Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasional (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasional menurut Dyne
dan Graham (2005) adalah:
a. Personal.
1) Ciri-ciri kepribadian tertentu.
Ciri-ciri kepribadian tertentu seperti teliti, ekstrovert, berpandangan positif
(optimis), cenderung lebih komit. Demikian juga individu yang lebih
berorientasi kepada tim dan menempatkan tujuan kelompok diatas tujuan
sendiri serta individu yang altruistik (senang membantu) akan cenderung
lebih komit.
2) Usia dan Masa kerja.
Usia dan masa kerja berhubungan positif dengan komitmen organisasi.
3) Tingkat pendidikan.
Makin tinggi semakin banyak harapan yang mungkin tidak dapat di
akomodir, sehingga komitmennya semakin rendah.
4) Jenis kelamin.
Wanita pada umunya menghadapi tantangan lebih besar dalam mencapai
karirnya, sehingga komitmennya lebih tinggi.
5) Status perkawinan.
Karyawan yang sudah menikah lebih terikat dengan organisasinya.
6) Keterlibatan kerja.
Tingkat keterlibatan kerja individu berhubungan positif dengan komitmen
organisasi.
b. Situasional.
1) Nilai (value) Tempat kerja.
Nilai-nilai yang dapat dibagikan adalah suatu komponen kritis dari
hubungan saling keterikatan. Nilai-nilai kualitas, inovasi, kooperasi,
patisipasi dan trust akan mempermudah sikap pegawai untuk saling berbagi
dan membangun hubungan erat. Jika para pegawai percaya bahwa nilai
organisasinya adalah kualitas produk jasa, para pegawai akan telibat dalam
perilaku yang memberikan konstribusi untuk mewujudkan hal itu;
2) Keadilan organisasi.
Keadilan organisasi meliputi: Keadilan yang berkaitan dengan kewajaran
alokasi sumber daya, keadilan dalam proses pengambilan keputusan, serta
keadilan dalam persepsi kewajaran atas pemeliharaan hubungan antar
pribadi;
3) Karakteristik pekerjaan.
Meliputi pekerjaan yang penuh makna, otonomi dan umpan balik dapat
merupakan motivasi kerja yang internal. Jerigan, Beggs menyatakan
kepuasan atas otonomi, status dan kebijakan merupakan prediktor penting
dari komitmen. Karakteristik spesifik dari pekerjaan dapat meningkatkan
rasa tanggung jawab, serta rasa kerterikatan terhadap organisasi
4) Dukungan organisasi.
Dukungan organisasi mempunyai hubungan yang positif dengan komitmen
organisasi. Hubungan ini didefinisikan sebagai sejauh mana pegawai
mempersepsi bahwa organisasi (lembaga, pimpinan, rekan) memberi
dorongan, respek, menghargai kontribusi dan memberi apresiasi bagi
individu dalam pekerjaannya. Hal ini berarti jika organisasi peduli dengan
keberadaan dan kesejahteraan pegawai dan juga menghargai kontribusinya,
maka pegawai akan menjadi komit.
c. Posisional.
1) Masa kerja.
Masa kerja yang lama akan semakin membuat pegawai komit, hal ini
disebabkan oleh karena semakin peluang pegawai untuk menerima tugas
menantang, otonomi semakin besar, serta peluang promosi yang lebih
tinggi. Juga peluang investasi pribadi berupa pikiran, tenaga dan waktu yang
semakin besar, hubungan sosial lebih bermakna, serta akses untuk mendapat
informsi pekerjaan baru makin berkurang.
2) Tingkat pekerjaan.
Berbagai penelitian menyebutkan status sosioekonomi sebagai prediktor
komitmen paling kuat. Status yang tinggi cenderung meningkatkan motivasi
maupun kemampuan aktif terlibat (Priansa (2014: 237).