Faktor-Faktor Intrinsik dan Ekstrinsik Penyebab Stres Kerja (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres di pekerjaan berdasarkan penelitian
Hurrell, dkk. 1988 (dalam Munandar, 2008:381) yaitu:
1. Faktor Intrinsik dalam Pekerjaan
Faktor intrinsik ini meliputi:
a. Tuntutan fisik
Kondisi fisik kerja mempunyai pengaruh terhadap kondisi fatal dan psikologis diri
seorang tenaga kerja. Kondisi fisik dapat merupakan pembangkit stres (stressor),
meliputi:
● Bising
Bising selain dapat menimbulkan gangguan sementara atau tetap pada alat
pendengaran, juga dapat merupakan sumber stres yang menyebabkan peningkatan
dari kesiagaan dan ketidakseimbangan psikologis.
● Paparan (exposure)
Paparan terhadap bising berkaitan dengan rasa lelah, sakit kepala, lekas
tersinggung, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.
●Getaran
Getaran merupakan sumber stres yang kuat yang menyebabkan peningkatan taraf
catecholamine dan perubahan dari berfungsinya seseorang secara psikologikal
dan neurological.
●Hygiene
Lingkungan yang kotor dan tidak sehat merupakan pembangkit stres.
b. Tuntutan Tugas
Penelitian menunjukkan bahwa kerja shift/kerja malam merupakan sumber utama
dari stres bagi para pekerja yang berpengaruh secara emosional dan biologikal
(Monk dan Tepas, 1985 dalam Munandar, 2008: 383). Beban kerja yang berlebih
dan beban kerja yang terlalu sedikit merupakan pembangkit stres, dimana beban
kerja ‘kuantitatif’ timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang terlalu
banyak/sedikit diberikan kepada karyawan untuk diselesaikan pada waktu
tertentu. Beban kerja berlebih/terlalu sedikit ‘kualitatif’, yaitu jika orang merasa
tidak mampu untuk melakukan suatu tugas, atau tugas tidak menggunakan
ketrampilan dan/atau potensi dari tenaga kerja.
c. Peran Individu Dalam Organisasi
Konflik peran (role conflict) timbul jika karyawan mengalami adanya
pertentangan antara tugas-tugas yang harus dilakukan dan antara tanggungjawab
yang dimiliki, tugas-tugas yang harus dilakukan menurut pandangan karyawan
bukan merupakan bagian dari pekerjaannya, tuntutan-tuntutan yang bertentangan
dari atasan, rekan, bawahan, atau orang lain yang dinilai penting bagi dirinya, dan
pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu melakukan
tugas pekerjaannya.Stres timbul karena ketidakcakapannya untuk memenuhi
tuntutan-tuntutan dab berbagai harapan terhadap dirinya.
Ambiguitas peran (role ambiguity) dirasakan jika seorang karyawan tidak
memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak
mengerti atau merealisasi harapan-harapan yang berkaitan dengan peran tertentu.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketaksaan peran antara lain ketidakjelasan
dari sasaran/tujuan kerja, kesamaran tentang tanggungjawab, ketidakjelasan
tentang prosedur kerja, kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain,
dan kurang adanya balikan atau ketidakpastian tentang unjuk kerja pekerjaan.
d.Pengembangan Karir
Pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup
ketidakpastian pekerjaan, promosi berlebih, dan promosi yang kurang.
e. Hubungan dalam Pekerjaan
Hubungan yang baik antaranggota dari satu kelompok kerja dianggap sebagai
faktor utama dalam kesehatan individu dan organisasi (Cooper,dalam Munandar,
2008: 395). Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala
adanya kepercayaan yang rendah, taraf pemberian support yang rendah, dan minat
yang rendah dalam pemecahan masalah dalam organisasi. Ketidakpercayaan
secara positif berhubungan dengan ambiguitas peran yang tinggi, yang mengarah
ke komunikasi antar pribadi yang tidak sesuai antara para karyawan dan
ketegangan psikologikal dalam bentuk kepuasan pekerjaan yang rendah,
penurunan dari kondisi kesehatan, dan rasa diancam oleh atasan dan rekan-rekan
sekerjanya (Kahn, dkk.,dalam Munandar, 2008: 395).
f. Struktur dan Iklim Organisasi
Bagaimana para karyawan mempersepsikan kebudayaan, kebiasaan, dan iklim
organisasi adalah penting dalam memahami sumber-sumber stres potensial
sebagai hasil dari beradanya mereka dalam organisasi: kepuasan dan
ketidakpuasan kerja berkaitan dengan struktur dan iklim organisasi. Faktor stres
yang ditemukenali dalam kategori ini terpusat pada sejauh mana tenaga kerja
dapat terlibat atau berperan serta dan pada support sosial.
2. Faktor Ekstrinsik dalam Pekerjaan
Kategori pembangkit stres potensial ini mencakup segala unsur kehidupan
seseorang yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa kehidupan dan kerja di
dalam satu organisasi, dan dengan demikian memberikan tekanan pada
individu.Isu-isu tentang keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan,
keyakinan-keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, konflik antara
tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, semuanya dapat merupakan tekanan
pada individu dalam pekerjaannya mempunyai dampak yang negatif pada
kehidupan keluarga dan pribadi. Namun demikian, perlu diketahui bahwa
peristiwa kehidupan pribadi dapat meringankan akibat dari pembangkit stres
organisasi.
Menurut Munandar (2008: 391), stres ditentukan pula oleh ciri-ciri
individu, sejauh mana melihat situasinya sebagai penuh stres. Reaksi-reaksi
psikologis, fisiologis dan/atau dalam bentuk perilaku terhadap stres adalah hasil
dari interaksi situasi dengan individunya, mencakup ciri-ciri kepribadian yang
khusus dan pola-pola perilaku yang didasarkan pada sikap, kebutuhan, nilai-nilai,
pengalaman lalu, keadaan kehidupan, dan kecakapan (antara lain intelegensi,
pendidikan, pelatihan, dan pembelajaran). Dengan kata lain faktor-faktor dalam
individu berfungsi sebagai faktor pengubah antara rangsang dari lingkungan yang
merupakan pembangkit stres potensial dengan individu. Faktor pengubah ini
yang menentukan bagaimana, dalam kenyataannya, individu bereaksi terhadap
pembangkit stres potensial.