Kerangka Pemikiran (skripsi dan tesis)

Burnout menunjukan adanya perubahan sikap dan perilaku seseorang
dalam menghadapi tuntutan, serta merasa frustasi di karenakan menganggap
dirinya tidak di hargai dalam pekerjaan (Maslach, 1981). Burnout di sebabkan
karena adanya tuntutan pekerjaan yang terus menerus membebani nya dalam
jangka waktu yang lama sehingga menyebabkan perubahan pada perilaku
karyawan. Perubahan yang terjadi seperti merasa kelelahan dan kehilangan energi
saat sedang melakukan tugas yang banyak dan berat, munculnya sikap sinis pada
diri karyawan karena kurangnya kepedulian antar karyawan. Hal ini menyebabkan
karyawan itu merasa tidak dihargai oleh lingkungannya serta mengalami
penurunan performa dan produktivitas di sebabkan kurangnya dukungan dari
lingkungan sehingga ia termotivasi untuk mengevaluasi pekerjaannya. Selain itu,
dampaknya ialah kurang memiliki sikap percaya diri akan kemampuan yang di
milikinya bisa seimbang dengan keinginan untuk mendapatkan hasil terbaik dan
prestasi yang di harapkan.
Berdasarkan fenomena yang terjadi dilapangan, kita melihat bahwa adanya
gejala-gejala burnout yang timbul dan terlihat pada diri karyawan finance ketika
beraktivitas di perusahaan. Faktor yang mungkin terjadinya burnout karena ia
merasa faktor Work Overloaded, ketika tugas dan pekerjaan nya terlalu banyak
dan karyawan finance merasa berat menyelesaikan. Hal tersebut membuat ia
mengalami kelelalan dan kehilangan energi nya saat mencoba menyelesaikan
pekerjaannya. Selanjutnya, karyawan finance merasa timbulnya faktor Lack Of
Control pada saat bekerja di dalam satu tim. Dimana tidak adanya sosok
pemimpin dari anggota tim. Hal tersebut membuat masing-masing anggota
kurangnya memiliki kontrol pada tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan
pada akhirnya tugas tersebut tidak di kerjakan dan semakin bertambah banyak.
Selanjutnya, karyawan finance merasa timbulnya faktor Lack of Rewards di
karenakan pada lingkungan kerjanya kurang terjalin hubungan yang harmonis.
Hal ini di sebabkan oleh dari masing-masing karyawan finance kurang memiliki
sikap keperdulian terhadap sesama rekan kerja dilingkungan. Selanjutnya,
karyawan finance merasa timbulnya faktor Community ditandai oleh perasaan
memihak terhadap lingkungan sekitar. Hal ini menyebabkan karyawan finance
lebih banyak melakukan aktivitas sendiri, hubungan yang terjalin dengan rekan
kerja kurang baik, lingkungan menjadi tidak nyaman. Akibat dari timbulnya
perasaan memihak ini membuat karyawan finance kurang memiliki keterikatan
positif di tempat bekerja. Selanjutnya, karyawan finance merasa timbulnya faktor
Fairness yang di tandai atasan nya sering membandingkan dirinya dengan
karyawan lain dalam masalah pekerjaan. Hal tersebut membuat dirinya kurang
mendapat perlakuan adil dari atasannya dan merasa tidak di hargai atas kerja
kerasnya. Dari kelima poin di atas menunjukan bahwa terdapat beberapa faktor
timbulnya burnout pada karyawan finance yang terlihat ketika menjalani
aktivitasnya di tempat bekerja.
Menurut Maslach and Jackson (1981) burnout sebagai sindrom psikologis
yang terdiri dari tiga dimensi yakni Emotional Exhaustion, Depersonalization,
Reduced Personal Accomplished. Sementara itu dari ketiga dimensi tersebut
memiliki beberapa indikator diantaranya untuk dimensi kelelahan emosional
yakni tidak ada semangat kerja, frustasi, tertekan, memiliki keluhan fisik.
Indikator dimensi depersonalisasi sikap acuh tak acuh dan sikap tertutup. Dan
yang terakhir ialah indikator dimensi penurunan prestasi pribadi yakni penurunan
performances, prestasi kerja menurun.
Dari fenomena yang terjadi di lapangan, dapat kita lihat bahwa karyawan
akan merasa memiliki dampak terjadinya burnout ketika gejala gejalanya mulai
muncul pada dirinya ketika sedang melakukan aktivitasnya di kantor. Dampak
yang mungkin terjadi seperti karyawan merasa burnout membuat dirinya
kehilangan energi ketika sedang melakukan pekerjaanya yang terlalu banyak dan
dinilai berat. Hal tersebut membuat karyawan merasa kewalahan dengan
pekerjaannya, kemudian ia akan merasa lelah dan kondisi tubuhnya menjadi letih.
Selanjutnya, karyawan merasa burnout membuat dirinya kehilangan antusias
dalam bekerja. Hal ini dinilai sering menyebabkan karyawan merasa keinginan
dalam bekerja menurun, mulai berpikir bahwa pekerjaan yang di jalani kurang
menyenangkan, timbulnya ketertarikan pada hal lain di luar pekerjaan sehingga
hasil yang di peroleh kurang sesuai target. Selanjutnya, karyawan merasa burnout
membuat dirinya kurang memiliki sikap percaya diri. Hal ini di tandai dirinya
kehilangan energinya dan antusiasnya pun mulai berkurang menjadikan karyawan
tidak mampu memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk bekerja dan
membuat dirinya semakin tidak efektif karena merasa tidak bisa menghasilkan apa
apa bagi pekerjaannya. Ketika burnout mulai dirasakan oleh karyawan nyatanya
memang hal tersebut membuat karyawan merasa putus asa dan kehilangan
keinginannya dalam memperbaiki kinerjanya. Dalam hal ini, dari ketiganya
mampu memberikan dampak bagi karyawan yang merasa burnout melalui
pekerjaanya sendiri.
Semakin besar kapasitas pekerjaan menumpuk yang setiap hari dihadapi
oleh karyawan membuat burnout yang dirasakan justru semakin tinggi. Hal
tersebut dipicu karena karyawan merasa pekerjaannya berat dan merasa
kewalahan dengan tanggung jawabnya di kantor sehingga kelelahan yang di
rasakan dan di sertai energi yang mulai habis karena selain mengurusi
pekerjaannya namun tanpa ia sadar, masalah tersebut ia bawa ke dalam
pikirannya. Untuk itu perlu diketahui karakteristik dari karyawan yaitu jenis
kelamin, usia, jabatan, lama bekerja, tingkat pendidikan dan domisili.
Banyaknya faktor yang muncul disebabkan oleh dampak burnout pada diri
karyawan dan pekerjaan serta perlu ditinjau lebih detail dari karakteristik
demografisnya serta kaitannya dengan fenomena yang terjadi di lapangan, hal
tersebut yang menyebabkan timbulnya burnout pada karyawan finance