Menurut Diener dan Suh (2000), ada dua pendekatan teori
Subjective Well-Being yaitu:
a. Bottom up theories
Teori memandang bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup yang dirasakan
dan dialami seseorang tergantung dari banyaknya kebahagiaan kecil serta
kumpulan peristiwa-peristiwa bahagia. Teori ini beranggapan bahwa
perlunya mengubah lingkungan dan situasi yang akan mempengaruhi
pengalaman individu, misalnya pekerjaan yang memadai, lingkungan
rumah yang aman, serta pendapatan yang layak untuk meningkatkan
Subjective Well-Being .
b. Top down theories
Subjective Well-Being yang dialami seseorang tergantung dari cara
individu tersebut mengevaluasi dan menginterpretasi suatu peristiwa atau
kejadian dalam sudut pandang yang positif. Teori ini menganggap bahwa,
individu memegang kendali atas setiap peristiwa yang dialami, apakah
peristiwa tersebut akan menciptakan kesejahteraan psikologis bagi dirinya
atau sebaliknya. Pendekatan ini mempertimbangkan jenis kepribadian,
sikap, dan cara-cara yang digunakan untuk menginterpretasi suatu
peristiwa. Sehingga untuk meningkatkan Subjective Well-Being
diperlukan usaha yang berfokus pada mengubah persepsi, keyakinan dan
sifat kepribadian seseorang.
