Fenomenologi adalah ilmu mengenai fenomena yang dibedakan dari
sesuatu yang sudah menjadi atau disiplin ilmu yang menjelaskan dan
mengklasifikasikan fenomena, atau studi tentang fenomena (Engkus, 2013 : 1).
Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani phainomai yang berarti menampak dan
phainomenon merujuk pada yang menampak. Fenomena tiada lain adalah fakta
yang disadari, dan masuk ke dalam pemahaman manusia. Jadi suatu objek itu ada
dalam relasi dengan kesadaran. Fenomena bukanlah dirinya seperti tampak secara
kasat mata, melainkan justru ada di deoan kesadaran, dan disajikan dengan
kesadaran pula. Berkaitan dengan hal ini, maka fenomenologi merefleksikan
pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensif
berhubungan dengan suatu objek (Engkus, 2013 : 1).
Teori ini sering dikenal dengan aliran filsafat sekaligus metode berpikir,
yang mempelajadi fenomena manusiawi (human phenomena) tanpa
mempertanyakan penyebab dari fenomena itu, realitsa objektifnya, dan
penampakannya. Fenomenologi tidak beranjak dari kebenaran fenomena seperti
yang tampak apa adanya, namun sangat meyakini bahwa fenomena yang tampak
itu adalah objek yang penuh dengan makna transedental. Tujuan utama
Fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam
kesadaran, pikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut
bernilai atau diterima secara estetis (Engkus, 2013 : 2). Fenomenologi mencoba
mencari pemahaman bagaimana manusia mengkontruksi makna dan konsepkonsep penting dalam kerangka intersubjektivitas. Intersubjektif karena
pemahaman kita mengenaidunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain
(Engkus, 2013 : 2).
Peter Berger merupakan salah satu tokoh dari fenomenologi yang dikenal
dengan pemikirannya mengenai kontruksi realitas secara sosial. Peter memiliki
pemahaman bahwa tindakan seseorang itu tidak ya berasal dari pengaruh dalam
dirinya sendiri, akan tetapi produk dari kesadarannya terhadap orang lain (Engkus,
2013 : 20). Pembahasan teori dari Peter mengenai fenomenologi ditekankan pada
interaksi antar individu. Adapun yang menjadi fokus perhatiannya adalah
pengetahuan umum mengenai kehidupan sehari-hari, dan cara masyarakat
mengorganisasi pengalaman dan dunia sosialnya. Peter menekankan bahwa aktor
memiliki makna subjektif, rasional, bebas, dan tidak ditentukan secaran mekanik.
Aktifitas manusia harus dipahami sebagai sesuatu yang bermakna bagi aktor
dalam masyarakat, oleh karena itu setiap aktivitas harus diinterprestasikan
(Engkus, 2013 : 20).
Teori dari Peter mengungkapkan bahwa fenomenologi hanyalah sebuah
metode deskriptif dan empiris karena berdasarkan pengalaman manusia. Proses
sosial akan melibatkan interaksi antara individu dengan dunianya, sehingga tugas
fenomenologi adalah menganalisis kenyataan-kenyataan sosial (Engkus, 2013 :
21). Analisis terhadap realitas sosial akan memasukkan konsep interpretasi pada
praktik kehidupan sehari-hari. Dengan demikian fenomenologi menjembatani
tendensi positivistik dan kubu interpretasi sosiologis (Engkus, 2013 : 21).
Fenomenologi Peter Berger berupaya membangun dialektika antara individu dan
lingkungan dalam menganalisis kebudayaan. Pada akhirnya Peter berhasil
menawarkan sebuah petunjuk penting untuk mencapai keseimbangan dalam
memahami fenomena sosial (Engkus, 2013 : 21).
Engkus (2013 : 22) berpendapat bahwa saat ini fenomenologi lebih dikenal
sebagai suatu disiplin ilmu yang kompleks. Sebagai disiplin ilmu, fenomenologi
mempelajari struktur pengalaman dan kesadaran. Secara harfiah, fenomenologi
adalah studi yang mempelajari fenomena seperti penampakan, segala hal yang
muncul dalam pengalaman kita, cara mengalami sesuatu, dan makna yang dimiliki
dalam pengalaman. Pada dasarnya fenomenologi mempelajari struktur tipe-tipe
kesadaran yang terentang dari persepsi, gagasan, memori, imajinasi, emosi, hasrat,
kemauan, sampai tindakan, baik itu tindakan sosial maupun dalam bentuk bahasa.
Struktur kesadaran dalam pengalaman ini yang pada akhirnya membuat makna
dan menentukan isi dan pengalaman (content of experience) (Engkus, 2013 : 22).
Fenomenologi tidak membuat karakteristik dari pengalaman, ketika
pengalaman itu sedang dialami. Karena ketika sebuah pengalaman sedang dialami
maka ia akan menyita seluruh perhatian pada saat itu, dan membuat bias kondisikondisi yang melatarbelakanginya. Pada hakikatnya dapat diklasifikasikan
pengalaman berdasarkan aspek-aspek kesamaanya. Dengan demikian,
fenomenologi telah memfokuskan pada pengalaman subjektif, pengalaman
praktis, dan kondisi-kondisi sosial dari pengalaman tersebut. Fokus fenomenologi
ini berbeda dengan philosophy of mind, yang menggarisbawahi kajiannya pada
neural substrate dari sebuah pengalaman yaitu bagaimana cara kerja pengalaman
sadar, representasi mental atau kesengajaan dalam otak manusa. Oleh karena itu
banyak juga kajian philosohy of mind yang justru adalah kajian dari fenomenologi
(Engkus, 2013 : 23).
Secara singkat, kunci dari teori fenomenologi adalah pemahaman terhadap
kejadian yang terjadi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu
peran akuntansi dalam menentukan strategi mengelola keuangan rumah tangga
pada ibu rumah tangga dianggap dapat memenuhi kebutuhan individu dan apakah
peran akuntansi mempunyai daya tarik bagi mereka.
