Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar manusia untuk
mengembangkan kepribadian di dalam maupun di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu agar pendidikan dapat
dimiliki oleh seluruh manusia maka pendidikan adalah tanggung jawab
keluarga, masyarakat dan pemerintah. Adapun definisi Pendidikan
menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a. Dewey (2003:69), Pendidikan adalah proses pembentukan
kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual yang tidak
ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya
pada masa dewasa.
b. Lavengeld mengartikan pendiikan sebagai usaha, pengaruh,
perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak yang
ditunjukan kepada pendewasaan anak atau lebih tepat membantu
anak agar cukup, cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa dan ditunjukan kepada
orang yang belum dewasa (Tanlain, 1992:65).
c. Syah (2010:10), Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini
mendapat awalan “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya,
memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi
latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, dan pimpinan
mengenai ahlak dan kecerdasan fikiran.
Berdasarkan UU bahwa tujuan pendidikan nasional tidak hanya
untuk mencerdaskan anak secara intelektual semata, tapi mengembangkan
kepribadian mereka secara utuh. Tantangan kehidupan global sekarang ini,
justru membutuhkan anak-anak, generasi muda dan mausia yang memiliki
kepribadian, kemandirian, kreativitas, dan semangat untuk melakukan
adaptasi dan peruahan kehidupan, bukan sekedar generasi muda yang
menguasai pengetahuan teknikal, tetapi lemah kepribadiannya. Hal penting
bagi praktik pendidikan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern
dan global tersebut adalah dibutuhkannya landasan paradigma pendidikan
yang bersifat transformasional, pendidikan yang membagun perubahan
pada diri anak, seluruh aspek kehidupan dirinya, perasaan, emosi, fikiran,
nilai-nilai dan kepribadiannya yang mendorong untuk perbaikan
kehidupan (Kuntoro, 2006:1-2).
Dalam praktik pendidikan, John Dawey menekankan konsep sosial
pendidikan yang melihat, berfikir, dan melakukan sebagai satu kesatuan
yang mengalir dari pengalaman yang berkesinambungan. Antara berfikir
(thinking) dan melakukan (doing) tidak dapat dipisahkan. Berfikir tidak
lengkap apabila tidak diuji dengan pengalaman. Berfikir dalam kehidupan
sehari-hari tidak hanya terjadi dalam otak, tetapi dengan melakukan
sesuatu atas objek tertentu, maka manusia berfikir (Kuntoro, 2006:5).
