Pengertian Self esteem (skripsi dan tesis)

Menurut Morris Rossenberg (dalam Flynn, 2001) self esteem adalah sikap
individual, baik positif atau negatif terhadap dirinya sebagai suatu totalitas. Dijelaskan oleh
Mruk (2006) bahwa Rossenberg telah memperkenalkan cara lain dalam mendefinisikan self
esteem yaitu sebagai suatu rangkaian sikap individu tentang apa yang dipikirkan mengenai
dirinya berdasarkan persepsi perasaan yaitu suatu perasaan tentang “keberhargaan” dirinya
atau sebuah nilai sebagai seseorang.
Didefinisikan oleh Minchinton (1995) bahwa self esteem adalah nilai yang individu
letakkan pada diri individu sendiri. Penilaian diri individu sendiri untuk melihat betapa
berharganya diri individu tersebut sebagai manusia, berdasarkan persetujuan atau pertidak
setujuan dari diri individu, mengenai diri individu dan perilaku individu.
Harga diri terhubung dalam cara yang penting untuk mengetahui bagaimana individu
mendekati kehidupan individu sendiri. Siapakah yang memiliki perasaan bagus cenderung
bahagia, sehat, sukses, dan produktif. Individu tersebut cenderung teguh dalam usahanya,
lebih tahan lama saat mengerjakan sesuatu yang sulit, tidur lebih malam, dan memiliki sedikit
luka dalam tubuhnya. Individu tersebut juga lebih dapat menerima orang lain dan kurang
menyukai untuk conform (menyesuaikan) pada tekanan yang sama. Dalam perbedaannya,
orang orang dengan harga diri yang rendah lebih cemas, depresi, pesimistis tentang masa
depan, dan cenderung akan gagal (Brown, 1991).
Orang-orang yang kekurangan harga diri membawa tugas baru yaitu sifat kalah diri
yang menjadi perangkap individu tersebut dalam lingkaran yang jahat. Harapan untuk gagal
dan ketakutan yang sangat buruk. Individu menjadi cemas, berusaha dengan usaha yang
kurang, dan “menyuarakan” pentingnya tantangan, kemudian ketika mereka gagal, orangorang dengan harga diri rendah menyalahkan dirinya sendiri dan mengakhiri dengan perasaan
tidak mampu (Brockner, 1983). Riset yang menunjukkan bahwa orang-orang termotivasi
untuk menjaga self image yang positif karena harga diri akan membantu untuk melindungi
individu dari akar ketakutan yang sangat dalam seperti kematian dan kecemasan lain
(Solomon, dkk., 1991 ; Greenberg, dkk., 1992). Sebagaimana bila hal itu tidak cukup buruk,
orang-orang yang memiliki harga diri yang rendah juga cenderung akan mudah sakit,
penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa membuat orang sadar terhadap evaluasi diri yang
negatif dapat membuat efek yang kurang baik pada aktivitas tertentu yang berhubungan
dengan sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh (imune) kapasitas tubuh terhadap
matinya penyakit (Strauman, dkk., 1993).
Klas & Hodge (1978) berpendapat bahwa harga diri adalah sesuatu persepsi diri
seseorang mengenai rasa keberhargaannya, yang prosesnya didapatkan dari hasil interaksi
dengan lingkungannya, serta penghargaan, penerimaan dan perlakuan orang lain terhadap
dirinya.
Harga diri adalah penilaian pribadi yang dilakukan individu mengenai perasaan
berharga atau berarti dalam bentuk sikap individu terhadap dirinya (Copersmith, 1967). Harga
diri berkaitan erat dengan harapan akan keberhasilan. Dinyatakan oleh Copersmith (1967)
bahwa tinggi rendahnya harga diri individu menentukan sejauh mana individu tersebut
percaya bahwa individu itu mampu, penting dan berharga. Harga diri menjadi persyaratan
yang penting dalam membentuk tingkah laku yang efektif. Individu dengan harga diri tinggi
mempunyai ciri-ciri sebagai individu yang aktif, ekspresif, cenderung sukses dalam bidang
akademis dan kehidupan sosialnya. Kebutuhan akan harga diri bagi seseorang merupakan
salah satu hal untuk mendapatkan kepuasan hidup.
Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa harga diri merupakan
sikap individual, baik positif atau negatif terhadap dirinya dimana seluruh manusia
memilikinya guna untuk melihat betapa berharganya dirinya sebagai manusia