Praktik Quality of Work Life (skripsi dan tesis)

Reddy M dan Reddy P (2013) mengemukakan delapan bidang program
Quality of Work Life ideal. Bidang-bidang tersebut adalah:
1. Kompensasi yang mencukupi dan adil.
Bidang ini fundamental bagi Quality of Work Life, manusia bekerja
untuk kehidupan, karena itu kesuksesannya tergantung pada pemenuhan
kehidupannya. Kompensasi yang diberikan harus mencukupi, harus
proporsional kepada tenaga kerja dan harus terjadi konsistensi internal
di antara upah para tenaga kerja.
2. Kondisi kerja yang aman dan sehat.
Kondisi kerja yang tidak aman dan berbahaya menyebabkan problem
baik kepada pegawai dan majikan. Mungkin ada keuntungan kecil bagi
para majikan dalam waktu jangka pendek, akan tetapi dalam jangka
menengah dan panjang akan mempengaruhi produktivitas para
pegawai. Oleh karena itu, invesmen yang mencukupi harus dilakukan
untuk memastikan terciptanya kondisi kerja yang aman dan sehat.
3. Peluang segera pemakaian dan mengembangkan kapasitas manusia.
Pekerjaan telah menjadi rutin, tak bermakna dan terlalu terspesialisasi
menghilangkan pemenuhan kepuasan pegawai. Oleh karena itu, upaya
harus dibuat untuk meningkatkan otonomi, perspektif dan mengekspose
keterampilan multiple.
4. Peluang untuk terus tumbuh dan sekuriti di masa yang akan datang.
Hal ini berhubungan dengan prospek karier dari para pegawai. Jalur
karier yang bermakna harus diletakkan dan pemetaan karir dari para
pegawai harus diikuti. Ketentuan peluang kemajuan merupakan peran
sentral dalam Quality of Work Life.
5. Integrasi sosial dalam organisasi kerja.
Hubungan antara para pegawai merupakan indikator organisasi kerja
yang sehat. Oleh karena itu, peluang harus disediakan untuk interaksi
formal dan informal. Semua golongan agama, ras, keterampilan dan
pangkat harus diperlakukan sama dalam platform sosial. Dengan kata
lain, menciptakan lingkungan yang egalitarian.
6. Konstitusionalisme dalam organisasi kerja.
Hal ini terkait dengan norma organisai yang mempengaruhi kebebasan
dari pegawai. Upaya harus dibuat untuk melihat norma yang benar
dibentuk dalam organisasi. Hal ini berarti adanya kebebasan berbicara,
dan kebebasan untuk berbeda mengenai hal tertentu.
7. Kerja dan tempat total kehidupan.
Para pegawai tidak diperbolehkan secara terus menerus memaksakan
diri untuk terus bekerja. Kerja keras yang terus menerus mengakibatkan
siksaan psikologi dan fisik. Oleh karena itu, harus ada kesimbangan
antara kehidupan personal dan profesional. Organisasi harus
menciptakan liburan untuk memperkaya kehidupan para pegawai.
8. Relevansi sosial kehidupan kerja.
Para pegawai harus diberikan perspektif bagaimana pekerjaannya dalam
organisasi membantu masyarakat. Hal ini esensial untuk membangun
relevansi eksistan para pegawai kepada masyarakat di mana mereka
tinggal.