self Esteem mulai terbentuk pada masa kanak-kanak dan berkembang terutama sebagai akibat dari hubungan atau interaksi diri dengan orang lain. Pada tahun-tahun awal, sewaktu seorang anak menerima isyarat-isyarat tentang dirinya merupakan tahun-tahun yang rawan. Sedangkan pada akhir tahun kedua, diperkirakan kerangka dasar tentang gambaran diri sudah terbentuk dalam diri seorang anak. Sikap diri bahkan mulai mengakar pada saat bersekolah (Centi, 1999 dalam Wahyuni, 2005). Perkembangan selanjutnya, pertambahan usia dan pengalaman individu dalam berinteraksi dengan orang lain akan mengakibatkan kestabilan tingkat self esteem seseorang. Kestabilan tingkat self esteem ini biasanya tercapai saat seseorang berada pada awal masa remaja atau akhir masa kanak-kanak (Steinberg, 2002 dalam Siregar, 2006). Apabila pada akhir masa kanak-kanak sudah memiliki tingkat self esteem yang tinggi atau positif, maka rentang hidup selanjutnya juga memiliki kecenderungan untuk memiliki tingkat self esteem yang tinggi atau positif pula. Menurut Coopersmith, 1967 (dalam Wahyuni, 2005) ada dua faktor penting dalam perkembangan self esteem. Faktor yang pertama adalah kadar perlakuan yang menghargai, menerima dan perhatian diterima oleh individu dari orang-orang yang penting dalam kehidupannya. Faktor yang kedua adalah sejarah kesuksesan dan kegagalan individu termasuk didalamnya status obyektif dan posisi sosial yang dicapai oleh individu tersebut. Berdasarkan beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa self esteem terbentuk karena adanya hubungan atau interaksi dengan orang lain. Orang tua yang memberikan pola pendidikan yang baik akan dapat mempengaruhi perkembangan self esteem anak. Semakin tinggi tingkat usia seseorang maka kemungkinan tingkat self esteem orang tersebut juga semakin tinggi dan positif.
