Pengaruh Volatilitas Arus Kas Terhadap Persistensi Laba (skripsi dan tesis)

Volatilitas arus kas adalah derajat penyebaran arus kas atau indeks
penyebaran distribusi arus kas perusahaan (Dechow dan Dichev, 2002
dalam Susilo dan Anggraeni, 2016). Untuk mengukur persistensi laba
dibutuhkanlah informasi arus kas yang stabil, dalam artian mempunyai
volatilitas kecil. Jika arus kas berfluktuasi tajam maka sangatlah sulit
untuk memprediksi arus kas di masa yang akan datang (Fanani, 2010). Persistensi laba adalah revisi laba yang diharapkan di masa
mendatang (expected future earnings) yang diimplikasikan oleh laba
tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham
(Scott, 2009 dalam Asma, 2013). Semakin permanen laba dari waktu ke
waktu semakin tinggi earnings response coefficientnya. Hal ini
mengindikasikan laba yang diperoleh perusahaan tersebut meningkat
terus menerus. Persistensi laba sering digunakan sebagai pertimbangan
kualitas laba karena persistensi laba merupakan komponen dari
karakteristik kualitatif relevansi yaitu predictive value (Jonas dan
Blanchet, 2000 dalam Persada dan Martani, 2010).
Fanani (2010) berpendapat bahwa persistensi laba dapat
dipengaruhi oleh volatilitas arus kas. Pada penelitian ini, peneliti
menggunakan arus kas dari aktivitas operasional (operating activities)
sebagai variabel terikat yang akan diteliti. Apabila arus kas
menunjukkan angka yang berbeda-beda setiap periodenya dalam suatu
kegiatan, maka angka tersebut tidak mungkin terpaut jauh dalam suatu
periode yang singkat. Apabila arus kas operasional suatu perusahaan
berubah drastis dalam waktu singkat secara terus-menerus, maka ini
dapat menjadi indikasi arus kas tersebut tidak merefleksikan keadaan
operasional yang sebenarnya. Hal ini akan turut berdampak pada laba
perusahaan, yang berarti laba perusahaan juga tidak menunjukkan
keadaan yang sebenarnya, dan tidak dapat dijadikan dasar untuk
memprediksi laba perusahaan pada periode mendatang.
Dapat diamati bahwa jika ada ketidakpastian tinggi dalam
lingkungan operasi, maka volatilitas arus kas operasional akan
menunjukkan tingkat yang tinggi pula. Dengan ketidakpastian yang
tinggi dapat menyebabkan volatilitas arus kas yang tinggi pula, maka
persistensi laba akan semakin rendah atau laba akan semakin
dipertanyakan ketepatannya.
Hal ini didukung oleh penelitian Fanani (2010), yang membuktikan
bahwa volatilitas arus kas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
persistensi laba. Fanani (2010), juga menyatakan bahwa informasi arus
kas yang stabil, yaitu yang mempunyai volatilitas yang kecil
dibutuhkan untuk mengukur persistensi laba. Namun, Hal ini
bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Asma (2013);
Barus dan Rica (2014) yang menyatakan bahwa aliran kas operasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap persistensi laba, sehingga
dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi aliran kas operasi suatu
perusahaan maka akan semakin tinggi pula persistensi laba perusahaan
tersebut.