Pengertian Diabetes Mellitus (skripsi dan tesis)

 

Diabetes Mellitus adalah kelainan metabolisme yang ditandai terutama oleh hiperglikemia akibat defisiensi relatif atau absolut. Hiperglikemia timbul karena terhambatnya penyerapan glukosa  ke dalam sel serta gangguan metabolisme. Defisiensi ini disebabkan oleh berkurangnya produksi insulin oleh pankreas, penurunan respons tubuh terhadap insulin atau produksi hormon antagonis insulin. Hiperglikemia timbul karena penyerapan glukosa ke dalam sel terhambat serta metabolismenya terganggu.

Diabetes Mellitus menurut Ganong (2003) ditandai dengan poliuria, polidipsia dan berat badan yang kurang meskipun polifagia (nafsu makan bertambah), hiperglikemia, glukosuria, ketosis, dan koma. Terdapat kelainan biokimiawi yang amat luas namun efek pokok yang mendasari semua abnormalitas yang lain adalah berkurangnya glukosa yang masuk ke berbagai jaringan perifer dan bertambahnya jumlah glukosa yang dilepaskan dalam darah (glukoneogenesis hati yang meningkat). Dengan demikian timbul kelebihan glukosa ekstrasel dan defisiensi glukosa intrasel. Jumlah asam amino yang masuk ke dalam otot pun berkurang sedangkan pemecahan lemak meningkat.

Dalam keadaan normal kira-kira 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air 5 %. Diubah menjadi glikogen dan kira-kira 30-40% diubah menjadi lemak. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut terganggu sehingga sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah dan energi terutama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak (Ganong, 2003).

Diabetes Mellitus dapat dicegah dengan pengaturan diet karbohidrat yang baik dan dilakukannya gerak badan secara teratur dan cukup (Guyton, 2005).

Perilaku (Behaviour) (skripsi dan tesis)

 

Perilaku (behaviour) adalah tindakan yang dilakukan seseorang. Dalam konteks penggunaan sistem teknologi informasi, perilaku (behaviour) adalah penggunaan sesungguhnya (actual usage) dari teknologi (Jogiyanto, 2007). Di dalam berbagai penelitian karena penggunaan sesungguhnya tidak dapat diobservasi oleh peneliti yang menggunakan daftar pertanyaan, maka penggunaan sesungguhnya ini banyak diganti dengan nama pemakaian persepsian (perceived usage). David (1989) menggunakan penggunaan yang sesungguhnya, sedangkan Igbaria et al., (1997) menggunakan pengukuran pemakaian persepsian (perceived usage) yang diukur sebagai jumlah waktu yang digunakan untuk berinteraksi dengan suatu teknologi dan frekuensi penggunaannya.

Minat Perilaku (Behavioral Intention) (skripsi dan tesis)

 

Minat perilaku adalah suatu keinginan (minat) seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Seseorang akan melakukan suatu perilaku jika mempunyai keinginan atau minat untuk melakukannya (Jogiyanto, 2007). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa minat perilaku merupakan prediksi terbaik dari penggunaan teknologi oleh pemakai sistem.

Sikap Terhadap Perilaku (Attitude toward Behaviour) (skripsi dan tesis)

 

Sikap terhadap perilaku (attitude toward behaviour) didefinisikan oleh Davis et al., (1989) sebagai perasaan positif atau negatif seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan ditentukan. Beberapa penelitian menunjukkan sikap (attitude) berpengaruh secara positif terhadap minat perilaku (behavioral intention). Akan tetapi beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa sikap (attitude) tidak berpengaruh signifikan ke minat perilaku, sehingga sebagian penelitian tidak memasukkan konstruk sikap di dalam model.

Persepsi Terhadap Kemudahan Penggunaan (Perceived Ease of Use) (skripsi dan tesis)

 

Kemudahan penggunaan (ease of use) didefinisikan sebagai sejauhmana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha (Jogiyanto, 2007). Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kemudahan penggunaan akan mengurangi usaha (baik waktu dan tenaga) seseorang didalam mempelajari komputer. Pengguna Teknologi Informasi (TI) mempercayai bahwa TI yang lebih fleksibel, mudah dipahami dan mudah pengoperasiannya (compatible) sebagai karakteristik kemudahan penggunaan. Davis.F.D (1986) memberikan beberapa indikator konstruk kemudahan penggunaan yaitu; (1) Kemudahan untuk dipelajari (easy to learn), (2) Controllable (3) Clear & understandable, (4) Flexible, (5) Keterampilan menjadi bertambah (easy to become skillful) (6) Mudah digunakan (easy to use).

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kostruk kemudahan penggunaan mempengaruhi sikap (attitude), minat (behavioral intention) dan penggunaan sesungguhnya (actual usage).

Persepsi Terhadap Kegunaan (Perceived Usefulness) (skripsi dan tesis)

 

Jogiyanto (2007) mendefinisikan Persepsi terhadap kegunaan (perceived usefulness) sebagai sejauhmana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Kemanfaatan penggunaan TI (Teknologi Informasi) dapat diketahui dari kepercayaan pengguna TI dalam memutuskan penerimaan TI, dengan satu kepercayaan bahwa penggunaan TI tersebut memberikan kontribusi positif bagi penggunanya. Pengukuran konstruk kegunaan (usefulness) menurut Davis (1986) terdiri dari (1) Menjadikan pekerjaan lebih cepat (work more quickly), (2) Bermanfaat (useful), (3) Menambah produktifitas (increase productivity), (4) Mempertinggi efektifitas (enchance efectiveness) dan (5) Mengembangkan kinerja pekerjaan (improve job performance).

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konstruk Persepsi terhadap kegunaan (perceived usefulness) mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap penggunaan sistem informasi. Selain itu konstruk Persepsi terhadap kegunaan merupakan konstruk paling signifikan dan penting mempengaruhi sikap (attitude), minat (behavioral intention) dan perilaku (behavior) di dalam menggunakan teknologi informasi dibandingkan dengan konstruk yang lain.

Technology Acceptance Model (TAM) (skripsi dan tesis)

 

Salah satu ukuran kesuksesan implementasi adalah tingkat pencapaian yang diharapkan dari pengguna teknologi informasi. Pengguna sistem mencerminkan penerimaan teknologi oleh penggunanya (Venkatesh, 2000 dalam Shih, 2004). Technology Acceptance Model (TAM) telah menjadi dasar bagi penelitian di masa lalu dalam sistem informasi yang berhubungan dengan prilaku, niat dan pengguna teknologi informasi (Davis et al., 1989, dalam Shih, 2004)

Technology Acceptance Model (TAM) dikembangkan oleh Davis (1989) dengan bersandar pada Theory of Reasoned Action (TRA). Model TRA mengemukakan bahwa perilaku individu didorong oleh niat perilaku di mana niat perilaku merupakan fungsi dari sikap individu terhadap perilaku dan norma subjektif  yang melingkupi kinerja perilaku. Dengan kata lain, menyatakan bahwa yang perilaku dan niat untuk berperilaku adalah fungsi dari sikap seseorang terhadap perilaku dan persepsi mereka tentang perilaku. Oleh karena itu, perilaku adalah fungsi dari kedua sikap dan keyakinan.

Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) (skripsi dan tesis)

 

Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) adalah suatu tatanan yang menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam melaksanakan manajemen Puskesmas dalam mencapai sasaran kegiatannya. Menurut Sutanto (2009), SIMPUS adalah program sistem informasi kesehatan daerah yang memberikan informasi tentang segala keadaan kesehatan masyarakat di tingkat puskesmas mulai dari data diri orang sakit, ketersediaan obat sampai data penyuluhan kesehatan masyarakat.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, SIMPUS pun dikembangkan melalui sistem komputerisasi dalam suatu perangkat lunak (software) yang bekerja dalam sebuah sistem operasi. SIMPUS ini aplikasinya berbasis web, dengan bahasa program PHP, database MySQL, spek jaringan menggunakan Local Area Network (LAN), spek komputer untuk server processor cor i3, RAM 2GB, sedangkan client dual core, RAM 1GB dan dikembangkan dengan kemampuan multi user dengan tujuan agar seluruh pegawai dapat menggunakannya di jaringan lokal. Di dalam sistem ini akan selalu ditambahkan beberapa fungsi baru yang tidak disediakan pada sistem sebelumnya atau pengembangan. Perubahan terbanyak adalah pada isi atau format laporan yang diperlukan, yang menyesuaikan kebutuhan instansi vertikal maupun horizontal.

Tambahan fungsi pengaman dan pembagian hak akses pengguna terhadap sistem dilakukan agar setiap pengguna login terlebih dahulu sebelum dapat mengakses sistem. Pembagian hak akses bertujuan untuk menambah tingkat keamanan. Administrator memiliki akses untuk melakukan perubahan sistem, sedangkan pengguna (user) biasa hanya dapat membaca data yang ditampilkan sistem. Dalam Data Flow Diagram ( DFD ) dari SIMPUS juga terlihat bagaimana komponen-komponen sebuah sistem aliran data, mulai darimana data berasal sampai dengan penyimpanan dari data tersebut, dimana diharapkan RME yang dilakukan dapat dipakai untuk interkoneksi antar Puskesmas.

Pada tahun 2005 SIMPUS mulai dikenalkan oleh pemerintah untuk dilaksanakan di instansi-nstansi kesehatan, bahkan di Puskesmas. Versi yang lama yaitu versi 1.0 sampai versi 1.9, pada tahun 2011 telah mengalami pembaruan menjadi versi 2.0. SIMPUS versi 2.0 ini telah memiliki keunggulan 5 (lima) multi, yaitu: 1) Multi user: maksudnya usernya bisa lebih dari satu, pada satu komputer. jadi satu komputer bisa digunakan pada beberapa orang dan menggunakan  user name masing- masing. Tepat digunakan pada ruangan yang komputernya sedikit dan mengerjakan perkerjaan bersamaan, misalnya ruang obat, tidak perlu 1 orang satu komputer, jikalau petugasnya lebih dari satu, mereka dapat berbagi komputer, karena masing- masing cuma perlu melihat resep. tetapi masing-masing tetap tercatat siapa yang mengerjakan resep tersebut. 2) Multi tempat: software ini dipakai di puskesmas yang memiliki beberapa puskesmas pembantu, polindes, ponkesdes, masing masing saling berbagi informasi tetapi punya stok sendiri-sendiri tanpa mempengaruhi yang lain. 3)  Multi computer: SIMPUS memang didesain untuk banyak computer, walaupun bisa di gunakan hanya dengan satu komputer. Komputer yang banyak tersebut akan mengumpulkan datanya ke satu database, sehingga akan mudah dalam hal penyimpanan dan pemeliharaan.  4) Multi ruangan: SIMPUS telah lama dipakai mulai dari ruang loket, poliklinik, laboratorium, ruang obat.  5) Multi shift: mulai versi 2.0 ini SIMPUS telah dilengkapi dengan multi shift, mulai shift pagi, shift siang dan shift malam.

Latar Belakang penggunaan SIMPUS (Sutanto, 2009):

  1. Belum adanya  ke-validan  data  mengenai  orang  sakit,  penyakit,  bumil,dll  dalam  wilayah suatu puskesm
  2. Memperbaiki pengumpulan data di Puskesmas, guna laporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten.
  3. Memasuki Era Otonomi Daerah, mutlak diperlukan Informasi yang tepat, akurat dan upto date berkenaan dengan  data  orang  sakit,  ketersediaan  obat,  jumlah  ibu  hamil,masalah imunisasi  d

Maksud dan Tujuan SIMPUS (Sutanto, 2009):

  1. Mengumpulkan data dari tiap Puskesmas baik data orang sakit, bayi lahir, ibu hamil, ketersediaan obat, penyuluhan kesehatan masyarakat, dll
  2. Menghasilkan Informasi up to date tentang kondisi kesehatan di suatu Puskesmas dari jumlah orang sakit sampai ketersediaan obat sehingga dapat digunakan sebagai data  awal dalam pengambilan kebijaksanaan bagi pimpinan.
  3. Membantu kelancaran administrasi dan Manajemen Puskesmas dalam penyusunan laporan mengenai kondisi kesehatan di Puskesmas masing-masing.
  4. Memudahkan pekerjaan administrasi Puskesmas dalam membuat laporan harian maupun bulanan.

Kendala-kendala implementasi SIMPUS di Puskesmas yang secara umum sering dijumpai antara lain:

  1. Kendala di bidang Infrastruktur

Banyak puskesmas yang hanya memiliki satu atau dua komputer, dan biasanya untuk pemakaian sehari-hari di puskesmas sudah kurang mencukupi. Sudah mulai banyak pelaporan-pelaporan yang harus ditulis dengan komputer. Komputer lebih berfungsi sebagai pengganti mesin ketik semata. Selain itu kendala dari sisi sumber daya listrik juga sering menjadi masalah. Puskesmas di daerah-daerah tertentu sudah biasa menjalani pemadaman listrik rutin sehingga pengoperasian komputer menjadi terganggu. Dari segi keamanan, banyak gedung puskesmas yang kurang aman, sering terjadi puskesmas kehilangan perangkat komputer

  1. Kendala di bidang Manajemen

Masih jarang sekali ditemukan satu orang staf atau petugas atau bahkan unit kerja yang khusus menangani bidang data/komputerisasi. Hal ini dapat dijumpai dari tingkat puskesmas ataupun tingkat dinas kesehatan di kabupaten/kota. Pada kondisi seperti ini nantinya akan menjadi masalah untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atas data-data yang akan ada, baik dari segi pengolahan dan pemeliharaan data, maupun dari segi koordinasi antar bagian.

  1. Kendala di bidang Sumber Daya Manusia

Kendala di bidang SDM ini yang paling sering ditemui di puskesmas. Banyak staf puskesmas yang belum maksimal dalam mengoperasikan komputer. Biasanya kemampuan operasional komputer didapat secara belajar mandiri, sehingga tidak maksimal. Belum lagi dengan pemakaian komputer oleh staf yang kadang-kadang tidak pada fungsi yang sebenarnya.

Puskesmas-puskesmas di Kabupaten Bantul, memanfaatkan sistem komputerisasi dalam SIMPUS, belum seluruh unit pelayanan terintegrasi secara komputerisasi mulai dari loket pendaftaran sampai kamar obat. Apabila sudah terintegrasi secara komputerisasi, maka semuanya akan menuju pada data pelaporan yang diperlukan, termasuk dikembangkan laporan data imunisasi, laporan penyakit, dan data ibu hamil, Short Message Service (SMS) gateway, pendaftaran melalui SMS serta interkoneksi antar Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Untuk accounting belum dilaksanakan karena ada kebijakan pelayanan Puskesmas gratis di Puskesmas-puskemas Kabupaten Bantul.

Diagnosis (skripsi dan tesis)

Diagnostic and Statistical Manual (1994) cit Nugraheni (2012), yang dibuat oleh grup psikiatrik dari Amerika dipakai untuk menjadi panduan dalam mendiagnosis autisme. Isi ICD-10 maupun Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV) sebenarnya sama. Kriteria DSM-IV untuk autisme masa anak-anak adalah:

  • Minimal ada enam gejala dari (a),(b) dan (c), dengan sedikitnya dua gejala dari (a) dan masing-masing satu gejala dari (b) dan (c).
  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada dua gejala sebagai berikut:
  • Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju
  • Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
  • Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain
  • Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
  1. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditujukan oleh minimal satu dari gejala-gejala sbb:
  • Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain selain bicara)
  • Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipergunakan untuk berkomunikasi
  • Sering mempergunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
  • Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru
  1. Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala sebagai berikut:
  • Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan
  • Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya
  • Ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulangulang
  • Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda
    • Sebelum umur tiga tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (a) interaksi sosial, (b) bicara dan berbahasa, dan (c) cara bermain yang kurang variatif.
    • Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak-anak.

Kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition   (DSM V) dapat memenuhi kreteria sebagai berikut yang di buat oleh American Psychiatric Association (2013). DSM-V ini memperkenalkan individu dalam penentu diagnostik untuk GSA.

  • Kriteria A, merupakan defisit dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial yang persisten pada kontteks multiple, baik yang terjadi saat ini atau memiliki riwayat sebelumnya yang manifestasi sebagai berikut:
  1. Defisit dalam timbal balik emosional
  2. Defisit pada perilaku komunikatif non verbal yang digunakan interaksi sosial.
  3. Defisit dalam mengembangkan dan mempertahankan hubungan, sesuai dengan tingkat perkembangan.
  • Kriteria B, perilaku terbatas karena pola berulang, kegiatan atau minat yang bermanifestasi saat ini atau riwayat sebelumnya pada setidaknya dua dari gejala berikut:
  1. Bicara, gerak motorik atau penggunaan benda yang repetitif atau stereotype
  2. Keinginan keras pada kondisi yang sama, kepatuhan yang tidak fleksibel pada rutinitas yang sama atau pola ritual atau perilaku verbal dan non-verbal.
  3. Sangat terbatas, fiksasi minat yang tidak normal baik fokus atau intesitas
  4. Hiperaktif atau hipoaktif terhadap minat yang biasa atau input sensorik
  • Kriteria C, merupakan gejala yang harus muncul pada awal masa anak-anak
  • Kriteria D, merupakan gejala yang menyebabkan gangguan klinis secara signifikan dalam bidang sosial, pekerjaan atau pada tempat-tempat yang penting dari fungsi saat ini.
  • Kriteria E, merupakan gangguan yang tidak baik dijelaskan oleh disabilitas intelektual atau keterlambatan perkembangan secara global.

      American Psychiatric Association (2013), telah melakukan perubahan DSM-IV-TR menjadi DSM-V. DSM V menggunakan istilah Gangguan Spektrum Autisme (GSA) dengan gejala GSA dibagi menjadi 2 yaitu: gangguan komunikasi sosial atau interaksi sosial; adanya perilaku restriksi (terbatas) dan repetitive (berulang-ulang). Perubahan pada DSM-V juga GSA tidak lagi dibagi menjadi subtipe.

Deteksi Risiko Autisme (skripsi dan tesis)

  • Pengertian deteksi risiko autisme

Menurut KBBI (2018), risiko merupakan akibat yang kurang menyenangkan (merugikan atau membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan, sedangkan deteksi adalah usaha menemukan dan menentukan keberadaan, anggapan atau kenyataan. Deteksi risiko berarti sebuah usaha menemukan keberadaan suatu bahaya atau sesuatu dapat mengancam keselamatan yang bisa terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang. Deteksi risiko autisme merupakan usaha menemukan keberadaan suatu bahaya yang sedang berlangsung dan menuju kesebuah bahaya autisme, dalam arti lain apakah seseorang dapat berpeluang untuk mengalami penyandang autisme. Deteksi dini risiko autisme memiliki peran yang sangat penting untuk mengetahui seseorang itu memiliki risiko autisme. Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi yang tepat dapat membantu dalam penyembuhan dan membantu dalam pencegahan mengalami symptomps autisme (Soetjiningsih et al, 2015).

 

  • Alat yang digunakan untuk deteksi autisme

Indonesia  telah mempunyai instrumen yang digunakan juga oleh dokter untuk mengukur atau mendeteksi dini anak dengan autisme yang diatur dalam Peraturan Kementrian Kesehatan RI 2016 yaitu M-CHAT-R (Modified Checklist for Autism in Toddlers, Revised) yang sebelumnya M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Modified Checklist for Autism in Toddlers merupakan alat skrining GSA level 1 yang digunakan untuk usia 16-48 bulan, terdiri atas 23 pertanyaan dimana 6 pertanyaan adalah item kritis. Anak dikatakan gagal M-CHAT jika terdapat 2 atau lebih pertanyaan kritis dengan jawaban tidak menjawab benar pada 3 pertanyaan apa saja dari 23 pertanyaan ya atau tidak. Anak yang tidak berisiko M-CHAT tidak semua memenuhi kriteria diagnosis GSA. Anak yang tidak berisiko M-CHAT harus dievaluasi lebih mendalam oleh dokter atau dirujuk ke spesialis anak untuk evaluasi perkembangan lebih lanjut.

Modified Checklist for Autism in Toddlers, Revised dilakukan beberapa perubahan dari M-CHAT yaitu: 1) tiga item dihilangkan karena dilaporkan “performed poorly”, 2) Item yang tersisa (20 item) diorganisir untuk menghilangkan bias, 3) Tujuh item (best 7) yang mendeskripsikan GSA diletakkan pada 10 item pertama, 4) Bahasa yang digunakan diperjelas, 5) Diberikan contoh untuk mempermudah pertanyaan (Soetjiningsih et al., 2015; Robins, 2018). M-CHAT-R adalah instrumen yang dapat digunakan saat anak yang datang untuk kontrol sehari-hari dan dapat digunakan oleh dokter spesialis atau profesional lainnya untuk menilai risiko GSA (Soetjiningsih et al., 2015).

Aturan Penggunaan M-CHAT-R dapat digunakan oleh dokter dan peneliti yang sudah mengikuti pelatihan cara penggunaan M-CHAT-R ini menurut Kementerian kesehatan RI (2016) menanyakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu-persatu perilaku yang tertulis pada kuesioner M-CHAT-R, jawaban dari orang tua/pengasuh dicatat dan disimpulkan jawaban Ya dan Tidak dari orang tua/pengasuh. Pertanyaan yang ditanyakan dilihat kembali untuk memastikan semua pertanyaan sudah dijawab.

Algoritme skoring pada M-CHAT-R ini adalah semua pertanyaan kecuali 2, 5, dan 12, respon “TIDAK” mengindikasikan risiko GSA; untuk pertanyaan 2,5, dan 12, “YA” mengindikasikan risiko GSA. Aturan algoritme skoring pada M-CHAT-R ini dapat diunduh http://mchatscreen.com/m-chat/scoring-2/. Interpretasi M-CHAT-R ini sebagai berikut dalam Soetjiningsih et al (2015):

  • RISIKO RENDAH: Skor total 0-2; jika anak lebih muda dari 24 bulan, lakukan skrining lagi setelah ulang tahun kedua. Tidak ada tindakan lanjutan yang diperlukan, kecuali surveilans untuk mengindikasikan risiko GSA.
  • RISIKO MEDIUM: Skor total 3-7; lakukan Follow-up (M-CHAT-R/F tahap kedua) untuk mendapat informasi tambahan tentang respon berisiko. Skrining positif jika skor M-CHAT-R/F 2 atau lebih. Tindakan yang diperlukan: adalah rujuk anak untuk evaluasi diagnostik dan evaluasi eligibilitas untuk intervensi awal. Skrining negatif jika skor M-CHAT-R/F 0-1. Tidak ada tindakan lanjutan yang diperlukan, kecuali surveilans untuk mengindikasikan risiko GSA. Anak harus diskrining ulang saat datang kembali.
  • RISIKO TINGGI: Skor total 8-20; Follow-up dapat tidak dilakukan dan pasien dirujuk segera untuk evaluasi diagnostik dan evaluasi eligibilitas untuk intervensi awal.

Menurut Halena dan Marpaung (2018), deteksi resiko autisme pada anak selain menggunakan M-CHAT-R, orang tua dapat menggunakan Aplikasi Sistem Pakar untuk Deteksi Autisme pada Anak Berbasis Web. Deteksi dalam aplikasi ini orang tua dari anak dapat melakukan langsung dengan menggunakan androidnya untuk menilai perilaku pada anaknya dan dapat mengetahui secara langsung hasil dari pengematan perilaku sehari-hari pada anaknya dengan memiliki hasil antara tidak berisiko autisme, kemungkinan berisiko autisme dan berisiko autisme. Deteksi menggunakan aplikasi ini juga tidak perlu bertemu langsung dengan para ahli pakar. Hasil dari pengujian validitas adalah 100% pada fungsionalitas sistem pengujian dan 100% pada pengujian sistem pakar dengan faktor metode kepastian. Aplikasi web ini menggunakan bahasa program PHP dan database My Structured Query Language (MySQL).

Dampak dan Masalah Lain yang Menyertai (skripsi dan tesis)

 

Pada anak autisme umumnya mengalami kesulitan untuk menumbuhkan empati sosial (termasuk pemahaman terhadap pendapat, emosi, tingkah laku dan bahasa orang lain). Autisme dikenal sebagai pervasive development disorder yang berarti bahwa satu aspek kesulitan berdampak pada yang lain. Persoalan ini disebabkan oleh Autism Spectrum Disorder atau Gangguan Spektrum Autisme, yang merupakan gangguan perkembangan dalam pertumbuhan manusia secara umum. Kecenderungan yang terjadi pada anak autisme mengalami tiga area kesulitan belajar dan berkomunikasi yaitu: kesulitan dalam berbahasa dan berkomunikasi, kesulitan dalam berintraksi sosial dan pemahaman terahadap sekitarnya, kurangnya fleksibilitas dalam berpikir dan bertingkah laku. Pada tahap kesulitan berbahasa dan berkomunikasi ini bukan hanya bahasa lisan yang berpengaruh tetapi juga gestur (gerak isyarat), ekspresi wajah dan segala bentuk bahasa tubuh (Silalahi, 2017).

Dampak yang dapat dilihat dengan jelas pada anak yang penyandang autisme adalah anak sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain sehingga terisolasi dari lingkungan, perkembangan bahasanya semakin terhambat, dan orang–orang disekitarnya juga sulit untuk memahami apa yang diinginkannya (Putri, 2013). Kelainan yang dapat menyertai yaitu selain perbedaan yang ditunjukkan dalam DSM-IV-TR, beberapa anak autisme memiliki gangguan lainnya yang menjadi pemberat dalam kasus autisme yang dialami anak, seperti misalnya: hipersensitifitas terhadap suara, sentuhan, atau kelainan okupasi yang umum dialami oleh anak autisme. Ketahanan tubuh terhadap penyakit juga salah satu masalah yang biasanya membebani anak autisme, yang dapat berdampak pada absensi anak autisme disekolah (Priyanto, 2009).

Penyebab Autisme (skripsi dan tesis)

 

Penyebab dari autisme itu sendiri belum diketahui secara pasti. Menurut beberapa penelitian penyebab autisme disebabkan beberapa faktor pada saat kehamilan antara lain: gangguan saraf otak, virus (cytomegalo, rubella, dan herpes) yang ditularkan oleh ibu ke janin dan lingkungan yang terkontaminasi zat beracun (Febry & Marendra, 2010).

      Menurut Boham (2013), gejala pada anak autisme memiliki beberapa faktor penyebab yang kompleks yaitu :

  • Kelainan anatomis otak: kelainan yang terdapat dibagian tertentu seperti : cerebellum (otak kecil), Lobus paristalis, dan sistem limbik yang mencerminkan muncul perilaku berbeda pada anak-anak autisme.
  • Faktor pemicu tertentu saat hamil yang terjadi pada usia 0-4 bulan yang diakibatkan oleh: Polutan logam berat, infeksi, zat adiktif, hiperemesis, pendarah berat dan alergi berat.
  • Zat-zat adiktif yang mencerminkan otak pada anak yaitu: asupan MSG (Monosodium Glutamat), protein tepung terigu atau protein susu sapi, zat pewarna, bahan pengawet.
  • Gangguan sistem pencernaan karena munculnya gejala autisme yang berhubungan dengan kekurangan enzim sekretin.
  • Kekacauan interpretasi dari sensori yang dapat menimbulkan kebingungan pada anak karena stimulus dipersepsikan oleh anak secara berlebihan sehingga termasuk dalam salah satu penyebab autisme.
  • Jamur yang muncul diusus anak dapat mengakibatkan pemakaian antibiotik yang berlebihan dapat memacu gangguan pada otak anak.

Gambaran Klinis Anak dengan Autisme (skripsi dan tesis)

 

Gambaran klinis anak dengan autisme dapat dilihat dari tanda dan gejala yang ditandai dengan defisit gangguan interaksi sosial pada anak dalam penggunaan komunikasi non-verbal dan verbal yang kurang atau tidak sama sekali untuk mengatur interaksi sosial. Gangguan interaksi sosial juga dapat menimbulkan gangguan hubungan dengan kelompok, gangguan berbagi minat atau keberhasilan serta timbal balik sosial emosisonal, termasuk juga kesulitan untuk memulai, mempertahankan dan mengakhiri interaksi sosial, memahami pikiran dan perasaan orang lain serta memahami dampak dari perilaku seseorang pada orang lain (Ellis, 2018).

Defisit dalam komunikasi sosial pada GSA dapat dilihat dari gangguan perkembangan atau miskin dalam bahasa, gangguan dalam memulai atau mempertahankan percakapan, serta dalam penggunaan kata dan bahasa yang berulang-ulang dan bervariasi (Ellis, 2018). Gangguan pada perilaku, minat, aktivitas yang repetitif dan terbatas mencakup perilaku dalam gerakan tubuh stereotype dan berulang-ulang, desakan lingkungan dan rutinitas yang sama, minat yang sempit dan terbatas serta perilaku yang merigikan diri sendiri (Rapin & Tuchman, 2008).

Tanda dan gejala GSA biasanya bervariasi secara signifikan dalam keparahan. Ciri khas anak autisme yaitu: kesulitan dalam berinteraksi sosial, komunikasi verbal dan non-verbal yang bermasalah, perilaku yang berulang-ulang. Ciri khas diatas dapat membantu dalam membuat diagnosis pada anak GSA (Ellis, 2018).

Menurut Muhith (2015), gejala dari anak autisme sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun dimana hal ini ditunjukkan dengan anak tidak menunjukkan kontak mata dan tidak responsif terhadap lingkungan. Jika tidak diupayakan untuk melakukan terapi maka mungkin memasuki usia 3 tahun pada anak tersebut perkembangannya akan mundur atau terhenti. Misalnya anak seperti tidak mengenali suara orang tuanya dan tidak mengenali namanya sendiri. Penderita autisme memiliki 3 gejala klasik dari Muhith (2015) sebagai berikut :

  • Hambatan dalam komunikasi verbal dan nonverbal
  • Terhambatannya kegiatan yang dilakukannya
  • Minat yang aneh dan terbatas.

Menurut Kementrian Kesehatan RI (2018) ada 3 indikasi gangguan autisme :

  • Keterlambatan bicara

Keterlambatan bicara merupakan salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan bicara ini terus-menerus meningkat pesat. Beberapa laporan dalam gangguan berbicara dan bahasa menyebutkan 5-10% pada anak sekolah. Penyebab dari gangguan bicara dan bahasa ini sangat banyak dan meluas, terdapat juga beberapa risiko dalam gangguan ini yang harus diwaspadai agar tidak mudah terjadi dari Madyawati (2016) yaitu:

  1. Kelainan organik yang dapat mengganggu sistem dalam tubuh seperti otak, pendengaran, dan fungsi motorik lain.
  2. Adanya gangguan hemisfer dominan dari beberapa penelitian.
  3. Penyimpangan dalam gangguan berbicara dan bahasa biasanya merujuk ke otak kiri
  4. Beberapa anak juga terdapat penyimpangan belahan otak kanan, korpus, dan lintas pendengaran yang saling berhubungan.
  5. Perkembangan setiap individu anak umumnya berbeda satu dan lainnya (Madyawati, 2016).

