisan sebagai berikut a) Membaca tasbih (subhanallah) yang mempunyai arti Maha Suci Allah. b) Membaca tahmid (alhamdulillah) yang bermakna segala puji bagi Allah. c) Membaca tahlil (la illaha illallah) yang bermakna tiada Tuhan selain Allah. d) Membaca takbir (Allahu akbar) yang berarti Allah Maha Besar. e) Membaca Hauqalah (la haula wala quwwata illa billah) yang bermakna tiada daya upaya dan kekuatan kecuali Allah. f) Hasballah: Hasbiallahu wani’mal wakil yang berarti cukuplah Allah dan sebaik-baiknya pelindung. g) Istighfar : Astaghfirullahal adzim yang bermakna saya memohon ampun kepada Allah yang maha agung. h) Membaca lafadz baqiyatussalihah: subhanllah wal hamdulillah wala illaha illallah Allahu akbar yang bermakna maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. i) Membaca surat Alfatihah. Surat Alfatihah memiliki bermacam keistimewaan selain sebagai ummul qur’an. Didalam surat alfatihan terkandung doa yang lengkap , mantera, serta obat (penyembuhan) ( shihab, 2005). Al-Fatihah mampu menyembuhkan segala macam penyakit pada diri manusia baik secara fisik maupun psikis, serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahan nya. (shihab, 2005). Keistimewaan dari surat Al-Fatihah dibandingkan surat yang lain yaitu setiap ayat didalam surat Alfatihah yang dibaca akan dijawab langsung oleh Allah sehingga terdapat dialog langsung dari hamba dan Tuhan (Allah) (Makhdlori, 2008) . Dalam kondisi kepasrahan yang total maka suratul-fatiha dapat digunakan sebagai dzikir dan pembuka dari segala sesuatu yang masih tertutup dan menghilangkan kesulitan dalam diri individu (shihab, 2005) Menurut Syukur (2012), inti dari dzikir adalah perwujudan diri manusia sebagai hamba yang berkewajiban mengabdikan diri hanya kepada Allah. Sudah barang tentu pengabdian manusia ini tidak hanya ditunjukkan dengan ucapan saja melainkan ditunjukkan pula dalam keseluruhan gerak tubuh, sebagaimana kalangan sufi melukiskan dzikir 7 bagian tubuh yaitu: i. Dzikir dua mata dengan menangis sewaktu ingat dan menyebut nama Allah. ii. Dzikir dua telinga dengan mendengarkan ajaran-ajaran Allah penuh perhatian. iii. Dzikir lidah dengan sanjungan dan pujian kepada Allah. iv. Dzikir dua tangan dengan suka memberikan pertolongan kepada orang lain. v. Dzikir badan dengan kesetiaan dan pemenuhan kewajiban. vi. Dzikir hati dengan takut kepada Allah disertai harapan kepada-Nya. vii. Dzikir ruh dengan penyerahan sepenuhnya serta ridla kepada-Nya Bentuk-bentuk dzikir menurut sholeh (2010) adalah sebagai berikut: (1), Dzikir qauli atau jahr, yakni membaca lafal tasbih, tahmid, tahlil, dan sebagainya dengan suara jelas. Tujuannya agar dapat membimbing hati agar selalu ingat kepada-Nya. Lisan yang biasa berdzikir maka dengan sendirinya menguatkan ingatan yang bersangkutan kepada keberadaan Tuhan ; (2) ingat Tuhan dalam hati tanpa menyebut nama-Nya disebut dengan dzikir qalby atau sirr ; (3) Dzikru al-ruh yaitu dzikir dalam arti seluruh jiwa raga tertuju untuk selalu ingat kepada-Nya; (4) Dzikir fi’li (aktifitas sosial) yakni berdzikir dengan melakukan kegiatan praktis, amal shalih, dan menginfakan sebagian harta untuk kepentingan sosial, melakukan hal yang berguna bagi pembangunan bangsa serta agama

Tujuan Pemberian Terapi dzikir (skripsi dan tesis)

Tujuan pemberian terapi dzikir sebagai terapi yang memiliki tujuan pengobatan serta menumbuhkan rasa ikhlas sehingga individu mampu menerima peristiwa yang menyakitkan dan bangkit dari kondisi tersebut. Menurut Nashori (2007), ciri individu yang telah berada pada kondisi ikhlas adalah sebagai bagai berikut a) Kesadaran spiritual, yaitu kesadaran bahwa keadaan yang tidak menyenangkan merupakan ujian dari Allah , dan sesuai dengan firman Allah surat Al ankabut ayat 2 yang artinya “Apakah mereka mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan” kami telah beriman” dan meraka tidak di uji” . b) Kesiapan psikologi yaitu kesiapan untuk menerima stimulus yang tidak menyenangkan. Tahap ini kelanjutan dari tahap kesadaran spiritual setelah menyadari bahwa seseorang yang hebat harus melewati ujian, maka akan tumbuh didalam diri kesiapan untuk menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. c) Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban yaitu meyakini bahwa kesulitan yang allah berikan tidak akan melebihi kapasitas yang mampu individu terima. d) Pertaubatan . melakukan permohonan ampun atas segala dosa kepada Allah. Individu menyadari bahwa sebagai manusia , banyak melakukan dosa sehingga adanya ujian sebagai akibat dari perbuatan manusia yang diberikan Allah kepada Hambanya. e) Pencarian hikmah, yaitu keyakinan bahwa ada hikmah dibalik peristiwa yang diberikan Allah sesuai denga firman Allah dalam Al- Qur’ an surat albaqarah ayat 16 yaitu : “Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” f) Berfikir positif tentang masa depan. Ada keyakinan akan adanya perbaikan keadaaan setelah berlangsungnya peristirwa yang tidak menyenangkan.

Pengertian Terapi Dzikir (skripsi dan tesis)

Dzikir berasal dari bahasa Arab, adz-dzikr yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan berbuat baik. Jika kata dzikir dikaitkan dengan Islam, maka memiliki pengertian : a. Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada Allah SWT. Doa membuat manusia menyadari bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini milik Allah SWT, oleh karena itu untuk mewujudkan segala keinginan, dan cita-citanya, manusia butuh pertolongan-Nya. b. Dzikir berarti berbuat baik (beramal saleh) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW. Beberapa di antaranya adalah: berbakti kepada orangtua; berlaku jujur; objektif; dan adil; menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, sekalipun tidak mengenalnya dengan baik; serta mengajak kepada kebaikan, dan melarang terjadinya kemungkaran; c. Dzikir merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Sesuai dengan surat Al – Ahzab ayat 41-42 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama- Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. 33/Al-Ahzab: 41-42)” Menurut Al Munawir (2002), dzikir dari segi bahasa berasal dari kata “dzakara- yadzkurudzikran” yang berarti menyebut, mengingat dan memberi nasihat. Dalam arti umum, dzikrullah adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungan-Nya yang meliputi hampir semua bentuk ibadah dan perbuatan baik seperti tasbih, tahmid, shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, melakukan perbuatan baik dan menghindarkan diri dari kejahatan. Dalam arti khusus, dzikrullah adalah menyebut nama Allah sebanyak- banyaknya dengan memenuhi tata tertib, metode, rukun dan syarat-syaratnya (Syafi’i, 2005). Dalam pernyataan Hawari (2002), maka dzikir adalah mengingat Allah dengan segala sifat-sifatNya, pengertian dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir itu sendiri (dalam arti sempit), melainkan meliputi segala bacaan, shalat, ataupun perilaku kebaikan lainnya sebagaimana yang diperintahkan dalam agama. Menurut Askat (2002), dzikir adalah segala sesuatu atau tindakan dalam rangka mengingat Allah SWT, mengagungkan asma-Nya dengan lafal-lafal tertentu, baik yang dilafalkan dengan lisan atau hanya diucapkan dalam hati saja yang dapat dilakukan di mana saja tidak terbatas pada ruang dan waktu. Djubair (2003) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzikir itu adalah semua ketaatan yang diniatkan karena Allah SWT, hal ini berarti tidak terbatas masalah tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, tapi semua aktifitas manusia yang diniatkan kepada Allah SWT. Nawawi (2005), dalam kitab al- Adzkar berpendapat bahwa sesungguhnya keutamaan dzikir tidak terhingga, baik tasbih, tahmid, tahlil, takbir maupun kalimat yang lain, bahkan semua amal dalam rangka taat kepada Allah termasuk aktivitas dzikrullah. Haryanto (Sangkan,2010) menyatakan bahwa, dzikir sebenarnya merupakan salah satu bentuk meditasi transendental, ketika seseorang khusuk, objek pikir atau stimulasi tertuju pada Allah. Menurut Zohar (Sangkan, 2010) Transenden merupakan sesuatu yang membawa individu mengatasi masa kini, mengatasi rasa suka atau duka, bahkan mengatasi rasa diri individu saat ini. Dzikir ialah mengingat nikmat-nikmat Tuhan. Lebih jauh, berdzikir meliputi pengertian menyebut lafal-lafal dzikir dan mengingat Allah dalam setiap waktu, takut dan berharap hanya kepada-Nya, merasa yakin bahwa diri manusia selalu berada di bawah kehendak Allah dalam segala hal dan urusannya (Shiddieqy, 2014). Menurut Hawari (2003) dalam Surat al-Ra’d ayat 28, yang artinya “Mengingat (dzkir) kepada Allah maka hati menjadi tenteram”. Dzikir sebagai metode mencapai ketenangan hati dilakukan dengan tata-cara tertentu. Dzikir dipahami dan di ajarkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah secara keras (dzikir jahr) maupun dengan suara yang lembur( dzikir shir) , dan dengan kalimat-kalimat thayyibah yang memfokus, dari kalimat syahadat La ilaha illa Allah ke lafazh Allah dan sampai ke lafazh hu. Terapi dzikir adalah salah satu bentuk psikoterapi yang mengandung unsur spritual, kerohanian, keagamaan, yang dapat membangkitkan harapan, kepercayaan dalam diri hingga terciptanya kestabilan jiwa (Hawari, 2013). Kondisi spiritualitas dalam suatu kehidupan memiliki peranan penting dalam mengatasi kecemasan menghadapi tantangan hidup. Spiritualitas tidak selalu terikat dengan denominasi agama, tetapi digambarkan sebagai pencarian makna kepercayaan pada kekuatan yang maha besar, atau perasaan yang berhubungan dengan segala hal tentang cinta, kedamaian serta kenyamanan(Leasy,M.2016). Dengan berdzikir, manusia akan menyadari bahwa ada kekuasaan dari segala yang ada di dunia ini, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, dalam mewujudkan segala yang diinginkan dan diharapkan, manusia membutuhkan pertolongan-Nya. Dzikir dapat pula berarti berbuat baik atau beramal saleh guna mendekatkan diri kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rasullullah saw, misalnya dengan berbakti kepada orang tua, berlaku jujur, melakukan kebaikan dan menghindari kemungkaran. Kekuatan dzikir sangat dahsyat bagi kehidupan. Dzikir merupakan salah satu bentuk komitmen keberagamaan seseorang. Dzikir juga merupakan kunci ketenangan jiwa, karena menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah. Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dzikir merupakan suatu bentuk ibadah (sholat, doa, membaca Alqur’an) dan perbuatan baik yang diniatkan hanya kepada Allah, sedangkan terapi dzikir adalah salah satu psikoterapi yang mengandung unsur spiritual yang dapat membangkitkan harapan, kepercayaan dalam diri hingga terciptaanya kestabilan jiwa

