Kepemilikan manajerial yang semakin besar diharapkan akan mengurangi permasalahan keagenan. Semakin besarnya kepemilikan manajerial suatu perusahaan, maka akan semakin rendah praktik perataan laba (Catherine, 2013). Penelitian sebelumya oleh Watfield dkk (1995) terkait pengaruh kepemilikan manajerial terhadap discretionary accrual dan kandungan informasi laba menghasilkan bukti bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap discretionary accrual. Penelitian terdahulu yang juga dilakukan oleh Putri dan Supadmi (2016) menunjukkan bahwa kepemilikan menajerial tidak memiliki pengaruh terhadap persistensi laba, hal ini berarti kepemilikan saham oleh manajer tidak lebih besar daripada kepemilikan saham perusahaandan kepemilikan saham pihak eksternal. Saham yang dimiliki pihak manajer tidak berdampak dalam pengambilan keputusan. Sedangkan hasil penelitian Jumiati dan Ratnadi (2014) menemukan bahwa kepemilikan manjerial berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Penelitian Khafid (2012) dan Muid (2009) menemukan hal yang sama yaitu kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap persistensi laba. Kepemilikan manajerial diartikan sebagai kepemilikan saham perusahaan oleh komisaris atau direksi dari saham perusahaan yang beredar. Manajemen dalam hal ini bertindak sebagai agen sekaligus pemegang saham. Hal ini tentu memudahkan direktur dalam memantau manajernya secara lebih intens guna untuk meningkatkan kualitas perusahaan serta kualitas laba. Semakin besar kepemilikan manajerial maka semakin besar persistensi laba. Hal ini juga mengindikasikan bahwa salah satu yang menjadi bagian penting yaitu relevansi nilai produktif informasi, sebab laba yang disajikan adalah salah satu gambaran baiknya suatu perusahan yang kemudian dijadikan bahan pertimbangan bagi investor dalam melakukan keputusan investasi (Malan dkk, 2013). Kepemilikan manajerial bisa dipakai dalam penentuan kualitas laba yang akan datang yang tergambar dalam persistensi labanya, semakin tinggi kepemilikan saham oleh pihak manajemen maka akan semaking tinggi juga rasa tanggung jawab manajer dalam mempertanggungjawabkan laporan keuangan (Jumiati, 2014)
