Altruism (altruisme) merupakan dampak yang diperoleh dari empati
yang dirasakan oleh seseorang (Zhang & Lee, 2012). Altruism sendiri adalah
bentuk dari motivasi sosial yang berhubungan dengan sikap suka bergaul,
inisiasi, berekspresi, dan kebaikan seseorang (Zhang & Lee, 2012). Altruism
sudah sejak lama menjadi variabel penghubung dalam perilaku manusia yang
berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dan berbagi suatu pengetahuan
(Oum & Han, 2011), sehingga dalam teknologi modern saat ini altruism
menjadi suatu hal yang wajib diperhatikan karena altruism mempengaruhi
pengguna teknologi dalam memberikan tanggapan pada layanan berbasis web
seperti situs jaringan sosial (SNS) dan perangkat komunikasi yang terdapat
dalam suatu lingkungan sosial (Arenas-Gaitán et al., 2018). Tanggapan yang
diberikan melalui SNS ataupun perangkat komunikasi lainnya tidak sematamata dilakukan hanya untuk memberikan rekomendasi dan informasi, namun
tanggapan tersebut juga merupakan bentuk dari altruism dan kebutuhan dasar
manusia (Lin & Huang, 2013). Altruism memberikan pengaruh pada
informasi yang bernilai positif maupun negatif atau yang lebih dikenal
dengan WOM, WOM positif mengenai suatu produk dibagikan dengan tujuan
membantu orang lain dalam membeli suatu produk sedangkan WOM negatif
Konsekuensi dari social identity
bertujuan untuk mencegah orang lain terjerumus pada pembelian produk yang
kurang layak atau tidak sesuai dengan fungsi maupun tujuan produk tersebut
(Zhang & Lee, 2012). Altruism menggerakan seseorang untuk
mengkomunikasikan suatu informasi yang diketahuinya kepada pihak lain
secara jujur terkait suatu produk dengan tujuan untuk melindungi dan
menghindarkan pihak lain dari produk yang dirasa kurang produktif di
internet (Zhang & Lee, 2012), hal ini menunjukan bahwa altruism
memberikan pengaruh terhadap WOM (Arenas-Gaitán et al., 2018).
Perilaku manusia memiliki hubungan dengan variabel altruism (Oum
& Han, 2011) sehingga diketahui bahwa terdapat aspek afektif terkait sikap,
watak dan nilai yang dianut oleh seseorang dalam hal altruism(Arenas-Gaitán
et al., 2018). Afektif tidak hanya menentukan dan mempengaruhi altruism
namun afektif sendiri merupakan salah satu dimensi yang terkandung dalam
social identity (Lee, Park, Kim, Kim, & Moon, 2011). Altruism juga
dipengaruhi oleh suatu ciri khas tertentu yang dianut oleh pengguna dalam
SNS (M. J. Kim, Lee, & Bonn, 2016). Pengguna SNS yang memiliki sifat
menjunjung kepentingan bersama (kolektivisme) dan memperhatikan social
identity cenderung berdampak pada altruism karena didasarkan pada budaya
yang dianut (Zhang & Lee, 2012), sehingga social identity memberikan
pengaruh terhadap altuism (Arenas-Gaitán et al., 2018).
