Konsep keterlibatan kerja didasari oleh teori motivasi Maslow yang
menyatakan bahwa individu akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan akan
harga dirinya dengan menjadi terlibat dalam pekerjaannya. Terkait dengan hal
tersebut, konsep teori ini memandang bahwa keterlibatan yang dimaksud
adalah keterlibatan pegawai akan tugas kerjanya, keterlibatan pegawai dalam
perannya di organisasi dan dedikasi pegawai pada pekerjaan yang ditekankan
pada aspek harga dirinya (May, Steward, & Logeword, 2004).
Konsep ini selanjutnya lebih dikembangkan pada tahun 1982 oleh
Kanungo. Kanungo mengidentifikasi makna yang tepat dari keterlibatan
kerja. Melalui hasil penelitiannya ia menyimpulkan bahwa keterlibatan kerja
dimaknai sebagai keadaan kognitif dari identifikasi psikologis individu
dengan pekerjaannya. Menurut Kanungo (1982), keterlibatan kerja adalah
keterlibatan ego individu dengan pekerjaan. Keterlibatan kerja merupakan
penggambaran sejauh mana keyakinan seseorang pada pekerjaannya (saat ini)
dan seberapa jauh pekerjaannya berguna untuk memuaskan kebutuhannya.
Kanungo menjelaskan bahwa individu cenderung lebih terlibat dalam
kegiatan tertentu ketika hal tersebut dipandangnya memiliki potensi
memuaskan bagi kebutuhan psikologisnya.
Selain itu ada sejumlah definisi keterlibatan kerja yang diungkapkan
oleh beberapa ahli lain, yaitu sebagai berikut:
1) Rogelberg (2007) menjelaskan bahwa keterlibatan kerja mengacu pada
keadaan identifikasi psikologis dengan pekerjaan atau sejauh mana
pekerjaan menjadi pusat identitas seseorang.
2) Menurut Robbins (2008), keterlibatan kerja didefinisikan sebagai tingkat
dimana seseorang mengidentifikasikan diri dengan pekerjaannya, giat
berpartisipasi dalam pekerjaannya, dan menyadari bahwa apa yang
dilakukannya penting bagi harga dirinya.
3) Lodahl dan Kejner (dalam Cohen, 2003) mendefinisikan keterlibatan
kerja sebagai internalisasi nilai-nilai tentang kebaikan pekerjaan atau
pentingnya pekerjaan bagi keberhargaan seseorang. Keterlibatan kerja
sebagai tingkat sampai sejauh mana performansi kerja seseorang
mempengaruhi harga dirinya dan tingkat sampai sejauh mana seseorang
secara psikologis mengidentifikasikan diri terhadap pekerjaannya atau
pentingnya pekerjaan dalam gambaran diri totalnya. Individu yang
memiliki keterlibatan yang tinggi lebih mengidentifikasikan dirinya pada
pekerjaannya dan menganggap pekerjaan sebagai hal yang sangat penting
dalam kehidupannya.
Berdasarkan dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan
bahwa keterlibatan kerja merupakan identifikasi psikologis dengan pekerjaan
tertentu, dimana hal tersebut tergantung dari seberapa besar pekerjaan
memiliki “arti penting” bagi kebutuhan dan persepsi seseorang mengenai
potensi pekerjaan yang memuaskan kebutuhannya. Selain itu keterlibatan
kerja merupakan internalisasi nilai-nilai tentang kebaikan pekerjaan dan
pentingnya pekerjaan bagi keberhargaan pegawai
