Faktor-faktor yang Mempengaruhi Subjective Well Being (skripsi dan tesis)

Ada beragam faktor-faktor yang mempengaruhi Subjective Well Being individu yaitu
:
a. Perbedaan jenis kelamin. Shuman (dalam Eddington dan Shuman, 2008)
menyatakan penemuan menarik mengenai perbedaan jenis kelamin dan subjective well-being.
Perempuan lebih banyak mengungkapkan afek negatif dan depresi dibandingkan dengan lakilaki, dan lebih banyak mencari bantuan terapi untuk mengatasi gangguan ini, namun laki-laki
dan perempuan mengungkapkan tingkat kebahagiaan global yang sama. Lebih lanjut,
dikemukakan oleh Shuman bahwa hal ini disebabkan karena perempuan mengakui adanya
perasaan tersebut sedangkan laki-laki menyangkalnya.
Penelitian yang dilakukan di Negara barat menunjukkan hanya terdapat sedikit
perbedaan kebahagiaan antara laki-laki dan perempuan (Edington dan Shuman, 2008). Diener
(2009) berpendapat bahwa secara umum tidak terdapat perbedaan subjective well-being yang
signifikan antara laki-laki dan perempuan. Namun perempuan memiliki intensitas perasaan
negatif dan positif yang lebih banyak dibandingkan laki-laki.
b. Tujuan. Diener (dalam Carr, 2005) berpendapat bahwa orang-orang merasa
bahagia ketika individu tersebut mencapai tujuan yang dinilai tinggi dibandingkan dengan
tujuan yang dinilai rendah. Contohnya, kelulusan di perguruan tinggi negeri dinilai lebih
tinggi dibandingkan dengan kelulusan ulangan bulanan.
Dinyatakan oleh Carr (2004) bahwa semakin terorganisir dan konsisten tujuan dan
aspirasi seseorang dengan lingkungannya, maka individu tersebut akan semakin bahagia, dan
orang yang memiliki tujuan yang jelas akan lebih bahagia.
Emmons (dalam Diener, 1999) berpendapat bahwa berbagai bentuk tujuan seseorang,
termasuk adanya tujuan yang penting, kemajuan tujuan-tujuan yang dimiliki, dan konflik
dalam tujuan-tujuan yang berbeda memiliki implikasi pada emotional dan cognitive wellbeing.
c. Agama dan Spiritualitas. Dinyatakan oleh Diener (2009) bahwa secara umum
orang yang religius cenderung untuk memiliki tingkat well being yang lebih tinggi, dan lebih
spesifik. Partisipasi dalam pelayanan religius, afiliasi, hubungan dengan Tuhan, dan berdoa
dikaitkan dengan tingkat well being yang lebih tinggi. Ada banyak penelitian yang
menunjukkan bahwa subjective well-being berkorelasi signifikan dengan keyakinan agama
(Eddington & Shuman, 2008). Dikemukakan oleh Ellison (dalam Eddington & Shuman,
2008), bahwa setelah mengontrol faktor usia, penghasilan, dan status pernikahan responden,
subjective well-being berkaitan dengan kekuatan yang berelasi dengan Yang Maha Kuasa,
dengan pengalaman berdoa, dan dengan keikutsertaan dalam aspek keagamaan. Pengalaman
keagamaan menawarkan kebermaknaan hidup, termasuk kebermaknaan pada masa krisis
(Pollner dalam Eddington & Shuman, 2008). Taylor dan Chatters (dalam Eddington &
Shuman, 2008) berpendapat bahwa agama juga menawarkan pemenuhan kebutuhan sosial
seseorang melalui keterbukaan pada jaringan sosial yang terdiri dari orang-orang yang
memiliki sikap dan nilai yang sama.
Dinyatakan juga oleh Carr (2004) alasan mengikuti kegiatan keagamaan
berhubungan dengan subjective well-being, sistem kepercayaan keagamaan membantu
kebanyakan orang dalam menghadapi tekanan dan kehilangan dalam siklus kehidupan,
memberikan optimisme bahwa dalam kehidupan selanjutnya masalah-masalah yang tidak bisa
diatasi saat ini akan dapat diselesaikan. Keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan religius
memberikan dukungan sosial komunitas bagi orang yang mengikutinya. Keterlibatan dalam
kegiatan keagamaan seringkali dihubungkan dengan lifestyle yang secara psikologis dan fisik
lebih sehat, yang dicirikan oleh prosocial altruistic behaviour, mengontrol diri dalam hal
makanan dan minuman, dan komitmen dalam bekerja keras.
Diungkapkan juga oleh Diener (2009) bahwa hubungan positif antara spiritualitas
dan keagamaan dengan subjective well-being berasal dari makna dan tujuan jejaring sosial
dan sistem dukungan yang diberikan oleh organisasi keagamaan.
d. Kualitas hubungan sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Seligman (dalam Diener
& Scollon, 2003) menunjukan bahwa semua orang yang paling bahagia memiliki kualitas
hubungan sosial yang dinilai baik. Dinyatakan oleh Diener dan Scollon (2003) bahwa
hubungan yang dinilai baik tersebut harus mencakup dua dari tiga hubungan sosial berikut ini,
yaitu keluarga, teman, dan hubungan romantis.
Dikemukakan oleh Arglye dan Lu (dalam Eddington dan Shuman, 2008) bahwa
kebahagiaan berhubungan dengan jumlah teman yang dimiliki, frekuensi bertemu, dan
menjadi bagian dari kelompok.
e. Kepribadian. Dinyatakan oleh Tatarkiewicz (dalam Diener 1984) bahwa
kepribadian merupakan hal yang lebih berpengaruh pada subjective well-being dibandingkan
dengan faktor lainnya. Hal ini dikarenakan beberapa variabel kepribadian menunjukkan
keajegan dengan subjective well being diantaranya self esteem.
Campbell (dalam Diener, 1984) menunjukkan bahwa kepuasan terhadap diri
merupakan prediktor kepuasan terhadap hidup, namun self esteem ini juga akan menurun
selama masa ketidakbahagiaan (Laxer dalam Diener, 1984).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi subjective well being terdiri dari perbedaan jenis kelamin, tujuan, agama dan
spiritualitas, kualitas hubungan sosial, dan kepribadian.