Kartajaya mengemukakan jika pemasar dapat
menciptakan pengalaman seputar produk atau jasa yang
ditawarkannya (experiential marketing), maka konsumen akan
selalu mengingat, membuat kunjungan kembali berdasarkan pengalaman tersebut, dan akan menyebarkan kisah tersebut
kepada teman-teman mereka.
Namun berbeda dengan penelitian dari M. Yusuf Arif
(2010) yang menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh positif
dan signifikan antara experiential marketing terhadap word of
mouth. Sedangkan hasil penelitian dari Muhamad dan Artanti
(2016) dan Mismiwati (2016) menyimpulkan bahwa variabel
experiential marketing berpengaruh terhadap variabel word of
mouth
