Kebijakan Pengumpulan Piutang (skripsi dan tesis)

Adanya penjualan kredit, perusahaan melakukan setiap
usaha untuk memperoleh pembayaran yang sesuai dengan syarat
penjualan dalam waktu yang wajar. Kebijakan pengumpulan piutang
menurut Muslich (2003:116) mengemukakan didalam kebijaksanaan
ditentukan sistem penagihan yang harus dilakukan oleh konsekuensi
biaya penagihan yang cukup besar. Tetapi penagihan yang intensif
menyebabkan pula jumlah piutang yang tertagih lebih banyak,
kerugian karena debitur yang tidak bertanggung jawab berkurang dan
periode penagihan semakin cepat.
Menurut Muslich (2003), kebijaksanaan kredit yang dimiliki
umumnya menyangkut masalah kebijaksanaan pemberian kredit,
kebijaksanaan pengawasan kredit, dan kebijaksanaan penagihan
kredit. Adapun penjelasan dari kutipan tersebut sebagai berikut :
1. Kebijaksanaan kredit dimaksudkan agar perusahaan mempunyai
suatu ukuran untuk menetapkan pelanggan yang memperoleh
kredit, jumlah kredit yang diberikan, jumlah waktu dan syarat
pembayaran kredit serta kondisi-kondisi yang harus dipenuhi
oleh penerima kredit.
2. Kebijaksanaan pengawasan kredit memberikan pedoman tentang
bagaimana penggunaan kredit yang diberikan kepada pelanggan
dan tindakan-tindakan perbaikan apabila pelanggan tidak
melaksanakan ketentuan yang diisyaratkan dalam pemberian
kredit.
3. Kebijaksanaan penagihan memberikan pedoman tentang sistem
penagihan yang mendorong pelanggan untuk membayar
kewajibannya sebagaimana ketentuan yang disetujui.
Perubahan kredit kepada pelanggan merupakan suatu keputusan
yang menyangkut antara kenaikan profitabilitas disatu pihak dan
resiko dipihak lain. Karena beban resiko yang harus ditanggung ini,
maka perusahaan yang menjual produk maupun jasa secara kredit
perlu memiliki pedoman kebijaksanaan.
Apabila terjadi resiko keterlambatan dalam pelunasan
pembayaran piutang, akan menimbulkan tertundanya waktu untuk
memenuhi kewajiban dari perusahaan yang harus segera dibayar.
Sedangkan apabila terlalu banyak memberikan kredit, maka dengan
sendirinya banyak modal yang tertanam dalam piutang. Oleh karena
itu, perusahaan harus menekan seminimum mungkin terhadap resiko
yang timbul dengan adanya piutang sehingga diharapkan tidak
menimbulkan hal yang merugikan bagi perusahaan.