Locke dalam As’ad (1998:57) berpendapat bahwa tingkah laku manusia banyak didasarkan untuk mencapai tujuan. Teori Georgapalos dalam As’ad (1998:57) disebut Path Goal Theory Performance adalah fungsi dari “facilitating process” dan “inhibiting process”. Prinsip dasarnya ialah : “apabila seseorang melihat, bahwa performance yang tinggi itu merupakan jalur (path) untuk memuaskan needs (goal) tertentu, maka ia akan berbuat mengikuti jalur (path) tersebut, sebagai fungsi dari level of needs yang bersangkutan (facilitating process)”. Apakah proses tersebut akan melahirkan performance, tergantung dari tingkat kebebasan (level of freedom) yang ada pada jalur tersebut. Apabila tidak ada hambatan yang berarti (inhibiting process) maka dihasilkan performance, dan demikian pula sebaliknya. Kesimpulannya, performance kerja (kinerja) adalah fungsi dari motivasi untuk berproduksi dengan level tertentu. Dengan demikian maka semakin tinggi motivasi kerja maka akan semakin tinggi kinerja pegawai.
Kemampuan seseorang terbentuk dari pengetahuan dan ketrampilannya. Seorang pegawai yang memiliki kemampuan tinggi dalam melakukan pekerjaannya berarti ia memiliki pengetahuan tingkat tinggi mengenai hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan. Selain itu, juga memiliki ketrampilan sangat baik dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.
Pegawai yang berpengetahuan tinggi adalah pegawai yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan spesialisasi pendidikannya sesuai dengan bidang pekerjaannya. Ia memiliki banyak informasi aktual mengenai dinamika pekerjaan, baik yang diperoleh dari penjelasan Pemerintah maupun dari artikel media cetak. Ia memiliki banyak teori yang melandasi cara berpikir dalam pelaksanaan pekerjaan, memahami setiap peraturan perundang-undangan berikut petunjuk pelaksanaan yang berlaku dan berkaitan dengan bidang pekerjaan. Seorang pegawai yang memiliki pengetahuan tingkat tinggi memiliki potensi untuk melakukan tugas dengan baik tanpa mengalami kesulitan yang berarti, memiliki wawasan sangat luas dalam pelaksanaan pekerjaan, memiliki banyak pilihan cara untuk memecahkan masalah dan penyempurnaan bidang tugasnya dan ia mengetahui secara pasti cara-cara dan perilaku yang benar dan salah dalam pelaksanaan pekerjaan.
Seorang pegawai yang memiliki potensi untuk melakukan pekerjaan dengan baik, memiliki wawasan sangat luas berkaitan dengan bidang pekerjaannya dan memiliki banyak cara untuk pemecahan masalah, akan dengan mudah menangani setiap tugas yang dibebankan kepadanya. Jika diberi kesempatan, dia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengeluarkan buah pikiran yang berkaitan dengan bidang pekerjaannya. Dengan disertai kesungguhan dalam melaksanakan pekerjaan, pengetahuan secara pasti tentang cara dan perilaku yang benar dan salah, pegawai dengan ciri-ciri tersebut cenderung mampu memberikan hasil pekerjaan yang memuaskan pada bidang pekerjaannya. Dengan kata lain, apabila seorang pegawai memiliki kemampuan tinggi dalam melaksanakan pekerjaan akan menghasilkan kinerja yang tinggi.
Dalam hal keberhasilan suatu organisasi baik sebagai keseluruhan maupun sebagai kelompok dalam suatu organisasi, sangat bergantung pada mutu kepemimpinan yang terdapat dalam organisasi yang bersangkutan. Oleh karena itu mutu kepemimpinan yang terdapat dalam organisasi sangat menentukan/ memainkan peran yang sangat dominan dalam keberhasilan organisasi tersebut. Demikian juga dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kantor Kecamatan, maka pemimpin yang efektif harus menggunakan tipe/ gaya kepemimpinan yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Jadi tidak tergantung pada satu pendekatan atau tipe/ gaya untuk semua situasi. Pandangan ini mensyaratkan agar seorang pemimpin mampu membedakan tipe/ gaya kepemimpinan, membedakan situasi, menentukan tipe/ gaya yang sesuai untuk situasi tertentu serta mampu menggunakan tipe/ gaya tersebut secara benar. Dengan gaya kepemimpinan yang tepat maka akan meningkatkan kinerja pegawai.