Selain itu menurut Sugiarmin (2013), keterlambatan bicara bisa dilihat dari gangguan sensoris atau penginderaan dan emosi pada anak autisme yang meliputi: merasa takut kepada objek yang sebenarnya tidak menakutkan, tertawa atau menangis atau marah-marah sendiri tanpa sebab, tidak dapat mengendalikan emosi dan mengamuk jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, sedangkan pada sensoris atau penginderaan yaitu: menjilat-jilat benda, mencium makanan atau benda-benda yang ada, menutup telinga jika mendengar suara yang keras dengan nada tertentu, tidak menyukai bahan yang kasar pada bahan misalnya baju atau celana dan lain-lain (Sugiarmin, 2013).

  • Gangguan komunikasi dan interaksi sosial

Menurut Suprapto (2009), kata komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio yang berarti “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”. Proses komunikasi adalah proses yang melibatkan unsur-unsur kesamaan makna sehingga terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan (penerimaan pesan). Banyaknya pendapat tentang definisi komunikasi maka ada 3 golongan pengertian utama komunukasi dari  Suprapto (2009)  yaitu :

  1. Secara etiminologis yaitu komunikasi yang di pelajari menurut asal-usul kata: komunikasi yang berasal dari bahasa latin “communicatio” dan kata ini bersumber pada kata “comminis” yang berarti sama makna dalam suatu hal yang dikomunikasikan.
  2. Secara terminologis yaitu komunikasi yang berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
  3. Secara paradigmatis yaitu komunikasi yang berarti pola dengan meliputi sejumlah komponen berkorelasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam komunikasi.

Menurut Pieter, Janiwarti dan Saragih (2011), ciri-ciri umum interaksis sosial pada anak autisme adalah menghindar dan menolak untuk tatap muka dengan orang lain, anak autisme jika dipanggil tidak mau menolek sehingga orang mengira anak tersebut tuli, merasa tidak tenang jika dipeluk, dan jika menginginkan sesuatu maka anak tersebut memaksa orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan.

Gangguan dalam bidang komunikasi pada anak autisme sejak lahir anak dengan gangguan ini memiliki kontak sosial yang sengat terbatas. Perhatian mereka hampir tidak ada berfokus pada orang lain melainkan anak dengan autisme ini lebih memperhatikan benda-benda mati yang disertai dengan taktil kinestetis dengan sambil menggerakkan dan dibarangi nafsu meraba dirinya sendiri. Ciri-ciri gangguan anak autisme dalam bidang komunikasi ini adalah hambatan perkembangan bahasa verbal dan nonverbal sehingga anak tersebut mengeluarkan bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain dan adanya percakapan yang tidak jelas atau hanya memunculkan dalam bentuk babling, senang mengikuti ucapan orang lain (echolalia), sering meniru dan mengulang kata-kata yang tidak dimengertinya. Anak dengan autisme juga memakai neologisme, simbol kata-kata, memiliki komentar-komentar yang tidak relevan dan menggunakan kata ganti yang berlawanan misalnya: saat dia mau minta minum diganti dengan kamu mau minta minum (Pieter et al., 2011).

  • Perilaku yang berulang-ulang

Gangguan perilaku pada anak autisme ditandai dengan perilaku yang berlebihan (excessive) dan perilaku yang sangat kurang (defisit), seperti impulsif, repetitif dan pada waktu tertentu ia akan merasa terkesan dan melakukan permainan yang monoton, sehingga anak tersebut mengakibatkan pola pelekatan terhadap benda-benda tertentu (Pieter et al., 2011). Selain itu juga menurut Sugiarmin (2013), gangguan dalam perilaku pada anak autisme meliputi: asyik dengan lingkungannya sendiri, tidak acuh terhadap lingkungan, anak autisme tidak mau diatur dan melakukan aktivitas semaunya dan sering menyakiti diri sendiri, sering kali melamun dan menatap dengan mata kosong sambil bengong, tingkah laku tidak terarah, mondar-mandir, lari-lari, melompat-lompat, berteriak-teriak dan berjalan berjinjit-jinjit (Sugiarmin, 2013).

Menurut Pratiwi dan Dieny (2013), anak autisme mulai terdiagnosis pada usia 1-2 tahun. Penderita autisme lebih banyak laki-laki dari pada perempuan atau perbandingan 1:4 antara perempuan dan laki-laki. Kementerian Kesehatan RI (2016) menyebutkan risiko autisme mulai muncul sebelum anak usia 3 tahun. Anak dengan berisiko autisme dapat dilakukan dengan skrining menggunakan kuesioner M-CHAT-R dengan usia anak 18-36 bulan.

Pengertian Autisme (skripsi dan tesis)

 

Autisme berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme  yang berarti suatu aliran. Autisme merupakan dimana keadaan seseorang yang hidup dalam dunianya sendiri (Huzaemah, 2010). Menurut ICD-10-CA (2012), autisme adalah sebagai adanya abnormal atau gangguan perkembangan yang mulai muncul pada usia 3 tahun dengan jenis karakteristik tidak normal dari tiga bidang yaitu timbal balik dalam interaksi sosial, komunikasi, perilaku yang berulang-ulang (Canadian Institute for Health Information, 2012).

Menurut Dr. Leo Kanner seorang psikiatrik dari Amarika yang mengemukakan pertama kali istilah autisme pada tahun 1934, istilah autisme dipergunakan untuk menggambarkan gejala dari psikosis pada penyakit anak-anak yang unik dan menonjol yang biasa disebut Sindrom  Kanner. Menurut Leo Kanner (1934), pengertian autisme merupakan anak yang mengalami perkembangan abnormal pada otak. Autisme juga bisa disebut dengan anak yang hidup didunia luar atau dunia fantasinya sendiri. Ciri-ciri dari anak yang mengalami autisme adalah dengan melihat ekspresi wajah yang kosong seakan-akan anak tersebut sedang melamun, tidak berpikir atau sulit berpikir dan sulit untuk menarik perhatian atau mengajak untuk berkomunikasi (Cohmer, 2014).

Faktor yang Mempengaruhi Resiliansi (skripsi dan tesis)

 

Menurut Reivich dan Shatte (Jackson dan Watkin, 2004) terdapat tujuh faktor dalam resiliensi, yaitu:

  • Emotional Regulation

Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan.

  • Impulse Control

Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam dirinya.

  • Optimism

Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Mereka yakin bahwa berbagai hal dapat berubah menjadi lebih baik. Mereka memiliki harapan terhadap masa depan dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah kehidupannya.

  • Emphaty

Empati menggambarkan sebaik apa seseorang dapat membaca petunjuk dari orang lain berkaitan dengan kondisi psikologis dan emosional orang tersebut.

  • Causal Analysis

Analisis kausal merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada kemampuan individu untuk secara akurat mengidentifikasi penyebab dari permasalahan mereka.

  • Self-Efficacy

Self-efficacy menggambarkan keyakinan seseorang bahwa ia dapat memecahkan masalah yang dialaminya dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai kesuksesan

  • Reaching Out

Reaching out menggambarkan kemampuan seseorang untuk mencapai keberhasilan. Menunjukkan adanya keberanian untuk melihat masalah sebagai tantangan bukan ancaman dan adanya kemampuan pada seseorang untuk mencapai keberhasilan di dalam hidupnya.

Adapun faktor-faktor tersebut menurut Neill dan Dias (2001dalam Alimi, 2005) adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Risiko

Faktor risiko merupakan faktor yang secara langsung memperbesar potensi terjadinya risiko bagi individu yang kemudian dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya perilaku dan gaya hidup maladaptif (Neill & Dias, 2001; Alimi, 2005). Adapun faktor tersebut meliputi: (1) kejadian yang bersifat katastropik, seperti bencana alam, kematian anggota keluarga, perceraian, (2) latar belakang kondisi sosial ekonomi keluarga yang kurang mendukung, (3) hidup di lingkungan negatif atau lingkungan yang rawan terjadi tindak kekerasan, dan (4) akumulasi dari beberapa faktor risiko.

  1. Faktor Protektif

Sementara itu, faktor protektif merupakan keterampilan dan kemampuan yang sehat yang dimiliki individu, yang mendorong terbentuknya resiliensi. Adapun faktor-faktor protektif tersebut adalah sebagai berikut: (1) karakteristik individu, seperti jenis kelamin, tingkatm inteligensi, karakteristik kepribadian, (2) karakteristik keluarga, seperti kehangatan, kelekatan, struktur keluarga, (3) ketersediaan sistem dukungan sosial di luar individu dan lingkungan keluarga, seperti sahabat.

Selanjutnya Benard (dalam Alimi, 2005) membagi faktor protektif menjadi dua, yaitu (1) faktor protektif internal, yakni merupakan faktor yang ada di dalam diri individu, meliputi keterampilan sosial seperti berkomunikasi, kemampuan menyelesaikan masalah, kecenderungan atribusi sosial (locus of control) dalam menilai penyebab masalah, memiliki kontrol atas diri sendiri, dan tujuan hidup, dan (2) faktor protektif eksternal yakni segala karakteristik lingkungan yang dapat memengaruhi berkembangnya faktor protektif internal, seperti keikutsertaan individu dalam suatu komunitas yang mendukung, memiliki hubungan akrab dengan lingkungan sekitar.

Ciri-ciri orang yang memiliki perkembangan tahapan resiliansi baik adalah mampu menghadapi sebagian besar masalah atau situasi yang sulit dengan mudah dibandingkan individu yang lain. Individu yang resilien adalah individu yang tampak sehat, berumur panjang, jarang mengalami depresi, bahagia dan berprestasi baik di tempat kerja maupun di sekolah. Individu ya antara lain dapat mengembangkan sense of efficacy dengan baik, menjadi orang dewasa yang sangat mendukung orang lain, dan mau mencoba kesempatan kedua (Reivich dan Shatte, 2002). Menurut Barankin dan Khanlou (2009), ciri-ciri anak yang resilien antara lain adalah mampu berempati atau dapat memahami dan bersimpati terhadap perasaan orang lain, dapat menjadi komunikator yang baik dalam memecahkan masalah, memiliki minat yang kuat di sekolah, berdedikasi untuk belajar, memiliki dorongan yang kuat untuk mencapai tujuan, selalu terlibat dalam kegiatan yang bermakna, selalu memiliki harapan dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain serta hidup dengan perasaan aman di keluarga maupun masyarakat.

Grotberg (1995) menyatakan ada tiga kemampuan atau faktor yang membentuk resiliensi, antara lain :

  • I Am. Faktor I Am merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan, tingkah laku dan kepercayaan yang terdapat dalam diri seseorang. Faktor I Am terdiri dari bangga pada diri sendiri, perasaan dicintai dan sikap yang menarik, individu dipenuhi harapan, iman, dan kepercayaan, mencintai, empati dan altruistic, yang terakhir adalah mandiri dan bertanggung jawab.
  • I Have. Aspek ini merupakan bantuan dan sumber dari luar yang meningkatkan resiliensi. Faktor I Have terdiri dari memberi semangat agar mandiri, struktur dan aturan rumah, Role Models, adanya hubungan.
  • I Can. Faktor I Can adalah kompetensi sosial dan interpersonal seseorang. Bagian-bagian dari faktor ini adalah mengatur berbagai perasaan dan rangsangan, mencari hubungan yangdapat dipercaya, keterampilan berkomunikasi, mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain, kemampuan memecahkan masalah.

Proses dalam Membentuk Resiliansi (skripsi dan tesis)

 

Coulson (2006) mengemukakan empat proses yang dapat terjadi ketika seseorang mengalami situasi cukup menekan (significant adversity), yaitu

  • Succumbing (mengalah), merupakan istilah untuk menggambarkan kondisi yang menurun dimana individu mengalah atau menyerah setelah menghadapi suatu ancaman atau kondisi yang menekan. Level ini merupakan kondisi ketika individu menemukan atau mengalami kemalangan yang terlalu berat bagi mereka. Penampakan (outcomes) dari individu yang berada pada kondisi ini berpotensi mengalami depresi dan biasanya penggunaan narkoba sebagai pelarian, dan pada tataran ekstrim dapat menyebabkan individu bunuh diri,
  • Survival (bertahan). Pada level ini individu tidak mampu meraih atau mengembalikan fungsi psikologis dan emosi yang positif setelah saat menghadapi tekanan. Efek dari pengalaman yang menekan membuat individu gagal untuk kembali berfungsi secara wajar (recovery), dan berkurang pada beberapa respek. Individu pada kondisi ini dapat mengalami perasaan, perilaku, dan kognitif negatif berkepanjangan seperti, menarik diri, berkurangnya kepuasan kerja, dan depresi,
  • Recovery (pemulihan) merupakan kondisi ketika individu mampu pulih kembali (bounce back) pada fungsi psikologis dan emosi secara wajar, dan dapat beradaptasi terhadap kondisi yang menekan, meskipun masih menyisahkan efek dari perasaan yang negatif. individu dapat kembali beraktivitas dalam kehidupan sehari-harinya, menunjukkan diri mereka sebagai individu yang resilien,
  • Thriving (berkembang dengan pesat). Pada kondisi ini individu tidak hanya mampu kembali pada level fungsi sebelumnya setelah mengalami kondisi yang menekan, namun mereka mampu minimal melampaui level ini pada beberapa respek. Proses pengalaman menghadapi dan mengatasi kondisi yang menekan dan menantang hidup mendatangkan kemampuan baru yang membuat individu menjadi lebih baik. Hal ini termanifetasi pada perilaku, emosi, dan kognitif seperti, sense of purpose of in life, kejelasan visi, lebih menghargai hidup, dan keinginan akan melakukan interaksi atau hubungan sosial yang positif.

Pada tahap akhir ketika seseorang memasuki tahapan akhir dalam resiliansi maka terdapat beberapa aspek yang harus dipenuhi oleh seseorang. Menurut Wagnild dan Young (1993) menjelaskan ada lima karakteristik resiliensi:

  • Perseverance, yaitu suatu sikap individu yang tetap bertahan dalam menghadapi situasi sulit. Perseverance juga dapat berarti keinginan seseorang untuk terus berjuang dalam mengembalikan kondisi seperti semula. Dalam karakteristik perseverance ini dibutuhkan kedisiplinan pada diri individu ketika berjuang menghadapi situasi yang sulit dan kurang menguntungkan baginya.
  • Equaminity, yaitu suatu perspektif yang dimiliki oleh individu mengenai hidup dan pengalaman-pengalaman yang dialaminya semasa hidup yang dianggap merugikan. Namun demikian individu harus mampu untuk melihat dari sudut pandang yang lain sehingga individu dapat melihat hal-hal yang lebih positif daripada hal-hal negatif dari situasi sulit yang sedang dialaminya. Equaminity juga menyangkut karakteristik humor. Oleh karena itu individu yang resilien dapat menertawakan situasi apapun yang sedang dihadapinya, melihat situasi tersebut dari hal yang positif, dan tidak terjebak pada hal-hal negatif yang terdapat di dalamnya.
  • Meaningfulness, merupakan kesadaran individu bahwa hidupnya memiliki tujuan dan diperlukan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Wagnild (2010) menyebutkan bahwa karakteristik ini merupakan karakteristik resiliensi yang paling penting dan menjadi dasar dari keempat karakteristik yang lain, karena menurutnya hidup tanpa tujuan sama dengan sia-sia karena memiliki arah atau tujuan yang jelas. Tujuan mendorong individu untuk melakukan sesuatu dalam hidup tidak terkecuali ketika individu mengalami kesulitan, tujuanlah yang membuat individu terus berjuang menghadapi kesulitan tersebut.
  • Self-Reliance, yakni keyakinan pada diri sendiri dengan memahami kemampuan dan batasan yang dimiliki oleh diri sendiri. Individu yang resilien sadar akan kekuatan yang dimiliki dan mempergunakannya dengan benar sehingga dapat menuntun setiap tindakan yang dilakukan. Karateristik ini didapat dari berbagai pengalaman hidup yang dialami sehari-hari dan dapat meningkatkan keyakinan individu akan kemampuan dirinya sendiri. Individu yang resilien mampu mengembangkan berbagai pemecahan masalah yang dihadapinya.
  • Existential aloneness, yaitu kesadaran bahwa setiap individu unik dan beberapa pengalaman dapat dihadapi bersama namun ada juga yang harus dihadapi sendiri. Individu yang resilien belajar untuk hidup dengan keberdayaan dirinya sendiri. Individu tidak terus-menerus mengandalkan orang lain, dengan kata lain mandiri dalam menghadapi situasi sulit apapun sehingga individu menjadi lebih menghargai kemampian yang dimilikinya. Karakteristik existential aloneness bukan berarti tidak menghiraukan pentingnya berbagai pengalaman dan merendahkan orang lain, melainkan menerima diri sendiri apa adanya.

Perkembangan Psikososial Remaja (skripsi dan tesis)

 

Dalam penelitian ini, penggunaan aspek yang terkandung dalam perkembangan psikososial remaja merupakan bagian dari dampak keputusan responden untuk meneruskan maupun tidak meneruskan kehamilan tidak di inginkan. Hal ini di dasarkan bahwa dampak keputusan untuk meneruskan maupun tidak meneruskan kehamilan tidak di inginkan berpengaruh terhadap tugas-tugas perkembangan psikososial yang harus diemban oleh si remaja itu sendiri. Untuk selanjutnya akan diuraikan pendapat berbagai ahli mengenai perkembangan psikososial remaja.

Konsep psikososial merupakan suatu perubahan didalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis (Soraya, 2012). Psikososial membahas mengenai masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat (Depkes RI, 2000

Tugas perkembangan psikososial remaja ini meliputi pencarian identitas diri, seksualitas, dan interaksi remaja dengan keluarga, teman, serta masyarakat (Feldman, Olds, & Papalia, 2004). Davis dan Forsythe (1984) mengemukakan bahwa dalam kehidupan masa remaja terdapat delapani aspek psikososial antara lain keluarga, lingkungan, kepribadian, rekreasi, pergaulan dengan lawan jenis, pendidikan, persahabatan atau soladiiritas kelompok, dan lapangan kerja (Septiyani, 2007).

Secara terperinci, menurut Steinberg (2002) menjelaskan bahwa ada lima perkembangan psikososial terpenting selama masa remaja yaitu, identity, autonomy, intimacy, sexuality, dan achievement.

Pada remaja, terjadi berbagai macam perubahan penting yang terjadi pada identitas dirinya. Remaja mulai mempertanyakan siapa sebenarnya dirinya dan apa tujuan hidupnya. Pencarian remaja mengenai identitas dirinya tidak hanya untuk dirinya secara personal, namun juga untuk diakui oleh orang lain, terutama diakui komunitas remaja tersebut.

Remaja berusaha untuk membangun kemandirian pada dirinya sendiri sesuai dengan sudut pandang mereka dan apa yang orang lain pikirkan terhadap dirinya. Proses ini membutuhkan waktu yang lama, tidak hanya bagi remaja, namun juga bagi orang-orang disekitarnya. Remaja mulai lebih mandiri dari orang tua mereka secara emosional, mulai dapat menentukan keputusannya sendiri, dan mulai membangun nilai-nilai dan moral personal. Intimacy. Selama individu pada tahap remaja, perubahan penting terjadi pada kemampuan individu dalam menjalin hubungan dekat dengan orang lain, terutama pada kelompoknya. Selain hubungan pertemanan yang melibatkan keterbukaan, kepercayaan, dan kesetiaan remaja juga akan mengalami peningkatan dalam hubungan dengan lawan jenis yang melibatkan rasa kasih sayang dan kepercayaan

Umumnya aktivitas seksual dimulai pada hubungan remaja dengan kelompoknya dan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri seorang remaja.

Banyak keputusan penting yang dibuat semasa remaja memiliki konsekuensi pada sekolah dan karirnya. Keputusan-keputusan ini bergantung pada pencapaian remaja di sekolah, evaluasi terhadap kemampuan diri sendiri, dan harapan mereka mengenai masa depan yang didukung oleh saran dan arahan dari keluarga dan teman-temannya.

Alasan dan Penyebab Kehamilan Tidak Diinginkan (skripsi dan tesis)

 

Terdapat  banyak  alasan  bagi  seorang  perempuan  tidak  menginginkan kehadiran  seorang  anak  pada  saat  tertentu  dalam  hidupnya.  Menurut  Kartono Muhamad, ada beberapa alasan yang membuat kehamilan itu tidak diinginkan,yaitu (Mohamad, 1998):

  1. Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan
  2. Kehamilan datang pada saat yang belum diharapkan
  3. Bayi dalam kandungan ternyata menderita cacat majemuk yang berat
  4. Kehamilan yang terjadi akibat hubungan seksual diluar nikah

Pada penelitian kualitatif studi kasus unsafe abortion yang bertujuan untuk menelusuri alasan-alasan mengapa perempuan Indonesia banyak yang melakukan aborsi tidak aman beserta akibatnya, diperoleh jawaban atas terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan pada informan dewasa yang sudah menikah, yaitu (Habsjah, 2005):

  1. Anak sudah banyak, suami jarang kerja, dan sering mabuk.
  2. Informan masih dalam kontrak kerja.
  3. Ketika informan dalam masa subur, suami selalu tidak mau tahu dan tidak pernah mau pakai kondom.
  4. Umur informan sudah tua dan anak sudah cukup
  5. Tidak boleh hamil anak keempat karena sudah tiga kali operasi Caesar
  6. Suami tidak bersedia menerima kehamilan lagi walaupun anak baru satu
  7. Jarak antara anak terlalu dekat
  8. Suami baru PHK, dan sering sakit sedangkan gaji isteri kecil
  9. Tidak sanggup menanggung anak tambahan

Menurut Mohamad (2006) maka alasan kehamilan tidak diinginkan yaitu:

  1. a) kehamilan yang terjadi akibat perkosaan;
  2. b) kehamilan datang pada saat yang belum diharapkan;
  3. c) bayi dalam kandungan ternyata menderita cacat majemuk yang berat;
  4. d) kehamilan yang terjadi akibat hubungan seksual diluar nikah.

PKBI (1998) menyebutkan bahwa alasan terjadinya kehamilan tidak diinginkan adalah sebagai berikut:

  1. penundaan dan peningkatan jarak usia perkawinan, dan semakin dininya usia menstruasi pertama (menarche). Usia menstruasi yang makin dini dan usia kawin yang semakin muda menyebabkan masa subur yang semakin panjang dan memungkinkan jumlah anak yang semakin banyak dan jarak kehamilan yang semakin dekat;
  2. ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat mengakibatkan kehamilan;
  3. tidak menggunakan alat kontrasepsi, terutama untuk perempuan yang sudah menikah;
  4. kegagalan alat kontrasepsi
  5. kehamilan yang diakibatkan oleh pemerkosaan
  6. kondisi kesehatan akibat ibu yang tidak mengizinkan kehamilan;
  7. persoalan ekonomi (biaya untuk melahirkan dan membesarkan anak);
  8. alasan karier masih sekolah (karena kehamilan dan konsekuensi lainnya yang dianggap dapat menghambat karier atau kegiatan belajar);
  9. kehamilan karena incest (hubungan seksual antara yang masih sedarah); dan
  10. kondisi janin yang dianggap cacat berat atau berjenis kelamin yang tidak diharapkan.

Menurut Jewkes et al., (2001) secara umum KTD pada remaja disebabkan antara lain:

  1. usia muda yang belum siap nikah;
  2. pasangan tidak bertanggung jawab; dan
  3. masih bersekolah
  4. alasan ekonomi

Di seluruh dunia, antara 120-150 juta perempuan baik yang belum menikah maupun telah menikah, ingin membatasi atau menjarangkan kehamilan tetapi tidak menggunakan kontrasepsi. Hal ini dikarenakan kendala keuangan, kepercayaan atau agama tertentu, dilarang oleh anggota keluarga atau perhatian tentang efek buruk yang dirasakan mengganggu kesehatan atau fertilitas (Cervone et al., 1991). Penyebab lain dari KTD pada remaja adalah karena kurangnya akses informasi dan pelayanan reproduksi dan KB, tidak cukupnya pengetahuan tentang risiko kehamilan akibat hubungan seks yang tidak aman, belum memiliki kesiapan untuk menjalani kehamilan baik secara fisik, psikis, sosial,  ataupun secara ekonomi (WHO, 1998).

Menurut WHO (2009) sekitar 16 juta perempuan berusia 15-19 tahun melahirkan tiap tahun, 95% kelahiran tersebut terjadi pada negara dengan pendapatan yang rendah dan menengah. Angka rata-rata dari remaja yang melahirkan di negara dengan pendapatan menengah lebih tinggi dua kali dibandingkan negara dengan pendapatan yang tinggi. Memiliki anak di luar nikah merupakan hal yang tidak biasa di banyak negara, sehingga bila terjadi kehamilan di luar nikah biasanya akan berakhir dengan tindakan aborsi. Sekitar 14% dari kejadian aborsi yang tidak aman pada negara dengan pendapatan yang rendah dan menengah dilakukan oleh remaja berusia 15-19 tahun, sekitar 2,5 juta remaja dilaporkan melakukan aborsi setiap tahunnya.

Pengertian Kehamilan Tidak Diinginkan dan Penyebabnya (skripsi dan tesis)

 

Kehamilan biasanya didambakan oleh pasangan suami istri, karena dengan kehamilan akan hadir anggota keluarga baru yang sangat dicintai. Tetapi kadangkala kehamilan bisa mendatangkan kecemasan bagi perempuan. (Adrianus, 2004). Selanjutnya dijelaskan pengertian dari KTD adalah suatu kondisi dimana pasangan tidak menghendaki adanya kehamilan yang merupakan akibat dari suatuperilaku seksual baik secara sengaja maupun tidak sengaja. KTD dapat menimpasiapa saja baik yang sudah menikah maupun belum menikah, remaja, pasangan muda ataupun ibu-ibu tengah baya, golongan atas atau bawah dari agama apapun.  PKBI (2004), menjelaskan kehamilan tidak diinginkan (KTD) dialami banyak perempuan, misalnya saja satu alasannya adalah kegagalan KB, tapi juga ada alas an lain seperti masih adanya kelompok unmet need, yaitu mereka yang tidak pernah memakai kontrasepsi atau sedang menggunakan kontrasepsi padahal mereka termasuk aktif secara seksual.

Istilah kehamilan yang tidak diinginkan bisa jadi merupakan kejadian dimana kehamilan yang tidak menginginkan anak sama sekali atau kehamilan yang diinginkan tetapi tidak pada saat itu/mistimed pregnancy (kehamilan terjadi lebih cepat dari yang telah direncanakan), sedangkan  kehamilan  yang  diinginkan  adalah  kehamilan  yang terjadi pada waktu yang tepat. Sementara itu, konsep kehamilan yang diinginkan merupakan  kehamilan  yang  terjadinya  direncanakan  saat  si  ibu  menggunakan metode kontrasepsi atau tidak ingin hamil namun tidak menggunakan kontrasepsi apapun.  Kehamilan  yang  berakhir  dengan  aborsi  dapat  diasumsikan  sebagai kehamilan  yang  tidak  diinginkan.  Semua  definisi  ini  menunjukkan  bahwa kehamilan merupakan keputusan yang disadari (Santelli, 2003).

Kehamilan  biasanya  dapat  diklasifikasikan  menjadi  3 kategori, yaitu: 1) Intended pregnancy, yaitu kehamilan yang diharapkan yaitu kehamilan terjadi tepat dengan waktu yang diharapkan; 2) Mistimed pregnancy, yaitu tidak ingin hamil pada saat itu, atau kehamilan terjadi lebih cepat dari yang direcanakan; dan 3) Unwanted pregnancy, yaitu kehamilan yang sama sekali tidak menginginkan (Gipson et al., 2008). Semua definisi ini menunjukkan bahwa kehamilan adalah keputusan yang disadari (Santelli et al., 2003). Penelitian ini memberikan asumsi kejadian kehamilan dari seorang wanita yang tidak ingin hamil tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan kehamilan dari wanita yang tidak merencanakan kehamilannya dengan menggunakan alat kontrasepsi, dan atau kehamilan diakhiri dengan perbuatan aborsi yang disengaja dari wanita bersangkutan.

Apabila dikhusukan pada kejadian kehamilan tidak diinginkan menurut Jain (1999) adalah maka terdapat dua kelompok kehamilan tidak diinginkan yaitu gabungan dari  kehamilan  yang  tidak  diinginkan  sama  sekali  (unwanted  pregnancy)  dan kehamilan yang diinginkan tetapi tidak pada saat itu (mistimed preganancy).

Dalam penelitian ini akan menggunakan pengertian gabungan gabungan dari  kehamilan  yang  tidak  diinginkan  sama  sekali  (unwanted  pregnancy)  dan kehamilan yang diinginkan tetapi tidak pada saat itu (mistimed preganancy).

Pengertian Remaja (skripsi dan tesis)

 

Menurut WHO remaja adalah seseorang yang berada padausia memiliki usia 10-20 tahun, hal ini di dasarkan atas kesehatanremaja yang mana kehamilan pada usia-usia tersebut memangmempunyai resiko yang lebih tinggi dari pada kehamilan dalamusia-usia diatasnya. (Sarwono, 2002). Menurut Koes Irianto (2010) remaja seringkali dikaitkan dengan istilah puber, adolesensi, akil baligh, atau pubertas.. Istilah puber berasal dari kata pubertas yang berasal dari bahasa Latin yang artinya masa remaja dan pubertas sendiri mengandung arti jenjang kematangan fisik. Adapun istilah ”adolesensi” juga diambil dari bahasa Latin ”adolescentia”, yang artinya masa sesudah pubertas, masa dimana manusia mencapai kematangan secara biologis, manusia yang sudah berada dalam keadaan tenang.

Menurut Muss (dalam Sarwono, 2002) mendefinisikan remaja atau adolescence adalah tumbuh kearah kematangan. Kematangan disini tidak hanya kematangan fisik, melainkan juga kematangan sosial psikologis. Remaja juga merupakan masa persiapan bagi seseorang untukm menerima peran sebagai orang dewasa. Hal ini didukung oleh pernyataan Sarwono (2002) yang menyebutkan masa remaja adalah masa terjadinya perubahan fisik yang menyebabkan suatu kecanggungan, karena mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Periode usia remaja dimulai pada masa transisi; yaitu masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun (Sarwono, 2002). Monks berpendapat bahwa secara global masa remaja berlangsung antara 12-21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun merupakan masa remaja awal, 15-18 tahun merupakan masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun merupakan masa remaja akhir (Monks, 2002). Sedangkan WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. Batasan usia tersebut didasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) wanita yang berlaku juga untuk remaja pria, dan dibagi kurun usia tersebut menjadi dua bagian yaitu remaja awal (10-14 tahun) dan remaja akhir (15-20 tahun).

Paritas (skripsi dan tesis)

 

  1. Pengertian

Paritas atau para adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar (28 minggu) (Pusdiknakes,2003)

Berdasarkan paritasnya, wanita dapat digolongkan menjadi :

1). Nulipara memiliki paritas 0

2). Primipara memiliki paritas 1

3). Sekundipara memiliki paritas 2

4). Multipara memiliki paritas >2-5

5). Grandemultipara memiliki paritas .5 (Manuaba,2005)

Parturient atau paritas merupakan jumlah kehamilan yang mencapai tahap viabilitas dan jumlah bayi yang dilahirkan yang menentukan digolongkannya menjadi :

1). Primipara adalah seorang wanita yang pernah sekali melahirkan janin yang mencapai viabilitas.

