Menurut Prawirosentono (1999), kinerja seorang pegawai akan baik jika
pegawai mempunyai keahlian yang tinggi, kesediaan untuk bekerja, adanya
imbalan/upah yang layak dan mempunyai harapan masa depan. Secara teoritis ada
tiga kelompok variabel yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu,
yaitu variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis.
Kelompok variabel individu terdiri dari variabel kemampuan dan
keterampilan, latar belakang pribadi dan demografi. Menurut Gibson(1997),
variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor utama yang
mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu. sedangkan variabel demografis
mempunyai pengaruh yang tidak langsung.
Kelompok variabel psikologis terdiri dari variabel persepsi, sikap,
kepribadian, belajar dan motivasi.Variabel ini menurut Gibson (1987) banyak
dipengaruhi oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman kerja sebelumnya dan
variabel demografis.
Kelompok variabel organisasi menurut Gibson(1987) terdiri dari variabel
sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan.Menurut
Mitchell, dalam Timpe (1999) motivasi bersifat individual, dalam arti bahwa
setiap orang termotivasi oleh berbagai pengaruh hingga berbagai tingkat.
Mengingat sifatnya ini, untuk peningkatan kinerja individu dalam organisasi
menuntut para manajer untuk mengambil pendekatan tidak langsung menciptakan
motivasi melalui suasana organisasi yang mendorong para pegawai untuk lebih
produktif. Suasana ini tercipta melalui pengelolaan faktor-faktor organisasi dalam
bentuk pengaturan sistem imbalan, struktur, desain pekerjaan serta pemeliharaan
komunikasi melalui praktek yang mendorong rasa saling percaya.
Menurut Robert dan John (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja individu tenaga kerja, yaitu:
a.Kemampuan mereka.
b.Motivasi.
c.Dukungan yang diterima.
d.Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan.
e.Hubungan mereka dengan organisasi.
Masih menurut Robert dan Jhon (2001) dalam Hafidzurrahman (2007)
bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh
karyawan. Kinerja karyawan yang umum untuk kebanyakan pekerjaan memiliki
unsur berikut: 1) kuantitas hasil, 2) kualitas hasil, 3) ketepatan waktu hasil, 4)
kehadiran, dan 5) kemampuan bekerja sama.
Hurber dalam Hafidzurrahman (2007) mengemukakan pentingnya
kinerja dipandang dari sudut peran yang dimainkan oleh seseorang melalui
perilaku organisasi dalam mencapai hasil organisasi. Peran kinerja tersebut pada
dasarnya terdiri dari dua faktor yang saling berhubungan, yaitu:
a.Faktor pertama, adalah kemampuan (ability). Kemampuan ini terdiri dari
pengetahuan dan keterampilan seseorang
b.Faktor kedua, adalah motivasi (motivation). Faktor ini terdiri dari sikap dan
keadaan kerja.Jadi ada interaksi antara motivasi dengan kemampuan untuk
kinerja.
Steers dan Porter juga mengemukakan bahwa kinerja dipengaruhi oleh
motif-motif pribadi yang berinteraksi dengan lingkungannya. Posisi motivasi
untuk mencapai kinerja yang diinginkan dapat diidentifikasi berdasarkan teori
Maslow.Motivasi kerja dimulai dari hirarki yang ketiga, yaitu rasa saling memiliki
dan kebutuhan kasih sayang sampai pada aktualisasi diri. Aktualisasi diri
merupakan puncak dari motivasi dan kinerja seseorang.
Dalam rangka peningkatan kinerja seorang karyawan, maka pengetahuan
bidang tugas karyawan yang bersangkutan sangat penting. Senada dengan hal
diatas, LMI-CEO dalam Hafidzurrahman (2007) menggambarkan tujuh indikator
kinerja yaitu: kualitas kerja, inisiatif, kerja tim, pemecahan masalah, tanggapan
adanya stress, konflik ditempat kerja dan motivasi kerja.
Berdasarkan analisis teori yang telah diuraikan diatas, peneliti menarik
kesimpulan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya dengan indikator penguasaan tugas, kerja sama, tanggap dalam
bekerja, kendala dalam bekerja, menyelesaikan tugas.
