Definisi Orientasi Kewirausahaan(skripsi dan tesis)

Kewirausahaan adalah mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa
visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam
menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha
baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
38
Scarborough dan Zimmerer dalam Novian (2012) mendefinisikan
wirausaha (entrepreneur) yaitu: Wirausaha adalah orang yang menciptakan suatu
bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian dengan maksud untuk
memperoleh keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengenali peluang dan
mengkombinasikan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk memanfaatkan
peluang tersebut.
Druker dalam Novian (2012) menjelaskan bahwa wirausaha
(entrepreneur) yaitu sifat, watak, dan ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang
mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia
usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya. Wirausaha adalah seseorang
yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan
kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan
mengelola, mengendalikan semua usahanya. Kewirausahaan merupakan sikap
mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan
bersahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan
usahanya (Amin, 2008).
Orang yang melakukan kegitan kewirausahaan disebut wirausahawan.
Muncul pertanyaan mengapa seseorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai
cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai
motivasi panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilainilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul. Secara etimologis,
kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti pejuang, pahlawan,
manusia unggul, teladan berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha
adalah perbuatan mahal, bekerja, dan berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah
pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.Sedangkan secara epistimologi,
kewirausahaan adalah nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha atau
proses dalam mengerjakan suatu yang baru dan sesuatu yang berbeda.
1) Jiwa kewirausahaan pada setiap orang yang memiliki perilaku inovatif dan
kereatif dan pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembauran,
kemajuan dan tantangan, misalnya birokrat, mahasiswa, dosen, dan
masyarakat lainnya. Adapun hakekat kewirausahaan, menurut beberapa ahli,
sebagai berikut. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan
sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (innovative) yang
bermanfaat memberi nilai lebih (Suryana dalam Novian, (2012).
2) Seorang adalah seseorang yang mampu memanfaatkan peluang Drucker
dalam Alma (2011).
3) Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam
memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki
kehidupan usaha (Zimmerer dalam Kasmir, 2010).
4) Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan
mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk
memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan
cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru,
menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih
efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara
baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen Suryana dalam Novian
(2012).
Berdasarkan konsep diatas, secara ringkas kewirausahaan dapat
didefinisikan sebagai suatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and
different) yang dijadikan kiat, dasar, sumberdaya, proses dan perjuangan untuk
menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian
untuk menghadapi risiko. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan
manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang
berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seseorang individu mungkin
menunjukan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi
selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi
kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
Wirausaha dipandang sebagai prilaku yang mampu melihat peluang yang
ada yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dan kelangsungan usahanya.
Kewirausahaan mengarah pada prinsip-prinsip tindakan rasional yang dapat
menjelaskan tentang kontribusi atas action dari seorang wirausaha terhadap
perekonomian. Orientasi kewirausahaan dinyatakan sebagai suatu proses
penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan
peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer, 1996). Wijandi (1988)
mengungkapkan bahwa kewirausahaan adalah suatu sifat keberanian, keutamaan
dalam keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan
sendiri. Bentuk dari aplikasi atas sikap kewirausahaan dapat diindikasikan dengan
orientasi kewirausahaan dengan indikasi kemampuan inovasi, proaktif, dan
kemampuan mengambil risiko.
Orientasi kewirausahaan, pertama kali diusulkan oleh Miller (1983), adalah
konsep berasal dari kewirausahaan Schumpeter (1934). Organisasi dikategorikan
menjadi tiga kategori: organisasi sederhana, organisasi yang direncanakan,
organisasi organik, dan menemukan bahwa orientasi kewirausahaan adalah terdiri
dari inovasi, proaktif, dan pengambilan risiko melalui mempelajari faktor-faktor
yang menentukan kewiraswastaan. Scumpeter (1934) mendefinisikan
kewirausahaan adalah perubahan struktur dalam bidang ekonomi,
kewirausahaahaan adalah inovasi yaitu inovasi para wirausahawan dilakukan
dengan kombinasi baru yaitu jenis produk baru, teknik produksi yang baru,
menemukan peluang pasar yang baru, bukan hanya penemu sejati wirausahawan
juga mengadopsi penemuan orang lain (Casson, 2012:8). Schumpeter (1934,
1942) adalah yang pertama menekankan peran inovasi dalam proses
kewirausahaan. Kunci kegiatan kewirausahaan adalah masuknya persaingan
dengan kombinasi baru yang mendorong perubahan ekonomi secara dinamis.
Inovasi menjadi faktor penting yang digunakan untuk kewirausahaan (Lumpkin
dan Dess, 1996).
Menurut Covin dan Slevin (1991), Orientasi Kewirausahaan ditunjukkan
oleh sejauh mana manajer puncak cenderung untuk mengambil risiko yang terkait
dengan bisnis (dimensi risiko), mendukung perubahan dan inovasi dalam rangka
untuk mendapatkan keuntungan kompetitif bagi perusahaan (dimensi inovasi),
dan bersaing secara agresif dengan perusahaan lain (dimensi proaktif). Covin dan Slevin (1989) mendefinisikan orientasi kewirausahaan sebagai proses memimpin
perusahaan melalui kewirausahaan dan praktis aktivitas pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan yang dimaksud adalah keputusan untuk memulai suatu
usaha. Memulai suatu usaha baru tentu membutuhkan keputusan untuk
menentukan jenis usaha atau investasi.