Intervensi Penanggulangan Grief (skripsi dan tesis)

Berbagai intervensi dilakukan untuk mengatasi grief akibat kehilangan diantaranya menurut Leary (2016) 1. Support Group Terapy adalah suatu proses terapi pada suatu kelompok yang memiliki permasalahan yang sama untuk mengkondisikan dan memberi penguatan pada kelompok maupun perorangan dalam kelompok sesuai dengan permasalahannya. 2. Social Support adalah suatu kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang dirasakan individu dari orang-orang atau kelompok-kelompok lain. 3. Spirituality Therapy adalah pendekatan terhadap kepercayaan yang dianut oleh klien. Terapi spiritual lebih cenderung untuk menyentuh satu sisi spiritualitas manusia, dan mengembalikan ke sebuah kesadaran darimana berasal, alasan mengapa manusia diciptakan, tugas – tugas yang harus dilakukan manusia didunia, beberapa hal yang pantas dilakukan didunia, hal- hal yang tak pantas dilakukan didunia, mengembalikan manusia kekesucin. Spiritualitas berbeda dengan agama . Didalam islam terdapat salah satu bentuk terapi yang terdapat unsur spiritualitas terapi yaitu terapi dzikir. Terapi dzikir akan membawa individu untuk dapat menumbuhkan rasa iklas dalam diri terhadap peristiwa yang dialami . 4. Konseling adalah proses interaksi antara dua orang individu yang dilakukan dalam suasana yang profesional, bertujuan dan berfungsi sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien

Pengukuran tingkat Grief (skripsi dan tesis)

Berbagai pengukuran telah dkembangkan untuk melihat Grief pasca kematian. Berbagai pengukuran tersebut memuat mengenai kondisi yang berbeda sesuai dengan tujuan dari alat ukur itu sendiri. Lebih khusus lagi dalam pengukuran stres pada grief pasca perinatal loss, diantaranya terdapat Perinatal Bereavement Scale (PBS) yang memuat mengenai pikiran dan perasaan, termasuk kesedihan, rasa bersalah, kemarahan, dan keasyikan dengan kerugian (Theut, 1989). Pengukuran pasca kematian perinatal lainnya adalah menurut Toedter, Lasker, & Alhadeff (Sinaga, 2013 ) yang mengembangkan alat ukur grief bagi orang tua yang mengalami kematian anak yang disebut sebagai Perinatal Grief Scale (PGS) dimana dalam pengukuran tersebut mengemukakan tiga aspek dari perinatal grief scale yaitu active grief, difficulty coping, dan despair. Active grief menggambarkan perasaan sedih, merindukan bayi yang telah tiada, menangis untuk bayi yang telah tiada, dan secara umum menggambarkan ekspresi-ekspresi grief yang terlihat. Difficulty coping mengukur perilaku adaptif, dimana individu mengalami kesulitan dalam menghadapi rutinitas sehari-hari maupun orang lain. Despair menggambarkan perasaan tidak berharga, rasa bersalah, kerentanan, dan menunjukkan potensi terjadinya efek yang serius dan berkepanjangan dari kehilangan bayi yang dialami (sinaga, 2013). Pengukuran lain yang digunakan bagi orangtua yang mengalami kematian anak adalah Texas Revised Inventory of Grief-Present Scale (Wilson, 2006). Prinsip dari pengukuran Texas Revised Inventory of Grief-Present Scale adalah mengukur kecenderungan kesedihan patologis yang dimiliki seorang individu. Pengukuran ini memuat pertanyaan fenomena yang berhubungan dengan kesedihan, sehingga dapat digunakan untuk mengukur (1) kerugian non-penerimaan; (2) kerinduan/kehilangan almarhum; (3) perasaan menjadi marah / marah; dan (4) menangis / kesedihan. Individu akan menganggapinya dalam bentuk pernyataan memilih yaitu Sepenuhnya Salah/completely false, sebagian salah/Mostly False, salah dan benar/True dan False, sebagian benar/Mostly True , dan sepenuhnya benar/Completely True. Penelitian ini menggunakan Perinatal Grief Scale (PGS), dikarenakan kekhususan karakteristik subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu yang mengalami Perinatal loss

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Grief (skripsi dan tesis)

Grief adalah reaksi normal akibat kehilangan dan merupakan pengalaman yang sangat personal. Menurut Aiken (1994, dalam Fahransa,2008) faktor – faktor yang mempengaruhi proses terjadinya grief antara lain: Hubungan dengan orang yang meninggal; kepribadian; jenis kelamin orang yang ditinggalkan, serta konteks budaya dimana kematian terjadi. Papalia (2007) mengatakan bahwa grief merupakan sebuah pengalaman yang sangat universal, namun dapat dipengaruhi oleh konteks budaya. Menurut Turner& Helms (1995,dalam Fahransa, 2008) durasi dan insensitas Grief bervariasi tergantung siapa yang meninggal, serta kapan peristiwa tersebut terjadi. Jika kematian dianggap wajar, seperti pada orang lanjut usia yang meninggal dunia intensitas durasi dari grief tidak sebesar kehilangan secara mendadak karena meninggalkan efek psikologis yang sangat dalam. Shapiro (2008) berpendapat bahwa durasi grief bergantung pada banyak faktor seperti : kelekatan (attachment) serta cinta terhadap orang yang meninggal, selain itu adanya kesiapan psikologis atas kehilangan tersebut. Orang dewasa biasanya dapat mengatasi grief dua hingga tiga tahun pasca kematian, terutama kematian pasangan ( Shapiro,2008), akan tetapi dampak kematian anak terhadap orang tua yang ditinggalkan memiliki dampak yang lebih parah. . Masalah emosional yang dialami orang tua akibat kematian anak seringkali muncul hingga 10 tahun setelah peristiwa kematian, dan bereavement yang dialami melibatkan proses grief yang berlangsung seumur hidup (Shapiro,2008) . Pria mengalami grief yang berbeda dengan wanita (Shander,1998). Perbedaan ini disebabkan baik pria maupun wanita telah disosialisasikan dengan peran tertentu. Pria disosialisasikan untuk menjadi tidak emosional , mandiri dan memilikin kontrol diri. Sementara wanita disosialisasikan untuk menjadi pengasuh dan memiliki empati. Wanita diharapkan memiliki kepekaaan terhadap perasaan orang lain, karena secara tradisional wanita diharapkan menjadi istri serta ibu untuk mengurus anak-anak. (Sarwono, 1999) Perbedaan sosialisasi peran ini juga mempengaruhi grief yang dirasakan oleh orang tua ketika mengalami kematian anak. Ayah harus menunjukan kontrol diri yang kuat dan tidak boleh menangis dibandingkan ibu (Shander,1998)

Aspek- Aspek Grief (skripsi dan tesis)

Turner & Helms (dalam Cahyasari, 2015), menyebutkan bahwa ada beberapa aspek dari grief secara umum, adalah sebagai berikut yaitu:
a. Denial Of Loss, pada fase ini orang yang ditinggalkan tidak percaya dan menyangkal kenyataan bahwa orang yang dicintai telah tiada. Reaksi yang biasanya muncul pada fase ini adalah “Tidak mungkin dia sudah meninggal.” b. Realization Of Loss, pada fase ini orang yang ditinggalkan secara emosional mulai menyadari bahwa orang yang dicintainya memang sudah meninggal. Umumnya reaksi yang muncul adalah “Ya Tuhan, hal ini memang terjadi, dia sudah pergi untuk selamanya.”
 c. Feeling of abandonment, alarm, and anxiety, pada fase ini orang yang ditinggalkan merasa khawatir dan gelisah. Karena telah ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, reaksi yang biasanya muncul pada fase ini adalah “Tuhan, bagaimana saya menjalani semua ini sendirian?”
d. Despair, crying, physical numbness, mental confusion, indecisiveness pada fase ini orang yang ditinggalkan akan merasa putusasa, menangis, mati rasa, bingung dan bimbang akibat kematian orang yang dicintai.
e. Restlessness (a product of anxiety), insomnia, loss of appetite, irritability, loss of self control, wondering mind. Pada fase ini orang yang ditinggalkan akan mengalami keresahan (hasil dari kecemasan), insomnia, nafsu makan hilang, cepat marah, kontrol diri menurun, serta pikiran kacau.
f. Pining (the physical pain and agony of grieving) and search for some token remembrance of the lost love abject. Pada fase ini orang yang ditinggalkan akan merasa merana, timbulnya sakit fisik danenderitaan atas grief. Selain itu orang yang ditinggalkan akan mencari benda-benda sebagai kenang- kenangan yang mengingatkan pada orang yang telah meninggal.
Menurut Toedter & Lasker (2001), Grief pasca Perinatalloss berdasarkan Aspek terdiri atas 3 hal yaitu
a. Active grief yaitu kondisi kesedihan/rasa dukacita yang mengikuti stres serta ekspresi kondisi tersebut baik secara nampak maupun tak nampak. Contoh dari active grief, sering menangis, mudah murung, merasa tertekan
. b. Difficulty coping yaitu kesulitan dalam melakukan coping dari kondisi grief yang dialami individu, serta berpengaruh terhadap hubungan interaksi individu didalam lingkungan sosial.
c. Despair adalah kondisi keputusasaan yang dialami individu dalam merespon grief yang dihadapinya.

