Citra Merek (skripsi dan tesis)

Masing-masing merek produk yang berada di pasar memiliki citra tersendiri dimata konsumennya. American Marketing Assicoation mendefinisikan citra sebagai nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari semunya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari suatu penjual atau kelompok dan untuk membedakannya dari barang atau layanan dari pesaing. Citra tersebut 11 diciptakan oleh perusahaan untuk membedakan merek produknya dengan produk sejenis milik pesaing. Adapun merek memiliki berbagai definisi menurut pakar, salah satunya Kotler dan Armstrong (2018) yang menjelaskan bahwa merek adalah janji penjual untuk menyampaikan kumpulan sifat, manfaat, dan jasa spesifik secara konsisten kepada pembeli. Lebih jauh lagi Kotler dan Armstrong (2018) mengemukakan bahwa konsumen memandang merek sebagai bagian penting dari produk dan pemberian merek dapat menambah nilai suatu produk. Ia juga menjelaskan bagaimana pemberian merek membantu pembeli dalam beberapa hal. Selain itu, Kotler juga mengatakan bahwa perusahaan harus memberikan ingatan pada atributatribut tertentu dari suatu produk agar diminati oleh konsumen. Antara citra dan merek dapat digabungkan dan menjadi citra merek. Citra merek merupakan representasi keseluruhan persepsi terhadap suatu merek dan dibentuk melalui informasi dan pengalaman di masa lalu terhadap merek tersebut (Atika, 2018). Menurut Suria dkk (2016) citra merek merupakan persepsi yang konsumen miliki untuk setiap merek, persepsi tersebut meliput identitas, kualitas produk dan kinerja produk tersebut (Suria dkk., 2016). Menurut Tjiptono (2014) pengertian citra merek adalah deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Menurut Aaker (2013) citra merek adalah sekumpulan asosiasi yang biasanya dikelompokkan ke dalam cara yang memiliki arti. Definisi 12 tersebut serupa dengan definisi Keller (2013) yang mengatakan citra merek adalah asosiasi yang kuat, menguntungkan dan unik mengenai merek dalam ingatan konsumen. Menurut Kotler dan Keller (2012) menjelaskan bahwa semua perusahaan berjuang untuk membangun sebuah citra merek dengan sekuat mungkin, asosiasi merek yang kuat, menguntungkan dan unik. Jika melihat perkataan ini, semua perusahaan berusaha untuk menciptakan citra merek yang baik dan kuat dengan menciptakan suatu merek menjadi seunik mungkin yang dapat menguntungkan perusahaan. Kotler dan Keller (2012) juga menjelaskan bahwa setelah tingkat kesadaran merek yang mencakup tercipta, pemasar dapat lebih menekankan pada penciptaan merek. Dari pernyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa citra merek adalah sesuatu yang lebih berharga daripada produk, ini berarti bahwa merek dapat digunakan sebagai perbedaan antara satu produk dengan produk serupa lainnya, terutama dengan menggunakan citra merek (Djatmiko dan Pradana, 2016). Kotler dan Armstrong (2018) menjelaskan bahwa sebuah merek terdiri dari simbol-simbol yang terdiri dari enam tingkat pemahaman sebagai berikut: a. Attribute: sebuah merek dapat mengingatkan pada atribut tertentu b. Benefit: atribut harus diterjemahkan ke dalam manfaat fungsional dan emosional c. Value: merek juga mengatakan sesuatu tentang the value of manufacturer d. Culture: merek juga dapat melambangkan budaya tertentu e. Personality; sebuah merek dapat mencerminkan kepribadian tertentu f. User brand: suat merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut Menurut Tjiptono (2014) menjelaskan bahwa citra merek juga memiliki manfaat-manfaat tertentu, berikut adalah manfaat dari citra merek: a. Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan pencatatan akuntansi. b. Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik. Merek bisa mendapatkan perlindungan properti intelektual. Nama merek bisa diproteksi melalui merek dagang terdaftar (registered trademarks) proses pemanufakturan bisa dilindungi melalui hak paten dan kemasan bisa diproteksi melalui hak cipta (copyright) dan desain. c. Sinyal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa dengan mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu. d. Sarana untuk menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk dari para pesaing. e. Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum, loyalitas pelanggan, dan citra unik yang terbentuk dalam benak konsumen. f. Sumber financial returns, terutama menyangkut pendapatan masa datang.