Pengertian Intention to leave (skripsi dan tesis)

Pergantian karyawan atau keluar masuknya karyawan dari organisasi
adalah suatu fenomena penting dalam kehidupan organisasi. Intention to
leave adalah keinginan untuk berpindah, belum sampai pada tahap realisasi
yaitu melakukan perpindahan dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya.
Indikasi adanya niatan itu muncul dalam bentuk perilaku karyawan, antara
lain: absensi yang meningkat, mulai malas kerja, naiknya keberanian untuk
melanggar tata tertib kerja, keberanian untuk menentang atau protes kepada
atasan, maupun keseriusan untuk menyelesaikan semua tanggung jawab
karyawan yang sangat berbeda dari biasanya.
Abbasi dan hollman dalam Jurnal Manajemen Indonesia Vol 15 – No.
2 (2015:158) mengklasifikasikan turnover berdasarkan pemicu keputusan
yang dibuat, yaitu dengan kemauan sendiri (voluntary) dan bukan kemauan
sendiri (involuntary). Faktor yang menyebabkan karyawan berpindah
pekerjaan dapat kategorikan sebagai faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal berupa pendorong yang berasal dari luar individu karyawan,
seperti dorongan keluarga dan peluang yang diberikan perusahaan lain.
Faktor internal adalah faktor yang terkait langsung dengan diri karyawan,
seperti kepuasan yang dirasakan karyawan atas kompensasi yang
diterimanya, kepuasan akan pekerjaannya, rasa aman karyawan dalam
bekerja dan komitmen karyawan terhadap perusahaannya.
Yucel (2012:2) menyatakan bahwa keinginan berpindah didefinisikan
sebagai faktor mediasai antara sikap yang mempengaruhi niat untuk keluar
dan benar-benar keluar dari perusahaan. Intention to leave adalah niat
meninggalkan perusahaan secara sukarela, yang dapat mempengaruhi status
perusahaan dan dengan pasti akan mempengaruhi produktivitas karyawan (
Issa et. al, 2013:526). Proses dimana karyawan-karyawan meninggalkan
organisasi dan harus digantikan. Intention to leave adalah derajat
kecenderungan sikap yang dimiliki oleh karyawan untuk mencari pekerjaan
baru di tempat lain atau adanya rencana untuk meninggalkan perusahaan
dalam masa tiga bulan yang akan datang, enam bulan yang akan datang, satu
tahun yang akan datang, dan dua tahun yang akan datang (Dharma, 2013:1).
Menurut Handoko (2001:131) permintaan berhenti dapat terjadi jika seorang
karyawan melihat kesempatan karir yang lebih besar di tempat lain.
Menurut Harnoto (dalam Dharma, 2013:2) Intention to leave ditandai
oleh berbagai hal yang menyangkut perilaku karyawan, diantaranya :
1) Absensi yang meningkat
Karyawan yang berkeinginan pindah kerja, biasanya ditandai dengan
absensi yang semakin meningkat. Tingkat tanggung jawab karyawan
dalam fase ini sangat kurang dibandingkan dengan sebelumnya.
2) Mulai malas bekerja
Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja akan lebih
malas bekerja, karena orientasi karyawan ini adalah bekerja ditempat
lainnya yang dipandang lebih mampu memenuhi semua keinginan
karyawan bersangkutan.
3) Peningkatan terhadap pelanggaran tata tertib kerja
Berbagai pelanggaran terhadap tata tertib dalam lingkungan pekerjaan
sering dilakukan karyawan yang akan melakukan turnover. Karyawan
lebih sering meninggalkan tempat kerja ketika jam-jam kerja
berlangsung, maupun berbagai bentuk pelanggaran lainnya.
4) Peningkatan protes terhadap atasan
Karyawan yang berkeinginan untuk melakukan pindah kerja, lebih
sering melakukan protes terhadap kebijakan-kebijakan perusahaan
kepada atasan. Materi protes yang ditekankan biasanya berhubungan
dengan balas jasa atau aturan lain yang tidak sependapat dengan
keinginan karyawan.
5) Perilaku positif yang sangat berbeda dari biasanya
Biasanya hal ini berlaku untuk karyawan yang memiliki karakteristik
positif. Karyawan ini mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap
tugas yang dibebankan, dan jika perilaku positif karyawan ini meningkat
jauh dan berbeda dari baisanya justru menunjukan karyawan ini akan
melakukan turnover.