2). Multipara adalah seorang wanita yang pernah dua kali atau lebih hamil sampai usia viabilitas.

3). Nulipara adalah seorang wanita yang belum pernah menyelesaikan kehamilannya melebihi usia abortus                     ( Cunningham, 2006)

  1. Hubungan Paritas Dan Kangker Leher Rahim

                              Menurut (Wiknjosastro, 2006), insiden kangker leher rahim meningkat dengan tingginya paritas. Menurut (Sarjadi, 1995), faktor resiko penyebab kangker leher rahim antara lain jumlah kelahiran per vaginam yang cukup banyak, dimana melahirkan anak lebih dari tiga kali akan mempertinggi resiko. (Dian, 2007), faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya serviks, antara lain trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi dan iritasi menahun. dalam penelitian di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro pada tahun 2005 terdapat 34 kasus, dengan paritas lebih dari tiga sebanyak 26,5%. Pada tahun 2007 meningkat menjadi 37,66%

Menurut (Sjamsuddin. 2006) epitel serviks terdiri dari dua jenis, yaitu epitel squamosa dan epitel kolumnar, kedua epitel tersebut dibatasi oleh sambungan skuamosa-kolumnar (SSK) yang letaknya tergantung pada paritas. Pada wanita dengan aktivitas seksual tinggi, SSK terletak di ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot oleh prostaglandin. Pada masa wanita terjadi perubahan fisiologi pada epitel serviks, epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel kolumnar. Proses pergantian epitel kolumnar menjadi epitel skuamosa disebut proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh PH vagina yang rendah. Aktivitas metaplasia yang tinggi sering di jumpai pada masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini maka secara morfogenetik  terdapat dua SSK yaitu, SSK asli dan SSK baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar. Daerah diantara kedua SSK ini disebut daerah transformasi.

Gambaran Klinik dan Diagnosa (skripsi dan tesis)

 

  1. Etiologi dan faktor Resiko

Kanker servik sering dijumpai pada wanita yang sering melahirkan usia perkawinan terlalu muda atau hubungan sex pada umur muda disebabkan adanya hubungan dengan belum matangnya daerah transformasi pada umur tersebut bila seseorang terekspos. Prevalensi pada wanita tuna susila lebih tinggi uteri banyak didapatkan pada wanita yang suaminya tidak sirkum sisi . Hal ini disebabkan  oleh senggama suami yang mengandung bahan karsinogenesis. Kanker serviks banyak di dapat pada wanita dengan sosial ekonomi dan kebersihan yang rendah. Faktor sosial ekonomi adalah kaitan dengan gizi dan imunitas.

Menurut Black and Matassorin (1997) pada fase permulaan karsinoma serviks belum terdapat keluhan. Gejala-gejala yang sering timbul di tentukan pada kanker serviks adalah pervaginam abnormal yang bervariasi antara lain contact bleeding ( pendarahan saat berhubungan seksual) pendarahan setelah sua tahun positif menopause (nyeri pinggang, pinggul yang persisten, kostipasi, ganguan miksi, berat badan yang semakin menurun dan pendarahan yang mirip dengan cairan cucian daging berbau busuk biasanya terjadi pada stadium lanjut.

Maka perlu adanya komunikasi untuk mendiagnosisi penyakit ini antara lain pemeriksaan sitologi (pap smear) pemeriksaan dalam uterus, sinar Xorografi intravena, pemeriksaan foto, taraks, biopsi. Pemeriksaan papsmear digunakan untuk mendeteksi dini adanya keganasan, menilai keadaaan hormonal dan mengetahui daya mikroorganisme ( Velve, 1996)

  1. Penyebaran Kanker Serviks

Karsinoma serviks menyebar dengan cara invasi local, invasi ke organ sekitarnya, tumor dapat berinfiltrasi sepanjang ligamentum sakro–uterina, sepanjang parametrium. Kandung kemih pun dan rectum dapat terinfiltrasi oleh proses kanker. Penyebaran dapat pula terjadi secara  hematogenik, penyebaran hematogenik dapat mencapai paru-paru,liver dan tulang. Kanker servik dapat bermetastasi ke ruang intraperioneal, bila bermetastasi ke intraperioneal, maka umumnya mempunyai prognosis yang buruk

.  Pengobatan Kanker Serviks

Menurut (Wiknjosasto, 2006) pada tingkat klinik (KIS) tidak dibenarkan dilakukan elektrokoagulasi atau elektrofulgerasi, bedah mikro (cryosurgery) atau dengan sinar laser, kecuali bila yang menangani seorang ahli dalam kolposkopi dan penderitanya masih muda dan bahkan belum mempunyai anak. Bila penderita telah cukup tua, atau sudah mempunyai cukup anak, uterus tidak perlu ditinggalkan, agar penyakit tidak kambuh (relapse) dapat dilakukan histerektomi sederhana.

Pada tingkat klinik IA, umumnya dianggap dan ditangani sebagai kanker yang invasive. Bilamana kedalaman invasi <1mm dan tidak meliputi area yang luas serta tidak melibatkan pembuluh limfa, atau pembuluh darah.

Pada klinik IB,IB occ dan IIA dilakukan histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul. Pasca bedah biasanya dilakukan dengan penyinaran, tergantung ada tidaknya sel tumor dalam kelenjar limfa regional yang diangkat.

Pada tingkat IIB,III dan IV tidak dibenarkan melakukan tindakan bedah, untuk ini primer adalah radioterapi. Sebaiknya karsinoma serviks selekasnya segera dikirim ke pusat penanggulangan kanker.

Pada tingkat klinik IVA dan IVB penyinaran hanya bersifat paliatif. Pemberian kemoterapi dapat dipertimbangkan. Pada penyakit yang kambuh satu tahun sesudah penaganan lengkap dapat dilakukan operasi jika terapi terdahulu adalah radiasi dan prosesnya masih terbatas pada panggul. Bilamana proses sudah jauh atau operasi tak mungkin dilakukan, harus dipilih khemoterapi bila syarat-syarat terpenuhi.

Kanker serviks (skripsi dan tesis)

 

  1. Pengertian

         Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk area ke arah rahim yang terletak antara uterus dengan liang senggama (vagina) (Riono,1999)

Menurut Rahardjo (1999) Kanker serviks adalah kanker yang menyerang rahim bagian bawah, seperti diketahui stadium kanker serviks dapat awal sampai lanjut pada stadium Ia dan Ib panyakit kanker masih terlokalisasi pada leher rahim saja. Pada stadium IIa keatas tumor sudah meluas ke vagina, jaringan sekitar rahim, dinding panggul. Kandung kemih, poros usus bahkan bisa menyebar ke paru, tulang, maupun otak.

Pemicu dari kanker serviks adalah antara lain : wanita yang menikah umur muda, wanita yang melakukan senggama dini, wanita dengan sosial ekonomi rendah, wanita yang sering ganti patner, wanita dengan kebersihan alat kewanitaan yang kurang, wanita yang mempunyai banyak anak terutama jarak persalinan yang terlalu dekat, perokok, dilaporkan pula wanita yang menikah dengan suami yang tidak sunat (menurut statistik).     

  1. Sebab-sebab kanker serviks :

         Menurut Wiknjasastro (2006), sebab langsung kanker serviks belum diketahui. tahun) insiden meningkatnya dengan tingginya paritas, apalagi jika jarak persalinan terlampau dekat. Mereka dari golongan sosial ekonomi rendah (hygine seksual yang jelek), aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan (promiskuitas), sering ditemukan pada wanita tipe 18 atau 18, dan akhirnya kebiasaan merokok.

Menurut Sarjadi (1995) faktor penyebab kanker serviks adalah :

  • Umur pertama kali kawin yang relative muda (dibawah 20 tahun) dikatakan bahwa pada umur muda maka epitel serviks uteri belum cukup kuat untuk menerima rangsangan spermatozoa. Umumnya epitel serviks uteri baru matang setelah wanita berusia 20 tahun.
  • Jumlah kelahiran per vaginam yang cukup banyak, dimana melahirkan anak lebih dari tiga kali akan mempertinggi resiko.
  • Hubungan seksual yang terlalu sering (oleh karena menikah pada usia muda) terlebih dengan pasangan yang berbeda-beda akan meninggikan resiko.
  • Hygine atau sanitasi alat genital yang kurang baik, sehingga mempermudah terjadinya servitisis yang dipercaya erat kaitannya dengan terjadinya kanker serviks.
  • Sering ditemukan pada wanita yang menggalami infeksi virus HPV tipe 16 atau 18 Herpes simpleks virus tipe I dianggap sebagai agen karsonogenik pada kanker serviks

Menurut Dian (2007) ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks antara lain adalah :

1). Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda faktor ini merupakan faktor resiko utama. Semakin muda seseorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar resikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar dari yang menikah pada usia lebih muda dari 20 tahun.

2).  Berganti-ganti pasangan seksual. Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi HPV telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe 2 dapat menjadi faktor pendamping.

3).  Merokok, wanita perokok memiliki resiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping menurunkan ko-karsinogen infeksi virus.

4).  Defisiensi zat gizi ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asal folat dapat meningkatkan resiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mugkin juga meningkatkan resiko terjadinya kangker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol ( Vitamin A)

5).  Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi dan iritasi menahun.

  1. Penyebaran kanker serviks

Menurut (Wiknjosastro,2006) pada umumnya secara limifogen  melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah :

1).Ke arah fornises dan dinding vagina

2). Ke arah korpus uterus

3).Kearah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum retrovaginal dan kandung kemih.

Melalui pembuluh getah bening dan parametrium kanan dan kiri sel tumor dapat menyebar ke kelenjar iliak dan dalam (hipogastrika). Penyebaran melalaui pembuluh darah (bloodborne metasis) tidak lazim. Karsinoma serviks umumnya terbatas pada daerah panggul saja. Tergantung dari kondisi imunologik tubuh penderita KIS akan berkembang menjadi mikro invasive dengan menembus membrana basalis dengan kedalaman invasi <1 mm dan sel tumor belum terlihat  dalam pembuluh limfa atau darah. Jika sel tumor sudah terdapat > 1 mm dari membrane basalis, atau < 1 mm tetapi sudah tampak berada dalam pembuluh limfa atau darah, maka proses sudah invasive.

Sesudah tumor menjadi invasive, penyebaran secara limfogen ke pembuluh limfa regional dan secara perkontinuitatum (menjalar) menuju fornises vagina, korpus uterus, rectum dan kandung kemih yang pada tingkat akhir (terminal stage) dapat menimbulkan fistula rectum atau kandung kemih.

  1. Patologi

Menurut Wiknjosastro (2006) karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamus columnar junction (SCJ) pada wanita muda SCJ ini berada di luar ostium uteri eksternum, sedang pada wanita berumur >35 tahun, SCJ ini berada di dalam kanalis serviks. Pada awal-awal perkembangan kanker serviks tidak memberi tanda-tanda dan keluhan.

  1. Gejala

Menurut (Dian, 2007) pada fase pra kanker sering tidak ada  gejala atau tanda-tanda khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :

1). Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina

2). Pendarahan setelah senggama yang kemudian berlanjut menjadi

pendarahan yang abnormal.

3). Timbul pendarahan setelah masa menopause.

4). Pada fase invasive dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.

5). Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis.

6). Timbul nyeri panggul ( pelvis) atau perut di bagian bawah bila radang panggul. Bila nyeri di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis, selain itu juga timbul nyeri di daerah lain-lain.

7)  Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kemih dan poros usus besar bagian bawah ( rectum), terbentuknya fistel vesiko-vaginal atau rekto vaginal atau timbul gejala-gejala akibat metatase jauh.

INDIKATOR FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI (skripsi dan tesis)

 

Menurut Syahrizal faktor sosial ekonomi yaitu ciri-ciri strategi yang dikembangkan oleh rumah tangga yang hidup dalam suatu wilayah dalam mengatasi kemiskinan sedangkan apabila diperinci maka faktor-faktor tersebut adalah:

  1. Jumlah penghasilan
  • Jumlah tanggungan keluarga
  1. Bagaimana pengelolaan hasil pendapatan

Sedangkan menurut Sakti (2004) faktor sosial ekonomi sangat berkaitan dengan kesehjateraan. Namun untuk menentukan faktor mana yang mempengaruhi kesejahteraan ini abstrak sekali sifatnya sehingga perlu dijabarkan dan didekati dengan ukuran-ukuran tertentu, perlu dibuktikan dengan indikator-indikator tertentu sehingga menjadi konkrit. Secara sederhana maka disebutkan faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat tersebut meliputi :

  1. Tekanan Penduduk
  2. Tingkat Pendapatan
  3. Ketergantungan penduduk terhadap sumber pendapatan (Sakti, 2004 ).

Menurut BPS, maka faktor sosial ekonomi dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu:

  1. Usia Angkatan Kerja/Bukan Angkatan Kerja
  2. Angkatan Kerja (Labor Force)

Adalah penduduk dalam usia kerja yang selama seminggu yang lalu sedang bekerja atau punya pekerjaan sementara tidak bekerja dan mereka yang saat ini sedang mencari pekerjaan.

  1. Bukan Angkatan Kerja (Not In The Labor Force)

Adalah penduduk dalam usia kerja yang selama seminggu yang lalu tidak bekerja atau tidak sedang mencari pekerjaan. Kelompok ini terdiri dari mereka yang sedang bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya (tidak mampu melakukan pekerjaan karena usia tua, cacat dll

  1. Pekerjaan
  2. Pekerjaan Tetap

Penduduk (15 tahun keatas) yang dimasukkan dalam kategori bekerja adalah mereka yang selama seminggu yang lalu melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan dan bekerja paling sedikit 1 (satu) jam dalam seminggu yang lalu.

  1. Punya Pekerjaan, Tetapi Sementara Tidak Bekerja

Yang dimaksud kedalam kategori ini adalah penduduk (15 tahun keatas) yang mempunyai pekerjaan tetapi selama seminggu yang lalu tidak bekerja karena berbagai sebab seperti sedang sakit, cuti, menunggu panenan, dan sebagainya, atau bekerja tetapi kurang dari 1 (satu) jam.

  1. Mencari Pekerjaan/Menganggur (Unemployed)

Yang dimasukkan kedalam kategori mencari pekerjaan adalah penduduk 15 tahun keatas yang sedang berusaha mendapatkan/mencari pekerjaan. Termasuk di dalamnya: mereka yang belum pernah bekerja, dan mereka yang sudah pernah bekerja kemudian karena sesuatu hal berhenti atau diberhentikan. Kegiatan usaha mencari pekerjaan tersebut tidak terbatas dalam jangka waktu seminggu yang lalu saja tetapi bisa dilakukan beberapa waktu yang lalu.

  1. Mengurus Rumah Tangga

Yang dimasukkan kedalam kategori mengurus rumah tangga adalah penduduk 15 tahun keatas yang selama seminggu yang lalu mengurus rumah tangga atau membantu mengurus rumah tangga tanpa mendapatkan upah/gaji. Pembantu rumah tangga yang mendapatkan upah/gaji walaupun pekerjaannya mengurus rumah tangga dianggap bekerja.

  1. Sekolah

Yang dimasukkan kedalam kategori sekolah adalah penduduk 15 tahun keatas yang melakukan kegiatan sekolah. Anak sekolah yang selama seminggu yang lalu sedang berlibur dan tidak melakukan kegiatan lainnya dimasukkan kedalam kategori sekolah. Tetapi jika dia bekerja atau mengurus rumah tangga selama seminggu yang lalu tersebut, dia harus dimasukkan dalam kategori kegiatan lainnya, yaitu bekerja atau

mengurus rumah tangga.

  1. Lainnya

Yang dimasukkan kedalam kategori lainnya adalah penduduk 15 tahun keatas yang sudah tidak dapat melakukan kegiatan seperti kategori sebelumnya, seperti misalnya yang sudah lanjut usia, cacat mental, atau lainnya.

  1. Jenis Lapangan Pekerjaan

Adalah bidang kegiatan dari usaha/perusahaan/instansi dimana seseorang bekerja. Lapangan pekerjaan/usaha ini dibagi dalam 10 golongan yaitu: 1) Pertanian (termasuk Perburuan, Kehutanan, dan Perikanan); 2) Pertambangan dan Penggalian; 3) Industri Pengolahan; 4) Listrik, gas dan Air; 5) Bangunan/Kontruksi; 6) Perdagangan (termasuk Rumah Makan dan Hotel) 7) Angkutan dan Komunikasi; 8) Keuangan, Persewaan dan Asuransi; 9) Jasa; 10) Kegiatan yang tidak/belum jelas.

  1. Status/Kedudukan dalam Pekerjaan

Adalah status/kedudukan seseorang didalam pekerjaannya. Status/kedudukan dibagi dalam 7 golongan yaitu: 1) Berusaha sendiri; 2) Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar; 3) Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar; 4) Buruh/karyawan/pegawai; 5) Pekerjaan bebas di pertanian; 6) Pekerjaan bebas di non pertanian; 7) Pekerjaan tidak dibayar.

  1. Berusaha Sendiri

Yang dimasukkan kedalam kategori Berusaha Sendiri adalah mereka yang melakukan usaha/pekerjaan atas resiko/tanggungan sendiri dan tidak memakai buruh yang dibayar.

  1. Berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap/Buruh Tidak Dibayar

Yang dimasukkan kedalam kategori berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar adalah mereka yang dalam usahanya dibantu oleh satu atau lebih buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar (misalnya anggota rumah tangganya sendiri).

  1. Berusaha Dibantu Buruh Tetap/Buruh Dibayar

Yang dimasukkan kedalam kategori berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar adalah merka yang dalam usahanya dibantu oleh satu atau lebih buruh tetap/buruh yang dibayar.

  1. Buruh/Karyawan/Pegawai

Yang dimasukkan kedalam kategori buruh/karyawan/pegawai adalah mereka yang bekerja dengan menerima upah atau gaji baik berupa uang maupun barang. Misalnya PNS, Anggota TNI/Polri, Karyawan Perusahaan, atau buruh dengan 1 (satu) majikan.

  1. Pekerja Bebas di Pertanian

Yang dimasukkan kedalam kategori pekerja bebas di pertanian adalah mereka yang bekerja dengan memiliki 2 atau lebih majikan di sektor pertanian dan menerima upah atau gaji baik berupa uang maupun barang.

  1. Pekerja Bebas di Non-Pertanian

Yang dimasukkan kedalam kategori pekerja bebas di non-pertanian adalah mereka yang bekerja dengan memiliki 2 atau lebih majikan di sektor selain pertanian dan menerima upah atau gaji baik berupa uang mapun barang.

  1. Pendapatan Rumah Tangga dan Pendapatan yang Siap Dibelanjakan

Pendapatan yang diterima adalah dalam bentuk uang, dimana uang adalah merupakan alat pembayaran atau alat pertukaran ( Samuelson dan Nordhaus, 1997 : 36 ) Namun dalam pengertian ini maka pendapatan perorangan dan pendapatan rumah tangga dibedakan. Dimana pendapatan perorangan tidak seluruhnya diterima oleh rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh karena pendapatan tersebut sebagian tidak dibayar kepada rumah tangga, akan tetapi pajak pendapatan perusahaan diterima oleh pemerintah, keuntungan yang tidak akan dibagikan ditahan perusahaan dan jaminan sosial dibayarkan kepada instansi yang berwenang. Tetapi sebaliknya rumah tangga masih menerima tambahan yang merupakan transfer baik dari pemerintah maupun perusahaan dan bunga netto atas hutang pemerintah. Bila pendapatan perorangan ini dikurangi dengan pajak yang langsung dibebankan kepada rumah tangga, maka hasilnya merupakan pendapatan yang siap dibelanjakan (Dispossible Income).

kriteria besar pendapatan rumah tangga dan pendapatan yang siap dibelanjakan didasarkan pada kriteria garis kemiskinan dari BPS yang mengacu kepada besarnya pengeluaran/konsumsi per kapita per bulan pada tahun 2003 sebesar Rp 105.888 per bulan (untuk pedesaan).

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diketahui bahwa jenis indikator faktor sosial ekonomi bermacam-macam. Dalam penelitian ini akan menggunakan indikator yang sesuai dengan karakterisik penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pituruh Purworejo yaitu:

  1. Usia
  • Jenis Pekerjaan
  • Status/ Kedudukan Dalam Pekerjaan
  • Besar Pendapatan
  1. Besar Pendapatan yang Siap Dibelanjakan

PENGERTIAN SOSIAL EKONOMI (skripsi dan tesis)

 

Sosial ekonomi berkaitan dengan kesehjateraan yang dimiliki oleh suatu wilayah tertentu dimana tingkat kesejahteraan umumnya dikaitkan dengan tingkat pendapatan (Gohong, 1993). Oleh karenanya faktor sosial ekonomi suatu wilayah sangat berbeda satu dengan yang lainnya karena kondisi lingkungan sosial ekonomi di suatu wilayah berkaitan erat dengan  kemampuan penduduk di wilayah tersebut dalam melaksanakan kegiatan  untuk mendapatkan pendapatan.

Sedangkan menurut ( Ismawan, 2003: 2) maka pengertian faktor sosial ekonomi merupakan upaya masyarakat dalam memenuhi kecukupan diri (self-sufficiency) di bidang ekonomi, tetapi juga meliputi faktor manusia secara pribadi, yang di dalamnya mengandung unsur penemuan diri (self-discovery) berdasarkan kepercayaan diri (selfconfidence).

Definisi Pelayanan Antental (skripsi dan tesis)

 

Pelayanan antental adalah pelayanan kesehatan oleh professional (dokter spesialis kebidanan, dokterumum, bidan pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, umur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan (Dep-Kes, 1997)

  1. Cakupan pelayanan antenatal

Pelayanan Antenatal merupakan pelayanan yang diberikan oleh tenaga pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dengan standar pelayanan Antena-tal yang meliputi 5T. Cakupan pelayanan Antenatal dapat di pantau dengan pemberian pelayanan terhadap ibu hamil saat kunjungan pertama (K1) dan kunjungan ulangan yang ke empatkali pada semester ke-3 kehamilan(K4) (Armansyah, 2006).

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama (K1) dimulai dari konsepsisampai 3 bulan, triwulan kedua (K2) dari bulan keempat sampai 6 bulan,triwulan ketiga (K3) dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. Ibu hamil dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pela-yanan/asuhan anteantal. Berikut ini tu-juan dan program asuhan antenatal(Saifuddin, et al, 2002).

Berdasarkan uraian diatas maka jenis layanan antenatal meliputi timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, umur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan. Hal ini didasarkan pada arahan Dep-Kes (1997)

  1. Tujuan asuhan antenatal

Tujuan pemeriksaan antenatal adalah sebagai berikut:

  1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibudan tumbuh kembang bayi;
  2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik,mental, dan sosial ibu dan bayi;
  3. Mengenali secara dini adanyaketidaknormalan atau komplikasiyang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, dan pembedahan;
  4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin;
  5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian asi ekslusif;
  6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

Dokter Umum (skripsi dan tesis)

 

Dokter umum juga terlibat dalam asuhan maternitas. Kadang-kadang dokter umum memiliki kelebihan karena memahami dan merawat keluarga pasien sehingga mengetahui secara lebih luas kebutuhan atau permasalahan yang mempengaruhi kehamilan. Dokter umum biasanya memiliki perjanjian dengan sejumlah dokter obsetetri untuk keperluan konsultasi dan rujukan jika pelayanan spesialis ini diperlukan. Beberapa dokter umum mungkin memiliki Diploma Obstetri dan Ginekologi sehingga mereka diperbolehkan melakukan tindakan obstetric sederhana, seperti pemakaian vakum ekstraksi untuk persalinan tanpa komplikasi.

Dokter Obstretri (skripsi dan tesis)

 

Dokter ahli obstetric adalah dokter yang sudah mendapatkan pendidikan dengan kualifikasi khusus dalam bidang spesialisasi kebidanan atau obstetric, memiliki pengalaman postgraduate dan melakukan pemeriksaan untuk ibu hamil, bersalin secara nifas. Dokter obstetri bekerja di rumah sakit umum sebagai konsultan, dan kepala setiap Klinik atau Unit kebidanan di rumah sakit tersebut adalah dokter obstetric senior yang dapat dibantu oleh dokter-dokter obstetrilainnya. Pada Unit Kebidanan bisa ditemukan residen yang sedang menjalani pendidikan spesialis untuk manjadi ahli obstetri. Dokter obstetri juga memberikan asuhan maternitas secara individual atau personal, dan ibu hamil dapat menjalani pemeriksaan antenatal pada praktek pribadi dokter obstetric. Sebagian besar dokter obstetric memiliki jatah tempat tidur bagi pasien-pasiennya di bangsal-bangsal rumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta yang besar.

 

Bidan (skripsi dan tesis)

 

Istilah midwife dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan menjadi kata bidan dalam bahasa Indonesia berarti mendampingi perempuan. Istilah ini sudah ada sejak jaman dahulu kala dan beberapa tulisan tentang midwife telah terdapat dalam Perjanjian Lama. Bidan dijaman moderen pertama harus merupakan perawat berijasah kemudian melanjutkan pendidikan, mendapatkan pengalaman dan melakukan pemeriksaan dalam asuhan keperawatan bagi wanita yang hamil, bersalin serta postpartum dan juga bagi bayinya. Kemudian bidan harus memiliki kualifikasi untuk mengerjakan semua asuhan untuk mengerjakan semua asuhan kehamilan yang normal (sesudah dokter ahli obstetric menyingkirkan semua kelainan yang mungkin atau potensial terjadi), mengawasi persalinan serta melangsungkan proses pelahiran yang normal dan merawat ibu yang postpartum serta bayi baru lahir normal. Pada beberapa klinik kebidanan, keseluruh asuhan keperawatan tersebut dilaksanakan oleh para bidan; pada beberapa klinik lainnya dan juga sebagian besar rumah sakit, asuhan keperawatan dilakukan dibawah pengawasan dokter ahli obstetric. Namun demikian bidan harus mendampingi ‘ibu’ khususnya selama proses kelahiran berlangsung.

Bidan bekerja di rumah sakit, klinik antennal, bangsal perawatan antenatal serta kamar bersalin, kamar bayi, dan bangsal perawat serta klinik postnatal. Mereka juga bekerja dalam komunitas sebagian bidan  kunjungan rumah (khususnya kalau ibu dan bayinya dipulangkan secara dini dari rumah sakit), pada puskesmas serta klinik keluarga berencana. Mereka juga terlibat dalam penyuluhan antenatal, kursus-kursus persiapan persalinan dan kursus-kursus untuk mengejarkan cara-cara menjadi orang tua. Para bidan juga memasuki bidang-bidang spesialisasi tertentu seperti konsultan laktasi, dan beberapa pekerjaan dalam praktek yang tidak terikat.

 

Rumah Bersalin (skripsi dan tesis)

 

Pelayanan asuhan antenatal di rumah bersalin atau perawatan antenatal swasta mempunyai kelebihan dan kekurangan. Beberapa rumah bersalin mempunyai tempat tidur dalam sebuah kamar atau ruangan kecil untuk pasien ibu hamil yang bersedia membayar kenyamanannya. Rumah bersalin mampu memberikan pemeriksaan dan pengetesan khusus yang modern dan canggih, tetapi harus menunggu giliran. Bagi ibu yang mempunyai risiko tinggi dalam kehamilan atau melahirkan maka disarankan untuk di rawat di rumah sakit bersalin  atau rumah sakit umum (Rose danNeil, 2005).

Puskesmas (skripsi dan tesis)

 

Pelayanan kesehatan pada umumnya dibedakan menjadi dua jenis yaitu pelayanan kesehatan personal (personal healthcare service) atau juga disebut sebagai pelayanan kedokteran (medical care services), serta pelayanan kesehatan lingkungan (envirounmental health care services) atau pelayanan kesehatan masyarakat (public healthcare services) (Azwar, 1996).

Puskesmas merupakan jenis pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan pokok Puskesmas berdasarkan Buku Pedoman Kerja Puskesmas yang terbaru ada 18 usaha pokok kesehatan yang dapat dilakukan oleh puskesmas. Di dalam pelaksanaannya tergantung pada faktor tenaga, sarana dan prasarana serta biaya yang tersedia berikut kemampuan manajemen dari tiap-tiap Puskesmas (Effendy, 1995). Selain kurangnya dukungan logistik dan biaya operasional, mutu pelayanan Puskesmas juga banyak tergantung dari kinerja petugas kesehatan.

Faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Kunjungan imunisasi (skripsi dan tesis)

 

  • Usia Ibu

Usia adalah lamanya seseorang hidup dihitung dari tahun lahirnya sampai dengan ulang tahunnya yang terakhir. Usia merupakan konsep yang masih abstrak bahkan cenderung menimbulkan variasi dalam pengukurannya. Seseorang mungkin menghitung umur dengan tepat tahun dan kelahirannya, sementara yang lain menghitungnya dalam ukuran tahun saja (Zaluchu, 2008).

Ibu yang berusia lebih muda dan baru memiliki anak biasanya cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih akan kesehatan anaknya, termasuk pemberian imunisasi (Reza, 2006). Merujuk hal tersebut, diketahui bahwa usia yang paling aman seorang ibu untuk melahirkan anak adalah 20 sampai 30 tahun (Saputra, 2009). Penelitian Wardhana (2001) disebutkan bahwa ibu yang berusia ≥ 30 tahun cenderung untuk tidak melakukan imunisasi lengkap dibandingkan dengan ibu yang berusia < 30 tahun cenderung untuk melakukan imunisasi lengkap 2,03 kali dibandingkan dengan usia ibu ≥ 30 tahun. Namun secara statistik hubungan antara usia ibu dan status kelengkapan imunisasi tidak bermakna (p-value=0,16). Lienda (2009) dalam penelitiannya hasil uji statistik p-value=0,109 bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara usia ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar.

Penelitian Rahma Dewi (1994) memperoleh hasil bahwa 58,3% kelengkapan status imunisasi anak terdapat pada ibu yang berusia 20-29 tahun. Sedangkan proporsi yang hampir sama pada usia ibu 15-19 tahun sebesar 48,4% dan usia ibu 30 tahun lebih sebesar 48,5%. Reza (2006) ada hubungan bermakna secara statistik yang ditunjukkan oleh nilai p-value=0,000. Ibu yang berusia ≥ 30 tahun 2,78 kali lebih besar status imunisasi dasar anaknya untuk tidak lengkap dibandingkan dengan ibu yang berusia < 30 tahun.

  • Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan adalah salah satu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan menentukan pola pikir dan wawasan seseorang. Pendidikan memiliki peranan yang penting dalam kwalitas. Lewat pendidikan manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan (Notoadmodjo, 2003).

Tingkat pendidikan seseorang ibu yang telah tinggi akan berpeluang besar untuk mengimunisasikan anaknya. Ibu yang berpendidikan mempunyai pengetahuan yang lebih baik tentang pencegahan penyakit dan kesadaran lebih tinggi terhadap masalah-masalah kesehatan yang sedikit banyak telah diajarkan disekolah (Idwar 2001).

Ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang telah tinggi akan memberikan imunisasi lebih lengkap kepada anaknya dibandingkan ibu dengan pendidikan rendah (Widyanti 2008).