Tahapan -Tahapan Grief (skripsi dan tesis)

Ada beberapa teori mengenai tahap-tahap grief menurut para ahli: a) Menurut Kubler-Ross (Sari,2015) menetapkan lima tahap Grief yaitu: Penyangkalan (denial) adalah syok dan ketidakpercayaan tentang kehilangan; Kemarahan (anger) dapat diekspresikan kepada Tuhan, keluarga,teman atau diri sendiri; Tawar-menawar (bargaining) terjadi ketika individu menawar untuk mendapat lebih banyak waktu dalam upaya memperlama kehilangan yang tidak dapat dihindari; Depresi terjadi ketika kesadaran akan kehilangan menjadi akut; Penerimaan (accepted) terjadi ketika individu memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia menerima kematian/ kondisi yang terjadi. b) Bowlby (Sari, 2015) mendeskripsikan proses Grief akibat suatu kehilangan memiliki empat fase yaitu: Mati rasa dan penyangkalan terhadap kehilangan; Kerinduan emosional akibat kehilangan orang yang dicintai dan memprotes kehilangan yang tetap ada; Kekacauan kognitif dan keputusasaan emosional, mendapatkan dirinya sulit melakukan fungsi dalam kehidupan sehari-hari; Reorganisasi dan reintegrasi kesadaran diri sehingga dapat mengembalikan hidupnya. c) Menururt John Harvey (Sari, 2015) terdapat 3 tahap grief, yaitu: Syok, menangis dengan keras, dan menyangkal; Instruksi pikiran, distraksi dan meninjau kembali kehilangan secara obsesif; Menceritakan kepada orang lain sebagai cara meluapkan emosi dan secara kognitif menyusun kembali peristiwa kehilangan. d) Teori Rodebaugh (Sari, 2015) menjelaskan proses grief sebagai suatu proses yang melalui empat tahap, yaitu : Reeling : klien mengalami syok, tidak percaya, atau menyangkal; Merasa (feeling) : klien mengekspresikan penderitaan yang berat, rasa bersalah, kesedihan yang mendalam, kemarahan, kurang konsentrasi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, dan ketidaknyamanan fisik yang umum; Menghadapi (dealing) : klien mulai beradaptasi terhadap kehilangan dengan melibatkan diri dalam kelompok pendukung, terapi dukacita, membaca dan bimbingan spiritual; Pemulihan (healing) : klien mengintegrasikan kehilangan sebagai bagian kehidupan dan penderitaan yang akut berkurang. Pemulihan tidak berarti bahwa kehilangan tersebut dilupakan atau diterima. e) Teori Sander (1998) tentang tahap grief terdiri atas 5 tahap yaitu Shock : subyek merasa tidak percaya, kebingungan,gelisah, rasa tidak berdaya, serta mengambil jarak psikologis dari diri sendiri; Awareness of loss : subyek mengalami konfliks emosional, stres yang berkepanjangan, sensitif yang berlebihan, kecemasan akan perpisahan, adanya rasa marah serta rasa bersalah. Tahap ini juga subyek mengalami disorganisasi emosional yang intens; Conservation / Withdrawal : menarik diri , sistem imun melemah, lelah, hibernasi; Healing : pada tahap ini subyek mulai mengambil kendali, mengakhiri peran yang lama, membentuk identitas baru, memaafkan dan melupakan , mencari makna serta menutup lingkaran peristiwa yang terjadi; Renewal pada tahap ini subyek mulai membangun kesadaran diri yang baru , belajar menerima tanggung jawab, belajar untuk hidup tanpa kehadiran orang yang telah tiada, berfokus pada kebutuhan dalam diri dan memperhatikan hal-hal diluar diri. Kesimpulan yang dapat diambil dari tahap–tahap proses grief menurut para ahli dimulai dengan tahap penyangkalan, dan diakhiri dengan tahap penerimaan atau pemulihan, sehingga terbentuklah cara pandang baru tentang kehidupan yang baru. Sementara tahap-tahap grief yang peneliti gunakan untuk penelitian ini merujuk pada tahap-tahap grief dari Sander (1998) karena mewakili kondisi yang dialami oleh orang tua yang kehilangan anak.

Pengertian Grief Pasca Perinatalloss (skripsi dan tesis)

Kematian perinatal (perinatal loss) adalah kematian janin dalam rahim pada usia kehamilan > 20 minggu dan berat janin > 500 gram (kamus kebidanan, 2014). Menurut Manuaba (2007) perinatal loss adalah kematian janin sejak berumur di atas 20 minggu dalam uterus, kematian bayi baru lahir serta kematian bayi yang berumur 7 hari di luar kandungan. Menurut American Academy of Family Physician (2007) mengemukakan bahwa perinatal loss merupakan kehamilan yang berakhir secara tiba-tiba ditandai dengan kematian fetus. Kematian perinatal (perinatal loss) dibagi atas 4 macam penyebab secara etiologi yaitu (a) Fetal, penyebabnya 25-40% seperti anomali atau malformasi kongenital mayor, kelainan kromosom, janin yang hiperaktif, serta adanya infeksi akibat virus maupun bakteri; (b) Placental, penyebabnya 25-35% seperti abruption, kerusakan tali pusat, infeksi plasenta serta selaput ketuban, plasenta previa, pendarahan janin ke ibu; (c) Maternal, penyebab 5-10%nya seperti diabetes melitus, hypertensi, ruptus uterus dan adanya trauma pada ibu, epelepsi, anemia berat; (d) Sekitar 10 % kematian janin tetap tidak dapat dijelaskan. Krakovsky (2006) mengemukan bahwa kehamilan tidak berhasil sampai ke persalinan hampir selalu menimbulkan shock. Peristiwa tersebut dapat menimbulkan trauma fisik maupun psikologis. Menurut Khon &Moffit (2002) , perinatal loss dapat membuat individu shock, denail, stres, cemas, grief serta depresi . Ibu dengan kasus perinatal loss akan mengalami fase grief. Grief merupakan istilah yang mengindikasikan reaksi alamiah yang terjadi pada individu akibat kehilangan (baik berupa primary losses/actual losses maupun secondary losses/symbolic losses) yang meliputi reaksi fisik, psikologis (emosi dan kognisi), perilaku, sosial dan spiritual (Harvey dalam Fahransha, 2008). Kondisi objektif individu yang mengalami kehilangan seseorang yang berharga bagi individu tersebut dikenal dengan istilah bereavement sedangkan mourning/grief work adalah respon kehilangan dan duka cita sebagai usaha mengatasinya dan respon untuk belajar hidup dengan apa yang telah terjadi (Nabe & Corr, 2009). Dalam pernyataan lain disebutkan bahwa grief atau rasa berduka cita merupakan reaksi terhadap kehilangan seseorang dimana individu tersebut mengalami penderitaan emosional akibat sesuatu atau seseorang yang dicintai atau memiliki harapan besar telah menghilang (Smith dalam Lim, 2013). Konsep grief telah seringkali dibahas pada berbagai literatur yang berhubungan dengan berbagai peristiwa kehilangan dalam hidup seseorang, seperti kematian dan pemutusan ikatan emosional yang penting. Menurut Santrock (2007), duka cita (grief) adalah kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa, sedih, dan kesepian yang menyertai disaat individu kehilangan orang yang dicintai. Grief, menurut Papalia dkk (2008) ialah kehilangan, karena kematian seseorang yang dirasakan dekat dengan yang sedang berduka dan proses penyesuaian diri kepada kehilangan. Grief menurut Chaplin (2014) adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan disertai rasa menderita, dikutin dengan sedu sedan serta tangisan

mekanisme koping (skripsi dan tesis)

Secara umum ada dua mekanisme koping yang umum digunakan dalam mengatasi kedukaan atau dapat juga dikatakan untuk mencapai penerimaan kognitif dan emosional, yaitu :  1) Avoiding Grief Individu yang mengalami kedukaan menarik diri dari lingkungan luar, lebih banyak tinggal di rumah, dan hanya berhubungan dengan orang-orang yang mereka percayai. Mereka menghindari segala bentuk situasi yang dapat mengingatkan mereka pada diskrepansi antara harapan mereka dengan kenyataan. Mereka kemungkinan mengisi hidup mereka dengan aktifitas yang membantu mereka untuk melupakan atau menghindar dari kenyataan mengenai kehilangan yang telah terjadi. Mekanisme seperti ini dapat melindungi seseorang dari rasa kehilangan yang terlalu menyakitkan dan kecemasan yang tidak terkendali, namun cara ini justru cenderung menunda proses menata ulang kehidupan mereka. 2) Getting Through Grief Mekanisme koping yang kedua ialah dengan mengingat, mengulang, dan berusaha melalui rasa duka  yang dialami. Hal ini membantu individu yang sedang berduka untuk merefleksikan segala aspek yang ada yang berkaitan dengan rasa kehilangan mereka, hingga mereka mampu menggabungkannya ke dalam pandangan yang baru mengenai realitas mereka. Jika mekanisme koping ini dilakukan, maka individu yang mengalami kehilangan terbantu untuk menyelesaikan rasa duka mereka sehingga tidak menjadi manifestasi yang mempengaruhi tahap kehidupan yang berikutnya.

