Pengukuran Kinerja(skripsi dan tesis)

Berdasarkan definisi dari kinerja perusahaan, bahwa Gitman (1994) yang
menekankan dari aspek finasial dan pemasaran, sedangkan Mahsun (2006) dari
aspek pelanggan, Munawir (2008) dari proses perbaikan operasional. Sementara
Kaplan dan Norton (1996) dari aspek finansial dan non finansial serta Kipesha
(2013) menambahkan aspek sosial.
Pengukuran kinerja Kaplan dan Norton (1996) untuk mengukur kinerja
usaha melalui empat perspektif yaitu, (a) perspektif finansial, (b) perspektif
pelanggan, (c) bisnis internal, serta (d) pembelajaran dan pertumbuhan yang
dikenal dengan balanced score card. Kinerja balanced scorecard sebagai alat
untuk mengukur kinerja dengan menggunakan empat perspektif (financial,
customer, internal bisniss, learning and growth) akan dapat memberikan hasil
yang lebih baik dari pengukuran dengan satu aspek financial saja.
Ukuran kinerja melalui ukuran finansial dan ukuran non finansial mampu
memberikan penilaian kinerja yang lebih realistis di samping berfungsi sebagai
pemicu (drivers) kinerja di masa yang akan datang (Scott dan Tiessen, 1999;
Horngren, 2003; Kaplan dan Norton, 1997). Esensi penggunaan alat pengukuran
kinerja itu tergantung dari kesesuaian dengan tujuan yang diharapkan perusahaan
dari hasil pengukuran kinerja tersebut, sebagaimana diungkapkan Brandon (1997)
sebagai berikut: “The first step in designing a performance measurement system is
to select the proper measures, that are congruent with all of the firm’s interest”.
Chun Ho Ko (1998) mengemukakan kategori pengukuran kinerja, sebagai berikut
“Performance measurement system can be classified into six categories: (1)
Finance; (2) Operation; (3) Quality; (4) Safety; (5) Personal; and (6) Customer
satisfaction”. Sejalan dengan kebutuhan strategi bersaing perusahaan dalam
mencapai keberhasilan di masa mendatang, akuntansi manajemen sebagai
penyedia informasi bagi pihak intern perusahaan mengembangkan suatu alat
analisis yang disebut dengan Balanced Scorecard (Kaplan dan Norton, 1992,
1996; Silk, 1999).
Balanced Scorecard menekankan bahwa pengukuran keuangan dan non
keuangan harus merupakan bagian dari sistem informasi bagi seluruh pegawai
dari semua tingkatan dalam organisasi. Tujuan dan pengukuran bukan hanya
menggabungkan dari ukuran-ukuran keuangan dan non-keuangan yang ada
melainkan merupakan hasil dari suatu proses atas-bawah (top-down) berdasarkan
misi dan strategi dari suatu unit usaha. Misi dan strategi tersebut harus dapat
diterjemahkan dalam tujuan dan pengukuran yang lebih nyata (Kaplan dan
Norton, 2000; Gary, 2003; Hansen dan Mowen, 2005).
Aspek sosial seperti dikemukakan Crabtree dan DeBusk (2008) serta
Kipesha (2013) menyatakan bahwa pengukuran kinerja nonfinancial dapat
menjadi pilihan untuk megoptimalkan target pencapaian bisnis yang menyertakan
dinamika sosial kemasyarakatan sebagai target untuk mencapai keberhasilan
perusahaan mendapatkan laba yang lebih berkesinambungan. Perspektif sosial
menjadi penting diketengahkan, dimana tradisi dalam pengukuran kinerja selama
20 tahun terakhir cenderung berbasis kepada perspektif bisnis. Berdasarkan
argumentasi bahwa kierja perusahaan yang lebih berkesinambungan di masa
depan, maka organisasi perusahaan perlu memperhatikan kepentingan stakeholder
yang berinteraksi dengan organisaasi perusahaan. Brancato (1995) dan juga Fisher
(1995) menyatakan sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh dari informasi
kinerja di luar sektor ekonomi yang sesungguhnya memberi pengaruh terhadap
kesinambungan kinerja perusahaan di masa depan.
Kipesha (2013) menyertakan empat indikator untuk mengukur kinerja
persefektif sosial organisasi bisnis yaitu (a) capaian tingkat kesejahteraan
masyarakat yang terdampak dari keberadaan organisasi bisnis, (b) adanya
peningkatan partisipasi gender dalam proses pelayanan oprganisasi, (c) adanya
peran social responsibility terhadap masalah sosial termasuk lingkungan dan nilainilai sosial kemasyarakatan lainnya, serta (d) kepedulian atas peran organisasi
terhadap sejumlah aspek sosial kemasyarakatan yang bermanfaat secara nyata atas
peran organsasi bisnis di suatu wilayah komunitas tertentu. Iitner dan Larcker,
1988 dan Crabtree & DeBusk, (2008) serta Kipesha (2013) merekomendasikan
pentingnya menyertakan persfektif sosial sebagai cara pengukuran kinerja bisnis
untuk melengkapi kelemahan strategi pencapaian organisasi yang selama ini
hanya terfokus kepada target bisnis melalui penerapan balance scorecard dari
Kaplan dan Norton (1996).