  • Pekerjaan

Pekerjaan dapat memberikan kesempatan suatu individu untuk sering kontak dengan individu lainnya, bertukar informasi dan berbagi pengalaman pada ibu yang bekerja akan memiliki pergaulan yang luas dan dapat saling bertukar informasi dengan teman sekerjanya, sehingga lebih terpapar dengan program-program kesehatan khususnya imunisasi (Reza, 2006). Penelitian Darnen (2002) menyebutkan bahwa ibu yang bekerja mempunyai peluang 1,1 kali untuk mengimunisasikan anaknya dengan lengkap dibandingkan ibu yang tidak bekerja.

  • Jumlah anak

Kunjungan ke pos pelayanan imunisasi terkait dengan ketersediaan waktu bagi ibu untuk mencari pelayanan imunisasi terhadap anaknya. Oleh karena itu jumlah anak yang dapat mempengaruhi ada tidaknya waktu bagi ibu meninggalkan rumah untuk mendapatkan pelayanan imunisasi kepada anaknya. Semakin banyak jumlah anak terutama ibu yang masih mempunyai bayi yang merupakan anak ketiga atau lebih akan membutuhkan banyak waktu untuk mengurus anak-anaknya tersebut. Sehingga semakin sedikit ketersediaan waktu bagi ibu untuk mendatangi tempat pelayanan imunisasi (Reza, 2006). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jumlah anak hidup ≤ 2 orang mempunyai 1,19 kali anaknya diimunisasi lengkap dibandingkan dengan ibu yang memiliki jumlah anak hidup > 2 orang. Jumlah anak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi pada anak. Ibu yang mempunyai banyak anak kesulitan dalam mendatangi tempat pelayanan kesehatan (Luman,2003).

Besarnya anggota keluarga diukur dengan jumlah anak dalam keluarga. Makin banyak jumlah anak makin besar kemungkinan ketidaktepatan pemberian imunisasi pada anak. Keluarga yang mempunyai banyak anak menyebabkan perhatian ibu akan terpecah, sementara sumber daya dan waktu ibu terbatas sehingga perawatan untuk setiap anak tidak dapat maksimal (Dombkowski, 2004).

  • Penghasilan

Penghasilan adalah upah yang didapat oleh seseorang setelah dia melakukan pekerjaan yang sesuai standar atau minimum rata-rata yang telah ditetapkan. Upah atau gaji bisa diberikan dalam bentuk apapun namun lebih jelas menggunakan nominal nilai angka mata uang yang diterima seseorang setiap minggu ataupun bulanan.Kesejahteraan seorang anak dipengaruhi oleh keadaan sossial orang tua nya. Menurut BAPPENAS status ekonomi keluarga yaitu berkorelasi negatif, dimana angka kematian anak pada keluarga berada/kaya lebih rendah jika dibandingkan dengan angka pada rumah tangga miskin.Sekitar 35% kematian anak dan balita mempunyai latar belakang yang berkaitan dengan kejadian gizi buruk atau gizi kurang.

  • Pengetahuan

Pengetahuan adalah dari hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba yang sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo, 2007).

Hubungan antara status imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan lengkap dengan pengetahuan ibu tentang imunisasi, pendidikan orangtua, pendapatan orangtua, dan jumlah anak. Di antara beberapa faktor tersebut pengetahuan ibu tentang imunisasi merupakan suatu faktor yang sangat erat hubungannya dengan status imunisasi anak (Ismail, 1999).

Imunisasi merupakam program penting dalam upaya pencegahan primer bagi individu dan masyarakat terhadap penyebaran penyakit menular. Imunisasi menjadi kurang efektif bila ibu tidak mau anaknya diimunisasi dengan berbagai alasan. Beberapa hambatan pelaksanaan imunisasi menurut WHO (2000) adalah pengetahuan, lingkungan dan logistik, urutan anak dalam keluarga dan jumlah anggota keluarga, sosial ekonomi, mobilitas, keluarga, ketidak stabilan politik, sikap petugas kesehatan, pembiayaan, dan pertimbangan hukum (Lienda, 2009).

Imunisasi Campak (skripsi dan tesis)

 

Imunisasi campak diberikan untuk mendapatkan kekebalan secara aktif terhadap penyakit campak. Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infectif unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu erythromycin. (Depkes RI Jakarta, 2005)

Vaksin campak di Indonesia berbentuk beku kering jenis life attenuated measles vaccine cam 70 produksi PT Biofarma dan sebelum digunakan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia, yang berisi 5 ml cairan pelarut. Pelarut harus didinginkan pada suhu 2-8˚C minimal 12 jam sebelum dipakai. Setelah dilarutkan vaksin hanya bertahan 6 jam. (Dep Kes RI, 2009) Dosis pemberian 0,5 ml disuntikan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9 bulan dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) pada program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). (Direktorat Surveilans, 2008)

Vaksin campak harus didinginkan pada suhu yang sesuai yaitu 2-8˚C karena sinar matahari atau panas dapat membunuh virus vaksin campak. Bila virus vaksin mati sebelum disuntikkan, vaksin tersebut tidak akan mampu menginduksi respon imun. Banyak kegagalan vaksinasi akibat kesalahan penyimpanan. (Wahab, 2002)

Efek samping pemberian imunisasi campak biasanya mengalami demam ringan dan  kemerahan selama 3 hari yang  dapat terjadi 8-12 hari setelah  vaksinasi. Kontra indikasi  pemberian imunisasi campak adalah individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang menderita gangguan respon imun berat misal karena leukemia, \lymphoma. (Depkes RI, 2005) Meskipun demikian, vaksin campak terbukti aman untuk penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif dan Aquired Imunodeficiency Syndrome (AIDS). (Wahab, 2002)

Macam-Macam imunisasi (skripsi dan tesis)

 

Imunisasi dibagi menjadi dua macam (Maryanti 2011), yaitu :

  1. Imunisasi Aktif

Imunisasi aktif adalah kekebalan tubuh yang didapat seseorangkarena tubuh yang secara aktif membentuk zat antibody

  1. Imunisasi Pasif

Imunisasi ini adalah kekebalan tubuh yang bisa diperoleh seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapatkan dari luar termasuk dalam  imunisasi dasar lengkap dalam Direktorat Jenderal PP & PL Depkes RI (2005) adalah :

  1. Bacilus Calmette Guerine (BCG)

Tujuan imunisasi BCG untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosa (TBC)

  1. Difteri, Pertusis, Tetanus dan Hepatitis B (DPT/HB)

Tujuan imunisasi DPT/HB untuk pemberian kekebalan secara aktif terhadap penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus dan Hepatitis B.

  1. POLIO

Tujuan imunisasi polio untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis.

  1. Hepatitis B (HB – 0)

Tujuan pemberian imunisasi hepatitis B untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B.

  1. Campak

Tujuan pemberian imunisasi campak untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak

Manfaat Imunisasi (skripsi dan tesis)

 

Tujuan dalam pemberian imunisasi, (Maryunani 2010)antara lain :

  1. Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu di dunia.
  2. Untuk melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak.

Pengertian Imunisasi (skripsi dan tesis)

 

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Menurut  imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga kelak bila terpajan antigen yang serupa tidak terjadi penyakit. Imunisasi seringkali diartikan sama dengan vaksinasi (Hidayat 2008),

Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya vaksin BCG, DPT, dan Campak), dan melalui mulut (misalnya vaksin polio) (Ranuh 2008).

Sejalan dengan pendapat diatas maka menyatakan Imunisasi merupakan pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu kedalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten Lisnawati (2011).

Imunisasi merupakan bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita. Dengan imunisasi, berbagai penyakit seperti tuberculosis, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, poliomyelitis, dan campak dapat dicegah (Dewi, 2010)

Tingkatan Pengetahuan (skripsi dan tesis)

 

Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni :

  1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya,

  1. Memahami (Comprehension)

Memahami benar sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

  1. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

  1. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obbjek kedalam komponen-komponen. Tetapi masih di dalam strukur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,  mengelompokan, dan sebagainya.

  1. Sintesis (Syntesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampun untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada

  1. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang telah ada (Notoadmodjo, 2003).

Pengertian Pengetahuan (skripsi dan tesis)

 

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebahagian pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Over Behavior), (Notoadmodjo, 2003).

Menurut Mubarak (2011), pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berdasarkan pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia.Pada dasarnya pengetahuan akan terus bertambah dan bervariatif sesuaidengan proses pengalaman manusia yang dialami. Pengetahuan adalah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (beliefs), takhayul (superstitions) dan penerangan-penerangan yang keliru (missinformations) (Soekanto, 2006).

Berdasarkan uraian di atas maka pengertian pengetahuan dapat disimpulkan sebagai hasil dari tahu dengan melewati proses segala apa yang diketahui berdasarkan pengalaman yang didapatkan oleh setiap manusia

Berlangsungnya Persalinan normal (skripsi dan tesis)

 

Persalinan dibagi :

  • Kala I

Dimulainya dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10). Proses ini berlangsung antara 18-24 jam. Terbagi dalam dua fase yaitu fase laten berlangsung lebih kurang 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.

Fase aktif dibagi dalam tiga fase lagi yaitu :

  • Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam, pembukaan 3 cm dan jadi 4 cm.
  • Fase durasi maksimal, dalam waktu 2 jam, pembukaan berlangsung sangat cepat, dari pembukaan 4 cm menjadi 9 cm.
  • Fase deselerasi, pembukaan menjadi lambat kembali dalam waktu 2 jam, pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.
  • Kala II

Dimulai dari pembukaan lengkap sampai keluarnya bayi dari jalan lahir, berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.

  • Kala III

Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.

 

  • Kala IV

Dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum.

Selain gangguan fisik, ibu bersalin umumnya juga mengalami gangguan psikis atau ketegangan jiwa. Dalam keadaan seperti itu sebagian besar pasien akan sulit untuk melakukan komunikasi atau bekerjasama dengan penolong atau staf  klinik. Hal tersebut sangat mengganggu upaya pertolongan atau prosedur pengobatan. Upaya untuk segera menciptakan hubungan atau komunikasi yang positif dapat mengurangi rasa cemas dan ingin diperhatikan pasien. Empati, perhatian dan perilaku positif penolong dapat meringankan beban psikis ibu berslin selama proses komunikasi berlangsung. Kelancaran komunikasi antara pasien-petugas, sangat membantu tukar serap informasi diantara kedua belah pihak. Lebih dari itu, menghormati hak, memberi perhatian dan pelayanan yang terbaik merupakan salah satu ciri suatu pelayanan yang bermutu.

Tujuan asuhan persalinan ialah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi.

Sebab-sebab mulainya persalinan (skripsi dan tesis)

 

Sebab mulainya persalinan belum diketahui dengan jelas. Banyak faktor yang memegang peranan dan bekerjasama sehingga terjadi persalinan :

  • Penurunan kadar progesterone

Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim sebaliknya estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesterone dan estrogen didalam darah tetapi pada akhir kehamilan progesteron menurun sehingga timbul his.

  • Teori oxytosin

Pada akhir kehamilan kadar okytosin bertambah, oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim.

  • Ketegangan otot-otot

Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena isinya. Dengan demikian rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot rahim.

 

  • Pengaruh janin

Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupanya juga memegang peranan oleh karena pada anencepalus kehamilan sering lebih lama dari biasanya.

  • Teori prostaglandin

Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, Disangka menjadi salah satu permulaan persalinan.

  1. Tanda-tanda persalinan :
  • Timbulnya his persalinan adalah his pembukaan dengan sifat sebagai berikut :
  • Nyeri melingkar dari pinggang memancar ke perut bagian depan
  • Teratur
  • Makin lama makin pendek intervalnya dan makin kuat intensitasnya
  • Kalau dibawa berjalan tambah kuatMempunyai pengaruh pada pendataran/pembukaan servik
    • Keluarnya lendir bercampur darah (show) dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis servikalis keluar dengan disertai sedikit darah. Perdarahan yang sedikit ini disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian bawah rahim sehingga beberapa kapiler terputus.
    • Keluarnya cairan yang banyak sekonyong-konyong dari jalan lahir ini terjadi kalau ketuban pecah.

Pengertian persalinan (skripsi dan tesis)

 

Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Prawirohardjo, 2002).

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu, bila persalinan ini berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir disebut persalinan spontan.

Kepuasan Pasien (skripsi dan tesis)

 

Kepuasan pasien seringkali dipandang sebagai suatu komponen yang penting dalam pelayanan kesehatan. Kepuasan berkaitan dengan kesembuhan pasien dari sakit atau luka. Kepuasan pasien dalam penilaian mutu dihubungkan juga dengan ketetapan pasien terhadap mutu dan kebagusan pelayanan dan dengan pengukuran pengukuran penting yang mendasar bagi mutu pelayanan kesehatan (Majalah Kedokteran, Jilid 2004;284). Menurut Supranto (2001) kepuasan adalah bentuk perasaan terhadap kinerja pelayanan yang telah memenuhi harapan. Dimensi kepuasan pasien telah mendapatkan pengalaman terhadap kinerja pelayanan yang telah memenuhi harapan.

Dimensi kepuasan pasien dapat dibedakan menjadi dua macam:

  1. Kepuasan yang mengacu pada penerapan standard dan kode etik profesi. Kepuasan hanya mengacu pada penerapan standar dan kode etik saja ukuran penilaian tersebut mencakup.
    1. Hubungan dokter pasien/hubungan bidan pasien
    2. Kenyamanan pelayanan
    3. Kebebasan melakukan pilihan
    4. Pengetahuan dan kompetensi teknis
    5. Efektifitas pelayanan dan keamanan tindakan
  2. Kepuasan yang mengacu pada penerapan semua persyaratan pelayanan kesehatan dalam menilai kepuasan dikaitkan dengan semua persyaratan pelayanan kesehatan. Ukuran pelayanan kesehatan yang bermutu disini mencakup:
  3. Kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan kesehatan (available)
  4. Kewajaran pelayanan kesehatan (aproriate)
  5. Kesinambungan pelayanan kesehatan (continue)
  6. Penerima pelayanan kesehatan (acceptable)
  7. Ketercapaian pelayanan kesehatan (affordable)
  8. Efisiensi pelayanan kesehatan (efficiency)
  9. Mutu pelayanan kesehatan (quality)

Mutu pelayanan  kebidanan berorientasi pada penerapa  kode etik dan standar pelayanan kebidanan, serta kepuasan yang menngacu pada penerapan semua persyaratan pelayanan kebidanan. Dari dua dimensi mutu pelayanan kebidanan tersebut, tujuan akhirnya adalah kepuasan pasien yang dilayani oleh bidan. Pada penelitian Suharto (1999) secara kualitatif mengenai kepuasan pasien terhadap layanan kesehatan kebidanan memberikan gambaran yang lengkap dan jelas faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien terhadap pelayanan kebidanan meliputi:

  1. Sikap dan tata krama bidan yang muncul dalam bentuk atribut pribadi bidan seperti suka menolong, ramah, pengertian dan berdedikasi
  2. Penuh perhatian yaitu kepedulian bidan saa pasien membutuhkan
  3. Ketersediaan
  4. Mentetramkan hati
  5. Penanganan secara individual
  6. Keterbukaan
  7. Ketersediaan Informasi
  8. Profesionalisme
  9. Pengorganisasian bangsal
  10. Pengetahuan bidan

Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik (skripsi dan tesis)

 

Melihat kecemasan pada ibu yang akan melahirkan dan juga pada suami/keluarganya yang menungguinya, maka orientasi tidak hanya ditujukan pada ibu tapi juga sekaligus pada keluarganya. Bidan memainkan peran advokasinya sebagai pemberi support bagi pasien dan keluarganya. Pemberian informasi menyangkut proses persalinan seperti mengorientasikan ruang untuk bersalin, mengkomunikasikan kemajuan persalinan, mengajarkan tehnik relaksasi sehingga dapat membantu ibu yang akan menghadapi proses persalinan.

Ibu dianjurkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang proses kelahiran bayinya, sang suami juga harus dibesarkan hatinya, dan dijelaskan apa yang terjadi pada istrinya sehingga suamipun tenang dalam memberikan dukungan pada istrinya yang akan melahirkan.

Pelaksanaan komunikasi terapeutik ini termasuk konfrontasi, kesegaran, pengungkapan diri Bidan, katarsis emosional, dan bermain peran (Stuart dan Sundeen, 1995, h.23). Pelaksanaan komunikasi terapeutik ini harus diimplementasikan dalam konteks kehangatan, penerimaan, dan pengertian yang dibentuk oleh dimensi responsif.

Pengekspresian Bidan terhadap perbedaan pada perilaku klien yang bermanfaat untuk memperluas kesadaran diri klien. Carkhoff (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1998) mengidentifikasi tiga kategori konfrontasi yaitu:

  1. Ketidaksesuaian antara konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal diri (cita-cita/keinginan klien)
  2. Ketidaksesuaian antara ekspresi non verbal dan perilaku klien
  3. Ketidaksesuaian antara pengalaman klien dan Bidan

Konfrontasi seharusnya dilakukan secara asertif bukan agresif/marah. Oleh  karena itu sebelum melakukan konfrontasi Bidan perlu mengkaji antara lain: tingkat hubungan saling percaya dengan klien, waktu yang tepat, tingkat kecemasan dan kekuatan koping klien. Konfrontasi sangat berguna untuk klien yang telah mempunyai kesadaran diri tetapi perilakunya belum berubah.

  • Kesegeraan

Terjadi jika interaksi Bidan-klien difokuskan pada dan digunakan untuk mempelajari fungsi klien dalam hubungan interpersonal lainnya. Bidan harus sensitif terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera.

  • Keterbukaan bidan

Tampak ketika Bidan memberikan informasi tentang diri, ide, nilai, perasaan dan sikapnya sendiri untuk memfasilitasi kerjasama, proses belajar, katarsis, atau dukungan klien. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Johnson (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987, h.134) ditemukan bahwa peningkatan keterbukaan antara Bidan-klien menurunkan tingkat kecemasan Bidan klien

  • Katarsis emosional

Klien didorong untuk membicarakan hal-hal yang sangat mengganggunya untuk mendapatkan efek terapeutik. Dalam hal ini Bidan harus dapat mengkajikesiapan klien untuk mendiskusikan maslahnya. Jika klien mengalami kesulitan mengekspresikan perasaanya, Bidan dapat membantu dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien.

  • Bermain peran

Membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan penghayatan klien kedalamhubungan antara manusia dan memperdalam kemampuannya untuk melihat situasi dari sudut pandang lain; juga memperkenankan klien untuk mencobakan situasi yang baru dalam lingkungan yang aman.

Proses komunikasi terapeutik pada ibu bersalin (skripsi dan tesis)

 

Peristiwa melahirkan bukan hanya merupakan proses murni psikologi belaka, akan tetapi banyak pula komponen-komponen psikologis mempengaruhinya, tetapi ada perbedaan yang dialami oleh ibu yang satu dengan yang lainnya ( Tyastuti dkk, 2008).

  1. Perubahan Fisiologis
    1. Semakin tua kehamilan ibu semakin merasakan gerakan-gerakan bayi, perut makin besar, pergerakan ibu semakin tidak bebas, ibu tidak nyaman. Kadang-kadang terjadi gangguan kencing, kaki bengkak.
    2. Otot-otot panggul dan jalan lahir mekar.
    3. Kontraksi uterus dipengaruhi saraf-saraf simpati, para simpati, saraf lokal otot uterus.
  2. Perubahan Psikologis
  3. Minggu-minggu terakhir dipengaruhi perasaan/emosi dan ketegangan.
  4. Ibu cemas apa bayinya cacat, dapat lahir lancar.
  5. Ibu bahagia menyongsong kelahiran bayinya.
  6. Ibu takut darah, nyeri dan takut mati.
  7. Kecemasan ayah hampir sama dengan kecemasan ibu, bedanya ayah tidak langsung merasakan efek kehamilan.

Tahap-tahap Hubungan Terapeutik. (skripsi dan tesis)

 

Dalam membina hubungan terapeutik melalui interaksinya dengan klien, bidan mempunyai empat tahap yang pada setiap tahapannya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh bidan. Keempat tahap itu adalah :

  1. Tahap Pra interaksi

Merupakan tahap dimana bidan belum bertemu dengan klien. Tugas bidan adalah :

  • Mendapatkan informasi tentang klien (dari medical record atau sumber yang lainnya)
  • Mencari literature yang berkaitan dengan masalah yang dialami klien
  • Mengeksplorasi perasaan, Fantasi dan ketakutan diri
  • Menganalisa kekuatan dan kelemahan profesional diri
  • Membuat rencana pertemuan dengan klien
    1. Tipe spesifik data yang akan dicari/kegiatan yang akan dilakukan
    2. Metode yang tepat untuk kegiatan
    3. Setting ruangan/waktu yang tepat
    4. Tahap Orientasi Perkenalan

Merupakan tahap pertama dimana bidan mulai bertemu dengan klien. Tugas bidan adalah :Membangun iklim percaya, memahami penerimaan dan kmunikasi terbukaMemformulasikan kontrak dengan klien

  1. Tahap kerja

Merupakan tahap dimana klien memulai kegiatan. Tugas bidan melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan pada tahap pra interaksi.

  1. Tahap Terminasi

Merupakan tahap dimana bidan akan menghentikan interaksinya dengan klien. Tahap ini merupakan terminasi sementara atau akhir.

Tugas bidan pada tahap ini adalah :

  1. Mengevaluasi kegiatan kerja yang telah dilakukan
  2. Merencanakan tindak lanjut dengan klien
  3. Melakukan kontrak
  4. Mengakhiri terminasi dengan cara yang baik.

 

Teknik Komunikasi Terapeutik (skripsi dan tesis)

 

Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan tehnik berkomunikasi yang berbeda pula. Tehnik komunikasi berikut ini, terutama penggunaan referensi dari Shives (1994), Stuart & Sundeen (1950) dan Wilson & Kneisl (1920), yaitu:

  1. Mendengarkan dengan penuh perhatian

Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non-verbal bahwa Bidan perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non-verbal yang sedang dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah dengan :

  1. Pandang klien ketika sedang bicara
  2. Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan.
  3. Sikap tubuh yang menunjukkan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan.
  4. Hindarkan gerakan yang tidak perlu.
  5. Anggukan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik.
  6. Condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
    1. Menunjukkan penerimaan

Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Tentu saja sebagai Bidan kita tidak harus menerima semua perilaku klien. Bidan sebaiknya menghindarkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menunjukkan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggelengkan kepala seakan tidak percaya. Berikut ini menunjukkan sikap Bidan yang menggelengkan kepala seakan tidak percaya.

  1. Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.
  2. Memberikan umpan balik verbal yang menapakkan pengertian.
  3. Memastikan bahwa isyarat non-verbal cocok dengan komunikasi verbal.
  4. Menghindarkan untuk berdebat, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk mengubah pikiran klien.

Bidan dapat menganggukan kepalanya atau berkata “ya”, “saya mengikuti apa yang anda ucapkan.” (Cocok 1987)

  1. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.

Tujuan Bidan bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien. Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan.

  1. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.

Dengan mengulang kembali ucapan klien, Bidan memberikan umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan mengharapkan komunikasi berlanjut. Namun Bidan harus berhati-hati ketika menggunakan metode ini, karena pengertian bisa rancu jika pengucapan ulang mempunyai arti yang berbeda.

Apabila terjadi kesalahpahaman, Bidan perlu menghentikan pembicaraan untuk mengklarifikasi dengan menyamakan pengertian, karena informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan kebidanan. Agar pesan dapat sampai dengan benar, Bidan perlu memberikan contoh yang konkrit dan mudah dimengerti klien

  1. Memfokuskan

Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Bidan tidak seharusnya memutus pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah yang penting, kecuali jika pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru.

 

  1. Menyampaikan hasil observasi

Bidan perlu memberikan umpan balik kepada klien dengan menyatakan hasil pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan diterima dengan benar.Bidan menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh syarat non-verbal klien. Menyampaikan hasil pengamatan Bidan sering membuat klien berkomunikasi lebih jelas tanpa harus bertambah memfokuskan atau mengklarifikasi pesan.

  1. Menawarkan informasi

Tambahan informasi ini memungkinkan penghayatan yang lebih baik bagi klien terhadap keadaanya. Memberikan tambahan informasi merupakan pendidikan kesehatan bagi klien. Selain itu akan menambah rasa percaya klien terhadap Bidan. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, Bidan perlu mengklarifikasi alasannya. Bidan tidak boleh memberikan nasehat kepada klien ketika memberikan informasi, tetapi memfasilitasi klien untuk membuat keputusan

  1. Diam

Diam memberikan kesempatan kepada Bidan dan klien untuk mengorganisir pikirannya. Penggunaan metode diam memerlukan ketrampilan dan ketetapan waktu, jika tidak maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan memproses informasi. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir pikirannya, dan memproses informasi. Diam terutama berguna pada saat klien harus mengambil keputusan .

  1. Meringkas

Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan berikutnya. Meringkas pembicaraan membantu Bidan mengulang aspek penting dalam interaksinya, sehingga dapat melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.

  1. Memberikan penghargaan

Memberi salam pada klien dengan menyebut namanya, menunjukkan kesadaran tentang perubahan yang terjadi menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu. Penghargaan tersebut jangan sampai menjadi beban baginya, dalam arti kata jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi mendapatkan pujian atau persetujuan atas perbuatannya. Dan tidak pula dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ini “bagus” dan yang sebaliknya “buruk”. Perlu mengatakan “Apabila klien mencapai sesuatu yang nyata, maka Bidan dapat mengatakan demikian.”

  1. Menawarkan diri

Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya dimengerti. Seringkali Bidan hanya menawarkan kehadirannya, rasa tertarik, tehnik komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.

  1. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.

Memberi kesempatan pada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan. Biarkan klien yang merasa ragu-ragu dan tidak pasti tentang peranannya dalam interakasi ini Bidan dapat menstimulasinya untuk mengambil inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.

  1. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.

Tehnik ini menganjurkan klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang mengindikasikan bahwa klien sedang mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan selanjutnya. Bidan lebih berusaha untuk menafsirkan dari pada mengarahkan diskusi.

  1. Menempatkan kejadian secara teratur akan menolong Bidan dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif.
  2. Menganjurkan klien unutk menguraikan persepsinya

Apabila Bidan ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segala sesungguhnya dari perspektif klien. Klien harus merasa bebas untuk menguraikan persepsinya kepada Bidan. Ketika menceritakan pengalamannya, Bidan harus waspada akan timbulnya gejala ansietas.

 

 

Refleksi menganjurkan klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaanya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Apabila klien bertanya apa yang harus ia pikirkan dan kerjakan atau rasakan maka Bidan dapat menjawab.

Definisi Komunikasi Terapeutik (skripsi dan tesis)

 

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Uripni dkk., 2003).

Komunikasi merupakan proses yang sangat penting dan khusus bagi kehidupan manusia. Dalam profesi kebidanan  komunikasi merupakan hal yang penting dalam mengimplementasikan asuhan kebidanan. Bidan yang memiliki kemampuan secara terapeutik tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien tetapi juga mencegah terjadinya masalah, memberikan kepuasan professional dalam pelayanan kebidanan  dan meningkatkan citra profesi kebidanan  serta citra rumah sakit, tetapi yang paling adalah mengamalkan ilmu untuk menolong sesama manusia.

Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang terapeutik. Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam kebidanan .

Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal. Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik

Bidan harus memiliki tanggung jawab moral yang tinggi yang didasari atas sikap peduli dan penuh kasih sayang, serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Addalati (1983), Bucaille (1979) dan Amsyari (1995) menambahkan bahwa sebagai seorang beragama, Bidan tidak dapat bersikap tidak peduli terhadap orang lain adalah seseorang pendosa yang mementingkan dirinya sendiri.

Selanjutnya Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa “human care” terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga/mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaanya: membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri, “Sesungguhnya setiap orang diajarkan oleh Allah untuk menolong sesama yang memerlukan bantuan”. Perilaku menolong sesama ini perlu dilatih dan dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi bagian dari kepribadian

Menurut As Hornby (1974) terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan. Mampu terapeutik berarti seseorang mampu melakukan atau mengkomunikasikan perkataan, perbuatan, atau ekspresi yang memfasilitasi proses penyembuhan. Hal ini mengarahkan bahwa kemampuan menerapkan tehnik komunikasi terapeutik memerlukan latihan dan kepekaan serta ketajaman perasaan, karena komunikasi terjadi tidak dalam kemampuan tetapi dalam dimensi nilai, waktu dan ruang yang turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang terlihat melalui dampak terapeutiknya bagi klien dan juga kepuasan bagi Bidan. Komunikasi juga akan memberikan dampak terapeutik bila dalam penggunaanya diperhatikan sikap dan tehnik komunikasi terapeutik. Hal lain yang cukup penting diperhatikan adalah dimensi hubungan. Dimensi ini merupakan faktor penunjang yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan kemampuan berhubungan terapeutik.

Komunikasi (skripsi dan tesis)

 

Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu interpersonal dan publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang terapeutik.

Kita dapat memahami sebuah proses komunikasi melalui gambaran model atau “peraga teoretis” yang menunjukkan bagaimana bentuk, alur, atau cara komunikasi itu dimulai dan berakhir. Pada umumnya model-model komunikasi itu menunjukkan aktivitas komunikasi yang: (1) satu arah (linier) sebagaimana terlihat dalam definisi 1 s/d 4; (2) dua arah (timbal balik) atau model interaksi sebagaimana ditunjukkan oleh definisi komunikasi 5 dan 6; dan (3) model transaksional sebagaimana ditunjukkan dalam definisi komunikasi 7 s/d 10, (Davis Foulger, 2004).

  1. Model Linier (Satu Arah)

Ada banyak model linier namun kita akan mendiskusikan Model Laswell yang tertuang dalam definisi komunikasi; komunikasi adalah sebuah jawaban terhadap pertanyaan WHO says WHAT to WHOM throung WHICH CHANNEL and with WHAT EFFECT ? Model ini dikembangkan berdasarkan pemikiran psikologis S-M-R di mana proses komunikasi berdasarkan linier dari Soerce, Massage, dan Reveiver.

Model Laswell ini dapat diterapkan sebagai komunikasi persuasive sehingga membutuhkan saluran khusus agar dapat membangkitkan respon sasaran, dan pengaruh persuasif itu akan besar manakala menggunakan media cetak dan elektronik. Menurut model ini, efek komunikasi, sangat bervarisai tergantung dari tujuan komunikasi, misalnya aktivitas komunikasi untuk:

  • Mengirimkan informasi (to inform) tentang sebuah produk (misalnya iklan susu Anlene dari SCTV).
  • Menghibur (to entertain) audiens melalui kemasan informasi produk dengan kata-kata verbal dan visualisasi.
  • Membangkitkan (to persuade) audiens, sehingga memengaruhi (to persuade) pendengar atau pemirsa untuk membeli prosuk susu tersebut.

Model ini juga menawarkan konsep cakupan subjek komunikasi yang akan diteliti. Kata Laswell, jika seorang hendak meneliti:

  • WHO atau siapa yang menjadi sumber informasi, penelitian tersebut dilakukan terhadap komunikator atau sering disebut penelitian control.
  • Penelitian terhadap SAYS WHAT merupakan penelitian terhadap pesan atau disebut penelitian isi.
  • Penelitian terhadap IN WHAT CHANNEL merupakan penelitian media.
  • TO WHOM merupakan penelitian audiens.
  • WITH WHAT EFECT adalah penelitian efek komunikasi.

