Menurut Reivich dan Shatte (Jackson dan Watkin, 2004) terdapat tujuh faktor dalam resiliensi, yaitu:
- Emotional Regulation
Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan.
- Impulse Control
Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam dirinya.
- Optimism
Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Mereka yakin bahwa berbagai hal dapat berubah menjadi lebih baik. Mereka memiliki harapan terhadap masa depan dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah kehidupannya.
- Emphaty
Empati menggambarkan sebaik apa seseorang dapat membaca petunjuk dari orang lain berkaitan dengan kondisi psikologis dan emosional orang tersebut.
- Causal Analysis
Analisis kausal merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada kemampuan individu untuk secara akurat mengidentifikasi penyebab dari permasalahan mereka.
- Self-Efficacy
Self-efficacy menggambarkan keyakinan seseorang bahwa ia dapat memecahkan masalah yang dialaminya dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai kesuksesan
- Reaching Out
Reaching out menggambarkan kemampuan seseorang untuk mencapai keberhasilan. Menunjukkan adanya keberanian untuk melihat masalah sebagai tantangan bukan ancaman dan adanya kemampuan pada seseorang untuk mencapai keberhasilan di dalam hidupnya.
Adapun faktor-faktor tersebut menurut Neill dan Dias (2001dalam Alimi, 2005) adalah sebagai berikut:
- Faktor Risiko
Faktor risiko merupakan faktor yang secara langsung memperbesar potensi terjadinya risiko bagi individu yang kemudian dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya perilaku dan gaya hidup maladaptif (Neill & Dias, 2001; Alimi, 2005). Adapun faktor tersebut meliputi: (1) kejadian yang bersifat katastropik, seperti bencana alam, kematian anggota keluarga, perceraian, (2) latar belakang kondisi sosial ekonomi keluarga yang kurang mendukung, (3) hidup di lingkungan negatif atau lingkungan yang rawan terjadi tindak kekerasan, dan (4) akumulasi dari beberapa faktor risiko.
- Faktor Protektif
Sementara itu, faktor protektif merupakan keterampilan dan kemampuan yang sehat yang dimiliki individu, yang mendorong terbentuknya resiliensi. Adapun faktor-faktor protektif tersebut adalah sebagai berikut: (1) karakteristik individu, seperti jenis kelamin, tingkatm inteligensi, karakteristik kepribadian, (2) karakteristik keluarga, seperti kehangatan, kelekatan, struktur keluarga, (3) ketersediaan sistem dukungan sosial di luar individu dan lingkungan keluarga, seperti sahabat.
Selanjutnya Benard (dalam Alimi, 2005) membagi faktor protektif menjadi dua, yaitu (1) faktor protektif internal, yakni merupakan faktor yang ada di dalam diri individu, meliputi keterampilan sosial seperti berkomunikasi, kemampuan menyelesaikan masalah, kecenderungan atribusi sosial (locus of control) dalam menilai penyebab masalah, memiliki kontrol atas diri sendiri, dan tujuan hidup, dan (2) faktor protektif eksternal yakni segala karakteristik lingkungan yang dapat memengaruhi berkembangnya faktor protektif internal, seperti keikutsertaan individu dalam suatu komunitas yang mendukung, memiliki hubungan akrab dengan lingkungan sekitar.
Ciri-ciri orang yang memiliki perkembangan tahapan resiliansi baik adalah mampu menghadapi sebagian besar masalah atau situasi yang sulit dengan mudah dibandingkan individu yang lain. Individu yang resilien adalah individu yang tampak sehat, berumur panjang, jarang mengalami depresi, bahagia dan berprestasi baik di tempat kerja maupun di sekolah. Individu ya antara lain dapat mengembangkan sense of efficacy dengan baik, menjadi orang dewasa yang sangat mendukung orang lain, dan mau mencoba kesempatan kedua (Reivich dan Shatte, 2002). Menurut Barankin dan Khanlou (2009), ciri-ciri anak yang resilien antara lain adalah mampu berempati atau dapat memahami dan bersimpati terhadap perasaan orang lain, dapat menjadi komunikator yang baik dalam memecahkan masalah, memiliki minat yang kuat di sekolah, berdedikasi untuk belajar, memiliki dorongan yang kuat untuk mencapai tujuan, selalu terlibat dalam kegiatan yang bermakna, selalu memiliki harapan dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain serta hidup dengan perasaan aman di keluarga maupun masyarakat.
Grotberg (1995) menyatakan ada tiga kemampuan atau faktor yang membentuk resiliensi, antara lain :
- I Am. Faktor I Am merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan, tingkah laku dan kepercayaan yang terdapat dalam diri seseorang. Faktor I Am terdiri dari bangga pada diri sendiri, perasaan dicintai dan sikap yang menarik, individu dipenuhi harapan, iman, dan kepercayaan, mencintai, empati dan altruistic, yang terakhir adalah mandiri dan bertanggung jawab.
- I Have. Aspek ini merupakan bantuan dan sumber dari luar yang meningkatkan resiliensi. Faktor I Have terdiri dari memberi semangat agar mandiri, struktur dan aturan rumah, Role Models, adanya hubungan.
- I Can. Faktor I Can adalah kompetensi sosial dan interpersonal seseorang. Bagian-bagian dari faktor ini adalah mengatur berbagai perasaan dan rangsangan, mencari hubungan yangdapat dipercaya, keterampilan berkomunikasi, mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain, kemampuan memecahkan masalah.
