Menurut Cummings dan Worley (2005) terdapat empat dimensi keterlibatan
kerja karyawan yang dijelaskan sebagai berikut;
a. Kekuasaan (Power)
Wewenang yang cukup bagi karyawan untuk membuat keputusan yang berkaitan
dengan pekerjaan yang meliputi berbagai isu seperti metode kerja, penugasan
kerja, hasil prestasi, pelaynan pelanggan dan pemilihan karyawan. Salah satu
contoh kecilnya adalah meminta saran karyawan untuk digunakan oleh manajer
dalam membuat keputusan Kantor.
b. Informasi (Information)
Informasi dapat berupa data tentang hasil operasi, rencana usaha, kondisi
persaingan, teknologi baru, metode kerja dan gagasan untuk memperbaiki
organisasional. Organisasional dapat mewujudkan keterlibatan karyawan dengan
menjamin informasi penting mengalir dengan bebas kepada karyawan yan
memiliki wewenang untuk mengamibil keputusan.
c. Pengetahuan dan Keterampilan (Knowledge and Skills)
Organisasional dapat memudahkan keterlibatan karyawan dengan melaksanakan
program pelatihan dan pengemangan untuk memperbaiki pengetahuan dan
keterampilan karyawan. Cara melibatkan karyawan dapat mencakup berbagai
keahlian yang berkitan dengan melakukan tugas, menngambil keputusan,
pemecahan masalah, dan memahami bagaimana operasi bisnis.
d. Penghargaan (Rewards)
Penghargaan dapat berpengaruh kuat terhadap keterlibatan karyawan dalam
orgnisasi. Penghargaan internal ketika mendapat apresiasi saat berhasil mencapai
sesuatu. Penghargaan eksternal merupakan gaji dan promosi yang dapat
menguatkan keterlibatan karyawan apabila penghargaan itu berkaitan langsunng
dengan kinerja yang dihasilkan dari adanya partisipasi atau keterlibatan dalam
pengambilan keputusan.
Menurut Luthans (2006) terdapat tiga keadaan psikologis yang dapat
meningkatkan keterlibatan kerja karyawan, yaitu;
a. Perasaan berarti
Secara psikologis ini merupakan perasaan diterima melalui energi fisik, kognitif,
dan emosional. Perasaan berarti adalah merasakan pengalaman tugas yang sedang
dikerjakan adalah berharga, berguna dan atau bernilai.
b. Rasa aman
Secara psikologis muncul ketika individu mampu menunjukkan atau bekerja tanpa
rasa takut atau memiliki konsekuensi negatif terhadap citra diri, status, dan atau
karier. Perasaaan aman dan percaya dibangun dengan situasi yang telah
diperkirakan, konsisten jelas tanpa ancaman.
c. Perasaan ketersediaan
Secara psikologis berarti individu merasa sumber-sumber yang memberikan
kecukupan fisik personal, emosional, dan kognitif tersedia pada saat-saat yang
dibutuhkan