Model ini juga dapat menerangkan proses komunikasi massa yang menerangkan bagaimana sumber informasi (PT Aguamor) mengirimkan iklan melalui Radio Verbum, iklan tersebut diakses oleh orang berpengaruh (misalnya pejabat pemerintahan) yang kemudian diharapkan akan mengajurkan masyarakat untuk mengonsumsi Aguamor.

  1. Model Interaksi (Dua Arah)

Ada banyak model interaksi namun kita akan mendiskusikan model yang ditawarkan Wilbur Schramm. Menurut Schramm, komunikasi merupakan usaha membangun suatu commonness, jadi persoalannya terletak pada apa yang coba dibangun oleh sumber harus mendapatkan makna yang sama dengan penerima (dibandingkan dengan contoh makna “gosok gigi” dalam cerita di atas).

Proses ini dimulai dari sumber yang melakukan encode terdapat pesan, jadi sumber mengolah pesan ke dalam suatu bentuk yang dapat dipindahkan kepada penerima, penerima akan melakukan decode atas pesan tersebut. Menurut Schramm, efektivitas komunikasi itu terjadi karena sumber dan penerima memahami makna yang sama (ada kesamaan antara pesan yang di-encode oleh sumber dengan pesan yang di-decode oleh penerima).

Hal pemahaman makna yang sam itu tergantung dari kesamaan latar belakang (kebudayaan). Jadi, kalau terjadi perbedaan yang makin besar dalam latar belakang, maka hanya ada sedikit pesan yang diinterprestasi secara baik dan benar. Untuk menerangkan hal ini, model ini memperkenalkan konsep field of experience misalnya makna yang Anda berikan untuk pesan.

  1. Model Transaksional

Model umum komunikasi manusia yang juga popular adalah model transaksional. Model ini mengatakan bahwa suatu aktivitas komunikasi dikatakan efektifitas jika terjadi transaksi antara pengirim pesan dan penerima pesan. Model ini atas sebenarnya menggambarkan komunikasi antarpersonal yang dilakukan oleh dua partisipan komunikasi, yakni A dan B.

  • Partisipan A merupakan sumber komunikasi yang melakukan encode atau menyusun gagasan yang ingin disampaikan kepada partisipan B.
  • Hasil encode adalah pesan yang akan dikirimkan melalui media tertentu.
  • Partisipan B sebagai sasaran atau penerima akan melakukan decode terhadap pesan yang dia terima melalui media tertentu.
  • Pesan adalah sesuatu yang menajadi maksud atau isi dari gagasan yang dialihkan dari kedua partisipan, dalam istilah komunikasi disebut common language.
  • Redaksi dari partisipan B akan dikirimkan kembali kepada A, di sini kedudukan B berubah menjadi seorang sumber komunikasi dan A menjadi penerima. Partisipan B akan melakukan proses yang sama seperti pada nomor 1), 2), dan 3).
  • Partisipan A dan B masing-masing field of experience yang berbeda yang memengaruhi interprestasi atas pesan.
  • Dalam keseluruhan proses pengiriman dan penerimaan pesan terdapat noise atau gangguan yang menghambat laju peralihan pesan.

Secara konteks, komunikasi dapat dibagi menjadi (Liliweri, 2007):

  1. Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi yang berlangsung sebagai komunikasi antarpribadi (inter-personal communication) yakni komunikasi yang dilakukan oleh 2 atau 3 orang dengan jarak fisik di antara mereka yang sangat dekat, bertatapan muka atau bermedia dengan sifat umpan balik yang berlangsung cepat, adaptasi pesan bersifat khusus, serta memiliki tujuan/maksud komunikasi tidak berstruktur.

  1. Komunikasi Kelompok

Komunikasi dalam konteks kelompok merupakan komunikasi yang terjadi di antara sejumlah orang (kalau kelompok kecil berjumlah 4-20 orang, kelompok besar 20-50 orang), umpan balik pesan berlangsung cepat, adaptasi pesan bersifat khusus, tujuan/maksud komunikasi tidak berstruktur.

  1. Komunikasi Organisasi

Komunikasi kesehatan dapat pula beroperasi dalam konteks organisasi baik organisasi kesehatan seperti Puskesmas Pembantu, Puskesmas, Klinik-klinik, Rumah Sakit, atau organisasi yang berorientasi profesi kesehatan, misalnya IDI, IBI, bahkan organisasi yang berorientasi pada layanan dan bisnis dalam bidang kesehatan (perusahaan farmasi sampai ke perusahaan produksi alat-alat kesehatan). Melalui organisasi tersebut beragam informasi tentang kesehatan dapat disebarluaskan kepada individu, komunikasi atau kelompok-kelompok sasaran.

  1. Komunikasi Publik

Aktivitas komunikasi juga beroperasi dalam konteks komunikasi public. Kini informasi kesehatan dapat diperoleh malalui aktivitas komunikasi public. Sebagai contoh, mahasiswa FKM dapat menyebarluaskan informasi (pengetahuan, pencegahan) yang bersumber dari isu “demam berdarah” atau “PMS” di kota Kupang melalui forum-forum yang telah disiapkan secara berstruktur. Melalui kegiatan lokakarya, seminar, simponis, pendidikan dan pelatihan yang berskala praktis hingga ke penentuan kebijakan sampai informasi keilmuan dapat dilakukan oleh mahasiswa yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, LSM, Lembaga Agama, Perusahaan Obat, dan lain-lain.

  1. Komunikasi Massa

Harus diakui bahwa kini nyaris tak ada aktivitas manusia termasuk penyebarluasan informasi kesehatan yang tidak ditopang oleh jasa media massa. Perhatikan bagaimana para pengusaha obat, makanan dan minuman berlomba-lomba memanfaatkan media massa seperti radio, televise, surat kabar, majalah, folder, pamphlet, leaflet untuk menyebarluaskan informasi tentang kesehatan.

Demikian pula para dokter pun memanfaatkan media massa untuk melayani konsultasi kesehatan mulai dari kebugaran tubuh sampai kemasalah seksual, juga lembaga-lembaga swasta, LSM, pemerintah turut memanfaatkan peranan media massa untuk menyebarluaskan informasi mengenai pencegahan atau cara-cara mengatasi penyakit menular dll. Pemanfaatan media massa ini sangat membantu memperluas jangkauan areal/wilayah sebarab informasi kesehatan, mempercepat penyebaran informasi sampai kesasaran yang berbeda-beda geografis, kelas sosial maupun kultur.

Komunikasi yang banyak dipakai dalam praktek kebidanan adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam kebidanan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal (Uripni dkk, 2003) adalah :

  1. Perkembangan

Bidan harus mengerti pengaruh perkembangan agar bahasa dan proses berfikir yang mempengaruhi cara dan sikap berfikir seseorang dalam berkomunikasi.

 

 

  1. Persepsi

Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau peristiwa. Persepsi dibentuk oleh harapan dan pengalaman. Perbedaan persepsi bisa menghambat komunikasi.

  1. Nilai

Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi bidan untuk menyadari nilai seseorang.

  1. Latar belakang sosial budaya

Bahasa dan gaya komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh faktor budaya.

  1. Emosi

Emosi merupakan perasaan subjektif terhadap suatu kejadian. Emosi seperti marah, sedih, senang akan dapat mempengaruhi bidan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bidan perlu mengkaji emosi klien dan keluarganya sehingga mampu memberi asuhan kebidanan dengan tepat. Selain itu, bidan juga perlu mengevaluasi emosi yang ada pada dirinya agar dalam melakukan asuhan kebidanan tidak terpengaruh oleh emosi bawah sadarnya.

  1. Jenis Kelamin

Setiap jenis kelamin mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Wanita dan laki-laki mempunyai perbedaan gaya komunikasi. Dari usia tiga tahun, wanita bermain dengan teman baiknya atau dalam grup kecil, menggunakan bahasa untuk mencari kejelasan dan meminimalkan perbedaan, serta membangun dan mendukung keintiman. Laki-laki di lain pihak, menggunakan bahasa untuk mendapatkan kemandirian aktivitas dalam grup yang lebih besar, dan jika ingin berteman, mereka melakukannya dengan bermain.

  1. Pengetahuan

Tingkat pengetahuan mempengaruhi komunikasi. Seseorang yang tingkat pengetahuannya rendah akan sulit merespon pertanyaan yang mengandung bahasa verbal dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Bidan perlu mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga dapat berinteraksi dengan baik dean akhirnya dapat memberi asuhan kebidanan yang tepat kepada klien.

  1. h) Peran dan Hubungan

Gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antar orang yang berkomunikasi.

  1. i) Lingkungan

Lingkungan interaksi akan mempengaruhi komunikasi yang efektif. Suasana yang bising, tidak ada privasi yang tepat, akan menimbulkan kerancuan, ketegangan, dan ketidaknyamanan. Begitu juga dengan lingkungan fisik, tingkah laku manusia berbeda dari satu tempat ke tempat lain.

  1. Jarak

Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu akan memberi rasa aman dan kontrol.

  1. Citra Diri

Manusia mempunyai gambaran tertentu mengenai dirinya, status sosial, kelebihan dan kekurangannya. Citra diri terungkap dalam komunikasi.

  1. Kondisi Fisik

Kondisi fisik mempunyai pengaruh terhadap komunikasi. Artinya indra pembicaraan mempunyai andil terhadap kelancaran dalam berkomunikasi.

Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.

  1. Komunikasi Verbal

Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan kebidanan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk merespon secara langsung.

Komunikasi Verbal yang efektif harus:

 

  1. Jelas dan ringkas

Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana.

Contoh: “Katakan pada saya dimana rasa nyeri anda” lebih baik daripada “saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yang anda rasakan tidak enak.”

  1. Perbendaharaan Kata

Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam kebidanan dan kedokteran, dan jika ini digunakan oleh Bidan, klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada mengatakan “Duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru-paru anda ” akan lebih baik jika dikatakan “Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”.

  1. Arti denotatif dan konotatif

Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi Bidan akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, Bidan harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, dan kondisi klien.

  1. Selaan dan kesempatan berbicara

Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa Bidan sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Bidan sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan. Bidan juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.

  1. Waktu dan relevansi

Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, Bidan harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.

  1. Humor

Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu mengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan Bidan dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.

 

  1. Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Bidan perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan kebidanan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Bidan yang mendeteksi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan kebidanan.

Komunikasi non-verbal teramati pada :

  1. Metakomunikasi

Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di dalam pesan yang menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar. Contoh: tersenyum ketika sedang marah.

  1. Penampilan Personal

Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan selama komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit pertama. Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seserang berdasarkan penampilannya (Lalli Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993). Bentuk fisik, cara berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekerjaan, agama, budaya dan konsep diri. Bidan yang memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik Bidan mempengaruhi persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan kebidanan  yang diterima, karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seorang Bidan. Walaupun penampilan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan Bidan, tetapi mungkin akan lebih sulit bagi Bidan untuk membina rasa percaya terhadap klien jika Bidan tidak memenuhi citra klien.

  1. Intonasi (Nada Suara)

Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan yang dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya..Bidan harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena maksud untuk menyamakan rasa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh nada suara Bidan.

  1. Ekspresi wajah

Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang tampak melalui ekspresi wajah: terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpesonal. Kontak mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang yang mempertahankan kontak mata selama pembicaraan diekspresikan sebagai orang yang dapat dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik. Bidan sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya duduk sehingga Bidan tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.

  1. Sikap tubuh dan langkah

Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap, emosi, konsep diri dan keadaan fisik. Bidan dapat mengumpulkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat, atau fraktur.

  1. Sentuhan

Kasih sayang, dukungan emosional, dan perhatian disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan Bidan-klien, namun harus memperhatikan norma sosial. Ketika memberikan asuhan kebidanan, Bidan menyentuh klien, seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau membantu memakaikan pakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit membuat klien tergantung kepada Bidan untuk melakukan kontak interpersonal sehingga sulit untuk menghindarkan sentuhan. Bradley & Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992) menyatakan bahwa walaupun sentuhan banyak bermanfaat ketika membantu klien, tetapi perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan dapat dimengerti dan diterima oleh klien, sehingga harus dilakukan dengan kepekaan dan hati-hati.

  1. Komunikasi Tertulis

Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan memo, laporan, iklan disurat kabar dan lain-lain.

Prinsip-prinsip komunikasi tertulis terdiri dari :

  1. Lengkap
  2. Ringkas
  3. Pertimbangan
  4. Konkrit
  5. Jelas
  6. Sopan
  7. Benar

Fungsi komunikasi tertulis adalah :

  1. Sebagai tanda bukti tertulis yang otentik, misalnya : persetujuan operasi.
  2. Alat pengingat/berpikir bilamana diperlukan, misalnya surat yang telah diarsipkan.
  3. Dokumentasi historis, misalnya surat dalam arsip lama yang digali kembali untuk mengetahui perkembangan masa lampau.
  4. Jaminan keamanan, misalnya surat keterangan jalan.
  5. Pedoman atau dasar bertindak, misalnya surat keputusan, surat perintah, surat pengangkatan.

Keuntungan komunikasi tertulis adalah :

  1. Adanya dokumen tertulis
  2. Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman
  3. Dapat menyampaikan ide yang rumit
  4. Memberikan analisa, evaluasi, dan ringkasan
  5. Menyebarkan informasi kepada khalayak ramai
  6. Dapat menegaskan, menafsirkan dan menjelaskan komunikasi lisan
  7. Membentuk dasar kontrak atau perjanjian
  8. Untuk penelitian dan bukti di pengadilan

Kerugian komunikasi tertulis adalah :

  1. Memakan waktu lama untuk membuatnya
  2. Memakan biaya yang mahal
  3. Komunikasi tertulis cenderung lebih formal
  4. Dapat menimbulkan masalah karena salah penafsiran
  5. Susah untuk mendapatkan umpan balik segera
  6. Bentuk dan isi surat tidak dapat di ubah bila telah dikirimkan
  7. Bila penulisan kurang baik maka akan membingungkan sipembaca.

Cara mengatasi kesulitan belajar (skripsi dan tesis)

 

Berdasarkan argument yang telah tercantum dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, maka upaya yang dapat dilakukan antara lain ;

  1. Tempat atau lokasi

Seseorang yang mengalami gangguan pada pendengaran atau penglihatan sebaiknya memposisikan diri terdekat dengan sumber pembelajaran. Sehingga dengan memposisikan diri terdekat dengan sumber maka dapat mendengar atau melihat sumber pembalajaran dengan baik. (Albar, 2015)

  1. Gangguan kesehatan

Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan , dan tetap diberikan bahan pelajaran yang dibimbing oleh orang tua, keluarga, atau teman sehingga tidak tertinggal  pelajaran. (Albar, 2015)

  1. Program remedial

Seseorang yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan dengan cara diantaranya adalah mengulang kembali bahan pelajaran yang belu dikuasai, memberikan tugas-tugas tertentu, dan lain-lain. (Albar, 2015)

  1. Bantuan media dan alat peraga

Penggunaan alat peraga dan media sangat membantu seseorang dalam memahami suatu pelajaran, kesulitan itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit untuk dipahami. (Albar, 2015)

  1. Suasana belajar yang menyenangkan

Menciptakan suasana belajar yang kondusif, nyaman,dan menyenangkan akan membantu seseorang dalam memahami pelajaran dan memperlancar proses pembelajaran. (Albar, 2015)

  1. Motivasi orang tua

Seseorang yang mengalami kesulitan belajar perlu mendapat perhatian dari orang tua atau keluarga. Peran oran tua sangat penting untuk memberikan motivasi sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran. Selain itu orang tua perlu memperhatikan kesehatan anak dengan memberikan makanan dan minuman yang bergizi. (Albar, 2015)

Faktor eksternal (skripsi dan tesis)

 

  1. Faktor lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang. Lingkungan juga berpengaruh terhadap aktifitas belajar. Lingkungan yang kondusif akan membantu memahami sesuatu materi pelajaran.

  1. Komunitas

Pergaulan sesama teman dapat mempengaruhi proses belajar, karna teman selalu membawa hal yang positif dan negative dalam proses belajar. Jadi komunitas dan pergaulan ikut andil besar dalam menentukan kesuksesan dalam proses belajar.

  1. Pengajar yang kurang baik

Pengajar yang baik dapat di artikan bukan guru yang jenius. Ada beberapa individu yang merasa kesulitan mengikuti pengajar yang terlalu pintar dikarenakan metode atau teori belajar yang berbeda. Pengajar yang baik adalah pengajar yang mampu mentransfer ilmu kepada anak didik, sehingga anak didik mampu memahami suatu materi.

  1. Bahan materi tidak memadai

Proses belajar akan terhambat apabila terjadi ketiadaan sumber materi. Ketika akan mempelajari suatu materi maka sumber dari materi tersebut harus tersedia. Bahan materi dapat di peroleh dari berbagai sumber, diantaranya media masa, buku, internet, dan pra pakar yang berkompeten dengan materi yang akan di pelajari.

  1. Tingkat kesukaran subjek

Ini adalah sesuatu hal yang relatif, apa yang di rasakan sulit belum tentu sama dengan yang dirasakan orang lain. Oleh sebab itu, jika mengalami kesulitan dalam belajar sebaiknya segera konsultasikan dengan orang yang berkompetan bisa dosen ataupun teman yang lebih memahami subjek atau materi.

  1. Faktor ekonomi

Banyak diantara saudara kita yang mengalami keselitan ekonomi. Banyak diantara yang berada dalam ekonomi rendah mereka memiliki semangat tinggi untuk belajar namun terkendala oleh faktor ekonomi. Maka, bagi yang mempunyai perekonomian baik jangan menyia-nyiakan kesempatan belajar yang telah di dapatkan.

 

Faktor internal (skripsi dan tesis)

 

  1. Kondisi psikologis

Sebelum belajar seharusnya mempersiapkan diri terlebih dahulu. Ketika sedang belajar, diusahakan dalam kondisi rileks dan siap untuk menerima pelajaran. Jika diibaratkan, kondisi ini sama dengan gelas kosong yang siap diisi air. Kondisi seperti ini diibaratkan psikologis, sehingga faktor psikologis sangat berpengaruh dalam melaksanakan suatu proses belajar.

  1. Kejenuhan belajar

Kejenuhan akan menyebabkan kesulitan memahami suatu materi. Kondisi dimana membaca tapi sult untuk mencerna dari apa yang di baca, mendengar tetapi hanya sebatas mendengar tanpa merekan ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Kesimpulan dari kejenuhan yang terjadi yaitu kurangnya konsentrasi yang dapat mempengaruhi harmonisasi antara organ indra dengan otak sehingga menyebabkan malas dan kurang perduli.

  1. Tidak merasa senang dengan subjek

Munculkanlah perasaan senang ketika ingin belajar, karna akan menimbulkan sugesti positif yang dapat menjadikan proses belajar menjadi enak. Akan tetapi ketika muncul perasaan tidak senang dengan obyek yang akan dipelajari, maka tanpa tidak sadar maka akan mengarahkan atau menstimulus otak untuk menolat suatu subjek yang akan di pelajari, sehingga menyebabkan terjadi kesulitan dalam melakukan proses belajar.

  1. Tidak mengetahui manfaat

Setelah merasa senang dengan suatu pelajaran, maka jangan hanya berhenti sampai disitu, tetapi harus tau manfaat yang akan diperoleh ketika mempelajari sesuatu materi pelajaran. Jika telah mengetahui manfaat dari pelajaran sehingga dapat meningkatkatkan motivasi dalam proses belajar.

 

 

  1. Tingkat intelektualitas

Faktor ini tidak mutlak menjadi penghambat dalam belajar. Setiap manusia yang dilahirkan membawa senjata berfikir yang sangat luar biasa. Ada berbagai macam cara untuk meningkatkan kecerdasanintelektualitas. Hambatan yang satu ini dapat diatasi dengan ketekunan dan juga kerajinan sehingga tingkat intelektualitas dapat meningkat.

Faktor penyebab kesulitan belajar (skripsi dan tesis)

 

Penyebab seseorang mengalami kesulitan dalam memahami suatu pelajaran dapat dikelompokkan menjadi 2 faktor yaitu ;

  1. Faktor internal

Faktor internal adalah penyebab kesulitan belajar yang berasal dari individu itu sendiri.

Beberapa hal yang menyebabkan kesulitan belajar antara lain ; gangguan pada kesehatan,kelainan pada pendengaran atau penglihatan , rendahnya konsentrasi belajar, dan faktor-faktor lain yang berhubungan langsung dengan individu. (Ilham, 2014)

  1. Faktor eksternal

Faktor eksternal yaitu penyebab kesulitan belajar yang berasal dari luar individu itu sendiri, contohnya ; kondisi belajar yang tidak kondusif , beratnya beban pelajaran,dan berbagai faktor diluar individu yang dapat mengganggu proses belajar. (Ilham, 2014)

Pengertian kesulitan belajar (skripsi dan tesis)

 

Kesulitan belajar adalah kondisi dimana kemampuan intelegensi kurang memiliki kemampuan atau menguasai pelajaran yang menyebabkan suatu kegagalan yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, pemusatan perhatian, penguasaan diri dan fungsi integrasi sensorik motorik ( Weiner,2003).

Dari pengertian yang telah disebutkan kesulitan belajar  bisa terjadi kepada seseorang yang intelegensinya rendah maupun tinggi,selain itu kesulitan belajar juga dialami oleh seseorang yang mempunyai intelegensi rata-rata yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu dimana dapat menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan.

Kesulitan belajar pada seseorang disebabkan adanya hambatan tertentu dan dapat bersifat psikologis,sosiologis,maupun fisiologis.Kesulitan belajar seseorang mncakup pengertian yang luas, diantaranya : learning disorder, learning disfunction, underachiever, slow learner, dan learning disabilities.(Zuha , 2013)

  1. Learning disorder

Learning disorder adalah keadaan diman aproses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan, contoh ; seseorang yang sudah terbiasa dengan olahraga keras seperti karate, tinju, dan sejenisnya mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah gemulai

  1. Learning disfunction

Learning disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan oleh seseorang tidak berjalan dengan baik meskipun seseorang tersebut tidak terjadi abnormalitas mental ataupun gangguan psikologis lainnya. Contohnya; seseorang yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola voli,namun karena tidak pernah dilatih bola voli maka dia tidak dapat menguasai dengan baik.

  1. Underachiever

Underachiever mengacu kepada seseorang yang sebenarnya memiliki tingkat intelektual yang tinggi tetapi prestasi belajarnya tergolong rata-rata ataupun rendah. Contoh ; sesorang yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan yang tergolong tinggi ( IQ =100 sampai dengan 140 ), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau mungkin rendah.

 

 

  1. Slow learner

Slow learner atau lambat belajar adalah seseorang yang terlambat dalam memahami proses  belajar,sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama dibandingkan sekelompok orang yang memiliki intelektual yang sama.

  1. Learning disabilities

Learning disabilities atau ketidakmampuan belajar , dimana terjadi gejala seseorang tidak mampu belajar atau menghindari belajar,sehingga menyebabkan hasil yang diperoleh lebih rendah dari yang diprediksi sesuai dengan intelektualnya.

Teori belajar (skripsi dan tesis)

 

Pembahasan sebelumnya terdapat tiga kategori tentang teori belajar, yaitu teori belajar behavirisme, teori  belajar kognitifisme, dan teori belajar kintruksiviseme. Teori belajar behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori belajar behaviorisme berhubungan dengan stimulus respon, mendudukkan individu yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentudengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan saja. Munculnya perilaku yang semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Teori belajar kognitivisme yaitu memproses informasi, menyimpan, dan menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah ada, model ini menekankan pada bagaimana informasi di proses. Teori belajar konstruktiviseme bersifat membangun, dalam konteks filsafah pendidikan dapat diartikan konstruktiviseme adalah suatu upaya membangun tatanan hidup secara baik.

Patofisiologi (skripsi dan tesis)

 

Pinggang merupakan pengemban tubuh dari toraks sampai perut. Sokoguru bagian belakang tersebut terdiri dari lumbal dan tulang belakang pada umumnya. Tiap ruas tulang belakang berikut diskus intervertebralis sepanjang kolumna vertebralis merupakan satuan anatomik dan fisiologik. Bagian depan berupa korpus vertebralis dan diskus intervertebralis yang berfungsi sebagai pengemban yang kuat dan tahan terhadap tekanan-tekanan menurut porosnya. Berfungsi sebagai penahan tekanan adalah nukleus pulposus (Sidharta, 2004).

Dalam keseluruhan tulang belakang terdapat kanalis vertebralis yang didalamnya terdapat medula spinalis yang membujur ke bawah sampai L 2. Melalui foramen intervertebralis setiap segmen medula spinalis menjulurkan radiks dorsalis dan ventralisnya ke periferi. Di tingkat servikal dan torakal, berkas serabut tepi itu menuju ke foramen tersebut secara horizontal. Namun di daerah lumbal dan sakrum berjalan secara curam ke bawah dahulu sebelum tiba di tingkat foramen intervertebralis yang bersangkutan. Hal tersebut dikarenakan medula spinalis membujur hanya sampai L 2 saja (Sidharta, 2004).

Otot-otot yang terdapat di sekeliling tulang belakang mempunyai origo dan insersio pada prosesus transversus atau prosesus spinosus. Stabilitas kolumna vertebrale dijamin oleh ligamenta secara pasif dan secara aktif oleh otot-otot tersebut. Ujung-ujung  serabut penghantar impuls nyeri terdapat di ligamenta, otot-otot, periostium, lapisan luar anulus fibrosus dan sinovia artikulus posterior (Sidharta, 2004).

Manifestasi klinis LBP berbeda-beda sesuai dengan etiologinya masing-masing. Berikut adalah manifestasi klinis LBP akibat sikap yang salah yaitu:

  • Sering dikeluhkan sebagai rasa pegal yang panas pada pinggang, kaku dan tidak enak namun lokasi tidak jelas.
  • Pemeriksaan fisik menunjukkan otot-otot paraspinal agak spastik di daerah lumbal, namun motalitas tulang belakang bagian lumbal masih sempurna, walaupun hiperfleksi dan hiperekstensi dapat menimbulkan perasaan tidak enak
  • Lordosis yang menonjol
  • Tidak ditemukan gangguan sensibilitas, motorik, dan refleks pada tendon
  • Foto rontgen lumbosakral tidak memperlihatkan kelainan yang relevan.

(Sidharta, 2004)

Low Back Pain (skripsi dan tesis)

 

Low back pain (LBP) merupakan permasalahan yang sering muncul dengan gejala umum yang terasa pada bagian lumbo-sacral, otot gluteal, paha dan sering kali pada ekstremitas bawah. Ketika karakteristik gejala low back pain muncul maka diperlukan pengangkatan suatu diagnosa dan bagaimana penanganannya yang tepat. Hampir dari 90 % penduduk pernah mengalami LBP dalam siklus kehidupannya dan LBP merupakan keluhan nomor dua yang sering muncul  setelah keluhan pada gangguan sistem pernafasan (Kaufmann, 2000).

Terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa hampir 48% klien dengan LBP tidak diketemukan penyebabnya yang jelas (Nettina,2000). Menurut Nettina (2000) bahwa 90 % klien dengan LBP menghentikan pengobatannya setelah 3 bulan pengobatan walaupun nyerinya masih terasa. Low back pain dikatagorikan sebagai akut (kurang dari 12 minggu), sub akut (6-12 minggu) dan kronik (lebih dari 12 minggu). Umumnya LBP berhubungan dengan peregangan ligament dan otot yang diakibatkan dari mekanik tubuh yang salah saat mengangkat sesuatu. Yang termasuk dalam faktor resiko LBP yang lain adalah umur, jenis kelamin, faktor indeks massa tubuh yang meliputi berat badan, tinggi badan, pekerjaan,  dan aktivitas/olahraga (Idyan, 2007).

Menurut Adelia (2007), beberapa hal yang berkaitan dengan kejadian LBP adalah:

  1. Umur

Nyeri pinggang merupakan  keluhan yang berkaitan erat dengan umur. Secara teori nyeri pinggang atau nyeri punggung bawah dapat dialami oleh siapa saja. Namun demikian keluhan ini jarang dijumpai pada kelompok umur 0 – 10 tahun, hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa faktor etiologic tertentu yang lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Biasanya nyeri ini mulai dirasakan pada mereka yang berumur decade kedua dan insiden tertinggi dijumpai pada decade kelima.Bahkan keluhan nyeri pinggang ini semakin lama semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.

  1. Jenis kelamin

Laki-laki dan perempuan memiliki faktor resiko yang sama terhadap keluhan nyeri pinggang sampai umur 60 tahun, namun pada kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang, karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.

  1. Indek masa tubuh
  2. berat badan

Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri pinggang lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.

  1. Tinggi badan

tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh.

  1. Pekerjaan

Keluhan nyeri ini juga berkaitan erat dengan aktivitas mengangkat beban berat, sehingga riwayat pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta penanggulangan keluhan ini. Pada pekerjaan tertentu, misalnya seorang kuli pasar yang biasanya memikul beban di pundaknya setiap hari . Mengangkat beban berat lebih dari 25 kg sehari akan memperbesar resiko timbulnya keluhan nyeri pinggang

  1. Aktivitas atau olahraga

Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan. Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya pada pekerja kantoran yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi, atau seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada waktu menulis.

Aktivitas dengan posisi bediri lebih dari 1 jam dalam sehari, melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari 2 jam dalam sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam sehari, berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan resiko timbulnya nyeri pinggang.

(Adelia, 2007)

Keluhan low back pain ini ternyata menempati urutan kedua tersering setelah nyeri kepala. Di Amerika Serikat, lebih dari 80% penduduk pernah mengeluh low back pain dan di negara kita sendiri diperkirakan jumlahnya lebih banyak lagi. Mengingat bahwa low back pain ini sebenarnya hanyalah suatu simtom/gejala, maka yang terpenting adalah mencari faktor penyebabnya agar dapat diberikan pengobatan yang tepat.

Pada dasarnya, timbulnya rasa sakit tersebut karena terjadinya tekanan pada susunan saraf tepi daerah pinggang (saraf terjepit). Jepitan pada saraf ini dapat terjadi karena gangguan pada otot dan jaringan sekitarnya, gangguan pada sarafnya, kelainan tulang belakang maupun kelainan di tempat lain, misalnya infeksi atau batu ginjal dan lain-lain.

Spasmus (ketegangan otot) merupakan penyebab yang terbanyak dari LBP. Spasmus ini dapat terjadi karena gerakan pinggang yang terlalu mendadak atau berlebihan melampaui kekuatan otot-otot tersebut. Selain itu, pengapuran tulang belakang di sekitar pinggang yang mengakibatkan jepitan pada saraf juga dapat mengakibatkan nyeri pinggang yang hebat.

