Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap
menerima terhadap apa yang diamati. Ada beberapa faktor sehingga seseorang
mengadakan perilaku imitasi, sebagai berikut:
a. Faktor psikologis
Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologi lain yang
berperan salah satunya adalah aspek kognitif. Yaitu bagaimana manusia
memikirkan sesuatu dan melakukan interpretasi terhadap berbagai pengalaman
yang diperoleh. Di samping itu aspek ini juga menjelaskan bahwa perilaku yang
baru dan kompleks dapat diciptakan dengan observasi atau melihat suatu model
yang dilihatnya secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga seseorang
melakukan suatu imitiasi tersebut.
Menurut Mussen dan Conger (1984) Imitasi dapat terjadi sebagai tanggapan
suatu keinginan untuk mirip dengan orang lain atau keinginan untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu. Sikap yang ditiru selama tiga tahun pertama dalam hidup,
tergantung sebagian pada tingkat perkembangan kognitif anak yang menentukan
perilaku apa saja yang ditangkap seorang anak sebagai suatu tantangan yang
bukan tidak mungkin. Motivasi untuk mirip dengan yang lain dan tingkat
timbulnya emosi yang dipengaruhi orang lain, menentukan siapa yang akan ditiru
oleh anak itu, serta motivasi dalam mencapai tujuan menentukan apa saja yang
akan ditiru.
b. Lingkungan Keluarga
Imitasi sudah berlangsung sejak individu masih kecil dan dimulai dari
lingkungan keluarga. Bagi anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang
paling berpengaruh, setelah itu sekolah, baru kemudian masyarakat. Keluarga
adalah lingkungan terkecil yang dibangun oleh orang tua bersama anggota
keluarga lainnya. Pembentukan sifat atau karakter anak berhubungan dengan
sosialisasi atau suatu proses penanaman nilai dan aturan dari orang tua kepada
anak.
Penanaman nilai tersebut, seperti faktor yang memotivasi anak berperilaku
keagamaan. Awalnya anak melihat aktivitas yang dilakukan oleh orang tuanya.
Ketika anak menyenangi hal itu maka anak akan mengimitasikan tanpa
mengetahui esensi dari perbuataan yang dilakukan, sehingga timbullah motivasi
anak untuk meniru. Hal itu tentu saja terjadi karena pada masa anak peniru ulung,
anak telah memiliki minat dan keinginan namun belum mampu mengungkapkan
minat dan keinginan tersebut secara baik (Jalaludin, 2010). Minat dan keinginan
anak hanya dapat dilihat melalui gerak gerik dan tingkah lakunya
c. Media Masa
Imitasi akan terus berkembang ke lingkungan yang lebih luas, yaitu
masyarakat. Imitasi dalam masyarakat semakin cepat dengan berkembangnya
media masa, seperti tayangan televisi. Dalam era komunikasi dapat ditambahkan
media masa sebagai faktor yang sangat berpengaruh lebih dari yang lain, karena
dilihat terus menerus dan berulang-ulang. Tayangan adalah pesan atau rangkaian
pesan dalam bentuk suara, berbentuk grafik, karakter, baik yang bersifat interaktif
maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerimaan pesan dan siap
untuk dipertunjukkan (Day dalam Kurniasih: 2004).
d. Interaksi Sosial dengan Teman Sebaya
Tidak hanya melalui media masa saja, namun interaksi sosial atau teman
sebaya juga sangat berpengaruh dalam imitasi anak. Interaksi dengan teman
sebaya dalam proses interaksi memiliki peranan penting, terutama pada imitasi
dalam aspek perilaku keagamaan. Hal ini dijelaskan oleh Nurhayati (2007)
Interaksi teman sebaya mempunyai peranan penting dalam religius anak melalui
dua hal sebagai berikut:
1. Melalui interaksi teman sebaya, anak akan mengetahui apakah perilakunya
yang telah dibentuk berdasarkan standar nilai religiusitas dalam keluarga
dapat diterima atau ditolak oleh lingkungannya.
2. Interaksi teman sebaya akan menimbulkan motivasi bagi anak untuk hanya
berperilaku sesuai yang dapat diterima oleh lingkungannya.
