Tahap- Tahap dalam Melakukan Imitasi (skripsi dan tesis)

Imitasi adalah proses peniruan tingkah laku seorang model, Sehingga
disebut juga proses modeling. Ini dapat diaplikasikan pada semua jenis perilaku
yang memiliki kecenderungan yang kuat untuk berimitasi. Proses ini tidak
dilakukan terhadap semua orang tetapi terhadap figur-figur tertentu seperti orang- orang terkenal, orang yang memiliki kekuasaan, orang yang sukses, atau orang
yang sering ditemui. Figur yang biasanya menjadi model tersebut adalah orang tua
itu sendiri. Namun menurut Tarde (dalam Gerungan, 2010) sebelum orang
mengimitasi suatu hal, terlebih dahulu haruslah terpenuhi beberapa syarat, yaitu:
a. Memiliki minat/perhatian yang cukup besar akan hal tersebut.
b. Menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang akan diimitasi.
c. Ingin memperoleh penghargaan sosial seperti yang ditiru.
Imitasi berarti proses meniru, dalam proses imitasi ini seseorang bertindak
sebagai stimulus atau sebagai kunci tingkah laku bagi orang lain. Anak
mengamati stimulus itu dan berupaya melakukan tingkah laku atau respon yang
sama jenisnya dan menirunya secara persis. Jadi langkah pertama yang dilakukan
oleh si peniru adalah meniru model melalui panca indera yang dia butuhkan untuk
diamati dan dipelajari pola-polanya. Setelah anak mengamati pola-pola perilaku
dari model melalui panca indera, maka dengan kemampuan persepsi, anak
mengolah informasi dari model yang dilihatnya, sehingga membentuk aksi berupa
gerakan motorik yaitu tingkah laku yang diimitasi.
Imitasi sering dikaitkan dengan teori belajar sosial dari Bandura, karena
belajar sosial dikenal sebagai belajar observasi atau belajar dari model, yaitu
proses belajar yang muncul dari pengamatan, penguasaan pada proses belajar
imitasi, serta peniruan perilaku orang lain. Di dalam imitasi ada proses belajar
meniru atau menjadikan model tindakan orang lain melalui pengamatan terhadap
orang tersebut. Dalam teori belajar sosial, individu belajar tidak melalui
pengkondisian, tetapi melalui pengamatan, ( Mukhlis, 2010).
Belajar adalah suatu aktivitas yang berproses, karenanya di dalamnya terjadi
perubahan-perubahan yang bertahap, begitu pula pada imitasi. Menurut Saguni
(2007) setiap individu melakukan proses belajar sosial yang terjadi dalam urutan
tahapan peristiwa sebagai berikut:
a. Tahap perhatian (attention phase)
Individu dapat belajar melalui observasi apabila ada model yang dihadirkan
secara langsung ataupun tidak langsung, dan secara akurat ada aspek-aspek yang
relevan dengan aktivitas model. Respon yang baru dapat dipelajari dengan cara
melihat, mendengarkan dan memperhatikan orang lain, maka perhatian dalam hal
ini menjadi sangat penting. Namun seperti yang diketahui, tidak semua model
yang dihadirkan akan mendapatkan perhatian dari individu. Oleh karena itu,
supaya dapat mengamati dan belajar dari model maka perlu diarahkan dan
ditingkatkan perhatiannya.
Cara yang dipakai tidak selalu sama untuk semua orang, misalnya anak- anak berbeda dari orang dewasa dalam mengarahkan perhatian. Namun secara
umum untuk meningkatkan perhatian dapat digunakan reward dan penonjolan
pada kualitas model misalnya model mempunyai daya tarik tertentu.
b. Tahap Retensi (retention phase)
Setelah aktivitas model diobservasi, langkah selanjutnya adalah proses
encoding dalam bentuk visual dan atau verbal symbol. Informasi yang diperoleh
ini selanjutnya akan disimpan di memori dalam short-term memory ataupun longterm memory. Namun sebenarnya tidak semua informasi dari model akan
disimpan oleh individu, jika individu tidak berminat dan tidak perhatian, biasanya
informasi akan segera dilupakan. Informasi yang diterima akan lebih efektif jika
disampaikan model secara visual ataupun verbal, tetapi untuk tahap
perkembangan awal (anak-anak) informasi secara visual ternyata lebih baik
mengingat perkembangan verbal anak-anak memang belum sempurna. Informasi
yang sudah disimpan itu akan sangat membantu individu apabila sering diulang
dengan latihan.
c. Tahap Reproduksi Motorik (reproduction phase)
Apa yang telah disimpan dalam memori perlu diwujudkan dalam bentuk
aktivitas. Dalam tahap reproduksi motorik ini feedback dapat diberikan untuk
mengoreksi imitasi perilaku sehingga dapat dilakukan penyesuaian. Dalam proses
ini diperlukan syarat-syarat tertentu agar aktivitas dapat terwujud, yaitu:
1) Individu mempunyai komponen skill yang mendukung terwujudnya aktivitas
yang telah diamati.
2) Individu mempunyai kapasitas fisik untuk melakukan koordinasi aktivitas
tersebut.
3) Hasil dari koordinasi ini dapat diamati
d. Tahap Motivasi (motivation phase )
Tahap terakhir adalah tahap penerimaan dorongan yang dapat berfungsi
sebagai reinforcement atau penguatan. Penguatan adalah bersemayamnya segala
informasi dalam memori seseorang. Pada tahap motivasi ini reinforcement dapat
digunakan sebagai motivator untuk merangsang dan mempertahankan perilaku
agar diwujudkan secara aktual dalam kehidupan. Menurut Bandura ada tiga cara
pemberian reinforcement, yaitu:
1) Secara langsung; reinforcement diberikan segera setelah perilaku muncul.
2) Vicarious reinforcement; hanya dengan melihat orang lain merasakan
akibatnya seolah-olah berlaku pada diri sendiri.
3) Self-reward; dengan cara memotivasi diri sendiri, misalnya mengatakan diri
sendiri mampu melakukan aktivitas.
Tahap-tahap yang telah diuraikan di atas, dimulai dari adanya perilaku
individu sebagai model dan berakhir dengan tahap penerimaan stimulus, yang
berfungsi sebagai reinforcement atau penguatan yang tersimpannya informasi
pada individu tersebut sehingga munculnya suatu perilaku pengimitasian. Dalam keseharian individu, keempat tahap itu tidak bisa terpisahkan karena
tahap perhatian merupakan tahapan paling mendasar, yang tentunya anak akan
mengalami perhatian untuk mengagumi suatu aktivitas yang membuat anak
mengikutinya. Pada saat anak mengimitasi pada salah satu perilaku keagamaan
misalnya pada gerakan sholat, awalnya perhatian anak akan tertuju pada aktivitas
sang model yaitu sholat, kemudian mengingat-ingat apa yang sudah dilihatnya
dalam bentuk simbolik berupa gerakan, dengan kemampuan motorik membantu
memproduksi tingkah laku sehingga meniru gerakan sholat tersebut dan jenis
reinforcement yang menyertainya dalam mempertahankan perilaku meniru
gerakan sholat.