Pengaruh Lamanya Duduk (skripsi dan tesis)

 

Samara (2004) dalam Idyan (2007), mengemukakan bahwa posisi duduk baik tegak maupun membungkuk dalam jangka waktu lebih dari 30 menit dapat mengakibatkan gangguan pada otot. Penelitian yang dilakukan  Jimi (2007) mengidentifikasi ada hubungan yang bermakna antara duduk lama saat proses pembelajaran dengan gangguan pada otot. Penelitian tersebut dilakukan dilakukan terhadap murid Sekolah Dasar di Sinduadi 1 Mlati Slemen yang usianya masih sangat muda. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa 41,6 % murid menderita nyeri pinggang bawah selama duduk di kelas. Terdiri dari 30 % yang duduk selama satu jam, dan 70 % yang duduk lebih dari satu jam menderita nyeri pinggang bawah.

Lebih lanjut menurut Hasyim (2000), akibat lama bekerja yang menyebabkan beban statik yang terus menerus tanpa memperhatikan faktor-faktor ergonomi akan lebih mudah menimbulkan keluhan nyeri punggung bawah. Faktor-faktor ergonomi berarti menyangkut sikap tubuh saat bekerja, tinggi tempat duduk dengan lantai, letak ketinggian meja dan faktor lingkungan seperti sirkulasi udara, pencahayaan, dan tingkat kebisingan ruangan tempat bekerja (Kroemer, K.H.E & Grandjean, E.1997).

Posisi Kerja (skripsi dan tesis)

Sikap kerja yang baik dengan duduk yang tidak berpengaruh buruk terhadap sikap tubuh dan tulang belakang adalah sikap duduk dengan sedikit lordosa pada pinggang dan sedikit kifosa pada punggung dimana otot otot punggung menjadi terasa enak (Depkes RI, 2006).

Sikap duduk yang baik adalah :

  • Tidak menghalangi pernafasan.
  • Tidak menghambat sistem peredaran darah.
  • Tidak menghalangi gerak otot atau menghalangi fungsi organ-organ dalam tubuh.

Dalam bekerja dengan duduk perlu beberapa pesyaratan, yaitu (Depkes RI, 2006):

  • Pekerja dapat merasa nyaman selama melaksanakan pekerjaannya.
  • Tidak menimbulkan gangguan psikologis.
  • Dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan memuaskan.

Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan, dalam hal ini kita harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli membedakan/membaginya sebagai berikut (Depkes RI, 2004):

  1. Kelelahan fisik

Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup.

  1. Kelelahan yang patologis

Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat gejalanya.

 

  1. Psikologis dan emotional fatique

Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis “mekanisme melarikan diri dari kenyataan” pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja.

  1. Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang mempunyai batas ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak seharusnya terjadi :
    1. Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi harus memadai dan tidak ada gangguan bising
    2. Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat makan siang.
    3. Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor.
    4. Tempo kegiatan tidak harus terus menerus
    5. Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau memungkinkan.
    6. Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat kerja.
    7. Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja.
    8. Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja
    9. Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;
  • Pekerja remaja
  • Wanita hamil dan menyusui
  • Pekerja yang telah berumur
  • Pekerja shift
  1. Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan atau zat addiktif lainnya perlu diawasi.

Kebanyakan orang dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari sering melupakan masalah posisi tubuh. Sikap tubuh yang baik sangat penting karena akan membantu tubuh bekerja maksimal. Juga membuat daya tahan dan pergerakan tubuh jadi efektif, di samping itu menyumbang kesehatan secara menyeluruh. Tidak hanya itu postur yang baik ternyata juga pencegah terbaik agar postur tidak jadi buruk. Kalau sikap tubuh tidak baik, selain tulang-tulang jadi tidak lurus, otot-otot, ruas, serta ligamen (jaringan pengikat sendi) pun akan tertarik lebih keras. Sikap yang tidak baik juga memicu cepat lelah, ketegangan otot, dan akhirnya rasa sakit.

Banyak orang yang menderita sakit punggung ternyata bermula dari kebiasaan salah yang mereka lakukan. Akibatnya, posisi dan fungsi organ-organ vital, khususnya di daerah perut ikut terpengaruh. Yang tak kalah penting postur tubuh yang baik juga membuat penampilan menjadi memikat sehingga meningkatkan rasa percaya diri. Duduk dalam jangka waktu yang lama juga dapat menyebabkan LBP. Bekerja dengan komputer, bekerja di pabrik, dipasar, dirumah, tukang jahit, sopir, tukang sayur, murid sekolah juga tidak terlepas aktivitasnya dilakukan dengan duduk yang lama.

Duduk adalah suatu posisi tubuh torso vertikal dengan beban badan bertumpu pada bokong. Duduk dapat dimanfaatkan untuk beristirahat jika dalam posisi dan jangka waktu yang tepat. Dibanding dengan berdiri, duduk memberikan kenyamanan dan kestabilan. Duduk dengan posisi yang baik adalah postur tubuh dengan kepala tegak, lengan dan tungkai rileks serta dapat memberikan stabilitas yang baik. Posisi duduk sangat dipengaruhi oleh design kursi. Idealnya kursi yang baik adalah yang dapat mendukung postur tubuh pada saat duduk. Pada sopir, design kursi terkadang menjadi problema tersendiri karena pada kenyataannya postur tubuh sopir yang berbeda-beda sehingga sulit untuk di design kursi yang benar-benar mengakomodasi kebutuhan sopir.

Berbagai pendapat telah dikemukakan tentang posisi duduk yang ergonomis ketika duduk dikursi atau ditempat lain. Duduk dengan sudut sederhana yaitu tungkai ditekuk dengan sudut 90o dengan kaki bertumpu pada lantai, posisi ini telah dipertimbangkan sebagai postur yang baik pada saat duduk ((Hemmings & Hemming, 1989 dalam Idyan, 2007). Mandal (1981) dalam Idyan (2007) mendukung posisi duduk yang disarankan Hemmings dan juga mengusulkan posisi yang lain yaitu duduk dengan posisi bantal duduk miring kebawah dengan sudut 45o dengan paha miring dan tungkai tegak lurus. Grandjean E (1988) mengemukakan alternatif posisi duduk yang lain disarankan dengan bantal duduk miring keatas dengan sudut 14o untuk mengurangi tekanan pada otot.

Penatalaksanaan Terapi Psikotik (skripsi dan tesis)

 

Obat-obat yang digunakan untuk mengobati skizofrenia disebut antipsikotik karena mereka membantu mengendalikan halusinasi, waham, dan masalah-masalah pikiran yangterkait dengan penyakit. Pasien mungkin perlu mencoba beberapa obat antipsikotik yang berbeda sebelum mereka menemukan obat yang sesuai, atau kombinasi obat-obatan, yangbekerja untuk mereka. Ketika obat antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu, ini mewakili pengobatan pertama yang efektif untuk skizofrenia. Pilihan luas pengobatan telah meningkatkan kesempatan pasien untuk pemulihan (Frances, et al., 1996).

Obat antipsikotik di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu anti psikotik generasi pertama (APG I) atau antipsikotik tipikal dan anti psikotik generasi ke dua (APG ll) atau antipsikotik atipikal. APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif.

APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg di antaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dari 50 mg di antaranya adalah chlorpromazine dan thioridazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur.

APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau anti psikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispendon, (Luana, 2007).

Terapi elektrokonvulsi (ECT) telah digunakan untuk mengobati pasien skizofreniasejak tahun 1938 oleh Cerletti dan Bini, diadopsi secara luas dan penggunaannya diperluas kesejumlah gangguan. Pengenalan terapi farmakologis yang efektif untuk pengobatan skizofrenia dan gangguan mood menyebabkan penurunan tajam dalam penggunaan ECT. Ketika keterbatasan dalam kemanjuran dan efek merugikan dari obat antipsikotik, minat dan penggunaan ECT meningkat kembali dalam beberapa tahun terakhir. Kemanjuran ECT dalam depresi berat sangat didukung dengan baik, namun demikian, indikasi penggunaan ECT dan kemanjurannya dalam skizofrenia kurang jelas karena kelangkaan penelitian yang berkualitas (Chanpattana, 2007). Ada bukti bahwa terapi kejang digunakan sejak abad ke-19 untuk mengobati skizofrenia (dimulai pada tahun 1834 di Hungaria). Meskipun E.C.T. sebagiandigantikan olehobat neuroleptik dan efek sampingnya berkurang, namun ECT terus digunakan pada sejumlah besar orang, dan tingkat penggunaan cenderung stabil di awal 1980-an.E.C.T. mungkin merupakan pengobatan paling kontroversial yang saat ini digunakan oleh profesi medis. Sementara beberapa pasienmelaporkan ECT sebagai alat yang membantu atau menyelamatkan jiwa mereka, sedang yang lain merasa kurang membantu, dan banyak yang melihatnya sebagai alat yang merusak dan mengancam jiwa(Chanpattana, 2007)

Skizofrenia (skripsi dan tesis)

 

Kriteria diagnosis skizofrenia berdasarkan ICD-10 adalah sebagai berikut (Barbato, 1998) : harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas sebagai kelompok (a) sampai (d) atau setidaknya dua gejala dari kelompok (e) sampai (i) dan harus jelas ada untuk sebagian besar waktu selama periode 1 bulan atau lebih.

  1. thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau “thought insertion or withdrawal”= isi yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan “thought broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;
  2. delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau “delusion of passivitiy”= waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);“delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifat mistik atau mukjizat;
  3. Halusinasi auditorik. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
  4. Waham-waham menetap jenis lainnya. Waham yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain)
  5. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
  6. Arus pikiran yang sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.
  7. Adanya suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam keseluruhan kualitas kehidupan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Faktor – faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Menurut Suyono (2009) faktor – faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah adalah :

 

  • Umur

Semakin tua umur seseorang maka resiko peningkatan kadar glukosa darah dan gangguan toleransi glukosa akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena melemahnya semua fungsi organ tubuh termasuk sel pankreas yang bertugas menghasilkan insulin. Sel pankreas bisa mengalami degradasi yang  menyebabkan hormon insulin yang dihasilkan terlalu sedikit, sehingga kadar gula darah menjadi tinggi.

  • Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh yang berlebihan dan obesitas menggambarkan gaya hidup yang tidak sehat. Salah satu penyebab yang sering ditemukan adalah karena makan berlebih. Pola hidup yang seperti ini dapat memperberat kerja organ tubuh termasuk kerja sel pankreas yang memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang banyak karena banyaknya bahan makanan yang dikonsumsi.

  • Diet dan Susunan Makanan

Jenis diet dan komposisi makanan juga mempengaruhi kadar gula darah. Diet dengan pola menu seimbang lebih dianjurkan untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh dan dapat menghindarkan dari beberapa jenis penyakit – penyakit khususnya penyakit degeneratif. Konsumsi makanan dalam jumlah yang tidak berlebihan dan teratur dapat mencegah pelonjakan kadar glukosa darah secara tepat. Jumlah total kalori seseorang dikategorikan baik adalah berkisar antara 80 % – 100 % dari total kalori yang dianjurkan. Cara menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan seseorang adalah dengan menggunakan rumus Harris Beneict yang mempertimbangkan jenis kelamin, BB, TB, umur, dan faktor aktifitas.

  • Jenis Makanan

Pemilihan jenis makanan sangat berperan dalam mengendalikan kadar gula darah. Makanan yang tinggi serat dan pemilihan jenis karbohidrat kompleks yang mempunyai indeks glikemik yang rendah dapat mengendalikan kadar gula darah dengan cara yang lebih aman dan sehat. Jenis makanan dengan indeks glikemik yang tinggi dapat mempercepat kenaikan kadar gula darah dan jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat mempercepat munculnya Gangguan Toleransi Glukosa (GTG). Apabila individu mengkonsumsi makanan indeks glikemik tinggi dalam jangka panjang, kebutuhan insulin tentunya akan bertambah banyak, terjadi hiperinsulinemia yang akhirnya muncul gangguan toleransi glukosa. (Pemayun, 2007)

  • Jenis Kelamin

Kadar glukosa darah menurut jenis kelamin sangat bervariasi. Kadar glukosa darah perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki di Amerika. Hal ini berarti risiko gangguan toleransi glukosa pada wanita Amerika lebih tinggi dibandingkan laki – laki. Sama halnya dengan Amerika, wanita di Indonesia mempunyai risiko gangguan toleransi glukosa lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki, hal ini disebakan karena tingkat aktifitas fisik wanita Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan laki – laki, serta pada wanita diketahui komposisi lemak tubuh lebih tinggi dibandingkan dengan laki – laki. Komposisi lemak yang tinggi menyebabkan wanita akan cenderung lebih mudah gemuk dan hal ini berkaitan dengan risiko GTG. (Pemayun, 2007)

  • Aktifitas Fisik

Aktifitas fisik secara teratur menambah sensitifitas insulin dan menambah toleransi glukosa. Penelitian prospektif memperlihatkan bahwa aktifitas fisik berhubungan dengan berkurangnya risiko terhadap gangguan toleransi glukosa terutama pada kelompok berisoko tinggi yaitu wanita usia > 40 tahun dengan BB berlebih. Aktifitas fisik mempunyai efek menguntungkan pada lemak tubuh, distribusi lemak tubuh, dan kontrol glukosa darah sehingga dapat mencegah terjadinya Gangguan Toleransi Glukosa (GTG). Olah raga dapat mencegah peningkatan kadar gula darah disebabkan karena bertambahnya sensitivitas insulin yang dapat dicapai dengan pengurangan Indeks Massa Tubuh melalui bertambahnya aktifitas fisik. (Pemayun, 2007)

Indeks Glikemik (IG)(skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Indeks glikemik pangan merupakan indeks (tingkatan) pangan menurut efeknya dalam meningkatkan kadar gula darah. Pangan yang mempunyai IG tinggi bila dikonsumsi akan meningkatkan kadar gula dalam darah dengan cepat dan tinggi. Sebaliknya, seseorang yang mengonsumsi pangan ber-IG rendah maka peningkatan kadar gula dalam darah berlangsung lambat dan puncak kadar gulanya rendah (Widowati, 2008).

Indeks glikemik adalah nilai yang menunjukkan kemampuan suatu makanan yang mengandung karbohidrat dalam meningkatkan kadar glukosa darah. Salah satu implikasi indeks glikemik dalam kehidupan adalah untuk dapat membantu seorang penderita diabetes melitus atau seorang yang obesitas dalam memilih makanan, khususnya makanan-makanan yang indeks glikemiknya rendah. (Thompson, et al. 2011)

Makanan berkabohidrat memiliki efek terhadap konsentrasi glukosa darah yang dikenal sebagai respon glikemik. Beberapa makanan mampu meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah dengan cepat, sedangkan beberapa makanan lain meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah secara bertahap atau perlahan. Pemilihan makanan yang tepat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah, kadar kolesterol dan kadar trigliserilda. Konsep indeks glikemik ditemukan untuk menunjukkan secara kuantitatif kemampuan makanan dalam mempengaruhi kadar glukosa darah. Konsep indeks glikemik pertama kali dikembangkan oleh Dr. David Jenkins, Professor Gizi di Universitas Toronto, pada tahun 1981. Konsep indeks glikemik pertama beranggapan bahwa setiap makanan berkabohidrat dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Indeks glikemik akhirnya dikembangkan dengan tujuan membantu pasien penderita diabetes dalam mengkonsumsi makanan. (Almatsier, 2010)

Garam Beryodium (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan KIO3 (Kalium Jodidat) dalam bentuk larutan pada lapisan tipis garam sehingga diperoleh campuran yang merata. Sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) kadar yodium dalam garam ditentukan sebesar 30-80 ppm. Menurut WHO kebutuhan hariam tubuh akan yodium adalah 90 mcg pada umur 0-8 tahun, 120 mcg pada umur 9-13 tahun, 150 mg pada remaja/ dewasa dan 200 mg pada ibu hamil/ menyusui. Untuk menghindari pengaruh sampingan dari konsumsi garam yang berlebihan maka dianjurkan untuk mengkonsumsi garam tidak lebih dari 6-10 gram atau satu sendok teh setiap hari.

Standar Nasional Indonesia (SNI) garam konsumsi ditetapkan secara wajib terhadap produsen, distribusi/ pedagang sesuai dengan Kepres No. 69 tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium untuk melindungi kesehatan masyarakat. Kebijakan ini berkaitan erat dengan masih tingginya kejadian Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) di Indonesia.

Penggunaan garam beryodium bertujuan  untuk menyediakan unsur yodium kepada masyarakat secara teratur dan berkesinambungan  agar masyarakat tercukupi kebutuhannya akan unsure yodium. Menurut Deperindag, jenis garam yang diproduksi oleh pabrik-pabrik adalah:

  1. Garam curia/krosok beryodium adalah garam yang  kristalnya kasar-kasar dipilih dari garam krosok bermutu baik, dibungkus dalam bungkus plastic transparan atau dalam karung plastic, dan dikonsumsi mas yarakat sebesar 17,9%
  2. Garam briket beryodium adalah garam berbentuk bata yang dike mas dalam plastik buram maupun transparan, berisi 12 bata dengan berat berkisar antara 1,5 kg sampai dengan 3,5 kg per plastik dan dikonsumsi masyarakat sebesar 26,9%
  3. Garam halus beryodium, adalah garam yang kristalnya sangat halus menyerupai gula pasir yang dikemas dalam plastik transparan disajiklan untuk garam meja dan dikonsumsi masyarakat s ebesar 55,1%

Dalam penyimpanan ada  kemungkinan turunnya kandungan yodium dalam garam beryodium, maka untuk melindungi konsumen ditetapkan persyaratan kandungan KIO3 dalam  garam beryodium sebagai berikut: di tingkat produksi 40-80 ppm dan tingkat distribusi/ konsumsi: 30-80 ppm.

Kestabilan Iodat Dalam Garam (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Kandungan spesi iodium yaitu iodida daniodat yang diperolehpada penelitian ini telahmemenuhi persyaratan minimun yang diatur dalam SNI No.01- 3556tahun 1994 dan Permenkes No.077/1995 yaitu sebesar 30-80 mg/kg Kestabilan iodat dalam garamdapur dipengaruhi oleh kadarair, tingkat kemurnian garam,jenis pengemas, prosespengolahan (iodisasi), kelembaban, suhu, kehadiran zat-zat pereduksi, pH dan lama penyimpanan (Arhya, 1995).

Pengujian pengaruh lama penyimpanan, suhu dan kelembaban relative terhadap kestabilan iodat dan terjadinya spesiasi iodium dalam garam beriodium menunjukkan adanya pengaruh interaksi dari ketiga parameter tersebut, yang ditunjukan dengan terjadinya penurunan kadar iodat dan terbentuknya spesi iodida dan iodium, begitu juga pengaruh cara iodisasi, pH dan lama pemanasan/pemasakan. Selain senyawa besi keberadaan zat-zat pengotor yang bersifat higroskopis seperti magnesium klorida, kalsium klorida, magnesium sulfat, dan kalsium sulfat, mempunyai kemampuan menyerap air yang sangat besar, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap kestabilan iodat dalam garam beriodium. Garam beriodium yang mengandung iodat kecil tetapi kadar iodida (hasil penguraian iodat) yang tinggi masih dapat digunakansebagai sumber iodium,asalkan memenuhi syarat berkisar 30 –80 mg kg (Arhya, 1995).

Dampak Defisiensi Garam (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Gangguan Akibat Kurang Yodium atau GAKY adalah sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama (Depkes RI,2007). Masalah GAKY merupakan masalah yang serius mengingat dampaknya secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kelangsungan hidup dan kuallitas sumber daya manusia yang mencakup 3 aspek, yaitu aspek perkembangan kecerdasan,aspek perkembangan social dan aspek perkembangan Ekonomi (Depkes RI, 2007).

  1. Aspek Perkembangan Kecerdasan (Intelegensi)

Pada umumnya keluarga telah memiliki pengetahuan dasarmengenai gizi. Namun demikian sikap dan keterampilan serta kemauanuntuk bertindak memperbaiki gizi keluarga masih rendah. Sebagiankeluarga menganggap asupan makanannya selama ini cukup memadaikarena tidak ada dampak buruk yang mereka rasakan. Sebagian keluargajuga mengetahui bahwa ada jenis makanan yang lebih berkualitas namunmereka tidak ada kemauan dan tidak mempunyai keterampilan untukmenyiapkannya. (Depkes RI, 2007)

  1. Aspek Perkembangan Sosial

Dampak sosial yang ditimbulkan GAKY berupa terjadinyagangguan mental, lamban, kurang bergairah sehingga orang macam inisulit untuk dididik dan dimotivasi. Penderita kretin untuk selamanyamenjadi beban sosial bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.c. Aspek Perkembangan EkonomiUsaha peternakan didaerah defisit iodium tidak akan berhasilkarena hewan peliharaan yang mengalami kekurangan iodium akanberukuran lebih kecil, kurus, produksi telur sedikit, kurang kesuburan danlain-lain. Dampak GAKY terhadap keadaan ekonomi akan di perlihatkandengan pengalaman negara China dimana setelah 8 tahun upaya penanggulangan dilakukan terjadi peningkatan produktifitas dan income perkapita besar 15 %. Dengan perhitungan ini maka secara kasar diIndonesia GNP akan meningkat jika masalah GAKY dapat ditanggulangi.(Depkes RI, 1990)

Manfaat Garam Iodium (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan yodium, yang dibutuhkan tubuh untuk membuat hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan (Dekes RI, 2009). Garam beryodium dapat mencegah Gangguan Akibat KurangYodium (GAKY) yang ditunjukkan dengan tanda-tanda adanya pembesaran kelenjar gondok, terhambatnya pertumbuhan (pendek atau cebol) gangguan perkembangan mental, gangguan fungsi syaraf otak (gangguan kecerdasan,bisu, tuli dan juling).(Depkes RI, 2007)

Kebutuhan Iodium (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Kebutuhan iodium bervariasi menurut umur dan kondisi-kondisi tertentu. Kebutuhan pada anak-anak berbeda dengan kebutuhan orangdewasa akan iodium perharinya. Keadaan fisiologi tertentu dari tubuhseperti misalnya pada wanita dan ibu menyusui, jumlah kebuutuhan tubuhakan zat iodium akan berbeda. Kebutuhan tubuh per harinya sekitar 1-2 gper kg berat badan. Perkiraan kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120g perhari untuk anak-anak umur dibawah 19 tahun dan 150 g perhariuntuk orang dewasa. Untuk wanita hamil dan menyusui dianjurkan tambahan masing-masing adalah 10 g/hari (Hetzel, 1993). Sumber utama iodium adalah laut, sehingga makanan laut merupakan makanan yang paling kaya dengan iodium. Didaerah pantai, air dan tanah mengandung banyak iodium sehingga tanaman yang tumbuh didaerah pantai mengandung cukup banyak iodium. Semakin jauh tanah dari pantai semakin sedikit pula kandungan iodiumnya dan salah satu penanggulangan kekurangan iodium adalah melalui fortifikasi

Morfologi Jaringan Rawan (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Fungsi jaringan rawan adalah sebagai jaringan penyokong yang lentur. Sama seperti jaringan ikat, jaringan rawan terdiri dari kondrosit (sel rawan), serabut, dan substansi dasar yang kaya akan proteoglikan dan glikoprotein. Substansi intersel yang banyak jumlahnya disebut matriks rawan, sedangkan rongga-rongga tempat sel rawan disebut lakuna. Rawan tidak mempunyai pembuluh darah dan saraf. Rawan memperoleh makanan secara difusi dari kapiler dalam jaringan ikat di sekelilingnya (Adelberg, 1996).

  • Rawan hialin.

Jenis ini paling banyak dijumpai, terutama pada saluran pernafasan (larink, trakhea, bronkus), ujung ventral rusuk, dan pada permukaan persendian tulang. Dalam keadaan segar, rawan hialin berwarna kebiru-biruan dan tembus cahaya atau hialin. Rawan ini diselaputi oleh jaringan ikat yang disebut perikondrium. Bagian yang dekat pada rawan mengandung banyak kondroblas yang berperan dalam pertumbuhan aposisi dari rawan. Rawan hialin tumbuh sebagai hasil pembelahan kondrosit di bagian tengah rawan yang disebut tumbuh interstitial (Hentges DJ, 1995).

Kondroblas dan kondrosit dari rawan yang sedang tumbuh memperlihatkan nukleolus yang jelas, sitoplasma yang basofilik dengan retikulum endoplasmik kasar yang banyak, dan alat golgi yang menonjol. Komponen utama matriks yang amorf pada rawan hialin adalah glikosaminoglikan, terdiri dari 2 golongan utama: asam hialuronat dan sejenis proteoglikan. Komponen serabut dari matriksnya adalah serabut kolagen yang membangun 40% dari berat kering rawan hialin (Adelberg, 1996).

  • Rawan elastin.

Rawan ini dapat dijumpai di daun telinga dan epiglottis, yang dalam keadaan segar berwarna kekuning-kuningan. Matriksnya selain mengandung serabut kolagen, juga mengandung banyak sekali serabut elastin. Rawan elastin mempunyai perikondrium (Hentges DJ, 1995)

  • Rawan serabut.

Jenis ini dapat ditemukan di diskus intervertebralis, simfisis pubis, dan pada perlekatan ligamen dengan tulang. Dibandingkan dengan dua jenis rawan lainnya, rawan serabut relatif mempunyai matriks yang banyak sekali jumlahnya dan mengandung banyak sekali serabut kolagen jenis I. Rawan ini tidak mempunyai perikondrium (Junqueira, 1992)

 

 

Morfologi Sel Epite (skripsi, tesis, dan disertasi)

l

Jaringan epitel membatasi permukaan bebas di dalam tubuh dan menutupi permukaan tubuh. Misalnya kulit, ditutupi oleh epitelium yang dikenal sebagai epidermis; saluran pencernaan makanan berikut turunannya, lumennya dibatasi oleh epitelium. Jaringan ini dibangun oleh sel-sel yang sejenis, tersusun selapis atau berlapis-lapis dengan adhesi yang kuat antar sel, sehingga membangun lembaran-lembaran sel. Epitel mempunyai permukaan bebas atau apeks yang membatasi lumen atau lingkungan dan permukaan yang bertumpu pada membran basal yang disebut permukaan basal (Junqueira, 1992).

Membran basal terdiri dari lamina basal yang amorf, yang berbatasan dengan epitelium dan suatu lamina retikular yang terdiri dari serabut kolagen tipe IV. Pembuluh darah tidak menembus membran basal. Epitel mendapat makanannya melalui proses difusi. Hubungan antar sel di bagian apeks dilengkapi dengan struktur adhesif yang disebut kompleks hubungan. Kompleks hubungan ini memisahkan lingkungan dalam organisma dari lingkungan luar yang mungkin merusak, toksik dan dapat menyebabkan infeksi. Juga menyebabkan hubungan yang kuat antar sel. Kompleks hubungan dapat dijumpai sebagai:

  • Zonula occludens atau “tight junction” merupakan suatu sabuk yang mengelilingi apeks sel epitel. Bagian ini dibangun oleh anyaman tanggul-tanggul yang beranastomose ang membangun hambatan (barrier) bagi pergerakan molekul-molekul dari lumen ke ompartemen lateral ekstrasel.
  • Zonula adherens atau “intermediate junction” terdapat tepat di bawah zonula ccludens, berfungsi sebagai struktur adhesif antar sel. Macula adherens atau desmosom” berfungsi mengikat sel. “Gap junction” atau nexus berfungsi melalukan ionion dan molekul-molekul kecil antar sel epitel yang berbatasan (Adelberg, 1996).

 

Morfologi Sel Trakea (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Batang tenggorokan atau trakea terletak di daerah leher didepan kerongkongan. Batang tenggorokkan berbentuk pipa dengan panjang 10 cm. dinding trakea terdiri atas 3 lapisan, lapisan dalam berupa epithel bersilia dan berlendir. Lapisan tengah tersusun atas cincin tulang rawan dan berotot polos. lapisan luar tersusun atas jaringan ikat. Cincin tulang rawan berfungsi untuk mempertahankan bentuk pipa dari batang tenggorokkan, sedangkan selaput lendir yang sel-selnya berambut getar berfungsi menolak debu dan benda asing yang masuk bersama udara pernapasan. Akibat tolakan secara paksa tersebut kita akan batuk atau bersin (Price SA, 2005)

Trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 – 20 lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot (Soepardi EA, Iskandar HN, 2001).

Apabila digambarkan secara berurut dari lumen ke arah luar dinding maka trakea dibangun oleh lapisan-lapisan sebagai berikut :

  1. Mukosa : terdiri atas epitel berlapis banyak palsu bersilia dengan sel-sel gada dan jaringan ikat yang mengandung kelenjar seromukus. Di dekat epitel banyak terdapat serabut-serabut elastin.
  2. Cincin rawan hialin yang terbuka di bagian dorsal
  3. Otot trakea : merupakan sel-sel otot polos yang tersusun transversal, terdapat di antara kedua ujung cincin rawan.
  4. Adventisia, berupa jaringan ikat kendur (Soepardi EA, Iskandar HN, 2001)

Pada cincin rawan terdapat bulu-bulu halus yang dapat menahan benda asing yang masuk bersama udara. Adanya cincin rawan ini sehingga batang tenggorokan selalu terbuka (Price SA, 2005).

Efek Kronik Formaldehid terhadap Manusia (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Paparan formaldehid kronik dapat menyebabkan kanker (Huff, 2001). United States Agency for Toxic Substances and Disease Registry (1999) menggolongkan formaldehid sebagai bahan karsinogen untuk manusia. Formaldehid merupakan xenobiotic yang dapat bersifat karsinogen bagi tubuh melalui paparan hirupan (inhalation) maupun paparan telanan (ingestion) (WHO, 1989)

Xenobiotic merupakan senyawa asing bagi tubuh. Secara sistemik akan dimetabolisme dalam hati dan diekskresikan ke luar tubuh melalui 2 fase reaksi perubahan yaitu hidroksilasi dan konjugasi. Reaksi hidroksilasi mengubah xenobiotic menjadi derivat xenobiotic terhidroksilasi yang lebih mudah larut air dengan dikatalisis oleh kelompok enzim monooksigenase atau sitokrom P450. Selanjutnya derivat xenobiotic terhidroksilasi hasil metabolisme fase I akan terkonjugasi dengan molekul asam glukuronat dan glutation (GSH S-transferase) untuk kemudian diekskresikan bersama urin atau getah empedu (WHO, 1989).

Apabila kedua fase reaksi metabolisme xenobiotic tersebut terganggu, maka xenobiotic tadi tidak dapat diekskresikan ke luar tubuh dan akan tertahan dalam jaringan adiposa. Xenobiotic ini akan menjadi senyawa xenobiotic reaktif yang berikatan secara kovalen dengan makromolekul sel, meliputi DNA, RNA dan protein. Senyawa ini akan menyebabkan cedera sel (kerusakan DNA). Cedera ini akan diperbaiki dengan mekanisme apoptosis dan reparasi DNA. Apabila cederanya mengenai gen supresor tumor p53, maka akan menyebabkan mutasi struktur DNA yang diturunkan dan akan terjadi disfungsi gen-gen bersangkutan menyebabkan penyimpangan pertumbuhan sel normal menjadi sel kanker (WHO, 1989).

Menurut Monticello et al. (1996), dan Kerns et al. (1983), paparan formaldehid dalam jangka waktu lama (kronik) menyebabkan tumor hidung pada tikus. Dan Nolodewo et al. (2007), melaporkan bahwa individu yang terpapar formaldehid mempunyai kemungkinan 16 kali lebih besar untuk menderita kanker nasofaring daripada individu yang tidak terpapar.