Koping terhadap peristiwa kedukaan (skripsi dan tesis)

Pengalaman kehilangan yang begitu nyata terutama melibatkan kematian dari orang yang dikasihi pada waktu yang tidak diharapkan (untimely), menimbulkan gangguan dalam pola hidup sehari-hari. Kematian yang tidak diharapkan dari orang yang dikasihi dapat digolongkan sebagai non-normative life events yang merupakan sumber stress bagi orang yang mengalaminya.

 Rasa kehilangan membawa rasa sakit secara psikis, namun dukungan yang didapatkan pada masa kedukaan dan bagaimana seseorang menghadapi serta menyesuaikan diri terhadap kehilangan tersebut, merupakan bagian mendasar dari pertumbuhan sebagai individu. Oleh karena itu ada yang disebut sebagai proses koping terhadap rasa duka yang dialami akibat kematian orang yang dikasihi.\Koping yang dilakukan dalam menghadapi kedukaan tidak sekedar untuk mengatasi masalah yang ada, tetapi lebih untuk bagaimana melewati masa kedukaan dan kembali ke fungsi yang lebih efektif. Tujuan yang ingin dicapai ialah agar individu yang mengalami kedukaan bisa sampai pada tahap resolusi. Ada 3 proses untuk mencapai tahap resolusi, yakni : 1) Penerimaan kognitif Proses ini merupakan usaha dari individu yang berduka untuk mengembangkan penjelasan yang memuaskan\ mengenai penyebab dari kehilangan mereka. Penjelasan yang memuaskan ini lebih bersifat subyektif dan tidak harus bersifat objektif. Jika penjelasan yang memuaskan belum tercapai, maka kemungkinan besar individu yang berduka akan terus merasa cemas dan penasaran untuk mencari jawabannya. 2) Penerimaan emosional Dalam proses ini, individu yang berduka berusaha untuk mencapai netralisasi dari memori dan asosiasi sehingga kemunculan ingatan mengenai individu yang meninggal atau hal apapun yang diasosiasikan dengannya tidak lagi dirasa mengganggu. Salah satu cara untuk mencapai penerimaan emosional ialah dengan mengulang serangkaian skenario yang mungkin dapat mencegah kematian secara kompulsif. Serangkaian pemikiran “Seandainya….” Ini harus sedemikian rupa diusahakan untuk menjadi netral seiring juga dengan ingatan dan asosiasi yang menyakitkan. 3) Perubahan identitas Perubahan identitas merupakan hal yang penting bagi individu untuk mengembangkan citra diri mereka yang baru, sehingga keterikatan mereka terhadap individu yang sudah meninggal dapat dilihat sebagai bagian dari masa lalu. Jika tahap ini terselesaikan, maka individu yang bersangkutan harus mulai membuat komitmen untuk menjalin relasi yang baru, 4namun hal ini lebih mungkin terjadi bagi mereka yang mengalami kehilangan pasangan dan hampir tidak mungkin bagi mereka yang mengalami kematian anak

Strategi Koping (skripsi dan tesis)

Teori cognitive-appraisal model menjelaskan bahwa kebanyakan individu memilih strategi koping berdasarkan penilaian kognitif mereka terhadap suatu situasi. Strategi koping bisa bersifat problem-focused atau emotion-focused.   Problem-focused coping bertujuan untuk menghilangkan, mengendalikan, atau mengembangkan situasi yang menimbulkan stress.  Pada strategi ini hal yang dilakukan ialah menghadapi dan mencari pemecahan masalah.  Oleh sebab itu, strategi koping ini lebih difokuskan untuk mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi dan lebih banyak melibatkan proses kognitif. Emotion-focused coping ditujukan untuk mendapatkan “perasaan yang lebih baik,” yakni mengelola atau mengendalikan respon emosional terhadap situasi yang menekan untuk meredakan dampak fisik atau psikologis dari situasi tersebut. Contoh dari strategi ini antara lain dengan mengalihkan perhatian dari masalah, atau menyerah, atau menyangkal bahwa masalah tersebut ada

Definisi Koping (skripsi dan tesis)

Individu yang telah mengalami stressful life event atau peristiwa hidup yang menimbulkan tekanan, maka individu akan berusaha untuk mengembalikan dirinya ke keadaan normal. Usaha ini disebut sebagai koping, yakni ketika seseorang menentukan pilihan-pilihan apa saja yang tersedia untuk menghadapi tekanan yang ada. Koping didefinisikan sebagai upaya kognitif dan perilaku yang berubah secara konstan untuk mengelola tuntutan eksternal  dan/atau internal tertentu yang dinilai berat dan melebihi sumber daya (kekuatan) seseorang.

Respons Perilaku Terhadap Dukacita (skripsi dan tesis)

 

 Respons perilaku sering kali merupakan respons yang paling mudah diobservasi. Dengan mengenali perilaku yang umum saat berduka, perawat dapat memberi bimbingan pendukung untuk mengkaji keadaan emosional dan kognitif klien secara garis besar. Dengan mengamati individu yang berduka saat melakukan fungsi secara “otomatis” atau rutin tanpa banyak pemikiran dapat menunjukkan bahwa individu tersebut berada dalam fase mati rasa proses berduka ─ realitas kehilangan belum terjadi. Menangis terisak, menangis tidak terkontrol, sangat gelisah, dan perilaku mencari adalah tanda kerinduan dan pencarian figur yang hilang. Individu tersebut bahkan dapat berteriak memanggil orang yang meninggal dan mencermati ruangan untuk mencari orang yang meninggal. Iritabilitas dan sikap, bermusuhan terhadap orang lain memperlihatkan perasaan marah dan frustasi dalam proses tersebut. Berupaya mencari serta menghindari tempat atau aktivitas yang pernah dilakukan bersama orang yang telah meninggal, dan menyimpan benda berharga yang dimiliki atau digunakan bersama orang yang telah meninggal padahal ingin membuang benda tersebut menggambarkan emosi yang berfluktuasi dan persepsi tentang harapan untuk bertemu kembali dengan orang yang meninggal. Selama fase disorganisasi, tindakan kognitif mendefinisikan kembali identitas diri individu yang berduka, walaupun sulit, merupakan hal yang penting dalam menjalani   dukacita. Walaupun awalnya bersifat superfisial, upaya yang dilakukan dalam aktivitas sosial atau kerja adalah perilaku yang ditujukan untuk mendukung pergeseran emosional dan kognitif individu tersebut. Penyalahgunaan obat atau alkohol mengindikasikan respons perilaku maladaptif terhadap keputusasaan emosional dan spiritual. Upaya bunuh diri dan pembunuhan dapat menjadi respons yang ekstrem jika individu yang berduka tidak dapat menjalani proses berduka.19 Pada fase reorganisasi, individu yang berduka berpartisipasi dalam aktivitas dan refleksi yang berarti secara personal dan memuaskan

Respons Spiritual Terhadap Duka (skripsi dan tesis)

Ketika kehilangan terjadi, individu mungkin paling terhibur, tertantang, atau hancur dalam dimensi spiritual pengalaman manusia. Individu yang berduka dapat kecewa dan marah kepada Tuhan atau tokoh agama yang lain. Penderitaan karena ditinggalkan, kehilangan harapan, atau kehilangan makna merupakan penyebab penderitaan spiritual yang dalam.Oleh karena itu, memenuhi kebutuhan spiritual individu yang berduka merupakan aspek asuhan keperawatan yang sangat penting. Respons emosional dan spiritual klien saling terkait ketika klien mengalami penderitaan. Dengan kesadaran akan kemampuan mengkaji penderitaan klien, perawat dapat meningkatkan rasa sejahtera. Memberi klien kesempatan untuk menceritakan penderitaannya membantu transformasi psikospiritual (yang melibatkan baik aspek pengalaman psikologis maupun spiritual) yang sering kali berkembang dalam proses berduka. Dengan menemukan penjelasan dan makna melalui keyakinan spiritual atau agama, klien dapat mulai mengidentifikasi aspek positif dan mungkin aspek proses berduka yang menyenangkan

Respons Emosional Terhadap Dukacita (skripsi dan tesis)

