Faktor yang mempengaruhi terjadinya burnout adalah faktor
lingkungan kerja dan faktor individu (Pines dan Aronson dalam Retno,
Machmuroch, Priyatama, 2014). Menurut Baron dan Greenberg (Nugroho
& Marselius, 2012) terdapat dua faktor penyebab yang menimbulkan
terjadinya burnout, yaitu:
a. Faktor eksternal meliputi lingkungan kerja psikologis yang kurang
baik, kurangnya kesempatan untuk promosi, imbalan yang
diberikan tidak mencukupi, kurangnya dukungan sosial dari atasan,
tuntutan pekerjaan, pekerjaan yang monoton.
b. Faktor internal meliputi usia, jenis kelamin, harga diri, dan
karakteristik kepribadian.
Sumber atau penyebab burnout, sebagaimana dikemukakan oleh
Cherniss, Maslach, dan Sullivan (dalam Tanissa, 2018), terdiri dari empat
faktor, yaitu:
a. Faktor keterlibatan dengan penerima pelayanan. Dalam pekerjaan
pelayanan sosial (human services atau helping profession), para pekerjanya
memiliki keterlibatan langsung dengan objek kerja atau kliennya.
b. Faktor lingkungan kerja. Faktor ini berkaitan dengan beban kerja yang
berlebihan, konflik peran, ambiguitas peran, dukungan sosial dari rekan
kerja yang tidak memadai, dukungan sosial dari atasan tidak memadai,
kontrol yang rendah terhadap pekerjaan, peraturan-peraturan yang
kaku, kurangnya stimulasi dalam pekerjaan.
c. Faktor individu. Faktor ini meliputi faktor demografik (jenis kelamin,
latar belakang etnis, usia, status perkawinan, latar belakang pendidikan),
dan karakeristik kepribadian (konsep diri rendah, kebutuhan diri yang
terlalu besar, kemampuan yang rendah dalam mengendalikan emosi,
locus ofcontrol eksternal, introvert).
d. Faktor sosial budaya. Faktor ini meliputi keseluruhan nilai yang dianut
masyarakat umum berkaitan dengan profesi pelayan sosial.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan faktor penyebab burnout tidak
semata karena stres tetapi juga disebabkan oleh adanya karakteristik
individu, lingkungan kerja dan keterlibatan emosional dengan penerima
layanan. Akan tetapi, berdasarkan definisi burnout umumnya disebabkan
oleh stress intens berkepanjangan. Mc Ghee (dalam Sulistiyowati, 2007)
menyebutkan, burnout sebagai suatu keadaan di mana individu mengalami
kelelahan fisik, mental dan emosional bersumber karena stres yang dialami
dalam jangka waktu yang cukup lama dalam situasi yang menuntut
keterlibatan emosional yang cukup tinggi. Disebutkan juga oleh Baron dan
Greenberg (Rosyid, 1996) bahwa burnout adalah suatu sindrom kelelahan
emosional, fisik dan mental yang ditunjang oleh perasaan rendahnya harga
diri (self esteem) dan efikasi diri (self efficacy), yang disebabkan penderitaan
stres yang intens dan berkepanjangan (Rosyid, 1996).
Efikasi diri dapat mempengaruhi reaksi individu terhadap stres
melalui persepsi kemampuannya dalam mengontrol situasi, serta mengatur
pikiran dan kondisi perasaan negatif. Persepsi terhadap kemampuan
mengontrol tersebut didasarkan pada keyakinan individu terhadap
kemampuan menguasai performansi tertentu. Maka individu dengan
efikasi diri yang tinggi mampu mengelola stres dengan mengarahkan
mereka pada usaha penyelesaian masalah. Sebaliknya, individu yang tidak
memiliki keyakinan akan mencoba untuk menghindari berurusan dengan
masalah, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Chwalisz, Altmaier, dan
Russell (Bandura, 1997). Dengan demikian jika individu memberikan
reaksi yang positif dan memanajemen stres dengan baik maka burnout dapat
terhindari.