Selain dapat menyebabkan kanker, paparan kronik formaldehid juga dapat menyebabkan gangguan sistem reproduksi. Data dari Reproductive and Development Toxycants (1991) menyebutkan bahwa 30 bahan kimia (termasuk formaldehid) dapat mempengaruhi sistem reproduksi manusia, seperti gangguan menstruasi. Penelitian pada binatang yang pernah dilakukan juga membuktikan adanya gangguan pada spermatogenesis (ASTDR, 1999).

Efek Akut Formaldehid terhadap Manusia (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Formaldehid, baik dalam bentuk uap maupun larutan mempunyai efek yang besar terhadap kesehatan manusia. Formaldehid dapat menyebabkan iritasi lokal pada membran mukosa, termasuk mata, hidung, dan saluran pernapasan atas. Jika formaldehid mengenai kulit maka dapat menyebabakan iritasi dan dermatitis alergi. Sedangkan bila tertelan dapat menyebabakn iritasi saluran pencernaan (ATSDR, 1999).

Banyak penelitian mengenai efek formaldehid terhadap kesehatan manusia. Misalnya, paparan formaldehid (1-3 ppm) menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan atas (Weber-Tschopp et al., 1977; Kulle et al., 1987). Kebanyakan orang tidak bisa mentoleransi terhadap paparan yang lebih dari 5 ppm; diatas 10-20 ppm menyebabkan gejala yang memburuk dan terjadi pernapasan pendek (Feinman, 1988). Pada konsentrasi yang rendah, formaldehid sudah memberikan efek yang mengganggu kesehatan manusia. Sudah dapat dipastikan bahwa jika konsentrasi paparan formaldehid tersebut tinggi maka akan menimbulkan efek yang lebih hebat lagi bagi manusia. Konsentrasi yang tinggi dari formaldehid menyebabkan obstruksi hidung, edema paru, dyspnea, dan dada terasa sesak (Porter, 1975; Solomon dan Cochrane, 1984).

Penelitian yang dilakukan Weber-Tschopp et al. (1977), dimana 33 subjeknya diberikan paparan formaldehid antara 0,03-3,2 ppm selama 35 menit didapatkan hasil pada konsentrasi 1,2 ppm menyebabkan iritasi mata dan hidung, konsentrasi 1,7 ppm frekuensi mengedip menjadi sering, dan konsentrasi 2,1 ppm menyebabkan iritasi tenggorokan.

Berikut ini adalah gejala yang ditemukan akibat terpapar formaldehid akut (ATSDR, 1999) :

  1. CNS, gejalanya adalah malaise, sakit kepala, gelisah, mudah marah, kelemahan ketrampilan, gangguan memori dan keseimbangan.
  2. Respirasi, gejalanya adalah iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, nyeri dada, napas pendek, dan wheezing. Konsentrasi yang tinggi menyebabkan inflamasi pada saluran pernapasan bawah.
  3. Metabolisme, adanya akumulasi dari asam format dalam tubuh menyebabkan ketidakseimbangan asam-basa dan menyebabkan ketidakseimbangan tekanan osmotik akibat absorpsi metanol.
  4. Sistem imun, pada orang yang sensitif jika terjadi inhalasi dan kontak kulit dapat menyebabakn iritasi kulit, reaksi asma, dan reaksi anafilaksis.
  5. Gastrointestinal, tertelannya larutan formaldehid dapat menyebabkan cedera esofagus dan lambung (karena formaldehid bersifat korosif). Mual, muntah, diare, nyeri abdomen, dan ulserasi dan perforasi orofaring, epiglotis, dan esofagus.
  6. Mata, pada konsentrasi rendah menyebabakan iritasi mata yang dapat berkurang dalam beberapa menit setelah terpapar. Terkena larutan formaldehid pada mata menyebabkan ulserasi kornea, permukaan mata menjadi kotor, kematian sel-sel permukaan mata, perforasi, dan bahkan kehilangan penglihatan secara permanen.
  7. Kulit, menyebabakn iritasi kulit dan kulit terbakar. Pada orang yang sensitif, paparan formaldehid yang rendah pun dapat menyebabkan dermatitis.

 

Efek Formaldehid (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Formaldehid merupakan salah satu bahan kimia yang banyak diteliti saat ini karena toksisitasnya mempengaruhi kesehatan manusia. Toksisitas yang dihasilkan formaldehid bergantung dengan jenis formaldehid. Terdapat berbagai jenis formaldehid, yaitu jenis hirupan (inhalation) berbentuk uap dan jenis telanan (ingestion) berupa pengawet/komponen minuman atau makanan (National Academy of Sciences, 2007).

Toksisitas formaldehid dapat melalui hirupan (inhalation) dan atau telanan (ingestion). Paparan formaldehid yang paling banyak terjadi adalah paparan yang melalui hirupan (inhalation) (Kulle, 1993). Paparan hirupan (inhalation) formaldehid dapat menyebabkan iritasi lokal pada membran mukosa, termasuk mata, hidung, dan saluran pernapasan atas (Zwart et al., 1988; Gardner et al., 1993). Paparan hirupan (inhalation) formaldehid pada mata menyebabkan kongesti konjungtiva, kontraksi pupil, dan lakrimasi. Biasanya gejala tersebut berkurang dalam 24 jam. Gejala yang timbul bergantung pada lamanya terkena paparan dan konsentrasi formaldehid. Pajanan uap formaldehid terhadap mata dengan konsentrasi yang tinggi dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan opasifikasi kornea bahkan sampai hilangnya penglihatan. Sedangkan pada konsentrasi rendah menghasilkan gejala iritasi dan perasaan tidak nyaman (ATSDR, 1999). Paparan hirupan (inhalation) formaldehid yang lebih tinggi juga dapat menyebabkan inflamasi saluran pernapasan bawah, inflamasi bronkus, peradangan paru-paru, dan akumulasi cairan dalam paru-paru (ATSDR, 1999).

Uap formaldehid sangat iritatif terhadap membran mukosa baik pada binatang maupun manusia (Tomlin, 1994). Apabila terkena mata maka akan menyebabkan gejala seperti iritasi dan lakrimasi (Boysen et al., 1990). Dinsdale et al. (1993), yang memaparkan uap formaldehid 10 ppm selama 4 hari pada tikus dan Monticello et al. (1989), melakukan penelitian terhadap monyet yang dipaparkan uap formaldehid 6 ppm selama 6 minggu menyebabkan gejala lakrimasi dan konjungtiva hiperemis. Hal tersebut dikarenakan paparan uap formaldehid menyebabkan pengeringan pada kornea dan konjungtiva.  Epitel konjungtiva juga memiliki banyak ujung saraf sensorik dari pleksus saraf di lamina propria sehingga sensitivitasnya tinggi (Junqueira et al., 1992). Morgan et al. (1986), juga melaporkan bahwa terdapat discharge pada mata tikus yang terpapar formaldehid 2 ppm selama 3 minggu.

Selain melalui paparan hirupan (inhalation), formaldehid juga bisa menjadi toksik akibat paparan telanan (ingestion). Apabila formaldehid tertelan maka menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan karena formaldehid bersifat korosif terhadap saluran pencernaan, biasanya terjadi pada esofagus. Kline (1925) melaporkan bahwa menelan formaldehid (konsentrasi larutan 89 ml) dapat menyebabkan kematian. Sedangkan menurut ATSDR (1999), menelan larutan formaldehid sebanyak 30 ml (mengandung 37% formaldehid) dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa.

Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas formaldehid adalah jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu, dan frekuensi pemaparan. Efek toksik yang muncul adalah akibat dari formaldehid mencapai tempat yang sesuai dalam tubuh pada konsentrasi dan lama waktu yang cukup untuk menghasilkan manifestasi toksik. Reaksi dari masing-masing individu berbeda terhadap pemaparan formaldehid, karena diantara individu tersebut ada yang sensitif dan tidak (National Academy of Sciences, 2007).

Adanya konsentrasi formaldehid di atas nilai ambang batas (NAB) dapat menimbulkan efek terhadap kesehatan. Nilai ambang batas (NAB) atau Threshold Limit Value (TLV) adalah konsentrasi zat-zat kimia di udara yang menggambarkan suatu kondisi dimana hampir semua yang terpapar berulang kali, hari demi hari tidak menimbulkan efek yang merugikan. NAB digunakan sebagai pedoman dalam pengendalian bahaya-bahaya kesehatan (Naria, 2004).

Secara detail NAB terbagi atas 3 kategori (Kusnoputranto, 1995). Pertama adalah Threshold Limit Value-Time Weight Average (TLV-TWA), yaitu konsentrasi rata-rata untuk 8 jam kerja normal dan 40 jam seminggu, dimana hampir seluruh yang terpapar berulang-ulang, hari demi hari tanpa timbulnya gangguan yang merugikan. Kedua, Threshold Limit Value-Short Term Exposure Limit (TLV-STEL), yaitu konsentrasi dimana orang dapat terpapar terus-menerus untuk jangka pendek yaitu 15 menit, tanpa mendapat gangguan berupa iritasi, kerusakan jaringan yang menahun dan irreversible dimana dapat meningkatkan kecelakaan atau mengurangi efisiensi. Dan yang ketiga adalah Threshold Limit Value-Ceiling (TLV-C) yaitu konsentrasi yang tidak boleh dilampaui setiap saat.

Terdapat perbedaan mengenai nilai ambang batas (NAB) formaldehid. Banyak organisasi yang mempunyai nilai spesifik tersendiri dari NAB formaldehid seperti American Conference of Govermental Industrial Hygienists (ACGIH), National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), National Aeronautics and Space Administration (NASA), Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), Occupational Safety and Health Administration (OSHA), dan National Research Council (NRC). Untuk lebih jelasnya mengenai NAB formaldehid dapat dilihat pada tabel 3 (National Academy of Sciences, 2007).

Di Indonesia, berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi No. SE-02/Men/1978 nilai ambang batas (NAB) formaldehid adalah 2 ppm (nilai KTD). Nilai KTD berarti kadar tertinggi yang diperkenankan atau disebut ceiling. Menurut ASHARE (American Society For Healting, Refrigerating and Air-Conditioning Enginer) untuk indoor air quality adalah 0,1 ppm untuk 8 jam kerja (TLV-TWA) dan 0,1 ppm (TLV-C). OSHA, untuk TLV-TWA adalah 3 ppm dan TLV-C adalah 5 ppm. NIOSH, untuk     TLV-TWA adalah 0,016 ppm dan TLV-C adalah 0,1 ppm. Dan menurut ACGIH, untuk TLV-C adalah 0,3 ppm, sedangkan NIB untuk TLV-C adalah 2 ppm (Naria, 2004).

Manfaat Formaldehid (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Formaldehid adalah bahan kimia yang ditemukan oleh Butlerov pada tahun 1859, dan telah digunakan secara komersial sejak tahun 1900-an. Dalam perdagangan, umumnya formaldehid berbentuk larutan yang mengandung      30%-56% formaldehid dengan 0,5%-15% metanol yang disebut formalin (Gerberich et al., 1980). Sekitar 30 tahun sejak ditemukannnya formaldehid, bidang kesehatan juga menggunakan formaldehid sebagai disinfektan dan pengawet jaringan atau organ anatomi (Suruda et al., 1993; Bedino, 2004). Dan telah diresmikan sebagai larutan pembalsam sejak tahun 1900 (Plunkett dan Barbella, 1977).

Formaldehid sengaja diproduksi manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam berbagai bidang, misalnya bidang industri. Secara industri, formaldehid disintesis dari hasil oksidasi katalitik metanol (ATSDR, 1999). Katalis yang paling sering dipakai adalah logam perak atau campuran oksida besi dan molibdenum serta vanadium. Dalam sistem oksida besi (proses Formox), reaksi metanol dan oksigen terjadi pada 250° C dan menghasilkan formaldehid

Metabolisme Formaldehid (skripsi, tesis, dan disertasi)

Formaldehid sebenarnya sudah terdapat dalam tubuh manusia dalam jumlah kecil. Di dalam tubuh, formaldehd dibentuk dari serine, glycine, methione dan coline melalui proses demetilasi dari N, O, dan S-methyl (IPCS, 2002). Sedangkan formaldehid yang terinhalasi dari luar akan diserap dan mengendap dalam saluran pernapasan karena formaldehid mudah larut dengan air dan sangat reaktif (Heck et al., 1983).

Setelah dibsorbsi formaldehid akan termetabolisme dengan cepat. Ada beberapa cara metabolisme formaldehid (Kallen dan Jencks, 1966). Yang pertama melalui one-carbon pool pathway; terjadi biosintesis protein dan asam nukleat melalui reaksi langsung dengan tetrahydrofolate. Cara yang kedua melalui konjugasi glutation dan oksidasi oleh formaldehyde dehidrogenase. Dan cara yang ketiga melalui oksidasi oleh enzim katase peroksisomal. Sebagian dari hasil metabolisme akan didistribusikan ke dalam sel melalui darah dan sebagian lainnya akan dibuang melalui urin dan ketika bernapas dalam bentuk CO2 (Keefer et al., 1987).

Cara metabolisme formaldehid yang terkenal adalah  melalui konjugasi glutation dan oksidasi oleh formaldehyde dehydrogenase. Melalui paparan hirupan (inhalation), formaldehid mudah bereaksi di lokasi sentuhan (the site of contact) yang kemudian diabsorpsi oleh saluran pernapasan. Sebagian formaldehid yang mengenai mukosa saluran pernapasan akan terhidrasi menjadi methylene glycol dan sebagian lagi tetap menjadi formaldehid bebas. Kedua formaldehid tersebut masuk ke dalam lapisan epitel. Dalam lapisan epitel, formaldehid berikatan dengan glutation menjadi S-hydroxymethylglutathione. Selanjutnya, S-hydroxymethylglutathione dioksidasi menjadi S-formylglutathione oleh formaldehyde dehydrogenase (ADH3). Hidrolisis dari S-formylglutathione menghasilkan asam format dan glutation. Asam format akan dieliminasi melalui urin, feses, dan melalui hembusan napas (CO2). Adanya glutation dan formaldehyde dehydrogenase (ADH3) di dalam epitel saluran pernapasan mempengaruhi jumlah formaldehid dalam darah. Ketika glutation termetabolisme, formaldehid bebas yang ada dalam sel akan berikatan dengan DNA, RNA, dan protein melalui hubungan silang (cross-linked). Senyawa ini akan menyebabkan cedera sel (TSD, 2008).

Formaldehyde dehydrogenase (ADH3) merupakan pusat metabolisme formaldehid dalam tubuh. S-nitrosoglutathione (GSNO) merupakan bronkodilator dalam tubuh dan reservoir dari aktivitas nitric oxide (NO) (Jensen et al., 1998). Dalam suatu sel, formaldehid muncul karena rangsangan dari Formaldehyde dehydrogenase (ADH3) yang diperantarai oleh reduksi S-nitrosoglutathione (GSNO) (Staab et al., 2008).

Sifat Fisik dan Kimia Formaldehid (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Formaldehid merupakan aldehid yang sangat reaktif dan tersusun dari unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksida dengan rumus umum CH2O (Fielder et al., 1981). Formaldehid adalah bahan kimia yang mudah terbakar. Pada suhu normal, formaldehid berbentuk gas tidak berwarna dan mempunyai bau yang sangat tajam sehingga membuat sesak (Budavari et al., 1989). Bau formaldehid sudah dapat terdeteksi pada konsentrasi di bawah 1 ppm. Terdapat perbedaan ambang batas konsentrasi dari bau formaldehid yang dapat terdeteksi. Menurut ATSDR (1999) ambang batasannya adalah antara 0,05-0,5 ppm. Sedangkan menurut Gerberich et al. (1994), berkisar antara 0,06-0,5 ppm.

Formaldehid mudah larut dengan air, alkohol, dan pelarut polar lain, tapi sukar larut apabila dengan larutan non-polar. Metanol atau bahan lain biasanya ditambahkan kedalam larutan formaldehid sebagai stabilitator dalam menghambat polimerasasi. Diatas suhu 150o C formaldehid akan terdekomposisi menjadi metanol dan karbon dioksida (CO2). Pada tekanan atmosfer, formaldehid mudah mengalami foto-oksidasi dengan cahaya matahari. Reaksi itu terjadi dengan cepat (WHO, 1989).

Dalam ilmu biologi, formaldehid bisa terhidrasi dengan air, bereaksi dengan hidrogen aktif seperti yang terdapat pada ammonia, amines, amide, thiols, phenols dan nitro-alkanes, dan terkondensasi dengan hidrogen klorida di dalam air menjadi chloromethyl ether (Weiss et al., 1979).

Infeksi Nifas (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia dalam masa nifas .Masuknya kuman-kuman dapat terjadi dalam kehamilan, waktu persalinan dan nifas. Demam nifas adalah demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Disebut juga dengan morbiditas puerpuralis. Menurut Mochtar (1989) demam nifas  adalah kenaikan suhu badan sampai 38OC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama post partum, kecuali pada hari pertama.

Sedangkan menurut Joint Committee on Maternal Welfare morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu sampai 38OC atau lebih, selama 2 hari pada 10 hari pertama post partum. Kecuali jika terjadi demam pada hari pertama. Suhu diukur dari mulut sedikit-dikitnya 4 kali sehari.

 

Berbagai penyebab demam  nifas bermacam macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan , seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh), dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir.

Kuman kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah:

  1. Streptococcus haemoliticus aerobic.

Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari penderita lain, alat alat yang tidak steril, tangan penolong, dan sebagainya.

  1. Staphylococcus aureus.

Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit .

  1. Escherichia coli.

Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi terbatas.

 

 

  1. Clostridium welchii.

Kuman anaerobik yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit  (Wiknjosastro.1992).

Infeksi nifas dapat di bagi atas 2 golongan, yaitu:

  1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium.
  2. Penyebaran dari tempat tersebut melalui vena, aliran limfe dan permukaan
    1. Infeksi perineum, vulva, vagina, dan serviks:
      1. Gejalanya berupa rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, kadang-kadang perih saat kencing .
      2. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38OC dan nadi di bawah 100 per menit.

Bila luka yang terinfeksi, tertutup jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39–40OC,  kadang – kadang disertai menggigil .

 

 

  1. Endometritis :
    1. Kadang -kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah, sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu .
    2. Uterus agak membesar , nyeri pada perabaan.
  2. Septikemia :
    1. Sejak permulaan, pasien sudah sakit dan lemah .
    2. Sampai 3 hari pasca persalinan suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil .
    3. Suhu sekitar 39-40OC, keadaan umum cepat memburuk, nadi cepat (140-160 kali per menit atau lebih) .
    4. Pasien dapat meninggal dalam 6-7 hari pasca persalinan .

Hemaglobin dan Hematokrit (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Evaluasi kadar hemoglobin dan hematokrit merupakan bagian penting dalam pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan dilakukan secara rutin pada pasien yang melakukan persalinan secara bedah sesar. Kadar hemoglobin menunjukkan perkiraan kemampuan kapasitas angkut oksigen. Isitilah hematokrit sering digunakan untuk menunjukkan presentasi jumlah eritrosit dari keseluruhan sel darah (Anne, 1998).

Selama kehamilan volume darah meningkat sampai 50% dan peningkatan eritrosit kurang dari 33%. Peningkatan relatif volume plasma hematokrit yang lebih rendah. Nilai normal hemoglobin pada wanita hamil adalah lebih dari 10,5g/dl (Incorpi, 2007).

Bedah Sesar (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Pengertian bedah sesar secara umum adalah melahirkan bayi,plasenta dan selaput ketuban melalui insisi dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histerotomi) (Cunningham et al, 2005). Sedangkan menurut Rustam Mochtar, (1992). Bedah sesar adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut.

Menurut Sarwono (1991).Bedah sesar adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram

Bedah sesar merupakan operasi yang paling banyak dilakukan terhadap wanita. Operasi bedah sesar pada manusia hidup dilakukan pada tahun 1610. Dilaporkan pasien meninggal 25 hari kemudian. Sejak saat itu mulai dilakukan beberapa penelitian metode bedah sesar untuk mendapatkan prosedur operasi yang aman.

Selama 35 tahun terakhir tindakan bedah sesar meningkat dari 5% menjadi 25%. Dalam kurun waktu tersebut terjadi penurunan angka kematian maternal di dunia dari 300 menjadi 10 per 100.000 kelahiran hidup. Berikut ini kondisi yang sering meningkatkan frekuensi bedah sesar yaitu riwayat bedah sesar (35%) partus tak maju (30%) presentasi bokong (12%) gawat janin (14%) dan karena alasan lain (14%) (Anonim, 2005; Harish, 2005; Incorpi, 2007).

Bedah sesar dilakukan pada kasus dimana persalinan vaginal akan meningkatkan risiko terhadap ibu, janin atau keduanya. Terdapat indikasi maternal, fetal atau keduanya. Indikasi maternal meliputi pendarahan antepartum oleh plasenta previa. Indikasi fetal meliputi gawat janin, malpresentasi, kelainan kongenital seperti hidrosefalus, penyakit infeksi ibu yang dapat ditularkan ke fetus melalui persalinan vaginal seperti herpes aktif dan infeksi HIV sedang indikasi fetal dan maternal meliputi plasenta previa dan disproporsi kepala panggul (Cunningham, 2001; Incorpi, 2007).

Terdapat beberapa teknik operasi bedah sesar. Teknik operasi yang digunakan tergantung dari faktor situasi klinis yang dihadapai saat operasi dan ketertarikan operator terhadap teknik operasi.

Beberapa jurnal banyak melaporkan teknik operasi bedah sesar mulai dari insisi abdomen, cara insisi uterus, melahirkan plasenta, penutupan insisi uterus, dan penutupan peritonium.

Insisi abdomen meliputi insisi vertikal (linea mediana dan para median) dan transversal (Panensteal, Maylard, Cherney dan Joel Cohen). Insisi linea mediana yaitu  di antara umbilikus dan simpisis pubis. Insisi linea mediana mempunyai keuntungan lebih cepat mencapai cavum abdomen dan jumlah pendarahan lebih sedikit. Pada insisi linea mediana sering terjadi dehisiensi setelah opearasi dan hernia pada tempat insisi (Cunigham, 2001; Hofmeyr, 2004;Incorpi, 2007).

Tipe insisi uterus meliputi insisi tranversal pada segmen bawah rahim (SBR), insisi vertical (klasik), irisan T terbalik dan irisan J. Insisi transversal pada SBR merupakan insisi paling banyak digunakan.

Insisi ini lebih menguntungkan karena daerah SBR vaskularisasi lebih sedikit sehingga jumlah pendarahan lebih sedikit dan lebih mudah dijahit. Komplikasi operasi insisi SBR lebih sedikit jumlah pendarahan minimal dan insidensi dehidensi atau ruptur uterus lebih sedikit.

Insisi vertikal klasik irisan pada corpus uteri digunakan pada keadaan klinis tertentu seperti letak lintang, janin preterm dan plasenta previa anterior.

Insisi klasik jarang digunakan karena risiko pendarahan lebih banyak, penutupan lebih lama, resiko dehisiensi atau rupture uteri pada kehamilan berikutnya lebih tinggi. Pada keadaan tertentu operator kadang perlu melebarkan insisi vertical SBR untuk memudahkan bayi lahir. Pelebaran insisi pada pertengahan SBR yaitu irisan T terbalik, sadang pelebaran vertical pada ujung SBR yaitu irisan J (Incorpi, 2007; Hofmeyr, 2004; Gates, 2004).

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa bedah sesar adalah irisan yang dilakukan pada dinding abdomen dan uterus yang utuh dengan tujuan untuk melahirkan bayi pada kehamilan cukup bulan.

Pengertian Prestasi Akademik (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Penilaian terhadap hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana siswa telah mencapai sasaran belajar, inilah yang disebut sebagai prestasi akademik. Winkel (dalam Christantie, 2007) mengatakan bahwa proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan. Adanya perubahan tersebut tampak dalam prestasi akademik yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh guru. Melalui prestasi akademik siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.

Menurut Poerwodarminto (dalam Wahyuningsih, 2004), yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan oleh individu. Sedangkan prestasi akademik itu sendiri diartikan sebagai prestasi yang dicapai oleh seorang siswa pada jangka waktu tertentu dan di catat dalam buku rapor sekolah.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan oleh Winkel (dalam Christantie, 2007) dan Poerwodarminto (dalam Wahyuningsih, 2004) maka dapat di tarik kesimpulan mengenai pengertian prestasi akademik yaitu suatu cara yang dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap hasil-hasil belajar siswa yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu dan di catat dalam buku prestasi siswa atau buku rapor siswa di sekolah.

Dalam penelitian ini menggunakan parameter Hamilton Anxiety Rating Scale. Dalam Hamilton Anxiety. Dimana Rating Scale mempunyai lima penilaian yaitu: 0: tidak ada gejala (keluhan); 1: gejala ringan (satu gejala dari pilihan yang ada); 2: gejala sedang (separuh dari gejala yang ada); 3: gejala berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada); 4: gejala sangat berat (semua gejala ada). Hasil penilaian tersebut digunakan untuk menentukan tingkat atau derajat kecemasan pasien sebagai berikut: (1) Tidak ada kecemasan, bila skor penilaian < 14; (2) Kecemasan ringan, bila hasil skor penilaian antara 14-20; (3) Kecemasan sedang, bila hasil skor penilaian antara 21-27; (4) Kecemasan berat, bila hasil skor penilaian antara 28-41; dan (5) Kecemasan berat sekali, bila skor penilaian antara 42-56. (Hawari, 2007).

Faktor-Fakor Kecemasan Akademik (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Trujillo & Hadfield (Peker, 2009) menyatakan bahwa penyebab kecemasan akademik dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu sebagai berikut :

  1. Faktor kepribadian (psikologis atau emosional)

Misalnya perasaan takut siswa akan kemampuan yang dimilikinya (self-efficacy belief), kepercayaan diri yang rendah yang menyebabkan rendahnya nilai harapan siswa (expectancy value), motivasi diri siswa yang rendah dan sejarah emosional seperti pengalaman tidak menyenangkan dimasa lalu yang berhubungan dengan matematika yang menimbulkan trauma.

  1.  Faktor lingkungan atau sosial

Misalnya kondisi saat proses belajar mengajar akademik di kelas yang tegang diakibatkan oleh cara mengajar, model dan metode mengajar guru akademik. Rasa takut dan cemas terhadap akademik dan kurangnya pemahaman yang  dirasakan para guru akademik dapat terwariskan kepada para siswanya (Wahyudin, 2010). Faktor yang lain yaitu keluarga terutama orang tua siswa yang terkadang memaksakan anak-anaknya untuk pandai

  1. Faktor intelektual

Faktor intelektual terdiri atas pengaruh yang bersifat kognitif, yaitu lebih

mengarah pada bakat dan tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh Ashcraft & Kirk (dalam Johnson, 2003)

menunjukkan bahwa ada korelasi antara kecemasan akademik dan kemampuan verbal atau bakat serta Intelectual Quotion (IQ).

Gejala Kecemasan (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Gejala awal sindrom kecemasan dapat dikenali dengan memperhatikan adanya keluhan psikis dan somatis sebagai berikut (Mudjaddid, 2006):

  1. Gejala psikis.

Penampilan berubah, sulit konsentrasi, mood berubah, mudah marah, cepat tersinggung, gelisah, tak bisa diam, timbul rasa takut.

  1. Gejala somatis.

Sakit kepala, gangguan tidur, keluhan berbagai sistem, misal sistem kardiovaskular, sistem pernafasan, gastrointestinal dan sebagainya

Selain gejala-gejala tersebut, menurut Kartini (2000), beberapa simptom kecemasan yang khas antara lain:

  1. Terdapat hal-hal yang mencemaskan hati; hampir setiap kejadian menyebabkan timbulnya rasa takut dan cemas.
    1. Disertai emosi-emosi kuat dan sangat tidak stabil
  2. Diikuti oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi, dan delution of persecution (delusi dikejar-kejar)
    1. Sering merasa mual dan muntah
    2. Selalu dipenuhi ketegangan-ketengangan emosional dan bayangan-bayangan kesulitan yang imajiner.

Pada pemeriksaan fisik terdapat nadi yang sedikit lebih cepat (biasanya tidak lebih dari 100 per detik), pernapasan yang cepat, kadang-kadang hiperventilasi dengan keluhan-keluhan yang menyertainya (Maramis, 2005). Penderita dengan gangguan kecemasan umum dapat pula menunjukkan disfungsi seksual atau berkurangnya rangsangan seksual (Kendurkar dan Kaur, 2008).

 

Pengukuran Kecemasan Akademis (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Salah satu instrumen pengukur kecemasan Trait Manifest Anxiety Scale (TMAS) dari Janet Taylor. Tingkat kecemasan akan diketahui dari tinggi rendahnya skor yang didapatkan. Makin besar skor maka tingkat kecemasan makin tinggi, dan makin kecil skor maka tingkat kecemasan makin rendah. Kuesioner TMAS berisi 50 butir pertanyaan , dengan 2 pilihan ”ya” dan ”tidak”. Responden menjawab sesuai dengan keadaan dirinya dengan memberi tanda (X) pada kolom jawaban ya atau tidak. Jawaban ”ya” diberi skor 1 dan jawaban ”tidak” diberi skor 0. Kemudian seluruh skor dijumlahkan dan dicari rata-ratanya lalu dibandingkan dan diolah dengan menggunakan chi square. TMAS mempunyai derajat validitas yang cukup tinggi, akan tetapi dipengaruhi juga oleh kejujuran dan ketelitian responden dalam mengisinya (Azwar, 2007).

Pengukuran kecemasan lain dapat menggunakan tes L-MMPI untuk menghindari terjadinya perhitungan hasil yang mungkin invalid karena kesalahan atau ketidakjujuran responden. L-MMPI (Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory) merupakan tes kepribadian yang terbanyak penggunaannya di dunia sejak tahun 1942. Dikembangkan oleh Hathaway (psikolog) dan Mc Kinley (psikiater) dari Universitas Minnesota, Mineapolis, USA sejak tahun 1930-an (Butcher, 2005). Skala L dipergunakan untuk mendeteksi ketidakjujuran subjek termasuk kesengajaan subyek dalam menjawab pertanyaan supaya dirinya terlihat baik (Graham, 2005). Tes ini berfungsi sebagai skala validitas untuk mengidentifikasi hasil yang mungkin invalid karena kesalahan atau ketidakjujuran subjek penelitian. Tes terdiri dari 15 soal dengan jawaban ”ya” atau ”tidak” atau ”tidak menjawab” dengan nilai batas skala adalah 10, artinya apabila responden mempunyai nilai ≥ 10 maka jawaban responden tersebut dinyatakan invalid.

Pengertian Kecemasan Akademis (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Menurut Valiante dan Pajares (2009) menyatakan kecemasan akademis sebagai perasaan tegang dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, perasaan tersebut mengganggu dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademis. Ottens (2010) menjelaskan bahwa kecemasan akademis mengacu pada terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku karena kemungkinan performa yang ditampilkan siswa tidak diterima secara baik ketika tugas-tugas akademis diberikan.