Perasaan marah, sedih, dan cemas adalah pengalaman emosional yang dominan pada kehilangan. Kemarahan dan kebencian dapat ditujukan kepada individu yang meninggal dan praktik kesehatan yang dilakukannya, pada anggota keluarga, dan pemberi perawatan kesehatan atau institusi.Respons emosional terlihat pada semua fase proses dukacita menurut Bowlby. Selama fase mati rasa, respons awal yang umum terhadap kabar kehilangan ialah perasaan syok, seolah-olah tidak dapat menyadari realitas kehilangan. Pada fase  kedua, kerinduan dan pencarian, realitas mulai muncul dan individu yang berduka memperlihatkan kemarahan, penderitaan yang besar dan menangis. Dalam keadaan putus asa, tetapi memiliki keinginan kuat untuk mengembalikan ikatan dengan individu yang meninggal, mendorong individu yang berduka untuk memeriksa dan memulihkan dirinya. Suara, penglihatan, dan aroma yang terkait dengan individu yang meninggal diinterpretasikan sebagai tanda-tanda keberadaan orang yang meninggal dan kadang-kadang menghibur klien dan menimbulkan harapan untuk bertemu kembali. Selama fase disorganisasi dan keputusasaan, individu yang berduka mulai memahami bahwa kehilangan tetap ada. Pola pemikiran, perasaan dan tindakan yang terkait kehidupan dengan orang yang telah meninggal perlu diubah. Saat semua harapan kembalinya orang yang meninggal telah hilang, individu pasti mengalami waktu depresi, apatis atau putus asa. Pada fase reorganisasi akhir, individu yang berduka mulai membangun kembali rasa identitas personal, arah dan tujuan hidup, rasa mandiri dan percaya diri dirasakan. Dengan mencoba dan menjalankan peran dan fungsi yang baru ditetapkan, individu yang berduka menjadi kuat pribadinya. Pada fase ini, orang yang meninggal masih dirindukan, tetapi memikirkannya tidak lagi menimbulkan perasaan sedih

Respons Kognitif terhadap Dukacita (skripsi dan tesis)

Penderitaan saat berduka dalam beberapa hal merupakan akibat gangguan keyakinan. Asumsi dan keyakinan dasar tentang makna dan tujuan hidup terganggu, bahkan mungkin hancur. Berduka sering kali menyebabkan keyakinan individu tentang dirinya dan dunia berubah, misalnya persepsi individu tentang hal-hal yang baik di dunia, makna hidup ketika berhubungan dengan keadilan, dan makna takdir atau garis kehidupan. Perubahan lain dalam pemikiran dan sikap mencakup meninjau dan menetapkan peringkat nilai-nilai yang dimiliki, menjadi lebih bijaksana, menghilangkan ilusi tentang keabadian diri, memandang dunia secara lebih realistis, dan mengevaluasi kembali keyakinan agama atau keyakinan spiritual. Individu yang berduka perlu menemukan makna kehilangan. Ia akan melakukan pengkajian diri dan  mempertanyakan cara berpikir yang diterima. Asumsi lama tentang kehidupan ditantang atau dapat juga dengan mempertanyakan. Individu menyadari bahwa kehilangan dan kematian merupakan realitas kehidupan yang kita semua harus hadapi suatu hari.  Percaya pada kehidupan akhirat dan percaya bahwa orang yang meninggal menjadi pembimbing pribadi merupakan respons kognitif yang berfungsi mempertahankan keberadaan orang yang meninggal. Melakukan dialog internal dengan orang yang dicintai sambil melakukan aktivitas seperti tugas rumah tangga. Metode mempertahankan keberadaan orang yang meninggal ini membantu mengurangi dampak kehilangan ketika individu terus memahami realitas kehilangan

Tahap berduka (skripsi dan tesis)

 1) Tahapan berduka menurut Kubler-Ross pada tahun 1969 Elisabeth Kubler-Ross menetapkan lima tahapan berduka, yaitu : i. Penyangkalan adalah syok dan ketidakpercayaan tentang kehilangan. ii. Kemarahan dapat diekspresikan kepada Tuhan, keluarga, teman atau pemberi perawatan kesehatan. iii. Tawar-menawar terjadi ketika individu menawar untuk mendapat lebih banyak waktu dalam upaya memperlama kehilangan yang tidak dapat dihindari. iv. Depresi terjadi ketika kesadaran akan kehilangan menjadi akut. v. Penerimaan terjadi ketika individu memperlihatkan tandatanda bahwa ia menerima kematian. Model ini menjadi prototype untuk pemberi perawatan ketika mereka mencari cara memahami dan membantu klien dalam proses berduka.
 2) Teori Bowlby Pemahaman Bowlby tentang berduka akan menjadi kerangka berpikir yang dominan dalam bab ini. Ia mendeskripsikan proses berduka akibat suatu kehilangan memiliki empat fase : i. Mati rasa dan penyangkalan terhadap kehilangan. ii. Kerinduan emosional akibat kehilangan orang yang dicintai dan memprotes kehilangan yang tetap ada. iii. Kekacauan kognitif dan keputusasaan emosional, mendapatkan dirinya sulit melakukan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. iv. Reorganisasi dan reintegrasi kesadaran diri sehingga dapat mengembalikan hidupnya.
 3) Teori John Harvey pada tahun 1998 John Harvey menetapkan 3 tahap berduka, yaitu : i. Syok, menangis dengan keras, dan menyangkal. ii. Instruksi pikiran, distraksi dan meninjau kembali kehilangan secara obsesif. iii. Menceritakan kepada orang lain sebagai cara meluapkan emosi dan secara kognitif menyusun kembali peristiwa kehilangan.19 4) Teori Rodebaugh et al. pada tahun 1999 Proses dukacita sebagai suatu proses yang melalui empat tahap, yaitu :19 i. Reeling : klien mengalami syok, tidak percaya, atau menyangkal. ii. Merasa (feeling) : klien mengekspresikan penderitaan yang berat, rasa bersalah, kesedihan yang mendalam,  kemarahan, kurang konsentrasi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, dan ketidaknyamanan fisik yang umum. iii. Menghadapi (dealing) : klien mulai beradaptasi terhadap kehilangan dengan melibatkan diri dalam kelompok pendukung, terapi dukacita, membaca dan bimbingan spiritual. iv. Pemulihan (healing) : klien mengintegrasikan kehilangan sebagai bagian kehidupan dan penderitaan yang akut berkurang. Pemulihan tidak berarti bahwa kehilangan tersebut dilupakan atau diterima

Definisi Kedukaan (skripsi dan tesis)

. Definisi Kedukaan Dukacita adalah proses dimana seseorang mengalami respon psikologis, sosial dan fisik terhadap kehilangan yang dipersepsikan. Respon ini dapat berupa keputusasaan, kesepian, ketidakberdayaan, kesedihan, rasa bersalah dan marah. Proses dukacita memiliki sifat yang mendalam, internal, menyedihkan dan berkepanjangan. Dukacita dapat ditunjukkan melalui pikiran, perasaan maupun perilaku yang bertujuan untuk mencapai fungsi yang lebih efektif dengan mengintegrasikan kehilangan ke dalam pengalaman hidup. Pada saat seseorang yang berduka ingin mencapai fungsi yang lebih efektif, maka dibutuhkan waktu yang cukup lama dan upaya yang cukup keras untuk mewujudkannya.

Jenis-jenis kehilangan (skripsi dan tesis)

a. Kehilangan objek eksternal, misalnya kehilangan karena kecurian atau kehancuran akibat bencana alam. b. Kehilangan lingkungan yang dikenal, misalnya kehilangan karena berpindah rumah, dirawat di rumah sakit, atau berpindah pekerjaan.
 c. Kehilangan sesuatu atau individu yang berarti, misalnya kehilangan pekerjaan, kepergian anggota keluarga atau teman dekat, kehilangan orang yang dipercaya, atau kehilangan binatang peliharaan. d. Kehilangan suatu aspek diri, misalnya kehilangan anggota tubuh dan fungsi psikologis atau fisik. e. Kehilangan hidup, misalnya kehilangan karena kematian anggota keluarga, teman dekat, atau diri sendiri.

Definisi Kehilangan (skripsi dan tesis)

Definisi Kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu ketika terjadi perubahan dalam hidup atau berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian ataupun keseluruhan. Tipe dari kehilangan mempengaruhi tingkat distres. Namun demikian, setiap individu berespons terhadap kehilangan secara berbeda.  Kehilangan dapat berupa kehilangan yang nyata atau kehilangan yang dirasakan. Kehilangan yang nyata merupakan kehilangan terhadap orang atau objek yang tidak dapat lagi dirasakan, dilihat, diraba atau dialami individu, misalnya anggota tubuh, anak, hubungan, dan peran di tempat kerja. Kehilangan yang dirasakan merupakan kehilangan yang sifatnya unik berdasarkan individu yang mengalami kedukaan, misalnya kehilangan harga diri atau rasa percaya diri

Dampak Kehilangan Bayi (skripsi dan tesis)

 Ikatan emosional seorang ibu terhadap bayinya mulai terbentuk sejak berada di dalam kandungan dan semakin meningkat intensitasnya seiring dengan pertumbuhan janin. Pada saat melahirkan, seorang ibu harus memisahkan diri dari bayinya baik secara fisik maupun psikologis.37 Peristiwa kematian bayi di dalam kandungan atau sesaat setelah dilahirkan dapat diasumsikan sebagai pengalaman yang mengakibatkan pemutusan ikatan emosional yang seolah-olah tidak pada waktu yang semestinya dan oleh karenanya rasa duka yang dialami oleh perempuan yang kehilangan bayinya tidak dapat dianggap ringan. Dampak kehilangan akibat kematian anak sangat jelas terlihat pada periode awal kehilangan. Dampak ini sangat luas hingga menguras energi dan mengarahkan tenaga emosional kepada anak yang sudah meninggal. Kematian anak secara umum menimbulkan rasa duka yang kronis dan juga rasa bersalah yang irasional pada orang tua, sehingga anak yang sudah meninggal tidak pernah dapat terlupakan.
Besarnya rasa kehilangan seringkali ditentukan oleh seberapa besar orang tua menginginkan atau menanti-nanti anak tersebut.\ Perasaan-perasaan yang seringkali timbul pada masa kedukaan antara lain rasa marah dan depresi karena merasa ditinggalkan oleh anak tersebut, dan sisi lain juga terdapat perasaan tidak berdaya dimana sebagai orang tua mereka hanya bisa bersedih menghadapi kematian anaknya. Sadar maupun tidak, orang tua cenderung merasa bertanggung jawab atas kematian anak mereka dan perasaan ini bercampur dengan rasa bersalah, tidak berdaya, dan frustasi.16 Pada bulan-bulan awal masa kedukaan, hubungan pernikahan ataupun keluarga banyak dipengaruhi oleh reaksi emosi masing-masing pasangan terhadap peristiwa kehilangan. Sebagian pasangan menjadi sangat tertekan namun sebagian lainnya justru berusaha untuk saling membantu dan melindungi.16 Namun demikian, hasil studi Cain and Cain pada tahun 1964, menunjukkan adanya dampak yang bersifat patologis dari kematian anak yang disebut sebagai replacement childsyndrome. Sindrom ini merefleksikan proses berduka pada orang tua yang tidak terselesaikan, sehingga anak yang lahir berikutnya berperan sebagai pengganti dari anak yang meninggal dan juga pemutus proses kedukaan yang menyakitkan.