Berdasarkan definisi dari kinerja perusahaan, bahwa Gitman (1994) yang
menekankan dari aspek finasial dan pemasaran, sedangkan Mahsun (2006) dari
aspek pelanggan, Munawir (2008) dari proses perbaikan operasional. Sementara
Kaplan dan Norton (1996) dari aspek finansial dan non finansial, Kipesha (2013)
menambahkan aspek sosial serta memperhatikan Grootarert (1999), serta
Nahabiet dan Gotshal (1998) tentang dinamika kemasyarakatan yang mulai
menguat akar budaya organisasi kekerabatan pada masyarajat Indonesia
(Grootaert, 1999) serta kecenderungan fakta terjadinya penguatan kinerja
perusahaan melalui pengembangan potensi modal sosial di sektor bisnis (Nahabiet
dan Gotsahl, 1988), maka pengukuran kinerja ini mengacu pada Kaplan dan
Norton (1996) dengan empat persepektif yaitu: (a) perspektif finansial, (b)
perspektif pelanggan, (c) bisnis internal, serta (d) pembelajaran dan pertumbuhan
dengan menyertakan yaitu (e) persfektif sosial, merujuk dari Kipesha (2013).
Selanjutnya mengacu pada Kaplan dan Norton (1996) serta Kipesha
(2013) dapat dikemukakan indikator, sebagai berikut.
1) Perspektif Finansial
Kinerja pertumbuhan laba usaha yaitu perusahaan mengalami kenaikan dalam
penerimaan laba perusahaan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kinerja
pembiayaan perusahaan yaitu biaya operasional perusahaan bersumber dari
laba operasional perusahaan sehingga tidak memerlukan sumber pembiayaan
perbankan. Perluasan segmentasi pelanggan yaitu jumlah pelanggan tahun ini
lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kontinuitas kegiatan
produksi yaitu perusahaan telah berhasil menjual unit properti tahun ini
sebagai upaya untuk tetap mempertahankan kuntinuitas produk untuk
mempertahankan relasi dengan konsumen
2) Persepektif Pelanggan
Perluasan calon pembeli dimana jumlah pelanggan calon pembeli dari produk
properti yang dipasarkan mengalami peningkatan dibandingkan tahun
sebelumnya. Pengembangan inovasi produk bahwa produk inovatif dengan
harga bersaing menjadi penentu bagi sukses pengelolaan perusahaan dimasa
depan. Citra perusahaan mengalami kenaikan adalah sangat penting
didapatkan meskipun untuk tujuan tersebut perusahaan harus mendapatkan
laba yang relatif kecil. Pembeli dengan sumber dana mandiri merupakan
pelanggan setia ketika peluang pasar properti menurun, yang akan mampu
membeli rumah dengan dana segar bukan dari pembiayaan perbankan.
3) Persepektif Bisnis Internal
Persektif bisnis internal antara lain melakukan penilaian pada proses: (1)
Menyiapkan dana taktis di luar dana perusahaan untuk mencapai target
perolehan laba perusahaan yang tidak masuk dalam pengendalian operasional
perusahaan. (2) Membangun kualitas produk untuk pelanggan dimana lebih
memilih untuk memprioritaskan kepada pengeluaran biaya dalam rangka
membangun kualitas produk untuk pelanggan dibandingkan dengan upaya
mendapatkan pelanggan melalui biaya promosi. (3) Fokus pembiayaan dalam
rangka pengembangan produk yaitu memberikan prioritas kepada biaya untuk
pengembangan inovasi dibandingkan dengan upaya memberikan komisi
kepada pihak lain yang membawa calon pembeli. (4) Menjaga kualitas
produk adalah strategi pengendalian biaya yang fokus pada pembiayaan
produksi untuk menjaga mutu produksi untuk mendapatkan pelanggan di masa
depan.
4) Persepektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Perusahaan memberikan perhatian khusus kepada karyawan cakap
menguntungkan masa depan perusahaan. Perusahaan telah menyiapkan
anggaran yang diperlukan dalam rangka pelatihan atau training bagi karyawan
setiap tahunnya. Kompensasi insentif untuk mendorong pembelajaran yaitu
memberikan kompensasi secara kompetitif di antara para pimpinan dan para
karyawan secara transparan dengan aturan yang jelas. Pembelajaran karyawan
37
dalam proses pengambilan keputusan yaitu mengajak semua karyawan untuk
ikut serta ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan, dengan harapan
terdapat pembelajaran pada karyawan menjadi semakin cakap dalam
pengendalian strategi perusahaan.
5) Persektif Sosial
Kegiatan sosial untuk capaian tingkat kesejahteraan masyarakat terdampak
yaitu menganggarkan sebagian laba dari perusahaan untuk ikut serta
mendonasikan kepada pembangunan sarana publik bagi kepentingan
masyarakat terdampak dari keberadaan organisasi bisnis. Perusahaan telah
memiliki konsep yang jelas tentang pembagian laba perusahaan dan donasi
kepada partisipasi gender dan pelayanan sosial. Perusahaan percaya bahwa
peran sosial responsibility bermanfaat bagi masa depan perusahaan dengan
menyisihkan sebagian laba perusahaan untuk didonasikan kepada
pembangunan sarana publik bagi kepentingan konsumen pengguna seperti
balai banjar, tempat ibadah dan sarana publik lainnya. Perusahaan percaya
bahwa ikut aktif dalam kegiatan kelompok sosial dan kekerabatan merupakan
media yang baik untuk memasarkan produk.