Perasaan berbahaya, takut, atau tegang sebagai hasil tekanan di sekolah disebut juga sebagai kecemasan akademis. Kecemasan akademis paling sering dialami selama latihan yang bersifat rutinitas dan diharapkan siswa dalam kondisi sebaik mungkin saat performa ditunjukkan, serta saat sesuatu yang dipertaruhkan bernilai sangat tinggi, seperti tampil di depan orang lain. Cara seseorang merasakan kecemasan dapat terjadi secara bertahap dari pertama kali kecemasan tersebut muncul, contohnya kegugupan saat harus membaca di depan kelas dengan suara keras. Gangguan serius yang dialami seseorang menegaskan terjadinya kepanikan dan mengalami kesulitan untuk berfungsi secara normal (O’ Connor, 2007).

Chaplin (2000) mengatakan bahwa kecemasan adalah perasaan berisi campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Atkinson (2004) menyatakan bahwa ketakutan akan kegagalan akan memunculkan kecemasan. Individu mengalami ketakutan-ketakutan yang dialami individu berdasarkan atas ketidakmampuan memenuhi dorongan-dorongan dalam diri individu yang dapat memunculkan ketakutan akan kegagalan di masa datang

Dapat disimpulkan bahwa kecemasan akademis adalah dorongan pikiran dan perasaan dalam diri individu yang berisikan ketakutan akan bahaya atau ancaman di masa yang akan datang tanpa sebab khusus, sehingga mengakibatkan terganggunya pola pemikiran dan respon fisik serta perilaku sebagai hasil tekanan dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademis

Waktu Cuci Tangan Bersih Pakai Sabun (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Mencuci tangan umumnya dilakukan saat sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah memegang daging mentah, sebelum dan setelah menyentuh orang sakit, sesudah menggunakan kamar mandi, setelah batuk atau bersin atau membuang ingus, setelah mengganti popok atau pembalut, sebelum dan setelah mengobati luka, setelah membersihkan atau membuang sampah, setelah menyentuh hewan atau kotoran hewan.

Petunjuk Cara Cuci Tangan Bersih Pakai Sabun (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Mencuci tangan yang benar harus menggunakan sabun dan di bawah air yang mengalir. Sedangkan langkah-langkah teknik mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut.

  1. Basahi tangan dengan(skripsi, tesis, dan disertasi)

    air di bawah kran atau air mengalir.

  2. Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan. Akan lebih baik bila sabun mengandung antiseptik.
  3. Gosokkan kedua telapak tangan.
  4. Gosokkan sampai ke ujung jari.
  5. Telapak tangan tangan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya) dengan jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan kiri. Gosok sela-sela jari tersebut. Lakukan sebaliknya.
  6. Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling mengunci.
  7. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak kiri dengan gerakan berputar. Lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri.
  8. Gosok telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan gerakan kedepan, kebelakang dan berputar. Lakukan sebaliknya.
  9. Pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri dan lakukan gerakan memutar. Lakukan pula untuk tangan kiri.
  10. Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir.
  11. Keringkan tangan dengan menggunakan tissue dan bila menggunkan kran, tutup kran dengan tissue.
  12. Mengeringkan dengan tissue lebih baik dibandingkan mengeringkan tangan menggunakan mesin pengering tangan yang umum ada di mal. Karena mesin pengering tangan yang dipakai secara umum menampung banyak bakteri yang dapat menularkan ke orang lain.

Pengertian Cuci Tangan Bersih (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Menurut Tim Depkes (2007) mencuci tangan adalah membersihkan tangan dari segala kotoran, dimulai dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara tertentu sesuai dengan kebutuhan. Sementaraitu menurut Perry & Potter (2008), mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi. Cuci tangan adalah proses membuang kotoran dan debu secaram ekanik dari kulit kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air (Tietjen, et.al., 2009). Sedangkan menurut Purohito (2008) mencuci tangan merupakan syarat utama yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan keperawatan misalnya: memasang infus, mengambil spesimen. Infeksi yang di akibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau terjadi pada fasilitas pelayanan kesehatan. Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau terapeutik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit (Perry & Potter, 2006).

Mencuci tangan adalah membasahi tangan dengan air mengalir untuk menghindari penyakit, agar kuman yang menempel pada tangan benar-benar hilang. Mencuci tangan juga mengurangi pemindahan mikroba ke pasien dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yangberada pada kuku, tangan dan lengan (Schaffer, et.al., 2000). Cuci tangan harus dilakukan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat di kurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Tangan harus di cuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan. Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan.

Bentuk Perilaku Kesehatan (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respons organism atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut.Respons ini berbentuk 2 macam, yakni

  1. Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu dapat mencegah suatu penyakit tertentu meskipun ibu tersebut tidak membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi.
  2. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain untuk imunisasi.

Menurut Green (cit Notoatmodjo, 2007), kesehatan individu atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu faktor perilaku dan faktor non perilaku.  Selanjutnya faktor perilaku ditentukan oleh tiga kelompok faktor yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Faktor predisposisi (predisposing factors) mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial, dan unsure-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat serta system nilai yang dianut masyarakat.  Faktor pendukung (enabling factors) ialah tersedianya sarana pelayanan kesehatan, air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan bergizi, dan sebagainya.  Faktor pendorong (reinforcing factors) adalah sikap dan perilaku tokoh agama (toga), tokoh masyarakat (toma), sikap dan perilaku petugas kesehatan.

Pengertian Perilaku Kesehatan (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Sebelum menguraikan lebih lanjut mengenai perilaku kesehatan terlebih dahulu disampaikan pengertian perilaku itu sendiri.  Menurut Notoatmodjo (2010), perilaku dipandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau organisme yang bersangkutan.  Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah aktifitas dari manusia itu sendiri.

Sedangkan Sarwono (2007) mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.  Perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, emosi, berpikir dan lainnya, baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung.

Kesehatan berasal dari kata sehat mempunyai pengertian yang berbeda pada setiap kalangan.  Bagi masyarakat umu, sehat diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak sakit.  Batasan sehat ini juga berbeda pada tingkat strata sosial, tingkat usia, dan tingkat peran yang sedang dijalankan.  WHO mendefinisikan sehat sebagai status kenyamanan menyeluruh dari jasmani, mental dan sosial, dan bukan hanya tidak ada penyakit dan kecacatan.  Identifikasi beraneka aspek dari kesehatan merupakan sesuatu yang sangat bermakna dalam memandang dan meningkatkan kesadaran akan kompleksitasnya konsep sehat.

Pandangan sosiologis dan fisiologis mengajukan gagasan kesehatan sebagai dasar untuk mencapai potensi realistik seseorang sehingga memungkinkan ia melaksanakan potensi yang dimiliki untuk diaplikasikan dalam meningkatkan mutu hidup manusia.  Beberapa aspek kunci yang mewarnai pandangan WHO mengenai kesehatan adalah sehat merupakan keadaan sejauh mana seseorang individu atau suatu kelompok, pada satu sisi mampu merealisasi aspirasi dan memenuhi kebutuhan, dan pada sisi yang lain mengubah atau mengatasi persoalan dengan lingkungan.  Oleh karena itu sehat dilihat sebagai sumber untuk kehidupan sehari-hari, bukan tujuan dari penghidupan.

Berdasarkan uraian di atas, perilaku kesehatan merupakan respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan (Notoadmodjo, 1993).  Perilaku kesehatan yang diharapkan dari individu, keluarga, dan masyarakat adalah selalu memelihara dan meningkatkan status kesehatan, mencegah timbulnya penyakit, dan perilaku untuk mencari pertolongan kesehatan bila anggota keluarga sakit, serta memiliki respon positif terhadap keadaan lingkungan yang menjadi determinan keadaan kesehatan manusia.

 

Faktor Pembentukan Sikap (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Selain itu pembentukan sikap juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Pengalaman pribadi Untuk dapat menjadi dasar pembentukkan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
  2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berapiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting.
  3. Pengaruh kebudayaan Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup dalam budaya sosial yang sangat mengutamakan kehidupan berkelompok, maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme yang mengutamakan kepentingan perorangan.
  4. Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain. Mempunyai pengaruh besar dalam pembentukkan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
  5. Lembaga pendidikan dan lembaga agama Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukkan sikap dikarenakan keduanya meletakan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari Pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
  6. Pengaruh faktor emosional Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego (Azwar, 2005).

Fungsi Sikap (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Sikap mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan sehari-hari, yakni fungsi instrumental, fungsi penyesuaian, atau fungsi manfaat, pertahanan ego, pernyataan nilai, pengetahuan, dan fungsi penyesuaian.

  1. Fungsi instrumental, fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat yakni fungsi yang menyatakan bahwa individu dengan sikapnya berusaha untuk memaksimalkan hal-hal yang diinginkan dan meminimalkan hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan demikian, individu akan membentuk sikap positif terhadap hal-hal yang dirasakannya akan mendatangkan keuntungan dan membentuk sikap negatif terhadap hal-hal yang dirasanya akan merugikan dirinya.
  2. Fungsi pertahanan ego yakni sewaktu individu mengalami hal yang tidak menyenangkan dan dirasa mengancam egonya maka sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego yang akan melindunginya.
  3. Fungsi pernyataan nilai , yakni sikap akan mengekspresikan nilai yang ada dalam diri individu.
  4. Fungsi pengetahuan, yakni sikap berfungsi sebagai suatu skema, yaitu suatu cara strukturisasi agar dunia di sekitar tampak logis dan masuk akal. Sikap digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap fenomena luar yang ada (Azwar, 2007).

Ciri-Ciri Serta Komponen Sikap (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Sikap mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu :

  1. Sikap bukan di bawa sejak lahir, melainkan di bentuk atau di pelajari sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objek.
  2. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat di pelajari dan karena itu pula sifat dapat berubah-ubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap orang itu.
  3. Sikap tidak berdiri sendiri, senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek.
  4. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari data-data tersebut.
  5. Sikap mempunyai segi motivasi dan segi-segi perasaan.

Selain itu, Allport (2008) menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen pokok, antara lain :

  1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.
  2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
  3. Ke cenderungan untuk bertindak. Ketiga komponan ini secara bersama–sama membentuk sikap yang utuh(total attitude).

Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan,dan emosi memegang peranan penting (Notoadmojo, 2007). Seperti halnya pengetahuan, sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu :

  1. Menerima (receiving)

Diartikan bahwa orang mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.

  1. Merespon(responding)

Memberikan jawaban bila di tanya,mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap

  1. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi tingkat tiga.

  1. Bertanggung jawab (responsibility)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala resiko adalah sikap yang paling tinggi.

 

Pengertian Sikap (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan, sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable), maupun perasaan tidak mendukung (unfavorable) atau tidak memihak Berkowitz 1972 (cit. Azwar 2006).  Sedangkan Allport (cit. Sears, Freedman dan Peplau, 2009) mengemukakan bahwa sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya.  Definisi sikap ini dipengaruhi oleh tradisi tentang belajar, juga ditekankan bagaimana pengalaman masa lalu membentuk sikap, dengan kata lain sikap digambarkan sebagai kesiapan untuk selalu menanggapi dengan cara tertentu dan menekankan implikasi perilakunya.

Menurut Atkinson, Atkinson dan Hilgard (2009), sikap meliputi rasa suka dan tidak suka, mendekati atau menghindari situasi, benda, orang, kelompok dan aspek lingkungan yang dapat dikenal lainnya termasuk gagasan abstrak dan kebijakan sosial.  Di lain pihak Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.

Sedangkan menurut Sarwono (2007) sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon (secara positif atau negatif) terhadap orang, onbjek atau situasi tertentu.  Sikap mengandung suatu penilaian emosional (senang, benci, sedih) disamping komponen pengetahuan tentang objek serta aspek kecenderungan bertindak.  Sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut, melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya.

Menurut Robbins 1989 (cit. Muchlas, 2007) sikap merupakan suatu yang komplek, yang bisa didefinisikan sebagai pernyataan-pernyatan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan atau penilaian-penilaian mengenai objek tata nilai, peristiwa dan sebagainya.

Cara Memperoleh Pengetahuan (skripsi, tesis, dan disertasi)

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasaldari sumber, misalnya media massa, media cetak, media elektronik, petugaskesehatan, media poster, kerabat dekat, dan sebagainya.Menurut Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa banyak yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan, namun sepanjang sejarah caramendapatkan pengetahuan dikelompokkan menjadi 2 antara lain :

  1. Cara tradisional

Cara tradisional terdiri dari 4 cara, yaitu :

  • Trial and error.

Cara ini dipakai sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelumadanya peradaban. Pada waktu itu bila seseorang menghadapi persoalanatau masalah, upaya yang dilakukan hanya dengan mencoba- coba saja. Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil makadicoba kemungkinan yang lain sampai berhasil. Oleh karena itu, cara ini disebut dengan metode Trial (mencoba) dan Error (gagal/salah) ataumetode coba salah/coba-coba. Metode ini telah banyak jasanya, terutama dalam meletakkan dasar-dasar menemukan teori-teori dalam berbagaiilmu pengetahuan. Hal ini juga merupakan pencerminan dari upayamemperoleh pengetahuan, walaupun dalam taraf yang masih primitif. Disamping itu, pengalaman yang diperoleh melalui penggunakan metode ini banyak membantu perkembangan berpikir dalam kebudayaan manusia ke arah yang lebih sempurna.

  • .Kekuasaan atau Otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari banyak sekali kebiasaan dantradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui perantara, apakah yangdilakukan itu baik/tidak. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-olah diterma oleh sumbernya berbagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun non formal, ahli agama, pemegang pemerintah dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas/kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemimpin agama, maupun ahli pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).

 Pengertian Perilaku Kesehatan (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.  Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia atau seseorang yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.  Sebagian besar pengetahuan manusia itu diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2007).

Pengetahuan merupakan hasil dari usaha manusia untuk tahu. Sidi Gazalba, mengungkapkan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, insaf, mengerti, dan pandai (Salam. 2008).

Pengertian Kepatuhan (Teori Kepatuhan) (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Patuh adalah suka menurut perintah, taat pada perintah atau aturan. Sedangkan kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Seseorang dikatakan patuh berobat bila mau datang ke petugas kesehatan yang telah ditentukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan serta mau melaksanakan apa yang dianjurkan oleh petugas (Virawan, 2012).

Kepatuhan adalah bentuk dari pengaruh sosial dimana kegiatan atau tindakan individu merupakan respon dari perintah langsung individu lain sebagai figur otoritas (Mc Leod,2007). Kepatuhan terjadi saat seseorang yang memiliki otoritas memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Ketaatan melibatkan hirarki kekuasaan atau status. Oleh karena itu, orang yang memberikan perintah memiliki status lebih tinggi dari orang yang menerima pesanan.

Menurut Ulum dan Wulandari (2013) faktor yang mempengaruhi kepatuhan pada percobaan yang dilakukan Milgram adalah sebagai berikut.

  1. Status Lokasi

Menurut Shaw (1979) kepatuhan berhubungan dengan prestige  seseorang di mata orang lain. Demikian juga dengan lokasi. Apabila seseorang percaya bahwa lembaga yang menyelenggarakan penelitian adalah lembaga yang memiliki status keabsahan, prestise, dan kehormatan, maka lembaga atau organisasi tersebut akan dipatuhi oleh anggota organisasi. Prestige adalah reputasi atau pengaruh yang timbul dari keberhasilan, prestasi, pangkat, atau atribut lain yang menguntungkan. Perbedaan atau reputasi yang melekat pada seseorang atau sesuatu dan dengan demikian memiliki cap untuk orang lain atau untuk masyarakat.

  1. Tanggung Jawab Personal.

Bertanggung jawab menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Manusia yang bertanggung jawab adalah manusia yang dapat menyatakan diri sendiri bahwa tindakannya itu baik dalam arti menurut norma umum, sebab baik menurut seseorang belum tentu baik menurut pendapat orang lain. Dengan kata lain, tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

  1. Legitimasi Figur Otoritas (Keabsahan Figur Otoritas).

Legitimasi dapat diartikan seberapa jauh masyarakat mau menerima dan mengakui kewenangan, keputusan atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin. Faktor penting yang dapat menimbulkan kepatuhan sukarela adalah penerimaan seseorang akan ideologi yang mengabsahkan kekuasaan orang yang berkuasa dan membenarkan intruksinya.

  1. Status Figur Otoritas.

Status adalah tingkatan dalam sebuah kelompok. Status sosial adalah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok masyarakat (meliputi keseluruhan posisi sosial yang terdapat dalam kelompok masyarakat). Status dibagi menjadi 3 yaitu : Ascribed Status, Achieved Status, Assigned Status. Seseorang yang memiliki status dan kekusaan sosial lebih tinggi akan lebih dipatuhi daripada seseorang dengan status sosial yang sama.

  1. Dukungan Sesama Rekan.

Seseorang cenderung berperilaku sama dengan rekan atau sesama dalam lingkungan sosialnya. Orang cenderung bersama sesuai dengan kelompok sosialnya misalnya umur, jenis kelamin, ras, agama, hobi, pekerjaan cenderung bertindak dan berperilaku seperti anggota dari kelompok tersebut. Salah satu faktor penyebab ketidakpatuhan adalah kehadiran atau keberadaan rekan yang menolak untuk patuh (Encina, 2004).

Jika seseorang memiliki dukungan sosial dari teman mereka yang tidak patuh, maka kepatuhan juga cenderung berkurang. Lingkungan yang tidak patuh akan memudahkan seseorang untuk berbuat ketidakpatuhan sehingga sama dengan lingkungannya meskipun kepatuhan adalah sesuatu yang penting (Fernald, 2007).

  1. Kedekatan Figur Otoritas.

Bila seorang figur otoritas meninggalkan ruangan dan memberikan intruksinya lewat telepon, kepatuhan akan. Lebih mudah untuk melawan perintah dari figur otoritas jika mereka tidak dekat (Dewey, 2007). Sebaliknya, ketika sosok otoritas dekat maka ketaatan adalah cenderung lebih tinggi. Dengan kehadiran figur otoritas, maka dapat mengawasi secara langsung dan memberikan instuksi langsung mengenai prosedur dan juga arahan mengenai apa yang harus dilakukan.

Konsep Mengenai Safe Surgery (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Kesalahan dalam komunikasi adalah alasan umum untuk kesalahan di ruang operasi, serta selama perawatan pra dan pasca operasi. Jenis kegagalan komunikasi termasuk kegagalan untuk mendengarkan atau mengumpulkan informasi dari pasien, keluarga dan dokter lain serta kegagalan untuk menyampaikan informasi yang relevan untuk status pasien. Hasilnya bisa membahayakan atau bahkan berakibat kematian kepada pasien. Faktor yang paling banyak kontribusinya terhadap kesalahan semacam ini adalah tidak ada atau kurangnya proses pra bedah yang distandarisasi. Jika saja diterapkan secara disiplin maka kecelakaan kerja, kegagalan operasi dan permasalahaan lain yang menyangkut keselamatan pasien niscaya dapat dikurangi (Imanto, Jati& Mawarni, 2014).

WHO telah melakukan inisiatif untuk upaya keselamatan pasien (patient safety). Aliansi dunia untuk keselamatan pasien mulai bekerja pada Januari 2007 dan WHO mengidentifikasi tiga fase operasi yaitu sebelum induksi anestesi (“sign in“), sebelum sayatan kulit (“time out“), dan sebelum pasien meninggalkan ruang operasi (“sign out“).

  1. Sign in

Sign In, merupakan verifikasi pertama sesaat pasien tiba di ruang penerimaan atau ruang persiapan atau fase sebelum induksi anestesi koordinator secara verbal memeriksa apakah identitas pasien telah dikonfirmasi, prosedur dan sisi operasi sudah benar, sisi yang akan dioperasi telah ditandai, persetujuan untuk operasi telah diberikan, oksimeter pulse pada pasien berfungsi. Koordinator dengan profesional anestesi mengkonfirmasi risiko pasien apakah pasien ada risiko kehilangan darah, kesulitan jalan nafas, reaksi alergi

  1. Time out

Fase Time Out adalah fase setiap anggota tim operasi memperkenalkan diri dan peran masing-masing. Tim operasi memastikan bahwa semua orang di ruang operasi saling kenal. Sebelum melakukan sayatan pertama pada kulit tim mengkonfirmasi dengan suara yang keras mereka melakukan operasi yang benar, pada pasien yang benar. Mereka juga mengkonfirmasi bahwa antibiotik profilaksis telah diberikan dalam 60 menit sebelumnya..

  1. Sign out

Fase Sign Out adalah fase tim bedah akan meninjau operasi yang telah dilakukan. Dilakukan pengecekan kelengkapan spons, penghitungan instrumen, pemberian label pada spesimen, kerusakan alat atau masalah lain yang perlu ditangani. Langkah akhir yang dilakukan tim bedah adalah rencana kunci dan memusatkan perhatian pada manajemen post operasi serta pemulihan sebelum memindahkan pasien dari kamar operasi (Surgery & Lives, 2008).

Ketiga tahapan tersebut di atas dikenal dengan istilah “Surgical safety check list” sebagai alat untuk melakukan program Safe Surgery Save Lives tahun 2005. Pengertian dari surgical safety check list itu sendiri merupakan proses pengisian data pasien hasil dari pengkajian yang dilakukan oleh tim bedah sebelum pasien masuk ke kamar operasi, sebelum insisi dan setelah operasi pada formsurgical safety check list” (Imanto, Jati & Mawarni, 2014). Sedangkan menurut Safety & Compliance (2012) Surgical Safety Checklist adalah sebuah daftar periksa untuk memberikan pembedahan yang aman dan berkualitas pada pasien. Surgical safety checklist merupakan alat komunikasi untuk keselamatan pasien yang digunakan oleh tim profesional di ruang operasi. Tim profesional terdiri dari perawat, dokter bedah, anestesi dan lainnya. Tim bedah harus konsisten melakukan setiap item yang dilakukan dalam pembedahan mulai dari the briefing phase, the time out phase, the debriefing phase sehingga dapat meminimalkan setiap risiko yang tidak diinginkan

Konsep Mengenai Patient Safety (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Keselamatan pasien (patient safety) adalah prinsip fundamental pada pelayanan kesehatan. Setiap titik dalam proses pelayanan memiliki tingkatan ketidakamanan tertentu. Efek samping (adverse effect) dapat terjadi akibat masalah dalam praktek , produk , prosedur atau sistem. Perbaikan keselamatan pasien menuntut upaya kompleks seluruh sistem melibatkan berbagai tindakan dalam peningkatan kinerja, keamanan lingkungan dan manajemen risiko, termasuk pengendalian infeksi, keamanan penggunaan obat-obatan, keamanan penggunaan peralatan, praktek klinis yang aman dan lingkungan perawatan yang aman. (WHO, 2014).

Patient Safety terdiri dari 3 komponen, yaitu prinsip-prinsip dasar, pengetahuan, dan peralatan. Prinsip-prinsip tersebut adalah kecenderungan untuk terjadinya ketidakberesan adalah alami dan normal, bukan menjadi kesempatan untuk menemukan seseorang untuk dipersalahkan; keselamatan dapat ditingkatkan dengan menganalisis kesalahan dari kejadian penting, daripada berpura-pura tidak terjadi; dan manusia , mesin dan peralatan adalah bagian dari sistem, bagian-bagian komponen tersebut berinteraksi untuk membuat sistem aman atau tidak aman. Pengetahuansebagian besar mencontoh bidang-bidang berteknologi tinggi seperti transportasi massal dan instalasi tenaga nuklir, dan termasuk pemahaman tentang bagaimana kecelakaan terjadi dan bagaimana mencegahnya. Peralatan termasuk pelaporan kasus kritis,checklist, desain sistem yang aman, protokol komunikasi dan analisis sistematis risiko (Mellin-Olsen et al., 2010).

Patient Safety juga merupakan salah satu dimensi mutu yang saat ini menjadi pusat perhatian para praktisi pelayanan kesehatan dalam skala nasional maupun global. World Health Organization (WHO) memperkirakan sedikitnya ada setengah juta kematian akibat pembedahan yang sebenarnya bisa dicegah. Program Safe Surgery Saves Lives memperkenalkan dan melakukan uji coba surgical safety checklist sebagai upaya untuk keselamatan pasien dan mengurangi jumlah angka kematian di seluruh dunia. Tujuan utama dari surgical safety checklist untuk menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan di kamar operasi (Siagian, 2011).

Kebijakan di Indonesia belum ada yang khusus mengenai keselamatan pasien, walaupun sudah ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga pelayanan kesehatan pada umumnya yang juga memberikan efek dalam menjaga keselamatan pasien, sepertitelah dikeluarkan UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, walaupun isinya masih general namun memberikan arahan agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus prima.

Kemudian UU No 44 tahun 2009 mengenai Rumah Sakit yang didalamnya sudah mengatur mengenai keselamatan pasien yaitu pada pasal 2 yang berisi Rumah Sakit menekankan nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial. Kemudian pada pasal 13 juga menuntut bahwa setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi,standar pelayanan Rumah Sakit, standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien. Kemudian pada pasal 43yang secara khusus menekankan peran rumah sakit dalam keselamatan pasien.

Selain itu ada pula Kepmen nomor 496/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit,yang tujuan utamanya adalah untuk tercapainya pelayanan medis prima dirumah sakit yang jauh dari medical error dan memberikan keselamatan bagi pasien. Sedangkan dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial, juga memperlihatkan pentingnya untuk menjaga keselamatan manusia secara umum.

Penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup; memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian. Kemudianupaya kesejahteraan sosial diantaranya dengan rehabilitasi sosial yang bertujuan memulihkan dan mengembangkan kemampuanseseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.

Upaya-upaya konkrit lainnya yang khusus mengatur mengenai keselamatan pasien sudah dilakukan oleh organisasi profesi/perkumpulan yaitu Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) yang telah membentuk Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS), kemudian komite ini telah menyusun Panduan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien bagi staf RS untuk mengimplementasikan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. Kemudian KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) Depatemen Kesehatan RI telah menyusun Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang akan menjadi salah satu Standar Akreditasi Rumah Sakit. Hal ini mendorong rumah sakit untuk lebih memfokuskan ada keselamatan pasien itu sendiri, selama pasien itu masih menerima pelayanan kesehatan. Namun bagi pasien, peraturan mengenai keselamatan pasien bukan menjadi prioritas untuk diketahui. Kesembuhan dari penyakit yang dideritanya menjadi tujuan utama bagi pasien, maka dari itu pelayanan yang diharapkan adalah pelayanan kesehatan yang dapat memberikan kesembuhan bagi pasien. Maka peraturan yang sudah disusun oleh pemerintah seharusnya dapat disosialisasikan secara operasional seperti peraturan di rumah sakit atau klinik yang telah disusun oleh KKP-RS (Apsari, Nulhaqim & Pancasilawan, 2010).

Program sasaran keselamatan pasien wajib dikomunikasikan dan diinformasikan untuk tercapainya hal-hal sebagai berikut:

  1. ketepatan identifikasi pasien,
  2. peningkatan komunikasi yang efektif,
  3. peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai,
  4. kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi,
  5. pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan,
  6. pengurangan risiko pasien jatuh (Kars, 2011, JCI, 2010).

Kesalahan yang terjadi di kamar bedah yaitu salah lokasi operasi, salah prosedur operasi, salah pasien operasi, akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antar anggota tim bedah. Kurang melibatkan pasien dalam penandaan area operasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi lokasi operasi, asesmen pasien tidak adekuat, telaah catatan medis juga tidak adekuat (Sumadi, 2013).

Etiologi Skizofrenia (skripsi, tesis, dan disertasi)

 

Menurut Stuart (2007) etiologi skizofrenia dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Faktor predisposisi

Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Faktor predisposisi ini terdiri dari:

  1. Biologi

Berdasarkan beberapa penelitian yang terkait dengan pencitraan otak dan penelitian mengenai biokimia dari otak, dapat dipahami bahwa kondisi abnormalitas otak mungkin akan menyebabkan respon neurobiologis yang maladaftif. Penelitian menunjukkan bahwa skizofrenia terjadi karena keterlibatan lesi pada area frontal, temporal dan limbic, sedangkan telah ditemukan juga bahwa beberapa zat kimia otak mempunyai peran pada penyakit Skizofrenia (Stuart dan Sundeen, 1995).

  1. Psikologi

Faktor predisposisi lain terjadinya Skizofrenia adalah faktor psikologi. Hanya saja teori psikodinamika terjadinya respons neurobiologis yang maladaftif belum cukup didukung oleh penelitian-penelitian yang ada. Meskipun begitu, teori psikologis terdahulu menempatkan keluarga sebagai penyebab terjadinya gangguan ini. Penempatan keluarga sebagai penyebab terjadinya Skizofrenia ini menyebabkan kepercayaan keluarga terhadap tenaga kesehatan jiwa professional menurun.

 

 

  1. Psikososial

Faktor predisposisi ketiga dari terjadinya skizofrenia adalah faktor psikososial. Stres psikososial adalah setiap kejadian  atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan individu, sehingga individu tersebut terpaksa mengadakan penyesuaian diri (adaptasi) untuk menanggulangi stresor (tekanan mental) yang timbul.

  1. Faktor presipitasi

Faktor presipitasi adalah stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman atau tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk mengatasi ancaman atau tuntutan. Adanya rangsangan lingkungan yang sering yaitu partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada di lingkungan dan juga suasana sepi atau isolasi sering dianggap sebagai pencetus dari terjadinya skizofrenia.

Faktor presipitasi meliputi :

  1. Biologi

Menurut dari beberapa hasil penelitian pencitraan otak mulai menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Kerusakan  pada otak misalnya: terdapat lesi pada area frontal, temporal dan pada system limbik serta adanya ketidakseimbangan kimiawi pada pada otak.

  1. Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor presipitasi yang kedua dimana ambang toleransi terhadap stress berinteraksi dengan stresor lingkungan dan interaksi ini yang akan menentukan bagaimana gangguan perilaku terjadi.

  1. Pemicu gejala

Presipitasi merupakan stresor dan stimulus yang sering menimbulkan episode baru timbulnya suatu penyakit. Pemicu yang biasanya terdapat pada respons neurobiologis maladaptif ini adalah pemicu yang berhubungan dengan kesehatan, lingkungan, sikap, dan perilaku individu.

  1. Penilaian terhadap stresor

Penilaian terhadap stresor dijelaskan melalui model diathesis stress yang menyebutkan bahwa gejala skizofrenia muncul berdasarkan hubungan antara beratnya stress yang dialami individu dan ambang toleransi terhadap internal stress. Model ini penting karena mengintegrasikan faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya dalam menjelaskan perkembangan terjadinya skizofrenia (Stuart, 2006).

  1. Sumber koping

Koping adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi yang mengancam baik fisik maupun psikologik. Seseorang yang mengalami stress atau ketegangan psikologis dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari memerlukan kemampuan pribadi maupun dukungan dari lingkungan, agar dapat mengurangi stress dan kemampuan itulah yang disebut dengan koping. Sumber koping dapat diartikan sebagai semua kemampuan pribadi maupun dukungan dari lingkungan yang dipergunakan untuk mengurangi stress. Jenis-jenis koping misalnya: kompensasi, mengingkari, mengalihkan proyeksi, rasionalisasi, regresi dan sebagainya.

(kehilangan nafsu)