Definisi Kematian bayi (skripsi dan tesis)

Kematian bayi ditinjau dari usianya dapat dibedakan menjadi early miscarriage, later miscarriage, stillborn, dan bayi yang meninggal setelah dilahirkan. Early miscarriage merupakan istilah yang umumnya diberikan untuk janin yang keguguran pada usia kandungan yang masih muda, sedangkan later miscarriage biasanya terjadi pada usia kandungan yang lebih matang. Bayi yang mengalami miscarriage biasanya masih dapat dikeluarkan melalui proses aborsi, sementara stillborn merujuk pada bayi yang dilahirkan sudah dalam kondisi meninggal setelah usia kandungan 24 minggu ke atas.  Kematian anak pada usia berapapun termasuk di dalamnya kematian bayi merupakan pengalaman yang sangat sulit untuk diterima oleh kebanyakan orang tua. Pada umumnya, orang tua ingin tetap mengenang dan memiliki keterikatan emosional dengan karakteristik psikologis dari anak yang meninggal.16 Hal ini dapat dipahami mengingat keterikatan emosional (attachment) antara orang tua dengan anak yang berlangsung secara gradual dan   kompleks, secara tiba-tiba terputus (detachment) oleh peristiwa tersebut

Komplikasi preeklampsia (skripsi dan tesis)

Komplikasi maternal akibat preeklampsia meliputi eklampsia, sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzymes, Low Platelet Count), solusio plasenta, gagal ginjal, nekrosis hepar, ruptur hepar, DIC (Disseminated Intravascular Coagulation), anemia hemolitik mikroangiopatik, perdarahan otak, edema paru, pelepasan retina dan kematian. Preeklampsia tidak hanya menyebabkan komplikasi pada ibu, melainkan terjadi juga pada janin. Komplikasi pada janin akibat preeklampsia meliputi 21 prematuritas, insufisiensi utero-plasental, retardasi pertumbuhan intrauterin dan kematian janin intrauterin

Penatalaksanaan Preeklampsia (skripsi dan tesis)

1) Preeklampsia Ringan Klien dengan preeklampsia ringan biasanya tidak dirawat dan harus lebih sering melakukan pemeriksaan antenatal. Klien diminta untuk istirahat dan diberi obat penenang fenobarbital 3×30 mg, obat antihipertensi dan diuretika belum direkomendasikan untuk digunakan pada penderita preeklampsia ringan.

 2) Preeklampsia Berat

 a) Penanganan umum

 i. Jika tekanan diastolik &gt; 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik di antara 90-110 mmHg.

 ii. Pasang infus Ringer Laktat.

 iii. Ukur keseimbangan cairan.

iv. Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria.

 v. Jika jumlah urin &lt; 30 ml per jam : – Infus cairan dipertahankan 1 1/8 jam – Pantau kemungkinan edema paru

vi. Jangan tinggalkan klien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.

vii. Observasi tanda vital, reflex, dan denyut jantung janin setiap jam.

viii. Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Krepitasi merupakan tanda edema paru. Jika terjadi edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan diuretik misalnya furosemide 40 mg intravena.

ix. Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan darah bedside. Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.

b) Antikonvulsan Pada kasus preeklampsia berat dan eklampsia, magnesium sulfat yang diberikan secara parental adalah obat anti kejang yang efektif tanpa menimbulkan depresi susunan syaraf pusat baik bagi ibu maupun janinnya. Obat ini dapat diberikan secara intravena melalui infus kontinu atau intramuskuler dengan injeksi intermitten.

c) Antihipertensi

i. Obat pilihan adalah hidralazin yang diberikan 5 mg intravena pelan-pelan selama 5 menit sampai tekanan darah turun.

 ii. Jika perlu, pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam atau 12,5 mg intramuscular setiap 2 jam.

 iii. Jika hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan : 20 – Nifedipin dosis oral 10 mg yang diulang setiap 30 menit. – Labetalol 10 mg intravena sebagai dosis awal, jika tekanan darah tidak membaik dalam 10 menit, maka dosis dapat ditingkatkan sampai 20 mg intravena.

 d) Persalinan

Pada preeklampsia berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam. Jika seksio sesarea akan dilakukan, perhatikan bahwa tidak terdapat koagulopati. Anestesi yang aman/terpilih adalah anestesi umum. Jangan lakukan anestesi lokal, sedangkan anestesi spinal berhubungan dengan hipotensi.

Pencegahan Preeklampsia (skripsi dan tesis)

Pencegahan Preeklampsia terjadi hanya selama masa kehamilan, jika dibiarkan tanpa pengobatan, preeklampsi akan memberikan ancaman serius bagi ibu hamil dan janin.28 Preeklampsia memang tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian pendidikan kesehatan dan pengawasan yang baik selama kehamilan.29 Pencegahan juga dapat dilakukan secara mandiri dengan cara memadukan pola makan berkadar lemak rendah, dan memperbanyak supply kalsium, vitamin C dan A serta hindari stress, melakukan pemeriksaan antenatal secara rutin, mengenali tandatanda bahaya sedini mungkin, dan lakukan pemantauan terhadap penambahan berat badan selama kehamilan.

 World Health Organization (WHO) pada tahun 2011 merekomendasikan upaya pencegahan preeklampsia dan eklampsia sebagai berikut : 1) Pemberian kalsium 1,5-2,0 gram/hari didalam diet selama kehamilan, terutama di daerah kurang asupan kalsium. 2) Pemberian aspirin dosis-rendah sebesar 75 mg/hari, dimulai sejak sebelum usia kehamilan 20 minggu. 3) Pemberian magnesium sulfat (MgSO4) i.v. maupun i.m. merupakan pilihan utama pencegahan dan pengobatan kejang eklampsia. 4) Ibu penderita preeklampsia berat dan eklampsia harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi sesudah mendapat loading dose MgSO4. Penelitian yang dilakukan oleh Felicia dkk pada tahun 2008 menyatakan bahwa suplementasi asam folat dapat mengurangi kadar homosistein pada penderita preeklampsia.32 Pada penelitian yang dilakukan Wen dkk pada tahun 2008 juga memperlihatkan bahwa suplementasi multivitamin yang mengandung asam folat berhubungan dengan peningkatan kadar asam folat, penurunan kadar homosistein dan penurunan risiko preeklampsi sebesar 63%.

Patofisiologi Preeklampsia (skripsi dan tesis)

Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskular sistemik, peningkatan curah jantung dan penurunan tekanan osmotik koloid. Pada preeklampsia, volume plasma yang beredar mengalami penurunan, sehingga terjadi hemokonsetrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini menyebabkan perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin uteroplasenta. Selanjutnya, vasospasme siklik mulai menurunkan perfusi organ dengan cara menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.  Vasospasme merupakan akibat peningkatan sensitivitas terhadap tekanan peredaran darah, seperti angiotensin II dan kemungkinan terjadi suatu ketidakseimbangan antara prostasiklin, prostaglandin dan tromboksan A2. Vasospasme arterial turut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler. Keadaan ini akan memperparah kondisi edema dan selanjutnya dapat menurunkan volume intravaskular.  Wanita dengan preeklampsia akan mengalami kelainan pada aktivasi imun yang dapat menghambat invasi trofoblas pembuluh darah. Kadar sitokin serum yang meningkat pada wanita dengan preeklampsia juga merupakan akibat dari kelainan imunologis primer. Kelainan genetik tertentu juga dapat mempengaruhi terjadinya preeklampsia. Wanita yang membawa mutasi pada komplemen reseptor CR-1 memiliki risiko lebih tinggi terhadap preeklampsi. Resistensi insulin yang telah ada juga meningkatkan risiko preeklampsia

Klasifikasi Preeklampsia (skripsi dan tesis)

1) Preeklampsia ringan
Preeklampsia ringan biasanya ditandai dengan :
 a) Tekanan darah melebihi 140/90 mmHg atau tekanan sistolik mengalami peningkatan sebesar 30 mmHg atau peningkatan 14 sebesar 15 mmHg pada tekanan diastolik dalam dua kali pembacaan yang diambil dengan jarak 6 jam.
b) Edema menyeluruh di muka, tangan dan pergelangan kaki.
c) Pertambahan berat badan sekitar 1,5 kg per bulan pada trimester kedua atau lebih dari 2,3 kg per minggu pada trimester ketiga.
d) Proteinuria 1+ sampai 2+, atau 300 mg/dL, dalam sampel 24 jam.
2) Preeklampsia berat
Tanda dan gejala yang timbul pada preeklampsia berat, antara lain :
 a) Tekanan darah melebihi 160/110 mmHg dicatat dalam dua pembacaan yang diperoleh dengan jarak 6 jam pada keadaan tirah baring.
b) Proteinuria melebihi 5 g/24 jam
c) Oliguria (kurang dari 400 mL/24 jam)
d) Sakit kepala
e) Pandangan buram, melihat ada bintik-bintik, dan edema retina.
f) Pitting edema pada sacrum, muka, dan ekstremitas bagian atas.
g) Dispnea
h) Nyeri epigastrik
 i) Mual dan muntah
 j) Hiperefleksia

