Komponen-komponen Subjective Well-Being (skripsi dan tesis)

Subjective well being tersusun dari beberapa komponen utama, termasuk kepuasan
hidup secara umum, kepuasan terhadap ranah spesifik kehidupan, adanya afek yang positif
(mood dan emosi yang menyenangkan), dan ketiadaan afek negatif (mood dan emosi yang
tidak menyenangkan) (Eddington & Shuman, 2005).
Komponen-komponen utama kemudian dijelaskan kedalam beberapa elemen khusus.
Afek positif meliputi kegembiraan, keriangaan hati, kesenangan, kebahagiaan hati,
kebanggaan, dan afeksi. Sedangkan afek negatif meliputi munculnya perasaan bersalah, malu,
kesedihan, kecemasan dan kekhawatiran, kemarahan, stress, depresi, dan rasa iri. Kepuasan
hidup dikategorikan melalui kepuasan hidup saat ini, kepuasan hidup pada masa lalu, dan
kepuasan akan masa depan. Kepuasan ranah kehidupan muncul terhadap pekerjaan, keluarga,
waktu, kesehatan, keuangan, dirinya sendiri, dan kelompoknya (Eddington & Shuman, 2005).
Dikemukakan oleh Diener (1994) bahwa subjective well-being memiliki tiga bagian
penting, pertama merupakan penilaian subyektif berdasarkan pengalaman pengalaman
individu, kedua mencakup penilaian ketidakhadiran faktor-faktor negatif, dan ketiga penilaian
kepuasan global. Menurut Diener, 1994 (dalam Shanti, 2013) adanya dua komponen umum
dalam subjective well being yaitu dimensi kognitif dan dimensi afektif.
a. Dimensi Kognitif. Kepuasan hidup (life satisfaction) merupakan bagian dari
dimensi kognitif dari subjective well-being. Life satisfaction (Diener, 1994) merupakan
penilaian kognitif seseorang mengenai kehidupannya, apakah kehidupan yang dijalaninya
berjalan dengan baik. Ini merupakan perasaan cukup, damai dan puas, dari kesenjangan antara
keinginan dan kebutuhan dengan pencapaian dan pemenuhan. Campbell, Converse, dan
Rodgers (dalam Diener, 1994) berpendapat bahwa komponen kognitif ini merupakan
kesenjangan yang dipersepsikan antara keinginan dan pencapaiannya apakah terpenuhi atau
tidak. Dimensi kognitif subjective well-being ini juga mencakup area kepuasan /
domain satisfaction individu di berbagai bidang kehidupannya seperti bidang yang berkaitan
dengan diri sendiri, keluarga, kelompok teman sebaya, kesehatan, keuangan, pekerjaan, dan
waktu luang, artinya dimensi ini memiliki gambaran yang multifacet. Hal ini sangat
bergantung pada budaya dan bagaimana kehidupan seseorang itu terbentuk (Diener, 1984).
Dinyatakan juga oleh Andrew dan Withey (dalam Diener, 1984) bahwa domain yang paling
dekat dan mendesak dalam kehidupan individu merupakan domain yang paling
mempengaruhi subjective well-being individu tersebut. Dikatakan oleh Diener (2000) bahwa
dimensi ini dapat dipengaruhi oleh afek namun tidak mengukur emosi seseorang.
b. Dimensi Afektif. Dimensi dasar dari subjective well-being adalah afek, di mana di
dalamnya termasuk mood dan emosi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Individu
bereaksi dengan emosi yang menyenangkan ketika individu menganggap sesuatu yang baik
terjadi pada diri individu, dan bereaksi dengan emosi yang tidak menyenangkan ketika
menganggap sesuatu yang buruk terjadi pada individu, karenanya mood dan emosi bukan
hanya menyenangkan dan tidak menyenangkan tetapi juga mengindikasikan apakah kejadian
itu diharapkan atau tidak (Diener, 2003).
Dimensi afek ini mencakup afek positif yaitu emosi positif yang menyenangkan dan
afek negatif yaitu emosi dan mood yang tidak menyenangkan, dimana kedua afek ini berdiri
sendiri dan masing-masing memiliki frekuensi dan intensitas (Diener, 2000).
Dikatakan oleh Diener & Lucas (2000) bahwa dimensi afektif ini merupakan hal
yang sentral untuk subjective well-being. Dimensi afek memiliki peranan dalam mengevaluasi
well-being karena dimensi afek memberi kontribusi perasaan menyenangkan dan perasaan
tidak menyenangkan pada dasar kontinual pengalaman personal. Kedua afek berkaitan dengan
evaluasi seseorang karena emosi muncul dari evaluasi yang dibuat oleh orang tersebut.
Afek positif meliputi simptom-simptom antusiasme, keceriaan, dan kebahagiaan
hidup. Sedangkan afek negatif merupakan kehadiran simptom yang menyatakan bahwa hidup
tidak menyenangkan (Synder, 2007). Dimensi afek ini menekankan pada pengalaman emosi
menyenangkan baik yang pada saat ini sering dialami oleh seseorang ataupun hanya
berdasarkan penilaiannya (Diener, 1984).
Diungkapkan juga oleh Diener (1984) bahwa keseimbangan tingkat afek merujuk
kepada banyaknya perasaan positif yang dialami dibandingkan dengan perasaan negatif.
Dinyatakan oleh Diener (1994) bahwa kepuasan hidup dan banyaknya afek positif
dan negatif dapat saling berkaitan, hal ini disebabkan oleh penilaian seseorang terhadap
kegiatan-kegiatan yang dilakukan, masalah, dan kejadian-kejadian dalam hidupnya. Sekalipun
kedua hal ini berkaitan, namun keduannya berbeda, kepuasan hidup merupakan penilaian
mengenai hidup seseorang secara menyeluruh, sedangkan afek positif dan negatif terdiri dari
reaksi-reaksi berkelanjutan terhadap kejadian-kejadian yang dialami.
Berdasarkan uraian diatas mengenai komponen subjective well being, peneliti
mengacu pada pendapat Diener (1994) dalam menyusun indikator subjective well being,
dimana subjective well being terdiri dari dua komponen yaitu dimensi kognitif dan dimensi
afektif. Dimensi kognitif terdiri dari kepuasan hidup yaitu penilaian kognitif seseorang
mengenai kehidupannya, apakah kehidupan yang dijalaninya berjalan dengan baik. Meliputi
perasaan cukup, damai dan puas, dari kesenjangan antara keinginan dan kebutuhan dengan
pencapaian dan pemenuhan. Dimensi afektif terdiri dari afek positif dan afek negatif. Afek
positif adalah emosi positif dan mood yang menyenangkan. Meliputi emosi emosi seperti
aktif, senang, dan ditandai dengan mengalami emosi dan suasana hati yang menyenangkan.
Afek negatif adalah emosi dan mood yang tidak menyenangkan, seperti kecemasan,
kemarahan, ketakutan, dan suasana hati yang tidak menyenangkan.