Etiologi Preeklampsia (skripsi dan tesis)

Penyebab preeklampsia hingga saat ini belum diketahui dengan pasti, tetapi beberapa teori yang mencoba menjelaskan tentang etiologi preeklampsia/eklampsia, antara lain :10 1) Disfungsi sel endotel 2) Reaksi antigen-antibodi 3) Perfusi plasenta yang tidak adekuat 4) Perubahan reaktivitas vaskuler 5) Ketidakseimbangan antara prostasiklin dan tromboksan  6) Penurunan laju filtrasi glomerulus dengan retensi air dan garam 7) Penurunan volume intravaskuler 8) Peningkatan sensitivitas sistem saraf pusat 9) Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) 10) Iskemia uterus 11) Faktor diet 12) Faktor genetik Selain beberapa teori tersebut, ada juga faktor-faktor yang mungkin berperan dalam terjadinya preeklampsia, antara lain :26 1) Genetik atau imunologi 2) Status primigravida 3) Kondisi-kondisi yang menciptakan jaringan trofoblastik yang berlebihan, misalnya, kehamilan multiple, diabetes, atau mola hidatidosa. 4) Usia lebih muda dari   dan lebih tua dari 35 tahun. 5) Obesitas

Definisi Preeklampsia (skripsi dan tesis)

Definisi Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan berupa penurunan perfusi organ akibat vasospasme dan pengaktifan endotel yang ditandai dengan hemokonsentrasi, hipertensi, dan proteinuria.8,9 Preeklampsia biasanya timbul setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal dan paling sering terjadi pada primigravida yang muda.9,22 Diagnosis preeklampsia dapat ditegakkan apabila ditemukan gejala hipertensi disertai proteinuria dan / atau edema.9 Akan tetapi, edema sering kali tidak diikutsertakan ke dalam definisi preeklampsia karena pengkajian edema dianggap bersifat subjektif dan dirasa tidak memiliki nilai diagnostik atau prognostik walaupun Higgins dan de Swiet pada tahun 2001 menyatakan bahwa perkembangan cepat edema berat harus selalu diperiksa karena dapat mengindikasikan perkembangan preeklampsia atau kondisi patologi lain, seperti penyakit jantung atau ginjal. Jaerven, dkk pada tahun 2002 mendefinisikan preeklampsia adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan   tekanan darah mencapai atau melebihi 140/90 mmHg pada usia gestasi di atas 20 minggu, lebih spesifiknya peningkatan tekanan darah diastolik minimal 15 mmHg atau peningkatan tekanan darah sistolik minimal 30 mmHg dari tekanan darah sebelum kehamilan 20 minggu yang dikombinasikan dengan proteinuria (pengeluaran protein minimal 0,3 gr/24 jam).  Preeklampsia dapat berkembang dari preeklampsia yang ringan sampai preeklampsia yang berat. Jika tidak diobati atau tidak terputus oleh persalinan, preeklampsia akan berkembang menjadi eklampsia. Preeklampsia merupakan penyakit yang umum terjadi pada primigravida dan jika timbul pada seorang multigravida, biasanya ada faktor predisposisi seperti hipertensi, diabetes, atau kehamilan ganda

Media Penyuluhan (skripsi dan tesis)

 

Media kesehatan merupakan alat bantu pendidikan kesehatan yang bisa digunakan dalam bentuk Audio Visual Aids (AVA). Disebut sebagai media kesehatan karena alat-alat tersebut merupakan saluran (channel) untuk menyampaikan pesan kesehatan guna mempermudah penerimaannya bagi masyarakat atau „klien‟ (Notoatmodjo, 2007). Media kesehatan dibagi menjadi 3 berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan kesehatan, yaitu: 1. Media cetak Variasi media cetak antara lain: Booklet, Leaflet, Flyer (selembaran), Flip chart (lembar balik), Rubrik, Poster, Foto-foto yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan. 2. Media elektronik Berikut adalah berbagai jenis media elektronik yang dapat digunakan sebagai media kesehatan, yaitu: Televisi, Radio, Video, Slide atau powerpoint, Film strip, Media papan (Bill board) (Notoatmodjo, 2007). Penelitian ini menggunakan flip chart atau lembar balik dan demonstrasi

Metode Penyuluhan (skripsi dan tesis)

 Metode penyuluhan merupakan salah satu faktor tercapainya hasil penyuluhan yang optimal. Metode penyuluhan pada garis besarnya ada 2 jenis :
a. Metode Didaktik ( One Way Metode) Pendidik berperan aktif sedangkan sasaran tidak diberikan kesempatan aktif. Yang termasuk metode ini adalah :

 1. Metode ceramah.
Ceramah adalah pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara di depan sekelompok pengunjung atau pendengar disertai dengan tanya jawab, diskusi dengan beberapa alat peraga yang dianggap perlu. Metode ceramah dapat dilakukan dengan atau tanpa alat bantu. Beberapa alat bantu yang seing digunakan adalah poster, power point, boneka karakter dan buku cerita bergambar. Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan alat bantu yang banyak, murah dan mudah menggunakannya, serta waktu yang diperlukan dapat dikendalikan oleh penyuluh. Kekurangan metode ini adalah menimbulkan kebiasaan kurang aktif dari sasaran, sering menimbulkan salah paham dalam mengartikan materi penyuluhan yang diberikan karena tidak semua sasaran punya daya tangkap yang sama.
2. Siaran melalui Radio
 3. Pemutaran film/ slide
4. Penyebaran selebaran
 5. Pameran
 6. Leaflet
Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi atau pesan – pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat, isi informasi dapat dalam bentuk kalimat maupun gambar, atau kombinasi. 7. Lembar Balik (Flip Chart) Flip chart adalah beberapa chart yang telah disusun berurutan dan berisi tulisan dengan gambar – gambar yang telah disatukan dengan ikatan atau ring spiral pada bagian pinggir sisi atas. Jumlah chart lebih dari 12 lembar, berukuran poster lebih besar atau kecil, dan biasanya memakai kertas tebal
b. Metode Sokratik ( Two Way Metode)
Metode ini mempunyai komunikasi dua arah antara pendidik dan sasaran. Yang termasuk metode ini adalah :

1. Metode demonstrasi
Demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari disertai dengan penjelasan lisan. Demonstrasi adalah suatu cara penyajian pengertian, atau ide yang dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan cara melaksanakan suatu tindakan dengan menggunakan suatu prosedur. Demonstrasi dapat dilakukan secara langsung atau menggunakan media, seperti radio dan film. Metode demonstrasi digunakan jika memerlukan contoh prosedur atau tugas dengan benar, bila tersedia alat- alat peraga, bila tersedia tenaga pengajar yang terampil, membandingkan sesuatu cara dengan cara yang lain, untuk mengetahui serta melihat kebenaran sesuatu dan proses mengerjakan atau menggunakan sesuatu.  Keunggulan metode demonstrasi adalah dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret, menghindari verbalisme, lebih mudah memahami sesuatu, lebih menarik, peserta dirangsang untuk mengamati, menyesuaikan teori dengan kenyataan.

2. Simulasi
Penyuluh dapat melakukan suatu kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada penghayatan keterampilan aktualisasi dan praktik. Metode ini bertujuan agar seseorang dapat bertingkah laku seperti orang lain, dengan tujuan orang tersebut dapat mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa berbuat sesuatu.
3. Permainan Peran (Role Playing)
Sasaran harus memerankan satu atau beberapa peran tertentu. Keuntungan dari metode ini adalah sebagian besar peserta dapat ikut aktif mengamati, menaglami, dan menghayati perilaku tertentu sehingga materi penyuluhan dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti. Kerugian dari metode ini adalah terkadang peserta kurang mampu membawakan peran dengan semestinya.
 4. Tanya Jawab
Metode ini adalah proses interaksi belajar yang berisi pertanyaan yang diajukan dan jawaban dari topik belajar tertentu. Keuntungan dari metode ini adalah semua pihak yang terlibat mempunyai kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Kerugian dari metode ini adalah terjadi perbedaan pendapat yang berlarut- larut sehingga akan memakan banyak waktu (Herijulianti dkk, 2002)

Penyuluhan gizi Terhadap Pengetahuan Ibu (skripsi dan tesis)

Berbagai penelitian terkait edukasi gizi dengan pendidikan ibu, terutama yang berkaitan dengan status gizi balita, sering dilakukan dan hasilnya beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Cut Rizki Azriah (2015) diketahui bahwa terdapat pengaruh sebelum dan sesudah penyuluhan gizi terhadap pengetahuan ibu tentang gizi seimbang balita.  Penelitian lain yang dilakukan oleh Dyah Ambarini di Dusun Ngulu Wetan, Wonogiri, terkait pengaruh penyuluhan gizi terhadap tingkat pengetahuan ibu, diketahui bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara hasil pre-test dan post-test

Pengertian Penyuluhan (skripsi dan tesis)

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penyuluhan berasal dari kata“suluh” atau obor, yang artinya kegiatan penerangan atau memberikan terang bagi yang berada dalam kegelapan. Sebagai proses penerangan, kegiatan penyuluhan tidak hanya terbatas pada memberikan penerangan, namun menjelaskan mengenai segala informasi yang ingin disampaikan kepada kelompok sasaran yang akan menerima manfaat penyuluhan, sehingga mereka benar-benar memahami maksud penyuluh. Penyuluhan merupakan proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan perilaku, yang merupakan perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan seseorang yang dapat diamati oleh orang lain, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Kegiatan penyuluhan tidak berhenti pada penyebarluasan informasi atau inovasi dan memberikan penerangan saja tetapi juga merupakan proses yang dilakukan secara terus menerus, sekuat tenaga dan pikiran, memakan waktu dan melelahkan, sampai terjadi perubahan perilaku yang ditunjukan oleh sasaran penyuluhan (Maulana, 2009).
Penyuluhan meliputi berbagai teknik  dan metode yang dapat digunakan dalam membantu klien memahami dirinya sendiri secara lebih baik dan efektif ( Munro dkk, 1983). Syamsuddin (dalam Zulkarimein Nasution, 1990) membuat rumusan bahwa penyuluhan merupakan jenis khusu pendidikan pemecahan masalah (problem solving) yang berorientasi pada tindakan, yang mengajarkan sesuatu, mendemonstrasikan, dan memoitivasi tapi tidak melakukan pengaturan. Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara memberikan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat menjadi sadar, tahu dan mengerti dan juga mau dan bias melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan ( Azrul Azwar dalam Effendi, 2000). Penyuluhan kesehatan merupakan gabungan berbagai kegiatan, kesempatan yang berlandaskan prinsip – prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan. Keadaan tersebut adalah individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu caranya dan melakukan apa yang bias dilakukan (Waryana, 2016). Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bias melakukan sesuai anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Kemenkes, 2011).

Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan (skripsi dan tesis)

.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu:
 1. Pendidikan
 Pendidikan merupakan proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok serta mendewasakan manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Informasi yang masuk semakin banyak maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan, diharapkan semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi. Seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal (Budiman dan Riyanto, 2013). Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan dan pengetahuan seseorang dalam menerapkan perilaku hidup sehat. Ibu dengan status pendidikan lebih tinggi memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menjaga pola hidup sehat (Wulandari, 2012). Tingkat pendidikan yang dimiliki ibu bermanfaat bagi penambahan pengetahuan dan kesempatan kerja yang meningkat, juga merupakan bekal atau sumbangan dalam memenuhi kebutuhan dirinya serta mereka yang bergantung kepadanya.
 2. Informasi atau media massa
 Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Teknologi yang maju menyediakan beragam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat. Sebagai sarana komunikasi, terdapat banyak media massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan majalah yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang.

Media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat  mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal dapat memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut (Notoadmodjo, 2007). Informasi yang mudah diperoleh dapat mempercepat seseorang dalam mendapatkan pengetahuan baru. Perkembangan teknologi saat ini mempermudah ibu mengetahui informasi dari berbagai media, sehingga ibu dapat meningkat pengetahuannya (Astuti, 2012).
 3. Sosial, budaya, dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2007).
4. Lingkungan
 Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu (Notoatmodjo, 2007)
. 5. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya.
6. Usia
Usia mempengaruhi daya serap informasi seseorang. Usia seseorang yang bertambah maka semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik (Budiman dan Riyanto, 2013). Usia terkait dengan kedewasaan dalam berpikir. Orang dengan usia dewasa cenderung mempunyai pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan orang dengan usia muda

Pengetahuan Gizi (skripsi dan tesis)

Pengetahuan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan adalah hasil dari tahu. Penginderaan dapat terjadi melalui pancaindra manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket untuk menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan dapat diperoleh dengan cara tradisional atau non ilmiah dan cara modern atau cara ilmiah. Cara tradisional terbagi menjadi empat cara, yaitu: 1. Trial dan error (coba-salah), cara ini digunakan dengan cara percobaan sampai berhasil, jika belum berhasil maka akan terus diulang kembali. 2. Kekuasaan (otoritas), orang-orang yang memiliki kekuasaan dijadikan sebagai sumber pengalaman, seperti pemimpin agama, pemerintah, atau ahli pengetahuan. 3. Berdasarkan pengalaman pribadi. 4. Jalan pikiran, yang nantinya akan menghasilkan sebuah induksi ataupun deduksi sebagai kesimpulan dari pikiran manusia. Cara yang modern atau cara ilmiah menggunakan cara yang lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode ilmiah atau yang lebih dikenal dengan sebutan metodologi penelitian (research methodology) (Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan bisa diperoleh secara alami atau diintervensi langsung maupun tidak langsung (Budiman dan Riyanto, 2013).
Pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku atau tindakan seseorang. Sumber yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan dapat dikelompokan ke dalam empat kategori, yaitu: 1. Perorangan di luar kendali pelayanan kesehatan, seperti keluarga, teman, ahli agama, tokoh masyarakat, dan lainnya. 2. Perorangan dalam kendali pelayanan kesehatan, seperti petugas kesehatan. 3. Nonperorangan di luar kendali pelayanan kesehatan, seperti media massa dan media elektronik. 4. Nonperorangan dalam kendali pelayanan kesehatan, seperti iklan dan brosur yang dibuat oleh pelayanan kesehatan (Hartono, 2010 dalam Kanta, 2013). Pengetahuan yang ada pada seseorang diterima melalui indera. Pengetahuan disalurkan ke otak paling banyak melaui indera pandang. Pengetahuan manusia sebanyak 75 % sampai 87 % diperoleh melaui indera pandang, 13 % melalui indera pendengaran dan 12 % melalui indera yang lain ( Arsyad, 2006 dalam Wirawan, 2014). Pengetahuan gizi merupakan prasayarat terjadinya perubahan sikap dan perilaku (Khomsan dkk, 2009). Pengetahuan gizi merupakan pengetahuan tentang makanan dan zat gizi, sumber-sumber zat gizi pada makanan, makanan yang aman dikonsumsi sehingga tidak menimbulkan penyakit dan cara mengolah makanan yang baik agar zat gizi dalam makanan tidak hilang serta bagaimana hidup sehat. Pengetahuan gizi yang tidak memadai, kurangnya pengertian tentang kebiasaan makan yang baik, serta pengertian yang kurang tentang kontribusi gizi dari berbagai jenis makanan akan menimbulkan masalah kecerdasan dan produktifitas.

 Tingkat pengetahuan gizi seseorang memiliki pengaruh yang besar pada perubahan perilaku dan sikap dalam pemilihan bahan makanan, yang selanjutnya akan berpengaruh pada keadaan gizi individu. Hasil penelitian Fitri Nur Anto (2012) menyebutkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang pemberian nutrisi terhadap status gizi anak toddler. Ibu memainkan peranan penting dalam memilih dan mempersiapkan pangan untuk dikonsumsi anggota keluarganya, walaupun para ibu bekerja di luar, mereka tetap mempunyai peran besar dalam kegiatan pemilihan dan penyiapan makanan. Orang tua memegang peranan penting dalam pemilihan pangan untuk anggota keluarganya, maka pengetahuan gizi orang tua akan mempengaruhi jenis pangan dan dan mutu gizi makanan yang dikonsumsi anggota keluarga. Pengetahuan gizi yang dimiliki ibu akan mempengaruhi pemilihan pangan bagi keluarganya, terutama ibu yang memiliki balita. Pengetahuan ibu tentang gizi yang baik akan mendorong ibu mempraktekkan pemberian makan yang baik bagi anak- anaknya. Ibu yang kurang tepat dalam memberikan asupan makanan biasanya dikarenakan kurangnya pengetahuan gizi ibu. Asupan makan balita yang tidak bergizi akan mempengaruhi tumbuh kembang balita tersebut. Pemilihan asupan makanan juga mempengaruhi status gizi balita. Hal ini menyebabkan status gizi balita tersebut bisa menjadi gizi kurang bahkan gizi buruk

Peran Suami Sebagai Breastfeeding Father (skripsi dan tesis)

1) Menjadi juru bicara dan pelindung Disini ayah berperan dalam mencari informasi sebanyakbanyaknya kepada ahlinya. Jika istri bekerja, jangan sungkan bicara dengan atasan agar istri diberi waktu, kalau perlu tempat khusus untuk memompa ASI. 2) Menjadi pendukung Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari, kejutan kecil, ataupun sekedar memandikan anak tanpa disuruh. Hal tersebut bisa memberikan ibu kebahagiaan tersendiri sehingga saat menyusui akan membuatnya lebih rileks dan ASI pun menjadi lebih lancar. 3) Menjadi manajer yang baik Suami bisa melakukannya dengan membuat daftar yang diperlukan untuk menyimpan ASI perahan. Misalnya seperti mencari stok botol dan memberikan label tanggal ASI masuk freezer. Menemani istri saat sedang memompa di malam hari dan mengingatkan istri untuk memompa ASI. 4) Menjadi orang tua yang sebenarnya Seperti mengurus anak, belanja keperluan keluarga dan lain-lain. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan kurang lebih  15 menit di posisi yang sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan ini butuh seorang super ayah yang ikut intervensi urusan rumah. 5) Bijaksana Menahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Mencari dan memberi pemahaman dengan cara yang tepat dan bijaksana pada orangtua, mertua, dan lainlain. 6) Tidak egois Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi, dan tugas suami tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas seorang ayah juga tidak selesai hanya ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga dengan seutuhnya bukan sekedar ATM berjalan. 7) Lepaskan beban Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban. Mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri. 8) Memberi motivasi, bukan memaksa Terkadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, dan ingin berhenti menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah sebagai pendengar yang baik, memahami kesulitan istri, ajak istri istirahat sejenak dan nikmati waktu berdua. Kemudian yakinkan istri bahwa ASI adalah makanan yang terbaik untuk buah hati. 9) Berbagi Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya, dengan sharing membuat Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu hal. 10) Be a google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya jika ayah juga bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban. Diskusikan dengan istri jawaban-jawaban itu